📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENINGKATAN WAKTU UNTUK MEMPEROLEH WAWASAN ANALITIK DATA MELALUI SOLUSI AGENTIC AI: STUDI KASUS PT DOMPET MASA DEPAN

Sebagai perusahaan rintisan di industri yang berkembang, PT Dompet Masa Depan (“Dompet”) menghadapi masalah berupa lonjakan tingkat pelanggaran Service Level Agreement (SLA) hingga hampir 60% dan waktu perolehan wawasan (time-to-insight) yang melambat dua kali lipat dalam satu tahun terakhir. Meskipun volume data tumbuh lebih dari 25 kali lipat, Root Cause Analysis (RCA) mengungkap bahwa penurunan kinerja ini bukan semata masalah kapasitas, melainkan akibat tingginya permintaan manual yang repetitif (“toil”). Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pemangku kepentingan pada tim data akibat ketiadaan konteks data yang mudah dipahami, yang mendesak adanya kebutuhan akan solusi analitik mandiri (self-serve) yang cerdas berbasis Agentic AI. Studi ini menerapkan metodologi Riset Ilmu Desain (DSR) untuk mengembangkan solusi yang terukur. Penilaian faktor Teknologi-Organisasi-Lingkungan (TOE) mengonfirmasi kelayakan adopsi AI agen, dengan menunjukkan keunggulan relatif yang tinggi serta dukungan manajemen yang kuat. Kedua, studi ini menerapkan Teori Batasan Objek dan Prinsip Desain dalam IS untuk menyintesis kerangka kerja Masukan-Agen-Keluaran (IAO) dalam merancang platform analitik data mandiri berbasis Agentic AI. Artefak ini mengusung arsitektur multi-agen yang terdiri dari agen Supervisor, Query, Visualization, Analyst, Reviewer, dan Responder. Agen-agen tersebut mampu memproses permintaan dalam bahasa alami, menjalankan kueri SQL, dan menghasilkan wawasan yang penuh konteks. Solusi yang diusulkan dievaluasi terhadap 22 kebutuhan pengguna dan sistem yang telah ditetapkan, serta divalidasi melalui enam skenario penggunaan komprehensif, dengan mencapai tingkat pemenuhan 100%. Terakhir, menggunakan metode Metode Jalur Kritis (CPM) dan analisis PERT, studi ini menyajikan rencana implementasi konkret dengan estimasi waktu penyelesaian selama 47 hari kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa solusi Agentic AI ini memungkinkan Dompet untuk mengalihkan beban tugas analitik repetitif, sehingga dapat mengurangi waktu perolehan wawasan dan memungkinkan tim data analitik untuk kembali fokus pada inisiatif strategis.

2026
👤 Penulis: Kalistus Ambara Sandyanugraha
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data

EFISIENSI PENGGUNAAN TANAMAN KIAPU (PISTIA STRATIOTES L.), KIAMBANG (SALVINIA MOLESTA), DAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES) PADA PENYISIHAN LOGAM BERAT BADAN AIR PENERIMA LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL (STUDI KASUS: SUNGAI CIKAKEMBANG, KECAMATAN MAJALAYA, KABUPATEN BANDUNG)

Sungai Cikakembang termasuk sungai dengan kualitas air paling buruk. Dari total 56 industri yang ada di Kecamatan Majalaya, 22 buah industri tekstil membuang limbah ke Sungai Cikakembang dengan debit rata-rata 66.058 m3 /hari. Efluen industri tekstil mengandung logam dalam jumlah tinggi terutama kadmium, kromium, tembaga, dan timbal yang berbahaya bagi makhluk hidup. Pemanfaatan tanaman air untuk pengolahan air limbah merupakan metode pengolahan air limbah terkontaminasi logam berat yang ekonomis. Oleh karena untuk menurunkan kandungan logam berat yang ada pada Sungai Cikakembang dilakukan fitoremediasi menggunakan dua metode yang berbeda, yaitu dengan mengaplikasikan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) pada sistem kontinyu (lapangan) dan mengaplikasikan tanaman Kiapu (Pistia stratiotes L.), Kiambang (Salvinia molesta), dan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada sistem batch (laboratorium). Kandungan logam berat Cd, Cr, Cu, dan Pb dalam air dan tanaman diukur dengan menggunakan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). Hasil yang diperoleh ialah perbandingan penyisihan logam antara sistem kontinu dan batch. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada sistem kontinu, tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat menyisihkan logam yang paling besar yaitu Cd sebanyak 74,68%. Pada sistem batch, tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) efektif menurunkan logam Cd 92,63%, Cu 62,11%, dan Pb 62,21% pada paparan 50% air sungai, serta logam Cr 57,95% dan Cu 88,18% pada paparan 100% air sungai. Tanaman Kiapu (Pistia stratiotes L.) efektif menurunkan logam Cr 87,92% pada paparan 50% air sungai. Tanaman kiambang (Salvinia molesta) efektif untuk menurunkan logam Cd 32,29% dan Pb 84,60% pada paparan 100% air sungai.

2026
👤 Penulis: Fathunnisa
🏷️ Penanganan Limbah Industri 🏷️ Efisiensi Penyisihan Logam Berat 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Pengolahan Air

KOMBINASI TANAMAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES), KIAPU (PISTIA STRATIOTES), DAN KIAMBANG (SALVINIA NATANS) DALAM PERBAIKAN PENGELOLAAN AIR SUNGAI CITARUM HULU)

Sungai Cikakembang yang merupakan anak Sungai Citarum Hulu (Sungai Terbesar di Jawa Barat) merupakan salah satu sungai dengan kualitas yang buruk. Diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa sungai ini bersifat toksik bahkan sebelum efluen IPAL dari industri tekstil memasuki badan air ini. Untuk mengelola sungai tersebut, diperlukan suatu teknologi pengolahan yang bersifat mudah, praktis, dan murah agar dapat diterapkan di lapangan. Fitoremediasi adalah salah satu teknologi pengolahan limbah untuk memperbaiki kualitas air dengan menggunakan tanaman dengan memanfaatkan proses degradasi, akumulasi, disipasi, dan immobilisasi. Dalam penelitian ini digunakan kombinasi tiga tanaman air yaitu Eichhornia crassipes, Pistia stratiotes, dan Salvinia molesta, dalam upaya pengelolaan kualitas air Sungai Cikakembang yaitu salah satu anak Sungai Citarum Hulu. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium dengan reaktor ukuran 15 cmx 15 cm x 15 cm untuk melihat perbedaan efisiensi antara limbah yang tidak disertai tanaman dan limbah yang disertai kombinasi tanaman. Didapatkan hasil bahwa penurunan COD tertinggi terdapat pada perlakuan kombinasi tiga tanaman dengan efisiensi 37,03% pada hari ke lima, penurunan NO2 dan NO3 paling baik terdapat pada reaktor EC-KM dengan efisiensi masing-masing sebesar 72% dan 89% pada hari ketiga (NO2) dan lima (NO3), total fosfat pada reaktor KM dengan efisiensi 66% pada hari ketiga, sedangkan untuk ammonium tidak terjadi penyisihan. Logam berat Cu dan Cr dengan penyisihan masing-masing sebesar -30,7% dan 30,8% pada reaktor ECKM. Kombinasi EC-KM adalah kombinasi terbaik untuk menyisihkan polutan COD, nitrit, nitrat, ammonium, total fosfat, dan logam berat (Cu dan Cr). Nilai BCF (Bioaccumulation Factor) Cu dan Cr tertinggi terdapat pada akar tanaman Kiambang perlakuan KM dengan nilai masing-masing 1632,37 dan 556,26. Nilai translokasi faktor logam tertinggi terdapat pada tanaman Kiambang perlakuan Kombi dengan nilai TF (Translocation Factor) logam Cu sebesar 1,61 dan Cr sebesar 1,85.

2026
👤 Penulis: Ratih Pratiwi
🏷️ Fitoremediasi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Air

KALIBRASI NUMERIK SISTEMATIS KOEFISIENPERPINDAHAN PANAS MENYELURUH (HTC) BERBASISMULTI-DATASET UNTUK MODEL MEKANISTIK DEPOSISIWAX DI ASPEN HYSYS

Deposisi parafin (wax deposition) merupakan salah satu tantangan utama dalam jaminan aliran (flow assurance) industri minyak dan gas. Model mekanistik yang ada sering kali menghasilkan prediksi kurang akurat karena sensitivitas tinggi terhadap parameter yang sulit ditentukan, khususnya koefisien perpindahan panas menyeluruh (HTC). Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi model simulasi mekanistik deposisi wax di Aspen HYSYS melalui prosedur kalibrasi numerik sistematis HTC berbasis Multi-Dataset eksperimen flow loop dari literatur. Metodologi meliputi: (1) implementasi model mekanistik yang mengintegrasikan termodinamika presipitasi wax, perpindahan panas, difusi massa, dan dinamika fluida; (2) kalibrasi/tuning HTC menggunakan dataset Makwashi, Singh, Al- Theyab, dan Zheng; (3) pengembangan korelasi empiris HTC sebagai fungsi kondisi operasi (temperatur pendingin, laju alir, dan waktu deposisi); serta (4) validasi model pada berbagai konfigurasi untuk menilai akurasi dan generalisasi. Hasil menunjukkan bahwa model yang dikalibrasi mampu memprediksi ketebalan deposit wax dengan akurasi tinggi (MAPE <0,01%, R² ?0,999) pada beragam fluida dan kondisi operasi. Korelasi empiris HTC yang diperoleh memperlihatkan pola konsisten: meningkat dengan laju alir dan menurun seiring waktu akibat pertumbuhan serta aging deposit. Temuan ini menegaskan bahwa HTC dapat dijadikan parameter tuning utama yang praktis, dan korelasi yang dikembangkan dapat dimanfaatkan sebagai kerangka kerja desain serta evaluasi eksperimen flow loop maupun prediksi risiko deposisi wax dalam skenario operasional nyata.

2026
👤 Penulis: Muhammad Farhan R Latupono
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Model Mekanistik 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KINERJA PENAMBAHAN ALAT PENUKAR PANAS PELAT PADA CS2 CONDENSATION PLANT

Serat rayon merupakan serat selulosa hasil regenerasi buatan manusia. Serat rayon dibuat dari larutan viskos yang nantinya akan dikontakan dengan larutan asam sehingga serat rayon dapat terbentuk. Dalam proses pembuatan larutan viskos, karbon disulfida (CS?) merupakan salah satu bahan baku yang sangat penting karena CS? berperan sebagai dissolving agent sehingga selulosa dapat terlarut dalam larutan alkali. Tanpa CS?, larutan viskos tidak dapat dibuat. Saat mengontakan larutan viskos dengan larutan asam, CS? akan lepas dalam bentuk senyawa murni sehingga memungkinkan CS? untuk dapat di recover dan digunakan dalam pembuatan larutan viskos selanjutnya. Untuk me-recover CS?, terdapat satu mini plant di spinning departemen yang bernama CS? condensation plant. Saat ini, untuk menjaga kondisi operasi di CS? condensation plant, soft water diinjeksikan secara langsung. Dari hasil evaluasi, metode ini menyebabkan tingginya jumlah hot water yang overflow ke sewer yang menyebabkan tingginya beban kerja di effluent treatment plant, serta konsumsi soft water dan larutan kaustik yang tinggi. Evaluasi proses dilakukan dengan perusahaan rayon lainnya untuk mengoptimalkan kondisi CS? condensation plant dengan tujuan untuk mengurangi konsumsi bahan baku dan beban kerja di effluent treatment plant. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan lahan dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan modifikasi jika membutuhkan penambahaan alat, dikarenakan CS? condensation plant harus beroperasi saat normal produksi. Setelah dilakukan komparasi, diperoleh informasi bahwa pada perusahaan rayon lainnya memiliki proses CS? condensation plant yang lebih efisien dengan menggunakan alat penukar panas pada unit absorbernya. Temuan ini menjadi dasar untuk dilakukannya evaluasi kelayakan teknis terkait penambahan alat penukar panas dalam sistem CS? condensation plant. Metodologi penelitian ini disusun secara sistematis, diawali dengan validasi model simulasi menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS. Penelitian ini membandingkan dua fluid package, yaitu Acid Gas-Caustic Wash dan Electrolyte NRTL, terhadap data operasional aktual pabrik untuk memvalidasi model dengan kondisi aktual di lapangan. Selanjutnya, validasi alat penukar panas yang digunakan pada perusahaan rayon lainnya juga dilakukan untuk memastikan alat penukar panas di Aspen HYSYS dapat menggambarkan alat penukar panas aktual di lapangan. Hasil simulasi menunjukkan deviasi sebesar 2%, yang menunjukan bahwa simulasi alat penukar panas di Aspen HYSYS dapat digunakan untuk mengkaji kinerja alat penukar panas untuk CS? condensation plant. Penggunaan alat penukar panas berdasarkan hasil simulasi Aspen HYSYS menunjukkan peningkatan efisiensi kinerja yang sangat signifikan pada sistem CS? condensation plant. Penambahan alat ini mampu mengurangi konsumsi larutan kaustik serta menekan penggunaan steam. Selain itu, penggunaan alat penukar panas ini juga dapat menghilangkan total kebutuhan injeksi soft water yang sebelumnya digunakan untuk menjaga stabilitas suhu operasi. Dampak positif dari segi lingkungan yaitu, penggunaan alat penukar panas ini dapat mengurangi jumlah hot water yang overflow ke sewer sehingga beban kerja pada effluent treatment plant berkurang cukup signifikan. Hal ini menciptakan operasional pabrik yang lebih ekonomis, efektif, dan berkelanjutan. Berdasarkan analisis finansial, penambahan alat penukar panas pada CS? condensation plant memberikan keuntungan ekonomi yang menjanjikan dengan total penghematan biaya operasional mencapai USD 1882 setiap harinya. Penambahan alat ini memiliki Payback Period (PBP) yang relatif singkat, yakni sekitar 8,5 bulan. Selain itu, nilai Return on Investment (ROI) yang dihasilkan mencapai 142%, bahkan setelah mempertimbangkan seluruh biaya proses instalasi. Oleh karena itu, penambahan alat penukar panas sangat direkomendasikan secara teknis dan finansial sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, menekan biaya produksi, serta mendukung keberlanjutan operasional pabrik.

2026
👤 Penulis: Miki Suharman
🏷️ Kondensasi Larutannya 🏷️ Penambangan Alat Penukar Panas

PENANGANAN LUMPUR TINJA TOILET DARURAT DI KAWASAN TERKENA BENCANA PADA FASE INTERMEDIATE (STUDI KASUS: KABUPATEN CIANJUR)

Risiko kesehatan lingkungan yang persisten akibat ketergantungan berkepanjangan pada solusi sanitasi darurat pasca-gempa Cianjur 2022 mendesak adanya transisi strategis menuju manajemen sanitasi yang aman dan berkelanjutan (Safely Managed Sanitation) di Kecamatan Cugenang. Melalui pendekatan mixed-methods, penelitian ini melibatkan 110 responden rumah tangga di 16 desa di Kecamatan Cugenang, yang ditentukan melalui rumus Yamane dan teknik disproportional stratified random sampling, serta 11 informan kunci yang dipilih secara purposive sampling dari unsur pemerintah dan non-pemerintah. Penelitian ini mengintegrasikan analisis risiko sanitasi (EHRA), evaluasi teknis Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terhadap Sphere Standards, serta pemetaan pemangku kepentingan dengan matriks Power vs. Interest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun wilayah berada pada kategori risiko "Sedang", sektor Air Limbah Domestik (ALD) merupakan kontributor risiko terbesar dengan rata-rata skor IRS mencapai 0,78. Temuan ini divalidasi oleh adanya Shit Flow Diagram (SFD) yang mengonfirmasi kondisi Unsafely Managed akibat kelemahan aspek penampungan (tangki septik tidak kedap) serta ketiadaan layanan penyedotan dan pengolahan lumpur tinja yang berfungsi. Analisis pemangku kepentingan mengidentifikasi hambatan kritis (bottleneck) pada Bappeda sebagai aktor dengan kekuatan tinggi namun memiliki kepentingan rendah (Keep Satisfied) terhadap isu manajemen lumpur tinja, yang berpotensi menghambat keberlanjutan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R3P). Sebagai solusi, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengembangan "Model Kelembagaan Kolaboratif" yang mentransformasi jaringan tata kelola dari kondisi terfragmentasi (fragmented) menjadi terintegrasi (integrated). Secara praktis, model kolaboratif yang dihasilkan dapat diadopsi sebagai kerangka acuan kebijakan bagi pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan dalam merancang program pemulihan sanitasi pascabencana yang lebih tangguh, inklusif, dan memenuhi standar keselamatan internasional.

2026
👤 Penulis: Faiza Firlany
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

VIDEO CEREMONIAL ITB

-

2026
👤 Penulis: Humas ITB
🏷️ Teknologi Multimedia 🏷️ Komunikasi Institusional

RELOKASI HIPOSENTER DENGAN METODE DOUBLE DIFFERENCE MENGGUNAKAN DATA KATALOG DAN KORELASI SILANG WAVEFORM PADA LAPANGAN PANAS BUMI

Lapangan Panas Bumi “Severa” berada pada wilayah yang memiliki potensi energi panas bumi dengan aktivitas seismik yang signifikan. Penentuan hiposenter seringkali berbeda dari lokasi sebenarnya karena dipengaruhi oleh penentuan waktu tiba gelombang, model kecepatan, dan nonlinearitas gempa sehingga perlu dilakukan relokasi hiposenter. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi hiposenter melalui relokasi hiposenter dengan metode doubledifference serta mengidentifikasi keberadaan klaster event mikroseismik dan keterkaitannya dengan mekanisme sumber dan struktur geologi Lapangan Panas Bumi ”Severa”. Korelasi silang waveform diterapkan pada 80 event mikroseismik yang tersebar pada bagian Barat (injeksi) dan Timur (produksi) area penelitian untuk memperbaiki waktu tiba gelombang berdasarkan kesamaan gelombang. Relokasi hiposenter dilakukan dengan menggunakan data katalog dan korelasi silang untuk menentukan posisi relatif dari hiposenter. Prinsip metode double difference adalah dengan membandingkan dua hiposenter yang berdekatan terhadap stasiun perekaman dengan asumsi bahwa jarak kedua hiposenter yang berdekatan harus lebih dekat daripada jarak hiposenter ke stasiun perekaman. Pasangan beda waktu tiba katalog dibentuk pada program ph2dt, korelasi silang waveform diterapkan dengan kriteria CC > 0.7, dan relokasi hiposenter dilakukan pada perangkat lunak hypoDD. Relokasi hiposenter dengan kombinasi data katalog dan korelasi silang berhasil dilakukan pada 78 event. Distribusi hiposenter yang telah direlokasi menunjukkan pola yang lebih mengelompok dibandingkan hiposenter awal serta kedalaman event menjadi lebih dangkal yaitu pada kedalaman 0-4 km. Parameter yang digunakan pada relokasi hiposenter sudah sesuai dengan menghasilkan nilai ketidakpastian pada komponen horizontal menjadi 300 m dan vertikal menjadi 400 m. Klaster Timur membentuk tren hiposenter dengan orientasi Timur Laut-Barat Daya yang menunjukkan bahwa klaster tersebut dipengaruhi oleh struktur yang berorientasi Timur Laut-Barat Daya dengan kemiringan ke arah Utara. Klaster Barat menunjukkan persebaran hiposenter yang lebih acak yang dipengaruhi oleh terbentuknya zona depresi akibat aktivitas injeksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan korelasi silang waveform dapat meningkatkan kualitas relokasi secara signifikan dan mendukung interpretasi bawah permukaan lebih detail

2026
👤 Penulis: Haniva Saydina
🏷️ Seismologi Bumi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Geofisika

FABRIKASI LAPISAN FECONIP SEBAGAI ELEKTROKATALIS PROSES PRODUKSI HIDROGEN MENGGUNAKAN METODE ONE-STEP ELECTRODEPOSITION

Ketergantungan penggunaan energi fosil sebagai sumber utama listrik global telah memberikan dampak signifikan terhadap kerusakan lingkungan, terutama akibat peningkatan emisi karbon dan efek rumah kaca. Kondisi krisis energi ini mendesak percepatan transisi menuju sumber energi terbarukan, di mana hidrogen yang diproduksi melalui metode elektrolisis air menjadi salah satu solusi energi bersih yang potensial karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida. Namun, penerapan teknologi ini secara komersial masih terkendala oleh penggunaan elektrokatalis berbasis logam mulia (Platinum Group Metals) yang memiliki ketersediaan terbatas dan biaya tinggi. Sebagai alternatif yang lebih ekonomis, material Transition Metal Phosphides (TMPs), khususnya paduan besi-kobaltnikel- fosfor (FeCoNiP), menawarkan aktivitas katalitik yang unggul melalui efek sinergis antarlogam transisi dan atom fosfor. Penelitian ini bertujuan untuk memfabrikasi lapisan elektrokatalis FeCoNiP menggunakan metode one-step electrodeposition yang dinilai lebih efisien, aman, dan sederhana dibandingkan metode termal konvensional. Fokus utama studi ini adalah mengevaluasi pengaruh variasi parameter rapat arus, konsentrasi fosfor, dan duty cycle terhadap kinerja reaksi evolusi hidrogen (hidrogen evolution reaction, HER), serta memodelkan optimasi prosesnya menggunakan pendekatan statistik Box-Behnken. Serangkaian percobaan dilakukan untuk menyelidiki pengaruh berbagai parameter proses pada fabrikasi lapisan FeCoNiP melalui metode elektrodeposisi, yang terdiri dari rapat arus (J = 1 – 10 amps-per-squared-decimeter, ASD), konsentrasi fosfor ([P] = 0 – 0,5 M), dan duty cycle (D = 50 – 100) terhadap kinerja elektrokatalitik FeCoNiP dalam reaksi HER. Percobaan dimulai dengan perancangan eksperimen menggunakan metode Box-Behnken Design (BBD) untuk mengidentifikasi faktor yang signifikan, dan memodelkan hubungan kompleks antarvariabel yang digunakan dalam proses elektrodeposisi FeCoNiP. Selanjutnya, dilakukan preparasi substrat, kemudian proses elektrodeposisi sesuai dengan parameter yang telah ditentukan. Pengujian elektrokimia yaitu Linear Sweep Voltammetry (LSV) dan Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) dengan menggunakan sistem tiga elektroda dalam larutan elektrolit kalium hidroksida (KOH 1 M). Data LSV dan EIS kemudian diolah dengan perangkat lunak ZView versi 4 dan Microsoft Excel 365 untuk menentukan nilai overpotential dan kemiringan Tafel, yang berfungsi sebagai data yang dianalisis lebih lanjut menggunakan Minitab versi 22 untuk memprediksi parameter optimum percobaan. Setelah prediksi analisis ditentukan, uji validasi dilakukan untuk memverifikasi hasil prediksi optimum. Setelah terverifikasi, parameter optimum kemudian divariasikan terhadap rapat arus dan konsentrasi fosfor. Pengujian kinerja elektrokatalitik lapisan FeCoNiP dilakukan dengan pengujian LSV, EIS, Cyclic Voltammetry (CV), dan Chonopotentiometry (CP). Karakterisasi lapisan FeCoNiP berupa Difraksi Sinar-X (X-ray Diffraction, XRD), Field Emission Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (FESEM-EDS), dan X-ray Photoelectron Spectroscopy (XPS) dilakukan untuk menganalisis karakteristik lapisan FeCoNiP. Parameter optimum pada variasi percobaan diperoleh pada kondisi dengan rapat arus 6,09 ASD, konsentrasi fosfor sebesar 0,28 molar, dan duty cycle sebesar 76%. Respons pada parameter tersebut diperoleh nilai overpotential sebesar 41,90 mV dan kemiringan Tafel sebesar 50,63 mV/dekade. Analisis statistik menunjukkan bahwa parameter rapat arus dan konsentrasi fosfor berkontribusi signifikan terhadap kinerja elektrokatalitik HER, sedangkan duty cycle hanya berkontribusi signifikan pada kuadratik respons overpotential. Lapisan FeCoNiP terbentuk dari larutan padat (solid solution) FeCoNi dengan atom fosfor yang terinkorporasi masuk ke dalam kisi logam atau terlarut ke dalam fasa amorf dengan morfologi nodular. Inkorporasi fosfor ke dalam kisi logam menciptakan situs ganda yang meningkatkan kinerja elektrokatalitik lapisan FeCoNiP. Selain unggul pada kinerja elektrokatalitik, lapisan FeCoNiP menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan kestabilan pada proses HER selama 20 jam.

2026
👤 Penulis: Muhammad Al Fath Rahmat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Elektrokatalisis

PENGARUH MODAL SOSIAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN EVAKUASI BENCANA TSUNAMI (STUDI KASUS : DESA GALALA, KOTA AMBON)

Penelitian ini mengkaji pengaruh modal sosial dalam pengambilan keputusan evakuasi tsunami pada masyarakat pesisir Desa Galala. Desa Galala telah diakui Tsunami Ready oleh UNESCO–IOC melalui pemenuhan 12 indikator kesiapsiagaan, yang menandai kematangan kapasitas prabencana komunitas. Namun pengakuan formal sebagai wilayah Tsunami Ready tidak serta-merta menjamin efektivitas respons masyarakat dalam situasi nyata. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan pemgumpulan data primer melalui wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan telaah dokumen kemudian analisis dengan metode grounded theory. Hasil menunjukkan bahwa input berupa kesiapsiagaan berbasis partisipasi dan solidaritas komunitas, termasuk jejaring kepercayaan, praktik gotong royong, dan pengalaman simulasi menjadi fondasi prabencana. Pada process, keputusan dibentuk oleh tiga mekanisme yang saling menguatkan: (i) kepatuhan terhadap arahan tim siaga bencana desa yang berlandaskan legitimasi lokal; (ii) proses evakuasi keluarga yang dipicu emosi protektif dan dibingkai norma sosial (persuasi,otoritatif); dan (iii) pengambilan Keputusan evakuasi karena di dorong oleh nilai nilai praktik/ritual keagamaan serta memori kolektif. Output yang dihasilkan ialah evakuasi kolektif yang cepat dan tertib, termasuk kepatuhan rute dan dukungan antartetangga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan evakuasi di Desa Galala tidak semata ditentukan oleh faktor struktural dan informasi formal, melainkan secara kuat dibentuk oleh modal sosial yang mencakup dimensi afektifii kolektif. Modal sosial yang terejawantahkan melalui jejaring bonding, bridging, dan linking berfungsi sebagai mekanisme aktif yang memfasilitasi penyebaran informasi, memperkuat legitimasi keputusan, dan mengonsolidasikan tindakan kolektif saat darurat. Dimensi afektif dalam modal sosial, yang bersumber dari pengalaman traumatis masa lalu, memori kolektif, kasih sayang keluarga, serta kepercayaan spiritual, menjadi energi sosial yang menghidupkan jaringan lintas generasi untuk bertindak cepat dan saling menolong. Dengan demikian, keputusan evakuasi di Desa Galala lahir dari interaksi erat antara struktur jejaring sosial dan daya afektif yang tertanam di dalamnya, menjadikan modal sosial sebagai fondasi kunci dalam kesiapsiagaan dan resiliensi bencana.

2026
👤 Penulis: Viona Dika Rikumahu
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS FITNESS-FOR-SERVICE PADA PIPA PENYALUR DENGAN CACAT RETAK DAN PENYOK STUDI KASUS : FASILITAS HULU MINYAK DAN GAS SUMATRA

Pentingnya industri minyak dan gas untuk energi Indonesia membuat perawatan ageing facility menjadi aktivitas yang krusial. Dua kerusakan yang kerap ditemukan pada pipeline adalah cacat retak dan penyok dimana pembahasan mendalam asesmen FFS sudah banyak dilakukan. Akan tetapi belum ada pembahasan FFS ketika retak dalam pipa terkena penyok. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk melakukan asesmen FFS pada pipeline 18 inci yang memiliki retak dan penyok dilokasi yang sama. Pipeline dinyatakan layak beroperasi dengan retak sedalam 2,54 mm karena panjang retak 12,7 mm tidak melebihi batas kritikal level 1. Selain itu titik asesmen (????????,????????) tidak melebihi kurva FAD pada level 2 maupun 3. Sama halnya, pipeline dinyatakan aman beroperasi dengan cacat penyok 3,81 mm karena semua kriteria pada level 1 dan 3 cacat penyok dipenuhi. Ditemukan pula bahwa tegangan sisa akibat pengelasan dapat diabaikan karena jarak cacat jauh dengan sambungan las pada 500 mm. Pengenalan penyok dengan retak membuat regangan plastik ekuivalen 0,1765 melebihi batas triaxial strain pipa pada 0,1304 yang menandakan local failure. Titik asesmen yang dihasilkan juga melewati kurva FAD yang menandakan pipeline mengalami fracture. Ditemukan kedalaman maksimum penyok yang diperbolehkan hanya 1,36 mm. Variasi retak dengan rasio a/t 0,2, 0,5, dan 0,8 dilakukan pada tekanan operasi sampai desain yang tidak cukup kuat untuk menggagalkan pipeline. Akan tetapi penambahan penyok menyebabkan pipeline gagal untuk semua ukuran. Pipeline dengan a/t 0,2 gagal karena indentasi membuat crack front membuka dan fracture terjadi. Sedangkan pipa dengan a/t 0,5 dan 0,8 mengalami local failure karena ukuran retak memperbolehkan regangan plastik mencapai batas triaxial strain sebelum cacat retak gagal. Terakhir, kedalaman maksimum penyok untuk tiap ukuran retak juga telah ditemukan sebagai referensi inspeksi selanjutnya.

2026
👤 Penulis: Alessandro Mahendra Putra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP GERMINASI, BIOMASSA, DAN KANDUNGAN VITAMIN E, FE, K, ZN PADA MICROGREENS BUNGA MATAHARI (HELIANTHUS ANNUUS L.)

Indonesia mengalami urbanisasi yang pesat, dengan proyeksi 66,6% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan pada tahun 2035. Penduduk perkotaan lebih rentan terjangkit penyakit terkait gaya hidup tidak sehat. Konsumsi sayuran yang cukup dapat mengurangi resiko seseorang menderita penyakit-penyakit tersebut. Di daerah perkotaan dengan lahan yang terbatas, microgreens menjadi alternatif pangan fungsional untuk memenuhi gizi dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh komposisi media tanam terhadap kualitas dan kuantitas hasil panen microgreens bunga matahari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 kelompok dan 5 perlakuan media tanam. Perlakuan terdiri atas cocopeat 100% (P1), cocopeat 60% dan tanah 40% (P2), cocopeat 60% dan vermiculite 40% (P3), cocopeat 60% dan vermicompost 40% (P4), serta cocopeat 60% dan perlite 40% (P5) berdasarkan rasio bobot per bobot. Parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi kondisi mikroklimat dan edafik selama penelitian, tinggi tanaman, bobot panen, rasio tajuk-akar, germination index, germination percentage, serta kandungan vitamin E, Fe, K, dan Zn. Microgreens bunga matahari dipanen 10 hari setelah tanam. Analisis data dilakukan dengan uji homogenitas Saphiro-Wilk dan normalitas Levene, kemudian dilanjutkan dengan uji ANOVA two way factors dan uji lanjut Tukey-b. Data yang tidak homogen diuji dengan Welch ANOVA dan uji Post-Hoc Games Howell. Data dengan penyimpangan tinggi diuji dengan uji non-parametrik Kruskal-Wallis dengan uji post-hoc Dunn. Hasil analisis menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, panjang akar, bobot panen, germination percentage, germination index, kandungan Fe dan Zn. P2 menghasilkan microgreens bunga matahari dengan tinggi tanaman, bobot panen, dan kandungan Fe tertinggi. P3 menghasilkan microgreens bunga matahari dengan panjang akar, germination index, dan kandungan Fe tertinggi. P4 menghasilkan microgreens bunga matahari dengan kandungan Zn tertinggi. Media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, rasio tajuk-akar, kandungan vitamin E dan kandungan K pada microgreens bunga matahari. Media tanam terbaik untuk microgreens bunga matahari adalah P3 dengan bobot panen 0,28 g/tanaman, panjang akar 11,26 cm, germination index 51,744, germination percentage 93%, kadar air 90,12%, kandungan vitamin E 7,83 mg/100 g bobot basah, kandungan Fe 69,48 mg/100 g bobot basah, kandungan K 0,41 mg/100 g bobot basah, dan kandungan Zn 16,80 mg/g bobot basah. Oleh karena itu, media tanam P3 menjadi media tanam yang cocok digunakan dalam budidaya microgreens bunga matahari untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat kota.

2026
👤 Penulis: Lidwina Caroline Napitupulu
🏷️ Microgreens 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidroponik

EVALUASI INDEKS PERSEPSI KORUPSI DAN INDEKS SUPREMASI HUKUM SEBAGAI FAKTOR PENDORONG ARUS MASUK PENANAMAN MODAL ASING (FDI) DI KAWASAN ASIA PASIFIK BERKEMBANG: PENDEKATAN DATA PANEL

Purpose: The purpose of this study is to examine the relationship of corruption perception and rule of law index on foreign direct investment (FDI) to shed light on how FDI inflows are influenced by corruption perception and the strength of the rule of law in emerging Asia Pacific countries. Design/methodology/approach: The study employs a static panel data regression model on an unbalanced panel data of 19 Asia Pacific's emerging countries. Findings: The corruption perception index and rule of law index is not significant as determinant factor of FDI inflow to 19 Asia Pacific’s emerging countries. The study concludes that Gross Domestic Product (GDP) per capita and population are the major factors that explain opportunity-seeking motives of investors in emerging Asia Pacific. Implications: This study provides insights to policymakers to create appropriate policies to enlarging regional markets, enhancing governance, and engaging in free trade with neighboring countries to attract FDI. Originality/Value: This research adds to the body of knowledge in the domains of international business and macroeconomics in Asia Pacific's developing economies.

2026
👤 Penulis: Kevin William Timothy
🏷️ Korupsi 🏷️ Hukum Internasional 🏷️ Investasi Asing

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG EMISI KARBON DI NEGARA BERKEMBANG: ANALISIS EMPIRIS PADA NEGARA-NEGARA ASEAN TERPILIH MENGGUNAKAN PENDEKATAN DATA PANEL

This study examines the socio-economic and environmental factors influence on carbon dioxide emissions for six ASEAN countries; namely, Singapore, Malaysia, Indonesia, Thailand, the Philippines, and Vietnam on the sustainable economic development purpose. A set of panel data from 2000 to 2020 is estimated using panel cointegration and Cross-Sectionally Augmented Distributed Lag model to determine the effect of economic growth, electricity consumption, urbanisation, institutional quality, natural resources rents, and forest cover area on CO2 emissions from six countries for short and long run coefficient estimations. The Im, Pesaran and Shin (IPS) unit root test and slope heterogeneity test are employed to address heterogeneity and cross-sectional dependence issues. Then, the diagnostic tests are performed to detect some data errors such as multicollinearity, heteroskedasticity and endogeneity. The finding reveals that only square of GDP per capita and electricity consumption impact the CO2 emissions significantly, while natural resources rent exhibits significant impact in curbing CO2 emissions. In contrary to the conventional outcome of the EKC hypothesis, the positive coefficient of square of GDP indicates that a U-shaped curve rather than an inverted U-shaped curve does not apply to ASEAN. The corruption index aggravates CO2 emissions in the Common Correlated Effect Mean Group estimator. This study enables the governments of the six ASEAN countries to formulate relevant policies aimed at achieving better sustainable socioeconomic goals and promoting green economic development via pertinent energy policies and green funding.

2026
👤 Penulis: Wong Zhan Han
🏷️ Analisis Data Panel

DAMPAK TEKANAN PEMANGKU KEPENTINGAN DAN EFEKTIVITAS PENGAWASAN DEWAN DIREKSI TERHADAP PENGUNGKAPAN INFORMASI PENGGUNAAN AIR PERUSAHAAN

Purpose: Corporate Water Disclosure (CWD) practices are crucial for maintaining water resource availability and quality, yet they remain underexplored in business literature despite their ethical importance. Notwithstanding the increasing stakeholder demands for better water management, transparency, and risk addressing, businesses continue to struggle with effective CWD. Based on the integration of stakeholder theory and agency theory, this study aims to better comprehend the relationships between stakeholder pressures, stakeholder engagement, board monitoring effectiveness, and CWD practices. Design/Methodology/Approach: Using purposive sampling, content analysis was performed to collect data from the 200 largest non-financial Malaysia public listed companies based on market capitalisation, and the data were analysed using Partial Least Squares path modelling. Findings: Government pressure, environmental protection organisations' pressure, and employee pressures directly influence CWD. Additionally, stakeholder engagement positively impacts CWD and mediates the positive relationships between government pressure, environmental protection organisations' pressure, and CWD. Furthermore, the effectiveness of board monitoring strengthens the relationship between stakeholder engagement and CWD. Research Implications/Limitations: This study highlights the importance of both stakeholder pressures and internal governance mechanisms in enhancing transparency and accountability in corporate water management practices. Practical Implications: Businesses can improve CWD by enhancing board monitoring mechanisms. This boosts transparency, aligns with stakeholder expectations, mitigates waterrelated risks, and strengthens the company’s reputation and financial stability amidst growing pressures. Originality/Value: By examining the moderating effect of board monitoring on the relationship between stakeholder engagement and CWD, the study sheds light on the internal governance mechanisms that influence transparency in water management. This focus on board dynamics and their impact on CWD is relatively unexplored in the extant literature

2026
👤 Penulis: Anna Minah Kiu
🏷️ Kepentingan Stakeholder 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Transparansi Perusahaan
Halaman 189 dari 6754
💬