📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN MODEL EVALUASI VENDOR PRODUKSI PIHAK KETIGA: MEMPERKUAT SISTEM MANAJEMEN VENDOR PADA INDUSTRI FASHION USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)
Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di industri fashion, kerja sama outsourcing merupakan praktik umum dalam kegiatan produksi. Meskipun membantu mengurangi beban operasional, outsourcing sering menimbulkan permasalahan seperti tingginya tingkat cacat produk, ketidakkonsistenan pengiriman, komunikasi yang kurang efektif, serta lemahnya posisi tawar terhadap vendor. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh proses evaluasi vendor yang masih bersifat informal dan tidak terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model evaluasi vendor yang praktis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) agar UMKM fashion dapat memilih vendor secara lebih sistematis. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama mengidentifikasi dan memvalidasi kriteria pemilihan vendor menggunakan kerangka BCOR (Benefit, Cost, Opportunity, dan Risk) beserta subkriteria yang relevan bagi UMKM fashion melalui kuesioner kepada sembilan pemilik bisnis fashion. Tahap kedua menerapkan AHP untuk menghitung bobot kriteria dan membandingkan dua kelompok UMKM, yaitu growing dan mature. Hasilnya menunjukkan pola penilaian yang relatif serupa sehingga memungkinkan penggunaan model pembobotan terintegrasi. Tahap ketiga melakukan numerical example pada tiga vendor nyata yang dilengkapi dengan sensitivity analysis untuk menguji stabilitas peringkat vendor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cost dan Risk merupakan kriteria paling dominan dalam pemilihan vendor UMKM fashion, dengan subkriteria biaya produksi, risiko inkonsistensi kualitas, dan reputasi vendor sebagai faktor utama. Model AHP terintegrasi terbukti stabil pada berbagai profil UMKM, serta menghasilkan peringkat vendor yang konsisten meskipun terjadi perubahan bobot kriteria. Model ini diharapkan dapat menjadi alat praktis bagi UMKM dalam mengevaluasi dan memilih vendor secara objektif dan transparan.
PRINSIP PERANCANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA STUDI KASUS: ZONA INTI DAN PENYANGGA SUMBU FILOSOFI YOGYAKARTA BAGIAN SELATAN
Sumbu Filosofi Yogyakarta merupakan sebuah warisan budaya yang termanifestasikan secara fisik melalui tatanan struktur kota berbasis sumbu. Manifestasi tersebut merepresentasikan gagasan kosmologis dan filosofis terkait kehidupan, yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2023. Hal ini mempertegas signifikansi Sumbu Filosofi Yogyakarta dalam konteks sejarah, budaya, dan peradaban di tingkat dunia. Dokumen nominasi UNESCO membagi Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu bagian Utara, Tengah, dan Selatan. Diantara ketiganya, upaya pelestarian serta pengelolaan pada Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan masih belum terimplementasi secara signifikan. Selain itu, kawasan ini belum memiliki arahan perancangan spesifik yang mampu menjembatani urgensi pelestarian warisan budaya dengan upaya menghadapi dinamika kota guna menjamin keberlanjutan kawasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan prinsip perancangan sebagai landasan pengembangan Zona inti dan Penyangga Sumbu Filosofi bagian Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat eksploratif dengan pendekatan abduktif melalui studi kasus. Kajian diawali dengan studi literatur yang mencakup regulasi, dokumen, teori, maupun literatur terkait lainnya. Kajian tersebut memberikan kerangka konseptual prinsip normatif perancangan Kawasan Cagar Budaya (KCB) berbasis sumbu sebagai situs Warisan Budaya Dunia (WBD), serta makna dan peran Sumbu Filosofi Yogyakarta. Selanjutnya analisis karakter spasial dilakukan melalui observasi lapangan untuk memahami kondisi eksisting kawasan. Selain itu, analisis isi melalui coding dilakukan terhadap hasil wawancara agar dapat menggali perspektif ahli lebih dalam, baik akademisi, praktisi, maupun pemangku kepentingan lokal. Kajian-kajian tersebut menghasilkan potensi dan persoalan kawasan yang kemudian diintepretasikan ke dalam kriteria perancangan. Kriteria-kriteria tersebut menjadi jembatan yang mengubungkan kebutuhan kawasan dengan rumusan prinsip perancangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 (empat) prinsip perancangan yang dapat diterapkan pada Zona Inti dan Penyangga Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan, yaitu Contextuality, Cognitive Legibility, Spatial Continuity, dan Responsive Streetscape. Prinsip Contextuality menekankan pada perancangan yang adaptif terhadap konteks kawasan dari berbagai aspek untuk menjaga harmoni kawasan. Prinsip Cognitive Legibility memperkuat sense of place kawasan melalui tatanan elemen spasial yang memudahkan pengguna untuk memahami identitas kawasan. Prinsip Spatial Continuity menjamin kesinambungan elemen ruang dalam menjaga integritas kawasan yang mempertegas keberadaan sumbu. Prinsip Responsive Streetscape mendorong tranformasi koridor jalan menjadi ruang publik yang bersifat inklusif dan responsif terhadap kebutuhan beragam pengguna. Meskipun setiap prinsip memiliki fungsi strategis yang berbeda, integrasi dari keempat prinsip tersebut akan memastikan setiap intervensi desain dapat terarah dengan lebih optimal dalam memperbaiki kualitas spasial kawasa studi. Sebagai arahan perancangan, keempat prinsip tersebut diharapkan dapat melindungi nilainilai penting yang ada sekaligus menjawab tantangan pembangunan secara berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut bukan hanya berkontrubusi dalam pelindungan terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan, namun juga memberikan wawasan yang lebih luas terhadap pengintegrasian nilai-nilai warisan budaya pada praktik rancang kota.
GEOLOGI DAERAH KECAMATAN BONEPANTAI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BONE BOLANGO, PROVINSI GORONTALO
Berdasarkan studi literatur, wilayah Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo merupakan daerah dengan potensi endapan mineral. Namun, informasi geologi rinci di daerah tersebut masih sangat terbatas; oleh karena itu, diperlukan kajian geologi yang lebih rinci untuk membangun pemahaman dasar sebelum tahapan eksplorasi lanjut dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi geologi daerah Bonepantai dan sekitarnya yang meliputi geomorfologi, litologi, stratigrafi, dan struktur geologi, serta merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi dengan skala 1:25.000, didukung oleh studi literatur, analisis geomorfologi, analisis petrografi, dan analisis struktur geologi. Berdasarkan Pemetaan geologi pada luas 59,39 km², teridentifikasi enam satuan geomorfologi meliputi Perbukitan Aliran Lava Bondawuna, Perbukitan Intrusi Pelita Hijau, Perbukitan Intrusi Tunas Jaya, Punggungan Aliran Piroklastik Tamboo, dan Perbukitan Sisa Gunungapi Tulabolo Barat. Terdapat 10 satuan batuan yang terpetakan, terdiri atas yang tertua: Satuan Batupasir–Batulanau, Satuan Batugamping, Satuan Lava Andesit, Satuan Tuf Dasit, Satuan Tuf Lapili, Satuan Intrusi Diorit, Satuan Intrusi Andesit Piroksen, Satuan Intrusi Granit, Satuan Breksi Hidrotermal, dan Satuan Breksi Tuf. Struktur geologi berupa delapan sesar terpetakan dan dikelompokkan ke dalam dua tahap deformasi. Tahap pertama meliputi sesar mendatar dekstral NW–SE, sesar mendatar sinistral NNE–SSW, serta sesar normal NNW–SSW. Tahap kedua menghasilkan sesar normal dan normal-menganan ENE–WSW. Satuan granit yang tidak terpotong oleh sesar diinterpretasikan sebagai intrusi pascakolisi yang berkaitan dengan fase magmatisme pascakolisi pada rezim ekstensional, yang dipicu oleh proses rollback subduksi di Palung Sulawesi Utara. Integrasi data struktur geologi berupa sesar, kekar gerus dan kekar tarik menunjukkan bahwa daerah Bonepantai dikontrol oleh sistem ekstensional yang berhubungan dengan subduksi rollback Laut Sulawesi Utara. Selain itu, keberadaan breksi hidrotermal mengindikasikan adanya sistem hidrotermal yang berkembang dan berpotensi membawa mineralisasi.
PERANCANGAN KAWASAN SEKITAR JALAN SLAMET RIYADI – BALAIKOTA SURAKARTA SEBAGAI CITRA KOTA FESTIVAL
Sebagai salah satu destinasi wisata kota budaya di Indonesia, Kota Surakarta memiliki citra sebagai pusat budaya Jawa dengan slogan “Solo, The Spirit of Java.” Berbagai event dan festival berskala lokal, nasional, hingga internasional yang rutin diselenggarakan telah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, pesatnya pertumbuhan penyelenggaraan event dan festival tersebut perlu dikaji lebih lanjut terkait faktor, pengaruh, serta dampaknya terhadap pembentukan dan penguatan citra Kota Surakarta. Di sisi lain, penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur ruang kota sebagai penunjang aktivitas kreatif dan event belum sepenuhnya mampu mengakomodasi dinamika tersebut apabila ditinjau melalui unsur utama wacana ruang, yaitu space, event, dan movement (S-E-M) sebagaimana dikemukakan oleh Tschumi (1981). Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan perancangan yang mampu merespons hubungan dinamis antara ruang kota, aktivitas event, dan pola pergerakan secara terpadu dan berkelanjutan. Tesis desain ini bertujuan untuk merancang sarana dan prasarana infrastruktur ruang kota pada kawasan sekitar Jalan Slamet Riyadi–Balaikota Surakarta dengan memperhatikan kebutuhan ruang yang selaras dengan karakter Kota Festival. Perancangan dilakukan dengan menggunakan kerangka teori Space–Event–Movement sebagai dasar dalam merumuskan strategi desain kawasan, sehingga ruang kota tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga adaptif terhadap berbagai skenario aktivitas harian dan event. Strategi desain difokuskan pada pengaturan keterkaitan antara struktur ruang, fleksibilitas fungsi, dan sistem pergerakan guna mendukung keberlangsungan berbagai event dan festival. Hasil tesis desain ini berupa model perancangan kawasan sekitar Jalan Slamet Riyadi–Balaikota Surakarta yang mampu meningkatkan kualitas fisik dan fungsional ruang kota, sekaligus memperkuat citra Kota Surakarta sebagai Kota Festival yang inklusif, dinamis, dan berkelanjutan.
GEOLOGI DAN PENILAIAN GEOWISATA DI WILAYAH GUNUNG TAMPOMAS, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT
Wilayah Gunung Tampomas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat memiliki bentang alam vulkanik dan berpotensi untuk dijadikan kawasan geowisata. Namun, kawasan ini hanya dimanfaatkan untuk rekreasi visual semata, tanpa adanya integrasi dengan aspek edukasi kebumian yang mendalam. Kendala utama yang dihadapi adalah belum adanya deskripsi setiap situs geologi, interpretasi proses pembentukan situs geologi, dan penilaian kuantitatif terhadap situs geologi. Tidak adanya ketiga komponen tersebut menghambat transformasi wilayah Gunung Tampomas menjadi laboratorium alam yang dapat memberikan nilai edukasi dan konservasi. Maksud dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi data geologi untuk merekonstruksi pembentukan setiap situs geologi dan melakukan penilaian kuantitatif yang terukur untuk merancang rekomendasi pengembangan jalur wisata alam berbasis edukasi. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan lapangan dan laboratorium. Pengambilan data primer dilakukan di lima situs geologi: Mata Air Cikandung, Curug Cipadayungan, Curug Ciputrawangi, Mata Air Cipanas Cileungsing, dan Mata Air Ciembutan. Analisis petrografi dilakukan untuk menentukan mineralogi dan nama batuan secara presisi. Pengambilan data struktur juga dilakukan untuk melengkapi interpretasi pembentukan situs geologi. Selanjutnya, penilaian kelayakan setiap situs geologi dilakukan dengan menggunakan metode penilaian kuantitatif yang mengevaluasi lima kategori: Nilai ilmiah dan intrinsik, nilai edukasi, nilai ekonomi, nilai konservasi, dan nilai tambah. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya untuk memberikan gambaran holistik yang menyeimbangkan aspek saintifik dan aspek manajemen pariwisata berkelanjutan. Hasil dan pembahasan menunjukkan keragaman vulkanik yang kompleks pada pembentukan Gunung Tampomas. Mata Air Cikandung diinterpretasikan sebagai mata air kontak di endapan Aliran Piroklastik Tampomas 1 dengan litologi bongkahan-bongkahan dasit yang masif dan akuifer dikontrol oleh porositas sekunder. Curug Cipadayungan tersusun atas batuan tuf kristal yang mengalami proses pengelasan dan membentuk dinding air terjun yang resisten akibat suhu pengendapan yang tinggi disertasi kemunculan kekar akibat gaya tektonik lokal. Curug Ciputrawangi memperlihatkan lava andesit dengan fitur kekar berlembar yang terbentuk akibat pelepasan beban tekanan batuan dan adanya muncul shear fracture. Mata Air Cipanas Cileungsing merupakan manifestasi panas bumi yang bertipe lateral outflow yang muncul pada Satuan Jatuhan Piroklastik yang berada di atas satuan aliran lava dengan jejak oksidasi besi yang kuat. Mata Air Ciembutan muncul dari lapisan tuf gelas yang berfungsi sebagai filter alami sehingga menghasilkan air yang memiliki rona turquoise. Berdasarkan penilaian kuantitatif geowisata, Curug Ciputrawangi menempati peringkat kelayakan tertinggi dengan skor akhir 58,3, didukung oleh nilai ilmiah yang baik, infrastruktur yang memadai, dan adanya produk lokal (kerupuk opak). Mata Air Cipanas Cileungsing menyusul dengan skor 55,8 berkat nilai tambah budaya dan ekonomi yang tinggi. Mata Air Cikandung memperoleh skor 53,3 berkat nilai tambah budaya, aksesibilitas mudah, dan infrastruktur yang memadai. Curug Cipadayungan mendapatkan skor 38,3 karena belum adanya perlindungan hukum dan memiliki nilai tambah yang kurang baik. Meskipun begitu, Curug Cipadayungan memiliki nilai ilmiah dan intrinsik yang tergolong tinggi karena memiliki memiliki keunggulan di keragaman geologi dan tidak terdapat kerusakan pada situs. Mata Air Ciembutan tercatat memiliki skor terendah, yaitu 27,5 yang disebabkan oleh minimnya aksesibilitas dan fasilitas penunjang meskipun memiliki potensi ilmiah yang unik. Letak kebaruan penelitian ini terdapat proses integrasi data mikropetrografi, evaluasi pariwisata numerik yang belum pernah dilakukan sebelumnya di kawasan ini, dan penyusunan peta rekomendasi geotrek yang membentang dari barat, utara, hingga timur Gunung Tampomas.
SIMULASI ALIRAN AKIBAT KERUNTUHAN BENDUNGAN LIMBAH TAMBANG DENGAN HEC-RAS 2D DAN METODE BEDA HINGGA MAC-CORMACK UNTUK ALIRAN DEBRIS DAN NON-DEBRIS STUDI KASUS: TAILING STORAGE FACILITY (TSF) UMPANG KARANG, KABUPATEN BANYUWANGI, PROVINSI JAWA TIMUR
Bendungan limbah tambang menyimpan material berupa lumpur yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan masyarakat apabila terjadi kegagalan atau keruntuhan, dimana overtopping merupakan penyebab kegagalan yang paling umum terjadi. Pada umumnya, simulasi keruntuhan bendungan hanya mempertimbangkan aliran air (non-debris) tanpa memperhitungkan material padat yang terbawa, padahal aliran lumpur (debris) memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi akibat densitas dan kemampuan angkut material yang lebih besar. Penelitian ini membahas simulasi keruntuhan Bendungan Limbah Tambang Umpang Karang yang berlokasi di Tujuh Bukit Copper Gold Minesite, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Simulasi aliran akibat keruntuhan bendungan dilakukan menggunakan program HEC-RAS 2D versi 6.6 serta model numerik berbasis metode beda hingga dengan skema Mac-Cormack yang dikembangkan menggunakan program Fortran. Dua kondisi hidrologi awal yang dipertimbangkan adalah kondisi hari cerah (sunny day) dan hari hujan (rainy day), yang keduanya diasumsikan terjadi akibat kegagalan overtopping. Kondisi sunny day merepresentasikan keruntuhan pada cuaca normal tanpa curah hujan dan tambahan aliran masuk, sedangkan kondisi rainy day merepresentasikan keruntuhan yang terjadi saat atau setelah hujan ekstrem dengan kondisi waduk terisi penuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik aliran debris dan non-debris serta pengaruhnya terhadap area hilir bendungan, memetakan daerah genangan untuk masing-masing jenis aliran pada kondisi sunny day dan rainy day, membandingkan hasil simulasi antara HEC-RAS 2D dan model numerik skema Mac-Cormack, serta melakukan pemetaan bahaya banjir berdasarkan kedalaman genangan dan kecepatan aliran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran debris memberikan dampak yang lebih signifikan dibandingkan aliran non-debris, ditandai dengan debit puncak, volume aliran, kedalaman genangan, dan kecepatan aliran yang lebih besar. Skenario rainy day menghasilkan area genangan yang lebih luas dibandingkan sunny day, dengan kondisi paling kritis terjadi pada skenario debris rainy day, yaitu area genangan sebesar 11.490.309,85 m², kedalaman genangan maksimum 10,30 m, dan kecepatan aliran maksimum 9,50 m/s. Perbandingan hasil simulasi menunjukkan bahwa kedua model menghasilkan pola genangan yang konsisten meskipun terdapat perbedaan kuantitatif. Pengaruh pasang surut tidak signifikan pada aliran non-debris, namun mulai memengaruhi sebaran genangan aliran debris sekitar empat jam setelah keruntuhan. Pemetaan bahaya banjir menunjukkan tingkat bahaya tertinggi terjadi pada skenario aliran debris, khususnya di area hilir yang dekat dengan bendungan, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar evaluasi risiko dan perencanaan mitigasi keruntuhan bendungan limbah tambang.
PENGARUH PAJANAN DEBU RESPIRABLE DAN LOGAM TERHADAP FUNGSI PARU-PARU PEKERJA DI PT. X
Industri PVC compound memiliki berbagai proses produksi yang berpotensi menghasilkan debu respirable dan unsur kimia berbahaya yang dapat berdampak terhadap kesehatan pekerja, khususnya fungsi paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi debu respirable terinhalasi pada pekerja industri PVC compound, mengidentifikasi komposisi unsur logam, serta menilai risiko kesehatan akibat pajanan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan personal sampler pump yang dipasang pada pekerja di tujuh bagian pekerjaan, yaitu weighing, mixer, extruder, operator, mobile worker, warehouse, dan office sebagai area kontrol. Analisis konsentrasi debu respirable dilakukan dengan metode gravimetri, sedangkan karakterisasi unsur kimia pada filter dilakukan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF). Fungsi paru pekerja diukur menggunakan pemeriksaan spirometri dan dianalisis keterkaitannya dengan pajanan debu respirable dan logam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata konsentrasi debu respirable tertinggi terdapat pada area weighing sebesar 3340 µg/m³. Dari hasil karakterisasi, teridentifikasi 14 unsur kimia dalam sampel debu, dengan unsur Pb dan Si menunjukkan konsentrasi tinggi pada beberapa bagian kerja—Pb pada area weighing (695,67 µg/m³), mixer (63,07 µg/m³), dan mobile worker (78,46 µg/m³); serta Si pada area weighing (162,72 µg/m³), mixer (63,07 µg/m³), dan warehouse (25,03 µg/m³). Analisis hubungan antarunsur menunjukkan bahwa Fe, K, dan Mn memiliki hubungan yang kuat sehingga dapat berperan sebagai unsur penanda dari proses produksi PVC compound. Hasil penilaian risiko kesehatan menunjukkan bahwa nilai Hazard Quotient (HQ) tertinggi diperoleh dari unsur Pb, dan sebanyak 38 pekerja memiliki nilai Hazard Index (HI) > 1, yang mengindikasikan potensi risiko kesehatan non-karsinogenik. Pengendalian risiko yang disarankan meliputi peningkatan sistem ventilasi pada area berdebu seperti weighing, mixer, dan extruder, serta penggunaan alat pelindung pernapasan yang sesuai standar untuk menurunkan potensi pajanan debu respirable terhadap pekerja.
KAJIAN PEMBANGUNAN DAN REVITALISASI DRAINASE UTAMA TERHADAP BANJIR DAN PERUBAHAN MORFOLOGI DI SUNGAI ASAM KOTA JAMBI
Kota Jambi sebagai ibukota Provinsi Jambi memiliki peran strategis sebagai pusat pemerintahab, perdagangan, dan jasa. Namun, hingga saat ini permasalahan banjir masih sering terjadi dan menimbulkan dampak signifikan terhadap masyarakat serta infrastruktur publik. Salah satu penyebab utama banjir adalah menurunnya kapasitas Sungai Asam yang melintasi kawasan perkotaan. Kondisi tersebut di perparah oleh morfologi Sungai Asam yang berkelok, penyempitan penampang akibat pemukiman di bantaran sungai, serta fluktuasi muka air di Sungai Batanghari yang merupakan outlet dari Sungai Asam yang dapat menghambat aliran banjir dari hulu. Untuk mengurangi dampak banjir yang terjadi Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi melakukan penanganan berupa pembangunan dan revitaliasi darinase utama Kota Jambi dengan melaksanakan normaliasi sungai, perlindungan tepi sungai (revetment) dan rehabilitasi pompa. Penelitian ini menganalisis penanganan banjir tersebut dalam mereduksi genangan banjir dan pengaruhnya terhadap perubahan morfologi dasar sungai. Kajian dilakukan pada Sungai Asam sepanjang 12,04 km. Analisis hidrologi menggunakan HEC-HMS dengan metode HSS SCS-CN. Analisis Hidraulika berupa permodelam banjir menggunakan HEC-RAS 1D untuk memperoleh profil muka air dan HEC-RAS 2D untuk memperoleh luas genangan dan lokasi banjir, sedangkan pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D untuk mengetahui perubahan morfologi dasar sungai. Hasil analisis hidrologi diperoleh debit banjir recana kala ulang 25 tahun sebesar 141,70 m3/s. Hasil pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS 1D dengan Q25 pada kondisi eksisting menunjukan kapasitas Sungai Asam belum mampu menampung debit banjir dengan luapan terjadi sepanjang sungai dengan ketinggian ±0,30 – 2,00 m, sedangkan pada kondisi penanganan berupa normaliasasi dan revetment terdapat segmen yang tidak terjadi luapan banjir yaitu pada segmen 1 dan segmen 2, sedangkan pada segmen 3, segmen 4 dan segmen 5 masih terdapat lupan banjir setinggi ±0,30 – 1,80 m. Hasil pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS 2D dengan debit Q25 diperoleh luas dan genangan banjir berturut-turut pada kondisi eksisting seluas 117,78 Ha; pada kondisi rencana penanganan berupa normalisasi dan revetment seluas 39,45 Ha dengan reduksi sebesar 66,51%; serta pada kondisi usulan pengananan berupa kolam retensi dan parapet seluas 23.47 Ha dengan reduksi sebesar 80.07%. Hasil simulasi menggunakan HEC-RAS 2D juga menunjukan bahwa 6 unit pompa dengan total kapasitas 15 m3/s belum mampu mencegah terjadinya luapan di stasiun pompa asam pada kondisi muka air Sungai Batanghari lebih tingg dari pada muka air banjir di Sungai Asam, tetapi usulan pengendalian banjir berupa kolam retensi dan parepet dapat menunda kedatangan banjir dan mepercepat proses surutnya lupaan ditunjukan dengan penurunan durasi surut pada kondisi eksisting semula 19 jam menjadi 14 jam 30 menit. Hasil pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D dengan debit rerata bulanan selama satu tahun menunjukan pada kondisi eksisting perubahan morfologi dasar Sungai Asam relatif seimbang sepanjang sungai dengan agradasi sebesar ±216,53 m³/tahun dan degradasi sebesar ±191,36 m³/tahun, pada kondisi rencana penanganan berupa normalisasi dan revetment terjadi penurunan agradasi menjadi 83,43 m3/tahun serta perubahan morfologi dasar Sungai dari sebelumnya relatif seimbang menjadi lebih terlokaliasi dengan total degradasi sebesar ±187,09 m3/tahun terutama pada bagian hilir sungai, pada kondisi usulan penanganan berupa kolam retensi dan parapet terjadi penurunan degradasi menjadi ±145,19 m3/tahun dan agrdasi menjadi 79,45 m3/tahun, dimana keberadaan kolam retensi menyebabkan perubahan pola dasar sungai, dengan agradasi di bagian hulu kolam retensi dan degradasi di hilir, sedangkan pada kondisi penangan berupa normalisasi dan revetment menggunakn debit banjir Q25 perubahan morfologi dasar sungai didominasi oleh degrdasi dengan total sebesar 20,02 m3/hari dan agradasi sebesar 4,32 m3/hari.
STUDI DESAIN KAWASAN RAMAH ANAK UNTUK MENDUKUNG PERJALANAN AKTIF BERDASARKAN PERSEPSI SISWA SEKOLAH DASAR (KASUS STUDI: KELAS 4 SDN 200 LEUWIPANJANG, KOTA BANDUNG)
Penurunan praktik Active School Travel (AST) atau perjalanan aktif ke sekolah menjadi fenomena global yang juga terjadi di Indonesia, meskipun kebijakan zonasi pendidikan telah diterapkan untuk mendekatkan jarak tempat tinggal siswa. Penelitian ini didasari oleh permasalahan di SDN 200 Leuwipanjang, Kota Bandung, di mana potensi keterjangkauan spasial di kawasan permukiman padat terhambat oleh rendahnya kualitas ruang yang tidak mendukung keselamatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan rekomendasi desain kawasan ramah anak yang dapat meningkatkan perjalanan aktif, dengan menjadikan persepsi dan pengalaman subjektif siswa kelas 4 sebagai dasar utama kajian. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods) dengan strategi sekuensial eksploratori. Fase kualitatif melibatkan observasi, Focus Group Discussion (FGD), Story Map, dan Sticker Voting untuk menggali persepsi anak terhadap lingkungan mereka. Fase kuantitatif dilakukan melalui Visual Preference Survey (VPS) dengan desain Pre-test dan Post-test untuk menguji efektivitas rekomendasi desain yang dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil penelitian mengidentifikasi terbentuknya hierarki kebutuhan mobilitas anak, di mana aspek keselamatan dan keamanan dari ancaman lalu lintas serta lingkungan menjadi fondasi mutlak sebelum aspek kenyamanan dan keindahan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan intervensi desain yang mencakup penerapan Zona Selamat Sekolah (ZoSS) komprehensif, pemisahan jalur pejalan kaki visual (at-grade separation) pada jalan lingkungan, transformasi gang sempit menjadi ruang aman, serta penyediaan fasilitas Park 'n' Stride dan Pocket Park. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa rekomendasi desain tersebut secara statistik signifikan (p < 0.05) mampu meningkatkan persepsi positif anak terhadap keamanan dan kenyamanan kawasan, dengan dampak peningkatan tertinggi tercatat pada intervensi di area gang. Studi ini menyimpulkan bahwa intervensi infrastruktur mikro yang responsif terhadap persepsi anak sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keberlanjutan perjalanan aktif di kawasan permukiman padat perkotaan.
EKSTRAKSI GELOMBANG AKUSTIK MENGGUNAKAN DEMODULASI FASE PADA SINYAL KELUARAN INSTRUMEN DISTRIBUTED ACOUSTIC SENSING (DAS) FIBER OPTIC
Distributed Acoustic Sensing (DAS) berbasis fiber optic memungkinkan pemantauan getaran secara terdistribusi dengan merekam sinyal hamburan balik Rayleigh, di mana gangguan mekanik memodulasi fase optik. Instrumen DAS yang digunakan pada penelitian ini menghasilkan keluaran berupa data interferometrik mentah komponen in-phase (I) dan quadrature (Q), sehingga diperlukan pemrosesan numerik untuk mengekstrak sinyal akustik. Penelitian ini mengembangkan alur pemrosesan untuk mengonversi data biner I/Q menjadi amplitudo, fase optik, fase kontinu melalui phase unwrapping, serta beda fase/gradien spasial sebagai proxy terhadap regangan (strain). Selanjutnya, filter digital band-pass diterapkan untuk mengekstraksi komponen akustik pada frekuensi target, disertai evaluasi performa tambahan menggunakan metrik Signalto-Noise Ratio (SNR). Validasi dilakukan menggunakan data sintetik berbasis I/Q yang merepresentasikan fase statik Rayleigh dan modulasi fase dengan dua skenario sumber (stasioner dan bergerak). Frekuensi sumber utama diatur sekitar 200 Hz agar konsisten dengan pengujian real, serta ditambahkan ilustrasi frekuensi rendah 10 Hz untuk menunjukkan pemulihan sinyal melalui tahapan demodulasi, unwrapping, dan pemfilteran. Tahapan pemrosesan yang sama kemudian diaplikasikan pada data real dari eksperimen laboratorium menggunakan kabel fiber optic single-mode nonarmored. Hasil menunjukkan bahwa visualisasi spasial-temporal (DAS record section) berhasil menampilkan respons akustik terdistribusi pada pita frekuensi target dan menyediakan dasar kuantitatif tambahan untuk menilai kualitas pengukuran melalui SNR. Penelitian ini menyediakan alur pemrosesan yang dapat direproduksi untuk pengolahan data mentah instrumen DAS serta menjadi landasan bagi pengembangan pengujian dan pemrosesan lanjutan.
EKSTRAKSI LOKASI BERBASIS NER DARI TEKS PENGADUAN MASYARAKAT UNTUK PEMANTAUAN WILAYAH KOTA
Penyampaian aspirasi dan keluhan masyarakat di Kota Cimahi saat ini belum optimal karena sistem pengaduan masyarakat belum berbasis spasial. Masalah utama terletak pada format pengaduan yang tidak terstruktur, dimana penyampaian pengaduan cenderung tidak formal dan mengandung kesalahan pengetikan, singkatan, hingga penggunaan bahasa daerah. Kondisi ini menyebabkan proses identifikasi lokasi kejadian menjadi sulit jika dilakukan secara konvensional. Akibatnya, distribusi pengaduan tidak dapat dipetakan dengan cepat dan akurat, yang berdampak pada lambatnya respon penanganan di lapangan serta sulitnya melakukan pemantauan tindak lanjut secara kewilayahan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem ekstraksi lokasi yang mengintegrasikan Named Entity Recognition (NER) dan geocoding. Pemodelan NER dilakukan melalui proses fine-tuning pada XLM-RoBERTa, dengan menggunakan 1.350 contoh teks pengaduan masyarakat Kota Cimahi yang dianotasi secara manual untuk menandai entitas nama jalan, nama wilayah administrasi, point of interest, jarak, keterangan, dan aduan. Setelah entitas berhasil diidentifikasi oleh model NER, dilakukan geocoding melalui pencocokan bertingkat dari level yang paling spesifik ke tingkat yang lebih umum. Sistem ini menggunakan data referensi lokal yang merupakan hasil integrasi dari Peta Rupabumi Indonesia (RBI), data OpenStreetMap (OSM), dan basis data nama geografi dari Sistem Informasi Nama Rupabumi (Sinar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model NER mencapai performa tinggi dengan nilai F1-score sebesar 93,95%. dan macro average sebesar 88,56%. Pada tahap geocode dihasilkan match rate sebesar 93,75% dengan akurasi posisi mencapai 95,56%. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi metode transformer dan geocoding bertingkat efektif dalam mengonversi teks pengaduan menjadi data spasial yang akurat untuk mendukung percepatan respon penanganan keluhan dan pemantauan wilayah di Kota Cimahi.
PEMILIHAN DESAIN PLTS OFF GRID UNTUK BASE TRANSCEIVER STATION MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENYIMPANAN ENERGI HIDROGEN
Penyediaan pasokan listrik yang andal untuk Base Transceiver Station (BTS) di daerah terpencil masih menjadi tantangan utama akibat keterbatasan ketersediaan jaringan listrik dan ketergantungan yang berkelanjutan pada generator diesel berbiaya tinggi. Penelitian ini mengkaji perancangan optimal sistem fotovoltaik (PV) off-grid yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi hidrogen (Hydrogen Energy Storage System/HESS) untuk meningkatkan keandalan dan keberlanjutan pasokan energi. Perancangan dan pemilihan sistem dilakukan menggunakan perangkat lunak simulasi HOMER Pro dengan studi kasus di Tanjung Kiaok, Jawa Timur, Indonesia. Beberapa konfigurasi sistem dievaluasi berdasarkan Levelized Cost of Energy (LCOE), keandalan pasokan listrik, dan pemanfaatan energi surplus. Konfigurasi terpilih terdiri atas modul PV, penyimpanan baterai, elektroliser, dan tangki penyimpanan hidrogen serta menghasilkan biaya energi (Cost of Energy/COE) sebesar 0,2509 USD per kWh, yang berada dalam rentang LCOE tipikal yang dilaporkan untuk sistem energi hibrida terbarukan sejenis. Selanjutnya, energi listrik surplus dikonversi menjadi hidrogen sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan melalui potensi penjualan hidrogen kepada BTS terdekat atau pengguna lokal lainnya. Dibandingkan dengan sistem pembangkit listrik berbasis diesel konvensional, solusi yang diusulkan mampu menurunkan biaya energi, mengurangi kebutuhan operasi dan pemeliharaan, serta mendukung perluasan akses energi bersih dan berkelanjutan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia.
STUDI ANALISIS KARAKTERISTIK RESERVOIR KARBONAT PADA LAPANGAN JORRVASKR, FORMASI KUJUNG, CEKUNGAN JAWA TIMUR
Cekungan Jawa Timur merupakan cekungan penghasil hidrokarbon yang penting, dimana Lapangan Jorrvaskr menjadi salah satu lapangan produksi utamanya. Lapangan ini memproduksikan hidrokarbon dari reservoir karbonat Formasi Kujung yang bersifat heterogen. Heterogenitas ini disebabkan oleh variasi lingkungan pengendapan dan pengaruh proses diagenesis yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan studi yang mengintegrasikan analisis fasies, diagenesis, dan petrofisika untuk dapat mengkarakterisasi serta memahami kualitas dan sebaran reservoir secara rinci. Penelitian ini menggunakan data log tali kawat (wireline log) dan data batuan inti (core) dari total 20 sumur. Metode yang digunakan mencakup beberapa tahapan analisis, yaitu analisis fasies berdasarkan deskripsi inti batuan, analisis diagenesis untuk mengetahui perubahan batuan pasca-pengendapan, dan evaluasi petrofisika. Melalui evaluasi petrofisika, dihitung properti-properti reservoir, mencakup volume serpih (Vsh), porositas efektif (PHIE), dan saturasi air (Sw). Hasil analisis menunjukkan reservoir penelitian merupakan endapan carbonate build-up yang tersusun atas beberapa asosiasi fasies. Nilai rata-rata petrofisika pada interval reservoir adalah volume serpih mencapai 0,134, dengan porositas sebesar 0,135, dan saturasi air sebesar 0,359. Kualitas reservoir ini menunjukkan korelasi yang jelas dengan tipe fasies dan proses diagenesis yang mempengaruhinya. Asosiasi fasies dengan kualitas reservoir yang baik dikontrol oleh proses diagenesis konstruktif seperti pelarutan, sedangkan asosiasi fasies berkualitas rendah dipengaruhi oleh proses diagenesis destruktif seperti sementasi.
SINTESIS IN SITU GRAFENA MULTILAPIS PADA SUHU RENDAH DENGAN METODE HW IP–VHF–PECVD SEBAGAI LAPISAN JENDELA PADA SEL SURYA SILIKON POLIKRISTALIN TIPE P–I–N
Grafena multilapis (multilayer graphene/MLG) merupakan salah satu material karbon dua dimensi yang paling menjanjikan dalam pengembangan perangkat elektronik dan optoelektronik modern. Kombinasi sifat khasnya seperti transparansi optik yang tinggi, konduktivitas listrik yang kuat, mobilitas pembawa muatan yang besar, serta struktur pita energi yang unik, menjadikannya kandidat ideal untuk menggantikan material elektroda transparan konvensional (transparent conducting electrodes, TCEs) seperti transparent conductive oxide (TCO) dan indium tin oxide (ITO) dalam sel surya film tipis. Selain itu, kemampuan MLG untuk berfungsi sebagai lapisan jendela memperkuat potensinya dalam memperbaiki proses penyerapan cahaya dan transportasi muatan pada struktur fotovoltaik. Berbagai metode sintesis grafena, termasuk MLG telah dikembangkan, dengan CVD dan PECVD menjadi pendekatan dominan. Namun, sebagian besar teknik ini masih memerlukan suhu tinggi dan proses transfer MLG yang kompleks, sehingga meningkatkan biaya dan menurunkan kompatibilitas proses. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam realisasi MLG sebagai komponen elektroda transparan dalam sel surya skala besar. Pada saat yang sama, pemanfaatan silikon polikristalin sebagai material aktif menawarkan keseimbangan yang menarik antara efisiensi fotovoltaik dan biaya produksi dibandingkan silikon amorf atau silikon kristalin tunggal. Integrasi MLG dengan silikon polikristalin, terutama dalam konfigurasi p–i–n, menawarkan jalur pengembangan sel surya murah, efisien, dan kompatibel dengan proses suhu rendah. Penelitian ini mengkaji penumbuhan MLG pada suhu rendah menggunakan teknik Hot Wire Cell in Plasma Very High Frequency PECVD (HW IP–VHF–PECVD) pada frekuensi plasma 70 MHz. MLG ditumbuhkan secara in situ di atas katalis Ni dengan kondisi optimum: suhu sekitar 185 °C, tekanan 350 mTorr, laju alir CH4 15 sccm, dan daya plasma 30 W, yang menghasilkan MLG nanokristalin dengan jumlah lapisan 3–7, resistansi lembar ~35,6 ?/sq, dan transmitansi optik hingga ~82%. Kemudian, lapisan Si tipe–i ditumbuhkan pada suhu 185 °C dengan durasi optimumnya 75 menit, menghasilkan struktur mikrokristalin–polikristalin yang stabil, halus (Ra ~6–10 nm), dan memiliki sifat optik yang mendukung absorpsi cahaya yang efektif pada perangkat p–i–n. MLG yang telah dioptimasi kemudian diintegrasikan secara langsung ke dalam struktur perangkat sel surya p–i–n berbasis silikon polikristalin pada tiga jenis substrat: kaca (CG), kaca berlapis TCO, dan kaca berlapis ITO. Integrasi dilakukan tanpa proses transfer MLG, sehingga antarmuka MLG/Si tipe-p terbentuk secara bersih tanpa kontaminasi residu, yang umumnya ditemukan dalam metode transfer berbasis polimer. Pengujian karakteristik I–V menunjukkan bahwa MLG memberikan peningkatan performa yang konsisten pada seluruh perangkat. Pada substrat kaca Corning (CG), efisiensi meningkat dari 3,89 % (perangkat referensi) menjadi 6,10 % dengan MLG. Pada substrat CG+TCO, efisiensi meningkat dari 4,21 % menjadi 8,52 %. Peningkatan terbesar terjadi pada substrat CG+ITO, di mana efisiensi meningkat dari 4,44 % menjadi 8,95 %, dengan JSC mencapai 17,12 mA/cm² dan FF sebesar 58,09 %. Peningkatan VOC, JSC, dan FF pada seluruh substrat menunjukkan bahwa MLG berfungsi secara simultan sebagai TCE dan window layer, meningkatkan transparansi optik, homogenitas antarmuka, dan konduktivitas permukaan. Jika dibandingkan dengan penelitian MLG–Si sebelumnya, seperti sel Schottky grafena–Si (efisiensi 1–6%), graphene nanomeshes pada porous–Si (?7%), atau grafena pada struktur amorf dengan efisiensi <0,1%—maka capaian efisiensi 6–9% pada penelitian ini menempati posisi kompetitif dalam kategori penelitian MLG suhu rendah tanpa proses transfer. Keunggulan utama pendekatan HW IP–VHF– PECVD terletak pada kemampuannya menumbuhkan MLG dan seluruh lapisan silikon p–i–n secara berurutan dalam satu reaktor, pada suhu <300 °C, sehingga sepenuhnya kompatibel dengan teknologi sel surya film tipis generasi berikutnya. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi MLG nanokristalin sebagai TCE sekaligus berfungsi sebagai window layer dalam sel surya p–i–n berbasis silikon polikristalin yang difabrikasi secara in situ menggunakan proses PECVD berfrekuensi sangat tinggi dan suhu rendah. Pendekatan ini menghilangkan keperluan proses transfer MLG, mengurangi kompleksitas fabrikasi, dan meningkatkan kualitas antarmuka. Temuan ini memberikan kontribusi ilmiah penting terhadap pengembangan elektroda transparan berbasis MLG serta mekanisme integrasinya dengan lapisan silikon polikristalin. Selain itu, penelitian ini membuka peluang bagi pemanfaatan MLG dalam teknologi fotovoltaik murah dan berkelanjutan.
ANALISIS VARIABILITAS SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU JAWA BERDASARKAN DATA SATELIT GRACE: PENGARUH IKLIM DAN AKTIVITAS ANTROPOGENIK
Pulau Jawa merupakan wilayah dengan populasi tertinggi di Indonesia dan menghadapi tekanan besar terhadap sumber daya air tanah akibat pertumbuhan penduduk, ekspansi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas spasial dan temporal simpanan air tanah di Pulau Jawa selama periode 2002–2024 serta mengevaluasi pengaruh faktor iklim dan antropogenik terhadap dinamika Groundwater Storage Anomaly (GWSA). Estimasi GWSA diperoleh melalui integrasi data satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) dengan data Global Land Data Assimilation System (GLDAS) untuk mengisolasi komponen air tanah dari total simpanan air daratan. Faktor iklim direpresentasikan oleh curah hujan, indeks El Niño–Southern Oscillation (ENSO), dan Indian Ocean Dipole (IOD), sedangkan faktor antropogenik direpresentasikan oleh perubahan tutupan lahan. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan statistik nonparametrik, uji tren Mann-Kendall, serta metode Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk mengidentifikasi pola dominan variabilitas GWSA dan keterkaitannya dengan faktor pengontrol iklim dan antropogenik. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabilitas GWSA di Pulau Jawa selama periode 2002–2024 bersifat heterogen secara spasial. Wilayah Jawa bagian barat dicirikan oleh nilai GWSA yang relatif rendah dengan fluktuasi yang lebih kecil, sedangkan wilayah Jawa bagian tengah dan timur menunjukkan nilai GWSA yang lebih tinggi dengan variabilitas antar-tahun yang lebih besar. Analisis tren jangka panjang menggunakan uji Mann-Kendall menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan simpanan air tanah pada skala regional dengan laju sekitar +3,12 mm/tahun. Namun, tren tersebut tidak bersifat linear dan dipengaruhi secara kuat oleh kejadian iklim ekstrem. Pada periode El Niño kuat tahun 2011–2016, terjadi penurunan GWSA sekitar -7,22 mm/tahun, yang menunjukkan sensitivitas sistem air tanah terhadap kondisi iklim kering. Analisis EOF menunjukkan bahwa variabilitas GWSA pada skala resolusi GRACE didominasi oleh satu mode utama (EOF-1) yang menjelaskan sekitar 67,14% dari total variabilitas GWSA. Komponen temporalnya (PC-1) menunjukkan korelasi signifikan dengan faktor hidroklimat, yaitu korelasi positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) (? = 0,30; p < 0,05) serta korelasi signifikan negatif dengan curah hujan (? = -0,12; p < 0,05), yang mencerminkan adanya respon tertunda (hydrological lag) sistem air tanah terhadap variabilitas curah hujan. Selain pengaruh iklim, PC-1 juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan faktor antropogenik yang direpresentasikan oleh perubahan tutupan lahan. Korelasi positif yang kuat dengan luas lahan terbangun (? = 0,69; p < 0,001) dan korelasi positif dengan luas tutupan hutan (? = 0,59; p < 0,01) mengindikasikan bahwa meskipun variabilitas utama GWSA dikendalikan oleh faktor hidroklimat regional, perubahan tutupan lahan berperan sebagai tekanan jangka panjang yang memodulasi penguatan atau pelemahan pola dominan simpanan air tanah pada skala Pulau Jawa.