📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

STUDI KETAHANAN KOROSI STAINLESS STEEL 316L DENGAN VARIASI TEMPERATUR DALAM LARUTAN ISOTONIK

Stainless steel 316L banyak digunakan pada aplikasi industri dan biomedis karena memiliki ketahanan korosi yang baik terutama didukung oleh kemampuannya membentuk lapisan pasif yang protektif. Namun, keberadaan ion klorida (Cl-) dan kenaikan temperatur dapat menurunkan stabilitas lapisan pasif dan memicu korosi setempat. Pada pabrik minuman isotonik, digunakan pipa stainless steel 316L dengan lasan untuk mendistribusikan produk pada temperatur ruang hingga 99°C. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi temperatur dan perbedaan komposisi kimia antara formula minuman isotonik terhadap ketahanan korosi stainless steel 316L. Ruang lingkup penelitian difokuskan pada evaluasi perilaku korosi melalui pendekatan uji elektrokimia dan uji perendaman, serta identifikasi perubahan morfologi permukaan sebelum dan sesudah pengujian menggunakan Optical Microscope (OM) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS). Uji elektrokimia meliputi pengukuran Open Circuit Potential (OCP) dan pengujian Potentiodynamic Polarization untuk mengidentifikasi perilaku pasivasi, kecenderungan pitting, serta karakteristik daerah histeresis. Uji perendaman dilakukan dengan variasi temperatur (temperatur ruang dan 99°C) serta variasi formula larutan isotonik (Formula A sebagai kontrol eksisting, serta Formula B dan C sebagai formula baru) untuk menentukan laju korosi berdasarkan metode kehilangan massa. Sebelum pengujian, mikrostruktur sampel diamati dengan OM. Setelah pengujian elektrokimia, permukaan sampel dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS untuk mengamati morfologi permukaan. Hasil uji perendaman menunjukkan bahwa peningkatan temperatur dari ruang ke 99°C meningkatkan laju korosi stainless steel 316L, dengan laju korosi tertinggi dialami oleh sampel dalam larutan yang direndam pada temperatur 99°C, yaitu sebesar 0,1020 mm/tahun. Hasil uji elektrokimia pada temperatur ruang menunjukkan kurva polarisasi dengan kenaikan arus anodik dan terbentuknya positive hysteresis loop yang mengindikasikan terjadinya kerusakan lapisan pasif. Meskipun hasil polarisasi menunjukkan terbentuknya pitting, pengamatan dengan SEM tidak menunjukkan pit yang khas, melainkan serangan yang mengikuti batas butir terutama pada daerah HAZ, sehingga mekanisme yang terjadi diindikasikan sebagai korosi intergranular. Uji elektrokimia pada temperatur 80°C menunjukkan rentang potensial pasif menyempit dan potensial korosi (Ecorr) bergeser ke arah lebih positif disertai peningkatan arus anodik.

2026
👤 Penulis: Angel
🏷️ Korosi 🏷️ Stainless Steel 316L 🏷️ Hidrologi Industri

INTEGRATED HYDRODYNAMIC AND THERMAL MODELING TO ANALYZE THE INFLUENCE OF JETTY STRUCTURES AND POWER PLANT DISCHARGE AT THE JAVA 7 COAL-FIRED POWER PLANT, SERANG, BANTEN, INDONESIA

Wilayah pesisir yang menjadi lokasi infrastruktur pembangkit listrik skala besar dicirikan oleh interaksi kompleks antara dinamika laut alami dan struktur rekayasa. Operasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara di wilayah pesisir menghasilkan pembuangan panas secara kontinu melalui sistem air pendingin, sementara infrastruktur pendukung seperti jetty memberikan batasan fisik terhadap sirkulasi perairan. Kombinasi pengaruh tersebut berpotensi mengubah kondisi hidrodinamika lokal, memengaruhi distribusi suhu dan salinitas, serta memodifikasi proses pencampuran di perairan sekitarnya. Oleh karena itu, analisis yang komprehensif dan terintegrasi terhadap proses-proses tersebut menjadi penting untuk mendukung pengelolaan operasi pembangkit listrik pesisir yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. PLTU Java 7 yang berlokasi di perairan pesisir Serang, Banten, Indonesia, memiliki peran strategis dalam memasok energi listrik untuk Pulau Jawa. Pembangkit ini menggunakan air laut sebagai media pendingin yang kemudian dibuang kembali ke lingkungan laut dengan suhu yang lebih tinggi. Selain itu, struktur jetty dibangun untuk mendukung kegiatan transportasi bahan bakar dan operasional pembangkit. Meskipun infrastruktur tersebut sangat penting bagi operasional pembangkit, keberadaannya dapat memengaruhi pola arus serta penyebaran plume suhu dan salinitas yang dihasilkan dari pembuangan air pendingin. Pemahaman terhadap interaksi ini sangat krusial dalam mengevaluasi potensi dampak lingkungan dan sosial di wilayah pesisir sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh struktur jetty dan pembuangan air pendingin terhadap karakteristik hidrodinamika, suhu, dan salinitas di perairan pesisir sekitar PLTU Java 7 menggunakan pendekatan pemodelan numerik terintegrasi. Pemodelan hidrodinamika dua dimensi dilakukan menggunakan MIKE 21 untuk mensimulasikan elevasi muka air, tinggi gelombang signifikan, serta kecepatan arus horizontal rata-rata kedalaman. Model dikembangkan, dikalibrasi, dan diverifikasi menggunakan data observasi yang tersedia untuk memastikan bahwa hasil simulasi merepresentasikan kondisi hidrodinamika wilayah studi secara realistis. Untuk menangkap proses hidrodinamika multiskala secara memadai, diterapkan pendekatan pemodelan bersarang (nested modeling). Model skala regional terlebih dahulu dibangun untuk merepresentasikan dinamika pasang surut, gelombang, dan arus dalam skala besar. Hasil dari model regional ini kemudian digunakan sebagai kondisi batas bagi model lokal dengan resolusi lebih tinggi yang berfokus pada area sekitar pembangkit dan struktur jetty. Pendekatan ini memungkinkan transfer gaya hidrodinamika regional ke dalam domain lokal secara konsisten, di mana pengaruh struktur dan proses pembuangan panas menjadi lebih dominan. Berdasarkan hasil pemodelan hidrodinamika dua dimensi bersarang, model tiga dimensi dikembangkan menggunakan MIKE 3 untuk mensimulasikan distribusi suhu dan salinitas akibat pembuangan air pendingin. Kerangka pemodelan tiga dimensi ini dirancang untuk merepresentasikan stratifikasi vertikal, proses pencampuran, serta perilaku plume dalam kolom air. Kalibrasi dan verifikasi model suhu dan salinitas dilakukan menggunakan data observasi yang tersedia guna mengevaluasi keandalan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur jetty secara signifikan memengaruhi kondisi hidrodinamika lokal dengan mengubah arah dan kecepatan arus di sekitar area pembangkit. Perubahan hidrodinamika ini berdampak pada jalur dispersi serta sebaran spasial plume suhu dan salinitas. Simulasi tiga dimensi menunjukkan bahwa pembuangan panas dapat menyebabkan stratifikasi lokal pada kondisi tertentu, sementara gaya hidrodinamika dan pengaruh struktur mendorong proses pencampuran serta pemisahan plume di area lain. Interaksi antara hidrodinamika, pembuangan panas, variasi salinitas, dan struktur jetty memiliki peran penting dalam mengendalikan perilaku plume termal, yang berimplikasi pada pengelolaan sistem pendingin dan mitigasi dampak lingkungan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemodelan terintegrasi menggunakan MIKE 21 dan MIKE 3 merupakan kerangka yang andal untuk menganalisis proses hidrodinamika dan termal yang saling berinteraksi di lingkungan pembangkit listrik pesisir. Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung kajian dampak lingkungan dan sosial, pengelolaan wilayah pesisir, serta operasi pembangkit listrik yang berkelanjutan, dan dapat menjadi referensi bagi studi serupa di wilayah pesisir lainnya.

2026
👤 Penulis: Aurelya Betha Sonia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

BERADAPTASI DENGAN PERUBAHAN: PERAN PRAKTIK PEMASARAN INTERAKTIF DALAM EVOLUSI INDUSTRI PENERBITAN BUKU

Penelitian ini mengkaji salah satu tantangan utama yang dihadapi industri penerbitan buku di Indonesia, yaitu bagaimana beradaptasi dengan disrupsi digital dan perubahan perilaku konsumen di tengah penurunan penjualan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola yang berulang dalam perilaku pembaca. Meskipun banyak pembaca masih menyatakan preferensi terhadap buku fisik, preferensi tersebut tidak selalu tercermin dalam keputusan pembelian, sehingga terlihat adanya kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa yang benar-benar dibeli. Untuk memahami kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan mixedmethod dengan mengombinasikan survei kuantitatif terhadap 1.000 responden dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan praktisi industri terpilih, yaitu Gramedia, Mizan, Transmedia Pustaka, Unpad Press, Indscript, dan Bitread Publishing. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa permasalahan utama tidak terletak pada format buku itu sendiri, melainkan pada bagaimana buku diposisikan, diperkenalkan, dan dihadirkan dalam konteks keseharian pembaca. Dengan mengacu pada perspektif network society dari Castells, pendekatan adaptive marketing dari McKinsey, serta kerangka STP dan interactive marketing, penelitian ini menunjukkan pendekatan segmentasi demografis konvensional saja tidak lagi memadai. Sebaliknya, strategi yang lebih adaptif seperti persona, komunikasi dua arah, dan pembangunan komunitas tampak berperan dalam memperkuat nilai yang dirasakan oleh pembaca. Selain itu, praktik co-creation dan keterlibatan aktif penulis juga berpotensi mendorong keterikatan pembaca yang lebih mendalam. Penelitian ini tidak bermaksud menawarkan solusi yang bersifat final, melainkan mengusulkan sebuah kerangka strategis yang membantu menjelaskan bagaimana penerbit dapat merespons perubahan perilaku pembaca. Temuan ini memberikan implikasi praktis yang dapat ditransfer ke berbagai jenis penerbit, baik penerbit komersial besar maupun penerbit independen dan akademik, sekaligus berkontribusi pada diskusi mengenai adaptasi industri penerbitan dalam menghadapi transformasi digital.

2026
👤 Penulis: Anita Hairunnisa
🏷️ Pemasaran Interaktif 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KUALITAS TATA KELOLA INSTITUSIONAL DAN TRANSPARANSI PAJAK PERUSAHAAN: PERAN MODERASI TATA KELOLA PERUSAHAAN, BUKTI DARI PERUSAHAAN MULTINASIONAL UNI EROPA VS AS

Transparansi pajak perusahaan semakin menjadi aspek penting dalam pelaporan korporasi. Namun demikian, secara empiris masih belum dapat dipastikan apakah institusi negara asal yang lebih kuat mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi perpajakan secara lebih luas. Skripsi ini menganalisis apakah rule of law dan control of corruption berhubungan dengan transparansi pajak perusahaan, serta apakah kualitas tata kelola perusahaan memperkuat hubungan tersebut, dengan menggunakan sampel perusahaan multinasional terbuka di Uni Eropa dan Amerika Serikat selama periode 2019–2023 dan model panel fixed effects. Hasil penelitian tidak mendukung efek positif yang diprediksi. Rule of law tidak signifikan secara statistik untuk perusahaan AS, tetapi bernilai negatif dan signifikan untuk perusahaan UE, sedangkan control of corruption tidak signifikan secara statistik di kedua kawasan. Efek moderasi juga secara umum tidak signifikan, dengan ditemukan bukti lemah mengenai interaksi negatif rule of law pada perusahaan UE. Studi ini berkontribusi dengan menunjukkan, dalam desain komparatif UE–AS, bahwa kualitas institusional yang lebih kuat tidak selalu menghasilkan transparansi pajak yang lebih tinggi dalam analisis intra-perusahaan.

2026
👤 Penulis: Ammara Hanna Lutfiya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EKSTRAKSI LOGAM BESI DARI TERAK PELEBURAN TEMBAGA MENGGUNAKAN HYDROGEN PLASMA SMELTING REDUCTION (HPSR)

Tembaga merupakan salah satu logam yang paling penting di dunia dan digunakan secara luas. Pirometalurgi adalah rute yang paling banyak digunakan untuk memproduksi tembaga. Proses peleburan pada temperatur tinggi menghasilkan terak yang merupakan produk samping. Produksi 1 ton tembaga murni akan menghasilkan 2 – 3 ton terak peleburan tembaga. Penimbunan terak dalam skala besar dapat menimbulkan masalah lingkungan. Terak peleburan tembaga mengandung logam-logam bernilai ekonomi, salah satunya adalah besi. Pada penelitian ini, ekstraksi besi dari terak peleburan tembaga dipelajari menggunakan peleburan reduksi plasma hidrogen (hydrogen plasma smelting reduction/HPSR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi durasi peleburan reduksi hidrogen terhadap produk hasil reduksi dan persen ekstraksi Fe dan Cu dalam logam. Serangkaian percobaan yang terdiri dari preparasi dan karakterisasi awal terak peleburan tembaga, proses reduksi dengan HPSR, dan karakterisasi produk hasil reduksi. Terak peleburan tembaga dari PT Smelting Gresik dilakukan karakterisasi awal dengan menggunakan XRD dan XRF. Percobaan reduksi dilakukan menggunakan reaktor HPSR dengan variasi durasi reduksi 30, 60, 120, 240, 360, 480, dan 600 detik, serta menggunakan 1 gram sampel dengan total laju alir gas campuran Ar-80% H2 sebesar 5 liter/menit. Produk hasil reduksi ditimbang kembali untuk mengetahui kehilangan berat akibat proses reduksi. Produk hasil reduksi kemudian dipreparasi dan dilakukan karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope_Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui komposisi kimia dan distribusi unsur pada logam dan terak yang terbentuk. Data ini digunakan untuk mengestimasikan persen ekstraksi Fe dan Cu dalam logam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya durasi reduksi berpengaruh pada peningkatan kehilangan berat sampel dari 14,86% hingga 66,38%. Kadar Fe dalam logam selalu berada di atas 94% pada seluruh variasi durasi reduksi dengan kadar tertinggi sebesar 97,83% pada durasi reduksi 360 detik. Meskipun kadar Cu di logam mengalami penurunan, perubahannya tidak terlalu signifikan dan relatif berada pada rentang 1,21–1,33% pada durasi reduksi 360, 480, dan 600 detik. Persen ekstraksi Fe mulai melampaui 99% pada durasi reduksi 480 detik dan mencapai nilai tertinggi sebesar 99,43% pada durasi reduksi 600 detik. Sementara itu, persen ekstraksi Cu relatif stabil pada hampir seluruh durasi reduksi, dengan penurunan pada durasi reduksi 60 dan 480 detik. Selain itu, kadar FeO dalam terak menurun dari 36,89% pada durasi reduksi 30 detik hingga mencapai 0,38% pada durasi reduksi 600 detik. Kadar CuO dalam terak cenderung stabil di bawah 0,2%. Maka dari itu, HPSR berpotensi menjadi alternatif teknologi yang ramah lingkungan dalam memproduksi logam besi dari terak peleburan tembaga.

2026
👤 Penulis: Lintang Benowati
🏷️ Hydrogen Plasma Smelting Reduction (Hpsr) 🏷️ Ekstraksi Logam 🏷️ Kecerdasan Buatan

INTEGRITY ANALYSIS OF SUBSEA PIPELINES WITH CRACKS USING THE EXTENDED ELEMENT METHOD (XFEM)

Subsea pipelines are vulnerable to cracks and geometric imperfections like ovality. Standard Fitness-for-Service (FFS) assessments, specifically API 579-1, assume perfectly cylindrical geometries, risking dangerous underestimations of the Stress Intensity Factor . This study evaluates ovality's impact on fracture mechanics and develops a novel correction factor. Through 3D Extended Finite Element Method (XFEM) simulations, a parametric study varied D/t ratios (15-45), ovality (0 - 4%), relative crack depths, and aspect ratios under internal pressure. The baseline model achieved excellent validation against API 579-1 (3.09% deviation). Results reveal ovality significantly amplifies , particularly in thin-walled pipes (D/t = 45) due to secondary bending moments. Thick-walled pipes (D/t = 15) proved generally less sensitive, although specific shallow and elongated flaws exhibited anomalous stress behaviors requiring further numerical validation. Consequently, a new Ovality Correction Factor was systematically formulated by isolating the ovality effectvia multi-variable non-linear regression (2= 0.680), providing a more realisticstructural integrity assessment tool.

2026
👤 Penulis: Wiwin Aprianti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Fraktur 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Pipa Subsah

ANALISIS KETIDAKPASTIAN KADAR DAN MODEL GEOLOGI MENGGUNAKAN TEKNIK SIMULASI KONDISIONAL PADA ESTIMASI SUMBERDAYA NIKEL DI LOKASI X

Penambangan memerlukan tingkat keyakinan yang tinggi sehingga dibutuhkan metode estimasi yang akurat. Tingkat kesalahan atau penyimpangan dari data reconciliation terhadap data estimasi sering terjadi sehingga mempengaruhi kinerja proses maupun pemanfaatan tambang itu sendiri. Sementara estimasi sumberdaya adalah fondasi keputusan tambang namun sering mengalami deviasi. Estimasi yang dianggap terbaik saat ini yaitu metode Ordinary Kriging (OK) mengalami efek smoothing dan underestimated ketidakpastian, sedangkan ketidakpastian domain geologi sering diabaikan padahal berdampak signifikan pada tonase dan kadar. Penelitian ini mengembangkan Internal Confidence Framework (ICF) berbasis simulasi kondisional untuk mengintegrasikan ketidakpastian kadar dan domain guna klasifikasi sumberdaya berbasis risiko. Metode meliputi Sequential Gaussian Simulation (SGS) dengan metrik Relative Uncertainty 90 (RU90), Sequential Indicator Simulation (SIS) untuk domain, serta integrasi melalui prinsip weakest link. Hasil menunjukkan ICF konsisten antar domain yang berbeda pada Relative Kriging Standard Daeviation (RKSD) yang inkonsisten. Data yang berisi analisa kimia nikel laterit dan juga spasialnya menghasilkan hubungan spasi data dengan ketidakpastian terkonfirmasi negatif kuat, dengan peningkatan spasi 25 menjadi 100 m meningkatkan RU90 59% pada limonit (0,22 menjadi 0,35) dan 78% pada saprolit (0,41 menjadi 0,73). OK menghasilkan smoothing kuat dengan penurunan varians 61% pada nikel saprolit, sementara simulasi mempertahankan varians data dan mengungkapkan ketidakpastian domain sebagai weakest link. Penelitian menegaskan keunggulan ICF dalam merefleksikan realitas geologi melalui multiple realization. Implikasi praktisnya, ICF memungkinkan risk-based mine planning, optimasi infill drilling, serta pelaporan sumberdaya sesuai standar di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Muhammad Sabdar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Geologi 🏷️ Estimasi Sumberdaya Mineral

PENGARUH PARAMETER PENGABUAN TERHADAP KUANTIFIKASI LOGAM TANAH JARANG PADA BATU BARA BANJARMASIN

Logam tanah jarang (LTJ) merupakan kelompok unsur strategis yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi teknologi modern, seperti magnet permanen, baterai kendaraan listrik, dan perangkat elektronik berperforma tinggi. Peningkatan kebutuhan global terhadap LTJ tidak diimbangi dengan keberagaman sumber pasokan, sehingga menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan rantai pasok. Kondisi ini mendorong pencarian sumber alternatif di luar endapan primer konvensional. Batu bara dan produk sampingannya berpotensi menjadi sumber sekunder LTJ, terutama pada batu bara yang terbentuk dalam kondisi geologi tertentu. Kajian mengenai asosiasi LTJ pada batu bara Indonesia masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi batu bara Indonesia sebagai sumber sekunder LTJ serta mempelajari pengaruh proses pengabuan terhadap perilaku logam tanah jarang. Penelitian ini menggunakan sampel batu bara sub-bituminus dari lapisan Eocene dan Miocene serta batuan pengapit Roof dan Floor yang berasal dari Kalimantan Selatan. Seleksi sampel dilakukan melalui analisis proksimat, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), Electron Probe Microanalysis (EPMA), dan Inductively Coupled Plasma (ICP) untuk menentukan tipe batu bara dengan potensi LTJ paling signifikan. Sampel terpilih kemudian diuji melalui percobaan pengabuan dengan variasi temperatur pembakaran, waktu pembakaran, dan ukuran partikel yang dirancang menggunakan Metode Taguchi L9. Abu hasil pembakaran dikarakterisasi menggunakan XRD, Scanning Electron Microscope (SEM), dan ICP, kemudian dianalisis secara statistik menggunakan rasio signal-to-noise (S/N) dan analisis varians (ANOVA) untuk menentukan parameter proses yang paling berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batu bara sub-bituminus lapisan Eocene memiliki potensi paling unggul sebagai sumber sekunder logam tanah jarang (LTJ). Abu sampel ini memiliki konsentrasi total LTJ tertinggi sebesar 275,6 ppm, didukung oleh proporsi LTJ kritis sebesar 40,6% dan nilai Outlook Coefficient 1,55 yang masuk dalam kategori menjanjikan (promising). Secara geokimia, LTJ pada batu bara Eocene berasosiasi kuat dengan fasa anorganik pembawa utama berupa aluminosilikat. Pada tahap pengabuan, terjadi transformasi mineral yang didominasi oleh pembentukan fase amorf aluminosilikat. Berdasarkan analisis Signal-to-Noise (S/N) metode Taguchi, waktu pembakaran merupakan parameter yang paling berpengaruh signifikan terhadap hasil pengukuran LTJ, diikuti oleh temperatur dan ukuran partikel. Respons hasil pengukuran LTJ diprediksi mencapai kondisi paling optimum pada kombinasi temperatur 1000 °C, waktu pembakaran 240 menit, dan ukuran partikel 140 mesh.

2026
👤 Penulis: Fajri Adam
🏷️ Geokimia 🏷️ Pengabuan Batu Bara 🏷️ Logam Tanah Jarang

POTENSI KAMERA DIGITAL KOMERSIAL DALAM PENGAMATAN POLUSI CAHAYA

Peningkatan pemakaian dan jenis lampu membuat pengawasan langit dari po tensi berbahaya polusi cahaya semakin diperlukan. tetapi dengan keterbatasan tenaga dan alat astronom ahli, maka dibutuhkan bantuan masyarakat umum untuk mengawasi dan meminimalisir. Sehingga dibuatlah metode baru meng gunakan kamera komersial DSLR yang dapat digunakan oleh semua orang, baik astronom ahli atau masyarakat umum. Metode baru ini dapat mende teksi perubahan pada kondisi polusi cahaya yang semakin kompleks, dari segi penyebaran, warna, dan intensitas. Penggunaan metode kamera komersial memerlukan prosedur yang dapat diikuti bahkan oleh pengguna baru, tanpa menggangu aksesibilitas dan efisiensinya. berbagai penelitian telah dilakukan dalam memaksimalkan potensi kamera DSLR, seperti kemudahan penggunaan di segala lokasi dan mendeteksi perubahan warna dan kecerlangan.

2026
👤 Penulis: Manalu, Firdaus Orvin Dwifauja
🏷️ Kamera Digital Komersial 🏷️ Pengawasan Polusi Cahaya 🏷️ Analisis Data Astronomi

DAMPAK INKLUSI KEUANGAN TERHADAP PENGELUARAN MAKANAN: ANALISIS KEPEMILIKAN REKENING BANK DAN KEPEMILIKAN DOMPET DIGITAL DI KOTA JAKARTA

Studi ini meneliti hubungan antara inklusi keuangan dan ketahanan pangan rumah tangga di perkotaan Jakarta, Indonesia, dengan menggunakan pengeluaran pangan bulanan sebagai proksi untuk ketahanan pangan. Dengan menggunakan data lintas sektoral dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2024 yang mencakup 12.600 rumah tangga, studi ini menggunakan regresi Ordinary Least Squares (OLS) yang kuat untuk menganalisis pengaruh kepemilikan rekening bank dan penggunaan dompet digital terhadap pengeluaran pangan. Model-model tersebut mengontrol pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, ukuran rumah tangga, dan perbedaan regional, serta lebih lanjut memasukkan istilah interaksi untuk menilai peran moderasi pendapatan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan rekening bank dan penggunaan dompet digital sama-sama berhubungan positif dengan pengeluaran pangan yang lebih tinggi, dengan pendapatan rumah tangga sebagai penentu terkuat ketahanan pangan. Model interaksi mengungkapkan bahwa manfaat inklusi keuangan secara signifikan meningkat bagi rumah tangga berpenghasilan tinggi, sementara pendidikan tidak memainkan peran moderasi yang berarti. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan keuangan digital dapat mendukung ketahanan pangan perkotaan, terutama jika dikombinasikan dengan pendapatan rumah tangga yang memadai. Studi ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan inisiatif inklusi keuangan dengan kebijakan peningkatan pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga dan ketahanan pangan di perkotaan Indonesia.

2026
👤 Penulis: Ignatius Cieno Nurwin
🏷️ Inklusi Keuangan Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Rumah Tangga 🏷️ Analisis Regresi

POTENSI TITANIUM DAN VANADIUM PADA PASIR BESI DI PESISIR GUNUNG MURIA: PENDEKATAN MINERALOGI DAN GEOKIMIA

Titanium (Ti) dan vanadium (V) merupakan logam kritis yang semakin dibutuhkan dalam berbagai industri strategis, termasuk paduan logam, baterai, dan teknologi energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi kandungan serta karakteristik sebaran Ti dan V dalam endapan pasir besi di wilayah pesisir Gunung Muria, Jawa Tengah, melalui pendekatan mineralogi dan geokimia. Metode penelitian meliputi analisis mineralogi menggunakan grain counting, XRay Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengidentifikasi jenis mineral pembawa Ti dan V serta karakteristik teksturnya. Analisis geokimia dilakukan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan komposisi oksida utama, serta Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry (ICP-MS) untuk mengukur konsentrasi unsur Ti dan V secara kuantitatif. Selain itu, analisis ukuran butir dilakukan untuk mengetahui pengaruh fraksi sedimen terhadap distribusi unsur target. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ti dan V terutama berasosiasi dengan mineral magnetite yang berkembang pada fraksi pasir halus hingga sedang. Kandungan TiO? dan V?O? menunjukkan variasi spasial yang dipengaruhi oleh proses sedimentasi, sumber material, serta dinamika lingkungan pesisir. Integrasi data mineralogi dan geokimia terbukti efektif dalam mengidentifikasi potensi pengayaan Ti dan V, sehingga dapat menjadi dasar ilmiah bagi evaluasi sumber daya dan pengembangan eksplorasi pasir besi di wilayah pesisir Gunung Muria.

2026
👤 Penulis: Maria Vianita Golu Pake
🏷️ Mineralogi 🏷️ Geokimia 🏷️ Pasir Besi

PENENTUAN PARAMETER KETIDAKCOCOKAN (MISMATCH) IMF MENGGUNALKAN GALAKSI PELENSA DARI SISTEM LENSA GRAVITASI EYE OF HORUS

Penelitian ini berfokus pada pemodelan sistem lensa gravitasi dengan dua sumber latar belakang yang dikenal sebagai Double Source Plane (DSP). DSP merupakan sistem yang memungkinkan pengukuran kosmologi yang lebih akurat, dengan memberikan informasi dari dua sumber latar belakang yang memiliki redshift berbeda. Sistem yang dipilih untuk studi ini adalah Eye of Horus (EoH), sebuah sistem lensa gravitasi kuat yang ditemukan pertama kali pada survei Hyper Suprime-Cam Subaru Strategic Program. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji distribusi massa galaksi pelensa menggunakan data fotometri dan spektroskopi, serta menganalisis struktur keseluruhan dari EoH dengan menggabungkan pemodelan distribusi massa dan analisis dinamika sistemnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode rekonstruksi lensa parametrik menggunakan perangkat lunak glafic, yang menggabungkan data fotometri dari Hubble Space Telescope dan data spektroskopi dari Sloan Data Sky Survey (SDSS). Pemodelan ini melibatkan komponen-komponen massa galaksi dengan profil Hernquist, NFW, dan model sumber dengan profil S´ersic. Penelitian ini juga mempersiapkan analisis lebih lanjut untuk memahami kontribusi materi gelap melalui studi dinamis menggunakan data spektroskopi yang tersedia. Hasil pemodelan menunjukkan dominasi materi gelap pada total massa galaksi lensa. Validasi dilakukan melalui analisis spektroskopi menggunakan pPXF, yang menghasilkan dispersi kecepatan bintang sebesar 336,49 ± 41,67 km/s. Massa dinamis galaksi yang dihitung dibandingkan dengan massa bintang dari pemodelan lensa, menghasilkan parameter mismatch ?IMF = 2,09±0,52, mendekati Initial Mass Function (IMF) Salpeter. Temuan ini mengindikasikan bahwa EoH memiliki populasi bintang bermassa rendah yang lebih banyak dibandingkan prediksi IMF Chabrier, selaras dengan kecenderungan pada galaksi masif di redshift menengah.

2026
👤 Penulis: I Gde Daffananda Hidayatullah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Model Lensa Gravitasi 🏷️ Analisis Dinamika Sistem Galaksi

PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DI AREA PELABUHAN

Patimban menghadapi peningkatan permintaan daya listrik akibat besarnya skala aktivitas operasional, dengan kebutuhan listrik tahunan yang diproyeksikan mencapai 38,86 GWh pada tahap pengembangan akhir. Walaupun pemerintah Indonesia berkomitmen pada konsep "Green Port", yang mana memprioritaskan energi berkelanjutan untuk mengurangi emisi, pasokan listrik saat ini masih sangat bergantung pada sumber bahan bakar fosil. Situasi ini menciptakan konflik manajemen energi bagi kegiatan operasional Pelabuhan Patimban. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, studi ini mengusulkan pembangkit listrik tenaga surya terapung (Floating Photovoltaic/FPV) berkapasitas 78,6 MWp. Tata letak yang diusulkan terdiri dari 20 pulau terapung yang dikategorikan ke dalam tiga tipe berbeda: enam pulau masing-masing berkapasitas 3,09 MWp, tujuh pulau berkapasitas 3,64 MWp, dan tujuh pulau berkapasitas 4,93 MWp. Penempatan pulau-pulau ini secara khusus mempertimbangkan alur navigasi maintenance boat untuk memastikan akses operasional yang efisien. Kelayakan desain ini dievaluasi menggunakan simulasi numerik, di mana setiap pulau PV terapung dimodelkan sebagai rigid body yang dirangkai dari beberapa jenis modul floater yang tersedia. Pertama, karakteristik hidrodinamika struktur dimodelkan menggunakan OrcaWave, sebuah perangkat lunak berbasis boundary element method (BEM). Setiap pulau kemudian dikenakan beban lingkungan yang berasal dari angin, arus, serta gelombang air laut, baik first-order maupun second-order wave. Gaya ini dihitung secara analitis dan diaplikasikan sebagai beban titik (point load) selama simulasi dinamis di OrcaFlex. Sistem penambatan (station-keeping) menggunakan material polyester berdiameter 18 mm untuk mengamankan struktur. Analisis difokuskan pada faktor-faktor kritis seperti offset pulau dan tegangan tali tambat (mooring tension) untuk memastikan struktur tetap stabil dan mematuhi standar yang relevan. Terakhir, gaya reaksi yang dihasilkan pada dasar laut akibat mooring dianalisis untuk merancang angkur pemberat (deadweight anchors) dengan mempertimbangkan kriteria spesifik untuk stabilitas vertikal, lateral, guling (overturning), dan daya dukung tanah (bearing capacity).

2026
👤 Penulis: Rafi Valencio Rahman
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERUBAHAN DENSITAS RESERVOIR MENGGUNAKAN INVERSI MICROGRAVITY TIME-LAPSE DI LAPANGAN KAMOJANG

Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan densitas bawah permukaan akibat dinamika fluida reservoir dengan membandingkan anomali gravitasi periode Juni– November 2006 dan Juni 2006–Juli 2007, serta menafsirkan perubahan massa zona reservoir melalui pemodelan inversi 3D data Time-Lapse Microgravity (TLM) di Lapangan Panas Bumi Kamojang. Data gravitasi observasi yang telah dikoreksi, beserta informasi penurunan tanah (subsidence) dan perubahan muka air tanah, diolah menjadi Anomali Bouguer Lengkap (CBA), kemudian dianalisis menggunakan Radial Average Power Spectrum (RAPS) untuk mengestimasi kedalaman tren regional dan residual sekitar 1.350 m dan 568 m, yang selanjutnya dipisahkan dengan filter Moving Average jendela 35×35. Selisih anomali antarperiode digunakan sebagai TLM dan dimodelkan dengan inversi 3D berbasis blok menggunakan pendekatan Occam-D pada perangkat lunak Grablox–Bloxer, dengan F-option (FOPT) = 1 sebagai konfigurasi optimum. Peta TLM memperlihatkan dominasi anomali negatif pada kedua interval (sekitar 0,05 hingga ?0,16 mGal dan 0,081 hingga ?0,16 mGal), yang merepresentasikan defisit massa akibat produksi, sedangkan anomali positif yang bersifat lokal dan lebih jelas pada interval 12 bulan ditafsirkan sebagai indikasi penambahan massa terkait injeksi atau recharge. Hasil inversi menunjukkan dominasi perubahan densitas negatif dengan rata-rata penurunan densitas sekitar ?0,028 gr/cm³ dan ?0,024 gr/cm³, namun tetap muncul zona densitas positif lokal yang terlokalisasi sepanjang struktur utama berarah NE–SW dan NW–SE, mencerminkan respons reservoir terhadap kombinasi aktivitas produksi dan injeksi di Lapangan Panas Bumi Kamojang.

2026
👤 Penulis: Arya Azhara Zaini
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Reservoir 🏷️ Hidrologi Lingkungan

DESAIN KONFIGURASI MOORING UNTUK SISTEM BONGKAR MUAT CURAH CAIR MENGGUNAKAN SINGLE POINT MOORING (SPM) TIPE CALM BUOY

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengevaluasi konfigurasi sistem mooring untuk fasilitas bongkar muat curah cair menggunakan Single Point Mooring (SPM) tipe Catenary Anchor Leg Mooring (CALM) Buoy yang terhubung dengan Floating Storage and Offloading (FSO). Pemodelan dan analisis dinamik dilakukan menggunakan perangkat lunak OrcaWave untuk memperoleh koefisien hidrodinamika kapal dan OrcaFlex untuk simulasi respon dinamik secara keseluruhan. Input pemodelan mencakup variasi pembebanan lingkungan berdasarkan dua kondisi, Design Operating Condition (DOC) dan Design Environmental Condition (DEC). Evaluasi struktur didasarkan pada tinjauan tegangan efektif pada mooring chain dan hawser, minimum bending radius pada underbuoy hose dan floating hose, serta gaya lateral pada jangkar. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi DOC dan DEC, tegangan maksimum pada mooring chain dan hawser masih berda di bawah batas tegangan izin. Bend radius yang terjadi pada sistem hose juga tidak melampaui batas minimum bending radius. Selain itu, berdasarkan gaya lateral maksimum pada titik jangkar, sistem ini direkomendasikan menggunakan jangkar tipe STEVPRIS MK5 dengan berat 8 MT. Secara keseluruhan, konfigurasi mooring yang dirancang telah memenuhi seluruh kriteria desain.

2026
👤 Penulis: Nara Abisha Raodan
🏷️ Kepeloparan Kapal 🏷️ Analisis Dinamik 🏷️ Konstruksi Dan Struktur
Halaman 153 dari 6754
💬