📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

VISUALITAS MODERNITAS SAMPUL ALBUM KASET MUSIK POP INDONESIA ERA 1980-AN

Pesatnya laju modernisasi yang digalakkan pemerintah Orde Baru pada dekade 1980-an menempatkan industri musik pop sebagai instrumen kultural yang krusial. Pada periode tersebut, Indonesia mengalami transisi besar-besaran menuju industrialisasi, memicu tegangan antara program pembangunan pemerintah yang pragmatis dengan realitas budaya adaptif masyarakat yang makin terpapar arus globalisasi. Dalam dinamika ini, sampul album kaset musik pop muncul tidak sekadar sebagai kemasan fisik pelindung kaset pita, melainkan bertransformasi menjadi agen visual yang secara masif mengartikulasikan definisi "menjadi modern". Mengingat tinjauan akademis terdahulu dalam studi budaya visual sering kali terpaku pada pembacaan estetika formal semata dan mengabaikan dinamika sosiologis di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar proses negosiasi jaringan relasi aktor di balik perwujudan visual sampul kaset, sekaligus merumuskan konsep visualitas modernitas yang terepresentasikan di dalamnya. Untuk mengurai fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan sosiologi desain, melalui kerangka analitis Actor Network Theory (ANT). Pendekatan ini dipilih secara strategis untuk melampaui kajian desain konvensional yang kerap memosisikan desain semata-mata sebagai produk pasif kreator tunggal. Kajian ini justru memosisikan sampul kaset sebagai "kotak hitam" (black box) yang dikonstruksi secara dinamis melalui benturan agensi para aktor. Pembuktian hipotesis dilakukan dengan menelusuri jejak relasi kuasa serta agensi para aktor terkaitnya, guna membuktikan bahwa setiap elemen estetis—mulai dari foto, tata letak, warna, hingga tipografi—adalah manifestasi dari tindakan sosial yang sarat kepentingan. Hasil analisis mengungkap bahwa visualisasi sampul kaset terbentuk melalui dialektika dua tipologi jaringan. Pertama, ANT Mekanistik, yakni tatanan jaringan yang didominasi oleh hegemoni label rekaman. Pada tatanan ini, produksi visual direduksi menjadi objek massal berorientasi pasar; desainer grafis terpinggirkan sebagai operator teknis, figur musisi diobjektifikasi menjadi komoditas artifisial, dan keputusan visual tunduk mutlak pada determinasi aktor non-manusia (limitasi mesin cetak offset, sempitnya dimensi kaset, serta regulasi sensor Orde Baru). Kedua, ANT Humanistik, sebuah anomali di mana musisi elit berhasil mengendalikan otonomi agensi. Pada jaringan ini, musisi dan desainer i berkolaborasi sebagai mitra intelektual untuk menundukkan batasan material demi mengekspresikan rasionalitas visual. Dialektika kedua jaringan yang cukup berseberangan ini pada akhirnya distabilkan oleh mobilisasi penggemar yang memvalidasi wacana industri melalui ritus konsumsi harian. Konvergensi dari pertarungan agensi tersebut melahirkan perumusan visualitas modernitas yang paradoksal dan tersegmentasi. Melalui kacamata ANT Humanistik, sampul kaset menampilkan citra elitis dan bergaya kosmopolitan sebagai simbol kemerdekaan individu kelas menengah urban. Namun di sisi lain, melalui lensa ANT Mekanistik, artefak ini bertindak sebagai komoditas yang menawarkan ilusi kedekatan bagi kelas pekerja marjinal, sekaligus mengaburkan represi sosial-politik negara di lapis terdalamnya. Konsep modernitas ini dinegosiasikan secara terus-menerus, merepresentasikan identitas masyarakat Indonesia era 1980-an yang sesungguhnya terjebak dalam hibriditas budaya antara tuntutan rasionalitas global dan kepatuhan tradisi. Kebaruan penelitian ini terletak pada postulat teoretis yang secara tegas meredefinisi konsep visualitas—bukan lagi sekadar representasi gambar statis yang tunduk pada aturan estetika formal, melainkan sebuah konstruksi sosio-visual dan arena negosiasi material. Melalui redefinisi ontologis ini, disertasi memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan terhadap khazanah keilmuan Desain Komunikasi Visual dan kajian budaya. Penelitian ini membuktikan secara definitif bahwa desain grafis hadir sebagai artefak sosiologis aktif yang membingkai relasi kuasa antar aktor, memediasi dualitas kelas sosial, sekaligus merekam pengalaman eksistensial masyarakat Indonesia dalam merengkuh modernitas.

2026
👤 Penulis: Inko Sakti Dewanto
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Hidrologi Budaya 🏷️ Sosiologi Desain

MODEL KOLABORASI DESAIN UNTUK KRIYA BERKELANJUTAN: HARMONISASI PAGUYUBAN DAN PATEMBAYAN DI KAMPUNG WISATA YOGYAKARTA

Disertasi ini meneliti dan merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta, dengan nilai kebudayaan Jawa sebagai landasan utama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu krisis lingkungan (Jogja Darurat Sampah) di kawasan perkotaan, problematika sosiokultural dalam kolaborasi, serta tuntutan keberlanjutan ekonomi di sektor kriya. Yogyakarta juga merepresentasikan relasi yang kuat antara kriya, kebudayaan Jawa, dan pariwisata berbasis komunitas. Dengan menggunakan paradigma sosiologis, penelitian ini mengangkat dinamika dialektis dan ketegangan ideologis dalam praktik kolaborasi antarkelompok artisan kriya di antara komunitas/paguyuban (Gemeinschaft) yang mengutamakan nilai kebersamaan (guyub) dengan industri/patembayan (Gesellschaft) yang berorientasi pada nilai keuntungan ekonomi. Kolaborasi dalam paguyuban dibangun melalui relasi sosial dan ikatan emosional dalam struktur informal. Sementara itu, kolaborasi dalam konsep patembayan mengembangkan pola kerja sama yang lebih rasional, profesional, dan terstruktur secara formal. Secara konseptual, perbedaan orientasi antara kedua kelompok sosial ini berpotensi menimbulkan konflik, sehingga kolaborasi desain menjadi tidak strategis dan menghambat pengembangan berkelanjutan bagi kelompok artisan kriya. Oleh karena itu, perbedaan orientasi kelompok artisan perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristiknya agar dapat menentukan posisi dalam spektrum paradigma paguyuban dan patembayan, sehingga tercipta harmonisasi dalam kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan. Namun demikian, kerangka analisis untuk mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan, pola kolaborasi, dan karya kriya dalam kedua paradigma ini masih perlu dikembangkan. Secara kontekstual, paguyuban dan patembayan dalam kebudayaan Jawa di kampung wisata Yogyakarta juga memiliki kearifan lokal yang memperkaya diskursus akademik global dalam kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan (a) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan kriya di Yogyakarta berdasarkan tiga aspek, meliputi ideologi kelompok (people), proses kolaborasi (process), dan hasil karya (product), dalam paradigma paguyuban dan i patembayan; serta (b) merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan sebagai strategi harmonisasi pengembangan kelompok artisan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta (place). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi etnografi dan Participatory Action Research (PAR). Pengumpulan data penelitian melibatkan 38 partisipan dari 18 kelompok artisan kriya di Yogyakarta melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam, dokumentasi karya, serta diskusi kelompok terarah. Secara sistematis, kelompok artisan kriya sebagai partisipan penelitian juga dikategorikan ke dalam empat dimensi keberlanjutan yang mencakup budaya, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Selanjutnya, analisis data etnografis dilakukan secara berjenjang menggunakan teknik kodifikasi dengan tiga wujud kebudayaan sebagai kerangka konseptual, yaitu nilai ideologis kelompok (mentifact) sebagai aspek makro, praktik sosial (sociofact) sebagai aspek meso, dan karya (artifact) sebagai aspek mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kelompok, kolaborasi dan karya artisan kriya di Yogyakarta tidak bersifat dikotomis, melainkan memiliki spektrum yang dinamis di antara domain paguyuban dan domain patembayan. Berdasarkan analisis data etnografi, penelitian ini memetakan 12 komponen indikator klasifikasi untuk mengidentifikasi karakteristik kelompok, kolaborasi, dan karya kriya. Model klasifikasi ini memposisikan kelompok artisan pada spektrum paguyuban kriya dan patembayan kriya. Secara mikro (artifact), klasifikasi ini juga memetakan elemen elemen dalam identifikasi karakteristik karya, yakni: Identitas, Material, Produk, Estetika, Konsep, dan Teknik yang disingkat menjadi IMPEKT. Berdasarkan temuan etnografis dan proses PAR sebagai uji model, disertasi ini merumuskan panduan klasifikasi kelompok artisan dan model Loka Desain untuk kriya berkelanjutan yang terdiri dari enam tahapan, yakni: menemukan bersama (co finding), mendefinisikan bersama (co-defining), mengembangkan ide bersama (co ideation), berkarya bersama (co-crafting), mengevaluasi bersama (co-evaluation), dan merencanakan bersama (co-planning). Melalui refleksi dinamika antara domain paguyuban kriya dan patembayan kriya, sintesis penelitian ini merekomendasikan pembentukan pakaryan kriya (studio kolektif) sebagai entitas baru yang mengharmoniskan jiwa gotong royong dan nilai kebersamaan (guyub) dengan kepentingan ekonomi melalui komersialisasi hasil karya kolaboratif. Sebagai strategi desain, pembentukan pakaryan kriya merupakan proses transformasi sosial yang tidak menghilangkan karakteristik paguyuban kriya maupun patembayan kriya. Dengan demikian, disertasi ini berkontribusi secara teoretis dalam memperluas diskursus kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata berbasis nilai-nilai kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Secara praktis, disertasi ini menghasilkan panduan klasifikasi kelompok artisan kriya serta model kolaborasi desain sebagai strategi pengembangan kelompok artisan kriya yang berkelanjutan di kampung wisata.

2026
👤 Penulis: Kristian Oentoro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MODEL FASHION SIRKULAR INDONESIA UNTUK DESIGNER-MAKERS DENGAN PENDEKATAN DESAIN SISTEMIK DAN DESAIN ETNOGRAFI

Penelitian ini menghasilkan Model Fashion Sirkular yang kontekstual bagi Indonesia, khususnya bagi designer-makers sebagai pengambil keputusan dalam proses desain. Meskipun sektor tekstil dan fashion telah menjadi prioritas dalam agenda ekonomi sirkular nasional, sebagian besar model yang tersedia masih dikembangkan berdasarkan konteks Uni Eropa. Selain itu, belum tersedia alat pemandu operasional bagi designer-makers Indonesia dalam merancang fashion sirkular. Penelitian ini menggunakan integrasi desain sistemik dan desain etnografi. Desain sistemik digunakan untuk membaca keterhubungan sistem secara menyeluruh, sedangkan desain etnografi digunakan untuk menggali praktik dan kebutuhan aktor dalam konteks keseharian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai fashion sirkular Indonesia masih berada dalam bentuk proto-system yang belum terintegrasi. Oleh karena itu, designer-makers membutuhkan pendekatan sistemik dan strategis yang diterjemahkan ke dalam model konseptual, yaitu (1) Sistem Desain, (2) Strategi Organisasi, dan (3) Kerangka Kerja. Model konseptual tersebut kemudian dikembangkan menjadi model operasional dalam bentuk Kanvas Model Desain, yang terdiri atas (1) Material dan Manajemen Daur Hidup, (2) Proses Desain dan Inovasi, serta (3) Keterlibatan Pemangku Kepentingan dan Interaksi Konsumen, dilengkapi dengan Instrumen Penilaian Mandiri. Uji coba terbatas menunjukkan bahwa model dapat digunakan secara operasional oleh designer-makers sebagai alat refleksi dan pengambilan keputusan desain, meskipun masih memerlukan pendampingan sehingga lebih optimal sebagai media belajar bersama. Evaluasi ahli memvalidasi bahwa model ini relevan sebagai kerangka kontekstual dan operasional bagi Indonesia, namun implementasinya perlu dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas, skala, orientasi pasar, dan jejaring pengguna. Pada tahap awal, implementasi model dapat diarahkan kepada designer-makers yang berorientasi ekspor, khususnya ke pasar Uni Eropa. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan model fashion sirkular yang kontekstual bagi Indonesia melalui integrasi desain sistemik dan desain etnografi, serta menghasilkan model konseptual dan operasional yang memperluas diskursus fashion sirkular yang selama ini masih didominasi konteks Uni Eropa. Namun demikian, penelitian ini masih terbatas pada titik masuk jejaring tertentu, sehingga memerlukan pengembangan lebih lanjut pada integrasi lintas pemangku kepentingan dan penggunaan dalam skala yang lebih luas

2026
👤 Penulis: Rahayu Budhi Handayani
🏷️ Desain Sistemik 🏷️ Desain Etnografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Fashion

STRATEGI PEMBELAJARAN STORYBOARD VIDEOGRAFI BERBASIS SIMULASI VIRTUAL BAGI SISWA SMK DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

Storyboard merupakan bagian penting untuk menghubungkan ide konsep sampai menjadi karya audio-visual. Oleh karena itu, dalam sebuah produksi audio-visual, storyboard harus dipelajari melalui praktik langsung, namun pelaksanaan praktik ini sering kali menjadi kendala akibat keterbatasan fasilitas di sekolah. Pendekatan pembelajaran konvensional yang cenderung searah membuat peserta didik mengalami kesulitan dalam membayangkan dimensi ruang visual tiga dimensi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat strategi pembelajaran storyboard dengan mensimulasikan proses produksi melalui Simulation-Based Learning (SBL) dan Machinima sebagai sebuah metode baru bagi siswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus yang dilaksanakan di SMKN 11 Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis simulasi ini secara keseluruhan berhasil mengenalkan tata bahasa videografi, melatih kemampuan merancang draf storyboard digital, hingga mensimulasikannya secara interaktif melalui media Machinima. Ruang simulasi virtual ini sukses bertindak sebagai jembatan yang adaptif untuk mentransformasikan rencana tertulis menjadi visualisasi adegan virtual yang dinamis dan berkesinambungan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengalihfungsian fitur simulasi virtual sebagai laboratorium kognitif untuk mempelajari bahasa videografi, sehingga mampu memotong hambatan logistik praktik fisik konvensional. Penelitian ini memberikan sumbangan terhadap lingkup ilmu teknologi pendidikan mengenai integrasi media simulasi interaktif, sekaligus menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efisien bagi institusi vokasi dalam mencapai target Kurikulum Merdeka pada elemen Proses Produksi Desain.

2026
👤 Penulis: Vicky Ahmad Kautsar Azzaki
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Pendidikan Teknologi 🏷️ Simulation-Based Learning (Sbl)

PEMODELAN GEOMEKANIKA 1D UNTUK ESTIMASI WELLBORE COLLAPSE PRESSURE BERBASIS KRITERIA MOHR-COULOMB DAN MODIFIED-LADE BESERTA PERANCANGAN HYDRAULIC FRACTURING

Operasi pengeboran dan stimulasi di Cekungan “SHEDNA” menghadapi tantangan akibat aktivitas tektonik intensif. Ketidakpastian rezim tegasan dan tekanan pori memicu ketidakstabilan lubang bor seperti kick, blowout, dan keruntuhan dinding sumur yang menaikkan risiko serta biaya operasi. Penelitian ini mengkarakterisasi geomekanika Sumur “AMQ-036” di Cekungan “SHEDNA” untuk mitigasi risiko pengeboran sekaligus perancangan stimulasi. Model Geomekanik 1D dibangun untuk menentukan mekanisme overpressure, rezim tektonik, dan magnitudo SHmax melalui stress polygon. Jendela lumpur pengeboran ditentukan dari wellbore collapse pressure dengan kriteria Mohr-Coulomb dan Modified-Lade, lalu hydraulic fracturing Perkins-Kern-Nordgren (PKN) 2D dirancang pada lima zona target melalui optimasi grid search. Data yang digunakan berupa wireline log (gamma ray, densitas, sonik) dan citra Formation Micro Imager (FMI). Mekanisme overpressure pada Formasi B, C, dan D didominasi unloading, dengan rezim strike-slip bertransisi ke normal faulting dan orientasi SHmax sekitar N60°E-N70°E. Jendela lumpur Modified-Lade konsisten lebih lebar karena memasukkan tegasan utama menengah, dan sebagian interval overpressure menunjukkan tekanan pori melampaui collapse pressure. Pemodelan PKN menghasilkan panjang rekahan satu sayap (Xf) 213-216 m, lebar maksimum 2,806-8,844 mm, dan tekanan breakdown 6.123-10.759 psi bergantung kedalaman dan rezim tegasan lokal. Hasil ini menjadi panduan teknis terintegrasi untuk pengeboran dan stimulasi di Cekungan “SHEDNA”.

2026
👤 Penulis: Muhammad Furqan Zelsy
🏷️ Geomekanika Sumur 🏷️ Hydraulic Fracturing 🏷️ Teknik Pengeboran Intensif

PEMODELAN 3D KECEPATAN GELOMBANG S LAPANGAN PANAS BUMI

Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi terbesar di dunia, namun dalam pemanfaatannya tergolong rendah sehingga eksplorasi perlu terus ditingkatkan. Penelitian ini menggunakan Ambient Noise Tomography (ANT) gelombang Rayleigh bertujuan untuk merekonstruksi model 3D kecepatan gelombang S (Vs) dan menginterpretasikan dalam elemen sistem panas bumi. Data yang digunakan berupa rekaman seismik kontinu selama enam bulan dari 15 stasiun yang menghasilkan 105 pasangan stasiun, dengan tahapan pengolahan meliputi pre-processing, cross correlation, stacking menggunakan metode linear dan phase-weighted stacking (PWS), ekstraksi kurva dispersi menggunakan Continuous Wavelet Transform (CWT) dengan Morlet wavelet, pemilihan wavelength criterion, serta direct inversion menggunakan DSurfTomo yang dievaluasi melalui checkerboard test. Dari 105 pasangan stasiun diperoleh 97 kurva dispersi, setelah dilakukan wavelength criterion diperoleh 87 kurva dispersi yang memenuhi syarat. Inversi menggunakan 181 ray yang menghasilkan model 3D Vs hingga kedalaman 3 km dengan resolusi yang baik sekitar 1.4 km berdasarkan checkerboard test. Model 3D Vs yang dihasilkan memperlihatkan anomali kecepatan rendah pada kedalaman dangkal yang diinterpretasi sebagai clay cap hasil alterasi argilik dan berkorelasi dengan zona konduktif dari penelitian metode magnetotelurik, peningkatan Vs tepat di bawah lapisan clay cap diduga sebagai zona reservoir hasil alterasi propilitik, anomali kecepatan tinggi diduga sebagai batuan beku, serta kontras anomali kecepatan tinggi dan rendah diinterpretasikan sebagai patahan yang menjadi boundary fault sistem panas bumi. Setelah dilakukan wavelength criterion yang berbeda, hasil inversi tomografi dengan syarat yang lebih longgar menghasilkan model yang konsisten dibandingkan syarat yang lebih ketat pada kedalaman dangkal. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa model 3D Vs di lapangan panas bumi "AMQ" menggunakan metode ANT gelombang Rayleigh yang diintegrasikan dengan data lain untuk mendukung pengembangan lapangan panas bumi selanjutnya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fatkhurrohman
🏷️ Geofisika Sosial 🏷️ Analisis Data Seismik Kontinu 🏷️ Model 3D Kecepatan Gelombang

FAKTOR ORGANISASI, TATA KELOLA, DAN PERILAKU YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS LINDUNG NILAI KOMODITAS: STUDI KUALITATIF PADA PT PERTAMINA HULU ENERGI

Volatilitas harga komoditas telah menjadi salah satu tantangan strategis paling kritis yang dihadapi perusahaan minyak dan gas hulu. Bagi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding upstream PT Pertamina (Persero), volatilitas ini menciptakan ketidakpastian signifikan dalam pembentukan pendapatan dan perencanaan keuangan. Direksi dan Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero) telah secara resmi mengamanatkan implementasi program commodity hedging yang komprehensif di PHE. Namun demikian, program tersebut masih berada pada tahap transisi pra-implementasi, bukan karena kurangnya instrumen keuangan atau akses pasar, melainkan karena interaksi kompleks antara kesiapan organisasi, struktur tata kelola, dan dinamika perilaku para pengambil keputusan. Penelitian ini menganalisis bagaimana faktor organisasi, tata kelola, dan perilaku saling berinteraksi dalam membentuk efektivitas implementasi commodity hedging di PHE. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang didukung analisis keuangan kuantitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan tujuh belas pemangku kepentingan, termasuk Direksi, fungsi Finance & Treasury, Commercial, Risk Management, eksekutif holding PT Pertamina, perwakilan bank internasional, konsultan eksternal, dan ahli hukum dari Kejaksaan Agung. Transkip wawancara dianalisis menggunakan NVivo, menghasilkan 4.614 referensi terkode pada empat dimensi analitis. Temuan utama penelitian ini adalah konsep lingkungan hedging yang terkendala secara hukum (legally-constrained hedging environment): kondisi di mana kendala utama efektivitas hedging bukan ketidakmampuan teknis, melainkan persimpangan antara persyaratan tata kelola BUMN dan kerangka hukum antikorupsi Indonesia melalui UU Tipikor. Dalam lingkungan ini, keputusan hedging yang secara finansial rasional berisiko diinterpretasikan sebagai kerugian negara apabila instrumen mengalami kerugian akibat pergerakan harga yang menguntungkan pasca-hedging. Hal ini menciptakan orientasi perilaku sistematis yang mengutamakan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum di atas keputusan yang optimal secara komersial. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan memperluas teori efektivitas hedging ke konteks BUMN di pasar berkembang, serta menghadirkan kerangka implementasi tiga fase yang dapat dijadikan panduan praktis bagi PHE dan organisasi sejenis.

2026
👤 Penulis: Amellia Christin Yulinda
🏷️ Efektivitas Hedging Komoditas 🏷️ Manajemen Badan Usaha Negara (Bumn) 🏷️ Hukum Antikorupsi Indonesia

UNBOUND HARMONIES: PERANCANGAN PUSAT MUSIK BAGI ANAK DENGAN SPEKTRUM AUTISME SEBAGAI RUANG EKSPRESI DAN INKLUSI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR MULTISENSORI

Anak-anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (ASD) memiliki keterbatasan dalam komunikasi, interaksi sosial, dan pemrosesan sensorik yang memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan binaan. Meskipun manfaat intervensi dini telah diakui luas, ketersediaan fasilitas inklusif di Indonesia sangat terbatas, sehingga banyak anak berhadapan dengan lingkungan yang gagal mengakomodasi kebutuhan sensorik dan perkembangan mereka. Layanan yang ada sebagian besar bersifat klinis dan terfragmentasi, memaksa keluarga mengakses berbagai penyedia layanan secara terpisah dan membatasi peluang anak autisme untuk mengekspresikan diri dan berkembang di dalam masyarakat. Sebagai bahasa universal yang melampaui batasan komunikasi verbal, musik menjadi medium efektif untuk memfasilitasi ekspresi emosional, perkembangan kognitif, regulasi sensorik, dan interaksi antarpribadi. Berangkat dari potensi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan pusat musik multisensorik di Jalan Dr. Setiabudi, Bandung. Proyek ini mereinterpretasikan pusat musik konvensional menjadi suaka holistik yang mengintegrasikan pendidikan, terapi, pertunjukan, penelitian, dan keterlibatan komunitas. Dirancang khusus bagi anak-anak ASD berusia 5 hingga 15 tahun, fasilitas ini bertujuan mendorong interaksi sosial alami dan memperkuat inklusi komunitas melalui pengalaman bermusik bersama dengan anak neurotipikal. Lokasi strategisnya menawarkan kemudahan akses serta kedekatan dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan ruang publik sekitarnya. Hal ini memastikan pusat musik tersebut berfungsi sebagai destinasi komunitas inklusif, bukan institusi khusus yang terisolasi. Desain ini mengadopsi pendekatan arsitektur multisensorik, mengatur elemen akustik, pencahayaan, materialitas, warna, tekstur, skala ruang, dan transisi lingkungan untuk menciptakan ruang tanggap-sensorik. Pendekatan ini bertujuan meminimalkan stimulasi berlebih seraya mendorong eksplorasi, kreativitas, dan interaksi sosial. Proses perancangan menerapkan tinjauan literatur, studi preseden, analisis tapak, wawancara pendidik, dan penilaian kebutuhan pengguna guna menerjemahkan pemahaman teoretis menjadi strategi spasial. Hasilnya berupa desain yang mengorganisasikan ruang melalui gradasi sensorik bertahap, mulai dari lingkungan berstimulasi rendah hingga ruang sosial aktif, yang mencakup studio musik, ruang terapi, ruang kelas, area pertunjukan, serta ruang komunitas. Dengan demikian, proyek ini diharapkan dapat menggunakan arsitektur dan musik untuk mendukung ekspresi, perkembangan, dan inklusi sosial anak spektrum autis, sekaligus berkontribusi pada arsitektur inklusif dan memajukan Sustainable Development Goals 4 (Pendidikan Berkualitas), 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).

2026
👤 Penulis: Freideline Amadea Budiono
🏷️ Musik 🏷️ Anak Dengan Gangguan Spektrum Autisme 🏷️ Arsitektur Inklusif

KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT, PEMODELAN GEOLOGI TIGA DIMENSI, DAN ESTIMASI PERSEBARAN KOBALT DENGAN PENDEKATAN ORDINARY KRIGING DI SITE LOLEBA, WASILE SELATAN, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA

Pulau Halmahera merupakan salah satu lokasi di Indonesia dengan potensi cadangan nikel laterit terbesar di dunia, yaitu akibat proses pelapukan dari batuan ultramafik yang intensif. Nikel merupakan logam ekonomis dengan permintaan industri global yang terus meningkat, terutama sebagai bahan baku baterai dan logam tahan karat. Kobalt (Co) juga merupakan salah satu unsur ikutan penting dalam endapan nikel laterit yang terakumulasi di zona residual. Secara administratif, daerah penelitian terletak di Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, Maluku Utara dengan luas area 1,1 km². Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, mengidentifikasi dan menganalisis zona pengayaan Co, menganalisis hubungan Co dengan unsur mayor dan minor pada endapan nikel laterit, mengidentifikasi model geologi tiga dimensi (3D), dan estimasi persebaran kobalt menggunakan Ordinary Kriging (OK). Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data assay geokimia titik bor, sayatan tipis batuan, data XRF trenching, data DEM, peta geologi regional, dan sampel lapangan. Profil pelapukan laterit di lokasi penelitian terdiri dari limonit, saprolit, dan batuan dasar berupa harzburgit, lherzolit, dan dunit dengan tingkat serpentinisasi sedang hingga tinggi. Tingkat laterisasi kuat dikategorikan pada zona limonit dan laterisasi lemah hingga sedang pada zona saprolit. Terdapat dua jenis endapan nikel laterit, yaitu tipe hydrous Mg-silicate dan oksida. Analisis geokimia downhole menunjukkan bahwa Co terkonsentrasi di zona limonit akibat pengayaan residual dengan pola sebaran vertikal yang serupa dengan unsur bermobilitas rendah, seperti Fe, Cr?O?, Al?O?, dan MnO. Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif kuat antara Co dan MnO pada titik trenching KAP4NU-1 (r = 0,97) serta berkorelasi sedang antara Co dengan Fe (r = 0,80), Cr?O? (r = 0,78), dan Al?O? (r = 0,67) di area penelitian. Faktor topografi juga memengaruhi rata-rata ketebalan limonit yang terindikasi pada area flat slope (16,5 m), slight slope (15 m), dan intermediate slope (10 m) yang masing-masing memiliki rata-rata kadar Co, yaitu 0,1017 wt%; 0,1026 wt%; dan 0,1007 wt%. Selain itu, kadar Co juga dipengaruhi oleh tingkat serpentinisasi dengan tingkat sedang dan tinggi menghasilkan nilai rata-rata Co, yaitu 0,102 wt% dan 0,122 wt%. Pemodelan geologi 3D dan estimasi persebaran Co dilakukan menggunakan model blok. Model geologi menunjukkan ketebalan limonit dipengaruhi oleh topografi dan struktur geologi yang juga memengaruhi tingkat pengikisan limonit. Estimasi kadar Co menggunakan metode Ordinary Kriging pada zona limonit bawah. Persebaran kadar Co ? 0,10 wt% cenderung mengikuti tren barat laut–tenggara dan timur laut–barat daya yang mengikuti topografi dan struktur geologi. Secara vertikal, pengayaan Co terkonsentrasi di limonit bawah dan menurun signifikan pada zona saprolit. Pada dasarnya, pengayaan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti topografi, batuan dasar, struktur geologi, dan drainase air tanah sehingga arah tren distribusi Co tidak terlalu dominan dan tidak homogen.

2026
👤 Penulis: Kelvin Andika Putra
🏷️ Lembaran Laterit 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Model Geologi 3D

ANTARA SENI DAN AGAMA : PERANCANGAN SADALI ART SPACE SEBAGAI RUANG REFLEKSI HUBUNGAN SENI, ISLAM, DAN ARSITEKTUR DENGAN PENDEKATAN CONCEPT BASED

Art space sebagai ruang representasi seni tidak hanya berfungsi sebagai wadah apresiasi dan aktivitas kreatif, tetapi juga dapat menjadi medium dialog antara nilai dan pengetahuan yang ingin disampaikan. Di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin menjauh dari ruang-ruang kontemplasi, seni kerap dipahami hanya sebagai objek visual sehingga kehilangan perannya sebagai media refleksi. Padahal dalam Islam, seni bisa menjadi salah satu jalan untuk membangun kesadaran spiritual. Seni dalam Agama Islam sering dianggap sebagai suatu hal yang tabu karena akan mengarah kepada kemusyrikan. Padahal jika ditelaah lebih jauh, seni bukan hanya tentang membuat sebuah karya fisik namun dapat membantu kita dalam mencintai Sang Maha Pencipta, dengan memiliki jiwa seni kita akan mendapatkan keindahaan, kesyahduan, dan ketenangan jiwa yang justru akan membantu kita dalam memahami lebih ajaran-ajaran Islam. Berangkat dari kondisi tersebut, tugas akhir ini bertujuan merancang Sadali Art Space sebagai ruang refleksi yang mengintegrasikan seni, Islam, dan arsitektur melalui penerjemahan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari serta nilai spiritual dalam karya Ahmad Sadali ke dalam pengalaman ruang dengan pendekatan Concept Based Design. Pendekatan Concept Based Design digunakan dengan menjadikan konsep sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Konsep dirumuskan melalui kajian terhadap prinsip-prinsip lukisan Ahmad Sadali, nilai-nilai arsitektur Islam, studi preseden, analisis tapak, serta kebutuhan pengguna. Prinsip-prinsip tersebut kemudian ditransformasikan menjadi strategi perancangan yang diwujudkan melalui pembentukan massa bangunan, organisasi ruang, pemanfaatan cahaya alami, material, tekstur, elemen air, serta penyusunan alur sirkulasi sebagai sebuah perjalanan reflektif yang mengajak pengunjung mengalami proses pencarian, perenungan, hingga kembali kepada kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhan. Lokasi perancangan dipilih di kawasan Summarecon Gede Bage, Kota Bandung, berdasarkan pertimbangan strategis, kontekstual, dan konseptual. Kedekatannya dengan Masjid Raya Al Jabbar, kawasan Pendidikan Islam, serta lanskap danau buatan memberikan potensi untuk menghadirkan ruang publik yang mendukung pengalaman refleksi sekaligus memperkuat karakter kawasan sebagai destinasi budaya dan spiritual. Perancangan art space ini juga menerapkan prinsip desain pasif, optimalisasi pencahayaan dan penghawaan alami, serta pengelolaan air hujan sebagai bagian dari strategi arsitektur berkelanjutan yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduce Inequalities) melalui penyediaan ruang yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun keyakinan, serta SDG 13 (Climate Action) melalui pendekatan desain yang responsif terhadap iklim. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan konseptual mampu menghasilkan art space yang tidak hanya mewadahi kegiatan seni, tetapi juga menghadirkan ruang edukatif dan reflektif yang memperlihatkan keterkaitan antara seni, Islam, dan arsitektur. Melalui penerjemahan nilai-nilai spiritual ke dalam pembentukan massa bangunan, organisasi ruang, pemanfaatan cahaya alami, material, tekstur, elemen air, serta penyusunan alur sirkulasi tanpa bergantung pada simbol-simbol religius yang eksplisit, Sadali Art Space diharapkan menjadi ruang publik yang mampu memperkuat apresiasi seni, memperdalam kesadaran spiritual, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan arsitektur, pendidikan, dan budaya di Kota Bandung.

2026
👤 Penulis: Muhammad Syauqii Zufar
🏷️ Seni 🏷️ Islam 🏷️ Arsitektur

PERANCANGAN KENDALI INERSIA VIRTUAL YANG OPTIMAL DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SKEMA PROTEKSI UNDER FREQUENCY LOAD SHEDDING (UFLS)

Meningkatnya penetrasi Renewable Energy Sources (RESs) berbasis inverter menyebabkan penurunan inersia sistem tenaga yang berdampak pada kestabilan frekuensi dan validitas skema Under Frequency Load Shedding (UFLS). Virtual Inertia Control (VIC) merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, namun kinerjanya sangat bergantung pada nilai konstanta virtual inersia (????????????) yang digunakan. Perancangan ini mengoptimalkan ???????????? menggunakan metode Particle Swarm Optimization (PSO) yang diimplementasikan pada sistem IEEE 39-bus termodifikasi dengan variasi penetrasi VRE sebesar 20%, 30%, dan 50%. Fungsi objektif yang digunakan adalah meminimalkan deviasi frekuensi nadir terhadap kondisi tanpa penetrasi RESs dengan toleransi stopping condition sebesar 0,002 Hz. Hasil optimasi menghasilkan nilai ???????????? sebesar 27,99 s, 35,60 s, dan 46,11 s untuk penetrasi VRE 20%, 30%, dan 50%. Konfigurasi VIC teroptimasi (OVIC) berhasil mempertahankan frekuensi nadir pada nilai acuan di seluruh skenario sehingga skema UFLS eksisting tetap valid. Selain itu, ditemukan hubungan yang hampir linier antara penetrasi VRE, nilai ???????????? optimal, dan kebutuhan energi VIC yang meningkat hingga 3,84 MWh pada penetrasi 50%.

2026
👤 Penulis: Ryan Suryaputra Adiwidodo
🏷️ Kontrol Inersia Virtual 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Tenaga Listrik 🏷️ Optimisasi Kontrol

ANALISA KAJIAN RESIKO KEBOCORAN H2S PADA SEPARATOR AKIBAT KOROSI STUDI KASUS PLTP DOMINASI UAP.

Separator merupakan salah satu komponen penting pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dominasi uap karena berfungsi memisahkan fasa uap dan fasa cair sebelum uap dialirkan menuju peralatan hilir. Dalam operasi jangka panjang, separator bekerja pada kondisi temperatur dan tekanan tertentu serta terpapar fluida panas bumi yang mengandung gas non-kondensabel, seperti H?S dan CO?. Kondisi tersebut dapat memicu degradasi material, gangguan operasi, serta penurunan integritas komponen separator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kerusakan dan mengkaji tingkat risiko pada komponen separator Unit 2 dan Unit 3 berdasarkan data kerusakan, work order, inspeksi visual, pengukuran Ultrasonic Testing (UT), serta penilaian kategori risiko sedang. Hasil evaluasi SIL merekomendasikan fungsi deteksi gas H?S pada SIL 1 dan shutdown otomatis separator pada SIL 2 sebagai arahan awal penguatan sistem proteksi. Strategi mitigasi yang direkomendasikan meliputi inspeksi berbasis risiko, pemantauan ketebalan secara berkala, peningkatan inspeksi NDT seperti Visual Testing (VT), Penetrant Testing (PT), dan Magnetic Particle Testing (MT), perbaikan atau pelapisan komponen yang mengalami degradasi, penguatan sambungan pipa, pengendalian erosi pada nozzle, pengendalian getaran melalui support pipa, serta penguatan sistem deteksi dan proteksi operasi.

2026
👤 Penulis: Febrilian Arief Syaifulloh
🏷️ Korosis 🏷️ Analisis Risiko

ANALISIS PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GRAVITASI BULAN TERHADAP GEMPA BUMI SEPANJANG SIKLUS MATAHARI 24 (2008–2019)

Gempa bumi merupakan manifestasi pelepasan energi dari dalam litosfer Bumi. Keterkaitan antara aktivitas Matahari, Bulan, dan aktivitas seismik telah lama menjadi topik penelitian, namun mekanisme fisis yang mendasarinya masih belum dipahami secara pasti. Penelitian ini mengkaji keterkaitan efek nongravitasional Matahari dan efek gravitasional Bulan terhadap magnitudo dan kedalaman hiposentrum gempa bumi selama Siklus Matahari ke-24 pada lempeng-lempeng tektonik Pasifik, Eurasia, Indo-Australia, Filipina, dan Amerika Selatan–Nazca. Data gempa diperoleh dari USGS, parameter Matahari dari OMNIWeb NASA, dan parameter Bulan dihitung menggunakan pustaka Astropy. Metode partial least squares (PLS) digunakan untuk mengidentifikasi parameter dominan, sedangkan multiple linear regression (MLR) digunakan untuk membangun model linier berbasis parameter dominan terpilih. Hasil menunjukkan bahwa parameter heliogeofisika, terutama indeks geomagnetik, plasma angin Matahari, dan orientasi medan magnet antarplanet (IMF), secara konsisten menjadi parameter dominan dengan pola yang berbeda pada setiap lempeng. Seluruh model menghasilkan signifikansi statistik (p < 0,001), tetapi memiliki kemampuan penjelasan yang sangat rendah, dengan nilai R² sekitar 0,06–0,52% dan R² prediktif kurang dari 0,0001 hingga 0,45%. Secara umum, hubungan tersebut lebih terdeteksi pada model magnitudo dibandingkan model kedalaman. Parameter Bulan yang digunakan, yaitu jarak dan iluminasi, tidak menunjukkan kontribusi yang berarti. Hasil ini mendukung interpretasi bahwa aktivitas Matahari dan pasang surut Bulan lebih mungkin berperan sebagai faktor modulasi atau pemicu eksternal pada sistem tektonik yang telah berada dalam kondisi kritis, bukan sebagai penyebab utama gempa bumi.

2026
👤 Penulis: Dhea Syiva Putri Iwata
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DWELLING BEYOND FORGETTING : PERANCANGAN HUNIAN RAMAH DEMENSIA BERBASIS PENDEKATAN MULTISENSORI

Proyek ini berfokus pada arsitektur multisensori dengan perhatian khusus pada isu demensia. Fokus utama adalah penerapan pendekatan multisensori sebagai strategi desain untuk mendukung stimulasi kognitif, memori, serta keseharian penderita. Pendekatan ini dipadukan dengan reinterpretasi kultur urban Jakarta yang ditandai dengan gaya hidup, interaksi sosial, serta aktivitas komunitas. Tema ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 10 (Reduced Inequalities), serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Berdasarkan laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), tercatat lebih dari 1,2 juta orang hidup dengan demensia pada tahun 2022, dan akan melonjak hingga 3,8 juta pada tahun 2050. Namun, kondisi di Jakarta menunjukkan fasilitas ramah demensia masih sangat terbatas. Mayoritas penderita dirawat di rumah, yang menimbulkan isolasi sosial, beban fisik dan mental bagi caregiver, serta berkurangnya kualitas hidup karena minimnya ruang stimulasi kognitif. Sementara itu, Jakarta dikenal sebagai episentrum gaya hidup urban. Kehidupan perkotaan yang cepat, dinamis, dan cenderung eksklusif justru memperlebar kesenjangan antara lansia penderita demensia dengan masyarakat urban. Akibatnya, mereka terpinggirkan dari dinamika kota, padahal kebutuhan interaksi sosial dan keterhubungan dengan komunitas merupakan elemen penting dalam menjaga kualitas hidup lansia. Tipologi yang dipilih adalah hunian ramah demensia dengan pendekatan skala rumah sesuai regulasi site. Program ruang meliputi: hunian lansia dengan unit-unit sederhana dan familiar; daycare dan ruang komunitas sebagai wadah interaksi intergenerasi antara penghuni, keluarga, caregiver, dan komunitas sekitar; therapeutic & sensory garden sebagai ruang terbuka hijau yang mendukung stimulasi multisensori; serta fasilitas kesehatan ringan untuk kebutuhan harian yang tetap sesuai dengan tipologi hunian. Pendekatan utama adalah multisensory design, yaitu strategi arsitektur yang mengoptimalkan pancaindra untuk mendukung fungsi kognitif penderita demensia. Pendekatan ini dilapisi dengan reinterpretasi kultur urban Jakarta berupa aktivitas sosial, kebersamaan, dan komunitas, sehingga tercipta hunian yang tidak terisolasi. Selain itu, digunakan force-based approach untuk menganalisis faktor pendorong isu (demensia, urban culture, regulasi site), serta pattern-based approach dalam pengembangan ruang sehari-hari (sirkulasi melingkar, jalur multisensori, transisi privat–publik). Metode yang digunakan meliputi: studi literatur mengenai dementia-friendly design, arsitektur multisensori; studi preseden dan analisis komparatif; observasi lapangan di sekitar site Jl. Taman Bibit Jeruk; serta analisis site (SWOT, regulasi KDB–KLB–KDH, akses, RTH). Proyek ini bertujuan menghasilkan konsep hunian ramah demensia yang memadukan prinsip multisensory design dengan kultur urban Jakarta. Luaran yang diharapkan adalah konsep hunian yang aman, suportif, dan familiar bagi penderita demensia, lingkungan yang mendorong interaksi sosial ruang kota, serta model percontohan bagi integrasi dementia-friendly living di kawasan urban. Dengan demikian, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penderita demensia sekaligus stakeholder lain yang berhubungan dengan penderita demensia.

2026
👤 Penulis: Putri Hasanah
🏷️ Demensia 🏷️ Hidrologi Urban 🏷️ Kecerdasan Buatan

EVALUASI HINDCAST VARIABEL HIDROMETEOROLOGI MENGGUNAKAN MODEL WRF DENGAN KOPLING HIDROLOGI SATU ARAH DAN DUA ARAH DI CEKUNGAN BANDUNG

Penelitian ini mengevaluasi performa simulasi hindcast model WRF dan WRF/WRF-Hydro dalam merepresentasikan hujan ekstrem di Cekungan Bandung. Evaluasi dilakukan pada empat kasus tahun 2025 yang mewakili musim MAM, JJA, SON, dan DJF. Curah hujan digunakan sebagai variabel utama, sedangkan kelembapan tanah dan debit sungai digunakan sebagai variabel pendukung untuk menilai pengaruh representasi hidrologi permukaan dan musim meteorologis terhadap akurasi simulasi. Model WRF dijalankan pada tiga domain bersarang beresolusi 9 km, 3 km, dan 1 km, sementara WRF-Hydro menggunakan routing hidrologi 100 m. Evaluasi dilakukan terhadap data stasiun BBWS Citarum, GPM IMERG, GLEAM, dan debit hasil konversi tinggi muka air di Dayeuhkolot menggunakan metrik PBIAS, RMSE, CC, NSE, serta added value. Sebagai pelengkap, dilakukan eksperimen sensitivitas kelembapan tanah awal pada kasus Maret untuk menelusuri pengaruh kelembapan tanah terhadap hujan. Hasil menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro memberikan nilai tambah pada skala lokal dan evaluasi berbasis stasiun. Pada evaluasi spasial terhadap GPM, WRF masih lebih baik secara rata-rata domain. Analisis kelembapan tanah menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro menghasilkan pola spasial yang lebih detail karena adanya routing, redistribusi lateral air, dan re-infiltrasi. Namun, peningkatan kelembapan tanah tidak selalu langsung diikuti peningkatan akurasi hujan maupun debit. Eksperimen sensitivitas pada kasus Maret menunjukkan bahwa curah hujan responsif terhadap variasi kelembapan tanah awal, dengan perturbasi ±25% mengubah akumulasi hujan hingga +28,6% pada skenario basah dan -23,8% pada skenario kering di wilayah utara. Untuk debit sungai, WRF-Hydro menunjukkan performa lebih baik dibandingkan fully coupled. Secara keseluruhan, WRF/WRF Hydro memberikan nilai tambah lokal pada hujan dan lebih representatif untuk kelembapan tanah, sedangkan WRF-Hydro lebih andal untuk debit.

2026
👤 Penulis: Rifda Amara Aulia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Hidrologi 🏷️ Model Meteorologi
Halaman 102 dari 6754
💬