📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPRODUKSI BERSIH BERBASIS PEMANFAATANLIMBAH SERBUK BESI DARI AKTIVITAS PANDAI BESI DESA MEKARMAJU UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL
Limbah serbuk besi dari aktivitas pandai besi berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai katalis alternatif pada proses Fenton dalam degradasi zat warna sintetis pada limbah tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik serbuk besi hasil aktivitas pandai besi sebagai katalis, mengevaluasi efektivitas katalis tersebut dalam degradasi Methyl Orange, dan menilai pengaruh parameter operasional terhadap efisiensi degradasi melalui pendekatan kinetika dan analisis statistik. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan sistem batch dengan variasi pH (2;3; dan 4), konsentrasi katalis (1;2; dan 3 g/L), konsentrasi Methyl Orange (10; 25; dan 75 mg/L), dan konsentrasi H?O? (3,3; 6,6; dan 13,2 mM). Karakterisasi katalis dilakukan dengan uji SEM-EDX, XRD, dan metode 1,10-fenantrolin untuk menentukan morfologi, komposisi mineral, serta kandungan besi total. Hasil menunjukkan bahwa limbah serbuk besi memiliki komposisi utama Fe?O? dan Fe?O? dengan morfologi berpori dan ukuran partikel rata-rata 8,579 µm, yang mendukung pembentukan radikal hidroksil (•OH). Kondisi optimum diperoleh pada pH 2, suhu 30°C, konsentrasi katalis serbuk besi 1 g/L, H?O? 3,3 mM, dan konsentrasi Methyl Orange 10 mg/L dengan efisiensi degradasi mencapai lebih dari 90% dalam waktu 15 menit. Analisis kinetika menunjukkan bahwa proses degradasi mengikuti model orde dua dengan nilai R² tertinggi 0,9645, yang menandakan laju reaksi dikendalikan oleh interaksi antara radikal hidroksil dan molekul Methyl Orange. Uji ANOVA menunjukkan bahwa konsentrasi katalis berpengaruh signifikan terhadap efisiensi degradasi, sedangkan interaksi antara serbuk besi dengan H?O? dan Methyl Orange juga menunjukkan pengaruh yang signifikan. Uji aplikasi pada limbah tekstil asli menghasilkan efisiensi degradasi sebesar 69% dalam waktu 15 menit, menandakan efektivitas katalis pada kondisi nyata. Pemanfaatan limbah serbuk besi sebagai katalis mendukung prinsip produksi bersih dengan mengurangi timbulan limbah serbuk besi dan menekan penggunaan bahan kimia baru dalam pengolahan limbah cair tekstil.
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KORIDOR JALAN L.L.R.E.MARTADINATA KOTA BANDUNG
Kawasan cagar budaya merupakan bagian penting dari identitas kota karena mengandung nilai historis, sosial, dan arsitektural yang membentuk karakter ruang perkotaan. Namun, dinamika pembangunan dan intensifikasi kegiatan ekonomi sering kali menimbulkan tekanan terhadap keberlanjutan kawasan bersejarah. Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang mengalami transformasi signifikan dari kawasan hunian kolonial menjadi koridor perdagangan dan jasa. Perubahan fungsi tersebut memicu berbagai bentuk intervensi fisik yang berpotensi menurunkan integritas visual, karakter kawasan, serta nilai signifikansi budayanya. Persoalan utama yang dihadapi adalah belum tersedianya ketentuan pengendalian pembangunan kawasan yang bersifat operasional, kontekstual, dan selaras dengan karakter budaya kawasan. Penelitian ini bertujuan merumuskan ketentuan pengendalian pembangunan dalam pelestarian kawasan cagar budaya di Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus, metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan studi dokumen. Analisis dilakukan secara normatif, visual, morfologi kota, dan deskriptif–komparatif untuk mengidentifikasi karakter kawasan, prinsip pelestarian, serta persoalan empiris pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fisik bangunan, dominasi visual bangunan baru, alih fungsi ruang publik, serta penambahan elemen komersial yang tidak kontekstual menjadi isu utama pelestarian kawasan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan mekanisme pengendalian pembangunan berbasis design control yang mencakup prinsip, indikator, komponen pengendalian, serta pedoman perancangan dan prosedur design review. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi kajian perancangan kota dan kontribusi praktis sebagai rujukan pengendalian pembangunan kawasan cagar budaya di Kota Bandung.
EVALUASI MODEL DATA SPASIAL TOPOLOGI DAN NON-TOPOLOGI (SPAGHETTI) DALAM PEMELIHARAAN KUALITAS DATA BATAS WILAYAH ADMINISTRASI
Batas wilayah merupakan unsur informasi geospasial dasar yang berperan sebagai data rujukan nasional dalam mendukung perencanaan wilayah, pengelolaan sumber daya, serta integrasi data geospasial lintas sektor. Dalam konteks tata kelola data nasional, kualitas dan konsistensi data batas wilayah menjadi aspek krusial karena inkonsistensi spasial dapat berdampak pada perbedaan luas wilayah, ketidaksinkronan data sektoral, serta permasalahan administratif. Pengelolaan batas wilayah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan tingkat administrasi menuntut mekanisme penyimpanan data yang mampu menjaga konsistensi geometri dan relasi spasial secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja model data topologi dan model data spaghetti dalam pengelolaan batas wilayah administrasi, dengan fokus pada efisiensi alur kerja dan dukungannya terhadap tata kelola data yang berorientasi dalam pemeliharaan kualitas data. Penelitian dilakukan melalui implementasi model data topologi pada basis data spasial PostgreSQL/PostGIS menggunakan tipe data TopoGeometry. Evaluasi dilakukan melalui beberapa skenario pengujian yang mencakup evaluasi kinerja operasional model data, pengaruh nilai toleransi terhadap kualitas geometri, kebutuhan kapasitas penyimpanan, serta implementasi versioning data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model data topologi hierarki memiliki kinerja yang lebih unggul pada sebagian besar operasi pengelolaan batas wilayah, khususnya pada proses pemutakhiran batas bersama yang melibatkan berbagai tingkat administrasi. Pemanfaatan kueri relasional berbasis topologi juga terbukti efektif dalam mendukung integrasi data garis batas, termasuk automasi segmentasi batas, pengisian atribut wilayah berbatasan, dan klasifikasi segmen batas. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan model data merupakan bagian penting dari mekanisme tata kelola data batas wilayah. Model data topologi direkomendasikan sebagai model utama dalam pengelolaan batas wilayah nasional karena kemampuannya dalam menjaga konsistensi geometri dan relasi hierarkis secara terstruktur, meningkatkan efisiensi alur kerja pemutakhiran, serta mendukung integrasi data lintas tingkat administrasi secara berkelanjutan.
PEMODELAN KEBUTUHAN RUANG AKIBAT DINAMIKA MAHASISWA ITB KAMPUS CIREBON DI KECAMATAN ARJAWINANGUN
Pembangunan ITB Kampus Cirebon mendorong pertumbuhan jumlah mahasiswa dan aktivitas akademiik di Kecamatan Arjawinangun. Pertambahan jumlah mahasiswa menimbulkan fenomena studentifikasi di Kecamatan Arjawinangun. Fenomena studentifikasi merupakan fenomena yang berpengaruh terhadap empat komponen yaitu komponen sosial, ekonomi, budaya, dan fisik lingkungan. Komponen-komponen ini saling terkait dan salig mempengaruhi satu sama lain dalam sebuah sistem. Namun, belum ada penelitian yang memandang fenomena ini dengan pendekatan sistem dinamik terutama di Kecamatan Arjawinangun. Sehingga penelitian ini hadir untuk menganalisis fenomena ini sebagai sebuah sistem yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel/faktor pendorong yang beperan dalam dinamika studentifikasi berdasarkan pembelajaran Kecamatan Jatinangor, menganalisis model dinamika studentifikasi terhadap perkembangan kawasan di Kecamatan Arjawinangun, dan mengidentifikasi skenario model dinamika studentifikasi terhadap perkembangan kawasan di Kecamatan Arjawinangun. Penelitian ini bersifat mixed methods dengan mencampurkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk memahami masalah lebih mendalam dengan jenis penelitian eksplanatori yang menjelaskan hubungan antar variabel fenomena studentifikasi. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan teknis dengan menggunakan aplikasi powersim untuk mensimulasikan model yang telah dibuat. Model dibuat dalam tiga skenario berdasarkan jumlah pertambahan program studi. Model terlebih dahulu disusun dalam bentuk Causal Loop Diagram (CLD), kemudian diterjemahkan dan disimulasikan dalam bentuk model dengan menggunakan aplikasi powersim. Hasil simulasi powersim divalidasi terlebih dahulu berdasarkan pembelajaran Kecamatan Jatinangor melalui pengukuran Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), mean correlation, dan error variance. Model juga disesuaikan berdasarkan kejadian di Kecamatan Arjawinangun. Variabel/faktor pendorong yang berperan dalam dinamika studentifikasi yaitu jumlah penduduk, migrasi masuk dan keluar, kebutuhan lahan permukiman, dan kebutuhan lahan fasilitas. Berdasarkan pembelajaran Kecamatan Jatinangor, perubahan fase dari fase pra-studentifikasi menjadi fase lonjakan populasiv mahasiswa yaitu ketika proporsi jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yaitu 5:1. Hasil identifikasi variabel/faktor pendorong ini kemudian disusun dalam bentuk CLD, kemudian diterjemahkan dengan aplikasi powersim sehingga dapat disimulasikan. Hasil validasi variabel jumlah mahasiswa, jumlah penduduk, luas permukiman, dan luas fasilitas menunjukkan model yang dibuat valid dan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan nilai mean correlation kurang dari lima persen, nilai error variance kurang dari tiga puluh persen, dan nilai persentase error yang di bawah sepuluh persen. Model yang telah divalidasi kemudian disimulasikan berdasarkan empat skenario. Skenario satu ketika jumlah program studi tidak bertambah, skenario dua ketika jumlah program studi bertambah tiga setiap lima tahun, skenario ketiga ketika jumlah program studi bertambah lima setiap lima tahun, dan skenario keempat mengikuti Master Plan Akademik Multi Kampus Skema PSDKU ITB Cirebon. Hasil skenario menunjukkan bahwa, meskipun jumlah program studi mengikuti master plan akademik, ini belum cukup untuk mendorong kawasan memasuki fase lonjakan populasi mahasiswa karena proporsi jumlah penduduk dibandingkan jumlah mahasiswa masih berada di atas 5:1 yaitu 9:1, sehingga dominasi demografis masih dominan oleh penduduk setempat. Meskipun begitu, kebutuhan hunian terus meningkat bahkan melampaui kapasitas kawasan pada tahun 2042 yang mendorong intensifikasi bangunan pada lokasi-lokasi dekat kampus. Berdasarkan hal ini, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan mahasiswa, mengendalikan zonasi dan intensitas bangunan terutama di sekitar kampus, serta melindungi lahan strategis dari konversi tak terkendali. Temuan dalam penelitian ini diharapkan mampu memperkaya wawasan pembaca terutama di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dan menjadi acuan bagi masyarakat, ITB Kampus Cirebon, dan Pemerintah dalam melaksanakan kegiatan dan merumuskan kebijakan sehingga dampak negatif dari fenomena studentifikasi dapat diminimalisasi.
PEMANFAATAN ULVAN HASIL ISOLASI DARI RUMPUT LAUT ULVA LACTUCA UNTUK SINTESIS HIDROGEL ULVAN-ION LOGAM SEBAGAI MATERIAL ANTIBAKTERI
Ulvan adalah polisakarida sulfat yang ditemukan dalam dinding sel rumput laut hijau, terutama pada spesies Ulva. Komponen ini telah menarik perhatian besar dalam bidang biomedis dan bioteknologi karena memiliki berbagai aktivitas biologis, termasuk aktivitas antibakteri. Namun demikian, aktivitas antibakteri ulvan relatif rendah dan memerlukan konsentrasi cukup tinggi (sekitar 5% (b/v)) untuk menunjukkan efek yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi struktural pada ulvan guna meningkatkan efektivitas antibakterinya. Salah satu pendekatan yang berpotensi meningkatkan sifat antibakterinya adalah sintesis hidrogel ulvan yang dikombinasikan dengan ion logam. Beberapa ion logam diketahui mampu berinteraksi dengan membran sel bakteri, meningkatkan permeabilitas, dan menyebabkan lisis sel. Dalam penelitian ini, ulvan diekstraksi dari Ulva lactuca menggunakan metode ekstraksi air panas, diikuti presipitasi untuk memisahkan ulvan dari komponen biomassa lainnya. Ion logam Cu2+, Co2+, Fe3+, dan Zn2+ dipilih karena memiliki potensi antibakteri serta kemampuan membentuk kompleks stabil dengan gugus sulfat atau karboksilat pada ulvan. Hidrogel ulvan–ion logam disintesis menggunakan asam borat sebagai agen pengikat silang dan gliserol sebagai pemlastis. Uji antibakteri dilakukan untuk mengevaluasi potensi antibakterinya, termasuk penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ulvan yang diperoleh adalah 21,99% dengan kadar sulfat 25,33%. Karakterisasi FTIR memperlihatkan adanya regangan S=O (1260 cm?¹) dan tekukan C–O–S (789 cm?¹), yang merupakan ciri khas polisakarida sulfat. Spektrum H- NMR mengindikasikan bahwa ulvan yang diisolasi kemungkinan merupakan ulvanobiuronat, ditunjukkan dengan keberadaan sinyal asam uronat. Skrining antibakteri menunjukkan bahwa hidrogel ulvan–Zn (UZn) memiliki potensi antibakteri terhadap bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Hasil MIC memperlihatkan bahwa Ulvan–Zn mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis (10 mg/mL), Staphylococcus aureus (40 mg/mL), dan Escherichia coli (40 mg/mL). Vibrasi Zn–O pada 595 cm?¹ terkonfirmasi melalui FTIR, menandakan interaksi Zn2+ dengan matriks ulvan. Analisis XRD menunjukkan peningkatan kecil kristalinitas pada Ulvan–Zn dibandingkan ulvan murni, yang berkorelasi dengan penurunan kelarutannya dalam air.
ANALISIS SEBARAN KONEKTIVITAS EKOLOGI DAN MENENTUKAN JARINGAN EKOLOGI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) MENGGUNAKAN METODE MORPHOLOGICAL SPATIAL PATTERN ANALYSIS (MSPA) DAN MINIMUM CUMULATIVE RESISTANCE (MCR) DI JAKARTA PUSAT
Urbanisasi mendesak keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sehingga menurunkan nilai konektivitas ekologis yang berperan penting dalam menjaga stabilitas fungsi ekosistem perkotaan. Jakarta Pusat merupakan salah satu wilayah dengan proporsi RTH yang sangat rendah dan pola sebaran RTH yang kecil, menyebar, dan terisolasi memerlukan perencanaan jaringan ekologi yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran konektivitas ekologi dan menentukan jaringan ekologi RTH di Jakarta Pusat menggunakan metode Morphological Spatial Pattern Analysis (MSPA), Graph Theory Network (GTN), dan Minimum Cumulative Resistance (MCR). Data yang digunakan berupa peta penggunaan lahan tahun 2021, jaringan jalan dan sungai, serta batas administrasi wilayah. Analisis MSPA digunakan untuk mengidentifikasi struktur morfologi lanskap, kemudian GTN diterapkan untuk menentukan patch sumber ekologi berdasarkan nilai delta Probability of Connectivity (dPC). Selanjutnya, metode MCR digunakan untuk membangun jaringan ekologi dengan mempertimbangkan resistensi lanskap. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 37 patch sebagai primary source (dPC > 1) dan 8 patch sebagai secondary source (0,5 ? dPC ? 1). Jaringan ekologi yang dihasilkan terdiri atas primary link, secondary link, primary water link, secondary water link, serta koridor ekologis dengan optimalisasi melalui 142 stepping stone. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi dasar kebijakan perencanaan jaringan ekologi RTH yang efektif untuk meningkatkan konektivitas ekologis dan mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan di Jakarta Pusat.
APLIKASI KLASIFIKASI GAMBAR MAKANAN MENGGUNAKAN CNN UNTUK REKOMENDASI KALORI HARIAN
Pentingnya nutrisi bagi manusia membutuhkan kesadaran untuk memenuhi kebutuhan nutrisi setiap harinya. Parameter cukup atau tidaknya nutrisi setiap individu bergantung pada jumlah makanan yang dikonsumsi dalam satuan kalori. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memudahkan dalam mengetahui seberapa banyak kalori yang dikonsumsi dalam 1 hari serta makanan apa saja yang dapat dikonsumsi agar kebutuhan kalori tersebut terpenuhi. Untuk mengetahui makanan apa saja yang dimakan, sistem yang dirancang dalam penelitian ini dibuat untuk dapat mendeteksi gambar makanan kemasan maupun non kemasan yang dimasukan oleh orang sebagai user. Deteksi gambar dilakukan dengan salah satu metode supervised machine learning yaitu CNN dan untuk mengetahui batas kalori harian minimum digunakan perhitungan BMR. Rekomendasi makanan ditampilkan dalam bentuk list makanan yang memiliki jumlah kalori yang dapat memenuhi defisit kalori pada hari tertentu. Selain itu rekomendasi makanan yang diberikan dipersonalisasi dengan melihat histori makanan user, dengan melihat frekuensi makan makanan tertentu. Model machine learning diterapkan pada sistem berbasis website dengan harapan dapat digunakan secara fleksibel oleh user dimanapun dan kapanpun.
PERANCANGAN ULANG TATA LETAK FASILITAS PT LUNARAY CAHYA ABADI
PT LCA merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi produk kecantikan berdasarkan pesanan pelanggan. Konsumen utama dari PT LCA merupakan brand kecantikan dan klinik kecantikan. Produk yang dihasilkan saat ini terdapat 4 (empat) varian yaitu produk sediaan padat, setengah padat, cair, dan bubuk. PT LCA memiliki 2 (dua) tingkat lantai produksi. Saat ini, permasalahan utama PT LCA adalah dari material flow dan material handling yang belum optimal. Material flow belum optimal dikarenakan proses perpindahan material yang berulang sehingga memiliki OMH yang tinggi. Sedangkan material handling yang belum optimal dikarenakan material handling yang digunakan masih menggunakan man power. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang tata letak pabrik PT LCA yang optimal dengan pertimbangan luas yang tersedia. Perancangan tata letak fasilitas PT LCA menggunakan pendekatan systemic layout planning (SLP) dengan metode perancangan dengan algoritma CRAFT. Metodologi penelitian yang digunakan merujuk pada pendekatan desain dan rekayasa ulang operasi yang diperkenalkan oleh PES LLC. Proses pembangkitan rancangan awal dan alternatif rancangan tata letak menggunakan perangkat lunak Excel yang menggunakan algoritma CRAFT dengan melakukan pertukaran dua atau tiga departemen (2/3 Opt). Perubahan tata letak terdapat pada ruang mixing dan filling setengah padat di pindahkan ke lantai satu serta ruang simpan dan cuci alat dan ruang staging di pindahkan ke lantai dua. Perubahan tersebut mengurangi, penggunaan lift dan mengurangi OMH Rancangan tata letak usulan menghasilkan total OMH sebesar Rp. 16.130,10 untuk lantai satu dan Rp. 27,00 untuk lantai dua. Jika dibandingkan dengan penggunaan tata letak sebelumnya yang memiliki nilai Rp. 12.135,10 untuk lantai satu dan Rp. 35,00 untuk lantai dua, nilai OMH pada tata letak usulan mengalami penurunan sebesar 24,54% untuk lantai satu dan 23% untuk lantai dua.
PEMODELAN MINE WATER MANAGEMENT PASCATAMBANG DI DALAM VOID/PIT MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIK
Pembentukan pit lake pada tambang terbuka pascatambang merupakan proses hidrologi–geokimia bertahap yang dipengaruhi oleh kenaikan muka air, peningkatan volume air, dan perubahan ekspos litotipe dinding pit. Pada tahap awal pengisian, kualitas air umumnya sangat asam dengan pH rendah, alkalinitas terbatas, serta konsentrasi sulfat dan logam terlarut yang tinggi akibat dominasi pelindian material reaktif. Meskipun proses pencampuran antar tahap pengisian (staging) dan peningkatan volume air mendorong pengenceran alami, hasil simulasi menunjukkan bahwa kondisi netral tidak dapat dicapai tanpa intervensi kimia, sehingga diperlukan strategi remediasi yang efektif untuk menjaga kestabilan kualitas air pit lake dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis evolusi kualitas air pit lake berbasis pendekatan staging, mengevaluasi kondisi geokimia sebagai baseline, serta membandingkan efektivitas dua skenario aplikasi penetral, yaitu penetralan tunggal setelah pit lake terisi penuh dan penetralan bertahap selama proses pengisian. Pemodelan dilakukan menggunakan perangkat lunak PHREEQC melalui simulasi pencampuran berbasis volume pada sepuluh tahap pengisian hingga mencapai volume kumulatif maksimum. Analisis mencakup spesiasi ionik, indeks kejenuhan mineral, kurva titrasi geokimia, serta perhitungan kebutuhan bahan penetral CaCO?, Ca(OH)?, dan NaOH untuk mencapai pH target 7. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Ca(OH)? memberikan kinerja netralisasi paling stabil dan terkontrol untuk aplikasi skala besar. NaOH menghasilkan respons pH paling cepat, namun berisiko menyebabkan overshoot pH dan peningkatan salinitas, sedangkan CaCO? menunjukkan efektivitas yang lebih terbatas akibat kinetika pelarutan yang lambat. Dari sisi skenario aplikasi, penetralan bertahap menghasilkan kebutuhan Ca(OH)? yang lebih rendah, yaitu 13.532.517,12 kg, atau sekitar 10,43% lebih efisien dibandingkan penetralan tunggal, serta menghasilkan kestabilan pH yang lebih baik. Dengan demikian, kombinasi penggunaan Ca(OH)? dan skenario penetralan bertahap merupakan pendekatan paling stabil, aman, dan efisien untuk remediasi kualitas air pit lake pascatambang.
EFEK GEMPA BERVARIASI SPASIAL TERHADAP PERPINDAHAN RELATIF ANTAR BENTANG DAN POTENSI TUMBUKAN PADA STRUKTUR JEMBATAN MULTI-SPAN BENTANG PANJANG TERISOLASI SEISMIK
Gempa bervariasi spasial (SVEGM) adalah fenomena dimana gempa yang direkam pada lokasi berbeda tidak identik, namun masih menunjukkan kemiripan. Objek penelitian tesis ini berupa jembatan panjang multi-span yang terisolasi seismik menggunakan Lead Rubber Bearing (LRB ). Jembatan memiliki panjang total 630 m, terdiri atas 19 pier, dengan panjang bentang seragam 35 meter. Model struktur tiga dimensi disusun menggunakan perangkat lunak SAP2000. Tujuan utama analisis adalah mengevaluasi simpangan relatif longitudinal antar girder yang diakibatkan oleh SVEGM serta mengevaluasi apakah expansion joint yang umum digunakan sebesar 10 cm masih memadai dengan eksitasi gempa tersebut. Simpangan relatif menjadi penting karena berhubung dengan potensi tumbukan. Set rekaman SVEGM pada penelitian ini didasarkan pada dua model koherensi spasial, model Luco-Wong dan model Harichandran-Vanmarcke. Generasi SVEGM dilakukan menggunakan metode Spectral Representation Method (SRM) yang dikombinasikan dengan pendekatan evoluationary power spectral density berbasis Wavelet Packet Transform (WPT). Hasil analisis menunjukkan bahwa, untuk konfigurasi jembatan dan input seismik yang ditinjau, expansion joint setebal 10 cm masih memadai. Namun, hasil juga menunjukkan bahwa SVEGM dapat menghasilkan perpindahan relatif yang cukup signifikan, bahkan pada jembatan dengan panjang bentang individu yang relatif pendek. Hal ini memberikan indikasi awal bahwa analisis gap tidak dapat diabaikan.
PERANCANGAN KAWASAN PUSAT KOTA ALUN-ALUN BANDUNG DENGAN KONSEP ACTIVE MOBILITY DESIGN
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat di Kota Bandung telah memicu peningkatan dominasi kendaraan pribadi yang berdampak pada kemacetan dan penurunan kualitas lingkungan. Kondisi ini secara tidak langsung mendegradasi fungsi moda transportasi non-motor (non-motorized transport), seperti berjalan kaki dan bersepeda yang seharusnya menjadi fondasi bagi kota yang berkelanjutan. Studi ini berfokus pada perancangan kawasan Pusat Kota Alun-Alun Bandung dengan pendekatan Active Mobility Design. Persoalan utama yang diidentifikasi dalam studi ini adalah kondisi fisik fasilitas pendukung pejalan kaki dan pesepeda yang belum memadai, mencakup jalur yang terputus, penyalahgunaan fungsi trotoar, serta minimnya amenitas seperti peneduh dan tempat duduk. Selain itu, kawasan ini menghadapi masalah kurangnya magnet aktivitas yang kuat pada jalur-jalur penghubung, sehingga tercipta ruang-ruang pasif (blank spots) yang belum dapat menstimulasi pengguna untuk melakukan perjalanan kaki secara menerus (continuous walking). Prosedur perancangan yang digunakan metode desain terfragmen (fragmental method) dengan metode analisis deskriptif kualitatif untuk memetakan kesenjangan antara kondisi saat ini dengan prinsip normatif. Sebagai respons terhadap persoalan tersebut, perancangan ini mengusulkan konsep "ACCESS" (Active Connectivity, Comfort, & Equity for Safe and Social Spaces). Strategi desain difokuskan pada perbaikan fisik koridor untuk menciptakan jaringan pejalan kaki yang aman dan nyaman, serta intervensi program aktivitas (facility programming) untuk menghidupkan kembali ruang-ruang mati menjadi destinasi yang lebih aktif. Hasil perancangan disimulasikan pada koridor prioritas seperti Jalan Dalem Kaum, Pasar Kota Kembang, dan Jalan Alkateri dengan tujuan mengubah kawasan menjadi lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, terintegrasi, dan mampu menstimulasi gaya hidup aktif masyarakat kota.
ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMA GEDUNG 30 LANTAI DENGAN SISTEM GANDA MENGGUNAKAN METODE FIXED BASE DAN SOIL STRUCTURE INTERACTION
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa seismik gedung 30 lantai dengan sistem struktur ganda (dual system) yang dianalisis menggunakan dua pendekatan pemodelan fondasi, yaitu fixed base dan Soil–Structure Interaction (SSI). Analisis dilakukan menggunakan metode Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) dengan input gempa tingkat Maximum Considered Earthquake (MCER) pada dua klasifikasi tanah, yaitu Site Class SD (tanah sedang) dan Site Class SE (tanah lunak). Hasil analisis menunjukkan bahwa pemodelan SSI memberikan pengaruh signifikan terhadap respons struktur dibandingkan asumsi fixed base. Pada Site Class SE, nilai base shear mengalami penurunan sebesar sekitar 13–16%, sedangkan pada Site Class SD penurunan berada pada kisaran 8–11%. Sebaliknya, respons deformasi struktur meningkat, di mana story drift pada model SSI meningkat hingga sekitar 9%, dan displacement puncak meningkat sebesar 6% pada tanah sedang dan 10–16% pada tanah lunak. Meskipun terjadi peningkatan deformasi, seluruh nilai drift maksimum masih berada di bawah batas 0,02 rad, sehingga memenuhi kriteria kinerja yang disyaratkan. Evaluasi tingkat kinerja struktur menunjukkan bahwa baik model fixed base maupun SSI pada kedua klasifikasi tanah tetap berada pada level Life Safety (LS) dengan nilai indeks performa rata-rata berkisar 0,40–0,68. Analisis kapasitas fondasi menunjukkan bahwa gaya lateral maksimum yang bekerja pada tiang hasil analisis struktur masih lebih kecil dibandingkan kapasitas lateral tiang tunggal dari LPILE, serta kapasitas aksial tiang dari SPColumn, sehingga fondasi berada dalam kondisi aman. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa efek interaksi tanah–struktur berperan dalam mereduksi gaya gempa namun meningkatkan deformasi global struktur, tanpa menurunkan tingkat kinerja struktur di bawah batas keselamatan yang ditetapkan.
PERANCANGAN KORIDOR JALAN JOGOKARIYAN SEBAGAI KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN WISATA RELIGI DENGAN PENDEKATAN SHARED SPACES
Koridor Jalan Jogokariyan di Kota Yogyakarta telah bertransformasi menjadi kawasan strategis dengan identitas kuat sebagai kampung budaya dan destinasi wisata religi yang berpusat pada aktivitas Masjid Jogokariyan. Namun, tingginya intensitas kegiatan masyarakat, terutama pada momen keagamaan dan festival budaya, menimbulkan tekanan signifikan pada koridor jalan. Dominasi kendaraan bermotor, minimnya fasilitas pejalan kaki yang inklusif, serta konflik penggunaan ruang menyebabkan degradasi kualitas ruang publik dan kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, diperlukan upaya perancangan ulang untuk mengembalikan fungsi koridor sebagai ruang interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan metode prosedural fragmental process. Metode perancangan yang diterapkan meliputi problem solving dan optimizing melalui metode analisis evaluasi semu (pseudo-evaluation) untuk mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara prinsip normatif shared spaces dengan kondisi eksisting kawasan. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, pemetaan aktivitas, wawancara, dan studi literatur terkait kawasan cagar budaya serta pariwisata religi. Hasil perancangan ditunjukkan melalui konsep pengembangan dengan tema "Jogokariyan: Hamemayu Kahuripan – Faithscape of Culture". Konsep ini diimplementasikan melalui pembagian tiga segmen koridor, yaitu: Segmen Poleng (Welcome Gate), Segmen Jogokariyan (Central Area), dan Segmen Kawung (Supporting Trail). Intervensi desain utama meliputi perubahan sirkulasi kendaraan menjadi satu arah, pemusatan kantong parkir, pelebaran area pejalan kaki tanpa segregasi ketinggian (curbless), serta penerapan elemen visual bermotif budaya pada perkerasan jalan. Desain ini juga menciptakan flexible street yang adaptif terhadap kegiatan rutin maupun insidental seperti salat berjamaah dan pasar rakyat. Penerapan pendekatan shared spaces efektif dalam mentransformasi Jalan Jogokariyan dari sekadar infrastruktur lalu lintas menjadi ruang publik yang humanis dan berkarakter. Perancangan ini dapat mengintegrasikan fungsi mobilitas, spiritualitas, dan interaksi sosial, sekaligus memperkuat identitas kawasan sebagai living heritage yang aman dan inklusif.
STUDI NUMERIK PERILAKU STRUKTUR KOLOM KOMPOSIT PIPA BAJA DIISI BETON DENGAN TAMBAHAN PENGEKANGAN SEBAGIAN YANG DIBEBANI AKSIAL KONSTAN DAN SIKLIK LATERAL
Kolom komposit baja diisi beton (Concrete-Filled Steel Tube/CFST) telah banyak digunakan dalam konstruksi bangunan tinggi karena memiliki keunggulan berupa kekuatan tinggi, daktilitas baik, kekakuan tinggi, dan kapasitas menyerap energi yang baik. Material komposit ini memanfaatkan kekuatan tekan beton yang tinggi dan kekuatan tarik baja secara sinergis, dimana tabung baja memberikan pengekangan lateral terhadap beton dan beton memberikan stabilitas terhadap baja untuk menghindari tekuk. Namun, salah satu permasalahan utama pada kolom CFST adalah terjadinya tekuk lokal (local buckling) pada pipa baja, terutama di daerah sendi plastis, yang dapat mengurangi kekuatan dan daktilitas kolom secara signifikan. Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh rasio diameter terhadap ketebalan (D/t) dari tabung baja. Berbagai metode telah diusulkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah penambahan pengekangan internal pada daerah kritis kolom. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model numerik kolom komposit pipa baja diisi beton dengan tambahan pengekangan sebagian menggunakan metode elemen hingga untuk menganalisis perilaku siklik struktur terhadap beban aksial konstan dan beban siklik lateral. Model numerik dikembangkan menggunakan perangkat lunak LS-DYNA dengan pendekatan micro modelling, dimana material beton dan baja dimodelkan secara terpisah. Material beton dimodelkan menggunakan Concrete Damaged Plasticity Model (CDPM) yang mampu menangkap perilaku kerusakan beton dalam kondisi tarik dan tekan, sedangkan material baja dimodelkan menggunakan model elastik-plastik dengan strain hardening. Interaksi antara baja dan beton didefinisikan menggunakan kontak automatic surface-tosurface dengan parameter gesekan statis 0,4 dan dinamis 0,3. Validasi model numerik dilakukan terhadap hasil eksperimen yang telah dilakukan oleh Kar dkk. (2024) dengan tiga variasi spesimen: kolom tanpa pengekangan tambahan (C114-c0), kolom dengan pengekangan tambahan setinggi 1D (C114- c60-1D), dan kolom dengan pengekangan tambahan setinggi 1,5D (C114-c60- 1,5D), dimana D adalah diameter kolom. Analisis dilakukan dengan pembebanan aksial konstan sebesar 22 kN (3% dari kapasitas nominal) dan beban siklik lateral dengan displacement control mengikuti protokol ACI 374.1-05. iii Hasil analisis menunjukkan bahwa model numerik mampu merepresentasikan perilaku siklik kolom CFST dengan baik. Kurva histeresis hasil numerik menunjukkan bentuk "gemuk" tanpa pinching, mengindikasikan kemampuan disipasi energi yang baik. Penambahan pengekangan internal terbukti efektif meningkatkan kekuatan lateral, dengan peningkatan sekitar 16% dibandingkan kolom tanpa pengekangan. Kekuatan lateral maksimum hasil numerik menunjukkan rasio 0,89-1,0 terhadap hasil eksperimen untuk kondisi tekan, dan 0,75-0,91 untuk kondisi tarik, menunjukkan akurasi model yang memadai. Pola kegagalan yang teramati pada model numerik konsisten dengan hasil eksperimen, dimana tekuk lokal terjadi pada ketinggian yang sesuai dengan posisi pengekangan tambahan. Untuk spesimen C114-c60-1D, tekuk lokal bergeser dari dasar kolom ke ketinggian 1D, sedangkan untuk C114-c60-1,5D tekuk terjadi pada dasar dan ketinggian 1,5D. Hal ini menunjukkan bahwa pengekangan tambahan efektif memindahkan lokasi sendi plastis dari daerah kritis dan meningkatkan daktilitas struktur. Degradasi kekakuan terjadi secara progresif pada semua spesimen, dengan penurunan lebih dari 90% dari kekakuan awal hingga kondisi akhir. Spesimen dengan pengekangan tambahan menunjukkan degradasi yang lebih lambat dibandingkan spesimen tanpa pengekangan. Kapasitas disipasi energi kumulatif meningkat signifikan dengan penambahan pengekangan, dimana spesimen C114- c60-1,5D menunjukkan peningkatan sekitar 14% dibandingkan C114-c0. Daktilitas kolom juga meningkat dengan penambahan pengekangan, dengan peningkatan sekitar 24% untuk spesimen C114-c60-1,5D dibandingkan C114-c0. Penelitian ini membuktikan bahwa pemodelan numerik menggunakan metode elemen hingga dapat menjadi alternatif yang efektif untuk mengevaluasi perilaku struktur kolom CFST dengan pengekangan sebagian. Penambahan pengekangan internal setinggi 1D dari dasar kolom terbukti paling optimal dalam mengendalikan lokasi tekuk, meningkatkan kekuatan, kekakuan, daktilitas, dan kemampuan disipasi energi kolom. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan desain kolom CFST yang lebih efisien dan tahan terhadap beban seismik.
REALIBILITAS STRUKTUR JEMBATAN GANTUNG PEJALAN KAKI DAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DENGAN METODA MONTE CARLO
Konektivitas dalam kehidupan sehari-hari merupakan kebutuhan yang sangat penting saat ini karena pemerataan pendidikan, ekonomi dan informasi dapat dibangun dari konektivitas yang bai kantar daerah maupun wilayah. Indonesia Engann keunikan kontur wilayah yang dimilikinya memiliki tantangan tersendiri, yaitu banyaknya daerah daerah yang dipisahkan oleh sungai, lembah maupun jurang. Hal ini yang mendorong banyaknya Pembangunan infrastruktur terutana jembatan untuk menghubungkan antar daerah agar dapat terkoneksi lebih baik. Namun pada kondisi sebenarnya banyak jembatan khususnya jembatan pejalan kaki yang mengalami kerusakan parah hingga membuat antar daerah terputus. Menanggapi hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keandalan jembatan gantung pejalan kaki dengan mengaplikasikan bebah hidup dan beban angin bersamaan. Bentang jembatan yang dievaluasi adalah jembatan dengan bentang utama 100 meter dengan total panjang 150 meter. Jembatan ini dievaluasi berdasarkan beban yang berlaku saat ini yang mengacu pada Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010, beban lalulintas (pejalan kaki dan kendaraan bermotor roda dua) yang di survey langsung yang selanjutnya data tersebut didekati secara probabilistik untuk mendapatkan distribusi beban yang mungkin terjadi, data kecepatan angin harian dari BMKG yang selanjutnya dijadikan dasar untuk beban angin maksimum dengan periode ulang 10 dan 25 tahun. Evaluasi keandalan jembatan dilakukan pada 3 elemen struktur utama yaitu kabel utama, batang penggantung dan dek jembatan. Nilai indeks realibilitas setiap elemen struktur yang ditinjau memiliki nilai berbeda yaitu kabel dengan indeks realibilitas 3,73, batang penggantung yang memiliki nilai 2,88 dan dek dengan 4,34. Hal ini memberikan informasi bahwa elemen struktur paling sensitive pada jembatan gantung pejalan kaki adalah batang penggantung karena memiliki nilai indeks realinilitas yang paling kecil. Nilai indeks realiblitas selanjutnya dihitung untuk keandalan struktur masingmasing per elemen jembatan, meskipun nilai indeks reliabilitasnya berbeda nilai keandalan struktur masih berada pada angka 99%. Dimana hal tersebut menunjukkan bahwa jembatan masih memiliki keandalan yang cukup saat beban hidup dan beban angin dengan periode ulang 25 tahun diaplikasikan bersamaan.