📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

FAKTOR DETERMINAN PERUBAHAN SURFACE URBAN HEAT ISLAND INTENSITY EKSTREM SIANG-MALAM SEBAGAI DASAR EVALUASI KETENTUAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG RDTR JAKARTA

Perkembangan wilayah perkotaan secara masif pada dasarnya telah mengubah lanskap alam sehingga kota menciptakan kondisi iklimnya sendiri (urban climate). Kondisi ini memicu fenomena Surface Urban Heat Island (SUHI) yang menyebabkan peningkatan suhu di wilayah perkotaan dan dapat diperparah oleh kejadian Local Extreme Heat (LEH). Selama ini, sebagian besar upaya mitigasi suhu ekstrem dalam perencanaan tata ruang di Indonesia masih menerapkan pendekatan yang seragam, tanpa mempertimbangkan dinamika karakteristik iklim mikro yang sangat berbeda antara kondisi siang dan malam hari. Secara umum, tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor determinan perubahan Surface Urban Heat Island Intensity (SUHII) siang dan malam hari pada kondisi LEH di Kota Jakarta menggunakan machine learning, serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap ketentuan intensitas Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan spasial eksplanatori. Pengumpulan data dilakukan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis Google Earth Engine dengan resolusi grid berukuran 1 km². Pemisahan kawasan perkotaan dan perdesaan sebagai dasar nilai referensi suhu menggunakan sistem klasifikasi Local Climate Zone (LCZ). Analisis faktor determinan dilakukan menggunakan algoritma machine learning Random Forest untuk melihat tingkat kontribusi variabel secara global untuk seluruh wilayah studi, yang kemudian dipadukan dengan metode SHapley Additive exPlanations (SHAP) untuk mengukur arah kontribusi variabel secara lokal di setiap luasan grid. Melalui grafik SHAP dependence plot, nilai ambang batas empiris (threshold) dari variabel morfologi perkotaan dapat ditentukan dan dibandingkan dengan aturan zonasi RDTR. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan perbedaan pola distribusi kerentanan spasial yang saling bertolak belakang. Pada kondisi siang hari, lonjakan panas ekstrem cenderung menyebar secara sporadis di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan sebagian Jakarta Barat. Sebaliknya pada malam hari, pusat lonjakan pemanasan bergerak secara intensif mengelompok di kawasan pesisir (Jakarta Utara) dan menjalar hingga ke pusat kota, sementara kawasan selatan justru menunjukkan peredaman suhu. Hal ini menunjukkan bahwa kerentanan suhu suatu wilayah dapatvi berbeda tergantung waktu kejadiannya. Faktor determinan tingkat global yang paling besar pengaruhnya pada kondisi siang hari yaitu elevasi sebesar 17,60% dan kecepatan angin sebesar 16,63%. Pada kondisi malam hari, pendorong utamanya beralih menjadi curah hujan (20,98%), radiasi matahari (11,54%), dan aktivitas ekonomi melalui proksi cahaya malam (6,79%). Dari seluruh variabel yang diuji, variabel Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan rasio lahan berpori (sebagai proksi Koefisien Dasar Hijau atau KDH) terbukti memberikan arah pengaruh yang paling linier dan konsisten. Berdasarkan hasil ekstraksi model, batas toleransi maksimal KDB agar tidak memicu panas ekstrem berada pada rentang 37,38% hingga 39,35%, sedangkan batas minimal KDH yang diperlukan untuk menstabilkan suhu berada pada rentang 12,8% hingga 23,5% untuk berbagai kelas LCZ. Hasil evaluasi terhadap dokumen RDTR menemukan ketidaksesuaian yang sangat krusial. Mayoritas aturan batas maksimal KDB pada RDTR terbukti melampaui batas toleransi aman dari daya dukung lingkungan hasil pemodelan. Di saat bersamaan, target kewajiban penyediaan KDH minimal pada RDTR berada jauh di bawah standar kebutuhan pendinginan kawasan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa apabila pembangunan dimaksimalkan menyentuh kelonggaran aturan RDTR saat ini, lingkungan perkotaan akan mengalami peningkatan suhu ketika terjadi kejadian panas ekstrem. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peninjauan kembali terhadap peraturan zonasi pada RDTR agar kedepannya bisa berbasis tipologi iklim lokal sehingga kota menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman kondisi panas ekstrem.

2026
👤 Penulis: Fajar Nur Adnan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS AKSESIBILITAS KEGIATAN PERKOTAAN DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN TRADE-OFF WAKTU DAN BIAYA TRANSPORTASI RIDE-HAILING DAN TRANSIT

Kota Bandung merupakan kota inti di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang memiliki konsentrasi kegiatan perkotaan tinggi, tekanan mobilitas besar, serta persoalan kemacetan yang memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas perkotaan. Di sisi lain, layanan ride-hailing berkembang sebagai alternatif mobilitas yang fleksibel karena mampu melayani perjalanan secara point-to-point tanpa bergantung pada rute dan halte tetap. Namun, fleksibilitas tersebut diikuti oleh konsekuensi biaya yang lebih tinggi dibandingkan transit. Oleh karena itu, aksesibilitas kegiatan perkotaan tidak cukup dianalisis hanya berdasarkan waktu tempuh, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya perjalanan sebagai hambatan akses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung berdasarkan trade-off antara waktu tempuh dan biaya perjalanan pada moda ride-hailing dan transit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan metode accessibility-based planning. Unit analisis yang digunakan adalah grid heksagonal H3 resolusi 9 yang mencakup wilayah Kota Bandung. Opportunity kegiatan perkotaan direpresentasikan melalui Point of interest yang diklasifikasikan dan diagregasikan ke dalam setiap grid. Moda transit dalam penelitian ini dibatasi pada layanan TMP, TMB, dan DAMRI, sedangkan ride-hailing dimodelkan sebagai layanan sepeda motor berbasis aplikasi dengan estimasi biaya mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022 untuk Zona I. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis trade-off waktu-biaya menggunakan distribusi perjalanan dan Pareto Surface, analisis ketercapaian opportunity berdasarkan skenario waktu-biaya, serta analisis ketimpangan spasial antar moda menggunakan Modal Accessibility Gap dan tipologi ketimpangan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ride-hailing memiliki waktu tempuh yang lebih rendah dibandingkan transit. Rata-rata waktu tempuh ride-hailing adalah 31iv menit dengan median 32 menit, sedangkan transit memiliki rata-rata waktu tempuh 60 menit dengan median 64 menit. Namun, keunggulan waktu ride-hailing diikuti oleh biaya yang jauh lebih tinggi. Biaya transit dalam model bersifat tetap sebesar Rp9.000, sedangkan rata-rata biaya ride-hailing mencapai Rp38.493. Hasil Pareto Surface menunjukkan bahwa transit lebih dipengaruhi oleh batas waktu, sedangkan ride-hailing lebih responsif terhadap kombinasi batas waktu dan biaya. Pada skenario perjalanan menengah, yaitu 60 menit dan Rp40.000, aksesibilitas transit mencapai 12,30%, sedangkan ride-hailing mencapai 38,25%. Pada skenario perjalanan jauh dalam batas maksimum analisis, yaitu 90 menit dan Rp60.000, aksesibilitas transit meningkat menjadi 26,29%, sedangkan ride-hailing mencapai 68,23%. Secara spasial, ketercapaian opportunity tertinggi terkonsentrasi di kawasan pusat dan barat-tengah Kota Bandung, seperti Bandung Wetan, Sumur Bandung, Coblong, Sukajadi, Lengkong, dan Cibeunying Kaler. Sebaliknya, wilayah timur dan tenggara seperti Cibiru, Ujungberung, Panyileukan, Cinambo, Gedebage, Rancasari, dan Arcamanik menunjukkan ketercapaian opportunity yang rendah pada kedua moda. Analisis keterjangkauan berbasis UMK menunjukkan bahwa transit lebih terjangkau secara biaya karena seluruh perjalanan berada di bawah threshold 10% UMK, sedangkan ride-hailing baru menjadi lebih terjangkau pada threshold 30% hingga 40% UMK. Analisis Modal Accessibility Gap menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Bandung memiliki nilai positif, yang berarti aksesibilitas ride-hailing lebih tinggi dibandingkan transit. Namun, tipologi ketimpangan menunjukkan bahwa dominasi ride-hailing tidak selalu berarti aksesibilitas absolut yang tinggi, karena beberapa wilayah pinggiran tetap masuk kategori aksesibilitas rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung dibentuk oleh interaksi antara distribusi opportunity, struktur jaringan transit, fleksibilitas ride-hailing, waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kemampuan membayar. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan analisis aksesibilitas berbasis opportunity yang secara simultan mempertimbangkan waktu dan biaya perjalanan dalam membandingkan ride-hailing dan transit. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi perencanaan transportasi yang lebih berorientasi pada aksesibilitas, keterjangkauan, dan pengurangan ketimpangan spasial.

2026
👤 Penulis: Andre Otniel Panggabean
🏷️ Mobilitas Kota Bandung 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

DESIGN OF POWER EXTRACTION SYSTEM FOR EXTRACTIONG GEOTHERMAL POWER FROM ABANDONED OIL WELL

Energi panas bumi merupakan sumber energi terbarukan yang andal dan beremisi rendah, tetapi pengembangannya sering terkendala oleh tingginya biaya investasi awal, terutama untuk pengeboran sumur baru. Penelitian ini mengevaluasi kelayakan teknis dan ekonomi pemanfaatan kembali sumur minyak terlantar di Indonesia sebagai sumber panas bumi untuk pembangkitan listrik menggunakan sistem Siklus Rankine Organik tertutup. Kondisi reservoir diperkirakan berdasarkan gradien panas bumi regional dan perhitungan tekanan hidrostatik, yang menunjukkan bahwa temperatur fluida panas bumi sekitar 125 °C pada kedalaman 3 km dapat dicapai dengan tetap mempertahankan operasi fluida satu fasa cair. Sistem disimulasikan pada kondisi tunak menggunakan Aspen HYSYS dengan R245fa sebagai fluida kerja. Validasi model dilakukan dengan mereplikasi pembangkit listrik panas bumi biner Chena Hot Springs, dengan deviasi tertinggi terhadap data pembangkit yang dipublikasikan sebesar 3,52%, sehingga menunjukkan tingkat akurasi simulasi yang dapat diterima. Desain yang diusulkan menghasilkan daya bersih sebesar 54,5 kW per sumur, atau sekitar 436 kW untuk konfigurasi delapan sumur, dengan produksi listrik tahunan sebesar 3,44 GWh. Evaluasi ekonomi menunjukkan total biaya investasi sekitar USD 1,50 juta atau Rp25,05 miliar, dengan LCOE sebesar Rp925/kWh, lebih rendah daripada tarif PLN sebesar Rp1.114,74/kWh. Proyek ini juga menghasilkan NPV positif sebesar Rp6,42 miliar, IRR sebesar 11,4%, dan EROI sebesar 12,15, sehingga mengonfirmasi kelayakan teknis dan kelayakan ekonominya.

2026
👤 Penulis: Fatah Banyunuki Raziqin
🏷️ Geotermal 🏷️ Desain Sistem Produksi Listrik 🏷️ Analisis Ekonomi Pembangkit Panas Bumi

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL DALAM UPAYA MEMPERKENALKAN RISOGRAPH SEBAGAI TEKNIK CETAK RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MAHASISWA DKV DI KOTA BANDUNG

Risograph merupakan teknik cetak yang dikenal lebih ramah lingkungan dibandingkan metode cetak konvensional karena menggunakan tinta berbahan dasar minyak kedelai dan memiliki konsumsi energi yang relatif rendah. Namun, tingkat pengetahuan mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Kota Bandung terhadap teknik ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan merancang kampanye sosial untuk memperkenalkan risograph sebagai alternatif teknik cetak yang lebih berkelanjutan bagi mahasiswa DKV. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi nonpartisipatif, kuesioner, dan wawancara dengan target audiens serta praktisi kampanye. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil analisis menjadi dasar penyusunan creative brief dan panduan visual kampanye. Berdasarkan creative brief tersebut, dirancang konsep kreatif, visual, dan media kampanye yang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, ketertarikan, serta kesadaran mahasiswa DKV terhadap risograph sebagai teknik cetak yang lebih ramah lingkungan.

2026
👤 Penulis: Heni Yunar Larasati
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Kampanye Sosial 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN PEMBARUAN IDENTITAS KOTA DEPOK MELALUI CITY REBRANDING DALAM UPAYA PENGUATAN CITRA KOTA

Konsep city branding merupakan instrumen penting dalam pengelolaan kota. Kota Depok, melalui peluncuran brand "Depok Friendly City" pada tahun 2016, berupaya membangun citra kota yang ramah dan inklusif. Namun, penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan merek (brand gap) yang signifikan antara narasi resmi kota dengan citra aktual yang berkembang di masyarakat, di mana Depok justru sering diasosiasikan dengan karakter yang tidak selaras dengan nilai keramahan, bahkan memunculkan label "kota paling absurd" di ruang publik. Kesenjangan ini diperburuk oleh ketiadaan sistem identitas visual yang kuat, konsisten, dan terintegrasi untuk mendukung slogan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi aktual identitas dan citra Kota Depok melalui brand audit berbasis komunikasi visual, merumuskan strategi city rebranding dari hasil analisis kesenjangan, dan mengembangkan sistem identitas visual beserta pedoman implementasinya. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan kerangka Anholt City Brand Hexagon sebagai dasar analisis dan metodologi Double Diamond sebagai kerangka perancangan, didukung survei terhadap 236 responden serta wawancara dengan 9 narasumber. Hasil perancangan berupa sistem identitas visual "depOK", berakar pada etimologi padepokan dan warisan kota pendidikan, mencakup logotype, tipografi khusus (Depok Sans), serta palet warna yang merepresentasikan sebelas kecamatan, dituangkan dalam buku pedoman merek (brand guideline book). Sistem ini diharapkan menjadi kontribusi konseptual bagi pengelolaan komunikasi visual city branding Kota Depok yang lebih konsisten dan relevan, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan (sense of belonging) warga.

2026
👤 Penulis: Muhammad Azka Arkananta
🏷️ City Branding 🏷️ Manajemen Citra Kebangsaan Kota 🏷️ Komunikasi Visual

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL TENTANG PENGELOLAAN KECEMASAN AKIBAT PERBANDINGAN DIRI (SELF-COMPARISON) PADA REMAJA USIA PERTENGAHAN DI WILAYAH URBAN INDONESIA

Masa remaja merupakan periode transisi krusial dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik, kognitif, emosional, dan sosial yang signifikan. Pada fase remaja pertengahan (usia 15–18 tahun), individu mulai mampu berpikir abstrak dan reflektif, namun masih menghadapi berbagai tantangan perkembangan, seperti pencarian identitas diri, tekanan sosial, serta konflik interpersonal. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan perasaan kesepian. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik kehidupan masyarakat urban yang serba cepat (fast-paced) serta tingginya paparan media digital, yang berpotensi meningkatkan tekanan psikologis pada remaja. Penelitian ini dilakukan untuk merancang sebuah kampanye sosial yang berfokus pada pengelolaan kecemasan remaja usia pertengahan di masyarakat urban melalui penerapan teknik grounding 5-4-3-2-1 sebagai bentuk intervensi preventif nonklinis. Metode perancangan yang digunakan mengacu pada pendekatan desain komunikasi visual dengan mengintegrasikan teori perkembangan remaja, konsep kecemasan, serta strategi kampanye sosial. Kampanye dirancang menggunakan media online dan offline, meliputi konten media sosial (Instagram, Tiktok, dan Whatsapp), KOL, situs web, pameran interaktif, animatik, buku jurnal, stiker, dan poster interaktif. Hasil perancangan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya kesehatan mental, memberikan pemahaman tentang mengelola kecemasan sebagai kondisi yang wajar dalam fase perkembangan, serta membekali remaja dengan keterampilan praktis dalam mengelola kecemasan secara mandiri melalui teknik grounding. Kampanye ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya preventif dalam mendukung kesejahteraan psikologis remaja urban secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Siti Rohimah
🏷️ Psikologi Remaja 🏷️ Kampanye Sosial 🏷️ Grounding Teknik

PERANCANGAN SISTEM GRAFIS DAN SPASIAL INSTALASI PENERJEMAHAN AROMA PARFUM BERBASIS TEORI CROSS-MODAL CORRESPONDENCES SEBAGAI BRAND ACTIVATION EARTHORA

Generasi Z pada era digital memiliki pola konsumsi yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media daring, sehingga proses interaksi terhadap produk semakin didominasi oleh pengalaman visual pasif, terutama pada produk berbasis sensori seperti parfum. Kondisi ini menimbulkan tantangan signifikan bagi industri parfum karena hilangnya pengalaman penciuman sebagai elemen utama dalam pengambilan keputusan konsumen pada platform daring. Dengan mengambil studi kasus pada brand Earthora, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem visual dan spasial dalam bentuk instalasi fisik multisensori yang mampu menjembatani kesenjangan antara persepsi maya dan pengalaman aroma secara nyata. Pendekatan yang digunakan adalah cross-modal correspondences, yaitu metode penerjemahan stimulus aroma ke dalam elemen visual, material, cahaya, serta tata ruang, yang dikombinasikan dengan prinsip pemasaran eksperiental dan sensorik. Melalui pendekatan ini, perancangan diharapkan dapat mentransformasi pengalaman konsumen dari sekadar konsumsi pasif menjadi interaksi yang lebih aktif, imersif, dan bermakna. Hasil akhir dari perancangan ini diharapkan mampu menghadirkan representasi fisik yang akurat terhadap narasi aroma Earthora, sehingga pengunjung dapat membangun koneksi emosional yang autentik serta memperoleh pemahaman produk dan identitas brand secara lebih mendalam.

2026
👤 Penulis: Chelsea Andrea Rakian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EKSPERIMEN NARASI VISUAL DALAM PENGALAMAN INTERAKTIF PERFORMA MUSIK MY CHEMICAL ROMANCE MELALUI VIRTUAL REALITY

Menikmati musik merupakan pengalaman yang terus berkembang seiring perubahan format dan medium yang tersedia. Dari rekaman audio hingga pertunjukan langsung, setiap format menawarkan bentuk kedekatan yang berbeda antara audiens dan musik yang mereka apresiasi. Keduanya memiliki keterbatasan mendasar, rekaman kehilangan dimensi kehadiran, sementara konser tidak dapat diakses secara universal. Perancangan ini mengusulkan cara baru dalam menikmati musik melalui pengalaman Virtual Reality (VR) 360° berbasis performa My Chemical Romance (MCR). MCR dipilih karena memiliki identitas visual yang kuat, karakter musikal yang teatrikal, dan narasi konseptual yang distingtif per era album, sehingga berpotensi untuk diterjemahkan ke dalam ruang tiga dimensi yang imersif. Perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond dengan pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara ahli dan penggemar, serta observasi media sejenis dan objek perancangan. Kerangka analisis utama yang digunakan adalah teori Remediasi (Bolter & Grusin, 1999), yang menjelaskan bagaimana VR meremediasi video musik dan pertunjukan live MCR melalui dua logika simultan: immediacy yang menghadirkan rasa kehadiran langsung, dan hypermediacy yang mempertegas sifat ekspresif medium digital. Analisis diperkuat dengan Oniontology of Musical Performance (Mazzola, 2011), teori naratif pertunjukan (Sommer, 2005), dan kerangka IARR (Dasovich-Wilson et al., 2022). Hasil perancangan berupa prototipe VR 360° stereoscopic yang menghadirkan tiga ruang virtual dengan atmosfer emosional, keterlibatan naratif, dan representasi performatif yang tidak dapat dihadirkan oleh medium dua dimensi manapun.

2026
👤 Penulis: Neila Khansa Adila
🏷️ Virtual Reality 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Pertunjukan Musik

PERANCANGAN BUKU EKSPERIMENTAL MAKNA SIMBOLIK ULOS DALAM TRADISI MANGULOSI SEBAGAI MEDIA INFORMASI BUDAYA UNTUK DEWASA MUDA

Ulos merupakan wastra tradisional Suku Batak Toba yang memiliki makna simbolik mendalam dalam tradisi Mangulosi sebagai ritus peralihan. Meskipun tradisi ini masih berlangsung, terdapat kesenjangan pemahaman mengenai makna simbolik Ulos di kalangan dewasa muda Batak urban. Media edukasi budaya yang tersedia cenderung akademis dan konvensional sehingga kurang relevan dengan preferensi generasi kontemporer. Perancangan ini bertujuan mendokumentasikan makna simbolik Ulos yang digunakan dalam Mangulosi, mengembangkan strategi representasi visual eksperimental, serta merancang buku eksperimental sebagai media informasi bagi dewasa muda Batak. Metode Double Diamond digunakan melalui tahap discover (studi literatur dan wawancara), define (analisis data), develop (eksplorasi konsep), dan deliver (prototipe). Pendekatan narasi menggunakan konsep ritus peralihan dalam siklus kehidupan meliputi kehamilan, kelahiran, akil balik, pernikahan, hingga kematian. Buku dirancang dengan pendekatan eksperimental yang menghadirkan visual kontemporer serta mengintegrasikan unsur interaktif bagi dewasa muda. Hasil perancangan diharapkan mampu menjembatani kesenjangan pemahaman generasi dewasa muda terhadap warisan budaya Ulos dan mendorong keberlanjutan pewarisan pengetahuan budaya.

2026
👤 Penulis: Tamara Rachel Pasaribu
🏷️ Kebudayaan Suku Batak Toba 🏷️ Media Edukasi Budaya 🏷️ Analisis Makna Simbolik

ESTIMATION OF JOINT ANGLES OF THE UPPER EXTREMITY USING MACHINE LEARNING AND EMG SIGNALS

Musculoskeletal disorders are among the leading causes of disability worldwide and often affect the functionality of the upper extremity. Monitoring joint angles is important for understanding human movement, rehabilitation, and biomechanical analysis. Conventional measurement methods such as optical motion capture systems provide accurate results but require expensive equipment and controlled laboratory environments. Surface electromyography (sEMG) offers a more accessible alternative because muscle activation signals contain information related to joint movement. Therefore, this study aims to estimate the joint angles of the upper extremity using sEMG signals combined with machine learning techniques. The research methodology involves collecting sEMG and motion capture data from approximately ten participants performing several upper extremity movements, including elbow flexion–extension, shoulder flexion–extension, shoulder hyperextension, and composite movements. sEMG signals are processed through filtering, rectification, and envelope extraction, while joint angle data are obtained from optical motion capture recordings processed using OpenSim inverse kinematics. The processed data are then used to train a Long Short- Term Memory (LSTM) machine learning model to learn the relationship between muscle activation patterns and joint angles. The results show that the machine learning model can estimate upper extremity joint angles from sEMG signals, particularly when the predicted joint is actively involved in the movement. Composite movements produce better prediction performance due to stronger and more consistent muscle activation patterns. However, the model performance decreases when predicting joints not directly involved in the movement and when tested on participants outside the training dataset. These findings indicate that sEMG-based joint angle estimation using machine learning is feasible but requires further improvements in data diversity and model generalization.

2026
👤 Penulis: Salomo Romulus C.Sihombing
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Eksperimental 🏷️ Hidrologi

PENGARUH KOMBINASI PERLAKUAN OZONASI DAN ENZIM LAKASE KASAR MARASMIELLUS PALMIVORUS TERHADAP DEKOLORISASI DAN DETOKSIFIKASI PEWARNA SINTETIK ANTRAKUINON REMAZOL BLUE RSP

Pencemaran limbah pewarna sintetik dari industri tekstil menjadi permasalahan yang serius akibat tingginya stabilitas pewarna serta potensi toksisitasnya. Pewarna sintetik antrakuinon seperti Remazol Blue RSP (RB RSP) banyak digunakan dalam industri tekstil dan dikenal memiliki struktur aromatik kompleks yang menyebabkan resistensi terhadap degradasi. Resistensi ini berpotensi menyebabkan penumpukan senyawa pada lingkungan dan bersifat toksik bagi makhluk hidup. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan metode pengolahan limbah pewarna. Metode fisik paling umum digunakan namun memerlukan pengolahan lanjutan yang memakan biaya. Metode kimia menghasilkan efektivitas dekolorisasi yang tinggi, namun memiliki risiko memproduksi senyawa antara yang toksik. Metode biologis dinilai ramah lingkungan, namun efektivitasnya sangat bergantung terhadap struktur substrat serta kondisi reaksi. Ozonasi sebagai bagian dari metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) efektif dalam mendekolorisasi pewarna dengan mendegradasi gugus kromofor, namun menyisakan toksisitas yang tinggi karena mineralisasi yang tidak tuntas. Di sisi lain, penggunaan enzim lakase dapat mendegradasi senyawa aromatik namun efektivitasnya terbatas akibat kondisi reaksi yang tidak optimum. Keterbatasan dari tiap metode mendorong pengembangan metode kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar dari Marasmiellus palmivorus dalam meningkatkan dekolorisasi serta menurunkan toksisitas pewarna antrakuinon RB RSP. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan tiga metode pengolahan, yaitu ozonasi, enzimatik, dan kombinasi keduanya. Parameter yang dianalisis meliputi persentase dekolorisasi berdasarkan perubahan absorbansi, serta tingkat toksisitas menggunakan uji LC?? terhadap Daphnia magna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kombinasi menghasilkan dekolorisasi tertinggi sebesar 98,8% ± 2,4, meskipun secara statistik tidak berbeda signifikan dengan ozonasi tunggal (96,4% ± 5,4), sedangkan metode enzimatik hanya mencapai 22,6% ± 0,5. Namun, hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa metode kombinasi memberikan peningkatan detoksifikasi yang lebih baik dibandingkan metode tunggal, ditunjukkan oleh peningkatan nilai LC?? yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ozonasi efektif dalam memutus gugus kromofor (penghilangan warna), peran enzim lakase sangat krusial dalam mendegradasi senyawa antara (intermediate) yang masih bersifat toksik. Maka dari itu kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar berpotensi menjadi strategi pengolahan limbah pewarna yang lebih efektif, tidak hanya dalam mencapai dekolorisasi yang tinggi tetapi juga dalam memastikan detoksifikasi limbah secara lebih menyeluruh.

2026
👤 Penulis: Kamilah Rihhadatul Aisy Herman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DESAIN STONE COLUMN SEBAGAI METODE PERBAIKAN TANAH DASAR TIMBUNAN JALAN TOL (STUDI KASUS: PROYEK JALAN TOL TRANS-JAWA, STA 4+800–5+115)

Proyek Jalan Tol Trans-Jawa STA 4+800–5+115 berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu wilayah dengan aktivitas seismik relatif tinggi. Tanah dasar pada lokasi tinjauan didominasi oleh pasir berlanau (silty sand), lanau (silt), dan pasir bersih (clean sand) dengan muka air tanah pada kedalaman 1,00 m sampai 8,00 m. Kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap likuefaksi, penurunan tanah, dan ketidakstabilan lereng timbunan. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tanah, mengevaluasi kondisi praperbaikan, dan merancang stone column sebagai metode perbaikan tanah dasar timbunan. Evaluasi likuefaksi dilakukan dengan metode NCEER berbasis data N-SPT, sedangkan evaluasi penurunan tanah dan stabilitas lereng dilakukan menggunakan GeoStudio. Hasil evaluasi praperbaikan menunjukkan bahwa seluruh zona borehole berpotensi mengalami likuefaksi dengan faktor keamanan minimum 0,19 sampai 0,40. Penurunan tanah kondisi eksisting berada pada rentang 46,95 mm sampai 152,78 mm, sedangkan stabilitas lereng belum memenuhi kriteria pada kondisi pseudo-statik. Desain akhir perbaikan tanah menggunakan stone column berdiameter 1,00 m, spasi 1,60 m, kedalaman 20,00 m, dan pola pemasangan segitiga berdasarkan metode densifikasi Baez (1995). Setelah perbaikan, faktor keamanan terhadap likuefaksi meningkat menjadi 4,15 sampai 6,82, penurunan tanah berkurang menjadi 25,68 mm sampai 83,72 mm, serta faktor keamanan lereng meningkat menjadi 1,91 sampai 2,41 pada kondisi statik dan 1,10 sampai 1,13 pada kondisi pseudo-statik. Dengan demikian, desain stone column yang digunakan dinilai mampu memitigasi potensi likuefaksi, mengurangi penurunan tanah, dan meningkatkan stabilitas lereng hingga memenuhi kriteria desain.

2026
👤 Penulis: Muhammad Duta Pahlevi
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Jalan Tol 🏷️ Analisis Likuefaksi

PENILAIAN KUALITAS VEGETASI RIPARIAN MENGGUNAKAN INTEGRASI INDEKS QBR DAN ANALISIS SPASIAL SUNGAI CIKERUH KABUPATEN SUMEDANG DAN BANDUNG, JAWA BARAT

Kabupaten Bandung telah beberapa kali terjadi bencana banjir, yang disebabkan sungai sudah tidak mampu menampung air yang datang. Kondisi ini mendorong untuk melihat kondisi ekologi di area Sungai Cikeruh. Sungai Cikeruh mengalir di dua daerah yaitu Kabupaten Bandung dan Sumedang, yang berperan dalam mendukung fungsi ekologi dan hidrologinya. Tujuan penelitian untuk menilai kualitas vegetasi riparian Sungai Cikeruh berdasarkan indeks QBR (Qualitat del Bosc de Ribera) dengan indikator total cover, cover structure, cover quality vegetasi dan channel alteration pada zona riparian. Penilaian dilakukan dengan mengobservasi zona riparian Sungai Cikeruh. Metode QBR-GIS digunakan dengan menggunakan parameter penginderaan jauh Normalized Difference Vegetation Index, Soil Adjusted Vegetation Index, Canopy Height Model, slope, dan Normalized Difference Built-up Index. Pemilihan lokasi dilakukan menggunakan metode stratified random sampling untuk menggambarkan variasi kondisi lingkungan sepanjang aliran sungai. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kondisi kualitas vegetasi riparian yang jelas antara bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Cikeruh, baik berdasarkan analisis lapangan maupun spasial. Pada bagian hulu nilai QBR lapangan sebesar 100, 100, dan 55 yang termasuk dalam kategori natural hingga fair. Pada bagian tengah Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian menunjukkan variasi yang lebih tinggi dengan nilai QBR lapangan sebesar 55 (fair), 75 (good), dan 23.32 (bad). Sementara itu, pada bagian hilir Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian mengalami degradasi yang signifikan dengan nilai QBR lapangan sebesar 30, 35, dan 30 yang seluruhnya berada dalam kategori poor. Secara hidrologi, kondisi ini berdampak pada meningkatnya kekeruhan air, fluktuasi debit yang lebih tinggi, serta peningkatan frekuensi banjir, terutama pada hilir Sungai Cikeruh yang berada pada Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas vegetasi riparian di Sungai Cikeruh mengalami gradasi yang sistematis dari hulu ke hilir sebagai respons terhadap intensitas tekanan antropogenik. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya tekanan aktivitas manusia. Hasil analisis QBR berbasis GIS konsisten dengan data lapangan, menunjukkan bahwa parameter spasial (NDVI, SAVI, CHM, slope, NDBI) efektif dalam merepresentasikan kondisi biotik riparian secara cepat dalam skala luas. Terdapat hubungan yang kuat antara nilai QBR dengan kondisi hidrologi, dimana QBR dengan nilai tinggi memiliki kondisi hidrologi lebih baik, sedangkan QBR dengan nilai rendah memiliki kondisi hidrologi kurang baik.

2026
👤 Penulis: Nada Salma Nabila
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PERANCANGAN WEBTOON MENGENAI SELF ACCEPTANCE MELALUI KISAH TRAUMA BODY SHAMING UNTUK WANITA EMERGING ADULTHOOD

Perancangan ini bertujuan mengembangkan Webtoon yang mengangkat isu self acceptance melalui representasi pengalaman trauma body shaming pada perempuan emerging adulthood. Fenomena body shaming masih menjadi masalah yang berdampak pada citra tubuh, harga diri, dan kesehatan mental perempuan usia 18–25 tahun yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan rentan terhadap tekanan standar kecantikan. Metode penelitian menggunakan metode Double Diamond (Design Council, 2005) meliputi studi pustaka, wawancara dengan psikolog dan kreator Webtoon profesional, serta penyebaran kuesioner kepada perempuan emerging adulthood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body shaming dapat muncul dalam bentuk ejekan maupun sindiran halus yang memengaruhi kepercayaan diri dan penerimaan diri, sementara media sosial berperan dalam memperkuat tekanan terhadap penampilan fisik. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang Webtoon berjudul My Perfect Frame yang terdiri atas empat episode dengan strategi komunikasi Narrative Persuasion melalui pendekatan emosional dan dukungan sosial. Visual Webtoon menggunakan gaya ilustrasi semi-realis dengan penekanan pada ekspresi karakter dan suasana emosional untuk mendukung penyampaian pesan. Setelah dipublikasikan pada platform Webtoon, karya memperoleh tanggapan positif dari pembaca yang menunjukkan relevansi tema dan keterhubungan terhadap pengalaman yang disajikan. Perancangan ini diharapkan menjadi media edukatif yang reflektif dan empatik dalam mendorong penerimaan diri serta meningkatkan kesadaran terhadap dampak body shaming.

2026
👤 Penulis: Fasya Rachmi Diani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERBANDINGAN STOK KARBON PADA BERBAGAI TUTUPAN LAHAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI MIKROKLIMAT SERTA TOPOGRAFI DI TAMAN BURU MASIGIT KAREUMBI, SUMEDANG, JAWA BARAT

Stok karbon hutan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa vegetasi dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan stok karbon pada berbagai tutupan lahan serta mengkaji hubungan stok karbon dengan faktor mikroklimat dan topografi di Taman Buru Masigit Kareumbi. Penelitian dilakukan pada tiga tipe tutupan lahan, yaitu hutan alam, hutan sekunder, dan zona penyangga (buffer). Variabel mikroklimat yang diamati meliputi suhu udara, intensitas cahaya, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan pH tanah, sedangkan faktor topografi meliputi elevasi dan kemiringan lereng (slope). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stok karbon berbeda nyata antar tutupan lahan (p < 0,05), dengan nilai tertinggi pada hutan sekunder sebesar 400,36 ton/ha, diikuti hutan alam sebesar 268,12 ton/ha, dan zona penyangga (buffer) sebesar 153,64 ton/ha. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa struktur tegakan dan komposisi vegetasi berperan penting dalam menentukan kapasitas penyimpanan karbon. Karakteristik mikroklimat bervariasi antar tutupan lahan, sedangkan variasi topografi relatif kecil. Analisis hubungan menunjukkan bahwa suhu udara memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap stok karbon (r = -0,45; p < 0,05; R² = 0,20), yang menunjukkan bahwa peningkatan suhu cenderung diikuti oleh penurunan stok karbon. Sebaliknya, intensitas cahaya, kelembapan udara, kelembapan tanah, pH tanah, elevasi, dan kemiringan lereng (slope) menunjukkan hubungan yang lemah dan umumnya tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi stok karbon lebih dipengaruhi oleh karakteristik vegetasi dibandingkan faktor mikroklimat dan topografi.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fahmi Pasha
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Hutan 🏷️ Analisis Mikroklimat
Halaman 126 dari 6754
💬