📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPINJAMAN HIJAU, INOVASI TEKNOLOGI, DAN DEKARBONISASI: STUDI PANEL EMPIRIS PADA SEKTOR TRANSPORTASI DI NEGARA ANGGOTA UNI EROPA
Penelitian ini menganalisis pengaruh pinjaman hijau dan inovasi teknologi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor transportasi pada 27 negara anggota Uni Eropa menggunakan data panel selama 13 tahun dan regresi fixed-effects berdimensi tinggi. Pinjaman hijau dari European Investment Bank secara konsisten menunjukkan koefisien negatif dan menjadi signifikan ketika emisi diukur per kapita serta dengan penggunaan struktur lag yang lebih panjang. Sebaliknya, paten hijau terkait transportasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap emisi, dan interaksinya dengan pinjaman hijau juga tidak menunjukkan efek moderasi. Uji ketahanan menggunakan intensitas R&D dan lag yang lebih panjang menunjukkan bahwa kapasitas inovasi nasional yang lebih kuat serta horizon waktu yang lebih panjang berkaitan dengan penurunan emisi. Secara keseluruhan, difusi teknologi yang lambat dan umur aset yang panjang dapat membatasi dampak jangka pendek pinjaman hijau dan inovasi teknologi terhadap pengurangan emisi. Temuan ini menekankan pentingnya horizon waktu yang lebih panjang, indikator inovasi yang berorientasi pada implementasi, serta sistem inovasi nasional yang lebih kuat untuk menangkap efek gabungan dari keuangan hijau dan kemajuan teknologi dalam dekarbonisasi sektor transportasi.
PEMUTAHIRAN PETA BAHAYA GEMPA BERDASARKAN STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) LAPISAN DANGKAL DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH, INDONESIA
Kota Semarang merupakan wilayah perkotaan dengan tingkat kerentanan gempa yang tinggi akibat pengaruh kombinasi sumber gempa sesar kerak dangkal di sekitar kota dan gempa subduksi megathrust di selatan Pulau Jawa, serta kondisi geologi bawah permukaan yang heterogen. Penelitian ini bertujuan untuk memutakhirkan pemodelan bahaya gempa dan respons tapak seismik Kota Semarang melalui pendekatan terintegrasi berbasis karakterisasi kecepatan gelombang geser (Vs) multiskala. Karakterisasi tapak lokal dilakukan dengan mengintegrasikan hasil pengukuran Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) hingga kedalaman 30 m, microtremor array metode Spatial Autocorrelation (SPAC) untuk struktur lapisan dalam hingga engineering bedrock, analisis mikrotremor HVSR untuk periode dominan tanah (Tdom), serta data bor sebagai validasi. Analisis bahaya gempa probabilistik (PSHA) dilakukan pada kondisi engineering bedrock dengan probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun, diikuti analisis deagregasi untuk mengidentifikasi sumber gempa pengendali pada berbagai perioda spektral. Respons dinamik tanah dimodelkan menggunakan analisis perambatan gelombang nonlinier satu dimensi (NERA) dengan masukan akselerogram hasil spectral matching yang konsisten dengan karakteristik seismotektonik wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amplifikasi getaran tanah di Kota Semarang bersifat bergantung perioda dan tidak semata-mata dikontrol oleh keberadaan tanah lunak dengan sedimen tebal. Pada perioda pendek hingga menengah (T ? 0–0,2 s), amplifikasi signifikan dapat terjadi pada tapak dengan nilai VS30 sedang hingga rendah dan kedalaman engineering bedrock relatif dangkal akibat pengaruh gempa sesar kerak dangkal berjarak dekat serta kontras impedansi dan kompleksitas struktur bawah permukaan. Sebaliknya, pada perioda panjang (T ? 1,0 s), amplifikasi lebih dominan berkembang pada zona dengan sedimen tebal dan periode dominan tanah yang panjang akibat mekanisme resonansi dan respons cekungan, terutama ketika dipengaruhi oleh gempa subduksi bermagnitudo besar. Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi bahaya gempa dan mikrozonasi seismik di Kota Semarang perlu mempertimbangkan interaksi antara karakteristik sumber gempa, kandungan perioda gelombang gempa, dan parameter tapak lokal secara terpadu, dan tidak dapat direpresentasikan secara memadai hanya berdasarkan klasifikasi VS30.
PREDIKSI LOG VP/VS MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING DAN KARAKTERISASI RESEVOIR BERBASIS CPEI PADA ZONA OVERPRESSURE, LAPANGAN BEKAPAI, CEKUNGAN KUTAI
Parameter kecepatan gelombang geser (Vs) merupakan komponen elastik yang sangat penting dalam karakterisasi reservoir, karena berperan dalam penentuan sifat mekanik batuan, evaluasi parameter elastik, serta identifikasi kondisi tekanan bawah permukaan. Namun, keterbatasan data log Vs pada beberapa sumur menyebabkan perlunya upaya prediksi untuk memperoleh informasi elastik yang lebih lengkap dan konsisten pada seluruh interval penelitian. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, penelitian ini melakukan estimasi Vs melalui pendekatan prediksi log Vp/Vs menggunakan metode machine learning yang akan ditransformasi menjadi Vs. Selain pemodelan Vs, penelitian ini juga menganalisis atribut inversi CPEI untuk memahami karakter petrofisika reservoir. Atribut CPEI menunjukkan korelasi sebesar 0.74 terhadap saturasi air dengan parameter n = 0.1, m = 0.2, dan chi = –30. Turunan CPEI terhadap parameter AI dan Vp/Vs digunakan untuk mendapatkan trend kompaksi yang memiliki korelasi terhadap parameter petrofisik yaitu porositas dan volume of shale. Hasil menunjukkan bahwa dCPEI/dVp/Vs memiliki korelasi 0.56 terhadap densitas dan dCPEI/dAI memiliki korelasi 0.7 terhadap volume of shale. Parameter-parameter tersebut kemudian diterapkan pada hasil inversi seismik dan terbukti efektif dalam mengidentifikasi zona reservoir hidrokarbon. Zona reservoir tersebut dicirikan oleh nilai CPEI yang rendah, dCPEI/dVp/Vs yang tinggi, kombinasi dCPEI/dVp/Vs–porositas yang tinggi, serta dCPEI/dAI yang rendah.
KO-EVOLUSI KERANGKA INSTITUSIONAL DAN STRATEGI KORPORASI DALAM SEKTOR ENERGI: STUDI KOMPARATIF SIEMENS ENERGY DAN SAUDI ARAMCO (2000–2024)
This thesis examines the co-evolution of national institutional frameworks and corporate strategies in the energy sector through a longitudinal comparative case study of Siemens Energy (Germany) and Saudi Aramco (Saudi Arabia) from 2000 to 2024. Drawing on co-evolutionary and institutional theory and using the Variation–Selection–Retention (VSR) framework to structure the process analysis, the study examines how Germany's Energiewende and Saudi Arabia's Vision 2030 shaped corporate strategic adjustment and how firm actions reinforced institutional priorities. Using secondary sources (policy documents, corporate reports, and industry publications), the findings show that Germany's decentralized, regulation-driven context encouraged Siemens Energy to pursue proactive innovation in renewables, grids, and hydrogen, generating mutual legitimacy between policy and strategy. In contrast, Saudi Arabia's centralized, state-led model guided Aramco toward incremental diversification through carbon management and emerging clean fuels, with feedback occurring mainly through legitimacy and implementation. The thesis contributes a governance-sensitive account of recursive institutional–corporate adaptation in energy transitions.
AKOMODASI BAHASA PEMIMPIN DAN KEPERCAYAAN KARYAWAN: STUDI KOMPARATIF ANTARA TIONGKOK DAN SINGAPURA MELALUI TEORI AKOMODASI KOMUNIKASI
This study examines how leaders’ language accommodation shapes employees’ affective and cognitive trust in multilingual workplaces in China and Singapore. In multinational corporations, leadership effectiveness increasingly depends on communicative competence across linguistic and cultural boundaries. While prior research has extensively examined leadership communication and trust, existing studies are largely Western-centric, quantitative in nature, and often treat language as a neutral transmission tool rather than a relational resource. Moreover, limited research has integrated Communication Accommodation Theory with a multidimensional understanding of trust in Asian organisational contexts.
EVALUASI KINERJA LALU LINTAS SIMPANG BERSINYAL DI PERSIMPANGAN SOEKARNO HATTA - PASIR KOJA
Persimpangan bersinyal Soekarno Hatta – Pasir Koja merupakan salah satu simpang di Kota Bandung yang terindikasi mengalami tundaan tinggi dan antrean memanjang. Mengingat keterbatasan lahan pada area pendekat yang membatasi opsi pelebaran geometrik secara fisik, rekomendasi perbaikan dalam penelitian ini difokuskan pada strategi rekayasa lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja operasional persimpangan pada kondisi eksisting serta memodelkan alternatif optimasi waktu siklus Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) guna mereduksi tundaan rata-rata dan panjang antrean. Metodologi yang digunakan meliputi pemodelan mikrosimulasi menggunakan perangkat lunak PTV VISSIM dan pendekatan analitis makroskopis berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI 2023). Parameter kinerja utama yang dievaluasi mencakup waktu siklus, panjang antrean, tundaan simpang, dan Tingkat Pelayanan (Level of Service / LOS). Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi eksisting terhadap tiga skenario alternatif: Alternatif 1 (Optimasi Komputasi VISSIM Siklus Tetap), Alternatif 2 (Optimasi Komputasi VISSIM Siklus PKJI), dan Alternatif 3 (Optimasi Teoritis PKJI 2023). Hasil evaluasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa simpang beroperasi dengan waktu siklus 270-295 detik, menghasilkan Tingkat Pelayanan (LOS) kategori F dengan tundaan rata-rata terbesar 142,14 detik/kend, serta panjang antrean rata-rata mencapai 192,35 meter pada periode pagi. Melalui penerapan optimasi, pemendekan waktu siklus mengindikasikan perbaikan kinerja lalu lintas yang signifikan. Skenario Alternatif 3 ditetapkan sebagai rekomendasi paling optimal karena mampu mereduksi rata-rata panjang antrean pada periode pagi hingga 78% (menjadi 42,74 meter) dan menurunkan tundaan rata-rata simpang sebesar 82% (menjadi 25,79 detik/smp). Capaian ini meningkatkan Tingkat Pelayanan (LOS) persimpangan dari kategori F menjadi D. Penelitian ini menunjukkan bahwa penyesuaian durasi waktu siklus dan pendistribusian ulang fase hijau secara proporsional efektif dalam meningkatkan kinerja operasional persimpangan tanpa memerlukan perubahan infrastruktur fisik.
PERBANDINGAN PREDIKTIF DEKONVOLUSI DALAM DOMAIN WAKTU (X-T), DOMAIN TAU-P, DAN DESIGANTURE DALAM MENGATENUASI SHORT-PERIOD MULTIPLE PADA DATA SEISMIK LAUT DANGKAL 2D
Multipel periode pendek seringkali jadi masalah dalam data seismik laut yang memiliki waterbottom relatif dangkal. Keberadaan multipel ini menimbulkan ringing berperiode pendek yang memperpanjang wavelet efektif, menurunkan resolusi reflektor primer, serta berpotensi mengganggu interpretasi struktur bawah permukaan. Beberapa metode yang umum digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain prediktif dekonvolusi pada domain waktu (x-t), prediktif dekonvolusi pada domain tau-p (slant stack), serta metode designature. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ketiga metode tersebut dalam menekan multipel periode pendek pada data seismik laut dangkal, sehingga dapat diketahui metode mana yang paling efektif dalam menekan multipel periode pendek. Evaluasi dilakukan berdasarkan analisis autokorelasi, penampang stack, serta spektrum amplitudo dari penampang stack yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan data seismik laut 2D EW0404 lintasan BOL-33 hasil akuisisi kapal R/V Maurice Ewing tahun 2004 yang berada di wilayah Karibia Tenggara-Margin Venezuela. Tahapan pengolahan data meliputi preprocessing data, koreksi amplitudo, serta koreksi normal moveout (NMO) sebelum proses stacking. Selanjutnya dilakukan penerapan metode prediktif dekonvolusi pada domain waktu (x-t) dan domain tau-p, serta metode designature untuk menekan pengaruh multipel periode pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediktif dekonvolusi pada domain waktu (x-t) mampu mengatenuasi multipel periode pendek secara signifikan, akan tetapi masih terlihat residual multiple pada autokorelasi shot gather dan autokorelasi penampang stack. Prediktif dekonvolusi pada domain tau-p memberikan hasil yang paling efektif dalam menekan multipel periode pendek. Sementara itu, metode designature tidak efektif dalam menghilangkan multipel periode pendek. Berdasarkan hasil tersebut, prediktif dekonvolusi pada domain tau-p memberikan hasil paling optimal dalam menekan multipel periode pendek pada data seismik laut dangkal 2D dengan karakteristik serupa.
EVALUASI EFEKTIVITAS DAN EFEK SAMPING TERAPI PASIEN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun sistemik dengan manifestasi klinis heterogen yang memerlukan strategi treat-to-target. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas, dan efek samping berbagai regimen terapi pada pasien SLE di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien SLE periode 2023 - 2025 yang menjalani terapi selama enam bulan. Efektivitas dinilai melalui pencapaian remisi klinis dan lengkap berdasarkan kriteria DORIS, Lupus Low Disease Activity State (LLDAS), kondisi on-target, serta perubahan proteinuria (Urine Protein Creatinine Ratio/UPCR). Hasil menunjukkan dari 280 pasien SLE yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 99 pasien usia <18 tahun dan 181 pasien >18 tahun atau pasien dewasa, dengan 52,5% pasien yang didiagnosa lupus renal dan 47,5% lupus non-renal. Regimen terapi yang digunakan meliputi monoterapi hidroksiklorokuin (HCQ) maupun kombinasi HCQ dengan azatioprin, metotreksat (MTX), mikofenolat mofetil (MMF), siklofosfamid (CYC), dan rituximab (RTX). Berdasarkan regimen terapi, kombinasi MP+HCQ+MMF memberikan perbaikan proteinuria terbanyak (66,7%) pada pasien lupus renal, dengan penurunan protein urin rerata sebesar 65,7%. Pada kelompok SLE nonrenal, kombinasi MP+HCQ+MTX menghasilkan capaian remisi dan LLDAS tertinggi (pada pasien anak sebesar 66,7% dan pada pasien dewasa 53,9%. Kondisi on target tertinggi dicapai pada regimen MP+HCQ+MMF pada pasien dewasa (58,8%) dan pada regimen MP+HCQ+CYC pada anak (85,7%). Sementara capaian target klinis terendah ditemukan pada regimen MP+HCQ+MMF pada pasien lupus non-renal anak (18,2%) dan dewasa (28,6%). Target terapi yang ditandai dengan penurunan skor MEX-SLEDAI dan proteinuria dicapai pada regimen MP+HCQ+MMF. Pada semua regimen terapi, efek samping yang muncul adalah gangguan saluran cerna (GERD). Selain itu, efek samping berupa striae (21,6%) ditemukan pada regimen CYC dan MMF dengan penggunaan pulse metilprednisolon. Selama terapi, ditemukan jenis infeksi terbanyak yaitu ISK (40,8%), Tuberkulosis (25,4%), dan Herpes (15,5%). Penelitian ini mendukung implementasi pendekatan treat-to-target melalui pemilihan terapi individual berdasarkan keterlibatan organ dan profil risiko pasien.
INTEGRASI DATA WGM DAN MEKANISME FOKUS UNTUK IDENTIFIKASI SESAR AKTIF ZONA TEKTONIK TELUK TOMINI
Teluk Tomini merupakan bagian dari sistem tektonik kompleks di Indonesia Timur yang dipengaruhi oleh interaksi blok mikro Sulawesi dan sistem subduksi ganda Laut Maluku. Studi terkini menunjukkan bahwa wilayah ini dikontrol oleh deformasi kerak dangkal dan proses penunjaman slab dalam, namun integrasi antara data gravitasi dan parameter kinematik gempa untuk delineasi struktur aktif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengkarakterisasi struktur sesar aktif di Teluk Tomini melalui integrasi analisis anomali gravitasi dan inversi moment tensor, serta mengestimasi potensi magnitudo maksimum berdasarkan segmentasi sesar. Metode yang digunakan meliputi pemisahan anomali regional dan residual menggunakan analisis spektral radial, ekstraksi lineament melalui Total Horizontal Gradient (THG) dan Fast Sigmoid Edge Detection (FSED), analisis statistik orientasi menggunakan diagram rose, serta interpretasi parameter strike, dip, dan rake dari data inversi moment tensor. Estimasi magnitudo maksimum dilakukan menggunakan persamaan empiris berbasis panjang rupture bawah permukaan (RLD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode gravitasi efektif dalam mengidentifikasi batas struktur dan orientasi sesar pada zona kerak dangkal (Poso, Tinombo, Gorontalo, dan Luwuk), sedangkan pada zona timur (Una-una, Sangihe I, dan Sangihe II) pola residual kurang merepresentasikan struktur akibat dominasi gempa kedalaman menengah hingga dalam. Pada zona tersebut, tren anomali regional lebih konsisten dengan arah strike moment tensor, mengindikasikan kontrol kuat sistem Subduksi Sangihe yang menunjam dari timur ke barat. Estimasi magnitudo maksimum menunjukkan potensi kegempaan berkisar Mw 6,3–7,2. Secara keseluruhan, integrasi data gravitasi dan moment tensor mampu mengidentifikasi struktur aktif secara komprehensif dan mengonfirmasi Teluk Tomini sebagai zona tektonik aktif dan kompleks dengan sumber gempa multipel, baik dari sesar kerak dangkal maupun sistem subduksi regional.
ANALISIS UMUR LAYAN PERKERASAN JALAN DI AREA TANAH EKSPANSIF DENGAN METODE AASHTO 1993 DAN MDP 2024 (STUDI KASUS AKSES JALAN KAWASAN INDUSTRI KABUPATEN SUBANG)
Infrastruktur jalan raya sering kali mengalami degradasi struktural prematur berupa retak lelah (fatigue cracking) dan deformasi vertikal (rutting) jauh sebelum tercapainya usia layan rencana. Fenomena ini tidak hanya dipicu oleh seperti beban gandar berlebih (overloading), volume lalu lintas yang melampaui prediksi, serta sistem drainase yang buruk yang menyebabkan infiltrasi air ke dalam lapis perkerasan. karakteristik tanah dasar ekspansif yang memiliki kembang-susut tinggi, juga dapat mengakibatkan kegagalan jalan sebelum mencapai umur layannya. Untuk memitigasi risiko kerusakan dini tersebut, dilakukan pendekatan perancangan melalui metode Mekanis-Empiris dengan merujuk pada panduan Manual Desain Perkerasan Jalan (MDP) 2024. Guna memvalidasi efektivitasnya, konfigurasi struktur perkerasan yang terpilih kemudian dianalisis perbandingan umur layannya menggunakan dua pendekatan yang berbeda: analisis mekanistik melalui perangkat lunak KENPAVE untuk mengevaluasi respons regangan (strain) dan tegangan (stress) internal, serta metode empiris AASHTO 1993 yang berbasis pada indeks daya dukung dan koefisien relatif bahan.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBER DAYA GAS PADA FORMASI ARANG TENGAH, LAPANGAN HKM, CEKUNGAN NATUNA BARAT
Lapangan HKM yang terletak di Laut Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, merupakan lapangan penghasil hidrokarbon pada Formasi Arang Tengah yang diendapkan pada Miosen Awal hingga Miosen Tengah. Kehadiran hidrokarbon terkonfirmasi melalui data drill stem test (DST) yang menunjukkan adanya aliran gas pada interval FAT-1 dan FAT-2. Pada sumur AR-1, laju alir produksi gas pada interval FAT-1 mencapai 39 MMSCFD pada tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi reservoir berdasarkan hasil analisis stratigrafi dan struktur geologi, menentukan kualitas reservoir berdasarkan hasil analisis petrofisika, serta mengestimasi sumber daya gas pada interval FAT-1 dan FAT-2. Data yang digunakan meliputi laporan dan deskripsi batuan inti, log tali kawat dari lima sumur, data seismik 3D, laporan routine core analysis (RCAL), dan dokumen pendukung lainnya. Analisis fasies menunjukkan bahwa interval FAT-1 terdiri dari sembilan litofasies yang membentuk asosiasi fasies marshes, intertidal flat, distributary mouth bar, dan delta front yang mencerminkan lingkungan tide-dominated delta. Berdasarkan stratigrafi sikuen, interval FAT-1 terendapkan pada highstand system tract, dengan puncak reservoir dibatasi sequence boundary dan dasar reservoir dibatasi oleh flooding surface. Sementara itu, interval FAT-2 terendapkan pada highstand system tract, dengan puncak dan dasar reservoir dibatasi oleh flooding surface. Struktur geologi pada area penelitian adalah antiklin dengan arah barat laut–tenggara. Analisis petrofisika pada lima sumur menunjukkan bahwa interval FAT-1 memiliki ketebalan net pay berkisar 7–100 ft dengan rata-rata 45,07 ft, sedangkan interval FAT-2 berkisar 1–25 ft dengan rata-rata 11,33 ft. Interval FAT-1 memiliki rata-rata net-to-gross 0,40, porositas efektif 0,25, saturasi air 0,27, volume serpih 0,44, dan permeabilitas 1.681,11 mD. Sementara itu, interval FAT-2 memiliki rata-rata netto- gross 0,21, porositas efektif 0,20, saturasi air 0,41, volume serpih 0,43, dan permeabilitas 72,88 mD. Asosiasi fasies distributary mouth bar memiliki properti petrofisika terbaik dibandingkan asosiasi fasies lainnya. Estimasi sumber daya gas dilakukan dengan menetapkan kedalaman lowest known gas (LKG) pada 4.783,0 ft SSTVD untuk interval FAT-1 dan 4.583,7 ft SSTVD untuk interval FAT-2, menghasilkan estimasi sumber daya gas masing-masing 255,3 BCF dan 49,6 BCF.
MINERALOGI DAN GEOKIMIA ENDAPAN PASIR BESI DI KOMPLEKS VULKANIK MURIA: INDIKASI KEBERADAAN RARE EARTH ELEMENTS (REE) DAN POTENSI EKSPLORASI LANJUTAN
Dataran aluvial pada zona pesisir Kompleks Vulkanik Muria, yang membentang dari Kabupaten Jepara hingga Kabupaten Pati, merupakan wilayah yang kaya akan endapan pasir besi. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengkonfirmasi keberadaan Rare Earth Elements (REE) dalam endapan tersebut, meskipun kajian mineralogi dan geokimia secara mendalam masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, sebaran, serta komposisi mineral pembawa REE pada endapan pasir besi guna mengevaluasi potensi ekonominya sebagai sumber logam strategis. Metode penelitian meliputi pengamatan langsung di lapangan terhadap kondisi geologi, arah aliran sungai, serta lingkungan pengendapan sebagai studi awal. Selanjutnya, pengambilan sampel pasir besi dilakukan menggunakan hand auger, serta metode bulk sampling dan channel sampling pada penampang stratigrafi maupun bukaan galian. Sampel yang diperoleh kemudian diamati dan dianalisis menggunakan beberapa metode, yaitu pemisahan menggunakan Magnetic Separator, Grain Counting, serta analisis geokimia yang mencakup XRD, XRF, dan ICP-MS. Mineral pembawa REE adalah mineral klinopiroksen dengan kontribusi minor mineral fosfat (xenotim dan apatit) yang berasal dari Gunung Muria sebagai sumber primer, dengan hasil analisis menunjukkan bahwa ?REE pada fraksi tailing (532,35–687,67 ppm) secara konsisten lebih tinggi dibandingkan fraksi konsentrat (278,5–436,26 ppm) di seluruh titik sampel, yang mengindikasikan bahwa distribusi REE yang lebih terkonsentrasi pada material tailing.
ANALISIS NUMERIK PENGARUH PENGGUNAAN GURNEY FLAP TERHADAP PERFORMA TURBIN WELLS PROFIL NACA 0020 DI OSCILLATING WATER COLUMN (OWC)
Turbin Wells pada sistem Oscillating Water Column (OWC) mampu mengonversi aliran udara bolak balik menjadi daya poros, namun performanya menurun pada koefisien aliran tinggi akibat stall. Penelitian ini mengkaji modifikasi bilah turbin Wells profil NACA 0020 melalui penambahan Gurney flap pada trailing edge dengan variasi flap height (FH) dan flap width (FW) yang disusun menggunakan RSM–CCD untuk memperoleh konfigurasi yang paling efektif. Simulasi dilakukan dengan CFD kondisi tunak pada ANSYS Fluent untuk ???? = 0,1 hingga 0,350 dan dilanjutkan hingga ????= 0,4 untuk mengamati perilaku pasca stall. Kinerja dievaluasi menggunakan koefisien torsi ????????, koefisien input ????????, dan efisiensi ????, dengan tambahan efisiensi rata rata ???????????? dan koefisien torsi rata rata ????????????????. Hasil menunjukkan Gurney flap meningkatkan torsi pada zona pra stall hingga ????= 0,3. Berdasarkan perbandingan efisiensi rata rata ????????????,dipilih tiga konfigurasi yang memberikan peningkatan paling konsisten pada rentang pra stall, yaitu modifikasi 1, 6, dan 8. Kemudian ketiganya ditinjau kembali menggunakan ????????????????untuk memastikan peningkatan torsi rata rata tetap kuat. Nilai ???????????????? baseline 0,1969 meningkat menjadi 0,2445 (Modifikasi 1), 0,2400 (Modifikasi 6), dan 0,2610 (Modifikasi 8), dengan peningkatan terbesar 32,58 persen pada Modifikasi 8. Modifikasi 8 juga menghasilkan efisiensi rata rata sebesar 52,40% mengalami kenaikan 7,9% dibandingkan dengan kondisi baseline. Pada perluasan kondisi pasca stall, performa bilah termodifikasi bertahan lebih lama dibanding baseline sebelum koefisien torsi berubah menjadi negatif pada sekitar ????= 0,4, yang menandakan batas operasi efektif telah terlampaui.
KAJIAN PENGADAAN BERKELANJUTAN SUBKONTRAKTOR DAN SUPPLIER OLEH KONTRAKTOR DI INDONESIA
Inisiasi praktik berkelanjutan di industri konstruksi Indonesia mulai dipertimbangkan pada proyek konstruksi bangunan hijau yang belum didukung oleh peraturan spesifik mengenai praktik berkelanjutan, khususnya pada proses pengadaannya. Pengadaan rantai pasok kontruksi yang terdiri dari subkontraktor dan supplier dapat membantu penerapan keberlanjutan sebagian besar organisasi/perusahaan menjalankan proyeknya melalui rantai pasok. Pada penelitian ini akan dibahas tentang bagaimana praktik pengadaan berkelanjutan di Indonesia yang dilihat dari praktik pengadaan rantai pasok yang dilakukan oleh kontraktor yang pernah melaksanakan proyek bangunan hijau. Ketercapaian praktik pengadaan berkelanjutan oleh kontraktor dalam penelitian ini akan dibandingkan dengan ISO 20400 yang merupakan pedoman fleksibel pengadaan berkelanjutan dan praktik terbaik pengadaan berkelanjutan pada proyek Olimpade London 2012. Penelitian dilakukan dengan analisis data kualitatif dengan pendekatan grounded theory berdasarkan data yang didapat melalu wawancara semistruktur yang dilakukan pada 3 kontraktor BUMN besar di Indonesia. Hasil pengolahan dan analisis menunjukkan masing-masing kontraktor memiliki tingkatan penerapan pengadaan berkelanjutan yang sama di mana unsur berkelanjutan dalam praktik pengadaannya masih dalam tahap inisiasi dan sebagian besar perangkat pengadaan dapat mendukung implementasi pengadaan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan wawasan komprehensif pertama tentang perbandingan praktik pengadaan berkelanjutan rantai pasok oleh kontraktor Indonesia dengan ISO 20400 dan praktik terbaik pengadaan berkelanjutan serta bagaimana hambatan dan upaya perbaikannya. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai praktik pengadaan berkelanjutan yang tepat untuk perusahaan konstruksi yang terlibat dalam proyek bangunan hijau ataupun proyek berkelanjutan di masa mendatang.
PERENCANAAN METODE PELAKASANAAN KONSTRUKSI PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG LABORATORIUM TEKNIK 1B ITB JATINANGOR
Perencanaan metode konstruksi merupakan hal yang penting dalam perancangan proyek konstruksi karena berkaitan langsung dengan penentuan durasi dan biaya konstruksi proyek yang dijelaskan terpisah. Perencanaan dimulai dengan pembuatan Work Breakdown Structure (WBS) dilanjutkan dengan menghitung kuantifikasi volume pekerjaan dan merancang metode konstruksi sesuai gambar dan spesifikasi proyek. Perencanaan metode diawali dengan pekerjaan persiapan yang kemudian dilanjutkan pekerjaan tanah yang terdiri dari pekerjaan galian dan timbunan. Pekerjaan dinding penahan tanah dilakukan setelah pekerjaan galian. Pekerjaan pondasi terdiri dari pekerjaan pondasi tiang pancang dan pile cap yang pekerjaannya dimulai dari utara gedung dan berakhir pada timur gedung. Pekerjaan struktur atas terdiri dari struktur baja dan struktur beton yang menggunakan struktur beton bertulang dengan metode cast in situ. Selain itu direncanakan pula pekerjaan arsitektural dan finishing yang meliputi pekerjaan dinding, pekerjaan lantai, pekerjaan kusen, pekerjaan plafond, dan pekerjaan pengecatan.