📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PRICING SYSTEM UNTUK INDUSTRI FREIGHT FORWARDING INDONESIA: STUDI KASUS PT ADHI SURYA AMANAH

PT Adhi Surya Amanah (ASA Trans), perusahaan pengiriman barang B2B domestik di Indonesia, mengalami inefisiensi yang konsisten dalam proses penetapan harga yang menghambat pelaksanaan yang tepat waktu dan akurat yang diperlukan untuk tetap kompetitif di pasar. Perusahaan sebagian besar bergantung pada metode manual untuk persiapan penawaran, di mana informasi diperoleh secara terfragmentasi dan tersebar di berbagai spreadsheet, email, dan catatan tulisan tangan. Konsekuensi dari metode ini adalah keputusan penetapan harga yang fluktuatif, proses penawaran yang panjang, dan ketergantungan yang berlebihan pada interpretasi staf, yang membatasi kemampuan perusahaan untuk merespons dengan cepat permintaan pelanggan dalam lingkungan logistik yang semakin padat. Inefisiensi ini juga menghadirkan tantangan ilmiah dan manajerial, karena penetapan harga yang akurat dan tepat waktu sangat penting untuk profitabilitas dan kinerja pasar bagi perusahaan pengiriman barang. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengembangkan, menguji, dan membangun infrastruktur peramalan harga berbasis data yang akan membantu memaksimalkan efisiensi, meminimalkan kesalahan manusia, dan memberdayakan ASA Trans untuk membuat keputusan strategis yang lebih baik. Studi ini menganalisis alur kerja ASA Trans, membantu mengidentifikasi akar penyebab inefisiensi tersebut. Penilaian ini mengidentifikasi empat kelemahan utama: informasi harga yang terfragmentasi dan tidak terstruktur, verifikasi manual, kurangnya akses ke informasi biaya dan pasar terkini, dan peningkatan ketergantungan pada penilaian subjektif. Semua ini berkontribusi pada penurunan keandalan operasional dan membatasi pertumbuhan perusahaan. Untuk mengatasi tantangan ini, studi ini mengusulkan model peramalan berdasarkan asumsi bahwa informasi historis tentang biaya, tarif angkutan, dan harga ASA Trans dapat memberikan tren operasional yang diperlukan untuk peramalan yang akurat. Studi ini juga mengasumsikan bahwa tren pasar seperti harga bahan bakar dan tol dapat diprediksi dan spesifik. Penelitian ini akan mengidentifikasi persyaratan data untuk prediksi harga, metodologi peramalan acuan, mengembangkan sistem prediksi harga yang layak, dan mengintegrasikannya ke dalam alur kerja ASA Trans. Untuk mencapai tujuan ini, para peneliti melakukan proses multi-tahap. Untuk memperoleh data primer, mereka mengumpulkan data tarif angkutan internal, catatan biaya operasional, dan harga historis, sementara data sekunder dikumpulkan melalui perbandingan tarif angkutan dan kartu tarif pesaing. Tahapan ini meliputi pembersihan data, standardisasi data, analisis data eksplorasi, pembuatan model, dan validasi proses pembelajaran mesin. Secara spesifik, tiga model digunakan: Regresi Linier Berganda, Random Forest, dan LightGBM untuk mengidentifikasi pendekatan mana yang memberikan prediksi paling akurat dan operasional. Evaluasi model dilakukan menggunakan MAE, RMSE, dan MAPE bersama dengan kriteria validasi bisnis seperti kecepatan penawaran, kemudahan penggunaan, dan keselarasan dengan tujuan keuangan. Hasil menunjukkan bahwa model Random Forest mencapai kesalahan terendah dan konsistensi hasil tertinggi di berbagai situasi pengiriman. Model ini dapat memodelkan asosiasi nonlinier dan oleh karena itu berpotensi menjadi solusi yang baik untuk struktur multidimensional dan berbasis biaya dari industri angkutan domestik Indonesia. Model Random Forest diimplementasikan melalui Sistem Peramalan Harga berbasis web yang dikembangkan di ASA Trans. Pada fase pertama implementasi, model tersebut diimplementasikan sebagai alat kerja yang memungkinkan pengguna untuk memasukkan perkiraan biaya pengiriman, biaya operasional, dan waktu tunggu. Hasil uji menunjukkan bahwa waktu penyelesaian penawaran telah berkurang dari beberapa jam menjadi beberapa menit, menunjukkan peningkatan efisiensi operasional yang signifikan. Umpan balik pengguna selama proses pelatihan dan orientasi menunjukkan bagaimana sistem tersebut meningkatkan konsistensi, mengurangi beban kerja administratif, dan menghasilkan keputusan penetapan harga yang lebih akurat.

2026
👤 Penulis: Shofi Rafiiola
🏷️ Pengiriman Barang 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI TRIBOLOGI ALUMINIUM A356 DENGAN LUBRIKASI OLI 10W-40 DAN PENAMBAHAN GRAPHENE OXIDE

Graphene oxide (GO) merupakan material yang mulai digunakan sebagai bahan aditif pada pelumas kendaraan bermotor. Penambahan GO tersebut dikarenakan strukturnya yang dapat mengurangi gaya gesek yang dihasilkan. Pelumas yang ditambahkan dengan graphene oxide akan bekerja lebih efektif dalam melindungi mesin pembakaran pada kendaraan bermotor. Penelilitan ini berfokus pada pengukuran pengurangan massa serta koefisien gesek yang dihasilkan menggunakan alat pin-on-disk. Alat tersebut memungkinkan simulasi performa pelumas yang ditambahkan dengan graphene oxide pada permukaan komponen mesin kendaraan bermotor. Dalam pengujiannya, digunakan variasi jenis pelumasan yang berupa pengujian tanpa pelumas, dengan pelumas, dan dengan pelumas yang ditambahkan graphene oxide. Studi ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh pelumas dan aditif graphene oxide terhadap tingkat keausan abrasif pada paduan aluminium A356 dan mempelajari pengaruh pelumas dan aditif graphene oxide terhadap koefisien gesek yang dihasilkan. Pada pengujian ini, pegnujian akan dilakukan menggunakan uji gesek dan uji koefisein gesek dengan sampel logam dengan diameter kurang lebih 2x2x2 cm dengan variasi pelumasan; tanpa pelumas, dengan pelumas, serta pelumas yang ditambahkan graphene oxide sebanyak 1 mg/ml. Dari hasil pengujian yang dilakukan, didaptkan bahwa graphene oxide akan mengurangi massa yang hilang pada sampel aluminium (pengujian tanpa adanya penambahan pelumas sebesar 0,0032 g, menggunakan pelumas sebesar 0,0002 g, dan menggunakan pelumas yang ditambahkan graphene oxide sebesar 0,0002 g) dan mengurangi koefisien gesek yang dihasilkan (tanpa adanya penambahan pelumas sebesar 0,0827, menggunakan pelumas sebesar 0,0595, dan menggunakan pelumas yang ditambahkan graphene oxide sebesar 0,0584) yang secara statistik tidak signifikan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Zhafran Ammar Fahrezi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI SILIKAT DALAM MEDIA PERTUMBUHAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIOLOGIS DAN PROFIL PROTEOM NAVICULA SALINICOLA NLA

Diatom adalah salah satu kelas mikroalga yang memiliki dinding sel yang terbuat dari silika (frustula). Oleh karena itu, struktur cangkang diatom bersifat kokoh dan tidak mudah terdegradasi. Tanpa silikat dalam media pertumbuhan, diatom tidak dapat membentuk dinding sel yang kuat dan menjadi rentan terhadap serangan predator. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi silikat terhadap pertumbuhan, morfologi, dan fotosintesis diatom laut tropis Indonesia, spesies Navicula salinicola NLA. Pada penelitian ini dilakukan kultivasi Navicula salinicola NLA pada media dengan variasi konsentrasi Na2SiO3 15 g/L dan 45 g/L. Pola pertumbuhan dianalisis melalui kurva kerapatan sel, sedangkan morfologi diamati menggunakan mikroskop cahaya dan SEM. Laju fotosintesis ditentukan berdasarkan evolusi oksigen. Konsentrasi silikat 45 g/L dalam medium pertumbuhan menghasilkan kerapatan sel, ukuran sel, dan ukuran pori frustula yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi silikat 15 g/L. Selain itu, laju fotosintesis sel yang ditumbuhkan pada konsentrasi silikat 45 g/L lebih tinggi daripada silikat 15 g/L pada pH 6 (sumber karbon anorganik dominan: CO2), namun laju fotosintesis antar variasi silikat tidak berbeda pada pH 7,3 (sumber karbon anorganik dominan: HCO3-). Hal ini mengindikasikan bahwa kandungan silikat dalam medium pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan fiksasi CO2 dan fotosintesis. Selanjutnya, analisis proteomik dilakukan untuk mengidentifikasi jenis dan kelimpahan protein yang berfluktuasi akibat variasi silikat. Sebelas protein yang menunjukkan perbedaan kelimpahan akibat variasi silikat adalah protein pengikat klorofil A-B, hypothetical chloroplast RF39, protein pemanen cahaya fukosantin klorofil A/C, protein pengikat FMR1, histidin kinase, peptidase A1, dioksigenase Fe2OG, protein pengikat DNA winged-helix famili E2F/DP, protease pemotong ujung karboksil, dan dua protein yang belum dikarakterisasi. Beberapa protein tersebut terlibat langsung dalam proses fotosintesis dan memiliki kelimpahan yang lebih tinggi pada konsentrasi silikat 45 g/L dibandingkan dengan 15 g/L. Oleh karena itu, kandungan silikat yang lebih tinggi dalam medium pertumbuhan meningkatkan kemampuan fotosintesis sel.

2026
👤 Penulis: Nur Shabrina Rufaidah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Proteomologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMANFAATAN MOLASE TEBU YANG DIBERI PERLAKUAN INVERTASE SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER KARBON UNTUK PRODUKSI ENZIM REVERSE TRANSCRIPTASE REKOMBINAN OLEH ESCHERICHIA COLI BL21 (DE3)

Reverse transcriptase (RT) merupakan enzim yang berperan dalam mengkatalis reaksi konversi RNA menjadi complementary DNA (cDNA). Pada penelitian sebelumnya telahdilakukan pengembangan enzim rekombinan RT dengan menggunakan sistemekspresi bakteri E. coli BL21 dalam medium Luria Bertani (LB). Namun, hasil tersebut dianggapbelum optimal karena penggunan media LB dinilai kurang efisien secara ekonomi dansebagian besar protein diekspresikan pada inclusion body. Sehingga penelitianini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan molase tebu yang diberi perlakuan invertase(Invertase Treated Molasses, ITM) sebagai sumber karbon alternatif dalamproduksi enzim RT rekombinan. Pada penelitian ini, Sumber karbon molase diberi perlakuaninvertase selama 24 jam pada suhu 50 oC, selanjutnya, komponen gula dikuantifikasi dengan metode HPLC. Transformasi plasmid yang berisi gen pengkode enzimRTdilakukan pada sel E. coli DH5? dan E. coli BL21 (DE3), keberhasilan transformasi dikonfirmasi menggunakan metode PCR koloni. Keberhasilan dari ekspresi enzimRTrekombinan dikonfirmasi menggunakan metode SDS-PAGE. Berikutnya dilakukanpembuatan kurva standar E. coli BL21 (DE3) menggunakan suspensi sel yang berasal dari kultur padat yang telah diinkubasi overnight pada suhu 37 oC. Dilanjutkan denganpembuatan kurva tumbuh pada media minimal dengan variasi konsentrasi ITM(1%dan2%) dan konsentrasi garam (1 dan ½). Media dengan kinetika pertumbuhan terbaikdilanjutkan sebagai media produksi pada suhu 25 oC dan 37 oC dengan (A) dan tanpaaktivasi (TA). Analisis ekspresi protein dilakukan dengan metode SDS-PAGEdenganbantuan software ImageJ. Uji aktivitas dilakukan menggunakan metode two step RT- qPCR dengan membandingkan nilai Ct perlakuan terhadap nilai Ct RT komersial (?Ct). Pada hasil PCR koloni diperoleh pita DNA berukuran ~2.5 kb dan konfirmasi ekspresi diperoleh pita protein berukuran ~82 kDA. Hasil HPLC menunjukkan terjadi peningkatankonsentrasi fruktosa dan glukosa sebesar 137% dan 158% serta penurunan konsentrasi sukrosa sebesar 75% pada molase dengan perlakuan invertase jika dibandingkan denganmolase tanpa perlakuan invertase. Secara keseluruhan laju pertumbunan pada keempat variasi media molase jika dibandingkan dengan LB secara statistik tidak menunjukkanperbedaan yang signifikan. Kinetika pertumbuhan terbaik ditunjukkan oleh variasi medium 1,1 dan 1,½ dengan laju pertumbuhan (µ) 0.537 dan 0.542 jam-1 tanpa adanyafase lag di awal pertumbuhan. Berdasarkan hasil analisis ekspresi, protein RTdengantingkat ekspresi tertinggi pada media ITM diperoleh pada variasi 1,1 yang diinkubasi pada suhu 37°C dengan perlakuan aktivasi (1,1-37A). Hasil ini sejalan dengan hasil uji aktivitas, variasi ini memiliki rata-rata ?Ct paling rendah yaitu 2.56. Oleh karena itudapat disimpulkan molase yang diberi perlakuan invertase dapat digunakan sebagai sumber karbon dalam produksi enzim RT rekombinan tetapi perlu dioptimasi lebih lanjut. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah penggunaan metode RSM(Response SurfaceMethodology) untuk mengoptimasi komponen media dan scale-up produksi ke volumeyang lebih tinggi.

2026
👤 Penulis: Lili Fatri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ADSORPSI RHODAMIN B MENGGUNAKAN ADSORBEN ?-KARAGENAN TERMODIFIKASI FORMALDEHID

Pencemaran air oleh limbah pewarna sintetis dari industri, seperti Rhodamin B, menimbulkan masalah lingkungan yang serius karena Rhodamin B bersifat toksik dan karsinogenik. Rhodamin B banyak digunakan dalam industri pewarna tekstil sehingga memerlukan solusi pengolahan limbah yang efektif. Adsorpsi merupakan metode yang efisien dalam menghilangkan limbah cair dengan proses yang sederhana, biaya rendah, dan efisiensi tinggi. ?-karagenan merupakan senyawa yang mengandung gugus hidroksil dan ester sulfat anionik dan dapat dimodifikasi untuk menjadi adsorben yang efektif dalam menghilangkan ion logam dan zat warna. Dalam penelitian ini, telah dibuat adsorben ?-karagenan termodifikasi formaldehid (FA) dengan perbandingan mol ?-karagenan:FA = 8:1 dalam perendaman larutan KCl 1 M selama 7 jam melalui metode pengeringan kipas angin. Adsorben ini kemudian dikarakterisasi menggunakan metode uji derajat penggembungan, spektroskopi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS). Hasil uji derajat penggembungan adsorben ?- karagenan termodifikasi FA menunjukkan bahwa adsorben mampu menjaga kestabilan struktur fisiknya pada waktu periode uji 30 menit sampai 48 jam. Hasil spektra FTIR dari adsorben menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang yang mengindikasikan interaksi ?-karagenan dengan FA dan atau K+ serta mengonfirmasi keberhasilan adsorben dalam mengadsorpsi Rhodamin B. Citra adsorben dari hasil karakterisasi SEM-EDS menunjukkan adanya perubahan morfologi permukaan adsorben yang semula lebih kasar menjadi lebih halus serta munculnya unsur N pada adsorben sesudah kontak dengan Rhodamin B. Adsorpsi Rhodamin B menggunakan adsorben ?-karagenan termodifikasi FA mencapai kondisi optimum pada pH 2, massa adsorben 0,078 gram, dan waktu kontak 120 menit. Adsorpsi Rhodamin B menggunakan adsorben ?-karagenan termodifikasi FA mengikuti kinetika orde satu semu, model isoterm Sips dengan kapasitas adsorpsi maksimum (qmaks) sebesar 229,25 mg/g pada temperatur 303 K. Adsorben ?-karagenan termodifikasi FA dapat digunakan berulang hingga tujuh siklus adsorpsi-desorpsi menggunakan larutan pendesorpsi KCl 0,5 M dalam air. Penelitian ini memberikan alternatif solusi untuk menghadapi isu lingkungan dengan adanya adsorben hijau berbasis polimer alami yang dapat digunakan berulang serta memperluas ilmu pengetahuan mengenai pemanfaatan polimer alam Indonesia untuk pencemaran lingkungan.

2026
👤 Penulis: Karen Maria Lestari
🏷️ Adsorpsi 🏷️ Polimer Alami 🏷️ Rhodamin B

STUDY KELAYAKAN EKONOMI PROYEK OPL-70 DI LAPANGAN X PT. BMM

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan ekonomi Proyek Operasi Pengembangan Lapangan-70 (OPL-70) yang diusulkan oleh PT. BMM dalam rangka mempertahankan tingkat produksi pada lapangan gas mature yang beroperasi dengan kerangka Production Sharing Contract (PSC) Cost Recovery. Lapangan gas mature umumnya dicirikan oleh penurunan laju produksi, reservoir depletion, serta peningkatan biaya pengembangan dan operasi, yang secara signifikan menantang keberlanjutan kinerja ekonomi jangka panjang. Proyek OPL70 melibatkan pengeboran 100 sumur pengembangan tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan perolehan gas dan memperpanjang umur ekonomi lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan model Discounted Cash Flow (DCF) pada periode evaluasi 2025 hingga 2033. Model tersebut mengintegrasikan proyeksi produksi, estimasi capital expenditure dan operating expenditure, kerangka PSC Cost Recovery yang berlaku, serta asumsi harga komoditas yang bersumber dari data perencanaan internal perusahaan. Indikator ekonomi utama yang digunakan dalam evaluasi meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Payback Period, yang digunakan untuk menilai kelayakan finansial proyek terhadap kriteria penerimaan investasi dan hurdle rate perusahaan. Untuk mengakomodasi ketidakpastian yang melekat pada pengembangan lapangan gas mature, penelitian ini menerapkan metode analisis risiko deterministik dan probabilistik. Sensitivity analysis digunakan untuk mengidentifikasi parameter ekonomi yang paling berpengaruh terhadap nilai proyek, khususnya produksi gas, harga gas, dan intangible capital expenditure. Selain itu, Monte Carlo simulation diterapkan untuk mengevaluasi dampak gabungan dari ketidakpastian pada variabel utama serta menghasilkan distribusi probabilitas dari potensi hasil ekonomi proyek. Analisis PESTEL turut digunakan untuk memberikan konteks eksternal terkait faktor politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum yang berpotensi memengaruhi pelaksanaan dan kelayakan proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proyek OPL-70 layak secara ekonomi pada asumsi base case. Evaluasi DCF menghasilkan Net Present Value positif sebesar USD 18,53 juta, Internal Rate of Return sebesar 13,56% yang melampaui hurdle rate perusahaan sebesar 10,22%, serta Profitability Index sebesar 1,05, yang menegaskan terciptanya nilai tambah ekonomi. Analisis probabilistik menunjukkan probabilitas sebesar 96,92 persen untuk memperoleh NPV positif, yang mengindikasikan tingkat risiko penurunan nilai yang relatif terbatas. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa Proyek OPL-70 mampu meningkatkan perolehan gas sekaligus tetap menarik secara ekonomi, serta menyediakan kerangka evaluasi investasi yang terstruktur dan berorientasi risiko bagi pengembangan lapangan gas mature dengan kerangka PSC Cost Recovery di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Rian Ikhsan
🏷️ Evaluasi Kelayakan Ekonomi 🏷️ Operasi Pengembangan Lapangan Gas 🏷️ Analisis Risiko Deterministik Dan Probabilistik

DESAIN PERANCANGAN BANGUNAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) DI PULAU TIDUNG BESAR, KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN SERIBU SEBAGAI DAERAH TUJUAN PARIWISATA

Pulau Tidung Besar adalah salah satu pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Tidung Besar juga terkenal sebagai pulau tujuan pariwisata dengan luas pulau 50 ha. Terdapat empat sumber kegiatan yang dapat menghasilkan sampah yaitu permukiman dengan 4.787 penduduk, non permukiman dengan fasilitas umum, kegiatan pariwisata dan sampah pesisir. Pengolahan sampah yang dilakukan di Pulau Tidung Besar saat ini adalah pembakaran dengan insinerator L-Box. Namun kapasitas insinerator yang tidak dapat mengolah seluruh sampah yang dihasilkan di pulau ini menyebabkan sampah yang tidak terolah akan diurug di lahan terbuka sebelum akan diangkut menggunakan kapal sampah menuju Bantar Gebang. Oleh karna itu dibutuhkan suatu Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST) yang dapat mengolah sampah yang dihasilkan setiap harinya di Pulau Tidung Besar. Telah dilakukan sampling timbulan dan komposisi sampah yang mengacu pada SNI 19-3964-1995 dengan hasil timbulan sampah darat Pulau Tidung Besar sebesar 1.733 kg/hari dan komposisi terbesar adalah sisa makanan dan dedaunan (59,59%) kemudian sampah anorganik laku jual yang terdiri dari plastik, kertas/kardus, logam dan kaca (25,22%), dan sampah residu (14,87%). Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Pulau Tidung Besar akan memiliki luas minimal area bongkar muat sebesar 52,5 m2 , area pengomposan windrow dan maturasi kompos sebesar 101 m2 , area penyimpanan anorganik laku jual sebesar 28 m2 dan area pengolahan residu dengan teknologi thermal insinerator. Total area TPST yang dirancang adalah 928 m2 dengan fasilitas tambahan seperti kantor, gudang, toilet dan area parkir.

2026
👤 Penulis: Alfacano Abrar
🏷️ Desain Bangunan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Sampah 🏷️ Hidrologi

PELUANG PENINGKATAN LAYANAN PADA PROYEK RANCANG-BANGUN JALAN TRANS PAPUA

Proyek jalan Trans Papua dengan skema rancang-bangun menunjukkan tren penurunan Schedule Performance Index (SPI) selama tujuh bulan pertama konstruksi (November 2024–April 2025), turun dari 3,25 menjadi 1,26 meskipun masih di atas ambang batas 1,00, yang mengindikasikan risiko keterlambatan kumulatif akibat perbedaan data topografi antara DEMNAS (data klien) dan LIDAR (data kontraktor). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi akar penyebab siklus desain-review-penyesuaian berulang dan mengembangkan solusi proses bisnis berbasis Process Chain Network (PCN) untuk meningkatkan efisiensi manajemen stakeholder dalam proyek infrastruktur KPBU. Pendekatan mixed-methods diterapkan, mengintegrasikan analisis kuantitatif SPI dan Schedule Variance dari Laporan Progres Bulanan dengan wawancara mendalam terhadap lima manajer proyek dan analisis isi berbasis ATLAS.ti. Kerangka Value Co-Creation, DART-PDCA, dan PCN menghasilkan tiga alternatif proses yang dievaluasi melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan kriteria kepatuhan, alternatif desain, waktu siklus, tahapan proses, dan biaya operasional. Hasil AHP memprioritaskan PCN 1 yang memungkinkan penyerahan paralel alternatif desain lengkap, mencapai efisiensi waktu siklus 4,5 bulan dan penghematan biaya substansial. Implementasi jangka pendek sejak Juli 2025 meningkatkan SPI dari 1,11 menjadi 1,17 (September 2025), mengurangi potensi denda keterlambatan sebesar Rp13,5 miliar. Rekomendasi mencakup prosedur standar PCN-PDCA untuk replikasi pada proyek rancang-bangun serupa.

2026
👤 Penulis: Fitriana Prahastiwi Pramono
🏷️ Proyek Rancang-Bangun Jalan 🏷️ Manajemen Stakeholder Proyek Infrastruktur Kpbu 🏷️ Process Chain Network (Pcn)

EKSPRESI DAN KARAKTERISASI REKOMBINAN SPIDROIN AMPULAT UTAMA SUBTIPE-2 (MASP2 N-R12-C) PADA PICHIA PASTORIS

Sutra dragline disekresikan oleh kelenjar spesifik laba-laba untuk membentuk rangka dari jaring laba-laba sebagai mobilitas dan perlindungan diri. Sutra ampulat utama terdiri dari gabungan berbagai subtipe sehingga dapat menyusun sutra yang memiliki kekuatan dan elastisitas lebih tinggi dibandingkan dengan sutra baja. Secara umum, sutra laba-laba disusun oleh spidroin, polipeptida besar yang terbagi menjadi tiga bagian utama, terdiri dari: bagian tengah yang berulang serta dua bagian ujung globular kecil yang lestari. Spidroin ampulat utama subtipe-2 (MaSp2) adalah salah satu subtipe spidroin ampulat utama yang memiliki urutan poli-alanin dan kaya akan residu glisin pada daerah perulangan dan motif GPGQQ sehingga dapat membentuk struktur belokkan pada lembaran-? untuk meningkatkan elastisitas sutra laba-laba. Selain komposisi asam amino serta motif pada daerah perulangan, modifikasi pascatranslasi menjadi peran penting lainnya dalam memodulasi konformasi tingkat struktur sekunder dan proses pembentukan serat sutra, yang melibatkan perubahan gugus fosfor dan hidroksil pada residu asam amino tertentu. Untuk memahami peran modifikasi pascatranslasi dalam proses pelipatan dan pembentukan sutra, strategi yang dapat dilakukan adalah mengekspresikan gen pengkode MaSp2 pada mikroorganisme yang memiliki sistem modifikasi pasca-translasi salah satunya adalah ragi. Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan gen sintetik MaSp2 pada ragi P. pastoris serta mengkarakterisasikan MaSp2 rekombinan yang telah dimurnikan. Sekuens MaSp2 merupakan gabungan sekuens MaSp2 domain ujung N dan 12 perulangan pada daerah perulangan dari Trichonephila clavipes dan domain ujung C berasal dari sekuens MaSp2 Latrodectus hesperus. Plasmid rekombinan pPICZA- MaSp2 yang membawa gen sintetik MaSp2 (N-R12-C) telah dikonstruksikan secara komersial serta digunakan dalam konstruksi P. pastoris X-33-MaSp2. Hasil analisis PCR transforman ragi menunjukkan pita DNA berukuran ~1,8 kpb yang mengkonfirmasi gen MaSp2 dan pita DNA berukuran ~2,1 kpb yang memverifikasi gen MaSp2 mengandung promotor dan terminator AOX1. P. pastoris X-33 ditransformasikan dengan plasmid linear pPCIZA-MaSp2 dan diseleksi pada media yang mengandung Zeocin. Ekspresi MaSp2 (N-R12-C) dilakukan dengan induksi metanol 2% (v/v) selama 24 jam. Profil SDS-PAGE ekstrak kasar menunjukkan perbedaan profil 60 – 72 kDa serta diatas 72 kDa. Hasil Western Blot mengkonfirmasi berat molekul rekombinan MaSp2 (N-R12-C) berkisar ~74 kDa atau lebih tinggi dari hasil perhitungan teoritikal yang dimungkinkan adanya modifikasi pasca-translasi. Pemurnian rekombinan dilakukan menggunakan resin Ni-NTA dengan peningkatan konsentrasi imidazol. Profil SDS-PAGE hasil pemurnian tanpa agen pereduksi menunjukkan pita multimer >180 kDa dan monomer sekitar ~74 kDa, yang telah divalidasi dari hasil pemetaan fragmen peptida UPLC-HRMS sesuai dengan konstruksi peptida terutama pada domain ujung N. Rekombinan MaSp2 (N-R12-C) diduga mampu membentuk homodimer yang dimediasi Cys560 pada domain ujung C. Interaksi jembatan garam antara Asp38 dan Lys63 pada ujung N berperan dalam mengarahkan orientasi pembentukan homodimer MaSp2. Di sisi lain, protein rekombinan ditemukan dalam bentuk fragmentasi sekitar ~43 kDa yang mengarah pada domain ujung C.

2026
👤 Penulis: Tamamal Afiah Purnomo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KARAKTERISASI DAN INTERPRETASI AWAL GEOKIMIA AIR DAN SEDIMEN PADA SISTEM MUD VOLCANO DI GROBOGAN–BLORA, JAWA TENGAH

Sistem mud volcano merepresentasikan pelepasan fluida salin dan sedimen halus dari bawah permukaan yang merekam interaksi fluida–batuan pada satuan sedimen Tersier hingga Kuarter di Cekungan Jawa Utara. Penelitian ini bertujuan melakukan karakterisasi dan interpretasi awal geokimia air serta sedimen pada beberapa pusat mud volcano di Grobogan dan Blora, Jawa Tengah, untuk memahami variasi komposisi fluida dan sedimen serta indikasi awal keterdapatan litium. Data yang digunakan meliputi pengukuran parameter fisika-kimia air di lapangan, analisis ion terlarut, analisis unsur mayor dan jejak sedimen, dan pengukuran suseptibilitas magnetik, serta analisis mineralogi menggunakan spektroskopi reflektansi rentang 400–2500 nm. Hasil analisis menunjukkan bahwa fluida mud volcano didominasi oleh brine berklorida tinggi dengan konsentrasi klorida berkisar dari sekitar 10³ hingga 10? ppm yang mengindikasikan kontribusi fluida formasi dalam dengan tingkat pengenceran yang bervariasi antar lokasi. Sedimen mud volcano didominasi oleh material lempungan dengan tingkat pelapukan dan kematangan kimia yang bervariasi, serta menunjukkan ciri spektral mineral lempung yang disertai oksida besi dan karbonat. Litium terdeteksi pada fase air dan sedimen dengan variasi konsentrasi antar lokasi yang secara umum berasosiasi dengan fluida salin dan material lempungan. Hasil penelitian ini memperlihatkan basis data awal untuk pengembangan studi lanjutan yang lebih terarah, khususnya melalui analisis hidrogeokimia dan karakterisasi mineralogi yang lebih rinci, guna mengklarifikasi sumber dan mekanisme pengayaan litium pada sistem mud volcano di Grobogan– Blora.

2026
👤 Penulis: Daffa Mujahid Abdullah
🏷️ Geokimia Air 🏷️ Sedimen Volcanik 🏷️ Analisis Hidrogeologi

KUANTIFIKASI NITROGEN DAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) DENGAN HIDROPONIK WICK SYSTEM MENGGUNAKAN LARUTAN NUTRISI AB-MIX, PUPUK ORGANIK CAIR (POC), DAN PUPUK EMULSI IKAN

Pakcoy merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dapat di budidaya secara hidroponik dengan sistem sumbu (wick system). Budidaya pakcoy secara hidroponik membutuhkan larutan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Larutan nutrisi yang paling umum digunakan yaitu AB Mix. Namun AB mix dapat berakibat toksik dan menimbulkan residu kimia, jika digunakan dalam jangka panjang. Alternatif pengganti nutrisi AB Mix yaitu penggunaan pupuk organik cair dan pupuk emulsi ikan. Penggunaan pupuk organik berpotensi menggantikan peran AB Mix dalam sistem hidroponik, khususnya dalam penyediaan nitrogen dan peningkatan kadar klorofil tanaman pakcoy. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh penggunaan masing-masing larutan nutrisi AB-Mix, pupuk organik cair (POC), dan pupuk emulsi ikan terhadap kandungan klorofil dan nitrogen tanaman pakcoy pada hidroponik wick system. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni – Agustus 2025 di Screenhouse Laboratorium Teknik 1A ITB Kampus Jatinangor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan tiga perlakuan yaitu P1 = Larutan AB Mix (27 mL larutan A + 27 mL larutan B), P2 = POC NASA (23 mL), dan P3 = Pupuk emulsi ikan (16 mL). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil penelitian didapat, kandungan nitrogen maupun kandungan klorofil pada perlakuan AB Mix memiliki hasil yang paling tinggi dibandingkan dua perlakuan yang lain. Perlakuan AB Mix menghasilkan 7,02% untuk total nitrogen dan 4,79 mg/L untuk total klorofil. Sementara itu, perlakuan POC NASA menghasilkan nilai nitrogen 1,82% dan total klorofil 2,49 mg/L, sedangkan pupuk emulsi ikan menghasilkan nitrogen 2,39% dan klorofil 2,45 mg/L. Penggunaan AB Mix pada sistem hidroponik wick memberikan pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan penggunaan pupuk organik cair, baik POC NASA maupun emulsi ikan terhadap kadar nitrogen total tanaman pakcoy. Begitu juga dengan kandungan klorofil, penggunaan AB Mix secara signifikan menghasilkan kandungan klorofil yang lebih tinggi pada daun pakcoy. Ketersediaan hara merupakan faktor penentu utama dalam keberhasilan sistem budidaya hidroponik. Nitrogen pada AB Mix tersedia dalam bentuk anorganik yang langsung diserap akar, sehingga lebih efisien dalam membentuk asam amino, protein, dan klorofil. Sedangkan, pupuk organik cair membutuhkan proses mineralisasi, sehingga ketersediaan haranya lebih lambat, tidak seragam, dan lebih rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat dibuktikan bahwa penggunaan pupuk organik belum mampu menyaingi penggunaan AB Mix, meskipun lebih ramah lingkungan pupuk organik masih menghasilkan total nitrogen dan kadar klorofil yang lebih rendah.

2026
👤 Penulis: Siti Hadiyati
🏷️ Hidroponik 🏷️ Nutrisi Tanaman 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AIR BENGKULU DI KOTA BENGKULU

Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang berada di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan dan memiliki karakteristik topografi curam di bagian hulu serta dataran rendah di wilayah hilir. Sungai Air Bengkulu sebagai salah satu sungai utama di provinsi ini melintasi wilayah Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu. Dalam beberapa dekade terakhir, DAS Bengkulu menunjukkan kecenderungan penurunan fungsi hidrologis dan kualitas lingkungan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi serta besarnya kejadian banjir, salah satunya peristiwa banjir besar pada April 2019 dan Agustus 2022. Banjir yang terjadi pada Sungai Air Bengkulu disebabkan oleh kombinasi faktor hidrologis dan hidraulis, antara lain besarnya debit banjir akibat curah hujan ekstrem, perubahan karakteristik DAS, serta keterbatasan kapasitas penampang sungai yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi, khususnya di bagian muara. Kondisi tersebut menyebabkan aliran sungai tidak mampu mengalirkan debit banjir secara optimal sehingga terjadi limpasan dan genangan di wilayah perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu telah melaksanakan upaya pengendalian banjir secara bertahap dan komprehensif. Namun demikian, kajian teknis terintegrasi tetap diperlukan untuk mendukung upaya penanganan yang telah dan akan dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika Sungai Air Bengkulu berdasarkan kejadian banjir aktual melalui pemodelan, menilai pengaruh upaya pengendalian banjir terhadap reduksi banjir, serta mengkaji alternatif upaya tambahan yang diperlukan untuk mendukung pengendalian banjir yang efektif dan efisien. Analisis hidrologi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS untuk memperoleh debit banjir rencana, diawali dengan pengujian kualitas data curah hujan melalui uji konsistensi, uji outlier, uji independensi. Data curah hujan yang digunakan berasal dari empat pos hujan, yaitu PCH Bajak, Taba Mutung, Tanjung Jaya, dan Batu Raja dengan panjang data 17 tahun (2008–2024). Curah hujan wilayah dihitung menggunakan metode Polygon Thiessen, kemudian dilakukan analisis distribusi frekuensi hujan rencana dengan beberapa metode distribusi dan uji kesesuaian untuk menentukan distribusi terbaik. Perhitungan hujan efektif dilakukan untuk mendapatkan nilai Curve Number berdasarkan ii karakteristik DAS, tutupan lahan, dan jenis tanah. Selanjutnya, debit banjir rencana dihitung menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis Snyder yang telah dikalibrasi terhadap kejadian banjir observasi. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir rencana kala ulang 50 tahun (Q50) sebesar 879,4 m³/s digunakan sebagai dasar dalam analisis hidraulika. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS dua dimensi untuk mensimulasikan kondisi genangan banjir eksisting dan beberapa skenario penanganan banjir. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa kapasitas Sungai Air Bengkulu pada kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir rencana Q50, yang ditunjukkan oleh luasan genangan mencapai 1.439,8 ha dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,66 hingga 3,66 meter. Dari enam skenario penanganan yang disimulasikan, skenario keenam yang merupakan kombinasi peningkatan tanggul eksisting dan normalisasi sungai sepanjang 1,5 km di bagian muara menunjukkan kinerja terbaik dengan reduksi luas genangan sebesar 74,3%. Skenario ini dinilai memenuhi aspek efektivitas dalam pengurangan banjir serta efisiensi dari sisi pemeliharaan. Selain itu, hasil pemodelan menguatkan hipotesis bahwa penyempitan atau bottleneck di bagian muara sungai merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar teknis dalam perencanaan pengendalian banjir Sungai Air Bengkulu secara berkelanjutan serta mendukung penyusunan mikrozonasi kawasan berisiko tinggi bencana banjir di Kota Bengkulu.

2026
👤 Penulis: Ekanto Wahyudi Susetyo
🏷️ Hydrologi 🏷️ Hidraulika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI DI LOKASI TERPENGARUH PASANG SURUT (STUDI KASUS SUNGAI SIAK KOTA PEKANBARU)

Sungai Siak mempakan salah satu sungai utama di Provinsi Riau yang memiliki peran penting dalam sistem hidrologi Kota Pekanbam. Wilayah ini secara mtin mengalami banjir, temtama pada kawasan dataran banjir seperti Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, yang dipengaruhi oleh kombinasi debit banjir dari hulu dan pasang sumt air laut. Selain faktor hidrologi dan pasang sumt, sedimentasi yang tetjadi di sepanjang alur Sungai Siak diduga tumt berkontribusi terhadap penurunan kapasitas sungai dalam menampung aliran banjir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik sedimentasi pada Sungai Siak yang terpengaruh pasang sumt serta pengamhnya terhadap kapasitas sungai dan pengendalian banjir di Kota Pekanbaru. Metodologi penelitian meliputi analisis hidrologi untuk memperoleh debit banjir rencana kala ulang 25 tahun (Q25), analisis hidraulika untuk menentukan elevasi muka air banjir, analisis pasang smut untuk mengetahui pengamh fluktuasi muka air laut, serta analisis sedimentasi untuk menentukan besaran laju sedimentasi dan perubahan dasar sungai. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS, sedangkan analisis hidraulika dan sedimentasi dilakukan dengan HEC-RAS berbasis pemodelan satu dimensi dan dua dimensi. Data yang digunakan meliputi data curah hujan, geometri sungai, pasang surut, serta data sedimen hasil pengukuran lapangan dan pengujian laboratorium. Basil penelitian menunjukkan bahwa debit banjir rencana Q25 pada Sungai Siak berpotensi melampaui kapasitas alur sungai di beberapa segmen, temtama pada wilayah dataran banjir. Interaksi antara debit banjir dan kondisi pasang laut menyebabkan peningkatan elevasi muka air dan efek backwater, yang memperparah terjadinya banjir. Saat debit banjir Q25 dipengamhi pasang smut terendah, elevasi muka air banjir menunjukkan +3,82 meter, kondisi tersebut telah melewati elevasi beberapa segmen tanggul sungai siak di Kelurahan Sri Meranti Parit Belanda. Mengacu pada Permen PUPR No. 5, 2021 tentang Debit Rencana Infrastruktur Pengendali Banjir, maka evaluasi terhadap kondisi tanggul eksisting dan evaluasi terhadap pola operasi pompa parit belanda di Kel.Sri Meranti perlu dilakukan, temtama pada wilayah dataran banjir, untuk mengantisipasi kombinasi debit banjir dari hulu dan pasang laut yang dapat meningkatkan risiko banjir. Analisis sedimentasi menunjukkan adanya kecendernngan agradasi di sepanjang alur sungai, yang mengakibatkan pendangkalan dasar sungai dan penurnnan kapasitas tampung. Basil model menunjukkan rata-rata ketinggian agradasi sungai siak yang te1jadi di lokasi Ke!. Sri Meranti yaitu 0,024 meter/tahun. Akibatnya kenaikan elevasi muka air banjir selama dua tahun berkisar antara 18 cm - 25 cm. Hal ini akan berdampak langsung terhadap efektivitas pengendalian banjir di Kota Pekanbaru. Elevasi pasang surnt di muara dapat mempengarnhi proses sedimentasi yang terjadi di Sungai Siak. Pengaruh pasang laut yang masih menjangkau wilayah Kota Pekanbaru akan mempengaruhi dinamika aliran dan proses sedimentasi di Sungai Siak di Kota Pekanbaru. Pada saat pasang, kecepatan aliran menurun sehingga sedimen cenderung mengendap sehingga konsentrasi sedimen menurun, sedangkan pada saat surnt kecepatan aliran meningkat sehingga terjadi peningkatan konsentrasi sedimen tersuspensi yang terbawa dari arah hulu. Secara keselurnhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa sedimentasi yang dipengaruhi oleh pasang smut berperan penting dalam menurnnkan kapasitas Sungai Siak dan meningkatkan risiko banjir di Kota Pekanbaru. Oleh karena itu, pengelolaan banjir perlu dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek hidrologi, hidraulika, pasang surut, serta pengendalian sedimentasi secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Firmana Siddik
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Sedimentologi

ANALISIS VARIABILITAS MUSIMAN FLUKS CO2 DAN ESTIMASI KARBON PADA EKOSISTEM LAMUN DI PERAIRAN JEPARA DAN KARIMUNJAWA

Peranan perairan tropis termasuk Indonesia sebagai CO2 source menjadi perhatian penting untuk memahami apakah lautan Indonesia berkontribusi terhadap pelepasan CO2 ke atmosfer. Walaupun begitu, pelepasan CO2 pada perairan dangkal lebih rendah dibandingkan dengan laut lepas. Hal tersebut dikarenakan pada perairan dangkal terdapat ekosistem karbon biru yang salah satunya adalah padang lamun/seagrass meadows. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan padang lamun dalam menyimpan organic carbon stock seagrass (OCS-SG) maupun organic carbon stock sediment (OCS-S) serta fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa; mengkaji pola harian fluks CO2; menganalisis faktor dominan dalam pengendapan OCS dan nilai fluks CO2; serta melakukan pemodelan hidrodinamika dan biogeokimia perairan menggunakan Massachusetts Institute of Technology general circulation model (MITgcm). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data observasi dan data model. Pengambilan data observasi dilakukan pada musim timur (Agustus 2022) dan barat (Februari 2023) menggunakan metode systematic sampling di perairan Jepara (5 stasiun) dan Karimunjawa (7 stasiun). Analisis OCS-SG dan OCS-S menggunakan metode loss on ignition. Model biogeokimia dan fluks CO2 menggunakan MITgcm dengan periode simulasi 1 Januari 2022–31 Mei 2024. Uji statistik dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), one-way ANOVA, korelasi, dan nonmetric multidimensional scaling. Hasil observasi menunjukkan bahwa jenis lamun dengan OCS-SG tertinggi adalah Oceana serrulata (Jepara) dan Thalassia hemprichii (Karimunjawa). Tingginya OCS-S dan OCS-SG di perairan Jepara (49,6±2,0 dan 19,25±1,84 gCorg m?2 ) dibandingkan Karimunjawa (49,1±1,7 dan 8,98±0,47 gCorg m?2 ) memiliki keterkaitan dengan fluks CO2. Peranan perairan Jepara dan Karimunjawa sebagai CO2 source dengan nilai fluks CO2 musim timur dan barat di perairan Jepara lebih rendah (0,006±0,0006 dan 0,021±0,002 molC m?2 th?1 ) dibandingkan dengan Karimunjawa (0,052±0,003 dan 0,065±0,002 molC m?2 th?1 ). Tingginya fluks CO2 di Karimunjawa dikarenakan adanya tambahan source carbonate di stasiun mangrove yang dekat perairan padang lamun, kalsifikasi dari makroalga Padina pavonica, dan kalsifikasi dari calcareous epifit. Beberapa faktor lainnya turut meningkatkan fluks CO2 seperti suhu permukaan laut (SPL) dan koefisien transfer gas (kwa). Hasil analisis PCA menunjukkan variabel OCS-S dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berbeda tergantung pada lokasi perairan. Di perairan Jepara, OCS-S dominan dipengaruhi oleh dry bulk density (korelasi negatif: r = -0,814 dan p-value < 0,001) dan total suspended solid (korelasi positif: r = 0,811 dan p-value < 0,001). Di perairan Karimunjawa OCS-S lebih dipengaruhi oleh karakteristik biologis lamun, yaitu kerapatan lamun, above-ground biomass dan below ground biomass dengan korelasi sebesar 0,572; 0,569; dan 0,482 dengan p-value < 0,001. Walaupun kedua perairan berperan sebagai CO2 source, stasiun vegetated memiliki nilai fluks CO2 yang lebih rendah dibandingkan stasiun unvegetated. Hal tersebut menunjukkan bahwa lamun memiliki peranan dalam menyerap dan mengurangi karbon anorganik perairan. Hasil analisis PCA menunjukkan fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa saat musim timur dan barat memiliki korelasi positif sangat kuat signifikan dengan kwa. Selain kwa, variabel pCO2sea dan ?pCO2 berkorelasi positif kuat signifikan dan SPL negatif kuat signifikan. Hasil pemodelan MITgcm menunjukkan bahwa nilai fluks CO2 pada daerah studi bervariasi terhadap musim dengan fluks CO2 tertinggi pada musim timur (0,208±0,079 molC m–2 th–1 ) dan terendah pada musim barat (0,016±0,133 molC m–2 th–1 ). Hasil model mampu menjelaskan tingginya fluks CO2 di Karimujawa yang diakibatkan oleh konsentrasi dissolved inorganic carbon yang lebih tinggi dari tambahan source carbonate. Variabilitas biogeokimia dan fluks CO2 di wilayah studi ini dipengaruhi oleh faktor musiman, yaitu perubahan arah arus, kecepatan angin, SPL, dan salinitas secara musiman. Pada musim barat dengan kecepatan angin menguat sehingga terjadi pelemahan stratifikasi bahkan tidak terdapat kedalaman mixed layer depth artinya tidak terdapat stratifikasi yang menyebabkan terjadinya percampuran massa air secara vertikal dari perairan dalam ke permukaan yang menyebabkan terjadinya penurunan suhu perairan, peningkatan nutrien (PO4 tinggi) dan peningkatan produksi fitoplankton ditandai dengan Dissolved Oxygen Phosphate (DOP) dan Dissolved Oxygen (DO) yang tinggi. Sementara itu, pada musim timur dengan kecepatan angin melemah tidak mampu untuk melakukan pencampuran vertikal sehingga terjadi peningkatan suhu perairan, terhambatnya masukan nutrisi secara vertikal ke lapisan mixed layer (fosfat rendah) yang mengakibatkan terjadi penurunan produksi fitoplankton (ditandai dengan DOP dan DO yang rendah). Sementara itu, variabilitas antartahunan (El Niño-Southern Oscillation) tidak memiliki pengaruh signifikan. Adapun kebaruan dari penelitian ini adalah diperolehnya kajian komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pengendapan OCS-SG dan OCS-S serta fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa menggunakan data observasi dan model MITgcm serta keterbatasan dalam pengambilan data observasi dapat terjelaskan dari hasil model MITgcm.

2026
👤 Penulis: Nurul Latifah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

METODE JOB HAZARD ANALYSIS DAN WHAT-IF/CHECKLIST UNTUK IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PEMBANGUNAN ASRAMA GEDUNG C DAN D INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Pada pembangunan asrama gedung C dan D ITB oleh PT X, banyak pekerja tidak menggunakan APD serta banyaknya tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang menyebabkan kecelakaan pada proyek. PT X tidak melakukan identifikasi bahaya dan analisis risko secara terstruktur sehingga akan banyak potensi bahaya terlewatkan dan menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menganalisis risiko, menentukan metode identifikasi bahaya terbaik dan sensitif dalam menentukan skor risiko, menentukan pekerjaan dengan skor risiko tertinggi, dan merekomendasikan tindakan pengendalian. Metode untuk mengidentifikasi bahaya adalah Job Hazard Analysis (JHA) dan What-If/Checklist. Pemilihan metode identifikasi bahaya terbaik menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini adalah bahaya yang didapat dengan JHA adalah bahaya kimia, api/panas, cahaya/sinar las, bising, gerakan, gesekan/kontak dengan alat, listrik, kinetik, getaran, dan tertimpa/terjatuh. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah bahaya gravitasi, gerakan, mekanikal/kinetik, elektrikal, tekanan, temperatur, kimia, radiasi, suara, kontak fisik dengan alat, dan kondisi tidak aman. Risiko bahaya tertinggi metode JHA adalah paparan bising pada pekerja dan pekerja dapat terjatuh dari lantai atap. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah susunan bata ringan terjatuh mengenai pekerja dan susunan keramik terjatuh mengenai pekerja (pengangkutan dengan crane). Dari hasil AHP, What-If/Checklist merupakan metode identifikasi bahaya terbaik untuk PT X. Dari skor total risiko secara keseluruhan, metode What-If/Checklist merupakan metode yang paling sensitif dalam penentuan skor risiko. Pekerjaan dengan skor risiko tertinggi secara keseluruhan pada metode What-If/Checklist dan JHA adalah pekerjaan struktur lantai. Tindakan pengendalian risiko dilakukan pada skor risiko proyek yang termasuk dalam tingkatan risiko very high, priority 1, dan substantial.

2026
👤 Penulis: Cretaceous Fadhal Bamahry
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 187 dari 6754
💬