📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI KANTUK PADA PEMBELAJARAN DARING MENGGUNAKAN MEDIAPIPE FACE MESH DENGAN TEMPORAL SMOOTHING
Transisi ke pembelajaran daring sinkronus menimbulkan tantangan bagi pengajar dalam memantau keterlibatan siswa secara real-time, terutama ketika penurunan atensi sulit diamati melalui layar video. Deteksi kantuk dapat digunakan sebagai proksi dari penurunan keterlibatan perilaku siswa, tetapi penerapan sistem deteksi berbasis computer vision pada lingkungan pembelajaran daring perlu mempertimbangkan keterbatasan perangkat klien dan bandwidth jaringan. Penelitian ini merancang sistem deteksi kantuk berbasis web menggunakan MediaPipe Face Mesh, komputasi geometris Eye Aspect Ratio (EAR) dan Mouth Aspect Ratio (MAR), serta Temporal Smoothing berbasis Exponential Moving Average (EMA). Sistem menerapkan arsitektur Server-Side Inference dengan pengambilan sampel 1 Frame Per Second (FPS) untuk mengurangi beban pemrosesan pada perangkat klien. Untuk menjaga keandalan masukan dan privasi siswa, sistem dilengkapi pra-pemrosesan citra sisi-klien (koreksi kecerahan otomatis dan penyaringan blur berbasis Variance of Laplacian), pencatatan bukti peringatan berbasis teks alih-alih citra, serta verifikasi manual opsional oleh guru (human-in-the-loop). Berdasarkan evaluasi menggunakan dataset YawDD, konfigurasi EMA 0,9 menghasilkan kinerja dengan akurasi 96,88% dan False Positive 2,19%. Dari sisi performa sistem, latensi pemrosesan internal tercatat sebesar 240 ms dan sistem mampu beroperasi stabil hingga 50 pengguna konkuren pada lingkungan evaluasi. Pengujian System Usability Scale (SUS) menghasilkan skor 76,75 yang termasuk kategori Acceptable. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem berpotensi mendukung pemantauan indikasi penurunan keterlibatan perilaku siswa dalam pembelajaran daring.
ANALISIS PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN TERHADAP IMPLEMENTASI NILAI EKONOMI KARBON BIRU BERBASIS SILVOFISHERY DI DESA PEGAT BETUMBUK, KECAMATAN PULAU DERAWAN, KABUPATEN BERAU
Nilai Ekonomi Karbon Biru merupakan topik yang sedang berkembang sejak ditetapkan nya peraturan terbaru mengenai Nilai Ekonomi Karbon yakni Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025. Desa Pegat Betumbuk memiliki potensi karbon biru yang cukup besar dengan luasan hutan desa sebesar 11.000 hektar. Namun, hutan mangrove Desa Pegat Betumbuk mengalami degradasi sejak dua puluh tahun ke belakang karena pembukaan lahan untuk kegiatan akuakultur. Untuk menengahi persoalan ini, konsep silvofishery hadir mengintegrasikan tambak dengan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman, perspektif, dan penerimaan masyarakat terhadap implementasi Nilai Ekonomi Karbon Biru di Pegat Betumbuk. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis perspektif lembaga pada tingkat tapak. Metode penelitian ini adalah penelitian campuran (mixed method) dengan pengambilan data kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemahaman masyarakat berada dalam kategori sangat rendah terkait mangrove dan karbon. Temuan lainnya berupa dinamika antaraktor dalam implementasi Nilai Ekonomi Karbon Biru.
ANALISIS TINGKAT INKLUSI SOSIAL SERTA KARAKTERISTIK KELOMPOK MASYARAKAT DALAM LINGKUP TAMBAK DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN BERAU (STUDI KASUS : DESA PEGAT BATUMBUK, SUARAN, DAN TABALAR MUARA)
Inklusi sosial merupakan pilar pembangunan berkelanjutan yang diamanatkan dalam agenda SDGs dan RPJMN 2025-2029, namun penerapannya di sektor budidaya tambak Kawasan Pesisir masih jauh dari merata — kelompok seperti perempuan, pemuda, dan buruh tambak kerap terpinggirkan dari akses program, pengambilan keputusan, dan distribusi manfaat ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat inklusi sosial masyarakat dalam lingkup tambak di Desa Pegat Batumbuk, Suaran, dan Tabalar Muara — tiga desa dengan konsentrasi lahan tambak aktif terbesar di Kabupaten Berau (>11.000 ha). — beserta karakteristik kelompok masyarakatnya. Menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis survei dengan kuesioner Likert 4 poin, data dikumpulkan dari 158 responden yang terbagi dalam kelompok petambak, perempuan, pemuda, dan kelompok rentan melalui stratified random sampling, dianalisis menggunakan kerangka empat dimensi GEDSI — akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat — yang dioperasionalisasikan menjadi 12 indikator terukur ( r > 0,7; ? > 0,8). Hasil pengukuran menunjukkan tingkat inklusi sosial Desa Suaran sebesar 67,04% (sedang), Desa Pegat Batumbuk 63,27% (sedang), dan Desa Tabalar Muara 52,91% (rendah), namun angka agregat tersebut menyimpan ketimpangan yang jauh lebih dalam di tingkat kelompok — kondisi paling kritis ditemukan pada kelompok perempuan di Desa Suaran (36,54%;sangat rendah) dan kelompok rentan di Desa Tabalar Muara (35,26%;sangat rendah). Dimensi partisipasi secara konsisten mencatat nilai terendah di hampir seluruh kelompok dan desa, sementara keterlibatan dalam organisasi kemasyarakatan terbukti berkorelasi positif dengan tingkat inklusi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa ketimpangan inklusi sosial dalam lingkup tambak bersifat kelompok-spesifik dan tidak dapat dibaca semata dari nilai agregat desa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan instrumen pengukuran inklusi sosial berbasis GEDSI yang diadaptasi secara kontekstual untuk komunitas tambak pesisir, sekaligus menjadi landasan bagi Pemerintah Kabupaten Berau dalam merancang kebijakan sektor perikanan yang lebih inklusif dan responsif terhadap gender.
EVALUASI EFEK FITUR HAPTIC FEEDBACK PADA EXERGAMES BERBASIS VIRTUAL REALITY UNTUK ANGGOTA GERAK ATAS
Exergames berbasis virtual reality (VR) telah banyak diadopsi dalam rehabilitasi stroke. Namun, exergames dengan latihan kekuatan berbasis VR serta pengaruh haptic feedback masih jarang diteliti. Studi ini membandingkan aktivitas otot dan persepsi usaha antara latihan kekuatan konvensional menggunakan dumbbell fisik dan latihan exergames berbasis VR, serta mengevaluasi pengaruh tiga jenis tingkat getaran (haptic) terhadap aktivitas otot, persepsi usaha, dan rasa kehadiran. Penelitian ini menggunakan desain within-subject dengan sembilan partisipan perempuan sehat. Setiap partisipan menjalani enam perlakuan, yang terdiri dari: (1) latihan kekuatan konvensional menggunakan dumbbell fisik seberat 1, 2, dan 3 kg, serta (2) latihan exergames berbasis VR dengan tiga level haptic feedback (250 Hz, 240 Hz, 230 Hz). Surface electromyography (sEMG) digunakan untuk menilai aktivitas otot pada lengan dan pergelangan tangan. Persepsi usaha dinilai menggunakan skala Borg CR-10, sedangkan rasa kehadiran diukur menggunakan Barfield presence questionnaire. Data dianalisis menggunakan repeated-measures ANOVA dan uji nonparametrik. Hasil menunjukkan bahwa latihan kekuatan konvensional menghasilkan aktivitas otot dan persepsi usaha yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan latihan exergames berbasis VR pada beban ekuivalen (p ? 0.003). Selisih aktivitas otot latihan exergames berbasis VR dan dumbbell juga cenderung semakin besar pada beban yang lebih tinggi. Pada latihan exergames berbasis VR, peningkatan intensitas getaran (haptic) secara signifikan meningkatkan aktivitas otot pergelangan tangan dan lengan (p < 0.01). Sementara itu, persepsi usaha berbeda signifikan antara tingkat haptic (?² = 9.31; p < 0.01), tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang konsisten antar tingkat haptic. Rasa kehadiran tidak berubah signifikan antar tingkat haptic (p ? 0.438). Hasil analisis menunjukkan bahwa haptic feedback dapat mengaktifkan otot pada latihan kekuatan berbasis VR, tetapi belum sepenuhnya mereplikasi tuntutan fisik dari latihan kekuatan konvensional. Oleh karena itu, latihan kekuatan berbasis VR dan haptic lebih tepat diposisikan sebagai alat aktivasi motorik beban rendah untuk rehabilitasi tahap awal dan belum dapat menggantikan latihan kekuatan konvensional
ANALISIS KESELAMATAN PARAMETER NEUTRONIK DAN PROFIL FLUKS NEUTRON PADA IRADIASI BATU TOPAZ DENGAN PENGARAH BORON KARBIDA (B4C) DI REAKTOR SERBA GUNA G. A. SIWABESS
Iradiasi batu topaz di Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) dilakukan untuk menghasilkan perubahan warna batu topaz melalui interaksi dengan neutron. Posisi iradiasi di dalam teras memiliki fluks neutron yang tinggi sehingga dapat mempercepat proses iradiasi. Namun, tingginya komponen neutron termal pada posisi tersebut dapat meningkatkan aktivasi unsur pengotor di dalam batu topaz, sehingga berpotensi memperpanjang waktu pendinginan pasca iradiasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya modifikasi spektrum neutron agar kontribusi neutron termal dapat berkurang tanpa menurunkan fluks neutron cepat secara signifikan. Dalam penelitian ini, modifikasi spektrum neutron dilakukan dengan menggunakan pengarah topaz berlapis boron karbida (B4C) yang berperan sebagai penyerap neutron termal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan pengarah topaz berlapis B4C terhadap parameter neutronik teras reaktor RSG-GAS, meliputi perubahan reaktivitas, faktor puncak daya atau power peaking factor (PPF), serta distribusi fluks neutron termal, epitermal, dan cepat. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menentukan posisi iradiasi yang paling sesuai untuk penggunaan pengarah topaz B4C dengan tetap mempertahankan batas keselamatan operasi reaktor. Batas keselamatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perubahan reaktivitas tidak melebihi ±0,5% ?k/k dan PPF radial tidak melebihi 1,40. Tahapan penelitian diawali dengan evaluasi posisi iradiasi di dalam teras yang sebelumnya digunakan untuk iradiasi topaz, yaitu posisi irradiation position (IP) grid B-6, D-9, E-4, dan G-7. Selanjutnya, dilakukan evaluasi terhadap beberapa posisi iradiasi di reflektor berilium sebagai alternatif lokasi iradiasi yang diharapkan memberikan gangguan neutronik lebih kecil terhadap teras. Perhitungan neutronik dilakukan menggunakan BATAN-2DIFF dan BATAN-3DIFF untuk memperoleh perubahan reaktivitas, distribusi PPF radial dan aksial, serta distribusi fluks neutron. Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan hasil eksperimen pada posisi A-2 dan H-1 untuk menilai kesesuaian antara model perhitungan dan kondisi aktual eksperimen. Selain itu, dilakukan kajian variasi ketebalan B4C untuk menentukan konfigurasi yang efektif dalam menurunkan fluks neutron termal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasukan pengarah topaz B4C pada posisi IP menghasilkan reaktivitas negatif yang besar. Posisi B-6, D-9, E-4, dan G-7 masing-masing memberikan perubahan reaktivitas sekitar -1,55% sampai -1,62% ?k/k. Nilai tersebut melampaui batas keselamatan perubahan reaktivitas reaktor RSG-GAS, sehingga posisi IP tidak direkomendasikan untuk iradiasi topaz dengan pengarah B4C. Evaluasi PPF juga menunjukkan bahwa posisi IP menghasilkan nilai PPF radial yang mendekati batas desain, terutama pada posisi E-4. Sebaliknya, posisi iradiasi di reflektor berilium memberikan respon neutronik yang lebih aman. Pada konfigurasi B4C tebal 3,0 mm, posisi A-2 menghasilkan perubahan reaktivitas sebesar -0,17% ?k/k, sedangkan posisi H-1 menghasilkan perubahan reaktivitas sebesar -0,03% ?k/k. Nilai PPF radial maksimum pada A-2 dan H-1 masing-masing sebesar 1,20 dan 1,19, sedangkan PPF aksial relatif tetap pada sekitar 1,30. Hasil eksperimen menunjukkan kecenderungan yang konsisten dengan hasil perhitungan. Perubahan reaktivitas eksperimen pada posisi A-2 sebesar -0,16 ± 0,01% ?k/k, sedangkan pada posisi H-1 sebesar -0,07 ± 0,01% ?k/k. Penggunaan pengarah B4C juga terbukti efektif dalam menurunkan fluks neutron termal. Pada posisi A-2, penurunan fluks neutron termal mencapai 73,76% berdasarkan eksperimen dan 68,58% berdasarkan perhitungan. Pada posisi H-1, penurunan fluks neutron termal mencapai 55,43% berdasarkan eksperimen dan 48,17% berdasarkan perhitungan. Pengaruh terhadap fluks neutron cepat relatif kecil, yaitu 4,49% berdasarkan eksperimen dan 0,96% berdasarkan perhitungan pada posisi A-2. Hasil ini menunjukkan bahwa B4C mampu menekan komponen neutron termal secara signifikan, namun tetap mempertahankan kontribusi neutron cepat yang diperlukan untuk iradiasi topaz. Berdasarkan keseluruhan hasil, posisi A-2 direkomendasikan sebagai posisi utama iradiasi topaz dengan pengarah B4C karena memberikan keseimbangan terbaik antara ketersediaan fluks neutron cepat, penurunan fluks neutron termal, perubahan reaktivitas yang kecil, dan PPF yang aman. Posisi H-1 dapat digunakan sebagai posisi pembanding konservatif karena memberikan gangguan reaktivitas paling kecil terhadap teras. Posisi G-2 dan J-9 dapat dipertimbangkan sebagai alternatif lanjutan apabila diperlukan fluks neutron cepat yang lebih tinggi, tetapi penggunaannya memerlukan kajian keselamatan tambahan. Dengan demikian, pengarah topaz B4C tebal 3,0 mm pada posisi reflektor berilium, khususnya A-2, merupakan konfigurasi yang aman dan efektif untuk modifikasi spektrum neutron pada iradiasi topaz di RSG-GAS.
GEOLOGI DAN POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA DAERAH MUARA WAHAU DAN SEKITARNYA, KECAMATAN MUARA WAHAU, KABUPATEN KUTAI TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.
Daerah penelitian terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, pada koordinat 453636,67 – 457514,53 mT dan 130000 – 133672,36 mT (UTM) dengan luas 13,22 km2. Penelitian mencakup pemetaan geologi skala 12.500, perhitungan sumberdaya batubara, dan analisis proksimat batubara yang bertujuan untuk mengetahui tatanan geologi, hubungan kondisi geologi dengan karakteristik batubara, dan potensi sumberdaya batubara baik secara kualitas maupun kuantitas. Daerah penelitian merupakan perbukitan yang disertai rawa pada lembahnya. Sungai Embung merupakan sungai utama yang berada di bagian barat dengan arah aliran relatif utara -selatan. Bagian timur daerah penelitian tersusun atas batulempung gampingan disertai sisipan batugamping bioklastik, dengan pola kedudukan singkapan yang menunjukan kehadiran antiklin sedangkan bagian baratnya tersusun atas batupasir disertai sisipan batulempung dan batubara, dengan pola kedudukan singkapan yang menunjukan kehadiran sinklin. Selain itu, tatanan geologi daerah penelitian dipengaruhi juga oleh kehadiran sesar mendatar dan breksi laharik yang memperlihatkan kontak erosional dengan batupasir dan batulempung gampingan. Secara umum, batubara di daerah penelitian berwarna hitam, kilap minyak – kusam, gores hitam kecoklatan, pecahan choncoidal – irregular, dan tergolong dalam Sub – Bituminous B (ASTM , 1993) dengan tebal 0,21 m – 4,43 m. Batubara hadir sebagai sisipan pada batupasir dengan lapisan atap dan alasnya berupa batulempung. Berdasarkan perbedaan karakter fisik (warna, kilap, gores, & pecahan) dan kemenerusannya, perlapisan batubara terbagi atas tiga perlapisan batubara/seam yang persebarannya dikontrol oleh lipatan/sinklin, sesar mendatar dan faktor stratigrafi. Dengan menggunakan Metode Circular USGS (United States Geological Survey), didapatkan jumlah sumberdaya batubara terukur sebesar 2.276.820,784 ton dan tertunjuk sebesar 10.245.644,83 ton.
ANALISIS KORELASI KESALAHAN KELURUSAN DENGAN LASER INTERFEROMETER DAN MACHINING TEST BERDASARKAN ISO 10791-7
Kualitas produk melalui proses pemesinan sangat dipengaruhi oleh kualitas mesin perkakas yang digunakan. Kualitas ketelitian mesin perkakas dapat diukur melalui pengujian untuk memastikan ada atau tidaknya kesalahan geometri yang terjadi. Proses pengujian dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya dengan menggunakan laser interferometer. Pengujian jenis ini dinilai memiliki keakuratan tingkat tinggi karena menggunakan prinsip interferensi cahaya yang dapat mengukur tingkat kepresisian yang sangat tinggi. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini akan menguji ketelitian mesin perkakas dengan menggunakan laser interferometer pada mesin CNC Vertical Machining Center Doosan Mynx 6500/50 II. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mesin CNC melalui pengukuran ketelitian geometrik pada mesin CNC tersebut. Pengukuran akan dilakukan pada sumbu-Y untuk diukur profil kelurusan horizontalnya. Hasil pengukuran tersebut kemudian divisualisasikan untuk dibandingkan kesalahan kelurusannya berdasarkan garis referensi. Langkah selanjutnya, pada mesin ini juga dilakukan uji potong (machining test) berdasarkan ISO 10791-7 dan pengukuran CMM untuk memvalidasi pengukuran kesalahan pengukuran melalui output hasil pemesinan pada mesin terkait. Hasil kelurusan mesin dan benda uji kemudian dibandingkan dan dianalisis perbandingan kesalahan kelurusannya. Hasil kesalahan kelurusan mesin didapatkan dengan nilai 0,30 – 0,55 ?m yang diukur pada tiga lintasan yang berbeda. Untuk kesalahan kelurusan benda uji, menunjukkan nilai 10,11 – 10,44 ?m untuk downmilling, sedangkan untuk upmilling sebesar 17,29 – 20,24 ?m. Harapannya penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam menggunakan mesin tersebut sesuai dengan model hasil pengukuran untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Selain itu, prosedur yang digunakan dalam penelitian ini bisa dijadikan referensi untuk pengukuran ketelitian terkait dengan mesin CNC machining center.
PENDETAILAN KLASIFIKASI HURUF OLIGOSEN MELALUI EVOLUSI FORAMINIFERA BESAR DAN KORELASI DENGAN BIOZONASI FORAMINIFERA PLANKTONIK
Klasifikasi Huruf Tersier (Tertiary Letter Stage) merupakan kerangka biozonasi yang luas digunakan untuk penentuan umur dan korelasi batuan karbonat di Indonesia. Namun, penerapannya pada tingkat regional sering kurang konsisten, karena penentuan zona disusun berdasarkan kumpulan taksa. Kemunculan dan kelimpahan foraminifera besar sangat dipengaruhi oleh fasies, perubahan lingkungan pengendapan, iklim, serta dinamika stratigrafi. Akibatnya, rentang suatu tahap dapat berbeda antar lokasi dan batas antar zona menjadi sulit ditetapkan, serta tidak selalu merepresentasikan waktu secara seragam. Di sisi lain, korelasi biozonasi foraminifera besar dengan biozonasi foraminifera planktonik dalam satu lintasan stratigrafi yang sama di Jawa Barat masih jarang dilakukan, padahal biozonasi planktonik yang terkalibrasi umur absolut dapat berperan sebagai kontrol kronostratigrafi yang lebih stabil. Selain itu, batuan karbonat Oligosen di Jawa Barat dan sekitarnya kaya akan foraminifera besar, tetapi kajian yang mendokumentasikan keanekaragaman taksa, sebaran stratigrafi, serta karakter morfologi dan biometri masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan pola evolusi foraminifera besar dan potensinya untuk pendetailan Klasifikasi Huruf Tersier pada interval Oligosen belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan meningkatkan akurasi Klasifikasi Huruf Tersier pada interval Oligosen di Jawa Barat dan sekitarnya melalui integrasi informasi evolusi foraminifera besar berbasis morfologi–biometri dan korelasinya dengan biozonasi foraminifera planktonik. Penelitian dilakukan pada satuan karbonat berumur Oligosen yang tersingkap di Jawa Barat dan sekitarnya pada tujuh lintasan pengamatan, yaitu Cimanggu, Cihara, dan Karangsewu (Bayah), Cibadak dan Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Tagogapu 1 dan Tagogapu 2 (Cikamuning–Padalarang). Metode analisis mencakup identifikasi foraminifera besar dan planktonik, inventarisasi keanekaragaman taksa dan sebaran stratigrafi, pengukuran parameter biometrik terpilih, serta evaluasi perubahan morfologi sepanjang kolom stratigrafi untuk merekonstruksi tren evolusi dan menilai implikasinya terhadap batas biozona. Hasil analisis morfologi dan biometri memperlihatkan pola perubahan yang peramorfik pada garis keturunan dari beberapa taksa foraminifera besar. Garis keturunan Neorotalia mecatepecensis menunjukkan perubahan bertahap menuju kelompok Miogypsinidae hingga menghasilkan Miogypsinoides formosensis, dengan parameter AX (jumlah kamar tambahan) sebagai penanda penting untuk pemisahan tingkat genus, sedangkan parameter X (jumlah kamar nepionik spiral) efektif untuk pembedaan tingkat spesies. Selain itu, transisi dari Heterostegina (Vlerkina) borneensis menuju Tansinhokella dan kemudian Spiroclypeus dicirikan oleh perubahan morfologi dan peningkatan jumlah kamar lateral yang sederhana menjadi cubicula menuju lapisan yang paling muda, sehingga parameter ini menjadi indikator penting dalam interpretasi evolusi pada kelompok tersebut. Penelitian ini juga memperkaya pemahaman taksonomi melalui pengenalan morfotipe Neorotalia mecatepecensis A dan B serta pendeskripsian beberapa taksa baru, termasuk Paleomiogypsina tagogapuensis sp. nov., Paleomiogypsina rajamandalaensis sp. nov., Tansinhokella rajamandalaensis sp. nov., dan Tansinhokella tagogapuensis sp. nov berdasarkan parameter morfologi dan biometri. Berdasarkan sebaran stratigrafi serta pola evolusi kelompok Miogypsinidae, disertasi ini mengusulkan pendetailan zona Te2–3 menjadi dua tahap terpisah, yaitu Te2 dan Te3 berdasarkan kemunculan awal Paleomiogypsina rajamandalaensis sp. nov. Hasil korelasi antar biozonasi menghasilkan urutan tahap Klasifikasi Huruf Oligosen yang dapat dikorelasikan secara langsung terhadap biozona foraminifera planktonik. Tahap Tc berkorelasi dengan Globigerina gortanii LOZ dan Globigerina sellii/Globigerina ampliapertura CRZ, mencerminkan Oligosen Awal. Tahap Td berkorelasi dengan Globigerina tapuriensis HOZ dan Globigerina selii PRZ. Tahap Te1 berkorelasi dengan Globigerina selii PRZ dan Globigerina angulisuturalis TRZ. Tahap Te2 tidak dapat dikorelasikan dengan zona planktonik karena keterbatasan data planktonik pada lintasan Pelabuhan Ratu dan Cibadak. Interval Te3 berkorelasi dengan Globigerinita unicava PRZ. Interval Te4 berkorelasi dengan Globigerinoides primordius LOZ dan Globigerina tripartita PRZ. Pendetailan tersebut meningkatkan resolusi korelasi Oligosen pada batuan karbonat Jawa Barat dan sekitarnya serta menyediakan kerangka biostratigrafi yang lebih teliti dan konsisten untuk penentuan umur dan korelasi stratigrafi regional.
EXPERIMENTAL STUDY OF THE IN-PLANE BEHAVIOR OF CONFINED MASONRY WALLS RETROFITTED WITH POST-TENSIONING METAL STRAPS (PTMS)
Most residential buildings in Indonesia are constructed using non-engineered design practices, resulting in poor building quality and significant vulnerability to earthquake damage. Various retrofitting methods have been developed to improve the performance of existing buildings, particularly in enhancing structural integrity. However, a simpler and more economical retrofitting method is still required to achieve effective strengthening. Therefore, this study investigates the use of Post-Tensioning Metal Straps (PTMS) as a retrofitting method for confined masonry walls. The experimental program consisted of two full-scale confined masonry wall specimens retrofitted using the PTMS method, namely CM-P-PTMS with a full wall specimen and CMO-P-PTMS with a 40% opening ratio. Quasi-static cyclic loading tests were conducted under in-plane loading conditions. In addition, material testing was carried out to determine the mechanical properties of the constituent materials, which were further used in the numerical modeling process. The experimental results show that the PTMS retrofitting method can increase the lateral strength up to 1.8 times compared to the poor-detailing benchmark specimen and achieve a lateral strength comparable to the good-detailing benchmark specimen. Furthermore, the PTMS method is capable of preventing the wall-to-column disintegration failure typically observed in poorly detailed specimens. The normalized maximum stress comparison between the PTMS method and other retrofitting methods also shows similar results, indicating comparable strengthening effectiveness. However, the deformation capacity of the PTMS-retrofitted wall remains lower than that of the good-detailing benchmark specimen. In addition, the presence of a 40% wall opening reduces the lateral strength by up to 60% compared to the full wall specimen. Numerical modeling using the Equivalent Truss Model (ETM) with four lateral backbone approaches was conducted to predict the specimen responses. The numerical results indicate that the ETM Kadang approach provides better predictions of both lateral strength and deformation capacity compared to the other modeling methods.
PENENTUAN KEDALAMAN PANETRASI DAN LAJU PELEMAHAN INTENSITAS OPTIK UNTUK DETEKSI BATIMETRI DARI CITRA SATELIT SPOT. (STUDI KASUS : PULAU SEMAK DAUN, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA
Tujuan penelitian ini adalah menentukan kedalaman penetrasi (Depth of Penetration, DOP) sinar melalui kolom air dan laju pelemahan intensitas optik (k) menggunakan citra SPOT (Satellite Pour I’Observation de la Terre) pada Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Metodologi yang diterapkan pada penelitian ini diawali dengan klasifikasi citra menjadi 10 kelas tutupan dasar perairan yang mempunyai jenis tutupan dasar perairan yang homogen, kemudian dilanjutkan dengan penentuan DOP dan k untuk setiap kelas yang terbentuk. Metodologi ini telah mereduksi kesalahan akibat perbedaan jenis tutupan dasar perairan. Penentuan DOP dan k dilakukan dengan dua metode yaitu metode grafis (interpretasi visual) dan metode Jupp. Hasil menunjukkan bahwa hanya band 1 yang dapat digunakan untuk mewakili nilai DOP dan k karena nilai k yang diperoleh tidak sesuai dengan teori. Metode grafis menghasilkan DOP sebesar 5,5 m dan k sebesar 0,0670 m-1 untuk kelas 1, DOP sebesar 5,5 m dan k sebesar 0,0575 m-1 untuk kelas 2, DOP sebesar 4,5 m dan k sebesar 0,0339 m-1 untuk kelas 3, dan DOP sebesar 5,5 m dan k sebesar 0,0453 m-1 untuk kelas 4. Metode Jupp menghasilkan DOP sebesar 14,2 m dan k sebesar 0,0703 m-1 untuk kelas 1, DOP sebesar 18,4 m dan k sebesar 0,0544 m-1 untuk kelas 2, DOP sebesar 16,4 m dan k sebesar 0,0611 m-1 untuk kelas 3, dan DOP sebesar 14,3 m dan k sebesar 0,0698 m-1 untuk kelas 4. Nilai DOP yang diperoleh untuk setiap kelas tutupan dasar perairan mempunyai akurasi yang bervariasi yaitu pada selang R2=7,7% sampai R2=68,1%.
STRATEGI BRANDING MPL INDONESIA DALAM MEMPERTAHANKAN POSISI SEBAGAI TURNAMEN ESPORTS NOMOR SATU DI INDONESIA
Pertumbuhan industri esports di Indonesia telah meningkatkan persaingan antar liga profesional serta menciptakan tantangan terkait fragmentasi audiens, kejenuhan konten, dan keberlanjutan engagement jangka panjang. Meskipun MPL Indonesia masih menjadi turnamen esports dengan jumlah penonton tertinggi di Asia Tenggara, kejenuhan audiens, repetisi format konten, dan perubahan perilaku konsumsi digital berpotensi mengancam loyalitas audiens dan brand resonance. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi branding MPL Indonesia dalam mempertahankan posisinya sebagai turnamen esports nomor satu di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan 15 partisipan yang terdiri dari pihak internal, penonton aktif, dan penonton non-aktif MPL Indonesia. Data dianalisis menggunakan thematic analysis dengan bantuan NVivo. Penelitian ini juga mengintegrasikan Customer-Based Brand Equity (CBBE), VRIO framework, Porter’s Five Forces, SWOT analysis, dan TOWS Matrix untuk memperkuat evaluasi strategis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif MPL Indonesia didukung oleh entertainment and media strategy, institutional professionalism, serta emotional community engagement. Kualitas produksi, storytelling dalam siaran, dan komunitas penggemar berbasis tim berkontribusi terhadap brand salience dan audience engagement. Namun, penelitian ini juga menemukan tantangan berupa repetisi format kompetisi, fragmentasi konsumsi digital, serta meningkatnya persaingan dari platform hiburan digital lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MPL Indonesia perlu memperkuat storytelling pada level liga, terus berinovasi dalam penyajian konten, serta mengembangkan strategi engagement lintas platform untuk mempertahankan loyalitas audiens dan brand resonance dalam jangka panjang. Kata kunci: MPL Indonesia, strategi branding, pemasaran esports, brand equity, audience engagement, komunikasi digital.
OPTIMASI SISTEM PROTEKSI PASIF DAN SARANA EVAKUASI KEBAKARAN PADA HUNIAN KAMPUNG PADAT PERKOTAAN (STUDI KASUS: KELURAHAN CIJERAH, KECAMATAN BANDUNG KULON, KOTA BANDUNG)
Risiko kebakaran pada permukiman padat perkotaan di Indonesia terus meningkat seiring laju urbanisasi yang tidak diimbangi oleh perencanaan spasial dan sistem keselamatan kebakaran yang memadai. Permukiman kampung kota umumnya berkembang secara organik dengan kepadatan bangunan tinggi, jarak antarbangunan yang sangat rapat, akses jalan lingkungan yang sempit, serta keterbatasan sarana proteksi kebakaran. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya potensi penyebaran api dan asap sekaligus menghambat proses evakuasi penghuni. Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, merupakan salah satu kawasan dengan tingkat risiko kebakaran tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan kajian Urban Premise Fire Risk Assessment (2025). Kawasan ini memiliki karakteristik khas kampung kota berupa jaringan gang yang tidak teratur, bangunan semi permanen yang saling berhimpitan, keterbatasan ruang terbuka, serta minimnya penerapan sistem proteksi pasif kebakaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik eksisting kawasan, menganalisis hubungan antara karakteristik fisik, spasial, dan perilaku penghuni terhadap risiko kebakaran dan keselamatan evakuasi, serta merumuskan strategi optimasi sistem proteksi pasif dan sarana evakuasi yang sesuai dengan kondisi kampung padat perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan mengombinasikan observasi lapangan, pemetaan spasial, wawancara penghuni, analisis Space Syntax, pemodelan Bayesian Network, simulasi kebakaran menggunakan Pyrosim, simulasi evakuasi menggunakan Pathfinder, serta analisis statistik inferensial. Analisis keselamatan dilakukan melalui pendekatan performance-based fire engineering dengan membandingkan Available Safe Egress Time (ASET) dan Required Safe Egress Time (RSET). Objek penelitian mencakup dua belas unit hunian pada RT 06 RW 07 Kelurahan Cijerah yang mewakili karakteristik kampung padat perkotaan. Strategi optimasi diuji melalui dua skenario intervensi, yaitu optimasi fisik berbasis ventilasi dan sekat parsial (P1), serta intervensi terintegrasi berupa kompartementasi penuh, perbaikan jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan simulasi evakuasi (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya risiko kebakaran merupakan akibat interaksi kompleks antara faktor fisik, spasial, dan sosial. Dari aspek fisik, mayoritas bangunan menggunakan material semi permanen dengan nilai Heat Release Rate (HRR) tinggi, tidak memiliki fire barrier, serta memiliki jarak antarbangunan yang sangat rapat. Dari aspek spasial, kawasan memiliki jaringan gang sempit dengan lebar rata-rata sekitar 1,1 meter, konektivitas dan integrasi yang tidak merata, nilai mean depth tinggi pada beberapa segmen, serta visibilitas rendah yang menyebabkan keterbacaan jalur evakuasi buruk dan memunculkan bottleneck pada koridor sempit. Dari aspek sosial, kapasitas mitigasi masyarakat masih rendah, ditandai oleh minimnya pengetahuan prosedur darurat, keterbatasan peralatan pemadam awal, serta tingginya probabilitas keterlambatan respons. Simulasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa seluruh unit hunian berada pada kondisi tidak aman karena nilai ASET lebih kecil dibandingkan RSET. Nilai ASET hanya berkisar antara 18–52 detik, sedangkan nilai RSET berada pada rentang sekitar 120–360 detik. Parameter bahaya yang paling cepat mencapai kondisi kritis adalah penurunan visibilitas akibat akumulasi asap, yang terbukti lebih dominan dibandingkan peningkatan temperatur maupun konsentrasi gas beracun. Temuan ini menunjukkan bahwa kegagalan keselamatan kebakaran di kawasan tidak semata disebabkan oleh penyebaran api, melainkan terutama oleh cepatnya degradasi kondisi tenable akibat asap. Evaluasi strategi optimasi menunjukkan bahwa intervensi fisik berupa aktivasi ventilasi dan sekat parsial mampu meningkatkan nilai ASET hingga 3,39–271,35% dibandingkan kondisi eksisting, namun belum cukup untuk memenuhi kriteria keselamatan karena RSET masih lebih besar daripada ASET. Sebaliknya, skenario intervensi terintegrasi yang mengombinasikan kompartementasi penuh pada area dapur, penghilangan hambatan jalur evakuasi, reposisi bukaan, serta edukasi masyarakat berhasil meningkatkan margin keselamatan secara signifikan. Kompartementasi penuh mampu mempertahankan kondisi aman selama periode simulasi, sementara penguatan kapasitas masyarakat terbukti menurunkan waktu pre-movement dan mengurangi nilai RSET sekitar 30–45% pada sebagian besar unit hunian. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan kebakaran tidak dapat dicapai melalui intervensi tunggal, melainkan memerlukan kombinasi strategi fisik dan sosial yang saling melengkapi. Penelitian ini menghasilkan model optimasi sistem proteksi kebakaran berlapis berbasis pentahelix yang mengintegrasikan aspek spasial, teknis, dan perilaku dalam satu kerangka mitigasi yang adaptif terhadap keterbatasan fisik dan sosial kampung kota. Selain itu, penelitian ini menawarkan kontribusi metodologis melalui integrasi analisis Space Syntax, Bayesian Network, dan simulasi performance-based fire engineering untuk mengevaluasi risiko kebakaran secara holistik. Model yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi mitigasi kebakaran yang kontekstual, aplikatif, dan dapat direplikasi pada kawasan permukiman padat perkotaan di Indonesia.
PENATAAN KAWASAN TRANSIT RAMAH PEJALAN KAKI DI STASIUN BANDUNG-KEBON KAWUNG-PASIRKALIKI
Kawasan transit Stasiun Bandung berperan sebagai simpul transportasi publik yang strategis, namun saat ini menghadapi persoalan dalam menyediakan lingkungan yang ramah pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penataan kawasan transit yang ramah pejalan kaki di Stasiun Bandung–Kebon Kawung– Pasirkaliki. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan delapan indikator komponen Walk dan Connect dari ITDP TOD Standard 3.0 dengan analisis konfigurasional space syntax (segment integration dan segment choice) sebagai pendekatan komplementer. Hasil pengukuran menunjukkan ketidakselarasan sistematik kawasan studi. Komponen Connect mencapai skor agregat 88,89% (kategori sangat baik) yang menandakan kerangka jaringan permeabel, sementara komponen Walk berada pada skor 0% yang menandakan defisit menyeluruh kondisi mikro infrastruktur pejalan kaki. Analisis space syntax mengungkap struktur konfigurasional berupa "bingkai kotak" empat koridor utama (Pajajaran, Otto Iskandardinata, Kebon Jati–Suniaraja, dan Pasirkaliki) yang dilengkapi "poros tunggal" Pasirkaliki, serta ketidakselarasan konfigurasional Stasiun Bandung dengan kerangka utama kawasan. Sintesis lintas-pendekatan menghasilkan klasifikasi empat kategori peran segmen sebagai dasar prioritisasi penataan, yaitu Koridor Utama Konfigurasional, Zona Pengaruh Stasiun, Koridor Penghubung Sekunder, dan Jaringan Kapiler Permukiman. Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis berupa integrasi pendekatan ITDP TOD Standard dengan space syntax, dan kontribusi substantif berupa diagnosis kawasan transit kolonial Indonesia: kawasan tidak menderita ketiadaan modal struktural, melainkan kegagalan mengaktualkan modal yang sudah tersedia menjadi pengalaman pejalan kaki yang nyata.
FAKTOR EMISI PM10 DARI PEMBAKARAN TERBUKA SAMPAH DOMESTIK KOTA BANDUNG
Pembakaran sampah secara terbuka berpotensi memberikan kontribusi sebagai sumber partikulat di atmosfer. Pembakaran sampah secara terbuka terjadi pada temperatur rendah dan akan menghasilkan bermacam-macam polutan, salah satunya adalah partikulat yang berupa asap dan jelaga. Diketahui dari penelitian sebelumnya, 28,84 % dari penduduk kota Bandung melakukan pembakaran sampah secara terbuka. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi dan karakteristik sampah yang dibakar, konsentrasi partikulat [PM10] dan kontribusi faktor-faktor pendukung lainnya terhadap konsentrasi [PM10] yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka, mendapatkan faktor emisidan identifikasi awal logam yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka. Sembilan puluh sampel sampah diambil dari tipe rumah berbeda sesuai dengan golongan sosial ekonomi. Pembagian sampel sampah dilakukan dengan menggunakan teknik probabilitas (random sampling dan stratified random sampling). Berdasarkan metode tersebut diperoleh pembagian jumlah sampel yang dibagi atas 23 sampel rumah mewah,32 sampel rumah menengah dan 35 sampel rumah sederhana.Pada penelitian ini dilakukan simulasi pembakaran sampah secara terbuka dengan menggunakan insinerator modular mini. Pembakaran dilakukan dengan dua kondisi temperatur berbeda, yaitu 250°C dan 850°C. Pengukuran emisi [PM10] menggunakan sampling probe. Dari hasil pengukuran, diperoleh konsentrasi [PM10] pada tipe rumah mewah (T250°C = 47,78 mg/m3 dan T850°C =76,87 mg/m3 ), rumah menengah (T250°C = 65,78 mg/m3 dan T850°C 89,62 mg/m3 ), dan rumah sederhana (T250°C = 81,34 mg/m3 dan T850°C = 151,00 mg/m3 ). Konsentrasi [PM10]850°C dari semua tipe rumah lebih besar dari konsentrasi [PM10]250°C karena pembakaran pada temperatur 850°C cenderung menghasilkan ukuran partikel halus (PM10) dibandingkan dengan partikel kasar (TSP). Dari hasil analisis diperoleh bahwa 37,7% [PM10] pada pembakaran sampah terbuka dipengaruhi oleh tipe rumah, temperatur, volume udara dan sampah organik .Faktor emisi yang dihasilkan dari rumah mewah adalah adalah (FE[PM10] 250°C =17,1 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =26,5 mg/kg), rumah menengah (FE[PM10] 250°C =26,8 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =36,4mg/kg),dan rumah sederhana (FE[PM10] 250°C =47,3 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =65 mg/kg). Pada studi ini juga dilakukan identifikasi awal terhadap logam dari pembakaran sampah domestik Kota Bandung. Logam tersebut adalah Mg, Zn, K, Na, Fe,Ca, Al, Cr, Ni, Sb, Co, Pb, As, Cu, Cd, Mn, Hg dan Sn
KUANTIFIKASI RISIKO TERJADINYA STALL SAAT LEPAS LANDAS BERBASIS SIMULASI STOKASTIK DAN MODEL DINAMIKA LONGITUDINAL PESAWAT UDARA
Stall merupakan fenomena ketika pesawat kehilangan gaya angkat akibat separasi aliran udara pada bidang angkat. Kuantifikasi risiko terjadinya stall bertujuan untuk mengetahui probabilitas terjadinya stall sebagai dasar melakukan mitigasi risiko. Penelitian ini menggunakan simulasi berbasis stokastik dan model dinamika longitudinal dalam mengestimasi terjadinya kemungkinan stall pada saat lepas landas. Data penerbangan bersumber dari Quick Access Recorder (QAR) pada penerbangan Boeing 747-300 di Bandar Udara Internasional Minneapolis-Saint Paul (kode ICAO: KMSP). Proses simulasi menggunakan model dinamika longitudinal dan memberikan luaran berupa energi di setiap waktu saat lepas landas. Metrik insiden yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah energi yang berada di bawah batas minimum yang ditetapkan, yaitu rata-rata energi aktual dikurangi 4 kali standar deviasinya. Integrasi model dinamika longitudinal dengan metrik insiden disimulasikan untuk mendapatkan probabilitas kegagalan dengan metode subset simulation. Hasil simulasi mendapatkan angka probabilitas kegagalan total sebesar 2.5767 × 10?7 untuk konfigurasi dominan. Dengan analisis sensitivitas, faktor dominan penyebab insiden ini adalah kecepatan saat liftoff dan defleksi elevator. Penelitian ini memberikan rekomendasi mitigasi risiko berupa peningkatan batas kecepatan saat lift-off dan pengendalian input kendali pilot pada elevator agar tidak melebihi batas aman.