π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGARUH METODE HONEY PROCESS DAN TINGKAT ROASTING TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK SERBUK DAN FISIK KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA) DAN LIBERIKA (COFFEA LIBERICA)
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode pengolahan Honey Process dan tingkat roasting terhadap karakteristik sensorik serbuk dan fisik kopi arabika (Coffea arabica) dan liberika (Coffea liberica). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor dengan empat ulangan, faktor pertama adalah jenis kopi (arabika dan liberika) dan faktor kedua adalah tingkat roasting (light, medium, dan dark). Pengujian dilakukan terhadap susut bobot, kadar air, warna (L*, a*, b*), pH, dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kopi dan variasi tingkat roasting tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada parameter yang diuji dengan p-value lebih besar dari 0.05 pada semua parameter yang diuji, yaitu susut bobot (0.503), kadar air (0.720), warna L* (0.733), warna a* (0.953), warna b* (0.744), dan pH (0.749). Uji sensorik menunjukkan bahwa kopi arabika dengan tingkat roasting light memperoleh nilai sensori warna 2.4 (agak keruh dan pucat), aroma 2.6 (cukup kuat), rasa 3 (cukup seimbang antara pahit, asam, dan manis), dan after-taste 2.4 (lemah). Sebaliknya, kopi liberika dengan tingkat roasting medium memperoleh skor maksimum 4.0 pada seluruh parameter sensori, yaitu warna jernih pekat, aroma sangat kuat (khas dan kompleks), rasa seimbang dan kompleks, serta after-taste yang sangat kuat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tidak terdapat perbedaan signifikan pada interaksi jenis kopi dan variasi roasting terhadap parameter fisik, perbedaan karakteristik sensorik antara jenis kopi dan tingkat roasting tetap menunjukkan variasi yang dapat digunakan untuk optimasi proses produksi kopi.
PENGARUH PROSES FERMENTASI WINE TERHADAP SIFAT FUNGSIONAL KOPI LIBERIKA (COFFEA LIBERICA) DAN KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA)
Tren konsumsi kopi di Indonesia telah menjadi bagian dari gaya hidup sehingga pengembangan kopi lokal liberika dan arabika melalui penanganan pascapanen yang tepat memiliki peluang besar. Fermentasi wine merupakan metode potensial untuk meningkatkan cita rasa melalui pembentukan senyawa aromatik khas. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh fermentasi wine terhadap karakteristik fisik dan cita rasa seduhan kopi liberika serta arabika, lalu mengevaluasi preferensi panelis terhadap produk akhir. Rancangan percobaan menggunakan RAK faktorial dengan dua faktor utama: jenis kopi (liberika dan arabika) dan tingkat roasting (light, medium, dark). Data dianalisis menggunakan ANOVA (95%), dilanjutkan dengan uji Fisher LSD (5%). Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, warna, pH, dan evaluasi organoleptik (warna greenbean, warna bubuk, aroma, rasa, dan after-taste). Hasil penelitian menunjukkan fermentasi wine meningkatkan kompleksitas aroma winey-body pada liberika dan profil fruity-floral yang bersih pada arabika. Fermentasi wine berpengaruh signifikan terhadap warna kromatis kopi liberika dan arabika (?E*ab dan a*), sedangkan pH, kadar air, susut bobot, dan parameter warna L* dan b* tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Perubahan yang terjadi lebih bersifat kecenderungan proses pascapanen kopi liberika dan kopi arabika sehingga tidak ada interaksi antara jenis kopi dengan variasi roasting. Berdasarkan penelitian ini, preferensi kopi terbaik yaitu arabika medium-roast dan liberika dark-roast. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi praktis bagi industri kopi dan akademis dalam pengembangan teknologi pascapanen, khususnya pada kopi liberika.
STUDI ALLOYING LOGAM TRANSISI MN PADA PEROVSKIT ANORGANIK HALIDA CSPBI3 BERBASIS DENSITY FUNCTIONAL THEORY DAN SIMULASI SCAPS-1D UNTUK APLIKASI SEL SURYA
Perovskit anorganik halida ?-CsPbI? merupakan material absorber yang menjanjikan untuk aplikasi sel surya karena memiliki sifat optoelektronik yang baik dan celah pita yang sesuai untuk konversi energi fotovoltaik. Namun, implementasi praktisnya masih terbatas akibat rendahnya stabilitas struktur pada kondisi lingkungan, di mana fase hitam yang aktif secara fotovoltaik cenderung berubah menjadi fase kuning yang tidak aktif. Selain itu, keberadaan Pb juga menimbulkan permasalahan toksisitas dan dampak lingkungan. Alloying logam transisi, khususnya Mn, dilaporkan mampu meningkatkan stabilitas serta memodifikasi sifat elektronik CsPbI?. Akan tetapi kajian yang menghubungkan sifat material pada tingkat atomik dengan performa perangkat fotovoltaik masih terbatas. Dalam penelitian ini, dikembangkan kerangka kerja terintegrasi berbasis Density Functional Theory (DFT) menggunakan VASP dan simulasi SCAPS-1D untuk mengevaluasi pengaruh alloying Mn pada CsPb1-xMnxI3 (x = 0; 0,125; dan 0,25). Hasil menunjukkan bahwa dari ketiga komposisi yang diteliti, komposisi x = 0,125 menghasilkan efisiensi konversi daya (PCE) tertinggi sebesar 28,30%, yang menunjukkan peningkatan PCE yang signifikan dibandingkan CsPbI3 pristine dengan PCE sebesar 23,97%. Peningkatan ini dikaitkan dengan penyempitan celah pita, peningkatan penyerapan optik, serta penyelarasan pita energi antarmuka yang lebih baik. Hasil ini menunjukkan bahwa alloying Mn berpotensi menjadi strategi efektif untuk pengembangan sel surya perovskit anorganik yang lebih efisien dan stabil.
STUDI TEKNO-EKONOMI DAMPAK PAJAK KARBON TERHADAP LAJU PRODUKSI DAN DURASI PRODUKSI LAPANGAN MINYAK
Penerapan kebijakan pajak karbon pada sektor hulu minyak dan gas (migas) mengubah profil biaya operasional menjadi beban finansial langsung yang berdampak pada kelayakan ekonomi proyek. Dampak tersebut menjadi semakin kritis pada lapangan minyak tua yang secara alami mengalami penurunan laju produksi dan kenaikan biaya perbaikan sumur, sehingga memiliki kerentanan tinggi terhadap beban biaya tambahan berupa pajak karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penerapan pajak karbon mempengaruhi indikator ekonomi proyek migas, terutama Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), serta merancang dan menguji strategi pengaturan laju produksi dan durasi produksi sebagai upaya mitigasi terhadap beban biaya karbon. Metode penelitian menggabungkan inventarisasi emisi berbasis aktivitas dengan analisis finansial proyek. Emisi karbon dihitung untuk setiap sumber utama: pembakaran bahan bakar operasional, flaring, venting, dan fugitive emissions. Pendekatan berbasis aktivitas memungkinkan penghitungan emisi yang terperinci berdasarkan intensitas bahan bakar, jam operasi, volume flaring/venting, dan laju kebocoran yang diamati atau diestimasi. Emisi yang dihitung dikonversi menjadi beban biaya karbon menggunakan tarif pajak karbon yang diberlakukan, kemudian dikoreksi dengan mekanisme subsidi berbasis alokasi allowance dari pemerintah atau dengan kata lain sejumlah alokasi emisi yang diberikan mengurangi beban pajak riil sehingga menghasilkan biaya karbon bersih. Biaya karbon bersih ini dimasukkan ke dalam proyeksi arus kas operasi proyek sehingga perubahan NPV dan IRR dapat dihitung secara langsung. Untuk menguji strategi mitigasi operasional, dikembangkan skenario optimasi produksi yang merupakan kombinasi pengurangan laju produksi sebesar 10%, 20%, dan 30% bersama opsi perpanjangan durasi produksi masing-masing sebesar satu, dua, dan tiga tahun. Pendekatan ini merefleksikan trade-off klasik yaitu menurunkan laju produksi menurunkan intensitas emisi tahunan dan pajak karbon tahunan, namun menambah durasi lapangan sehingga menambah akumulasi biaya operasi dan risiko harga. Model keuangan dijalankan pada kondisi baseline ekonomi saat ini, serta melalui analisis sensitivitas terhadap eskalasi harga karbon jangka panjang untuk menilai ketahanan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberlakuan pajak karbon secara signifikan menurunkan NPV baseline meskipun mekanisme allowance atau subsidi dapat mengurangi sebagian beban awal. Di antara kombinasi skenario yang diuji, konfigurasi yang diberi kode Skenario C1 yakni pengurangan laju produksi yang moderat dipadu dengan perpanjangan durasi yang singkat, sehingga muncul sebagai konfigurasi paling optimal dalam kondisi ekonomi dan tarif karbon saat ini, karena mampu menyeimbangkan pengurangan pajak karbon tahunan tanpa memperbesar akumulasi biaya operasi secara berlebihan. Namun, hasil analisis sensitivitas mengungkap batas efektivitas strategi ini yaitu pada proyeksi jangka panjang dengan eskalasi harga karbon yang tinggi, penurunan laju produksi dan perpanjangan durasi tidak lagi cukup untuk menjaga kelayakan ekonomi dikarenakan NPV turun di bawah ambang kelayakan dan IRR menurun ke tingkat yang tidak menarik bagi investor. Dari sisi kebijakan dan praktik operasional, penelitian ini membuktikan bahwa pengaturan laju produksi adalah alat mitigasi jangka menengah yang berguna untuk lapangan migas tua menghadapi pajak karbon. Namun, efektivitasnya bersifat sementara dan sensitif terhadap trajektori harga karbon. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lapangan tua pada skenario kenaikan harga karbon, dibutuhkan integrasi strategi teknologi pengurangan emisi seperti efisiensi pembakaran, elektrifikasi fasilitas dengan energi rendah karbon, pengurangan fugitive emissions melalui inspeksi serta perbaikan infrastruktur. Penelitian ini juga menyoroti perlunya kebijakan allowance yang adil dan fleksibel serta desain pajak karbon yang mempertimbangkan kelangkaan ekonomi lapangan tua agar tidak menyebabkan penutupan dini yang merugikan perekonomian lokal. Penelitian ini menyumbang kerangka kuantitatif bagi pengambil keputusan perusahaan dan pembuat kebijakan untuk memungkinkan evaluasi trade-off antara kebijakan iklim dan kelayakan investasi hilir hulu migas, serta menegaskan pentingnya kombinasi pengaturan operasional dan investasi teknologi sebagai respons yang lebih tangguh terhadap beban biaya karbon.
MODEL MILP UNTUK DESAIN RANTAI PASOK GASOLINE, ETANOL, DAN BIOGASOLINE BERBASIS BLENDING DENGAN TUJUAN MEMINIMALKAN BIAYA TOTAL
Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun peningkatan tersebut belum diimbangi oleh kapasitas produksi dan ketersediaan pasokan dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan pemerintah masih harus memenuhi kekurangan pasokan melalui impor gasoline. Salah satu upaya untuk mengurangi impor gasoline adalah penerapan kebijakan pencampuran gasoline dengan etanol menjadi biogasoline. Implementasi Biogasoline E2.5 (97,5% gasoline dan 2,5% etanol) memerlukan perencanaan rantai pasok yang optimal karena proses pencampuran etanolβgasoline membutuhkan penentuan lokasi hub, lokasi blending, serta konfigurasi distribusi yang memengaruhi biaya total sistem. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model optimasi rantai pasok Biogasoline E2.5 menggunakan metode Mixed Integer Linear Programming (MILP) pada studi kasus PT X. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi keputusan strategis dan taktis dalam perancangan jaringan rantai pasok biogasoline, yang meliputi pemilihan hub, penentuan status depot sebagai inline blending depot atau end depot, penentuan kapasitas inline blending, serta penentuan aliran gasoline, etanol, dan biogasoline antar lokasi di seluruh wilayah Indonesia dengan tujuan meminimalkan biaya total. Model secara eksplisit menggunakan variabel biner untuk menentukan lokasi blending dan menjaga keseimbangan aliran produk dalam jaringan distribusi. Mengingat jumlah depot yang sangat besar, penyelesaian model dilakukan menggunakan pendekatan MILP berbasis branch and bound dan cut generation untuk meningkatkan efisiensi pencarian solusi optimal dan mempercepat waktu komputasi. Hasil optimasi menunjukkan adanya trade-off antara biaya investasi infrastruktur berupa pembangunan dan modifikasi tangki sebesar USD 38.722.201,18 dan biaya distribusi serta transportasi sebesar USD 267.339.009,38 per tahun. Analisis sensitivitas terhadap demand biogasoline, biaya transportasi, dan biaya pembangunan tangki menunjukkan bahwa ketiga parameter tersebut berpengaruh signifikan terhadap konfigurasi jaringan dan biaya total sistem. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam evaluasi skenario desain rantai pasok Biogasoline E2.5 yang efisien dan relevan.
FINANCIAL PERFORMANCE ANALYSIS OF P.T PERTAMINA GEOTHERMALENERGY COMPARE WITH LOCAL AND GLOBAL COMPANY IN GEOTHERMALINDUSTRY
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumber daya geothermal, sekitar 40% sumber panas bumi di dunia berlokasi di Indonesia. Keadaan ini dikarenakan Indonesia dikelilingi oleh banyak gunung berapi. Panas bumi adalah sumber daya untuk energi listrik yang digunakan di Indonesia, yaitu energi yang dapat diperbaharukan. Keuntungan dari energy panas bumi ini adalah menghasilkan emisi yang rendah dibandingkan dengan tenaga listrik yang lain, secara ekonomi lebih terjangkau dan ramah lingkungan, karena tidak memiliki pembuangan limbah air secara terbuka dan air buangannya dikembalikan pada sumur yang bertujuan untuk mengatur kestability dari tekanan reservoir. Oleh karena itu, energy panas bumi memiliki prospek yang sangat baik dan juga didukung oleh adanya kebijakan mengenai Clean Development Mechanism (CDM). Sumber daya geothermal hanya bisa ditemukan di area-area terbatas, didekat batas lapisan tektonik. PT. Pertamina Geothermal Energy adalah perusahaan yang bergerak diindustri panas burni dan diamanahkan untuk membangun 15 WKP di Indonesia, dalam rangka mendukung kebutuhan nasional akan energi. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan dati P.T. Pertamina yang dibentuk sejak 2006. Perusahaan ini dibentuk untuk menangani kegiatan panas bumi, termasuk eksplorasi dan produksi uap serta generasi dari listrik. Sekarang ini, Pertamina Geothermal Energy menghasilkan energi yang setara dengan 291 MW dan berencana untuk menaikkan produksinya menjadi 1044 MW ditahun 2016. Untuk mengetahui bagaimana peran dari PT. Pertamina Geothermal Energy terhadap bisnis panas bumi di Indonesia, dan juga performa keuangan dari perusahaan, serta performa keuangannya dibandingkan dengan perusahaan lokal dan global yang bergerak di bidang paans bumi. Penulis menggunakan beberapa metode dalam melakukan penilaian performa keuangan, yaitu dengan menggunakan trend analisis dengan rasio keuangan, menilai tingkat pertumbuhan, oenilaian BUMN, penilaian menggunakan Moody's untuk perusahaan tambang dan analisis dupont. Setelah menghitung menggunakan semua metode, diindikasikan bahwa PT. Pertamina Geothermal Energy memiliki pertumbuhan yang negatif selama 5 tahun dan memiliki kemampuan yang rendah dalam membayar hutang dan juga belum memaksimalkan kegunaan dalam asset dan modal. Perusahaan ini jugismemiliki perputaran persediaan yang rendah. Dalam penilaian BUMN, dapat diklasifikasi kedalam kategori sehat. Metode yang lain adalah penilaian menggunakan Moody's, metode penilaian ini memiliki beberapa faktor yang dihitung. Dalam analisis DuPont, ROA dan ROE perusahaan ini mengalami penurunan selama 5 tahun tetapi hampir selalu berada di peringkat pertama. Kata kunci: performa keuangan, industry panas bumi, anak perusahaan, tenaga listrik
ANALYSIS OF CORPORATE ENTREPRENEURIAL IN PT. BANK X
Pada tahun 2008, negara-negara Eropa mengalami bencana keuangan lagi. Kecenderungan ini mempengaruhi kinerja keuangan dari hampir setiap bangsa di dunia. Oleh karena itu perusahaan yang ingin bertahan harus membuat strategi perusahaan yang sangat baik untuk memperbaiki masalah ini dan meningkatkan kinerja mereka. Oleh karenanya Semua perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang sangat baik, mengembangkan bisnis perusahaan dan mengelolanya dengan baik sebagai cara untuk memperbaiki masalah. Salah satu cara yang signifikan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan mengembangkan budaya entrepreneurshipdi pegawai. Sebuah pola pikir entrepreneurship diperlukan dalam dunia bisnis yang kini sedang berkembang. Oleh karena itu, untuk memiliki kinerja organisasi yang baik, perusahaan juga harus memiliki pemimpin bersifat entrepreneur Penulis memutuskan untuk mengukur dan mengevaluasi corporate entrepreneurial dalam salah satu perusahaan yang secara langsung terlibat dalam kinerja ekonomi Indonesia. Penulis memutuskan untuk mengukur dan menganalisis corporate entrepreneurial di PT. Bank X sebagaimana perusahaan ini merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia. Dalam penelitian ini, penulis menganalisis orientasi entrepreneurship (dimensi budaya kewirausahaan) dan menganalisis pentingnya karakteristik entreprneurial leadership diukur dengan kesenjangan antara Pentingnya aspek dan frekuensi penerapannya pada 6 direktorat PT. Bank X. yaitu: Financial & Strategy, Technology & Operation, Micro & retail banking, Compliance & Human Capital, Treasury, Finantial Institution, & Special Asset Management. Risk Management. Untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan Survey kuesioner Entrepreneurial Orientation Survey (POS) questionaire and Entrepreneurial Leadership Questionaire (ELQ) Kuesioner-kuesioner ini didistribusikan ke pegawai pelaksana dan pegawai pimpinan di setiap direktorat di PT. Bank X di kantor pusat. Dari data yang dikumpulkan, penulis mengukur nilai-nilai dimensi budaya kewirausahaan: perencanaan strategis, lintas fungsi, dukungan ide-ide baru, intelijen pasar, pengambilan risiko, fleksibilitas, fokus, orientasi masa depan, dan mengukur karakteristik kepemimpinan. Ada 4 jenis karakteristik kepemimpinas: Explorer, Miners, Accelerator, Integrator, dan juga Thomberry (2006) menambahkan karakteristik General. Hasil dari penelitian EOS menunjukkan bahwa pada ke 6 direktorat, dimensi diklasifikasikan sebagai implementasi orientasi yang "baik", kecuali dalam 3 dimensi Pengambilan resike, Perencanaan Strategis, dan Hasil dari penelitian ELQ menunjukkan bahwa di PT. Bank X, hanya ada 3 direktorat: Finance & Strategy, Teknologi & Operasi, dan Manajemen Risiko yang menerapkan karakteristik kepemimpinan yang sesuai. Kata Kunci: entrepreneurship, intrapreneurship, EOS, ELQ
Dewasa ini, pasar modal mempunyai peranan yang sangat strategis di dalam menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Keberadaan pasar modal memfasilitasi perusahaan serta investor dalam proses pertukaran modal. Bagi perusahaan, keberadaan pasar modal methegang peranan dalam menyediakan sumber pendanaan alternatif. Di samping itu, keberadaan pasar modal mampu memberikan kemudahan bagi investor dalam memilih berbagai jenis investasi berdasarkan tingkat kegemaran mereka. Salah satu aspek dari kondisi pasar modal yang hendaknya dijadikan pertimbangan sebelum memutuskan untuk berinvestasi adalah efisiensi pasar. Istilah efisiensi pasar, seperti yang kerap kali ditemukan dalam literatur pasar modal, digunakan untuk menjelaskan hubungan antara suatu informasi dengan harga saham. Salah satu teori tentang efisiensi pasar modal yang telah diuji secara luas oleh para peneliti diusulkan oleh Fama pada tahun 1970. Meskipun terdapat cukup penelitian yang membuktikan keberadaan efisiensi pasar dan mendukung Hipotesis Pasar Efisien dari Fama, sisanya memberikan hasil yang kontradiktif. Situasi ini mendorong peneliti untuk melakukan pengujian efisiensi pasar bentuk lemah di pasar saham Indonesia. Harga penutupan harian dari indeks IHSG dan indeks LQ45 selama periode 2008-2011 diambil sebagai sampel dalam penelitian ini. Dua buah uji konvensional, yaitu: autokorelasi dan uji run digunakan untuk menyelidiki ada tidaknya korelasi antar tingkat perubahan harga saham. Di samping itu, analisis regresi dikembangkan untuk mengkonfirmasi model prediktif pada lag-lag yang mempunyai koefisien korelasi yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan perilaku perubahan tingkat harga yang tidak acak serta koefisien autokorelasi yang signifikan pada kedua indeks. Selain itu, ditemukan pula adanya hubungan-hubungan yang signifikan antara tingkat perubahan harga hari ini dengan tingkat perubahan harga di masa lampau pada persamaan regresi dari kedua indeks. Keseluruhan hasil analisis telah mengkonfirmasi ketidakefisienan pasar bentuk lemah di pasar saham Indonesia selama periode 2008-2011. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia pasar modal, penemuan ini sangat penting untuk membantu memberikan pemahaman tentang bagaimana sebenarnya kondisi pasar modal di Indonesia. Hasil penelitian ini juga akan memberikan pedoman dalam menentukan analisis investasi yang paling relevan untuk diterapkan di pasar saham Indonesia. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat mengarahkan investor agar senantiasa berperan aktif dalam menciptakan iklim perdagangan yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aturan perdagangan menggunakan teknikal analisis masih dapat diterapkan sebagai strategi perdagangan di pasar saham Indonesia. Akan tetapi, pelaku pasar juga hendaknya memahami bahwa salah satu temuan dalam penelitian ini menunjukkan model dengan nilai R' yang rendah. Untuk itu, penelitian lebih lanjut hendaknya dikembangkan untuk mendapatkan model yang lebih baik. Mengingat penelitian terhadap efisiensi pasar dapat membawa dampak bagi pemahaman terhadap situasi pasar modal serta analisa investasi yang relevan, penelitian lebih lanjut juga diperlukan agar secara kontinyu dapat mengkonfirmasi hasil penelitian ini. Peneliti di waktu yang akan datang dapat melakukan analisa terhadap efisiensi pasar bentuk lemah dengan menggunakan metoda uji lain, seperti melakukan uji terhadap pola-pola musiman yang terjadi pada tingkat perubahan harga saham maupun melakukan uji mengenai hubungan karakteristik perusahaan dengan tingkat perubahan harga saham. Di samping itu, untuk ke depannya, peneliti juga dapat mempertimbangkan pengambilan jangka waktu observasi yang lebih panjang maupun mengambil periode observasi teraktual. Penelitian selanjutnya juga dapat mengembangkan penelitiannya dengan mengambil sampel berupa saham individual maupun harga penutupun indeks sektoral yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kata-kata kunci: Pasar Saham Indonesia, Hipotesis Pasar Efisien, Efisiensi Pasar Bentuk Lemah
FEASIBILITY ANALYSIS OF GOLF COURSE IN BELITUNG ISLAND
Studi kelayakan diperlukan oleh investor, terutama sebagai inisiator, yang akan menghasilkan manfaat bagi seluruh komponen yang berkontribusi dalam investasi. PT XYZ akan menjadi fokus utama dalam makalah ini. PT XYZ adalah perusahaan yang didirikan pada 2005, bisnis ini terutama dalam operasi lapangan golf. Kondisi saat ini PT XYZ sangat menjanjikan, dengan reputasi yang baik dan penjualan adil, PT XYZ berkembang menjadi salah satu perusahaan golf dengan kesempatan besar. PT XYZ saat ini berencana untuk ekspansi bisnis dengan membangun sebuah lapangan golf. Lapangan golf proyek PT XYZ terletak di Bangka Belitung dan dengan itu, perlu pertimbangan banyak dari pandangan ekonomi dan pandangan lain karena juga akan berdampak pada pariwisata juga. Proyek ini diperlukan untuk menilai secara finansial, itu sebabnya studi kelayakan adalah sebuah kebutuhan harus dilakukan sebelum menyelesaikan proyek. Hal ini untuk menghindari risiko dalam mengambil atau mengembangkan proyek (merugi) tidak ekonomis. Modal penganggaran dengan menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Periode (PP) sebagai indikator ekonomi yang digunakan dalam menganalisis kelayakan yang ada kriteria tertentu untuk menentukan apakah hal ini layak secara ekonomis atau tidak. Dalam melakukan penelitian, ada beberapa langkah dilakukan, mulai dari mengidentifikasi masalah, menentukan dasar-dasar teoritis untuk mendukung perhitungan dan analisis, pengumpulan data diperlukan data primer dan sekunder, menganalisis data, dan dalam kesimpulan akhir menghasilkan yang digunakan untuk saran kepada perusahaan. Hasilnya, setelah perhitungan dan analisis, lapangan golf adalah layak dan disarankan kepada perusahaan untuk mengembangkan proyek. Berdasarkan jumlah luas NPV positif sebesar Rp 141 miliar, nilai IRR yang lebih besar daripada tingkat diskonto perusahaan 17.30%, dan dengan Payback Period 13 tahun proyek harus diterima dengan beberapa perbaikan. Keyword: Lapangan golf, studi kelayakan, NPV, IRR
DESAIN INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM KAWASAN SUPERBLOCK NORTH CBD CAKUNG, CILINCING, JAKARTA UTARA
Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum sangat penting untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Peningkatan jumlah penduduk dan kawasan pemukiman di DKI Jakarta sangat memerlukan pertimbangan untuk penyediaan air bersih. Salah satu daerah yang menjadi target pembangunan kawasan pemukiman yaitu Kawasan Superblock North CBD Cakung di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Kawasan North CBD Cakung direncanakan mulai dibangun tahun 2020 hingga tahun 2030. Instalasi pengolahan air minum yang dirancang di Kawasan North CBD Cakung terdiri dari unit pra pengolahan, pengolahan utama, dan pengolahan akhir. Unit pra pengolahan terdiri dari bak penenang dan preklorinasi. Unit pengolahan utama terdiri dari koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan saringan pasir cepat sedangkan unit pengolahan akhir adalah reservoir yang di dalamnya dilakukan desinfeksi dan netralisasi. Pembangunan IPAM di Kawasan North CBD Cakung dilakukan dalam dua (2) tahap yaitu tahap pertama untuk periode tahun 2025 dengan kapasitas pengolahan 187,5 lps dan tahap kedua untuk periode tahun 2030 dengan kapasitas pengolahan 375 lps. Total biaya investasi pembangunan IPAM pada tahap pertama yaitu sebesar Rp. 39.600.000.000, - dan total biaya investasi pembangunan IPAM pada tahap kedua yaitu sebesar Rp. 16.700.000.000, -.
ASSESSING CULTURAL VALUE ORIENTATION THROUGH CORE VALUES,CASE STUDY: SBM -ITB
Masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai macam kelompok etnis yang berbasis pada daerah-daerah dan mitos yang berbeda-beda sebagai identitas mereka. Setiap kelompok etnis memiliki ideologi yang berbeda yang mengontrol perilaku mereka. Hal ini bisa disebut sebagai kebudayaan. Para anggota dari setiap komunitas yang ada di setiap daerah bekerja dan hidup bersama dalam perkumpulan dan organisasi yang sama dan mereka membutuhkan sebuah petunjuk sebagai kebudayaan mereka. Visi, misi, dan nilai inti adalah tiga pedoman krusial yang menjadi fondasi utama dari setiap organisasi. Nilai inti merupakan ideologi dari sebuah organisasi karena sangat mendasar bagi setiap anggotanya dalam menjalankan perannya di organisasi dan hal ini menciptakan kebudayaan organisasi. Ketika semua anggota dalam suatu organisasi menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka, misi dari organisasi tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana dan visi dari organisasi juga akan terealisasi dengan baik. Meskipun demikian, dalam sebuah organisasi, tidak semua anggotanya menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka dalam bekerja. Masalah ini timbul pada salah satu organisasi edukaasi terbaik di Indonesia, yaitu Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang yang dapat mempengaruhi kebudayaan anggotanya sehingga tidak menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka. Pendekatan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan metode orientasi nilai yang sakan dihubungkan dengan nilai inti dari SBM melalui teknik projektif dan wawancara. Sebagai hasilnya, patokan abstrak dari nilai inti yang dirasakan oleh anggota SBM dan juga perbedaan latar belakang dan budaya dari setiap anggota menyebabkan perbedaan sudut pandang dalam hidup, karya, dan juga terhadap sesama manusia Sudut pandang dari setiap anggota dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang pengertian mengenai nilai inti sehingga dapat mengakibatkan ketidakselarasan pada visi dan misi SBM. Untuk meyamakan persepi setiap anggotanya, SBM sebaiknya membuat patokan yang jelas dalam pengertian setiap nilai intinya dan mensosialisasikan hal tersebut kepada setiap anggotanya sehingga seluruh anggota dapat mengimplementasikan nilai inti dalam setiap tindakannya. Kata kunci: nilai inti, orientasi nilai budaya, visi
ESTIMATING COMPANY VALUE OF PT. SOLUSINDO KREASI UTAMA
PT Solu Sindo Kreasi Pratama adalah perusahaan penyedia tower BTS yang berbasis di Jakarta, anak perusahaan dari PT Tower Bersama Tbk dengan kegiatan bisnis utamanya membangun Base Transceiver Station (BTS) untuk para perusahaan provider dalam membangun jaringan network di seluruh Indonesia. Untuk mengetahui nilai dari perusahaan PT Solu Sindo Kreasi Pratama, penulis menggunakan 3 model pendekatan yang digunakan dalam laporan ini, yaitu Nilai Buku yang Disesuaikan, Pendekatan Laba sebagai Pengali dan Diskonto Arus Kas Bebas. Dengan menggunakan 3 metode pendekatan tersebut, penulis mendapatkan nilai perusahaan PT Solu Sindo Kreasi Pratama pada awal tahun 2011 diperkirakan berada di Rp 524,137,000,000 3,077,458,133,012. Sebagai tambahan, penulis juga merekomendasikan dua cara untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara meningkatkan jumlah free cash flow perusahaan dengan meningkatkan setelah pajak laba bersih dan dengan mengurangi modal kerja bersih dan belanja modal bersih. Penelitian ini juga mampu memberikan gambar umum untuk mengurangi biaya modal dengan mengembangkan beberapa tingkatan struktur modal. Kata Kunci: PT Solu Sindo Kreasi Pratama, Nilai Perusahaan, Struktur Modal
THE DECISIVE FACTORS OF CHOOSING TUTORIAL INSTITUTION(BIMBINGAN BELAJAR): THE CASE STUDY INGANESHA OPERATIONS AND SONY SUGEMA COLLEGE
Pendidikan adalah hal yang dianggap penting bagi seluruh individu. Karena itu, banyak bimbingan belajar yang diklarikan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pendidikan yang lebih baik. Menjadi hal yang lumrah apabila orang tua memasukkan anak mereka ke bimbingan belajar selain menyekolahkan mereka. Namun kemudian muncul permasalahan, apa apa yang yang diharapkan orangtua dari sebuah bimbingan belajar? Faktor apa apa saja yang menjadi penentu orangtua untuk memasukkan anaknya kedalam salah satu bimbingan belajar? Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Servqual (Parasuraman et al, 1998) yang mencakup 10 dimensi (tangible, keandalan, responsivitas, tungkat komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi, kesopanan, pengertian terhadap konsumen, danakses) untuk mengidentifikasi faktor yang menentukan keputusan orangtua dalam memilih bimbingan belajar. 120 kuesioner disebarkan kepada orangtua yang memasukkan anak-anak mereka ke dalam bimbingan belajar Ganesha Operation (CO) dan Sony Sugema College (SSC), dua bimbingan belajar yang paling dikenal di Bandung. Kuesioner tersebut dibuat berdasarkan 10 dimensi yang diturunkan menjadi 32 atribut yang mampu mempengaruhi keputusan orangtua. Hasil dari kuesioner tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat Importance Performance Analysis yang kemudian diterjemahkan kedalam bentuk grafik yang menunjukkan pendapat orangtua akan atribut yang penting, serta menunjukkan persepsi umum orang tua mengenai kinerja bimbingan belajar tersebut. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa kedua bimbingan tersebut harus meningkatkan kinerja mereka. Untuk GO, atribut berikut: ketersediaan tempat parkir, kenyamanan ruang kelas, kebersihan lokasi, jumiah ruang kelas yang mencukupi, kelayakan bangunan, variasi pelayanan, ketepatan waktu pelajaran, ketersediaan guru bantu di luar jam pelajaran, kejelasan biaya yang dibayarkan, kesesuaian nilai antara uang yang dibayar dan hasil yang didapat, respon untuk melayani konsumen, kejelasan prosedur pelayanan, dan ketersediaan situs internet yang baik, adalah atribut yang harus diperbaiki oleh GO untuk memenuhi harapan konsumen mereka. Sementara untuk SSC, atribut berikut: ketersediaan tempat parkir, kenyamanan ruang kelas, kebersihan lokasi, jumlah ruang kelas yang mencukupi, kelayakan bangunan, variasi pelayanan, ketepatan waktu pelajaran, ketersediaan guru bantu di luar jam pelajaran, kejelasan biaya yang dibayarkan, kesesuaian nilai antara uang yang dibayar dan hasil yang didapat, citra bimbingan belajar, serta citra guru dan staff lainnya, adalah atribut yang harus mereka tingkatkan agar konsumen puas dengan layanan yang mereka berikan. Rekomendasi yang diberikan kepada bimbingan belajar adalah untuk memperbaiki dimensi tangibel dan dimensi keandalan mereka karena kedua bimbingan belajar tidak mampu memuaskan konsumen mereka. Kemudian GO sudah seharusnya meningkatkan responsivitas dan komunikasi mereka terhadap konsumen mereka, sementara SSC wajib memperbaiki dimensi kredibilitas mereka karena konsumen mereka menginginkan SSC memiliki kredibilitas yang lebih baik Keywords: Tutorial institution (bimbel), ServQual, Importance Performance analysis.
ANALYSIS AND MEASUREMENT OF CORPORATE ENTREPRENEURSHIP ATPT. INDONUSA MORA PERKASA USING EOS ELQ
Dengan keluarnya peraturan dari pemerintah untuk menanggulangi terjadinya pembangunan enara telekomunikasi dimana-mana atau hutan Bts (menara telekomunikasi), yaitu raturan Bersama Menteri Dalam Negeri No. 18/2009, Menteri Pekerjaan Umum No. OPRT/M/2009, Menkominfo No. 19/PER/M.Kominfo/3/2009, dan Kepala BKPM No. 3/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi ditetapkan dan mulai berlaku pada 30 Maret 2009. PT. INDONUSA MORA PERKASA sebagai perusahaan yang awalnya hanya bergerak sebagi kontraktor pembangun menara kemudian mengembangkan bisnisnya ke penyewaan menara. Model bisnis yang ditawarkan oleh PT. INDONUSA MORA PERKASA adalah membangun menara-menara dan menawarkan jasa penyewaan kepada operator-operator telekomunikasi. yar Tujuan dari proyek akhir ini adalah untuk menganalisis dan mengukur tingkat kewirausahaan dalam perusahaan (intrapreneurship) pada PT. INDONUSA MORA PERKASA dan menganalisis kategori kepemimpinan entrepreneurial yang ada pada PT. INDONUSA MORA PERKASA dan menilai tingkat pelaksanaan oleh para pemimpin di perusahaan sebagai tolak ukur dari kepuasaan karyawan terhadap para pemimpin di perusahaan tersebut. Selain untuk menganalisis dan mengukur nilai kewirausahaan dan kategori kepemimpinan di perusahaan diharapkan proyek ini juga dapat menjawab masalah-masalah yang dihadapi perusahaaan berdasarkan hasil observasi lapangan. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder, data primer didapat dengan menggunakan 2 jenis kuesioner yaitu Entrepreneurial Orientation Survey (EOS) dan Entrepreneurial Leadership Questionnaire (ELQ). Sedangkan data sekunder didapat dari profil perusahaan, studi literatur, internet, dan lain-lainnya. Hasil penelitian EOS yang dilakukan di PT. INDONUSA MORA PERKASA menunjukkan tingkat corporate entreprenurship pada PT. INDONUSA MORA PERKASA sudah tergolong baik dengan hasil 77,7% dari 9 dimensi yang diukur tergolong baik dan 22,3% tergolong dalam kategori rata-rata dengan nilai tertinggi pada dimensi "Kecepatan" dan nilai terendah oleh dimensi "Risiko". Dan dari hasil ELQ perusahaan juga sudah menunjukan nilai tinggi pada rencana dan implementasi dari keseluruhan kategori kepemimpinan dengan nilai tertinggi pada kategori kepemimpinan "Miner" dan "Integrator", sedangkan nilai terendah pada kategori kepemimpinan "Accelerator". Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan nilai dari corporate entrepreneurship pada PT. INDONUSA MORA PERKASA dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan lebih dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan nilai pada dimensi terendah yaitu dimensi "Risiko". Sedangkan untuk kategori kepemimpinan, dapat dengan cara meningkatkan tingkat pelaksanaan pada kategori "Accelerator" yang memiliki nilai pelaksanaan terendah diantara kategori kepemimpinan. Kata kunci: entrepreneurship, intrapreneurship, EOS, ELQ, PT. INDONUSA MORA PERKASA
THE EFFECT OF PRICE TO BOOK VALUE (PBV), DIVIDEND PAYOUTRATIO (DPR), RETURN ON EQUITY (ROE), RETURN ON ASSET (ROA),AND EARNING PER SHARE (EPS) TOWARD STOCK RETURN OF LQ 45 FORTHE PERIOD OF 2006-2011
Setiap investor tentu saja ingin memperoleh return yang tinggi dari investasi. Oleh sebab itu, investor memerlukan informasi yang cukup dari suatu emiten dengan menggunakan laporan keuangan. Laporan keuangan mengandung banyak sekali informasi mengenai perusahaan dan dapat disederhanakan ke dalam bentuk rasio finansial. Beberapa penemuan menemukan bahwa rasio finansial memiliki pengaruh terhadap imbal hasil saham. Penelitian ini akan membahas tentang pengaruh Price to Book Value (PBV), Dividend Payout Ratio (DPR), Return on Equity (ROE), Return on Asset (ROA), dan Earning per Share (EPS) terhadap emiten saham yang tergabung dalam Indeks LQ 45. Indeks LQ 45 dipilih sebagai data yang digunakan karena memiliki likuiditas yang tinggi. Sample dari penelitian ini adalah emiten yang termasuk dalam Indeks LQ 45 selama periode 2006-2011. Berdasarkan kriteria tersebut, terdapat 17 emiten yang menjadi sample dalam penelitian ini. Data dalam penelitian ini diperoleh dari Jakarta Stock Exchange dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa PBV, DPR, dan EPS memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Stock return Indeks LQ 45 dengan tingkat signifikansi 5%. PBV, DPR, dan EPS secara bersama-sama jugamemiliki pengaruh yang signifikan terhadap Stock return Indeks LQ 45. Berdasarkan hal tersebut, rasio finansial seperti Price to Book Value (PBV), Dividend Payout Ratio (DPR), dan Earning per Share (EPS), harus diperhatikan oleh para investor ketika ingin berinvestasi pada saham. Kata Kunci: Rasio Finansial, Imbal Hasil Saham, Indeks LQ 45