📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS DAN PREDIKSI GEOMETRI PENGELASAN WAAM DENGAN MIG BERDASARKAN SINYAL ELEKTRIKAL DAN SUARA
Adopsi Wire Arc Additive Manufacturing (WAAM) untuk komponen logam kompleks masih terkendala oleh akumulasi panas dan ketidakstabilan geometri antar lapisan. Penelitian ini mengembangkan sistem monitoring berbasis fusi sinyal elektrik dan suara dengan frekuensi sampling tinggi (96 kHz) untuk memperoleh resolusi temporal yang memadai dalam menangkap dinamika proses. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan lapisan memicu kenaikan tegangan rata-rata serta penurunan arus dan intensitas suara, yang mengindikasikan degradasi energi akibat peningkatan jarak Contact Tip to Work Distance (CTWD). Stabilitas proses turut menurun, ditandai oleh meningkatnya ketidakteraturan transfer logam dan melemahnya energi suara. Secara geometris, peningkatan tegangan operasional dan jumlah lapisan menyebabkan deviasi ketinggian hingga 3,11 mm dan kenaikan waviness hingga empat kali lipat akibat penyebaran logam cair dan akumulasi panas. Meskipun demikian, energi tinggi menghasilkan respons distorsi substrat yang lebih besar (hingga 0,33 mm), namun bersifat lebih konsisten dan dapat diprediksi. Model Random Forest teroptimasi (????????=1,????????=11) menunjukkan performa unggul (????2=0,969, MAE = 0,31 mm). Analisis SHAP menunjukkan bahwa model memanfaatkan informasi zona awal sebagai kondisi awal proses dan zona tengah sebagai koreksi berbasis dinamika sinyal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem prediksi berbasis data untuk mendukung pengendalian kualitas secara real-time, sehingga meningkatkan keandalan proses WAAM dalam manufaktur aditif logam.
TRANSFORMASI RUANG KAMPUNG KOTA CILENGGANG DI TENGAH EKSPANSI PENGEMBANGAN KOTA BARU TANGERANG SELATAN
Ekspansi pengembangan kota baru di kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek menghasilkan fenomena kampung kota terjepit, permukiman organik yang terkepung perumahan formal. RT 010 dan RT 012 Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, termasuk kategori kampung terjepit berat dalam radius pengembangan BSD City. Penelitian ini menganalisis transformasi ruang secara temporal, karakter morfologi, serta faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keberlanjutan kampung. Penelitian menggunakan pendekatan campuran deskriptif-eksplanatif dengan klasifikasi citra Landsat berbasis SVM pada tujuh titik waktu (1995–2025), analisis Urban Index (UI), Building Coverage Ratio (BCR), Street Pattern Analysis, kajian literatur dan wawancara, serta Sustainable Livelihood Approach (SLA) melalui kuesioner kepada 30 responden. Kawasan Terbangun Terencana berkembang dari 0 ha menjadi 125,08 ha sementara RTH/Pertanian menyusut dari 143,76 ha menjadi 97,91 ha dalam empat periodisasi: Pra-Ekspansi, Awal Ekspansi (1995–2005), Akselerasi dan Pengepungan (2005–2015), dan Konsolidasi Terjepit (2015–2025). UI tidak membedakan kampung dan kawasan formal pada skala makro, namun BCR kampung (45,14%) lebih tinggi dari kawasan formal (38,01%), mencerminkan densifikasi internal. RT 010 dan RT 012 menunjukkan pola cul-desac bukan sebagai produk desain, melainkan akibat penutupan akses historis oleh perumahan formal yang mengepungnya. Tidak ada instrumen RDTR yang melindungi permukiman organik eksisting. Analisis SLA menunjukkan Modal Sosial (+0,35) dan Modal Fisik (+1,13) meningkat, sementara Modal Alam (?1,00) dan Modal Manusia (?0,44) menurun. Seluruh responden berencana tetap tinggal, mengkonfirmasi ikatan sosial dan kesadaran historis sebagai faktor dominan kebertahanan kampung. Kebaruan penelitian terletak pada pendekatan tiga lapis integratif yaitu time-series tutupan lahan, morfologi multiskala, dan SLA. Kebertahanan Kampung Cilenggang bersifat kondisional dan bertumpu pada modal sosial, bukan perlindungan regulatif, mengimplikasikan perlunya instrumen perlindungan permukiman organik dalam regulasi tata ruang.
PENGARUH PRAPERLAKUAN ASAM KLORIDA DAN RASIO PELARUT HEKSANA TERHADAP PEROLEHAN LIPID SPIRULINA SP. MELALUI EKSTRAKSI SOXHLET
Mikroalga Spirulina sp. memiliki potensi besar sebagai sumber lipid untuk berbagai aplikasi industri energi. Namun, efisiensi ekstraksinya sering kali terhambat oleh struktur dinding sel yang kuat sehingga memerlukan metode disrupsi sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh praperlakuan asam klorida (HCl) dan variasi rasio biomassa terhadap volume pelarut n-heksana dalam ekstraksi Soxhlet terhadap perolehan lipid Spirulina sp., serta mengidentifikasi profil lipid yang dihasilkan. Proses praperlakuan dilakukan menggunakan larutan HCl 4 M pada suhu 78 °C selama 2 jam. Ekstraksi lipid dilakukan menggunakan metode Soxhlet dengan pelarut n-heksana pada suhu 75 °C selama 6 jam, dengan variasi rasio sebesar 1:80, 1:140, dan 1:200 g/mL. Analisis profil asam lemak dilakukan menggunakan Gas Chromatography-Flame Ionization Detector (GC-FID). Analisis statistik menggunakan One-Way ANOVA menunjukkan bahwa praperlakuan dan variasi rasio pelarut memberikan pengaruh yang signifikan (p < 0,05) terhadap perolehan lipid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praperlakuan HCl mampu meningkatkan perolehan lipid dari 6,85 ± 0,466% (b/b) (tanpa praperlakuan) menjadi 10,50 ± 0,809% (b/b). Peningkatan rasio pelarut juga memberikan pengaruh nyata terhadap efisiensi ekstraksi, dengan perolehan lipid tertinggi mencapai 14,91 ± 2,19% (b/b) pada rasio 1:200 g/mL. Hasil analisis GC-FID menunjukkan bahwa profil lipid ekstrak didominasi oleh asam lemak jenuh (29,6% b/b) dibandingkan asam lemak tak jenuh (17,58% b/b), dengan komponen penyusun utama berupa asam palmitat (14,18% b/b) dan asam undekanoat (13,26% b/b). Berdasarkan hasil tersebut, praperlakuan asam klorida dan rasio pelarut yang lebih tinggi terbukti efektif dalam meningkatkan ekstraksi lipid dari biomassa Spirulina sp.
PENGARUH APLIKASI KOMBINASI MEDIA TANAM INSECT FRASS DAN KOMPOS TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA, DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEAE)
Tingginya permintaan terhadap microgreens yang terus meningkat karena nilai gizinya yang tinggi dan siklus panennya yang singkat, sehingga cocok untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat, membuka peluang besar dalam sektor pertanian modern. Namun, di sisi lain, praktik budidaya konvensional yang tidak ramah lingkungan dan berkurangnya ketersediaan lahan menyebabkan penurunan kualitas lahan dan berkurangnya ruang untuk budidaya. Insect frass menawarkan solusi komprehensif yang mengintegrasikan aspek kesuburan tanah, efisiensi sumber daya, dan perlindungan tanaman dalam satu sistem pertanian berkelanjutan. Microgreens dipilih sebagai pangan rendah kalori dan bergizi tinggi, seperti vitamin C, E, K, dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan sayuran dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi media tanam terhadap perkecambahan, pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas nutrisi microgreens kale (Brassica oleraceae). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbedaan komposisi media tanam. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 27 dengan uji ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf signifikansi 5%. Terdapat 20 sampel penelitian dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, meliputi P1 (100% tanah) sebagai kontrol negatif, P2 (tanah + NPK) sebagai kontrol positif, P3 (1,2% insect frass + tanah), dan P4 (30% kompos + 68,8% tanah + 1,2% insect frass). Parameter yang diamati mencakup persentase perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar, berat basah dan kering tajuk, berat basah dan kering akar, kadar air, shoot-root ratio, nutrisi media tanam, serta kandungan vitamin C dan kadar klorofil microgreens kale. Kondisi lingkungan yaitu suhu ruangan, kelembaban ruangan, serta faktor edafik (pH, suhu, dan kelembaban) pada setiap perlakuan media tanam diukur selama masa penelitian. Kondisi lingkungan selama penelitian berada pada rentang optimal dengan suhu ruang sebesar 25.56 ± 0.22°C dan suhu pada media tanam 25.35 ± 0.10°C. Kelembaban ruang tercatat rata-rata 62.85 ± 0.49%, sedangkan kelembaban edafik pada media tanam 61.92 ± 0.29%. Nilai pH edafik media tanam menunjukkan rata-rata 6.97 ± 0.01, yang masih berada dalam rentang optimal untuk pertumbuhan microgreens. Growth performance terbaik diperoleh dari perlakuan P4 (30% kompos + 68,8% tanah + 1,2% insect frass), yang menunjukkan peningkatan parameter pertumbuhan dan kandungan nutrisi secara signifikan dibandingkan perlakuan lainnya, dengan rata-rata persentase potensi berkecambah 90 ± 1.90%, daya berkecambah 82.67 ± 1.25%, kecepatan berkecambah 88 ± 2.44%, keserempakan berkecambah 88 ± 2.44%, rata-rata tinggi microgreens 6.61 ± 0.24 cm, panjang akar 4.90 ± 0.07 cm, berat basah tajuk 3.28 ± 0.16 g, berat kering tajuk 0.28 ± 0.01 g, berat basah total 4.85 ± 0.16 g, berat kering total 0.32 ± 0.01 g, shoot-root ratio 7.40 ± 0.94, nutrisi media tanam yang meliputi C organik 5,89% (sangat tinggi), N total 0,57% (tinggi), P tersedia 438,13 mg/kg (sangat tinggi), serta kandungan vitamin C pada microgreens 11.27 ± 0.14 (mg/100 g), kadar klorofil microgreens dengan spektrofotometer 25.68,8 ± 0.54 (mg/L), dan kadar klorofil metode SPAD 28.67 ± 0.18 unit SPAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap persentase potensi berkecambah, daya berkecambah, tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tajuk, berat basah dan berat kering total, shoot-root ratio, serta kandungan vitamin C dan kadar klorofil microgreens. Perlakuan P4 (30% kompos + 68,8% tanah + 1,2% insect frass) memberikan hasil paling signifikan di antara seluruh perlakuan. Namun, media tanam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap indeks kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, dan panjang akar microgreens. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa aplikasi insect frass dengan kombinasi kompos dapat meningkatkan parameter pertumbuhan dan kandungan nutrisi microgreens kale (Brassica oleraceae) secara signifikan.
PRODUKSI SENYAWA FENOLIK DAN FLAVONOID DARI COFFEE SILVERSKIN HASIL FERMENTASI PLEUROTUS OSTREATUS MENGGUNAKAN METODE NATURAL DEEP EUTECTIC SOLVENT-ULTRASOUND-MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION (UMAE)
Coffee silverskin (CS) mengandung senyawa bioaktif bernilai tinggi berupa fenolik dan flavonoid, tetapi pemanfaatannya terhambat oleh struktur matriks lignoselulosa penyusun dinding sel yang kaku. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perlakuan fermentasi Pleurotus ostreatus, variasi durasi kavitasi ultrasonik pada sistem hibrida Ultrasound-Microwave Assisted Extraction (UMAE), dan rasio sampel terhadap pelarut terhadap Total Phenolic Content (TPC), Total Flavonoid Content (TFC), serta aktivitas antioksidan ekstrak CS. Pra-perlakuan dilakukan melalui fermentasi terendam menggunakan jamur Pleurotus ostreatus untuk mendegradasi komponen matriks lignoselulosa. Proses ekstraksi kemudian dilakukan secara sekuensial menggunakan instrumen UMAE (tahap ultrasonik dilanjutkan dengan gelombang mikro konstan selama 1 menit) dengan pelarut hijau Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) berbasis asam laktat, glisin, dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara biomassa terfermentasi selama 9 hari dan cairan kaldu hasil pemisahan yang mengandung metabolit jamur serta senyawa terlarut secara nyata meningkatkan TPC hingga mencapai 25,348 mg GAE/g CS serta meningkatkan aktivitas antioksidan menjadi 598,396 µmol TE/g CS. Sebaliknya, proses biologis memicu penurunan nilai TFC menjadi 2,060 mg QE/g CS akibat terjadinya polimerisasi oksidatif oleh enzim lakase. Pada evaluasi sistem UMAE, variasi waktu fase ultrasonik (30–90 menit) terbukti tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter pengujian. Hal ini membuktikan bahwa sinergi kavitasi dan pemanasan volumetrik UMAE mampu mempercepat kesetimbangan transfer massa, sehingga penetapan durasi 30 menit ultrasonik yang dipadukan dengan 1 menit gelombang mikro direkomendasikan sebagai titik operasi yang paling efisien energi. Sementara itu, peningkatan rasio pelarut hingga mencapai 1:50 g/mL terbukti mampu meningkatkan perolehan TFC (2,917 mg QE/g CS) dan aktivitas antioksidan (612,878 µmol TE/g CS) secara signifikan, tanpa memberikan perbedaan yang nyata pada nilai TPC secara keseluruhan. Analisis statistik mengonfirmasi tidak ada pengaruh interaksi dua arah maupun tiga arah yang signifikan antar perlakuan yang membuktikan bahwa setiap parameter beroperasi secara independen. Secara keseluruhan, pra-perlakuan fermentasi secara efektif melonggarkan struktur matriks dan memaksimalkan kinerja ekstraksi hibrida UMAE, sehingga rekomendasi kondisi operasi dapat diaplikasikan secara independen menyesuaikan target senyawa yang spesifik.
GANGGUAN DALAM KODE KOREKSI KESALAHAN KUANTUM
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari sebuah gangguan noise terhadap keadaan dari sebuah informasi kuantum. Secara kuantum, sebuah informasi sangat rentan terjadinya kerusakan akibat gangguan yang berasal dari sekitar ataupun berasal dari perangkat yang digunakan. Wadah pembawa dari informasi kuantum berupa partikel mikroskopis, seperti foton atau elektron, maka informasi tersebut mengikuti aturan kuantum yang salah satunya adalah superposisi. Secara klasik, sebuah informasi hanya berupa bilangan diskrit 0 dan 1, sedangkan informasi kuantum berupa kombinasi antara 0 dan 1. Maka dari itu, metode yang digunakan untuk mengatasi gangguan pada informasi kuantum adalah Quantum Error Correction (QEC). Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis sebuah sirkuit QEC dengan menyisipkan sebuah gangguan bit flip, phase flip, depolarizing, dan amplitude damping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan berupa bit flip, phase flip, dan depolarizing merupakan jenis gangguan yang dapat dikontrol dan dipahami dengan baik karena perilakunya mengikuti operator kuantum, yaitu operator Pauli. Sedangkan, gangguan berupa amplitude damping merupakan jenis gangguan yang sulit dikontrol dan karenanya gangguan ini yang mengakibatkan keadaan dari informasi kuantum semakin rusak. Metode penelitian ini dilakukan dengan melakukan perhitungan analitik dari keadaan kuantum dalam sirkuit QEC sampai ke tahap pengukuran. Setelah dilakukan pengukuran, maka diperoleh hasil berupa sindrom 00, 01, 10, dan 11 dengan probabilitas tertentu
PENGARUH RASIO KATALIS CAO BERBASIS CANGKANG TELUR TERHADAP PEROLEHAN DAN KARAKTERISTIK BIODIESEL PADA TRANSESTERIFIKASI MINYAK SAWIT (PALM COOKING OIL)
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif terbarukan yang umumnya diproduksi melalui reaksi transesterifikasi minyak nabati menggunakan katalis basa homogen seperti KOH. Sebagai alternatif, kalsium oksida (CaO) dikembangkan sebagai katalis heterogen karena ketersediaannya melimpah, dapat diregenerasi, dan memiliki kebasaan tinggi. Namun, penggunaannya masih menghadapi tantangan dalam hal optimasi proses dan stabilitas katalis. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh rasio katalis CaO terhadap perolehan dan karakteristik biodiesel dari minyak sawit serta komposisi metil ester tak jenuh. Katalis disintesis dari cangkang telur dan dimodifikasi melalui kalsium gliserolat. Reaksi dilakukan pada rasio metanol:minyak 12:1, suhu 60 °C selama 2 jam, dengan 5 variasi rasio katalis 1, 3, 5, 7, dan 9 (%b/b minyak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio katalis menyebabkan konsistensi penurunan perolehan biodiesel dari 91,10% pada rasio CaO 1% menjadi 81,30% pada rasio CaO 9%. Sementara itu, sifat fisik biodiesel mengalami perbaikan, di mana viskositas menurun dari 9,01 cSt pada rasio CaO 1% menjadi 4,69 cSt pada rasio CaO 5% dan stabil pada rasio lebih tinggi, serta densitas berada pada rentang 0,862-0,873 g/mL. Selain itu, nilai HHV biodiesel seluruh variasi berada pada kisaran 41,8-42,9 MJ/kg. Dari profil metil ester tak jenuh, jumlah metil ester oleat (MeO) dan metil ester linoleat (MeL) terbukti meningkat seiring peningkatan rasio katalis dan meningkat terhadap waktu reaksi hingga 120 menit. Secara keseluruhan, rasio katalis 5% memberikan kondisi optimum dengan keseimbangan antara kualitas biodiesel dan kinerja proses.
PENINGKATAN STRATEGI GO-TO-MARKET (GTM) KEAMANAN SIBER: STUDI KASUS SQURA CYBERSEC PADA PT APLIKANUSA LINTASARTA
Sektor keamanan siber di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat seiring dengan transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor serta meningkatnya adopsi teknologi cloud oleh perusahaan. Meningkatnya jumlah ancaman siber juga mendorong perhatian yang lebih besar terhadap keamanan siber dan kepatuhan terhadap regulasi. Namun, tren yang mendorong pertumbuhan tersebut pada saat yang sama juga menciptakan hambatan struktural bagi perusahaan keamanan siber lokal dalam membangun diferensiasi yang berkelanjutan dan mengembangkan bisnis berbasis pendapatan berulang (recurring revenue). Dalam konteks ini, SQURA Cybersec sebagai Strategic Business Unit (SBU) keamanan siber milik PT Aplikanusa Lintasarta memiliki peluang strategis untuk mempercepat adopsi layanan Managed Security Service Provider (MSSP). Meskipun demikian, perusahaan perlu mengurangi ketergantungannya terhadap proyek keamanan siber yang bersifat transaksional dan hanya menghasilkan pendapatan satu kali. SQURA Cybersec telah memiliki kapabilitas operasional yang kuat, akses terhadap pelanggan enterprise melalui hubungan bisnis yang telah terjalin, infrastruktur Security Operations Center (SOC), serta dukungan kemitraan strategis dalam ekosistemnya. Namun demikian, terlepas dari berbagai keunggulan tersebut, SQURA masih menghadapi sejumlah tantangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi adopsi MSSP di SQURA Cybersec serta merumuskan rekomendasi strategis untuk meningkatkan strategi Go-To-Market (GTM) keamanan siber perusahaan. Secara lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara proposisi nilai MSSP yang ditawarkan SQURA dengan kriteria pembelian pelanggan enterprise, mengevaluasi kondisi struktural yang menghambat adopsi MSSP di pasar keamanan siber Indonesia, serta merumuskan alternatif strategi bisnis yang dapat mendukung transformasi SQURA dari perusahaan keamanan siber yang berorientasi pada transaksi menjadi penyedia layanan MSSP berbasis langganan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan internal dan eksternal yang terlibat secara langsung dalam ekosistem keamanan siber SQURA. Responden internal terdiri atas Chief Cybersecurity Officer (CCSO), perwakilan tim Go-To-Market (GTM) yang bertanggung jawab terhadap penjualan solusi keamanan siber SQURA, serta Account Manager yang mengelola hubungan pelanggan dan aktivitas penjualan. Sementara itu, responden eksternal terdiri atas pelanggan enterprise dan perwakilan principal dari industri teknologi keamanan siber. Data sekunder diperoleh melalui dokumen perusahaan, laporan industri keamanan siber, jurnal akademik, materi presentasi strategis, serta berbagai catatan operasional yang berkaitan dengan aktivitas GTM SQURA. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik Thematic Coding dan selanjutnya dievaluasi melalui penerapan berbagai kerangka manajemen strategis, yaitu Analisis PESTEL, Porter’s Five Forces, Analisis VRIO, Analisis SWOT, Matriks TOWS, Segmentation–Targeting–Positioning (STP), serta model bauran pemasaran 7P. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat strategi terintegrasi yang direkomendasikan bagi SQURA. Pertama, SQURA perlu membangun kemampuan untuk memberikan visibilitas menyeluruh kepada pelanggan terhadap seluruh aktivitas operasional layanan keamanan siber melalui pengembangan SQURA Orchestrated Platform. Platform ini berfungsi sebagai pusat visibilitas terpadu atas seluruh aktivitas operasional keamanan siber yang dikelola oleh SQURA. Kedua, SQURA perlu mentransformasikan model komersialnya dari pendekatan yang berorientasi pada transaksi menjadi pendekatan berbasis komitmen hasil (outcome-based commitments), yang berfokus pada empat nilai utama bagi pelanggan, yaitu Resilience, Compliance Readiness, Business Continuity, dan Cybersecurity Foresight. Ketiga, SQURA perlu mengembangkan kapabilitas keamanan siber lokal melalui pengembangan produk operasional keamanan siber yang dikontekstualisasikan dengan kebutuhan dan regulasi Indonesia guna mengurangi ketergantungan terhadap principal global sebagai penyedia teknologi. Keempat, SQURA perlu membangun integrated operating model yang memungkinkan adanya standardisasi proses tata kelola, koordinasi alur kerja antar fungsi, pengembangan proposal yang lebih terstruktur, serta konsistensi dalam penyampaian layanan di seluruh fungsi yang berinteraksi dengan pelanggan. Apabila keempat arah strategis tersebut dapat diimplementasikan secara efektif, SQURA diharapkan mampu bertransformasi dari penyedia layanan keamanan siber yang didominasi oleh model bisnis transaksional menjadi penyedia layanan berbasis langganan dengan keberlanjutan pendapatan yang lebih baik. Pada akhirnya, strategi yang direkomendasikan dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkuat posisi kompetitif SQURA di tengah pertumbuhan pasar keamanan siber Indonesia, meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap SQURA, memperluas skala operasional perusahaan, serta mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan di masa depan.
PENGARUH FERMENTASI MENGGUNAKAN SYMBIOTIC CULTURE OF BACTERIA AND YEAST TERHADAP KANDUNGAN DAN BIOAKTIVITAS KOMBUCHA BERBASIS CASCARA DARI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA)
Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar di dunia dengan dominasi kopi Robusta (Coffea canephora). Tingginya produksi ini menghasilkan limbah kulit buah kopi (cascara) dalam jumlah besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik kombucha dari cascara robusta melalui fermentasi kombucha menggunakan Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) sebagai minuman fungsional serta menentukan pengaruh variasi waktu fermentasi (0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 hari) terhadap profil kimia, kandungan senyawa bioaktif, dan bioaktivitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode fermentasi 6 hari, terjadi perubahan pada karakteristik fisikokimia dan bioaktivitas produk. Nilai pH mengalami penurunan dari 5,15 menjadi 3,77, sementara laju pertumbuhan massa SCOBY menunjukkan peningkatan sebesar 2,95 g/L per hari. Analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan nyata terhadap waktu fermentasi bagi seluruh senyawa bioaktif yang diuji (p < 0,05). Total kandungan fenolik mencapai nilai optimum sebesar 646,127 ?g GAE/mL pada hari ke-6, sementara total kandungan flavonoid berkisar antara 43,71-52,45 ?g QE/mL. Aktivitas antioksidan yang diukur melalui metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH) menunjukkan nilai IC50 berkisar antara 196,83-269,77 mL/L, sedangkan kapasitas pereduksi Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) berada pada rentang 7,17-13,94 mM FeSO4. Pada aspek bioaktivitas lainnya, aktivitas antiinflamasi melalui uji penghambatan denaturasi protein menunjukkan nilai IC50 berkisar antara 23000- 34000 ppm. Namun, kombucha cascara robusta tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
PERANCANGAN VERTIKAL MIXED-USE BUILDING SEBAGAI SOLUSI GENERASI Z PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN KEBERLANJUTAN
Perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia menunjukkan peningkatan kepadatan yang signifikan, sehingga mendorong kebutuhan akan hunian vertikal dan bangunan multifungsi (mixed-use building) sebagai solusi keterbatasan lahan. Generasi muda, khususnya Generasi Z, menjadi pengguna potensial yang membutuhkan hunian dengan karakter fleksibel, produktif, dan terintegrasi dengan gaya hidup modern perkotaan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana menciptakan lingkungan hunian yang tidak hanya efisien secara ruang, tetapi juga berkelanjutan, sehat, serta mampu mendorong interaksi sosial dan kesejahteraan penggunanya. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk merancang bangunan vertikal mixed-use yang inklusif dan berkelanjutan sebagai solusi terhadap kebutuhan generasi muda perkotaan. Pendekatan keberlanjutan digunakan sebagai dasar dalam merancang agar bangunan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kebutuhan pengguna, serta analisis tapak dan konteks lingkungan sekitar. Studi kasus yang dijadikan acuan adalah Dago Suites Bandung & HQuarters Bandung, sebagai contoh bangunan vertikal yang menggabungkan fungsi hunian, komersial, dan fasilitas umum di kawasan perkotaan padat. Melalui metode tersebut, diperoleh pemahaman terhadap pola aktivitas pengguna, sirkulasi, serta integrasi antar fungsi ruang yang mendukung kehidupan urban yang dinamis. Konsep desain yang diterapkan menekankan pada keterhubungan antar-zona melalui sirkulasi vertikal dan horizontal yang efisien serta ruang komunal yang mendorong interaksi sosial. Desain interior difokuskan pada efisiensi ruang, fleksibilitas fungsi, serta penciptaan suasana yang nyaman dan mendukung produktivitas generasi muda. Prinsip keberlanjutan diwujudkan melalui pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan pengolahan ruang hijau vertikal yang meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan Implementasi desain ini diharapkan dapat memberikan alternatif solusi bagi pengembangan hunian vertikal di kawasan perkotaan, yang tidak hanya fungsional dan estetis, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan kesejahteraan penggunanya, sejalan dengan tujuan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
PENGARUH APLIKASI KOMBINASI MEDIA TANAM INSECT FRASS DAN BIOCHAR TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA, DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEAE)
Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah degradasi kualitas tanah dan ketergantungan terhadap pupuk anorganik. Pemanfaatan sumber nutrisi alternatif berbasis limbah organik menjadi pendekatan yang relevan dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Insect frass dari Black Soldier Fly (Hermetia illucens) mengandung unsur hara makro, bahan organik, dan senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik, namun efektivitasnya dipengaruhi oleh stabilitas pelepasan nutrien dalam media tanam. Biochar sebagai bahan amelioran diketahui mampu meningkatkan kapasitas tukar kation, retensi air, dan stabilitas nutrisi sehingga berpotensi bersinergi dengan frass. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi Insect Frass dan biochar terhadap perkecambahan, pertumbuhan, konsumsi air, biomassa, dan kualitas nutrisi Microgreens kale (Brassica oleracea). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan media tanam, yaitu P1 (100% tanah/kontrol), P2 (tanah + NPK 300 kg/ha), P3 (tanah + Insect Frass 1,2%), dan P4 (tanah + Insect Frass 1,2% + biochar 30%), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi kondisi mikroklimat ruang budidaya, sifat edafik media, kandungan nutrisi media sebelum dan sesudah tanam, persentase perkecambahan, potensi berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, tinggi tanaman, panjang akar, konsumsi air, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah total, kadar air, shoot-root ratio, klorofil SPAD, klorofil total, dan vitamin C. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, ANOVA satu arah, dan uji lanjut Tukey HSD pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan dan kualitas tanaman. Perlakuan P4 memberikan hasil terbaik pada sebagian besar parameter, dengan persentase perkecambahan tertinggi sebesar 97,02%, tinggi tanaman tertinggi pada 14 HSS sebesar 11,37 cm, bobot basah tajuk tertinggi sebesar 5,84 g, dan bobot basah total tertinggi sebesar 6,20 g. Pada parameter nutrisi, P4 juga menghasilkan kandungan klorofil total tertinggi sebesar 22,00 mg/L dan vitamin C tertinggi sebesar 12,45 mg/100 g. Selain itu, perlakuan berbasis Insect Frass, terutama P3 dan P4, cenderung meningkatkan konsumsi air tanaman selama fase pertumbuhan. Sementara itu, potensi berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar, bobot kering tajuk, kadar air, shoot-root ratio, dan klorofil SPAD tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan. Secara keseluruhan, kombinasi Insect Frass dan biochar (P4) menunjukkan performa paling konsisten dalam meningkatkan perkecambahan, pertumbuhan vegetatif, akumulasi biomassa segar, dan kualitas nutrisi Microgreens kale. Formulasi media ini berpotensi menjadi alternatif media tanam berkelanjutan untuk produksi Microgreens bernilai gizi tinggi.
PERANCANGAN INTERIOR PUSAT TERAPI ANAK DANREMAJA AUTIS DI KOTA BANDUNG DENGANPENDEKATAN SENSORY DESIGN
Peningkatan jumlah individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) disertai keragaman karakteristik sensorik dan perilaku menuntut perancangan lingkungan terapi yang tidak hanya aman dan terkontrol, tetapi juga mendukung perkembangan kemandirian dan kesiapan adaptasi terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, banyak fasilitas terapi yang belum menerapkan pendekatan interior dengan pertimbangan pengalaman sensorik individu autis. Tugas Akhir ini mengusulkan perancangan interior pusat terapi autis usia anak dan remaja di Kota Bandung dengan pendekatan sensory design dengan skema desain ASPECTSS 2.0 dan desain neurotipikal. Tujuan perancangan adalah menciptakan lingkungan terapi yang responsif terhadap kebutuhan sensorik individu ASD sekaligus mendukung proses generalisasi kemampuan melalui pengalaman ruang yang menyerupai lingkungan umum secara bertahap dan terkontrol. Metode yang digunakan adalah problem-based design dengan tahapan studi literatur, studi preseden, analisis pengguna dan aktivitas, serta perumusan program ruang dan fasilitas berdasarkan usia, tingkat fungsi, dan sensitivitas sensorik pengguna. Konsep desain mengacu pada prinsip ASPECTSS 2.0 dan pendekatan neurotipikal yang diterapkan melalui pengendalian stimulus sensorik, pengaturan urutan dan zonasi ruang, penyediaan ruang transisi dan escape space, serta perancangan sirkulasi yang terprediksi. Implementasi desain diterapkan untuk mendukung regulasi sensorik, meningkatkan kemandirian, dan memfasilitasi kesiapan sosial individu autis.
PERANCANGAN INTERIOR PUSAT TERAPI ANAK DANREMAJA AUTIS DI KOTA BANDUNG DENGANPENDEKATAN SENSORY DESIGN
Peningkatan jumlah individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) disertai keragaman karakteristik sensorik dan perilaku menuntut perancangan lingkungan terapi yang tidak hanya aman dan terkontrol, tetapi juga mendukung perkembangan kemandirian dan kesiapan adaptasi terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, banyak fasilitas terapi yang belum menerapkan pendekatan interior dengan pertimbangan pengalaman sensorik individu autis. Tugas Akhir ini mengusulkan perancangan interior pusat terapi autis usia anak dan remaja di Kota Bandung dengan pendekatan sensory design dengan skema desain ASPECTSS 2.0 dan desain neurotipikal. Tujuan perancangan adalah menciptakan lingkungan terapi yang responsif terhadap kebutuhan sensorik individu ASD sekaligus mendukung proses generalisasi kemampuan melalui pengalaman ruang yang menyerupai lingkungan umum secara bertahap dan terkontrol. Metode yang digunakan adalah problem-based design dengan tahapan studi literatur, studi preseden, analisis pengguna dan aktivitas, serta perumusan program ruang dan fasilitas berdasarkan usia, tingkat fungsi, dan sensitivitas sensorik pengguna. Konsep desain mengacu pada prinsip ASPECTSS 2.0 dan pendekatan neurotipikal yang diterapkan melalui pengendalian stimulus sensorik, pengaturan urutan dan zonasi ruang, penyediaan ruang transisi dan escape space, serta perancangan sirkulasi yang terprediksi. Implementasi desain diterapkan untuk mendukung regulasi sensorik, meningkatkan kemandirian, dan memfasilitasi kesiapan sosial individu autis.
ANALISIS DISTRIBUSI KEPADATAN PENDUDUK MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DENGAN METODA LAND USE DENSITY
Kependudukan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk pertumbuhan pembangunan. Dalam suatu perencanaan wilayah/kota, aspek kependudukan sangat penting karena perencanaan tersebut memang berawal dan kembali kepada penduduk itu sendiri. Untuk mendukung hal tersebut perlu informasi yang jelas mengenai distribusi kepadatan penduduk baik tekstual maupun spasial. Saat ini penyajian data jumlah penduduk yang dimiliki oleh BPS (Badan Pusat Statistik) masih bersifat homogen. Data jumlah penduduk yang dihitung dan disajikan masih berdasarkan wilayah administrastif, sehingga distribusi kepadatan penduduk yang digambarkan belum bisa mewakili keadaan yang sebenarnya. Pemanfaatan citra satelit Quickbird bisa digunakan sebagai solusi untuk menggambarkan distribusi kepadatan penduduk. Citra Quickbird yang memiliki ketelitian yang cukup tinggi mampu untuk mengidentifikasi permukiman dengan baik yang digunakan sebagai indikator untuk menganalisis distribusi kepadatan penduduk. Dengan menggunakan prinsip land use density, maka pola permukiman yang diidentifikasi bisa digunakan untuk mengambarkan distribusi kepadatan penduduk. Peta distribusi kepadatan penduduk yang didapatkan tidak lagi merupakan peta yang sifatnya homogen dengan terbatas pada wilayah administrasinya saja tetapi sudah bisa mewakili kondisi sebenarnya.
ANALISIS KOMPARATIF SIMULASI TERAPI RADIASI FOTON, PROTON, DAN ION KARBON UNTUK PASIEN KANKER PAYUDARA PASCA-MASTEKTOMI DENGAN MATRAD
Dalam penanganan kanker payudara stadium lanjut pasca-mastektomi, radioterapi dengan berkas foton merupakan salah satu tindakan medis yang diambil untuk memastikan seluruh nodul sel kanker terutama di daerah bekas operasi telah mati. Perkembangan terbaru telah menunjukkan potensi penggunaan radiasi dengan berkas proton dan ion karbon yang memiliki karakteristik istimewa berupa puncak Bragg. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan perbandingan analitik antara tiga jenis berkas radiasi: foton, proton, dan ion karbon terhadap efektivitas radioterapi pada kasus kanker payudara kiri pasca-mastektomi. Menggunakan perangkat lunak matRad, dilakukan simulasi radioterapi dengan menggunakan ketiga jenis berkas radiasi tersebut. Data DICOM dari pasien kanker payudara kiri stadium lanjut pasca-mastektomi dipersiapkan melalui proses contouring dan konversi ke .mat sehingga dapat dijalankan dalam matRad. Dalam perencanaan radioterapi, dilakukan variasi pada jenis radiasi serta konfigurasi penyinaran dengan menggunakan skema single-beam dan four-beam. Hasil simulasi menunjukkan keunggulan metode radiasi berkas proton dengan konfigurasi single-beam yang ditandai dengan tingkat pemerataan dan kesesuaian dosis yang mendekati ideal, volume hot spot dan cold spot yang minimal, serta tingkat PTV underdosage dan OAR overdosage yang rendah.