📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

STUDI EVALUASI DESAIN BUKAAN DAN RUANG DALAM TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI DAN VISUAL WELL-BEING PENGHUNI UNIT APARTEMEN

Unit vertikal seperti apartemen semakin berkembang di lingkungan perkotaan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Akan tetapi, desain apartemen sebagai unit vertikal tentunya berbeda dengan desain unit tapak. Tata letak ruang dalam tidak sepenuhnya mendapatkan pencahayaan alami optimal yang merata akibat dari bukaan fasad tunggal. Apartemen sebagai lingkungan fisik menjadi faktor eksternal yang menciptakan lingkungan cahaya yang dapat memengaruhi well-being penghuni. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan menjadi stimulus persepsi visual dan respon biologis melaui jalur image forming (IF) dan non-image forming (NIF). Tidak optimalnya pencahayaan alami di dalam ruang dapat disebabkan oleh proporsi jendela yang kurang tepat atau orientasi ruang yang kurang optimal sehingga dapat memengaruhi well-being penghuni. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif terhadap 32 unit dan 37 responden pengukuran lapangan iluminansi horizontal (Eh), iluminansi vertikal (Ev), dan equivalent melanopic lux (EML), simulasi data pencahayaan tahunan (sDA dan ASE), serta survei kesejahteraan (SPANE-B) dan persepsi kenyamanan visual. Hasil menunjukkan bahwa kondisi pencahayaan alami di dalam ruang merupakan kombinasi simultan dari posisi terhadap obstruksi, desain selubung bangunan, orientasi dan layout ruang. EML berhubungan positif dengan keseimbangan SPANE-B, dengan 200 melanopic lux sebagai ambang minimum. Kontribusi penelitian ini adalah pada hubungan stimulus cahaya dengan kesejahteraan penghuni di dalam konteks hunian serta pada perumusan kombinasi parameter desain.

2026
👤 Penulis: Zakia Haura L F I
🏷️ Kehutanan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUASI PERFORMA PENGENDALIAN KEBISINGAN PADA GEDUNG APARTEMEN DI AREA TOD

Kebisingan transportasi dan aktivitas internal menjadi tantangan bagi kenyamanan akustik apartemen di kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas lingkungan suara serta merumuskan rekomendasi desain pengendalian kebisingan. Penelitian dilakukan pada lima unit apartemen melalui pengukuran LAeq outdoor–indoor selama 24 jam, analisis beda SPL dan Noise Criteria, pengelompokan berdasarkan elevasi, jarak, dan orientasi, serta survei persepsi penghuni. Hasil menunjukkan bahwa paparan kebisingan lebih ditentukan oleh keterbukaan jalur rambat, orientasi, dan perlindungan massa bangunan daripada elevasi dan jarak semata. Ruang berbatasan balkon cenderung memiliki NC lebih tinggi, sedangkan ruang tanpa bukaan langsung tetap terdampak airborne noise, impact noise, dan inter-floor noise. Temuan ini membuktikan bahwa kualitas akustik merupakan kinerja sistem bangunan secara menyeluruh. Karena itu, optimasi perlu mengintegrasikan penataan massa, rakitan fasad kedap, pemutusan rambatan struktural, perlindungan kamar tidur, serta regulasi operasional dan evaluasi pascahuni.

2026
👤 Penulis: Maria Dita I.C. Bija
🏷️ Kontrol Kebisingan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Akustik 🏷️ Hidrologi Lingkungan Suara

PENGARUH WAKTU PERLAKUAN AWAL ULTRASONIKASI TERHADAP EKSTRAKSI AGAR KASAR DARI GRACILARIA SP

Agar merupakan polisakarida hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut merah seperti Gracilaria sp. dan banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan bioteknologi. Metode ekstraksi konvensional umumnya menggunakan pemanasan dalam waktu lama sehingga kurang efisien secara energi dan berpotensi menurunkan kualitas produk. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh durasi pra-perlakuan ultrasonikasi terhadap perolehan agar, kebutuhan energi ekstraksi, dan gel strength agar yang dihasilkan. Biomassa Gracilaria sp. melalui pra-perlakuan ultrasonikasi selama 30, 60, dan 90 menit, kemudian diekstraksi menggunakan metode refluks air panas pada suhu 95–100 °C selama 1 jam, dengan kontrol tanpa pra-perlakuan selama 1 dan 6 jam. Larutan ekstrak dimurnikan menggunakan metode freeze–thaw dan dikeringkan dalam oven. Parameter yang dianalisis meliputi perolehan agar, kebutuhan energi ekstraksi (kWh/g), dan gel strength, dengan analisis statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan durasi ultrasonikasi meningkatkan pelepasan agar pada tahap pra-perlakuan, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap perolehan agar pada tahap ekstraksi air panas (p > 0,05). Sebaliknya, durasi ultrasonikasi berpengaruh sangat signifikan terhadap kebutuhan energi ekstraksi (p < 0,001), yang meningkat dari 0,165 kWh/g pada perlakuan 30 menit menjadi 0,251 kWh/g pada 90 menit. Gel strength juga dipengaruhi secara signifikan oleh variasi perlakuan (p = 0,023), meskipun perbedaan antar variasi waktu ultrasonikasi tidak signifikan secara statistik. Secara keseluruhan, pra-perlakuan ultrasonikasi selama 30 menit menunjukkan kondisi paling optimal karena menghasilkan kebutuhan energi ekstraksi terendah serta mempertahankan kualitas gel yang lebih baik dibandingkan durasi ultrasonikasi yang lebih lama.

2026
👤 Penulis: Dzaky Fariz Ridwansyah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Ekstraksi Biologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ARAMA TERRA SHARANA : DESAIN WELLNESS CENTER DENGAN PENDEKATAN THERAPEUTIC ARCHITECTURE

Meningkatnya urbanisasi dan gaya hidup sedentari di Kota Bandung berdampak negatif pada kualitas hidup masyarakat perkotaan, yang ditandai dengan tingginya angka stres dan depresi pascapandemi, khususnya di kalangan mahasiswa yang mencapai 76%. Di sisi lain, distrik Dago/Coblong memiliki potensi klimatologis yang mendukung pengembangan hortikultura terapeutik serta pertumbuhan tren wisata kebugaran (wellness tourism). Proyek perancangan ini mengusulkan "Arama Terra Sharana", sebuah Wellness Center yang mengintegrasikan layanan kesehatan informal, rekreasi, dan pemenuhan kebutuhan biofilik masyarakat. Berlokasi di Cisitu, Dago, proyek ini mengambil preseden lokal dari inisiatif agribisnis Tani Kota untuk ditransformasikan ke dalam konteks arsitektur penyembuhan (healing context). Pendekatan perancangan yang digunakan menggabungkan Arsitektur Terapeutik (Therapeutic Architecture), Desain Biofilik (Biophilic Design), dan Desain Salutogenik (Salutogenic Design) untuk menciptakan lingkungan binaan yang restoratif. Metode perancangan dilakukan dengan mengoptimalkan kondisi tapak berkontur curam seluas 78.000 m2 melalui strategi struktur panggung berdampak rendah (low-impact treehouse structure), zonasi akustik untuk menyelaraskan berbagai kelompok usia pengguna, serta penerapan sistem tangga ramp kontinu guna menjamin aksesibilitas universal. Hasil perancangan menunjukkan konfigurasi massa bangunan interlokasi yang melingkari halaman dalam (central courtyard) sebagai oasis ketenangan yang terlindungi. Komposisi arsitektural diperkaya dengan fasad vegetatif (green envelope), menara pemanen air hujan sebagai penanda ekologis, serta zonasi lanskap hortikultura multisensori yang produktif. Luaran Tugas Akhir ini diharapkan dapat menjadi model tipologi fasilitas kesehatan nonformal yang adaptif terhadap ekologi lokal sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial komunitas urban secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Cynthia Jie
🏷️ Desain Biofilik 🏷️ Therapeutic Architecture 🏷️ Salutogenic Design

ANALISIS PERSEPSI DAN PREFERENSI PENUMPANG PEREMPUAN DALAM PEMILIHAN KERETA KHUSUS WANITA DI KRL COMMUTER LINE JABODETABEK

Kereta Khusus Wanita (KKW) di KRL Commuter Line Jabodetabek disediakan sebagai upaya meningkatkan keamanan perempuan, terutama dalam mengurangi risiko pelecehan. Namun, KKW tidak selalu menjadi pilihan utama bagi perempuan akibat tingginya volume penumpang dan potensi konflik sosial antarpenumpang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor pembentuk persepsi kualitas layanan KKW dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemilihannya. Data diperoleh melalui survei dan dianalisis menggunakan analisis faktor eksploratori (EFA) serta regresi logistik biner. Penelitian ini mengungkapkan bahwa persepsi kenyamanan sosial dan ketertiban, usia, interaksi pengalaman pelecehan dengan frekuensi penggunaan KRL, dan persepsi kualitas layanan petugas serta keamanan meningkatkan peluang pemilihan KKW. Sebaliknya, pengalaman pelecehan dan konflik sosial, persepsi kualitas layanan petugas dan keamanan, persepsi aksesibilitas bagi penumpang rentan, atribut perjalanan (waktu tunggu, jumlah penumpang, jarak berjalan kaki) serta durasi perjalanan menurunkan kecenderungan pemilihannya. Sebagai tindak lanjut, direkomendasikan sejumlah perbaikan operasional untuk meningkatkan efektivitas layanan KKW dalam mendukung kebutuhan mobilitas perempuan.

2026
👤 Penulis: Keyla Nadine Respati
🏷️ Persepsi Dan Preferensi 🏷️ Kereta Khusus Wanita (Kkw) 🏷️ Mobilitas Perempuan

RUMENTANG ANNEX: SARANA SENI PERTUNJUKAN PERMEABEL DI KOSAMBI, BANDUNG

Sektor seni pertunjukan Kota Bandung menghadapi krisis infrastruktur yang sistemik: Gedung Kesenian Rumentang Siang, gedung teater warisan budaya utama kota sekaligus rumah kreatif Studiklub Teater Bandung (sejak 1958), beroperasi dalam kondisi defisit kapasitas yang terus-menerus, dengan rata-rata 620 penonton per pertunjukan terhadap kapasitas tetap 340 kursi, serta melayani sekitar 78.000 total penonton antara tahun 2023 hingga 2025. Di sisi lain, anatomi bangunan yang berakar pada tipologi bioskop—kedalaman panggung yang dangkal, ketiadaan fly tower, dan kondisi akustik yang menurun—menjadikannya secara teknis tidak mampu menampung produksi proscenium kompleks yang mendefinisikan warisan artistiknya sendiri. Tugas Akhir ini mengusulkan Rumentang Annex: sebuah sarana seni pertunjukan berkapasitas 535 kursi di lahan yang bersebelahan di Jl. Baranang Siang No. 1, Kosambi, Bandung, yang dirancang untuk mengisi kesenjangan venue tingkat menengah yang tidak tersedia di pusat kota Bandung. Desain mengadopsi konsep Distributed Performance Urbanism, yaitu strategi stratifikasi vertikal yang terorganisasi dalam tiga lapisan program: plaza publik permeabel di lantai dasar, zona komunal peralihan yang memuat food court, blackbox theater, ruang ko-kerja, dan perpustakaan, serta inti pertunjukan berupa auditorium proscenium utama dan fasilitas backstage lengkap di lantai atas. Secara filosofis berpijak pada Realisme Tropis—mengacu pada jembatan yang dibangun Suyatna Anirun antara tradisi teater Barat dan identitas budaya Indonesia—bangunan ini dikonsepsikan sebagai Lentera Melayang: massa yang dikantilever dan diangkat di atas pilotis berbentuk-V di atas lantai publik, membebaskan ruang kaki langit dan mempertahankan akses visual terhadap fasad bangunan warisan. Sistem struktur menggunakan grid 7,8 meter dengan kolom 700×700mm yang menopang volume auditorium yang direkayasa untuk mencapai kriteria akustik NC-25 di tengah kebisingan eksternal 85 dB. Kepatuhan regulasi dijaga sesuai Perwali No. 29/2024 (Sub-Zona K-1), dengan KDB 60,2%, KLB 3,57, dan total luas lantai bruto 8.168 m² di atas tanah pada lahan seluas 2.290 m². Proyek ini menunjukkan bahwa infrastruktur seni pertunjukan yang teknis-ketat dapat sekaligus berfungsi sebagai katalis urban yang inklusif, mengintegrasikan ekonomi kreatif, ruang publik, dan warisan budaya dalam jaringan kota Kosambi yang padat dan informal.

2026
👤 Penulis: Mikha Easterino Felix
🏷️ Desain Urban 🏷️ Kepatuhan Regulasi 🏷️ Realisme Tropis

PROYEKSI CARBON LOSS PADA PEMODELAN LAND USE-LAND COVER (LULC) PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2020–2040 BERBASIS VARIASI SKENARIO IBU KOTA NUSANTARA (IKN)

Perubahan Land Use-Land Cover (LULC), khususnya deforestasi, merupakan isu penting yang berdampak pada ekosistem dan iklim global. Di Provinsi Kalimantan Timur, laju deforestasi yang tinggi akibat ekspansi perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut adanya pemodelan spasial untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta dampaknya terhadap carbon loss. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan transisi LULC dominan, menentukan kategori deforestasi terbesar, menghitung carbon loss historis (periode 1990–2020) dan proyektif (2020–2030 dan 2020–2040), serta membandingkan skenario pembangunan IKN agar diperoleh skenario yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Analisis dilakukan menggunakan peta tutupan lahan KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020, analisis NDVI dari citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan threshold NDVI 0,4, serta pemodelan perubahan LULC dengan model CA Markov melalui Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet. Estimasi carbon loss dihitung menggunakan metode stock-change pada lima variasi skenario pembangunan IKN yang mencakup kondisi eksisting, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Protecting Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dominan berubah dari Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Semak Belukar (700 ribu ha) pada 1990–2000, dari Semak Belukar ke Pertanian Lahan Kering Campur (721 ribu ha) pada 2000–2011, dan dari Semak Belukar serta Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Perkebunan (504 ribu ha) pada 2011–2020. Kategori deforestasi terbesar periode 1990–2020 adalah Deforestasi menjadi Semak dan Padang Rumput seluas 718 ribu ha. Validasi model menghasilkan Kappa 0,7544 yang menunjukkan tingkat akurasi kuat dan layak untuk proyeksi lanjutan. Total carbon loss periode 1990–2020 mencapai sekitar 0,29 gigaton C atau 1,08 gigaton CO?e. Hasil pemodelan proyeksi 2020–2040 menunjukkan bahwa skenario pembangunan IKN dengan kebijakan PFA merupakan strategi yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Dibandingkan skenario yang hanya menerapkan RDTR, penerapan PFA menghasilkan proyeksi carbon loss yang lebih rendah, sehingga perlindungan Hutan Alam menjadi faktor utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalimantan Timur.

2026
👤 Penulis: Zakia Dinda Chaerunnissa
🏷️ Pertanian 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PROYEKSI CARBON LOSS PADA PEMODELAN LAND USE-LAND COVER (LULC) PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2020–2040 BERBASIS VARIASI SKENARIO IBU KOTA NUSANTARA (IKN)

Perubahan Land Use-Land Cover (LULC), khususnya deforestasi, merupakan isu penting yang berdampak pada ekosistem dan iklim global. Di Provinsi Kalimantan Timur, laju deforestasi yang tinggi akibat ekspansi perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut adanya pemodelan spasial untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta dampaknya terhadap carbon loss. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan transisi LULC dominan, menentukan kategori deforestasi terbesar, menghitung carbon loss historis (periode 1990–2020) dan proyektif (2020–2030 dan 2020–2040), serta membandingkan skenario pembangunan IKN agar diperoleh skenario yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Analisis dilakukan menggunakan peta tutupan lahan KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020, analisis NDVI dari citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan threshold NDVI 0,4, serta pemodelan perubahan LULC dengan model CA Markov melalui Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet. Estimasi carbon loss dihitung menggunakan metode stock-change pada lima variasi skenario pembangunan IKN yang mencakup kondisi eksisting, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Protecting Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dominan berubah dari Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Semak Belukar (700 ribu ha) pada 1990–2000, dari Semak Belukar ke Pertanian Lahan Kering Campur (721 ribu ha) pada 2000–2011, dan dari Semak Belukar serta Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Perkebunan (504 ribu ha) pada 2011–2020. Kategori deforestasi terbesar periode 1990–2020 adalah Deforestasi menjadi Semak dan Padang Rumput seluas 718 ribu ha. Validasi model menghasilkan Kappa 0,7544 yang menunjukkan tingkat akurasi kuat dan layak untuk proyeksi lanjutan. Total carbon loss periode 1990–2020 mencapai sekitar 0,29 gigaton C atau 1,08 gigaton CO?e. Hasil pemodelan proyeksi 2020–2040 menunjukkan bahwa skenario pembangunan IKN dengan kebijakan PFA merupakan strategi yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Dibandingkan skenario yang hanya menerapkan RDTR, penerapan PFA menghasilkan proyeksi carbon loss yang lebih rendah, sehingga perlindungan Hutan Alam menjadi faktor utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalimantan Timur.

2026
👤 Penulis: Zakia Dinda Chaerunnissa
🏷️ Pengelolaan Lahan Dan Kehutanan 🏷️ Analisis Carbon Loss 🏷️ Model Perubahan Land Use-Land Cover

ANALISIS KARAKTERISTIK FOTOMETRIK DAN KUALITAS DAYA LAMPU LED 30 WATT PADA VARIASI TINGKAT PEMBEBANAN MENGGUNAKAN DUA SUMBER TEGANGAN

Lampu LED telah menjadi beban penerangan dominan di sektor rumah tangga, namun driver berbasis Switching Mode Power Supply (SMPS) tanpa koreksi faktor daya menjadikannya beban non-linier yang menginjeksikan arus harmonik ke jaringan. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada lampu LED berdaya rendah (di bawah 25 W) dengan satu sumber tegangan, sementara karakteristik lampu LED berdaya menengah belum banyak dikaji secara komparatif antar sumber. Penelitian ini menganalisis harmonik dan kualitas daya lampu LED 30 W merek Philips TrueForce Essentials Cool Daylight pada pembebanan bertahap 1 hingga 8 lampu menggunakan dua sumber tegangan berbeda, yaitu AC Power Supply (ACPS) Lisun LSP-500VA dan jala-jala PLN (GRID). Karakterisasi fotometri dilakukan dengan integrating sphere LCPE-3/LMS-7000, sedangkan parameter kualitas daya direkam dengan osiloskop Micsig STo1104E dan diolah melalui Transformasi Fourier (FFT), kemudian trennya diramalkan melalui regresi linear, regresi polinomial orde-2, dan rekonstruksi spektrum harmonik. Hasil karakterisasi fotometri menunjukkan fluks luminus rata-rata 3,293 lm (?5,9% terhadap nominal 3,500 lm), CCT sekitar 6,653 K, CRI Ra sekitar 82,8, dan efikasi sekitar 112,9 lm/W. Hasil pengukuran kualitas daya memperlihatkan distorsi harmonik arus (THDi) yang sangat tinggi, yaitu 96–120% pada ACPS dan 111– 115% pada GRID, jauh melampaui batas emisi harmonik. Distorsi harmonik tegangan (THDv) pada ACPS meningkat hingga 7,6% seiring beban-melampaui batas 5% SPLN D5.004-1:2012-sedangkan THDv pada GRID stabil rendah sekitar 1,6%, membuktikan impedansi internal ACPS jauh lebih besar daripada PLN. Faktor daya total (TPF) kedua sumber tetap rendah, yaitu 0,51–0,67, akibat gabungan distorsi arus dan pergeseran fasa. Arus RMS dan daya aktif meningkat linear (R² ? 1,0) sehingga andal diramalkan hingga 24 lampu, sedangkan sebagian parameter THD dan faktor daya tidak andal diramalkan dan lebih tepat ditampilkan nilai rata-ratanya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Daffanuur
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN EMULSI PICKERING EKSTRAK ETANOL SIRIH BUMI (PEPEROMIA PELLUCIDA (L.) KUNTH) DAN BETA-GLUKAN SEBAGAI PENSTABIL SERTA APLIKASINYA PADA LUKA

Luka dapat timbul akibat penyakit maupun trauma, dan apabila tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi luka kronis yang sulit disembuhkan. Proses penyembuhan luka melibatkan tahapan kompleks yang meliputi inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan, sehingga diperlukan agen terapeutik yang mampu mendukung setiap fase tersebut. Salah satu tanaman yang diketahui memiliki potensi mempercepat penyembuhan luka adalah Peperomia pellucida, yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan tanin dengan aktivitas antiinflamasi serta antioksidan. Namun demikian, pengembangan sediaan topikal berbasis bahan alam untuk aplikasi penyembuhan luka masih relatif terbatas. Emulsi Pickering, yang distabilkan oleh partikel padat alami, menawarkan keunggulan dalam meningkatkan stabilitas sistem sekaligus berpotensi sebagai sistem penghantaran zat aktif yang efektif. Kombinasi ekstrak tanaman dan polisakarida, seperti beta-glukan, dalam sistem emulsi Pickering diharapkan dapat menghasilkan stabilisasi antarmuka yang lebih baik serta memberikan efek biologis yang mendukung penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi sediaan emulsi Pickering berbasis ekstrak Peperomia pellucida dan beta-glukan sebagai penstabil (PESUBG) untuk aplikasi penyembuhan luka. Ekstrak dikarakterisasi melalui penapisan fitokimia, analisis kandungan fenolik dan flavonoid total, identifikasi senyawa menggunakan LC-MS/MS, serta uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Selain itu, beta-glukan juga dikarakterisasi melalui penentuan kadar gula total, kadar gula pereduksi, dan kadar asam amino untuk mengevaluasi komposisi serta kemurniannya. Formula awal emulsi Pickering kemudian dievaluasi secara in vitro pada sel fibroblas 3T3 melalui uji viabilitas dan pembentukan kolagen sebagai indikator aktivitas fibroblas serta sintesis matriks ekstraseluler. Optimasi formula dilakukan secara bertahap dengan pendekatan one factor at a time (OFAT), dilanjutkan dengan desain faktorial dan Box–Behnken Design untuk menentukan kombinasi variabel yang memberikan respons optimal, khususnya ukuran globul. Formula optimum yang diperoleh selanjutnya dikarakterisasi meliputi ukuran globul, indeks polidispersitas, potensial zeta, pH, viskositas, serta struktur mikro, dan diuji stabilitasnya pada berbagai kondisi penyimpanan. Evaluasi aktivitas biologis dilanjutkan secara in vitro pada sel makrofag RAW 264.7 melalui uji viabilitas dan inhibisi produksi nitric oxide (NO) sebagai indikator aktivitas antiinflamasi. Selanjutnya, efektivitas formula diuji secara in vivo menggunakan model luka eksisi pada tikus, yang meliputi pengamatan persentase penutupan luka, kadar sitokin proinflamasi TNF-?, serta analisis histopatologi jaringan kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada amplitudo sonikasi 55%, konsentrasi beta-glukan 1,75%, dan gliserin 2,5%, dengan ukuran globul sebesar 187,83 ± 3,78 nm dan distribusi yang relatif homogen. Formula memiliki nilai potensial zeta ?42,90 ± 2,90 mV yang menunjukkan stabilitas elektrostatik yang baik, serta pH 4,83 ± 0,015 dan viskositas 1,35 ± 0,05 cP yang sesuai untuk aplikasi topikal. Aktivitas antioksidan formula sebesar 174,94 ± 0,24 mg AAE/g menunjukkan kemampuan tinggi dalam menangkal radikal bebas. Uji stabilitas menunjukkan bahwa formula tetap stabil selama 16 minggu pada suhu 4 ± 2 °C. Pada uji in vitro, formula PESUBG pada konsentrasi 50 µg/mL menunjukkan viabilitas sel RAW 264.7 tertinggi, yaitu sebesar 181,94% tanpa stimulasi H?O? terhadap kelompok 0% FBS. Peningkatan viabilitas relatif terhadap kontrol 0% FBS menunjukkan bahwa PESUBG tidak bersifat sitotoksik dan berpotensi mendukung aktivitas metabolik sel pada kondisi kultur dengan serum terbatas. Pada kondisi stres oksidatif, formula mempertahankan viabilitas sel sebesar 129,42% terhadap kelompok 0% FBS, yang mengindikasikan potensi efek protektif terhadap kerusakan sel akibat stres oksidatif. Selain itu, formula mampu menghambat produksi NO sebesar 83,59%, yang menunjukkan potensi aktivitas antiinflamasi. Pada uji in vivo, formula PESUBG menunjukkan percepatan penutupan luka hingga 94,57% pada hari ke-14, yang disertai dengan penurunan kadar TNF-?serta perbaikan struktur jaringan kulit berdasarkan hasil histopatologi, termasuk peningkatan pembentukan kolagen dan organisasi jaringan yang lebih baik. Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa emulsi Pickering berbasis ekstrak Peperomia pellucida dan beta-glukan memiliki karakteristik fisikokimia yang baik, stabilitas memadai, serta aktivitas biologis yang mendukung proses penyembuhan luka melalui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Formula PESUBG berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai sediaan topikal berbasis bahan alam dalam terapi penyembuhan luka.

2026
👤 Penulis: Lidia
🏷️ Emulsi Pickering 🏷️ Penyembuhan Luka 🏷️ Peperomia Pellucida

KARAKTERISASI FOTOMETRIK DAN ANALISIS ARUS HARMONIK LAMPU LED 20W UNTUK PENGGUNAAN SEKTOR DOMESTIK DENGAN DUA SUMBER TEGANGAN (PLN DAN AC POWER SUPPLY)

Program Sustainable Development Goals (SDG) 7 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menargetkan akses energi bersih dan terjangkau secara universal pada tahun 2030. Di Indonesia, sektor rumah tangga mendominasi konsumsi listrik dengan 134.563,85 GWh atau 42,36% dari total 317.691,86 GWh menurut Statistik PLN 2025. Lampu LED telah mendominasi sektor penerangan domestik Indonesia karena efikasi tinggi dan masa pakai panjang. Namun, driver LED tanpa Power Factor Correction (PFC) menghasilkan arus harmonik yang signifikan akibat karakteristik non-linear penyearah gelombang penuh dengan kapasitor filter. Penelitian ini menganalisis arus harmonik 12 unit lampu LED Verdant 20W secara komprehensif melalui tiga tahap: (1) karakterisasi fotometrik dan kolorimetri menggunakan sistem Lisun LPCE-3 Integrating Sphere; (2) pengukuran parameter kualitas daya pada konfigurasi paralel 1–12 lampu dengan dua sumber tegangan, yaitu jaringan PLN (strong grid, ~222 V) dan AC Power Supply 500 VA (weak grid, ~219 V); serta (3) pemodelan regresi per orde harmonik H1–H25 dengan evaluasi tiga model (linear, polinomial derajat-2, dan polinomial derajat-3) menggunakan metrik R², Adjusted R², RMSE, dan NRMSE-M. Hasil karakterisasi fotometrik menunjukkan bahwa fluks cahaya rata-rata 12 unit sebesar 1913,7 lm hanya mencapai 87,1% dari nilai pengenal yang diklaim produsen (2196 lm), tidak memenuhi ambang minimum 90% yang disyaratkan SNI IEC 62612:2020. CRI Ra rata-rata 79,4 juga berada di bawah batas minimum Ra ? 80 yang ditetapkan SNI 6197-2020. Pada Tahap 2, THDi kedua sumber jauh melampaui batas IEC 61000-3-2 Kelas C (30%), dengan rata-rata PLN 108,74% dan ACPS 107,61%. Analisis framework daya IEEE 1459-2010 mengungkapkan bahwa penyebab utama True Power Factor rendah (PLN: 0,526; ACPS: 0,637) adalah daya distorsi D, bukan daya reaktif Q (rasio D/Q PLN = 1,8; ACPS = 3,3), sehingga kapasitor kompensasi tidak efektif. THDv ACPS meningkat linear dari 1,21% menjadi 7,65% seiring penambahan beban, mendekati batas IEC 8%. Novelty utama penelitian ini adalah pembuktian kuantitatif bahwa regresi linear tidak memadai untuk orde harmonik menengah pada sumber berimpedansi tinggi. Pada H9 sumber ACPS, R² model linear hanya 0,121 (NRMSE-M = 19,78%, kategori Buruk), sedangkan model Poly-2 memberikan R² = 0,875 (NRMSE-M = 7,45%). Orde H11 ACPS memerlukan model Poly-3 (R² = 0,912, NRMSE-M = 8,08%) karena baik model linear maupun Poly-2 gagal. Sementara itu, seluruh orde H1–H25 pada sumber PLN dapat dimodelkan dengan regresi linear (R² > 0,94). NRMSE-M dikembangkan sebagai metrik validasi baru yang memungkinkan perbandingan akurasi lintas orde dengan skala berbeda. Forecasting hingga n = 36 lampu mengindikasikan THDi PLN ~115,9% dan ACPS ~94,5%, dengan THDv ACPS mencapai ~22%, jauh melampaui batas IEC.

2026
👤 Penulis: Muhammad Nur Tastaftyan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI HIGH FRUCTOSE CORN SYRUP TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN KANDUNGAN DOCOSAHEXAENOIC ACID (DHA) DARI SCHIZOCHYTRIUM SP.

Meningkatnya kesadaran masyarakat global akan kesehatan jangka panjang mendorong konsumsi nutrisi preventif sebagai langkah investasi kesehatan. Docosahexaenoic Acid (DHA) menarik perhatian global karena kemampuannya dalam meningkatkan perkembangan otak hingga mengurangi penyakit kardiovaskular. Sebagian besar DHA diperoleh dari minyak ikan yang menunjukkan penurunan kualitas karena terjadi pencemaran laut hingga over eksploitasi. Schizochytrium sp menawarkan alternatif sebagai sumber penghasil lipid serta DHA tinggi dengan siklus pertumbuhan cepat dan sebagai solusi berkelanjutan dengan dampak lingkungan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi High Fructose Corn Syrup (HFCS) sebesar 2,5; 5; 7,5; dan 10 g/L sebagai sumber karbon utama terhadap fase dan parameter kinetika pertumbuhan, laju konsumsi gula pereduksi, serta profil asam lemak Schizochytrium sp dalam medium By+ termodifikasi selama 96 jam. Analisis statistik menggunakan ANOVA one-way (p > 0,05) dan uji post hoc Tukey menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar variasi konsentrasi HFCS untuk parameter laju pertumbuhan spesifik, waktu generasi, produktivitas, dan Yx/s. Pertumbuhan tercepat diperoleh oleh konsentrasi HFCS 10 g/L dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,659 ± 0,333 /hari, waktu generasi 1,207 ± 0,611 hari, produktivitas 1,913 ± 0,124 g/L/hari, dan Yx/s 0,836 ± 0,074 g/g . Adapun laju konsumsi gula pereduksi menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p < 0,05) dengan laju tertinggi pada konsentrasi HFCS 10 g/L sebesar 2,303 ± 0,352 g/L/hari. Selain itu, profil asam lemak biomassa Schizochytrium sp yang dikultivasi pada konsentrasi HFCS 10 g/L menunjukkan total lipid sebesar 13,83% dari DCW dengan kandungan DHA 16,08% dari total lipid. Analisis neraca massa menghasilkan produksi biomassa kering sebesar 57,43 gram dari kultur 7 liter dengan inokulum awal sebesar 27,93 gram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi HFCS sebagai sumber karbon utama berpotensi untuk mendukung pertumbuhan Schizochytrium sp yang berimplikasi pada kandungan DHA.

2026
👤 Penulis: Halida Yasmin
🏷️ Schizochytrium Sp 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

GEOVOTE-SMARTDRY: SISTEM PENGERING PASCAPANEN BERBASIS GEOTHERMAL DIRECT-USE DAN IOT MOBILE REAL-TIME UNTUK PENINGKATAN KUALITAS PRODUK DAN NILAI EKONOMI KOMODITAS PERTANIAN

Proses pengeringan pascapanen di pertanian skala kecil masih menjadi kendala signifikan, terutama di wilayah vulkanik terpencil yang minim akses energi stabil. Penelitian ini memperkenalkan GEOVOTE-SmartDry, sistem pengering cerdas berbasis IoT mobile yang mengintegrasikan panas bumi langsung dengan otomatisasi digital. Sistem memanfaatkan mikrokontroler ESP32, sensor DHT22, serta aktuator (blower dan pompa) yang dikendalikan secara real-time melalui aplikasi Blynk. Sumber panas disuplai oleh heat exchanger panas bumi skala mikro yang efisien dan berkelanjutan. Pengujian pengeringan kopi selama satu siklus menunjukkan peningkatan Temperatur dari 25,9 °C menjadi 56,7 °C, serta penurunan kelembapan dari 79,5% ke 40,1% secara stabil dan adaptif. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan efisiensi signifikan dan potensi keuntungan tinggi. Dengan investasi awal Rp14.152.000 dan biaya operasional tahunan Rp3.428.240, sistem ini menggantikan pengering LPG (±Rp92.500/ton) dan menghemat hingga Rp18,5 juta/tahun. Peningkatan mutu produk juga menaikkan harga kopi dari Rp13.000/kg menjadi Rp38.000/kg, menghasilkan pendapatan bersih ±Rp384 juta per tahun dari 64 ton produk kering. Nilai Benefit Cost Ratio mencapai 28,4/tahun dan periode balik modal kurang dari dua minggu, menjadikannya solusi menarik untuk petani desa. GEOVOTE-SmartDry solusi pendekatan baru yang dapat direplikasi untuk transisi energi terbarukan di sektor pertanian desa berbasis panas bumi. Sistem ini berkontribusi sebagai inovasi strategis dalam teknologi hijau pascapanen berbiaya rendah dan berdampak tinggi terhadap peningkatan perekonomian di wilayah memiliki potensi geothermal.

2026
👤 Penulis: Rohayati Idris
🏷️ Geothermik 🏷️ Pertanian Desa 🏷️ Teknologi Hijau

PENGARUH KOMBINASI INSECT FRASS DENGAN MEDIA TANAM VERMICOMPOST TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEA)

Dalam beberapa tahun terakhir, microgreens berkembang sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi karena kandungan nutrisi melimpah dan siklus produksi singkat. Namun, produksinya masih bergantung pada media tanam konvensional yang kurang berkelanjutan. Insect frass, hasil biokonversi limbah organik oleh larva Black Soldier Fly (BSF), berpotensi menjadi pupuk organik alternatif karena kaya unsur hara serta mengandung kitin yang merangsang pertumbuhan tanaman. Namun, penggunaan frass secara tunggal berisiko menimbulkan variasi kualitas dan fitotoksisitas, sehingga diperlukan kombinasi dengan media organik lain seperti vermicompost untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi insect frass dan dengan kombinasi media tanam berbasis vermicompost terhadap performa perkecambahan, pertumbuhan, produktivitas, kualitas fisiologis dan nutrisi, serta karakteristik media dan respon air pada microgreens kale (Brassica oleracea). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL) dengan perbedaan media tanam sebagai perlakuan. Terdapat 4 perlakuan yaitu P1 (Tanah 100%), P2 (Tanah + NPK), P3 (Tanah + Insect frass 1,2%), P4 (50% Tanah + 50% Vermicompost + Insect frass 1,2%). Parameter yang diamati meliputi daya dan potensi berkecambah, kecepatan serta keserempakan tumbuh, tinggi tanaman, panjang akar, bobot tajuk dan akar, kadar air, rasio tajuk-akar, serta kandungan vitamin C dan klorofil. Suhu dan kelembapan ruangan dicatat selama penelitian, sedangkan analisis nutrisi media dilakukan sebelum tanam dan setelah panen. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Growth performance terbaik diperoleh dari perlakuan P4 dengan media tanam yaitu 50% tanah + 50% vermicompost + insect frass 1,2% dengan daya berkecambah, potensi berkecambah, kecepatan berkecambah, tinggi tanaman, panjang akar, bobot basah dan kering tajuk, kadar air, kadar klorofil, kadar vitamin c masing-masing sebesar 91,33±0.67, 93.33±1.76, 81.23±1.93, 8,26 ± 0.32 cm, 7.70±0.31 cm, 5.17±0.35 gr, 1.78±0.22 gr, 0.26±0.03 gr, 0.17±0.01 gr, 94.82±1.00 %, 24.70±1.01 SPAD, 23.10±2.01 mgl/L dan 17.63 mg/100gr. Sementara itu, keserempakan berkecambah terbaik diperoleh pada perlakuan P1 dengan perlakuan media tanam 100% sebesar 92±0.63 Sedangkan untuk nilai shoot root ratio tertinggi diperoleh pada P2 dengan media tanam tanah sebesar 1.59 ± 0.23 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap parameter perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar, bobot basah tajuk, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot total, kadar air, kandungan vitamin. Namun, media tanam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada shoot root ratio dan kandungan klorofil pada microgreens kale (Brassica oleracea). Secara umum, aplikasi kombinasi insect frass & vermicompost dapat meningkatkan performa perkecambahan, pertumbuhan vegetative, akumulasi biomassa serta kandungan nutrisi pada microgreens kale (Brassica oleracea).

2026
👤 Penulis: Salwa Salsadila
🏷️ Microgreens 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

INTEGRASI MANAJEMEN LEAN, AGILE/SCRUMDAN PMBOK DALAM MENINGKATKAN PROSES USERACCEPTANCE TESTING (UAT) (STUDI KASUS PERUSAHAAN PERBANKAN)

Percepatan transformasi digital di industri perbankan Indonesia telah mencip-takan tekanan besar pada proses pengujian perangkat lunak. Di Banking Co., sebuah bank swasta terkemuka, volume fitur yang diuji meningkat 295 persen antara 2022 dan 2024 dari 5.840 menjadi 43.595 fitur, sementara prosedur kerja UAT tidak mengalami perubahan yang sebanding. Kesenjangan ini mengakibat-kan akumulasi pemborosan sistemis, siklus pengerjaan ulang, dan risiko kele-lahan kerja yang merupakan ancaman langsung terhadap keberlanjutan modal manusia dan pilar People dalam agenda keberlanjutan organisasi. Penelitian ini mengidentifikasi jenis pemborosan yang mendominasi proses UAT, merumuskan solusi integrasi Lean–Agile/Scrum–PMBOK, dan menganalisis po-tensi dampaknya terhadap efisiensi dan keberlanjutan kapasitas tim. Pendekatan mixed methods diterapkan melalui survei 65 item Likert kepada 371 Testing Ana-lyst (52 responden) dan wawancara mendalam dengan tiga narasumber expert judgment dari level jabatan berbeda. Pemborosan diprioritaskan menggunakan Relative Importance Index (RII), dan opsi perbaikan diurutkan berdasarkan Composite RII. Tujuh kategori pemborosan teridentifikasi pada 12 aktivitas UAT yang dipetakan ke PMBOK Knowledge Area. Defects menempati prioritas tertinggi (RII 0,756), diikuti Movement (0,735), Waiting (0,725), Overproduction (0,718), Excess In-ventory (0,705), Transport (0,688), dan Overprocessing (0,681). Rentang RII 0,075 mengonfirmasi ketujuh kategori memerlukan intervensi sistemis. Dua temuan metodologis penting muncul: pemborosan Movement berada di prioritas kedua menurut survei pelaksana namun keenam menurut manajemen, gap empat posisi yang hanya terdeteksi melalui triangulasi dan Overprocessing mencatat RII terendah namun mendapat suara tertinggi dalam pertanyaan refleksi terbuka, mengindikasikan kondisi di mana pemborosan telah diterima sebagai rutinitas normal. Delapan opsi perbaikan dirumuskan dan diprioritaskan: Tanggung Jawab Ber-sama BA–IT–Testing (0,919), Stabilisasi Sistem dan Platform UAT Terintegrasi (0,912), Penyederhanaan UI/UX (0,885), WIP Limit dan Manajemen Kapasitas (0,881), Definition of Ready beserta Wewenang Eskalasi (0,879), Instruksi Kerja UAT Lean Edition (0,829), Saluran Umpan Balik Kaizen Terstruktur, dan Oto-masi AI Selektif. Kedelapan opsi diintegrasikan ke dalam peta jalan bertahap pada 12 aktivitas UAT dengan memanfaatkan mekanisme Agile/Scrum yang su-dah berjalan. Sebanyak 76,9 persen responden meyakini eliminasi pemborosan sistemis akan secara signifikan mengurangi risiko kelelahan kerja, memosisikan penelitian ini sebagai upaya mempertahankan kapasitas manusia untuk ber-kontribusi secara bermakna dalam jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Dedi Yusuf Hernanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pengujian Perangkat Lunak
Halaman 116 dari 6754
💬