📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PEMODELAN KEAUSAN SISTEM GERAK MAKAN BERDASARKAN JUMLAH PUTARAN BALLSCREW

Ballscrew merupakan komponen utama pada sistem gerak makan mesin CNC yang berperan penting dalam menjaga akurasi posisi dan kualitas pemesinan. Seiring bertambahnya waktu operasi, ballscrew mengalami keausan yang menyebabkan penurunan preload dan peningkatan backlash, sehingga menurunkan kinerja sistem secara keseluruhan. Pemantauan kondisi ballscrew secara konvensional umumnya memerlukan pembongkaran mesin, yang tidak efisien dan sulit diterapkan pada lingkungan industri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemantauan keausan ballscrew tanpa pembongkaran mesin serta menganalisis beberapa pendekatan berbasis data eksperimen dalam memodelkan keausan ballscrew berdasarkan jumlah putaran. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data arus servo motor terhadap jumlah putaran ballscrew, yang dikonversikan menjadi indikator preload, serta data keausan ballscrew yang diperoleh melalui pengukuran laser. Pemodelan degradasi dilakukan menggunakan tiga metode berbasis data, yaitu regresi polinomial, Support Vector Regression (SVR), dan Gaussian Process Regression (GPR). Masing-masing metode diterapkan untuk memodelkan preload, keausan, serta model gabungan preload dan keausan sebagai fungsi dari jumlah putaran ballscrew. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah putaran ballscrew merupakan parameter yang efektif dalam merepresentasikan degradasi sistem gerak makan. Regresi polinomial mampu menggambarkan tren degradasi pada rentang data eksperimen, namun memiliki keterbatasan dalam prediksi jangka panjang. SVR menunjukkan performa yang lebih stabil dan tahan terhadap noise data, sedangkan GPR memberikan keunggulan tambahan berupa estimasi ketidakpastian prediksi melalui interval kepercayaan. Secara keseluruhan, pendekatan berbasis data, khususnya GPR, memiliki potensi yang baik untuk diterapkan dalam pemantauan kondisi dan perawatan prediktif ballscrew pada mesin CNC.

2026
👤 Penulis: Muhammad Al-Farisi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Eksperimen 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN PUSAT AGROWISATA DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKSI BAMBU PADA LAHAN YANG CURAM

Terasering Panyaweuyan di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka merupakan kawasan agrikultur dataran tinggi dengan karakter topografi curam (kemiringan hingga 45%) yang memiliki potensi besar sebagai kawasan agrowisata. Namun, praktik pertanian konvensional berupa teras bangku dengan tanaman hortikultura pada lahan curam berkontribusi terhadap tingginya risiko erosi dan degradasi tanah. Di sisi lain, aktivitas pariwisata yang berkembang masih bersifat visual dan belum terintegrasi dengan sistem pertanian serta konservasi lahan yang ada. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi arsitektur yang mampu meningkatkan nilai sosial-ekonomi kawasan tanpa memperbesar risiko kerusakan lereng. Perancangan ini bertujuan merumuskan konsep pusat agrowisata pada lahan curam melalui pemanfaatan konstruksi bambu sebagai lightweight material yang adaptif terhadap kondisi topografi dan ekologi tapak. Pendekatan yang digunakan adalah sustainable slope design dan bamboo architectural system dengan metode perancangan arsitektur berbasis analisis topografi, klimatologi, hidrologi, karakteristik tanah Andosol, serta kajian literatur dan preseden terkait pembangunan pada lahan miring dan konstruksi bambu. Hasil perancangan menghasilkan konfigurasi kawasan bertingkat yang mengikuti kontur lereng melalui pembagian strategi ground terrace, water terrace, dan construction terrace. Massa bangunan dirancang sebagai struktur panggung dengan sistem pondasi titik (bore pile) untuk meminimalkan pemotongan tanah dan menjaga stabilitas lereng. Sistem konstruksi bambu diterapkan dengan sambungan fleksibel dan prinsip preservation by design guna merespons pergerakan tanah, beban angin, serta kondisi iklim lembab. Pengelolaan air hujan dilakukan melalui integrasi rainwater harvesting, bioswale, kolam retensi, dan drainase berlapis untuk mereduksi aliran permukaan dan kejenuhan tanah. Selain itu, penerapan Vetiver Grass Technology berfungsi sebagai elemen stabilisasi lereng berbasis vegetasi. Perancangan ini menunjukkan bahwa integrasi material bambu, strategi pengelolaan air, dan konfigurasi bangunan yang mengikuti kontur dapat menjadi model pengembangan pusat agrowisata berkelanjutan yang adaptif terhadap tantangan geografis lahan curam.

2026
👤 Penulis: Melis Muhlisoh
🏷️ Konstruksi Bambu 🏷️ Pertanian Berkelanjutan 🏷️ Desain Topografi

PEMBUATAN, KARAKTERISASI, DAN STUDI PENCERNAAN IN VITRO KOMPLEKS INKLUSI ANTARA PATI DENGAN SENYAWA TURUNAN ASAM BUTIRAT

Pati merupakan polisakarida yang tersusun atas ?-D-glukosa yang mudah terhidrolisis pada saluran pencernaan. Pembentukan kompleks inklusi merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menurunkan laju hidrolisis pati. Senyawa turunan asam butirat merupakan asam lemak rantai pendek yang berpotensi sebagai agen anti-obesitas. Namun, senyawa butirat memiliki kelemahan, seperti bau dan rasa yang tidak sedap serta kestabilan yang rendah. Penelitian ini bertujuan membuat kompleks inklusi antara pati dengan senyawa turunan asam butirat (etil butirat, metil butirat, butil butirat, propil butirat, sodium butirat, dan asam butirat) serta melakukan karakterisasi fisikokimia dan studi pencernaan in vitro. Kompleks pati–butirat dibuat dengan variasi konsentrasi molekul tamu sebesar 3, 5, 7, dan 9% (b/b terhadap massa pati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleks inklusi pati–butirat berhasil dibuat, yakni berdasarkan data karakterisasi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), mikroskop polarisasi, Scanning Electron Microscopy (SEM), X-ray Diffraction (XRD), uji derajat penggembungan, dan uji degradasi enzimatis menggunakan ?-amilase. Berdasarkan spektrum FTIR, puncak dari senyawa butirat tidak muncul pada spektrum kompleks inklusi pati. Hal ini menandakan terbentuknya kompleks inklusi pati dengan senyawa butirat yang berada di dalam rongga amilosa. Hal ini didukung oleh citra mikroskop polarisasi dan SEM yang menunjukkan adanya perbedaan polarisasi dan morfologi antara pati dengan kompleks pati–butirat. Berdasarkan analisis XRD, diperoleh bahwa kompleks pati–butirat memiliki struktur yang dominan amorf. Melalui pengujian derajat penggembungan, diperoleh derajat penggembungan kompleks pati-butirat (20–25 mL/g) lebih rendah dibandingkan dengan pati (28–31 mL/g). Berdasarkan studi pencernaan in vitro melalui uji degradasi enzimatis, diperoleh bahwa kompleks pati–butirat memiliki ketahanan hidrolisis yang lebih kuat dibandingkan dengan pati. Pada waktu tak hingga, pati terhidrolisis hingga 83%, sedangkan kompleks pati-butirat hanya terhidrolisis sebesar 27–53%. Kompleks pati–butirat berhasil menunjukkan penurunan laju hidrolisis pati. Hal ini menjadikan kompleks inklusi pati–butirat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pati lambat cerna. Kata kunci: kompleks inklusi, pati, studi pencernaan

2026
👤 Penulis: Ratu Nabila Putri Firdaus
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

REKONSTRUKSI 3D DAN KARAKTERISASI STRUKTUR PORI SKALA NANO BERBASIS CITRA MIKROSKOP ELEKTRON

Dalam teknik Fisika Batuan Digital (Digital Rock Physics), karakterisasi batuan berporositas rendah memerlukan citra resolusi tinggi dengan cakupan area luas agar tetap representatif. Namun, pemanfaatan citra Field Emission Scanning Electron Microscope (FE-SEM) dalam rekonstruksi digital masih terbatas. Penelitian ini mengevaluasi penggunaan citra Large Area Imaging (LAI) pada FE-SEM dengan resolusi tinggi pada perbesaran 50.000× dan ukuran piksel 5 nm. Penggunaan detektor Backscattered Electron (BSE) menghasilkan kontras densitas yang tegas antara fase pori dan matriks tanpa bias morfologi permukaan. Prosedur LAI membangun citra mosaik berukuran 30.720 × 20.480 piksel dari 400 tiles. Untuk melengkapi analisis, pemodelan struktur mikro biner berbasis teknik Geometris Stokastik dilakukan guna menghasilkan citra biner 3D melalui fitur DigitalTwin pada perangkat lunak GeoDict. Dataset biner 3D direkonstruksi dari beberapa area potensial berukuran 1.0003 voksel, menunjukkan rentang porositas total 2.4–8.5% dan permeabilitas absolut 4–2.120 nD. Analisis mikrogeometri mengungkap bahwa Radius Pori dan Specific Surface Area (SSA) merupakan faktor kontrol utama kompleksitas arsitektur pori; SSA tinggi merepresentasikan morfologi dinding pori rumit dan distribusi saluran sempit (pore throats) masif. Uji fidelitas terhadap referensi FIB-SEM mengonfirmasi kemiripan geometri dan pola anisotropi, dengan keterhubungan pori dominan pada sumbu x dan z. Kemampuan pemodelan GrainGeo terbukti reliabel dalam merekonstruksi heterogenitas mikrostruktur 3D dari citra LAI secara akurat. Proses ini berhasil mendefinisikan ambang batas konektivitas (percolation threshold) pada porositas 3–6%, di mana model di bawah ambang tersebut didominasi status tidak terhubung, sementara di atas 6% menunjukkan keterhubungan stabil. Selain itu, pendekatan ini mampu menangkap pola anisotropi pori. Integrasi citra LAI FE-SEM dan pemodelan biner 3D terbukti reliabel dan adaptif dalam menangkap heterogenitas batuan skala nano pada area luas, memberikan pemahaman mendalam mengenai kontrol geometris terhadap pergerakan fluida untuk kebutuhan kajian fisis batuan digital.

2026
👤 Penulis: Fajar Ridwan Sidik
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Mikrogeometri 🏷️ Digital Rock Physics

PEMANTAUAN KONSENTRASI OBAT LEVOFLOKSASIN DALAM DARAH PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP RSUP DR. HASAN SADIKIN

Levofloksasin merupakan antibiotik fluoroquinolon yang banyak digunakan pada pneumonia dan termasuk dalam kategori WATCH menurut klasifikasi WHO AWaRe, sehingga penggunaannya memerlukan pemantauan ketat. Efektivitas levofloksasin sangat bergantung pada pencapaian target farmakokinetik/farmakodinamik (PK/PD), khususnya rasio area di bawah kurva konsentrasi–waktu terhadap konsentrasi hambat minimum (AUC0-24/MIC). Penelitian ini mengevaluasi profil farmakokinetik levofloksasin intravena pada pasien pneumonia komunitas rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin menggunakan pendekatan non-compartmental analysis. Kadar levofloksasin plasma diukur dengan metode high-performance liquid chromatography pada empat titik waktu pengambilan sampel dalam satu interval dosis. Parameter yang dianalisis meliputi konsentrasi maksimum (Cmax), AUC0-24, dan rasio AUC0-24/MIC berdasarkan breakpoint Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil analisis pada 29 pasien menunjukkan variabilitas antarindividu yang besar pada Cmax, AUC0-24, dan AUC0-24/MIC. Pasien dengan augmented renal clearance memperlihatkan penurunan konsentrasi obat yang cepat dan risiko paparan rendah, sedangkan pasien dengan gangguan fungsi ginjal menunjukkan eliminasi lambat, kadar palung yang tinggi, dan potensi akumulasi obat. Median Cmax tercatat sebesar 14,41 mg/L, median AUC0-24 sebesar 162 mg·h/L, dan median rasio AUC0-24/MIC sebesar 81 pada isolat dengan MIC ?2 mg/L. Pada isolat dengan kategori susceptible, sebagian besar pasien mencapai rasio AUC0-24/MIC yang memadai, meskipun variasi paparan antarindividu tetap ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa dosis standar levofloksasin tidak selalu menjamin paparan optimal maupun keamanan terapi, sehingga pendekatan individualisasi dosis dan penerapan therapeutic drug monitoring perlu dipertimbangkan untuk mengoptimalkan penggunaan levofloksasin pada pasien pneumonia.

2026
👤 Penulis: Destiana Dewi Winarsa
🏷️ Farmakokinetika 🏷️ Pneumonia Komunitas 🏷️ Therapeutic Drug Monitoring

ANALISIS PERILAKU ASPHALTENE BERBASIS STRUKTUR C5 PE DALAM PELARUT BENZENA-DODEKANA DAN BENZENA-DODEKANA-AIR

Asphaltene dikenal sebagai komponen minyak bumi yang tergolong ke dalam fraksi berat serta memiliki kemampuan untuk teragregasi. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi agregasi asphaltene adalah interaksi antargugus fungsi pada struktur molekulnya. Asphaltene tidak memiliki struktur yang definitif, tetapi secara umum dalam asphaltene selalu ditemui rantai alifatik, gugus poliaromatik, dan heteroatom (umumnya N, O dan/atau S). Pelarut juga merupakan faktor yang memengaruhi kestabilan asphaltene. Pada penelitian ini, perilaku prototipe asphaltene C5 Pe dan variasinya diamati dalam pelarut yang berbeda, yaitu benzena-dodekana (model minyak) dan benzena-dodekana-air (model minyak-air), melalui simulasi dinamika molekul. Simulasi dinamika molekul dilakukan menggunakan perangkat lunak GROMACS 2020.6 dengan parameter interaksi yang dikomputasi menggunakan medan gaya GROMOS 54A7. Proses produksi dilakukan selama 100 ns dengan ensambel NPT yang menjaga jumlah partikel tetap sama, tekanan pada 1 bar, dan suhu pada 298 K. Analisis densitas seluruh komponen sistem menunjukkan bahwa C5 Pe relatif lebih stabil pada pelarut benzena-dodekana, tetapi menjadi tidak stabil dengan keberadaan air yang membentuk antarmuka (benzena-dodekana)-air. Pada sistem benzena-dodekana-air, asphaltene teragregasi di sekitar antarmuka dan cenderung membentuk konformasi tatap-muka, sementara atom oksigen di ujung gugus karboksil melekat pada antarmuka seperti jangkar. Hal menarik terjadi pada asphaltene C5 Pe dengan variasi rantai alifatik diperpanjang yang teramati tidak stabil dalam pelarut benzena-dodekana, bahkan cenderung membentuk klaster agregat. Namun, kecenderungan tersebut justru hilang dalam pelarut benzena-dodekana-air dengan adanya antarmuka.

2026
👤 Penulis: Nisrina Dhiya Kamila
🏷️ Kemampuan Agregasi Asphaltenes 🏷️ Analisis Dinamika Molekul 🏷️ Hidrologi Minyak Dan Air

STUDI PENGARUH INJEKSI LISTRIK (ELEKTROKINETIKA) PADA RESERVOIR KARBONAT JAWA BARAT UNTUK ENHANCED OIL RECOVERY

Enhanced Oil Recovery (EOR) pada batuan karbonat sering dibatasi oleh wettability dan tekanan kapiler tinggi. Metode Elektrokinetik EOR (EK-EOR) diterapkan untuk mengevaluasi pengaruh arus listrik terhadap wettability, permeabilitas, dan pemulihan minyak. Pengukuran sudut kontak menunjukkan bahwa arus listrik memperkuat sifat water-wet pada sistem batuan– brine, tetapi tidak mengubah sudut kontak pada sistem batuan–minyak, sehingga penyerapan minyak tidak meningkat. Injeksi arus listrik meningkatkan permeabilitas melalui efek electroosmosis, namun tergantung arah aliran dan distribusi pori. Selain itu, pori kecil dan sifat oilwet batuan karbonat membuat minyak menempel kuat pada dinding pori, sehingga gaya kapiler membatasi aliran minyak dan pemulihan. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas EKEOR sangat dipengaruhi oleh wettability, struktur pori, dan tekanan kapiler.

2026
👤 Penulis: Helita Efrasia Dorasta Upa
🏷️ Elektrokinetik Enhanced Oil Recovery (Ek-Eor) 🏷️ Hidrologi Karbonat 🏷️ Permeabilitas Batuan

PENGARUH VARIASI JENIS MORDAN TERHADAP KETAHANAN CAHAYA ZAT WARNA ALAMI EKSTRAK LIMBAH PADAT TEH PADA KAIN KAPAS

Industri tekstil merupakan salah satu sektor industri yang berkontribusi signifikan terhadap pencemaran lingkungan, terutama penggunaan zat warna sintetik yang sulit terurai, bersifat toksik serta berdampak pada ekosistem perairan maupun kesehatan manusia. Pewarna alami yang berasal dari sumber hayati, bersifat biodegradable serta relatif ramah lingkungan, merupakan salah satu solusi yang banyak dipelajari kemampuannya sebagai perwarna tekstil. Beberapa tanaman diketahui mengandung senyawa fenolik, flavonoid dan tanin yang dapat memberi warna pada serat tekstil. Namun, perwarna alami memiliki kekurangan diantaranya ketahanan warna terhadap cahaya, pencucian dan gosokan yang relatif rendah. Hal ini menyebabkan warna tekstil akan mudah pudar dan tidak dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Teknik pewarnaan tekstil dengan menggunaan zat warna alami menjadi tantangan pada skala besar di industri. Untuk meningkatkan interaksi zat warna alami dengan serat tekstil, beberapa jenis mordan dapat digunakan sebagai bahan perantara antara zat warna alami dan serat teksil. Dalam penelitian ini, zat warna alami yang digunakan berasal dari limbah padat teh. Adapun tujuan penelitian ini adalah mempelajari komposisi limbah padat teh dengan air, suhu, dan waktu pada proses ekstraksi agar diperoleh konsentrasi zat warna alami yang optimum serta mempelajari pengaruh jenis mordan dan teknik mordan pada proses pewarnaan tekstil. Pada proses ekstraksi, perbandingan berat LPT dan air yang digunakan yaitu 1:20; 1:30; dan 1: 40 (w/v), dengan variasi suhu air (50,70, dan 95 ?C) dan waktu ekstraksi (30,60,90, dan 120 menit). Produk ekstraksi yang optimum diperoleh pada kondisi perbandingan berat LPT dan air 1:20, suhu 70 ?C, dan waktu 120 menit. Hasil dari pengujian ini menunjukan bahwa kenaikan suhu dan waktu mempengaruhi pada banyaknya jumlah kandungan fenolik yang dapat terisolasi dalam pelarut air. Ekstrak dari LPT dikarakterisasi dengan spetrofotometer Visible untuk mengetahui kandungan fenolik total dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk mengetahui kandungan senyawa katekin. Jenis mordan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Al2(SO4)3, ZnSO4 sebagai mordan anorganik dan kitosan sebagai mordan organik. Teknik mordating yang digunakan ada tiga, yaitu premordant, metamordant, dan postmordant. Beberapa pengujian yang dilakukan terhadap hasil pewarnaan tekstil yaitu ketuaan warna (K/S), arah warna, ketahanan warna terhadap sinar (SNI ISO 105-B01-2010), ketahanan warna pencucian (SNI ISO-C06-2010), dan ketahanan warna gosokan (SNI ISO 105-X12-2016). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, perwarnaan tekstil dengan menggunakan mordan kitosan dan teknik postmordan memiliki nilai ketuaan warna yang paling tinggi dan ketahanan cahaya yang paling baik, dengan nilai kekontrasan sama dengan nilai standar wol nomer 7. Pada pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian secara umum nilai rata – rata dari penurunan warna dan penodaan warna adalah 3/4 dan 5. Pada pengujian ketahanan luntur gosokan nilai rata – rata dari penodaan warna gosok kering dan basah adalah 4/5 dan 3.

2026
👤 Penulis: David Christian
🏷️ Ekstraksi Zat Warna Alami 🏷️ Mordansi Tekstil 🏷️ Kecerdasan Buatan

ADSORPSI ION CU(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN KOMPOSIT SERBUK BIJI PEPAYA-ALGINAT-MAGNETIT

Ion Cu(II) merupakan polutan yang sering ditemukan dalam limbah industri pelapisan logam, pertambangan, pengolahan logam, dan industri tekstil. Paparan ion Cu(II) dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko kesehatan termasuk gangguan pencernaan, kerusakan hati, hingga kanker paru-paru. Penelitian ini bertujuan untuk membuat adsorben komposit serbuk biji pepaya-alginat-magnetit (BPAM) dan mengkarakterisasi adsorben komposit tersebut. Selain itu, ditentukan pula kondisi optimum dan model kinetika, isoterm, dan termodinamika adsorpsi ion Cu(II) oleh BPAM. Adsorben komposit BPAM telah berhasil disintesis dan dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy- Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS), dan X-ray Diffraction (XRD). Variasi komposisi BPAM menghasilkan kapasitas optimum pada perbandingan 3% biji pepaya: 3% alginat: 1% magnetit (w/v). Hasil karakterisasi FTIR, menunjukkan bahwa gugus fungsi O-H dan C=O berperan dalam proses adsorpsi ion Cu(II). Berdasarkan citra SEM, diperoleh informasi adsorben komposit BPAM tidak berbentuk bulat sempurna dan permukaan menjadi lebih rata setelah proses adsorpsi dilakukan. Selain itu, hasil pemetaan EDS menunjukkan keberadaan unsur Cu pada adsorben BPAM setelah adsorpsi. Hasil optimasi adsorpsi mengonfirmasi bahwa kondisi optimum adsorpsi ion Cu(II) oleh adsorben komposit BPAM tercapai pada pH 5, massa adsorben 0,125 g, dan waktu kontak 4 jam dengan kapasitas adsorpsi maksimum (Qmaks) sebesar 42,27 mg/g. Proses adsorpsi ini mengikuti model kinetika orde satu semu, model isoterm Langmuir, dan bersifat eksotermik. Hasil studi adsorpsi-desorpsi menunjukkan bahwa adsorben berpotensi untuk digunakan berulang dengan larutan pendesorpsi paling baik adalah larutan HNO3 0,01 M.

2026
👤 Penulis: Az Zahra Faradika Fildzah K
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI NUMERIK PENGARUH RADIUS FILLET TERHADAP FAKTOR KONSENTRASI TEGANGAN PADA POROS BERTINGKAT

Poros bertingkat merupakan komponen mekanik yang banyak digunakan dalam sistem transmisi daya dan rentan mengalami konsentrasi tegangan pada daerah transisi perubahan diameter. Konsentrasi tegangan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan kekuatan struktur dan kegagalan prematur. Salah satu metode efektif untuk mengurangi konsentrasi tegangan adalah dengan pemberian radius fillet pada bahu poros. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi radius fillet terhadap faktor konsentrasi tegangan (Kt) pada poros bertingkat menggunakan pendekatan numerik berbasis metode elemen hingga. Parameter geometri yang ditinjau meliputi rasio diameter (D/d) dan rasio radius fillet (r/d) dengan pembebanan aksial, lentur, dan puntir. Pemodelan elemen hingga dilakukan secara parametrik dan disertai analisis konvergensi mesh serta validasi terhadap solusi teoretis dari literatur standar. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan radius fillet secara konsisten menurunkan nilai faktor konsentrasi tegangan pada seluruh variasi pembebanan. Penurunan Kt paling signifikan terjadi pada pembebanan lentur, dengan reduksi tegangan maksimum hingga 46%. Hasil validasi menunjukkan persentase selisih eror umumnya berada di bawah 5%, meskipun pada beberapa konfigurasi geometri ekstrem meningkat hingga 10–13%. Selain itu, dikembangkan model regresi polinomial kubik multivariabel yang menyatakan Kt sebagai fungsi dari rasio r/d dan D/d. Model regresi yang dihasilkan memiliki nilai koefisien determinasi (R²) di atas 0,9 dan dapat digunakan sebagai alternatif praktis untuk estimasi faktor konsentrasi tegangan tanpa memerlukan simulasi elemen hingga tambahan.

2026
👤 Penulis: Kiki Fadillah Nurul Hotimah
🏷️ Analisis Faktor Konsentrasi Tegangan 🏷️ Model Regresi Multivariabel 🏷️ Elemen Hingga Numerik

PENGEMBANGAN PARAMETER WANGGI TINUNG DI KECAMATAN KAMBERA DAN KECAMATAN KANATANG

Industri tenun ikat merupakan sektor UMKM terbesar di Sumba Timur dan berperan sebagai sumber penghidupan bagi banyak perempuan, sekaligus menjadi bagian penting dari identitas dan nilai tradisional masyarakat setempat. Aktivitas menenun yang seharusnya di lestarikan ini menghadapi tantangan karena upaya pelestarian melalui perancangan alat tenun selama ini masih didominasi pendekatan teknis semata sehingga nilai - nilai tradisional belum terakomodasi dengan baik. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini b ertujuan mengembangkan parameter perancangan alat tenun ( wanggi tinung) yang mampu mengakomodasi proses tenun tradisional dan modern untuk memenuhi kebutuhan pengguna serta menyesuaikan dengan konteks dan fungsionalitas. Penelitian ini mengintegrasikan metode ATUMICS, Axiomatic Design (AD) , dan TRIZ untuk merumuskan parameter desain yang menjaga nilai tradisional sekaligus memenuhi kebutuhan fungsional alat tenun . Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi customer needs (CN) , elemen tradisi yang perlu dipertahankan, serta permasalahan teknis yang muncul . Temuan tersebut selanjutnya dipetakan melalui kerangka AD untuk menghasilkan hubungan functional requirements (FR) da n Design Parameter (DP) , serta diselesaikan menggunakan prinsip - prinsip TRIZ ketika ditemukan kontradiksi desain yang membutuhkan solusi inovatif. Analisis observasi melalui pendekatan tematik menunjukkan bahwa temuan lapangan dapat dipetakan ke elemen - elemen ATUMICS dengan fokus pada shape sebagai dasar pertimbangan utama dalam perbaikan bentuk alat tenun. Proses ini menghasilkan 23 CN yang kemudian diterjemahkan melalui kerangka AD dan diselesaikan dengan TRIZ sehingga terbentuk 24 FR dan 24 DP sebagai landasan desain. Dari DP tersebut dirumuskan enam parameter perancangan kunci , yaitu sistem pengatur tegangan tubuh, tilang, sistem penahan ujung lua r tenunan, sistem pemisah lungsin atas dan bawah, tuka, dan sistem pemadat benang pakan .

2026
👤 Penulis: Keisha Ayu Sudiro
🏷️ Desain Produk 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Teknologi Inovatif

PERANCANGAN USULAN ACUAN KAPABILITAS HUMANWARE PADA PROSES PRODUKSI SOURCE MEASUREMENT UNIT XY DI PT X

PT X sebagai perusahaan manufaktur semikonduktor memiliki produk unggulan berupa Source Measurement Unit (SMU) tipe XY dengan tingkat permintaan pasar yang tinggi. Seiring dengan meningkatnya kompleksitas proses produksi, perusahaan membutuhkan kesiapan humanware yang terdefinisi secara jelas agar implementasi proses produksi dapat berjalan konsisten sesuai dengan Bill of Process (BOP). Namun, hingga saat ini PT X belum memiliki acuan kapabilitas humanware yang terstruktur sebagai dasar pengembangan sumber daya manusia pada proses produksi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk merancang usulan acuan kapabilitas humanware yang seharusnya dimiliki dalam proses produksi SMU XY di PT X. Metode penelitian meliputi pengumpulan data melalui kuesioner kepada panel ahli, validasi kriteria dan subkriteria menggunakan Metode Delphi, serta pembobotan tingkat kepentingan menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Proses Delphi dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama dengan melibatkan ahli internal PT X untuk memvalidasi kesesuaian kriteria dan subkriteria kompetensi terhadap konteks operasional proses produksi SMU XY, serta tahap kedua dengan melibatkan ahli eksternal industri untuk memperoleh konsensus yang lebih luas dalam penetapan batas derajat kapabilitas humanware pada setiap tahapan proses. Selanjutnya, AHP digunakan untuk menentukan bobot prioritas relatif antar kriteria dan subkriteria humanware. Hasil penelitian berupa acuan kapabilitas humanware yang memuat kriteria, subkriteria, bobot prioritas, serta batas kapabilitas yang seharusnya dimiliki pada masing-masing tahapan proses produksi. Acuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam melakukan evaluasi, perencanaan pelatihan, serta pengembangan sumber daya manusia secara lebih terarah untuk mendukung kualitas dan konsistensi produksi SMU XY di PT X.

2026
👤 Penulis: Fayola Maulida
🏷️ Manajemen Sumber Daya Manusia 🏷️ Proses Produksi 🏷️ Analisis Hierarki Kompetensi

POTRET ORBIT KAUSALITAS: PEMBACAAN WAJAH SEBAGAI SKEMA SEKUENSIAL

Pembacaan wajah sering kali berlangsung sebagai proses instan yang meniadakan kesempatan untuk memaknai struktur pembentuknya. Karya tugas akhir ini menerjemahkan alur persepsi manusia ke dalam penciptaan karya drawing melalui konfigurasi komponen visual wajah. Berangkat dari fenomena kecepatan pembacaan wajah, konsep Orbit Kausalitas hadir sebagai visualisasi peralihan fokus visual mengikuti lintasan orbit yang terus berubah dan membentuk hubungan sebab-akibat antar-komponen dalam sebuah skema sekuensial. Dengan dasar persepsi Gestalt, wajah anak digunakan sebagai kerangka visual yang netral untuk mewujudkan perubahan mikro antara waktu, cahaya, dan bentuk. Sistem visual yang muncul merupakan distribusi komponen melalui efek gerak yang hadir dari pergeseran sketsa, perubahan intensitas cahaya, serta repetisi melalui penekanan pada komponen alis, mata, hidung, dan bibir. Medium grafit di atas dua puluh satu lembar kertas kalkir dengan format serial diorkestrasi melalui struktur kombinatoris 2? dan bilangan prima sebagai instrumen teknis. Keseluruhan seri karya berdiri sebagai rangkaian dinamika fokus visual yang membentuk ritme perseptual; membuktikan bahwa pembacaan wajah adalah sebuah proses metakognitif yang terus bergerak melampaui identitas subjek.

2026
👤 Penulis: Zhafirah Shabrina Azatil'ismah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Persepsi Manusia 🏷️ Analisis Visual

PERANCANGAN KAPASITAS TANGKI TIMBUN, TARGET PERSEDIAAN, JUMLAH DAN JENIS KAPAL, SERTA ATURAN VOLUME KARGO DENGAN SIMULASI DINAMIKA SISTEM UNTUK PENINGKATAN NILAI PADA JARINGAN LOGISTIK SOLAR PT X

Industri migas menyumbang Rp500 triliun ke PDB Indonesia pada 2024, menjadikannya vital bagi perekonomian nasional. Salah satu produk kunci adalah BBM jenis solar dengan proyeksi permintaan meningkat hingga 45 juta kl di tahun 2040. PT X berperan penting dalam distribusi solar ke seluruh Indonesia, namun jaringan logistik yang menghubungkan kilang dan terminal menghadapi berbagai tantangan yang menurunkan mutu layanan dan inefisiensi biaya. Penelitian ini menganalisis empat proksi nilai pada jaringan logistik solar, yaitu (1) layanan pengiriman solar ke terminal PT X, (2) deviasi pelayaran, (3) waktu persiapan dan penyelesaian muat, serta (4) waktu persiapan dan penyelesaian bongkar. Tujuan penelitian adalah merancang model dinamika sistem untuk mengembangkan kebijakan kapasitas tangki timbun, target persediaan, jumlah dan jenis kapal, serta aturan volume kargo yang mampu mereduksi inefisiensi biaya logistik solar tanpa mengorbankan keterjaminan suplai solar yang tepat waktu, guna meningkatkan daya saing PT X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik dinamika sistem untuk merepresentasikan interaksi dan efek umpan balik antara kebijakan kapasitas tangki timbun, target persediaan, jumlah dan jenis kapal, serta aturan volume kargo secara dinamis. Model disusun berdasarkan pemetaan rantai nilai, dikembangkan dalam bentuk causal loop diagram dan stock-flow diagram, diverifikasi, divalidasi dan disimulasikan. Setelah simulasi skenario baseline, dilakukan analisis sensitivitas dan perancangan skenario intervensi kebijakan. Lima variabel keputusan yang diuji adalah Desired Parcel Size, Ship Tonnage, Available Ships, Beta in Safety Stock, dan Max Terminal Tank Capacity di Terminal C. Dari 24 skenario yang disimulasikan, skenario 16 terpilih sebagai skenario terbaik berdasarkan penilaian MCDA. Skenario 16 menerapkan kebijakan Desired Parcel Size sesuai kebijakan usulan, penggunaan kapal jenis MR berkapasitas 36.000 kl, nilai Beta in Safety Stock sebesar 0,5, jumlah armada kapal 7 unit, serta penambahan kapasitas tangki timbun Terminal C sebesar 16.000 kl. Skenario ini menghasilkan penurunan Total Terminal Shortage sekitar 69% dibandingkan baseline, penurunan Total Headroom Failure sekitar 80%, serta penurunan Total Shipments from Other Refinery sekitar 10%, dengan Total Ship Shortage sebesar 1,86. Dengan demikian, model yang dihasilkan berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan strategis untuk meningkatkan daya saing PT X.

2026
👤 Penulis: Shalihah Ramadhanty Nurhaliza
🏷️ Logistik 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Dinamika Sistem

BERAKHIR KEMBALI: INSTALASI CYANOTYPE SEBAGAI REFLEKSI KEMATIAN MELALUI DOA

Berakhir Kembali merupakan karya Tugas Akhir berupa instalasi seni yang mengangkat refleksi tentang kematian dan doa dalam perspektif Islam. Inspirasi awal muncul dari pengalaman penulis saat peristiwa Tsunami Aceh 2004, yang menjadi pemantik renungan mengenai kefanaan manusia, kehilangan, dan kepulangan kepada Allah. Kematian dipahami sebagai kenyataan gaib yang menuntut kesadaran spiritual, dan doa menjadi sarana dialog antara yang ada dan yang tiada, sekaligus pengingat akan ketundukan manusia kepada kehendak Ilahi. Fokus utama karya ini adalah bagaimana doa terhadap kematian dapat direpresentasikan secara simbolik melalui seni, serta bagaimana instalasi dapat menjadi ruang kontemplatif yang mendorong pengamat merenungi hidup dan mati. Karya tidak bertujuan menampilkan peristiwa tsunami secara literal, melainkan memanfaatkan fragmen memori dan jejak pengalaman sebagai medium perenungan. Bencana diposisikan sebagai pengingat eksistensial agar praktik doa senantiasa hadir dalam kehidupan. Proses penciptaan meliputi perumusan konsep, eksplorasi medium dan visual, eksperimen teknis, serta perancangan instalasi. Medium cyanotype dipilih karena sifat visualnya menyerupai bayangan atau jejak, dan warna birunya diartikan sebagai yang “tak terlihat menjadi terlihat”, selaras dengan gagasan kematian dan doa yang bersifat tidak kasatmata. Kain katun berwarna putih digunakan sebagai medium utama, menguatkan simbolisme kepulangan manusia dan sifat fana materi. Elemen visual seperti ombak, batu, dinding terkorosi, dan teks doa disusun secara vertikal untuk membangun pengalaman kontemplatif. Melalui instalasi ini, karya menjadi ruang refleksi antara yang ada dan yang tiada, mendorong pengamat untuk menempatkan doa sebagai respon spiritual terhadap kefanaan manusia.

2026
👤 Penulis: Farhanah Arifah
🏷️ Seni 🏷️ Kematian Islam 🏷️ Hidup Mati
Halaman 202 dari 6754
💬