📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDETERMINAN LOYALITAS PELANGGAN DALAM INDUSTRI DIGITAL KEUANGAN: PENYEDIA QRIS BEBASIS BANK DAN FINTECH DI INDONESIA
Lanskap keuangan digital Indonesia telah dibentuk ulang secara fundamental oleh pengenalan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada tahun 2019, yang mengamanatkan satu standar nasional tunggal yang dapat saling beroperasi (interoperable) untuk semua penyedia pembayaran. Standarisasi ini, meski mendorong adopsi pengguna secara cepat, telah menciptakan masalah bisnis yang unik: ekosistem yang sangat homogen dengan diferensiasi teknologi minimal dan biaya perpindahan (switching costs) mendekati nol bagi konsumen. Lingkungan ini telah memicu perang promosi yang intens dan tidak berkelanjutan seiring persaingan penyedia, baik yang berbasis bank maupun fintech, untuk memperebutkan pangsa pasar. Masalah penelitian utama muncul dari sebuah paradoks: terlepas dari tingkat multi-homing yang tinggi (pengguna memiliki banyak aplikasi pembayaran), data industri mengindikasikan bahwa sebagian besar konsumen menunjukkan loyalitas pada satu "penyedia utama". Studi ini menginvestigasi isu ilmiah mengenai faktor-faktor non-fungsional apa yang mendorong loyalitas pelanggan dalam lingkungan dengan biaya perpindahan yang rendah ini dan bagaimana determinan-determinan tersebut berbeda di antara dua arketipe penyedia dominan: bank tradisional (bersaing pada kepercayaan dan integrasi) dan fintech (bersaing pada pengalaman pengguna dan keterlibatan). Tujuan penelitian utama adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara komparatif determinan-determinan loyalitas pelanggan untuk penyedia QRIS berbasis bank dan berbasis fintech. Studi ini bertujuan untuk menguji kerangka konseptual secara empiris guna memahami bagaimana stimuli eksternal (Daya Tarik Promosi, Reputasi Merek, Kemudahan Penggunaan, Tekanan Sosial) memengaruhi kondisi psikologis internal (Kepercayaan, Kepuasan Pelanggan, Sikap, Nilai Persepsian), yang kemudian berpuncak pada respons perilaku akhir (Loyalitas Pelanggan). Penelitian ini dibangun di atas landasan teoretis model Stimulus-Organism-Response (S-O-R), dengan mengusulkan serangkaian hipotesis yang memetakan perjalanan konsumen ini. Proposisi kunci mencakup pengujian hubungan positif yang diasumsikan antara anteseden seperti Reputasi Merek dan Kepercayaan (H2), Kemudahan Penggunaan dan Kepuasan (H3a), serta dampak akhir dari variabel tingkat organisme seperti Kepercayaan (H5), Kepuasan (H6), Sikap (H7), dan Nilai Persepsian (H8) terhadap Loyalitas Pelanggan. Desain penelitian kuantitatif, deskriptif, dan komparatif telah digunakan. Tahapan penelitian melibatkan tinjauan literatur komprehensif untuk membangun kerangka S-O-R, diikuti oleh pengembangan dan validasi kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari skala-skala yang telah mapan. Data dikumpulkan melalui survei daring yang dilaksanakan dari Oktober hingga November 2025, menghasilkan 501 respons valid dari pengguna aktif QRIS di seluruh Indonesia. Sampel ini disegmentasi menjadi 296 pengguna utama penyedia berbasis bank dan 205 pengguna utama penyedia berbasis fintech. Metode analisis utama adalah Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji model pengukuran dan struktural, dilengkapi dengan Multi-Group Analysis (MGA) untuk membandingkan koefisien jalur secara statistik di antara kedua kelompok tersebut. Hasil studi mengungkapkan temuan-temuan yang signifikan dan penting secara strategis. Model keseluruhan menunjukkan kekuatan prediktif yang kuat untuk Loyalitas Pelanggan (Bank R²=0.708; Fintech R²=0.640). Temuan paling kritis adalah bahwa Nilai Persepsian (H8) muncul sebagai determinan langsung yang paling kuat dan konsisten terhadap Loyalitas Pelanggan baik bagi pengguna bank (T=8.503) maupun fintech (T=4.252). Penelitian ini berkontribusi secara signifikan terhadap teori pemasaran dengan menantang keutamaan kepercayaan (trust) sebagai pendorong loyalitas langsung di pasar keuangan yang matang dan terstandarisasi. Studi ini berpendapat bahwa kepercayaan telah berevolusi menjadi hygiene factor diperlukan untuk berpartisipasi tetapi tidak cukup untuk menjamin loyalitas. Kontribusi praktis dari studi ini adalah peta jalan strategis yang jelas dan terbagi (bifurcated): bank tidak dapat lagi hanya mengandalkan warisan kepercayaan mereka dan harus berinovasi dalam proposisi nilai mereka (terutama promosi), sementara fintech harus memastikan keterlibatan pengguna dan kepuasan superior mereka secara konsisten diterjemahkan ke dalam nilai persepsian yang nyata untuk mempertahankan basis pelanggan setia mereka.
SIMULASI TRANSFER KALOR PADA KOMPOSIT PHASE CHANGE MATERIAL BERBASIS ASAM LAURAT DENGAN MELTING ASIMETRIK
Studi karakteristik transfer kalor Phase Change Material (PCM) organik berbasis Asam Laurat (Lauric acid, LA) dan komposit magnetik dilakukan melalui metode simulasi yang didukung oleh data eksperimen. Simulasi dijalankan pada konfigurasi kotak tiga dimensi dengan pemanasan terkontrol di dinding kiri menggunakan metode Volume of Fluid (VOF) pada perangkat lunak Ansys Fluent. Material komposit berupa Fe3O4 dan NiFe2O4 masing-masing sebesar 2 wt% ditambahkan ke dalam LA untuk meningkatkan sifat termal dan responsnya terhadap aplikasi termomagnetik. Parameter input simulasi dikalibrasi berdasarkan data eksperimen terdahulu mengenai pelelehan PCM berbasis LA. Penggunaan PCM dipilih karena sifatnya yang ramah lingkungan, stabil, serta memiliki kapasitas kalor laten tinggi. Tujuan utama kajian ini adalah mengevaluasi distribusi temperatur, dinamika fraksi cair, dan pola perpindahan kalor pada LA murni serta komposit LA/Fe3O4 dan LA/NiFe2O4 selama proses transisi fase. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pelelehan dimulai dari sisi pemanasan dan berkembang ke arah kanan seiring bertambahnya waktu, diiringi pembentukan pola konveksi alami yang semakin kuat pada daerah yang telah mencair. Penambahan partikel magnetik terbukti meningkatkan laju perpindahan kalor, yang ditunjukkan oleh waktu pelelehan penuh yang lebih cepat hingga sekitar 10 menit dibandingkan LA murni. Perbandingan hasil simulasi dengan data eksperimen menunjukkan kesesuaian yang baik sehingga memvalidasi model numerik yang digunakan. Studi ini memberikan dasar pemahaman kuantitatif mengenai peningkatan performa termal LA melalui penambahan komposit magnetik Fe3O4 dan NiFe2O4.
PENGARUH STRATEGI PENETAPAN HARGA TERHADAP CITRA MEREK DAN KESEDIAAN MEMBAYAR PADA FURNITUR PREMIUM INDONESIA, STUDI KASUS: PT. CALEDON DESIGN CENTER
Ketidakpastian makro ekonomi menciptakan situasi yang kompleks bagi sektor furnitur di Indonesia. Lebih lanjut, kondisi perang tarif telah menyebabkan konsumen menunda pembelian di sektor non-primer seperti furnitur. Lingkungan yang penuh tantangan ini mengharuskan perusahaan bisa menentukan solusi tercepat dan paling tepat. Caledon, furnitur premium asal Singapura yang memiliki pangsa pasar terbesar-nya di Indonesia, merespons kondisi ini melalui strategi penetapan harga yang sulit untuk mengamankan keseimbangan penjualan dengan mengukur kesediaan membayar konsumen bersamaan dengan memastikan citra merek mereka tidak terdegrarasi pada saat yang bersamaan. Penelitian mengkaji dampak strategi penetapan harga pada citra merek dan kesediaan membayar. Penulis menggunakan sofa sebagai kontributor utama bisnis dengan lima tipe sofa teratas Marvin, Evita, Leo, Korus, dan Dallas. Studi ini membahas (1) Apa strategi penetapan harga yang efektif berdasarkan PED analysis? (2) Apakah strategi penetapan harga berdampak pada kesediaan pelanggan untuk membayar? (3) Bagaimana strategi penetapan harga Caledon memengaruhi citra merek premiumnya?. Analisa triangulasi melalui metode Price Elasticity Demand (PED) dari data transaksi Desember 2023 hingga Juli 2025, PLS-SEM dengan data survey 140 responden, dan analisa deskriptif demografi serta perilaku pelanggan mendukung pengembangan solusi terbaik untuk kasus bisnis. Hasil integrasi menunjukan strategi penetapan harga efektif pada level produk berdasarkan PED. Namun, hubungan strategi penetapan harga dan kesediaan membayar lemah, p-value 0,065 dan T-statistik 1,847, lebih tinggi dari nilai T-tabel 1,657. Demikian pula, hubungan citra merek terhadap kesediaan membayar ditolak p-value 0,114 dan T-statistik 1,581. Hanya strategi penetapan harga yang memiliki pengaruh positif terhadap citra merek, Path Coefficient=0,839,T-statistik= 35,610, dan p-value <0,001. Menandakan bahwa strategi penetapan harga hanya memberikan sinyal yang kuat untuk membangun persepsi citra merek, tanpa secara langsung mempengaruhi kesediaan membayar.
PELUANG DAN TANTANGAN PEER-TO-PEER (P2P) LENDING DALAM PENYALURAN PEMBIAYAAN KEPADA UMKM DI INDONESIA: ANALISIS STRATEGIS DARI PERSPEKTIF BISNIS DAN REGULASI
Penelitian ini didasari oleh masih besarnya kesenjangan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, meskipun berbagai program inklusi keuangan telah dijalankan oleh lembaga keuangan tradisional. Peer-to-peer (P2P) lending telah muncul sebagai solusi alternatif untuk melayani segmen ini sejak muncul di Indonesia pada tahun 2016. Seiring dengan semakin berkembangnya industri dan penerapan regulasi yang lebih ketat, peran P2P lending kini berubah menjadi lembaga pelengkap bagi perbankan dalam melayani pelaku usaha yang belum atau kurang terlayani oleh lembaga keuangan formal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan yang dihadapi oleh platform P2P lending dalam menyalurkan pinjaman produktif kepada UMKM di Indonesia setelah diterbitkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40 Tahun 2024. Regulasi ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat tata kelola dan mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan, tetapi juga untuk mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor produktif sebagai bagian dari agenda jangka panjang inklusi keuangan nasional. Namun, regulasi ini juga memperkenalkan sejumlah tantangan bisnis baru seperti penurunan batas maksimum bunga, peningkatan biaya kepatuhan, serta persyaratan kehati-hatian yang lebih ketat. Oleh karena itu, perusahaan P2P lending perlu menyeimbangkan kepatuhan terhadap regulasi dan keberlanjutan profitabilitas, sembari terus berperan penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi UMKM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif, dengan menggabungkan data primer berupa wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan seperti manajemen P2P lending, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), dan pelaku UMKM, serta data sekunder yang diperoleh dari hasil survei dan kajian lembaga seperti BPS, OJK, dan CORE Research, serta regulasi terbaru yang memengaruhi industri P2P lending. Data primer dan sekunder kemudian dianalisis menggunakan thematic coding dan content analysis, dengan dukungan alat analisis strategis seperti PESTEL, Resource-Based View (RBV), SWOT, dan Matriks TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang utama bagi industri terletak pada besarnya potensi pasar UMKM yang belum tergarap, semakin jelasnya arah regulasi, serta meningkatnya kolaborasi dengan bank sebagai pemberi dana. Namun, tantangan utama yang dihadapi mencakup margin keuntungan yang menurun akibat pembatasan bunga, meningkatnya biaya kepatuhan, keterbatasan data debitur, menurunnya kepercayaan pemberi dana akibat kasus penipuan di masa lalu, dan menurunnya tingkat inklusi keuangan akibat citra negatif fintech ilegal (pinjol). Penelitian ini menemukan bahwa pelaku industri merespons secara strategis dengan memperkuat tata kelola, membangun kemitraan dengan bank dan lembaga penjamin, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan penilaian risiko pembiayaan produktif. Dari sisi teoretis, penelitian ini berkontribusi dalam memperluas pemahaman mengenai penerapan Teori Institusional dalam tata kelola industri P2P lending, yang menunjukkan bahwa kepatuhan dapat digunakan secara strategis untuk membangun legitimasi dan kepercayaan jangka panjang. Penelitian ini juga memperluas penerapan Resource-Based View (RBV) ke tingkat industri, dengan menunjukkan bahwa kombinasi sumber daya dan kapabilitas dapat menjadi dasar keunggulan kompetitif bagi platform P2P lending. Dari sisi manajerial, penelitian ini menekankan pentingnya menyeimbangkan kepatuhan dengan inovasi, serta menjadikan tata kelola sebagai bagian dari model bisnis, bukan sebagai hambatan. Kesimpulannya, masa depan industri P2P lending di Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan pelaku industri dalam beradaptasi terhadap perubahan regulasi, sambil terus meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas penilaian kredit. Platform yang mampu menjadikan kepatuhan sebagai diferensiasi strategis, memperkuat kemitraan, dan mengembangkan pembiayaan produktif diperkirakan akan mampu bertahan. Secara bersamaan, peran asosiasi dan regulator juga penting untuk membuat industri yang kolaboratif, terutama dalam mencapai inklusi keuangan untuk UMKM di Indonesia.
STRATEGI PEMASARAN YANG DIUSULKAN MENGGUNAKAN BAURAN PEMASARAN 7P UNTUK MEMPERKUAT IDENTITAS MEREK BERBASIS PROFESIONALISME DAN MENGOPTIMALKAN PENDAPATAN: STUDI KASUS KLINIK TUMBUH KEMBANG ANAK LALITA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana nilai profesionalisme yang diusung oleh Klinik Lalita sebagai inti positioning merek selaras dengan persepsi yang terbentuk pada pelanggan berdasarkan pengalaman layanan. Profesionalisme telah didefinisikan sebagai identitas utama klinik, terutama melalui kredibilitas dokter tumbuh kembang, psikolog, dan terapis multidisiplin. Namun, dinamika persaingan dengan klinik berbiaya rendah dan meningkatnya ekspektasi orang tua modern menimbulkan kebutuhan untuk mengevaluasi apakah profesionalisme tersebut benar-benar dirasakan secara konsisten di seluruh titik kontak layanan. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa identitas merek yang diinginkan organisasi tidak selalu identik dengan persepsi pelanggan, terutama dalam layanan kesehatan anak yang sangat dipengaruhi oleh interaksi manusia, proses administratif, kualitas fasilitas fisik, dan komunikasi lintas fungsi. Oleh karena itu, penelitian ini menilai pentingnya analisis kesenjangan antara intended positioning dan perceived positioning sebagai dasar untuk memperkuat daya saing klinik. Tujuan utama penelitian ini adalah dua hal. Pertama, menganalisis tingkat kesesuaian antara nilai profesionalisme yang ingin dibangun oleh Klinik Lalita dengan persepsi pelanggan. Kedua, mengevaluasi strategi marketing mix (7P) yang diterapkan saat ini dan mengidentifikasi area pengembangan yang diperlukan untuk meningkatkan keselarasan nilai profesionalisme, memperkuat brand identity alignment, serta mendukung daya saing jangka panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus dengan wawancara mendalam pada tiga kelompok partisipan: karyawan internal, pasien aktif, dan calon pelanggan potensial. Wawancara dilakukan untuk menangkap perspektif triangulatif pada dimensi operasional dan pengalaman pengguna. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik thematic analysis dengan kerangka Booms dan Bitner (7P) sebagai panduan untuk mengidentifikasi pola kesenjangan antara nilai yang diharapkan dan nilai yang dirasakan. Tinjauan literatur mengenai pemasaran jasa, brand identity, internal branding, dan layanan tumbuh kembang anak memberikan landasan konseptual penelitian ini. Literatur sebelumnya menekankan bahwa kualitas layanan dalam industri kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh kualitas fungsional seperti komunikasi, empati, kecepatan respons, kenyamanan ruang, dan kualitas fasilitas. Dalam konteks layanan tumbuh kembang anak, dimensi ini menjadi lebih penting karena terkait erat dengan kepercayaan orang tua dan kenyamanan emosional keluarga. Penelitian ini mengadopsi proposisi bahwa profesionalisme sebagai nilai merek harus dimanifestasikan secara menyeluruh dalam seluruh elemen layanan untuk dapat dirasakan secara konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme telah tercermin kuat pada dimensi klinis melalui kompetensi dokter, psikolog, dan terapis. Namun, kesenjangan signifikan ditemukan pada elemen non-medis dalam bauran pemasaran. Pada elemen Product, gap muncul akibat belum tersedianya layanan preventif dan lanjutan seperti sensory class, vaksinasi, penjualan vitamin, dan terapi outdoor. Pada elemen People, ketidakkonsistenan muncul dalam standar komunikasi, ketepatan waktu, dan empati admin. Pada elemen Process, sistem pendaftaran dan penjadwalan yang masih manual menyebabkan keterlambatan dan miskomunikasi. Pada elemen Physical Evidence, ketidaksesuaian fasilitas seperti ruang tunggu, area bermain, identitas visual, dan fasilitas pendukung menunjukkan gap antara citra profesional premium dan pengalaman yang diterima pasien. Sementara itu, Price, Promotion, dan Place menunjukkan gap yang lebih kecil, tetapi tetap membutuhkan penguatan, terutama dalam keadilan program loyalitas, efektivitas SEO, dan kenyamanan akses parkir. Kontribusi akademik penelitian ini terletak pada pemanfaatan kerangka 7P untuk mendiagnosis alignment gap antara intended brand identity dan perceived experience dalam konteks layanan kesehatan anak — sebuah area yang masih terbatas dalam literatur. Penelitian ini memberikan pemahaman empiris bahwa profesionalisme tidak dapat berdiri sendiri pada aspek klinis, tetapi harus didukung oleh konsistensi operasional, fisik, dan interpersonal agar membentuk persepsi yang menyeluruh. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan pengembangan One-Stop Services, peningkatan service excellence frontliner, digitalisasi proses melalui WhatsApp Business API, serta standarisasi fasilitas fisik. Implementasi strategi ini diharapkan mampu meningkatkan keselarasan nilai profesionalisme, memperkuat persepsi pelanggan, dan mendukung daya saing jangka panjang Klinik Lalita.
PERAN SUBSTITUSI Q174E DAN N185D DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN TERMOSTABILITAS ?- AMILASE BAQA?C YANG DIISOLASI DARI ROSELLOMOREA AQUIMARIS MKSC6.2
?-Amilase (EC 3.2.1.1) adalah enzim endo-akting yang mengkatalisis hidrolisis ikatan ?-1,4-glikosidik dalam pati, menghasilkan maltodekstrin dan gula sederhana. BaqA, suatu ?-amilase dari Bacillus aquimaris MKSC6.2, yang diisolasi dari bakteri laut yang berasosiasi dengan karang lunak di Merak Kecil, Indonesia, merupakan anggota penting dari enzim glikosida hidrolase famili 13 (GH13), yang banyak digunakan dalam aplikasi industri termasuk hidrolisis pati, produksi biofuel, dan pengolahan makanan. Efisiensi enzimatik, spesifisitas substrat, dan stabilitas termal ?-amilase sangat penting bagi penerapannya di industri. BaqA mengandung dua fitur struktural yang diprediksi sangat mempengaruhi kinerja enzim: residu pengikat Ca2+ yang terletak di ?5 domain B dan wilayah urutan terkonservasi CSR-V yang diposisikan pada loop 3. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran fungsional residu ini dalam BaqA terpotong (BaqA?C) melalui pendekatan biokimia dan komputasi terintegrasi. Mutagenesis terarah situs (SDM) digunakan untuk memperkenalkan substitusi asam amino yang ditargetkan pada Q174 dan N185, yang diprediksi memengaruhi pengikatan substrat, pengikatan kalsium, efisiensi katalitik, termostabilitas, dan pembentukan produk. Pemilihan situs mutasi dipandu oleh pemodelan struktural, penyelarasan sekuens dengan ?-amilase yang terkait erat, dan pengetahuan sebelumnya tentang motif katalitik dan pengikatan yang dilestarikan. Profil stabilitas termal dan pH juga ditentukan untuk menyelidiki ketahanan enzim dalam kondisi yang relevan secara industri. Kinetika enzim dinilai menggunakan pati larut sebagai substrat, dan parameter termasuk konstanta Michaelis-Menten (Km), kecepatan maksimum (Vmax), dan efisiensi katalitik (kcat/Km) ditentukan untuk mengevaluasi dampak mutasi pada kinerja katalitik. Secara paralel, analisis struktural in silico, termasuk simulasi docking molekuler dan dinamika molekuler (MD), dilakukan untuk menjelaskan dasar mekanistik dari perubahan fungsional yang diamati. BaqA?CQ174E dan BaqA?CN185D diekspresikan secara heterolog dalam E. coli ArcticExpress (DE3), dengan berat molekul perkiraan ~58 kDa sebagaimana ditentukan dengan analisis SDS PAGE dan dimurnikan dengan kromatografi NiNTA. Aktivitas spesifik ditentukan untuk BaqA?C, BaqA?CQ174E, dan BaqA?CN185D dengan nilai masing-masing 5,8 ± 0,4 U/mg, 6,6 ± 0,8 U/mg, dan 7,6 ± 0,2 U/mg, yang menunjukkan bahwa BaqA?CQ174E dan BaqA?CN185D menunjukkan peningkatan efisiensi katalitik. Menariknya, derajat hidrolisis (DH) dihitung sebesar 1,41% untuk BaqA?C, 2,18% untuk BaqA?CN185D, dan 1,52% untuk BaqA?CQ174E. BaqA?C menunjukkan aktivitas hidrolisis optimal terhadap pati terlarut 2% pada suhu 50 °C dan pH 6,5. Menariknya, baik BaqA?CQ174E maupun BaqA?CN185D menunjukkan pH optimal sebesar 5,5. Secara mengejutkan, mutan BaqA?CQ174E menunjukkan peningkatan waktu paruh dua setengah kali lipat dibandingkan BaqA?C dan peningkatan aktivitas relatif sebesar 185% ketika diberi perlakuan [Ca2+] 10 mM. Kedua varian menunjukkan perubahan signifikan pada sifat enzimatik relatif terhadap BaqA?C, tercermin dalam peningkatan nilai kcat dan penurunan Km, yang menunjukkan peningkatan afinitas dan pergantian substrat. Lebih lanjut, HPLC digunakan untuk mengevaluasi produk hidrolisis pati dari ekstrak protein kasar E. coli ArcticExpress (DE3) yang mengekspresikan BaqA?C, BaqA?CN185D, dan BaqA?CQ174E. Galur kontrol menghasilkan ?-amilase pencair alami, sementara kedua enzim rekombinan menunjukkan aktivitas sakarifikasi. Khususnya, setelah 16 jam inkubasi, BaqA?CN185D menghasilkan glukosa dalam jumlah yang signifikan, sementara BaqA?CQ174E menghasilkan maltosa sekitar 3 kali lipat lebih banyak. Simulasi MD selanjutnya mengonfirmasi penurunan fleksibilitas di wilayah-wilayah penting untuk katalisis pada BaqA?CQ174E dan BaqA?CN185D, yang berkorelasi dengan peningkatan ketahanan termal yang teramati. Studi ini menyediakan kerangka kerja komprehensif untuk memahami hubungan struktur-fungsi dalam ?-amilase terpotong dan menunjukkan potensi mutagenesis rasional untuk mengoptimalkan kinerja enzim bagi aplikasi industri. Pendekatan eksperimental dan komputasional gabungan memungkinkan evaluasi dampak mutasi yang presisi pada tingkat fungsional dan struktural, memberikan wawasan tentang kontribusi spesifik residu terhadap dinamika dan katalisis enzim. Temuan ini tidak hanya menyoroti fleksibilitas BaqA?C sebagai kandidat untuk eksploitasi bioteknologi, tetapi juga membangun fondasi bagi upaya rekayasa protein lebih lanjut yang bertujuan menghasilkan amilase yang tangguh dan berkinerja tinggi yang dirancang khusus untuk proses industri tertentu. Penelitian selanjutnya akan berfokus pada perluasan strategi ini ke varian tambahan, mengeksplorasi efek sinergis dari beberapa mutasi, dan memvalidasi kinerja enzim dalam kondisi operasional skala besar.
PERANCANGAN KORIDOR JABABEKA II DENGAN PENDEKATAN ACTIVE-LIVING KORIDOR
Isu gaya hidup sedentari dan ketergantungan pada kendaraan bermotor menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, termasuk di Indonesia. Fenomena ini juga terlihat di Koridor Jababeka II, sebuah kawasan industri strategis di Cikarang yang memiliki keberagaman fungsi lahan (industri, komersial, dan permukiman), namun belum didukung oleh infrastruktur yang memadai bagi pejalan kaki. Keterbatasan fasilitas pedestrian, konektivitas antar-zona yang terputus, serta dominasi kendaraan bermotor menjadikan kawasan ini kurang mendukung mobilitas aktif. Tesis ini bertujuan untuk merumuskan rancangan pengembangan Koridor Jababeka II dengan pendekatan Active-Living Corridor melalui konsep Pedestrian-Friendly. Metode perancangan yang digunakan adalah Metode Fragmental yang diadopsi dari Shirvani (1985), meliputi pengumpulan data, analisis deskriptif kualitatif, gap analysis untuk mengidentifikasi potensi dan masalah, serta teknik perancangan division by aspect. Hasil perancangan mengusulkan visi “Urban Active Corridor” yang dijabarkan ke dalam empat misi utama: Integrated Mobility (mobilitas terpadu), Pedestrian Safety & Comfort (keamanan dan kenyamanan pejalan kaki), Vibrant Community Hubs (pusat komunitas yang hidup), dan Place Identity (identitas tempat). Rancangan ini mengintegrasikan jalur pedestrian dan pesepeda yang menerus, mengaktifkan ruang publik melalui pocket park dan plaza komunitas, serta menata ulang elemen fisik koridor untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan menstimulasi aktivitas fisik sehari-hari bagi pekerja maupun warga sekitar.
ANALISIS STRATEGI BISNIS PT CIPUTRA DEVELOPMENT DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN BARU DI KABUPATEN BEKASI (STUDI KASUS : CITRAGARDEN BEKASI)
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jabodetabek dan meningkatkan permintaan perumahan secara signifikan. Kabupaten Bekasi menjadi salah satu target yang menarik bagi pengembang properti. PT Ciputra Development Tbk sebagai salah satu pengembang terkemuka di Indonesia meluncurkan CitraGarden Bekasi untuk menjawab kebutuhan pasar. Terdapat beberapa tantangan, seperti persaingan antar kompetitor, akuisisi lahan, pembangunan infrastruktur, dan pergeseran preferensi konsumen yang menjadi tantangan strategi bisnis. Penelitian ini berfokus untuk menganalisa strategi bisnis PT Ciputra Development dalam mengembangkan proyek CitraGarden Bekasi berdasarkan faktor eksternal dan internal. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara kualitatif dengan pemangku kepentingan perusahaan dan survei kuantitatif yang melibatkan responden dari Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi dan Bekasi. Kerangka kerja analisis akan menggunakan analisis pasar (segmentasi, penargetan, dan posisi), analisis lingkungan eksternal (umum, industri, dan pesaing), analisis internal (sumber daya, rantai nilai, pemasaran, dan strategi perusahaan) serta menggunakan matriks SWOT dan TOWS. Hasil penelitian menunjukkan segmen pasar utama CitraGarden Bekasi terdiri dari profesional muda dan keluarga menengah yang mencari hunian terjangkau dan berkembang di lokasi strategis dekat industri dan pusat bisnis. Kekuatan utama PT Ciputra Development terletak pada reputasi merek, kapabilitas finansial dan efisiensi operasional, didukung sistem pengadaan terpusat, penerapan rekayasa nilai serta strategi pemasaran digital. Meskipun proyek ini memiliki keterbatasan lahan dan skala lebih kecil dibanding pesaingnya, CitraGarden Bekasi menerapkan strategi gabungan cost leadership dan diferensiasi dengan menonjolkan aspek keterjangkauan, kualitas desain serta fitur gaya hidup seperti lanskap hijau dan fasilitas clubhouse. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan properti dalam merumuskan strategi yang kompetitif dan berkelanjutan di pasar yang dinamis dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi operasional, mendorong inovasi hunian ramah lingkungan, serta mengembangkan model pembiayaan mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan daya saing sektor perumahan di Indonesia.
IMPLEMENTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE – LONG SHORT TERM MEMORY UNTUK MEMPREDIKSI IMBAL HASIL SAHAM BANK-BANK DI INDONESIA
Pasar modal Indonesia, khususnya Bursa Efek Indonesia (BEI), menghadirkan sebuah lingkungan yang dinamis namun juga penuh dengan tantangan bagi investor dan analis keuangan. Sektor perbankan, yang diwakilkan oleh Index LQ45, memegang peran penting sebagai barometer stabilitas ekonomi nasional. Tetapi, volatilitas pasar yang tinggi, yang dipengaruhi oleh sentiment investor jangka pendek dan fluktuasi makroekonomi, seringkali membuat metode peramalan tradisional menjadi tidak efektif. Permasalahan penelitian ini berakar dari keterbatasan model ekonometrik linear konvensional dan analisa fundamental standar dalam menangkap pola non-linear kompleks dari data harga saham harian. Maka, isu ilmiah yang mendesak untuk diatasi adalah bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI), khususnya Deep Learning, untuk meningkatkan akurasi peramalan dan untuk memahami variable-variable penting yang menentukan harga saham di tengah ketidakpastian pasar. Penelitian ini berdasarkan preposisi di mana data keuangan time-series memiliki pola momentum jangka pendek yang dapat dipelajari, dan bahwa model non-linear canggih lebih unggul dari model tradisional. Penelitian ini memiliki 2 tujuan utama, untuk mengidentifikasi variable-variable penting yang mempengaruhi pengembalian saham Bank-Bank di Indonesia dan kedua, untuk mengevaluasi performa model Deep Learning dengan arsitektur Long Short-Term Memory (LSTM) dalam peramalan pengembalian saham. Hipotesa yang diajukan dan diuji adalah veriabel teknikal tertentu memiliki pengaruh dominan daripada variable fundamental dalam kerangka harian, dan model LSTM memiliki kemampuan untuk menghasilkan tingkat kesalahan prediksi yang sangat rendah (Normalized MSE di bawah 3%). Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang bersumber dari Bloomberg Terminal. Sampel penelitian terdiri dari 7 Bank terbesar di Indonesia (mewakili Bank BUMN dan Bank Swasta) dengan periode observasi 10 tahun, mulai dari 2015 sampai 2024. Data yang dikumpulkan termasuk variable-variable teknikal seperti High Price, Low Price, Moving Average, Ask/Bid Price, dan Price Change 1 Day Percent dan variable-variabel fundamental seperti Price to Sales, PBV, Dividend Yield, dan PER. Analisa data dilakukan dalam 2 tahap utama: Tes Feature Importance untuk menjelaskan kausalitas variabel, dan pengembangan model LSTM menggunakan Bahasa pemrograman Python dengan skema data split training, validation, dan testing untuk memastikan ketahanan model. Hasil penelitian menunjukkan temuan empiris yang signifikan. Pertama, analisa Feature Importance mengungkapkan bahwa variable teknikal mendominasi pengaruh pada pengembalian saham harian dibandingkan dengan variable fundamental. Secara spesifik, variable Price Change 1 Day Percent teridentifikasi sebagai variable paling penting terhadap 5 dari 7 sampel Bank yang diuji (BRI, BNI, BTN, CIMB Niaga, and Danamon). Sebaliknya, variable fundamental seperti Price Earning Ratio (PER) ditemukan sebagai variable yang paling tidak penting pengaruhnya. Temuan ini menjelaskan fenomena “ketidakcocokan frekuensi/ frequency mismatch”, di mana metric fundamental statis (tahunan/kuartalan) gagal menyediakan nilai prediksi untuk pergerakan harga harian yang dinamis. Kedua, evaluasi dari performa model menunjukkan bahwa LSTM memiliki akurasi yang superior dalam memprediksi pengembalian saham. Hasil ini terbukti dari fakta bahwa 6 dari 7 sampel Bank (BRI, BNI, BTN, BCA, CIMB Niaga, dan Danamon) memiliki nilai NMSE di bawah tolak ukur sebesar 3%. Tolak ukur 3% didasarkan pada penelitian sejenis yang menunjukkan di antara model Deep Learning lainnya, LSTM dapat meraih tingkat kesalahan terendah di 3%. Dalam thesis ini, performa terbaik dicatat pada saham BBTN dan BDMN dengan nilai NMSE 0.11%. Kontribusi penelitian ini terhadap ilmu manajemen keuangan adalah validasi empiris terkait keefektifan dari Deep Learning sebagai alat peramalan yang handal di pasar modal negara berkembang seperti Indonesia, serta konfirmasi teoritis bahwa pada trading harian, factor momentum teknikal lebih relevan dibandingkan valuasi fundamental. Studi ini menyarankan investor untuk berpidnah dari spekulasi ke strategi kunatitatif berdasarkan data dengan mengintegrasikan model LSTM dan memprioritaskan indicator momentum untuk pengambilan keputusan investasi jangka pendek.
MENGEMBANGKAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MEMILIH LOKASI RITEL DALAM EKSPANSI BERBAGAI MEREK: STUDI KASUS DARI PERUSAHAAN RITEL TERKEMUKA DI INDONESIA
Industri ritel di Indonesia telah berubah dari waktu ke waktu tapi pemilihan lokasi ritel tetap menjadi salah satu elemen penting untuk menentukan kesuksesan dalam bisnis ritel. Dalam studi kasus ini, Arkana Group sebagai operator dari berbagai brand internasional dimana menjangkau berbagai macam kebutuhan konsumen di Indonesia, dimana salah satu tantangannya adalah dalam memilih lokasi ritel yang optimal dan sejalan dengan strategi tujuan dari suatu brand. Biaya premis, lokasi, perilaku konsumen dan pemangku kepentingan adalah pertimbangan penting lainnya dalam proses pengambilan keputusan dalam menentukan lokasi ritel. Salah satu tantangannya adalah kurangnya standar dan data pendukung sebagai pendekatan dalam menentukan lokasi ritel. Saat ini keputusan-keputusan sering terpengaruh berdasarkan pengalaman manajemen dan histori data perusahaan, dimana menjadi formalitas daripada tolak ukur perusahaan. Alhasil, bias subjektif dan penilaian yang tidak konsisten di berbagai divisi menjadi penilaian yang salah dalam pemilihan lokasi, kinerja toko-toko yang buruk, dan kerugian profit. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur dan objektif dalam pemilihan lokasi ritel pada konteks ekspansi multi-merek. Pendekatan metode campuran digunakan. Pertama, wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama termasuk Brand Manager, Business Development, dan Project Manager dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam proses yang ada serta kriteria utama. Temuan kualitatif kemudian disintesis dan disusun ke dalam model pengambilan keputusan multi-kriteria dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah kerangka pengambilan keputusan yang praktis untuk meningkatkan konsistensi, mengurangi bias subjektif, dan menyelaraskan antar pemangku kepentingan dalam pemilihan lokasi ritel. Di kemudian hari, kerangka yang baru tidak hanya untuk praktik para manajemen tapi bisa bahan diskusi akademik dalam pengambilan keputusan di pasar ritel yang sedang berkembang.
STRATEGI NEGOSIASI UNTUK MAKSIMALKAN NILAI HUBUNGAN DALAM PERBANKAN KORPORASI
Perkembangan pesat perbankan korporasi di Indonesia telah meningkatkan persaingan antar lembaga keuangan, di mana negosiasi suku bunga masih menjadi pembeda yang paling terlihat namun paling tidak berkelanjutan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menstandarkan penetapan harga, Relationship Manager (RM) masih sering mengandalkan konsesi berbasis suku bunga untuk memperoleh kesepakatan. Pendekatan ini menghasilkan profitabilitas jangka pendek tetapi mengorbankan nilai hubungan jangka panjang, loyalitas nasabah, dan sinergi lintas produk. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merancang kerangka negosiasi komprehensif yang memungkinkan RM mengoptimalkan penciptaan nilai hubungan melalui pengambilan keputusan terstruktur dan kolaborasi lintas fungsi. Penelitian ini berupaya menjawab empat pertanyaan utama: bagaimana kerangka pengambilan keputusan multi-kriteria seperti SMART dapat memandu evaluasi negosiasi; strategi alternatif apa yang dapat dikembangkan berdasarkan wawasan empiris RM dan Product Partner; bagaimana konsep BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement) dan ZOPA (Zone of Possible Agreement) dapat memperkuat posisi tawar RM sambil menjaga kemitraan jangka panjang; serta bagaimana persiapan dan berbagi pengetahuan dapat meningkatkan efektivitas negosiasi multi-entitas. Penelitian ini berasumsi bahwa keberhasilan negosiasi di sektor perbankan bergantung pada keseimbangan antara penciptaan nilai, pembelajaran institusional, dan kepercayaan nasabah. Pendekatan kualitatif eksploratif digunakan melalui wawancara semi-terstruktur dengan empat Relationship Manager dan tiga Product Partner dari fungsi Cash Management, Treasury, dan Trade di Bank of Tiongkok Corporation Indonesia (BTCI). Analisis tematik dan matriks pengkodean digunakan untuk mengidentifikasi pola negosiasi yang konvergen dan divergen antar peran.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN FRONTLINER PIHAK KETIGA UNTUK PENCAPAIAN KINERJA DI INDUSTRI FMCG PT GOOD FOOD JAKARTA RAYA
Dalam bisnis FMCG, khususnya di General Trade, frontliner merchandiser memegang peran penting setelah salesman mendistribusikan produk ke outlet. Tugas dan fungsinya mencakup memastikan produk terlihat jelas dan ditampilkan dengan baik di toko, dengan konsep “available” (produk tersedia di toko), “visible” (produk terlihat di display), dan “accessible” (mudah jangkauan oleh konsumen). Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengelola operasional, PT Good Food telah melakukan investasi besar dalam visibilitas program untuk meningkatkan penjualan offtake dan penggunaan tracking tools. Namun pencapaian KPI terkait ketepatan waktu implementasi dan kepatuhan masih belum mencapai target, terutama di wilayah Jabodetabek. Setelah mengamati kondisi di lapangan dan berdiskusi dengan tim lapangan, para supervisor, dan lembaga mitra, semakin terlihat bahwa masalah utamanya terletak pada sisi kapabilitas. Cukup banyak frontliner yang mulai bekerja berorientasi tanpa awal yang memadai, dan sebagian dari mereka belum benar-benar memahami aturan dasar visibilitas, kepatuhan standar, atau bahkan cara mengoperasikan aplikasi tracking. Studi ini menggunakan wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan analisis fishbone untuk mengidentifikasi akar masalah. Dari proses tersebut, muncul empat faktor utama: ketidaksesuaian pelatihan, ketidaksesuaian KPI, masalah koordinasi, serta tantangan eksternal seperti aktivitas kompetitor atau keterbatasan toko. Dari semua faktor tersebut, yang paling sering muncul, mendesak,& paling realistis untuk diselesaikan adalah ketiadaan program yang berorientasi pada standar bagi merchandiser baru. Berdasarkan hal ini, disusunlah desain orientasi yang lebih terstruktur, mencakup proses onboarding, kesiapan merchandiser, hingga sistem dukungan supervisor& frontliner buddy di outlet. Materi pelatihan wajib meliputi WHO Code dan Safety Riding, penjelasan jobdesk, pembekalan KPI, pelatihan POSM serta penggunaan tracking tools, pemahaman operasional distributor, dan evaluasi setelah pelatihan. Model onboarding yang diusulkan ini diharapkan dapat mengurangi perbedaan kemampuan antar-frontliner, meningkatkan compliance, dan membantu pencapaian KPI visibility tepat waktu. Intinya sederhana: ketika frontliner tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan mengapa hal itu penting, eksekusi di lapangan jadi lebih konsisten dan kinerja bisnis pun bisa meningkat.
PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN FREELANCE YANG EFISIEN PADA INDUSTRI EVENT DI INDONESIA: STUDI KASUS EVORIA EVENT ORCHESTRATOR
Objektif penelitian ini adalah mengembangkan dan mendesain sistem yang efektif untuk pengelolaan tenaga kerja lepas (freelance) di industri event Indonesia dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus Evoria Event Orchestrator. Sebagai perusahaan manajemen acara berskala menengah yang membutuhkan banyak tenaga freelance, Evoria menghadapi tantangan struktural dalam mengelola basis talenta terus berkembang. Saat ini ada 900 orang freelance yang terdaftar dalam komunitas freelance Evoria, tetapi hanya 10 persen yang aktif. Rendahnya pemanfaat ini disebabkan karena tidak ada sistem yang terpusat untuk rekruitmen, penugasan, evaluasi hingga retensi freelance yang berujung pada keterlambatan operasional, komunikasi yang tidak konsisten, serta variasi dalam kualitas hasil kerja. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus denga pendekatan kualitatif dengan metode Design Thinking untuk menggali pengalaman manusia dan proses organisasi yang menimbulkan ketidakefisienan tersebut. Metode dan pendekatan ini dipilih karena menggabungkan empati, kolaborasi, dan proses iteratif untuk mencapai efisiensi sistem sekaligus untuk mempertahankan motivasi manusia yakni tim Evoria dan freelance. Kerangka konseptual penelitian ini menggabungkan tiga kerangka teori: Event Lifecycle dari Getz (2012), Volunteer Management Lifecycle dari Cuskelly (2006), dan satu variabel dari Employee Lifecycle Model oleh Sullivan (2014). Ketiganya menyediakan kerangka komprehensif yang menuntun organisasi untuk membangun sistem yang efisien tanpa kehilangan sisi manusiawi, sehingga struktur kerja dan kolaborasi antarindividu dapat berjalan selaras. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan tenaga lepas dan tim internal Evoria yaitu Head of Event, Event Manager, dan Admin HR, serta dilengkapi data sekunder dari dokumen internal. Analisis tematik menemukan enam akar permasalahan utama: waktu persiapan yang singkat, budaya kerja cepat tanpa sistem, koordinasi manual, kesenjangan keterampilan tenaga lepas, komunikasi yang bergantung pada individu, serta umpan balik yang tidak diubah menjadi pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini merancang dan menguji tiga solusi strategis: (1) Evoria Crew Planner, sistem perencanaan tenaga kerja terpusat yang meningkatkan perencanaan dan distribusi kerja; (2) Evoria Coordination Manual, panduan alur kerja standar untuk menyelaraskan koordinasi antara divisi HR dan Event; serta (3) Evoria Learning Hub & Freelance Circle, unit bisnis baru untuk pelatihan, sertifikasi, dan pembangunan komunitas tenaga lepas. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan kecepatan koordinasi, kejelasan beban kerja, serta kepuasan tim Evoria, menegaskan bahwa efisiensi dapat dicapai tanpa mengorbankan fleksibilitas dan hubungan manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keseimbangan antara struktur dan empati merupakan kunci keberhasilan pengelolaan tenaga lepas yang berkelanjutan. Melalui pendekatan berbasis desain, Evoria berhasil mengubah proses manual yang terfragmentasi menjadi sistem terpadu berbasis data yang memenuhi kebutuhan operasional sekaligus aspek manusia. Model ini dapat menjadi referensi bagi penyelenggara acara lain di Indonesia untuk memprofesionalkan sistem manajemen tenaga lepas mereka.
ANALISIS PROYEK INVESTASI BISNIS PENDIDIKAN NON-FORMAL: STUDI KASUS PERSIAPAN EKSPANSI BERKELANJUTAN EDUGRITY
EDUGRITY (nama samaran), sebuah kursus pendidikan non formal di Kelapa Gading, Jakarta Utara, akan menghadapi kapasitas penuh dalam waktu dekat. Maka dari itu, EDUGRITY berencana membuka cabang kedua sebagai bentuk ekspansi. Penelitian ini memiliki serangkaian kegiatan dari evaluasi kesiapan perusahaan, kelayakan finansial proyek, sampai memberikan rekomendasi strategi untuk jangka panjang. Penilaian kesiapan menggunakan kerangka RBV, VRIO dan berbagai rasio keuangan. Di awal, proyek ekspansi ini memiliki dua alternatif, yaitu membeli atau menyewa ruko komersial. Opsi beli membutuhkan investasi awal sebesar Rp 5,185,000,000 dengan tingkat diskonto 12,52% untuk rencana 10 tahun, sedangkan, opsi sewa membutuhkan investasi awal sebesar Rp 985,000,000 dengan tingkat diskonto 11,57% untuk 5 tahun proyek. Metode Discounted Cash Flow (DCF) dilakukan untuk menghitung net present value (NPV), discounted payback period (PBP), internal rate of return (IRR), profitability index (PI), dan annualized NPV (ANPV). Analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo dilakukan untuk mengidentifikasi variabel sensitif dan distribusi probabilitas NPV. Hasil perhitungan menunjukkan kedua opsi layak dijalankan. Pada opsi beli, proyek menghasilkan NPV sebesar Rp 3,571,624,197, IRR 21,34%, PI 1,36, PBP 7 tahun 10 bulan (pembulatan), dan ANPV sebesar Rp 645,679,440. Sementara itu, opsi sewa menghasilkan NPV sebesar Rp 1,743,809,195, IRR 44,75%, PI 2,77, PBP 3 tahun 2 bulan (pembulatan), serta ANPV sebesar Rp 478,293,264. Meskipun opsi beli memiliki ANPV yang lebih tinggi, opsi sewa lebih direkomendasikan karena IRR dan PI yang jauh lebih besar, PBP lebih cepat, dan kebutuhan modal yang jauh lebih rendah di awal sehingga lebih mudah untuk menjangkau investor. Analisis sensitivitas mengidentifikasi lima variabel yang paling berpengaruh, yaitu: total biaya gaji dan bonus, jumlah siswa visual art pada tahun pertama, harga kelas Brain Gym, harga kelas visual art, serta jumlah siswa Brain Gym pada tahun pertama. Variabel-variabel tersebut perlu diawasi secara ketat karena sangat memengaruhi profitabilitas. Simulasi Monte Carlo menunjukkan probabilitas 99% untuk mencapai hasil NPV positif, sehingga memperkuat rekomendasi untuk menjalankan proyek ini.
DAMPAK STRATEGI PEMASARAN MEDIA SOSIAL DAN PEMASARAN INFLUENCER TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MELALUI KEPERCAYAAN MEREK PADA KLINIK KECANTIKAN DI JAKARTA
Penelitian ini menyelidiki pengaruh pemasaran media sosial dan pemasaran influencer terhadap keputusan pembelian, dengan fokus pada kepercayaan merek menggunakan Bayora Aesthetic Clinic sebagai studi kasus. Sebagai strategi untuk meningkatkan pencapaian penjualan, klinik kecantikan sebaiknya mempertimbangkan pemanfaatan pemasaran media sosial dan pemasaran influencer secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pemasaran media sosial dan pemasaran influencer dipersepsikan, mengeksplorasi strateginya, dan hasil yang diharapkan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan campuran (mixed-method). Data kuantitatif dikumpulkan dari 220 responden dan dianalisis menggunakan SEM-PLS untuk mengukur pengaruh masing-masing variabel, sementara hasil temuan kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan sebelas pengikut Bayora menggunakan analisis tematik untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang perilaku dan preferensi mereka. Temuan kuantitatif menunjukkan bahwa pemasaran media sosial dan pemasaran influencer secara signifikan meningkatkan kepercayaan merek, dengan pemasaran influencer menunjukkan pengaruh yang kuat. Pemasaran influencer juga memiliki dampak langsung yang kuat terhadap keputusan pembelian, sementara pemasaran media sosial menunjukkan pengaruh langsung yang lebih kecil namun signifikan. Hail pengujian mediasi mengungkapkan bahwa kepercayaan merek memediasi sebagian dari kedua hubungan tersebut, yang menegaskan bahwa kepercayaan merupakan mekanisme krusial yang menghubungkan aktivitas pemasaran digital dengan perilaku pembelian konsumen. Temuan kuantitatif diperkuat dengan hasil temuan kualitatif, yaitu: konsumen menggunakan pemasaran media sosial terutama untuk informasi, transparansi harga, dan memeriksa hasil perawatan, sementara pemasaran influencer memberikan bukti sosial, autentisitas, dan keterkaitan. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi sinergis antara pemasaran media sosial dan pemasaran influencer, di mana pemasaran media sosial membangun pengetahuan dasar dan pemasaran influencer memberikan validasi yang kredibel, merupakan strategi paling efektif untuk mendorong keputusan pembelian di sektor klinik kecantikan.