📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenMENINGKATKAN INTEGRASI PLTS DAN KEANDALAN JARINGAN LISTRIK DI PT OEC MENGGUNAKAN ANALISIS KEPNER–TREGOE DAN PROSES HIERARKI ANALITIK
Integrasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar ke dalam sistem listrik industri memberikan peluang pengurangan konsumsi bahan bakar dan pencapaian target dekarbonisasi, namun juga menimbulkan risiko operasional ketika fleksibilitas sistem terbatas. Setelah implementasi portofolio PLTS sebesar ±25 MWp, PT OEC menghadapi dua tantangan utama, yaitu realisasi nilai energi PLTS yang belum optimal serta meningkatnya risiko ketidakstabilan frekuensi sistem, termasuk kejadian under-frequency load shedding (UFLS) tanpa trip pembangkit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi akar permasalahan tersebut dan menentukan kombinasi solusi operasional dan investasi yang paling efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data operasional PLTS dan sistem frekuensi periode Januari–Juni 2025 dianalisis, mencakup produksi energi, ramp-rate PLTS, deviasi frekuensi, serta catatan gangguan sistem. Hasil benchmarking menunjukkan bahwa specific yield PLTS PT OEC berada pada kisaran normal tropis (±3,1–3,9 kWh/kWp/hari), namun sekitar 5–15% lebih rendah dibandingkan benchmark sistem sebanding, yang mengindikasikan peluang optimasi nilai, bukan kegagalan teknis. Kejadian gangguan frekuensi utama dianalisis menggunakan metode Kepner–Tregoe (KT) untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara sistematis. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab utama ketidakstabilan frekuensi adalah keterbatasan spinning reserve efektif dan ketiadaan respon cepat pada kondisi variabilitas PLTS tinggi, terutama saat tingkat inersia sistem rendah. Variabilitas PLTS berperan sebagai pemicu gangguan, bukan sebagai akar penyebab utama. Alternatif solusi dievaluasi menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) dan dilengkapi analisis sensitivitas. Battery Energy Storage System (BESS) muncul sebagai solusi jangka panjang paling andal ketika keandalan sistem menjadi prioritas, sementara solusi operasional seperti koordinasi PV–GT dan optimasi spinning reserve efektif sebagai mitigasi risiko jangka pendek. Penelitian ini mengusulkan strategi implementasi bertahap untuk menyeimbangkan risiko operasional, kesiapan sistem, dan nilai investasi jangka panjang.
THERMODYNAMIC AND ECONOMIC ASSESSMENT OF SILICA DEPOSITION MITIGATION METHODS AND BOTTOMING CYCLE INTEGRATION IN GEOTHERMAL POWER PLANT: CASE STUDY UNIT I DIENG PAD #A
Abstrak bisa dilihat di filenya
PENILAIAN KUANTITATIF TEKTONIK BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAN RESPON GEOMORFIK VULKANIK-TEKTONIK DAS CIMANUK, JAWA BARAT
DAS Cimanuk di Jawa Barat, Indonesia, merupakan wilayah morfotektonik yang kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara vulkanisme aktif di selatan dan struktur geologi di utara. Memahami variasi spasial aktivitas tektonik di lingkungan vulkanik-tektonik ini sangat penting untuk merekonstruksi evolusi geomorfik wilayah tersebut dan menilai bahaya tektonik aktif. Evaluasi tektonik aktif dilakukan pada drainase yang diturunkan dari DEM dan indeks geomorfik dengan total 69 Sub-DAS. Studi ini bertujuan untuk mengukur aktivitas tektonik relatif di DAS Cimanuk dengan mengintegrasikan beberapa indeks geomorfik: Hipsometri Integral (HI), Indeks Gradien Panjang Aliran (SL), Rasio Lebar Dasar Lembah terhadap Tinggi Lembah (Vf), Indeks Bentuk Daerah Aliran Sungai (Bs), dan Faktor Asimetri (Af) menjadi Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) komposit. Rata-rata dari lima indeks geomorfik yang diukur digunakan untuk mengevaluasi distribusi aktivitas tektonik relatif di wilayah studi. Empat kelas digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat aktivitas tektonik relatif, yaitu kelas 1 dengan nilai 1,60–1,95 aktivitas tektonik sangat tinggi; kelas 2 dengan 1,96–2,30 aktivitas tektonik tinggi; kelas 3 dengan 2,31–2,65 aktivitas tektonik sedang; serta kelas 4 dengan 2,66–3,00 aktivitas tektonik rendah. Hubungan antara nilai Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) dan indeks geomorfik menunjukkan perbedaan respon geomorfologi yang jelas antara domain tektonik dan vulkanik di DAS Cimanuk. Domain tektonik dicirikan oleh kombinasi nilai SL tinggi, Vf rendah, Bs memanjang, dan Af tinggi yang merefleksikan pengangkatan diferensial serta pengaruh struktur terhadap sistem aliran sungai, sedangkan domain vulkanik menunjukkan nilai IATR yang lebih rendah akibat dominasi proses vulkanik, seperti pola drainase radial dan litologi piroklastik muda. Hasil ini menegaskan bahwa interpretasi IATR perlu mempertimbangkan mekanisme geomorfik yang berbeda antara proses tektonik dan vulkanik yang bekerja secara bersamaan. Integrasi data morfometri dan geologi menegaskan bahwa DAS Cimanuk merupakan bentang alam yang mengalami deformasi aktif, dibentuk oleh vulkanik dan tektonik kompresional regional. Hasil pada area vulkanik memiliki hasil yang bias, dan perlu untuk konfirmasi secara cek lapangan atau analisis dari parameter lain.
PENINGKATAN PRODUKSI KONTEN DIGITAL UNTUK UKM : PENDEKATAN DESIGN SCIENCE UNTUK PENGEMBANGAN ALUR KERJA TERINTEGRASI AI
Penelitian ini mengkaji perancangan ulang workflow produksi konten Instagram yang terintegrasi AI untuk meningkatkan kecepatan, konsistensi, dan keandalan layanan bagi klien SME di Pallas Creative, sebuah agensi digital marketing. Seiring meningkatnya ketergantungan SME pada Instagram untuk membangun awareness dan mendorong penjualan, agensi dituntut untuk menghasilkan konten secara tepat waktu dan konsisten. Namun, tantangan operasional seperti brief yang kurang jelas, revisi berulang, dan koordinasi yang terfragmentasi sering memicu keterlambatan, rework, serta lead time yang tidak stabil. Karena itu, penelitian ini menyoroti masalah utama yaitu bagaimana workflow produksi konten berbasis AI dapat dirancang dan diimplementasikan untuk mengurangi inefisiensi tanpa mengorbankan kualitas konten dan kepuasan klien dalam konteks agensi dan SME. Konteks penelitian ini menegaskan kebutuhan akan tata kelola workflow yang lebih terstruktur pada lingkungan media sosial yang dinamis, di mana momentum konten, responsivitas, dan disiplin operasional sama pentingnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Design Science Research yang didukung oleh Business Process Management. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan pihak internal yang terlibat dalam operasional produksi konten serta perwakilan klien SME, serta dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi internal. Workflow eksisting dipetakan menggunakan BPMN untuk mengidentifikasi bottleneck dan loop revisi, sedangkan analisis tematik dan root cause analysis digunakan untuk menyusun temuan, termasuk pengelompokan menggunakan lensa Technology Organization Environment. Temuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan desain dan prinsip perancangan untuk membangun artefak workflow usulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inefisiensi bersifat sistemik dan terutama dipengaruhi oleh keselarasan tahap awal yang lemah, termasuk ketidakjelasan brief dan ketidaksiapan aset, siklus approval dan revisi yang panjang dengan feedback yang terfragmentasi, keterbatasan tracking dan kontrol versi antar tools, serta bottleneck operasional akibat ketergantungan peran dan tingginya permintaan mendadak. Berdasarkan temuan tersebut, workflow berbasis AI yang diusulkan mencakup brief readiness gate, tata kelola revisi dan approval yang lebih jelas melalui single gate approval dan feedback terstruktur, tracking dan versioning terpusat sebagai single source of truth, alur produksi dual lane untuk konten planned dan momentum, serta dukungan AI dengan pendekatan human in the loop untuk pengembangan brief, ideasi, drafting, dan quality check. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan blueprint workflow praktis yang membantu agensi yang melayani SME menurunkan lead time dan rework sekaligus menjaga konsistensi serta keandalan layanan.
USULAN STRATEGI INOVASI UNTUK PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN DI JNE 093 PULO GEBANG INDAH MENGGUNAKAN DIMENSI SERVQUAL DAN IMPORTANCE-PERFORMANCE ANALYSIS
Pertumbuhan sektor e-commerce yang pesat telah berdampak terhadap sejumlah sektor pendukung yang turut mengalami perkembangan. Salah satunya yaitu perusahaan logistik yang berperan besar sebagai penopang utama dalam mendukung proses pengiriman di dalam sektor e-commerce. Dengan banyaknya kompetitor di sektor logistik, perusahaan tersebut harus bersaing secara ketat dalam memberikan pelayanan terbaik mereka kepada pelanggan. Saat ini, JNE 093 Pulo Gebang Indah yang merupakan perusahaan agen jasa pengiriman logistik sedang mengalami penurunan jumlah pelanggan dan pendapatan. Salah satu faktor yang berperan besar terhadap penurunan tersebut yaitu kualitas pelayanan. Namun, JNE 093 Pulo Gebang Indah belum pernah melakukan survey customer feedback terhadap kualitas pelayanannya, sehingga perusahaan tersebut tidak dapat mengetahui kualitas pelayanan apa saja yang harus diperbaiki. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi dan ekspektasi pelanggan terhadap kualitas pelayanan di JNE 093 Pulo Gebang Indah serta memberikan rekomendasi perbaikan terhadap kualitas pelayanannya. Penelitian ini menggunakan mixed method dengan cara melakukan penelitian kuantitatif menggunakan survei kuesioner. Ukuran sampel untuk survei tersebut sebesar 100 responden yang merupakan pelanggan JNE 093 Pulo Gebang Indah. Selanjutnya, penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan survey yang berbentuk pertanyaan terbuka untuk pelanggan serta wawancara semi terstruktur bersama owner JNE 093 Pulo Gebang Indah dan expert. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelanggan memiliki persepsi dan ekspektasi yang positif terhadap kualitas pelayanan di JNE 093 Pulo Gebang Indah. Akan tetapi, terdapat beberapa indikator pelayanan yang memiliki nilai kesenjangan negatif. kesenjangan tersebut menunjukan bahwa pelayanan yang dipersepsikan oleh pelanggan tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Kesenjangan tersebut menjadi landasan utama dalam mengidentifikasi kuadran pertama dari matriks IPA serta memberikan rekomendasi terhadap peningkatan kualitas pelayanan yang dikelompokan berdasarkan Doblin’s types of innovation.
MENGAPA PELANGGAN MENINGGALKAN KERANJANG BELANJA ONLINE: SEBUAH STUDI TENTANG PERILAKU KONSUMEN DI SHOPEE
Penelitian ini bertujuan mengungkap alasan pengabaian keranjang belanja konsumen pada platform Shopee. Studi akan dilakukan kepada pengguna Shopee untuk melihat perspektif mereka alasan mengapa melakukan pengabaian keranjang belanja. Menggunakan atribut variabel sensitvitas harga, keadilan harga, perbandingan harga, dan nilai yang dirasakan untuk dilihat pengaruhnya pada potensi peningkatan pengabaian keranjang belanja. Desain studi menggunakan metode campuran dari data kuantitatif dan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data survey. Analisis yang digunakan menggunakan adalah statistik deskriptif, regresi linier berganda, dan didukung dengan analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan elemen keadilan harga dan perbandingan harga memiliki pengaruh pada tingkat pengabaian ekranjang belanja. Di sisi lain, sensitivitas harga dan nilai yang dirasakan tidak memberikan pengaruh langsung pada tingkat pengabaian ekranjang belanja. Temuan ini menyimpulkan bahwa, bagi konsumen pengguna Shopee memiliki alasan pengabaian keranjang belanja karena mempertimbangkan perbandingan harga sebelum memiliki keputusan transaksi aktual. Keadilan harga yang perlu mempertimbangkan ekwajaran harga transaksi aktual juga menjadi pertimbangan bagaimana niat keputusan pembelian dilakukan secara rasional.
PERUMUSAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL UNTUK MENGATASI TANTANGAN VISIBILITAS PASAR PADA PERUSAHAAN JASA B2B TEREGULASI: STUDI KASUS PT SURYA CIPTA WISESA
Dalam pengadaan B2B saat ini, kehadiran digital telah bergeser dari aktivitas opsional menjadi mekanisme dasar untuk verifikasi legitimasi dan penyaringan pemasok tahap awal, khususnya pada industri dengan kepatuhan regulasi tinggi ketika pembeli mengandalkan informasi digital yang mudah diakses untuk menurunkan persepsi risiko. Penelitian ini mengkaji bagaimana ketiadaan kapabilitas pemasaran digital yang terstruktur membatasi visibilitas pasar pada perusahaan jasa B2B teregulasi, dengan tujuan merumuskan strategi pemasaran digital yang layak dan selaras dengan kapasitas organisasi serta batasan regulasi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus tunggal dengan pendekatan kualitatif, eksploratif, dan interpretatif yang berfokus pada PT Surya Cipta Wisesa, perusahaan jasa transportasi limbah B3 yang didirikan pada tahun 2007 dan telah beroperasi selama lebih dari satu dekade di Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan lima informan, terdiri dari dua pemangku kepentingan internal dan tiga profesional sisi pembeli yang terlibat dalam penyaringan vendor berbasis kepatuhan, serta dilengkapi audit digital pesaing dan telaah dokumen organisasi. Analisis tematik yang mengintegrasikan pengodean deduktif berbasis Resource-Based View, Teori Sinyal, dan kerangka Bain’s B2B Elements of Value, serta identifikasi pola induktif, menunjukkan bahwa tantangan utama perusahaan bukan pada kekurangan operasional, melainkan pada kesenjangan sinyal legitimasi: izin regulasi dan kapabilitas operasional yang bernilai tidak terobservasi secara digital pada tahap penyaringan awal, sehingga memicu eksklusi diam-diam dari daftar kandidat sebelum evaluasi formal dilakukan. Penelitian ini mengusulkan strategi pemasaran digital bertahap dengan pendekatan legitimacy-first yang menekankan infrastruktur minimum yang memadai, serta menawarkan kerangka kerja yang sensitif konteks dan relevan bagi UKM di lingkungan B2B teregulasi pada pasar negara berkembang.
PERAN GUERRILLA MARKETING, CITRA MEREK, DAN KESADARAN MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN: STUDI KASUS PADA LUXXE STUDIO
Luxxe Studio adalah merek fashion premium yang beroperasi terutama secara daring, berbasis di Indonesia, dan didirikan pada tahun 2019 dan berfokus pada pembuatan pakaian modern khusus untuk wanita muda berusia 18–35 tahun. Secara utama, Luxxe Studio menggunakan Instagram dan Shopee sebagai platform utama untuk melakukan aktivitas daring. Luxxe Studio telah menerima perhatian khusus di platform digitalnya dengan peningkatan jumlah pengikut Instagram yang meningkat dari 470.000 pada Januari 2025 menjadi 561.000 pada September 2025. Rata-rata, dalam pesanan bulanan, jumlahnya cenderung stabil sekitar 450 pembelian. Meskipun banyak konten memiliki jumlah tayangan dan berbagi yang tinggi, hal ini tidak sejalan dengan peningkatan dalam pembelian yang sebenarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemasaran gerilya, citra merek, dan kesadaran merek; strategi yang digunakan oleh Luxxe Studio dipersepsikan oleh pelanggan dan apakah hal tersebut memiliki peran penting di akhir perjalanan konsumen, yang menunjukkan keputusan untuk melakukan pembelian. Guerrilla marketing, yang didefinisikan sebagai pendekatan promosi berbiaya rendah namun sangat kreatif yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen dan menghasilkan word-of-mouth yang kuat, dimasukkan sebagai salah satu variabel utama dalam penelitian ini. Penelitian ini mengkaji hubungan antara Pemasaran Gerilya dan keputusan pembelian serta menggunakan pendekatan kuantitatif dengan mempertimbangkan peran Kesadaran Merek dan Citra Merek dalam mempengaruhi hubungan ini. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan kemudian dianalisis menggunakan metode statistik Partial Least Squares dari Structural Equation Modelling (PLS-SEM). Dengan menggunakan analisis PLS-SEM, semua jalur struktural terbukti signifikan, yang merupakan petunjuk bahwa model konseptual yang diusulkan memiliki kekuatan yang baik. Rekomendasi dari penelitian ini adalah: Membangun Citra Merek Mewah yang Kuat dan Kredibel yang Memenuhi Preferensi Konsumen Muda Perkotaan, Menciptakan Pengalaman Pembelian Mewah yang Jelas dan Menyenangkan yang Disesuaikan untuk Pembeli Digital-Native, serta Memanfaatkan Pemasaran Gerilya untuk Meningkatkan Kesadaran Merek dan Keinginan di Kalangan Dewasa Muda yang Berfokus pada Tren.
ANALISIS VALUASI EKONOMI JASA EKOSISTEM PENYERBUKAN DAN STRATEGI PENERAPAN PENYERBUKAN TERKELOLA MEMANFAATKAN KOLONI LEBAH TANPA SENGAT (TETRAGONULA LAEVICEPS) PADA SISTEM PERTANIAN BERBASIS TANAMAN BUDIDAYA: STUDI DI PROVINSI JAWA BARAT
Penyerbukan melalui perantaraan serangga merupakan jasa ekosistem yang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Namun, penurunan populasi polinator akibat intensifikasi pertanian, perubahan penggunaan lahan, dan penggunaan pestisida menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan produksi tanaman perkebunan dan hortikultura. Terdapat masalah dalam kuantifikasi nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan pada tanaman perkebunan dan hortikultura. Begitu pula masalah bagaimana menganalisis potensi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah tanpa sengat (Tetragonula laeviceps) di Jawa Barat. Jawaban terhadap masalah tersebut dapat dijadikan dasar pengembangan strategi mengantisipasi fenomena gangguan terhadap jasa ekosistem penyerbukan. Maka dari itu, Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan serangga berdasarkan pendekatan produksi melalui perhitungan Economic Value of Insect Pollination (EVIP) pada komoditas perkebunan dan hortikultura, menganalisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah T. laeviceps dengan perbandingan parameter Revenue - Cost Ratio (R/C) tiap komoditas perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat, serta merumuskan strategi pengelolaan menggunakan analisis SWOT dan model bisnis penyerbukan terkelola yang sesuai dengan kondisi regional menggunakan Business Model Canvas (BMC). Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai EVIP sebesar Rp 51,88 juta/hektar/tahun atau setara 14,35% dari total produksi perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat. Hasil analisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni T. laeviceps menunjukkan peningkatan rata-rata nilai R/C sebesar 31,21%. Pada komoditas dengan Dependency Ratio (D) sedang hingga esensial (0,65–0,95), seperti melon (D = 0,95; ?R/C = 3,81); semangka (D = 0,95; ?R/C = 1,41); alpukat (D = 0,65; ?R/C = 1,35); labu siam (D = 0,65; ?R/C = 1,34); jambu biji (D = 0,65; ?R/C = 1,24); mangga (D = 0,65; ?R/C = 1,24); durian (D = 0,65; ?R/C = 1,15); buah naga (D = 0,65; ?R/C = 1,03); ketimun (D = 0,65; ?R/C = 0,88); dan tomat (D = 0,65; ?R/C = 0,92), mengalami perubahan status kelayakan ekonomi dari tidak efisien (R/C < 1) menjadi efisien (R/C > 1) setelah penerapan penyerbukan terkelola. Penerapan penyerbukan terkelola menunjukkan peningkatan nilai R/C pada komoditas lain seperti sawo (D = 0,65; ?R/C = 1,94); stroberi (D = 0,25; ?R/C = 0,34); dan paprika (D = 0,05; ?R/C = 0,11). Adapun pada komoditas dengan ketergantungan terhadap serangga polinator yang lebih rendah (D = 0,05-0,25) cenderung mengalami penurunan R/C seperti pada jeruk bali (D = 0,05; ?R/C = -1,79); kelapa (D = 0,25; ?R/C = -1,58); dan kelapa sawit (D = 0,05; ?R/C = -1,09). Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan kelayakan ekonomi (?R/C) memiliki hubungan positif dengan tingkat ketergantungan tanaman terhadap polinator. Hasil analisis matriks IE menunjukkan bahwa kondisi eksternal dan internal penerapan penyerbukan terkelola berada pada Sel V, dengan skor IFE sebesar 2,52 dan skor EFE sebesar 2,43, sehingga arah pengembangan yang direkomendasikan adalah hold and maintain. Alternatif strategi dari analisis SWOT diimplementasikan ke dalam model BMC menempatkan petani hortikultura dan perkebunan skala kecil hingga menengah, khususnya yang menerapkan sistem pertanian organik dan greenhouse, sebagai segmen pelanggan utama. Proposisi nilai yang ditawarkan meliputi efisiensi penyerbukan, pengurangan kebutuhan penyerbukan manual, potensi peningkatan kualitas hasil panen, serta kesesuaian dengan prinsip pertanian ramah lingkungan. Sumber pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan atau sewa koloni, tetapi juga dari jasa pelatihan, pendampingan, serta produk turunan lebah, dengan dukungan kemitraan antara kelompok tani, kelompok tani hutan, pemerintah, dan akademisi.
PEMANFAATAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK PADA AGENSI KREATIF: STUDI KASUS ALICYART STUDIO, JAKARTA
Studi ini menganalisis penggunaan strategis pemasaran digital untuk meningkatkan kesadaran merek di agensi kreatif, dengan menggunakan Alicyart Studio, sebuah agensi kreatif berbasis di Jakarta, sebagai studi kasus. Pergeseran cepat dari pemasaran tradisional ke platform digital, terutama media sosial, telah memperketat persaingan di industri kreatif. Alicyart Studio mengalami kesadaran merek yang rendah pada tahun 2024 diakibatkan karena penerbitan konten yang tidak konsisten, iklan digital berbayar yang tidak efektif, dan kurangnya komunikasi pemasaran yang terstruktur. Kondisi ini membatasi kemampuannya untuk menarik klien baru dan melemahkan posisinya dalam pasar agensi kreatif di Jakarta. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi strategi pemasaran digital yang efektif yang dapat secara sistematis meningkatkan kesadaran merek bagi agensi kreatif kecil. Tujuan utama studi ini adalah menganalisis bagaimana Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC), iklan digital berbayar, dan strategi pilar konten Instagram dapat diterapkan secara strategis untuk meningkatkan visibilitas, kesadaran merek, dan/atau minat dan tindakan audiens. Pendekatan penelitian campuran (mixed method) yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini, ditambah dengan penelitian quasi-eksperimental. Studi ini mengadopsi pendekatan (pre- dan post-) dengan membandingkan periode pra-perlakuan (baseline) dan pasca-perlakuan menggunakan akun Instagram Alicyart Studio sebagai unit pengamatan utama. Pada periode pasca-intervensi menerapkan intervensi pemasaran digital terstruktur selama empat minggu. Intervensi ini meliputi penerapan kerangka kerja 6M IMC, iklan digital berbayar melalui Meta Ads Manager, dan strategi pilar konten Instagram yang terstruktur berdasarkan empat pilar konten: fungsional, emosional, edukatif, dan fleksibel. Data kuantitatif dikumpulkan melalui Instagram Insights dan survei secara online yang melibatkan 150 dan 113 responden, yang didistribusikan sebelum dan setelah periode percobaan. Indikator kinerja utama yang diukur meliputi reach, engagement rate, follower growth, and profile visits. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan peserta terpilih yang terdiri dari klien yang ada, pengikut, dan calon klien. Data wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengeksplorasi persepsi audiens, preferensi konten, serta perubahan dalam kredibilitas dan profesionalisme merek setelah implementasi perawatan. Temuan menunjukkan bahwa implementasi strategi pemasaran digital yang terstruktur berhasil meningkatkan visibilitas online dan keterlibatan audiens Alicyart Studio. Metrik reach dan engagement meningkat selama periode pasca-perawatan, menunjukkan efektivitas iklan digital berbayar ketika dikombinasikan dengan pesan yang konsisten dan perencanaan konten. Pilar konten emosional dan fungsional menunjukkan daya ingat yang lebih kuat dan nilai yang dirasakan di antara responden, sementara konten edukatif berkontribusi positif terhadap keterampilan dan pengetahuan. Konten agile menghasilkan perhatian jangka pendek tetapi menunjukkan tingkat daya ingat yang lebih rendah. Temuan kualitatif lebih lanjut mengungkapkan bahwa konsistensi posting yang meningkat dan presentasi profesional meningkatkan persepsi kredibilitas dan kepercayaan. Penelitian ini berkontribusi pada literatur pemasaran digital dengan menyediakan bukti tentang bagaimana IMC, pengujian pilar konten, dan iklan digital berbayar dapat diintegrasikan secara efektif dalam agensi kreatif kecil. Secara praktis, studi ini menawarkan wawasan yang dapat diterapkan dan kerangka kerja implementasi terstruktur yang dapat direplikasi oleh agensi kreatif serupa di Jakarta yang ingin meningkatkan kesadaran merek dengan sumber daya terbatas. Temuan ini menyoroti pentingnya perencanaan strategis, pengukuran, dan konsistensi dalam memanfaatkan pemasaran digital sebagai alat pembangunan merek jangka panjang daripada sekadar aktivitas taktis.
PERANCANGAN DASBOR BUSINESS INTELLIGENCE UNTUK MANAJEMEN PERSEDIAAN BERBASIS PERMINTAAN: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DISTRIBUTOR FARMASI MEDIKLUG
Karakteristik distribusi farmasi adalah variasi produk yang sangat beragam dan permintaan produk yang bervariasi bergantung pada pelanggan, sehingga sangat penting untuk memastikan persediaan berada di tempat dan waktu yang tepat agar operasional berjalan efektif. Hal ini dikarenakan keputusan persediaan yang tidak tepat dan tidak mencerminkan penggunaan aktual produk dan layanan oleh pelanggan biasanya mengakibatkan kekosongan stok (stock-outs) pada barang dengan permintaan tinggi, kelebihan stok pada barang dengan permintaan rendah, tingginya hari persediaan (days on inventory), serta penurunan pendapatan. Kondisi ini terutama terjadi ketika organisasi memiliki informasi permintaan yang ekstensif namun tidak memanfaatkannya dalam pengambilan keputusan persediaan. Mediklug adalah perusahaan teknologi kesehatan yang memiliki unit distribusi farmasi dan sistem Rekam Medis Elektronik (RME), yang sedang menghadapi penurunan pendapatan pada periode Juli-September 2025 meskipun memiliki data konsumsi di tingkat klinik. Penelitian ini didasarkan pada masalah kurangnya visibilitas permintaan dalam manajemen persediaan melalui teori Rantai Pasok Berbasis Permintaan (Demand-Driven Supply Chain atau DDSC) yang berfokus pada sinyal permintaan pelanggan yang nyata sebagai dasar keputusan pasokan. Teori Business Intelligence (BI) diterapkan untuk mengoperasionalisasikan data permintaan menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti. Tujuan penelitian ini mencakup analisis ketidaksesuaian antara permintaan dan persediaan, pembuatan intervensi dasbor berbasis BI untuk pengambilan keputusan persediaan, serta penilaian penerimaan solusi yang diusulkan oleh para pemangku kepentingan. Metode studi kasus campuran (mixed-methods) digunakan dalam penelitian ini. Analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dari data konsumsi dan inventaris selama tiga bulan dan menstandarisasi nama produk teks bebas EMR ke penamaan produk inventaris internal. Data kualitatif dikumpulkan menggunakan survei dan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan operasional. Temuan menunjukkan bahwa kesenjangan antara permintaan dan persediaan terjadi secara konstan, dan dasbor BI yang diusulkan mampu meningkatkan visibilitas permintaan serta memfasilitasi pengambilan keputusan. Dasbor tersebut dipersepsikan oleh pemangku kepentingan sebagai solusi yang berguna, layak diterapkan, dan dapat ditindaklanjuti. Penelitian ini bernilai karena mengilustrasikan fasilitasi praktis prinsip-prinsip DDSC dalam distribusi farmasi dengan bantuan BI.
DESAIN PLATFORM PERANTARA DIGITAL UNTUK MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI USAHA MIKRO PADA KONSER K-POP DI INDONESIA DENGAN MEMFASILITASI KOORDINASI DAN MENINGKATKAN KEPERCAYAAN
Pertumbuhan pesat industri K-pop di Indonesia telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar K-pop terbesar. Hal ini tercermin dari kuatnya penetrasi budaya K-pop di kalangan generasi muda di Indonesia yang terlihat dari tingginya tingkat pengeluaran penggemar untuk konser serta berbagai layanan pendukung lainnya. Permintaan yang ada mendorong munculnya usaha mikro di lingkungan konser yang menawarkan berbagai jasa seperti akomodasi, jasa tata rias, dan penyewaan peralatan terkait konser. Studi ini menunjukkan bahwa ketiadaan standarisasi prosedur layanan dan mekanisme untuk meningkatkan rasa kepercayaan dalam ekosistem layanan informal meningkatkan rasa ketidakpastian dan menghambat kualitas layanan bagi penyedia maupun pelanggan. Oleh karena kondisi tersebut, studi ini merekomendasikan pengembangan platform perantara dalam mengurangi permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan exploratory sequential mixed method. Tahap awal penelitian menggunakan fase kualitatif melalui wawancara terhadap 24 partisipan dari kalangan pelanggan dan penyedia untuk mengeksplorasi perilaku, motivasi, dan tantangan operasional dalam setiap interaksi di dalam ekosistem. Data pada tahap ini dianalisis menggunakan Customer Journey Map dan Empathy Map untuk menilai kondisi ekosistem serta mengidentifikasi permasalahan yang menghambat pertumbuhan industri. Selain itu, Doblin’s Ten Types of Innovation digunakan untuk mengkonseptualisasikan strategi inovasi yang dapat diimplementasikan. Selanjutnya, fase kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 150 pelanggan untuk memvalidasi inovasi agar sesuai dengan ekspektasi pengguna secara keseluruhan. Pada tahap ini, Value Proposition Canvas digunakan untuk menilai kesesuaian solusi dengan ekspektasi pelanggan, sementara Lean Canvas dilakukan untuk menerjemahkan konsep menjadi nilai yang dapat diberikan kepada setiap stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standarisasi prosedur layanan dan inovasi yang meningkatkan rasa kepercayaan dapat mengurangi permasalahan yang ada dan membantu profitabilitas jangka panjang yang ditunjukkan melalui Minimum Viable Product. Hal ini diperkuat oleh trust-oriented design factors dan benchmarking analysis untuk memperjelas posisi solusi platform saat ini dalam menjawab permasalahan dan mengarahkan platform menuju pengembangan yang selanjutnya. Studi ini menunjukkan peran platform perantara yang dapat mentransformasi interaksi informal pada eksosistem usaha mikro menjadi lebih terstruktur dan akuntabel.
FORMULASI STRATEGI PEMASARAN EFEKTIF UNTUK WARUNG NASI AMBU RINI MELALUI OPTIMALISASI STP DAN MARKETING MIX (7P)
Penelitian ini mengkaji tantangan pemasaran yang dihadapi Warung Nasi & Sate Ambu Rini, sebuah restoran tradisional Sunda di Bandung dan mengembangkan strategi pemasaran komprehensif untuk mengatasi kesenjangan yang teridentifikasi. Meskipun memiliki kualitas produk yang kuat dan kepuasan pelanggan tinggi di kalangan pengunjung yang ada, warung ini kesulitan menerjemahkan kekuatan tersebut menjadi kesadaran pasar yang lebih luas dan akuisisi pelanggan baru. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan yang saling terkait: mengidentifikasi tantangan pemasaran utama, mengoptimalkan strategi Segmentasi-Targeting-Positioning (STP), dan merumuskan perbaikan Marketing Mix 7P. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus tunggal kualitatif dengan analisis tematik. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 16 responden dari empat kategori pemangku kepentingan (pemilik, karyawan, pelanggan saat ini, dan calon pelanggan) serta observasi non-partisipan selama enam jam. Data sekunder meliputi dokumentasi menu, analitik media sosial dari Instagram dan TikTok, data dashboard merchant GoFood, dan foto lingkungan fisik. Triangulasi data memastikan kredibilitas dan validitas temuan. Temuan utama mengungkapkan lima kesenjangan kritis yang membatasi jangkauan pasar: (1) kesenjangan kesadaran yang dibuktikan dengan nol pelanggan walk-in dan penurunan jangkauan media sosial (-64,1% selama 90 hari); (2) kesenjangan komunikasi positioning di mana branding profesional menciptakan ekspektasi harga lebih tinggi (Rp 35.000-45.000) dibandingkan harga aktual (mulai dari Rp 15.000); (3) kesenjangan channel delivery dengan GoFood menunjukkan nol transaksi dan banyak item signature berstatus nonaktif; (4) kesenjangan targeting dengan mahasiswa dan profesional muda yang kurang terlayani; dan (5) kesenjangan promosi dengan tingkat engagement Instagram hanya 0,32% dan tidak ada program referral terstruktur meskipun word-of-mouth yang kuat. Penelitian ini mengusulkan strategi positioning "Premium Feel, Everyday Price" dengan price anchoring eksplisit di semua touchpoint. Intervensi yang direkomendasikan memprioritaskan: (1) optimalisasi menu GoFood dengan mengaktifkan semua item signature; (2) kehadiran media sosial yang konsisten dengan konten yang mencantumkan harga (minimum 3 posting/minggu); (3) program referral terstruktur untuk memperkuat word-of-mouth; dan (4) pembaruan signage eksterior yang mengkomunikasikan keterjangkauan harga. Framework pengukuran berbasis SMART dengan pelacakan scorecard bulanan memastikan akuntabilitas implementasi. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana UMKM kuliner tradisional dapat menjembatani kesenjangan antara keunggulan produk dan kehadiran pasar melalui strategi pemasaran sistematis. Keterbatasan meliputi desain kasus tunggal dan cakupan formulasi strategi tanpa evaluasi pasca-implementasi. Penelitian selanjutnya dapat melakukan penilaian longitudinal terhadap efektivitas rekomendasi.
STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS UNTUK MENINGKATKAN JUMLAH PENGUNJUNG DI SPBU YANG MENGHADAPI GANGGUAN INDUSTRI
Industri SPBU di Indonesia sedang mengalami perubahan struktural yang didorong oleh kenaikan biaya operasional, tekanan regulasi, persaingan yang semakin ketat, dan tahap awal elektrifikasi mobilitas. SPBU di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta mengalami penyusutan margin keuntungan karena meningkatnya biaya operasional, sementara margin bahan bakar tetap diatur secara ketat. Di saat yang sama, pergeseran ekspektasi konsumen terhadap kualitas layanan yang lebih tinggi, peningkatan fasilitas, dan kemudahan digital semakin membentuk kembali lanskap persaingan. Dengan latar belakang ini, studi ini mengkaji dua pertanyaan penelitian utama: (1) Apa penyebab penurunan jumlah pengunjung di SPBU? dan (2) Bagaimana pemilik SPBU dapat meningkatkan margin keuntungan? Pertanyaan-pertanyaan ini dimotivasi oleh kebutuhan SPBU—terutama yang beroperasi di bawah jaringan Pertamina—untuk mendesain ulang model bisnis dan sistem operasional mereka agar tetap kompetitif dalam industri yang menghadapi disrupsi teknologi dan perilaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, yang mengintegrasikan wawancara kualitatif dengan manajer dan supervisor SPBU, survei pelanggan kuantitatif, dan alat analisis strategis. Studi ini menerapkan kerangka kerja analitis yang mencakup PESTEL, Lima Kekuatan Porter, Resource-Based View (RBV), analisis VRIO, analisis pelanggan, dan formulasi strategi SWOT–TOWS untuk menilai secara komprehensif lingkungan internal dan eksternal SPBU studi kasus (PT Duta Selatan Cemerlang). Wawancara memberikan wawasan tentang tantangan operasional, struktur biaya, dan kendala manajerial, sementara survei pelanggan menangkap preferensi pengguna terkait akurasi, kualitas layanan, kebersihan, kenyamanan, aksesibilitas, layanan digital, dan penawaran pelengkap. Temuan-temuan ini disintesis untuk mengidentifikasi akar penyebab erosi margin dan merumuskan rekomendasi strategis. Temuan menunjukkan bahwa penurunan jumlah pengunjung terutama disebabkan oleh kelemahan operasional internal dan ketidaksesuaian dengan ekspektasi pelanggan yang terus berkembang, bukan faktor harga bahan bakar. Kualitas layanan yang tidak konsisten, kebersihan dan kenyamanan fasilitas yang tidak memadai, disiplin operasional yang lemah, dan loyalitas pelanggan yang terbatas mengurangi kunjungan berulang. Secara eksternal, persaingan yang ketat, meningkatnya ekspektasi pelanggan, dan munculnya solusi mobilitas alternatif semakin memperkuat perilaku pelanggan yang beralih. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja perbaikan strategis yang mengintegrasikan keunggulan operasional dengan peningkatan model bisnis. Strategi jangka pendek menekankan perbaikan fasilitas, peningkatan kebersihan, peningkatan layanan, dan penerapan SOP standar untuk meningkatkan konsistensi di seluruh shift. Strategi jangka menengah berfokus pada sistem pemeliharaan preventif, pelatihan staf, dan optimalisasi manajemen antrean untuk meningkatkan throughput dan mengurangi waktu henti peralatan. Strategi jangka panjang melibatkan inisiatif pengembangan bisnis, termasuk perluasan ritel non-bahan bakar (NFR) seperti minimarket, kafe, layanan nitrogen, kios digital, dan layanan terkait kendaraan, yang menawarkan margin lebih tinggi daripada penjualan bahan bakar. Lebih lanjut, transformasi digital—yang mencakup pembayaran non-tunai, sistem informasi pelanggan, dan pemantauan operasional berbasis data—diidentifikasi sebagai hal yang krusial bagi daya saing di masa depan. Terakhir, studi ini merekomendasikan persiapan strategis untuk infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik (SPKLU) sebagai bagian dari transformasi berwawasan ke depan yang selaras dengan kebijakan transisi energi nasional. Kontribusi penelitian ini terletak pada kerangka kerja analitis terintegrasi yang menggabungkan wawasan pelanggan, penilaian kapabilitas internal, dan dinamika industri eksternal untuk merumuskan strategi praktis bagi transformasi SPBU. Temuan ini memberikan landasan pengambilan keputusan bagi pemilik SPBU yang ingin meningkatkan profitabilitas sekaligus beradaptasi dengan disrupsi industri jangka panjang. Selain itu, studi ini menawarkan kerangka kerja yang terukur dan dapat diterapkan pada SPBU serupa di seluruh Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan menjembatani realitas operasional dengan pandangan ke depan yang strategis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model bisnis SPBU yang lebih tangguh dan kompetitif dalam lanskap energi dan mobilitas yang terus berkembang.
ANALISA FAKTOR PEMBELIAN BUMBU KALDU SEHAT : S-O-R FRAMEWORK
Peningkatan prevalesi hipertensi di Indonesia dan kebijakan pemerintah terkait pembatasan konsumsi garam, gula dan lemak menjadi factor pemicu berkembangnya produk makanan sehat di Indonesia. Salah satu produk bumbu sehat adalah bumbu kaldu rendah garam. Peluncuran produk bumbu kaldu ini di pasaran pada saat tren meningkatnya gaya hidup sehat dan meningkatnya frekuansi memasak di rumah tidak menjadikan penetrasi produk ini tinggi di pasaran, Berawal dari masalah ini, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi bauran pemasaran produk (4P) dari produk ini karena rendahnya performa penetrasi. Evaluasi menggunakan konsep S-O-R (Stimuli-Organism-Response) dengan kemasan produk tersebut bertujuan untuk mengetahui niat membeli konsumen melalui perceived value. Hipotesa yang digunakan adalah bauran pemasaran (4P) akan berpengaruh terhadap perceived value, dan mendoprong niat untuk membeli produk. Tahapan penelitian ini terdiri dari evaluasi bauran pemasaran (STP dan 4P bauran pemasaran), evaluasi internal, evaluasi ekternal (PESTEL), evaluasi competitor, survey konsumen untuk membuktikan hipotesa yang dibuat dan analisa akar masalah. Metode analisa yang digunakan adalah deskripsi kuantitatif dan analisa statistic PLS-SEM. Penelitian ini dilakukan di area Jakarta dengan 320 responden dari berbagai usia, jenis pekerjaan dan jenis kelamin. Hasil survey menyatakan bauran pemasaran produk, promosi dan harga memiliki hubungan terhadap perceived value, sementara perceived value memiliki efek signifikan terhadap niat untuk membeli. Berdasarkan hasil ini, usulan bauran pemasaran untuk produk bumbu kaldu rendah garam harus focus pada keunggulan manfaat produk/nilai produk, kegiatan promosi berkonsep pada pendidikan konsumen dan menekankan pada pengetahuan produk. Sarana digital dapat menjadi salah satu media komunikasi untuk menjangkau konsumen dari generasi tua dan muda. Penyelarasan pesan kesehatan dan konsisten di berbagai media promosi adalah factor kunci untuk meningkatkan kesaradan konsumen terhadap produk tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu Perusahaan untuk meningkatkan penetrasi produk di pasar dan memberi pengetahuan bagi industry bumbu di Indonesia pada saat merumuskan strategi pemasaran saat launching produk sejenis..