📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDIES NATALIS KE-47 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 2006
Tidak ada deskripsi.
DIES NATALIS KE-46 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 2005
Tidak ada deskripsi.
DIES NATALIS KE-45 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 2004
Tidak ada deskripsi.
DIES NATALIS KE-43 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 2002
Tidak ada deskripsi.
DIES NATALIS KE-42 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 3 MARET 2001
Tidak ada deskripsi.
DIES NATALIS KE-41 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 2000
Tidak ada deskripsi.
DIES KE 40 LUSTRUM VIII INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 1999
Tidak ada deskripsi.
ANALISIS POTENSI KOMBINASI BIOSURFAKTAN LIPOPEPTIDA BACILLUS SP. AR3 DENGAN DMDM HYDANTOIN SEBAGAI PRESERVATIF PADA PRODUK KOSMETIK BERBENTUK KRIM
Produk kosmetik telah menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa lepas dari rutinitas sehari-hari. Dalam formulasinya, produk kosmetik umumnya mengandung pengawet untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperpanjang masa simpan produk. Salah satu pengawet kimia yang umum digunakan adalah DMDM Hydantoin. Namun, penggunaan DMDM Hydantoin dalam jangka panjang memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, seperti reaksi alergi, iritasi, dan kanker kulit. Untuk mengurangi efek toksisitasnya, DMDM Hydantoin dapat dikombinasikan dengan pengawet alami, seperti biosurfaktan. Biosurfaktan memiliki sifat toksisitas yang lebih rendah, biodegradibilitas yang lebih tinggi, kompatibilitas lingkungan yang lebih baik, pembusaan yang lebih tinggi, selektivitas yang lebih tinggi, serta aktivitas yang spesifik, seperti antimikroba. Salah satu bakteri yang dapat menghasilkan biosurfaktan adalah Bacillus sp. AR3, yang diisolasi dari pasir pantai di Pantai Sebalang, Lampung, Indonesia. Bakteri ini mampu menghasilkan biosurfaktan lipopeptida. Oleh karena itu, diperlukan analisis potensi kombinasi antara DMDM hydantoin dan biosurfaktan Bacillus sp. AR3 sebagai pengawet dalam formulasi produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan interaksi kedua antimikroba melalui penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Fractional Inhibitory Concentration Index (FICI) dengan uji checkerboard, menentukan efektivitas pengawet DMDM Hydantoin dan biosurfaktan secara individu dan kombinasi dengan uji kebocoran kalium, serta menentukan status keberterimaan formulasi sediaan krim dengan penambahan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan sesuai dengan Farmakope Indonesia melalui uji tantang pada hari ke-2, 4, 7, 14, 21 dan 28. Seluruh uji dilakukan terhadap 5 mikroorganisme uji, yaitu Escherichia coli ATCC 8739, Staphylococcus aureus ATCC 6538, Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, Candida albicans ATCC 10231, dan Aspergillus brasiliensis ATCC 16404. Berdasarkan nilai FICI, interaksi antara DMDM Hydantoin dan biosurfaktan terhadap lima mikroorganisme uji adalah aditif. Pada uji kebocoran kalium, perlakuan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan masing-masing kedua senyawa. Hasil uji tantang terhadap bakteri menunjukkan bahwa perlakuan penambahan kombinasi antimikroba pada formulasi sediaan krim menunjukkan penurunan >2 log CFU/ mL pada hari ke-2 tanpa peningkatan hingga hari ke-28. Pada ragi dan fungi, menunjukkan adanya penurunan >2 log CFU/mL pada hari ke-2 dan 4 serta tidak ada peningkatan hingga hari ke-28. Hasil ini menunjukkan bahwa formulasi sediaan krim dengan penambahan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan lolos uji tantang. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan bekerja secara aditif dan dapat menurunkan konsentrasi pengawet yang digunakan dalam produk kosmetik.
GENOME MINING MIKROBA HALOFIL DANAU GILI MENO DAN KLONING BIOSYNTHETIC GENE CLUSTER (BGC) UNTUK PENGEMBANGAN ANTIBIOTIK POTENSIAL
Resistensi antimikroba semakin meningkat setiap tahun dan telah menjadi masalah kesehatan global. WHO memperkirakan pada tahun 2050 infeksi akibat resistensi antimikroba dapat menyebabkan lebih dari 1,9 juta kematian per tahun. Eksplorasi mikroorganisme dari lingkungan ekstrem merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk menemukan antimikroba baru. Mikroorganime yang berada pada lingkungan ekstrem dapat menghasilkan enzim, maupun metabolit sekunder unik sebagai bentuk adaptasi dan berpotensi sebagai kandidat antimikroba/antibiotik. Indonesia memiliki berbagai lingkungan ekstrem yang belum dieksplorasi, salah satunya yaitu Danau Halofilik Gili Meno, Lombok. Danau Gili Meno memiliki salinitas yang tinggi sehingga mikroorganisme yang dapat bertahan pada lingkungan tersebut harus dapat menghasilkan metabolit sekunder tertentu untuk mempertahankan tekanan osmotik. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan isolasi konsorsium bakteri dari Danau Gili Meno dan analisis genomik berbasis sekuensing 16S rRNA. Hasil karakterisasi bakteri tersebut memperoleh beberapa kultur murni salah satunya isolat G7 dan analisis isolate G7 tersebut teriindentifikasi Cytobacillus hoencekiae. Pada penelitian ini dilanjutkan untuk analisis Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memverifikasi isolat G7 sebagai Cytobacillus horneckiae. Sekuens genom Cytobacillus horneckiae digunakan untuk genome mining menggunakan antiSMASH dan diperoleh adanya Biosynthetic Gene Cluster (BGC) yang mengkode lasso peptide. Lasso peptide adalah metabolit sekunder yang diketahui memiliki stabilitas struktur yang kuat, ketahanan terhadap degradasi enzim dan memiliki aktivitas antimikroba yang luas. BGC yang teridentifikasi memiliki komponen genetik lengkap untuk biosintesis lasso peptide dan memiliki kemiripan 60% dengan paeninodine. Ekspresi lasso peptide dari Cytobacillus horneckiae dilakukan melalui sistem rekombinan di dalam E. coli BL21(DE3). Sekuen Lasso peptide sebesar 5005 bp berhasil diinsersikan ke dalam vektor pET-32b (+) melalui Gibson Assembly. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya koloni pada hasil transformasi. Konfirmasi keberhasilan transformasi dilakukan melalui PCR plasmid dan diperoleh pita sesuai dengan panjang insert yang diharapkan yaitu 5005 bp. Karakterisasi ekspresi lasso peptide sebagai kandidat antibiotik potensial akan dikarakterisasi lebih lanjut menggunakan analisis LC-MS. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini klaster lasso peptide yang terdapat pada genom Cytobacillus horneckiae dari Danau Gili Meno berpeluang bagi penemuan kandidat antibiotik baru yang berpotensi mengatasi tantangan resistensi antimikroba global.
IMPLEMENTASI INDOBERT UNTUK PREDIKSI SENTIMEN REAL-TIME PADA ISU PUBLIK DI TWITTER
Twitter merupakan salah satu platform media sosial yang banyak digunakan masyarakat untuk menyampaikan opini dan respons terhadap isu publik secara cepat, sehingga diperlukan metode yang mampu memantau kecenderungan sentimen masyarakat secara real time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen masyarakat pada platform Twitter menggunakan algoritma IndoBERT dengan tiga variasi aktivasi, yaitu No Activation, GELU, dan Tanh, guna memberikan gambaran kecenderungan isu publik terhadap suatu topik. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data tweet melalui proses crawling berdasarkan kata kunci tertentu, pelabelan data ke dalam kategori sentimen positif, netral, dan negatif, kemudian dilakukan fine-tuning model IndoBERT pada dataset berlabel. Model yang dihasilkan diimplementasikan ke dalam sistem berbasis antarmuka untuk memproses data Twitter dan menghasilkan prediksi sentimen secara langsung. Evaluasi dilakukan tidak hanya menggunakan hasil prediksi sentimen, tetapi juga dengan analisis perilaku keyakinan model melalui confidence score, logit margin, serta distribusi entropy untuk mengukur tingkat ketidakpastian prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IndoBERT dengan tiga variasi aktivasi mampu digunakan untuk prediksi sentimen secara real time dan memberikan gambaran kecenderungan sentimen masyarakat terhadap topik yang dianalisis. Perbedaan aktivasi memengaruhi karakter prediksi, terutama pada kestabilan output dan tingkat ketidakpastian, di mana Tanh cenderung menghasilkan prediksi lebih stabil, GELU lebih kuat dalam membentuk keputusan tegas pada sampel yang jelas, dan No Activation lebih sering berada pada kondisi borderline pada teks ambigu. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa IndoBERT dengan variasi aktivasi dapat digunakan sebagai solusi analisis sentimen real time untuk memantau opini publik pada isu tertentu di Twitter.
KIT KENDALI KECEPATAN DAN POSISI MOTOR DC SECARA ANALOG MAUNPUN DIGITAL
Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan kendali PI secara digital pada modul kendali kecepatan maupun posisi motor DC Servo System MS-150. Model fungsi alih dari motor DC berdasarkan hubungan tegangan input dan kecepatan output diidentifikasi dengan model orde 1. Kemudian, berdasarkan model tersebut dirancang pengendali PI yang bertujuan untuk menghasilkan respon kecepatan sesuai referensi yang ditetapkan. Adapun spesifikasi respon yang diinginkan yaitu maksimum overshoot 20% dan settling time kurang dari 2 detik. Konstanta pengendali PI diperoleh berdasarkan model closed-loop sistem motor DC disertai sensor tacho dengan pengendali PI, yang didekati dengan persamaan umum orde 2 pada persamaan karakteristiknya. Konstanta pengendali ini selanjutnya diimplementasikan ke dalam bentuk diskrit menggunakan metode integral error persegi. Untuk melihat ketercapaian spesifikasi yang ditetapkan, dilakukan simulasi MATLAB maupun eksperimen perangkat keras. Hasil simulasi dan eksperimen menunjukkan ketercapaian spesifikasi perancangan untuk kendali kecepatan maupun posisi secara analog dimana perancangan sistem diawali dengan menentukan nilai ? (zeta) yang merepresentasikan damping ratio (rasio redaman) pada sistem kendali orde dua dan Wn yang merepresentasikan rekuensi alami dari sistem, biasanya dalam satuan rad/s (radian per detik) dengan nilai %OS (persentase overshoot) yang merepresentasikan seberapa jauh output melewati nilai target (setpoint) saat pertama kali naik dan Ts (settling time) yang merepresentasikan waktu yang dibutuhkan sistem untuk masuk dan tetap berada di sekitar setpoint yang sudah ditentukan, didapatkan nilai ? sebesar 0.456 dan Wn sebesar 4.38 dan untuk kendali kecepatan secara digital dimana overshoot yang dihasilkan tidak lebih dari 20% dan settling time kurang dari 2 detik. Ditambahakan saturasi pada sinyal kendali untuk merepresentasikan batas fisik aktuator dalam sistem nyata. Selain itu, saturasi juga berfungsi untuk melindungi komponen dari kerusakan akibat sinyal kendali yang berlebihan. Dengan adanya saturasi, model sistem menjadi lebih realistis dan sesuai dengan kondisi implementasi. Namun, keterbatasan ini menyebabkan sinyal kendali tidak selalu mampu mengikuti perintah pengendali secara ideal, yang kemudian berdampak pada penurunan performa sistem sehingga terdapat penurunan respon ketika ditambahkan saturasi pada sinyal kendali dimana overshoot yang dihasilkan menjadi lebih besar dan juga settling time melebihi 2 detik. Namun demikian, penurunan performa sistem masih dapat diterima karena adanya keterbatasan duty cycle sebagai sinyal kendali pada implementasi perangkat keras. Batasan ini menyebabkan sinyal kendali tidak dapat melebihi nilai maksimum tertentu, sehingga respon sistem tidak dapat sepenuhnya mengikuti perintah pengendali secara ideal.
PROYEKSI VARIABILITAS KEDALAMAN TERMOKLIN DI PERAIRAN BARAT SUMATRA MENGGUNAKAN DATA MODEL CMIP6 TAHUN 2015-2045
Termoklin merupakan lapisan dilautan yang memiliki gradien suhu vertikal yang tajam dan berperan penting dalam dinamika laut-atmosfer serta ekosistem laut. Variabilitas kedalaman termoklin dipengaruhi oleh faktor musiman, pola angin, dan variabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas tahunan kedalaman termoklin di perairan barat Sumatra pada periode 2015-2045 serta mengkaji perubahannya sebagai indikator dampak perubahan iklim berdasarkan data model CMIP6 pada skenario SSP1 dan SSP5, dengan ORAS5 sebagai data referensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh model CMIP6 mampu merepresentasikan pola spasial kedalaman termoklin. Pada skenario SSP1, kedalaman termoklin berkisar antara 120-146 m di lintang 3° LS-3° LU dan 75-120 m di laut lepas. Pada skenario SSP5, kedalaman termoklin meningkat menjadi sekitar 121-148 m di lintang 3° LS-3° LU dan 74-121 m di laut lepas, yang mengindikasikan adanya pendalaman sekitar 5 m pada skenario emisi tinggi. Secara temporal, ORAS5 menunjukkan kedalaman termoklin yang relatif stabil pada kisaran 95-120 m dengan kecenderungan pendangkalan. Sebaliknya, sebagian besar model CMIP6 menyimulasikan kedalaman termoklin yang lebih dalam dan menunjukkan tren pendalaman, terutama pada skenario SSP5. Perubahan skenario emisi lebih mempengaruhi nilai kedalaman dan bias termoklin, sedangkan pola penyebaran spasialnya relatif tidak banyak berubah. Di antara seluruh model yang dianalisis, TaiESM1 menunjukkan kinerja yang paling konsisten dalam merepresentasikan variabilitas kedalaman termoklin pada kedua skenario, dengan tingkat ke
STUDI BARRIER LAYER DI LAUT BANDA DAN HUBUNGANNYA DENGAN EL NIÑO-SOUTHERN OSCILLATION (ENSO)
Barrier Layer Thickness (BLT) merupakan lapisan yang berperan penting dalam mengontrol pertukaran panas vertikal di laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi dan mekanisme pembentukan BLT, Isothermal Layer Depth (ILD), dan Mixed Layer Depth (MLD) selama kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) di Laut Banda menggunakan data Bluelink Reanalysis (BRAN) periode 1993- 2023 dengan kejadian ENSO ditentukan berdasarkan Ocean Niño Index (ONI). Hasil analisis menunjukkan bahwa BLT terbentuk sepanjang tahun dengan ketebalan maksimum pada musim timur dan minimum pada musim transisi kedua. Variasi BLT terutama dikontrol oleh perbedaan kedalaman ILD dan MLD. Selama fase La Niña, BLT cenderung lebih tebal sekitar 5-10 m dibandingkan klimatologi akibat ILD yang lebih dalam dan penguatan stratifikasi upper layer. Sebaliknya, selama fase El Niño, BLT menjadi lebih tipis dengan anomali negatif hingga sekitar -10 m akibat pendangkalan ILD dan melemahnya stratifikasi upper layer. Sementara itu, MLD pada kedua fase ENSO relatif tidak berubah signifikan dengan perbedaan sekitar ±5 m. Hasil ini menunjukkan bahwa variabilitas BLT di Laut Banda terutama dikontrol oleh dinamika termoklin dan stratifikasi upper layer yang dimodulasi oleh ENSO.
ESTIMASI VARIASI NILAI SALINITAS PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT SENTINEL-2 DI PERAIRAN TELUK CIREBON
Salinitas merupakan salah satu parameter fisis oseanografi yang penting. Namun, pengukuran salinitas permukaan laut secara in-situ masih terbatas sehingga pemantauan secara spasial dan kontinu pada wilayah yang luas sulit dilakukan. Oleh karena itu, penginderaan jauh menggunakan citra satelit dapat menjadi alternatif untuk memperoleh informasi salinitas permukaan laut secara lebih luas dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi salinitas permukaan laut serta mengidentifikasi pola variasinya di perairan Teluk Cirebon menggunakan citra satelit Sentinel-2 pada periode 2023–2024.Estimasi salinitas dilakukan secara tidak langsung melalui pendekatan proxy dengan memanfaatkan indeks Colored Dissolved Organic Matter (CDOM), mengingat sensor optik pada Sentinel-2 tidak mampu mendeteksi garam terlarut secara langsung. Pada wilayah pesisir, salinitas umumnya berkorelasi terbalik dengan konsentrasi CDOM sehingga perubahan reflektansi spektral dapat digunakan untuk mengindikasikan variasi salinitas. Proses pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak Sentinel Application Platform (SNAP) dengan menguji beberapa persamaan empiris.Validasi model dilakukan dengan membandingkan hasil estimasi dengan data salinitas in-situ pada musim JJA 2023 menggunakan parameter RMSE (Root Mean Square Error), koefisien korelasi, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan III.3 merupakan model paling optimal dengan nilai RMSE sebesar 0,0983, koefisien determinasi sebesar 0,8484, dan koefisien korelasi sebesar 0,9211.Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya variasi salinitas permukaan laut di Teluk Cirebon selama periode 2023–2024 dengan pola musiman yang relatif konsisten. Nilai salinitas tertinggi terjadi pada musim JJA, diikuti musim SON dan MAM, sedangkan nilai terendah terjadi pada musim DJF. Variasi tersebut dipengaruhi oleh curah hujan yang menunjukkan hubungan terbalik dengan salinitas, di mana salinitas meningkat saat curah hujan menurun dan sebaliknya. Selain itu, dinamika arus permukaan yang berubah secara musiman juga turut memengaruhi distribusi salinitas di Teluk Cirebon.
ANALISIS VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) SELAMA HOLOSEN DI PERAIRAN INDONESIA BERDASARKAN KOMPILASI DATA EKSISTING RASIO MG/CA DAN ?¹?O PADA INTI SEDIMEN LAUT
Perairan Indonesia merupakan wilayah tropis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui sistem Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), sehingga berperan penting dalam pertukaran panas dan massa air dalam sistem iklim global. Variabilitas suhu permukaan laut (SPL) selama Holosen mencerminkan dinamika iklim pascadeglasiasi serta respons oseanografi regional terhadap pengaruh iklim global dan regional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas SPL selama periode Holosen (0–12.000 cal BP) serta membandingkan pola perubahan SPL antara wilayah perairan Indonesia bagian barat dan timur. Data yang digunakan berupa rasio Mg/Ca dan isotop oksigen (?¹?O) dari foraminifera planktonik Globigerinoides ruber yang berasal dari 12 inti sedimen laut di perairan Indonesia dan diperoleh dari basis data Paleoclimatology NOAA. Rasio Mg/Ca digunakan untuk merekonstruksi suhu permukaan laut, sedangkan kombinasi Mg/Ca dan ?¹?O digunakan untuk menghitung isotop oksigen air laut (?¹?Osw). Hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa SPL di perairan Indonesia selama Holosen berada pada kisaran 26,0–30,3 °C dengan tren peningkatan dari Holosen awal hingga Holosen akhir. Rata-rata SPL meningkat dari sekitar 27,7 °C pada Holosen awal menjadi 28,8 °C pada Holosen tengah dan mencapai sekitar 29,2 °C pada Holosen akhir, dengan rata-rata keseluruhan sekitar 28,6 °C. Secara spasial, perairan Indonesia bagian barat menunjukkan variasi SPL yang lebih besar (sekitar 26,0–29,4 °C), sedangkan perairan Indonesia bagian timur menunjukkan variasi yang relatif lebih stabil (sekitar 26,9–29,5 °C). Berdasarkan rata-rata wilayah selama Holosen, suhu di perairan Indonesia bagian barat sekitar 0,6 °C lebih rendah dari rata-rata SPL Indonesia, sedangkan perairan Indonesia bagian timur sekitar 0,1 °C lebih rendah. Nilai ?¹?Osw yang berkisar ?0,18 hingga 0,82‰ menunjukkan bahwa selain suhu, dinamika hidrologi juga mempengaruhi rekaman paleoklimat di perairan Indonesia selama Holosen.