📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenHUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, MOTIVASI KERJA, DAN KINERJA INDIVIDU PADA PT JAKARTA RAILWAY
Studi ini mempelajari hubungan antara persepsi kepemimpinan transformasional dan motivasi kerja terhadap kinerja individu karyawan di PT Jakarta Railway. Selama enam tahun terakhir, kinerja perusahaan yang diukur melalui framework Balanced Scorecard secara konsisten capaiannya >100. Hal ini menunjukkan pelaksanaan operasional yang kuat. Namun, jika diobservasi lebih mendalam ditemukan bahwa: meskipun pencapaian KPI sangat baik, pendapatan non-tiket perusahaan (indikator utama penciptaan nilai strategis) menurun 30% dari tahun 2023 ke 2024. Salah satu indikasi tantangan yang mendasarinya adalah komposisi kepemimpinan, yang relatif muda dan terutama dikembangkan melalui keahlian teknis. Meskipun kompeten secara teknis, banyak pemimpin belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan kepemimpinan transformasional yang dibutuhkan untuk mengartikulasikan visi strategis perusahaan, merangsang inovasi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tujuan lintas fungsi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepemimpinan sering kali memengaruhi kinerja secara tidak langsung melalui mekanisme psikologis, termasuk motivasi kerja. Meskipun PT Jakarta Railway secara konsisten mencatat pencapaian KPI perusahaan yang tinggi, hal ini belum menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kinerja keuangan. Hal ini menunjukkan potensi ketidakselarasan antara indikator kinerja individu dan tujuan strategis organisasi. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada karyawan di 3 direktorat core business, menggunakan instrumen: Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ), the Work Extrinsic and Intrinsic Motivation Scale (WEIMS), dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Studi ini menemukan hubungan positif yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan motivasi kerja karyawan, serta antara variabel-variabel ini dan kinerja individu. Berdasarkan temuan ini, studi ini merekomendasikan tiga tindakan organisasi utama: (1) berinvestasi dalam pengembangan kepemimpinan transformasional; (2) menyelaraskan kembali sistem manajemen kinerja untuk memperkuat hubungannya dengan penciptaan nilai strategis; dan (3) memupuk budaya sinergi strategis di seluruh fungsi untuk meningkatkan dampak kolektif pada tujuan organisasi.
INTEGRASI K-MEANS, PROGRAM LINEAR, DAN AHP UNTUK EKSPANSI FASILITAS AGRIBISNIS STRATEGIS DI INDONESIA
Penelitian ini merekomendasikan strategi ekspansi fasilitas yang optimal bagi distributor buah di Indonesia yang kapasitas pematangan pisang Cavendish-nya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan yang meningkat, dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk mengevaluasi konfigurasi alternatif. Klasterisasi K-Means digunakan untuk mensegmentasi permintaan pelanggan dan mengidentifikasi lokasi fasilitas baru yang potensial, yang kemudian dibandingkan dengan lokasi yang sudah ada untuk menghasilkan alternatif ekspansi. Linear Programming (LP) kemudian diterapkan untuk menilai implikasi biaya total dari konfigurasi jaringan terpusat (sentralisasi), tersebar (desentralisasi), dan hibrida. Untuk mengakomodasi perspektif manajerial, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk memberi bobot pada kriteria kuantitatif seperti biaya dan responsivitas, bersamaan dengan kriteria kualitatif termasuk kualitas produk dan keselarasan sumber pasokan (sourcing alignment). Analisis K-Means mengidentifikasi tata letak optimal dengan 5-pusat (centroid) dan 3-pusat, yang mengindikasikan potensi konsolidasi di Jawa Tengah dan menghasilkan empat alternatif ekspansi yang layak. Meskipun hasil LP menunjukkan konfigurasi hibrida sebagai opsi berbiaya terendah, analisis AHP menyoroti preferensi pemangku kepentingan terhadap faktor-faktor non-biaya, yang mengarah pada pemilihan tata letak 5-pusat meskipun biayanya lebih tinggi. Uji sensitivitas mengkonfirmasi ketahanan (robustness) model hibrida dalam skenario yang didorong oleh biaya Penelitian ini berkontribusi dalam bentuk kerangka kerja pendukung keputusan yang terintegrasi yang menggabungkan klasterisasi, optimasi, dan analisis multi-kriteria untuk memandu perencanaan ekspansi fasilitas untuk barang yang mudah rusak (perishable goods). Kerangka kerja ini menawarkan pendekatan yang seimbang untuk desain jaringan logistik, menyelaraskan efisiensi operasional dengan sumber pasokan strategis dan tujuan kualitas dalam rantai pasok pisang di Indonesia.
ANALISIS FAKTOR PENENTU PINJAMAN DAERAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN RUANG FISKAL
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman serta hubungannya dengan ruang fiskal. Studi ini menggunakan data pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia pada periode 2021–2022, yang merepresentasikan kondisi fiskal daerah pada masa lanjutan kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan dua model analisis. Regresi logit digunakan untuk menguji keberhasilan pemerintah daerah melakukan pinjaman, sedangkan regresi linear digunakan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi besaran pinjaman daerah. Variabel utama mencakup ruang fiskal yang diukur melalui Debt Service Coverage Ratio, serta faktor politik yang direpresentasikan oleh tingkat dukungan legislatif terhadap kepala daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang fiskal berpengaruh signifikan terhadap keputusan pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. Pemerintah daerah dengan kondisi fiskal yang lebih kuat dan kemampuan pembayaran utang yang lebih baik memiliki keberhasilan lebih besar untuk mengakses pinjaman daerah. Selain itu, faktor politik turut memengaruhi peluang keberhasilan pemerintah daerah dalam memperoleh pinjaman. Pada analisis jumlah pinjaman dan ruang fiskal berperan penting dalam menentukan besaran pinjaman yang dilakukan. Temuan ini menunjukkan bahwa pinjaman daerah tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan keuangan, tetapi juga oleh dinamika politik lokal. Penelitian ini memberikan implikasi kebijakan bagi penguatan tata kelola pinjaman daerah agar lebih akuntabel, selektif, dan berkelanjutan dalam mendukung pembiayaan pembangunan daerah.
PENGARUH PENGALAMAN WISATA TERHADAP KEPUASAN DAN LOYALITAS PENGUNJUNG TAMAN REKREASI DAGO DREAMPARK LEMBANG JAWA BARAT
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor pembentuk loyalitas pengunjung di Taman Rekreasi Dago Dreampark, Lembang, dengan fokus pada pengaruh pengalaman wisata (visitor experience), pertumbuhan pribadi (personal growth), dan ketegangan (tension) terhadap kepuasan dan loyalitas. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode PLS-SEM terhadap data dari 204 responden, hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengalaman wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan, yang selanjutnya juga berdampak signifikan dalam membangun loyalitas pengunjung. Namun, kontra dengan hipotesis awal, pertumbuhan pribadi dan ketegangan terbukti tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan. Studi ini juga menemukan bahwa usia dan tingkat pendidikan secara signifikan memoderasi hubungan antara kepuasan dan loyalitas. Berdasarkan Importance-Performance Map Analysis (IPMA), kepuasan dan pengalaman wisata teridentifikasi sebagai faktor kunci dengan kinerja dan tingkat kepentingan tinggi. Temuan ini tidak hanya memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan model perilaku pengunjung di taman rekreasi bertema, tetapi juga menjadi panduan strategis bagi manajemen destinasi untuk memprioritaskan peningkatan kualitas pengalaman wisata dan kepuasan guna membangun loyalitas berkelanjutan, khususnya pada segmen pengunjung usia produktif dan terdidik.
PENGARUH KEPUASAN TERHADAP PRODUKSI USER GENERATED CONTENT DAN KEPUTUSAN BERKUNJUNG PROSUMER DALAM AKTIVITAS PARIWISATA.STUDI KASUS DI KAWASAN WISATA BANDUNG RAYA
Transformasi paradigma pariwisata di era digital telah menggeser peran wisatawan dari sekadar konsumen pasif menjadi prosumer (produsen sekaligus konsumen) yang aktif memproduksi dan mendistribusikan informasi melalui User Generated Content (UGC). Fenomena ini terlihat jelas di Kawasan Wisata Bandung Raya, di mana popularitas destinasi sangat dipengaruhi oleh konten visual yang beredar di media sosial. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi untuk memahami bagaimana (1) persepsi awal wisatawan terhadap citra destinasi dan (2) nilai yang dirasakan (perceived value) dapat membentuk kepuasan, yang kemudian (3) kepuasan dalam berwisata memicu (4) perilaku aktif memproduksi konten serta (5) mendorong keputusan berkunjung prosumer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Citra Destinasi dan Perceived Value terhadap Kepuasan Wisatawan, serta dampaknya terhadap aktivitas Produksi UGC dan Keputusan Berkunjung wisatawan prosumer di Kawasan Wisata Bandung Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan yang pernah berkunjung ke Bandung Raya dan aktif menggunakan media sosial. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 212 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Profil responden didominasi oleh Generasi Z dan Milenial (usia 18–28 tahun) yang menggunakan Instagram dan TikTok sebagai platform utama, serta memiliki tingkat pendidikan mayoritas Sarjana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis yang diajukan diterima dan berpengaruh signifikan. Pertama, Citra Destinasi/H1 (0.454) dan Perceived Value/H2 (0.405) terbukti berpengaruh positif terhadap Kepuasan Wisatawan. Analisis deskriptif mengungkap bahwa kepuasan wisatawan di Bandung Raya didorong oleh dominasi daya tarik visual alam (nature appeal) dan manfaat psikologis berupa relaksasi (healing), bukan semata-mata karena faktor harga. Kedua, temuan paling signifikan dalam penelitian ini adalah pengaruh Kepuasan Wisatawan terhadap Produksi UGC yang memiliki nilai koefisien jalur tertinggi/H3 (0.577). Hal ini mengindikasikan bahwa kepuasan pengalaman merupakan pendorong utama perilaku prosumer. Ketiga, Kepuasan Wisatawan/H4 (0.497) dan Produksi UGC/H5 (0.336) berpengaruh positif terhadap Keputusan Berkunjung. Model penelitian mampu menjelaskan varians Kepuasan Wisatawan sebesar 64,8% dan Keputusan Berkunjung sebesar 55,1%. Kebaruan (novelty) dari penelitian ini terletak pada pembuktian karakteristik prosumer di Bandung Raya yang bersifat organik. Berbeda dengan asumsi umum mengenai komersialisasi konten, penelitian ini menemukan bahwa motivasi wisatawan memproduksi konten didasari oleh keinginan intrinsik untuk berbagi kebahagiaan (skor UGC1: 4.39), sementara motivasi komersial/afiliasi justru sangat rendah (skor UGC4: 3.88). Penelitian ini memberikan sumbangan teoretis mengenai perilaku konsumen pariwisata modern di mana aktivitas digital berfungsi sebagai validasi emosional yang memperkuat loyalitas destinasi. Secara praktis, penelitian merekomendasikan pemangku kepentingan pariwisata di Bandung Raya untuk memfasilitasi prosumer organik melalui penyediaan infrastruktur visual yang mendukung dan menjaga keaslian ekosistem alam sebagai aset utama pariwisata.
PENILAIAN KESIAPAN DAN KEMATANGAN AI UNTUK ADOPSI AI YANG ETIS DAN BERTANGGUNG JAWAB: STUDI KASUS PADA PT SARANA MULTI INFRASTRUKTUR
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) di organisasi, termasuk lembaga keuangan seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), meng-encourage perusaaan untuk memanfaatkan AI dalam meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, analisis data dan informasi, serta pengambilan keputusan. Namun, pemanfaatan AI dapat menimbulkan risiko baru, terutama risiko yang berkaitan dengan keamanan data, etika penggunaan AI, transparansi proses AI membantu suatu output, dan akuntabilitas dari output AI. PT SMI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan menghadapi urgensi tersebut karenas saat ini karyawan di PT SMI menggunakan AI dalam operasionalnya dan pada tahun 2024 PT SMI pernah mengalami kebocoran data. Selain itu, adanya kebijakan negative growth dari Kementerian Keuangan dan arahan pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan ekosistem AI nasional. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kesiapan dan kematangan PT SMI dalam mengadopsi AI secara etis, aman, dan bertanggung jawab. Penelitian ini mengintegrasikan tiga kerangka teoretis: Technology–Organization–Environment (TOE) untuk mengukur kesiapan struktural organisasi, Technology Readiness Index (TRI) untuk menilai kesiapan psikologis karyawan, serta IBM AI Adoption Maturity Model untuk memetakan tahap kematangan implementasi AI di PT SMI. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-method melalui survei kuantitatif kepada karyawan dengan masa kerja lebih dari lima tahun dan wawancara semi-terstruktur dengan manajemen serta perwakilan dari divisi tertentu. Data sekunder untuk penelitian ini didapatkan dari dokumen internal PT SMI, Rencana Jangka Pangjang Perusahaan (RJPP) 2024–2028, risalah rapat, serta regulasi pemerintah terkait implementasi AI seperti SE Kominfo No. 9/2023, Kode Etik AI OJK, dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Hasil analisis TRI menunjukkan bahwa karyawan PT SMI memiliki tingkat optimisme dan inovasi yang tinggi terhadap penggunaan AI, namun masih terdapat ketidaknyamanan (discomfort) terkait kompleksitas teknologi. Dari sisi TOE, faktor teknologi dan organisasi menunjukkan adanya potensi penerapan AI terutama untuk kebutuhan otomasi pelaporan, analisis risiko pembiayaan, dan efisiensi operasiona. Namun, persepsi karyawan dan kebutuhan untuk mengimplementasikan AI belum dilandasi dengan kebijakan dan tata kelola AI yang memadai. Tidak adanya kebijakan internal mengenai keamanan AI, standar penggunaan AI generatif, dan mekanisme monitoring menjadi temuan utama di PT SMI. Berdasarkan pemetaan menggunakan IBM AI Adoption Maturity Model, PT SMI saat ini berada di fase awal yaitu Initial Experiments, ditandai dengan eksplorasi penggunaan AI yang terbatas dan belum adanya tata Kelola implementasi dan penggunaan AI. Kondisi ini menunjukkan bahwa PT SMI membutuhkan penguatan strategis untuk berpindah menuju fase Appropriate Use atau lebih jauh lagi Governance and Standardization, termasuk menyusun tata kelola AI, standar keamanan data dan membangun literasi dan kompetensi karyawan PT SMI terkait AI. Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis untuk memperkuat kesiapan dan tata kelola AI di PT SMI, yaitu membangun kerangka tata kelola AI yang sejalan dengan regulasi nasional, menetapkan standard operating procedures (SOP) penggunaan AI, mengembangkan kebijakan keamanan data untuk mencegah risiko kebocoran data, meningkatkan literasi dan pelatihan AI bagi karyawan serta menyusun roadmap implementasi AI yang sejalan dengan RJPP 2024–2028. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai integrasi TOE–TRI–IBM Maturity Model dalam menilai kesiapan AI pada institusi publik yang memiliki yang diatur secara ketat oleh regulasi pemerintah.
ANALISIS SKEMA AKUISISI TEKNOLOGI FOAM PIGGING DAN PENGEMBANGAN KAPABILITAS PADA PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS
PT BES bersama perusahaan induknya sedang mengembangkan teknologi foam pigging dalam rangka mendukung pembersihan dan inspeksi pipa di sektor energi. Saat ini, foam pig yang digunakan masih sepenuhnya bergantung pada pihak eksternal. Kondisi ini membatasi fleksibilitas operasional perusahaan dan menimbulkan risiko keterlambatan serta ketidakpastian ketika kebutuhan muncul pada proyek dengan jadwal yang ketat. Dampak lain yang dirasakan perusahaan adalah sulitnya menjaga konsistensi biaya dan kualitas produk. Selain itu, penggunaan bahan baku impor yang masih dominan membatasi upaya peningkatan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Permintaan foam pig di Indonesia terus meningkat seiring dengan ekspansi jaringan pipa minyak, gas, dan utilitas. Situasi ini menunjukkan pentingnya bagi PT BES untuk mulai membangun kapabilitas internal dan mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap teknologi eksternal. Dalam melakukan pendekatan analisis, digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pada analisis kualitatif dilakukan analisis SWOT, IFAS–EFAS, serta matriks risiko. Aspek pengendalian teknologi, proses pembelajaran, dan keberlanjutan operasional digunakan sebagai indikator utama dalam analisis kualitatif untuk menilai kesiapan internal dan kondisi eksternal. Sementara itu, analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) untuk menguji beberapa parameter seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Cash-on-Cash (CoC) untuk menilai kelayakan finansial. Pada tahap awal, beberapa alternatif akuisisi yang dipertimbangkan yaitu pembelian langsung, lisensi, joint venture, dan transfer teknologi bertahap. Kemudian, karena pemilik formula adalah perorangan, muncul opsi talent acquisition. Berdasarkan keseluruhan hasil kajian, direkomendasikan penerapan strategi kombinasi, di mana talent acquisition digunakan pada tahap awal untuk mendukung pengembangan kapabilitas internal, kemudian dilanjutkan dengan joint venture. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai untuk mendukung peningkatan TKDN dalam jangka panjang serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap teknologi eksternal.
EVALUASI DAN PERANCANGAN INISIATIF PENINGKATAN KINERJA RANTAI PASOK MASUK PADA PERUSAHAAN KOMPONEN OTOMOTIF MENGGUNAKAN SERVICE LEVEL AGREEMENT (SLA), MANAJEMEN PERSEDIAAN, DAN LEAN SIX SIGMA
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar pada sektor rantai pasok dan logistik, sehingga perusahaan perlu mengembangkan rantai pasok yang efektif dan tangguh. Dalam hal ini, Perusahaan X, sebuah merek dan pemasok suku cadang motor aftermarket, mengalami masalah dengan rantai pasok masuknya yang ditandai dengan ketergantungan pada pemasok luar negeri, variasi kualitas, dan perubahan waktu pengiriman yang menyebabkan ketidakseimbangan stok. Kondisi tersebut berkontribusi pada kekurangan stok dan kelebihan stok, yang meningkatkan biaya operasional dan menurunkan standar layanan pelanggan. Penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan utama, yaitu: (1) bagaimana kinerja pemasok masuk di Perusahaan X dalam hal Perjanjian Tingkat Layanan (SLA), (2) desain kebijakan persediaan masuk terbaik yang dapat diterapkan untuk barang prioritas, dan (3) perbaikan proses terbaik yang dapat dilakukan untuk meminimalkan cacat dan risiko gangguan pasokan. Studi ini menggunakan data kuantitatif sekunder dari catatan operasional internal Perusahaan X pada tingkat pemasok dan barang selama periode Januari-September 2025, termasuk data tentang waktu tunggu, akurasi pengiriman, pergerakan persediaan, dan laporan inspeksi kualitas. Wawancara semi-terstruktur dengan Manajer Gudang digunakan untuk melengkapi data, membuat diagram tulang ikan, dan mendalami analisis penyebab masalah. Pengukuran SLA, pengelompokan barang menggunakan analisis ABC/Pareto dan desain kebijakan sistem persediaan Q/P, serta model Lean Six Sigma (DMAIC) untuk pemetaan cacat dan navigasi penyebab akar digunakan untuk melakukan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pemasok inbound berada pada kategori moderate performance, dengan perbedaan karakteristik antara pemasok dari sisi ketepatan waktu dan konsistensi kualitas. Rancangan kebijakan persediaan berbasis analisis ABC/Pareto dan sistem Q/P berpotensi menurunkan risiko stockout sekaligus menyeimbangkan biaya pemesanan dan penyimpanan. Pendekatan Lean Six Sigma mengungkap bahwa variasi kualitas terutama dipengaruhi oleh kelemahan pada prosedur inspeksi, kemampuan pemasok menjaga konsistensi spesifikasi, serta koordinasi informasi antara fungsi internal. Penelitian ini dibatasi pada satu studi kasus perusahaan dan periode data tertentu, serta belum menguji kinerja pasca-implementasi secara jangka panjang. Oleh karena itu, usulan perbaikan disajikan dalam bentuk skenario implementasi bertahap untuk penerapan SLA berbasis monitoring berkala, penyesuaian kebijakan persediaan inbound, dan proyek peningkatan kualitas yang dapat dijadikan dasar bagi implementasi nyata di tahap berikutnya.
EKSPANSI STRATEGIS CV SURYA ABADI PUTRA KEMBAR: STUDI KELAYAKAN PASAR, OPERASIONAL, DAN FINANSIAL PADA INDUSTRI TEKSTIL DAN LOGISTIK
Studi ini meneliti kelayakan perluasan CV Surya Abadi Putra Kembar (SAPK), perusahaan pengolahan dan logistik limbah tekstil yang didirikan pada tahun 1988 di Bogor, ke sektor barang konsumsi kapas kecantikan (pembalut wanita). Perluasan ini didorong oleh perubahan dalam rantai nilai tekstil, meningkatnya persaingan, dan kapasitas produksi yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Penelitian ini mengevaluasi proyek berdasarkan kelayakan pasar, operasional, dan finansial. Analisis pasar menunjukkan pertumbuhan positif yang didukung oleh meningkatnya kesadaran akan kebersihan, konsumsi perawatan kulit, dan perluasan ritel modern dan e-commerce di Indonesia. Target pasar adalah perempuan perkotaan dan pinggiran kota berusia 17–39 tahun, dengan preferensi produk lokal berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Analisis operasional menunjukkan bahwa mesin yang menganggur dapat dimanfaatkan sebagian melalui model produksi hibrida, menggabungkan pemutihan dan pengeringan yang dialihdayakan dengan pemotongan dan pengemasan internal untuk mengoptimalkan biaya dan pengendalian kualitas. Analisis keuangan menggunakan proyeksi 10 tahun menunjukkan NPV positif, IRR di atas tingkat pengembalian yang dibutuhkan, dan periode pengembalian modal yang layak. Analisis sensitivitas dan Monte Carlo mengkonfirmasi ketahanan finansial. Studi ini menyimpulkan bahwa perluasan kapas kecantikan secara strategis dan finansial layak untuk pertumbuhan jangka panjang SAPK.
STRATEGI IMPLEMENTASI PEMASARAN BERKELANJUTAN UNTUK MEMPERKUAT CITRA MEREK DAN LOYALITAS PELANGGAN: STUDI KASUS GARASI DRIFT
Studi ini menganalisis implementasi strategis pemasaran berkelanjutan untuk memperkuat citra merek dan loyalitas pelanggan di Garasi Drift, sebuah brand gaya hidup otomotif terkemuka di Indonesia. Seiring pertumbuhan perusahaan dari pembuat konten menjadi bisnis multi-divisi yang mencakup penjualan merchandise dan motorsport, kebutuhan akan rencana pemasaran berkelanjutan yang jelas dan jangka panjang menjadi semakin penting. Penelitian ini membahas isu fundamental: strategi pemasaran berkelanjutan seperti apa yang tepat untuk Garasi Drift dan bagaimana strategi tersebut dapat diimplementasikan secara efektif untuk memperkuat daya saing jangka panjang, meningkatkan engagement pelanggan, dan membedakan merek dalam sektor gaya hidup otomotif. Konteks penelitian ini menyoroti meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keberlanjutan, perubahan preferensi penggemar otomotif ke arah konsumsi yang lebih bertanggung jawab, serta peluang bagi para kreator digital untuk membangun brand yang berorientasi pada nilai dan kepercayaan. Studi ini menggunakan pendekatan metode campuran yang mengintegrasikan wawasan kualitatif dan kuantitatif dari wawancara mendalam, survei pelanggan, data internal perusahaan, serta literatur sekunder. Penelitian ini menggunakan kerangka strategis seperti analisis SWOT, matriks TOWS, dan analisis SMART untuk mengembangkan rekomendasi strategis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran berkelanjutan dapat meningkatkan persepsi merek dengan memastikan bahwa identitas Garasi Drift selaras dengan keaslian, penciptaan nilai jangka panjang, dan dampak positif terhadap komunitas. Peluang strategis muncul dalam pengembangan lini produk ramah lingkungan, penggunaan konten edukatif untuk terhubung dengan pelanggan, peningkatan nilai purna jual, serta integrasi keberlanjutan ke seluruh aspek bisnis. Studi ini memperkuat praktik manajerial dengan menunjukkan bagaimana brand otomotif berbasis digital dapat memanfaatkan pemasaran berkelanjutan sebagai keunggulan kompetitif yang didukung dengan solusi bisnis dan rencana implementasi yang jelas.
MEMBANGUN DAN MEMELIHARA KONEKSI SECARA EMOSIONAL DENGAN PELANGGAN UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN TERHADAP MEREK, STUDI KASUS COOKIEGOM
Pasar soft cookies di Indonesia sangat kompetitif, sehingga koneksi emosional menjadi faktor penting dalam membangun loyalitas pelanggan. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana konsumen membentuk koneksi emosional dengan merek cookies, serta bagaimana Cookiegom sebagai usaha kecil dapat memperkuat koneksi tersebut untuk meningkatkan brand awareness dan repeat purchase. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan sepuluh konsumen yang pernah membeli Cookiegom dan Doughlab, didukung observasi digital pada media sosial dan ulasan pelanggan. Analisis tematik menunjukkan bahwa Cookiegom dipersepsikan sebagai “comfort brand” yang menawarkan kehangatan, kenyamanan, dan kesegaran, sementara Doughlab dipandang sebagai merek premium dengan visibilitas digital tinggi. Perbedaan makna emosional ini memengaruhi tingkat kelekatan, keputusan pembelian ulang, dan perilaku word-of-mouth. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan Emotional Comfort Connection Loop Model untuk menjelaskan siklus terbentuknya koneksi emosional pelanggan. Studi ini merekomendasikan penguatan storytelling emosional, peningkatan konsistensi digital, dan integrasi pengalaman lintas touchpoint sebagai strategi utama bagi Cookiegom.
JEJAK KARBON INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM PERKOTAAN DI INDONESIA: LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) RAMBUTAN DAN KARANG ANYAR II, PALEMBANG
ABSTRAK JEJAK KARBON INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM PERKOTAAN DI INDONESIA: LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) RAMBUTAN DAN KARANG ANYAR II, PALEMBANG Oleh Puteri Denita Novianti NIM: 25723306 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Perubahan iklim menuntut upaya mitigasi yang mencakup seluruh sektor infrastruktur, termasuk sistem penyediaan air minum perkotaan. Emisi gas rumah kaca (GRK) dalam proses pengolahan air minum dapat muncul pada berbagai tahap operasional, mulai dari pengambilan air baku, pengolahan, hingga distribusi, terutama jika sumber energi listrik yang digunakan masih bergantung pada jaringan yang didominasi oleh pembangkit berbahan bakar fosil. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jejak karbon pada dua instalasi pengolahan air minum (IPA) yang dioperasikan oleh Perumda Tirta Musi Kota Palembang, yaitu IPA Rambutan dan IPA Karang Anyar II, mengidentifikasi unit proses yang memiliki kontribusi emisi terbesar, dan merumuskan skenario mitigasi operasional. Analisis dilakukan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan bantuan perangkat lunak OpenLCA yang memiliki batasan studi gate-to-gate dan satuan fungsional sebesar 1 m3 air yang olahan. Dampak perubahan iklim diukur menggunakan metode IPCC 2021 AR6 GWP100. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi listrik menjadi sumber utama emisi di kedua IPA, dengan kontribusi sekitar 89% dari total emisi. Intensitas karbon masing-masing instalasi tercatat sebesar 0,2625 kg CO2-eq/m3 untuk IPA Rambutan dan 0,3244 kg CO2-eq/m3 untuk IPA Karang Anyar II yang ekuivalen dengan total emisi harian masing-masing sebesar 20.791 kg CO2-eq/hari dan 14.128 kg CO2-eq/hari. Analisis hotspot mengindikasikan bahwa unit intake dan distribusi merupakan tahapan yang paling intensif menghasilkan emisi. Skenario mitigasi menunjukkan bahwa penerapan Variable Speed Drives (VSD) pada sistem pemompaan di unit hotspot berpotensi menurunkan emisi sebesar 25–30%. Intervensi tambahan seperti pengelolaan lumpur dengan kombinasi sludge drying bed (SDB) dan constructed wetlands pada IPA Rambutan serta pemanfaatan PLTS atap di area IPA juga memberikan kontribusi dalam penurunan emisi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi stakeholder untuk perumusan strategi pengelolaan air minum perkotaan yang lebih rendah karbon dan berkelanjutan.
PERANCANGAN KERANGKA KERJA BERBASIS STRATEGI OPERASI UNTUK MENYELARASKAN PERMINTAAN DAN KAPASITAS PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PRODUSEN ES KRISTAL DALAM INDUSTRI RANTAI DINGIN
Studi ini mengidentifikasi ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar serta kinerja distribusi di sebuah usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi es kristal (Perusahaan A) di industri rantai dingin. Perusahaan memiliki total kapasitas 10 ton produksi per hari dengan mengandalkan dua mesin produksi, namun volume actual penjualan hanya mencapai 4-5 ton per hari. Situasi ini menyebabkan utilisasi produksi yang rendah dan cakupan distribusi yang terbatas. Data operasional selama periode 2024-2025 menunjukkan bahwa permintaan pelanggan berfluktuasi secara harian, mingguan, dan jam, sementara perilaku pemesanan bersifat mendadak, sehingga perusahaan tidak dapat merencanakan produksi dan rute distribusi secara optimal. Kapasitas lima kurir motor dalam radius 12 km juga menjadi bottleneck pada jam sibuk juga menghambat akurasi pengiriman. Berdasarkan kondisi ini, penelitian ini merumuskan masalah bagaimana menyelaraskan kapasitas produksi, permintaan pasar, dan kinerja distribusi dengan menentukan tujuan kinerja operasional; kualitas, kecepatan, keandalan, fleksibilitas, dan biaya yang perlu diprioritaskan. Desain penelitian menggunakan studi kasus dengan metode campuran yang didominasi kuantitatif. Analisis data arsip internal dilakukan untuk menghitung tingkat pemanfaatan produksi, tingkat pemanfaatan distribusi, rasio penjualan terhadap output, dan stabilitas kesenjangan permintaan-kapasitas. Selanjutnya, enam ahli internal (pemilik, staf administrasi, dua operator produksi, dan dua kurir) memberikan penilaian melalui Proses Hierarki Analitis (AHP), dan hasilnya diuji konsistensi sebelum digabungkan menjadi bobot prioritas kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakcocokan yang konsisten antara kapasitas terpasang dan permintaan aktual. Rata-rata utilisasi produksi berada di kisaran 34-36%, sementara beban distribusi menumpuk selama jam sibuk pagi dan sore. Analisis AHP menunjukkan bahwa biaya, kecepatan, dan keandalan merupakan prioritas utama untuk meningkatkan kinerja operasional, sejalan dengan pola ketidakefisienan yang terlihat dalam data operasional. Studi ini dalam bagian pembahasan menyoroti bahwa responsivitas distribusi, minimisasi biaya operasional yang tidak efisien, dan konsistensi penyediaan layanan dalam pemenuhan layanan merupakan hal esensial dalam menyelaraskan kapasitas dan permintaan. Kombinasi hasil operasional dan prioritas AHP menyediakan desain kerangka kerja berbasis keselarasan untuk strategi operasional. Saran untuk penelitian masa depan meliputi pengembangan sistem digital yang menggunakan data real-time dan peningkatan penyelidikan terhadap UMKM rantai dingin lainnya guna memastikan kerangka kerja strategis ini lebih valid secara eksternal.
MEMAHAMI DINAMIKA PSIKOLOGIS DAN SOSIAL DALAM TAMPILAN KONSUMEN: FONDASI UNTUK PERANCANGAN KERANGKA BRANDING REKAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana niat berkelanjutan dalam konsumsi fesyen diterjemahkan ke dalam praktik berpakaian sehari-hari, khususnya dalam konteks yang bersifat sosial dan terlihat oleh orang lain. Meskipun kesadaran terhadap fesyen berkelanjutan semakin meningkat, banyak konsumen mengalami kesulitan dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut secara konsisten dalam penggunaan pakaian sehari-hari. Kesenjangan ini terutama muncul dalam situasi di mana penampilan menjadi objek penilaian sosial, seperti di lingkungan akademik, profesional, dan media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan pengumpulan data melalui 15 wawancara mendalam semi-terstruktur dan satu diskusi kelompok terarah (FGD) yang melibatkan 7 partisipan. Partisipan dipilih secara purposif untuk merepresentasikan konsumen muda perkotaan yang menghadapi konteks berpakaian yang bersifat terlihat secara sosial. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis berdasarkan kerangka Braun dan Clarke, dengan landasan teori psikologi dan perilaku konsumen, termasuk impression management, kecemasan terkait penampilan, norma subjektif, self-efficacy, dan kepercayaan terhadap merek. Catatan observasi digunakan sebagai pelengkap untuk memperkaya pemaknaan emosional dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat berkelanjutan sering terhambat oleh kekhawatiran terhadap penilaian sosial, ketidaknyamanan emosional saat mengulang pakaian, serta keterbatasan kepercayaan diri dalam melakukan styling. Penelitian ini juga menyoroti peran merek fesyen dalam memediasi tekanan tersebut melalui pemberian legitimasi sosial, dukungan praktis, dan komunikasi keberlanjutan yang kredibel. Temuan ini berkontribusi pada literatur fesyen berkelanjutan dan memberikan implikasi strategis bagi praktik branding yang mendukung konsumsi bertanggung jawab sesuai dengan SDG 12.
ANALISIS DIVERSIFIKASI STRATEGIS: PENGEMBANGAN STRATEGI BISNIS UNTUK MANUFAKTUR DAPUR PROGRAM MBG
CV XYZ, produsen alat medis yang didirikan pada tahun 2003, menghadapi tantangan strategis dalam memperluas operasinya di pasar dapur industri Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia. Meskipun berhasil masuk ke pasar, perusahaan ini dihadapkan pada tiga kendala kritis: kapasitas produksi yang terbatas, dan hambatan harga premium. Penelitian ini menganalisis bagaimana CV XYZ dapat merumuskan strategi bisnis yang tepat untuk mencapai tujuan pertumbuhan sambil mempertahankan keunggulan kompetitifnya di pasar MBG yang sangat kompetitif dan sensitif terhadap harga. Penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif yang menggabungkan data primer melalui survei kuesioner untuk mengukur kekuatan kompetitif, wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan internal, dan analisis dokumen, dilengkapi dengan data sekunder dari dokumen pemerintah dan laporan industri. Analisis menerapkan kerangka strategis termasuk Analisis Lingkungan Umum, Analisis Industri, Analisis Pesaing, Pandangan Berbasis Sumber Daya, dan Analisis Rantai Nilai. Sintesis SWOT mengidentifikasi isu strategis kritis, sementara Matriks TOWS menghasilkan alternatif strategis yang dievaluasi melalui matriks kriteria berimbang. Analisis menunjukkan bahwa CV XYZ memiliki sumber daya unik, termasuk keahlian manufaktur berstandar medis, sertifikasi komprehensif (ISO 13485, CPAKB, Halal, SLHS, HACCP), perangkat lunak eksklusif, rekam jejak tanpa insiden, dan kemampuan konstruksi modular. Lingkungan eksternal menunjukkan peluang yang signifikan melalui program pemerintah berskala besar yang membutuhkan sekitar 30.000 dapur secara nasional, meskipun diimbangi oleh persaingan harga yang intens. Krisis keamanan pangan menciptakan premi kualitas sementara, memperluas pasar yang dapat dijangkau dari 10-15% menjadi 20-25% dari pembeli yang peduli kualitas. Tiga alternatif strategis muncul: Pertahanan Niche Premium, Penetrasi Pasar Massal, dan Kepemimpinan Pasar Terintegrasi. Evaluasi menunjukkan Kepemimpinan Pasar Terintegrasi memperoleh skor 4,05, jauh di atas alternatif lain (3,20 dan 3,00), mencerminkan kinerja unggul dalam pencapaian pertumbuhan dan pengembalian keuangan sambil mempertahankan keunggulan kompetitif. Strategi Differensiasi yang direkomendasikan menerapkan tiga tingkatan produk: Premium, Standar, dan Esensial. Implementasi dilakukan secara bertahap setiap kuartal hingga 2026.