📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

DESAIN RUANG ISTIRAHAT MENTAL DENGAN TEKNOLOGI IMERSIF-INTERAKTIF UNTUK ANAK ADHD TIPE HIPERAKTIF USIA 7-9 TAHUN DI SEKOLAH

Fenomena neurodiversitas mendorong perlunya pendekatan desain interior yang mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan kognitif dan sensorik pengguna, termasuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) tipe hiperaktif. Anak ADHD tipe hiperaktif cenderung mengalami kesulitan dalam mengatur perhatian, impulsivitas, dan aktivitas motorik sehingga memerlukan kesempatan untuk melakukan regulasi diri sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar. Namun, ruang kelas konvensional umumnya dirancang untuk mempertahankan fokus belajar dan belum secara optimal memfasilitasi kebutuhan istirahat mental yang memungkinkan anak melakukan regulasi melalui aktivitas yang terarah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan ruang istirahat mental yang mampu mendukung proses regulasi anak secara lebih adaptif di lingkungan sekolah. Perkembangan teknologi imersif-interaktif menawarkan peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna melalui integrasi elemen visual, sensorik, dan aktivitas interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip konfigurasi ruang dan elemen visual imersif-interaktif yang mendukung kebutuhan istirahat mental anak ADHD tipe hiperaktif usia 7–9 tahun di sekolah, menganalisis relevansi konsep ruang istirahat mental berbasis teknologi imersif-interaktif berdasarkan perspektif ahli, serta merumuskan rancangan desain ruang istirahat mental yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelitian menggunakan metode perancangan desain interior yang didukung oleh studi literatur, studi pendahuluan, pengembangan konsep desain, serta validasi ahli melalui kuesioner skala Likert dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip perancangan ruang istirahat mental bagi anak ADHD tipe hiperaktif meliputi penyediaan lingkungan yang aman, fleksibel, adaptif, dan mendukung regulasi sensori melalui pengaturan stimulus secara bertahap. Rancangan yang dihasilkan mengintegrasikan teknologi imersif interaktif, stimulus sensori yang beragam, aktivitas regulasi yang terstruktur, serta konfigurasi ruang yang disesuaikan dengan tahapan regulasi. Hasil validasi ahli menunjukkan tingkat persetujuan sebesar 85,42% dengan kategori sangat setuju, yang mengindikasikan bahwa desain dinilai sesuai dengan kebutuhan pengguna pada aspek tata ruang dan keamanan, stimulus visual, tahapan penggunaan ruang, serta interaksi dan aktivitas. Selain relevan bagi anak ADHD tipe hiperaktif, para ahli juga menilai bahwa prinsip-prinsip yang diterapkan dalam rancangan berpotensi memiliki relevansi yang lebih luas bagi pengguna neurodivergen lain yang memiliki kebutuhan regulasi serupa. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan konsep ruang istirahat mental berbasis teknologi imersif-interaktif yang secara khusus dirancang untuk mendukung proses regulasi anak ADHD di lingkungan sekolah melalui integrasi antara konfigurasi ruang, stimulus sensori, aktivitas regulasi, dan teknologi interaktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain interior inklusif dengan menawarkan model ruang yang dapat mendukung kesiapan belajar anak melalui pendekatan regulasi yang lebih adaptif dan terstruktur.

2026
👤 Penulis: Athifah Zahrah
🏷️ Desain Interior 🏷️ Anak Adhd Tipe Hiperaktif 🏷️ Teknologi Imersif-Interaktif

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN PADA KAWASAN SENTRA PRODUKSI PANGAN SUMATERA SELATAN

Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Sumatera Selatan merupakan salah satu kawasan strategis nasional dalam mendukung ketahanan pangan, dengan padi sebagai salah satu komoditas pangan pokok yang dibudidayakan. Aktivitas budidaya padi menghasilkan limbah jerami yang pada beberapa wilayah masih ditangani melalui pembakaran terbuka sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran udara serta hilangnya bahan organik yang dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur pengolahan limbah pertanian berupa fasilitas komposter jerami padi pada KSPP Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui identifikasi lahan sawah berdasarkan tiga skenario, meliputi (1) skenario kebutuhan energi pangan, (2) Business as Usual (BAU), dan (3) Protecting Paddy Fields Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PPF-KP2B); estimasi potensi limbah jerami; perhitungan kebutuhan komposter; serta penentuan arahan lokasi komposter melalui analisis kesesuaian lahan dan location-allocation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan lahan sawah berdasarkan skenario kebutuhan energi pangan lebih rendah dibandingkan luas sawah hasil skenario lainnya hingga tahun 2044. Skenario PPFKP2B mempertahankan luas sawah lebih besar dibandingkan BAU sehingga menghasilkan potensi limbah jerami dan kebutuhan komposter yang lebih tinggi. Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa ketersediaan ruang yang memenuhi kriteria pengembangan masih mampu mendukung kebutuhan fasilitas komposter yang dihasilkan pada seluruh skenario. Analisis location-allocation menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas komposter cenderung teralokasi pada wilayah dengan konsentrasi produksi padi dan potensi jerami yang tinggi, terutama di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu Timur. Penelitian ini menghasilkan pendekatan perhitungan kebutuhan dan pengalokasian fasilitas komposter secara spasial berdasarkan potensi jerami, kesesuaian lahan, kapasitas fasilitas, dan jangkauan pelayanan yang dapat menjadi masukan dalam perencanaan pengolahan limbah pertanian di KSPP Sumatera Selatan.

2026
👤 Penulis: Galuh Sekar Ayu
🏷️ Pertanian 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PUSAT REHABILITASI BERBASIS TERAPI UNTUK PASIEN PENDERITA GANGGUAN MENTAL DENGAN PENDEKATAN ‘ARSITEKTUR PENYEMBUHAN‘ DI KOTA BANDUNG

Isu kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi tantangan dari segi keterbatasan fasilitas dan stigma sosial yang buruk. Persentase generasi Z pengidap gangguan mental di Indonesia ditemukan sebanyak 57% pengidap gangguan pascatrauma, 39% pengidap gangguan neurotik, dan 30,5% pengidap gangguan psikotik (Saputra, dkk, 2025). Di Provinsi Jawa Barat, jumlah penderita gangguan mental mengalami peningkatan dari 9,3% menjadi 12,1% pada tahun 2018 (Khairunnisa, A., dkk, 2021) dan kerap meningkat hingga saat ini. Maka Kota Bandung menjadi lokasi fokus untuk rancangan ini. Semua orang di dalam komunitas pengidap gangguan mental mengalami isu ketidaksetaraan hak yang sama. Fasilitas kesehatan mental yang ada masih terbatas pada layanan dasar rumah sakit jiwa dan puskesmas sehingga pasien yang membutuhkan pemulihan jangka menengah kesulitan untuk bertransisi dan reintegrasi ke dalam masyarakat. Kondisi ini melatarbelakangi gagasan tugas akhir ini yang mengangkat topik arsitektur bernarasi penyembuhan dalam perancangan tipologi pusat rehabilitasi pasien gangguan mental di Bandung. Rancangan pusat rehabilitasi ini merupakan bangunan non-institusional yang berfokus pada aspek psikososial, edukasi, dan inklusi. Topik ini relevan dengan panel SDG 3 (Good Health and Wellbeing), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena proyek ini bertujuan untuk menghadirkan pusat rehabilitasi yang mampu mendukung pemulihan mental dan mengurangi stigma sosial dengan menyediakan ruang publik inklusif beserta edukasi. Gagasan utama yang mendasari tugas ini adalah bagaimana arsitektur dapat berfungsi sebagai narasi penyembuhan sekaligus jembatan transisi sosial bagi pasien dengan gangguan mental. Framework yang digunakan adalah concept-based approach dengan integrasi healing architecture sebagai pendekatan utama, arsitektur yang berfokus mewadahi kebutuhan psikologi manusia sebagai pendukung landasan desain. Arsitektur diposisikan sebagai narasi pemulihan, dimana bentuk bangunan dan ruang dirancang untuk merepresentasikan perjalanan pasien dari fase rawan menuju reintegrasi sosial. Konsep healing architecture memiliki enam kriteria utama yang diterapkan dan semua merujuk kepada arsitektur penyembuhan, desain inklusif, psikologi lingkungan, dan narasi arsitektur sebagai instrumen penyembuhan. Metodologi perancangannya meliputi studi literatur mengenai teori dan preseden tipologi pusat rehabilitasi, observasi lapangan pada tapak dan institusi kejiwaan yang ada di Bandung, analisis kebutuhan pasien yang dibagi dalam tiga kategori (pascatrauma, gangguan neurotik, dan gangguan psikotik), dan kemudian mengeksplorasi desain iteratif berbasis konsep hingga tercapai skema yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Hasil perancangan berupa pusat rehabilitasi dengan tipologi paviliun dua lantai yang memungkinkan pemisahan zona sesuai kebutuhan pasien. Narasi arsitektur diwujudkan melalui perjalanan spasial, dimana pasien memulai dari area yang privat dan aman, kemudian bergerak ke area semi-privat, hingga akhirnya berinteraksi di ruang publik terbuka. Skema ini merefleksikan proses pemulihan psikologis yang bertahap. Proyek ini menawarkan model pusat rehabilitasi mental yang tidak berwajah institusional. Kontribusi yang dihasilkan mencakup penciptaan lingkungan yang mendukung pemulihan dan menyiapkan reintegrasi sosial bagi pasien, menciptakan ruang publik inklusif dan mendorong interaksi positif antara masyarakat dan penyintas gangguan mental, dan secara arsitektural menawarkan pusat rehabilitasi dengan penerapan concept-based approach yang dapat menjadi acuan untuk proyek serupa di kota lain.

2026
👤 Penulis: Nayyara Haifa Akmal
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Pendidikan Inklusif 🏷️ Desain Arsitekturnya

PUSAT REHABILITASI BAGI PENYANDANG GANGGUAN PERKEMBANGAN SARAF DI KOTA BANDUNG

Gangguan perkembangan saraf—meliputi Gangguan Spektrum Autisme (GSA), ADHD, Disabilitas Intelektual, dan Cerebral Palsy—merupakan kondisi persisten yang memengaruhi fungsi personal, sosial, akademik, dan okupasional anak sejak masa awal perkembangan. Melalui tugas akhir ini, perancang berupaya menghadirkan sebuah pusat rehabilitasi yang layak dan terintegrasi bagi penyandang gangguan perkembangan saraf di Kota Bandung, sejalan dengan SDGs 3 Good Health and Well-Being, SDGs 10 Reduced Inequalities, dan SDGs 11 Sustainable Cities and Communities. Isu yang diangkat dalam Tugas Akhir ini adalah fragmentasi layanan rehabilitasi, dimana fasilitas medis, terapi, dan dukungan sosial beroperasi secara terpisah dan tidak terintegrasi, diperparah dengan ketidakmerataan distribusi layanan ditengah tingginya prevalensi kasus di Jawa Barat. Kondisi ini menimbulkan isolasi sosial, perundungan, hambatan kemandirian bagi penyandang, serta parenting stress bagi keluarga akibat beban ekonomi dan kesulitan mengelola kebutuhan terapi anak secara berkelanjutan. Tipologi arsitektur yang dipilih adalah pusat rehabilitasi medik terpadu yang mengintegrasikan layanan fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, hingga pelatihan vokasional dalam satu ekosistem terapeutik. Pemilihan tipologi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah medis, tetapi juga sebagai lingkungan binaan yang aktif mendukung proses penyembuhan. Perancangan ini menggunakan pendekatan salutogenik (Aaron Antonovsky) yang diterjemahkan melalui indeks ASPECTSS™—comprehensibility, manageability, dan meaningfulness—dipadukan dengan pendekatan multisensori dan biofilik untuk menghadirkan konsep Healing Saturacy. Metode yang ditempuh meliputi analisis pengguna dan tapak, studi preseden terhadap bangunan kesehatan dan pendidikan inklusif, pemrograman ruang berdasarkan zonasi publik-privat-aktif-tenang, serta transformasi gubahan massa yang responsif terhadap iklim, kebisingan, dan potensi lingkungan sekitar tapak. Perancangan ini bertujuan menyediakan akses rehabilitasi bagi anak dengan gangguan perkembangan saraf melalui lingkungan binaan yang bebas hambatan, terapeutik, dan memenuhi standar aksesibilitas universal sesuai Permen PU No. 30/2006. Luaran yang dihasilkan berupa rancangan bangunan tiga lantai dan basement dengan struktur kayu fabrikasi (glulam) berjejak karbon rendah, dilengkapi taman multisensori dan roof garden yang saling terhubung, sehingga tidak hanya melindungi dan memulihkan penyandang, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi keluarga dan masyarakat guna mengurangi stigma terhadap gangguan perkembangan saraf.

2026
👤 Penulis: Papat Nur Patimah
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan 🏷️ Desain Lingkungan Terapeutik

EMPOWERING THE ELDERLY: PERANCANGAN LONG-TERM CARE FACILITY DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING & HEALING ENVIRONMENT

Tugas akhir ini mengangkat topik Active Living dan healing environment dalam arsitektur melalui perancangan Long-Term Care Facility (LTCF) bagi lansia yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well-Being), poin 11 (Sustainable Cities and Communities), dan poin 13 (Climate Action) yang menekankan pentingnya penyediaan lingkungan hidup yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat lanjut usia. Permasalahan yang melatarbelakangi perancangan ini adalah meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan angka usia produktifnya, banyak dari penduduk lansia ini yang kemudian tinggal tanpa pendamping yang mampu membantu aktivitas sehari-hari, sementara fasilitas hunian dan perawatan jangka panjang yang mampu mengakomodasi kebutuhan fisik, psikologis, medis, dan sosial lansia masih terbatas. Tetapi tentunya banyak kendala dalam perancangan fasilitas ini seperti, lansia yang berpindah dari rumah dan lingkungan komunitas yang telah lama mereka tempati sering kali mengalami penurunan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan baru sehingga muncul perasaan ‘terasing’ dan berkurangnya kenyamanan psikologis. Kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena pergeseran pola hunian, di mana generasi muda cenderung meninggalkan kawasan perumahan horizontal dan berpindah ke hunian vertikal, menyebabkan berkurangnya interaksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lansia. Di sisi lain, lingkungan fasilitas perawatan yang bersifat institusional dan memiliki tata ruang kompleks sering kali menyulitkan lansia dalam memahami orientasi ruang dan bernavigasi secara mandiri. Keterbatasan akses terhadap ruang terbuka dan elemen alam juga mengurangi kesempatan lansia untuk berinteraksi dengan lingkungan natural yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun psikologis mereka. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, perancangan menerapkan konsep Sense of Belonging, Spatial Orientation, dan Connection to Nature sebagai landasan utama pembentukan healing environment. Konsep Sense of Belonging diwujudkan melalui lingkungan hunian yang menyerupai suasana rumah dan perumahan dengan penyediaan ruang komunal, teras, dan area interaksi yang mendukung hubungan sosial serta kenyamanan emosional lansia. Konsep Spatial Orientation diterapkan melalui pengaturan zonasi, sirkulasi, dan sistem wayfinding yang jelas sehingga memudahkan penghuni memahami lingkungan dan beraktivitas secara mandiri. Sementara itu, konsep Connection to Nature diwujudkan melalui pendekatan biofilik yang menghadirkan vegetasi, pencahayaan dan ventilasi alami, elemen air, material alami, serta hubungan visual yang kuat dengan ruang terbuka hijau. Ketiga konsep tersebut didukung oleh pendekatan Active Living bagi lansia rentan dan Therapeutic Design bagi lansia rawat untuk mendukung aktivitas, pemulihan, dan perawatan secara optimal. Perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis komparatif guna menghasilkan rancangan konseptual Long-Term Care Facility yang mampu meningkatkan kualitas hidup lansia melalui lingkungan yang mendukung kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi sosial, dan kedekatan dengan alam.

2026
👤 Penulis: Amadea Martha Wijaya
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

APLIKASI EKONOFISIKA PADA STRATEGI PERDAGANGAN MENGGUNAKAN MODEL GARCH DAN LSTM PADA SAHAM SEKTOR SAWIT

Saham sektor kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia memiliki volatilitas yang tinggi sehingga prediksi harganya menjadi tantangan tersendiri. Penelitian ini membangun dan mengevaluasi model hibrida yang memadukan model volatilitas Generalized Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (GARCH) dengan jaringan saraf Long Short-Term Memory (LSTM) untuk memprediksi harga penutupan harian tiga saham sektor sawit, yaitu AALI, LSIP, dan SGRO. Tujuan utamanya adalah menilai apakah penambahan fitur volatilitas kondisional GARCH(1,1) meningkatkan akurasi prediksi LSTM dan apakah strategi perdagangan berbasis prediksi mampu mengungguli strategi pasif buy-and-hold. Data harga harian periode 2 Januari 2019–31 Juli 2025 dibagi secara kronologis menjadi 70% data pelatihan, 10% validasi, dan 20% pengujian. Volatilitas kondisional diestimasi menggunakan GARCH(1,1) berdistribusi Student-t dengan pendekatan rolling window anti-kebocoran, lalu diintegrasikan sebagai fitur tambahan (Skenario A) dan dibandingkan dengan model LSTM tanpa GARCH (Skenario B). Arsitektur LSTM dua lapis ditentukan melalui Grid Search terhadap 135 kombinasi hyperparameter. Hasil menunjukkan kedua model memprediksi level harga dengan baik (MAPE 1,84%–3,75%), namun kontribusi fitur GARCH tidak universal: fitur tersebut hanya memperbaiki AALI secara tipis, sedangkan pada LSIP dan SGRO model LSTM tanpa GARCH justru lebih akurat. Baseline naïf (harga esok sama dengan harga hari ini) menghasilkan RMSE lebih kecil dan R² lebih tinggi daripada kedua model pada ketiga saham, dan Directional Accuracy berada di bawah 50% (40,1%–45,7%), menandakan model belum mengungguli asumsi random walk untuk prediksi arah harian. Pada simulasi backtesting peramalan 10 hari dengan Take Profit 5% dan trailing Stop Loss 3%, strategi aktif buy-and-hold dengan return portofolio +4,48% berbanding kerugian buy-and-hold pada dua dari tiga saham. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelaporan keterbatasan model secara terbuka dan menunjukkan bahwa manfaat fitur volatilitas bergantung pada karakteristik tiap emiten.

2026
👤 Penulis: Naila Malika Ramadhanti
🏷️ Volatilitas Kondisional 🏷️ Model Garch-Lstm 🏷️ Analisis Perdagangan Saham

ANALISIS VISUAL RELIEF PANJI DI CANDI SUKUH DAN SITUS PLANGGATAN BERKAITAN DENGAN SPIRITUALITAS MASYARAKAT HINDU-BUDDHA PADA ABAD KE-15 DAN KORELASINYA DENGAN SASTRA PANJI DI JAWA

Pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, agama dan budaya. Hal tersebut memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan seni, sastra dan budaya terutama saat periode Majapahit. Pada periode akhir Majapahit sekitar abad ke-15 saat kepemimpinan Ratu Suhita, sastra Panji mulai mencapai puncak kepopulerannya. Selain menjadi pertunjukan tradisional, sastra Panji menjadi sebuah elemen yang penting dalam penggambaran visual relief yang ada pada candi-candi Hindu-Buddha di Indonesia terutama pada relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis visualisasi dan simbol Panji pada relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan berkaitan dengan spiritualitas masyarakat Hindu-Buddha abad ke-15, serta mengkaji korelasi antara visual Panji relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan dengan sastra Panji yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Ditinjau secara teknis, penelitian ini menggunakan metode Bahasa Rupa oleh Primadi Tabrani untuk menguraikan visual dan simbolisasi Panji pada Candi Sukuh dan Situs Planggatan. Selain itu, ditinjau secara filosofis menggunakan Teori Estetika Paradoks pola lima oleh Jakob Sumardjo dan agama asli Indonesia oleh Rahmat Subagya. Teori tersebut digunakan untuk menginterpretasikan bagaimana aspek visual Panji berkaitan dengan spiritualitas masyarakat Hindu-Buddha. Terdapat juga, Analisis wacana yang digunakan untuk membedah visual Panji dan korelasinya dengan sastra Panji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa visual dan simbol tokoh Panji pada relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan merepresentasikan simbol spiritual masyarakat Hindu-Buddha abad ke-15. Melalui uraian Bahasa Rupa, visual Panji tampil dengan atribut khas seperti tekes, songsong, kendaraan kuda dan gajah yang melambangkan perjalanan spiritual menuju penyatuan ilahi (tantra). Relief tersebut berfungsi sebagai medium religius yang berkaitan dengan kosmologi dan ritual. Selama masa transisi, hubungan antara cerita Panji dan spiritual Islam tidak terletak pada masuknya ajaran Islam secara langsung ke dalam narasinya, melainkan pada perannya sebagai media transisi budaya dan kosmologi. Selain itu, melalui relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan terdapat kesinambungan antara visual relief dan sastra Panji, khususnya sastra Panji Kuda Semirang, yang sama-sama menggambarkan perjalanan batin, nilai moral, dan idealitas ksatria dalam budaya Jawa.

2026
👤 Penulis: Binda Intan Zahrani
🏷️ Sastrawan 🏷️ Relief Candi 🏷️ Kosmologi Budaya

PENGARUH KOMPOSISI GAS UMPAN DAN LAJU ALIR TOTAL PADA PROSES REDUKSI ELEKTROKIMIA CO2 TERINTEGRASI DENGAN CO2 CAPTURE

Peningkatan emisi karbon dioksida (CO?) dari sektor industri dan pembangkitan energi merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim global. Salah satu teknologi yang dikembangkan untuk mengurangi emisi tersebut adalah Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS), yang mengintegrasikan proses penangkapan dan pemanfaatan CO? menjadi produk bernilai tambah. Salah satu produk yang berpotensi dihasilkan melalui reduksi elektrokimia CO? adalah asam format karena memiliki nilai ekonomi tinggi, hanya memerlukan dua elektron dalam mekanisme reaksinya, serta berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dan media penyimpanan energi. Keberhasilan sistem CCUS dipengaruhi oleh kualitas CO? hasil penangkapan, konsentrasi CO? dalam gas umpan, serta kondisi operasi proses reduksi elektrokimia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja penangkapan CO? menggunakan Pressure Swing Adsorption (PSA) berbasis molecular sieve 13X serta menganalisis pengaruh konsentrasi CO? dan laju alir total gas terhadap kinerja reduksi elektrokimia CO? menggunakan reaktor Proton Exchange Membrane (PEM) dengan elektrokatalis Sn–Zn/C. Penelitian diawali dengan evaluasi kinerja CO? Capture Reactor menggunakan sistem PSA dua kolom yang diisi molecular sieve 13X. Komposisi gas keluaran dianalisis menggunakan Gas Chromatography (GC). Selanjutnya dilakukan reduksi elektrokimia menggunakan reaktor PEM dengan katoda Sn– Zn/C hasil elektrodeposisi dan anoda Pt–Ir. Variasi penelitian dilakukan terhadap konsentrasi CO? dalam campuran gas CO?–N?–H?O dan laju alir total gas. Produk cair hasil elektrolisis dianalisis menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC), sedangkan karakteristik elektrokimia dievaluasi menggunakan Cyclic Voltammetry (CV) dan Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS). Perubahan struktur kristal dan morfologi elektroda dikarakterisasi menggunakan X-ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluaran PSA kanan, yang dirancang sebagai umpan menuju reaktor PEM, menghasilkan kemurnian CO? maksimum sebesar 63,7%, sehingga proses penangkapan CO? masih memerlukan optimasi sebelum dapat diintegrasikan secara langsung dengan proses reduksi elektrokimia. Oleh karena itu, evaluasi reduksi elektrokimia dilakukan menggunakan variasi komposisi gas yang merepresentasikan kondisi hasil proses penangkapan CO?. Variasi laju alir total gas pada rentang 146–1.917 mL/menit tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja sistem, sedangkan konsentrasi CO? merupakan parameter yang lebih dominan. Pengaruh konsentrasi CO? terhadap performa reduksi elektrokimia menunjukkan kecenderungan non-linear. Pada konsentrasi CO? kurang dari 25%, aktivitas elektrokimia masih rendah akibat keterbatasan reaktan pada permukaan elektroda. Peningkatan konsentrasi CO? menjadi 34% menghasilkan performa elektrokimia terbaik berdasarkan parameter elektrokimia, yang ditunjukkan oleh peak current sebesar 0,213 A, Eonset pascaelektrolisis sebesar 1,780 V, dan resistansi transfer muatan (Re) sebesar 18.700 ?. Sebaliknya, peningkatan konsentrasi CO? menjadi 47% menyebabkan Re meningkat hingga 2,21 M?, yang mengindikasikan meningkatnya hambatan transfer muatan akibat akumulasi deposit karbonat pada permukaan elektroda. Sementara itu, penggunaan 100% CO? menghasilkan pembentukan asam format tertinggi, namun kondisi tersebut digunakan sebagai pembanding dan tidak merepresentasikan komposisi gas hasil proses penangkapan CO?. Analisis XRD mengonfirmasi keberhasilan elektrodeposisi Sn–Zn pada substrat karbon tanpa perubahan fasa kristal yang signifikan setelah elektrolisis. Hasil SEM–EDS menunjukkan bahwa sampel dengan 47% CO? mengalami aglomerasi partikel disertai akumulasi unsur K sebesar 11,46 wt% dan O sebesar 17,36 wt%, yang mengindikasikan terbentuknya deposit hasil reaksi pada permukaan elektroda. Analisis HPLC mengonfirmasi terbentuknya asam format sebagai produk reduksi elektrokimia CO?. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi CO? merupakan parameter yang lebih dominan dibandingkan laju alir total gas dalam menentukan kinerja reduksi elektrokimia CO? pada sistem berbasis PEM. Pada rentang komposisi gas yang merepresentasikan hasil proses CO? capture, kondisi operasi terbaik diperoleh pada komposisi 34% CO?, 14% N?, dan 52% H?O, sedangkan konsentrasi CO? yang terlalu rendah membatasi ketersediaan reaktan dan konsentrasi CO? yang terlalu tinggi meningkatkan pembentukan deposit pada permukaan elektroda sehingga menurunkan aktivitas elektrokatalitik. Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sistem reduksi elektrokimia CO? berbasis PEM serta menunjukkan pentingnya optimasi proses penangkapan CO? untuk mewujudkan integrasi teknologi CCUS yang lebih efektif menuju penerapan pada skala yang lebih besar.

2026
👤 Penulis: Ayu Surya Werdani
🏷️ Reduksi Elektrokimia Co? 🏷️ Penangkapan Co? Menggunakan Psa 🏷️ Analisis Karbonat Dan Asam Format

ANALISIS JARINGAN KOMPLEKS MULTILAYER PADA SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN INDONESIA MENGGUNAKAN RANDOM MATRIX THEORY DAN MINIMUM SPANNING TREE

Sistem ekonomi dan keuangan merupakan sistem kompleks yang terbentuk dari interaksi berbagai faktor global, regional, domestik, dan komoditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur keterkaitan antar variabel ekonomi dan keuangan Indonesia menggunakan pendekatan Ekonofisika melalui metode Random Matrix Theory (RMT), Minimum Spanning Tree (MST), dan Multilayer Complex Network. Data yang digunakan terdiri atas indikator pasar global, regional, domestik, dan komoditas pada periode 2016–2026 yang dibagi menjadi periode prapandemi, pandemi COVID-19, dan pasca-pandemi. Metode RMT digunakan untuk menyaring korelasi antar variabel dengan memisahkan informasi ekonomi yang signifikan dari noise acak. Hasil analisis MST menunjukkan bahwa struktur jaringan mengalami perubahan antar periode. Pada periode pra-pandemi, jaringan didominasi oleh variabel regional seperti SGD/USD, sedangkan pada periode pandemi S&P 500 menjadi simpul pusat akibat meningkatnya pengaruh faktor global. Pada periode pasca-pandemi, jaringan kembali mengalami reorganisasi dengan meningkatnya peran komoditas energi dan variabel regional sebagai penghubung antar sistem. Analisis multilayer menunjukkan bahwa hubungan antar layer tidak bersifat konstan, melainkan berubah mengikuti kondisi ekonomi global. Variabel dengan nilai centrality tinggi berperan sebagai hub dan bridge dalam transmisi keterkaitan antar pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan jaringan kompleks multilayer mampu menggambarkan pola hubungan dan transmisi risiko dalam sistem ekonomi dan keuangan Indonesia secara lebih komprehensif.

2026
👤 Penulis: Eunike Nanda Maharani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EFEKTIVITAS FILTER BERBASIS BIOMASSA SEBAGAI PENGENDALI KUALITAS UDARA

Pemanfaatan berkelanjutan limbah pertanian menjadi material filtrasi udara berkinerja tinggi menawarkan pendekatan strategis untuk mengatasi pencemaran udara sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular. Penelitian ini menyajikan kerangka biomassa berbasis serabut kelapa sebagai bahan baku terbarukan yang mencakup proses delignifikasi dengan menggunakan katalis soda–antrakuinon (SAQ) yang digunakan untuk mengisolasi ?-selulosa. Proses delignifikasi dengan metode SAQ terbukti mampu meningkatkan efisiensi penghilangan lignin sekaligus meningkatkan kadar selulosa sehingga menghasilkan pulp berkualitas tinggi yang sesuai untuk dilakukan sintesis material lanjut. Aerogel selulosa terkarbonisasi (CCAs) kemudian disintesis melalui proses sol–gel dan karbonisasi dengan variasi kadar ?-selulosa (61–81%) setelah itu dilakukan karakterisasi kimia fisika seperti kerapatan jaringan, porositas, dan konduktivitas listrik. CCAs teroptimasi menunjukkan arsitektur konduktif terstruktur sebagian grafitik yang mendukung mekanisme penangkapan elektrostatik ganda, yaitu transport muatan tunneling– percolation dan gaya tarik Coulomb, sehingga mencapai efisiensi penghilangan partikulat mendekati ?98,6% PM2.5 dan ?99,0% PM10. Secara paralel, selulosa murni dikonversi menjadi selulosa asetat (DS ? 2,5) dan diproses menjadi membran nanoserat melalui elektrospinning yang memiliki karakteristik diameter serat ?70– 220 nm, sifat material mesoporositas, dan luas permukaan yang presisi. Membran yang disintesis menunjukkan efisiensi penangkapan tinggi >95% untuk partikel <50 nm, ukuran partikel yang dapat menembus dengan ukuran ?90–120 nm, serta faktor kualitas filtrasi yang menguntungkan. Penelitian ini berhasil mendesain membran berbasis biomassa yang skalabel dengan mengintegrasikan proses pemurnian kimia, rekayasa mikrostruktur, dan fungsionalitas elektrostatik untuk pengembangan teknologi filtrasi udara generasi lanjut yang berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Eka Fitriani Ahmad
🏷️ Pengendalian Kualitas Udara 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENDUGAAN POTENSI LIKUEFAKSI TANAH MENGGUNAKAN ANALISIS GELOMBANG P MELALUI EKSPERIMEN LABORATORIUM DENGAN MEDIUM PASIR OTTAWA

Indonesia, yang terletak di kawasan Ring of Fire, memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi dan fenomena geoteknik seperti likuefaksi, di mana tanah berpasir jenuh air kehilangan kekuatan akibat guncangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi terjadinya likuefaksi tanah melalui pendekatan eksperimental laboratorium dengan menganalisis respon gelombang seismik primer (gelombang P) terhadap perubahan kondisi fisik tanah. Parameter utama yang dikaji meliputi densitas relatif, ukuran butir pasir, tekanan air pori, serta perubahan karakteristik gelombang P berupa kecepatan rambat dan amplitudo sinyal. Medium yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasir Ottawa yang dijenuhkan air dan diberi pembebanan dinamis untuk mensimulasikan kondisi gempa bumi. Hasil ini menunjukkan bahwa analisis gelombang P sensitif terhadap perubahan kondisi mekanik tanah dan dapat digunakan sebagai indikator eksperimental untuk mendeteksi kecenderungan terjadinya likuefaksi pada media pasir jenuh air. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman perilaku dinamik tanah berpori serta pengembangan metode pendugaan likuefaksi berbasis gelombang seismik pada skala laboratorium.

2026
👤 Penulis: Fitri Desnita
🏷️ Gelombang Seismik 🏷️ Likuefaksi Tanah Berpasir Jenuh Air 🏷️ Analisis Mekanik Tanah

MUSEUM INTERAKTIF ALAT MUSIK NUSANTARA BERBASIS PENGALAMAN SONIK DI WADUK JATILUHUR

Alat musik tradisional Nusantara menghadapi risiko kepunahan akibat pengaruh modernisasi, globalisasi, serta minimnya regenerasi pengrajin dan musisi muda. Padahal, alat musik tradisional memiliki peran penting sebagai warisan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan akar sejarah dan identitas lokalnya. Di sisi lain, media edukasi informal seperti museum masih sering dipersepsikan kuno dan kurang menarik bagi generasi muda yang cenderung menyukai pengalaman belajar interaktif dan partisipatif, sehingga museum belum sepenuhnya efektif sebagai sarana pelestarian budaya. Perancangan Museum Interaktif Alat Musik Nusantara Berbasis Pendekatan Arsitektur Sonik di Waduk Jatiluhur ditujukan sebagai inovasi permuseuman yang menghadirkan pengalaman belajar partisipatif dan multisensori untuk menghidupkan kembali tradisi musik Nusantara. Perancangan ini berangkat dari dua permasalahan desain utama, yaitu kebutuhan akan interaksi partisipatif dalam menciptakan pengalaman museum yang aktif serta keterhubungan arsitektur dengan potensi lanskap Waduk Jatiluhur. Kedua permasalahan tersebut direspons melalui konsep Participatory Interaction dan Dialogue with Landscape dengan pendekatan arsitektur sonik. Pendekatan ini menjadikan bangunan tidak hanya sebagai ruang pamer pasif, tetapi juga sebagai medium interaksi antara pengunjung, bunyi, dan lingkungan. Konsep Participatory Interaction diterapkan melalui ruang dan elemen arsitektur yang mendorong keterlibatan tubuh dan indra pengunjung dalam mengalami budaya bunyi Nusantara. Morfologi dan material bangunan terinspirasi dari karakter alat musik tradisional Nusantara sehingga membentuk arsitektur sebagai instrumen yang dapat diaktivasi melalui interaksi pengunjung. Sementara itu, konsep Dialogue with Landscape diterapkan melalui integrasi bangunan dengan topografi serta pemanfaatan angin dan elemen alami Waduk Jatiluhur sebagai aktivator sonik. Dengan demikian, museum berperan sebagai ruang belajar yang mendorong pengunjung memahami musik tradisional melalui keterlibatan tubuh, indra, dan lingkungan. Konsep ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan sarana edukasi interaktif, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan pengrajin dan musisi lokal, serta SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian budaya. Metode yang digunakan meliputi studi literatur mengenai arsitektur sonik, alat musik Nusantara, dan teori permuseuman, observasi lapangan di Waduk Jatiluhur, serta analisis komparatif terhadap museum musik dan pusat budaya yang relevan. Museum ini diharapkan menjadi wadah edukasi berbasis pengalaman sonik yang terintegrasi dengan lanskap Waduk Jatiluhur, berperan dalam pemberdayaan komunitas lokal, serta menjadi ikon pariwisata budaya Purwakarta dan medium pelestarian alat musik tradisional Nusantara yang inovatif.

2026
👤 Penulis: Luna Aulia Kirana
🏷️ Arsitektur Sonik 🏷️ Museum Interaktif Alat Musik Tradisional 🏷️ Pendidikan Berkualitas (Sdg 4)

PEMBENTUKAN SENSE OF PLACE MELALUI INTIMASI RUANG PADA INTERIOR FASILITAS NGADI SALIRO BAGI PENGUNJUNG PEREMPUAN (STUDI KASUS : NURKADHATYAN SPA, KEPUTREN PESANGGRAHAN AMBARRUKMO, YOGYAKARTA)

Perawatan tradisional Jawa merupakan ruang pengalaman yang dibentuk oleh relasi antara sejarah, tradisi, tubuh, indera, emosi, dan makna tempat. Nurkadhatyan Spa di lingkungan Pesanggrahan Ambarrukmo, Yogyakarta, memiliki posisi penting karena berada dalam situs sejarah berusia sekitar 200 tahun yang terkait dengan tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Konteks tersebut menjadikan pengalaman spa tidak hanya berlangsung sebagai layanan perawatan tubuh kontemporer, tetapi juga sebagai pengalaman dalam lanskap warisan budaya yang memuat jejak tradisi perawatan tubuh perempuan Jawa. Penelitian ini menempatkan tradisi perawatan tubuh di Keputren sebagai landasan historis, kultural, dan konseptual untuk membaca praktik Ngadi Saliro yang diadaptasi di Nurkadhatyan Spa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aspek pembentuk intimasi dalam tradisi perawatan tubuh Ngadi Saliro, menganalisis bagaimana adaptasi tradisi Keputren pada setting spasial dan sosial-kultural Nurkadhatyan Spa membentuk pengalaman perempuan, serta merumuskan model intimasi ruang dalam konteks pembentukan sense of place. Dalam penelitian ini, sense of place dipahami sebagai luaran pengalaman, sedangkan intimasi ruang diposisikan sebagai mediator yang menghubungkan setting ruang, layanan, tubuh, pengalaman multisensori, pengalaman afektif, narasi budaya, dan pemaknaan tempat. Intimasi ruang tidak dipahami semata sebagai kedekatan fisik, tetapi sebagai kondisi afektif-relasional yang terbentuk melalui privasi, rasa aman, kepercayaan, kontrol atau agency, personalisasi, embodied care, dan pengendapan pengalaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui studi literatur, observasi, dokumentasi, pembacaan artefak, serta wawancara mendalam terhadap 30 partisipan perempuan setelah menjalani rangkaian perawatan di Nurkadhatyan Spa. Analisis dilakukan melalui pembacaan tematik-relasional terhadap alur pengalaman berfase, mulai dari kedatangan, perpindahan pertama, perawatan, perpindahan kedua, hingga relaksasi atau penutup. Pembacaan ini diperkuat dengan Associative Conceptual Network Analysis (ACNA) untuk menelusuri jaringan asosiasi kata, impresi dominan, dan kedalaman kognitif pengalaman partisipan. Dengan demikian, pengalaman spa dibaca tidak hanya sebagai narasi verbal, tetapi juga sebagai struktur asosiasi antara unsur sensorik, afektif, tubuh, memori, dan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intimasi ruang dalam spa tradisional Jawa dibentuk oleh empat aspek utama, yaitu aspek spasial, aspek sosial-kultural, aspek aktivitas ritual dan proksimitas, serta aspek makna privat, kultural, dan pemulihan diri. Tradisi Keputren berperan sebagai fondasi historis yang memperlihatkan pentingnya ruang perempuan yang privat, relasi sosial yang mengasuh, praktik perawatan tubuh yang holistik, serta makna perawatan sebagai bagian dari pembentukan diri perempuan. Dalam adaptasinya di Nurkadhatyan Spa, nilai-nilai tersebut diterjemahkan melalui atmosfer Jawa-Keraton, tata ruang, material, aroma, suara, taman, minuman, sentuhan, suhu, posisi tubuh, alur layanan, privasi, dan interaksi terapis yang dibingkai oleh etika unggah-ungguh. Temuan utama penelitian menegaskan bahwa sense of place pada spa tradisional Jawa tidak terbentuk secara langsung dari estetika budaya, elemen interior, atau simbol Keraton semata, melainkan melalui proses intimasi ruang yang berfase, embodied, multisensori, afektif, naratif, dan relasional. Dimensi sense of place paling dominan muncul melalui dependence dan attachment, sementara continuity hadir melalui jejak memori sensorik, dan identity muncul secara selektif ketika pengalaman dipersonalisasi sebagai rasa dimanjakan, berkelas, atau terhubung dengan citra perempuan Keraton. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sense of place dengan menempatkan intimasi ruang sebagai mediator utama antara setting ruang dan pemaknaan tempat, serta memberikan implikasi bagi perancangan interior dan pengelolaan spa tradisional Jawa yang peka terhadap kebutuhan psikologis, sensorik, tubuh, dan kultural perempuan.

2026
👤 Penulis: Debri Haryndia Putri
🏷️ Sense Of Place 🏷️ Intimasi Ruang 🏷️ Perawatan Tradisional Tubuh

REVITALISASI PASAR KOSAMBI DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE UNTUK MEWUJUDKAN BANGUNAN MULTIFUNGSI YANG MENDORONG VITALITAS URBAN

Sebagai makhluk sosial dengan beragam kebutuhan, manusia telah menjadikan pasar sebagai tempat pemenuhan kebutuhan sekaligus pusat kehidupan bersama sejak ribuan tahun lalu. Selain berfungsi sebagai ruang vital bagi aktivitas ekonomi, pasar juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial karena menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Namun, dalam perkembangannya, pasar tradisional mengalami degradasi secara spasial dan fungsional. Citra negatif akibat kondisi pasar yang beraroma tidak sedap, kurang higienis, panas, dan kumuh, diperburuk oleh hadirnya disrupsi platform e-commerce yang semakin diminati masyarakat. Kondisi ini mengikis peran pasar secara signifikan sehingga vitalitas urban yang dahulu ditopang olehnya semakin menurun. Meskipun demikian, pasar tetap memiliki potensi besar sebagai instrumen ekonomi rakyat yang menawarkan harga terjangkau dan ragam komoditas yang luas. Oleh karena itu, revitalisasi pasar sangat diperlukan untuk menciptakan ruang komersial yang kontekstual. Pasar tidak hanya diposisikan sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang ketiga yang mampu mengintegrasikan aktivitas sosial dan ekonomi guna memperkuat resiliensi komunitas urban serta ekonomi lokal. Revitalisasi pasar diarahkan pada perancangan bangunan multifungsi yang merespons kebutuhan masyarakat urban. Konsep ini diwujudkan dengan menyediakan ruang yang tidak hanya mewadahi aktivitas jual beli, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan akan hunian, ruang produksi, dan ruang publik yang inklusif, adaptif, serta berkelanjutan. Pasar Kosambi di Kota Bandung dipilih sebagai lokasi revitalisasi karena telah lama menghadapi permasalahan degradasi di atas, meskipun berada di pusat kota yang strategis. Dalam proses revitalisasi, pendekatan adaptive reuse dipilih sebagai strategi utama karena bangunan eksisting memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini memungkinkan optimalisasi struktur lama, pengurangan limbah konstruksi, serta pemanfaatan sumber daya secara lebih berkelanjutan. Melalui strategi tersebut, bangunan pasar dikembangkan menjadi wadah multifungsi yang mengintegrasikan area perdagangan, hunian, area kreatif, dan ruang publik. Integrasi ini bertujuan meningkatkan intensitas penggunaan bangunan sekaligus memperkuat vitalitas urban. Metode dalam proses perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan iterasi desain untuk mendapatkan kualitas ruang yang optimal. Dengan demikian, diharapkan tercipta wajah baru Pasar Kosambi sebagai bangunan multifungsi yang sehat, nyaman, berdaya guna, serta inklusif, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat urban secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Vinnie Feriana
🏷️ Revitalisasi Kota 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban

PENGARUH METODE PERENDAMAN LUMPUR DAN AIR TERHADAP SIFAT MEKANIK BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER)

Pengaruh Metode Perendaman Lumpur dan Air Terhadap Sifat Mekanik Bambu Betung (Dendrocalamus asper). Dibimbing oleh Yoyo Suhaya dan Ihak Sumardi. Bambu betung (Dendrocalamus asper) merupakan material alami yang memiliki potensi tinggi sebagai bahan konstruksi karena memiliki sifat mekanik yang baik dan sebanding dengan kayu. Namun, bambu memiliki kelemahan berupa kerentanan terhadap serangan organisme perusak sehingga diperlukan proses pengawetan. Salah satu metode pengawetan tradisional yang umum digunakan adalah perendaman dalam air dan lumpur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode perendaman terhadap sifat mekanik bambu betung serta menentukan perlakuan perendaman yang menghasilkan sifat mekanik terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, rendam air, dan rendam lumpur selama 6 bulan. Sampel bambu dibedakan berdasarkan umur (muda dan tua) serta segmen batang (pangkal, tengah, dan ujung). Parameter yang diamati meliputi Modulus of Elasticity (MOE), Modulus of Rupture (MOR), dan kekuatan tarik sejajar serat. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap nilai MOE (p = 0,154), MOR (p = 0,065), dan kekuatan tarik sejajar serat (p = 0,387). Nilai MOE bambu muda berada pada kisaran 5–11 GPa, sedangkan bambu tua mencapai 15–21 GPa. Nilai MOR bambu muda berkisar antara 40–90 MPa dan meningkat pada bambu tua hingga mencapai 170–220 MPa. Sementara itu, nilai kekuatan tarik berada pada kisaran 280–350 MPa. Faktor umur dan segmen batang memberikan pengaruh yang lebih nyata terhadap sifat mekanik bambu dibandingkan perlakuan perendaman. Bambu tua menunjukkan performa mekanik lebih tinggi dibandingkan bambu muda, sedangkan segmen tengah dan ujung memiliki sifat mekanik lebih baik dibandingkan segmen pangkal. Perlakuan rendam lumpur cenderung menghasilkan sifat mekanik yang lebih stabil dibandingkan rendam air karena kondisi anaerob diduga mampu mempertahankan integritas struktur lignoselulosa bambu.

2026
👤 Penulis: Cielo Callista Novansa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 105 dari 6754
💬