π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSERVICESCAPE MANAGEMENT ANALYSIS OF AUTO CARE CENTER 2
Dengan banyaknya pertumbuhan bisnis jasa salon mobil di kota Bandung salah satu penyebabnya adalah bertambahnya jumlah kendaraan yang ada di kota ini, dalam radius 5 km diperkirakan telah terdapat tempat salon mobil sebanyak 10-20 tempat, dengan berkembangnya bisnis ini maka timbullah persaingan. Salah satu hal yang ikut mempengaruhi ketahanan hidup sebuah industri jasa cuci mobil adalah bagaimana pelayanan di tempat salon mobil tersebut mampu memuaskan pelanggannya. Begitu pula dengan industri jasa salon mobil Auto Care Center 2 memiliki tujuan tercapainya kualitas pelayanan yang menjadi kebutuhan dan harapan pelanggan. Masalah-masalah penelitian adalah lokasi salon mobil Auto Car Centre 2 Bandung berada di tempat yang tidak banyak dilalui oleh kendaraan dibanding lokasi jalan Tubagus Ismail Raya dan jalan Dago; masih terbatasnya pengetahuan konsumen akibat periklanan yang dilakukan oleh manajemen salon mobil Auto Car Centre 2 Bandung masih terbatas; dan masih belum maksimalnya pengelolaan, desain dan lengkapnya dari servicescape/servicescape management pada car salon Auto Care Centre 2 Bandung. Berdasarkan hal tersebut maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana servicescape yang dilaksanakan oleh salon mobil Auto Care Center 2 Bandung mampu memenuhi harapan para pelanggannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: upaya meningkatkan jumlah pemilik kendaraan mobil untuk mengunjungi car salon Auto Care Center 2 Bandung melalui servicescape/servicescape management; pelayanan car salon Auto Care Center 2 Bandung berupa servicescape yang diinginkan oleh konsumen sehingga dapat memberikan kepuasan, dan konsep dan desain servicescape / servicescape management yang memiliki keunikan atau karakteristik seperti apa yang diinginkan oleh konsumen dari car salon Auto Care Center 2 Bandung agar dapat memberikan kepuasan. Proses penelitian menggunakan metode penelitian empiris, yang dibagi menjadi dua kategori: Metode Eksplorasi (penelitian ini dilakukan karena masalah belum jelas), dan Metode Deskriptif. Berdasarkan rekomendasi bahwa penulis memberikan konsep dan desain servicescape / servicescape manajemen yang telah disesuaikan dengan keinginan konsumen, diharapkan memberikan kepuasan kepada konsumen, dan diharapkan memiliki keunikan yang mudah diingat dan membedakan dengan salon mobil yang lain, dan dapat meningkatkan jumlah pelanggan, baik yang tinggal di daerah ddekat dengan salon mobil Auto Care Center Bandung 2 pada khususnya, dan di daerah kota Bandung pada umumnya. Interior masa depan dari car salon Auto Care Center 2 mobil yang penulis disarankan, tentu saja, berdasarkan analisis penulis ya telah disesuaikan dengan servicescape tambahan di masa depan sesuai dengan Mirapan konsumen, seperti adanya lounge internet, kafe, spa, dan ruang tunggu nyaman, dan sesuai dengan konsep atau keunikan yang diinginkan konsumen terhadap konsep "one stop shopping yang akan dimiliki oleh car salon Auto Care Center 2 di masa depan. Kata Kunci-Servicescape, Manajemen tata ruang usaha, Salon Mobil
ECONOMIC FEASIBILITY OF PT. PEMBANGKIT LISTRIK INDURING MINIHYDRO POWER PLANT PROJECT
Energi terbarukan berasal dari proses alam yang diisi ulang terus-menerus. Dalam berbagai bentuknya, berasal langsung dari matahari, atau dari panas yang dihasilkan jauh di dalam bumi. Termasuk dalam definisi adalah listrik dan panas yang dihasilkan dari matahari, angin, laut, tenaga air, biomassa, sumber daya panas bumi, dan bahan bakar bio dan hidrogen berasal dari sumber daya terbarukan. Energi terbarukan menggantikan bahan bakar konvensional di empat bidang yang berbeda: jasa energi pembangkit listrik, air panas / pemanasan ruang, bahan bakar transportasi, dan pedesaan (off-grid). Di banyak tempat, energi pembangkit listrik terbarukan dibangun dalam skala besar, tapi teknologi ini juga cocok untuk dengan daerah pedesaan dan terpencil. Skala kecil proyek yang diperlukan untuk memberikan akses energi modern untuk rakyat, khususnya di negara berkembang, baik untuk rumah tangga dan industri kecil. Mini-hidro adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga air pada skala melayani komunitas kecil atau tanaman industri. Definisi dari proyek hydro kecil bervariasi tetapi kapasitas pembangkit hingga 10megawatts (MW) secara umum diterima sebagai batas atas apa yang dapat disebut mini-hidro. Listrik tenaga air adalah generasi tenaga listrik dari gerakan air. Sebuah fasilitas listrik tenaga air membutuhkan aliran diandalkan air dan ketinggian yang wajar dari jatuhnya air, yang disebut head. Dalam instalasi, air disuplai dari reservoir melalui saluran atau pipa ke turbin. Tekanan air yang mengalir pada bilah turbin menyebabkan poros untuk berputar. Poros yang berputar dihubungkan ke generator elektrik yang mengubah gerakan poros menjadi energi listrik. Di Indonesia, listrik masih menjadi masalah. Pasokan listrik yang diproduksi oleh perusahaan milik negara, PT. Anak pajak tangguhan Listrik Negara (PLN), tidak bisa memenuhi permintaan penggunaan listrik warga. Dari kesempatan ini, PT. Pembangkit Listrik Induring ingin membuat mini tenaga air proyek pembangkit di Batang Jalamu River, Induring, Batang Kapas, Sumatera Barat yang memiliki kapasitas 2 x 600 kW. Output listrik dari pembangkit listrik akan dibeli oleh PT. PLN dalam rangka mengikuti ESDM Permen no. 31/2009. Jumlah Net Present Value (NPV) adalah Rp 12.594.869.237. Internal Rate of Return (IRR) adalah 22,43%. The Payback Period (PBP) dari proyek ini adalah 8 tahun 3 bulan dan 11 hari. Kata kunci: mini hidro, studi kelayakan, analisis sensitivitas
COMPANY VALUATION OF PT PERTAMINA DRILLING SERVICE INDONESIA
Industri minyak dan gas di Indonesia merupakan salah satu sektor industri yang perkembangannya sangat mempengaruhi perekonomian negara. Industry ini memeliki peranan penting karena setiap perubahan yang terjadi di sektor ini memberikan dampak yang cukup krusial bagi sektor - sektor lainnya. Pada penelitian ini, peneliti tidak memfokuskan pada industry minyak dan gas secara general, melainkan meneliti mengenai salah satu esensi penting dalam industri ini, yaitu jasa pengeboran. Perusahaan yang di bahas pada research ini adalah PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PT PDSI) yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengeboran dan berdiri pada tahun 2008 di bawa wewenang PT PERTAMINA (Persero) sebagai perusahaan induk. PT PDSI memiliki performa yang baik pada tahun 2008 dan 2009 dikarenakan "captive market", namun pada tahun selanjutnya performa mereka menurun karena perubahan peraturan oleh BP MIGAS. Berdasarkan performa mereka pada tahun 2008-2010 dan metode valuasi perusahaan, peneliti menggunakan 3 pendekatan finansial, yaitu pendekatan berdasarkan asset, pendekatan berdasarkan pasar, dan pendekatan berdasarkan pemasukan. Pada metode pendekatan berdasarkan aset, peneliti mengkalkulasikan nilai aset dan hutang yang dimiliki perusahaan untuk di setarakan dengan kondisi pada tahun berikutnya. Metode pendekatan berdasarkan pasar menfokuskan pada perhitungan yang di perhitungkan oleh shareholder, yaitu rasio Price-Earning. Dan pendekatan terakhir adalah berdasarkan penghasilan dimana perhitungan memfokuskan pada kalkulasi Free-Cash-Flow perusahaan. Hasil kalkulasi yang didapatkan peneliti adalah Rp 3,078,651 juta untuk perhitungan berdasarkan pendekatan asset, Rp 7,305,895 juta berdasarkan pendekatan market, dan Rp 8,885,664 juta berdasarkan pendekatan penghasilan. Jarak yang di dapat dari ketiga kall Jasi ini memberikan gambaran berapakah jaraknilai yang dimiliki PT PDSI pada tahun berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian, nilai yang dimiliki perusahaan sudah sangat baik namun tidaktermanfaatkan dengan maksimal. Untuk menggapai rencana jangka panjang perusahaan, PT PDSI harus melakukan transformasi yang mempengaruhi seluruh aktifit. Untuk membatu mencapai hal tersebut, PT PDSI harus menjadi sebuah perusahaan yang lebih mandiri dan salah satu opsi yang akan mungkin dilakukan adalah melakukan IPO. Kata-kata kunci:Industri minyak dan gas di Indonesia merupakan salah satu sektor industri yang perkembangannya sangat mempengaruhi perekonomian negara. Industry ini memeliki peranan penting karena setiap perubahan yang terjadi di sektor ini memberikan dampak yang cukup krusial bagi sektor - sektor lainnya. Pada penelitian ini, peneliti tidak memfokuskan pada industry minyak dan gas secara general, melainkan meneliti mengenai salah satu esensi penting dalam industri ini, yaitu jasa pengeboran. Perusahaan yang di bahas pada research ini adalah PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PT PDSI) yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengeboran dan berdiri pada tahun 2008 di bawa wewenang PT PERTAMINA (Persero) sebagai perusahaan induk. PT PDSI memiliki performa yang baik pada tahun 2008 dan 2009 dikarenakan "captive market", namun pada tahun selanjutnya performa mereka menurun karena perubahan peraturan oleh BP MIGAS. Berdasarkan performa mereka pada tahun 2008-2010 dan metode valuasi perusahaan, peneliti menggunakan 3 pendekatan finansial, yaitu pendekatan berdasarkan asset, pendekatan berdasarkan pasar, dan pendekatan berdasarkan pemasukan. Pada metode pendekatan berdasarkan aset, peneliti mengkalkulasikan nilai aset dan hutang yang dimiliki perusahaan untuk di setarakan dengan kondisi pada tahun berikutnya. Metode pendekatan berdasarkan pasar menfokuskan pada perhitungan yang di perhitungkan oleh shareholder, yaitu rasio Price-Earning. Dan pendekatan terakhir adalah berdasarkan penghasilan dimana perhitungan memfokuskan pada kalkulasi Free-Cash-Flow perusahaan. Hasil kalkulasi yang didapatkan peneliti adalah Rp 3,078,651 juta untuk perhitungan berdasarkan pendekatan asset, Rp 7,305,895 juta berdasarkan pendekatan market, dan Rp 8,885,664 juta berdasarkan pendekatan penghasilan. Jarak yang di dapat dari ketiga kall Jasi ini memberikan gambaran berapakah jaraknilai yang dimiliki PT PDSI pada tahun berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian, nilai yang dimiliki perusahaan sudah sangat baik namun tidaktermanfaatkan dengan maksimal. Untuk menggapai rencana jangka panjang perusahaan, PT PDSI harus melakukan transformasi yang mempengaruhi seluruh aktifit. Untuk membatu mencapai hal tersebut, PT PDSI harus menjadi sebuah perusahaan yang lebih mandiri dan salah satu opsi yang akan mungkin dilakukan adalah melakukan IPO. Kata-kata kunci: valuasi, nilai, pendekatan berdasarkan aset, pendekatan berdasarkan pasar, pendekatan berdasarkan penghasilan, IPO
COMPANY VALUATION OF PT PERTAMINA DRILLING SERVICE INDONESIA
Industri minyak dan gas di Indonesia merupakan salah satu sektor industri yang perkembangannya sangat mempengaruhi perekonomian negara. Industry ini memeliki peranan penting karena setiap perubahan yang terjadi di sektor ini memberikan dampak yang cukup krusial bagi sektor - sektor lainnya. Pada penelitian ini, peneliti tidak memfokuskan pada industry minyak dan gas secara general, melainkan meneliti mengenai salah satu esensi penting dalam industri ini, yaitu jasa pengeboran. Perusahaan yang di bahas pada research ini adalah PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PT PDSI) yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengeboran dan berdiri pada tahun 2008 di bawa wewenang PT PERTAMINA (Persero) sebagai perusahaan induk. PT PDSI memiliki performa yang baik pada tahun 2008 dan 2009 dikarenakan "captive market", namun pada tahun selanjutnya performa mereka menurun karena perubahan peraturan oleh BP MIGAS. Berdasarkan performa mereka pada tahun 2008-2010 dan metode valuasi perusahaan, peneliti menggunakan 3 pendekatan finansial, yaitu pendekatan berdasarkan asset, pendekatan berdasarkan pasar, dan pendekatan berdasarkan pemasukan. Pada metode pendekatan berdasarkan aset, peneliti mengkalkulasikan nilai aset dan hutang yang dimiliki perusahaan untuk di setarakan dengan kondisi pada tahun berikutnya. Metode pendekatan berdasarkan pasar menfokuskan pada perhitungan yang di perhitungkan oleh shareholder, yaitu rasio Price-Earning. Dan pendekatan terakhir adalah berdasarkan penghasilan dimana perhitungan memfokuskan pada kalkulasi Free-Cash-Flow perusahaan. Hasil kalkulasi yang didapatkan peneliti adalah Rp 3,078,651 juta untuk perhitungan berdasarkan pendekatan asset, Rp 7,305,895 juta berdasarkan pendekatan market, dan Rp 8,885,664 juta berdasarkan pendekatan penghasilan. Jarak yang di dapat dari ketiga kall Jasi ini memberikan gambaran berapakah jaraknilai yang dimiliki PT PDSI pada tahun berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian, nilai yang dimiliki perusahaan sudah sangat baik namun tidaktermanfaatkan dengan maksimal. Untuk menggapai rencana jangka panjang perusahaan, PT PDSI harus melakukan transformasi yang mempengaruhi seluruh aktifit. Untuk membatu mencapai hal tersebut, PT PDSI harus menjadi sebuah perusahaan yang lebih mandiri dan salah satu opsi yang akan mungkin dilakukan adalah melakukan IPO. Kata-kata kunci:Industri minyak dan gas di Indonesia merupakan salah satu sektor industri yang perkembangannya sangat mempengaruhi perekonomian negara. Industry ini memeliki peranan penting karena setiap perubahan yang terjadi di sektor ini memberikan dampak yang cukup krusial bagi sektor - sektor lainnya. Pada penelitian ini, peneliti tidak memfokuskan pada industry minyak dan gas secara general, melainkan meneliti mengenai salah satu esensi penting dalam industri ini, yaitu jasa pengeboran. Perusahaan yang di bahas pada research ini adalah PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PT PDSI) yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengeboran dan berdiri pada tahun 2008 di bawa wewenang PT PERTAMINA (Persero) sebagai perusahaan induk. PT PDSI memiliki performa yang baik pada tahun 2008 dan 2009 dikarenakan "captive market", namun pada tahun selanjutnya performa mereka menurun karena perubahan peraturan oleh BP MIGAS. Berdasarkan performa mereka pada tahun 2008-2010 dan metode valuasi perusahaan, peneliti menggunakan 3 pendekatan finansial, yaitu pendekatan berdasarkan asset, pendekatan berdasarkan pasar, dan pendekatan berdasarkan pemasukan. Pada metode pendekatan berdasarkan aset, peneliti mengkalkulasikan nilai aset dan hutang yang dimiliki perusahaan untuk di setarakan dengan kondisi pada tahun berikutnya. Metode pendekatan berdasarkan pasar menfokuskan pada perhitungan yang di perhitungkan oleh shareholder, yaitu rasio Price-Earning. Dan pendekatan terakhir adalah berdasarkan penghasilan dimana perhitungan memfokuskan pada kalkulasi Free-Cash-Flow perusahaan. Hasil kalkulasi yang didapatkan peneliti adalah Rp 3,078,651 juta untuk perhitungan berdasarkan pendekatan asset, Rp 7,305,895 juta berdasarkan pendekatan market, dan Rp 8,885,664 juta berdasarkan pendekatan penghasilan. Jarak yang di dapat dari ketiga kall Jasi ini memberikan gambaran berapakah jaraknilai yang dimiliki PT PDSI pada tahun berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian, nilai yang dimiliki perusahaan sudah sangat baik namun tidaktermanfaatkan dengan maksimal. Untuk menggapai rencana jangka panjang perusahaan, PT PDSI harus melakukan transformasi yang mempengaruhi seluruh aktifit. Untuk membatu mencapai hal tersebut, PT PDSI harus menjadi sebuah perusahaan yang lebih mandiri dan salah satu opsi yang akan mungkin dilakukan adalah melakukan IPO. Kata-kata kunci: valuasi, nilai, pendekatan berdasarkan aset, pendekatan berdasarkan pasar, pendekatan berdasarkan penghasilan, IPO
FINANCIAL PERFORMANCE ASSESSMENT OF PT. TUGU PRATAMAINDONESIA IN COMPARISON WITH PUBLIC LISTED GENERAL INSURANCECOMPANY IN INDONESIA
Industri asuransi umum memiliki kinerja yang sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir. Premi bruto yang didapat oleh perusahaan asuransi umum selalu meningkat meskipun seperti kita ketahui pada tahun 2008 terjadi krisis ekonomi global. Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan perusahaan asuransi umum sangatlah cepat. Pertumbuhan premi bruto sejak tahun 2006 sampai dengan 2010 mencapai 125%. Pada tahun 2006 mereka mencatatkan hasil premi bruto sejumlah IDR 55.603 juta dan pada tahun 2010 angka ini mencapai IDR 125.116. Angka yang begitu tinggi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah lebih peduli terhadap asuransi.. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengukur kinerja keuangan dari PT Tugu Pratama Indonesia, PT Tugu adalah salah satu perusahaan terbesar dalam industri asuransi umum di Indonesia. Penelitian ini membandingkan kinerja keuangan PT Tugu dengan rata -rata industri yang diwakili oleh seluruh perusahaan asuransi umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Terdapat empat teori yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan; analisa trend, Pemeringkatan Infobank, analisa DuPont dan Analisa Kinerja dengan Faktor Diskriminan. Dalam penelitian ini terlihat bahwa dengan menggunakan Pemeringkatan Infobank dan Analisa Kinerja Dengan Faktor Determinan, kinerja PT Tugu sangatlah baik. Tetapi apabila dilihat dari analisa trend dan analisa DuPont, kinerja perusahaan ini tidak cukup baik. Pertumbuhan keuntungan PT Tugu bisa dikatakan cukup lambat. Net Profit Margin, Total Assets Turnover, ROA dan ROE dari PT Tugu lebih buruk dibanding para pesaingnya. Berdasarkan hasil analisa terhadap kinerja PT Tugu, disarankan agar PT Tugu meningkatkan penjualan produknya dengan lebih efisien memanfaatkan asset yang dimiliki dan juga mengatur investasi dengan lebih baik agar keuntungan perusahaan bisa ditingkatkan, karena pendapatan perusahaan asuransi adalah dari pendapatan premi juga dari hasil investasi. Kata Kunci: PT Tugu Pratama Indonesia, Kinerja Keuangan, Asuransi Umum
HIBRIDISASI MATERIAL EMAS MESOPORI DENGAN METAL ORGANIC FRAMEWORKS PADA DETEKSI SURFACE-ENHANCED RAMAN SCATTERING TERHADAP KONTAMINAN CHLORINATED AROMATIC HYDROCARBONS
Deteksi selektif hidrokarbon aromatik terklorinasi (chlorinated aromatic hydrocarbons/CAHs) dalam sampel lingkungan tetap menjadi tantangan besar akibat interferensi matriks yang kompleks. Disertasi ini menyajikan pengembangan sebuah sensor surface-enhanced Raman spectroscopy/SERS yang mengintegrasikan film emas mesopori (mAu) dengan lapisan selektif metal-organic framework/MOF UiO-66-I untuk mendeteksi CAHs secara sangat sensitif dan selektif. Substrat plasmonik dibentuk melalui elektrodeposisi prekursor emas (HAuCl?) bersama misel blok kopolimer polystyrene-block-poly(ethylene oxide) (PS18,000-b-PEO7,500) pada elektroda Au/Si. Analisis statistik spasial terhadap morfologi film menggunakan pair-correlation function, g(r), dan number variance, ?2(R) mengungkap bahwa susunan pori-pori pada film mAu bersifat hiperuniform tipe III yang tak-teratur (disordered hyperuniform). Sistem ini menampilkan korelasi jarak-jauh yang meningkatkan kopling cahaya datang dengan plasmon permukaan, sementara ketakteraturan jarak-dekat menghasilkan lokalisasi medan elektromagnetik (EM) yang intens, yang dikenal sebagai "hotspot". Simulasi elektromagnetik dan analisis distribusi Weibull mengonfirmasi bahwa morfologi hiperuniform ini menempati "zona Goldilocks", menghasilkan kerapatan hotspot yang tinggi dan reproduksibilitas yang lebih baik dibandingkan susunan acak (random non-overlapping/RNO) maupun yang teratur sempurna (square array/SQ). Fungsi selektifitas dicapai dengan melapisi film mAu menggunakan MOF UiO-66-I yang mengandung ligan tereftalat dan 2-iodotereftalat melalui metode vapor-assisted conversion/VAC. Lapisan MOF ini memainkan peran ganda yang krusial: 1. Perekrutan molekul target secara selektif: Gugus iodin pada ligan MOF membentuk ikatan halogen (HaB) yang reversibel dan spesifik dengan atom klorin pada CAHs. Hal ini memungkinkan perekrutan dan pelekatan molekul target (seperti 1,4-diklorobenzena/DCB dan 4-klorobifenil/BiCl) dari lingkungan yang kompleks langsung ke dalam hotspot SERS, sekaligus menolak interferen umum seperti protein (BSA), hidrokarbon aromatik polisiklik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAHs), dan ion-ion anorganik. 2. Peningkatan kopling cahaya: Lapisan UiO-66-I memiliki indeks refraksi yang relatif tinggi (n ~ 1.468 pada ? = 785 nm). Lapisan ini berfungsi sebagai lapisan pemerangkap optik yang meningkatkan kopling cahaya dengan struktur mAu di bawahnya, mengurangi reflektansi secara signifikan (~82% dibandingkan film Au datar). Simulasi EM lebih lanjut menunjukkan bahwa lapisan MOF dengan ketebalan optimal memfasilitasi pembentukan vorteks energi (aliran vektor Poynting) yang mengangkat dan memusatkan medan EM ke dalam lapisan MOF, tepat di lokasi molekul target teradsorpsi. Ketebalan lapisan MOF (tMOF) dioptimasi secara eksperimental dan teoretis. Hasil menunjukkan bahwa lapisan dengan ketebalan 77 nm menghasilkan sinyal SERS tertinggi, memberikan peningkatan intensitas 6 kali lipat dibandingkan film mAu yang tidak dilapisi. Sensor hibrida mAu@UiO-66-I ini menunjukkan kinerja deteksi yang luar biasa dengan performa: β’ Sensitifitas tinggi: Batas deteksi (limit of detection/LoD) untuk DCB dan BiCl mencapai di bawah 1 Γ 10-10 M, dimana beberapa orde magnitudo lebih rendah dari batas ambang kesehatan US EPA untuk DCB dalam air minum (5 Γ 10-7 M). β’ Selektifitas unggul: Sensor mempertahankan sinyal CAHs yang kuat dan jelas dalam matriks kompleks, termasuk campuran dengan BSA, naftalena, serta sampel referensi air tanah (ERM-CA616) dan air laut (G0154), tanpa adanya puncak interferensi yang signifikan. β’ Kemampuan penggunaan ulang: Berkat sifat reversibel dari ikatan halogen, sensor dapat diregenerasi melalui pencucian dengan etanol dan mempertahankan kinerjanya hingga beberapa siklus adsorpsi-desorpsi. β’ Reproduktibilitas baik: Analisis statistik pada peta Raman konfokal menunjukkan deviasi standar relatif (RSD) point-to-point sebesar 13,4%, sample-to-sample sebesar 15,2% dan substrate-to-substrate sebesar 17,8%, mengindikasikan uniformitas sinyal yang sangat baik untuk substrat SERS selektif. Keseluruhan hasil penelitian membuktikan bahwa strategi hibridisasi antara material plasmonik hiperuniform dan kimia retikular MOF berhasil menciptakan platform deteksi yang kuat. Pendekatan ini secara simultan mengonsentrasikan baik molekul target (melalui HaB) maupun energi cahaya (melalui pemerangkapan optik dan formasi hotspot) pada lokasi yang sama, sehingga mencapai sensitivitas dan selektifitas tertinggi untuk deteksi polutan lingkungan yang spesifik dalam matriks sesungguhnya. Disertasi ini tidak hanya menyajikan sebuah sensor yang efektif tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan platform SERS generasi berikutnya untuk berbagai aplikasi diagnostik dan lingkungan.
THE ANALYSIS OF CORPORATE CULTURE IMPLEMENTATION IN PERTAMINA EP
Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi di Indonesia ikut serta dipengaruhi oleh banyaknya bisinis yang beraktivitas di Indonesia sendiri. Kesuksesan bisnis yang ada di Indonesia salah satunya didukung oleh nilai, visi dan misi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut yang mana membentuk budaya di dalam perusahaan sebagai sebuah fondasi dalam menjalankan bisnis. Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga dipengaruhi oleh Badan Usaha milik Negara (BUMN) yang menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satu BUMN adalah PERTAMINA Eksplorasi Produksi (PEP) yang mana merupakan anak perusahaan dari PERTAMINA (Persero). Usaha PEP bergerak di bidang minyak dan gas bumi. Sebagai perusahaan besar di Indonesia, PEP harus di dukung oleh visi, misi dan nilai yang di interpretasikan sebagai budaya perusahaan. Interpretasi tersebut harus berdasarkan bisnis etik PEP. Untuk mengetahui eksistensi budaya perusahaan di PEP, maka penelitian digunakan untuk mengetahui desain budaya, kondisi budaya perusahaan saat ini sertaketerlibatan management di dalam perusahaan berkaitan dengan budaya perusahaan. Dari hasil penemuan, ada beberapa hasil yang menunjukan eksistensi budaya PEP yang mana implementasi budaya perusahaan oleh kebanyakan pegawai sudah dengan cara yang sesuai. Dari hasil temuan, ada empat factor analisis baru yang menggambarkan 3value yang dimiliki PEP. Variabel yang ada di dalam factor tersebut berasal dari Etika Kerja dan Bisnis yang dibuat oleh PEP. Selain itu, dari kuesioner juga menun an Ifaktor yang paling dipahami oleh karyawan, yaitu commercial branding. Di dalam commercial branding ada tiga variable yaitu Corporate Social Responsibility, Prohibit misapplication of psychotropic dan Competitiveness. Sedangkan factor yang paling kurang dimengerti dan di pahami oleh karyawan adalah Corporate Confidentiality yang mana memiliki tiga variable yaitu Intellectual Property, Confidentiality of Data and Information dan Management record. Dari tiga variable, yang paling kurang dipahami khususnya pada variable management record. Meskipun faktor tersebut adalah yangpaling kurang dimengerti, namun bukan berarti skala pemahamannya di bawah ekspektasi perusahaan. Internalisasi budaya perusahaan tidak bisa dilakukan dengan cepat, tapi membutuhkan proses, dan perkembangan proses tersebut menunjukan hasil yang bagus. Perusahaan harus segera mengambil tindakan untuk menghindari masalah yang lebih besar karena tidak menjalankan management record dengan baik. Meskipun saat ini tidak ada masalah yang berarti terkait dengan management record, namun mungkin nantinya akan ada masalah yang lebih besar di masa yang akan datang akibat karyawan menyepelekan hal tersebut. Salah satu program yang mereka buat adalah dengan cara komite Etika Kerja dan Bisnis (EKB) yang mana mengumpulkan perwakilan management dari setiap divisi untuk menjadi sukarelawan sebagai agen perubahan. Agen perubahan juga memiliki peran sebagai pemimpin. Terkait dengan hasil penelitian, untuk meemperbaiki kelemahan management record, keseluruhan agen perubahan harus ikut serta ditingkatkan kualitas mereka dengan pelatihan dari management, karena mereka juga punya posisi yang bisa mempengarui bawahan mereka untuk menjalankan management record sesuai harapan perusahaan. Kata Kunci: Budaya Perusahaan, PERTAMINA EP, Faktor Analisis, Etika Kerja dan Bisnis.
DIAGNOSTIK PRAKTIS PERMASALAHAN PRODUKSI AIR MENGGUNAKAN ANALISIS WATER CUT DAN WOR DERIVATIVE PADA LAPANGAN AX
The AX Field is one of the largest onshore oil fields in Indonesia and contributes significantly to the countryβs oil production. After reaching peak production of approximately higher than 220 MBOPD, the field has entered a mature production stage characterized by declining oil rates and increasing water production rapidly. The main producing reservoir is the heterogeneous carbonate buildup of the Kujung Formation that can create preferential flow paths and lead to uneven fluid displacement. This study aims to analyze declining production and rapidly increase of water production in the AX Field through an integrated evaluation of field performance and well-level diagnostics for maintenance field production performance in the future. The study workflow begins with the collection and validation of production and injection data based on production history data from August 2009-May 2025, followed by the development of a historical field production performance plot to evaluate reservoir behavior over time, complemented by the construction of a combined Voidage Replacement Ratio (VRR) and reservoir pressure versus time plot to assess reservoir drive mechanisms and pressure support. Then, production historical evaluation is conducted using Decline Curve Analysis (DCA) to determine decline rate (Di) field and wells. Based on these evaluations, a problematic well is identified for further detailed analysis based on wells production history data. Water production behavior is then examined for every well in the field using DCA method, fractional method, and Watercut/Life time method. Further diagnostic analyses include Chan plot evaluation for production wells, Hall plot interpretation for injection wells, and assessment of well completion data alongside oilβwater contact (OWC) conditions. The integration of these analyses provides the basis for proposing appropriate mitigation strategies to optimize production performance and manage excessive water production. The results indicate that injection pressure support successfully stabilized reservoir pressure after the early depletion stage. However, diagnostic analysis shows that channeling is the dominant mechanism causing water breakthrough in several wells, with some wells also exhibiting bottom-water coning. Fractional flow analysis estimates a theoretical breakthrough watercut of approximately 85.7%, and comparison with field data suggests that several wells experienced earlier breakthrough due to preferential flow through high-permeability pathways. The integrated analysis provides insights for identifying problematic wells and supports the implementation of targeted water-management strategies to improve sweep efficiency and sustain oil recovery in the AX Field.
MEASURING THE BRAND LOYALTY OF UNSATISFIED TELKOMSEL FLASHCUSTOMER
Telkomsel adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yang enyediakan berbagai macam produk layanan untuk pelanggannya. Telkomsel Flash sebagai ah satu produk unggulan dari Telkomsel, adalah produk yang menawarkan jasa layanan in met dan memiliki pangsa pasar yang besar di Indonesia, bersaing dengan Indosat dan Sttfren masing-masing dengan total pangsa pasar sebesar 77,5%. Indonesia adalah nega pengguna media sosial Twitter terbesar ke 5 dunia dengan 19,5 juta pengguna. Tujuan dari melitian ini adalah mengukur loyalitas merek pengguna yang merasakan ketidakpuasan dalam menggunakkan Telkomsel Flash Perbandingan price produk Telkomsel Flash dengan merek lain menjadi salah satu dasar untuk melakukan penelitian. Teori teori penting untuk menambah pengertian dan penyelesaian tugas akhir adalah pengertian dasar merek, ekuitas merek, loyalitas merek, media sosial, analisis konten, dan relasi publik. Topsy.com dan Kurrently.com adalah alat bantu dalam menganalisis konten media sosial selain Twitter.com. Metodologi melingkupi 3 bagian yaitu motif riset, kerangka riset, dan metode penentuan sampling. Motif riset membahas tentang motivasi penulis dalam pemilihan topik tugas akhir. Kerangka riset membahas tentang alur pengumpulan data dari pencarian kata kunci hingga analisis konten. Metode penentuan sampling berisi tentang teknik untuk menentukan jumlah populasi dan metode sampling. Jenis sampling adalah Purposive Sampling, maka Teori Slovin digunakkan untuk menentukkan jumlah sample. Ada 4 bagian yang dipaparkan dalam pengolahan data. Bagian pertama yaitu tentang keluhan - keluhan yang dialami dari responden yang tidak puas dengan pelayanan Telkomsel Flash. Bagian kedua membahas tentang faktor faktor yang mem ngaruhi responden ketika memilih atau membeli Telkomsel Flash. Bagian ketiga membahas tentang tendensi responden yang tidak puas untuk berpindah merek. Bagian keempat membahas tentang faktor-faktor yang membuat responden memutuskan untuk tidak berpindah merek. Stabilitas sinyal dan kecepatan koneksi menjadi faktor terbesar dari responden dalam memilih Telkomsel Flash dengan 51%. Sebesar 63% dari responden menyatakan keluhan yang dialami adalah seputar stabilitas sinyal dan kecepatan koneksi. Secara umum, tendensi responden untuk berpindah merek sebesar 52% dan 48% memutuskan untuk tidak berpindah merek, dimana 50% dari responden yang memutuskan untuk berpindah merek adalah berasal dari faktor terbesar dalam memilih produk Telkomsel Flash. Sebanyak 55% dari responden yang memutuskan untuk tidak berpindah merek berpendapat bahwa Telkomsel Flash masih memberikan stabilitas sinyal paling baik dan toleransi responden. Kata kunci: Telkomsel Flash, Loyalitas Merek, Perpindahan Merek, Media Sosial, Twitter, Analisis Konten
THE EFFECT OF CAPITAL, ASSET PRODUCTIVITY, LIQUIDITY,EFFICIENCY, AND INFLATION RATE TOWARDS RURAL BANK'SPROFITABILITY: STUDY ON WEST JAVA RURAL BANKS 2007 - 2010
Perkembangan BPR di Indonesia sejalan dengan cita-cita bangsa untuk selalu meningkatkan kesejahteraan warga negaranya. Peran awal Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah untuk bertindak sebagai lembaga keuangan yang melayani masyarakat di pedesaan atau daerah yang relatif terpencil yang memiliki keterbatasan akses kepada lembaga keuangan profesional untuk membantu mereka terlepas dari jeratan rentenir. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, BPR juga berfungsi sebagai ujung tombak dalam pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM). Fungsi-fungsi strategis BPR inilah yang dilihat sebagai alasan yang lebih dari cukup untuk melakukan studi tentang kinerja BPR, khususnya di Indonesia. Penelitian ini mencoba mendeskripsikan kinerja BPR di Indonesia dengan melakukan regresi linear berganda. Regresi ditujukan untuk menguji pengaruh rasio-rasio keuangan sebagai faktor internal dan tingkat inflasi sebagai faktor eksternal, terhadap Return on Asset (ROA) sebagai indikator kinerja. Data sekunder dala bentuk laporan keuangan triwulanan digunakan dalam penelitian ini untuk memberikan rasio-rasio keuangan. Rasio-rasio keuangan dipilih dengan mengadaptasi dan memodifikasi kerangka yang dikembangkan oleh Majalah Infobank untuk menilai kinerja BPR, yang terdiri dari CAR, Pertumbuhan Modal, NPL, Pertumbuhan Kredit, LDR, Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dan NIM. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 42 BPR di Jawa Barat, dalam tahun fiskal 2007-2010. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa ROA secara signifikan dan positif dipengaruhi oleh NPL, Pertumbuhan Kredit, LDR, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dan NIM. Kata Kunci Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Regresi Linear Berganda, Profitabilitas, Return on Asset (ROA), Rasio Kecukupan Modal (CAR), Pertumbuhan Modal, Non Performing Loan (NPL), Pertumbuhan Kredit, Loan to Deposit Ratio (LDR), Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Net Interest Margin (NIM), Tingkat Inflasi.
PANDUAN PERANCANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI RW 004 KELURAHAN KAMPUNG MELAYU, KECAMATAN JATINEGARA, KOTA JAKARTA TIMUR DENGAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN (WSUD)
Kawasan permukiman di RW 004 Kelurahan Kampung Melayu merupakan salah satu wilayah di Jakarta Timur yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana banjir akibat kedekatannya dengan Sungai Ciliwung, tingginya kepadatan penduduk, serta terbatasnya ruang terbuka hijau. Kondisi tersebut diperparah oleh menurunnya daya resap tanah dan belum optimalnya sistem pengelolaan air perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan panduan perancangan kawasan permukiman berbasis konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD) sebagai pendekatan adaptif dalam mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang didukung oleh observasi lapangan, survei persepsi dan preferensi masyarakat, studi literatur, serta metode benchmarking terhadap preseden penerapan WSUD. Analisis dilakukan melalui identifikasi kondisi eksisting, analisis persepsi dan preferensi masyarakat, serta gap analysis untuk membandingkan kondisi aktual dengan kondisi ideal berbasis prinsip WSUD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan WSUD di kawasan studi dapat diarahkan melalui pengembangan komponen perancangan yang mencakup bangunan adaptif terhadap banjir, sistem jaringan jalan dengan perkerasan berpori, optimalisasi ruang terbuka hijau sebagai elemen resapan dan retensi, serta penguatan fungsi sempadan sungai sebagai koridor biru-hijau yang multifungsi. Selain itu, integrasi sistem drainase alami, pemanfaatan air hujan, serta peningkatan konektivitas jalur evakuasi menjadi aspek penting dalam mendukung ketahanan kawasan terhadap banjir. Penelitian ini menghasilkan panduan perancangan yang bersifat kontekstual dan aplikatif pada skala permukiman padat di kawasan rawan banjir perkotaan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan konsep perancangan berbasis siklus air serta menjadi referensi bagi perencanaan kawasan yang lebih berkelanjutan, resilien, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
EVALUATING STRATEGIC SHOPPER BASED ENVIRONMENT TO CREATE EXCELLENT SHOPPING EXPERIENCE:A CASE STUDY OF LEE COOPER INDONESIA STAND ALONE STORE PONDOK INDAH MALL
Dewasa ini, berbagai merek fashion melakukan berbagai strategi untuk menjadi lebih menarik, lebih unggul, dan lebih berkualitas sembari tetap menawarkan harga yang terjangkau. Kendati demikian, apakah hal tersebut nenjamin bahwa masyarakat memilih produk mereka? Lee Cooper Indonesia (LCI) adalah salah satu merek denim yang paling tua di negeri ini. Saat ini Lee Cooper telah membuka lebih dari 100 toko dengan dua jenis yang berbeda yaitu Shop in Shop (SIS) dan Stand Alone Shop (SAS). Lee Cooper Indonesia juga berusaha untuk selalu melakukan inovasi baru agar menjadi pilihan konsumen Indonesia. Ironisnya, beberapa tahun terakhir Lee Cooper Indonesia mengalami penurunan penjualan pada toko SAS. Menurut pre-survei, hal ini terjadi karena kebanyakan pelanggan tidak cukup tertarik untuk membeli produk, mengalami kesulitan untuk menemukan produk yang mereka inginkan, dan hanya 10% dari mereka menyadari adanya di promosi di dalam toko. Oleh karena itu, laporan ini akan menganalisis lingkungan toko saat ini termasuk desain toko, aspek ambient toko, dan aspek sosial Lee Cooper Indonesia Pondok Indah Mall Stand Alone Shop (SAS). Pada akhirnya analisa tersebut akan digunkan untuk membangun pengalaman berbelanja yang makimal dan kepuasan bagi konsumen Lee Cooper. Desain lingkungan toko yang baru juga akan dianalisa menggunakan Satisfaction Research untuk menguji tingkat diterimanya desain oleh konsumen dan manajemen Lee Cooper.
EXPERIMENTAL STUDY OF SURFACE CONTOUR EFFECTS ON THE PERFORMANCE AND TECHNO-ECONOMIC ANALYSIS OF A VORTEX BLADELESS WIND TURBINE
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja serta kelayakan tekno-ekonomi dari sistem vortex bladeless wind turbine (VBWT) yang beroperasi pada kondisi kecepatan angin rendah. Analisis eksperimental dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh konfigurasi mast terhadap respons vortex-induced vibration (VIV) serta daya yang dihasilkan oleh sistem. Data getaran yang diperoleh dari pengujian terowongan angin divalidasi menggunakan analisis sinyal statistik untuk memastikan reliabilitas dan reprodusibilitas respons osilasi yang terukur. Konfigurasi mast berbentuk Counter-clockwise diidentifikasi sebagai desain paling optimal dengan menghasilkan daya terbesar dibandingkan dengan geometri Clockwise, Tubular dan Plain Data performa turbin tunggal hasil eksperimen kemudian diskalakan tinggi menjadi 3 meter diameter atas 1.3 meter dan diameter bawah 1.5 meter dengan jarak optimum antar mast itu 4D untuk membentuk model konseptual ladang turbin angin guna mengestimasi wind power density serta produksi energi tahunan. Analisis tekno-ekonomi selanjutnya dilakukan menggunakan parameter Levelized Cost of Electricity (LCOE) sebagai indikator utama kinerja ekonomi. Konfigurasi ladang turbin VBWT yang diusulkan menghasilkan nilai LCOE sebesar 0.2299 USD/kWh yang menunjukkan potensi kelayakan untuk aplikasi energi terbarukan skala kecil terdistribusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi vortex bladeless wind turbine memiliki potensi sebagai alternatif sistem pembangkit energi angin konvensional, khususnya pada wilayah dengan kecepatan angin rendah hingga sedang.
STRATEGY FORMULATION AND PLANNING BASED ON STRATEGICMANAGEMENT MODEL AND BALANCED SCORECARD IN PT. GREENERATIONINDONESIA
Greeneration Indonesia (GI) adalah perusahaan sosial yang bertujuan untuk memberikan jawaban atas kebutuhan untuk mendukung pelaksanaan ramah lingkungan konservasi upaya gaya hidup dan lingkungan di Indonesia. Terkait dengan kepedulian lingkungan, Gl berinovasi dengan menciptakan tas Bagoes, pengganti yang ramah lingkungan untuk kantong plastik. Namun, melihat kondisi perusahaan, lingkungan yang kompetitif merupakan tantangan nyata dari setiap perusahaan untuk bertahan dan mengembangkan usahanya berhasil. Tugas akhir ini mendefin isikan perumusan strategi dan perencanaan untuk Gl agar lebih kompetitif di industrinya. Untuk penelitian, baik data primer dan sekunder telah digunakan untuk mengumpulkan informasi dan temuan melalui observasi, wawancara, FGD, dan pengumpulan data sekunde r. Penelitian deskriptif sangat bergantung pada wawancara mendalam dengan Dewan Direksi Gl, dan data keuangan dari Gl untuk panilaian EVA. Alat utama yang digunakan adalah Model Dasar Manajemen Strategis dan Balanced Scorecard (BSC). Strategi ini dipecah berdasarkan hirarki strategi. Sebagai hasilnya, dapat disimpulkan bahwa faktor internal dan eksternal Gl mempengaruhi bisnis dalam hal menentukan posisi perusahaan saat ini. Dari tabel EFAS dan IFAS, dan matriks SFAS, arah strategi perusahaan untuk Gl saat ini didefinisikan sebagai Strategi Pertumbuhan. Analisis value chain digunakan untuk mendefinisikan kegiatan bisnisnya dan dapat disimpulkan bahwa hubungan aktivitas didasarkan pada perencanaan keuangan 5 tahun yang ditetapkan sebagai tujuan perusahaan melalui penilaian EVA. Strategi bisnis didefinisikan melalui Strategi Generik Kompetitif Porter sebagai Fokus Diferensi asi. Strategi fungsional ditentukan melalui analisis BSC yang juga mencakup perencanaan strategis untuk GI. BSC diturunkan dari visi, misi perusahaan, dan strategi perus haan dan bisnis yang telah dirumuskan sebelumnya dalam rangka mencapai objektif keuangan pada tahun 2016, EVA (Rp 3,395,458,078), pendapatan (Rp 17,900,863,792), dan laba kotor (Rp 12,030,870,284). BSC mendefinisikan dan mengukur kinerja Perseroan berdasarkan 4 perspektif dari GI: Keuangan (Mencapai EVA Positif), Pelanggan (Meningkatkan Nilai Pelanggan dan Reputasi Perusahaan), Proses Bisnis Internal (Mencapai Keunggulan Operasional dan Kemampuan Rantai Nilai), dan Pembelaja ran Organisasi dan Pertumbuhan (Meningkatkan Kemampuan Sumber Daya Manusia dan Antusiasme). Hasilnya, strategi fungsional dan perencanaan strategis untuk masing-masing departemen disampaikan melalui manajemen kinerja, indikator kinerja, dan rencana aksi program yang sesuai. Strategi pemetaan disampaikan untuk menguji hubungan keterkaitan dan sebab-akibat dari perspektif masing-masing untuk mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan. Kata Kunci: Manajemen Strategis, Penilaian EVA, Balanced Scorecard, Pemetaan Strategi
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY IMPACT ON DESA NANGGERANGFOR SANITATION AND HEALTHY BEHAVIOR FROM PT. TIRTA INVESTAMA
Saat ini sikap sehat dan sanitasi tidak hanya dilakukan olch pemerintah, namun juga perusahaan swasta. Perusahaan swasta membuat program pengembangan masyarakat sebagai bentuk Corporate Social Responsibility dari perusahaan. Perusahaan swasta yang secara langsung membantu pemerintah yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program pengembangan masyarakat yang dibuat untuk memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar proyek tersebut. Kemitraan Multi-Pihak (KMP) merupakan suatu strategi kolaborasi untuk mengoptimalisasikan dan mengambil keuntungan dari dampak kolaborasi yang lebih memilih sistem bekerja sama, sebuah sistem integrasi kompeten, urgensi dan inovasi dari semua pihak yang mengambil bagian dalam kemitraan ini Sektor air minum dalam kemitraan multi-pihak dan penyehatan lingkungan (AMPL), hal ini merupakan respons dari kondisi pelayanan air mineral dan menindaklanjuti ketetapan undang-undang nomor 7 tahun 2004 tentang sumber air. Untuk mencapai target yang terus meningkat dan keberhasilan, tentang pelayanan air mineral yang mengatakan secara nasional dan sekaligus merupakan target Millennium Development Goals (MDGs), proyek ini memerlukan kemauan dan investasi yang besar. Karena itu kontribusi dan partisipasi dari semua pihak yang terkait adalah hal yang sangat diperlukan. PT. Tirta Investama melihat peluang dan potensi daerah yang bernama Desa Nanggerang yang memilih potensi untuk mengembangkan air mineral dan sanitasi. PT. Tirta Investama sebagai perusahaan air minum terbesar di indonesia, mereka akan menggakan air yang berasal dari sumber mata air Gurung Gede Pangrango dalam rangka untuk mencapai tujuan dari proyek Mitra PHAST. Desa Nanggerang memiliki masalah sanitasi dan air mineral. Untuk mengatasi masalah ini, PT. Tirta Investama, mereka mengumpulkan dana dan menjadi pemimpin dari proyek yang diwakili oleh YPCII sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang biasa menangani kegiatan Corporate Social Responsibility di Desa Nanggerang. Kesadaran untuk mengumpulkan kekuatan yang menciptakan kebersamaan merupakan sebuah inovasi dalam bentuk kemitraan yang baru, yang disebut Kemitraan Multi-Pihak (KMP) di mana ada banyak pihak yang memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi sebagai kewajiban mereka dan kemampuan untuk mengatur dan menyelenggarakan program dalam proyek ini yang memiliki tujuan untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) di bidang air mineral dan sanitasi. Kata Kunci: Corporate Social Responsibility (CSR), Pengembangan Masyarakat, Prilaku Sehat, Sanitasi.