📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenEVALUASI SEISMIK BERBASIS RISIKO DAN RESILIENSI PADA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT MENENGAH DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS DAN SISTEM RANGKA BRESING TAHAN TEKUK MENGGUNAKAN FEMA P-695 DAN FEMA P-58
Kinerja bangunan merupakan hal penting yang perlu disepakati dalam proses perancangan. Perbedaan sudut pandang teknis dan nonteknis antara perencana struktur dan pemilik bangunan masih menjadi kendala krusial yang sering ditemukan. Desain berbasis resiliensi yang diperkenalkan FEMA P-58 menjawab kebutuhan ini dengan menerjemahkan respons struktur menjadi variabel keputusan yang bermakna bagi pengambil keputusan. Penelitian ini membandingkan risiko dan resiliensi dua sistem rangka baja dengan faktor modifikasi respons yang sama (R = 8), yaitu Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SMF) dan Sistem Rangka Bresing Tahan Tekuk (BRBF), pada bangunan perkantoran hipotetikal lima lantai di Jakarta yang dirancang secara optimal berdasarkan SNI 1726:2019, SNI 7860:2020, dan standar lainnya. Analisis beban dorong nonlinear dilakukan untuk mengevaluasi kinerja desain, kemudian diverifikasi berdasarkan keseimbangan energi melalui analisis riwayat waktu nonlinear tiga dimensi pada OpenSees. Kajian selanjutnya dilakukan terhadap analisis risiko menggunakan FEMA P-695 dan analisis resiliensi menggunakan FEMA P-58. Analisis dinamis inkremental dilakukan pada kedua bangunan menggunakan 11 pasang gerakan tanah. Kemudian dilakukan pencocokan kurva fragilitas keruntuhan dengan ketidakpastian total untuk memperoleh probabilitas keruntuhan bersyarat, dan konvolusi terhadap kurva bahaya Jakarta untuk memperoleh laju keruntuhan tahunan. Hasilnya menunjukkan kedua sistem memenuhi target keandalan dan risiko SNI. Probabilitas keruntuhan bersyarat akibat MCER sebesar 1,06% (SMF) dan 5,18% (BRBF), keduanya di bawah batas 10% untuk kategori risiko II; sedangkan laju keruntuhan tahunan masing-masing 1,97 × 10-5 per tahun (SMF) dan 5,59 × 10-5 per tahun (BRBF), keduanya di bawah ambang 2,00 × 10-4 per tahun. Simulasi Monte Carlo pada program PACT dengan 1.000 realisasi pada delapan tingkat intensitas dilakukan untuk memperoleh berbagai aspek resiliensi: fungsi konsekuensi, estimasi kerugian tahunan (EAL), dan kurva fungsionalitas berbasis REDiTM. EAL total kedua sistem hampir setara (sekitar 0,2% hingga 0,3% nilai bangunan per tahun), tetapi komposisinya berbalik: kerugian SMF didominasi komponen nonstruktural sensitif simpangan, sedangkan kerugian BRBF didominasi penggantian akibat keruntuhan. Pada taraf gempa MCER, BRBF menghasilkan rasio kerugian lebih rendah (sekitar 24% berbanding 46%), indeks resiliensi lebih tinggi (82% berbanding 71%), dan probabilitas ketakperbaikan jauh lebih kecil akibat simpangan antar tingkat yang kecil, tetapi menanggung tambahan waktu henti akibat tenggang impor BRB. Hasil kajian menunjukkan kedua sistem struktur telah memenuhi probabilitas keruntuhan bersyarat akibat MCER dan laju keruntuhan tahunan yang ditentukan dalam SNI 1726:2019. Tingkat resiliensi struktur yang dikaji bergantung pada aspek resiliensi yang diprioritaskan: BRBF unggul pada pengendalian kerusakan, sedangkan SMF unggul pada keamanan terhadap keruntuhan. Kesimpulan ini hanya berlaku pada arketipe struktur yang dikaji dalam penelitian ini.
STUDI ETNOASTRONOMI: PERAN BENDA LANGIT DALAM AKTIVITAS TRADISIONAL MASYARAKAT MARITIM DAN AGRARIS (KASUS SUKU BAJO DAN SUKU TORAJA)
Etnoastronomi adalah cabang ilmu astronomi yang mempelajari tentang keyakinan dan praktik astronomi dari budaya-budaya tertentu. Di Indonesia, keberagaman etnis, ras, dan budaya menjadikan setiap suku bangsa menerjemahkan langit dengan pandangan dan cara yang berbeda-beda. Dalam budaya maritim, pengetahuan astronomi berperan penting dalam navigasi, waktu berlayar, dan memprediksi kondisi laut. Pengetahuan astronomi dalam budaya agraris berperan penting dalam hal pertanian, seperti menentukan awal musim tanam dan musim panen. Selain itu, pengetahuan astronomi juga berperan dalam penentuan hari baik dan buruk untuk melakukan aktivitas, baik dalam budaya maritim maupun agraris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran benda langit dalam aktivitas tradisional budaya maritim dan agraris di Indonesia. Fokus penelitian ini ada pada pemanfaatannya dalam rangkaian aktivitas melaut Suku Bajo sebagai representasi masyarakat maritim, dan rangkaian aktivitas pertanian Suku Toraja sebagai representasi masyarakat agraris. Penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu studi literatur untuk memperoleh data primer dan wawancara untuk memperoleh data sekunder sebagai konfirmasi dan pelengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Bajo memanfaatkan benda langit dalam navigasi pelayaran, penentuan waktu dan musim, serta penentuan hari baik dan buruk menggunakan fase Bulan dan fenomena meteorologi. Masyarakat Toraja memanfaatkan benda langit untuk penentuan waktu tanam, perubahan musim, serta penentuan hari baik dan buruk yang tertuang dalam sistem ma’pebulan. Komparasi kedua pengetahuan astronomi tradisional menunjukkan perbedaan dalam penggunaannya meskipun serupa secara struktural. Analisis astronomi menggunakan simulasi Stellarium menunjukkan bahwa selisih posisi objek langit yang digunakan antara tahun 1925 dan 2026 rata-rata 1°, sehingga mengonfirmasi pengetahuan selama satu abad masih relevan dan dapat digunakan hingga saat ini.
PENGARUH PAPARAN CAHAYA TAMPAK TERHADAP METABOLIT SEKUNDER, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, DAN AKTIVITAS ENZIMATIK PHENYLALANINE AMMONIA-LYASE PADA PASCAPANEN DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.)
Daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung metabolit sekunder, seperti fenolik, flavonoid, dan asetogenin, yang berperan dalam aktivitas biologis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh paparan cahaya tampak terhadap profil metabolit, aktivitas enzim phenylalanine ammonia-lyase (PAL), kandungan fenolik total, flavonoid total, asetogenin, dan aktivitas antioksidan daun sirsak pascapanen. Daun segar hasil pemanenan dipaparkan cahaya biru, putih, merah atau gelap selama 24 jam. Daun segar yang langsung dikeringkan digunakan sebagai kontrol. Ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasound-assisted extraction dengan pelarut etanol Pro Analisis (PA). Terhadap ekstrak dari masing-masing kelompok dilakukan pengukuran total fenol, total flavonoid, asetogenin, serta aktivitas antioksidan. Adapun pengujian aktivitas PAL dan profil metabolit dilakukan terhadap sampel daun segar dan daun kering pasca perlakuan. Hasil pengukuran FTIR dianalisis lebih lanjut melalui analisis multivariat. Aktivitas PAL pada daun yang dipaparkan cahaya biru menunjukkan respons tinggi (35,98 U/mg protein) dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil pengukuran total fenolik dan total flavonoid sebesar 7,06±1,05 mg GAE/g dan 4,98±0,71 mg QE/g simplisia, secara berurutan. Paparan terhadap cahaya biru serta putih juga meningkatkan aktivitas antioksidan terhadap DPPH (7,13±0,67 mg AAE/g simplisia dan 6,48±0,65 mg AAE/g simplisia) dibandingkan kelompok kontrol tanpa perlakuan dan paparan gelap. Namun demikian, pengukuran terhadap asetogenin tidak menunjukkan pola yang serupa. Analisis kemometrika terhadap hasil FTIR menunjukkan perbedaan profil metabolit antar perlakuan. Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA) memperlihatkan kecenderungan pengelompokkan sampel berdasarkan perlakuan cahaya, dengan profil cahaya biru dan putih yang relatif berdekatan. Dengan demikian, paparan cahaya biru pada masa pascapanen dapat mempengaruhi aktivitas biosintesis jalur fenilpropanoid pada daun sirsak.
OPTIMALISASI PREPARED ENVIRONMENT MELALUI PENDEKATAN FLEXIBLE DESIGN PADA PERANCANGAN MONTESSORI PLAYSCHOOL & PRESCHOOL BANDUNG
Pendidikan anak usia dini merupakan fase krusial dalam pembentukan karakter dan kemampuan kognitif manusia. Fenomena meningkatnya kebutuhan akan fasilitas penitipan anak Playschool dan Preschool di area perkotaan menuntut adanya lingkungan belajar yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga mampu menstimulasi perkembangan anak secara optimal. Penelitian ini berfokus pada perancangan interior Playschool dan Preschool yang menerapkan metode pendidikan Montessori. Metode ini menekankan pada kemandirian, kebebasan dalam batasan, dan penghormatan terhadap perkembangan psikologis alami anak. Namun, tantangan utama dalam desain ruang pendidikan konvensional seringkali terletak pada sifat ruang yang kaku dan statis, yang justru menghambat eksplorasi mandiri atau auto-education pada anak. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mengintegrasikan prinsip Prepared Environment Montessori dengan konsep Flexibility Design guna menciptakan ruang belajar yang responsif terhadap dinamika perkembangan anak. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana desain interior dapat mengakomodasi masa peka (sensitive periods) anak yang berubah-ubah serta mendukung struktur sosial multi-age grouping yang menjadi ciri khas filosofi Montessori. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep Agile Learning Spaces yang diperkenalkan oleh Nair, Fielding, dan Lackney (2013). Metodologi yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah metode perancangan desain yang meliputi tahap pengumpulan data melalui studi literatur mengenai standar antropometri anak dan kurikulum Montessori, observasi lapangan, serta studi preseden pada fasilitas serupa. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menghasilkan program ruang yang efektif dan sintesis desain yang aplikatif. Fokus utama pengembangan desain terletak pada tiga dimensi fleksibilitas: fluidity (aliran ruang), versatility (multi-fungsi), dan convertibility (kemudahan perubahan fungsi elemen interior). Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan Flexibility Design melalui furnitur modular, elemen interior yang dapat dipindahkan (mobile), dan zona polivalen mampu menciptakan atmosfer belajar yang adaptif. Penggunaan material alami dengan palet warna netral diterapkan untuk meminimalkan distruksi visual, sesuai dengan prinsip Montessori yang mengutamakan fokus anak pada material kerja. Integrasi aspek keamanan (safety) dan aksesibilitas anak menjadi prioritas dalam pemilihan detail sambungan furnitur dan sirkulasi ruang. Kesimpulan dari perancangan ini menegaskan bahwa interior yang fleksibel dan "lincah" (agile) bertindak sebagai katalisator yang memastikan lingkungan tetap relevan dengan kebutuhan transisi aktivitas anak. Dengan demikian, desain ini diharapkan dapat menjadi model bagi fasilitas pendidikan anak usia dini yang lebih humanis dan mendukung potensi genetik anak secara maksimal.
MEMORI INDUSTRIAL SEBAGAI URBAN ANCHOR : STRATEGI ADAPTIVE REUSE DAN PERANCANGAN BANGUNAN MIXED USE PENDUKUNG PADA KAWASAN EKS GUDANG KAI CIKUDAPATEUH
Eks Gudang KAI Cikudapateuh merupakan bangunan Cagar Budaya Golongan A di Kota Bandung yang memiliki nilai historis dan arsitektural sebagai bagian dari perkembangan sistem perkeretaapian di Indonesia. Meskipun memiliki karakter industrial yang masih kuat, kawasan ini telah kehilangan fungsi utamanya sehingga aktivitas urban di dalamnya menurun dan bangunan menjadi dorman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian bangunan cagar budaya tidak hanya memerlukan upaya konservasi fisik, tetapi juga strategi yang mampu mengembalikan relevansi fungsi bangunan terhadap kebutuhan kota masa kini. Perancangan revitalisasi kawasan Eks Gudang KAI Cikudapateuh dilakukan melalui pendekatan adaptive reuse dengan konsep memorial industrial urban anchor. Konsep ini menjadikan memori industrial sebagai identitas utama kawasan sekaligus landasan dalam membentuk hubungan antara bangunan heritage, bangunan baru, dan ruang publik. Proses perancangan dilakukan melalui analisis sejarah kawasan, regulasi cagar budaya, kondisi tapak, studi preseden, analisis pengguna, serta penyusunan kriteria perancangan berdasarkan prinsip konservasi dan pengembangan kawasan perkotaan. Hasil perancangan mempertahankan bangunan heritage sebagai wadah museum, perpustakaan, ruang komunitas, galeri, dan fasilitas edukasi, sementara bangunan baru mengakomodasi fungsi hotel, SOHO, capsule hotel, ruang komersial, serta fasilitas pendukung lainnya. Hubungan antara bangunan lama dan bangunan baru dibentuk melalui plaza, jalur pedestrian, dan sunken courtyard yang menjaga orientasi visual terhadap bangunan heritage, sedangkan massa bangunan baru dirancang dengan pendekatan arsitektur kontemporer yang menghormati karakter industrial eksisting tanpa menciptakan imitasi historis. Melalui strategi tersebut, kawasan diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai urban anchor yang menghidupkan kembali memori kolektif perkeretaapian, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya secara berkelanjutan.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER BERUPA FASILITAS OLAHRAGA REKREATIF SEBAGAI PUSAT GAYA HIDUP SEHAT KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN DESAIN RAMAH LINGKUNGAN
Peningkatan minat masyarakat urban terhadap gaya hidup sehat di Kota Bandung terjadi bersamaan dengan meningkatnya permasalahan kesehatan mental, khususnya pada kelompok usia produktif. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan ruang yang dapat berperan sebagai sarana pemulihan mental dan sosial yang inklusif. Fasilitas olahraga konvensional maupun ruang publik yang tersedia saat ini dinilai belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut secara terintegrasi dan berkelanjutan. Oleh karena itu, perancangan wellness center berbasis olahraga rekreatif sebagai pusat gaya hidup sehat menjadi relevan untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat urban. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan fasilitas olahraga rekreatif yang mendukung kesejahteraan holistik melalui pendekatan desain ramah lingkungan. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, analisis kebutuhan pengguna, analisis konteks tapak, serta penerapan konsep desain sebagai dasar pengambilan keputusan desain interior. Konsep utama yang diterapkan adalah Breathable, yang menekankan keterbukaan ruang, kualitas sirkulasi udara, dan pemanfaatan pencahayaan alami untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Konsep bentuk flowing lines diterapkan untuk membentuk alur ruang yang mengalir secara alami dan mendukung pengalaman ruang yang tenang serta tidak kaku. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan wellness center yang dapat menjadi ruang pemulihan fisik, mental, dan sosial yang berkelanjutan. Dengan pendekatan desain yang berorientasi pada manusia dan lingkungan, perancangan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mendukung kualitas hidup masyarakat urban Kota Bandung.
CINEMATIC LIFESTYLE HUB: PUSAT APRESIASI FILM ALTERNATIF DI KOTA BANDUNG
Kota Bandung ditetapkan sebagai Kota Kreatif UNESCO sejak 2015, menegaskan perannya sebagai pusat perkembangan industri kreatif yang didukung komunitas independen, sineas muda, serta institusi pendidikan berbasis film. Kultur apresiasi film di Bandung tercermin melalui penyelenggaraan berbagai festival film secara rutin. Namun, pertumbuhan industri film Indonesia belum diimbangi dengan ketersediaan ruang pemutaran yang memadai. Keterbatasan akses distribusi dan dominasi bioskop komersial menyebabkan banyak film alternatif tidak memperoleh kesempatan tayang, sementara Bandung hingga kini belum memiliki ruang pemutaran alternatif yang bersifat permanen. Permasalahan tersebut melatarbelakangi perancangan Cinematic Lifestyle Hub, sebuah pusat sinema terintegrasi yang mendukung seluruh rantai ekosistem film alternatif, mulai dari pengarsipan, produksi, pemutaran, hingga diskusi. Perancangan ini bertujuan mengintegrasikan fungsi-fungsi ekosistem perfilman, menyediakan fasilitas pemutaran dengan standar audiovisual profesional setara bioskop komersial, serta memperkuat kolaborasi komunitas dan sineas independen. Tapak perancangan berada di kawasan Bandung Wetan, salah satu wilayah pusat kota yang diarahkan sebagai simpul pelayanan sosial, ekonomi, dan pariwisata dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung 2024. Metode perancangan dilakukan melalui studi komparatif terhadap sejumlah preseden bangunan sinema dan pusat produksi media di Eropa dan Amerika Serikat, di antaranya Cinemateket (Oslo), Gaumont Pathé Alésia Cinémas dan Étoile Lilas Cinema (Paris), serta Columbia College Media Production Center (Chicago). Konsep utama, “Pengalaman Tiga Babak”, mengadaptasi struktur naratif film ke dalam pengorganisasian ruang dan pembagian massa bangunan menjadi tiga volume yang merepresentasikan tahapan konsumsi, diskusi, dan produksi film. Pendekatan desain diarahkan sehingga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan ruang edukasi dan literasi media, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui pemerataan akses dan kesempatan apresiasi bagi sineas independen, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui optimalisasi pemanfaatan ruang dan sumber daya dalam mendukung keberlanjutan ekosistem produksi dan konsumsi film. Dengan demikian, proyek Cinematic Lifestyle Hub diposisikan tidak hanya sebagai solusi arsitektural atas keterbatasan ruang pemutaran alternatif di Bandung, tetapi juga sebagai strategi inklusif untuk memperkuat ekosistem perfilman kota sekaligus memperluas manfaat sosial, ekonomi, dan kultural bagi masyarakat.
RE-DESAIN SMP SANTA ANGELA DENGAN PENDEKATAN HUMAN-CENTERED DESIGN DAN SENSE OF PLACE DI BANDUNG
Di Kota Bandung, SMP Santa Angela merupakan sekolah Katolik yang menempati bangunan cagar budaya yang berdiri sejak masa kolonial. Sekolah ini menghadapi tantangan dalam menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Ruang kelas yang dialihfungsikan, kompleksitas kebutuhan siswa, dan kondisi lingkungan belajar yang belum optimal, seperti kebisingan, pencahayaan yang kurang memadai, dan penghawaan yang kurang nyaman. Selain itu, integrasi nilai sekolah dalam desain ruang masih terbatas sehingga potensi penguatan identitas sekolah dalam pengalaman ruang belum terimplementasi secara optimal. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain baru dalam mengatasi permasalahan dan tatangan di SMP Santa Angela melalui pendekatan human- centered design dan sense of place. Pendekatan human-centered design berfokus pada kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial pengguna yang akan menjadi dasar pengembangan solusi desain. Pendekatan sense of place diterapkan untuk menyelaraskan karakter fisik bangunan, aktivitas sosial, dan makna simbolik guna memperkuat keterikatan serta rasa memiliki (sense of belonging) warga sekolah. Metode penelitian meliputi survei, observasi, kuesioner, wawancara, dan pengukuran faktor lingkungan menggunakan 5 in 1 environment meter. Perancangan ulang SMP Santa Angela ini mengangkat tema “Transforming into a Brighter Future: Honoring the Past, Transforming the Present, Shaping the Future” sebagai upaya menyelaraskan pelestarian identitas historis bangunan cagar budaya dan nilai Serviam dengan transformasi ruang yang responsif terhadap kebutuhan masa kini serta kebutuhan pembelajaran masa depan. Implementasi desain menerapkan kedua pendekatan desain pada sekolah dengan 6 ruang sebagai prioritas tertinggi, yaitu lobi, koridor sejarah, student hub, ruang guru, dan 2 ruang kelas tipikal. Perancangan ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik dan berpusat pada pengguna, mendukung kenyamanan, aktivitas, interaksi sosial, serta memperkuat identitas sekolah melalui pengalaman ruang untuk meningkatkan ‘rasa memiliki’ bagi warga sekolah.
KIDNETICZ: PERANCANGAN MUSEUM FISIKA UNTUK ANAK MELALUI DESAIN INTERIOR MULTISENSORI
Di era digital saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain gawai dan ponsel pintar, sehingga kesempatan untuk berinteraksi, mengeksplorasi, dan mendapatkan pengalaman belajar secara langsung menjadi sangat terbatas. Kondisi ini membuat ilmu fisika yang bersifat abstrak terasa semakin sulit dipahami dan membosankan. Pemilihan konten fisika didasari karena ilmu ini merupakan salah satu mata pelajaran dasar yang menjadi landasan pemahaman berbagai fenomena alam dan penerapan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan merancang interior Museum Edukasi Fisika untuk Anak di Kota Bandung dengan pendekatan multisensori, sebagai media pembelajaran alternatif yang memberikan pengalaman nyata dan mendalam. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, meliputi studi pustaka, observasi lapangan, analisis kebutuhan pengguna, serta studi preseden. Hasil perancangan menunjukkan bahwa desain ruang yang merangsang seluruh panca indra melalui fasilitas interaktif, aman, dan fleksibel dapat membantu anak memahami konsep fisika secara konkret, mengurangi ketergantungan berlebih pada gawai, serta menumbuhkan minat belajar sains yang lebih positif, aktif, dan berkesan.
VARIABILITAS DAN DINAMIKA UPWELLING DI CEKUNGAN MENTAWAI (1995–2024)
Perairan Cekungan Mentawai merupakan salah satu wilayah di Samudra Hindia timur yang dipengaruhi oleh sistem monsun, variabilitas iklim, dan dinamika arus regional sehingga berpotensi mengalami upwelling. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variabilitas musiman dan antartahunan upwelling s erta menganalisis faktor-faktor oseanografi yang memengaruhinya selama periode 1995–2024. Penelitian menggunakan data reanalisis CMEMS dan ERA5 berupa suhu potensial, salinitas, arus laut, dan angin permukaan. Analisis dilakukan melalui perhitungan transpor Ekman, Ekman pumping, komposit musiman, serta cross-correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upwelling berkembang pada musim timur dan mencapai intensitas maksimum pada musim peralihan II, yang ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, transpor Ekman yang bergerak menjauhi pantai, dan Ekman upwelling bernilai positif. Hubungan antara Ekman upwelling dan suhu permukaan laut menunjukkan korelasi negatif yang sangat kuat (r = -0,89) dengan lag 2 bulan. Pada skala antartahunan, IOD positif memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan ENSO, dengan korelasi DMI terhadap anomali suhu permukaan laut sebesar -0,56 (lag 0), sedangkan korelasi ONI sebesar 0,37 (lag 7 bulan). Selain itu, pola arus ekuatorial menunjukkan karakteristik Wyrtki Jet pada April–Mei dan Oktober–November yang diduga turut memodulasi distribusi massa air dan perkembangan upwelling di Cekungan Mentawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upwelling di Cekungan Mentawai dikendalikan oleh interaksi angin monsun, dinamika Ekman, variabilitas iklim, dan arus regional.
REDESAIN PLAZA STASIUN BANDUNG DAN PERANCANGAN ELEVATED PUBLIC SPACE YANG MENGHUBUNGKAN UTARA-SELATAN
Redesain Plaza Stasiun Bandung dan perancangan elevated public space yang inklusif dan terintegrasi, bukan hanya berfungsi sebagai simpul transportasi utama, namun juga sebagai infrastruktur ruang publik yang menghubungkan kawasan utara dan selatan stasiun untuk mendukung mobilitas dan interaksi sosial masyarakat kota. Sejalan dengan SDG's ke-11 "Sustainable Cities & Communities" dan ke-9 "Industry, Innovation and Infrastructure", rancangan ini diharapkan mampu menyediakan ruang publik yang aman, memfasilitasi integrasi antarmoda, serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lokal di sekitar kawasan stasiun. Topik ini untuk menjawab tantangan keterisolasian antara kawasan utara dan selatan Stasiun Bandung akibat teroutusnya akses oleh jalur rel kereta api yang merupakan masalah tata ruang yang dihadapi di kawasan tersebut. Masalah ini sering menjadi penghambat pergerakan pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan karena kurangnya konektivitas ruang yang memadai, di sisi lain, kondisi plaza stasiun saat ini belum optimal dalam menampung pergerakan penumpang yang terus meningkat serta minimnya kualitas ruang tunggu publik. Bahkan, tingginya volume kendaraan dan pejalan kaki yang tidak terfasilitasi dengan baik di area tapak sering kali menimbulkan kemacetan dan ketidaknyamanan bagi para pengguna stasiun maupun warga sekitar. Objek studi ini merupakan area plaza stasiun dan ruang layang penghubung yang berkonsep elevated public space yang berlokasi di Stasiun Bandung. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan Stasiun Bandung sebagai pusat pergerakan transportasi terbesar dan berkarakter kuat di Kota Bandung. Sedangkan untuk penentuan besaran ruang dan kapasitas sirkulasi didasarkan pada studi literatur dan observasi jumlah pergerakan penumpang pada jam sibuk di stasiun. Pendekatan akan fokus pada konektivitas dan efisiensi ruang melalui metode perancangan Transit-Oriented Development (TOD), struktur jembatan layang pejalan kaki yang ramah disabilitas, integrasi ruang terbuka hijau, dan sirkulasi penumpang yang efisien supaya mengurai kepadatan di titik masuk stasiun. Selain itu, desain elevated public space yang multi-aktivitas memungkinkan pemanfaatan ruang layang untuk kegiatan sosial dan komersial yang diharapkan membantu menambah vitalitas kawasan. Proses perancangan ini berbasis pada studi literatur dengan melihat best-practice ruang publik layang stasiun internasional, analisis komparatif simpul transportasi, observasi kebutuhan penumpang dan masyarakat lokal, serta simulasi sirkulasi pergerakan untuk konsep elevated public space. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan desain ruang publik dan plaza stasiun yang terintegrasi, aman, dan nyaman, yang dapat menjadi solusi atas masalah keterbelahan kawasan utara dan selatan. Dengan demikian, rancangan ini bukan hanya memberikan solusi arsitektural dan sirkulasi, namun juga menjadi percontohan infrastruktur transportasi yang humanis, konektif, dan dekat dengan komunitas lokal yang dapat diterapkan di berbagai simpul transportasi di Indonesia.
PERANCANGAN PANTI SOSIAL SEBAGAI KATALISATOR PEMBERDAYAAN ANAK DAN IBU MELALUI RUANG PENGEMBANGAN KOMPETENSI YANG HUMANIS DI KOTA BANDUNG
Tingginya angka kemiskinan dan jumlah anak terlantar di Indonesia adalah isu yang belum terselesaikan hingga saat ini. Keduanya memiliki keterkaitan erat, di mana anak terlantar ada akibat kelalaian orang tua atas ketidakmampuannya melaksanakan kewajiban dalam memenuhi kebutuhan anak dengan baik karena permasalahan kemiskinan. Anak terlantar juga berpotensi memperoleh komplikasi permasalahan lainnya, seperti kesulitan dalam berkembang dan tumbuh dengan baik, hingga keterbatasan akses menuju pendidikan. Hal ini tidak sesuai dengan SDGs pertama yang menyatakan bahwa masyarakat miskin memiliki hak yang sama terhadap sumber daya ekonomi, serta akses terhadap pelayanan dasar, termasuk pendidikan. Kondisi keterbatasan akses tersebut menyebabkan ketidaksesuaian dengan SDGs keempat yang membawahi prinsip kesetaraan akses seluruh anak terhadap pendidikan. Beranjak dari ketidaksesuaian tersebut, perancangan ini memfokuskan pemberantasan kemiskinan dengan pemerataan akses pendidikan dalam konsep perancangannya. Berbagai sumber media publik telah menyoroti isu terkait kemiskinan dan anak terlantar di Indonesia, khususnya Kota Bandung. Saat ini, masih dengan mudah kita jumpai anak-anak yang seharusnya tinggal di lingkungan yang memadai, justru berkeliaran dengan bebas di jalanan, mengamen dan meminta pecahan-pecahan uang demi menghidupi dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa isu tersebut memiliki urgensi yang krusial dan harus segera diselesaikan, terlebih Kota Bandung merupakan Ibu Kota Jawa Barat yang seharusnya dapat menjadi contoh bagi wilayah lainnya di Jawa Barat. Perancangan ini memprioritaskan kesesuaian dengan konteks dan isu yang berada di dalam masyarakat sehingga memiliki fleksibilitas dan sensivitas terhadap kebutuhan mendasar dalam tumbuh-kembang anak. Tidak hanya sekadar menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak, perancangan ini juga dirancang dengan berfokus pada pembentukan individu yang utuh melalui penerapan prinsip Hierarchy of Needs dari Abraham Maslow. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan sekaligus mengasah keterampilan setiap anak sesuai dengan minat dan bakatnya, perancangan ini menginterpretasikan Multiple Intelligences Theory milik Howard Gardner melalui program ruangnya yang menyediakan berbagai ruang khusus untuk mengasah berbagai minat dan bakat, seperti sanggar seni anak yang mewadahi berbagai aktivitas seni dan lapangan terbuka untuk memfasilitasi kegiatan fisik, membantu anak-anak untuk dapat tumbuh sehat, aktif, sekaligus melatih motorik mereka. Pemilihan tapak untuk perancangan ini telah mempertimbangkan berbagai macam aspek teknis maupun non teknis. Ditetapkanlah tapak perkebunan yang beralamatkan Jalan Sanggar Kencana XXVI, Kota Bandung, dengan KDB 70%, KLB 2.1, KDH Minimum 20%, serta GSB 0. Tapak ini dinilai ideal, karena berada di lingkungan yang relatif kondusif dan dekat dengan berbagai fasilitas umum, seperti komersial dan UMKM masyarakat. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur yang berasal dari jurnal dan artikel ilmiah dalam kurun waktu 10-15 tahun yang lalu dan analisis komparatif dengan membandingkan preseden-preseden terbangun maupun rencana pembangunan yang berkaitan. Dengan adanya perancangan ini, diharapkan angka kemiskinan dapat menurun dengan lahirnya generasi yang memiliki bekal keterampilan dan ilmu sehingga mereka mampu untuk bersaing di dunia luar dan menciptakan masa depan yang lebih baik untuk diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER SEBAGAI FASILITAS PENUNJANG KESEHATAN MENTAL DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN HEALING ARCHITECTURE
Permasalahan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi ringan pada remaja dan dewasa muda di Kota Bandung semakin meningkat dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan kemampuan komunikasi seseorang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, 7,8% diantara masyarakat Jawa Barat merupakan masyarakat berusia diatas 15 tahun yang menderita depresi, Menginjak peringkat ke-9 prevelansi depresi tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebab tingginya gangguan kesehatan mental ini, dikarenakan fase-fase transisi dan fase burnout yang dialami oleh masyarakat. Stigma masyarakata terhadap pengecekan ke psikolog saat ini cukup buruk, oleh karena itu, kebanyakan masyarakat saat ini memilih melakukan aktivitas pemulihanseperti jalan-jalan ataupun olahraga sebagai solusi atas kondisi stres ataupun depresi mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah wadah sebagai tempat pemulihan yang dapat sekaligus melibatkan proses penyembuhan psikologi didalamnya. Dalam dunia psikologi, terdapat sebuah terapi yang disebut mind body spirit. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang melibatkan interaksi antara otak, pikiran, tubuh, serta perilaku dan faktor emosional. Pusat Kebugaran ini menawarkan Solusi Kesehatan mental melalui keterlibatan antara tubuh dan pikiran. Kedua faktor itu diterapkan dengan terapi yang memperlambat ritme Gerak dan melibatkan alam dalam aktivitas-aktivitas pemulihan seperti meditasi, yoga, ataupun terapi pijat dan spa yangbersifat ramah, interaktif, dan inklusif. Dalam kondisi gangguan mental, seseorang akan takut dan ragu dalam mengekspresikan diri mereka. Namun, dengan keberadaan pusat kebugaran, seseorang akan diberikan kebebasan dalam bertindak dan mendapatkan pemulihan mental di lingkungan yang tidak terasa seperti klinik. Dengan begitu, Pusat Kebugaran ini akan menjadi solusi untuk design for inclusivity yang menekankan desain yang berkontribusi dalam mengatasi isu aksesibilitas layanan bagi Masyarakat untuk memiliki akses ke ruang aman untuk mengekspresikan diri. Desain ini juga sejalan dengan SDGs 3: Good Health and Well-being dan SDGs 4: Quality Education, Pusat Kebugaran ini berkontribusi dalam Kesehatan mental dan berperan sebagai ruang edukasi non-formal untuk mengajarkan keterampilan kesedaran diri, ketangguhan Masyarakat, dan coping. Perancangan Pusat kebugaran ini melibatkan beberapa metode, yaitu studi literatur dan observasi lapangan untuk mengumpulkan data, metode desain trendspotting yang menyesuaikan bangunan dengan tren terkini supaya relevan dengan target pengguna, dan sintesis desain untuk merumuskan konsep ruang yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu bangunan.
SYMBIOSA: “DI MANA MUSIK, MANUSIA, DAN ALAM BERESONANSI DAN MENJADI SATU.” PERANCANGAN GEDUNG KONSER ORKESTRA DAN KONSERVATORI MUSIK KLASIK DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR AKUSTIK DI KOTA BARU PARAHYANGAN
Keterbatasan fasilitas pertunjukan dan pendidikan musik klasik yang terintegrasi di Bandung menyebabkan kebutuhan musisi maupun masyarakat terhadap ruang pertunjukan, pembelajaran, dan apresiasi musik belum terpenuhi secara optimal. Selain itu, musik klasik masih dipandang sebagai bentuk seni yang eksklusif akibat minimnya akses terhadap fasilitas yang terbuka bagi publik. Proyek ini mengusulkan perancangan Gedung Konser Orkestra dan Konservatori Musik Klasik di Kota Baru Parahyangan sebagai sebuah destinasi budaya yang mengintegrasikan fungsi pertunjukan, pendidikan, dan ruang publik melalui pendekatan berbasis akustik. Perancangan dilakukan melalui studi pengguna, analisis tapak, studi preseden, dan penerapan teori arsitektur sebagai dasar pengembangan konsep. Pendekatan akustik diterapkan pada berbagai skala perancangan, mulai dari penataan tapak, organisasi ruang, hingga sistem bangunan. Sebagian massa bangunan dirancang tertanam ke dalam tanah sehingga orientasi bangunan berkembang ke bawah, bukan ke atas, sebagai respons terhadap skala manusia, kualitas akustik, dan keterpaduan dengan lanskap. Hall konser utama menggunakan konfigurasi vineyard untuk menciptakan pengalaman pertunjukan yang lebih inklusif dan mendekatkan hubungan antara musisi dengan penonton. Melalui konsep Symbiosa, proyek ini menghadirkan sebuah ekosistem budaya yang memperkuat hubungan antara musik, manusia, dan alam.
OPTIMALISASI MANAJEMEN PERSEDIAAN PEMELIHARAAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL, KEANDALAN ASET DAN KINERJA KEUANGAN
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan akar penyebab akumulasi persediaan lambat dan tidak bergerak, mengembangkan strategi peningkatan TOR yang memperhatikan keandalan aset, serta merancang kerangka optimasi persediaan pemeliharaan yang terintegrasi bagi PT PPN. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan analisis kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan 40 narasumber lintas fungsi dan analisis kuantitatif menggunakan klasifikasi ABC-VED-FSN terhadap data pergerakan material tahun 2025. Hasil penelitian mengidentifikasi lima akar penyebab utama yang saling terkait: ketiadaan segmentasi persediaan berbasis kritikalitas (RC1), ketidakakuratan master data dan rekaman keterlacakan material (RC2), absennya mekanisme tinjauan periodik yang terstandarisasi (RC3), hambatan disposal akibat regulasi BUMN (RC4), serta perencanaan yang terlalu konservatif dengan penambahan kontigensi 15-20% tanpa verifikasi stok sebelumnya (RC5). Analisis ABC-VED-FSN terhadap 41.003 item senilai IDR 1,57 triliun mengungkap bahwa kategori ADS dan ADN menyumbang IDR 673,38 miliar (42,9% dari total nilai persediaan) meski hanya mencakup 5,84% dari jumlah item, menjadikannya target prioritas utama peningkatan modal kerja. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan lima solusi bisnis yang dipetakan langsung ke akar penyebab RC1 hingga RC5, mencakup Program Konsumsi Prioritas Material Lambat, Penguatan Program RCSP, implementasi Vendor-Managed Inventory, Program Peningkatan TOR Berbasis Unit Kilang, serta Penguatan Tata Kelola Keuangan melalui Transparansi Provisi. Implementasi penuh kerangka ini diproyeksikan meningkatkan TOR dari 0,67 menjadi 0,95 pada tahun 2030, mengurangi paparan provisi kumulatif sebesar IDR 247,19 miliar, dan melepas sekitar IDR 740 miliar modal kerja yang sebelumnya terikat dalam persediaan tidak produktif.