📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDESAIN DAN ANALISIS SMALL MODULAR GAS-COOLED FAST REACTOR BERBAHAN BAKAR URANIUM ALAM DENGAN SKEMA MODIFIED CANDLE BURNUP TWO-LINE SHUFFLING
Penelitian ini membahas desain dan analisis neutronik teras Small Modular Gas-Cooled Fast Reactor berbahan bakar uranium alam dengan skema Modified CANDLE Burnup Two-Line Shuffling. Penggunaan uranium alam tanpa pengayaan bertujuan meningkatkan efisiensi ekonomi, keselamatan, serta mendukung prinsip nonproliferasi nuklir. Analisis neutronik dilakukan secara deterministik menggunakan SRAC versi 2006 dengan skema PIJ–CITATION dan pustaka data nuklir JENDL-4.0. Parameter yang dievaluasi meliputi faktor multiplikasi efektif (k-eff), faktor multiplikasi tak hingga (k-inf), rasio konversi, distribusi densitas daya, burnup, serta evolusi densitas atomik U-238, U-235, dan Pu-239. Teras dimodelkan dalam geometri silinder R-Z dengan pembagian aksial menjadi sepuluh region ber-volume sama untuk merepresentasikan perambatan zona pembakaran sesuai konsep Modified CANDLE selama siklus operasi 100 tahun. Studi parametris dilakukan terhadap fraksi volume bahan bakar (50–70%), daya termal (100–300 MWt), dan geometri teras (pancake, balance, dan tall). Hasil analisis menunjukkan bahwa skema Modified CANDLE burnup tipe D (two-line shuffling) dengan geometri teras balance (D ? H) memberikan kinerja neutronik paling optimal. Konfigurasi terbaik diperoleh pada daya 300 MWt dan fraksi volume bahan bakar 65%, dengan nilai k-eff tetap di atas satu sepanjang siklus operasi tanpa pengisian ulang bahan bakar serta burnup akhir mencapai sekitar 271 GWd/tHM. Evolusi Pu-239 dan nilai k-inf menunjukkan bahwa proses breeding dari U-238 berlangsung efektif dan mampu menjaga kestabilan reaktivitas jangka panjang. Hasil ini menunjukkan bahwa konsep reaktor yang diusulkan layak secara neutronik sebagai reaktor modular berumur panjang dengan efisiensi pemanfaatan bahan bakar yang tinggi dan kompleksitas siklus bahan bakar yang rendah.
STUDI POTENSI KARAKTERISTIK BATUBARA INDONESIA DENGAN PENAMBAHAN FE?O? UNTUK PRODUKSI DME DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN LINGKUNGAN
Kebutuhan Indonesia untuk menurunkan ketergantungan LPG impor sambil Kebutuhan Indonesia untuk menurunkan ketergantungan terhadap LPG impor sambil menjaga keterjangkauan energi mendorong pengembangan hilirisasi batubara menjadi dimetil eter (DME). Namun, penilaian kelayakan sering kali terfragmentasi karena aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan dibahas secara terpisah, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan secara terintegrasi. Penelitian ini menyajikan studi pendahuluan yang menggabungkan evaluasi proses pirolisis–gasifikasi, keekonomian berbasis perusahaan, dan emisi gas rumah kaca dalam satu kerangka analisis terpadu. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis pengaruh penambahan Fe?O? terhadap proses pirolisis dan gasifikasi batubara dalam menghasilkan syngas untuk produksi DME pada lignit dan sub-bituminous; (2) membandingkan keekonomian relatif dari keempat skenario; dan (3) menilai intensitas emisi gas rumah kaca secara komprehensif. Metode yang digunakan meliputi eksperimen pirolisis pada rentang suhu 400–900 °C, pemodelan gasifikasi uap pada 900 °C dengan pendekatan minimisasi energi Gibbs, serta estimasi sintesis DME melalui rute metanol dua tahap. Inventaris emisi disusun secara berbasis proses, mencakup CO? langsung, oksidasi CO, pembakaran CH?, dan konversi slip CH? menjadi CO?e. Analisis keekonomian menggunakan metode benefit-to-cost ratio (BCR) relative. Hasil menunjukkan bahwa penambahan Fe?O? secara konsisten meningkatkan kandungan H? dan CO dalam gas hasil pirolisis, serta memperbesar potensi pembentukan DME melalui gasifikasi. Yield DME meningkat dari 0,35 menjadi 0,39 kg/kg batubara untuk lignit, dan dari 0,33 menjadi 0,40 kg/kg batubara untuk sub-bituminous. Penambahan Fe?O? juga memperbaiki keekonomian relatif, dengan BCR meningkat dari 1,91 menjadi 2,10 untuk lignit, dan dari 1,60 menjadi 1,91 untuk sub-bituminous. Dari sisi lingkungan, nilai emisi menurun pada lignit dari 3,47 kg CO2eq/ kg DME menjadi 3,11 kg CO2eq/ kg DME setelah penambahan Fe?O?, dan pada sub-bituminus dari 4,22 kg CO2eq/ kg DME menjadi 3,58 kg CO2eq/ kg DME. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi proses dengan penambahan Fe?O? mampu meningkatkan performa teknis, ekonomi, dan lingkungan secara simultan dalam konversi batubara menjadi DME.
OPTIMISASI PORTOFOLIO MULTIPERIODE MENGGUNAKAN HYBRID MACHINE LEARNING DAN NON-DOMINATED SORTING GENETIC ALGORITHM III (NSGA-III)
Investasi saham menawarkan potensi keuntungan yang tinggi dengan ketidakpastian dan risiko yang signifikan. Metode optimisasi portofolio konvensional seringkali kurang efektif karena asumsis statis satu periode dan ketidakmampuan menangani kendala pasar yang realistis. Tugas akhir ini mengusulkan kerangka kerja yang mengintegrasikan prediksi harga saham dengan optimisasi portofolio multiperiode. Pada tahap pertama, model hybrid machine learning BiLSTM-BO-LightGBM digunakan untuk memprediksi harga saham harian tahun 2024 dari 44 emiten terpilih. Pada tahap kedua, masalah diformulasikan sebagai many-objective optimization problem dengan tiga fungsi tujuan: memaksimalkan imbal hasil terminal, meminimalkan nilai absolut maximum drawdown (MDD), dan memaksimalkan diversitas (entropi Shannon). Model ini secara eksplisit memperhitungkan kendala round lot, batasan kardinalitas, biaya transaksi, serta mekanisme deposito bank untuk menampung sisa dana. Algoritma Non-dominated Sorting Genetic Algorithm III (NSGA-III) diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan kompleks tersebut. Hasil eksprimen menunjukkan bahwa batasan kardinalitas penting untuk menegasi kelemahan entropi Shannon yang memaksakan seluruh saham masuk ke dalam portofolio. Selain itu, frekuensi penyesuaian portofolio dwibulanan menghasilkan potensi imbal hasil tertinggi (267.476%) dengan risiko penurunan yang tinggi. Sedangkan, frekuensi penyesuaian portofolio bulanan dinilai kurang optimal akibat akumulasi biaya transaksi yang menggerus imbal hasil bersih. Tugas akhir ini menemukan bahwa integrasi hybrid machine learning dan NSGA-III mampu menghasilkan strategi investasi adaptif yang unggul dibandingkan strategi pasif.
PERHITUNGAN DANA PENSIUN DOSEN PNS DI PERGURUAN TINGGI NEGERI DENGAN PENERAPAN IMBAL HASIL SYARIAH BERBASIS MODEL VASICEK
Penelitian ini mengkaji proyeksi kewajiban aktuaria dan pembiayaan dana pensiun dengan menilai pengaruh metode aktuaria, dasar penentuan manfaat, serta penggunaan data imbal hasil syariah terhadap besaran iuran normal, kewajiban aktuaria, dan keberlanjutan pendanaan jangka panjang. Kajian difokuskan pada pegawai tetap yang diasumsikan mulai bekerja pada usia 26–27 tahun dan pensiun pada usia 70 tahun, dengan dua skema manfaat, yaitu berbasis gaji terakhir dan berbasis rata-rata gaji sepuluh tahun terakhir (Final Average Salary/FAS). Nilai diskonto kewajiban masa depan dimodelkan menggunakan model suku bunga stokastik Vasicek yang dikalibrasi dengan data aktual imbal hasil sukuk pemerintah berakad Ijarah dan Mudharabah sebagai alternatif syariah terhadap suku bunga konvensional. Estimasi kewajiban dilakukan menggunakan Projected Unit Credit (PUC) dan Entry Age Normal (EAN). Simulasi pada horizon jangka panjang menghitung Present Value of Future Benefits (PVFB), Normal Cost (NC), Actuarial Liability (AL), dan Unfunded Actuarial Liability (UAL) dengan basis mortalitas TMI IV 2019. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi diskonto berbasis imbal hasil sukuk syariah ke dalam model Vasicek serta evaluasi aktuaria berbasis TMI IV 2019 untuk proyeksi pendanaan pensiun jangka panjang. Hasil menunjukkan skema manfaat berbasis gaji terakhir menghasilkan PVFB dan AL lebih tinggi dibandingkan FAS. Dari sisi pembiayaan, metode PUC cenderung meningkatkan iuran menjelang pensiun, sementara EAN menghasilkan profil iuran yang lebih stabil sepanjang masa kerja. Analisis UAL mengindikasikan bahwa pada periode awal sistem berpotensi mengalami overfunding, namun pada periode berikutnya UAL dapat bergerak positif yang menandakan risiko underfunding; dalam hal ini, EAN menghasilkan dinamika UAL yang relatif lebih stabil dibandingkan PUC.
SIFAT-SIFAT PADA OPERATOR LINEAR TERBATAS DI RUANG SEMI HASIL KALI DALAM
Ruang semi hasil kali dalam (SHKD) merupakan generalisasi dari ruang hasil kali dalam (HKD). Perbedaan mendasar terletak pada pelonggaran aksioma definit positif menjadi semi-definit positif. Konsekuensi dari pelonggaran syarat ini adalah eksistensi vektor-vektor tak nol yang memiliki semi norma nol yang disebut sebagai bagian isotropik. Himpunan dari vektor-vektor ini membentuk subruang isotropik yang menjadikan geometri ruang SHKD jauh lebih kompleks dibandingkan ruang HKD. Keberadaan subruang ini menyebabkan banyak sifat dan teorema mendasar dalam ruang HKD tidak lagi berlaku secara langsung. Penelitian sebelumnya mengenai dekomposisi operator linear telah dikembangkan secara ekstensif dalam konteks ruang HKD, sementara studi tentang ruang SHKD masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana sifatsifat operator linier terbatas berpengaruh di ruang SHKD. Fokus utama penelitian diarahkan untuk menjawab bagaimana operator terbatas berperilaku terhadap subruang isotropik dan bagaimana merepresentasikan operator tersebut dalam bentuk matriks yang sederhana. Pada penelitian ini, penulis menyajikan dua hasil teoretis utama. Pertama, penelitian mengkaji struktur internal subruang isotropik di bawah pengaruh operator terbatas. Subruang ini dapat didekomposisi menjadi jumlah langsung dari irisan-irisan antara subruang isotropik dengan ruang-ruang eigen diperluas yang bersesuaian. Kedua, penelitian ini memperluas kajian menuju representasi operator linear. Penulis merumuskan generalisasi dari Teorema Schur untuk konteks ruang SHKD.
HUBUNGAN ANTARA INKLUSI DIGITAL DENGAN MODAL SOSIAL DI DESA DIGITAL CANGKINGAN, KABUPATEN INDRAMAYU
Digitalisasi merupakan megatren global yang membuka peluang bagi pembangunan perdesaan, terutama dalam mengatasi keterbatasan geografis dan ketimpangan informasi. Namun, digitalisasi juga memunculkan tantangan berupa kesenjangan dan eksklusi digital, sehingga hubungan antara inklusi digital dan modal sosial masih menunjukkan pola yang belum jelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode single case study di Desa Cangkingan, Kabupaten Indramayu, untuk menganalisis hubungan antara inklusi digital dan modal sosial secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi kesenjangan digital tingkat kedua, di mana akses digital relatif telah terpenuhi, tetapi rendahnya keterampilan dan literasi digital, khususnya pada kelompok lansia, memicu risiko eksklusi digital. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya hubungan timbal balik antara inklusi digital dan modal sosial. Modal sosial bonding mengalami transformasi menjadi adaptive bonding melalui praktik saling mengajari akibat kesenjangan keterampilan digital. Modal sosial bridging dan linking juga mengalami penguatan melalui terbukanya peluang, perluasan jejaring, transformasi kepercayaan menjadi reputasi digital, serta peningkatan transparansi dan komunikasi dengan pemerintah desa. Temuan ini membuktikan bahwa modal sosial berperan sebagai faktor pendorong sekaligus konsekuensi dari inklusi digital, serta memberikan kontribusi empiris bagi perumusan kebijakan digitalisasi desa yang berkelanjutan.
PENGEMBANGAN KURIKULUM LOGIKA BERBASIS HIMPUNAN (LBH) UNTUK SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL
Matematika tidak diajarkan secara eksplisit di lembaga pendidikan nonformal seperti pesantren salafiyah tradisional. Satu-satunya bagian dari matematika yang diajarkan secara eksplisit adalah logika (mantik). Usaha untuk mengajarkan sesuatu yang penting, seperti logika, dengan cara terbaik perlu dilakukan. Perlu ada inovasi atau pembaruan dalam penyampaian materi logika agar pembelajaran logika dapat lebih bermakna dan logika tidak hanya dipandang sebagai kumpulan teori yang wajib diterima dan wajib dihafal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kurikulum logika yang inovatif untuk kemudian dikaji keefektifannya. Proses penalaran, seperti menyusun atau memvalidasi argumen, merupakan proses yang abstrak. Memvisualisasikan proses tersebut dalam bentuk diagram berpotensi untuk membantu siswa memahami prosesnya dengan lebih baik. Memvisualisasikan proses penalaran dalam bentuk diagram membutuhkan pemahaman terkait konsep himpunan. Oleh karena itu, kurikulum logika yang dikembangkan pada penelitian ini berbasis pada teori himpunan. Dengan menggunakan pendekatan backword design dan question-based teaching, penelitian ini menghasilkan 3 produk utama, yaitu desain kurikulum, buku untuk siswa, dan buku untuk guru. Desain kurikulum terdiri dari 3 bagian utama, yaitu desired results, assessment evidence, dan learning activities. Buku yang dikembangkan terdiri dari 10 bab, sudah dilengkapi dengan latihan soal dan asesmen sumatif. Sepuluh bab yang dibahas meliputi logika dan sejarah perkembangannya, pernyataan, kuantor, nilai kebenaran, himpunan, diagram LEV, merepresentasikan pernyataan dalam bentuk diagram LEV, membuat kesimpulan, menyusun argumen sebagai bukti kebenaran, serta paradox dan logical fallacy. Keefektifan produk dievaluasi menggunakan 2 jenis metode quasi-experimental design, yaitu one-group pretest-posttest design dan static-group comparison design. Data dianalisis menggunakan ukuran-ukuran pada statistika deskriptif seperti rata-rata, median, dan modus. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa kelas eksperimen naik sebesar 77,78%. Rata-rata skor posttest siswa kelas eksperimen juga tidak lebih rendah dari rata-rata skor siswa kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kurikulum yang dikembangkan cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan logika siswa.
PENGENDALIAN PENYEBARAN PROTEIN TOKSIKMELALUI INTERVENSI CLEARANCEPADA PENYAKIT NEURODEGENERATIFALZHEIMER
Penelitian ini mengembangkan dan menganalisis model matematika untuk menggambarkan interaksi dinamik antara akumulasi protein toksik dan kapasitas clearance pada penyakit neurodegeneratif Alzheimer serta merumuskan strategi kontrol optimal untuk menekan progresi penyakit. Model yang dibangun menangkap mekanisme umpan balik positif, yaitu peningkatan protein toksik mempercepat degradasi kapasitas clearance dan mendorong akumulasi protein toksik lebih lanjut. Analisis kualitatif sistem menunjukkan keberadaan dua titik tetap utama, yakni Keadaan Sehat yang stabil secara kondisional dan Keadaan Sakit yang selalu stabil serta menghasilkan parameter bibit toksik kritis pcrit sebagai batas toleransi sistem terhadap beban awal patologis. Untuk menentukan strategi intervensi yang optimal, penelitian ini menerapkan Forward-Backward Sweep Method (FBSM) yang dimodifikasi dengan pendekatan Gradient Descent dan Backtracking Line Search untuk menjamin stabilitas numerik dan konvergensi indeks performansi dengan dua mekanisme kontrol utama berupa eliminasi protein toksik dan pemulihan kapasitas clearance. Hasil simulasi menunjukkan bahwa efektivitas strategi kontrol sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahan sistem dan nilai parameter saturasi ? yang merepresentasikan kekuatan mekanisme regulasi diri. Pada kondisi dengan beban protein toksik yang rendah dan nilai ? yang relatif besar, kontrol parsial masih mampu menjaga stabilitas sistem, sedangkan pada simulasi berbasis data pasien Alzheimer dengan nilai ? yang rendah, penghilangan salah satu mekanisme kontrol menyebabkan peningkatan indeks performansi secara drastis dan berujung pada kegagalan sistem. Temuan ini menegaskan bahwa pada kondisi klinis realistis dengan mekanisme saturasi yang lemah, intervensi ganda merupakan syarat mutlak untuk mencapai pemulihan sistem yang stabil. Selain itu, kombinasi kontrol yang seimbang antara eliminasi protein toksik dan pemulihan clearance memberikan performa paling stabil dan konsisten di seluruh skenario simulasi.
ANALISIS PENGARUH MODEL SUKU BUNGA TERHADAP DINAMIKA MARGIN JASA KONTRAKTUAL PADA PRODUK ASURANSI JIWA BERJANGKA BERDASARKAN ATURAN PSAK 117
Penerapan PSAK 117 menuntut valuasi asuransi berbasis nilai kini, khususnya pada komponen Contractual Service Margin (CSM). Penelitian ini mengevaluasi dampak penggunaan model stokastik Hull-White Satu Faktor terhadap valuasi CSM produk asuransi jiwa berjangka (Term Life) bertenor 20 tahun dibandingkan dengan pendekatan deterministik. Model dikalibrasi secara hibrida menggunakan Maximum Likelihood Estimation (MLE) pada data historis BI Rate (2005-2025) serta kalibrasi exact fit terhadap kurva imbal hasil SBN per 19 Desember 2025. Melalui 10.000 simulasi Monte Carlo, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan stokastik menghasilkan CSM awal sebesar Rp2.874.540, lebih rendah 10,3% dibandingkan pendekatan deterministik (suku bunga konstan 4,75%) sebesar Rp3.205.831. Disparitas ini mengindikasikan bahwa metode deterministik cenderung melebih-lebihkan (overstate) profitabilitas karena mengabaikan struktur kurva imbal hasil yang menanjak dan biaya volatilitas. Hasil ini mengonfirmasi bahwa model stokastik memberikan estimasi cadangan yang lebih konservatif, prudent, serta memenuhi prinsip konsistensi pasar (market consistent) yang disyaratkan PSAK 117.
ANALISIS LONGITUDINAL PEMBINAAN ATLET SEPAKBOLA KELOMPOK USIA PADA PIALA SOERATIN U15 2023 HINGGA U17 2025 PROVINSI JAWA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pembinaan atlet sepak bola kelompok usia melalui kajian longitudinal pada Piala Soeratin U15 tahun 2023 hingga Piala Soeratin U17 tahun 2025 di Provinsi Jawa Barat. Fokus penelitian diarahkan pada tingkat retensi dan dropout pemain pada fase transisi dari U15 ke U17, fenomena late entry pada kategori U17, serta pengaruh Relative Age Effect (RAE) terhadap keberlanjutan partisipasi atlet muda. Pendekatan longitudinal digunakan untuk melacak keberlanjutan partisipasi pemain antar kelompok usia dalam rentang waktu dua tahun. Data diperoleh dari daftar pemain resmi dan dokumen registrasi kompetisi yang terintegrasi dengan sistem PSSI (SIAP), mencakup distribusi tanggal lahir, status retensi, dropout, dan late entry. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan mengelompokkan pemain ke dalam kuartil usia kelahiran (Q1–Q4) dan menguji hubungan antara kuartil usia dengan status retensi, dropout, dan late entry menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat retensi pemain dari U15 ke U17 relatif rendah, dengan hanya 19,55% pemain U15 yang tercatat kembali pada kompetisi U17 dua tahun kemudian. Analisis statistik menunjukkan bahwa RAE berpengaruh signifikan terhadap retensi dan dropout pemain pada fase U15, di mana pemain yang lahir pada kuartil awal tahun (Q1–Q2) memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hingga U17, sementara pemain dari kuartil akhir (Q3–Q4) cenderung mengalami dropout lebih tinggi. Sebaliknya, RAE tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap fenomena late entry pada kategori U17, yang didominasi oleh pemain baru yang tidak berasal dari sistem kompetisi U15 sebelumnya. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa RAE berperan terutama sebagai mekanisme seleksi dan eliminasi dini dalam pembinaan sepak bola usia muda, namun tidak menentukan peluang masuk ke sistem pada usia remaja akhir. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya penerapan pendekatan pembinaan jangka panjang yang lebih inklusif dan berorientasi pada perkembangan individu, guna meminimalkan kehilangan atlet potensial pada tahap awal pengembangan.
SINTESIS HIDROGEL SUPERABSORBEN BERBASIS KARBOHIDRAT ALAM TERFUNGSIONALISASI BIO-NANOMATERIAL UNTUK APLIKASI PADA TANAH PERTANIAN
Hidrogel superabsorben (HSA) berbahan dasar hayati, khususnya pati, banyak digunakan sebagai pengkondisi tanah untuk meningkatkan retensi air pada sistem pertanian. Namun, sebagian besar HSA masih memanfaatkan pati pangan yang bernilai ekonomi tinggi. Penelitian ini mengembangkan HSA berbahan dasar pati non-pangan dari Manihot glaziovii (singkong karet). Sintesis dilakukan melalui kopolimerisasi cangkok dalam kondisi bebas oksigen, dengan memvariasikan perbandingan pati terhadap monomer asam akrilat, derajat netralisasi monomer, dan penambahan nanopartikel silika. Pengaruh variabel tersebut dievaluasi melalui uji penyerapan air ekuilibrium, kinetika pembengkakan (swelling), perilaku penyusutan (deswelling), kekuatan mekanis, dan kemampuan penggunaan kembali. Karakteristik struktur dan morfologi hidrogel dianalisis menggunakan FTIR, XRD, dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan derajat netralisasi monomer sebanding dengan peningkatan kapasitas penyerapan air HSA. Kapasitas penyerapan maksimum sebesar 725,2 g/g dicapai pada derajat netralisasi 70% dengan perbandingan pati terhadap monomer sebesar 1:3. Nilai ini melampaui kinerja HSA berbahan dasar pati komersial (Manihot esculenta). Penambahan nanopartikel silika menunjukkan pengaruh yang bergantung pada komposisi. Kapasitas penyerapan air menurun hingga 459 g/g pada kadar nanopartikel silika 1%. Namun, pada kadar nanopartikel silika optimum sebesar 2%, kapasitas penyerapan air meningkat secara signifikan hingga 919,68 g/g disertai peningkatan kekuatan tekan sebesar 42%. Penelitian ini berhasil mengonversi pati singkong karet yang bersifat non-pangan dan kurang dimanfaatkan menjadi HSA bernilai tinggi dengan kinerja yang dapat disesuaikan. Hidrogel ini berpotensi diaplikasikan sebagai material pengkondisi tanah untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan efisiensi penggunaan air.
PENGARUH JENIS NANOMATERIAL TERHADAP KARAKTERISTIK DAN KINERJA MEMBRAN BIPOLAR BERSTRUKTUR HETEROGEN DALAM PROSES ELEKTROLISIS NACL
Produksi hidrogen hijau melalui elektrolisis air laut berbasis membran heterogen secara langsung memberikan solusi energi terbarukan yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Membran bipolar (BPM) memfasilitasi disosiasi air (WD) pada antarmukanya, sehingga menghasilkan gradien pH lokal yang penting untuk proses elektrokimia seperti elektrolisis air laut. Namun, kinerja BPM di lingkungan salin masih terhambat oleh tingginya overpotensial dan rendahnya stabilitas operasional. Studi ini melaporkan fabrikasi BPM heterogen melalui hot-pressing membran penukar kation dan anion dengan penambahan lapisan antarmuka TiO2, ZnO, MXene, dan graphene oxide (GO). Karakerisasi morfologi dan struktur kimia dilakukan menggunakan FTIR dan SEM/EDS penampang. Pengujian elektrokimia dalam larutan NaCl 35.000 ppm menunjukkan bahwa keberadaan nanokatalis antarmuka secara signifikan meningkatkan efisiensi WD, yang ditunjukkan oleh oleh tegangan awal yang lebih rendah, konduktivitas yang lebih tinggi, dan perbedaan pH yang lebih besar dibandingkan BPM tanpa modifikasi. Di antara seluruh variasi, BPM dengan lapisan ZnO 0,054 wt.% menunjukkan kinerja terbaik dengan konduktivitas tertinggi (~5,7 mS.cm-1), tegangan sel yang paling stabil (~6,4 V pada 20 mA.cm-2), serta gradien pH terbesar (?pH ? 10). Temuan ini menegaskan bahwa rekayasa lapisan antarmuka berbasis nanokatalis secara efektif meningkatkan performa BPM untuk aplikasi elektrolisis simulasi air laut langsung.
VALIDASI DARI APLIKASI UNTUK ESTIMASI PARAMETER-PARAMETER WEIBULL MENGGUNAKAN METODE R-SQUARED
Maintenance is crucial for industry sustainability as it directly affects cost, reliability, safety, and productivity. In aviation, unplanned aircraft downtime adds significant costs and creates safety risks. To predict aircraft component failures, the Weibull distribution is used because it models time-to-failure data accurately. The three-parameter Weibull distribution is the most used model in aviation maintenance, with three parameters: scale parameter (?), shape parameter (?), and location parameter (?). Previous research by the Engineering Design and Production research group at ITB created a Python-based application to estimate these parameters using R-squared method applied to Weibull Paper Plot transformations. Although the application succeeded, the results and method lack validation. Without validation, the application cannot be recommended for aircraft maintenance task selection, where inaccurate parameter estimates could lead to wrong maintenance intervals or wasted costs. The author undertook this research to achieve three objectives: to find a method that can validate the results of the application, to compare the parameter estimates from the Python application with estimates from Excel Solver, and to test the user experience of the developed application. To validate the application, the author created synthetic datasets from known three-parameter Weibull distributions representing three failure modes: wear-out failures (? > 1), random failures (? = 1), and infant mortality failures (? < 1). Datasets with different sample sizes were generated from histograms with 15 classes. Both the Python application and Excel Solver were applied using R-squared. Results show that both methods produce equivalent parameter estimates with location parameter errors typically less than 5%. The Python application can estimate parameters for ? ? 1 cases while Excel Solver cannot converge in these regions. Other than that, RMSE is also calculated using Excel Solver which has the same result as R-squared method. The author concludes that both methods are valid for three-parameter Weibull parameter estimation, with the Python application offering better numerical stability across all failure rate behaviours relevant to aircraft components.
KAJIAN EFEKTIFITAS PENGENDALIAN BANJIR DAN PENGARUHNYA TERHADAP SEDIMENTASI PADA SUNGAI WULAN, KABUPATEN DEMAK
Sungai Wulan merupakan bagian hilir dari daerah aliran sungai Serang-Lusi. Selain mempunyai kemiringan yang landai, yaitu 0,000021, Sungai Wulan juga terpengaruh pasang surut sehingga morfologi sungai wulan dominan mengalami sedimentasi. Berdasarkan laporan dari BBWS Pemali Juana, sedimentasi Sungai Wulan mencapai 40 mm/tahun dan rambatan pasang surut sejauh 25 km. Oleh karena itu, kapasitas Sungai Wulan mengalami pengecilan sehingga dapat menyebabkan banjir di sekitarnya padahal telah terdapat tanggul tanah sejak tahun 1989. Data tercatat pada tahun 2021 dan 2024 tanggul Sungai Wulan mengalami overtopping karena debit banjir yang terjadi lebih besar dari kondisi eksisting tanggul. Pada tahun 2024 juga tanggul sebelah kiri mengalami kegagalan konstruksi (jebol) karena debit yang melewati Sungai Wulan lebih dari 1100 m3/detik padahal kapasitas Sungai Wulan diperkirakan 800 m3/detik. Beberapa faktor tersebut membuat Sungai Wulan mengalami luapan air sehingga membuat daerah sekitar mengalami banjir. Oleh karena itu, diperlukan kajian pengendalian banjir dan pengaruhnya terhadap sedimentasi pada Sungai Wulan dengan tujuan mengetahui pengaruh pasang surut di Sungai Wulan, mengetahui limpasan banjir dan perubahan morfologi sebelum dan sesudah kegiatan pengendalian banjir Sungai Wulan. Kajian ini dilakukan pada Sungai Wulan sepanjang 30 km mulai dari jembatan Tanggulangin sampai dengan 5 km dari laut. Secara umum, kajian dilakukan dengan cara melakukan analisis hidrologi, analisis pasang surut, analisis hidraulika, dan analisis sedimentasi. Metodologi untuk analisis hidrologi dalam menghitung debit banjir, yaitu HSS SCS-CN, Snyder, dan Nakayasu dengan menggunakan software Hec-HMS. Debit banjir yang digunakan untuk pemodelan banjir yaitu debit banjir kala ulang 2 tahun dan 25 tahun. Sedangkan pemodelan sedimentasi selain menggunakan debit banjir tersebut, digunakan juga debit harian pencatatan pos duga air Karanganyar dan Kedunggupit. Debit banjir dikalibrasi menggunakan debit pencatatan PDA Klambu di hulu kajian dan awal dari Sungai Wulan. Analisis pasang surut menggunakan metode Least Square. Analisis hidraulika dan sedimentasi menggunakan software Hec-RAS. Rencana skenario pengendalian banjir dan sedimentasi yaitu, eksisting (0), normalisasi dan peninggian tanggul (1), normalisasi (2), dan peninggian tanggul (3). Hasil kalibrasi debit banjir menunjukkan HSS SCS-CN menghasilkan eror yang paling baik sehingga kajian banjir dan sedimentasi menggunakan metode HSS SCS-CN. Debit banjir Q2 sebesar 680,20 m3/detik dialirkan pada skenario 0 menghasilkan 74 titik limpasan dengan ketinggian limpasan maksimum 0,7 m. Pasang surut membuat tinggi limpasan tersebut bertambah sebesar 0,1 m sehingga menyebabkan bertambahnya titik limpasan menjadi 98 titik limpasan. Sedangkan debit banjir Q25 sebesar 1112,60 m3/detik pada skenario 0 menghasilkan 593 titik limpasan dan pengaruh pasang surut menyebabkan bertambahnya tinggi muka air sebesar 0,1 m dan limpasan menjadi 610 titik. Penerapan normalisasi dan peninggian (skenario 1) menghasilkan titik limpasan hingga 0 titik (reduksi banjir 100%). Sedangkan normalisasi (skenario 2) hanya mampu menurunkan jumlah titik limpasan menjadi 15 titik dengan ketinggian limpasan maks 0,38 m dan penerapan tanggul saja (skenario 3) menurunkan jumlah titik limpasan menjadi 11 titik dengan limpasan maks 0,49 m. Pemodelan sedimen Sungai Wulan pada kondisi eksisting (skenario 0) akan mengalami sedimentasi sebesar 178 x 103 m³/tahun dan erosi sebesar 235 x 103 m³/tahun. Setelah dilakukan Setelah dilakukan normalisasi, dengan dan tanpa peninggian tanggul (skenario 1 dan 2), sedimentasi akan menurun menjadi 57 x 103 s.d. 58 x 103 m³/tahun karena lebih dominan erosi. Sedangkan peninggian tanggul (skenario 3) menurunkan volume sedimentasi menjadi 161 x 103 m³/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pengendalian banjir mempunyai dampak positif terhadap penurunan angka sedimentasi namun tetap terdapat pola erosi yang berpotensi mengakibatkan pola sungai akan kembali seperti kondisi eksisting. Secara umum, pola morfologi sungai hasil pemodelan yaitu dominan erosi. Berdasarkan data pengukuran, seharusnya terjadi sedimentasi di bagian hilir. Parameter gelombang mungkin berpengaruh dalam perubahan morfologi di bagian hilir maka diperlukan kajian khusus terkait muara Sungai Wulan. Pengendalian banjir eksisting di Sungai Wulan berupa tanggul dan sistem pelimpah goleng – SWD 1 menunjukkan bahwa tidak mampu mengalirkan limpasan air pada kondisi banjir Q25. Pengendalian banjir berupa normalisasi dan peninggian tanggul (skenario 1) terbukti efektif berdasarkan penilaian aspek reduksi banjir, sosial, biaya pelaksanaan, dan biaya pemeliharaan. Namun dengan catatan bahwa desain skenario 1 masih dapat dilakukan optimasi sehingga dapat mengurangi biaya pelaksanaan.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT JAMUR ASAL LAUT PENICILLIUM CITRINUM TERHADAP BAKTERI PATOGEN
Meningkatnya resistensi antibiotik, khususnya pada bakteri patogen prioritas global seperti kelompok ESKAPE, menegaskan urgensi pengembangan antibiotik baru yang lebih efektif. Salah satu sumber yang berpotensi menghasilkan kandidat antibiotik baru adalah jamur asal laut, mengingat kondisi ekosistem laut yang bersifat ekstrem dan dinamis mendorong organisme tersebut untuk mensintesis senyawa dengan struktur molekul yang unik, yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi jamur asal laut dari perairan di Provinsi Bali, Indonesia, yang berpotensi menghasilkan metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen, khususnya yang termasuk dalam kelompok ESKAPE. Perairan Bali dipilih karena wilayah ini merupakan bagian dari Coral Triangle, yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Penelitian ini mencakup tahapan peremajaan isolat jamur asal laut, karakterisasi morfologi makroskopis dan mikroskopis, fermentasi, ekstraksi, identifikasi spesies berbasis DNA barcoding, analisis filogenetik, fraksinasi dan subfraksinasi, penentuan aktivitas antibakteri secara kualitatif dan kuantitatif, serta analisis profil metabolit dari subfraksi terpilih. Sebanyak sepuluh isolat jamur asal laut digunakan sebagai sumber ekstrak, yang diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538, Klebsiella pneumoniae ATCC 13883, Acinetobacter baumannii ATCC 19606, Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, Enterobacter aerogenes, serta methicillinsensitive S. aureus (MSSA) yang berasal dari methicillin-resistant S. aureus (MRSA) ATCC BAA-44. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat (EtOAc) hasil fermentasi skala kecil dari isolat FSB 31A, khususnya yang berasal dari media fermentasi, memperlihatkan aktivitas antibakteri paling kuat. Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) yang diperoleh sebesar 200 µg/mL terhadap S. aureus dan 25 µg/mL terhadap MSSA, yang masing-masing dikategorikan sebagai aktivitas sedang dan kuat, sementara nilai konsentrasi bunuh minimum (KBM) masih berada di atas 200 µg/mL. Identifikasi spesies berbasis DNA barcoding wilayah internal transcribed spacer (ITS) mengonfirmasi bahwa isolat FSB 31A merupakan Penicillium citrinum, yang konsisten dengan berbagai laporan terdahulu mengenai aktivitas antibakteri P. citrinum terhadap S. aureus dan MRSA, serta keberadaan metabolit aktif seperti penicitol D, 1-epi-citrinin H1, dan penicitrinol J. Fermentasi skala besar terhadap isolat P. citrinum menghasilkan ii penurunan aktivitas antibakteri, yang diduga berkaitan dengan penambahan media fermentasi selama proses fermentasi, sehingga kultur cenderung bertahan lebih lama pada fase eksponensial dan mengalami perubahan komposisi maupun rasio metabolit sekunder yang dihasilkan. Dugaan tersebut diperkuat oleh hasil kromatografi lapis tipis (KLT) yang menunjukkan perbedaan profil bercak senyawa antara ekstrak hasil fermentasi skala kecil dan skala besar. Meskipun demikian, proses fraksinasi dan subfraksinasi terhadap ekstrak fermentasi skala besar berhasil menghasilkan subfraksi 14–16 (S14–16) dengan nilai KHM sebesar 100 µg/mL terhadap S. aureus dan 200 µg/mL terhadap MSSA, meskipun nilai KBM pada kedua bakteri uji masih berada di atas 200 µg/mL. Analisis profil metabolit menggunakan liquid chromatography–high resolution mass spectrometry (LC– HRMS) terhadap subfraksi S14–16 mengungkap keberadaan sitrinin dan 8- hydroxyquinoline (8-HQ), dua senyawa yang berdasarkan laporan terdahulu diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Selain kedua senyawa tersebut, masih dimungkinkan adanya metabolit sekunder lain, baik yang belum terelusidasi strukturnya maupun yang belum dilaporkan aktivitas biologisnya, yang berpotensi berkontribusi terhadap aktivitas antibakteri terhadap S. aureus maupun MRSA. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa jamur asal laut P. citrinum yang berasal dari perairan di Provinsi Bali, Indonesia, mampu menghasilkan metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Meskipun senyawa aktif yang teridentifikasi hingga tahap ini bukan merupakan senyawa baru, temuan ini menegaskan potensi jamur laut sebagai sumber kandidat antibiotik. Penelitian lanjutan perlu difokuskan pada isolasi dan karakterisasi senyawa tunggal dengan aktivitas paling kuat, sehingga kontributor utama aktivitas antibakteri dapat diidentifikasi dan tingkat kekuatan aktivitas senyawa tunggal dapat diklasifikasikan secara lebih akurat.