📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMETAAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOBILE MAPPING SYSTEM (MMS) UNTUK MENYEDIAKAN DATA GEOSPASIAL 3D DALAM PEMBUATAN LEGER JALAN
Pengelolaanjaringanjalan menuntut ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan terstandarisasi guna mendukung inventarisasi kondisi fisik, pemeliharaan, serta perencanaan infrastruktur secara berkelanjutan. Praktik survei terestris yang masih banyak digunakan dalam penyusunan leger jalan menghadapi keterbatasan dari segi efisiensi waktu, kebutuhan sumber daya manusia, dan gangguan terhadap lalu lintas temtama pada kawasan perkotaan padat seperti Kota Bandung. Tugas akhir capstone ini menerapkan teknologi Mobile Mapping System (MMS) sebagai pendekatan akuisisi data yang modem dan terintegrasi. MMS mengombinasikan sensor GNSS, IMU, SLAM, dan LiDAR yang beroperasi secara simultan untuk menghasilkan data point cloud 3D. Akuisisi data dilaksanakan pada beberapa mas jalan utama di Kota Bandung. Tahapan pelaksanaan mencakup perencanaan, akuisisi data pengukuran, pengolahan data, serta validasi data. Produk akhir yang dihasilkan meliputi profil memanjang dan melintang, kontur, data spasial leger jalan beserta visualisasinya, serta visualisasi model 3D mas jalan. Seluruh produk telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam Pedoman Leger Jalan 07/P/BM/2024, membuktikan bahwa MMS mempakan altematif yang efisien, cukup akurat, dan minim gangguan untuk mendukung pengelolaan jaringan jalan perkotaan.
STUDI SIFAT MEKANIK DAN EVOLUSI MIKROSTRUKTUR DARI PERLAKUAN PANAS AUSTENISASI SINGKAT DAN PENEMPERAN SINGKAT BERBASIS PEMANASAN INDUKSI PADA BAJA PERKAKAS TAHAN KARAT X38CRMO16
Baja perkakas X38CrMo16 telah digunakan sebagai material cetakan injeksi plastik yang digunakan untuk komponen plastik yang membutuhkan surface finish yang baik serta memiliki ketahanan korosif dan abrasif. Selain itu, X38CrMo16 memiliki kadar karbon di kisaran 0,30% - 0,40% yang serupa dengan baja performa tinggi seperti AISI 4130 dan 32CrMoV12-10 yang digunakan untuk komponen performa tinggi seperti laras senjata, bejana bertekanan, dan komponen struktural yang membutuhkan kekuatan tinggi lainnya. Baja X38CrMo16 umumnya digunakan pada kekerasan 30 HRC yang mampu diperkeras hingga 49 HRC menggunakan perlakuan panas konvensional seperti austenitisasi dan penemperan dengan mengorbankan ketangguhan. Belakangan ini, telah muncul metode perlakuan panas yang mampu meningkatkan kekuatan dan ketangguhan secara simultan. Perlakuan panas singkat yang meliputi austenitisasi singkat dan penemperan singkat diketahui mampu menghasilkan baja dengan mikrostruktur halus yang disertai peningkatan simultan dari kekuatan dan ketangguhan secara simultan, suatu kualitas langka untuk perlakuan panas. Hingga kini, baru ada satu penelitian yang meneliti pengaruh pemaparan panas singkat kepada baja yang serupa (AISI 420) terkait pemaparan panas akibat pengelasan pada turbin uap. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk menginvestigasi transformasi fasa pada mikrostruktur X38CrMo16 terhadap pengaruh austenitisasi singkat dan penemperan singkat. Serta, menginvestigasi respons perubahan sifat mekanik kekerasan dan ketangguhan dari aplikasi perlakuan panas tersebut. Studi literatur menunjukkan bahwa austenitisasi singkat dan penemperan singkat secara konsisten menghasilkan peningkatan kekuatan dan ketangguhan secara simultan. Hal ini umumnya disebabkan oleh mikrostruktur yang diperhalus, kompleks, dan heterogen. Tinjauan fundamental dari radius inti kritis, driving force termodinamis, dan pertumbuhan butiran menunjukkan bahwa penghalusan fitur mikrostruktural itu memungkinkan dari segi faktor suhu perlakuan tinggi dan waktu perlakuan yang rendah. Mekanisme peningkatan simultan dari ketangguhan dan kekuatan ditemukan berkaitan erat dengan penghalusan butiran dari persamaan Hall-Petch dan Cotrell-Petch. Selebihnya, penghalusan karbida dapat memberikan efek yang sama melalui turunnya jarak antar partikel berdasarkan penguatan Orowan dan menurunnya ukuran crack-like defect melalui linear elastic fracture mechanics. Penelitian dilakukan menggunakan baja X38CrMo16 yang didapatkan secara komersial yang dipotong menjadi sampel subsized-Charpy 5 mm x 10 mm yang kemudian akan dipanaskan pada tanur induksi dengan lilitan 12 mm x 8 mm. Perlakuan panas austenitisasi singkat dilakukan dengan variasi daya: 4, 6, dan 7,38 kW; variasi waktu pemanasan: 10, 22, dan 30 detik. Perlakuan panas penemperan singkat dilakukan secara ganda dengan daya 2 kW pada variasi waktu pemanasan: 4, 8, dan 12 detik. Pendinginan cepat dilakukan menggunakan air kecuali pada satu variasi 30 detik di 6 kW yang menggunakan pendinginan udara. Variasi yang dilakukan meliputi kondisi as quenched, as quenched tempered, dan as cyclic quenched tempered. Pengujian sifat mekanik dilakukan dengan pengujian kekerasan Vickers dan impak Charpy pada kondisi unnotched dan notched. Preparasi untuk pengamatan metalografi dilakukan dengan pengamplasan dan pemolesan hingga didapatkan mirror-like finish yang kemudian dietsa dengan dua larutan, yaitu etsa A: 1 g asam pikrat, 5 mL HCl, dan 95 mL alkohol; dan etsa B 2,3 g asam pikrat, 17 mL HCl, dan 83 mL alkohol. Pengamatan metalografi meliputi penggunan mikroskop optik dan mikroskop elektron JEOL JCM-7000 untuk pengamatan resolusi sedang, analisis komposisi kimia, dan pemetaan unsur. Serta, Field emission scanning electron microscope Thermo Fisher Apreo 2C digunakan untuk pengamatan resolusi tinggi (10.000-20.000x). Pengamatan fraktografi dilakukan hanya menggunakan JEOL JCM-7000 di perbesaran kecil 27-30x dan perbesaran sedang 100-3.000x. Penelitian menemukan bahwa austenitisasi singkat dapat memperhalus ukuran butiran dari 25 ± 4 ?m pada variasi as received menjadi 9 ± 2 ?m pada variasi waktu pemanasan 10 detik di 7,38 kW. Ditemukan bahwa batas bawah dari austenitisasi singkat adalah kurangnya pelarutan karbida sebagai akibat dari rendahnya daya dan waktu pemanasan. Batas atas dari austenitisasi singkat berupa munculnya fasa delta ferit sebagai akibat dari efek pemerkayaan kromium lokal dari proses pelarutan karbida primer akibat terlalu tingginya daya dan waktu pemanasan. Penemperan singkat ditemukan mempresipitasi berbagai jenis karbida hingga karbida nano dan secara progresif melarutkan substruktur blok martensit rounded. Kombinasi dari austenitisasi singkat dan penememperan singkat ditemukan mampu menghasilkan dua variasi unggul: 10 detik di 7,38 kW dan di temper dua kali pada 8 detik di 2 kW yang menghasilkan kekerasan 523 HV dengan ketangguhan impak 8,5 J/cm2, dan 22 detik di 6 kW dan di temper dua kali pada 12 detik di 2 kW yang menghasilkan kekerasan 474 HV dan ketangguhan impak 53,3 J/cm2. Ketangguhan tinggi dari variasi kedua ditemukan diakibatkan oleh mekanisme patahan campuran yang disertai retakan sekunder divider-type yang berjumlah banyak. Baja X38CrMo16 menunjukkan respons berupa peningkatan sifat mekanik yang positif dan mikrostruktur yang bervariasi terhadap aplikasi perlakuan panas singkat.
PENGARUH UKURAN PARTIKEL AG2SE TERHADAP SIFAT TERMOELEKTRIK
Perak selenida (Ag2Se) merupakan kandidat material termoelektrik tipe-n di sekitar suhu ruang yang menjanjikan untuk menggantikan Bi2Te3 karena konduktivitas termal intrinsiknya yang rendah, serta mobilitas pembawa muatan yang tinggi. Selain itu, si- fat mekanik Ag2Se juga mendukung pembuatan material termoelektrik yang bersifat fleksibel. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh perbandingan molar prekursor terhadap pereduksi pada ukuran partikel Ag2Se, serta pengaruh ukuran partikel terse- but terhadap sifat termoelektriknya. Partikel Ag2Se disintesis melalui reduksi kimia natrium selenit (Na2SeO3) oleh glukosa untuk membentuk partikel selenium, lalu di- metalisasi oleh ion Ag+ dari AgNO3. Partikel Ag2Se tersebut kemudian dibuat menjadi thin film dengan membran nilon sebagai substrat melalui proses vakum filtrasi dan hot press. Karakterisasi dilakukan dengan spektroskopi Raman, SEM-EDS, XRD, serta pengukuran LSR. Hasil menunjukkan adanya tren peningkatan ukuran partikel seiring menurunnya perbandingan molar prekursor:pereduksi, serta keterkaitan antara ukuran partikel, stoikiometri, dan transisi fase terhadap perilaku konduktivitas listrik dan koefi- sien Seebeck material. Nilai power factor sangat dipengaruhi oleh konduktivitas listrik dengan nilai tertinggi didapatkan pada sampel 1 ?m.
MODEL REGENERASI KOLABORATIF SEBAGAI STRATEGI KEBERLANJUTAN DI KAMPUNG BATIK CIWARINGIN
Batik Ciwaringin merupakan batik yang berkembang melalui pesantren di Desa Babakan sejak abad ke-18 dan hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari- hari masyarakat Desa Ciwaringin. Namun, minat generasi muda untuk terlibat dalam praktik membatik semakin menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stigma terhadap profesi perajin batik, tersedianya pilihan profesi lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi, proses belajar yang membutuhkan waktu lama dan ketekunan di tengah kondisi zaman yang serba instan, keterbatasan akses ke pasar, serta program pemberdayaan yang cenderung tidak berkelanjutan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa regenerasi perajin menjadi isu utama yang menentukan keberlanjutan praktik membatik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses regenerasi perajin batik di Kampung Batik Ciwaringin, memetakan sistem regenerasi yang terbentuk, serta merumuskan model konseptual demi terciptanya keberlanjutan praktik membatik di Kampung Batik Ciwaringin. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan etnografi untuk memetakan praktik membatik, sistem regenerasi dan kolaborasi, serta instrumen untuk mengukur potensi regenerasi. Tahap kedua menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui aktivitas lokakarya untuk memetakan sistem kolaborasi yang dianggap paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan komunitas saat ini. Tahap ketiga berupa sintesis dan refleksi untuk merumuskan model konseptual yang menjadi inti dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemetaan praktik membatik menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dengan sistem nilai yang melandasinya. Melalui analisis axial coding, tipologi lima nilai kriya berkelanjutan dari Zhan dan Walker (2018), yaitu nilai spiritual, lokal-kultural, sosial, ekonomi, dan lingkungan, berkembang dengan ditemukannya nilai keenam, yaitu nilai kolaboratif. Nilai ini muncul dari keterlibatan berbagai aktor dalam praktik membatik dan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian yang terintegrasi dari praktik tersebut. Kedua, dengan analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022), Teori Pemetaan Aktor, dan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Yusuf dkk. (2021) ditemukan bahwa pemetaan sistem regenerasi menunjukkan proses regenerasi berlangsung melalui empat sistem yang berbeda namun saling berkaitan. Empat sistem regenerasi yang teridentifikasi membentuk empat konsep, yaitu bahwa regenerasi di Kampung Batik Ciwaringin terjadi melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan strategis, ketahanan ekonomi, dan edukasi informal. Hasil ini juga menunjukkan bahwa regenerasi merupakan proses yang melibatkan berbagai aktor, sumber daya, dan bentuk pembelajaran. Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi instrumen untuk mengukur potensi regenerasi, yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan komunitas untuk terlibat dalam program pemberdayaan terkait regenerasi dan kolaborasi. Ketiga, sistem regenerasi dikembangkan melalui kolaborasi internal dan eksternal, dengan lokakarya berbasis komunitas dan partisipatif. Analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022) serta Taksonomi Bloom dari Anderson dan Krathwohl (2001) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam aktivitas regenerasi berlangsung secara bertahap dari pemahaman hingga penciptaan. Dari proses ini lahir sistem regenerasi melalui kolaborasi serta model regenerasi kolaboratif yang menempatkan praktik membatik sebagai pusat, dengan integrasi nilai, aktor, dan sistem pembelajaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal. Pertama, pengembangan nilai kolaboratif merupakan dimensi keenam dalam tipologi nilai kriya terkait keberlanjutan. Kedua, integrasi berbagai model analisis untuk memetakan sistem regenerasi dan kolaborasi secara komprehensif. Ketiga, perumusan sistem regenerasi melalui kolaborasi (internal dan eksternal) serta model regenerasi kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan batik Ciwaringin berakar pada kemampuan komunitas dalam menjaga proses regenerasi melalui mekanisme kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi tidak hanya berupa pewarisan keterampilan, tetapi juga proses pembentukan kembali praktik melalui interaksi lintas generasi dan kolaborasi antaraktor. Kontribusi utamanya terletak pada pergeseran cara pandang dari regenerasi sebagai proses linier menjadi sistem hidup berbasis praktik yang dinamis dan kontekstual. Dampak penelitian ini adalah memberikan dasar operasional, konseptual, dan metodologis bagi pengembangan program pemberdayaan dan pendidikan di bidang kriya, serta kebijakan pelestarian batik yang berfokus pada penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas secara kolaboratif dan kontekstual.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
PROYEKSI KONSENTRASI KLOROFIL-A PERMUKAAN LAUT BERDASARKAN MODEL IKLIM CMIP6 SSP1-2.6 DAN SSP5-8.5 TAHUN 2015-2050 DI PERAIRAN SELATAN JAWA
Perairan Selatan Jawa memiliki variabilitas klorofil-a tinggi akibat pengaruh sistem angin monsun dan interaksi laut dan atmosfer, sehingga perubahan iklim berpotensi memengaruhi produktivitas primer di masa depan. Kajian mengenai proyeksi klorofil-a di wilayah ini menggunakan model CMIP6 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi spasial-temporal klorofil-a serta responsnya terhadap fenomena upwelling menggunakan tujuh model CMIP6 (SSP1-2.6 dan SSP5-8.5) pada periode 2015–2050, yang divalidasi dengan data ERA5, ESA OC- CCI, WOA23, CMEMS (2015–2024), dan CTD in situ (2018, 2019, 2022). Metode analisis data meliputi analisis bias, tren, TSS, dan EPV. Hasil menunjukkan GFDL- ESM4 memiliki kinerja terbaik dengan nilai TSS 0,686 pada SSP1-2.6 dan 0,767 pada SSP5-8.5, sedangkan CMCC-ESM2, CanESM5, CanESM5-1, dan KIOST- ESM terendah dengan TSS < 0,1. Proyeksi jangka panjang data MME menunjukkan adanya tren penurunan konsentrasi klorofil-a sebesar ?0,0002 mg/m3/tahun pada skenario SSP1-2.6 dan ?0,0003 mg/m3/tahun pada SSP5-8.5 selama periode 2015– 2050. Berbeda dengan hasil tren data MME periode 2015-2024 yang menunjukkan peningkatan konsentrasi klorofil-a permukaan laut pada kedua skenario. Hal ini mengindikasikan adanya potensi penurunan konsentrasi klorofil-a di masa depan pada kedua skenario emisi akibat perubahan iklim. Variabilitas klorofil-a akibat upwelling di Perairan Selatan Jawa belum direpresentasikan secara optimal oleh model CMIP6, yang ditunjukkan oleh kecenderungan underestimasi konsentrasi klorofil-a selama musim timur. Kondisi ini berkaitan dengan bias angin timur ekuatorial yang menyebabkan pemompaan ekman tersimulasi lebih kuat di wilayah lepas pantai dan lebih lemah di daerah pesisir.
KONSEP PENGEMBANGAN DESA WISATA CIJAMBU BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) DALAM PENGELOLAAN DESA WISATA
Desa Cijambu memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis masyarakat. Potensi tersebut terlihat dari keberadaan kawasan sungai, lanskap persawahan, lingkungan perdesaan yang masih asri, serta aktivitas pertanian masyarakat yang dapat menjadi daya tarik wisata alam dan edukasi. Kondisi sosial masyarakat yang masih memiliki hubungan kekerabatan kuat dan budaya gotong royong menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan kawasan wisata berbasis Community Based Tourism (CBT). Potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terdapat berbagai kendala, antara lain keterbatasan fasilitas penunjang wisata, aksesibilitas menuju lokasi wisata, rendahnya sumber daya manusia, serta belum terbentuknya kelembagaan pengelola wisata yang berjalan efektif. Kondisi tersebut menyebabkan potensi wisata yang dimiliki Desa Cijambu belum mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep pengembangan Desa Wisata Cijambu berbasis CBT yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kondisi sosial masyarakat. Pendekatan CBT dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam proses perencanaan, pengelolaan, dan pengembangan kegiatan pariwisata sehingga manfaat ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal. Selain itu, diharapkan mampu mendorong pengembangan kawasan wisata yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat serta pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal. iiiMetode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan partisipatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, FGD, dokumentasi, dan studi literatur. Informan penelitian terdiri atas pemerintahh daerah, perangkat desa, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, Pokdarwis, anggota Karang Taruna, serta masyarakat setempat yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas pengembangan wisata desa. Data sekunder diperoleh melalui dokumen profil desa, dokumen perencanaan wilayah, data statistik, serta berbagai referensi terkait pengembangan desa wisata. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan komponen pariwisata 4A yang meliputi attraction, accessibility, amenity, dan ancillary untuk mengidentifikasi kondisi eksisting kawasan wisata. Selain itu, digunakan analisis partisipasi masyarakat berbasis dimensi CBT untuk mengetahui kesiapan sosial masyarakat dalam mendukung pengembangan wisata desa. Selanjutnya, analisis SWOT yang diperkuat dengan matriks IFAS dan EFAS digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan yang sesuai dengan kondisi internal dan eksternal Desa Cijambu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Cijambu memiliki potensi wisata yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata. Potensi utama kawasan terletak pada keberadaan sungai, lanskap persawahan, suasana perdesaan, serta aktivitas budaya masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi, wisata alam, dan wisata berbasis budaya lokal. Selain itu, masyarakat Desa Cijambu menunjukkan adanya dukungan terhadap rencana pengembangan desa wisata. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat melalui keterlibatan dalam kegiatan gotong royong, kesiapan menyediakan lahan atau rumah sebagai fasilitas pendukung wisata, keterlibatan pelaku UMKM, serta dukungan Pokdarwis dan Karang Taruna dalam kegiatan wisata. Konsep pengembangan Desa Wisata Cijambu berbasis CBT difokuskan pada penguatan kelembagaan pengelola wisata, peningkatan kapasitas sumber daya manusia masyarakat, pengembangan produk wisata lokal, serta peningkatan sarana dan prasarana pendukung wisata. Pengembangan kelembagaan dilakukan melalui pembentukan dan penguatan organisasi pengelola wisata yang melibatkan masyarakat secara aktif. Peningkatan kapasitas masyarakat diarahkan melalui pelatihan pengelolaan wisata, pengembangan UMKM, pemasaran digital, serta pelayanan wisata. Pengembangan produk wisata dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal. Peningkatan fasilitas pendukung dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan wisatawan tanpa menghilangkan karakter alami kawasan perdesaan.
PREDIKSI JACKING FORCE MICROTUNNELING DENGAN ANALISIS NUMERIK PADA TANAH DI INDONESIA
Pada konstruksi microtunneling pipe jacking, salah satu parameter yang penting adalah jacking force. Parameter jacking force ini menentukan efisiensi konstruksi. Pada umumnya, nilai jacking force ini ditentukan berdasarkan model prediksi jacking force. Namun, sering kali model jacking force ini memberi nilai yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi aktualnya. Tanah yang ditinjau berupa tanah lempung kepasiran sedang. Diameter luar pipa yang ditinjau sebesar 1.74 meter dengan kedalaman pipa sedalam 5 meter diukur dari bagian bawah pipa. Dalam penelitian ini akan dievaluasi besar jacking force dengan metode elemen hingga. Pemodelan dengan metode elemen hingga digunakan untuk mengkalibrasi nilai koefisien friksi dari data lapangan. Nilai koefisien friksi hasil kalibrasi sebesar ? = 0.24 Kemudian, model-model teoritis dihitung berdasarkan persamaan-persamaan beserta parameter koefisien friksi rekomendasi. Hasilnya menunjukkan bahwa semua model memberi prediksi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan data lapangan. Lalu model-model teoritis tersebut dihitung kembali menggunakan koefisien friksi hasil kalibrasi. Hasil prediksi menunjukkan bahwa model Bennet dan Staheli memberi prediksi yang mendekati dengan data lapangan. Sedangkan model JSTT, Chapman, Pellet, dan PJA masih memberikan prediksi yang besar. Maka dari penelitian ini untuk tanah medium sandy clay, nilai koefisien friksi yang direkomendasikan sebesar ? = 0.24 atau setara dengan ? = tan(?/2). Model Bennet dan Staheli merupakan model yang dapat memprediksi jacking force lebih akurat.
KREATIVITAS DALAM DUNIA DIGITAL: STUDI KASUS FANART DALAM FANDOM “MOUTHWASHING”
Dunia digital dalam tiga dekade terakhir telah melalui banyak perubahan, terutama pada bagaimana masyarakat merespons dan berinteraksi dengan media hiburan. Media hiburan sudah banyak beralih ke bentuk digital, membuatnya menjadi jauh lebih mudah diakses oleh banyak orang. Kemudahan akses ini memudahkan pengenalan sebuah media hiburan kepada orang awam. Pengenalan ini kemudian dapat menciptakan rasa kegemaran pada seseorang. Budaya kegemaran sendiri sudah ada dari sejak lama, namun perkembangan teknologi membuat aktivitas dalam komunitas penggemar (fandom) menjadi lebih beragam. Salah satu aktivitasnya adalah penciptaan karya visual yang mengapropriasi media sebagai bentuk kekaguman, karya tersebut disebut dengan fanart. Fanart sendiri telah menjadi bagian dari fenomena budaya yang berkembang di dunia digital namun belum banyak yang mencoba untuk meneliti kreativitas yang digunakan dalam fanart. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini akan menanyakan bagaimana wujud kreativitas dalam dunia digital khususnya dalam fanart, serta apakah paradigma mengenai kreativitas yang ada saat ini cukup untuk menganalisis karya yang terdapat di dunia digital, khususnya fanart. Studi kasus intrinsik kemudian digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tujuan akhir dari penelitian adalah untuk memahami kreativitas yang terdapat dalam dunia digital melalui fanart sebagai studi kasus. Tujuan lainnya adalah untuk membuktikan bahwa teori kreativitas yang ada saat ini belum cukup untuk membahas objek visual yang ada dalam dunia digital. Studi kasus dibatasi pada satu fandom dalam satu media sosial. Pembatasan ini mempertimbangkan banyaknya jenis media sosial dan media hiburan serta komunitas penggemar yang terbentuk karenanya. Studi kasus akan berfokus pada fandom yang terbentuk dari video game “Mouthwashing” karena ketenarannya dari Oktober 2024 sampai Februari 2025 dan keberhasilannya meraih empat belas nominasi dari enam acara penghargaan dan memenangkan tiga di antaranya. Metode penelitian dimulai dari pemilihan sampel berupa tiga pencipta fanart (fanartist) dan fanartnya sendiri. Data yang diambil berupa data hasil wawancara dengan fanartist mengikuti metode yang ditawarkan oleh Rose mengenai digital methods dan audiencing. Sementara data visual didapatkan dari pengaplikasian metode kritik seni Feldman yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Data wawancara akan dianalisis menggunakan teori motivasi kreatif oleh Unsworth, dan teori proses kreatif Sadler Smith. Secara motivasi, ketiga fanartist memiliki ketertarikan dengan aspek dari “Mouthwashing” yang berbeda satu sama lainnya dan ketertarikan ini ditambahkan dengan dorongan internal dan eksternal untuk mulai menciptakan fanart. Sementara untuk menganalisis proses kreatif dari masing-masing fanartist, data dari wawancara ditambahkan dengan waktu sketsa karya dan ilustrasi diunggah. Tahap persiapan dan inkubasi diasumsikan dari waktu mereka pertama mendengar mengenai “Mouthwashing” sampai sebelum mengunggah karya sketsa. Tahap intimasi diasumsikan berdasarkan tanggal sketsa pertama diunggah sampai karya ilustrasi diunggah. Tahap pencerahan dan evaluasi menggunakan tanggal yang sama dengan tangga karya ilustrasi fanart diunggah. Data visual yang didapatkan selanjutnya dianalisis melalui teori delapan kontribusi kreatif oleh Sternberg, dkk. Sampel fanart menunjukkan adanya dukungan dan penentangan terhadap ide asal dari “Mouthwashing”. Tahap analisis terakhir adalah memahami fanart sebagai bentuk ekspresi kreativitas. Teori tingkatan kreativitas oleh Kaufman dan Beghetto digunakan sehingga didapatkan kesimpulan bahwa fanart dapat menjadi bentuk ekspresi kreativitas yang kecil (little-C) namun dengan nuansanya masing-masing, tergantung dengan bagaimana fanart dan fanartist berinteraksi dengan fandom dan komunitas sekitarnya. Dengan adanya aplikasi teori kepada fanart, maka dapat disimpulkan bahwa wujud kreativitas dalam fanart sudah ada sebelum awal proses penciptaan, hingga ketika karya diunggah. Meskipun begitu, ditemukan juga kekurangan-kekurangan dari teori kreativitas yang digunakan dalam penelitian ini. Umumnya kekurangan ini dikarenakan cakupannya yang masih terbatas dan belum mempertimbangkan dinamika dalam dunia digital.
PENGARUH STRUKTUR PELINDUNG PANTAI TERHADAP KARAKTERISTIK GELOMBANG
Wilayah pesisir di Indonesia semakin rentan terhadap abrasi akibat peningkatan energi gelombang dan kenaikan muka air laut, sehingga diperlukan upaya mitigasi melalui penggunaan struktur pelindung pantai yang efektivitasnya dipengaruhi oleh parameter fisik seperti tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman. Penelitian ini mengkaji pengaruh parameter tersebut terhadap karakteristik transmisi gelombang menggunakan model Persamaan Air Dangkal satu dimensi. Solusi analitik diperoleh dari Linear Shallow Water Equations (LSWE) untuk struktur berbentuk persegi dengan menerapkan syarat kontinuitas pada antarmuka domain, sedangkan solusi numerik dihitung menggunakan metode volume hingga pada grid setengah dengan skema upwind dan limiter Koren. Selain itu, model Nonlinear Shallow Water Equations (NSWE) dengan suku redaman digunakan untuk mensimulasikan transformasi gelombang serta melakukan validasi terhadap hasil eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman menyebabkan penurunan koefisien transmisi gelombang (Kt), yang menunjukkan peningkatan efektivitas struktur dalam meredam gelombang. Skema Koren mampu memberikan hasil propagasi gelombang yang lebih akurat dibandingkan skema upwind karena menghasilkan difusi numerik yang lebih kecil. Secara keseluruhan, model Persamaan Air Dangkal mampu merepresentasikan fenomena transmisi dan peredaman gelombang pada struktur terendam dengan baik.
ANALISIS POPULASI DAN KETERSEDIAAN TUMBUHAN PAKAN MONYET EKOR PANJANG (MACACA FASCICULARIS RAFFLES, 1821) SEBAGAI INPUT STRATEGI KONSERVASI DI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA
Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis Raffles, 1821) merupakan primata yang adaptif terhadap tekanan antropogenik. Di Kawasan Pelestarian Alam (KPA) Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura Djuanda), peningkatan populasinya yang tidak seimbang dengan ketersediaan pakan alami dapat menyebabkan perubahan perilaku dan peningkatan konflik dengan manusia. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi populasi monyet ekor panjang dan ketersediaan tumbuhan pakannya di Tahura Djuanda, serta menentukan strategi kons ervasinya di area KPA ini.. Penelitian dilakukan selama bulan Juli 2025 – Februari 2026. Data perjumpaan monyet ekor panjang diperoleh menggunakan metode strip transect yang kemudian diolah menjadi angka estimasi populasi. Klastering lokasi perjumpaan mony et ekor panjang dilakukan sebagai dasar pemilihan lokasi analisis vegetasi menggunakan pendekatan sembilan nested plot di tiga klaster diikuti dengan kalkulasi Indeks Nilai Penting (INP) untuk setiap plot dalam klaster. Strategi konservasi dirumuskan mengg unakan metode SWOT - QSPM ( Strength , Weakness , Opportunity , Threat dan Quantitative Strategic Planning Matrix ) berdasarkan informasi ekologis dan data hasil wawancara dengan stakeholder konservasi yang relevan. Ditemukan bahwa spesies ini di Tahura Djuanda memiliki kepadatan populasi 0,398 individu/ha dan estimasi jumlah populasi 235 individu. Tumbuhan pakan yang dikonsumsi monyet ekor panjang meliputi sonokeling ( Dalbergia latifolia Roxb., INP 74,446) dan pinus ( Pinus merkusii Jungh. & de Vriese, INP 50,755) di klaster 1; kaliandra merah ( Calliandra calothyrsus Meisn., INP 84,594), Pinus merkusii (INP 78,296), dan loa ( Ficus racemosa L., INP 72,186) di klaster 2; serta Pinus merkusii (INP 186,571) di klaster 3. Berdasarkan analisis SWOT - QSPM, rekomendasi utama strategi konservasi spesies ini di Tahura Djuanda adalah melalui pengelolaan dan pengawasan interaksi manusia dan monyet serta penegakkan aturan yang ada guna menjaga perilaku m akan alami monyet.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
PERBANDINGAN KINERJA LABEL INDIKATOR KESEGARAN BERBASIS PIGMEN ALAMI PADA MATRIKS BIOPOLIMER CHITOSAN-POLYVINYL ALCOHOL, METHYLCELLULOSE-SOY PROTEIN ISOLATE, DAN PEKTIN-SODIUM ALGINATE
Smart packaging merupakan inovasi teknologi di bidang pengemasan pangan yang mampu memberikan informasi kesegaran produk secara real-time. Salah satu penerapannya adalah label indikator pH berbasis pigmen alami yang dapat mendeteksi perubahan mutu produk secara visual melalui perubahan warna. Antosianin merupakan pigmen alami yang bersifat sensitif terhadap perubahan pH, namun kestabilannya sangat dipengaruhi oleh jenis matriks biopolimer yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan matriks Chitosan-Polyvinyl Alcohol (Kitosan-PVA), Methylcellulose-Soy Protein Isolate (SPI-MC), dan Pektin-Sodium Alginate terhadap karakteristik label indikator kesegaran serta menentukan matriks dengan kinerja paling stabil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan jenis biopolimer. Parameter yang diamati meliputi stabilitas warna selama penyimpanan pada suhu ruang (25°C), reversibilitas warna berdasarkan nilai ?E*ab pada kondisi asam dan basa, sensitivitas warna terhadap pH (2-11), dan daya serap air. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan matriks biopolimer berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap seluruh parameter yang diamati. Matriks dengan kombinasi Kitosan-PVA menunjukkan respons perubahan warna paling jelas pada kondisi basa kuat dengan nilai ?E*ab pH 11 sebesar 39,93 ± 0,13 serta memiliki daya serap air sebesar 4,42 ± 1,17%. Selama penyimpanan, seluruh perlakuan mengalami peningkatan nilai ?E*ab seiring dengan waktu penelitian, namun matriks Kitosan-PVA menunjukkan perubahan yang relatif lebih terkendali pada beberapa periode waktu pengamatan. Secara keseluruhan, matriks Kitosan- PVA menunjukkan kinerja paling seimbang antara sensitivitas warna dan kestabilan selama penyimpanan, serta ketahanan terhadap air, sehingga berpotensi menjadi matriks terbaik untuk aplikasi label indikator kesegaran berbasis pigmen alami.