📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenLIDAR APPLICATION STUDY TO CALCULATE MINE EXCAVATION VOLUME
Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas dan memiliki potensi besar pada bidang pertambangan. Potensi ini telah dikembangkan dengan menggunakan berbagai jenis teknologi. Saat ini, teknologi yang menggunakan metode optik telah digunakan sebagai cara alternatif untuk pemetaan wilayah tambang yang lebih efektif, jika dibandingkan dengan metode konvensional. Teknologi ini disebut Light Detection and Ranging (LiDAR). Pada tugas akhir ini, teknologi penginderaan jauh akan digunakan untuk menghitung volume dari hasil galian tambang dengan menggunakan dua data point clouds LiDAR di daerah yang sama namun tahun yang berbeda. Point clouds yang belum terklasifikasi akan diklasifikasi menggunakan software Terrasolid menjadi dua kelas, titik-titik tanah dan titik-titik bukan tanah. Digital Terrain Models (DTM) akan didapatkan dari point clouds yang telah terklasifikasi, lalu volume hasil galian tambang akan dihitung menggunakan metode cut-and-fill yang dilakukan setelah menggabungkan kedua DTM. DTM baru yang terbentuk akan menunjukkan perbedaan yang jelas antara dua DTM yang dimiliki sebelumnya. Untuk membatasi perhitungan volume pada area yang lebih spesifik, sebuah poligon yang mendekati bentuk tambang open pit dibuat dan poligon ini akan menjadi sebuah area baru. Dengan menggunakan area yang sama, volume hasil galian tambang akan dihitung ulang untuk membandingkan hasilnya. Pada tugas akhir ini dapat ditarik kesimpulan bahwa volume hasil galian tambang dapat dihitung menggunakan dua data mentah LiDAR pada daerah yang sama namun tahun yang berbeda. Hasil perhitungan volume menunjukkan perbedaan tipis antara hasil yang didapatkan dengan perangkat lunak Global Mapper (volume galian adalah 101931.7 m3), dan Surfer (volume galian adalah 101938.0065982 m3). Tugas akhir ini diharapkan dapat menyediakan ilmu dan bantuan yang berhubungan dengan perhitungan volume hasil galian tambang dengan teknologi penginderaan jauh.
ANALISIS KORELASI FENOMENA PENURUNAN MUKA TANAH DAN BENCANA BANJIR DI CEKUNGAN BANDUNG
Cekungan Bandung adalah suatu wilayah dataran tinggi Bandung yang merupakan sebuah zona depresi antar pegunungan yang cukup luas. Cekungan Bandung memiliki luas sekitar 2.300 km2 dan dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian mencapai lebih dari 2000 m. Berdasarkan pengamatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung dengan pengamatan GPS dari tahun 2000-2012, kecepatan penurunan muka tanah rata-rata dari tahun berkisar 6,3 cm/tahun dan dapat mencapai 19 cm/tahun di beberapa lokasi. Sedangkan total penurunan muka tanah di titik pengamatan sepanjang tahun 2000-2012, dapat mencapai hingga 229 cm. Penurunan muka tanah yang terjadi di Cekungan Bandung diduga disebabkan oleh pengambilan airtanah, pembangunan bangunan dan infrastruktur, konsolidasi dari tanah berjenis alluvial, dan juga penurunan tanah akibat proses geotektonik. Fenomena penurunan muka tanah ini diduga dapat berakibat memperparah kondisi banjir yang seringkali terjadi di beberapa wilayah sekitar Sungai Citarum yang terdapat pada Cekungan Bandung. Tulisan ini membahas tentang keterkaitan fenomena penurunan muka tanah dengan bencana banjir di Cekungan Bandung.
STRATEGI PENURUNAN BACKLOG PERUMAHAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Permasalahan backlog perumahan merupakan isu struktural yang hingga saat ini masih menjadi tantangan utama pembangunan perkotaan di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Kota Bandung. Backlog perumahan tidak hanya mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah rumah dan jumlah keluarga, tetapi juga menggambarkan keterbatasan akses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan berlokasi sesuai dengan kebutuhan aktivitas ekonomi. Berbagai kebijakan perumahan telah dilaksanakan oleh pemerintah, terutama melalui program Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Namun, efektivitas kebijakan tersebut dalam menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan masih dipertanyakan, terutama ketika dihadapkan pada dinamika harga lahan, keterbatasan pasokan rumah, serta kondisi sosial-ekonomi rumah tangga MBR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika backlog perumahan MBR di Kota Bandung serta mengevaluasi efektivitas berbagai skenario kebijakan perumahan melalui pendekatan sistem dinamik. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi mekanisme struktural yang membentuk backlog perumahan MBR; (2) menganalisis pengaruh kebijakan sisi permintaan, sisi penawaran, sosial-ekonomi, serta kebijakan lahan dan lokasi hunian terhadap dinamika backlog; dan (3) merumuskan kombinasi kebijakan yang paling efektif dalam menurunkan backlog perumahan MBR dalam jangka panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan sistem dinamik dengan membangun Causal Loop Diagram (CLD) dan stock and flow diagram (SFD). Model dikembangkan melalui beberapa submodel utama, yaitu submodel populasi dan keluarga MBR, submodel segmentasi MBR dan preferensi hunian, submodel keterjangkauan dan kas keluarga MBR, submodel kas developer dan penyediaan rumah, serta submodel harga dan ketersediaan lahan. Model disimulasikan untuk periode jangka panjang guna menangkap perilaku dinamis sistem perumahan serta dampak tertunda dari kebijakan. Skenario kebijakan yang dianalisis meliputi skenario dasar (Business as Usual/BAU), skenario kebijakan sisi3 permintaan, skenario sosial-ekonomi, skenario sisi penawaran, skenario kebijakan lahan dan lokasi hunian, serta skenario kebijakan gabungan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada skenario BAU, backlog perumahan MBR di Kota Bandung cenderung menurun secara lambat namun tetap bertahan pada tingkat yang tinggi dalam jangka panjang. Skenario kebijakan sisi permintaan dan sosial-ekonomi memberikan dampak positif terhadap penurunan backlog, namun bersifat terbatas dan tidak berkelanjutan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas penyediaan rumah dan pengendalian faktor lahan. Skenario sisi penawaran menunjukkan kemampuan menurunkan backlog dalam jangka menengah, tetapi berpotensi menimbulkan efek balik dalam jangka panjang akibat tekanan harga dan keterbatasan lahan. Sementara itu, skenario kebijakan lahan dan lokasi hunian memberikan dampak paling konsisten dalam menurunkan backlog secara jangka panjang melalui peningkatan akses lahan yang layak dan terjangkau bagi MBR. Skenario kebijakan gabungan menunjukkan hasil paling optimal, dengan penurunan backlog yang signifikan dan relatif stabil hingga akhir periode simulasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model sistem dinamik backlog perumahan MBR yang tidak hanya berfokus pada kepemilikan rumah melalui skema subsidi, tetapi juga memasukkan pilihan hunian alternatif berupa bangun mandiri dan sewa, serta mempertimbangkan aspek lokasi dan biaya transportasi sebagai bagian dari keterjangkauan hunian. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya interaksi lintas kebijakan dan mengungkap bahwa kebijakan perumahan yang berdiri sendiri cenderung menghasilkan dampak yang tidak berkelanjutan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian perumahan perkotaan berbasis sistem dinamik dengan menegaskan bahwa backlog perumahan merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor sosial, ekonomi, kelembagaan, dan spasial. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan perumahan yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang guna menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan.
PEMODELAN DAN VERIFIKASI HIDRODINAMIKA LAUT UNTUK MENDUKUNG METODE DEEP-SEA TAILING PLACEMENT (DSTP) MENGGUNAKAN MIKE ZERO
PT. Sumbawa Timur Mining (STM) secara komprehensif mengeksplorasi cadangan tembaga di Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Metode Deep-Sea Tailing Placement (DSTP) dipertimbangkan karena sebelumnya membuang tailing dari produksi penambangan tembaga dilakukan di darat yang diantisipasi di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan pengendapan tailing STM di bawah skema DSTP menggunakan perangkat lunak pemodelan pesisir dan laut MIKE Zero dan Verifikasi Kondisi Hidrodinamika Laut. Data sekunder sumber terbuka digunakan sebagai input dan validasi untuk simulasi komputer. Langkah penting dalam simulasi komputer yang kredibel dari proses fisik adalah validasi terhadap data independen. Simulasi hidrodinamika lima tahun dilakukan untuk memvalidasi pengaturan numerik simulasi MIKE Zero. Validasi hasil simulasi terhadap ketinggian pasang surut dan ketinggian gelombang sangat baik, menghasilkan rata-rata nilai error 1.94% untuk ketinggian pasang surut dan 5.73% untuk ketinggian gelombang. Verifikasi terhadap arus laut menghasilkan error 17.62%, angka yang wajar. Simulasi DSTP menunjukkan bahwa plume tailing yang dikeluarkan dari outfall tidak mencapai daerah pesisir ataupun permukaan laut, dengan jangkauan vertikal maksimum dibatasi sekitar 150 meter kedalaman air laut. Pola pengendapan simulasi mengikuti bentuk dasar laut setempat. Simulasi tailing komputer mengendapkan sekitar 98.27% dari total massa tailing yang dihasilkan oleh proses penambangan di dasar laut dalam terdekat. Implementasi DSTP di perairan Hu'u dianggap aman bagi lingkungan karena pengendapan tailing terbatas di bawah kedalaman Samudra Hindia yang aman, gumpalan tidak mencemari daerah pesisir dan lautan hulu. Konservasi massal pengendapan tailing masih terbuka untuk eksplorasi numerik.
PENDEKATAN EKONOMI HIJAU BERBASIS NILAI EKONOMI KARBON UNTUK PENGURANGAN KETIMPANGAN WILAYAH DI PROVINSI JAWA BARAT
Ketimpangan pembangunan menjadi isu strategis dalam dinamika pembangunan di Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi belum diikuti pemerataan kesejahteraan, yang tercermin dari tingginya nilai rasio gini. Fenomena ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang terjadi kurang berkualitas. Di sisi lain, wilayah selatan Jawa Barat, meskipun memiliki kinerja ekonomi relatif lebih rendah, justru menyimpan potensi lingkungan yang besar, terutama dalam kapasitas penyimpanan dan penyerapan karbon. Kondisi tersebut membuka peluang penerapan ekonomi hijau melalui internalisasi jasa lingkungan ke dalam sistem ekonomi regional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pola ketimpangan spasial; (2) mengestimasi potensi nilai ekonomi karbon (NEK); dan (3) mengintegrasikan NEK ke dalam kerangka PDRB Hijau. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial dan statistik. Identifikasi ketimpangan spasial menggunakan teknik analisis autokorelasi spasial (Moran’s I dan LISA), estimasi stok karbon dilakukan melalui pendekatan tutupan lahan berbasis citra dengan menggunakan software ArcGIS dan InVEST. Perhitungan nilai ekonomi karbon menggunakan dua skenario harga karbon, yaitu skenario regulatif nasional dan harga pasar karbon domestik. Integrasi nilai ekonomi karbon ke dalam struktur PDRB konvensional menghasilkan estimasi PDRB Hijau sebagai indikator ekonomi yang telah menginternalisasi kontribusi jasa lingkungan karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pembangunan wilayah di Provinsi Jawa Barat membentuk pola spasial yang terstruktur. Berdasarkan hasil pemodelan InVEST Carbon Storage and Sequestration Model, total stok karbon WP Priangan Timur–Pangandaran pada tahun 2024 tercatat sebesar 170.037.431,64 ton C atau setara dengan 624.037.374,12 ton CO?e. selanjutnya konversi stok karbon ke dalam nilai ekonomi pada skenario konservatif menghasilkan estimasi nilai ekonomi karbon (NEK) sebesar Rp. 18,72 triliun, sedangkan pada skenario optimistis menjadi Rp. 34,32 triliun. Integrasi nilai ekonomi karbon ke dalam PDRB Hijau menunjukkan bahwa potensi NEK setara dengan 14,03% dari total PDRB dan meningkat menjadi 25,72% pada skenario optimistis.
PENGAMATAN DEFORMASI SESAR BARIBIS BERDASARKAN DATA GPSEPISODIK DAN KONTINYU
Sesar Baribis adalah salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang memiliki komponen sesar naik selain sesar geser. Struktur sesar tersebut dapat diamati jejak-jejaknya sepanjang kurang lebih 70 km, mulai dari Subang hingga ke daerah perbukitan Baribis, sebelah barat Gunung Ciremai. Sesar Baribis melalui daerah sekitar yang padat penduduk, Sesar Baribis memiliki potensi cukup besar akan terjadinya gempa bumi, sehingga diperlukan pemantauan pergerakan sesar secara berlanjut untuk keperluan mitigasi bencana. Pengamatan pergerakan Sesar Baribis pada penelitian ini menggunakan Metode GPS Episodik dan Kontinyu untuk menganalisis aktivitas deformasinya. Hasil pengolahan data pengamatan tahun 2007, 2009, 2010, dan 2011 diperoleh pola pergerakan titik pengamatan GPS bagian timur berupa pola sesar geser, dan bagian barat berupa pola sesar naik dengan mengindikasikan rata-rata besaran pergeseran Sesar Baribis 5.2 mm/tahun ± 2.2 mm.
ANALISIS PENGARUH FAKTOR INDIVIDU, BEBAN KERJA, DAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KELELAHAN PEKERJA PERUSAHAAN FURNITUR PT X
Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh dari faktor individu, faktor lingkungan fisik, dan beban kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja perusahaan furnitur PT X menggunakan metode cross-sectional dengan melibatkan 25 pekerja PT X. Variabel independen pada penelitian ini berupa faktor individu (usia, status pernikahan, riwayat pendidikan, masa kerja, durasi kerja, durasi tidur, kebiasaan merokok, dan riwayat penyakti), faktor lingkungan fisik (intensitas pencahayaan, kebisingan, kelembaban, debu, serta indeks suhu basah dan bola), dan beban kerja. Kelelahan kerja dinilai menggunakan metode subjective self-rating test (SSRT). Persebaran kelelahan kerja yang terjadi pada 25 pekerja PT X menunjukkan 60% mengalami tingkat kelelahan rendah dan 40% mengalami tingkat kelelahan sedang. Mayoritas pekerja mengalami pelemahan saat berkegiatan dan kelelahan fisik. Uji regresi pada penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara kelelahan kerja dengan durasi tidur (P-value=0,016) dan kebisingan (Pvalue=0,031), sedangkan usia (P-value=0,092), status pernikahan (P-value=0,538), masa kerja (P-value=0,884), durasi kerja (P-value=0,841, kebiasaan merokok (Pvalue=0,077), riwayat penyakit (P-value=0,090), intensitas pencahayaan (Pvalue=0,859), kelembaban (P-value=0,526), debu (P-value=0,798), indeks suhu basah dan bola (P-value=0,918), dan beban kerja (P-value=0,534) tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil uji regresi, dilakukan analisis regresi multivariat pada faktor yang memiliki p-value<0,25 (durasi tidur, kebisingan, usia, kebiasaan merokok, dan riwayat penyakit). Analisis regresi multivariat menunjukkan bahwa kebiasaan merokok menjadi faktor multivariat yang paling dominan dalam memengaruhi kelelahan (P-value=0,014).
PENGEMBANGAN SISTEM KONTROL PREDIKTIF BERBASIS REINFORCEMENT LEARNING UNTUK OPTIMASI KENYAMANAN TERMAL DAN EFISIENSI ENERGI PADA SISTEM HVAC SMART BUILDING
Sistem tata udara atau Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) merupakan penyumbang konsumsi energi terbesar pada bangunan komersial, namun sering kali dioperasikan dengan strategi kontrol konvensional yang tidak efisien. Penelitian ini mengusulkan sistem kontrol prediktif berbasis Reinforcement Learning (RL) menggunakan algoritma Deep Q-Network (DQN) untuk mengoptimalkan keseimbangan antara kenyamanan termal dan efisiensi energi. Lingkungan simulasi virtual dibangun menggunakan pendekatan hibrida berbasis algoritma XGBoost dengan strategi Next-Temperature (NT), yang menghasilkan akurasi prediksi temperatur ruangan cukup tinggi dengan nilai R^2 mencapai 0,9685 dan RMSE 0,3166°C. Berdasarkan evaluasi terhadap 50 ruangan uji dengan karakteristik termal variatif, model DQN terpilih mampu menghasilkan rata-rata penghematan energi global sebesar 49,44% serta peningkatan kenyamanan termal sebesar 31,56% dibandingkan kontrol historis pada asumsi Coefficient of Performance (COP) konstan. Guna memastikan validitas hasil terhadap realitas fisik, dilakukan uji validasi pada salah satu sampel ruang kelas di lantai 3 gedung Labtek XIX ITB menggunakan parameter efisiensi eksergi sistem dengan COP dinamis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa strategi agen tetap menghasilkan penghematan energi riil yang signifikan sebesar 28,13%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan agen dalam mengeksploitasi inersia termal bangunan melalui manipulasi setpoint dinamis tidak hanya unggul secara matematis, namun juga valid secara fisis menurut Hukum Termodinamika II.
ANALISIS SPESIFISITAS SUBSTRAT ENDOGLUKANASE BCELFP
Lignoselulosa merupakan biomassa dinding sel tumbuhan yang tersusun atas tiga polimer utama, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Proses degradasi selulosa menjadi glukosa memerlukan aktivitas enzim selulase, salah satunya adalah endoglukanase yang berperan dalam memutus ikatan ?-1,4-glikosidik. Penelitian ini mengkaji gen pengode endoglukanase termofilik (Bcelfp) yang berasal dari bakteri Fervidobacterium pennivorans. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekspresikan gen bcelfp tersebut ke dalam sistem ekspresi Escherichia coli BL21(DE3) dan menganalisis aktivitas enzim terhadap berbagai jenis substrat, meliputi CMC (carboxymethyl cellulose), wheat (gandum), rye (gandum hitam), sorgum, semolina, dan daun jagung. Tahapan metode yang dilakukan mencakup transformasi plasmid ke dalam pET28a-Bcelfp ke dalam sel E. coli BL21(DE3), produksi endoglukanase BcelFp, pemecahan sel (lisis) dengan sonikator, serta visualisasi protein menggunakan SDS- PAGE (sodium dodecyl sulfate–polyacrylamide gel electrophoresis). Uji konsentrasi protein dilakukan menggunakan metode Bradford, sementara uji aktivitas enzim ditentukan melalui metode DNS (asam 3,5-dinitrosalisilat). Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa gen pengode endoglukanase BcelFp berhasil diekspresikan dengan baik, ditandai dengan munculnya pita protein pada berat molekul sekitar 37,89 kDa. Berdasarkan hasil uji Bradford, diperoleh konsentrasi enzim sebesar 9,121 µg/µL. Pengujian aktivitas menunjukkan bahwa endoglukanase BcelFp aktif menghidrolisis seluruh substrat yang diuji. Aktivitas spesifik tertinggi tercatat pada substrat turunan selulosa (CMC) dengan nilai mencapai 0,950±0,024 U/mg. Pada pengujian menggunakan kelompok substrat alami, aktivitas enzim menunjukkan nilai yang lebih rendah dengan urutan spesifisitas dari yang tertinggi ke terendah adalah gandum hitam, semolina, gandum, sorgum, dan daun jagung.
RESILIENSI PERMUKIMAN INFORMAL TERHADAP PERUBAHAN IKLIM: MODEL ADAPTASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS: KAMPUNG SUSUN AKUARIUM, JAKARTA)
Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi banjir rob, kenaikan muka air laut, serta cuaca ekstrem di kawasan pesisir perkotaan. Di Jakarta Utara, tekanan ekologis tersebut berinteraksi dengan ketimpangan sosial, keterbatasan infrastruktur, dan sejarah marginalisasi ruang, sehingga permukiman informal menjadi kelompok yang paling rentan. Kampung Susun Akuarium merupakan hasil transformasi dari permukiman informal horizontal menjadi hunian vertikal berbasis komunitas pasca penggusuran, yang dirancang melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Transformasi ini menghadirkan konteks unik untuk menganalisis bagaimana resiliensi permukiman tidak hanya dibentuk oleh intervensi fisik, tetapi juga oleh dinamika sosial, kearifan lokal, dan kelembagaan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kerentanan yang dihadapi komunitas Kampung Susun Akuarium, mengidentifikasi strategi adaptasi yang berkembang, serta merumuskan model konseptual resiliensi permukiman informal berbasis kearifan lokal dalam konteks perubahan iklim pesisir perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan semi-terstruktur terhadap warga, tokoh masyarakat, pengelola kampung susun, lembaga pendamping, serta perwakilan pemerintah daerah, disertai observasi partisipatif dan studi dokumentasi kebijakan. Analisis dilakukan melalui tahapan deskriptif untuk memetakan kerentanan fisik dan sosial-ekonomi, analisis tematik untuk mengidentifikasi pola adaptasi dan praktik kolektif, serta analisis interpretatif untuk mengaitkan temuan empiris dengan kerangka teori perubahan iklim, kerentanan sosial-ekonomi, urban resilience, kearifan lokal, dan kelembagaan adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan di Kampung Susun Akuarium tidak semata ditentukan oleh tingkat paparan bahaya fisik, tetapi merupakan hasil interaksi antara ancaman lingkungan, sensitivitas sosial-ekonomi, dan kapasitas adaptifii komunitas. Transformasi menjadi hunian vertikal memang meningkatkan kualitas fisik bangunan dan keamanan bermukim, namun pada saat yang sama memunculkan bentuk kerentanan baru, seperti tekanan ekonomi akibat sistem pengelolaan hunian, perubahan pola penghidupan, serta tantangan adaptasi kelompok rentan terhadap struktur ruang vertikal. Temuan ini memperkuat argumen bahwa kerentanan bersifat multidimensional dan dinamis, tidak berhenti pada aspek spasial-fisik. Strategi adaptasi yang berkembang bersifat kolektif dan terlembagakan secara sosial. Adaptasi fisik seperti pengelolaan drainase internal dan penataan ruang komunal berfungsi sebagai lapisan perlindungan awal, namun resiliensi jangka panjang terutama ditopang oleh infrastruktur sosial. Praktik gotong royong, musyawarah warga, sistem pengelolaan berbasis koperasi, serta koordinasi melalui struktur RT menunjukkan bahwa kearifan lokal berfungsi sebagai mekanisme pengorganisasian risiko. Dalam konteks ini, kearifan lokal tidak dipahami sebagai tradisi statis, melainkan sebagai sistem nilai dan praktik yang terus bertransformasi sesuai dengan perubahan lingkungan dan tata kelola hunian. Secara konseptual, penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi permukiman informal pasca relokasi terbentuk melalui integrasi tiga dimensi utama: (1) peningkatan kualitas fisik hunian sebagai basis reduksi paparan risiko, (2) penguatan pranata sosial sebagai fondasi kapasitas adaptif, dan (3) dukungan kelembagaan yang mengakui partisipasi dan hak bermukim warga. Interaksi ketiga dimensi tersebut membentuk model resiliensi hibrida yang menggabungkan pendekatan bottom-up berbasis komunitas dengan dukungan top-down dari institusi formal. Temuan ini memperluas pemahaman urban resilience dengan menempatkan transformasi sosial pasca relokasi sebagai bagian dari proses adaptasi iklim, bukan sekadar hasil penataan fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Susun Akuarium merepresentasikan bentuk resiliensi kontekstual yang lahir dari negosiasi antara tekanan iklim, rekonstruksi sosial pasca penggusuran, dan inovasi kelembagaan berbasis komunitas. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada penguatan perspektif bahwa resiliensi permukiman informal di kawasan pesisir perkotaan tidak dapat direduksi menjadi intervensi teknis-infrastruktur semata, melainkan harus dipahami sebagai proses transformasi sosial-ekologis yang berakar pada kearifan lokal dan tata kelola partisipatif. Model konseptual yang dihasilkan memberikan landasan analitis bagi pengembangan perencanaan perumahan pesisir yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan, dengan menempatkan komunitas sebagai aktor utama dalam pembangunan resiliensi.
STUDI PARAMETER EVOLUSI PRA-DERET UTAMA HERBIG AE/BE MENGGUNAKAN MESA
Herbig Ae/Be merupakan fase pra-deret utama bintang bermassa menengah dengan rentang massa 2?10M? dan memiliki kaitan erat dengan nebulositas. Pada penelitian ini, dimodelkan pengaruh metalisitas dan variasi laju akresi massa terhadap evolusi bintang Herbig Ae/Be dengan massa awal 3M?, 5M?, dan 7M? menggunakan MESA versi 23.05.1. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa bintang bermetalisitas rendah memiliki laju akresi massa, luminositas, dan temperatur yang lebih tinggi, radius lebih kecil, serta mencapai fase Zero- Age Main Sequence (ZAMS) lebih cepat akibat pendinginan awan yang kurang efisien. Kajian terhadap variasi laju akresi massa dilakukan melalui tiga skenario: (1) massa awal sama dengan laju akresi berbeda, (2) massa berbeda dengan laju akresi sama, dan (3) massa serta laju akresi disesuaikan dengan parameter bintang referensi. Pada skenario pertama, laju akresi massa yang lebih besar menghasilkan massa akhir lebih besar dan waktu menuju ZAMS lebih singkat. Pada skenario kedua, bintang bermassa lebih rendah menunjukkan fluktuasi radius yang diduga terkait proses kontraksi. Pada skenario ketiga, model berdasarkan LkHA 324, V361 Cep, dan V374 Cep menunjukkan jejak evolusi yang konsisten dengan massa masing-masing, meskipun V361 Cep memperlihatkan ketidakpastian yang mengindikasikan kemungkinan kehilangan massa sebelum ZAMS, sementara V374 Cep hanya memiliki kesesuaian dengan jejak evolusi model ketika galat observasi dipertimbangkan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan peran signifikan metalisitas dan laju akresi massa dalam menentukan jalur evolusi bintang Herbig Ae/Be menuju ZAMS.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KAWASAN WISATA PANTAI BATUKARAS, KABUPATEN PANGANDARAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi untuk maju disektor pariwisata. Pada tahun 2020, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi penyumbang devisa nasional terbesar melampaui sektor migas, batubara, dan minyak kelapa sawit. Jumlah penerimaan devisa nasional dipengaruhi peningkatan jumlah wisatawan dan jumlah pengeluaran wisatawan. Peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi akan diiringi peningkatan jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Semenjak tahun 2017, Kementerian Pariwisata RI bekerja sama dengan International Network of Sustainable Tourism Observatories (INSTO) untuk mengembangkan program pariwisata berkelanjutan pada lima daerah di Indonesia, salah satunya Pantai Batukaras. Kawasan wisata Pantai Batukaras dilengkapi satu buah Tempat Penampungan Sementara (TPS) yaitu TPS Legokpari. Permasalahan utama yang terkait pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Batukaras adalah penumpukan sampah di area TPS pada kondisi puncak lonjakan pengunjung. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengolahan sampah untuk meminimalkan residu yang diangkut menuju TPA dan mendukung diperolehnya sertifikasi sustainable tourism yang diakui oleh dunia. Pengolahan sampah dilakukan melalui pembangunan TPS 3R Batukaras yang terdiri dari pemilahan sampah, pengolahan sampah organik open windrow, pengolahan material daur ulang laku jual (kaca, logam, kertas, plastik), dan pengolahan sampah plastik PP dan PE pada reaktor pirolisis. Perancangan pengolahan sampah TPS 3R Batukaras dirancang mampu menangani sampah terpilah dari sumber menjadi tiga jenis yaitu sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah lain-lain dengan debit sampah masuk yang mampu diolah sebesar 4,95 ton/hari dengan komposisi utama sampah organik 61,73% dan sampah plastik 12,38%. Jumlah sampah yang diangkut menuju TPA Purbahayu adalah 31,34% dari jumlah sampah yang masuk dengana adanya TPS 3R Batukaras. Kebutuhan lahan minimal untuk pengelolaan sampah di TPS 3R Batukaras adalah 490,14 m2 .
KETIDAKSELARASAN STRATEGI INDUSTRI ASURANSI JIWA DI INDONESIA DI ERA EKONOMI DIGITAL: EVIDENSI DARI PERSEPSI PUBLIK TERHADAP NIAT PEMBELIAN DAN NIAT MEMPERTAHANKAN POLIS
Industri asuransi jiwa di Indonesia menunjukkan stagnasi dalam beberapa periode terakhir, sementara peningkatan ekonomi digital meningkatkan ekspektasi publik terhadap layanan asuransi jiwa meliputi kecepatan, kesederhanaan, transparansi, dan konsistensi lintas kanal. Hal ini perlu diidentifikasi, terutama dari persepsi publik, karena asuransi jiwa merupakan layanan berbasis kepercayaan yang tidak memberikan manfaat langsung, melainkan setelah risiko menjadi kenyataan. Oleh karenanya, kepercayaan penting dalam kaitannya dengan niat membeli dan retensi Penelitian ini mengkaji stagnasi industri asuransi jiwa melalui Perceived Strategic Misalignment (PSM), yang didefinisikan sebagai persepsi publik atas ketidaksesuaian antara apa yang diberikan industri dalam hal layanan dengan ekspektasi publik. Terdapat empat dimensi persepsi yang dimodelkan sebagai faktor kepercayaan yaitu ketidaksesuaian atas kompleksitas (kesulitan memahami spesifikasi produk), transparansi (ketidakjelasan informasi tentang ketentuan ketentuan polis), keandalan klaim (keraguan tentang proses klaim), dan integrasi layanan (informasi yang tidak konsisten di berbagai saluran). Hipotesisnya PSM yang lebih tinggi menurunkan kepercayaan publik dan kepercayaan yang lebih tinggi meningkatkan niat perilaku publik. Karena membeli polis dan melanjutkan polis merupakan proses yang berbeda, penelitian ini dibagi antara niat pembelian dan niat retensi. Model A menguji niat pembelian untuk non-pemegang polis dan Model B menguji niat retensi untuk pemegang polis. Desain penelitian didasarkan pada survei kualitatif dengan kuesioner online terstruktur. Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan bootstrapping digunakan untuk mengevaluasi hipotesis. Secara keseluruhan, dari penelitian ini, PSM menyiratkan penurunan kepercayaan terlepas dari perbedaan dimensi antara bukan pemegang polis dan pemegang polis, sementara kepercayaan yang lebih tinggi menghasilkan niat pembelian dan retensi yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk mempercepat pertumbuhan di industri ini, kepercayaan perlu dipulihkan dengan meningkatkan pengalaman publik melalui transparansi yang lebih baik, keandalan klaim, integrasi layanan, diikuti dengan produk dan proses yang lebih sederhana.
TRANSFORMASI MANAJEMEN PADA BISNIS KELUARGA DI PERKEBUNAN SAWIT: DARI MANAJEMEN INDEPENDEN MENUJU ORGANISASI PROFESIONAL DAN TERSTRUKTUR
Industri keluarga masih sangat kuat dalam industri agribisnis di Indonesia, terutama di industri kelapa sawit. Meskipun penting secara ekonomi, terdapat masalah struktural dan manajerial di sebagian besar perkebunan keluarga yang disebabkan oleh bentuk pengelolaan tradisional dan informal. Makalah ini mengeksplorasi bagaimana analisis pekerjaan dan manajemen modal manusia (HCM) dapat digunakan untuk mencapai perubahan manajemen dan keberlanjutan suksesi di perkebunan kelapa sawit milik keluarga di Sumatera Utara. Studi ini mendasarkan metodologinya pada studi kasus kualitatif, dan didukung dengan data kuantitatif yang terbatas mengenai produktivitas dan struktur tenaga kerja. Wawancara mendalam dengan pemilik perkebunan, anggota keluarga, dan karyawan kunci digunakan sebagai metode pengumpulan data primer, sedangkan observasi lapangan dan analisis dokumen juga digunakan sebagai metode tambahan. Berdasarkan struktur dalam kerangka kerja Braun dan Clarke (2006), analisis tematik digunakan untuk mengekstrak tema umum dalam hal peran pekerjaan, suksesi kepemimpinan, dan inisiatif profesionalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis pekerjaan yang tidak terencana mengakibatkan kurangnya kejelasan tanggung jawab pekerjaan, duplikasi tugas, dan inkonsistensi dalam penyelesaian tugas di berbagai tingkatan. Kombinasi analisis pekerjaan dan model HCM seperti desain pekerjaan berbasis kompetensi, kerangka penilaian kinerja, dan manajemen talenta akan sangat meningkatkan kinerja organisasi dan membekali organisasi dengan transisi menuju kepemimpinan antar generasi. Perencanaan suksesi juga diakui oleh penelitian ini sebagai faktor penentu perubahan berkelanjutan, yang berkorelasi dengan pendekatan teoritis dalam teori bisnis keluarga, kekayaan sosioemosional, dan pengembangan modal manusia. Penelitian ini bermanfaat dalam memahami bagaimana agribisnis keluarga dapat ditransformasikan menjadi perusahaan yang dikelola secara profesional tanpa kehilangan nilai-nilai sosioemosional dan warisan perusahaan tersebut. Seperti yang ditunjukkan dalam kerangka kerja yang diusulkan, analisis pekerjaan merupakan kerangka kerja yang efektif untuk mendasarkan restrukturisasi sistem modal manusia, suksesi kepemimpinan, dan daya saing dalam jangka panjang di industri kelapa sawit milik keluarga di Indonesia.
MEKANISME OKSIDASI TEMPERATUR TINGGI PADA PELAPISAN DAN PADUAN FECR : PERAN KARBIDA DAN PENGARUH UKURAN BUTIR
Pelapisan pada material struktural seperti pipa boiler mengalami degradasi diakibatkan oksidasi. Pelapisan digunakan untuk melindungi material dengan membentuk oksida protektif seperti Cr2O3. Pada kenyataannya pembentukan Cr2O3 pada pelapisan memerlukan kandungan Cr yang tinggi, berbeda dengan paduan yang dapat membentuk Cr2O3 dengan kandungan Cr yang rendah. Pelapisan menggunakan serbuk FeCr dan campuran FeCr+Cr3C2-NiCr diaplikasikan menggunakan metoda high velocity oxygen fuel (HVOF). Paduan FeCr dibuat dengan menggunakan spark plasma sintering (SPS) kemudian heat treatment pada suhu 1100 °C selama 2 jam. Penambahan Cr3C2-NiCr pada pelapisan meningkatkan kandungan Cr pada pelapisan. Hasil oksidasi pada suhu 900 °C menunjukkan pelapisan FeCr+Cr3C2-NiCr memberikan ketahanan oksidasi lebih baik dan sebaliknya pada suhu 700 °C memiliki ketahanan oksidasi yang lebih rendah. Analisa XRD dan SEM menunjukkan pada suhu 700 °C terbentuk fasa Cr2O3 tipis yang memberikan ketahanan oksidasi pada pelapisan FeCr. Sedangkan pada suhu 900 °C pelapisan FeCr+Cr3C2-NiCr membentuk fasa FeCr2O4 yang tinggi dan menurunkan fasa Fe2O3 yang terbentuk. Secara termodinamika, karbida akan mengalami dekarburisasi dan membentuk Cr2O3. Paduan FeCr dikarakterisasi menggunakan EBSD untuk melihat ukuran butir. Paduan FeCr-NonHT memiliki ukuran butir lebih kecil dibandingkan dengan FeCr-HT. Kinetika oksidasi pada suhu 700 °C dan 900 °C menunjukkan penurunan penambahan massa pada paduan FeCr-HT. Ukuran butir yang besar mengurangi daerah pembentukan oksida di batas butir. Analisa XRD, SEM dan XPS menunjukkan oksida yang terbentuk pada permukaan paduan FeCr. Fasa yang terbentuk didominasi oleh Cr2O3 dan spinel. Sesuai dengan teori termodinamika Cr2O3 lebih mudah terbentuk.