📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKAJIAN TEKNIS TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA INDONESIA
Berkenaan dengan UU No. 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara yang berisi peraturan tentang perbatasan wilayah negara terutama wilayah laut, sangat penting untuk melakukan kajian teknisnya agar dapat dilakukan implementasi di lapangan. UU No. 43 Tahun 2008 sangat berhubungan dengan peraturan-peraturan lain. Baik itu peraturan nasional yang telah terbit sebelumnya, juga dengan peraturan internasional. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji aspek teknis tentang UU No. 43 Tahun 2008 dari berbagai sumber terkait hukum, standar survei, imlementasi teknis, dan teknologi survei terbaru. Seiring dengan berkembangnya teknologi, peraturan tentang wilayah negara juga turut berkembang. Hal ini diakibatkan oleh semakin canggihnya teknologi alat untuk mencapai ketelitian yang lebih baik. Sehingga peraturan tentang standar ketelitian pengukuran pun ikut berkembang. Dalam tugas akhir ini dibahas tentang teknis penetapan batas laut dengan standar ketelitian terbaru.
DETEKSI PIPA BAWAH LAUT DENGAN TEKNOLOGI ROV (REMOTELY OPERATED VEHICLES)
Pipa bawah laut merupakan instalasi yang dibangun dengan suatu keperluan yang vital. Aktivitas yang dilakukan khususnya kegiatan konstruksi baru di area sekitar pipa bawah laut yang ada mesti memperhatikan pipa yang sudah ada. Untuk mendeteksi keberadaan pipa bawah laut diperlukan metode yang aman dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Pendeteksian pipa bawah laut dengan ROV merupakan salah satu metode yang ada sebagai suatu alternatif yang ada disaat penyelaman langsung oleh manusia dinilai tidak efisien atau berbahaya. Dalam tugas akhir ini akan dibahas pemanfaatan ROV dalam pendeteksian pipa bawah laut. Produk akhir dari aktivitas survei pendeteksian pipa bawah laut adalah gambar visual dari keberadaan pipa bawah laut dan jalur pipa bawah laut aktual berdasarkan data pergerakan ROV sewaktu merekam pipa sebagai suatu upaya meningkatkan tingkat kepercayaan hasil survey pendahuluan dengan sidescan sonar dan magnetometer.
DESAIN KONSEPTUAL BAHAN BAKAR PWR THO2UO2 HOMOGEN BERUMUR PANJANG DENGAN RACUN BAKAR PA231 DAN NP237 MENGGUNAKAN KODE OPENMC
Penelitian ini mengevaluasi desain konseptual neutronik bahan bakar untuk PWR modular kecil dengan siklus torium menggunakan simulasi Monte Carlo OpenMC. Model yang digunakan adalah sel pin tak hingga pada kisi persegi berbasis geometri PWR, dengan bahan bakar homogen ThO2UO2 yang merepresentasikan Th232 sebagai isotop fertil dan U233 sebagai isotop fisil utama. Racun bakar homogen Pa231 dan Np237 juga diuji masingmasing dalam bentuk PaO2 dan NpO2. Simulasi pembakaran dilakukan selama 3600 hari pada rapat daya volumetrik konstan 50 kW/L dengan temperatur dan densitas material tetap. Survei parametrik mencakup fraksi volume bahan bakar 33,2 %–60,0 %, fraksi atomik awal UO2 4,0 ao%–6,0 ao%, fraksi atomik awal PaO2 0,5 ao%–2,0 ao%, dan fraksi atomik awal NpO2 0,5 ao%–1,0 ao%. Hasil menunjukkan bahwa fraksi volume bahan bakar yang lebih besar menurunkan faktor multiplikasi awal, mendatarkan evolusi faktor multiplikasi selama pembakaran, mengeraskan spektrum neutron, dan meningkatkan kecenderungan konversi Th232 menjadi U233. Fraksi awal UO2 yang lebih tinggi meningkatkan faktor multiplikasi, tetapi tidak selalu mendukung konservasi U233 ataupun rasio konversi yang lebih tinggi. Penambahan Pa231 ataupun Np237 menurunkan reaktivitas awal dan dapat meningkatkan rasio konversi U233, dengan Pa231 menunjukkan penyerapan yang lebih kuat dan kecenderungan yang lebih besar untuk meningkatkan konversi dalam rentang yang diuji. Dalam keterbatasan model sel pin tak hingga, temperatur tetap, serta ketiadaan analisis teras penuh dan termalhidraulik, hasil ini memberikan landasan neutronik awal bagi kajian lanjutan mengenai bahan bakar homogen ThO2UO2 dengan racun bakar untuk aplikasi PWR dengan pembakaran panjang.
PENDEFINISIAN GARIS LURUS DALAM PENARIKAN BATAS LAUT
Penetapan batas laut suatu Negara berdasarkan UNCLOS 1982 (laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen) ditarik dari garis pangkal sejauh yang telah ditetapkan dalam UNCLOS 1982 kearah laut lepas. Penarikan batas laut tersebut tidak disertakan dengan bidang referensi yang digunakan, baik itu di permukaan bumi, geoid, elipsoid, maupun proyeksi peta. Reduksi jarak dari permukaan bumi ke permukaan elipsoid menggunakan formula hitungan geodetik dan hasil reduksi tersebut digunakan untuk hitungan pada sistem proyeksi peta UTM dan Mercator. Reduksi jarak dari permukan bumi ke bidang elipsoid tidak mengalami reduksi/tidak signifikan karena ketinggian geodetiknya adalah nol, sehingga permukaan bumi berimpit dengan elipsoid. Reduksi pada sistem proyeksi Mercator untuk semua penarikan batas laut melebihi batas toleransi ketelitian pengeplotan titik baik berdasarkan skala yang di rekomendasikan TALOS maupun skala peta laut Indonesia. Sistem Proyeksi UTM, untuk laut teritorial dan zona tambahan tidak signifikan terhadap skala UNCLOS maupun skala peta Indonesia. Sedangkan ZEE dan Landas Kontinen diperolah hasil yang signifikan terhadap skala peta TALOS dan skala peta laut Indonesia. Hasil reduksi jarak dengan menggunakan formula hitungan geodetik di permukaan elipsoid, sistem proyeksi peta UTM dan Mercator diperoleh hasil yang berbeda sehingga pendefinisian penarikan batas laut terhadap bidang acuan sangat dipelukan.
ANALISIS STRUKTUR-SIFAT FOTOLUMINESENSI CARBON DOTS (CDS) MELALUI MACHINE LEARNING BERBASIS LITERATURE MINING TERINTEGRASI LARGE LANGUAGE MODELS (LLMS)
Studi ini menggabungkan literature mining berbasis large language models (LLMs) GPT-5 Mini dan pendekatan rule-based (regex) dengan pemodelan Artificial Neural Network (ANN) untuk menganalisis N-CDs sebagai struktur utama dengan variasi co-dopan heteroatom. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan literature mining ini sangat efektif, mencapai akurasi 91,73%. Kumpulan data yang telah diseleksi tersebut dimanfaatkan dalam kerangka kerja machine learning (ML) untuk menyelidiki hubungan struktur-sifat yang mengatur perilaku fotoluminesensi, yaitu warna emisi sebagai deskriptor praktis dalam aplikasi CDs. Hasil ANN menunjukkan bahwa pergeseran warna emisi terutama ditentukan oleh parameter yang berkaitan dengan carbon, khususnya komposisi karbon (%C), yang secara tidak langsung mencerminkan fitur struktural seperti konjugasi dan delokalisasi elektron ???? yang terkait dengan modulasi celah pita dan pergeseran emisi. Selain itu, nitrogen memodulasi perilaku emisi melalui fungsionalitas dan konfigurasinya pada permukaan, yang memengaruhi keadaan surface states serta jalur rekombinasi elektron-hole. Sementara itu, co-dopan tambahan juga memengaruhi pergeseran emisi, namun hanya bersifat sebagai modulator. Pendekatan ini menekankan potensi strategi berbasis data dalam menghubungkan informasi eksperimental dari literatur dengan pemahaman fisik terhadap material.
KOREKSI GEOMETRIK BANGUNAN MENGGUNAKAN METODE HITUNG PERATAN KUADRAT TERKECIL BERDASARKAN DATA FOTO YANG DIKOREKSI MENGGUNAKAN PROSES FOTOGRAMETRI
Tugas akhir ini mengkaji cara memberikan koreksi kepada bentuk geometrik model dijital bangunan menggunakan metoda hitung perataan kuadrat terkecil berdasarkan data koordinat yang terdiri atas (X, Y dan Z). Data yang digunakan dalam proses pengolahan ini adalah data koordinat yang bisa berasal dari.hasil pemetaan fotogrametri udara maupun terestris. Karena masih adanya kesalahan oleh pengamatan operator pemetaan, menyebabkan bentuk model bangunan tersebut masih belum sesuai dengan keadaan sesungguhnya (terutama masalah ketegaklurusan detail objek dan tidak sebidangnya titik-titik yang membentuk bidang), maka perlu adanya koreksi dari bentuk geometriknya. Metoda yang digunakan dalam pemberian koreksi terhadap geometrik bangunan ini adalah hitung perataan kuadrat terkecil. Dalam metoda ini dibagi menjadi dua tahap pengolahan, pertama perataan untuk tiap satu bidang dan berlaku untuk semua bidang. Kedua adalah memproyeksikan titik pengukuran ke semua bidang yang memenuhi syarat ketegaklurusan. Kedua tahap tersebut dihitung secara bersamaan dan dilakukan terus menerus hingga mendapatkan hasil yang relatif konstan. Berdasarkan hasil percobaan-percobaan yang telah dilakukan ternyata, metoda ini masih banyak terdapat kekurangan. Terutama masalah dalam persamaan ortogonaliti. Diharapkan tugas akhir ini dapat dijadikan acuan awal untuk melakukan kajian-kajian selanjutnya mengenai masalah bentuk geometrik bangunan ini.
INTEGRASI BATAS LAUT NEGARA DAN DAERAH
Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki pantai dan bercirikan nusantara, batas-batas lautnya meliputi batas Laut Teritorial 12 mil laut, batas Zona Tambahan 24 mil laut, batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut, dan batas Landas Kontinen 350 mil laut atau kedalaman 2500 meter+100 mil laut yang ditarik dari garis pangkal. Dimana jika batas laut negara menghadap laut lepas, berbagai jenis garis batas ini ditetapkan secara unilateral/sepihak. Sedangkan bila bertampalan dengan batas negara lain, maka berbagai jenis garis batas ini ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah mengubah kedaulatan atau kewenangan wilayah daerah provinsi. Perubahan besar yang telah dibawa oleh UU tersebut adalah bahwa kemudian wilayah daerah provinsi terdiri dari wilayah daratan dan wilayah lautan. Dimana batas laut daerah itu bisa menghadap laut lepas dan/atau menghadap perairan kepulauan. Jika daerah batas laut daerah menghadap laut lepas, Pemerintah daerah diberikan kewenangan pengelolaan sumber daya di wilayah laut paling jauh 12 mil laut untuk Provinsi, dan 1/3 dari itu untuk Kabupaten/Kota. Pada batas laut negara dan daerah yang menghadap laut lepas terjadi overlap (tumpang tindih) sehingga titik dasar sebagai acuan penarikan batas laut tidak perlu ditentukan 2 kali. Tetapi daerah bisa menggunakan titik-titik dasar yang digunakan oleh negara untuk menentukan batas laut negara sebagai titik awal. Dengan demikian dapat dibuatkan prosedur integrasi untuk batas laut daerah (provinsi) yang tumpang tindih dengan batas laut negara. Dan setelah dikaji dari 33 provinsi di Indonesia, terdapat 24 provinsi yang dapat mengikuti prosedur integrasi ini. Sehingga diharapkan adanya efisiensi waktu dan biaya dalam menentukan batas laut bagi provinsi.
PEMBUATAN PETA ZONA TAMBAHAN BERDASARKAN PETA GARIS PANGKAL UNTUK PERCEPATAN PENANGANAN MASALAH PENYELUNDUPAN DAN PELANGGARAN BATAS LAUT TERITORIAL INDONESIA
Indonesia merupakan Negara Kepulauan (Archipelagic State) yang memiliki wilayah perairan yang mencakup 2/3 dari luas wilayah keseluruhan. Oleh karena itu, ketersedian peta sangat diperlukan, terutama yang berkaitan dengan informasi batas laut. Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memperjelas dan menegaskan batas wilayah lautnya termasuk batas Zona Tambahan yang didalamnya Indonesia memiliki hak untuk mengatur kewenangan yang berkaitan dengan bea cukai, fiskal, imigrasi dan saniter. Implementasi informasi Zona Tambahan Indonesia ditinjau dari kepentingan beberapa instansi yang dikaitkan dengan kebutuhan akan Peta Batas Zona Tambahan. Dengan demikian dapat dirumuskan hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan Zona Tambahan di Indonesia dengan hasil akhir berupa Peta Zona Tambahan Indonesia. Peta tersebut digunakan oleh para instansi yang berwenang pada Zona Tambahan Indonesia dan dapat dimaksimalkan untuk percepatan penanganan masalah kriminalitas di Laut Teritorial Indonesia, terutama dalam permasalahan penyeludupan dan pelanggaran batas laut.
ANALISIS DERET WAKTU DARI DATA PENGAMATAN DEFORMASI KERAK BUMI MENGGUNAKAN METODE AUTOREGRESSIVE MOVING AVERAGE (ARMA)
Secara umum data deret waktu GPS mempunyai bentuk pola berupa pola linier, musiman, dan irregular (tidak beraturan). Pola musiman dan irregular tersebut harus dieliminasi sehingga data yang dihitung hanya merupakan pola dari pergerakan lempeng bumi. Metoda Autoregressive moving average (ARMA) diaplikasikan untuk memodelkan pola irregular deret waktu koordinat stasiun GPS. Sebelum proses ARMA, perlu dilakukan reduksi terhadap komponen linier (trend) dan musiman (seasonal). Reduksi komponen trend menggunakan regresi linier sederhana, sedangkan reduksi komponen seasonal menggunakan polinomial trigonometri. Dari hasil hitungan vektor kecepatan horizontal menggunakan data mentah dan improved ARMA diperoleh selisih pergeseran antara 0,0006 m sampai 0,0023 m, kecuali untuk stasiun JAMB selisih mencapai 0,008 m dan mengalami penurunan simpangan baku sebesar 0,0035 m sampai 0,0044 m. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode ARMA berpengaruh signifikan dalam pereduksian noise dan tidak berpengaruh signifikan dalam hitungan vektor kecepatan horizontal.
STUDI PENGARUH PANJANG BASELINE TERHADAP KETELITIAN SURVEI BATIMETRI MENGGUNAKAN METODA GPS REAL TIME
Survei batimetri merupakan salah satu dari pekerjaan hidrografi untuk keperluan kerekayasaan ataupun keperluan praktis. Ketelitian suatu survei batimetri tidak terlepas dari peranan GPS yang dapat mencatat suatu titik koordinat posisi dengan tingkat akurasi cukup tinggi. Alat GPS merupakan alat yang paling sesuai untuk digunakan dalam kegiatan survei batimetri karena sistemnya dapat menerima data posisi secara real-time dengan diterapkannya metode differential positioning. Dengan menggunakan metode diferensial ini, GPS membutuhkan suatu acuan stasiun referensi dengan jarak baseline yang sesuai agar ia dapat memberikan ketelitian posisi yang baik pada saat dilakukan kegiatan survei secara real time di mana data koordinat yang diperoleh harus bisa digunakan seketika itu juga. Dengan adanya variasi lokasi stasiun referensi dari area survei, maka akan bisa dianalisis pengaruh jarak baseline terhadap ketelitian pengamatan dengan GPS. Di dalam tugas akhir ini akan dianalisis mengenai ketelitian komponen posisi horizontal, yaitu standar deviasi arah timur-barat dan standar deviasi arah utara-selatan terhadap panjang baseline. Baseline yang diteliti memiliki panjang 100 km, 76 km, 51 km, 34 km, dan 9 km. Skenario pengolahan data yang dilakukan ada dua, yaitu melakukan pengolahan data titik diam secara kinematik dan pengolahan data titik yang bergerak. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa perubahan tingkat ketelitian yang diberikan oleh masing-masing pengamatan cenderung bervariasi seiring dengan pertambahan jarak baseline karena disimulasikan dalam keadaan real time. Dengan menggunakan pemodelan secara matematis, yaitu pendekatan regresi linier dan eksponensial, perubahan tingkat ketelitian itu bisa digambarkan dan nantinya dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi untuk melakukan survei batimetri secara real time.
SENSOR MASS LOADING EFFECT ON THE DYNAMIC CHARACTERISTICS ON THE LPLATE LIGHT STRUCTURE
Lihat di file
ANALISIS DERET WAKTU DATA PENGAMATAN GPS KONTINU DI JAWA BARAT
Daerah Jawa Barat sebenarnya memiliki karakteristik seismik yang unik. Tidak seperti daerah-daerah di Pulau Sumatra yang merupakan daerah rawan gempa, karena sering terjadi gempa dengan magnitude yang besar, daerah Jawa Barat ini jarang terjadi gempa. Gempa yang terjadi pun biasanya dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan gempa bumi di Sumatra. Tetapi, di Jawa Barat juga pernah terjadi gempa dengan skala kerusakan yang besar, seperti Gempa Tasikmalaya (2 September 2009) dan Gempa Pangandaran (17 Juli 2006). Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi pada Blok Sunda (Sunda Block) ini, khususnya di Jawa Barat. Saat ini, berbagai studi dan penelitian geodinamika sudah dilakukan. Salah satunya adalah pemasangan (instalasi) jaring GPS kontinu di Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk meneliti bagaimana pergerakan titik-titik pengamatan GPS kontinu tersebut sehingga untuk selanjutnya dapat dianalisis bagaimana pola deformasinya. Data hasil pengamatan GPS ini kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, lalu dilakukan plotting deret waktunya, sehingga dapat dilakukan analisis deret waktu. Tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis pergeseran dan regangan titik-titik pengamatan GPS di Jawa Barat. Analisis deret waktu dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pola pergeseran dan regangan di Jawa Barat. Hasil pengolahan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Blok Sunda mengalami pergerakan horisontal ke arah tenggara relatif terhadap jaring ITRF-05 dengan kecepatan 2-3 cm/tahun. Sedangkan untuk pergerakan vertikalnya terdapat variasi dalam pergerakannya. Selain itu, diketahui bahwa wilayah Jawa Barat ini didominasi oleh fenomena kompresi (tekanan ke dalam) dengan arah N-S. Sedangkan fenomena dilatasi terdapat di beberapa area Jawa Barat di sekitar sesar Cimandiri.
PEMODELAN TINGKAT AKTIFITAS SESAR CIMANDIRI BERDASARKAN DATA PENGAMATAN DEFORMASI PERMUKAAN
Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang berada di daerah Sukabumi Selatan, yang memanjang dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur sampai Padalarang. Sesar Cimandiri terbentuk akibat adanya gaya tekan yang timbul dari proses subduksi lempeng samudera Indoaustralia ke bawah lempeng benua Erasia di selatan Pulau Jawa. Sesar Cimandiri terletak pada kawasan yang relatif padat penduduk sehingga bila terjadi gempa akan menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang besar, sehingga tingkat aktivitas sesar Cimandiri perlu dipantau, agar dapat dilakukan antisipasi dan mitigasi terhadap bencana gempa yang akan terjadi. Untuk keperluan tersebut dilakukan pengukuran GPS dengan metode penentuan posisi statik geodetik (penentuan posisi differensial) tipe episodik sebanyak empat kali, yaitu pada 1-4 Desember 2006, 20-23 Agustus 2007, 8-12 Agustus 2008 dan 21-24 Juli 2009. Survei GPS dilaksanakan menggunakan sejumlah receiver GPS tipe geodetik dua frekuensi dan pengolahan datanya menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0, selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran, nilai parameter regangan dan pembuatan model tingkat aktivitas. Berdasarkan hasil pengolahan data memberikan kesimpulan bahwa sesar Cimandiri merupakan sesar geser mengiri dan kawasan zona sesar Cimandiri dan sekitarnya bergerak dengan kecepatan 1 hingga 20 mm/tahun, besarnya regangan berkisar 0,1 hingga 4 mikrostrain yang bervariasi secara spasial dan tingkat akumulasi pergeseran sebesar 10 mm/tahun.
PREFERENSI PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI, ABILITY TO PAY DAN WILLINGNESS TO PAY PADA RENCANA LRT BANDUNG RAYA KORIDOR BABAKAN SILIWANGI-TEGALLUAR
Kota Bandung menghadapi krisis mobilitas yang serius dengan predikat kota termacet di Indonesia, sementara rencana pembangunan light rail transit (LRT) Bandung Raya sebagai Proyek Strategis Nasional hadir sebagai solusi jangka panjang. Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada skema kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) yang mengandalkan pendapatan tiket, namun hingga kini belum tersedia data mengenai karakteristik pengguna, preferensi, kemampuan bayar, dan kemauan bayar calon penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sosio-ekonomi dan pola perjalanan, preferensi pemilihan moda, serta nilai ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP) masyarakat lokal pada koridor Babakan Siliwangi-Tegalluar sebagai landasan rekomendasi kebijakan tarif dan strategi operasional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode stated preference melalui choice experiment berbasis orthogonal design yang disebarkan kepada 160 responden komuter harian menggunakan teknik purposive sampling. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi profil sosio-ekonomi dan pola perjalanan responden sekaligus menghitung nilai ATP berdasarkan proporsi pengeluaran transportasi. Atribut layanan yang dianalisis dalam pemodelan preferensi meliputi waktu tempuh, biaya perjalanan, waktu tunggu, waktu akses, jumlah perpindahan moda, dan sistem pembayaran, yang dimodelkan menggunakan multinomial logit model. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pemangku kepentingan dalam menetapkan kebijakan tarif yang inklusif dan strategi pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan komuter harian di Kawasan Metropolitan Bandung Raya
EVALUASI ESTIMASI KONSENTRASI SEDIMEN TERSUSPENSI DARI INSTRUMEN HIDRO-AKUSTIK DAN SAMPEL LAPANGAN.
Tugas akhir ini membahas persamaan empirik hasil dari perbandingan langsung antara intensitas akustik dan sampel lapangan konsentrasi sedimen tersuspensi. Persamaan empirik digunakan untuk mengubah intensitas gema akustik menjadi konsentrasi sedimen tersuspensi dengan kalibrasi konsentrasi sedimen tersuspensi dari sampel lapangan. Data diperoleh dari tiga lokasi pengukuran yang terletak di pesisir utara pantai Jawa Barat, yaitu Pulau Semak Daun, Muara Gembong, dan Indramayu. Pengukuran dilakukan dengan instrumen hidro-akustik tipe Doppler yaitu AWAC (frekuensi 600kHz) dan Aquadopp? (frekuensi 600kHz dan 1000kHz). Pengambilan sampel air dilakukan pada ketiga lokasi pengukuran untuk mengetahui konsentrasi sampel sedimen tersuspensi. Persamaan empirik dievaluasi dengan membandingkan konsentrasi sampel dan konsentrasi hasil estimasi. Hasil menunjukkan bahwa estimasi konsentrasi tergantung pada frekuensi instrumen yang digunakan dan lokasi pengukuran. Sensitivitas pada instrumen berfrekuensi 1000kHz lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen berfrekuensi 600kHz. Penentuan akurasi berdasarkan tingkat kesesuaian yang diperoleh dengan membandingkan konsentrasi hasil estimasi dan konsentrasi hasil pengukuran dan digolongkan ke dalam faktor dua (nilai perbandingan berada diantara 0,5 dan 2). Hasil menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian faktor dua bernilai diatas 60% untuk lokasi pulau Semak Daun dan Muara Gembong, sedangkan untuk daerah Indramayu nilainya masih berada di bawah 60%. Perlu digarisbawahi bahwa hasil estimasi dengan menggunakan persamaan empirik dalam kajian ini bersifat relatif, karena tidak dilakukan kalibrasi karakteristik instrumen dan properti sedimen. Walaupun demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan instrumen hidro-akustik untuk estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi.