📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKAPAN INDUSTRI PERTAMBANGAN INDONESIA PERLU BERALIH DARI DIESEL KE HIDROGEN HIJAU? BUKTI PENDEKATAN REAL OPTIONS TERHADAP DEKARBONISASI SISTEM ANGKUTAN TAMBANG DALAM KERANGKA ROADMAP HIDROGEN DAN AMONIA NASIONAL (RHAN)
Armada angkutan tambang berbasis diesel diidentifikasi sebagai salah satu sumber dominan emisi Scope 1 pada operasi pertambangan di Indonesia. Empat perusahaan nikel besar yang tercatat di bursa mencatat 15,3 juta ton CO?-ekuivalen dihasilkan dari operasi tambang pada tahun 2023, diproyeksikan meningkat menjadi 38,5–39 juta ton CO?-ekuivalen seiring dengan rencana ekspansi yang sedang berjalan. Nilai tersebut setara dengan sekitar 4,5–5% dari total inventaris emisi sektor energi nasional Indonesia tahun 2023. Hidrogen hijau (gH?), yang diproduksi melalui proses elektrolisis menggunakan energi terbarukan, menawarkan jalur dekarbonisasi yang secara struktural mampu menghilangkan emisi Scope 1 sekaligus mengurangi paparan terhadap volatilitas harga bahan bakar fosil. Penelitian ini mengevaluasi kelayakan ekonomi dan waktu investasi strategis untuk adopsi hidrogen hijau pada operasi angkut tambang di Indonesia dengan menggunakan pendekatan Discounted Cash Flow (DCF), analisis batas kelayakan (viability frontier), dan Real Options Valuation (ROV). Tiga jalur produksi dianalisis, yaitu sistem off-grid dengan penyimpanan baterai, sistem yang terhubung ke jaringan listrik (grid-connected) dengan dukungan Renewable Energy Certificates (REC), serta skenario Future 2030 yang memasukkan proyeksi penurunan biaya teknologi. Hasil analisis DCF menunjukkan bahwa produksi hidrogen off-grid secara struktural belum layak pada kondisi saat ini, dengan ?NPV dasar sebesar –USD 6.679.270. Bahkan pada skenario intervensi kebijakan paling agresif yang mengombinasikan kenaikan harga diesel menjadi USD 1,40/L, penurunan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) menjadi USD 7/kg, dan penerapan pajak karbon sebesar USD 40/tCO?, nilai ?NPV yang dihasilkan hanya mencapai USD 113.398, yang masih belum cukup untuk memicu keputusan investasi yang tidak dapat dibatalkan (irreversible investment) berdasarkan kondisi ambang batas ROV. Sebaliknya, skenario Grid+REC menghasilkan ?NPV positif sebesar USD 1.172.237, yang menegaskan bahwa akses terhadap infrastruktur jaringan listrik merupakan faktor pendorong utama dalam jangka pendek. Namun, kelayakan ekonomi skenario ini tereliminasi ketika tarif listrik PLN meningkat lebih dari 15%. Skenario Future 2030 menghasilkan ?NPV yang positif secara signifikan pada seluruh skenario LCOH yang dimodelkan tanpa memerlukan intervensi kebijakan, menunjukkan bahwa penurunan biaya teknologi mampu menghilangkan kesenjangan kebijakan karbon (carbon policy gap) secara penuh pada tahun 2030. Analisis ROV menggunakan model binomial 10-langkah mengonfirmasi tiga jalur strategis utama, yaitu membatalkan investasi (abandon) untuk skenario off-grid, melakukan investasi segera (invest immediately) untuk skenario Grid+REC, dan menunda investasi hingga tahun 2030 (defer to 2030). Selain itu, hasil ROV menunjukkan bahwa keputusan investasi pada skenario Grid+REC berubah dari Invest menjadi Defer ketika volatilitas (?) melebihi 30%, suatu ambang batas yang didorong oleh ketidakpastian teknologi, bukan harga listrik yang telah diasumsikan deterministik. Temuan ini menghasilkan titik balik (flip point) Return-to-Risk sebesar 3,33 yang tetap konsisten pada seluruh skenario eskalasi harga listrik. Untuk investasi teknologi hijau dengan margin ekonomi yang tipis, nilai ambang volatilitas (?) tersebut merepresentasikan tingkat kesiapan teknologi (technology-readiness threshold) sekaligus ambang batas finansial, sehingga perlu dilaporkan bersama Expanded Net Present Value (ENPV) sebagai metrik utama dalam pengambilan keputusan. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap literatur ROV, khususnya dalam konteks jalur transisi yang hanya memiliki kelayakan ekonomi marginal. Dengan mengintegrasikan ketidakpastian kebijakan, fleksibilitas waktu investasi, dan analisis jalur transisi ke dalam satu kerangka valuasi yang terpadu, penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan dan perusahaan pertambangan terkait perancangan pajak karbon, prioritas pembangunan infrastruktur jaringan listrik, serta penentuan waktu investasi strategis guna mendukung implementasi Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) serta tujuan transisi energi jangka panjang Indonesia.
PERANCANGAN HOSPICE ANAK DAN RUANG MEMORIAL DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK
Kematian merupakan satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan. Meskipun demikian, kehadiran kematian justru penuh ketidakpastian. Kematian juga tidak mengenal usia maupun urutan hidup. Ada kalanya kematian merenggut mereka yang masih belia, menimbulkan kedukaan mendalam bagi orang tua yang ditinggalkan. Tidak jarang, anak mengalami penyakit terminal, yaitu kondisi yang tidak lagi dapat disembuhkan dan berpotensi mengancam kehidupan. Di Indonesia, anak dengan penyakit terminal masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan perawatan paliatif yang komprehensif, sehingga kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual mereka beserta keluarganya belum sepenuhnya terpenuhi. Kematian hampir selalu meninggalkan kedukaan, sebagai jejak terakhir dari yang pergi kepada mereka yang ditinggalkan. Kematian anak sebelum orang tua bukan lagi menjadi suatu fenomena yang asing. Kehilangan anak, apapun penyebabnya, selalu menjadi salah satu bentuk kedukaan paling berat bagi orang tua. Kedukaan adalah reaksi emosional terhadap suatu kehilangan yang signifikan. Pengalaman yang dialami bersifat sangat unik dan berbeda-beda bagi setiap individu. Manifestasi dari duka juga sangat beragam, dapat berupa reaksi emosional, kognitif, fisik, dan spiritual. Sedangkan penanganan rasa duka dapat bersifat konstruktif, namun juga destruktif. Sehingga pada proses ini, faktor pemulihan eksternal sangatlah dibutuhkan. Menurut ahli, proses kedukaan yang efektif dan sehat berjalan tidak secara linear, justru seringkali melibatkan osilasi, antara coping terhadap pengalaman kehilangan dengan coping yang bersifat pemulihan. Merespon isu tersebut, perancangan Children Hospice and Memorial Space ini diharapkan menjadi tempat yang dapat merayakan kehidupan bagi anak yang mengalami penyakit terminal serta mewadahi penghormatan terakhir bagi individu yang telah meninggal, tetapi juga sebagai ruang aman untuk bertumbuh bagi orang tua, keluarga, dan orang-orang yang ditinggalkan. Perancangan hospice anak, fasilitas kedukaan, dan pemulihan ini menjadi upaya untuk mewujudkan proses berduka yang sehat, yaitu Growing with Grief, dengan hidup berdampingan bersama duka alih-alih menaklukkannya. Perancangan project ini menggunakan pendekatan arsitektur terapeutik dengan fokus pada merayakan kehidupan anak serta bagaimana proses kedukaan dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk bertumbuh, baik secara emosional maupun kualitas hidup. Hal ini menjadi bahasan yang sejalan dengan SDGs, khususnya Design for Inclusivity, sebab perancangan ditujukan pada kelompok termarjinalkan dalam lingkungan binaan. Dalam perancangan ini, digunakan metode studi literatur untuk mempelajari topik bahasan, observasi dan wawancara untuk lebih mengenal dan mendalami topik bahasan dalam dunia nyata, serta studi preseden dan benchmarking untuk melengkapi kebutuhan perancangan secara arsitektural. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk dapat lebih mengerti apa itu kedukaan dan peran arsitektur dalam proses penanganannya, khususnya pada relasi orangtua dan anak.
MENUA BERSAMA, BERKARYA BERSAMA: PERANCANGAN PUSAT PELAYANAN LANSIA DAN ANAK DENGAN FOKUS PADA RUANG KOMUNAL ANTARGENERASI
Lansia dan anak-anak usia dini di lingkungan urban padat sering kali menghadapi tantangan psikologis serta keterbatasan fasilitas interaksi. Bagi lansia, rasa kesepian menjadi persoalan utama akibat ketiadaan peran sosial. Kondisi ini mendesak di Kecamatan Kiaracondong, kawasan permukiman terpadat di Kota Bandung dengan populasi 17.210 anak (0-9 tahun) dan 14.802 lansia. Tingginya angka keluarga dengan pendapatan ganda menciptakan urgensi akan fasilitas sekolah dan penitipan anak dekat rumah yang aman. Namun, kebutuhan demografis masif ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lembaga formal, sehingga memicu ketimpangan akses. Ketiadaan layanan seimbang diperparah oleh pemisahan tipologi secara kaku antara hunian lansia dan sekolah anak dalam sistem birokrasi, sehingga menciptakan isolasi sosial dan kesenjangan spasial yang bertentangan dengan Sustainable Development Goals (SDG) ke-10 mengenai penanganan ketidaksetaraan. Menjawab permasalahan tersebut, “Menua Bersama, Berkarya Bersama” hadir sebagai proyek perancangan Pusat Pelayanan Lansia dan Anak yang menyatukan tipologi hunian lansia dan sekolah anak melalui fokus pada ruang komunal antargenerasi. Makna “Menua Bersama” diartikan sebagai perputaran siklus kehidupan: lansia menjalani masa senja yang aktif dengan membagikan nilai kehidupan, sementara anak-anak bertumbuh dengan mendapatkan limpahan perhatian. Konsep “Berkarya Bersama” diwujudkan melalui arsitektur yang menjembatani kedua generasi untuk berbaur, bertukar pengetahuan, serta berkreasi bersama di dalam wadah sosial yang inklusif. Rancangan ini menerapkan lima strategi desain utama: Communal Area as a Meeting Point, Homey Housing Design, Therapeutic Productive & Recreative Landscape, Natural Surveillance, dan Intuitive Circulation as a Secure Base. Berlokasi di Jalan Papanggungan, Kiaracondong, Bandung, fasilitas ini menyatukan area sekolah dan hunian lansia melalui konfigurasi massa jamak berundak yang memusat. Pendekatan arsitektural ini secara proaktif memecah kesan kaku bangunan institusional melalui penyediaan ruang terbuka hijau di setiap lantai, serta memanfaatkan jembatan intergenerasional sebagai jalur sirkulasi intuitif yang aman sekaligus memperluas jangkauan pengawasan visual alami. Program ruang mengalokasikan 47,85% area untuk Pusat Komunitas Antargenerasi (ruang seni, ruang musik, perpustakaan, dan urban farm), yang diintegrasikan bersama hunian lansia berdesain universal di area tenang, serta sekolah anak yang adaptif. Tujuan utama dari perancangan ini adalah memecah pembatasan tipologi kaku di Indonesia dan menghadirkan jembatan spasial yang aman bagi lansia dan anak-anak untuk hidup berdampingan. Melalui pendekatan arsitektur antargenerasi, proyek ini diharapkan mampu menjadi sebuah "rumah" seutuhnya yang secara proaktif menyehatkan secara psikologis, memulihkan kebugaran fisik, meningkatkan kedekatan emosional, serta mengembalikan fungsi sosial yang bermakna di tengah dinamika kawasan urban Kota Bandung.
REVITALISASI KAWASAN PASAR ASTANA ANYAR: MODEL MIXED-USE SEBAGAI PENGUNGKIT AKTIVITAS SOSIAL-EKONOMI DAN RESTORASI LINGKUNGAN SUNGAI
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di Kota Bandung memicu keterbatasan lahan, yang berdampak pada munculnya permukiman informal atau kawasan kumuh, salah satunya di bantaran Sungai Citepus dekat Pasar Astana Anyar. Fenomena ini menimbulkan berbagai masalah multidimensi, mulai dari degradasi lingkungan fisik seperti pencemaran dan penyempitan sungai yang memicu banjir, hingga kerentanan sosial dan ekonomi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Selain itu, kawasan Pasar Astana Anyar juga mengalami penurunan fungsi akibat ketidakteraturan pedagang kaki lima (PKL) dan hilangnya ruang terbuka hijau. Upaya relokasi pemerintah sering kali gagal karena memutus akses warga terhadap sumber penghidupan utama mereka di pusat kota. Untuk merespons permasalahan tersebut, perancangan ini menggunakan pendekatan behaviour mapping dan behaviour setting guna memahami pola aktivitas komunal dan pergerakan keseharian warga permukiman informal. Pendekatan ini dipadukan dengan desain partisipatif yang menempatkan pengguna sebagai subjek aktif, sehingga rancangan ruang dapat menjembatani transisi perilaku warga dari hunian tapak ke hunian vertikal tanpa menghilangkan akar kebiasaan sosial mereka. Proses perancangan ini berlandaskan pada tiga nilai utama kawasan, yaitu inklusif, berdaya, dan pulih. Solusi yang ditawarkan adalah sebuah model bangunan mixed-use yang mengintegrasikan fungsi hunian vertikal (Rusunawa) bagi MBR dan area komersial berupa revitalisasi Pasar Astana Anyar. Dengan mengusung konsep "One Stop Everyday Living", kawasan ini dirancang agar masyarakat dapat tinggal, bekerja, berkumpul, dan bergerak secara efisien di satu lokasi yang sama. Penggabungan ini memungkinkan warga yang direlokasi tetap memiliki akses langsung terhadap mata pencaharian mereka di pasar, sekaligus menata ulang sistem perdagangan lokal yang sebelumnya tidak teratur menjadi kawasan yang inklusif. Selain aspek sosial-ekonomi, proyek ini juga berfokus pada restorasi lingkungan melalui penerapan infrastruktur hijau pada sempadan Sungai Citepus. Lahan hasil relokasi dialihfungsikan menjadi area resapan air, wetlan, taman, dan kolam detensi untuk memitigasi risiko banjir dan memulihkan fungsi ekologi sungai. Secara keseluruhan, revitalisasi terpadu ini diharapkan mampu menghadirkan hunian yang layak, mengembalikan daya saing ekonomi pasar rakyat, serta menciptakan ruang publik perkotaan yang sehat dan berkelanjutan.
“SAGU SALEMPENG DUA” PUSAT PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DI KOTA AMBON: PENDEKATAN TRAUMA-INFORMED DESIGN DAN GENDER-SENSITIVE DESIGN
Kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu sosial yang kompleks dan perlu ditangani segera, baik secara global maupun nasional. Salah satu daerah dengan prevalensi kasus kekerasan tertinggi adalah kawasan Indonesia bagian Timur, termasuk Kota Ambon. Hal ini perlu ditangani segera karena dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti trauma psikologis, menghambat partisipasi sosial-ekonomi, dan meningkatkan ketidaksetaraan gender. Dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), isu ini terkait langsung dengan SDGs 5 (Kesetaraan Gender), SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDGs 10 (Mengurangi Kesenjangan). Permasalahan utama terletak pada tingginya angka kekerasan yang tidak didukung dengan sarana perlindungan memadai, diperparah budaya patriarki dan stigma sosial yang menghalangi korban untuk mencari bantuan. Usulan topik ini berfokus pada perancangan pusat pemberdayaan yang berfungsi sebagai ruang aman untuk berlindung sekaligus ruang pemulihan holistik dan pemberdayaan berkelanjutan untuk perempuan dan anak korban kekerasan di Kota Ambon. Tipologi bangunan yang dipilih berupa hibrida antara shelter dan community center dengan tambahan fungsi healing space. Desain bertujuan mewadahi perjalanan pemulihan yang mencakup perlindungan fisik, konseling psikologis, advokasi hukum, hingga program pemberdayaan sosial-ekonomi. Pendekatan TraumaInformed Design diterapkan untuk menghindari potensi retraumatisasi dan membangun rasa aman. Dipadukan dengan Gender-Sensitive Design untuk memastikan kebutuhan spesifik perempuan dan anak terakomodasi. Metodologi yang digunakan mencakup pendekatan partisipatif dan metode kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan FGD dengan pemangku kepentingan, analisis data lokal (LAPPAN Maluku dan Komnas Perempuan), studi literatur, serta observasi lapangan. Harapannya usulan ini dapat mewujudkan pusat pemberdayaan sebagai safe ecosystem yang mendukung pemulihan trauma, pemberdayaan sosial-ekonomi, serta integrasi kembali korban ke dalam masyarakat. Luaran yang diharapkan berupa rancangan arsitektur sensitif trauma dan responsif gender, sekaligus kontribusi teoretis berupa pengembangan model penerapan Trauma-Informed Design dalam tipologi pusat pemberdayaan di Indonesia.
PERANCANGAN MICRO-STADIUM TEMPORER UNTUK MENANGGAPI FENOMENA BANGUNAN TERBENGKALAI PASCA EVENT
Penyelenggaraan event berskala besar telah menjadi salah satu strategi pembangunan yang banyak diterapkan oleh berbagai kota untuk meningkatkan citra daerah, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur baru. Dalam konteks tersebut, fasilitas olahraga, ruang pertunjukan, maupun bangunan pendukung lainnya umumnya dirancang sebagai bangunan permanen yang mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan selama event berlangsung. Namun, pendekatan tersebut sering kali mengabaikan perbedaan mendasar antara karakter event yang bersifat sementara dengan umur layanan bangunan yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang. Akibatnya, setelah event selesai, berbagai fasilitas mengalami penurunan intensitas penggunaan karena fungsi, kapasitas, maupun konfigurasi ruang yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya biaya operasional dan pemeliharaan yang harus ditanggung meskipun tingkat pemanfaatan bangunan terus menurun. Dalam jangka panjang, bangunan-bangunan tersebut berpotensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, maupun fungsional hingga akhirnya menjadi aset terbengkalai yang membebani pengelolaan kota. Fenomena ini bukan merupakan kasus yang bersifat insidental, melainkan pola yang terus berulang pada berbagai penyelenggaraan event olahraga maupun kegiatan berskala besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang berorientasi pada permanensi belum mampu menjawab kebutuhan ruang yang pada dasarnya bersifat temporal. Dengan kata lain, persoalan utama tidak hanya terletak pada pengelolaan bangunan setelah event berakhir, tetapi juga pada paradigma perancangan yang belum mempertimbangkan dimensi waktu sebagai bagian integral dari proses desain. Berangkat dari kondisi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan micro-stadium temporer sebagai alternatif pendekatan arsitektur yang menempatkan hubungan antara durasi penyelenggaraan kegiatan dan siklus hidup bangunan sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Melalui penerapan konsep time-based architecture dan prinsip design for disassembly, bangunan dirancang agar dapat dibangun, digunakan, dibongkar, dipindahkan, maupun dirakit kembali sesuai kebutuhan penyelenggaraan event tanpa meninggalkan infrastruktur permanen yang berpotensi kehilangan fungsi di masa mendatang. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan ruang, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan, mengurangi potensi limbah konstruksi, serta meminimalkan risiko terbentuknya bangunan pasca-event yang tidak lagi produktif. Dengan demikian, proyek ini menawarkan paradigma alternatif dalam perancangan fasilitas event, yaitu pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada permanensi menuju arsitektur yang lebih fleksibel, berkelanjutan, dan mampu merespons hubungan antara waktu, penggunaan ruang, serta keberlanjutan infrastruktur secara lebih kontekstual.
KAJIAN METODE KORELASI NILAI RATA-RATA YANG DIBERI BOBOT (WEIGHTED CHANNEL MEAN VALUE) PADA PROSES PENCOCOKAN CITRA (IMAGE MATCHING) FOTO UDARA
Dalam proses pemetaan secara fotogrametris, salah satu masalah utama yang harus diatasi adalah masalah restitusi dua foto udara yang saling pertampalan sedemikian rupa sehingga diperoleh model 3D (tiga dimensi) yang baik untuk ekstraksi data spasial yang terkait dengan unsur-unsur yang akan dipetakan. Model 3D dapat dibentuk bila dapat ditentukan titik-titik sekawan pada model yang bersangkutan. Pada sistem fotogrametri dijital, hubungan titik-titik sekawan antara satu foto dengan foto lainnya dapat dicari salah satunya dengan cara mengukur nilai korelasi citra (image correlation) sebagai indikator kecocokan citra foto udara digital yang bertampalan. Pengukuran korelasi citra tersebut dapat diperoleh melalui proses pencocokan citra (image matching). Prinsipnya dasarnya adalah mencocokkan objek pada citra kiri dengan objek yang sama pada citra kanan yang bertampalan (overlap). Citra foto udara yang digunakan adalah citra berwarna berdasarkan pertimbangan bahwa warna merupakan informasi penting dalam identifikasi objek. Dalam Tugas Akhir ini dicoba melibatkan unsur bobot masing-masing kanal merah, hijau dan biru dalam menentukan nilai korelasi citra sebagai upaya memperhitungkan dominasi warna pada citra dan sensitivitas sensor masing-masing kanal. Teknik tersebut dinamakan metode korelasi nilai rata-rata kanal yang diberi bobot (weighted channel mean value). Berdasarkan data-data hasil percobaan yang dihimpun, persentase keberhasilan Pencocokan Citra Metode Korelasi Nilai Rata-rata Kanal yang Diberi Bobot dihitung.
PERANCANGAN HUNIAN LANSIA BERBASIS KEHIDUPAN BERMAKNA DENGAN PENGUATAN INTERAKSI ANTARGENERASI DI CISAUK
Indonesia sedang memasuki era aging society, ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia setiap tahunnya. Perubahan demografis ini menghadirkan tantangan dalam penyediaan lingkungan hunian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik lansia, tetapi juga mampu mendukung kesejahteraan psikologis dan sosial mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup pada usia lanjut dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi kesehatan, tetapi juga oleh rasa memiliki tujuan hidup (ikigai), hubungan sosial yang bermakna, serta keterhubungan dengan lingkungan sekitar. Di sisi lain, masih berkembang stigma yang memandang lansia sebagai kelompok yang bergantung, sementara berbagai kebijakan mulai mendorong lansia untuk tetap aktif dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya lingkungan hunian yang memungkinkan lansia tetap mandiri, terhubung, dan memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Tugas akhir ini mengusulkan perancangan hunian lansia berbasis kehidupan bermakna dengan penguatan interaksi antargenerasi di Cisauk. Tipologi yang dipilih adalah community-oriented senior living village bagi lansia ekonomi menengah yang mengintegrasikan area hunian, fasilitas kesehatan dan wellness, ruang komunal, fungsi komersial, serta ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan perancangan menggunakan konsep meaningful aging yang diterjemahkan melalui empat bentuk keterhubungan, yaitu keterhubungan dengan orang lain, alam, diri sendiri, dan aktivitas sehari-hari. Interaksi antargenerasi menjadi strategi utama untuk memperkuat hubungan sosial melalui aktivitas keseharian yang berlangsung secara alami antara lansia dan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, analisis tapak, dan studi preseden untuk merumuskan konsep, program ruang, serta strategi perancangan. Hasil perancangan berupa kawasan hunian yang tersusun dalam cluster-cluster residensial dengan courtyard bersama, didukung jaringan ruang publik yang mudah diakses, fasilitas kesehatan dan wellness, fungsi komersial, serta sistem lanskap yang mendorong aktivitas fisik, interaksi sosial, dan hubungan dengan alam. Organisasi ruang dirancang untuk menyeimbangkan privasi penghuni dengan keterbukaan terhadap komunitas sekitar melalui lingkungan yang ramah pejalan kaki dan mudah dinavigasi. Perancangan ini bertujuan menghasilkan prototipe hunian lansia berbasis komunitas yang mendukung kemandirian, rasa memiliki, serta kehidupan yang bermakna di usia lanjut. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan hunian lansia di Indonesia sekaligus menunjukkan peran arsitektur dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat yang menua.
GRADIEN PEMBELAJARAN ORGANIK: PERANCANGAN SEKOLAH ASRAMA DI DAGO PAKAR DENGAN PENDEKATAN NEURO-ARSITEKTUR
The Organic Learning Gradient merupakan proyek perancangan sekolah menengah yang berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan tidak hanya dibentuk melalui kurikulum dan aktivitas belajar formal, tetapi juga melalui kualitas ruang yang mampu memengaruhi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional siswa. Pada fase remaja, siswa berada dalam masa penting pembentukan cara berpikir, kemampuan berinteraksi, serta pencarian identitas diri. Oleh karena itu, lingkungan sekolah perlu dirancang sebagai ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mampu menstimulasi rasa ingin tahu, interaksi sosial, ketenangan, dan kedekatan dengan alam. Proyek ini menggunakan pendekatan Neuroarchitecture sebagai dasar perancangan, dengan menekankan hubungan antara kualitas spasial dan respons manusia terhadap ruang. Konsep utama yang diangkat adalah The Organic Learning Gradient, yaitu gagasan tentang pengalaman belajar yang mengalir secara bertahap mengikuti dinamika tapak, aktivitas, dan kebutuhan psikologis siswa. Tapak berkontur dengan vegetasi eksisting dimanfaatkan sebagai potensi utama untuk membentuk tatanan massa yang berlapis, terhubung, dan menyatu dengan lanskap. Perbedaan elevasi tidak diperlakukan sebagai hambatan, melainkan sebagai medium pembentuk pengalaman ruang yang beragam. Strategi desain diwujudkan melalui beberapa gagasan utama, antara lain pembentukan social hubs sebagai ruang interaksi informal, penerapan soft fascination melalui kedekatan visual dan sensorik terhadap alam, serta penciptaan koridor, taman, dan ruang komunal yang saling terkoneksi. Massa bangunan dirancang menyebar mengikuti kontur, membentuk hubungan antara zona akademik, administratif, residensial, dan ruang terbuka. Elemen material seperti kayu, struktur terbuka, serta integrasi vegetasi digunakan untuk membangun suasana belajar yang hangat, alami, dan tidak menekan. Melalui rancangan ini, sekolah diposisikan bukan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai ekosistem pembelajaran yang mendukung pertumbuhan siswa secara utuh. The Organic Learning Gradient berupaya menghadirkan arsitektur pendidikan yang lebih manusiawi, adaptif terhadap alam, dan selaras dengan perkembangan kognitif serta emosional remaja.
DESAIN UNTUK PENGEMBANGAN KOMUNITAS DI KOMUNITAS PENDIDIKAN DAN MULTIKULTURAL MELALUI PUSAT KAMPUS DI ITB CIREBON
Dalam sebuah tatanan masyarakat yang makin beragam dengan latar belakang yang multikultural, tantangan dalam berbaur dan berkembang sebagai masyarakat kolektif menjadi rumusan isu yang terjustifikasi. Isu ini merambat kepada seluruh aspek masyarakat terkhusus penyelenggaraan pendidikan tinggi di seluruh daerah Indonesia. Pendidikan yang dapat berkembang dalam dinamika masyarakat yang multikultural membutuhkan suatu bentuk perancangan spasial yang berkeadilan untuk mendorong pelaksanaan pendidikan sebagai katalis perkembangan tatanan masyarakat yang inklusif. Inklusivitas dan pewadahan perkembangan baik itu dalam konteks pendidikan maupun pelestarian kultural menjadi suatu permasalahan pada daerah-daerah padat penduduk, terlebih lagi area urban dan suburban, dengan kasus daerah Jawa Barat seperti Kota Bandung dan sekitarnya. Mendalami permasalahan inklusivitas dan keadilan dalam lingkungan akademik, bangunan student center dalam suatu kampus menjadi kasus studi yang optimal dalam memahami dinamika sosial dan interaksi yang terjadi antar sivitas akademika dalam situasi sosial yang beragam. Sebuah student center, dalam berbagai kasus, menjadi simpul kegiatan yang secara langsung menjadi katalis produktivitas sosial. Menanggapi topik dan isu yang dideskripsikan, metodologi perancangan arsitektur yang berkaitan dengan konteks budaya, inklusivitas komunitas, dan inkubasi ide, seperti pendekatan integrasi pengembangan akademik, konteks sosial-multikultural, dan inklusivitas desain digunakan sebagai bentuk pendekatan utama desain campus center ini. Secara umum, konsep pendekatan yang akan diambil berada dalam payung konsep desain inklusif dan partisipatif. Dalam memahami isu dan menjabarkan proses perancangan, studi literatur, observasi lapangan, analisis komparatif, user journey mapping, analisis persona pengguna, analisis kode budaya pengguna, analisis framework, iterasi dan reiterasi visual desain akan menjadi metode-metode utama dalam riset yang akan dilakukan. Perancangan student center ini bertujuan untuk merekayasa interaksi-interaksi sosial yang saling bertautan dalam membangun komunitas multikultural yang mengedepankan kemajuan riset dan pengetahuan melalui desain spasial inklusif yang menjadi wadah-wadah simpul kegiatan komunal.
DESIGNING THE STAGE, CULTIVATING CREATIVE COMMUNITIES: PERFORMING ARTS CENTER AS AN URBAN CATALYST FOR CULTURAL AND COMMUNITY REGENERATION IN JAKARTA
Seni pertunjukan memiliki peran yang penting dalam membentuk identitas budaya dan menghidupkan komunitas kreatif di kota. Meningkatnya kehadiran pertunjukan seni tari, musik, dan teater di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa komunitas seni pertunjukan sedang berkembang pesat. Menurut Badan Ekonomi Kreatif (2018), subsektor seni pertunjukan tumbuh sekitar 9,54% per tahun. Namun, di Jakarta, perkembangan komunitas seni pertunjukan belum didukung sepenuhnya oleh infrastruktur arsitektural yang mampu memfasilitasi proses kreatif sekaligus keberlanjutan ekonomi komunitasnya. Proyek ini adalah performing arts center sebagai katalis urban yang dapat mengintegrasikan proses berkarya, ruang apresiasi, dan sistem ekonomi kreatif dalam satu kesatuan arsitektural. Pendekatan desain menekankan pada fleksibilitas ruang, keterbukaan sebagai ruang publik, dan mekanisme ekonomi kreatif agar bangunan tetap dapat aktif di luar agenda pertunjukan. Dengan adanya performing arts center ini, keberadaan fasilitas ini tidak hanya menyediakan ruang bagi ekspresi seni, tetapi juga untuk membuka peluang bagi berkembangnya sektor ekonomi kreatif dan menghadirkan infrastruktur kota yang berkelanjutan. Melalui integrasi aspek art, people, dan economy, proyek ini diharapkan mampu mendorong regenerasi budaya dan memperkuat ekosistem komunitas seni pertunjukan di Jakarta.
PENGARUH KEKENTALAN LARUTAN VISCOSE DAN TEMPERATUR LARUTAN 2NDBATH TERHADAP SIFAT MEKANIS KEKUATAN TARIK (TENACITY) DAN KEMAMPUAN MULUR (ELONGATION) SERAT RAYON
Serat rayon viscose merupakan serat hasil regenerasi selulosa yang kualitas sifat mekanisnya, terutama kekuatan tarik (tenacity) dan kemampuan mulur (elongation) sangat dipengaruhi oleh parameter proses seperti kekentalan larutan viscose dan temperatur larutan 2ndbath. Pada operasi pabrik ditemukan adanya fluktuasi kualitas serat yang ditandai dengan ketidakstabilan nilai tenacity dan elongation dari produk yang dihasilkan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa parameter operasi yang digunakan belum berada pada kondisi optimum atau belum terkontrol secara konsisten. Fluktuasi kualitas tersebut dapat menyebabkan penurunan performa produk dan menurunkan efisiensi proses produksi secara keseluruhan, hal ini mengindikasikan perlunya identifikasi kondisi operasi optimum yang mampu menghasilkan kualitas serat rayon viscose yang lebih stabil dan memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh variasi kekentalan larutan viscose dan temperatur larutan 2ndbath terhadap sifat mekanis serat rayon, khususnya nilai tenacity dan elongation, serta menganalisis hubungan antara kedua parameter proses tersebut terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan rentang kondisi operasi yang optimum dalam memberikan kompromi terbaik antara tenacity, elongation, dan kestabilan proses produksi sehingga dapat mendukung peningkatan konsistensi mutu serat rayon viscose. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan analisis data historis untuk mengevaluasi pengaruh parameter proses terhadap kualitas serat rayon viscose. Data yang digunakan merupakan data operasional pabrik selama periode satu tahun yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran rutin pada proses produksi. Variasi kekentalan larutan viscose diuji pada rentang BF 35–69 detik, sedangkan temperatur larutan 2ndbath divariasikan pada interval 48–68 °C untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik serat yang dihasilkan. Data sifat mekanis berupa tenacity dan elongation dikumpulkan secara periodik selama satu tahun, kemudian dianalisis menggunakan metode ANOVA dan analisis deskriptif guna mengetahui tingkat pengaruh masing-masing parameter serta kecenderungan hubungan antara kondisi operasi dengan kualitas serat rayon viscose. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua faktor proses, yaitu kekentalan larutan viscose dan temperatur larutan 2ndbath, memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat mekanis serat rayon viscose, baik terhadap nilai tenacity maupun elongation. Analisis data menunjukkan adanya hubungan trade-off antara kedua parameter kualitas tersebut, peningkatan tenacity umumnya diikuti oleh penurunan elongation, begitu pula sebaliknya. Nilai tenacity cenderung mencapai kondisi maksimum pada rentang kekentalan larutan viscose menengah-rendah, yaitu BF 40–44 detik, sedangkan nilai elongation meningkat pada rentang BF menengah-tinggi, yaitu BF 60–64 detik. Untuk parameter temperatur larutan 2ndbath, nilai tenacity mengalami peningkatan hingga mencapai kondisi optimum pada rentang temperatur 56–60 °C, kemudian mengalami penurunan pada temperatur yang lebih tinggi. Sebaliknya, nilai elongation menunjukkan kecenderungan terus meningkat pada temperatur tinggi, terutama pada rentang 64–68 °C. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan temperatur 2ndbath berpengaruh terhadap proses regenerasi dan orientasi struktur molekul serat yang terbentuk. Dengan mempertimbangkan keseimbangan antara nilai tenacity, elongation, serta kestabilan proses yang ditunjukkan melalui nilai coefficient of variation (CV), diperoleh rentang operasi yang direkomendasikan yaitu kekentalan larutan viscose BF 50–54 detik dan temperatur larutan 2ndbath 60–64 °C. Kondisi tersebut dinilai mampu memberikan kompromi terbaik dalam menghasilkan serat rayon dengan sifat mekanis yang lebih konsisten, stabil, dan sesuai spesifikasi kualitas produk. Pengendalian kedua parameter secara terintegrasi sangat diperlukan untuk mendukung optimasi kualitas dan kestabilan proses produksi rayon viscose.
PERANCANGAN CIRCULAR MAKERSPACE LIBRARY BERBASIS KONSTRUKTIVISME:STUDI KASUS DI BANDUNG MELALUI KASUS ADAPTIVE REUSE
Bandung dikenal luas akan ekonomi kreatifnya, akan tetapi masih terdapat kesenjangan antara keterampilan yang dikuasai anak muda dengan kebutuhan dari industri kreatif itu. Pada saat yang sama, digitalisasi telah menyebabkan penurunan kunjungan pada perpustakaan tradisional, sekaligus dengan masalah sampah kota, terutama sampah plastik dan serat yang masih sangat kurang dimanfaatkan. Projek final yang berjudul “Circular Makerspace Library” ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang saling terhubung ini melalui penggabungan fungsi antara lingkungan pembelajaran modern dengan fasilitas fabrikasi. Desain ini memperlengkapi penggunanya dengan keterampilan industri yang dibutuhkan, menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang ketiga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana material daur ulang dapat diintegrasikan kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan konsep adaptive reuse pada hangar heritage existing, serta konsep arsitektur modular dan ekspresionisme struktural, Bangunan tersebut sendiri menjadi suatu pengalaman belajar. Tata ruang yang mengutamakan visibilitas dan zonasi spasial melalui warna untuk memfasilitasi pembelajaran secara pasif. Konsep ini memungkinkan pengunjung untuk dapat terlibat dalam proses kerajinan melalui observasi dan praktik langsung berdasarkan konsep konstruktivisme. Secara keseluruhan, projek ini memberikan solusi arsitektural berkelanjutan yang menjembatani kesenjangan keterampilan lokal, mengembalikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran yang dinamis, sekaligus mengurangi sampah perkotaan.
FA-BRICK: RUANG INKLUSIF, ADAPTIF, DAN PRODUKTIF BAGI UMKM FASHION LOKAL BANDUNG DALAM MENGHADAPI DISPARITAS PERSAINGAN INDUSTRI,DI JALAN BANDA
Kota Bandung mulai mendapatkan julukan sebagai “Paris Van Java” berkat kemunculan Factory Outlet (FO) dan Distribution Store (Distro) di akhir tahun 1990-an. Seiring berjalannya waktu, Distro menunjukkan kemampuan yang lebih baik untuk bertahan, bahkan terus bertumbuh berkat produk-produk eksklusif yang lahir dari kreativitas dan identitas. Jumlah UMKM fashion lokal di Bandung pun terus mengalami peningkatan hingga industri ini tumbuh besar. Namun, permasalahan mulai muncul ketika permintaan akan kebutuhan ruang kerja dan usaha ikut meningkat tanpa disertai dengan adanya wadah, baik berupa tempat maupun komunitas. Akibatnya, persaingan yang cenderung tidak sehat mulai tumbuh dalam industri fashion lokal Bandung hingga menimbulkan disparitas dari berbagai aspek (modal, eksposur, koneksi). Sebagai upaya untuk menjawab permasalahan tersebut, dibutuhkan sebuah pusat inkubasi fashion yang bisa menyatukan para pelaku UMKM fashion lokal Bandung. Fa-Brick hadir sebagai ruang aglomerasi berbasis ekosistem koperasi dengan tujuan untuk menghadirkan persaingan yang lebih inklusif, produktif, dan sehat. Nilai adaptive, catalyze, dan clarity diambil sebagai landasan perancangan. Nilai adaptive diwujudkan dengan konsep arsitektur industrial - temporer, dimulai dari penggunaan struktur baja dan raw material yang memudahkan proses konstruksi. Hal ini memungkinkan bangunan untuk terus beradaptasi dengan perubahan tren yang cepat, terlebih dalam dunia fashion. Selanjutnya, nilai catalyze diwujudkan dengan konsep social-condenser dan sociopetal, di mana pengorganisasian ruang serta fungsinya akan berperan penting dalam menciptakan arus pengunjung yang maksimal. Area rooftop garden tribune dan multi-purpose hall menjadi hasil nyata, dengan ragam aktivitas yang bisa dilaksanakan dalam waktu maupun tempat yang sama. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas penjualan, yang selanjutnya juga akan meningkatkan aktivitas RnD dan produksi dari para UMKM fashion lokal. Terakhir, nilai clarity diwujudkan dengan artikulasi sirkulasi dalam bangunan yang jelas untuk membawa arus aktivitas secara sistematis dan inklusif bagi semua pihak. Atrium utama di tengah bangunan menjadi pemegang peran penting yang menghasilkan konektivitas yang baik hingga mampu mewujudkan inklusivitas bagi seluruh pengguna. Fa-Brick diharapkan dapat menjadi wadah yang terbuka dan ramah bagi seluruh UMKM fashion yang terlibat sehingga arah pengembangan industri ini bisa lebih jelas serta nyata.
PENGARUH ATAS LITERASI KEUANGAN, KESADARAN AKAN HUKUM, KUALITAS PELAYANAN PERBANKAN DAN AKSES ATAS PINJAMAN PADA KEPUASAN NASABAH UMKM: SUATU KOMPARISI ANTARA BANK SWASTA DAN BANK MILIK NEGARA DI INDONESIA
Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM yang secara kolektif berkontribusi lebih dari 60% terhadap PDB nasional, namun banyak di antaranya masih kesulitan mengakses layanan perbankan formal dengan syarat yang memadai. Penelitian ini menguji empat variabel sebagai prediktor kepuasan nasabah UMKM di Jakarta: literasi keuangan, kesadaran hukum, kualitas layanan perbankan, dan aksesibilitas kredit. Selanjutnya, penelitian ini juga membandingkan apakah pengaruh keempat variabel tersebut berbeda antara bank swasta dan bank milik negara. Data dikumpulkan dari 220 debitur UMKM, yang terbagi atas 110 nasabah bank swasta dan 110 nasabah bank milik negara, menggunakan kuesioner terstruktur, dan dianalisis melalui regresi linear sederhana dan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) dengan IBM SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat faktor berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepuasan pada kedua kelompok bank, dengan bobot yang berbeda menurut jenis bank: aksesibilitas kredit merupakan pendorong terkuat pada bank milik negara (Beta = 0,995), sedangkan kualitas layanan merupakan pendorong terkuat pada bank swasta (Beta = 0,892). Kesadaran hukum merupakan pendorong positif yang signifikan pada kedua kelompok (bank milik negara Beta = 0,868; bank swasta Beta = 0,596). Literasi keuangan juga menunjukkan pengaruh positif yang signifikan, terkuat pada nasabah bank milik negara (Beta = 0,977). Temuan ini mendukung gagasan bahwa kepuasan nasabah pada bank umum milik negara (BUMN) terutama didasarkan pada ketersediaan kredit; dan, pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan yang ditunjukkan oleh studi-studi lain, dipengaruhi oleh kualitas layanan, yakni suatu hubungan yang teramati yang juga dapat didukung secara teoretis berdasarkan aspek kepercayaan terhadap institusi sebagaimana ditemukan dalam penelitian terdahulu yang membandingkan sistem perbankan publik dengan swasta. Kepercayaan institusional tidak diukur secara terpisah dalam penelitian ini, sehingga interpretasi yang disajikan di sini bersifat murni analitis, bukan empiris. Temuan ini mengarah pada tindakan konkret: kedua jenis bank perlu menyederhanakan proses kredit, bank milik negara harus memperbaiki cara mengomunikasikan syarat dan ketentuan pinjaman, serta keduanya perlu berinvestasi dalam pengembangan literasi keuangan dan hukum bagi nasabah UMKM.