📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI SIMULASI DAN IDENTIFIKASI DAMPAK PEMBALIKAN ARAH PADA SISTEM PIPA TRANSMISI GAS BUMI
Energi memegang peran penting dalam kehidupan manusia, dan saat ini penggunaannya masih didominasi oleh bahan bakar fosil, terutama batu bara di Asia (Energy Institute, 2024). Namun, ketergantungan ini berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global (IPCC, 2014), sehingga perjanjian Paris 2015 mendorong transisi menuju energi terbarukan (United Nations, 2015). Dalam masa transisi ini, gas alam dianggap sebagai alternatif yang lebih bersih dan efisien dibandingkan batu bara (Mohammad dkk., 2021). Konsumsi gas alam terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia yang menargetkan porsi gas bumi sebesar 24% dalam bauran energi nasional 2050 (PERPRES No. 22, 2017). Pembangunan infrastruktur gas, terutama jaringan pipa, menjadi krusial. Desain pipa transisi umumnya didasarkan pada kajian kelayakan awal yang mengacu pada pola suplai dan permintaan tertentu. Namun, dinamika kebutuhan industri dan lokasi suplai sumber gas yang berubah dapat menyimpang dari prediksi awal. Salah satu alternatif untuk menyesuaikan kondisi tersebut adalah memodifikasi operasi pipa existing, seperti pembalikan arah aliran. Berbagai kasus pembalikan arah pipa telah dilakukan, seperti Longhorn dan Enbridge Line 9, namun PHMSA menegaskan bahwa pembalikan arah aliran berpotensi memengaruhi operasi, pemeliharaan, dan managemen integritas sistem pipeline. Meskipun terdapat beberapa studi yang membahwas optimasi pembalikan arah, kajian mengenai aspek teknis dan identifikasi peralatan yang terdampak masih terbatas. Oleh karena itu, studi ini mengkaji pembalikan arah aliran pada pipa transmisi gas Cirebon-Semarang (CISEM) melalui evaluasi kondisi operasi existing, simulasi pembalikan arah, identifikasi dampak teknis, serta penyusunan prosedur pembalikan arah. Hasil dari analisis pembalikan arah menunjukkan bahwa pembalikan aliran dapat dilakukan dengan kebutuhan tekanan suplai di Cilamaya sebesar 639 psig. Penyaluran berpotensi ditingkatkan hingga 130 MMSCFD. Implikasi dari pembalihan arah tersebut memerlukan penambahan peralatan pig launcher, pig receiver, valve, serta modifikasi pipa. Prosedur yang diusulkan mencakup tahapan utama seperti studi kelayakan, pra-shutdown, shutdown, dan periode optimasi operasi normal dengan arah aliran baru.
STRATEGI PEMASARAN MEREK ASING: MENGHADAPI KOMPETISI HARGA DAN PESAING BARU DI INDONESIA (STUDI KASUS: PERUSAHAAN DISTRIBUSI BAHAN KIMIA DAN ALLOY)
Industri kimia galvanisasi Indonesia menjadi semakin kompetitif karena pertumbuhan industri yang pesat, perluasan pasar lokal, dan masuknya pemasok domestik dan regional baru. CHEMICALLOY, distributor bahan kimia khusus dari Jerman, telah lama memposisikan diri sebagai pemasok premium bahan kimia khusus dan paduan logam untuk perusahaan galvanisasi di Indonesia. Namun, karena kompetitor baru dari lokal dan Eropa, menjadi tantangan baru bagi mereka di bisnis ini dimana kompetito-kompetitor tersebut mengurangi market share mereka. Agar tetap kompetitif, CHEMICALLOY harus beradaptasi dan memodifikasi strategi pemasarannya dengan memahami kapabilitas internal dan situasi industri eksternal saat ini. Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang didukung oleh wawancara semi-terstruktur dengan perwakilan perusahaan galvanisasi yang terlibat dalam bisnis, sisi teknis, dan pengambilan keputusan, termasuk manajemen internal. Setelah menentukan faktor internal dan eksternal, alat analysis seperti SWOT digunakan. Setelah itu dilanjutkan dengan TOWS matriks yang digunakan untuk mencari opsi formulasi strategis. Analisis menunjukkan bahwa kekuatan utama CHEMICALLOY adalah kualitas produk yang tinggi, keahlian teknis, dan hubungan jangka panjang dengan pemasok, sementara kelemahan utamanya meliputi respons lokal yang terbatas dan waktu tunggu yang lama. Peluang muncul dari permintaan infrastruktur yang terus meningkat, sementara ancaman datang dari pesaing lokal yang agresif dan volatilitas nilai tukar. Studi ini mengusulkan tiga implikasi strategis utama: meningkatkan respons pelanggan melalui memaksimalkan integrasi pergudangan dan CRM lokal, memperkuat penjualan konsultatif dan berbasis nilai untuk menyoroti manfaat efisiensi dan keuntungan bagi pelanggan, serta mengembangkan inisiatif pemasaran lokal untuk meningkatkan kedekatan merek. Secara keseluruhan, hasil yang berfokus pada integrasi keunggulan produk global dengan respons layanan lokal sangat penting untuk mempertahankan keunggulan kompetitif CHEMICALLOY di pasar galvanisasi Indonesia.
STRATEGI FINANSIAL SEBUAH PROYEK ENERGI TERBARUKAN UNTUK MENINGKATKAN KAPABILITAS PENDAPATAN BERKELANJUTAN DALAM TRANSISI BISNIS (STUDI KASUS: PT ENERGI PANAS INDONESIA, JAKARTA, INDONESIA)
Sektor energi global sedang mengalami transformasi seiring negara-negara berupaya menerapkan transisi energi ke energi terbarukan. Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam Perjanjian Paris dan berkomitmen untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2060. Namun, pengembangan proyek energi terbarukan, khususnya panas bumi memiliki tantangan yang tinggi karena biaya awal yang tinggi, dan risiko eksplorasi. PT Energi Panas Indonesia (EPI), anak perusahaan PT Indonesia Power, menghadapi tantangan dalam memastikan pendapatan yang stabil sekaligus mendukung transisi energi nasional. Energi surya fotovoltaik (PV) telah muncul sebagai solusi potensial karena biaya modalnya yang relatif rendah, waktu konstruksi yang singkat, serta risiko teknis dan sosial yang lebih rendah. Studi ini menganalisis kelayakan ekonomi, struktur pembiayaan, dan model bisnis strategis untuk pengembangan PLTS dalam berbagai skema proyek guna meningkatkan pendapatan berkelanjutan EPI. Penelitian ini berfokus pada proyek PLTS yang berlokasi di Jawa Barat, menggunakan model Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan Build-Own-Operate-Transfer (BOOT) dengan durasi 15 tahun dan 25 tahun. Tujuannya adalah: (1) menilai kelayakan finansial proyek menggunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP); (2) menentukan variabel paling sensitif yang memengaruhi kelayakan proyek; (3) mengidentifikasi sumber pembiayaan yang tersedia; (4) merekomendasikan strategi pembiayaan yang optimal; dan (5) menyarankan model bisnis terbaik untuk mempertahankan pendapatan jangka panjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan keuangan kuantitatif, yang mengintegrasikan analisis penganggaran modal, analisis sensitivitas, dan kerangka kerja Indeks US’ untuk mengevaluasi optimalisasi utang-ekuitas. Data diperoleh dari asumsi internal perusahaan dan tolok ukur industri, termasuk proyeksi CAPEX, OPEX, dan tarif energi. Analisis ini membandingkan skema EPC, BOOT 15 tahun, dan BOOT 25 tahun menggunakan parameter keuangan yang identik, dengan menerapkan Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC) sebesar 7,38% dan tingkat inflasi sebesar 2,37%. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua skema BOOT layak secara finansial dengan nilai NPV dan IRR positif di atas WACC. Skema BOOT 25 tahun memberikan laba kumulatif tertinggi dan stabilitas pendapatan jangka panjang, sementara skema BOOT 15 tahun menawarkan pemulihan modal yang lebih cepat dan fleksibilitas untuk investasi ulang. Skema EPC, sebaliknya, hanya menghasilkan pendapatan jangka pendek dan satu kali. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa tarif listrik adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kelayakan proyek, diikuti oleh efisiensi system dari pembangkitan tenaga listrik. Analisis pembiayaan mengidentifikasi empat opsi pendanaan utama—ekuitas internal, pinjaman bank domestik, pinjaman internasional, dan leasing—masing-masing dengan biaya dan risiko yang bervariasi. Hasil Indeks US mengonfirmasi bahwa EPI memiliki kemampuan pembayaran yang kuat, yang memungkinkan perusahaan untuk mengakses leverage secara hati-hati sambil mempertahankan struktur modal yang seimbang. Penelitian ini berkontribusi pada pengambilan keputusan manajerial dengan menyediakan kerangka kerja kuantitatif untuk menilai kelayakan proyek energi terbarukan di berbagai model bisnis dalam konteks regulasi dan keuangan Indonesia. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya proyek PLTS sebagai bisnis transisi seiring dengan perkembangan pengembangan panas bumi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas analisis dengan mengeksplorasi konfigurasi energi terbarukan hibrida (surya + baterai atau surya + panas bumi) dan mengevaluasi kebijakan baru seperti penetapan harga karbon dan sertifikat energi terbarukan untuk memperkuat kelayakan finansial investasi energi terbarukan di Indonesia.
MEMAHAMI CHURN PELANGGAN PADA LAYANAN FIXED-MOBILE CONVERGENCE DAN STRATEGI MITIGASINYA: WAWASAN DARI CUSTOMER SERVICE REPRESENTATIVES DI PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI INDONESIA
Pelanggan yang churn merupakan tantangan yang besar bagi Perusahaan telekomunikasi. Tantangan ini diperbesar oleh merger antara layanan fiber optic dan layanan internet mobile, yang membentuk era fixed mobile convergence. Layanan mobile memiliki karakteristik yang cepat, instan dan tidak memerlukan aktivitas aktivitas fisik yang dilakukan oleh teknisi di lapangan, sedangkan layanan fiber optic memerlukan aktivitas fisik dalam hal pemenuhan pelayanan seperti aktivitas instalasi, yang berarti membutuhkan management ketersediaan pekerja, keahlian dan instalasi perangkat keras. Dalam pasar yang kompetitif seperti di Indonesia, manajemen churn yang buruk tidak hanya mengurangi pendapatan tapi juga meningkatkan biaya akuisisi pelanggan baru serta melemahkan nilai jangka panjang bagi pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang mendorong terjadinya churn serta merumuskan strategi mitigasi nya berdasarkan wawasan dari Customer Service Representative yang berperan sebagai garda terdepan dalam mengangani resiko churn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap CSR yang secara rutin menangani keluhan pelanggan, mem-proses deaktivasi dan terminasi layanan fixed mobile convergence pelanggan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Fokus penelitian mencakup tiga aspek utama yaitu skema harga, kualitas layanan dan penggunaan layanan. Hasil penelitian mengungkap bahwa faktor penggunaan layanan khususnya fenomena bill shock serta masalah kualitas layanan yang berasal dari keluhan berulang yang disebabkan oleh order yang mandek, merupakan faktor utama pendorong churn. Sementara itu faktor skema harga tidak muncul sebagai pendorong utama karena perusahaan penyedia layanan sudah menerapkan program mitigasi berupa penyelarasan harga dengan competitor agar tetap bisa bersaing. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan beberapa strategi mitigasi churn antara lain peningkatan transparansi kepada pelanggan, peningkatan proses pemenuhan layanan serta penyelarasan Key Performance Indicator (KPI) organisasi sebagai upaya untuk mendukung efektivitas implementasi strategi strategi tersebut.
DAMPAK MERGER DAN AKUISISI PERBANKAN INDONESIA TERHADAP PERFORMA FINANSIAL DAN MARKET POWER
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisa dampak merger dan akuisisi (M&A) dari bank-bank di Indonesia terhadap kinerja dan kekuatan pasar. Penelitian ini menjadi penting karena didasari oleh bertambahnya jumlah bank di Indonesia yang melakukan konsolidasi, yang juga didukung oleh regulator untuk memperkuat industri perbankan di Indonesia serta memperlengkapi mereka untuk mencapai tujuan strategis dan meningkatkan kemampuan bersaing. Hal ini mendorong perubahan struktur dari industri perbankan di Indonesia secara keseluruhan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk dapat menentukan apakah M&A benar-benar dapat menciptakan sinergi operasional dan keuangan, yang kemudian dapat diubah menjadi kekuatan pasar yang lebih signifikan bagi bank yang terlibat. Penelitian ini mengadopsi metode staggered Difference-in-Differences (DiD) yang direkomendasikan oleh Callaway dan Sant’Anna (2021). Metode ini memungkinkan peneliti untuk melakukan perbandingan dengan seksama antara bank treated dan bank control. Dengan memanfaatkan data panel yang diambil dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (2017–2022), peneliti bertujuan untuk menganalisa dampak dari M&A terhadap profitabilitas (diproksi dengan Net Interest Margin & Return on Equity), efisiensi (diproksi dengan BOPO), dan market power (diproksi dengan Lerner Index) Dari hasil penelitian ini, peneliti menemukan dampak dari M&A terhadap variable-variabel yang disebutkan sebelumnya bersifat heterogen, bergantung kepada bank yang terlibat. Meskipun beberapa bank terbukti lebih menguntungkan dan efisien setelah M&A, ada juga beberapa bank yang mengalami tekanan pada margin dan biaya yang diakibatkan oleh tantangan operasional. Namun, peneliti menemukan bahwa M&A secara konsisten membawa dampak positif terhadap kekuatan pasar bagi bank yang terlibat, mengindikasikan bertambahnya fleksibilitas bagi bank untuk menentukan harga di atas biaya, sejalan dengan teori market power. Hasil penelitian di atas memberikan keuntungan bagi industri, bank yang telibat, investor, dan pembuat kebijakan. Dari sisi kacamata perbankan, bank harus memiliki strategi yang kuat sebelum mengejar kesempatan M&A. Hal ini penting untuk memastikan kegiatan M&A dapat memberikan nilai riil bagi investor. Di sisi lain, investor harus berhati-hati dalam menganalisa dampak dari M&A, mengingat beberapa bank mungkin membutuhkan waktu untuk merealisasikan M&A menjadi keuntungan nyata terhadap investasi. Akhirnya, pembuat kebijakan harus berhati-hati juga dalam memberikan penilaian atas pengajuan M&A, Dimana harus memastikan kesiapan bank yang terlibat, dampak terhadap kompetisi industri, dan dampak terharap perlindungan konsumen. Untuk melengkapi penelitian ini, peneliti selanjutnya dapat memperpanjang periode studi dengan lebih banyak sampel untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang M&A terhadap industri perbankan di Indonesia.
WALKABILITY DAN KONTESTASI RUANG KOTA MELALUI PERSPEKTIF MOBILITY (STUDI KASUS: AREA TROTOAR BALUBUR TOWN SQUARE, BANDUNG)
Penelitian ini mengeksplorasi transformasi fungsi trotoar menjadi ruang multifungsi dan konsekuensinya terhadap walkability (kemampuan berjalan kaki) di Kawasan Balubur Town Square (Baltos), Bandung. Dengan paradigma new mobilities yang menempatkan pergerakan sebagai praktik sosial-politik antara relasi manusia dengan infrastruktur, penelitian ini menganalisis dinamika walkability pada trotoar Balubur Town Square (Baltos), Bandung, dengan fokus pada kontestasi ruang. Kawasan Balubur Town Square (Baltos) merupakan salah satu kawasan di Kota Bandung yang menjadi titik multi aktivitas karena lokasinya yang strategis, berdekatan dengan Jalan Layang Pasupati dan kawasan padat penduduk. Metode yang digunakan bersifat kualitatif: observasi, wawancara semi-terstruktur dengan aktor kunci, serta analisis performatif dengan staging mobilities dipadukan pandangan material semiotika yang menggambarkan bagaimana interaksi manusia dengan objek di sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun trotoar secara formal dirancang sebagai koridor pejalan, secara empiris trotoar tersebut mengalami pergeseran fungsi menjadi ruang ekonomi melalui proses yang dilakukan secara rutin dan terorganisir. Proses ini memproduksi ketidaksetaraan mobilitas (subjek differently mobile) dan melemahkan keadilan prosedural bagi kelompok rentan. Analisis dengan kerangka staging mobilities memperlihatkan dikotomi antara staging from above (desain infrastruktur, kebijakan) dengan staging from below (interaksi sosial dan aktivitas informal). Pembacaan dengan analisis material semiotika memperjelas bahwa keduanya berinteraksi dan saling mempengaruhi dalam membentuk aktivitas yang kini dominan di kawasan Baltos. Temuan menegaskan perlunya kombinasi intervensi desain material strategis dan mekanisme partisipatif untuk merestorasi fungsi trotoar sebagai ruang publik yang adil dan inklusif.
ANALISIS KINERJA DAN USULAN STRATEGI DALAM MENGELOLA RASIO SIMPANAN TERHADAP PINJAMAN DENGAN PERENCANAAN SKENARIO STUDI KASUS: PT. BANK MANDIRI (PERSERO), TBK.
Saat ini industri perbankan menghadapi sejumlah tantangan, diawali dengan kompetisi dalam penjualan produk dan jasa hingga tranfsormasi digital. Diperlukan kekuatan internal bagi Bank agar dapat berkompetisi di pasar, tidak hanya menawarkan beragam produk namun juga patuh terhadap peraturan regulator. Produk umum yang ditawarkan oleh Bank adalah produk simpanan dan produk kredit. Kedua produk tersebut diatur dalam bentuk rasio simpanan terhadap pinjaman yang diawasi oleh Bank Indonesia. Rasio tersebut merupakan indikator kesehatan bank dalam bentuk kecukupan likuiditas (secara langsung dalam jangka pendek) dan solvabilitas (secara tidak langsung dalam jangka panjang). Pencapaian yang luar biasa di tahun 2024 tidak menghindarkan Bank Mandiri dari tantangan dalam mengelola rasio simpanan terhadap pinjaman. Penyesuaian dalam strategi tentu diperlukan, namun kondisi dimana diperlukan penyesuaian tersebut juga menjadi hal yang krusial. Thesis proyek ini berfokus pada evaluasi rasio simpanan terhadap pinjaman dengan data historikal serta perencanaan skenario dan usulan perbaikan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Dalam menentukan faktor ketidakpastian, digunakan analisa tampilan berbasis sumber daya dan kerangka PESTLE. Hasil dari thesis ini berupa usulan yang dapat mendukung Bank Mandiri dalam melakukan pengelolaan rasio simpanan terhadap pinjaman.
STUDI EKSPERIMENTAL KINERJA SEISMIK SAMBUNGAN BALOK-KOLOM YANG UMUM DIGUNAKAN DI INDONESIA
Studi ini menginvestigasi kinerja seismik sambungan balok-kolom nonprakualifikasi yang umum digunakan di Indonesia (bolted end-plate with lower haunch/BECLH) dibandingkan dengan sambungan prakualifikasi (Bolted Unstiffened Extended End-Plate/BUEEP) melalui uji eksperimental siklik skala penuh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua tipe sambungan berhasil memenuhi kriteria penerimaan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dengan mencapai rotasi inelastis minimal 0,04 radian; namun, sambungan BUEEP menunjukkan perilaku histeresis yang jauh lebih simetris, stabil, dan memiliki daktilitas tinggi melalui plastifikasi balok, sedangkan sambungan BECLH memperlihatkan respons asimetris dengan degradasi kekuatan pada arah tarik serta disipasi energi yang didominasi oleh mekanisme slip. Disimpulkan bahwa meskipun sambungan BECLH dapat diterima menurut standar, sambungan BUEEP menawarkan keunggulan signifikan dalam hal stabilitas struktur dan mekanisme kegagalan yang lebih aman dibandingkan praktik konstruksi konvensional di Indonesia.
TRANSISI DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSI PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA BANDUNG
Pendidikan inklusi di Indonesia merupakan bagian dari agenda keadilan sosial yang bertujuan menjamin hak pendidikan bagi seluruh anak, termasuk anak dengan disabilitas. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan struktural, sosial, dan kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika transisi serta interaksi aktor dalam implementasi pendidikan inklusi pada jenjang sekolah dasar di Kota Bandung. Kota Bandung dipilih sebagai lokus penelitian karena telah mendeklarasikan diri sebagai Kota Pendidikan Inklusif sejak 2015, namun masih menunjukkan ketidaksesuaian antara komitmen kebijakan dan praktik di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumen pada empat satuan pendidikan, yaitu sekolah dasar negeri, sekolah swasta, madrasah, dan sekolah luar biasa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan kerangka Multi-Level Perspective (MLP) untuk memahami interaksi antara level landscape, regime, dan niche dalam proses transisi dari pendidikan segregatif menuju pendidikan inklusif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan inklusi di Kota Bandung dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, sarana prasarana, serta masih kuatnya stigma sosial terhadap sekolah inklusi. Interaksi antar-aktor belum sepenuhnya terkoordinasi secara sistemik, sehingga praktik inklusi cenderung bersifat parsial dan simbolik. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan inklusi merupakan persoalan sosioteknis yang memerlukan penguatan kolaborasi lintas aktor dan transformasi struktural yang berkelanjutan.
PENDEKATAN STRATEGIS UNTUK MEMPERKUAT KEUNGGULAN KOMPETITIF SATU DENTAL DI INDUSTRI KLINIK GIGI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana SATU Dental dapat memperkuat keunggulan kompetitifnya dalam industri klinik gigi swasta di Indonesia yang semakin kompetitif. Meskipun SATU Dental menerapkan model operasional yang terstandarisasi di seluruh jaringan kliniknya, kinerja antarwilayah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa keunggulan kompetitif perusahaan belum terealisasi secara merata pada tingkat klinik. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada identifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja klinik, serta perumusan strategi yang mampu menyelaraskan standar korporasi dengan kebutuhan pasar lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data pendapatan, volume pasien, dan pertumbuhan klinik di sembilan wilayah operasional. Analisis kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan manajemen dan tenaga medis. Seluruh temuan dianalisis menggunakan kerangka manajemen strategis, yaitu Marketing Mix (7Ps), VRIO, PESTEL, Porter’s Five Forces, serta SWOT–TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan demografi, tingkat persaingan, preferensi pasien, dan aksesibilitas lokasi menjadi faktor utama yang memengaruhi variasi kinerja antarwilayah. Wilayah dengan pertumbuhan tinggi seperti Bogor dan Jakarta Timur didukung oleh demografi kelas menengah dan persaingan yang moderat, sedangkan wilayah pasar matang seperti Jakarta Utara dan Jakarta Pusat mengalami pertumbuhan lebih lambat akibat kejenuhan pasar. Berdasarkan sintesis analisis, penelitian ini merekomendasikan tiga arah strategi utama, yaitu diferensiasi layanan melalui keunggulan klinis dan integrasi digital, pengembangan sumber daya manusia, serta standarisasi operasional dengan eksekusi strategi berbasis wilayah. Temuan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara standarisasi dan lokalisasi untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
PENGARUH DIMENSI KUALITAS LAYANAN TERHADAP CUSTOMER SATISFACTION INDEX (CSI) DALAM ENGINE SHOP VISIT CFM56: STUDI KASUS PADA PT GMF AEROASIA
Penelitian ini mengkaji bagaimana berbagai dimensi kualitas layanan memengaruhi Customer Satisfaction Index (CSI) pada proses engine shop visit CFM56 di PT GMF AeroAsia. Shop visit merupakan kegiatan dengan biaya tinggi dan risiko besar, sementara tantangan global seperti keterlambatan material dan gangguan rantai pasok membuat pengalaman pelanggan menjadi semakin penting. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan operator maskapai, lessor, dan perwakilan teknis yang bekerja bersama GMF. Wawancara tersebut mengeksplorasi enam dimensi kualitas layanan—komunikasi, keselarasan layanan, kualitas, harga, dokumentasi teknis, dan turnaround time (TAT)—untuk memahami faktor mana yang paling memengaruhi kepuasan pelanggan. Data sekunder seperti laporan CSI GMF periode 2020–2025 dan dokumen operasional internal digunakan hanya sebagai konteks pendukung . Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi layanan memiliki hubungan positif dengan CSI, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda. Komunikasi menjadi faktor yang paling kuat karena pelanggan sangat bergantung pada pembaruan yang jelas dan tepat waktu. Dokumentasi serta transparansi harga juga berperan besar, terutama terkait proses acceptance, return-to-service, dan kejelasan invoice. TAT tetap memengaruhi kepuasan, namun banyak keterlambatan bersumber dari kondisi global, sehingga pelanggan lebih menghargai penjelasan yang konsisten daripada sekadar kecepatan. Temuan wawancara mendukung hal tersebut, di mana pelanggan sering menyoroti keterlambatan update, perubahan biaya yang kurang jelas, dan dokumen teknis yang lambat. Penelitian ini menyediakan gambaran terstruktur mengenai hubungan antara dimensi kualitas layanan dan CSI di GMF, berdasarkan data aktual dan suara pelanggan langsung. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi program perbaikan yang berfokus pada kedisiplinan komunikasi, peningkatan alur dokumentasi, serta transparansi biaya, sehingga dapat memperkuat kepuasan dan loyalitas pelanggan dalam industri MRO yang kompetitif.
USULAN IMPLEMENTASI LEAN CONTRUCTION PADA PROSEDUR MANAJEMEN PROYEK DALAM PENYUSUNAN RENCANA KERJA PROYEK (RKP) (STUDI KASUS PT INDONESIA CONSTRUCTION COMPANY TBK.)
Studi ini mengusulkan pengintegrasian prinsip-prinsip Lean Construction ke dalam prosedur Rencana Kerja Proyek (RKP) PT ICC (Persero) Tbk untuk mengatasi inefisiensi dan pemborosan tingkat proyek selama tahap perencanaan dan pelaksanaan. Meskipun PT ICC telah mengadopsi kerangka kerja manajemen proyek berbasis PMBOK yang komprehensif, pelaksanaan proyek tetap sebagian besar reaktif dan didorong oleh administrasi, membatasi efektivitas RKP sebagai alat perencanaan proaktif. Akibatnya, inefisiensi berulang muncul di tingkat proyek, berkontribusi pada penundaan jadwal, pembengkakan biaya, dan pemborosan material. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan pemetaan proses, wawancara mendalam dengan enam ahli internal dan eksternal, penilaian ahli, dan analisis kuantitatif melalui Relative Importance Index (RII), penelitian ini mengidentifikasi empat jenis limbah yang dominan: menunggu, kelebihan produksi, kelebihan persediaan, dan bakat yang tidak dimanfaatkan. Analisis lebih lanjut membedakan limbah yang berasal dari kelemahan struktural RKP dengan limbah yang disebabkan oleh penyimpangan selama pelaksanaan proyek. Berdasarkan hasil RII, Sistem Perencana Terakhir (RII = 0,93), Kolaborasi Lintas Fungsi Awal (RII = 0,90), dan Perencanaan Tarik (RII = 0,83) diidentifikasi sebagai alat Lean yang paling penting untuk integrasi. Studi ini mengembangkan kerangka kerja RKP yang direvisi dengan menyematkan alat Lean terpilih ke dalam prosedur berbasis PMBOK yang ada tanpa mengubah struktur tata kelola dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa perencanaan Lean-integrated berpotensi meningkatkan keandalan jadwal, mengurangi pemborosan terkait material, dan meningkatkan prediktabilitas alur kerja di tingkat proyek. Namun, implementasi yang berhasil sangat bergantung pada transformasi organisasi dan budaya, terutama dalam mengatasi resistensi terhadap perubahan dan praktik pengambilan keputusan hierarkis. Oleh karena itu, komitmen kepemimpinan yang kuat, pelatihan praktis, dan manajemen perubahan yang berkelanjutan sangat penting untuk mewujudkan manfaat penuh dari integrasi Lean Construction dalam kerangka kerja RKP.
PENGEMBANGAN ELEKTROLIT PADAT POLIMER PVA/LICH3COO TERMODIFIKASI NANOKRISTALIN SELULOSA DAN IONIC LIQUID EMIMBR UNTUK BATERAI ION LITIUM
Perkembangan teknologi baterai modern seperti Lithium-Ion Battery (LIB), telah mendesak kebutuhan untuk sumber energi yang lebih efisien, ringan, dan ramah lingkungan. Akan tetapi penggunaan elektrolit cair yang memfasilitasi konduktivitas ionik antara elektroda meskipun sangat efektif dalam kinerja baterai, tetapi memiliki resiko keselamatan yang signifikan termasuk kebocoran, mudah terbakar, dan ketidakstabilan termal. Selain itu, separator konvensional berbasis poliolefin, seperti polipropilen (PP) dan polietilen (PE) memiliki keterbatasan signifikan dalam hal stabilitas termal dan kemampuan menahan pertumbuhan dendrit litium, serta dampak lingkungan karena sulit terdegradasi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut dan seiring berkembangnya konsep baterai organik dan solid- state, pengembangan solid polymer electrolyte (SPE) berbasis polimer biodegradable menjadi solusi yang menjanjikan untuk meningkatkan keselamatan serta ramah lingkungan. SPE berfungsi sebagai elektrolit sekaligus separator elektronik antara anoda dan katoda. Penelitian ini mengembangkan membran SPE berbasis polivinil alkohol (PVA), yang dikenal memiliki sifat mekanik baik, dapat membentuk film yang stabil, biaya rendah, dan sifat biodegradable. Untuk meningkatkan konduktivitas ionik PVA, ditambahkan litium asetat (LiCH3COO) sebagai sumber ion Li?. Namun penambahan garam litium sering menurunkan kekuatan mekanik membran. Oleh karena itu, nanokristalin selulosa (CNC) digunakan sebagai agen penguat, sedangkan cairan ion 1-etil-3-metilimidazolium bromida (EMImBr) digunakan sebagai pemlastis dan konduktor ionik untuk meningkatkan fase amorf membran dan mobilitas ion. Kombinasi ketiga bahan ini diharapkan dapat menghasilkan membran SPE dengan konduktivitas ionik tinggi, kekuatan mekanik optimal, dan sifat ramah lingkungan yang sesuai untuk aplikasi baterai generasi baru. Metode sintesis yang digunakan melibatkan isolasi selulosa dari bonggol jagung dan hidrolisis untuk memperoleh nanokristalin selulosa, yang kemudian dikarakterisasi menggunakan FTIR, analisis ukuran partikel, dan analisis morfologi menggunakan SEM dan TEM. Cairan ion EMImBr disintesis menggunakan Microwave-Assisted Organic Synthesis (MAOS) dan dikarakterisasi dengan ¹H- NMR dan ¹³C-NMR. Membran SPE [PVA/LiCH3COO/CNC/EMImBr] difabrikasi dengan teknik solution casting dan diuji menggunakan XRD, FTIR, SEM, TGA, UTM, dan EIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% LiCH3COO ke dalam matriks PVA menghasilkan konduktivitas ionik diperoleh sebesar 1,43×10?? S/cm dengan kekuatan mekanik yang tinggi (tegangan 36,12 MPa, regangan 530,46%). Penambahan EMImBr pada membran [PVA/10% LiCH3COO] meningkatkan konduktivitas ionik, dengan nilai optimum pada 40% EMImBr yaitu mencapai 2,21×10?? S/cm, meskipun diikuti oleh penurunan kekuatan mekanik. Sebaliknya, penambahan 5% CNC pada membran [PVA/10% LiCH3COO] meningkatkan kekuatan mekanik (tegangan 40,3 MPa, regangan 524,97%), meskipun mengakibatkan penurunan konduktivitas ionik. Berdasarkan variasi komposisi yang diuji (penggabungan penambahan CNC dan EMImBr ke dalam PVA/10% LiCH3COO), kombinasi 5% CNC-30% EMImBr menunjukkan hasil paling optimum, menghasilkan konduktivitas ionik tertinggi (5,26×10?? S/cm) dengan sifat mekanik yang baik (tegangan 21,82 MPa, regangan 884,64%). Kebaharuan dari penelitian ini adalah penggabungan nanokristalin selulosa dan cairan ion EMImBr untuk mencapai keseimbangan optimal antara konduktivitas ionik dan kekuatan mekanik pada membran SPE berbasis polimer biodegradable, yang belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini juga memanfaatkan limbah pertanian sebagai sumber nanokristalin selulosa dan menunjukkan hasil yang ramah lingkungan serta biaya rendah. Membran SPE [PVA/LiCH3COO/CNC/EMImBr] yang dikembangkan berpotensi menjadi SPE solid-state yang aman dan efisien untuk baterai ion litium generasi berikutnya, mendukung pengembangan teknologi baterai organik, serta memberikan kontribusi pada solusi penyimpanan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.
BIOSTRATIGRAFI DAN PALEOEKOLOGI INTI SEDIMEN LAUT BS-22 PADA KALA HOLOSEN BERDASARKAN PROKSI NANOFOSIL DI PERAIRAN NIAS, SUMATRA UTARA
Endapan laut di wilayah tropis merupakan arsip penting untuk mengkaji dinamika sistem laut jangka panjang, khususnya di perairan Nias yang berada pada zona interaksi aktif sistem monsun dan variabilitas Indian Ocean Dipole (IOD). Interpretasi perubahan lingkungan laut memerlukan kendali umur relatif yang memadai agar variasi paleoekologi dan paleoseanografi dapat ditempatkan dalam kerangka waktu geologi yang tepat. Dalam konteks ini, biostratigrafi berperan sebagai dasar utama untuk mengaitkan perubahan ekologis dan oseanografi dengan tahapan waktu sejak Pleistosen Akhir hingga Holosen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan biostratigrafi melalui biozona nanofosil serta mengkaji perubahan paleoekologi dan paleoseanografi berdasarkan asosiasi nanofosil pada inti sedimen laut BS-22 dari perairan Nias. Analisis dilakukan pada satu inti sedimen sepanjang 195 cm yang diambil dari kedalaman 653,2 m. Pengamatan nanofosil dilakukan pada interval 10 cm menggunakan mikroskop polarisasi perbesaran 1000×, sedangkan penentuan umur relatif didasarkan pada biodatum nanofosil. Hasil analisis biostratigrafi menunjukkan dua biozona, yaitu NN21 (Holosen) pada kedalaman 179–0 cm dan NN20 dan/atau lebih tua (Pleistosen Akhir dan/atau lebih tua) pada kedalaman 180–195 cm, yang dibatasi oleh kemunculan awal Emiliania huxleyi sebagai penanda batas umur Holosen. Hasil analisis menunjukkan komunitas nanofosil didominasi oleh taksa oportunistik dan kosmopolitan, terutama Gephyrocapsa kecil, dengan keanekaragaman relatif rendah. Perubahan komposisi spesies dan kelimpahan mencerminkan keterkaitan erat antara dinamika paleoekologi dan perubahan kondisi oseanografi, dari kondisi laut yang lebih dingin dan dinamis pada akhir Pleistosen menuju lingkungan Holosen yang lebih hangat, terstratifikasi, dan oligotrof. Perubahan litologi lempung–lanau karbonatan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap variasi paleoekologi maupun paleoseanografi. Rekaman sedimen BS-22 mencerminkan lima periode utama perubahan paleoklimat, yaitu Akhir Younger Dryas, Early Holocene Warm Period, Holocene Climate Optimum, Mid-Holocene Aridification, dan Late Holocene Transition.
FORMULASI MEDIA PRODUKSI PROBIOTIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI AGEN INTERVENSI ANAK STUNTING DENGAN PENDEKATAN RESPON SURFACE METHODOLOGY
Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis yang ditandai oleh terhambatnya perkembangan fisik dan kognitif. Salah satu pendekatan untuk menangani stunting adalah intervensi menggunakan probiotik. Pemberian probiotik dapat mencegah disbiosis serta menghambat kolonisasi bakteri patogen di saluran pencernaan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, telah diperoleh dua kandidat bakteri probiotik yang diisolasi dari sampel feses anak dengan prevalensi stunting. Kedua isolat tersebut diketahui memenuhi kriteria pemilihan probiotik berdasarkan kemampuan pembentukan biofilm, toleransi terhadap cekaman pH dan garam empedu, dan tidak resisten terhadap antibiotik. Selanjutnya, dibutuhkan optimasi proses produksi untuk memperoleh biomassa probiotik yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Menentukan kandidat probiotik berdasarkan kemampuan hidrofobisitas, agregasi, koagregasi, dan aktivitas hemolitik; (2) Menentukan sumber karbon terbaik antara glukosa dan high fructose corn syrup (HFCS) untuk produksi probiotik berdasarkan laju pertumbuhan dan konsentrasi sel; dan (3) Optimasi komposisi media produksi biomassa melalui pendekatan response surface methodology (RSM). Dua kandidat probiotik yaitu isolat FS304 dan FS501. Uji hidrofobisitas dilakukan dengan xilena; uji autoagregasi dan koagregasi bakteri dinkubasi pada media Luria Bertani dan diukur absorbansi pada 600 nm setelah 5 dan 24 jam; serta uji aktivitas hemolitik pada media TSA-blood agar. Uji produksi probiotik dilakukan dengan menggunakan medium dasar M9 dengan variasi sumber karbon, glukosa dan high fructose corn syrup (HFCS). Kultur diinkubasi pada erlenmeyer 250 mL dalam 90 mL media dasar M9, dan 10% (v/v) inokulum aktivasi III sebesar 106 CFU/mL, selama 24 jam pada suhu ruang 25oC dan tanpa agitasi. Hasil sumber karbon terbaik digunakan untuk optimasi lanjutan dengan RSM-Box Behnken Design (BBD), dengan tiga faktor: pH awal medium (4–8); konsentrasi HFCS (3–6 g/L); dan ii amonium klorida (0,1–2 g/L). Analisis yang dilakukan sebagai respon meliputi konsentrasi sel bakteri (CFU/mL) dan laju pertumbuhan. Pada proses RSM, inkubasi dilakukan selama 15 jam dengan kondisi kultur yang serupa dengan uji produksi probiotik. Dengan pengambilan data berupa angka lempengan total (ALT), pengukuran berat sel kering, pH, dan konsentrasi gula pereduksi menggunakan metode dinitrosalisilat (DNS). Hasil penelitian menunjukan bahwa Isolat FS304 memiliki tingkat hidrofobisitas lebih tinggi (30%) dibandingkan FS501 (21%). Isolat FS304 juga memiliki kemampuan autoagregasi yang lebih kuat (84%) dibandingkan FS501 (76%). Uji koagregasi menunjukkan bahwa setelah 24 jam kedua isolat berinteraksi positif dengan B. subtilis dan L. acidophilus. Pemberian HFCS menghasilkan laju pertumbuhan dan konsentrasi sel lebih tinggi dibandingkan glukosa. Isolat FS304 menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi pada media M9 dengan HFCS (laju pertumbuhan = 0,557 jam?¹ dan konsentrasi sel = 5,38 x 108 CFU/mL). Berdasarkan hasil RSM terhadap respon konsentrasi sel maksimum dan laju pertumbuhan, isolat FS304 menunjukkan hasil optimum pada konsentrasi HFCS sebesar 4,5 g/L, amonium klorida 1,05 g/L, dan pH awal media 6. Hasil respons optimizer menunjukan konsentrasi sel dan laju pertumbuhan yang maksimum diperoleh pada konsentrasi HFCS 4,5152 g/L; amonium klorida 1,0596 g/L; dan pH awal media 6,2626 dengan hasil produksi konsentrasi sel sebesa 5,879 x 108 CFU/mL dan laju pertumbuhan 0,5682 jam-1. Hasil optimasi ini dapat divalidasi lebih lanjut dan menjadi dasar pengembangan probiotik berbasis bakteri indigen saluran pencernaan yang berpotensi mendukung strategi intervensi stunting.