π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDETEKSI DAN SEGMENTASI BENTIK TERUMBU KARANG DI KEPULAUAN DERAWAN DENGAN MEMANFAATKAN ALGORITMA YOLO DAN BAG OF TRICKS
Dalam karya ini dikembangkan sistem segmentasi bentik berbasis deep learning untuk mendeteksi dan memetakan kategori substrat bentik pada citra transek bawah air di Kepulauan Derawan. Model yang digunakan adalah YOLO, sebuah arsitektur deteksi satu tahap berbasis CNN, yang dioptimalkan dengan pendekatan Bag of Tricks. Dataset dianotasi melalui platform Roboflow dengan anotasi semi otomatis , dan model diarahkan untuk mendeteksi kerangka besi sebagai area of interest (AOI). Hasil deteksi kemudian dibandingkan dengan metode manual menggunakan perangkat lunak CPCe. Pendekatan ini menghasilkan efisiensi waktu analisis rata-rata sebesar 99,39% untuk 50 foto, dengan rata-rata selisih absolut 12,88% dalam estimasi tutupan karang hidup (Hard Coral/HC). Model juga menhasilkan hubungan linier sedang dengan nilai RΒ² = 0,51 dengan estimasi nilai CPCe menggunakan persamaan koreksi: CPCe = 0,7033 Γ YOLO + 1,1823. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi model YOLO dan strategi optimasi sederhana dapat menjadi solusi praktis dalam pemantauan terumbu karang berbasis citra.
EVALUASI BIAYA MANFAAT DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN FASILITAS DERMAGA POTENSIAL DALAM OPERASI PERTAMBANGAN BATUBARA
Industri pertambangan batubara Indonesia memainkan peran penting dalam mendukung keamanan energi nasional dan menjaga daya saing ekspor. Akibatnya, di Indonesia, kinerja infrastruktur logistik, khususnya fasilitas dermaga, menjadi semakin penting. Dengan meningkatnya produksi batubara karena kerja sama dengan tambang tetangga, dermaga dapat berubah menjadi hambatan operasional yang memengaruhi kapasitas pemuatan, biaya operasional, dan keandalan pengiriman. Studi ini menganalisis kinerja operasional dan keuangan dari tiga fasilitas dermaga yang dioperasikan oleh PT GLOBAL BATUBARA di Kalimantan Timur untuk menentukan dermaga mana yang dapat memberikan manfaat ekonomi terbesar dan untuk mengevaluasi kelayakan pengembangan infrastruktur lebih lanjut. Penilaian menggunakan pendekatan biaya manfaat operasional berdasarkan pengeluaran operasional arus kas, didukung oleh efisiensi dengan ukuran seperti margin laba kotor dan margin laba bersih. Berdasarkan hasil perbandingan, analisis Arus Kas Terdiskonto (Discounted Cash Flow/DCF) digunakan pada setiap dermaga untuk menilai kelayakan proyek pengembangan konveyor yang diusulkan menggunakan Nilai Sekarang Bersih (Net Present Value/NPV), Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return/IRR), dan Periode Pengembalian Modal (Payback Period/PPP). Dan hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas dalam kemampuan menghasilkan kas dan efisiensi operasional di antara ketiga dermaga, dan satu fasilitas menunjukkan kontribusi ekonomi yang lebih kuat dan kinerja keuangan yang lebih baik. Selain itu, analisis arus kas terdiskonto menunjukkan bahwa pengembangan konveyor yang diusulkan layak secara finansial dan dapat membantu meningkatkan kapasitas operasional jangka panjang. Secara keseluruhan, studi ini menyajikan praktik evaluasi berbasis kas di tingkat fasilitas yang dapat mendukung pengambilan keputusan investasi yang lebih tepat dalam infrastruktur logistik batubara.
SINTESIS ISOPROPIL FURFURIL ETER DARI FURFURALDEHIDA TERKATALISIS TIO@MOF-808
Furfuraldehida (FALD) merupakan senyawa turunan biomassa lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi berbagai bahan kimia bernilai tambah, salah satunya adalah isopropil furfuril eter (IPFE). IPFE memiliki potensi besar sebagai aditif bensin beroktan tinggi dan komponen bahan bakar terbarukan. Metode konvensional sintesis IPFE umumnya dilakukan melalui dua tahap terpisah dan membutuhkan kondisi reaksi yang sulit karena menggunakan gas hidrogen bertekanan tinggi dengan katalis logam mulia (grup platina). Penelitian ini mengembangkan metode sintesis langsung (one-pot) IPFE dari FALD melalui reaksi transfer hydrogenation-etherification (THE) menggunakan isopropanol sebagai sumber hidrogen sekaligus pelarut, yang dikatalisis oleh material heterogen berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF). MOF-808 dipilih sebagai penyangga karena stabilitas termalnya yang unggul dan keberadaan situs asam Lewis pada klaster zirkonium, yang kemudian dimodifikasi dengan pengembanan kompleks titanium(IV) [TiO(acac)?] untuk membentuk katalis TiO@MOF-808. Katalis disintesis melalui metode solvotermal dilanjutkan dengan impregnasi refluks, dan dikarakterisasi menggunakan Powder X-ray Diffraction (P-XRD) serta Fourier- Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Uji katalitik dilakukan dalam autoklaf dengan variasi temperatur, waktu reaksi, dan massa katalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TiO@MOF-808 aktif dan selektif dalam mengonversi FALD menjadi IPFE. Kondisi optimum tercapai pada penggunaan 3 mmol FALD, 75 mg katalis, dan 10 mL isopropanol pada temperatur 180 Β°C selama 11 jam. Pada kondisi tersebut, diperoleh konversi FALD >99% dengan rendemen IPFE maksimum sebesar 69%. Studi mekanisme menunjukkan reaksi berlangsung secara berurutan, dimulai dengan transfer hidrogen FALD menjadi furfuril alkohol (FOL), diikuti oleh eterifikasi FOL dengan isopropanol menjadi IPFE. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pendekatan alternatif yang efisien dan berkelanjutan untuk sintesis IPFE langsung dari FALD melalui pemanfaatan katalis heterogen berbasis MOF
SINTESIS ISOPROPIL FURFURIL ETER DARI FURFURALDEHIDA TERKATALISIS TIO@MOF-808
Furfuraldehida (FALD) merupakan senyawa turunan biomassa lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi berbagai bahan kimia bernilai tambah, salah satunya adalah isopropil furfuril eter (IPFE). IPFE memiliki potensi besar sebagai aditif bensin beroktan tinggi dan komponen bahan bakar terbarukan. Metode konvensional sintesis IPFE umumnya dilakukan melalui dua tahap terpisah dan membutuhkan kondisi reaksi yang sulit karena menggunakan gas hidrogen bertekanan tinggi dengan katalis logam mulia (grup platina). Penelitian ini mengembangkan metode sintesis langsung (one-pot) IPFE dari FALD melalui reaksi transfer hydrogenation-etherification (THE) menggunakan isopropanol sebagai sumber hidrogen sekaligus pelarut, yang dikatalisis oleh material heterogen berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF). MOF-808 dipilih sebagai penyangga karena stabilitas termalnya yang unggul dan keberadaan situs asam Lewis pada klaster zirkonium, yang kemudian dimodifikasi dengan pengembanan kompleks titanium(IV) [TiO(acac)?] untuk membentuk katalis TiO@MOF-808. Katalis disintesis melalui metode solvotermal dilanjutkan dengan impregnasi refluks, dan dikarakterisasi menggunakan Powder X-ray Diffraction (P-XRD) serta Fourier- Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Uji katalitik dilakukan dalam autoklaf dengan variasi temperatur, waktu reaksi, dan massa katalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TiO@MOF-808 aktif dan selektif dalam mengonversi FALD menjadi IPFE. Kondisi optimum tercapai pada penggunaan 3 mmol FALD, 75 mg katalis, dan 10 mL isopropanol pada temperatur 180 Β°C selama 11 jam. Pada kondisi tersebut, diperoleh konversi FALD >99% dengan rendemen IPFE maksimum sebesar 69%. Studi mekanisme menunjukkan reaksi berlangsung secara berurutan, dimulai dengan transfer hidrogen FALD menjadi furfuril alkohol (FOL), diikuti oleh eterifikasi FOL dengan isopropanol menjadi IPFE. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pendekatan alternatif yang efisien dan berkelanjutan untuk sintesis IPFE langsung dari FALD melalui pemanfaatan katalis heterogen berbasis MOF
PENERAPAN MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK MENCEGAH PLAGIARISME, PEMBAJAKAN DAN PENGGUNAAN TANPA IZIN ATAS HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL MILIK PART STUDIO
PART Studio, agensi kreatif berbasis Jakarta, memiliki kekayaan intelektual berharga berupa konsep acara, strategi branding, dan desain kreatif. Namun, organisasi menghadapi kerentanan bisnis kritis: budaya dan proses internal mendahulukan kecepatan produksi atas keamanan, menghasilkan presentasi konsep tanpa perlindungan dan eksposur aset intelektual. Kelemahan ini muncul melalui tiga kesenjangan: kurangnya kesadaran kekayaan intelektual tim kreatif, tidak adanya prosedur operasional baku formal untuk perlindungan kekayaan intelektual, dan ketergantungan pada sistem penyimpanan digital tidak aman yang menyebabkan plagiarisme, pembajakan, dan penggunaan tanpa izin karya kreatif, mengakibatkan kerugian finansial, kerusakan reputasi, dan penurunan moral tim. Penelitian ini bertujuan mengatasi bagaimana kekurangan perlindungan kekayaan intelektual yang menyebabkan plagiarisme, pembajakan, dan penggunaan tanpa izin mempengaruhi bisnis PART Studio, serta menentukan bagaimana manajemen pengetahuan dapat melindungi kekayaan intelektualnya. Dengan metodologi studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajemen senior dan analisis dokumen. Analisis menggunakan kerangka kerja People-Process-Technology (PPT) dan SECI untuk mendiagnosis proses bisnis yang ada, mengungkap kegagalan kritis dalam agensi kreatif. Untuk mengatasi kegagalan tersebut, diusulkan proses bisnis baru berbasis kerangka kerja Henao-Calad untuk mengintegrasikan manajemen kekayaan intelektual ke operasi manajemen pengetahuan. Solusi mencakup langkah-langkah esensial Henao-Calad: Identifikasi, Penilaian, dan Perlindungan sebelum presentasi konsep eksternal menghasilkan Komersialisasi. Kerangka kerja People-Process-Technology komprehensif disajikan, mencakup pelatihan kesadaran kekayaan intelektual wajib untuk staf, prosedur operasional baku baru untuk dokumentasi formal dan perlindungan alur kerja, serta implementasi sistem Manajemen Aset Digital Aman. Solusi terintegrasi ini memungkinkan PART Studio melindungi aset tak berwujud dari plagiarisme, pembajakan, dan penggunaan tanpa izin, membuka nilai komersial dari konsep belum dikomersialkan, serta membangun keunggulan kompetitif berkelanjutan di industri kreatif.
PENGEMBANGAN MATERIAL BIMETAL FOSFAT NIKEL-MANGAN DENGAN STRUKTUR ROSE-LIKE UNTUK ELEKTRODA SUPERKAPASITOR
Penggunaan kendaraan listrik yang semakin meningkat menyebabkan naiknya kebutuhan akan sistem penyimpanan energi. Superkapasitor memiliki power density yang tinggi namun energy density lebih rendah dibanding baterai. Perlu dikembangkan material untuk meningkatkan energy density. Bimetal fosfat nikelmangan (NiMn-PO) dikembangkan dengan sintesis tiga tahap. Pertama mensintesis template nikel-mangan trietanolamine (NiMn-TEOA) dengan ko-presipitasi, dengan mol ratio Ni:Mn adalah 1:0, 10:1, 5:1, dan 3:1. Kedua mensintesis nikelmangan trietil fosfat (NiMn-TEP) dengan solvothermal. Ketiga menkonversi NiMn-TEP menjadi nikel-mangan fosfat (NiMn-PO) melalui kalsinasi selama 2 jam pada 600 oC. Analisis morfologi menunjukkan tahap pertama menghasilkan morfologi rod-like dengan ukuran semakin panjang dan kurus seiring meningkatnya kandungan mangan dalam nikel, berubah menjadi rose-like setelah tahap ke dua, dan terkonversi menjadi nikel-mangan fosfat dengan morfologi rose-like berpori setelah kalsinasi. Hasil akhir NiMn-PO yang berfasa amorf meningkatkan luas permukaan yang dapat menjadi situs aktif terjadinya reaksi redoks. Performa masing-masing variasi diukur dengan elektrokimia sistem 3 elektroda pada KOH 6 M dan menghasilkan nilai kapasitansi berturut turut sebesar 675, 787, 778, dan 889 F/g pada densitas arus 1 A/g untuk Ni:Mn 1:0, 10:1, 5:1, dan 3:1. Untuk superkapasitor hibrida NiMn-PO dengan karbon aktif (NiMn-PO//AC) menunjukkan kapasitansi spesifik sebesar 51 F/g pada 1 A/g dengan energy density 11 Wh/kg pada power density 500 W/kg.
SINTESIS HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA HERMETIA ILLUCENS SEBAGAI SUMBER PEPTON ALTERNATIF UNTUK PERTUMBUHAN MIKROBA PADA INOKULAN KONSORSIUM BIOFERTILIZER
Produksi inokulum mikroba yang dapat diskalakan untuk biofertilizer saat ini terhambat oleh tingginya biaya pepton komersial. Meskipun larva lalat tentara hitam (BSFL) (Hermetia illucens) merupakan sumber protein berkelanjutan, aplikasinya sebagai pepton khusus untuk konsorsium mikroba masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini mengembangkan proses produksi pepton BSFL yang terdiri atas penghilangan lemak, ekstraksi alkali, hidrolisis bromelain, dan freeze-drying, serta mengevaluasi kinerjanya secara biologis. Proses penghilangan lemak secara efektif memperkaya fraksi protein biomassa hingga 49,95%. Proses ekstraksi alkali menghasilkan ekstrak protein dengan protein recovery pada supernatan (protein terlarut) dan setelah liofilisasi berturut-turut sebesar 33,91 Β± 0,30% b/b, dan 17,64 Β± 2,59% b/b. Hidrolisis terkontrol menghasilkan derajat hidrolisis (DH) sebesar 53,76% dengan peptida yang dominan berukuran <17 kDa. Meskipun perolehan massa akhir hanya 2,59% (b/b), produk menunjukkan kemurnian tinggi (sekitar 81% protein) dan sifat fisikokimia yang menguntungkan (rasio AN/TN sebesar 0,21). Validasi biologis menggunakan Bacillus subtilis menunjukkan bahwa pepton BSFL mendukung laju pertumbuhan spesifik maksimum (?max) sebesar 0,50 jam?ΒΉ, sebanding dengan pepton komersial (0,51 jam?ΒΉ). Yang sangat penting, dalam kultivasi konsorsium biofertiliser (Bacillus sp., Pseudomonas sp., dan Saccharomyces sp.), pepton BSFL (15 g/L) mencapai kepadatan sel sebesar 1,15 Γ 10? CFU/mL, melampaui pepton komersial pada konsentrasi yang sama (6,05 Γ 10? CFU/mL) dan lebih unggul dibandingkan media kompleks alternatif yang digunakan pada konsentrasi dua kali lipat (30 g/L). Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa pepton BSFL merupakan sumber nitrogen alternatif yang sangat efektif dan mampu meningkatkan produksi biomassa dalam konsorsium mikroba yang kompleks. Temuan ini mengkonfirmasi potensi pepton BSFL sebagai pepton alternatif yang efisien dan berkinerja tinggi untuk memformulasikan media pertumbuhan bagi inokulum mikroba dalam sistem kultivasi kultur tunggal maupun konsorsium.
REKOMENDASI PENGENDALIAN RISIKO OPERASI ALAT BERAT PADA INDUSTRI PERTAMBANGAN MELALUI WALK-THROUGH TALK-THROUGH DENGAN THEMATIC ANALYSIS DAN INTERVENTION MAPPING DI PT XYZ
Operasi alat berat pada pertambangan terbuka memiliki risiko tinggi akibat dinamika lingkungan kerja yang sangat fluktuatif. Namun demikian, variasi kondisi fisik dan operasional di area kerja sering kali belum terakomodasi sepenuhnya dalam prosedur pengendalian formal. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekomendasi pengendalian risiko operasional di PT XYZ dengan memetakan praktik kerja aktual (Work-as-Done) guna menjembatani kesenjangan dengan prosedur baku. Fokus analisis diarahkan secara spesifik pada aktivitas front, hauling, dan disposal untuk mengidentifikasi error traps yang terbentuk dari interaksi sistem kerja sehari-hari. Dengan pendekatan ini, strategi mitigasi dirancang agar lebih adaptif terhadap tantangan nyata di lapangan dan bukan sekadar pemenuhan administratif. Pengumpulan data lapangan secara mendalam menggunakan metode Walk-Through Talk-Through (WTTT) yang dipadukan dengan analisis tematik berhasil mengidentifikasi tiga domain risiko utama yang memerlukan penguatan pengendalian operasional secara menyeluruh. Merespons temuan tersebut, strategi Intervention Mapping merumuskan pengendalian Paket A untuk memitigasi keterbatasan visual melalui penetapan protokol komunikasi baku serta validasi titik buta di area kritis agar informasi antarunit lebih jelas. Selanjutnya, pengendalian Paket B difokuskan pada manajemen risiko fisik melalui penerapan sistem inspeksi jalur berbasis keputusan objektif yang memberdayakan pengawas untuk memastikan kelayakan area kerja sebelum operasi dimulai. Pengendalian Paket C disusun secara kontekstual sesuai karakteristik lokasi, di mana Site A menerapkan manajemen ritme kerja aman untuk mencegah kelelahan, sedangkan Site P menargetkan disiplin penataan area berhenti dan keselamatan manuver di ruang sempit. Keseluruhan rekomendasi pengendalian ini mengintegrasikan perubahan perilaku operator dengan penguatan dukungan sistem organisasi, yang selanjutnya disarankan untuk divalidasi melalui uji coba implementasi terbatas (pilot testing) guna mengukur efektivitasnya secara nyata.
OPTIMASI PRODUKSI BIOSURFAKTAN BACILLUS SP. F7 DENGAN NIRA NIPAH (NYPA FRUTICANS) SEBAGAI SUMBER KARBON DAN EVALUASI POTENSINYA DALAM MICROBIAL ENHANCED OIL RECOVERY (MEOR)
Biosurfaktan merupakan surfaktan hayati yang diproduksi oleh mikroorganisme dan memiliki keunggulan dalam tingkat biodegradabilitas yang tinggi, toksisitas rendah, serta stabil dalam kondisi ekstrem. Dengan keunggulan tersebut, biosurfaktan berpotensi sebagai pengganti surfaktan kimiawi untuk meningkatkan produksi minyak dalam teknologi MEOR. Pada aplikasinya, biosurfaktan dibutuhkan dalam skala besar sehingga tidak jarang dihadapkan pada tantangan biaya produksi yang tinggi. Pemanfaatan substrat dengan biaya efektif merupakan solusi tepat untuk tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengeksplorasi potensi sumber karbon nira nipah untuk produksi biosurfaktan oleh Bacillus sp. F7, isolat bakteri indigen reservoir minyak bumi. Dalam penelitian ini, Response Surface Methodology (RSM) digunakan dalam optimasi produksi biosurfaktan dengan variabel independen adalah variasi konsentrasi sumber karbon yaitu nira nipah dan sumber nitrogen yaitu urea. Indeks emulsifikasi dan berat kering biosurfaktan menjadi variabel dependen untuk mengukur produksi biosurfaktan. Biosurfaktan yang diproduksi kemudian dikarakterisasi dan diuji potensinya dalam proses EOR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi medium produksi biosurfaktan terbaik adalah nira nipah 2,84%(w/v) dan urea 0,39%(w/v). Respon yang diprediksi divalidasi secara eksperimental dalam kondisi optimum dan menghasilkan indeks emulsifikasi supernatan hasil produksi sebesar 81,57 % serta berat kering biosurfaktan sebesar 121,48 mg/L. Kedua hasil validasi tersebut masuk dalam rentang prediksi analisis RSM indeks emulsifikasi yaitu 63,48 β 99,17% dan berat kering biosurfaktan 120,11 β 162,42 mg/L. Biosurfaktan hasil optimasi terkarakterisasi sebagai biosurfaktan non-ionik serta memiliki nilai CMC 95 mg/L. Biosurfaktan stabil pada rentang suhu 4, 37, dan 80ΒΊC serta kondisi asam, tetapi tidak stabil pada salinitas tinggi. Efisiensi biosurfaktan dalam proses oil washing diverifikasi dan menghasilkan nilai 58,45% Β± 0,56%, lebih tinggi dibandingkan kontrol negatif. Dalam uji microfluidic EOR, biosurfaktan mampu menurunkan tegangan antarmuka air dan minyak mentah serta mengubah wettability sehingga meningkatkan pemulihan minyak yang menghasilkan nilai Aor 11,5 %, lebih tinggi dibandingkan kontrol negatif. Berdasarkan hasil penelitian, nira nipah dapat dijadikan sumber karbon alternatif dalam produksi biosurfaktan oleh Bacillus sp. F7 dan hasil karakterisasi menunjukkan potensi biosurfaktan dalam aplikasi MEOR.
PENGEMBANGAN NANOEKSTRAK SKLEROTESTA BIJI MELINJO (GNETUM GNEMON L.) DAN STUDI POTENSINYA SEBAGAI ANTIAGING ALAMI MELALUI AKSI MODULASI PROSES PENUAAN
Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh hampir di seluruh provinsi di Indonesia yang diketahui mengandung senyawa golongan stillbenoid di antaranya resveratrol sebagai antioksidan. Resveratrol diketahui mempunyai mekanisme kerja mengaktivasi ekspresi protein sirtuin1 SIRT1 secara langsung, dimana SIRT1 merupakan salah satu protein yang berperan mengendalikan proses penuaan/aging. Aging merupakan proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, yang terjadi pada seluruh organ tubuh dan merupakan faktor risiko morbiditas terkait age-related disease khususnya penyakit degeneratif, dan berpotensi meningkatkan risiko kematian. Potensi luar biasa resveratrol sebagai antiaging dihadapkan dengan rendahnya kelarutan sehingga menurunkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak sklerotesta melinjo sebagai agen antiaging melalui pendekatan nanoteknologi. Sklerotesta biji melinjo yang merupakan limbah diolah menggunakan metode ball milling untuk menghasilkan partikel berskala nanometer untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati resveratrol yang terkandung di dalamnya. Proses nanonisasi ekstrak kering sklerotesta biji melinjo dilakukan secara topdown dengan teknik ball milling kemudian dikarakterisasi sifat fisiko kimianya, dilakukan identifikasi dan penetapan kadar resveratrol menggunakan High Performance Liquid Chromatography untuk memastikan bioaktif dalam nanoekstrak tetap mempunyai daya antiaging. Proses ini meningkatkan kelarutan dan efektivitas farmasetikanya, sehingga menjadikannya alternatif bahan baku farmasetika yang bernilai ekonomi serta ramah lingkungan. Karakterisasi fisiko kimia menunjukkan bahwa nanoekstrak sklerotesta biji melinjo memiliki kelarutan yang lebih baik serta stabilitas yang baik terhadap peningkatan temperatur. Uji in vitro dilakukan pada human dermal fibroblast cell CRL2522 yang diinduksi proses penuaannya menggunakan H2O2. Beberapa parameter yang diamati diantaranya adalah ekspresi SIRT1dan BCL2 yang memperkuat mekanisme terkait antiaging. SIRT1 merupakan protein yang dapat diaktifasi oleh resveratrol sehingga bekerja sebagai antiaging, sedangkan BCL2 merupakan suatu gen anti apoptosis yang dapat mempertahankan keberlangsungan hidup sel. Uji in vivo yang dilakukan bertahap diawali uji aktivitas antiaging menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) galur Wistar dilakukan dengan pemberian nanoekstrak secara oral kemudian dilakukan evaluasi makroskopis dan pengukuran kadar SIRT1. Kemudian untuk mengetahui keamanan nanoekstrak dan profil farmakokinetik dilakukan uji toksisitas akut dan uji farmakokinetik untuk mengetahui profil farmakokinetik nanoekstrak. Uji in vitro pada Human Dermal Fibroblast Cell line (CRL2522) mengungkapkan bahwa nanoekstrak ini memiliki aktivitas antiaging. Mekanisme antiaging dikonfirmasi melalui peningkatan ekspresi SIRT1, yang berperan dalam perbaikan sel, serta BCL2, gen yang menghambat apoptosis. Hasil ini menunjukkan bahwa nanoekstrak mampu memodulasi jalur molekuler yang terkait dengan regenerasi dan perlindungan sel kulit. Pengujian in vivo pada tikus Wistar yang terpapar sinar UVB menunjukkan bahwa pemberian oral nanoekstrak sklerotesta melinjo mampu mengurangi dampak penuaan dengan meminimalisasi munculnya kerutan pada kulit dorsal. Hasil ini mendukung potensinya sebagai agen antiaging oral yang efektif. Pada uji toksisitas akut mengindikasikan bahwa nanoekstrak ini aman untuk konsumsi oral tanpa menunjukkan efek toksik yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil mentransformasikan limbah sklerotesta melinjo menjadi produk nanoekstrak dengan aktivitas antiaging yang terbukti melalui pendekatan in vitro dan in vivo. Keamanan serta efektivitas yang ditunjukkan oleh nanoekstrak ini memperkuat potensinya sebagai kandidat agen antiaging oral yang inovatif dan berkelanjutan. Sebagai penelitian yang mengkaji potensi antiaging dari nanoekstrak sklerotesta biji melinjo, hasil ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan suplemen alami berbasis bahan alam lokal untuk pencegahan aging dan penyakit degeneratif terkait usia. Pengembangan suplemen berbasis nanoekstrak ini dapat memberikan alternatif terapi non-invasif. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengayaan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan bahan alam Indonesia yang bernilai tinggi dalam bidang kesehatan dan farmasi. Penelitian ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengoptimalkan formulasi nanoekstrak dan mengkaji efektivitas jangka panjangnya pada model hewan serta uji klinis pada manusia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan produk berbasis nanoekstrak sklerotesta melinjo di masa depan.
PERANCANGAN DAN PURWARUPA CASING /TEXTIT{ABILITY RECORDER UNIT} UNTUK PENGUJIAN KETANGKASAN PADA OLAHRAGA BULUTANGKIS
Ketangkasan (agility) merupakan kemampuan yang menjadi aspek penting dalam performa atlet bulutangkis karena berkaitan dengan kecepatan respons terhadap stimulus visual maupun auditori.Untuk mengukur kemampuan tersebut secara objektif diperlukan alat bantu pengujian ketangkasan yang dapat memberikan stimulus terprogram serta merekam respons pengguna secara nyata (real time). Ability Recorder Unit (ARU) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan memerlukan pelindung fisik (casing) yang ergonomis, ringan, serta dapat melindungi komponen elektronik di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang, menganalisis, dan membuat purwarupa casing ARU yang sesuai dengan kebutuhan pengujian ketangkasan pada atlet bulutangkis. Metode penelitian menggunakan pendekatan rekayasa desain produk teknik yang meliputi identifikasi kebutuhan, penyusunan Design Requirement and Objective (DR&O), pengembangan alternatif desain, serta evaluasi menggunakan metode Weighted Pugh Decision Matrix untuk menentukan konsep desain yang terbaik. Desain akhir dimodelkan dengan Autodesk Fusion 360 dan direalisasikan menggunakan proses pencetakan 3D metode Fused Deposition Modelling (FDM) dengan material PLA dan PETG. Purwarupa yang dihasilkan kemudian diuji secara visual dan fungsional untuk menilai kesesuaian bentuk dan integrasi sistem elektronik pada alat ARU. Purwarupa casing ARU yang dihasilkan memiliki bentuk silinder dengan mekanisme twistingfit yang memudahkan perakitan dan pembongkaran tanpa merusak struktur casing. Hasil pemeriksaan fungsi menunjukkan bahwa casing mampu melindungi dan mengakomodasi seluruh komponen elektronik dengan baik, mendukung visibilitas stimulus cahaya, kestabilan sensor inframerah, serta memenuhi sebagian besar kriteria Design Requirements and Objectives (DR&O) yang telah ditetapkan. Dengan demikian, casing ARU yang dirancang dinilai layak digunakan sebagai perangkat pendukung pengujian ketangkasan pada olahraga bulutangkis.
OPTIMASI FORMULASI PASTA GIGI BERBASIS BIOSURFAKTAN BACILLUS CLAUSII F7 DAN EVALUASI POTENSI PENGHAMBATANNYA TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MUTANS
Karies gigi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi mencapai 88% di Indonesia. Streptococcus mutans merupakan penyebab utama penyakit ini dengan membentuk plak dan menghasilkan asam di permukaan gigi. Pasta gigi konvensional umumnya menggunakan surfaktan sintetis seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) untuk meningkatkan efikasi pembersihan gigi. Akan tetapi, surfaktan sintetis dalam pasta gigi berpotensi menimbulkan efek samping seperti iritasi mukosa mulut. Penelitian sebelumnya telah mengaplikasikan biosurfaktan dalam formulasi pasta gigi, tetapi masih menghasilkan aktivitas pembusaan yang rendah. Aspek pembusaan pasta gigi berperan penting untuk membantu distribusi bahan aktif dalam pasta gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi biosurfaktan F7 sehingga menghasilkan formulasi pasta gigi dengan karakteristik fisikokimia standar komersial dan efektif untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian dilakukan dengan membuat formulasi pasta gigi sederhana yang ditambahkan biosurfaktan Bacillus clausii F7 (1000 ppm dan 5000 ppm) konsentrasi 0,5%β20% (w/w). Evaluasi fisikokimia dilakukan dengan mengukur daya sebar, pH, dan busa. Potensi penghambatannya terhadap S. mutans diukur melalui profil viabilitas sel, sintesis karbohidrat total ekstraseluler polisakarida (EPS), dan produksi asam laktat. Pasta gigi biosurfaktan terpilih kemudian dievaluasi kualitas dan keamanannya sesuai ISO 11609:2017. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan 5%, 10%, dan 15% (w/w) biosurfaktan F7 5000 ppm secara signifikan meningkatkan kualitas fisikokimia pasta gigi. Konsentrasi biosurfaktan F7 5000 ppm dengan penambahan 5% (w/w) dalam formulasi pasta gigi ditetapkan sebagai konsentrasi optimal karena mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans hingga 85% serta menurunkan produksi asam laktat hingga 60%. Sementara itu, konsetrasi karbohidrat total EPS tidak menunjukkan pengurangan yang signifikan. Formulasi dengan konsentrasi ini juga memenuhi standar ISO 11609:2017, baik aspek fisikokimia maupun mikrobiologis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa 5% (w/w) biosurfaktan F7 5000 ppm merupakan konsentrasi optimal untuk menghasilkan formulasi pasta gigi dengan karakteristik fisikokimia standar mutu komersial dan efektif menghambat pertumbuhan S. mutans.
PENCIPTAAN NILAI DALAM RANTAI PASOK BERAS NASIONAL MELALUI PENGEMBANGAN MODEL TRANSPORTASI MULTIMODA UNTUK OPTIMASI BIAYA LOGISTIK DENGAN MIXED INTEGER LINEAR PROGRAMMING
Beras merupakan komoditas pangan strategis di Indonesia dengan tingkat konsumsi yang sangat tinggi dan peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan antarwilayah. Meskipun produksi nasional secara agregat mencukupi, ketidakseimbangan spasial antara wilayah surplus dan defisit menyebabkan kebutuhan distribusi lintas wilayah yang intensif. Permasalahan utama dalam sistem distribusi beras nasional adalah tingginya biaya logistik yang mencapai sekitar 31% dari margin perdagangan dan pengangkutan (MPP), yang sebagian besar dipicu oleh dominasi moda transportasi darat jarak jauh serta belum optimalnya pemanfaatan sistem transportasi multimoda. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan nilai dalam rantai nilai beras nasional dengan efisiensi distribusi melalui pengembangan model transportasi multimoda berbasis Mixed Integer Linear Programming (MILP). Model dirancang untuk meminimalkan total biaya logistik sebagai indikator efisiensi distribusi dengan mengintegrasikan keputusan pemilihan moda, penentuan rute, alokasi pasokan antarprovinsi, transshipment, serta penanganan persediaan dalam satu kerangka optimasi. Struktur biaya logistik mengacu pada kerangka ongkos logistik nasional Saragih (2011) dan jaringan multimoda dari Indriastiwi dkk. (2023), yang disesuaikan dengan karakteristik distribusi beras Indonesia. Analisis dilakukan dalam horizon multi-periode menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) untuk menangkap dinamika distribusi dalam jangka menengah, serta divalidasi melalui perbandingan dengan data MPP nasional. Hasil optimasi menunjukkan bahwa konfigurasi distribusi multimoda yang diusulkan mampu meningkatkan efisiensi sistem distribusi secara signifikan. Total biaya logistik menurun sebesar Rp384/kg atau sekitar 43,87% dibandingkan kondisi eksisting, dengan penghematan terbesar berasal dari komponen biaya transportasi. Selain itu, pola aliran distribusi antarprovinsi mengalami rasionalisasi melalui pengurangan jumlah rute lintas wilayah, konsolidasi pasokan dari provinsi terdekat, serta pengurangan ketergantungan pada rute lintas pulau jarak jauh. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan dan pemanfaatan sistem transportasi multimoda berpotensi menjadi instrumen kunci dalam menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi distribusi beras nasional.
PELABELAN AJAIB DAN ANTIAJAIB PADA GRAF DENGAN DEKOMPOSISI SUBGRAF TERURUT NAIK
Misalkan n, q, t ? N dan G = (V (G),E(G)) adalah graf sederhana dan berhingga yang memiliki orde |V (G)| = n dan ukuran |E(G)| = q. Misalkan f : V (G) ? E(G) ? {1, 2, . . . , n + q} adalah suatu pelabelan total pada G yang bersifat bijektif. Pelabelan f disebut pelabelan total sisi ajaib jika terdapat suatu konstanta k sehingga bobot setiap sisi e = uv di G, yaitu w(uv) = f(u)+f(v)+f(uv) = k. Dalam hal ini, k disebut konstanta ajaib. Sebaliknya, jika seluruh bobot sisi berbeda, maka f disebut sebagai pelabelan total sisi antiajaib. Pelabelan total sisi ajaib dapat diperluas dengan memandang subgraf dari G dalam perhitungan bobot. Misalkan {H1,H2, . . . ,Ht} adalah koleksi yang berisi t subgraf dari G, dan Hi isomorfik dengan suatu graf H, 1 ? i ? t. Graf G disebut memuat dekomposisi-H apabila setiap sisi di G termuat pada tepat satu subgraf di antara H1,H2, ...,Ht. Pelabelan f disebut pelabelan total H-ajaib dari G jika setiap 1 ? i ? t, bobot subgraf w(Hi) = P v?V (Hi) f(v) + P e?E(Hi) f(e) bernilai konstan. Sebaliknya, jika seluruh bobot subgraf berbeda, maka f disebut sebagai pelabelan total H-antiajaib. Selain dekomposisi suatu graf menjadi subgraf-subgraf yang saling isomorfik, di dalam literatur juga dikenal dekomposisi menjadi subgraf-subgraf yang tidak isomorfik. Misalkan q dan t memenuhi ????t+1 2 ? q < ????t+2 2 . Graf G disebut memuat dekomposisi subgraf terurut naik (ascending subgraf decomposition) atau ASD jika G dapat didekomposisi menjadi t subgraf H1,H2, . . . ,Ht tanpa titik terisolasi, dengan {E(H1), . . . ,E(Ht)} mempartisi E(G) sedemikian hingga Hi isomorfik ke suatu subgraf sejati dari Hi+1 untuk 1 ? i ? t ? 1. Graf yang memuat dekomposisi subgraf terurut naik disebut graf ASD dan barisan subgraf {H1,H2, . . . ,Ht} disebut barisan subgraf terurut naik. Termotivasi oleh pelabelan total H-(anti)ajaib, dalam disertasi ini diperkenalkan dan dikaji eksistensi pelabelan ajaib dan antiajaib pada suatu graf ASD. Misalkan G adalah graf ASD dengan himpunan subgraf {H1,H2, . . . ,Ht}, dan f adalah pelabelan total pada G. Apabila untuk setiap 1 ? i ? t diperoleh w(Hi) = k, maka f disebut pelabelan ASD-ajaib dari G dan G disebut sebagai graf ASD-ajaib. Dalam penelitian ini dikaji sifat umum yang dimiliki oleh graf ASD-ajaib, yaitu rata-rata bobot dari seluruh subgraf terbatas di atas oleh bobot terbesar yang dapat dicapai oleh subgraf terkecil. Fakta ini kemudian digunakan untuk melakukan karakterisasi graf bintang, graf lintasan, dan graf siklus yang memuat pelabelan ASD-ajaib. Di sisi lain, jika dengan pelabelan f diperoleh bahwa w(Hi) ?= w(Hj) untuk setiap i ?= j, maka f disebut pelabelan ASD-antiajaib dari G. Apabila seluruh bobot tersebut membentuk suatu barisan aritmetika dengan bobot terkecil a dan beda d, maka f disebut pelabelan (a, d)-ASD antiajaib. Lebih khusus, f adalah pelabelan ASD-antiajaib super atau (a, d)-ASD-antiajaib super jika f(V (G)) = {1, 2, . . . , n}. Penelitian mengenai pelabelan ASD-antiajaib (super) dalam disertasi ini dimulai dengan konstruksi pelabelan ASD-antiajaib (super) berdasarkan pelabelan total sisi (anti)ajaib (super). Pada konstruksi ini, didefinisikan suatu graf konektor yang digunakan sebagai alat untuk mengonstruksi keluarga graf ASD. Kemudian, diperoleh syarat cukup bagi graf konektor sehingga graf ASD yang telah dibangun memuat pelabelan ASD-antiajaib. Selain itu, didefinisikan pula dekomposisi bobot terurut naik (AWD) pada graf. AWD bersama pelabelan total sisi antiajaib digunakan sebagai alat untuk membuktikan bahwa graf bintang, graf lintasan, dan graf siklus memuat pelabelan ASD-antiajaib. Selain itu, dalam penelitian ini dilakukan pula konstruksi pelabelan ASD-antiajaib (super) berdasarkan pelabelan totalH-ajaib dari graf dengan barisan subgraf terurut naik yang memuat graf padanan atau graf siklus dengan orde tiga. Dengan berbagai hasil yang diperoleh, kami menduga bahwa semua graf dengan banyak sisi positif memiliki pelabelan ASD-antiajaib. Disertasi ini ditutup dengan konstruksi pelabelan (a, d)-ASD-antiajaib yang diperoleh dengan memanfaatkan multihimpunan (t, ?)-antiseimbang terurut naik. Misalkan ? ? N dan X adalah multihimpunan. X disebut multihimpunan (t, ?)-antiseimbang terurut naik jika X dapat dipartisi menjadi submultihimpunan X1,X2, . . . ,Xt dengan ketentuan bahwa untuk 1 ? i < j ? t ? 1 berlaku |Xi| < |Xj | dan P x?Xi+1 x ? P x?Xi x = ?. Kelas-kelas graf yang dikaji adalah graf bintang, lintasan, siklus, dan graf lengkap. Selain itu, dikaji pula pelabelan (a, d)-ASD-antiajaib pada graf hasil operasi, yaitu graf hasil gabungan saling lepas, graf hasil amalgamasi-titik, amalgamasi-sisi, amalgamasi-subgraf, graf rantai, graf rantai yang diperluas, dan graf hasil korona yang diperluas.
PERANCANGAN SISTEM KENDALI LAMPU LALU LINTAS PADA SIMPANG BUAH BATU-SAMSAT BANDUNG MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIBRIDA MULTI-AGENT ATTENTION-BASED SOFT ACTOR-CRITIC (MASAC) DAN MAX PRESSURE DENGAN OPTIMISASI BAYESIAN
Penelitian ini mengembangkan sistem kendali lampu lalu lintas adaptif di persimpangan Buah Batu-Samsat Bandung menggunakan pendekatan hibrida Multi-Agent Attention-Based Soft Actor-Critic (MASAC) dan Max Pressure dengan optimisasi Bayesian menggunakan Tree-structured Parzen Estimator (TPE). Dalam mengurangi kemacetan lalu lintas perkotaan, penelitian ini memanfaatkan data dari Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung pada bulan Juni 2023 untuk pelatihan, validasi, dan pengujian sistem. Kemudian, kontribusi utama penelitian ini meliputi tiga aspek. Aspek pertama yaitu penerapan optimisasi Bayesian dengan TPE untuk hyperparameter tuning MASAC dan perbandingan kinerja pendekatan jaringan kritik MASAC dengan weight sharing dan tanpa weight sharing. Aspek terakhir adalah pengembangan Hibrida MASAC-Max Pressure. Penelitian ini menghasilkan konfigurasi hyperparameter terbaik pada Trial 2 tanpa weight sharing dan Trial 6 dengan weight sharing. Lalu, hasil validasi menunjukkan pendekatan jaringan kritik MASAC dengan weight sharing mengurangi panjang antrean dan waktu tunggu kendaraan lebih dari 10% dibandingkan tanpa weight sharing dan bobot kombinasi optimal, 80% MASAC dan 20% Max Pressure, pada pengembangan Hibrida MASAC-Max Pressure. Pengujian pada empat skenario lalu lintas (hari kerja dan akhir pekan pada periode pagi hari dan sore hari) menunjukkan Hibrida MASAC-Max Pressure sebagai metode terbaik yang lebih unggul dari DQN serta PPO dan MASAC mengurangi panjang antrean dan waktu tunggu kendaraan lebih dari 80% dan 70% dibandingkan Fixed-Time Control. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sistem kendali lampu lalu lintas adaptif Hibrida MASAC-Max Pressure dengan optimisasi Bayesian (TPE) merupakan solusi dalam meningkatkan efisiensi lalu lintas pada persimpangan Buah Batu-Samsat Bandung dan memiliki potensi untuk diterapkan lebih luas pada persimpangan-persimpangan dengan tingkat kemacetan lalu lintas yang tinggi khususnya Indonesia.