📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

EVALUASI METODE PERENDAMAN AIR DAN LUMPUR TERHADAP PENURUNAN KADAR PATI DAN PERUBAHAN STRUKTUR KIMIA BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER)

Bambu betung (Dendrocalamus asper) memiliki kandungan pati tinggi pada jaringan parenkim batang, terutama pada bambu muda, sehingga rentan terhadap organisme perusak seperti kumbang bubuk dan fungi. Perendaman alami dalam air dan lumpur menjadi metode pengawetan tradisional yang berpotensi menurunkan kadar pati tanpa bahan kimia berbahaya. Namun, kajian mengenai efektivitasnya terhadap perubahan struktur kimia lignoselulosa berdasarkan umur dan posisi segmen batang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis penurunan kadar pati pada perlakuan perendaman air dan lumpur berdasarkan umur serta segmen batang, mengidentifikasi perubahan gugus fungsi kimia bambu melalui FTIR, dan menganalisis keterkaitan antara penurunan kadar pati dengan perubahan struktur kimia sebagai dasar efektivitas pengawetan alami. Penelitian menggunakan 18 sampel bambu betung yang terdiri dari dua umur, yaitu muda ±6 bulan dan tua 3–4 tahun, tiga segmen batang, yaitu pangkal, tengah, dan ujung, serta tiga perlakuan, yaitu kontrol, rendam air mengalir, dan rendam lumpur sawah selama enam bulan. Kadar pati diuji menggunakan metode Luff-Schoorl dengan satu kali pengukuran per sampel. Analisis FTIR dilakukan pada sepuluh sampel terpilih menggunakan Shimadzu IRTracer-100 pada rentang 400–4000 cm?¹. Data dianalisis secara deskriptif-komparatif. Hasil menunjukkan bahwa perendaman air menurunkan kadar pati dari kontrol 8,55–13,32% menjadi 5,10–7,91% dengan penurunan 17,0–57,8%, sedangkan perendaman lumpur menurunkannya menjadi 3,92–7,81% dengan penurunan 18,0–68,0%. Kadar pati terendah terdapat pada perlakuan rendam lumpur segmen ujung bambu muda (LMU), yaitu 3,92%. Secara umum, perendaman lumpur lebih efektif karena melibatkan mekanisme fisik, biologis, dan interaksi mineral, sedangkan perendaman air lebih efektif pada segmen pangkal bambu muda. Analisis FTIR menunjukkan pelemahan pita C=O xilan hemiselulosa (~1726 cm?¹), sementara pita lignin (~1604 cm?¹) dan selulosa (~896 cm?¹) tetap terdeteksi, sehingga struktur utama lignoselulosa tidak terdegradasi.

2026
👤 Penulis: Dinne Audia Wahyudi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS: PENINGKATAN EFEKTIVITAS PENGAWASAN DEWAN KOMISARIS TERHADAP TANTANGAN KRITIS PERUSAHAAN (STUDI KASUS PT PERTAMINA HULU ENERGI)

PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai Subholding Upstream Pertamina, menghadapi tantangan utama berupa penurunan produksi alamiah pada lapangan mature, risiko integritas aset, volatilitas harga komoditas, dan peningkatan biaya operasi. Kondisi tersebut menuntut Dewan Komisaris (BoC) untuk memusatkan perhatian pengawasan pada isu yang paling memengaruhi laba bersih setelah pajak (NPAT) dan pencapaian Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memprioritaskan tantangan bisnis PHE serta merancang sistem pengawasan BoC yang efektif. Penelitian menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed-methods. Tahap kualitatif menggabungkan kajian dokumen perusahaan dan empat belas wawancara semi-terstruktur dengan anggota BoC, eksekutif, dan subject-matter experts. Tahap kuantitatif menggunakan Best-Worst Method (BWM) terhadap dua belas responden berdasarkan lima kriteria: Impact, Urgency, Probability, Detectability, dan Controllability. Penelitian mengidentifikasi lima belas tantangan bisnis dan tujuh kelemahan dalam proses pengawasan. Impact menjadi kriteria dengan bobot tertinggi. Seluruh tantangan kemudian dikelompokkan ke dalam tiga tingkat prioritas, yaitu empat tantangan Tier 1, tujuh Tier 2, dan empat Tier 3. Hasil penelitian diterjemahkan menjadi Tiered BoC Oversight System yang terdiri atas rencana kerja bertingkat, monitoring toolkit, escalation and contingency protocol, serta enabling conditions. Sistem ini diintegrasikan ke dalam arsitektur pengawasan PHE untuk mendukung proses pengawasan yang lebih terfokus, antisipatif, dan akuntabel.

2026
👤 Penulis: Ferry Firmansyah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Kepemimpinan Perusahaan

MERAJUT INFRASTRUKTUR GAS ALAM: MEMPRIORITASKAN PORTOFOLIO PROYEK UNTUK MENGATASI KEKURANGAN PASOKAN GAS DI WILAYAH JAWA BARAT

Wilayah Jawa Barat merupakan pusat industri Indonesia yang menyumbang sepertiga perekonomian nasional dan mengonsumsi energi terbesar. Sektor manufaktur maupun pembangkitan listrik di wilayah ini sangat bergantung pada gas bumi, dengan total permintaan mencapai sekitar 1.120 MMSCFD, atau sekitar 34% dari total permintaan nasional. Pada tanggal 5 Agustus 2025, kebakaran dan ledakan di lapangan gas di Subang mengakibatkan sekitar 65 MMSCFD pasokan gas berkurang sehingga menghadapkan wilayah ini pada defisit pasokan gas yang kian memburuk akibat produksi hulu yang menurun sementara pusat permintaan yang terus tumbuh. Karena kondisi ini mengancam daya saing industri, keandalan kelistrikan, dan ketahanan energi nasional, maka diperlukan kajian sistematis untuk mengatasi hal tersebut. Kajian ini membahas bagaimana sektor midstream migas dapat mengusulkan alternatif proyek untuk mengatasi defisit tersebut melalui infrastruktur interkoneksi yang menghubungkan Jawa Barat dengan wilayah-wilayah surplus gas, dengan menganalisis kriteria apa yang memengaruhi pemilihan proyek, bagaimana proyek-proyek alternatif diprioritaskan, dan bagaimana perubahan parameter gas memengaruhi opsi tersebut. Kajian ini menggunakan desain metode campuran (mixed method) yang berurutan. Tahap kualitatif dilakukan dengan memadukan wawancara semi-terstruktur dan perangkat lunak analisis data kualitatif berbantuan komputer (computer-aided qualitative data analysis software/CAQDAS) untuk mengodekan dan mengidentifikasi kriteria yang diprioritaskan oleh para responden. Tahap kuantitatif kemudian menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membobot kriteria tersebut, memeringkat alternatif berdasarkan agregasi penilaian individual setiap responden, dan menggunakan simulasi Monte Carlo untuk menguji ketangguhan komersial proyek terpilih terhadap volatilitas harga. Empat kriteria terbukti yang menentukan: Fleksibilitas Pasokan Gas, Skenario Tarif , Keandalan Layanan, dan Keandalan Infrastruktur. Fleksibilitas Pasokan Gas dan Skenario Tarif memiliki bobot dominan yang nyaris setara. Tiga proyek alternatif dievaluasi: Pipa Transmisi Cisem-2, Jumper Line Cilamaya, dan pipa Sumatera Utara-Riau. Jumper Line Cilamaya menempati peringkat tertinggi karena proyeknya berbiaya rendah dan penawaran tarifnya menarik, Cisem-2 di peringkat kedua karena menjadi tulang punggung jangka panjang yang paling andal, dan Sumatera Utara-Riau di peringkat terakhir. Oleh karena itu, Jumper Line Cilamaya direkomendasikan sebagai solusi jangka pendek yang terjangkau, dan Cisem-2 sebagai tulang punggung strategis jangka panjang. Uji sensitivitas memastikan total biaya gas untuk proyek yang direkomendasikan tetap layak secara komersial pada rentang harga realistis harga minyak.

2026
👤 Penulis: Aristo Tyas Pratama
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PUSAT RISET EKOLOGI DAN KONSERVASI FLORA IN-SITU: TIPOLOGI ADAPTIF MELALUI URBANISME EKOLOGIS DI GEDEBAGE, BANDUNG

Kawasan Bandung Timur, khususnya Gedebage, mengalami tekanan lingkungan yang semakin meningkat akibat pesatnya perkembangan kawasan terbangun. Kondisi tersebut ditandai oleh rendahnya proporsi ruang terbuka hijau dibandingkan standar ideal, meningkatnya suhu kawasan (urban heat island), penurunan muka tanah (land subsidence), risiko banjir, serta degradasi habitat flora lokal yang mengancam keberlanjutan ekosistem perkotaan. Permasalahan tersebut menunjukkan perlunya pendekatan arsitektur yang tidak hanya menyediakan fasilitas penelitian, tetapi juga berkontribusi terhadap pemulihan ekologi kawasan. Isu ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on Land). Tugas akhir ini mengusulkan tipologi In-Situ Ecology and Flora Conservation Research Center, yaitu pusat penelitian, konservasi, edukasi, dan rekreasi yang berfokus pada pelestarian flora lokal melalui pendekatan konservasi langsung di habitat alaminya. Tipologi ini dipilih sebagai media untuk mengintegrasikan fungsi ilmiah, edukatif, dan ekologis dalam mendukung pengembangan kota yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Pendekatan perancangan menggunakan Ecological Urbanism sebagai kerangka utama yang diintegrasikan dengan prinsip Biophilic Design, Passive Design, dan Water Sensitive Urban Design (WSUD). Integrasi ketiga pendekatan tersebut diterapkan melalui pembentukan koridor hijau, restorasi habitat, sistem pengelolaan air berkelanjutan, optimalisasi pencahayaan dan ventilasi alami, serta penggunaan elemen vegetasi sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas lingkungan dan kenyamanan pengguna. Metode perancangan meliputi studi literatur, analisis kondisi ekologis kawasan Gedebage, studi preseden, analisis tapak, identifikasi kebutuhan pengguna, serta proses sintesis desain yang diterjemahkan ke dalam pengembangan massa, zonasi, sistem bangunan, dan strategi keberlanjutan. Proses tersebut menghasilkan rancangan adaptif yang mempertimbangkan aspek lingkungan, fungsi, dan pengalaman ruang secara terpadu. Hasil perancangan berupa pusat penelitian dan konservasi flora yang tidak hanya mendukung kegiatan riset dan edukasi, tetapi juga berperan sebagai infrastruktur ekologis perkotaan yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan, memperkuat konektivitas ekosistem, serta menjadi model pengembangan fasilitas konservasi berbasis Ecological Urbanism di kawasan perkotaan yang rentan terhadap degradasi lingkungan.

2026
👤 Penulis: Raisya Wilona Ginting
🏷️ Ekoarchitektur 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN ECO-LODGE BAGI PENDAKI GUNUNG BERBASIS PENGALAMAN ALAM DI KAWASAN KAKI GUNUNG GEDE–PANGRANGO

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa, mulai dari pegunungan, hutan tropis, pantai, hingga danau dan perairan laut yang eksotis. Potensi ini mendorong berkembangnya berbagai destinasi wisata yang terus bertambah jumlahnya setiap tahun, seiring dengan meningkatnya minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alam tidak hanya menjadi daya tarik utama, tetapi juga menjadi latar yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk merancang beragam fasilitas wisata, seperti resort, glamping, taman rekreasi, desa wisata, hingga agrowisata. Perkembangan ini turut memperkuat posisi sektor pariwisata sebagai salah satu pilar penting dalam ekonomi kreatif dan penggerak perekonomian masyarakat lokal. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat sejumlah destinasi wisata yang pengelolaannya belum sepenuhnya sesuai dengan kaidah keberlanjutan, sehingga menimbulkan tantangan baru bagi pariwisata Indonesia ke depan. Banyak objek wisata yang pembangunannya dilaporkan telah merugikan keberadaan ekosistem dan melanggar aturan pembangunan yang berlaku. Terdapat pembangunan tempat wisata yang dilarang karena berpotensi mengganggu daerah resapan air dan memicu bencana seperti banjir dan longsor, khususnya Lembang yang merupakan hulu Citarum & Cikapundung sehingga memiliki fungsi utama sebagai resapan air. Ada pula tempat wisata yang pembangunannya melebihi luas yang ditetapkan peraturan setempat, sehingga berakhir merusak kawasan lingkungan yang seharusnya dilindungi. Selain itu, beberapa tempat wisata seperti wisata offroad memberi pengaruh buruk terhadap lingkungan dengan terjadinya perusakan vegetasi tanah, jalur resapan air, dan habitat satwa, sehingga memperparah risiko longsor. Tipologi arsitektur yang direncanakan adalah lodge. Lodge dapat menjadi alternatif wisata yang ramah lingkungan, dengan konsep low-impact architecture yang menjaga kelestarian alam. Lodge mampu mengintegrasikan konservasi, rekreasi, dan edukasi, menjadikannya wadah untuk menikmati alam sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Tipologi resort juga dapat memberi solusi ekonomi bagi masyarakat lokal melalui pariwisata berkelanjutan, tanpa merusak daya dukung kawasan. Penjawaban isu akan menggunakan pendekatan ekologis atau Low-Impact Development (LID), dengan tujuan menekan intervensi tapak seminimal mungkin (contoh: bangunan panggung, modular, terjaganya permeabilitas lahan). Proses perancangan menggunakan metode berupa studi literatur mengenai arsitektur tanggap bencana, observasi terkait kondisi lingkungan pada lapangan, studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan/Environmental Impact Assessment (AMDAL/EIA), serta benchmarking terhadap berbagai bangunan dengan penerapan Low-Impact Development yang tepat. Proyek ini bertujuan mengurangi resiko bencana pada kawasan pariwisata seraya melestarikan alam, mengingat banyaknya tempat wisata dibangun tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan. Potensi lanskap alami Indonesia juga dapat dimaksimalkan sebagai objek wisata untuk meningkatkan ekonomi lokal.

2026
👤 Penulis: Theodore Arnold Simarmata
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

OTOMATISASI ANALISIS MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI KELOMPOK BINTIK MATAHARI MELALUI METODE SEGMENTASI DAN FITUR GRADIEN BERBASIS DEEP LEARNING PADA CITRA RESOLUSI TINGGI SATELIT SDO TAHUN 2012–2026

Pengembangan metode otomasi untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan sunspot group pada citra Matahari menjadi fokus utama dalam penelitian ini, dengan pendekatan deep learning sebagai fondasi utama. Proses segmentasi dilakukan menggunakan arsitektur U-Net yang telah dimodifikasi dengan penambahan fitur peta gradien dari intensitas piksel. Penambahan peta gradien mempertajam batas antarstruktur, terutama batas penumbra–fotosfer yang landai, sehingga mask segmentasi yang dihasilkan lebih akurat. Ketajaman batas ini berdampak lanjut pada tahap klasifikasi, karena mask hasil segmentasi menjadi basis pembentukan fitur morfologi pada model klasifikasi, dengan kontribusi terbesar pada jalur klasifikasi berbasis fitur XGBoost yang seluruh fiturnya diekstrak langsung dari mask. Pendekatan ini menggantikan metode ambang batas (thresholding) konvensional yang terbatas dalam mengenali struktur morfologi kompleks pada citra Matahari. Dataset yang digunakan berupa 5.202 citra Solar Dynamics Observatory (SDO) HMI berukuran 4096 × 4096 piksel dalam format FITS dengan ukuran sekitar 65 MB per citra, pada rentang tahun 2012 sampai 30 April 2026, yang telah melalui koreksi point spread function (PSF), koreksi limb darkening, proses pemotongan (cropping), dan pelabelan berdasarkan tiga kelas utama yaitu umbra, penumbra, dan background (fotosfer). Selanjutnya, pengelompokan otomatis kelompok bintik matahari berdasarkan klasifikasi McIntosh (Zpc) diterapkan pada hasil segmentasi melalui pendekatan deep learning dan ekstraksi fitur menggunakan XGBoost. Sebelum proses klasifikasi dilakukan, label McIntosh yang diperoleh dari katalog NOAA/SRS ditinjau ulang melalui tahapan audit otomatis berbasis AI agent dengan penggunaan API serta audit manual untuk mengurangi kesalahan label dan sampel false positive. Proses ini menghasilkan ground truth yang lebih konsisten dan sesuai karakteristik fisik sunspot group. Evaluasi performa dilakukan menggunakan metrik akurasi piksel, Intersection over Union (IoU), serta skor klasifikasi McIntosh berupa average precision (AP), average recall (AR), dan average F1-score (AF). Seluruh proses komputasi dijalankan menggunakan GPU dan HPC untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan skalabilitas pemrosesan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model klasifikasi utama berbasis CNN ResNet18 mencapai AP sebesar 0,671, AR sebesar 0,667, AF sebesar 0,666, dan akurasi sebesar 0,667 pada data uji. Evaluasi terpisah pada komponen McIntosh menghasilkan akurasi sebesar 0,893 dan F1 makro sebesar 0,887 untuk komponen Zurich (Z), akurasi sebesar 0,788 dan F1 makro sebesar 0,812 untuk komponen penumbra (p), serta akurasi sebesar 0,907 dan F1 makro sebesar 0,897 untuk komponen distribusi umbra (c). Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan beberapa penelitian sebelumnya yang melaporkan nilai AF terbaik sebesar 0,608 serta nilai F1 rata-rata sekitar 0,68 untuk komponen Z, p, dan c, yang setara dengan peningkatan relatif sekitar 27% terhadap metode terkini. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan yang diusulkan berpotensi meningkatkan efektivitas pemantauan aktivitas Matahari dan mendukung penelitian lanjutan dalam fisika Matahari serta cuaca antariksa.

2026
👤 Penulis: Luthfi Naufal
🏷️ Deep Learning 🏷️ Segmentasi Citra 🏷️ Klasifikasi Morfologi

PENAKSIR TAK BIAS PREDIKSI VALUE-AT-RISK DENGAN MODEL DISTRIBUSI EKOR TEBAL DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN PREMI

Prediksi risiko kerugian merupakan aspek penting dalam industri asuransi, khususnya dalam menentukan besaran premi yang tepat. Salah satu ukuran risiko yang umum digunakan adalah Value-at-Risk (VaR). Nilai prediksi VaR dapat mengalami bias, terutama pada data dengan karakteristik distribusi ekor tebal. Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengkaji penaksir dan prediksi VaR, menganalisis pengaruh kesalahan pengukuran, serta mengevaluasi penggunaan data rerata dalam meningkatkan akurasi prediksi risiko. Metode yang digunakan meliputi pendekatan empiris dan parametrik, dengan mempertimbangkan distribusi berekor tebal seperti distribusi t-Student dan ekspansi Cornish-Fisher. Selain itu, dilakukan analisis terhadap variasi penaksir dan pendekatan kesalahan pengukuran untuk mengurangi bias prediksi VaR. Hasil penelitian Tugas Akhir menunjukkan bahwa karakteristik distribusi ekor tebal berpengaruh signifikan terhadap akurasi prediksi VaR, sehingga pendekatan konvensional cenderung menghasilkan VaR yang kurang sesuai. Penggunaan data rerata juga terbukti mampu meningkatkan stabilitas dan akurasi prediksi. Selanjutnya, ukuran risiko dan fungsi distorsi diaplikasikan dalam perhitungan premi asuransi, yang menunjukkan bahwa metode yang mempertimbangkan risiko ekor tebal menghasilkan premi yang lebih akurat.

2026
👤 Penulis: Aurelio Angwyn Tanuwijaya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PUSAT PENAMPUNGAN, REHABILITASI, DAN TERAPI ANJING DAN KUCING LIAR DENGAN INTEGRASI FUNGSI ANIMAL ASSISTED THERAPY DI KOTA BANDUNG

Anjing dan kucing adalah hewan-hewan yang umum disukai manusia dan sebagian besar hidup layak sebagai hewan peliharaan atau hewan pekerja. Sayangnya, masih banyak anjing dan kucing liar yang hidup terlantar dan harus berjuang setiap hari. Akibatnya, kondisi kesehatan dan kebersihan mereka tidak memadai, mengakibatkan mereka tidak memiliki kesejahteraan hidup atau animal welfare. Di Kota Bandung, terdapat sekitar 15 ribu ekor kucing liar pada tahun 2022 dan jumlah anjing liar yang tidak tercatat, yang umumnya hidup di jalanan. Masyarakat telah mencoba menyelamatkan mereka, tetapi fasilitas penampungan hewan yang ada saat ini tidak didesain sesuai standar dan tidak layak menampung hewan dalam jumlah yang besar. Selain itu, angka populasi hewan-hewan tersebut terus bertambah. Kondisi ini disertai keadaan hidup mereka yang tidak layak dapat mengakibatkan beberapa masalah, yaitu masalah kesehatan karena berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis kepada manusia dan sesama hewan, dan masalah biodiversity karena bersifat invasif terhadap spesies hewan kecil. Kedua masalah tersebut bertentangan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) nomor 15 yaitu Life on Land, dengan tujuan untuk melindungi, merestorasi, dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem darat, dan menghentikan kehilangan biodiversity. Masalah tersebut harus ditangani dengan memberikan animal welfare, menjaga angka populasi, dan memberikan kesempatan hidup layak sebagai hewan peliharaan maupun sebagai hewan pekerja. Hewan pekerja berupa anjing dan kucing umum digunakan sebagai hewan terapi, terutama untuk terapi berbasis hewan atau animal assisted therapy (AAT). Jenis terapi ini belum umum digunakan di Indonesia karena kurangnya pengetahuan, keterbatasan ahli, dan standar yang belum resmi. Meskipun begitu, dengan jumlah anjing dan kucing liar yang banyak di Indonesia, potensi AAT dapat dikembangkan melalui penyelamatan dan pelatihan mereka sebagai hewan terapi. Maka dari itu, dihadirkan sebuah perancangan desain yang dapat membantu pencapaian animal welfare dan juga menjadi lingkungan penyembuhan bagi para pengguna AAT. Hasil perancangan diolah dengan konsep desain wellness focused dengan pendekatan arsitektur terapeutis. Hasil perancangan ditempatkan di Jalan Purwakarta, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan aksesibilitas yang baik, kontur yang relatif datar, dan potensi pengguna yang tinggi akibat populasi kawasan sekitar. Hasil perancangan berupa pusat penampungan yang layak bagi anjing dan kucing liar dan terlantar dengan fasilitas pendukung tercapainya animal welfare dan integrasi animal assisted therapy sebagai lingkungan penyembuhan bersama untuk hewan dan manusia. Fasilitas tambahan yang disediakan pada perancangan ini berupa fasilitas publik dan komersial bagi penyuka atau pemilik hewan.

2026
👤 Penulis: Jocelyne Vanessa Wang
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS KEMAMPUAN GENERALISASI SYMPLECTIC HAMILTONIAN NEURAL NETWORKS DI LUAR DATA PELATIHAN MELALUI EVALUASI LINTASAN RUANG FASE DAN KONSERVASI ENERGI

Model pembelajaran berbasis fisika seperti Symplectic Hamiltonian Neural Network (SHNN) dikembangkan untuk mempelajari dinamika sistem Hamiltonian dengan tetap mempertahankan struktur ruang fase dan konservasi energi. Secara teoretis, penggunaan struktur Hamiltonian dan integrator simplektik diharapkan mampu meningkatkan kestabilan prediksi jangka panjang. Namun, kemampuan SHNN ketika diuji pada kondisi out-of-distribution (OOD) masih menjadi persoalan penting, terutama ketika parameter fisis dan level energi pengujian berada di luar domain data pelatihan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan SHNN pada kondisi OOD serta menganalisis keterkaitan kegagalan model dengan galat trajektori, deviasi energi, galat medan vektor Hamiltonian, simplektisitas peta rollout, dan ketidakakuratan Hamiltonian yang dipelajari model (learned Hamiltonian). Sistem yang dikaji adalah pegas bermassa sebagai representasi sistem linier dan bandul sederhana sebagai representasi sistem nonlinier. Data latih dibangkitkan menggunakan integrator Gauss–Legendre dua tahap (GL2) karena memiliki sifat simplektik dan sesuai dengan karakter sistem Hamiltonian. Validasi data dilakukan dengan membandingkan hasil GL2 terhadap solusi analitik melalui lintasan terhadap waktu, ruang fase, dan profil energi. Model SHNN kemudian dievaluasi melalui beberapa skenario, yaitu baseline berbasis rollout loss, SHNN dengan loss berbasis integrator, serta perbandingan integrator rollout GL2 dan Ralston RK2 pada tahap evaluasi. Metrik evaluasi yang digunakan meliputi NRMSE trajektori, NRMSE deviasi energi, NRMSE medan vektor Hamiltonian, dan galat simplektisitas ?D?TJD? ? J?F. Verifikasi pada kondisi in- distribution (ID) menunjukkan bahwa model secara umum mampu merekonstruksi struktur dasar dinamika dalam domain pelatihan, meskipun tingkat akurasinya berbeda antar-model. Dengan demikian, penyimpangan pada kondisi OOD lebih berkaitan dengan keterbatasan generalisasi di luar distribusi pelatihan daripada ketidakmampuan model mempelajari dinamika dalam domain tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SHNN mampu menghasilkan prediksi pada kondisi OOD, tetapi kemampuan generalisasinya belum konsisten. Pada beberapa kasus OOD tinggi, model masih mampu membentuk orbit ruang fase yang secara kualitatif menyerupai referensi, tetapi belum selalu tepat dalam amplitudo, momentum, periode, dan energi. Pada kasus OOD rendah, terutama ketika energi sistem berada jauh di bawah domain pelatihan, model lebih mudah mengalami penyimpangan. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa deviasi energi yang kecil dan peta rollout yang hampir simplektik tidak selalu menjamin bahwa lintasan model benar secara fisis. Hal ini terjadi karena dinamika model ditentukan oleh learned Hamiltonian dan gradiennya. Jika medan vektor Hamiltonian yang dipelajari tidak mendekati medan vektor fisis, galat lokal dapat terakumulasi selama rollout jangka panjang. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis terpadu terhadap kemampuan OOD SHNN melalui lintasan ruang fase, konservasi energi, medan vektor Hamiltonian, dan simplektisitas peta rollout. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegagalan SHNN pada OOD lebih tepat dipahami sebagai keterbatasan learned Hamiltonian dan medan vektor Hamiltonian dalam mengekstrapolasi struktur dinamika fisis, bukan semata-mata akibat integrator numerik.

2026
👤 Penulis: Hilman Nuha Ramadhan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Dinamika Sistem Hamiltonian 🏷️ Simplektisitas Peta Rollout

FENOLOGI PEMBUNGAAN DAN AKTIVITAS POLINASI MEDINILLA SPECIOSA DI GUNUNG MURIA, JAWA TENGAH

Medinilla speciosa merupakan spesies flora lokal di hutan pegunungan Jawa, khususnya di Gunung Muria, memiliki nilai etnobotani tinggi dan dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai bahan baku produk olahan pangan. Pemanfaatan tumbuhan ini secara berkelanjutan sangat bergantung pada ketersediaannya di alam, yang ditentukan oleh keberhasilan siklus hidupnya. Namun, informasi mengenai fenologi dan dinamika reproduksinya di habitat alami masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur durasi fenologi dari kuncup hingga buah matang, mengidentifikasi spesies polinator dan frekuensi kunjungan, serta menganalisis aktivitas polinasi pada M. speciosa di kawasan Gunung Muria, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada Januari hingga April 2026 menggunakan metode observasi fenologi secara kontinu setiap minggu, observasi aktivitas polinator menggunakan transek garis 100 meter, dan eksperimen perlakuan polinasi open-pollination (terbuka) dan close-pollination (tertutup). Hasil menunjukkan bahwa siklus fenologi M. speciosa dari fase kuncup hingga buah matang berlangsung selama 21 minggu, dengan durasi fase kuncup (3 minggu), anthesis (5 minggu), buah muda (3 minggu), buah mengkal (8 minggu), dan buah matang (2 minggu). Sepuluh spesies serangga pengunjung teridentifikasi, dengan kelompok polinator didominasi oleh famili Apidae (Xylocopa sp., Trigona sp., Amegilla sp., Apis dorsata, dan Apis sp.). Xylocopa sp. merupakan polinator paling dominan dengan frekuensi kunjungan tertinggi (75 kunjungan). Laju kunjungan puncak untuk seluruh polinator sebesar 6,67 kunjungan/jam pada pukul 11.00-12.00 WIB, yang bertepatan dengan suhu optimal 23,83 °C. Perbandingan perlakuan polinasi menunjukkan bahwa open-pollination menghasilkan fruit set (98,7 ± 0,65%) dan massa biji (0,555 ± 0,024 g) yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan close-pollination (fruit set, 91,7 ± 3,09% dan massa biji, 0,483 ± 0,024 g). Sebaliknya, jumlah biji pada close-pollination lebih banyak (267 ± 3,70 butir) dibandingkan dengan open-pollination (253 ± 3,58 butir), namun memiliki massa lebih ringan yang mengindikasikan adanya efek inbreeding depression. Hasil penelitian menunjukkan peran krusial polinator dalam meningkatkan kualitas genetik (fitness) M. speciosa melalui mekanisme penyerbukan silang (cross-pollination). Implikasi penelitian ini mendukung strategi konservasi habitat polinator dan manajemen panen berbasis fase fenologi untuk optimalisasi pemanfaatan ekonomi berkelanjutan oleh masyarakat lokal di lereng Gunung Muria.

2026
👤 Penulis: Nafilatus Saidah
🏷️ Fenoelogi 🏷️ Medinilla Speciosa 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN DAN PREDIKSI RISIKO GAGAL BAYAR MENGGUNAKAN (MODIFIKASI) DISTRIBUSI GAMMA

Risiko gagal bayar merupakan salah satu sumber kerugian bagi perusahaan layanan pinjaman pendanaan bersama (peer-to-peer lending). Kerugian yang timbul menunjukkan pola distribusi yang menceng ke kanan serta berpotensi menghasilkan kerugian bagi perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemodelan yang mampu merepresentasikan kemungkinan munculnya kerugian yang lebih besar. Penelitian Tugas Akhir ini memodelkan kerugian akibat gagal bayar menggunakan distribusi gamma beserta modifikasinya, yaitu Compound Laplace–Gamma (CLG), Shanker–Gamma tipe I (SGD1), dan Shanker–Gamma tipe II (SGD2). Distribusi gamma dipilih karena cukup baik dalam menangkap pola kemencengan pada data kerugian, namun modifikasi tetap diperlukan untuk memperbaiki karakteristik kerugian yang lebih besar. Parameter dari masing-masing distribusi diestimasi menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE), yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi risiko melalui Value-at-Risk (VaR). Hasil prediksi dan validasi menunjukkan bahwa distribusi CLG menghasilkan prediksi risiko yang cenderung konservatif. Sementara itu, distribusi SGD1 dan SGD2 mampu merepresentasikan kerugian akibat gagal bayar dengan cukup baik, masing-masing dengan keunggulan yang berbeda. SGD2 lebih unggul dalam merepresentasikan kerugian yang lebih besar pada bagian ekor distribusi, sedangkan SGD1 lebih akurat dalam menggambarkan pemusatan data serta menghasilkan prediksi risiko yang paling konsisten. Oleh karena itu, pemilihan antara distribusi SGD1 dan SGD2 dapat disesuaikan dengan preferensi serta profil risiko pengambil keputusan.

2026
👤 Penulis: Rahajeng Diandra Luvinta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko Perusahaan 🏷️ Statistika Nonparametrik

PERENCANAAN BREAKWATER UNTUK MENGENDALIKAN KEMUNDURAN GARIS PANTAI DI PANTAI KUTA, BALI MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIK DELFT3D

Pantai Kuta, Bali mengalami kemunduran garis pantai akibat proses hidrodinamika serta perubahan konfigurasi pesisir yang dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur pantai dan perluasan daratan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Erosi paling signifikan terjadi pada kawasan depan Discovery Mall yang termasuk dalam zona kritis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi eksisting garis pantai serta merencanakan bangunan pelindung pantai berupa detached breakwater untuk mengendalikan kemunduran garis pantai. Evaluasi kondisi eksisting dan perencanaan dilakukan menggunakan pemodelan numerik Delft3D. Pemodelan dilakukan dengan dua skenario elevasi detached breakwater yang berbeda untuk mengevaluasi pengaruh elevasi struktur terhadap perubahan garis pantai dan pola sedimentasi. Konfigurasi detached breakwater ditentukan berdasarkan segmen garis pantai yang memerlukan perlindungan serta target pembentukan salient atau tombolo sebagai respons terhadap perubahan transport sedimen. Dimensi struktur direncanakan berdasarkan gelombang rencana, kemudian dilakukan perbandingan antara penggunaan armor tipe rubble mound dan quadripod dari aspek teknis, metode konstruksi, dan biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa detached breakwater mampu meningkatkan akresi di belakang struktur sehingga berpotensi menstabilkan garis pantai. Skenario dengan elevasi struktur yang lebih dangkal menghasilkan akresi yang lebih besar dibandingkan skenario elevasi yang lebih dalam. Berdasarkan perbandingan yang dilakukan, armor tipe quadripod memberikan alternatif yang lebih efisien dalam pelaksanaan konstruksi dan lebih ekonomis dibandingkan armor rubble mound.

2026
👤 Penulis: Nidya Nazahra
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

VARIASI DENSITAS SKELETAL DAN LAJU KALSIFIKASI KARANG PORITES DI TELUK BANTEN

Perubahan suhu permukaan laut (SPL) merupakan faktor lingkungan penting yang memengaruhi pertumbuhan karang masif Porites. Karang ini mampu merekam kondisi lingkungan melalui perlapisan pertumbuhan tahunan, sehingga menjadi arsip perubahan iklim laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan variabilitas SPL terhadap pertumbuhan skeletal tahunan karang Porites di Teluk Banten pada tiga zona perairan, yaitu Pulau Kalih (inshore), Pulau Panjang (nearshore), dan Pulau Tunda (offshore). Penelitian dilakukan melalui rekonstruksi data SPL periode 2012 – 2024 menggunakan data pengukuran in situ dan citra satelit, kalibrasi densitas skeletal menggunakan citra CT-Scan, pengukuran parameter pertumbuhan skeletal tahunan (densitas skeletal dan laju kalsifikasi), analisis hubungan statistik menggunakan korelasi dan regresi linier, serta identifikasi intensitas termal Degree Heating Week (DHW) dan fenomena Marine Heatwaves (MHW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa densitas skeletal dan laju kalsifikasi bervariasi antar lokasi penelitian, dengan nilai rata-rata tertinggi ditemukan pada Pulau Panjang yaitu 1,46 g/cm3 (densitas) dan 1,75 g/cm2/tahun (laju kalsifikasi). Secara umum, densitas skeletal dan laju kalsifikasi pada seluruh koloni menunjukkan kecenderungan menurun selama periode pengamatan. Hubungan antara SPL dan parameter pertumbuhan skeletal juga bervariasi antar lokasi. Korelasi negatif kuat dan signifikan antara SPL dan laju kalsifikasi hanya ditemukan pada koloni Pulau Kalih (r = -0,604; p < 0,05), sedangkan hubungan pada Pulau Panjang dan Pulau Tunda relatif lemah dan tidak signifikan. Analisis stres termal menunjukkan bahwa tahun 2016 merupakan periode anomali SPL positif tertinggi yang disertai peningkatan frekuensi MHW dan akumulasi DHW hingga 3,75 °C-weeks. Kondisi tersebut diikuti oleh penurunan laju kalsifikasi pada koloni di Pulau Panjang dan Pulau Tunda, sedangkan koloni di Pulau Kalih menunjukkan penurunan yang lebih nyata pada tahun-tahun berikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan SPL dan stres termal tidak memberikan respons pertumbuhan yang seragam pada karang Porites. Variasi respons antar lokasi mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan lokal berperan dalam menentukan sensitivitas karang terhadap perubahan iklim.

2026
👤 Penulis: Ken Dedes
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Karang 🏷️ Analisis Perubahan Iklim

KAJIAN PENGGUNAAN METODE KUADRAT TERKECIL PADA PENCOCOKAN CITRA

Proses otomatisasi dalam fotogrametri digital pada intinya dilakukan dengan mengkorelasikan pasangan citra yang saling bertampalan (image matching). Dengan demikian pencocokkan citra (image matching) merupakan kunci utama dalam otomatisasi citra digital. Proses pencocokkan citra tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengukur titik-titik sekawan (conjugate points) antara citra satu dengan citra lainnya pada objek yang sama pada daerah yang saling bertampalan. Pencarian pasangan titik sekawan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan hubungan transformasi affine untuk pendekatan posisi awal (initial position). Kualitas posisi awal tersebut dapat diketahui dengan menerapkan proses perhitungan kuadrat terkecil (least-square) melalui teknik hitung perataan (adjustment). Kualitas kesamaan objek diidentifikasi dengan melihat besarnya pergeseran posisi/piksel pada posisi yang telah ditentukan berdasarkan setiap karakteristik objek. Dalam penelitian ini, dilakukan pengkajian terhadap tiga karakteristik objek yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan proses pencocokkan citra digital. Ketiga karakteristik objek tersebut adalah daerah objek tinggi, daerah objek rendah, dan daerah campuran objek tinggi dan rendah. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penempatan pasangan titik awal pada karakteristik objek daerah objek rendah selalu memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan proses pencocokkan citra digital.

2026
👤 Penulis: Ipan Sopian
🏷️ Optimasi Pencocokkan Citra Digital 🏷️ Analisis Karakteristik Objek 🏷️ Metode Kuadrat Terkecil

SINTESIS DAN KARAKTERISASI MATERIAL KOMPOSIT FOTOKATALIS MMT- PANI/CEO2 UNTUK DEGRADASI LIMBAH ZAT WARNA METILEN BIRU DI BAWAH RADIASI UV

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis material komposit montmorilonit-polianilin/serium oksida (MMT-PANI/CeO?) sebagai fotokatalis untuk degradasi metilen biru, menentukan komposisi optimum MMT-PANI dan CeO? dalam pembentukan komposit, mengkarakterisasi sifat fisikokimia material, menentukan kondisi optimum fotodegradasi, serta mengevaluasi aktivitas dan model kinetika adsorpsi maupun fotodegradasi metilen biru. Latar belakang penelitian didasari oleh kebutuhan material fotokatalis yang memiliki aktivitas adsorpsi dan fotodegradasi tinggi, sehingga sinergi antara sifat adsorptif MMT- PANI dan aktivitas fotokatalitik CeO? diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penghilangan polutan organik. Sintesis MMT-PANI dilakukan melalui metode polimerisasi in situ dengan variasi rasio MMT:anilin (2:1, 1:1, dan 1:2), sedangkan nanopartikel CeO? disintesis menggunakan metode sol-gel berbasis ekstrak daun teh sebagai agen pereduksi dan penstabil. Komposit difabrikasi melalui metode pencampuran disertai sonikasi dengan variasi rasio MMT-PANI:CeO? (1:0,2; 1:0,3; dan 1:0,5). Material yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), X-Ray Fluorescence (XRF), Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Particle Size Analyzer (PSA), dan UV-Vis Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV- DRS) untuk mengkaji gugus fungsi, struktur kristal, komposisi unsur, morfologi, distribusi ukuran partikel, dan sifat optik material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio MMT:anilin (2:1) menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 2,2052 g dan waktu polimerisasi tercepat selama 6,5 menit karena MMT berperan sebagai mikroreaktor yang mengonsentrasikan monomer serta membatasi pertumbuhan rantai polimer. Nanopartikel CeO? hasil sintesis memiliki celah pita sebesar 2,6299 eV yang mengindikasikan adanya kekosongan oksigen akibat reduksi sebagian Ce?? menjadi Ce³? sehingga meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Komposit MMT-PANI/CeO? (1:0,2) menunjukkan karakteristik terbaik dengan kristalinitas sebesar 59,90%, jarak antar bidang 9,9920 Å, dan celah pita 1,4912 eV. Analisis XRF mengonfirmasi peningkatan kandungan Ce seiring bertambahnya CeO?, sedangkan hasil SEM menunjukkan bahwa rasio 1:0,5 mengalami aglomerasi partikel yang menurunkan luas permukaan aktif sehingga mengurangi aktivitas fotokatalitik. Hasil uji fotodegradasi menunjukkan bahwa komposit MMT-PANI/CeO? (1:0,2) memiliki kemampuan adsorpsi sebesar 78,87% dan penyisihan total sebesar 91,64% dengan kontribusi degradasi fotokatalitik sebesar 12,77%. Pengujian fotodegradasi paling optimum terjadi pada pH 5, massa fotokatalis 25 mg, konsentrasi awal metilen biru 10 ppm, dan waktu penyinaran 60 menit. Analisis kinetika menunjukkan bahwa proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde satu semu dengan nilai R² sebesar 0,98851 dan kapasitas adsorpsi kesetimbangan (q?) sebesar 13,331 mg g?¹, sedangkan proses fotodegradasi mengikuti model kinetika orde dua dengan nilai R² sebesar 0,92512 dan konstanta laju reaksi (k) sebesar 0,07525 L mg?¹ menit?¹.

2026
👤 Penulis: Ika Nur Safitri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 109 dari 6754
💬