📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN ULANG KAWASAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN LANSIA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN RAMAH LANSIA
Indonesia dan Kota Bandung tengah menghadapi peningkatan persentase populasi lansia yang signifikan. Di sisi lain, ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bandung baru mencapai 12,88%, jauh di bawah ambang batas 30%. Meski telah berstatus Kota Ramah Lansia, Bandung belum memiliki panduan perancangan teknis. Taman Lansia Bandung, sebagai RTH situs cagar budaya, memiliki tingkat ketercapaian prinsip ramah lansia yang masih rendah, yakni 42,63%. Penelitian kualitatif ini bertujuan merancang ulang Taman Lansia melalui pendekatan placemaking dan desain ramah lansia. Menggunakan Fragmental Method dengan teknik optimizing, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner kepada 87 responden, wawancara mendalam dengan empat instansi, dan studi dokumen. Analisis tapak memadukan aspek White (1983) dan elemen Shirvani (1985), disertai analisis persepsi pengunjung serta potensi dan persoalan kawasan. Sintesis literatur merumuskan empat kriteria perancangan: keamanan dan kenyamanan, aksesibilitas dan keterbacaan, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas. Analisis kawasan mengidentifikasi 8 potensi dan 14 persoalan yang didominasi oleh isu keamanan dan aksesibilitas. Rancangan ini mengusung visi "Evergreen and ALIVE" yang diwujudkan ke dalam empat zona aktivitas dan jalur sirkulasi universal. Hasil akhir perancangan mematuhi aturan RTH Sub Zona Rimba Kota dengan proporsi koefisien dasar hijau mencapai 80,18%. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi placemaking dan konsep ramah lansia ke dalam satu kerangka perancangan ulang taman publik cagar budaya. Hasil penelitian berkontribusi menyediakan kriteria ruang publik inklusif bagi lansia, serta menjadi model fisik penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2021 yang dapat diadaptasi oleh kota lain.
PENGARUH MORFOLOGI PERKOTAAN DAN AKTIVITAS SOSIO-EKONOMI TERHADAP SIKLUS HARIAN SUHU PERMUKAAN PADA ZONA FUNGSIONAL DI KAWASAN PERKOTAAN DKI JAKARTA
Pesatnya urbanisasi mendorong transformasi lingkungan perkotaan beriklim tropis yang memperparah fenomena Urban Heat Island (UHI). Namun, pemahaman mengenai variasi Land Surface Temperature (LST) berdasarkan fungsi kawasan dan dinamika hariannya masih terbatas, khususnya di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh morfologi perkotaan dan aktivitas sosio-ekonomi terhadap siklus harian LST berdasarkan Urban Functional Zone (UFZ) di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan eksplanatif dengan blok UFZ sebagai satuan analisis. Data yang digunakan meliputi LST dari ECOSTRESS (Juni–Oktober 2025), variabel morfologi 2D dan 3D dari Sentinel-2A, Google Open Building, dan CHMv2, serta indikator sosioekonomi dari WorldPop dan SDGSAT-1. Pemodelan Ordinary Least Squares (OLS), Geographically Weighted Regression (GWR), dan Multiscale Geographically Weighted Regression (MGWR) digunakan pada studi ini untuk melihat pengaruh variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LST siang hari membentuk pola clustering dengan konsentrasi panas pada kawasan industri dan permukiman padat di bagian utara Jakarta, sedangkan pada malam hari terbentuk gradien suhu utara–selatan dengan kawasan pesisir sebagai pusat retensi panas. Variasi LST pada siang hari dipengaruhi terutama oleh kepadatan penduduk yang diperkuat oleh dominasi karakteristik material terbangun, sementara pada malam hari faktor sosio-ekonomi menjadi pengendali utama melalui pelepasan panas antropogenik. Model MGWR secara konsisten memberikan kinerja terbaik dengan nilai R² mencapai 0,94, yang mengindikasikan adanya heterogenitas spasial dalam pengaruh morfologi perkotaan dan aktivitas sosio-ekonomi terhadap LST. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi mitigasi UHI di Jakarta perlu dirancang secara spesifik sesuai karakteristik zona fungsional serta mempertimbangkan perbedaan mekanisme pembentukan suhu antara periode siang dan malam hari.
HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN CENTRAL BUSINESS DISTRICT DENGAN URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT.
Kawasan Pusat Kota atau yang disebut juga Central Business District merupakan kawasan pusat aktivitas manusia. Pembangunan kawasan ini harus selalu dimonitoring agar tidak terjadi kesemrawutan. Pembangunan Central Business District yang tidak terarah dapat menyebabkan suatu fenomena yang disebut Urban Heat Island (UHI). Urban Heat Island dapat berdampak buruk bagi segala sisi kehidupan manusia antara lain yaitu kenaikan permintaan energi, kenaikan permintaan sumber daya air, yang dapat mengganggu kestabilitasan ekonomi sampai juga berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Metode yang dipakai adalah metode penginderaan jauh dengan dua satelit yang berbeda. Data utama yang dipakai dalam studi ini adalah data citra satelit SPOT 5 yang beresolusi 2,5 M dan data citra satelit Landsat 7 ETM+ yang dapat digunakan untuk mengukur temperatur permukaan. Teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi Urban Heat Island dengan ekstraksi temperatur dan teknik penghitungan NDVI, sedangkan untuk menidentifikasi Central Business Distrit dengan interpretaasi manual ditambah dengan data sekunder dari survey lapangan.Penelitian ini difokuskan kepada analisis hubungan antara perkembangan Central Business District dengan Urban Heat Island yang terjadi di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Urban Heat Island tidak dapat diidentifikasi dengan satelit Landsat 7 ETM+ karena waktu perekamannya adalah pagi hari sedangkan efek Urban Heat Island dapat terlihat jelas pada saat malam hari. Urban Heat Island dapat menjadi salah satu indikator untuk mengidentifikasi perkembangan Central Business district dengan ditunjang data pendukung lain. Selain itu UHI juga dapat menjadi indicator tercipta atau tidaknya sustainable development berdasarkan rencana tata ruang yang telah dibuat pemerintah.
PENGEMBANGAN SERVER HITUNG SISTEM TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN DATA GEOPOTENSIAL MODEL TAHUN 1996 (EGM'96)
Tujuan utama dari ilmu geodesi fisik adalah menentukan parameter-parameter medan gayaberat bumi. Parameter-parameter tersebut diantaranya yaitu geoid dan defleksi vertikal. Geoid ditentukan berdasarkan nilai penyimpangannya terhadap ellipsoid referensi. Penyimpangan tersebut diistilahkan sebagai undulasi geoid. Defleksi vertikal merupakan penyimpangan arah gayaberat sesungguhnya yang arahnya tegak lurus pada bidang ekuipotensial dengan arah gayaberat normal yang arahnya tegak lurus pada ellipsoid. Undulasi geoid dan defleksi vertikal dapat ditentukan berdasarkan koefisien geopotensial, misalnya EGM 96. Data undulasi geoid dan defleksi vertikal memiliki berbagai kegunaan praktis maupun ilmiah. Untuk keperluan praktis, data tersebut dapat digunakan untuk penentuan referensi tinggi, penentuan referensi kedalaman, konversi sistem koordinat astronomis menjadi sistem koordinat geodetik ataupun sebaliknya dan sebagai koreksi sudut vertikal untuk penentuan tinggi geodetik secara terestris. Sementara untuk keperluan ilmiah, data undulasi geoid digunakan antara lain untuk menentukan struktur lapisan bumi dan prediksi arus geostropik. Dalam tugas akhir ini, dikembangkan suatu sistem server yang terdiri dari sistem basisdata, tampilan antarmuka, struktur server hitung dan algoritma interpolasi yang terintegrasi sedemikian rupa. Komponen-komponen server tersebut memiliki kegunaan, yaitu, sistem basis data digunakan untuk menyimpan data undulasi geoid dan defleksi vertikal dalam sistem grid, tampilan antarmuka merupakan alat bantu yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara langsung dengan server, struktur server hitung berfungsi untuk menyusun pola rangkaian kerja dan hubungan antar sistem, sementara algoritma interpolasi digunakan untuk menghitung nilai undulasi geoid dan defleksi vertikal yang tidak tepat berada dalam cakupan data. Integrasi komponen tersebut memungkinkan server mampu memberikan data undulasi geoid, tinggi orthometris dan defleksi vertikal secara akurat serta diakses dengan menggunakan perangkat komputer via jaringan internet.
PENYUSUNAN KONSEP PENGEMBANGAN TATA KELOLA TAMBANG EMAS RAKYAT BERKELANJUTAN MELALUI KELEMBAGAAN KOPERASI DI KABUPATEN GUNUNG MAS, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Tambang emas rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, merepresentasikan paradoks pembangunan yang khas: sekitar 3.300 penambang aktif menghidupi diri dari endapan aluvial sepanjang Sungai Kahayan, namun seluruh aktivitas tersebut berlangsung di luar kerangka hukum formal menyusul kekosongan Wilayah Pertambangan Rakyat sejak Kepmen ESDM Nomor 109.K/MB.01/MEM.B/2022. Informalitas ini bukan semata-mata persoalan ketidakpatuhan, melainkan akibat dari kekosongan boundary rules yang memutus seluruh rantai pembinaan teknis negara, sehingga menghasilkan eksternalitas lingkungan berupa pencemaran merkuri Sungai Kahayan dan kerusakan lahan, serta eksternalitas sosial berupa ketiadaan perlindungan kerja dan kerentanan posisi tawar penambang dalam rantai niaga. Disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 beserta peraturan turunannya yaitu PP Nomor 39 Tahun 2025, Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2025, dan Permenkop Nomor 12 Tahun 2025 membuka jendela kebijakan (policy window) bagi formalisasi tambang emas rakyat melalui kelembagaan koperasi. Namun, rangkaian regulasi tersebut masih bersifat normatif dan belum disertai konsep operasional yang menjembatani mandat top-down dengan kapasitas kelembagaan penambang di tingkat tapak. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep pengembangan tata kelola tambang emas rakyat berkelanjutan melalui kelembagaan koperasi di Kabupaten Gunung Mas sebagai respons terhadap kesenjangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kebijakan (policy case study) yang diposisikan pada arena kebijakan formal. Data primer diperoleh dari tiga forum koordinasi lintas-instansi yang melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas pada Juli–September 2025, serta observasi lapangan di lokasi tambang dan koperasi. Analisis dilakukan menggunakan tiga kerangka teori yang saling melengkapi: Institutional Analysis and Development (IAD) dari Ostrom (2005) untuk membedah arena tindakan kelembagaan, analisisiv pemangku kepentingan dari Reed et al. (2009) untuk memetakan relasi antar-aktor, dan model Triple Bottom Line yang dimodifikasi oleh Que et al. (2018) sebagai kerangka perumusan konsep. Penelitian menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, stabilitas arena PETI selama lebih dari tiga tahun tanpa legitimasi formal bukan disebabkan keengganan penambang untuk berformalisasi, melainkan oleh dua kelemahan IAD yang saling mengunci: ketiadaan boundary rules akibat kekosongan WPR, dan ketiadaan aggregation rules pada dua level sekaligus — level komunitas penambang dan level koordinasi antar-instansi. Kedua, kesenjangan antara kondisi eksisting dan prinsip tata kelola berkelanjutan sangat dalam pada empat dari lima dimensi (legalitas, prosperity, people, planet), sementara dimensi community menunjukkan kesenjangan lebih moderat karena kelembagaan adat Dayak Ngaju sudah memiliki basis hukum eksplisit dan kapasitas substantif yang belum terintegrasi. Ketiga, konsep model kelembagaan koperasi yang dirumuskan mengintegrasikan struktur tiga lapis: prasyarat legalitas (WPR/IPR), unit operasional koperasi primer– sekunder dengan mekanisme distribusi manfaat berbasis partisipasi anggota, dan operasionalisasi empat pilar TBL termodifikasi. Kontribusi khas penelitian ini dari perspektif Perencanaan Wilayah dan Kota adalah dua inovasi lokal yang tidak ditemukan padanannya pada praktik baik komparatif: mekanisme integrasi kelembagaan adat Dayak dalam struktur koperasi melalui tiga fungsi substantif (legitimator, mediator konflik, dan pengawas berbasis norma adat), serta kerangka pertimbangan keruangan dengan empat unit analisis spasial yang harus diintegrasikan sebelum operasionalisasi koperasi pada wilayah dengan 77,28% kawasan hutan dan minimnya data spasial terintegrasi.
KAJIAN PELETAKAN KABEL DAN PIPA BAWAH LAUT DALAM KAITANNYA DENGAN PENETAPAN KADASTER KELAUTAN DI INDONESIA
Peletakan kabel dan pipa bawah laut, beresiko terhadap tumpang tindih kepentingan aktivitas pengguna ruang laut. Karena itulah dibutuhkan sistem pengaturan ruang yang memungkinkan adanya pencatatan batas-batas dan kepentingan di laut, untuk mencegah konflik penggunaan ruang laut. Dengan menerapkan sistem kadaster kelautan, informasi mengenai batas-batas, posisi, luas, data perorangan atau badan hukum sebagai pemegang hak atau subjek dari ruang laut, kepentingan yang melekat pada objek-objek tersebut, dan nilai pajak atau iuran dari kabel dan pipa bawah laut dapat teradministrasi dalam suatu sistem basis data yang bermuara pada Infrastruktur Data Spasial Nasional dan tercapainya tertib administrasi kelautan.
ANALISIS SPEKTRUM AKUSTIK MAKHARIJUL HURUF SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA AKUSTIK UNTUK PENGUATAN SAINS DI PONDOK PESANTREN
Penelitian ini bertujuan menganalisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis konteks pesantren. Penelitian difokuskan pada huruf makhraj al-halq, yaitu hamzah (?), ha’ (??), ‘ain (?), ha (?), ghain (?), dan kho’ (?), melalui analisis frekuensi forman pertama (F1) dan frekuensi forman kedua (F2). Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi model ADDIE hingga tahap Development. Data suara direkam dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Praat untuk menghasilkan spektrogram dan mengekstraksi nilai frekuensi forman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap huruf makhraj al-halq memiliki karakteristik akustik yang berbeda, dengan rentang nilai F1 sebesar 601,72– 1251,68 Hz dan F2 sebesar 1457,20–2195,46 Hz. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa kelompok pembaca Al-Qur'an bersertifikat memiliki distribusi nilai forman yang lebih konsisten dibandingkan kelompok pembaca pemula. Hasil uji Mann– Whitney U menunjukkan bahwa sebagian besar perbedaan distribusi nilai F1 dan F2 belum signifikan pada taraf signifikansi ? = 0,05, meskipun beberapa huruf menunjukkan effect size kecil hingga sedang. Temuan tersebut dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik yang mengintegrasikan konsep gelombang bunyi, resonansi rongga vokal, dan frekuensi forman dengan fenomena pelafalan huruf hijaiyah di lingkungan pesantren. Hasil validasi memperoleh skor rata-rata 3,50 dari ahli materi dan 3,70 dari ahli pembelajaran, sehingga modul termasuk kategori sangat layak. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai konteks pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis pesantren.
IDENTIFIKASI DAERAH BAHAYA TSUNAMI BERDASARAKAN ZONASI KERENTANAN TSUNAMI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( STUDI KASUS : DAERAH PESISISR PANGANDARAN )
Bencana tsunami saat ini merupakan momok bagi masyarakat Indonesia. Daerah – daerah di sepanjang pesisir pantai Indonesia merupakan daerah dengan potensi bencana yang cukup besar dikarenakan posisi Indonesia berada di beberapa jalur patahan atau tumbukan antara landasan kontinen. Tidak terkecuali dengan pesisir Pangandaran yang telah terlanda bencana tsunami sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 400 tahun terakhir. Untuk itu diperlukan usaha – usaha mitigasi tsunami dengan cara melakukan identifikasi daerah – daerah bahaya bencana tsunami. Daerah bahaya bencana tsunami merupakan interaksi antara variabel potensi bahaya dan tingkat kerentanan terhadap bahaya. Dengan mengidentifikasi daerah bahaya tsunami, diharapkan peluang upaya evakuasi akan semakin besar untuk dilakukan sehingga dapat menekan kerugian yang ditimbulkan oleh tsunami tersebut.
KERANGKA UJI TUNTAS ESG UNTUK ALOKASI MODAL BERKELANJUTAN DALAM MERGER DAN AKUISISI (STUDI KASUS: PT ASTRA INTERNATIONAL TBK)
Mengintegrasikan faktor Environmental, Social, and Governance ke dalam aktivitas merger dan akuisisi korporasi semakin menjadi faktor kunci yang membentuk nilai jangka panjang sebuah transaksi. Namun, banyak konglomerasi Indonesia yang aktif dalam program akuisisi masih bergantung pada alur kerja M&A yang memprioritaskan uji tuntas finansial, perpajakan, dan hukum, sementara penilaian ESG diperlakukan lebih sebagai sebagai pelengkap yang tidak terstruktur. PT Astra International Tbk, sebuah konglomerasi Indonesia yang terdiversifikasi dan beroperasi di tujuh pilar bisnis dan berkomitmen terhadap Astra 2030 Sustainability Aspirations, mencerminkan pola yang sama. Proses yang berjalan saat ini tidak memiliki mekanisme terstruktur untuk memunculkan risiko ESG sebelum penandatanganan Non-Disclosure Agreement, juga tidak memprioritaskan topik ESG secara sistematis selama Detailed Due Diligence, dan juga tidak membawa pengawasan ESG hingga periode integrasi pasca-akuisisi. Karena mekanisme ini tidak ada, perusahaan menjadi rentan pada risiko yang dapat menggagalkan kesepakatan yang sebenarnya dapat diidentifikasi lebih awal dan pada kewajiban pasca-akuisisi yang mengurangi sinergi yang diharapkan akan diperoleh. Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan merancang sebuah Integrated ESG Due Diligence Framework yang menyematkan pertimbangan ESG ke dalam alur kerja alokasi modal Astra. Penelitian ini disusun berdasarkan tiga pertanyaan penelitian yang mencakup pemetaan diagnostik proses yang berjalan, prioritisasi materialitas, dan implementasi kerangka kerja. Siklus Business Process Management digunakan sebagai lensa analitis utama, dan didukung oleh metode Multi-Criteria Decision Making. Studi ini menggunakan pendekatan pengembangan proses kualitatif dan kuantitatif, yang disusun sebagai penyelidikan berbasis kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan beberapa pemimpin fungsional di Astra, dan ini didukung oleh analisis dokumen dan observasi lapangan. Untuk tahap materialitas, digunakan pendekatan analitis empat tahap. Enam puluh topik ESG, yang dikumpulkan dari Standar SASB di tiga belas industri yang relevan dengan Astra dan dari Standar Kinerja IFC, kemudian dikonsolidasikan menjadi tiga belas aspek strategis melalui analisis konten terarah bersama dengan validasi ahli. Aspek-aspek ini selanjutnya divalidasi menggunakan analisis prevalensi lintas sektoral dan dengan menyelaraskannya dengan Aspirasi Keberlanjutan Astra 2030. Analytic Hierarchy Process kemudian diterapkan dengan dua belas responden yang distratifikasi menjadi enam perwakilan internal dan enam pemangku kepentingan eksternal yang berasal dari pemegang saham utama, investor institusional, dan business development subsidiari. Penilaian individu diagregasi menggunakan geometric mean dan divalidasi terhadap ambang batas Consistency Ratio 0,10 sebagaimana direkomendasikan Saaty. Penelitian ini menghasilkan Integrated ESG Due Diligence Framework yang terdiri dari dua lapisan yang saling terkait. Lapisan pertama adalah peta proses M&A yang didesain ulang dan disajikan dalam bentuk diagram swimlane To-Be. Lapisan kedua adalah operational toolkit berupa empat instrumen sekuensial yang beroperasi pada tahap Initiation and Strategy, Detailed Due Diligence, Negotiation, dan Integration pasca-akuisisi. Keempat instrumen ini disusun secara berurutan, sehingga keluaran dari satu instrumen menjadi masukan bagi instrumen berikutnya. Dengan cara ini, wawasan ESG tetap terhubung saat proses berpindah dari satu fase ke fase lainnya. Kerangka kerja ini juga diperkuat oleh matriks RACI yang menetapkan kepemilikan proses diseluruh unit fungsional. Dari sisi metodologis, studi ini menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk memprioritaskan dan memeringkat aspek ESG material yang relevan dengan due diligence M&A di Astra. Dari sisi praktis, kerangka kerja yang di rancang ulang ini ditujukan agar pertimbangan ESG dapat lebih berperan dalam penciptaan nilai pada kegiatan M&A Astra di masa mendatang, sementara struktur analitis empat tahap yang dapat diperluas ke konglomerasi Indonesia lainnya yang menghadapi tantangan serupa.
PERANCANGAN SIMULASI BERBASIS AGEN UNTUK STUDI KOMPARASI ALGORITMA DISPATCHER LIFT PADA GEDUNG BERTINGKAT DENGAN POLA LALU LINTAS DINAMIS
Pesatnya pembangunan gedung bertingkat menuntut sistem transportasi vertikal yang optimal, seperti lift. Evaluasi kinerja lift umumnya menggunakan Discrete Event Simulation (DES), namun pendekatan ini memiliki kekurangan akibat waktu yang diskrit dan faktor spasial yang diabaikan. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengembangkan instrumen simulasi berbasis Agent-Based Modeling (ABM) yang memodelkan penumpang dan lift sebagai agen otonom. Instrumen ini dirancang untuk mengintegrasikan Lift Performance Metrics (LPM) dan Quality of Service (QoS) dengan estimasi konsumsi energi listrik. Hasil pengujian komparasi pada arsitektur skala 15 lantai menunjukkan bahwa nilai-nilai metrik yang dihasilkan oleh DES terlalu ideal, sehingga dapat membuat rancangan sistem lift tidak sesuai. Hal ini diperkuat dengan hasil Average Waiting Time (AWT) dan Round Trip Time (RTT) pada ABM, yang membesar akibat hambatan spasial hingga 62,12% dan 200,73% masing-masing. Lingkungan ABM lalu difungsikan untuk membandingkan kinerja sistem Konvensional (KON) dan Destination Dispatch System (DDS) pada empat skenario puncak lalu lintas untuk arsitektur 15, 25, dan 35 lantai. Hasil komparasi menunjukkan bahwa efisiensi algoritma sangat sensitif terhadap elevasi bangunan dan tata letak fasilitas. Sistem DDS mengungguli KON pada skenario pagi hari dengan menekan AWT sebesar 78,26% di gedung 15 lantai. Pada skala menengah 25 lantai pada lalu lintas dua arah, algoritma KON yang lebih adaptif dan fleksibel dapat melayani penumpang 35,24% lebih cepat. Pada skenario bangunan 35 lantai, DDS menunjukkan keunggulan signifikan hingga 72,39% dari KON pada skenario malam hari. Pengelompokan destinasi DDS di tingkat tinggi juga menghemat energi listrik hingga 180 kWh dalam sehari. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan DDS merupakan solusi teknis yang optimal untuk bangunan skala tinggi. Kata
PERANCANGAN KAWASAN AGROFORESTRI DENGAN PENDEKATAN BIODIVERSITY SENSITIVE URBAN DESIGN DI DESA CIJAMBU
Desa Cijambu memiliki karakteristik fisik dan lingkungan serta biodiversitas yang kaya. Sayangnya, hal ini tidak menjadi pendorong kesejahteraan masyarakat. Desa Cijambu memiliki kesejahteraan yang buruk dengan tingkat kemiskinan ekstrim yang tinggi. Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mempertimbangkan potensi karakteristik ekologis alam di Desa Cijambu adalah pengembangan agroforestri. Tujuan tugas akhir ini adalah untuk merancang kawasan agroforestri dengan menerapkan pendekatan Biodiversity Sensitive Urban Design (BSUD) di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Biodiversity Sensitive Urban Design (BSUD) dipilih karena menawarkan solusi pembangunan yang meminimalkan dampak negatif lingkungan terutama terhadap biodiversitas alami kawasan dan dapat meningkatkan kualitas ekologis kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, wawancara mendalam dengan stakeholder Pemerintah Desa Cijambu, Focus Group Discussion dengan masyarakat, Pemerintah Desa Cijambu, dan dinas terkait. Selain itu, data sekunder juga digunakan untuk data penunjang. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk memberikan gambaran kualitas kondisi fisik dan lingkungan serta biodiversitas eksisting di Desa Cijambu. Selain itu, untuk menghasilkan hasil perancangan kawasan, digunakan metode perancangan fragmetal. Metode ini dilakukan dalam penentuan prinsip dan kriteria BSUD yang sesuai dengan kondisi biodiversitas Desa Cijambu. Hasil penelitian ini adalah sebuah masterplan yang dapat menjadi rujukan dalam pembangunan kawasan agroforestri Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan pembangunan yang tidak hanya meminimalkan dampak negatif, tetapi juga berdampak positif terhadap biodiversitas dan ekologis Desa Cijambu yang dapat menjadi potensi daya tarik tersendiri. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi rujukan penelitian dengan konsep Biodiversitas Sensitive Urban Design (BSUD) di wilayah studi lain.
PERAN DIGITALISASI TERHADAP PENINGKATAN DAYA SAING DAN KEBERLANJUTAN EKONOMI KREATIF DI SENTRA RAJUT BINONG JATI, KWK BINONG, KOTA BANDUNG
Ekonomi kreatif sentra industri kriya tradisional di Indonesia menghadapi penurunan struktural pasca masa kejayaan dan disrupsi era digital, namun tingkat adopsi digitalnya belum banyak dikaji secara empiris. Sentra Rajut Binong Jati di Kota Bandung yang menyusut dari 600-700 industri kecil aktif (1997-1998) menjadi 288 unit (2025) menjadi kasus strategis untuk mengkaji peran digitalisasi terhadap peningkatan daya saing dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat adopsi digitalisasi, mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambatnya, serta peran digitalisasi terhadap daya saing dan keberlanjutan ekonomi kreatif sentra. Pendekatan mixed-methods digunakan melalui kuesioner Skala Likert terhadap 110 pelaku usaha yang dianalisis dengan skoring indeks adopsi, statistik deskriptif, SWOT, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, serta wawancara mendalam dua narasumber kunci yang dikaji secara deskriptif kualitatif dan ditriangulasi dokumen kebijakan. Tingkat adopsi digitalisasi berada pada kategori Sedang (composite mean 3,09), mengindikasikan pelaku usaha berada pada fase transisi dengan kekuatan pada pemasaran digital dan kelemahan pada manajemen operasional digital. Faktor pendorong utama ialah tolerance dan tekanan pasar, sementara kebijakan menjadi penghambat utama akibat gap implementasi regulasi. Digitalisasi berkontribusi signifikan terhadap daya saing dengan menjelaskan 59,67% variasinya (R²=0,597) dan peningkatan merata pada dimensi Competitive Advantage, serta terhadap keberlanjutan dengan menjelaskan 57,48% variasinya (R²=0,575). Profil Triple Bottom Line menempatkan dampak sosial (People) lebih tinggi daripada dampak ekonomi langsung (Profit), menyiratkan digitalisasi sentra kriya tradisional lebih merupakan fenomena sosialbudaya daripada sekadar fenomena ekonomi. Kontribusi penelitian terletak pada konfirmasi Kerangka 3T Florida yang dirujuk dalam Perda Kota Bandung No. 1 Tahun 2021 menunjukkan pola Tolerance > Technology > Talent pada usaha kriya, bukan pola seragam sebagaimana diasumsikan literatur sebelumnya.
ANALISIS EKSPERIMENTAL POTENSI PANAS PANEL SURYA SEBAGAI SUMBER TERMAL SISTEM PENDINGINAN ABSORPSI DI KOTA BANDUNG
Modul fotovoltaik hanya mengonversi sebagian kecil radiasi matahari menjadi listrik, sementara sebagian besar terdisipasi menjadi panas yang menurunkan efisiensi panel. Panas terbuang ini berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi termal, baik untuk menggerakkan sistem pendinginan berbasis penyerapan maupun untuk keperluan termal lain seperti pemanasan air domestik, preheating, dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi temperatur aktual panel surya secara eksperimental dan mengevaluasi potensi panasnya sebagai sumber termal untuk sistem pendinginan maupun pemanfaatan termal lainnya di iklim tropis Kota Bandung. Pengukuran temperatur dilakukan secara kontinu selama tujuh hari pada instalasi PLTS Laboratorium Manajemen Energi Institut Teknologi Bandung menggunakan tujuh sensor termokopel tipe-K dengan modul MAX6675 dan sistem akuisisi data berbasis ESP32, pada interval satu menit. Data intensitas radiasi matahari, temperatur ambien, dan kecepatan angin diperoleh dari dataset reanalisis ERA5-Land. Potensi panas dihitung melalui pendekatan neraca energi serta analisis perpindahan panas konveksi dan radiasi. Hasil pengukuran menunjukkan temperatur panel rata-rata siang 40,7 °???? dengan puncak lokal mencapai sekitar 73,5 °???? pada titik terpanas. Intensitas radiasi merupakan penggerak termal dominan (r = 0,68). Total potensi panas selama enam hari pengukuran mencapai sekitar 855 kWh, atau sekitar 19 kali energi listrik yang dihasilkan. Sebaran temperatur panel memenuhi kebutuhan termal berbagai aplikasi suhu rendah mencakup preheating, pendinginan adsorpsi, dan absorpsi suhu rendah, sementara kebutuhan sistem absorpsi konvensional (? 70 °????) hanya tercapai secara sporadis pada titik-titik terpanas. Penentuan teknologi pemanfaatan termal yang paling sesuai menjadi arah penelitian lanjutan.
VALIDASI EKSPERIMENTAL PERILAKU KONSOLIDASI KO TANAH TAKJENUH TERHADAP MODEL PERMUKAAN KONSTITUTIF MENGGUNAKAN APPARATUS KHUSUS PADA BERBAGAI TINGKAT ISAPAN MATRIC
Penelitian ini memvalidasi Model Permukaan Konstitutif pada clay shale Cisomang terkompaksi menggunakan apparatus konsolidasi ????0 khusus. Inovasi prosedur suction-assisted saturation berhasil meningkatkan efisiensi persiapan sampel sebesar 45%, memangkas durasi dari 25 menjadi 14 hari. Pengujian dilakukan pada rentang isapan matric 15 hingga 90 kPa serta kondisi jenuh sebagai basis validasi. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa peningkatan isapan matric memperluas zona elastis dengan menaikkan tegangan yield (?????????) hingga mencapai 500 kPa pada isapan 90 kPa. Pada fase Normally Consolidated (NC), ditemukan tren penurunan indeks kompresi (????????) seiring meningkatnya isapan matric akibat penguatan matriks tanah oleh tegangan kapiler. Simulasi penurunan (settlement) stratigrafi campuran sedalam 10 meter menunjukkan bahwa pengabaian parameter takjenuh mengakibatkan underestimated settlement sebesar 185.48 mm (76% lebih rendah dari prediksi komprehensif sebesar 245.5 mm). Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi parameter takjenuh krusial untuk menjamin keamanan desain infrastruktur pada formasi clay shale.
OPTIMASI CAKUPAN RECEIVER MINI ADS-B UNTUK LAYANAN SURVEILLANCE KETINGGIAN DI BAWAH FL245 DI WILAYAH PAPUA MENGGUNAKAN METODE CASCADING GREEDY SET COVER
Abstrak bisa dilihat di filenya