📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERANCANGAN BOARD GAME DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA DESIGN - DYNAMICS - EXPERIENCE (DDE) UNTUK MELATIH KONTROL INHIBISI PADA SISWA KELAS I SD

Penelitian ini bertujuan untuk merancang board game menggunakan kerangka Design–Dynamics–Experience (DDE) untuk melatih kontrol inhibisi pada siswa kelas I Sekolah Dasar (SD). Kontrol inhibisi merupakan bagian dari fungsi eksekutif pada otak yang berperan dalam inhibisi respons dan kontrol interferensi, serta menjadi prediktor masa depan individu. Proses perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond yang diawali dengan studi literatur, wawancara 2 tenaga kependidikan, dan observasi suasana belajar kelas I SD, yang menunjukkan bahwa kemampuan kontrol inhibisi siswa belum berkembang secara optimal. Perancangan board game menggunakan DDE dimulai dari perancangan experience yang berfokus pada latihan mempertahankan fokus dan pengendalian impuls, yang kemudian diterjemahkan ke dalam dynamics dan diwujudkan melalui design. Evaluasi dilakukan melalui playtesting secara bertahap kepada satu founder komunitas board game, satu pengembang game, dan tiga wali kelas I SD, dan observasi terhadap 18 siswa kelas I SD menggunakan instrumen observasi berlandaskan komponen DDE. Hasil menunjukkan bahwa board game yang dirancang mampu melatih kontrol inhibisi siswa kelas I SD yang mencakup inhibisi respons dan kontrol interferensi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan potensi kerangka DDE tidak hanya sebagai kerangka konseptual dalam merancang permainan, tetapi juga sebagai kerangka evaluatif dalam menilai kesesuaian antara desain permainan dan tujuan perancangan.

2026
👤 Penulis: Diah Ayoe Sukma Ariani W
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Permainan

MEMPRIORITASKAN PEMILIHAN SUPPLIER UNTUK MENGURANGI EMISI SCOPE 3 MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

Penelitian ini membahas masalah dalam pemilihan supplier untuk kolaborasi guna mengurangi emisi Scope 3 di PT Siemens Indonesia. Hal ini didorong oleh kebutuhan perusahaan untuk mencapai emisi net-zero pada tahun 2050, sejalan dengan target global. Mengurangi emisi Scope 3 penting karena mencakup sebagian besar total emisi. Namun, perusahaan menghadapi kesulitan dalam mengurangi emisi karena banyaknya supplier. Perusahaan tidak dapat berkolaborasi dengan semua supplier karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Oleh karena itu, perusahaan harus fokus berkolaborasi dengan supplier terpilih untuk mencapai hasil yang optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprioritaskan supplier untuk kolaborasi guna mengurangi emisi Scope 3. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, termasuk identifikasi masalah, pertanyaan dan tujuan penelitian, tinjauan pustaka, focus group discussions, melakukan metode AHP, dan memberikan solusi bisnis serta mengusulkan rencana implementasi. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif melalui tinjauan pustaka dan FGD, dan metode kuantitatif melalui kuesioner perbandingan berpasangan untuk AHP. Jurnal-jurnal sebelumnya telah menggunakan berbagai kriteria untuk pemilihan supplier. Kriteria-kriteria ini kemudian disaring dan disesuaikan dengan topik penelitian, menghasilkan 6 kriteria yang akan diusulkan dan dibahas dalam FGD. FGD dilakukan dengan melibatkan para ahli untuk mendapatkan kriteria akhir yang akan digunakan dalam metode AHP. AHP digunakan sebagai metode analisis data untuk memprioritaskan kriteria dan memprioritaskan pemasok berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria akhir adalah citra hijau, sistem manajemen lingkungan, komitmen lingkungan, dan emisi karbon. Pada alternatif, Indowire adalah pemasok prioritas tertinggi, dengan bobot 56,96%. Indowire memiliki skor tertinggi dan menunjukkan kinerja yang kuat di semua kriteria. Diikuti oleh Globalindo, Puma, Mun Hean, dan Pentamitra. Hasil ini memberikan solusi bagi PT Siemens Indonesia, memungkinkan kolaborasi dengan pemasok yang memiliki potensi tertinggi untuk pengurangan emisi, dengan mempertimbangkan beberapa kriteria.

2026
👤 Penulis: Silvia Anggraini
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH EFISIENSI PENGGUNAAN MATERIAL BETON DAN BAJA DALAM PROYEK KONSTRUKSI TERHADAP PROFITABILITAS PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA.

Efisiensi penggunaan material merupakan faktor krusial dalam proyek konstruksi karena material menyumbang 40–70% dari total biaya proyek. Di Indonesia, praktik pengelolaan material masih menghadapi kendala seperti pemborosan, kesalahan pengadaan, dan lemahnya pengawasan, sehingga berdampak pada deviasi biaya proyek sebesar 3–13,5%. Kondisi ini semakin penting diperhatikan mengingat margin keuntungan perusahaan konstruksi relatif rendah, hanya berkisar 5–15%. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh efisiensi penggunaan material beton dan baja terhadap profitabilitas perusahaan konstruksi di Indonesia yang diukur dengan menggunakan indikator pengukuran yaitu gross profit margin, serta mengidentifikasi faktor-faktor dominan dalam manajemen material yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan material. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed-methods) dengan data primer berupa kuesioner kepada praktisi konstruksi dan data sekunder berupa dokumen proyek. Analisis kuantitatif dilakukan melalui regresi linear berganda, uji simultan (uji F), uji parsial (uji t), dan koefisien determinasi (R²), sedangkan faktor dominan dianalisis dengan metode Relative Importance Index (RII), analisis statistik dengan metode rata-rata, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan material beton dan baja tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan konstruksi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh dalam beberapa kasus proyek konstruksi, perencanaan dan manajemen material beton dan baja sudah sangat efisien sehingga tidak menimbulkan pemborosan signifikan. Uji simultan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,107 (p > 0,05), sedangkan uji parsial terhadap masing-masing variabel juga menunjukkan hasil tidak signifikan. Nilai koefisien deterministik (R²) sebesar 0,472 menunjukkan bahwa hanya 47,2% variasi profitabilitas dapat dijelaskan oleh efisiensi penggunaan material, sedangkan 52,8% sisanya dipengaruhi faktor lain seperti biaya arsitektural, biaya MEP, manajemen proyek, efisiensi tenaga kerja, biaya tidak langsung, serta fluktuasi harga material. Temuan ini menegaskan bahwa efisiensi material penting namun belum dapat dijadikan indikator tunggal profitabilitas, sehingga diperlukan pendekatan pengelolaan yang lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan variabel teknis dan finansial lain untuk mendukung keberlanjutan dan stabilitas keuangan perusahaan konstruksi di Indonesia. Faktor-faktor dominan dalam manajemen material yang mempengaruhi efisiensi penggunaan material beton berdasarkan hasil RII dan analisis statistik yaitu optimalisasi penggunaan material, pengendalian kualitas material, pengaturan jadwal pengiriman material, pengontrolan ketepatan jumlah material yang dikirim ke proyek, penerapan lean construction, peningkatan akurasi estimasi dan pemesanan material, dan mengurangi rework dalam tahap konstruksi. Sedangkan untuk material baja yaitu optimalisasi penggunaan material, pengendalian kualitas material, peningkatan akurasi estimasi dan pemesanan material, rencana kerja yang baik, pengontrolan ketepatan jumlah material yang dikirim ke proyek, menggunakan metode pelaksanaan yang tepat, dan mengurangi perubahan desain. Faktor-faktor ini berperan penting dalam meminimalkan pemborosan, mengurangi kerusakan material, dan meningkatkan ketepatan penggunaan material di lapangan, yang pada akhirnya dapat mendukung efisiensi proyek. Adapun faktor lain di luar faktor yang telah teridentifikasi untuk efisiensi penggunaan material beton yaitu kondisi cuaca dan lingkungan dan untuk material baja yaitu perencanaan bar bending schedule.

2026
👤 Penulis: Ahmad Mahfuzh Arif
🏷️ Efisiensi Penggunaan Material 🏷️ Profitabilitas Perusahaan Konstruksi Indonesia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Konstruksi

PENGEMBANGAN TES DIAGNOSTIK MOLEKULER BERBASIS QPCR MENGGUNAKAN GEN \TEXTIT{EXOS} SEBAGAI BIOMARKER UNTUK DETEKSI DINI RISIKO STUNTING PADA SAMPEL AIR SUSU IBU

Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis pada anak yang erat kaitannya dengan ketidakseimbangan mikrobioma usus atau disbiosis. Disbiosis ditandai dengan pertumbuhan berlebih bakteri patogen yang membawa faktor virulensi sehingga mengganggu keseimbangan komunitas mikroba. Diagnosis stunting saat ini masih terbatas pada pengukuran antropometri konvensional yang hanya mampu mendeteksi stunting setelah termanifestasi dan mengganggu pertumbuhan anak.Keterlambatan diagnosis ini berdampak kurang baik karena yang paling efektif untuk mencegah kerusakan pertumbuhan yang bersifat permanen hanya dapat dilakukan dalam periode kritis 1000 HPK. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan diagnostik molekuler yang bersifat preventif untuk mengidentifikasi risiko stunting sejak dini sebelum gejala fisik muncul. Pada penelitian sebelumnya telah diidentifikasi gen exoS pada isolat bakteri dari ASI ibu dengan anak dengan prevalensi stunting yang mengindikasikan kemungkinan adanya korelasi antara gen tersebut dan penyakit stunting. Dalam penelitian ini dikembangkan metode diagnostik molekuler berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) untuk deteksi awal stunting. Metode ini mendeteksi potensi risiko stunting dengan menguantifikasi gen exoS pada sampel ASI. Sebagai pembanding, digunakan gen 16S rRNA sebagai gen penanda populasi bakteri total untuk normalisasi data hasil kuantifikasi seluruh sampel. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menentukan persamaan, linearitas, dan efisiensi kurva standar qPCR untuk gen 16S dan gen exoS sebagai rancangan tes diagnostik molekuler berbasis qPCR; (2) Menghitung dan menentukan perbedaan jumlah gen 16S dan gen exoS pada kedua kelompok sampel, serta rasio exoS/16S sebagai indikator proporsi gen virulensi terhadap total bakteri; (3) Menentukan sensitivitas dan spesifisitas sebagai parameter kelayakan rancangan tes diagnostik dalam melakukan deteksi dini risiko stunting. Tahapan penelitian meliputi: pembuatan kurva standar qPCR untuk gen exoS dan gen 16S; kuantifikasi kedua gen pada 15 sampel ASI dari ibu dengan anak dengan prevalensi stunting dan 15 sampel ASI dari ibu dengan anak normal; analisis log-rasio exoS/16s untuk menilai proporsi gen virulensi terhadap total bakteri; dan validasi rancangan tes diagnostik dengan analisis statistik uji signifikansi dan kurva receiver operating characteristics (ROC). Persamaan kurva standar untuk gen 16S adalah y = –3.3067x + 35.389 (R² = 99.4%; efisiensi = 100.64%) dan untuk gen exoS adalah y = –3.4328x + 37.256 (R² = 98.00%; efisiensi = 95.57%). Hasil kuantifikasi menunjukkan bahwa jumlah gen 16S pada ASI Stunting (rata-rata ± SD = log 5.46 ± 0.60 copies DNA/mL) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan ASI Normal (rata-rata ± SD = log 4.61 ± 0.19 copies DNA/mL) (p ? 0.0001). Demikian pula hasil kuantifikasi gen exoS pada ASI Stunting (rata-rata ± SD = log 4.15 ± 0.72 copies DNA/mL) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan ASI Normal (rata-rata ± SD = log 2.75 ± 0.31 copies DNA/mL) (p ? 0.0001). Selain itu, log-rasio gen exoS/16s pada kelompok Stunting (rata-rata ± SD = -1.32 ± 0.19) yang juga secara signifikan (p ? 0.0001) lebih tinggi dibandingkan kelompok Normal (rata-rata ± SD = -1.87 ± 0.37) yang mengindikasikan dominasi patogen yang lebih tinggi pada ASI dari kelompok Stunting dibandingkan kelompok Normal. Hasil ini menunjukkan bahwa masing-masing metode mampu membedakan sampel Stunting dari sampel Normal. Dari analisis kurva Receiver Operating Characteristics (ROC) didapatkan area under curve (AUC) sebesar 0.92 (CI 95%: 0.826—1.000) dengan sensitivitas 100% dan spesifisitas 80% pada nilai cut-off >-1.659. Hasil ini mengindikasikan bahwa analisis mikrobioma ASI melalui kuantifikasi log-rasio gen exoS/16S merupakan metode yang layak untuk digunakan dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai rancangan tes deteksi dini risiko stunting. Disarankan pada penelitian lanjutan digunakan sampel yang lebih banyak dan variatif, pengujian hubungan kausalitas keberadaan gen exoS dengan patogenesis stunting, serta dilakukan penentuan limit of detection (LOD) dan limit of quantification (LOQ) untuk validasi teknis tambahan pada metode qPCR untuk memperkuat potensi penerapan metode ini secara klinis di lapangan.

2026
👤 Penulis: Jovita Anggi Taruli
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

STRATEGI BISNIS DAN PEMASARAN YANG SESUAI UNTUK FUEL TERMINAL PERTAMINA PULAU SAMBU MENGHADAPI DAMPAK KEBIJAKAN PENGENAAN PAJAK BADAN USAHA TETAP PADA BISNIS PENYEWAAN TANGKI PENYIMPANAN MINYAK & GAS BUMI

Peralihan energi, terutama pasca penandatanganan Protokol Kyoto pada 11 Desember 1997, meskipun kemajuannya lambat, telah mengubah iklim bisnis perdagangan minyak dan gas bumi, termasuk bisnis tangki penyimpanan di wilayah Selat Malaka dan Asia Tenggara. Deklarasi Singapura untuk berpartisipasi sebagai negara perintis dalam peralihan energi dan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menerapkan skema harga karbon pada 1 Januari 2019, dengan memberlakukan pajak karbon, telah mendorong beberapa pemain besar dalam bisnis ini untuk melepas aset terminal yang melayani penyewaan tangki dan kilang di wilayah Singapura atau mengalihkan bisnis mereka ke energi hijau, seperti Shell dan Advario.. Hal ini menciptakan peluang bagi Pulau Sambu Fuel Terminal, yang dioperasikan langsung oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak perusahaan PT Pertamina International Shipping, untuk dapat mengambil peran sebagai lokasi penyimpanan alternatif, yang diperkuat oleh lokasinya yang strategis di Selat Singapura dan kondisi saat ini yang belum dimanfaatkan. Peluang luas yang muncul tidak disertai dengan kemudahan dalam menjalankan bisnis, khususnya bisnis tangki penyimpanan, tantangan regulasi terutama terkait dengan peraturan pajak yang diterapkan untuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) sebesar 22% dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11%. Penelitian ini memiliki hipotesis bahwa meskipun Pulau Sambu memiliki keunggulan dari sisi lokasi geografis dan potensi pengembangan yang masih terbuka lebar, keunggulan tersebut hanya dapat terealisasi sebagian mengingat adanya hambatan regulasi, ketidaksesuaian desain terminal dengan nature strorage bisnis, dan belum dikenalnya PET di internasional. Lebih lanjut, tanpa dukungan aktif pemerintah, terutama terkait pelonggaran atau pembebasan pajak badan (Pph badan) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pengembangan bisnis jangka panjang Pulau Sambu hanya akan terbatas pada segmen pasar yang lebih rendah. Ambisi PET untuk menjadikan Terminal Bahan Bakar Pulau Sambu sebagai pusat penyimpanan bahan bakar minyak mentah dan bunkering regional akan sulit tercapai.

2026
👤 Penulis: Achmad Ariansyah
🏷️ Pajak Badan Usaha Tetap (But) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Regulasi Bisnis

KINETIKA DEGRADASI POLIVINIL KLORIDA YANG DISTABILKAN STABILISATOR TERMAL ESTER BALIK BERBASIS SAWIT

Polivinil klorida (PVC) adalah polimer yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena memiliki sifat fisik dan sifat kimia yang unik. PVC merupakan polimer dengan tingkat pemakaian ketiga terbanyak di dunia setelah polietilena (PE) dan polipropilena (PP). Tingkat produksi PVC secara global diperkirakan sekitar 40 juta ton per tahun. Akan tetapi, PVC memiliki kelemahan, yaitu mengalami dehidroklorinasi pada temperatur yang relatif rendah. Proses dehidroklorinasi dapat menyebabkan PVC terdegradasi dan menjadi rapuh. Oleh karena itu, penambahan stabilisator termal pada resin PVC perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya degradasi termal. Laboratorium Rekayasa Produk Industri Proses (RPIP) Program Studi Teknik Kimia ITB mengembangkan stabilisator termal ester balik yang memiliki basis distilat asam lemak sawit. Untuk mengevaluasi efek penambahan stabilisator termal pada PVC, parameter kinetika reaksi degradasi termal PVC perlu diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi energi aktivasi dan konstanta Arhennius dari reaksi degradasi termal. Serangkaian percobaan uji dehidroklorinasi akan dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan. Sampel PVC dengan variasi dosis stabilisator 0,5 phr, 1 phr dan 1,5 phr akan diuji pada tiga temperatur yang berbeda, yaitu 170°C, 180°C, dan 190°C. Data yang diperoleh akan diolah untuk mengestimasi energi aktivasi dan konstanta Arhennius dari reaksi degradasi melalui model-model kinetika. Berdasarkan hasil percobaan, parameter kinetika dapat diestimasi menggunakan model kinetika A4. Nilai dari energi aktivasi PVC yang telah distabilkan untuk dosis 0,5 phr, 1 phr, dan 1,5 phr secara berturut-turut adalah: 132,75 kJ/mol, 139,30 kJ/mol, dan 161,99 kJ/mol. Sementara itu, nilai ln (A) yang diperoleh secara berturut-turut adalah16,02 x 1010 s-1, 74,01 x 1010 s-1, dan 22.564 x 1010 s-1. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa stabilisator termal ester balik berbasis sawit dapat menjadi salah satu alternatif stabilisator PVC.

2026
👤 Penulis: Salsabiela Amanda Fathin A
🏷️ Kinetika Dehidroklorinasi 🏷️ Stabilisator Termal Ester Balik Berbasis Sawit 🏷️ Pvc (Polivinil Klorida)

DIVERSIFIKASI STRATEGIS KE DALAM KONSULTANSI KEBERLANJUTAN: ANALISIS KESESUAIAN INTERNAL–EKSTERNAL PADA PREMYSIS CONSULTING

Penelitian ini mengkaji strategi diversifikasi Premysis Consulting ke dalam layanan konsultasi tentang keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan menggunakan pendekatan analisis kesesuaian antara faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai bagaimana expertise Premysis dalam konsultasi berbasis ISO dapat dimanfaatkan untuk memasuki pasar ESG yang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini dipicu oleh regulasi POJK 51/2017 serta meningkatnya tuntutan dari para pemangku kepentingan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kualitatif eksploratori. Penelitian dilakukan melalui wawancara internal, enam wawancara eksternal dengan klien, dan satu sesi Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Analisis PESTGDP dan VRIO–RBV mengungkapkan bahwa Premysis memiliki aset berharga seperti kepercayaan dari klien, metodologi yang teratur, serta kompetensi dalam regulasi. Namun, perusahaan ini juga menghadapi tantangan dalam hal keterampilan teknis ESG, kesiapan digital, dan pengembangan budaya inovasi. Hasil analisis tematik mengidentifikasi empat segmen pasar utama: Compliance-Oriented, Transformation-Focused, Mid-Sized/Underserved, dan Innovation-Oriented. Dari keempat segmen tersebut, segmen yang paling strategis untuk dikembangkan adalah Transformation-Focused dan Mid-Sized. Penelitian ini menganjurkan penerapan strategi bisnis hibrida. Strategi ini menggabungkan fokus pada diferensiasi untuk klien yang mengalami transformasi dan pendekatan kepemimpinan biaya untuk klien berskala menengah. Diversifikasi ESG dianggap pantas apabila didukung oleh peningkatan kemampuan dalam bidang ESG, pengembangan alat digital, dan pendekatan kerjasama dengan klien. Penelitian ini memberikan sumbangan pada kajian tentang konsultansi keberlanjutan dengan mengungkapkan cara keselarasan antara faktor-faktor internal dan eksternal dapat mendukung perusahaan konsultansi dalam bertransisi dari layanan yang fokus pada kepatuhan menjadi kemitraan strategis di bidang ESG.

2026
👤 Penulis: Adella Tasya
🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENINGKATAN SISTEM MANAJEMEN PROYEK UNTUK PT. GEARINDO TIGA UTAMA: STUDI KASUS PROYEK KONSTRUKSI SISTEM PEMIPAAN

Proyek engineering, procurement and construction (EPC) menempatkan satu kontraktor sebagai penanggung jawab desain, material, dan konstruksi dengan target waktu dan biaya yang ketat. Di Indonesia banyak proyek juga bergantung pada tenaga kerja subkontraktor dan material yang disediakan pemilik, sehingga risiko koordinasi meningkat. PT Gearindo Tiga Utama (GTU) mengalami kegagalan pada proyek pemasangan pipa untuk pabrik kertas di Riau yang dikenal sebagai BM4. Tesis ini mengkaji mengapa proyek tersebut menyimpang dari rencana serta jenis sistem manajemen proyek seperti apa yang dapat menurunkan kemungkinan kegagalan. BM4 dianalisis sebagai satu kasus tunggal. Studi ini berangkat dari asumsi bahwa proyek kompleks biasanya gagal karena akumulasi pilihan manajerial, bukan satu peristiwa tunggal. Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor kunci di balik kegagalan dengan menggunakan enam kendala proyek sebagai kerangka, menjelaskan bagaimana faktor tersebut memengaruhi jadwal, kesiapan area kerja, subkontraktor, dan arus kas, serta mengembangkan sistem manajemen proyek yang disesuaikan dengan konteks GTU. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Data diperoleh dari wawancara semi terstruktur dengan tujuh pemangku kepentingan internal serta dari dokumen pendukung proyek. Seluruh materi dikodekan berdasarkan kendala proyek, dianalisis menggunakan Current Reality Tree untuk mengaitkan gejala yang terlihat dengan akar penyebab, dan dibandingkan dengan proses terpilih dalam PMBOK Guide Sixth Edition sebagai tolak ukur praktik yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan tiga akar penyebab utama: kurangnya kepemimpinan dan disiplin proyek, ketiadaan formal change control, serta baseline jadwal dan sumber daya yang tidak realistis. Secara bersama-sama ketiganya menjelaskan berbagai kesulitan di BM4, termasuk ketidakstabilan tenaga kerja subkontraktor, masalah koordinasi, dan isu kualitas yang berulang. Tesis ini diakhiri dengan usulan sistem manajemen proyek yang praktis bagi GTU yang memperjelas rutinitas tata kelola, memperkenalkan prosedur integrated change control, dan memperkuat aturan penetapan serta pembaruan baseline untuk mendukung proyek EPC di masa mendatang.

2026
👤 Penulis: Muhammad Rival Abizar
🏷️ Manajemen Proyek 🏷️ Epc (Engineering, Procurement, And Construction) 🏷️ Kontrol Perubahan Formal

ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL-TEMPORAL SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU PAPUA BERBASIS DATA CITRA SATELIT

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola variabilitas spasial dan temporal simpanan air tanah di Pulau Papua selama periode 2002 hingga 2024 serta menganalisis pengaruh faktor iklim yang meliputi curah hujan, El Niño Southern Oscillation, dan Indian Ocean Dipole serta perubahan tutupan lahan terhadap dinamika simpanan air tanah. Pulau Papua merupakan wilayah beriklim tropis lembap dengan kompleksitas fisiografi serta variabilitas hidrologi yang tinggi. Meskipun memiliki potensi sumber daya air yang besar, informasi kuantitatif dan berkelanjutan mengenai dinamika simpanan air tanah di wilayah ini masih terbatas sehingga menimbulkan kesenjangan pengetahuan dalam kajian hidrologi regional. Penelitian ini memanfaatkan data citra satelit Gravity Recovery and Climate Experiment dan Gravity Recovery and Climate Experiment Follow On untuk mengestimasi perubahan simpanan air total daratan. Data Global Land Data Assimilation System Noah Land Surface Model digunakan untuk mengestimasi komponen hidrologi permukaan berupa kelembapan tanah dan canopy water storage yang selanjutnya dikurangkan dari simpanan air total guna memperoleh estimasi simpanan air tanah. Analisis temporal dilakukan menggunakan uji tren Mann Kendall untuk mengidentifikasi kecenderungan jangka panjang. Analisis spasial dilakukan menggunakan metode Empirical Orthogonal Function untuk mengekstraksi pola dominan variabilitas simpanan air tanah. Hubungan antara simpanan air tanah dengan faktor iklim serta perubahan tutupan lahan dianalisis menggunakan korelasi Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2002 hingga 2024 simpanan air tanah di Pulau Papua secara umum mengalami tren peningkatan yang signifikan sebesar sekitar 0,32 mm per bulan, meskipun disertai fluktuasi antarwaktu yang cukup kuat. Fluktuasi paling menonjol terjadi pada periode 2013 hingga 2016 yang berkaitan erat dengan kejadian El Niño kuat pada tahun 2015 hingga 2016. Pada periode tersebut wilayah Papua mengalami penurunan simpanan air tanah yang signifikan dengan laju rata rata sebesar -0,59 mm per bulan yang sejalan dengan kondisi defisit curah hujan. Secara spasial variabilitas simpanan air tanah menunjukkan heterogenitas yang jelas. Wilayah utara dan barat Pulau Papua cenderung memperlihatkan peningkatan simpanan air tanah yang lebih stabil, sedangkan wilayah selatan khususnya Merauke menunjukkan penurunan yang konsisten. Pola musiman simpanan air tanah mengikuti karakteristik monsunal, dengan kondisi surplus pada akhir musim hujan dan defisit pada puncak musim kemarau, yang mencerminkan peran dominan curah hujan terhadap proses pengisian ulang akuifer. Analisis korelasi menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara curah hujan dan komponen utama pertama simpanan air tanah di Papua Selatan, yang mengindikasikan bahwa penurunan curah hujan diikuti oleh penurunan simpanan air tanah. Sebaliknya wilayah barat dan utara menunjukkan kecenderungan peningkatan simpanan air tanah meskipun curah hujan relatif rendah, yang mengindikasikan adanya efek hydraulic memory pada sistem akuifer. ENSO berpengaruh signifikan terhadap dinamika simpanan air tanah terutama di wilayah selatan, sedangkan pengaruh IOD relatif lebih lemah namun tetap berkontribusi terhadap variabilitas regional. Perubahan tutupan lahan juga berperan penting, di mana penurunan tutupan hutan di Papua Utara berkaitan dengan peningkatan simpanan air tanah, sementara intensifikasi pertanian di Papua Selatan berkontribusi terhadap penurunan simpanan air tanah akibat degradasi sifat hidraulik tanah. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi informasi iklim dan perubahan tutupan lahan dalam mendukung pengelolaan sumber daya air tanah yang adaptif dan berkelanjutan di Pulau Papua.

2026
👤 Penulis: Rita Da Costa Pinto
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Variabilitas Simpanan Air Tanah 🏷️ Perubahan Tutupan Lahan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERILAKU PEMILAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENGGUNAKAN STRUCTURAL EQUATION MODELLING (SEM) BERBASIS THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (TPB) YANG DIPERLUAS: STUDI KASUS KOTA AMBON, MALUKU

Proses pemilahan sampah rumah tangga yang efektif sangat bergantung pada partisipasi aktif dari masyarakat. Namun di Kota Ambon, tingkat partisipasi masyarakat tergolong rendah. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat perilaku pemilahan sampah serta konteks yang melatarbelakanginya menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan perilaku pemilahan sampah rumah tangga masyarakat Kota Ambon dengan menggunakan model Theory of Planned Behavior (TPB) yang diperluas dan menguji kesesuaian model, validitas, dan reliabilitasnya. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) (termasuk Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan Path Analysis) serta didukung oleh analisis statistik deskriptif. Data diperoleh melalui survei terhadap 300 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku pemilahan sampah dipengaruhi oleh sikap (CR = 3,874 dan p = 0,000), norma subjektif (CR = 2,029 dan p = 0,042), dan intervensi informasi (CR = 1,980 dan p = 0,048), Selain itu persepsi kontrol perilaku (CR = 0,894 dan p = 0,371), dukungan fasilitas (CR = -1,524 dan p = 0,127), dan regulasi dan kebijakan (CR = 0,236 dan p= 0,813), menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Model ini menunjukkan Goodness of Fit yang baik dengan nilai RMSEA = 0,058, CFI = 0,949, TLI = 0,943, dan Chi-square/df = 2,003. Temuan ini menghasilkan model perilaku berbasis TPB yang telah teruji dengan pendekatan SEM yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah. Studi ini juga berkontribusi pada literatur perilaku pro-lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan dengan secara empiris memvalidasi model TPB yang diperluas dalam konteks perkotaan di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Abdul Asis Rumakat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL DAN TEMPORAL GROUND WATER STORAGE DI PULAU SULAWESI

Penyimpanan air tanah memainkan peran krusial sebagai sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan berbagai keperluan seperti domestik, pertanian, dan industri. Air tanah di Pulau Sulawesi merupakan komponen vital dalam ketahanan sumber daya air di wilayah kepulauan tropis. Pulau Sulawesi Sendiri mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan di semua sektor, yang menyebabkan peningkatan permintaan air di pulau tersebut. Ancaman volatilitas iklim ekstrem menjadi kekhawatiran yang semakin nyata dimana keterbatasan jaringan pemantauan in-situ di wilayah dengan kompleksitas geologi seperti Sulawesi menghambat deteksi dini terhadap respons akuifer terhadap perubahan iklim tersebut, sehingga variabilitas dan juga sebaran geografis dari kondisi simpanan air tanah di Pulau Sulawesi belum tercerminkan dengan jelas. Studi ini bertujuan untuk mengamati dinamika spasial dan temporal penyimpanan air tanah di Pulau Sulawesi menggunakan data dari satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) dan GRACE-Follow On (GRACE-FO) unutk melihat bagaimana variabilitas spasial dan temporal yang terjadi di Pulau utama Sulawesi. Nilai perubahan penyimpanan air tanah GWS yang mencerminkan total penyimpanan air diisolasi dengan mengurangkan komponen kelembaban tanah (SMS) dan penyimpanan air kanopi (CWS) yang diperoleh dari model Global Land Data Assimilation System (GLDAS) terhadap total penyimpanan air terestrial (TWS) hasil observasi GRACE. Analisis statistik lebih lanjut menggunakan Uji Mann-Kendall dan Korelasi Spearman dilakukan untuk mengevaluasi tren, signifikansi, dan hubungan ketergantungan antara dinamika air tanah dengan variabel presipitasi serta indeks iklim global. Analisis PC dan juga EOF diterapkan guna melihat bagaimana pola dominan terjadi pada simpanan air tanah di Pulau Sulawesi. Hasil analisis deret waktu menunjukkan bahwa penyimpanan air tanah di Sulawesi mengalami fluktuasi yang signifikan akibat transisi fase hujan dan fase iklim. Secara keseluruhan peningkatan air tanah di Sulawesi mengalami peningkatan sebesar 0.2164 mm/tahun pada sebaran seluruh pulau dengan rataan sejak 2002 hingga 2024. Fenomena surplus ini berjalan selaras dengan intensitas curah hujan tahunan yang juga mencatatkan laju peningkatan sebesar 3.34 mm/tahun di Pulau Sulawesi secara menyeluruh selama 22 tahun juga. Secara spasial, teridentifikasi perbedaan respon antara wilayah selatan (Region A/Monsunal) yang memiliki fluktuasi musiman, dengan wilayah utara (Region C/Anti-Monsunal) yang relatif lebih stabil, mencerminkan dinamika ketersediaan air secara geografis di Pulau Sulawesi sangat dipengaruhi oleh pola hujan tersebut. Analisis hubungan hidroklimatologi mengungkapkan korelasi positif yang kuat antara curah hujan dan simpanan air tanah, dengan jeda waktu respons akuifer. Studi ini membuktikan adanya hubungan korelasi atmosfer yang kuat, di mana fase La Niña dan IOD Negatif seperti pada 2011, 2012, 2017, 2022-2023 menjadi pemicu utama lonjakan cadangan air tanah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran besar mengenai ketahanan air di masa depan. Meskipun saat ini terjadi tren surplus, dominasi kontrol iklim menyiratkan bahwa ketersediaan air tanah di Sulawesi sangat rentan terhadap pengaruh siklus iklim. Dalam skenario perubahan iklim global yang memprediksi peningkatan frekuensi dan intensitas El Niño di masa depan, sehingga kondisi dari fenomena iklim kedepannya perlu diperhatikan korelasinya dengan simpanan air tanah. Distribusi nilai loadings dari EOF ini secara tegas menunjukkan polarisasi dua wilayah yang selaras dengan pembagian pola hujan antara region monsunal dan antimonsunal yang mengonfirmasi bahwa variabilitas air tanah sangat dipengaruhi kondisi hujan setempat. Mode EOF utama dan PC-1 lebih lanjut mengungkapkan pola spasial yang sejalan dengan wilayah variabilitas air tanah di Pulau Suawesi, menunjukkan jejak yang kuat dari regim curah hujan dominan dan mode iklim IOD pada penyimpanan air tanah, dimana sebarannya sangat dipengaruhi dan sejalan dengan pola region curah hujan bagian utara dan selatan. Loadings dari EOF mennjukan dua pola dua region yang selaras dengan pembagian pola hujan di Pulau Sulawesi. Fluktuasi dari PC-1 membrikan informasi yang juga sejalan dengan waktu pada periode pembagian pola hujan di wilatyah utara maupun wilayah selatan.

2026
👤 Penulis: Rahdian Fathurachman
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Satelit

USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK KERJASAMA OPERASI MELALUI IMPLEMENTASI SYARAT DAN KETENTUAN BARU DI PT PERTAMINA EP REGIONAL 1

Sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia menjadi salah satu pilar utama yang menyokong katahanan energi nasional. PT Pertamina EP (PEP) sebagai salah satu kontraktor kontrak kerja sama di Indonesia. Pada tahun 2023 PEP berhasil mencatatkan temuan sumberdaya (2C) sebesar 159.12 MMBOE dan penambahan cadangan (P1) 217%. Demi mempercepat produksi dan mempekuar kolaborasi, PEP dapat melakukan kerja sama operasi untuk sebagian wilayah kerjanya melalui Joint Operating Agreement (JOA), dengan konsep fiskal yang memodifikasi skema Production Sharing Contract (PSC) antara Pertamina EP dan Pemerintah Indonesia melalui supervisi SKK Migas selaku regulator. Namun, syarat dan ketentuan pada JOA eksisting dirasa sudah tidak relevan dan tidak fleksibel, yang menurunkan partsipasi JV Partners, melemahkan semangat investasi baru, dan menempatkan risiko operasional dan risiko finansial yang sangat besar kepada mitra. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi model kerja sama operasi PEP dan mengusulkan strategi kooperatif tingkat bisnis yang lebih seimbang, berbasis kinerja, dan menarik bagi investasi. Pengumpulan data dilakukan melalui Focus Group Discussion dengan Subject Matter Experts serta analisis data sekunder dari catatan operasional, laporan internal, dan literatur. Dengan menggunakan analisis pemangku kepentingan, analisis lingkungan internal dan eksternal, serta kerangka manajemen strategis, penelitian ini mengintegrasikan analisis empiris terhadap empat studi kasus, yaitu KSO Meruap, BOSL, GWN, dan FSE. Kerangka Siklus Aliansi diterapkan untuk mengevaluasi dan memperbaiki tata kelola kerja sama PEP dari tahap pembentukan hingga perpanjangan kontrak. Hasil studi menunjukkan dibutuhkannya usulan penyesuaian syarat dan ketetuan dalam kontrak kerjasama oeprasi meliputi cost recovery yang lebih adil, pembagian risiko yang lebih merata, dan adanya tambahan split berdasarkan performa. Studi ini menyimpulkan bahwa strategy kerjasama yang lebih relevan dan fleksibel akan berdampak baik pada posisi PEP dalam hal memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan, meningkatkan kepercayaan diri investor, dan pada akhirnya mendukung pencapaian ketahanan energi nasional dalam industri migas yang dinamis.

2026
👤 Penulis: Ridho Pratama
🏷️ Kerjasama Operasi 🏷️ Manajemen Risiko 🏷️ Strategi Bisnis

ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL-TEMPORAL SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU KALIMANTAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Air tanah merupakan komponen penting dalam siklus hidrologi, berperan sebagai penyimpanan air utama yang mendukung kebutuhan dasar manusia dan ekosistem. Dinamika simpanan air tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi iklim, perubahan tutupan lahan, dan peningkatan permintaan air bersih. Pulau Kalimantan, salah satu pulau terbesar di Indonesia, memiliki sumber daya alam yang melimpah dan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun menghadapi tekanan dari deforestasi, ekspansi pertanian, pertambangan, dan pertumbuhan penduduk, yang dapat memengaruhi ketersediaan dan dinamika air tanah. Mengingat keterbatasan pengamatan langsung di lapangan, penelitian ini memanfaatkan data satelit untuk memantau perubahan simpanan air tanah pada skala regional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variabilitas spasial-temporal simpanan air tanah di Pulau Kalimantan selama periode April 2002 hingga Desember 2024 serta keterkaitannya dengan faktor iklim dan antropogenik. Data simpanan air tanah diperoleh dari GRACE, dengan komponen air tanah dihitung menggunakan pendekatan neraca air berbasis data GLDAS. Data curah hujan digunakan CHIRPS yang telah disesuaikan resolusi spasialnya agar konsisten dengan data GRACE dan GLDAS. Metode EOF digunakan untuk mengidentifikasi pola dominan simpanan air tanah, sedangkan analisis korelasi Spearman diterapkan untuk mengevaluasi keterkaitan komponen temporal utama dengan faktor yang diduga mempengaruhi simpanan air tanah. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan spasial yang jelas antara wilayah utara dan selatan Pulau Kalimantan, di mana wilayah utara cenderung mengalami anomali positif, sementara wilayah selatan didominasi anomali negatif pada beberapa periode. Variabilitas bulanan simpanan air tanah menunjukkan pola monsunal yang kuat dan berkorelasi dengan faktor iklim, khususnya curah hujan dan ENSO.

2026
👤 Penulis: Nurul Fazriyah Mulyana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Data Satelit 🏷️ Manajemen Sumber Daya Alam

MENAVIGASI KETERGANTUNGAN PLATFORM: PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS DI BALIK PERGESERAN MODEL BISNIS D2C PT LOCAL

Fokus penilitian adalah tentang bagaimana perusahaan mulai berani beralih dari ketergantungan pada marketplace dan mulai menapaki jalannya sendiri lewat model Direct-to-Consumer (D2C). Pendekatannya bukan soal angka semata. Ini tentang cerita di balik layar tentang keputusan yang rumit, rasa lelah tim di lapangan, sampai harapan yang tumbuh pelan-pelan di tengah perubahan. Data yang dipakai datang dari wawancara dengan tim internal, survei pelanggan, dan laporan keuangan perusahaan. Beberapa alat bantu strategi dipakai supaya arah analisis tetap jelas. Ada SWOT dan TOWS untuk melihat kekuatan dan tantangan, Porter’s Five Forces buat menakar kerasnya persaingan, serta Resource-Based View (RBV) untuk menilai apakah PT Local punya modal yang cukup kuat untuk benar-benar berdiri sendiri. Hasilnya lumayan menampar. Dalam dua tahun terakhir, biaya dari marketplace melonjak dari 16% jadi 25% dari total penjualan online. Sementara omsetnya nyaris tidak berubah. Tanda yang jelas kalau sesuatu harus diubah. Buat mereka, yang penting itu kemudahan, bukan nama platform. Dari semua temuan itu, muncul lima langkah nyata. Pertama, biarkan tetap jadi pintu untuk menarik pembeli baru, tapi arahkan pelanggan lama ke kanal D2C supaya brand bisa mengatur margin dan punya data sendiri. Kedua, buat pengalaman D2C yang menarik, tampilan website bersih, pembayaran cepat, pengiriman tepat waktu, dan layanan pelanggan yang responsif. Ketiga, manfaatkan data pelanggan yang sudah ada untuk bikin sistem loyalitas brand, supaya pembeli merasa jadi bagian dari keluarga besar PT Local. Keempat, bereskan urusan belakang layar satukan sistem keuangan dan teknologi biar rekonsiliasi tidak lagi rumit. Dan terakhir, bentuk tim lintas divisi yang rutin cek perkembangan dan langsung tangani masalah sebelum membesar. Intinya bukan melarikan diri dari marketplace, tapi berhenti jadi tawanan mereka. PT Local sebenarnya sudah punya fondasi kuat, tim teknologi yang solid, deretan brand bagus, dan orang-orang yang peduli. Sekarang tinggal dijalani perlahan tapi pasti beralih dari traffic pinjaman ke hubungan pelanggan yang benar-benar milik sendiri, dari margin tipis ke keuntungan yang lebih tenang. Karena pada akhirnya, perjalanan menuju D2C ini bukan sekadar strategi baru, tapi cara perusahaan merebut kembali kendali atas ceritanya sendiri.

2026
👤 Penulis: Sisca Melinda
🏷️ Perubahan Model Bisnis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

MENGEVALUASI DAMPAK BISNIS MELALUI LIVESTREAMING DENGAN KECERDASAN BUATAN SEBAGAI INOVASI STRATEGIS DALAM INDUSTRI FMCG: EFISIENSI BIAYA DAN KELAYAKAN DI INDONESIA

Kecerdasan Buatan (AI) terus berkembang dari hari ke hari menjadi sesuatu yang besar dalam industri. Pada awalnya, AI hanyalah sebuah konsep teoretis dan dianggap sebagai sebuah ide, tetapi kini teknologinya sendiri tidak hanya berkembang tetapi juga membentuk kembali industri dan memengaruhi perilaku bisnis. Sebelumnya, AI berperan sebagai pendukung di mana ia bekerja di backend, teknologi ini membantu otomatisasi untuk tugas harian & berulang yang biasanya berfokus pada analisis dan prediksi, tetapi sekarang AI telah berevolusi menjadi berhadapan langsung dengan pelanggan, di mana orang/pengguna dapat dengan mudah memasukkan perintah mereka dan AI dapat meresponsnya dengan tepat. Seiring orang-orang mengintegrasikan AI ke dalam semua aspek bisnis, perkembangan terkini adalah siaran langsung bertenaga AI, yang dianggap sebagai pelopor transformasi dan inovasi strategis di bidang pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk berfokus pada analisis penggunaan AI dalam siaran langsung, khususnya untuk berfokus pada peran AI sebagai host dalam siaran langsung. Sudut pandang penelitian ini akan mengambil perspektif efisiensi biaya melalui analisis biaya-manfaat atau analisis perbandingan biaya untuk melihat biaya antara penggunaan AI sebagai host siaran langsung dan manusia sebagai host siaran langsung. Lebih lanjut, penelitian ini akan mempersempit kelayakan penggunaan host siaran langsung AI untuk melihat apakah pengguna ingin mengadopsi teknologi baru ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk berkontribusi pada wawasan strategis bagi bisnis, untuk mengadopsi penggunaan AI dalam siaran langsung, dan untuk menempatkan inovasi strategis ini ke dalam corong pemasaran mereka dengan menganalisis aspek finansial dan kelayakan khususnya pada tahap adopsi awal. Lebih lanjut, tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan dan mengemukakan bahwa teknologi AI, khususnya dalam siaran langsung, bukanlah tren pemasaran atau bisnis yang harus diikuti, melainkan lebih merupakan inovasi strategis yang perlu dipertimbangkan.

2026
👤 Penulis: Fahmy Haryandi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pemasaran Digital 🏷️ Efisiensi Biaya
Halaman 213 dari 6754
💬