📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGARUH SCAFFOLDING DAN NUDGING PADA UJI VISUO-SPATIAL PUZZLE “FALLING LEAVES” TERHADAP PERFORMA KOGNITIF PELAJAR RENTANG USIA 19 – 21 TAHUN
Hasil PISA 2022 menempatkan posisi Indonesia di peringkat 69 dari 80 negara dengan skor 1.108 yang menunjukkan kelemahan siswa Indonesia terkait kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Hasil ini menjadi tantangan utama bagi siswa untuk bersaing di era global dan mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh (1) scaffolding, yaitu metoda pembelajaran dengan memberikan dukungan terstruktur dan sementara untuk membantu siswa memahami teks kompleks sehingga mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, dan (2) Nudging yaitu perubahan kecil pada instruksi yang mendorong siswa dalam pengambilan keputusan yang lebih baik saat menyelesaikan tugas. Penelitian ini diujikan untuk melihat performa kognitif pelajar usia 19 – 21 tahun dalam menyelesaikan tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Desain penelitian ini menggunakan tiga kelompok perlakuan, yaitu G1 (baseline/no nudging), G2 (soft nudge), dan G3 (strong nudge); masing-masing terdiri dari 64 partisipan (N = 192) untuk menyelesaikan 10 Soal (S) pada tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Soal (S) terbagi menjadi tiga kriteria yakni soal S1 – S5 untuk menjawab urutan daun yang jatuh ke-n, soal S6 – S8 mengurutkan daun jatuh pertama hingga terakhir, dan soal S9 – S10 untuk menjawab urutan daun yang jatuh lebih dari satu. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk melihat normalitas data, dan jika data tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan (1) uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan signifikansi dari tiga kelompok berbeda, (2) uji Two proportion Z-test untuk melihat perbedaan signifikansi dari dua kelompok near transfer, serta (3) uji Epsilon-Squared dan Rank-Biserial untuk melihat besarnya pengaruh antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nudging secara signifikan meningkatkan performa kognitif. Kelompok G3 mencapai rata-rata skor tertinggi (6.91 ± 3.18), diikuti G2 (6.42 ± 3.38) dan G1 (4.5 ± 3.33). Pada soal S9 dan S10, skor nudging pada G2 dan G3 berhasil meningkatkan tingkat keberhasilan secara signifikan. Selain itu, soft dan strong nudge berhasil memfasilitasi near transfer dari S9 ke S10 dengan skor Z-test G2 (4.266457) dan G3 (9.7168). Terlihat bahwa perbedaan usia dan jenis kelamin tidak berbeda nyata terkait dengan performa kognitif. Penelitian ini memperlihatkan bahwa performa pada tugas complex problem solving sangat sensitif terhadap desain tugas dan nudging, bukan karena perbedaan usia dan jenis kelamin. Dapat disimpulkan bahwa strong nudge terbukti paling efektif dalam mengurangi beban kognitif dan meningkatkan kemampuan near transfer. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan empiris dalam menyusun kebijakan pendidikan yang mendukung peningkatan kemampuan problem solving pelajar di Indonesia.
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA TERINTEGRASI BERBASIS MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATERI GERAK LURUS SATU DIMENSI BAGI PESERTA DIDIK SMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul pembelajaran fisika terintegrasi berbasis media interaktif pada materi gerak lurus satu dimensi bagi peserta didik SMA serta mengevaluasi kelayakan, kepraktisan, dan hasil implementasi awal. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Produk yang dikembangkan mengintegrasikan materi pembelajaran, video, animasi, simulasi, latihan soal, dan refleksi pembelajaran dalam satu modul digital yang interaktif. Uji coba dilakukan pada 20 peserta didik kelas XI Fase F SMA Darussalam Kandanghaur. Data dikumpulkan melalui lembar validasi ahli materi dan ahli media, angket respons peserta didik, angket kemandirian belajar, serta tes pretest dan posttest penguasaan konsep. Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 85% berdasarkan penilaian ahli materi dan 78% berdasarkan penilaian ahli media, sehingga modul dinyatakan layak digunakan setelah direvisi sesuai masukan validator. Respons peserta didik menunjukkan kategori positif yang mengindikasikan bahwa modul praktis telah digunakan dalam pembelajaran. Hasil implementasi juga menunjukkan adanya peningkatan skor posttest dibandingkan dengan pretest dengan nilai N-Gain sebesar 0,53 yang termasuk kategori sedang, disertai peningkatan skor kemandirian belajar berdasarkan hasil angket. Temuan ini menunjukkan bahwa modul pembelajaran yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan dan kepraktisan yang baik serta memberikan hasil implementasi awal yang positif sebagai alternatif bahan ajar inovatif untuk pembelajaran fisika di SMA.
PERUBAHAN PERSEPSI PUBLIK DI RUANG DIGITAL TERHADAP RUANG KOMERSIAL: STUDI KASUS DI KORIDOR BRAGA, BANDUNG
Evolusi era digital telah mengubah cara masyarakat mempersepsikan dan mengonsumsi ruang komersial. Hal ini tidak hanya dirasakan melalui pengalaman fisik langsung, tetapi juga dapat melalui gambaran digital di platform daring. Koridor Braga, Bandung, merupakan satu dari koridor komersial historis yang telah mengalami perubahan tersebut. Sebagai kawasan yang dikenal dengan arsitektur kolonialnya sejak era kolonial Belanda, koridor Braga sempat menjadi sentral perdagangan dan hiburan ternama di Bandung, bahkan dijuluki "Paris van Java." Kini kawasan tersebut tengah mengalami tekanan modernisasi yang bukan sekadar mengubah wajah fisiknya, namun juga cara publik memaknai dan menilai kawasan tersebut. Penelitian terdahulu terkait komersialisasi ruang, telah dijelaskan pengaruh dari teknologi digital terhadap perilaku komersialisasi ruang, namun penelitian tersebut sebagian besar masih menekankan peran elemen fisik kawasan. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti karena belum banyak kajian yang menggabungkan elemen fisik dan non fisik kawasan di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali perubahan pola perilaku terhadap ruang komersial di Koridor Braga berdasarkan persepsi digital penggunanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan memakai data ulasan digital dari Google Maps Reviews sebagai sumber utama untuk mengidentifikasi pola persepsi dan perilaku ruang. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi pergeseran fungsi ruang akibat digitalisasi, di mana ruang bukan lagi hanya sebagai tempat transaksi ekonomi, melainkan berkembang menjadi ruang representasi identitas dan konsumsi simbolik. Selain itu, ditemukan kemunculan ruang-ruang baru yang dipicu oleh ulasan digital tesebut, yang mendukung terbentuknya titik-titik aktivitas komersial baru berbasis daya tarik visual dan viralitas konten. Perubahan ini turut membawa transformasi pada pola aktivitas dan konsumsi ruang secara keseluruhan, di mana perilaku pengunjung semakin dipengaruhi oleh narasi digital sebelum dan sesudah kunjungan fisik. Temuan ini menegaskan bahwa kedua elemen tersebut, saling membentuk satu sama lain. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan ulasan digital sebagai instrumen interpretasi persepsi ruang komersial yang mencakup penilaian terhadap kondisi fisik kawasan dan juga non-fisik kawasannya, seperti suasana, pengalaman emosional, serta nilai simbolik ruang,v sehingga membuka pendekatan yang lebih menyeluruh untuk memahami dinamika ruang perkotaan berdasarkan data digital.
TRANSISI PENDIDIKAN VOKASI MELALUI PENDEKATAN MULTI-LEVEL PERSPECTIVE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SERAPAN TENAGA KERJA LULUSAN SMK: STUDI KASUS SMKN 9 DAN SMKN 2 BANDUNG
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai satuan pendidikan vokasi jenjang menengah di Indonesia, berhadapan dengan persoalan yang terus berulang. Lulusannya kerap belum menguasai kompetensi yang diminta industri. Menjawab hal itu, pemerintah menggulirkan kebijakan Link and Match 8+i lewat Program SMK Pusat Keunggulan sejak 2021. Penelitian ini menelaah bagaimana kebijakan tersebut dijalankan di Kota Bandung, sekaligus menggali faktor-faktor yang menghambatnya, melalui pendekatan studi kasus di SMKN 6 Bandung dan SMK Igasar Pindad. Data dihimpun dari kajian literatur, observasi lapangan, serta wawancara mendalam. Hasilnya memperlihatkan pelaksanaan yang kedalamannya jauh berbeda, baik antar sekolah maupun antar mitra industri. Kemitraan yang betul-betul substantif ternyata tidak lahir dari instrumen kebijakan. Ia berakar pada keterkaitan historis yang sudah terbentuk jauh sebelum program ini ada. Link and Match 8+i justru bekerja paling optimal sebagai kerangka formal yang mengesahkan kerja sama yang telanjur hidup, alih-alih menjadi mesin pencipta kemitraan baru. Adapun hambatannya berlapis dan saling mengunci: mutu kompetensi guru, kualitas PKL, perbedaan kapasitas dan komitmen tiap industri mitra, fragmentasi antar lembaga pemerintah, sampai persoalan non teknis di luar sistem vokasi. Selama simpul-simpul ini belum dibenahi bersamaan, pembenahan yang hanya menyasar satu titik akan terus melahirkan hasil yang jomplang dengan besarnya program yang digulirkan. Penelitian ini menegaskan satu hal, keberhasilan Link and Match 8+i tidak ditentukan hanya oleh lengkapnya instrumen formal, melainkan oleh kondisi relasional dan kapasitas kelembagaan yang tumbuh dari interaksi berulang antara sekolah dan industri. Maka penguatan kemitraan SMK dengan dunia industri sepatutnya diarahkan pada pembangunan fondasi relasional jangka panjang, bukan sekadar memperluas jangkauan administratif kebijakan. Sebagai tindak lanjut, delapan dimensi temuan dirumuskan menjadi instrumen pemetaan terukur, yang bisa dipakai menilai apakah sebuah kemitraan berjalan substantif atau sebatas terpenuhi di atas kertas, sekaligus membuka jalan bagi pengujian pada populasi SMK yang lebih luas.
STUDI PERILAKU DAMPAK TIMBUNAN DI ATAS TANAH LUNAK TERHADAP MOMEN DAN DEFORMASI GRUP TIANG FONDASI DI DEKATNYA: STUDI KASUS PROYEK JALAN TOL DI PESISIR UTARA JAWA
Pembangunan timbunan pada tanah lunak di dekat fondasi tiang dapat menyebabkan pergerakan lateral tanah yang menghasilkan tambahan momen lentur dan deformasi pada tiang. Keterbatasan lahan sering menyebabkan konstruksi baru dilakukan berdekatan dengan struktur yang telah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh timbunan terhadap perilaku grup tiang fondasi, khususnya terhadap momen lentur dan deformasi lateral, dengan meninjau pengaruh jarak timbunan terhadap grup tiang, jenis sambungan kepala tiang, serta jenis elemen pemodelan tiang. Penelitian dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak PLAXIS 2D berdasarkan studi kasus proyek jalan tol di pesisir utara Jawa yang dibangun di atas tanah lempung lunak jenuh. Pemodelan tanah menggunakan kombinasi model konstitutif Soft Soil Creep, Hardening Soil, dan Mohr-Coulomb. Variasi yang ditinjau meliputi jarak timbunan terhadap grup tiang sebesar 20 m, 40 m, 60 m, dan 100 m, jenis sambungan kepala tiang berupa rigid, hinged, dan free, serta pemodelan tiang menggunakan elemen embedded beam dan plate. Hasil analisis menunjukkan bahwa timbunan pada tanah lunak menghasilkan tekanan lateral yang menyebabkan peningkatan momen lentur dan deformasi lateral pada grup tiang. Semakin jauh jarak timbunan terhadap tiang, semakin kecil momen lentur dan deformasi lateral yang terjadi, dengan kecenderungan hubungan yang mendekati linier. Jenis sambungan kepala tiang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap distribusi momen lentur, di mana sambungan rigid menghasilkan momen terbesar dibandingkan hinged dan free. Pemodelan tiang menggunakan elemen plate menghasilkan nilai momen lentur dan deformasi lateral yang lebih besar dibandingkan elemen embedded beam akibat perbedaan elemen kontinu dan diskontinu.
TERMINAL DI TENGAH ARUS: TRANSFORMASI TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI RUANG ADAPTIF TERHADAP ARUS MANUSIA, AIR, DAN POLUSI KOTA
Perkembangan pesat wilayah metropolitan Bandung menempatkan mobilitas dan konektivitas regional menjadi sebuah isu yang krusial. Kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya transmigrasi membuat kapasitas infrastruktur transportasi perlu ditingkatkan. Salah satunya yaitu terminal bus yang menampung moda transportasi yang penting bagi Kota Bandung. Keberadaan terminal menjadi pendukung dan berperan vital sebagai simpul transportasi baik antar provinsi, kota, maupun desa. Salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung adalah Terminal Leuwipanjang yang merupakan terminal tipe A dan menjadi pintu masuk bus dari arah barat. Terminal in melayani angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan dalam kota, dan angkutan pedesaan. Sebagai infrastruktur vital, terminal bus masih menghadapi beberapa persoalan seperti fenomena banjir yang menggangu operasional, kurangnya perkembangan fasilitas dan persepsi masyarakat terhadap terminal yang cenderung negatif. Terminal Leuwipanjang berlokasi di Kelurahan Situsaeur, Kecamatan Bojongloa Kidul yang termasuk kecamatan dengan kerentanan banjir sekitar 7.35% total lahan termasuk daerah bahaya bnjir. Permasalahan banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi, kurangnya resapan air, drainase kurang baik, ataupun dominasinya perkerasan pada tipologi terminal. Kondisi ini pula yang dapat mengakibatkan pada persoalan kedua yaitu persepsi masyarakat terhadap terminal sebagai tempat yang kurang baik, kumuh, tidak sehat, dan penuh asap. Persepsi masyarakat dapat berujung pada menurunnya pengguna terminal. Untuk menanggapi tantangan terkait Terminal Leuwipanjang, perancangan ulang terminal dilakukan dengan menempatkan terminal bukan hanya sekedar tempat bus datang dan pergi tetapi terminal memiliki makna dan fungsi yang lebih besar. Penerapan konsep dengan menghubungkan tiga konsep besar terminal sebagai simpul kota, resapan kota, dan ruang ketiga. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, dan studi preseden terminal. Hasil dari proses ini yaitu konsep perancangan yang berfokus pada integrasi fungsi transportasi yang efisien dalam meningkatkan konektivitas sesuai dengan fungsi utamanya sekaligus membawa unsur keberlanjutan lingkungan dan membawa funsi baru yang meningkatan persepsi posifitif masyarakat terhadap terminal. Perancangan bertukuan untuk mentransformasikan terminal sebagai hub transportasi multimoda yang efisien, mengembangkan funsi terminal sebagai ruang publik inklusif (ruang ketiga) yangn mampu mewadahi kehidupan sosial masyarakat, dan infrastruktur yang berorientasi pada mitigasi banjir yang sering terjadi melalui strategi water sensitive urban design.
CONTINUUM OF CARE SEBAGAI DASAR PERANCANGAN SENIOR LIVING DENGAN PENDEKATAN NEURO-ARCHITECTURE DI KAWASAN BOGOR
Indonesia sedang menghadapi transisi demografis menuju aging society, di mana pada tahun 2045 lebih dari 20% penduduk diproyeksikan berusia lanjut. Peningkatan angka harapan hidup ini menghadirkan tantangan dalam penyediaan fasilitas hunian dan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Di kawasan perkotaan, tingginya mobilitas penduduk usia produktif menyebabkan banyak lansia menjalani kehidupan secara mandiri tanpa pendampingan keluarga, sehingga rentan mengalami isolasi sosial, depresi, penurunan fungsi kognitif, hingga demensia. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan lansia tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga aspek psikososial dan kognitif. Di sisi lain, fasilitas yang tersedia saat ini masih belum mampu menjawab kebutuhan tersebut secara komprehensif. Rumah sakit umumnya berfokus pada layanan kuratif jangka pendek, sedangkan panti wredha hanya menyediakan fungsi hunian dengan dukungan medis dan sosial yang terbatas. Kesenjangan ini menuntut hadirnya fasilitas hunian yang mampu mengintegrasikan layanan kesehatan, dukungan sosial, serta stimulasi kognitif dalam satu kesatuan yang berkelanjutan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pendekatan continuum of care menjadi landasan penting dalam perancangan. Konsep ini memungkinkan lansia memperoleh berbagai tingkat layanan perawatan sesuai perubahan kondisi fisik dan kesehatan mereka tanpa harus berpindah lingkungan secara drastis. Dengan demikian, kualitas hidup, rasa aman, dan kenyamanan penghuni dapat tetap terjaga sepanjang proses penuaan. Pendekatan neuro-architecture menawarkan dasar konseptual yang relevan untuk mendukung konsep tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan binaan dapat memengaruhi fungsi otak, emosi, dan kesehatan mental. Melalui optimalisasi pencahayaan alami, kualitas akustik, orientasi ruang, serta penyediaan ruang interaksi sosial yang nyaman, lingkungan dapat mendukung kesehatan kognitif, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan lansia secara menyeluruh. Kawasan Sentul dipilih sebagai lokasi proyek karena memiliki iklim yang relatif sejuk, lingkungan hijau, aksesibilitas yang baik, serta kedekatan dengan Jakarta yang memungkinkan lansia tetap terhubung dengan keluarga. Karakter kawasan ini mendukung terciptanya healing environment yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental penghuni. Berdasarkan kondisi tersebut, Senior Living Hub dirancang sebagai solusi integratif yang menggabungkan hunian, layanan medis, dukungan sosial, dan aktivitas rekreatif dalam satu kawasan. Didukung penerapan prinsip continuum of care dan neuro-architecture, proyek ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendorong lansia tetap aktif, mandiri, dan terhubung dengan komunitas. Konsep ini sejalan dengan tujuan SDGs 3 (Good Health and Well-being), SDGs 10 (Reduced Inequalities), dan SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities).
THE INFLUENCE OF INFORMATION CHARACTERISTICS OF ONLINE REVIEWS ON PURCHASE INTENTION: A CASE STUDY IN TRAVELOKA
Berdasarkan data dari Jurnal Perencanaan Pembangunan Indonesia tahun 2020, industri perhotelan mengalami tekanan besar yang terlihat dari tingginya penurunan wisatawan dengan jumlah pembatalan dan penurunan pemesanan hotel. Menyikapi permasalahan tersebut, hotel harus mencari cara untuk mempertahankan usahanya, salah satunya dengan meningkatkan minat beli pelanggan. Traveloka, sebagai booking hotel online akomodasi nomor satu di Indonesia, menyediakan platform review hotel untuk berbagi pengalaman dan informasi dan rekomendasi melalui platform tersebut. Review online adalah sumber informasi tertinggi yang digunakan oleh orang-orang untuk mencari informasi untuk industri perhotelan. Penelitian sebelumnya menemukan ada beberapa faktor, seperti Kualitas Informasi, Kredibilitas Informasi, Kegunaan Informasi, yang dapat mempengaruhi niat beli. Dengan mempelajari karakteristik informasi di dalam platform review online sebagai salah satu bentuk eWOM, diharapkan industri perhotelan dapat mengkaji faktor-faktor signifikan eWOM dari platform review Traveloka yang dapat mempengaruhi niat beli pelanggan, kemudian mereka dapat mengimplementasikannya untuk strategi pemasaran dengan eWOM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli dengan menggunakan Model Penerimaan Informasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan melakukan kuesioner online yang diperoleh 245 responden yang pernah membaca review platform Traveloka, pernah memesan hotel secara online di Traveloka, dan berusia 18-35 tahun. SmartPLS digunakan untuk menganalisis data dan mengkonfirmasi bahwa Kredibilitas Informasi, Sikap terhadap Informasi, Kegunaan Informasi, dan Adopsi Informasi merupakan faktor penentu eWOM yang dapat mempengaruhi niat beli. Temuan penelitian ini tidak menemukan kebutuhan akan informatio dan kualitas informasi merupakan faktor determinan dari minat beli. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi praktis bagi industri perhotelan untuk memaksimalkan strategi menggunakan obbline untuk meningkatkan penjualan mereka berdasarkan temuan tersebut.
PEMODELAN HIPERAKTIVITAS DAN SINKRONISASI NEURAL PADA HALUSINASI AUDITORI
Halusinasi auditori merupakan gejala psikotik yang ditandai oleh persepsi suara tanpa adanya stimulus eksternal dan umum dijumpai pada individu dengan gangguan psikologis. Gangguan dinamika neural seperti ketidakseimbangan eksitatori– inhibitori dan hipersinkronisasi pada korteks auditori merupakan karakteristik utama fenomena ini. Selain itu, gangguan konektivitas turut berperan sebagai pemicu munculnya halusinasi auditori. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan memahami dinamika neural pada halusinasi auditori menggunakan kerangka utama model Wilson–Cowan dan model Kuramoto. Model diintegrasikan pada jaringan global dan lokal, serta mempertimbangkan modulasi konektivitas wEE akibat faktor internal otak dan stres aktivitas kognitif pada area auditori maupun Broca. Analisis bifurkasi digunakan untuk mengkaji transisi sistem dari kondisi stabil menuju hiperaktivitas yang berkaitan dengan kemunculan transien sinkronisasi. Sementara itu, analisis sensitivitas parameter dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam menggeser sistem menuju kondisi patologis. Hasil menunjukkan bahwa dinamika yang menyerupai halusinasi auditori dapat muncul akibat interaksi kompleks antara mekanisme eksitasi, sinkronisasi, dan konektivitas jaringan. Pengaruh parameter bervariasi bergantung pada kondisi sistem. Pada individu dengan riwayat ringan, penghentian stres segera setelah episode kognitif internal dimulai dapat mencegah munculnya fenomena tersebut. Selain itu, pada model jaringan lokal terbentuk kluster patologis sinkronisasi transien ketika konektivitas bergeser dari keadaan normal. Temuan ini mengindikasikan bahwa baik aktivitas eksitatori maupun sinkronisasi berperan penting dalam memunculkan dinamika patologis terkait dengan halusinasi auditori.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK BERBASIS RISET MENGGUNAKAN SOFTWARE PRAAT PADA MATERI GELOMBANG BUNYI DENGAN PEMBELAJARAN MENDALAM
Proyek Akhir ini bertujuan mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis riset menggunakan software Praat pada materi Gelombang Bunyi dengan Pembelajaran Mendalam. Studi sebelumnya telah menghasilkan LKPD dengan beragam pendekatan, namun belum ada yang mengintegrasikan analisis akustik melalui Praat dan pendekatan Pembelajaran Mendalam. Pengembangan dilakukan berdasarkan model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate) berbasis riset karakteristik akustik suara berdasarkan gender, rhotacism, dan partially edentulous. Khusus pada penyusunan dasar LKPD untuk siswa kelas VIII SMP berdasarkan frekuensi dasar perbedaan gender. Ditemukan perbedaan signifikan pada frekuensi dasar bunyi [a], [ra], dan [r] pada pasangan kelompok siswa laki-laki dan perempuan serta pasangan kelompok siswa laki-laki dengan kondisi partially edentulous dan gigi lengkap (p < 0,001) serta pasangan kelompok siswa laki-laki penderita dan bukan penderita rhotacism (p < 0,05). Selain itu, perbedaan signifikan terjadi antara laki-laki dan perempuan pada forman F1-F2 bunyi yang mengandung vokal (p < 0,05). Adapun kelompok penderita dan bukan penderita rhotacism tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada F3 bunyi [r] (p = 0,626). Adapun kelompok partially edentulous menghasilkan intensitas bunyi yang lebih tinggi dari kelompok gigi lengkap. Hasil validasi LKPD menunjukkan rata-rata skor 4,7 untuk keakuratan konsep, 4,4 untuk penyajian, dan 4,4 ? 0,5 untuk relevansi konsep dengan kategori ketiganya sangat valid. Nilai N-gain yang diperoleh sebesar 0,4 termasuk kategori sedang. Persentase rata-rata dari respons siswa terhadap LKPD sebesar (77,6 ? 10,6)% dengan kategori praktis. Maka, LKPD yang dikembangkan dinyatakan layak, efektif, dan praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran Gelombang Bunyi.
CREATIVE SPACES: VISUAL COMMUNICATION DESIGN CAMPUS BUILDING, ITB JATINANGOR
Industri kreatif Indonesia didominasi fesyen, kuliner, dan kriya, tetapi sektor lain masih di belakang. Namun, animasi mulai menjadi industri kreatif yang lebih besar. Film animasi Jumbo menjadi film paling sukses di Indonesia dengan 10 juta penonton. Menurut Kemenparekraf, 53,49% dari ahli memprediksi film, animasi, dan video akan sukses pada tahun 2024-2025. Meskipun begitu, sektor ini masih memiliki banyak potensi dan membutuhkan sumber daya manusia dan fasilitas yang lebih memadai. Terutama karena penggunaan AI generatif untuk pembuatan gambar dan video sudah dianggap normal di Indonesia. Dengan demikian, kreativitas manusia harus lebih diasah dalam periode transisi ini dan mengasah kemampuan manusia yang tidak dimiliki AI generatif. Namun, banyak dari pelajar Indonesia masih memiliki kesulitan berpikir kreatif dan institusi edukasi seni Indonesia belum memenuhi potensinya. Dengan masalah ini, fasilitas yang mengedepankan kreativitas bisa dalam bentuk ruang. Creative space, atau ruang kreatif adalah ruang yang dirancang untuk membangun kreativitas seseorang. Creative space tidak hanya didesain untuk meningkatkan kreativitas, tetapi juga membantu proses secara keseluruhan. Pertanyaan utama yang ingin ditanyakan adalah “bagaimana cara menciptakan ruang yang nyaman untuk proses kreatif?” Ruang-ruang seperti ini sudah ada sejak dulu, tetapi tugas ini akan fokus kepada ruang kreatif edukasi dan aktivitas pembuatan karya seni. Oleh karena itu, tipologi desain yang dipilih adalah kampus DKV dengan tapak yang berada di ITB Jatinangor. Kriteria desain akan berdasarkan aktivitas pengguna dan pola pikir kreatif manusia. Topik ini berhubungan dengan sustainable development goals keempat dan kesepuluh: quality education dan reduced inequalities.
AQUATIC HOSPITAL: AIR SEBAGAI ELEMEN PENYEMBUH PADA FASILITAS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA BARU PARAHYANGAN
Kelahiran merupakan transisi emosional yang mendalam bagi seorang ibu, namun lingkungan rumah sakit konvensional seringkali dirancang dengan prioritas efisiensi klinis yang mengabaikan pengalaman sensori, sehingga menciptakan ruang yang kaku dan intimidatif. Kondisi ini memperburuk fenomena tokophobia (ketakutan terhadap persalinan) yang, menurut studi, dialami oleh 20-30% ibu hamil. Hal ini menjadi sebuah tantangan kesehatan mendesak di Jawa Barat yang menyumbang 17% angka kematian ibu dan bayi nasional dengan beban tertinggi di wilayah Bogor, Bandung, dan Garut. Tugas Akhir ini merancang "Aquatic Hospital" di Kota Baru Parahyangan sebagai fasilitas kesehatan Tipe C yang mengintegrasikan air sebagai mediator penyembuhan multisensori untuk menyeimbangkan standar medis ketat sesuai Permenkes No. 24 Tahun 2016 dengan keamanan emosional pasien. Strategi perancangan diwujudkan melalui empat pilar sensori terintegrasi: (1) Visual Fluidity, menggunakan bentuk massa organik dengan palet warna biru (aquatic) dan earth tones untuk mereduksi beban kognitif, serta sistem double-skin facade selektif yang dirancang untuk menjaga privasi pada area privat namun tetap terbuka di area publik guna memaksimalkan koneksi visual ke danau; (2) Auditory Rhythm, memanfaatkan fitur air sebagai soundscape untuk memitigasi kebisingan urban dari Jl. Parahyangan Raya; (3) Haptic Ripple, menghadirkan elevated garden sebagai area tunggu organik bagi pendamping yang dilengkapi sistem gelang getar (vibrating wristbands) untuk meminimalisir gangguan suara (noise) dari sistem paging, serta taman mikro-terapeutik khusus pasien rawat inap untuk memfasilitasi pemulihan; dan (4) Environmental Flow, di mana organisasi ruang secara aktif merespons perbedaan kontur tapak guna menciptakan Sense of Extent yang menyatu dengan lanskap luar, sekaligus mengintegrasikan Rainwater Harvesting Columns menuju Eco-Retention Pond sebagai sistem utilitas berkelanjutan. Desain ini berkontribusi pada pencapaian SDG 3 dalam menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan ibu-anak, serta SDG 10 dalam mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan berkualitas.
ARSITEKTUR EMOSIONAL PADA FASILITAS KEDUKAAN INKLUSIF DI KOTA TANGERANG SELATAN: MENERJEMAHKAN KONSEP MONO NO AWARE KE DALAM RUANG
Diversitas demografi Kota Tangerang Selatan belum diimbangi dengan ketersediaan fasilitas kedukaan integratif yang mampu mengakomodasi keberagaman praktik persemayaman, sekaligus mendukung kebutuhan emosional individu yang berduka. Oleh karena itu, proyek ini merancang sebuah fasilitas kedukaan inklusif terintegrasi di Kota Tangerang Selatan dengan pendekatan arsitektur emosional sebagai upaya menjawab kebutuhan ruang kedukaan yang bersifat universal, kontemplatif, dan adaptif. Konsep mono no aware diterapkan sebagai landasan utama perancangan untuk menerjemahkan kesadaran akan kefanaan ke dalam pengalaman ruang, sehingga tiap tahapan perjalanan mampu membangkitkan proses emosional dari kesedihan, kontemplasi, hingga penerimaan. Pendekatan arsitektur naratif turut digunakan untuk menyusun rangkaian ruang yang merepresentasikan perjalanan batin manusia dalam menghadapi kehilangan, sedangkan prinsip inklusivitas diwujudkan lewat penyediaan program ruang yang mampu mengakomodasi praktik kedukaan beragam agama, kepercayaan, dan etnis. Kriteria perancangan meliputi aspek temporalitas, ritme spasial, kehalusan kontemplatif, respons indrawi-emosional, dialog dengan alam, dan inklusivitas, yang dikaji melalui metode studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, serta eksplorasi desain konseptual. Hasil perancangan berupa fasilitas kedukaan terpadu yang tidak hanya menjawab keterbatasan penyediaan fasilitas kedukaan di Kota Tangerang Selatan, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang mendukung proses berduka melalui pengalaman arsitektural yang membantu manusia dalam memahami, mengolah, dan menerima kehilangan sebagai bagian dari siklus kehidupan mortal.
PERANCANGAN KAMPUNG SUSUN BALADEWA: PEMBENTUKAN KARAKTER SOSIAL ANAK MELALUI PENDEKATAN DESAIN PARTISIPATIF
Eksistensi kampung kota merupakan salah satu karakteristik kota-kota besar di Indonesia. Kampung kota identik dengan karakter sosial yang begitu melekat dengan masyarakatnya. Struktur sosial yang kuat dan intensitas interaksi masyarakat yang tinggi mampu menciptakan ikatan dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap kampung huniannya. Hal ini juga banyak tercermin melalui interaksi anak-anak di dalamnya yang menghidupkan suasana kampung. Namun, seiring laju urbanisasi, densitas penduduk kampung kota meningkat, memicu tumbuhnya permukiman informal yang abai terhadap ruang sosial. Kontradiksi antara ruang sosial dan tekanan urbanisasi tersebut pun juga terjadi di Kampung Baladewa yang berlokasi di RW 08, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Kawasan tersebut merupakan zona perumahan berkepadatan tinggi dengan demografi yang beragam, ditinggali oleh kelompok lanjut usia, kelompok usia produktif dengan mayoritas mata pencaharian sebagai buruh, pedagang, dan jasa konveksi, serta kelompok anak-anak dengan jumlah yang cukup tinggi. Terdapat banyak potensi terjadinya interaksi intergenerasi dari setiap kelompok tersebut. Namun, keterbatasan ruang sosial menghambat perwujudannya. Anak-anak pun hidup dalam keterbatasan akses ruang bermain dan berinteraksi, tempat mereka berkembang secara sosial dan emosional. Hal ini semakin mendorong masyarakat kampung kota kehilangan karakternya. Oleh karena itu, perancangan Kampung Susun Baladewa menjadi salah satu upaya strategis untuk meningkatkan kualitas hunian, baik dari aspek fisik maupun aspek sosial yang dilakukan dengan pendekatan arsitektur partisipatoris. Pendekatan ini melibatkan masyarakat melalui workshop arsitektur partisipatoris sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Workshop ini utamanya ditujukan untuk anak-anak dalam merancang ruang publik untuk berinteraksi dan ruang bermain yang diharapkan mampu meningkatkan kehidupan sosial kampungnya. Anak-anak dipilih sebagai partisipan utama karena merupakan salah satu kelompok yang paling membutuhkan ruang inklusif serta masa perkembangannya banyak terpengaruhi atas kehadiran ruang sosial di kampungnya sehingga desain ramah anak menjadi salah satu pertimbangan utama. Hasil perancangan berupa transformasi kampung kota menjadi hunian vertikal dengan konsep tumbuh-kembang yang diwujudkan melalui desain learning space tematik, yakni kreativitas, alam, sosial, hingga motorik. Selain itu, konsep ini juga tercermin dari ruang ekonomi komunitas dan unit hunian yang adaptif. Perancangan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatoris pada anak dapat ditranslasikan dalam desain hunian vertikal yang menyediakan ruang sosial inklusif sebagai upaya penjagaan karakter sosial kampung kota, terutama anak-anak sebagai masyarakat masa depan.
SENSE+ (SPATIAL ENVIRONMENT FOR NEURO-SENSORY EXPERIENCE) : TRANSFORMING BANDUNG’S URBAN STRESS INTO CREATIVE ENERGY
Kota Bandung memiliki dua sisi yang berkontradiksi. Di satu sisi, Bandung memiliki potensi sebagai kota kreatif ditunjukkan dengan adanya 120 komunitas kreatif, tergabungnya Bandung pada UCCN, dan 56% aktivitas ekonomi Bandung berkaitan dengan kreatif. Namun, di sisi lain, Bandung mengalami peningkatan isu stres perkotaan, ditunjukkan oleh kenaikan jumlah anak dengan gangguan kesehatan mental sebesar 38,14% pada tahun 2022, sekitar 60% mahasiswa mengalami stres, kecemasan, atau depresi pada tingkat tertentu, serta 48,6% mahasiswa baru mengalami gejala gangguan mental emosional dengan 21,2% di antaranya merasa tidak bahagia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bandung membutuhkan sebuah ruang yang dapat mentransformasi kondisi stres menjadi kreativitas. Isu perancangan utama yang diangkat adalah bagaimana arsitektur dapat mengubah eustress dan distress menjadi energi kreatif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, analisis tapak, analisis pengguna dan aktivitas, serta sintesis teori menjadi strategi perancangan arsitektur. SENSE+ mengusulkan perancangan creative hub yang dipadukan dengan contemplative center sebagai tipologi arsitektur yang mentransformasikan stres menjadi energi kreatif melalui pendekatan neuroarchitecture dan programmatic disjunction. Pendekatan perancangan diturunkan lebih lanjut menjadi konsep transprogramming, biophilic design & healing environment, dan Attention Restoration Theory (ART) untuk membentuk sekuens ruang being away, fascination, extent, dan compatibility yang mendukung transformasi kondisi psikologis pengguna dari keadaan stres menuju kondisi yang lebih tenang, fokus, dan kreatif. Hasil perancangan berupa kompleks creative hub dan contemplative center yang dirancang untuk mengubah gelombang otak beta (15–20 Hz), yang berkaitan dengan kondisi stres, menuju gelombang alfa (8–12 Hz), yang berkaitan dengan kondisi relaks dan kreativitas. Perubahan kondisi tersebut dicapai melalui strategi perancangan yang memanfaatkan elemen biofilik, konfigurasi ruang, geometri, pencahayaan alami, material, lanskap, dan pengalaman multisensori sesuai dengan pendekatan perancangan yang dipilih. Luaran tugas akhir ini diharapkan mampu mentransformasi stres perkotaan di Kota Bandung menjadi energi kreatif yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup serta perekonomian kota.