📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS SPASIAL WILAYAH TERDAMPAK TSUNAMI BERDASARKAN VARIASI MODEL GEMPA DI JAWA BARAT SELATAN
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara dengan pertemuan empat lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Filipina. Tugas Akhir ini mengambil studi kasus pada zona subduksi Jawa. Jika disekitar lokasi pertemuan lempeng tersebut akumulasi energi terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi tersebut. Maka dapat menyebabkan pelepasan energi berupa pergerakan kerak bumi dan mungkin dapat mengakibatkan bencana gempa bumi, tsunami dan pemicu aktifnya gunung berapi. Dalam penulisan Tugas Akhir ini lebih membahas tentang mitigasi bencana tsunami dengan beberapa variasi model gempa zona subduksi Jawa Barat Selatan pemicu tsunami. Lokasi sumber gempa tepatnya pada pada koordinat 105° 03’ 22.70” BT dan 08° 16’ 21.32” LS pada kedalaman 10 kilometer dari permukaan air. Penulisan Tugas Akhir ini dilakukan dengan melalui beberapa metode diantaranya menentukan variasi model gempa, melakukan simulasi tsunami, menganalisis secara spasial dampak tsunami hasil simulasi. Dalam simulasi tsunami ini digunakan perangkat lunak tsunami yang dibuat oleh Mamoru Nakamura dari Universitas Ryukyus, Jepang. Dengan metode-metode tersebut didapatkan suatu informasi mitigasi bencana tsunami berupa tinggi maksimum tsunami dan area genangan tsunami yang didasarkan pada variasi model gempa dan pemodelan tsunami pada perangkat lunak simulasi. Hasil penulisan Tugas Akhir ini juga dapat digunakan sebagai informasi peringatan dini tsunami.
ANALISIS DEFORMASI KOSEISMIK GEMPA SIMEULUE FEBRUARI 2008
Sumatra mengakomodasi tumbukan lempeng Indo-Australia yang men-subduksi lempeng Eurasia. Manifestasi dari tumbukan tersebut telah menghasilkan serangkaian gempabumi di sepanjang pantai barat Sumatra dan salah satunya adalah gempa Simeuleu yang terjadi pada bulan Februari 2008. Gempa Simeulue dengan magnitude 7.4 merupakan bagian dari rangkaian gempa yang sudah terjadi sebelumnya sehingga penting untuk dilakukan studi pemodelan gempa dari siklus gempa yang terjadi melalui pemantauan deformasi kerak bumi. Teknologi GPS yang terus berkembang menjadi salah satu metoda yang handal digunakan untuk pemantauan deformasi akibat gempa bumi. Sumatran GPS Array network (SuGAr) sebagai stasiun GPS kontinyu yang di pasang di sepanjang pulau Sumatra digunakan untuk studi deformasi akibat gempa. Studi deformasi koseismik sebagai upaya pemantauan terjadinya pergeseran pada saat gempa memberikan nilai pergeseran yang besar pada area disekitar episenter. Dalam penelitian yang dilakukan besarnya deformasi koseismik pada gempa Simeulue mengakibatkan pergeseran yang sangat signifikan pada stasiun gps SuGAr yang berada di pulau Simeulue yaitu stasiun gps LEWK bergeser kearah barat daya sebesar 8.87 cm dan stasiun gps BSIM bergeser kearah tenggara sebesar 1.87 cm dengan mekanisme gempa berupa sesar naik (Reverse fault). Gempa Simeulue tidak memberi pengaruh yang signifikan pada stasiun GPS yang berada diluar pulau Simeulue.
STUDI INTRUSI AIR LAUT PADA PESISIR KOTA CIREBON DENGAN PENDEKATAN HIDROGEOKIMIA-ISOTOP DAN PEMODELAN HIDROGEOLOGI
Akuifer di wilayah pesisir Kota Cirebon memiliki kerentanan tinggi terhadap intrusi air laut akibat karakter material aluvial yang permeabel, tekanan pemanfaatan air tanah, serta pengaruh perubahan iklim berupa kenaikan muka air laut dan penurunan recharge. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlanjutan sumber daya air tanah pesisir sehingga perlu dikaji secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hidrogeokimia dan isotop akuifer tak tertekan di pesisir Kota Cirebon serta mengevaluasi dinamika intrusi air laut akibat pengaruh kenaikan muka air laut (sea level rise) dan perubahan recharge. Pendekatan yang digunakan meliputi analisis hidrogeokimia dan isotop stabil (?¹?O dan ?²H) berdasarkan data sampling air tanah, air sungai, dan air laut, serta pemodelan numerik intrusi air laut menggunakan MODFLOW–SEAWAT. Pemodelan dilakukan dalam kerangka aliran air tanah bergantung densitas dengan klorida (Cl?) sebagai zat terlarut konservatif, melalui simulasi kondisi eksisting, skenario kenaikan muka air laut, pengurangan recharge, dan kombinasi keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air tanah akuifer tak tertekan di pesisir Kota Cirebon didominasi oleh fasies Mg–HCO?, dengan sebagian sampel menunjukkan fasies Na–Cl atau tipe campuran. Analisis isotop stabil mengindikasikan sumber air meteoritik dengan indikasi pencampuran air laut pada beberapa sampel, yang ditunjukkan oleh fraksi air laut sebesar 1,06–47,16%. Pemodelan numerik berhasil merepresentasikan kondisi intrusi air laut dengan baik (r = 0,992; R² = 0,976), menunjukkan jarak maksimum intrusi mencapai 1,1 km di permukaan dan 1,2 km pada kedalaman 150 m dengan pola saltwater wedge. Simulasi tahun 2050 menunjukkan bahwa penurunan recharge dan kenaikan muka air laut sebesar 0,55 m mendorong perluasan intrusi air laut hingga 402–452 m di permukaan dan mencapai 650 m pada kedalaman 150 m. Luas area terdampak intrusi meningkat dari 5,66 km² menjadi 6,65–6,72 km² (17,53–18,77%), yang menunjukkan meningkatnya kerentanan akuifer pesisir Kota Cirebon terhadap penurunan recharge dan kenaikan muka air laut.
TINGKAT WALKABILITY PADA SEPANJANG KORIDOR KOMERSIAL DAN KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI DI KECAMATAN JATINANGOR
Perkembangan kawasan pendidikan tinggi dan kawasan komersial di Kecamatan Jatinangor menyebabkan tingginya aktivitas pejalan kaki pada koridor utama Jalan Raya Jatinangor. Koridor ini menjadi pusat pergerakan masyarakat karena terhubung dengan kawasan pendidikan, perdagangan dan jasa, permukiman, serta berbagai fasilitas pelayanan lainnya. Namun, kondisi fasilitas pejalan kaki pada beberapa titik yang ada di sepanjang Jalan Raya Jatinangor masih belum memadai sehingga memengaruhi kenyamanan dan keamanan berjalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi jaringan pejalan kaki berdasarkan standar fasilitas pejalan kaki, persepsi pengguna, tingkat walkability menggunakan metode Global Walkability Index (GWI), kemudian membandingkan kondisi dari hasil keluaran sebelumnya. Penelitian ini membagi wilayah studi menjadi beberapa segmen. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner, pengumpulan data sekunder, serta analisis gap, analisis skoring, dan analisis spasiaI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan pendidikan tinggi memiliki kondisi jaringan pejalan kaki dan tingkat walkability yang lebih baik dibandingkan kawasan komersial, meskipun secara keseluruhan tingkat walkability dan fasilitas pejalan kaki pada wilayah penelitian masih belum sepenuhnya optimal. Selain itu, fasilitas bagi penyandang disabilitas serta keterhubungan jalur pejalan kaki menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan fasilitas seperti penyediaan trotoar, fasilitas penyeberangan, fasilitas bagi penyandang disabilitas, serta penataan aktivitas kendaraan untuk mendukung lingkungan berjalan kaki yang lebih aman dan nyaman.
ANALISIS PENILAIAN KUALITAS RUANG TERBUKA PUBLIK TERAS CIKAPUNDUNG KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN PENDEKATAN PUBLIC SPACE INDEX (PSI)
Ruang terbuka publik memiliki peran penting dalam mendukung kualitas hidup perkotaan melalui fungsi sosial, rekreatif, dan ekologis. Teras Cikapundung di Kota Bandung sebagai ruang publik tepi sungai merupakan salah satu ruang yang memiliki tingkat pemanfaatan tinggi, namun masih menghadapi berbagai tantangan terkait kualitas ruang. Penelitian ini bertujuan menilai kualitas ruang terbuka publik Teras Cikapundung dengan mempertimbangkan keterkaitan antara karakteristik pengguna, pola aktivitas, dan pengalaman ruang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan Public Space Index (PSI) sebagai instrumen utama penilaian kualitas ruang berdasarkan lima aspek utama, serta didukung oleh Simpson’s Diversity Index (SDI) untuk mengidentifikasi tingkat keberagaman pengguna dan aktivitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa Teras Cikapundung memiliki tingkat pemanfaatan yang tinggi, terutama pada akhir pekan, yang menegaskan perannya sebagai ruang rekreasi perkotaan. Penilaian melalui Public Space Index (PSI) menunjukkan bahwa kualitas ruang berada pada kategori sedang, yang berarti ruang telah mampu memenuhi fungsi dasarnya namun belum optimal dalam menciptakan pengalaman ruang yang menyeluruh dan masih terdapat ketimpangan kinerja antar aspek. Temuan penelitian menegaskan bahwa kualitas ruang publik dipengaruhi oleh interaksi antara desain ruang, pola pemanfaatan, dan persepsi pengguna. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini merumuskan rekomendasi pada setiap indikator kualitas ruang yang masih rendah guna mendukung peningkatan kualitas ruang publik yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna serta pengembangan pendekatan evaluasi ruang terbuka publik yang lebih kontekstual dan terukur.
DAMPAK FISIK DAN LINGKUNGAN WISATA KULINER LENGKONG STREET FOOD BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT SEKITARNYA DENGAN PENDEKATAN IMPORTANCE - PERFORMANCE ANALYSIS (IPA)
Wisata Kuliner Lengkong Street Food terletak pada Jalan Lengkong Kecil, Kelurahan Paledang, Kota Bandung, berkembang pesat sejak 2020, pedagang memanfaatkan trotoar dan bahu jalan sebagai lapak berjualan. Perkembangan masif ini berpotensi menimbulkan dampak fisik dan dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar, namun belum ada penelitian yang mengidentifikasinya secara komprehensif berdasarkan persepsi masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak fisik dan dampak lingkungan akibat Wisata Kuliner Lengkong Street Food berdasarkan persepsi masyarakat sekitarnya, sekaligus menyusun arahan pengembangan kawasan. Metode yang dipilih terdiri dari mixed methods bersifat deskriptif serta pendekatan demand-oriented. Data primer diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 111 responden warga Kelurahan Paledang dan wawancara dengan pihak kelurahan. Analisis dilakukan menggunakan Importance - Performance Analysis (IPA), statistik deskriptif, serta kualitatif deskriptif. Keluaran dari penelitian memperlihatkan jika dampak fisik adalah mayoritas yang menempati kategori memerlukan penanganan prioritas, terutama terkait gangguan fungsi trotoar dan badan jalan akibat lapak pedagang, ketidaktersediaan area parkir, serta rendahnya kenyamanan pejalan kaki. Sebaliknya, seluruh indikator dampak lingkungan dinilai sudah ideal sehingga perlu untuk dipertahankan, mencakup tata kelola persampahan, kebersihan setelah operasional dan kenyamanan tinggal, yang terjaga karena koordinasi dengan Dinas terkait serta kepatuhan pedagang terhadap batas jam operasional. Temuan ini menjadi kebaruan penelitian karena berbeda dari dampak lingkungan yang umumnya terjadi pada wisata kuliner perkotaan. Penelitian ini ikut memengaruhi pada ilmu perencanaan wilayah dan kota dalam memahami transformasi ruang jalan akibat pertumbuhan ekonomi informal berbasis persepsi masyarakat
EVALUASI PEMANFAATAN RUANG PUBLIK ALUN-ALUN CIAMIS PASCA REVITALISASI BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG DENGAN KONSEP PLACEMAKING
Revitalisasi Alun-Alun Ciamis bertujuan untuk menambah RTH dan RTP, relokasi PKL, penataan parkir, dan penambahan fasilitas lain agar ruang lebih inklusif. Di tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Ciamis melakukan revitalisasi di bawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menggabungkan Alun-Alun Ciamis Wetan dan Alun-Alun Ciamis Kulon serta menambah sarana prasarana. Tahun 2024, pemerintah kembali merevitalisasi dengan menyediakan gedung parkir dan kuliner agar ruang publik bertambah dan tetap memenuhi kebutuhan fasilitas pengunjung. Meskipun sudah lengkap dan menarik secara visual, penambahan fasilitas baru memengaruhi kualitas dan pola aktivitas pemanfaatan ruang. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi Alun-Alun Ciamis pasca revitalisasi berdasarkan persepsi pengunjung dengan konsep placemaking, teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner, observasi, wawancara, dan studi literatur, serta metode analisis data berupa analisis konten, deskriptif kuantitatif, dan deskriptif kualitatif. Penelitian membandingkan kondisi sebelum dan setelah revitalisasi ditinjau dari fasilitas dan pemanfaatan ruang, dengan kesimpulan menunjukkan bahwa pasca revitalisasi berdasarkan persepsi, Alun-Alun Ciamis terdapat peningkatan dibanding sebelum revitalisasi dan sudah sesuai dengan keempat komponen placemaking. Meskipun masih perlu adanya perbaikan dalam aksesibilitas, keterhubungan, kebersihan, dan kenyamanan. Rekomendasi mencakup aksesibilitas, keterhubungan, kebersihan, dan kenyamanan yang harus ditingkatkan agar ruang tercipta lebih inklusif.
EVALUASI PERAN TANAH PENUTUP TERHADAP RISIKO KONTAMINAN AIRTANAH DI TPPAS SARIMUKTI, KABUPATEN BANDUNG BARAT
TPPAS Sarimukti memiliki proses penimbunan sampah dengan sistem open dumping yang pada umumnya menghasilkan pencemar berupa air lindi sehingga dapat menyebabkan pencemaran air di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konduktivitas hidrolik dan kualitas airtanah serta air permukaan di sekitar TPPAS Sarimukti serta mengevaluasi efektivitas lapisan tanah penutup dalam menekan potensi pembentukan dan pergerakan lindi berdasarkan data kimia air dan pola aliran airtanah. Data yang digunakan merupakan data primer berupa data infiltrasi yang diolah menjadi konduktivitas hidrolik dan data kimia air berupa nilai konsentrasi total dissolved solid (TDS) dan klorida (Cl-). Berdasarkan hasil interpolasi nilai konduktivitas hidrolik, sampel airtanah pada titik SP2 berada pada zona dengan nilai konduktivitas hidrolik tanah yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan titik airtanah lainnya (SP1 dan SP3). Begitupun dengan nilai konsentrasi TDS dan Cl- pada titik SP2. Sehingga, adanya kecenderungan awal yang mengindikasikan adanya hubungan potensial peningkatan nilai konsentrasi TDS dan Klorida seiring meningkatnya nilai konduktivitas hidrolik tanah. Selain itu, lapisan tanah penutup dengan ketebalan yang relatif terbatas yaitu sebesar 50 cm yang dikombinasikan dengan nilai konduktivitas hidrolik sebesar 10-5 – 10-4 cm/detik sehingga masih memungkinkan air hujan berpotensi meresap ke dalam timbunan sampah dan membentuk lindi. Peningkatan konsentrasi TDS dan klorida pada airtanah serta pola aliran airtanah dari TPPAS menuju titik pengamatan menunjukkan adanya potensi pergerakan lindi menuju sistem airtanah. Selain itu, kontribusi dari air sungai perlu dipertimbangkan, mengingat hasil pengolahan lindi dialirkan ke badan sungai yang berpotensi berinteraksi dengan sistem airtanah.
OPTIMISASI ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT PULAU JAWA BAGIAN BARAT
Pemanfaatan peta zona potensi penangkapan ikan di Indonesia mulai banyak digunakan oleh nelayan untuk keperluan penangkapan ikan, tetapi pemanfaatan peta tersebut masih belum optimal. Peta zona potensi penangkapan ikan perlu ditunjang dengan adanya model optimisasi peta zona potensi penangkapan ikan yang dapat memperkirakan rute/jalur pelayaran kapal/perahu nelayan yang paling efektif dan efisien dalam melakukan penangkapan ikan di zona potensi penangkapan ikan. Hasil penelitian ini menunjukan dengan menambahkan faktor penghambat yaitu kecepatan angin dan tinggi gelombang memiliki pengaruh yang signifikan pada perkiraan pendapatan yang didapat nelayan dan waktu tempuh nelayan dalam melakukan penangkapan ikan.
PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO CURUG CINULANG
Pertumbuhan penduduk Provinsi Jawa Barat yang mencapai 1,83% per tahun mendorong peningkatan kebutuhan energi listrik yang signifikan, sementara Indonesia berkomitmen memenuhi target bauran energi terbarukan sebesar 51,6% pada 2030 berdasarkan RUPTL PLN 2021–2030. Curug Cinulang di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, yang terletak pada elevasi 815–1.099 m dpl dengan populasi sekitar 121.813 jiwa, memiliki potensi hidrologis yang belum dimanfaatkan sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Penelitian ini bertujuan merancang komponen sipil PLTMH yang memenuhi standar teknis serta layak secara ekonomi. Metodologi yang diterapkan meliputi analisis hidrologi menggunakan distribusi Log Pearson Tipe III dan metode F.J. Mock untuk mendapatkan debit banjir rencana dan debit andalan, perancangan komponen bangunan sipil (bendung, intake, kantong lumpur, saluran pembawa, kolam penenang, pipa pesat, saluran pembuang), serta analisis kelayakan ekonomi menggunakan parameter NPV, IRR, BCR, dan payback period. Tiga alternatif skema tata letak dievaluasi secara teknis dan ekonomis. Hasil analisis hidrologi menghasilkan debit banjir rencana Q??? sebesar 49,98 m³/s dan debit andalan Q?? sebesar 0,281 m³/s. Skema 1 dipilih sebagai skema terpilih dengan head efektif 17,74 m, menghasilkan daya sebesar 37,69 kW dan produksi energi tahunan 231.085 kWh. Bendung direncanakan dengan lebar efektif 21,6 m dan terbukti aman terhadap geser dan guling pada kondisi normal maupun banjir. Turbin terpilih adalah tipe Cross-Flow dengan efisiensi 77%. Biaya konstruksi Skema 1 sebesar Rp1.731.424.144,07 dengan net cashflow Rp277.799.075,21 per tahun, menghasilkan NPV positif sebesar Rp480.781.042,55, IRR 15,08%, BCR 1,28, dan payback period 6,23 tahun, sehingga proyek dinyatakan layak secara ekonomi.
PENGEMBANGAN MODEL BISNIS TERPADU BERKELANJUTAN STASIUN PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK UMUM (SPKLU) DI INDONESIA
Pemanasan global merupakan permasalahan penting yang menjadi perhatian bagi seluruh dunia karena berdampak pada perubahan lingkungan. Emisi gas karbon dioksida (CO2) menjadi penyumbang utama dalam pemanasan global, dengan sumber utamanya adalah sektor transportasi. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor transportasi mengalami transformasi yang signifikan karena adanya kendaraan listrik. Percepatan adopsi kendaraan listrik menjadi salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas CO2 di Indonesia. Salah satu upaya untuk mendukung promosi industri kendaraan listrik adalah melalui pengembangan dan peningkatan kualitas infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik, yakni Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). SPKLU menjadi pendukung para pengguna kendaraan listrik yang melakukan pengisian daya di luar rumah. Namun melihat kondisi SPKLU di Indonesia saat ini masih belum dapat memberikan layanan interoperabilitas, yang meningkatkan pengalaman pelanggan. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang meneliti terkait pengembangan model bisnis terpadu SPKLU yang berorientasi pada tujuan keberlanjutan, sebagai bentuk upaya mendukung tercapainya Net Zero Emision (NZE) 2060. Pengembangan model bisnis terpadu berkelanjutan SPKLU dalam penelitian ini memadukan pendekatan Ecosystem Pie Model (EPM) untuk mengidentifikasi entitas dalam ekosistem SPKLU dengan Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC) untuk menggambarkan secara detail kondisi bisnis pada lapisan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Hasil pengembangan model dalam penelitian ini dapat menjadi peluang untuk para pelaku bisnis dalam mengembangan bisnis SPKLU di Indonesia.
ANALISIS KARAKTERISTIK PENYEBAB DAN DAMPAK PENURUNAN PERMUKAAN TANAH DI WILAYAH JAKARTA
Penurunan tanah (land subsidence) adalah suatu fenomena alam yang telah cukup lama terjadi di beberapa tempat di wilayah Jakarta. Dalam periode 1982 sampai 1997, penurunan tanah sebesar 20 sampai 200 cm telah dideteksi oleh metode survei sipat datar (leveling). Dari 1997 sampai 2007, metode survei GPS (Global Positioning System) menunjukkan bahwa penurunan tanah di wilayah Jakarta terus berlangsung, dengan laju maksimum sekitar 10-15 cm/tahun di wilayah Jakarta Utara bagian Barat. Metode InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) yang berbasiskan pada citra dari satelit radar, menunjukkan bahwa dalam periode Januari sampai November 2007, penurunan tanah di wilayah Jakarta dengan laju sekitar 10 cm/tahun terjadi di banyak tempat di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Secara umum penurunan tanah di wilayah Jakarta bervariasi secara spasial maupun temporal, dan disebabkan oleh kombinasi dari pengambilan airtanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi sedimen, serta aktivitas tektonik. Tugas akhir ini menjelaskan karakteristik, penyebab dan dampak penurunan tanah di wilayah Jakarta, serta korelasinya dengan kondisi tata guna lahan, kedudukan muka air tanah dan kondisi demografi.
PEMBANGUNAN BASIS DATA CITRA PANORAMIC DAN INTEGRASINYA DENGAN GEO-DATABASE
Sebuah visualisasi mengenai keadaan lingkungan sekitarnya dapat memberikan nilai tambah pada suatu Sistem Informasi Geografis, salah satunya adalah citra panoramic 360°. “Google Street View” merupakan salah satu aplikasi Sistem Informasi Geografi yang menggunakan citra panoramic 360°. Akan tetapi, aplikasi ini hanya dapat memvisualisasikan citra panoramic 360° saja, masih belum dapat terkait dengan informasi tekstual dari objek yang terekam dalam citra panoramic 360° itu sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknik yang mengintegrasikan basis data citra panoramic 360° dengan Geo-database yang menyimpan informasi tekstual mengenai objek yang terekam pada citra panoramic 360° tersebut. Tahapan pengolahan data yang dilakukan pada penelitian tugas akhir ini terbagi menjadi 2 bagian utama, yaitu: a. Proses rekonstruksi citra panoramic 360° yang didapatkan dari pengambilan data dengan menggunakan kamera digital biasa. b. Desain dan pembangunan basis data citra panoramic 360° yang diintegrasikan dengan Geo-database serta implementasi dan visualisasi dari sistem aplikasi yang dibangun. Hasil dari tugas akhir ini berupa aplikasi SIG sederhana yang dapat menampilkan citra panoramic 360° sekaligus informasi tekstual mengenai objek yang terekam dalam citra panoramic 360° tersebut.
KAJIAN SEMBILAN KOMPONEN PASUT UTAMA TERHADAP PENDEFINISIAN CHART DATUM DI INDONESIA
Selama ini pendefinisian chart datum di Indonesia menggunakan sembilan komponen pasut utama (M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, M4, dan MS4) yang diperoleh dengan menggunakan metoda Admiralty yang diadopsi sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Kenyataannya adalah komponen-komponen gaya pembangkit pasut yang sudah diketahui adalah lebih dari 300 komponen. Dalam tugas akhir ini dikaji sembilan komponen tersebut sejauh mana pengaruhnya terhadap penentuan chart datum di Indonesia yang memiliki karakteristik perairan yang beragam. Untuk mengetahui pengaruh komponen-komponen pasut tersebut hal-hal yang dilakukan adalah mencari komponen pasut yang dominan, setelah mengetahui mana komponen pasut dominan maka ditentukan chart datum sesuai dengan standar IHO (Organisasi Hidrografi Internasional). Chart datum yang sudah didefinisikan kemudian diuji dengan chart datum hasil hitungan dan diuji dengan nilai air rendah hasil prediksi. Hasil dari pengujian adalah chart datum yang sudah didefinisikan dapat digunakan untuk perairan di Indonesia, chart datum tersebut identik dengan penentuan chart datum menggunakan cara yang direkomendasikan IHO di antara lima komponen dan enam komponen. Penentuan chart datum di Indonesia menggunakan paling sedikit lima komponen pasut. Kesimpulan akhir yang dapat diambil adalah terdapat lima komponen pasut dominan mempengaruhi penentuan chart datum yaitu komponen M2, K1, S2, O1, dan P1.
PERANCANGAN ULANG FONDASI TIANG BOR DAN ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA-WAKTU DENGAN JACK-IN PILE: STUDI KASUS PROYEK HUDSON SQUARE
Pemilihan sistem fondasi dalam merupakan aspek penting dalam perencanaan struktur bawah, terutama pada wilayah bertanah lunak dan berisiko seismik tinggi seperti Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Laporan tugas akhir ini membahas perancangan ulang fondasi eksisting jack-in pile menjadi bored pile pada Proyek Hudson Square. Analisis dilakukan berdasarkan SNI 8460:2017, SNI 1726:2019, dan SNI 2847:2019, dengan menggunakan data Standard Penetration Test dari tiga titik bor, yaitu DB.1, DB.2, dan DB.5. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa lokasi proyek termasuk Kelas Situs SE atau tanah lunak, sehingga diperlukan desain tulangan daktail sesuai Kategori Desain Seismik D. Konfigurasi tulangan yang digunakan terdiri atas 9D36 dan 4D32 sebagai tulangan longitudinal, serta D16-150 pada zona confinement dan D16-300 pada zona non-confinement. Hasil analisis menunjukkan bahwa bored pile berdiameter 600 mm memenuhi batas penurunan izin sebesar 28 cm serta batas defleksi lateral sebesar 10 mm pada beban 100% rencana dan 25 mm pada beban 200% rencana. Jumlah titik fondasi berkurang dari 552 titik jack-in pile menjadi 317 titik bored pile, terdiri atas 122 titik pada kedalaman 21 m dan 195 titik pada kedalaman 22,5 m. Namun, metode bored pile membutuhkan volume beton sebesar 2.063,17 m³ dan baja tulangan sebesar 397.571,403 kg, dengan total biaya Rp9.983.617.048,90 dan durasi pelaksanaan 54 hari. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan jack-in pile, yang memiliki biaya realisasi Rp1.978.946.345,45 dan durasi 27 hari. Dengan demikian, bored pile secara teknis memenuhi persyaratan perencanaan, tetapi secara indikatif jack-in pile lebih efisien dari aspek biaya dan waktu untuk tipologi bangunan komersial menengah pada lokasi penelitian.