📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDAMPAK STRATEGI PROMOSI DAN KUALITAS PELAYANAN DALAM MENUMBUHKAN LOYALITAS PELANGGAN: STUDI EMPIRIS PADA SHOPEE INDONESIA
E-commerce merupakan bagian penting dari ekonomi digital Indonesia, dengan Shopee memegang pasar yang dominan dan memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pengguna massal. Meskipun terdapat tingkat pertumbuhan yang tinggi di sektor ini, serta ketergantungan yang besar dari Shopee pada strategi promosi berbasis harga, keberlanjutan loyalitas pelanggan dalam lingkungan yang kompetitif untuk jangka waktu yang lama masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Literatur saat ini cenderung berfokus pada strategi promosi atau penentu kualitas layanan, namun kurang memperhatikan bagaimana kedua kekuatan tersebut saling terkait, terutama dalam konteks pasar berkembang di mana konsumen lebih sensitif terhadap harga tetapi pada saat yang sama semakin menginginkan pengalaman layanan digital yang lebih canggih. Kesenjangan penelitian ini diatasi oleh studi ini, di mana interaksi antara Daya Tarik Promosi yang Dirasakan (PPA), Kualitas Layanan Elektronik (ESQ), dan Kepuasan Pelanggan (CS), serta kontribusi CS terhadap Loyalitas Pelanggan (CL), diteliti secara empiris dalam konteks dua raksasa e-commerce tersebut. Studi ini mendasarkan desain kuantitatif-eksplanatorisnya pada penggunaan data survei yang dikumpulkan di antara pengguna aktif Shopee yang tinggal di Wilayah Metropolitan Jakarta—sebuah mikrokosmos perdagangan online Indonesia karena kepadatan penduduk yang besar, tingkat adopsi teknologi yang kuat, dan perilaku belanja online yang maju. Sekelompok ukuran tercermin yang terdiri dari dua puluh empat indikator dan empat konstruksi (PPA, ESQ, CS, dan CL) digunakan untuk menilai kedua platform oleh responden. Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) digunakan untuk menganalisis data, yang didukung oleh bootstrapping, uji mediasi, prosedur penilaian prediktif, dan analisis multi-grup untuk membandingkan dan membedakan model pada kedua platform. Hasil penelitian menunjukkan tren yang jelas dan kuat: Kualitas Layanan Elektronik (ESQ) dapat dilihat sebagai faktor yang paling berpengaruh dan paling stabil dalam memprediksi Kepuasan Pelanggan, dan dampaknya secara signifikan lebih kuat daripada promosi. Pada Shopee, ESQ menunjukkan koefisien jalur yang sangat tinggi terhadap CS (Shopee ? = 0,759, p < 0,001). Dimensi responsivitas layanan pelanggan, pemecahan masalah, keamanan transaksi, dan keandalan pengiriman produk muncul sebagai area terkuat dari ESQ, yang menunjukkan bahwa pembeli Indonesia lebih menekankan pada proses penanganan layanan yang fungsional, lancar, dan andal, dibandingkan sekadar hadiah promosi. Kepuasan Pelanggan, pada gilirannya, menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan Loyalitas Pelanggan. Jalur CS - CL sangat penting dalam kasus Shopee, yang mengindikasikan bahwa interpretasi kepuasan menjadi perilaku pembelian berulang, preferensi terhadap platform tertentu, dan niat untuk merekomendasikan bergantung pada keunggulan spesifik platform dan keyakinan konsumen mengenai konsistensi. Sebaliknya, Daya Tarik Promosi yang Dirasakan memiliki pengaruh yang rendah terhadap Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan. Nilai loading indikator yang rendah (dalam hal insentif finansial, terutama diskon dan pengiriman gratis) dihapus dalam model pengukuran yang divalidasi, dan ini menunjukkan bahwa kategori ini telah menjadi faktor higienis pasar (standar dasar) dan bukan lagi sebagai pembeda. Bahkan elemen promosi eksperiensial seperti gamifikasi dan live commerce memiliki daya jelaskan yang sangat rendah. Analisis mediasi juga mendukung fakta bahwa Kepuasan Pelanggan adalah proses sentral yang menghubungkan ESQ dengan loyalitas, sedangkan promosi tidak memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan loyalitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis multi-grup menunjukkan bahwa kedua platform menggunakan strategi promosi yang serupa, namun Shopee memiliki keunggulan lebih karena efektivitas konversi kepuasan menjadi loyalitas yang lebih besar. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas layanan, bukan intensitas promosi, merupakan pendorong utama loyalitas pelanggan yang berkelanjutan dalam duopoli e-commerce di Indonesia. Untuk membangun loyalitas jangka panjang seiring dengan meningkatnya persaingan dan menurunnya keuntungan marjinal dari pengeluaran promosi, platform harus fokus pada investasi dalam transaksi yang aman, dukungan yang responsif, sistem pemenuhan (fulfillment) yang andal, dan pengalaman pengguna berkualitas tinggi. Temuan ini juga memberikan informasi strategis bagi pemasar dan operator platform yang membutuhkan positioning jangka panjang selain program insentif berumur pendek di pasar digital yang berubah dengan cepat.
USULAN STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS UNTUK MENINGKATKAN PROFITABILITAS CV. KHARISMA SATRIA LESTARI
Industi tekstil di Indonesia merupakan salah satu industri yang banyak mendapat perhatian karena kondisi industi yang sedang lesu. Hal ini ditandai dengan banyaknya perusahaan tekstil yang bangkrut, terjadi PHK besar-besaran, dan tingkat utilisasi pabrik tekstil yang hanya sebesar 45%. Kondisi ini tidak terlepas dari berbagai faktor seperti regulasi yang mempermudah akses impor produk tekstil yang memberikan ancaman nyata bagi produser domestik karena mampu memberikan harga yang lebih murah dengan kualitas yang baik. Hal ini juga diperparah oleh ketidakstabilan geopolitik global, faktor makroekonomi, perubahan tren pakaian yang cepat, serta keterlambatan adopsi teknologi, yang membuat perusahaan tekstil domestik menjadi kurang kompetitif baik di pasar dalam maupun di luar negeri. Penurunan permintaan terhadap produk tekstil berdampak erat pada penurunan permintaan suku cadang (spare parts) mesin yang menjadi bagian krusial dalam produksi. Sebagai salah satu supplier suku cadang mesin tekstil, CV. Kharisma Satria Lestari (KSL) menjadi salah satu perusahaan yang ikut terdampak. CV. KSL merupakan perusahaan keluarga yang sudah berdiri sejak tahun 1990 dan berdomisili di Kota Bandung. Selama beberapa tahun terakhir, CV. KSL mengalami penurunan jumlah klien sebesar 37% dan penurunan pendapatan mencapai 37.5%. Oleh karena itu, di dalam studi ini akan dibahas bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan performa CV. KSL dan merumuskan startegi bisnis yang tepat untuk dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif di dalam proses pengumpulan dan analisis data. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi partisipan dan wawancara semi-terstruktur. Sementara, pengumpulan data sekunder dilakukan melalui tinjauan pustaka yang melibatkan beberapa sumber, seperti laporan perusahaan, laporan industri, buku, jurnal, artikel, dan berita. Dari data yang telah terkumpul dilakukan analisis tematik dan triangulasi data dan metodologi untuk memastikan validitas dan reliabilitas penelitian. Perusahaan dianalisis dari sudut pandang eksternal perusahaan ataupun internal dengan menggunakan sejumlah kerangka analisis, seperti STP (Segmenting, Targeting, Positioning), Porter's Five Forces, VRIN, SWOT, dan TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV. KSL hanya melayani satu segmen saja, yaitu perusahaan-perusahaan tekstil berskala sedang hingga besar yang melakukan sejumlah tahapan produksi terintegrasi dari spinning hingga finishing. Meskipun segmen ini memiliki kebutuhan suku cadang yang besar dari segi kuantitas maupun variasi, namun karena hanya mengandalkan satu segmen dari satu industri saja, CV. KSL sangat rentan terhadap fluktuasi permintaan. Hal ini diperparah oleh kondisi internal perusahaan yang masih belum optimal, seperti keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan mesin produksi, dan pengambilan keputusan yang terpusat sehingga menyebabkan perusahaan kurang responsif terhadap ancaman dari luar dan membatasi perusahaan dalam berinovasi. Berdasarkan kondisi internal dan eksternal perusahaan, strategi bisnis yang direkomendasikan adalah diferensiasi luas, dimana CV. KSL sebaiknya berfokus dalam upaya akuisisi klien baru, baik di segmen yang saat ini sudah dilayani maupun di segmen lain, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan tekstil berskala kecil. Meskipun skala perusahaan kecil, namun jumlah perusahaan lebih besar sehingga ukuran jumlah pembeli yang potensial lebih besar. Meski begitu, pendekatan untuk segmen ini berbeda dimana CV. KSL sebaiknya memposisikan diri sebagai mitra reparasi suku cadang alih-alih produsen spare part karena keterbatasan calon pelanggan serta perusahaan pesaing di dalam kapabilitas teknis. Untuk mewujudkan strategi bisnis ini, CV. Kharisma Satria Lestari harus memperkuat kapabilitas digital marketing, membangun jaringan yang lebih luas, serta meningkatkan kapabilitas R&D yang berkaitan dengan peningkatan kualitas produk serta fitur produk yang membuat CV. KSL lebih unggul, baik dalam hal produk ataupun layanan, dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan pesaing, yang pada akhirnya dapat mewujudkan tujuan perusahaan di dalam peningkatkan profitabilitas.
STUDI APLIKASI SENYAWA AZOBENZENA SEBAGAI SAKELAR MOLEKULER: PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS PROYEK MELALUI PENDEKATAN STEAM UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS
Penelitian ini mengangkat konteks kimia modern azobenzena sebagai sakelar molekuler (photoswitch) untuk memperkuat pembelajaran abad ke-21 melalui Project-Based Learning (PjBL) terintegrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) pada jenjang SMA. Secara kimia, kajian berfokus pada fotoisomerisasi trans ? cis turunan azobenzena dengan metil kuning (4-dimetilaminoazobenzena) sebagai model, serta pewarna makanan berbasis azo sebagai pembanding. Secara pendidikan, penelitian mengembangkan dan menguji modul STEAM–PjBL yang mengintegrasikan perancangan alat (fotoreaktor sederhana), eksperimen, analisis data, dan komunikasi ilmiah melalui poster. Metode penelitian meliputi pemurnian metil kuning, karakterisasi (FT-IR, ¹H NMR, ¹³C NMR), serta uji fotoisomerisasi melalui iradiasi UV–Vis (? = 400 nm) yang dipantau menggunakan spektrofotometri UV–Vis. Modul STEAM–PjBL diimplementasikan pada 28 siswa kelas XII selama empat pertemuan. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui desain pretest–posttest, kuesioner motivasi Intrinsic Motivation Inventory (IMI), rubrik penilaian proyek fotoreaktor, eksperimen, dan poster, serta kuesioner uji modul pembelajaran dengan analisis Rasch. Hasil kajian kimia menunjukkan bahwa metil kuning berhasil dimurnikan dan terkonfirmasi sebagai senyawa target melalui triangulasi data karakterisasi. Uji fotoisomerisasi memperlihatkan perubahan spektrum UV–Vis yang mengindikasikan proses trans ? cis, ditandai pergeseran hipsokromik (blue shift), disertai perubahan warna yang dipantau menggunakan aplikasi color meter dan munculnya noda baru yang lebih polar pada KLT. Laju trans ? cis bergantung pada pelarut: etanol (1 s) > isopropanol (5 s) > asetonitril (30 s). Relaksasi termal cis ? trans juga bervariasi, yaitu etanol (6 menit), isopropanol (30 menit), dan asetonitril (1 menit), yang menegaskan peran medium pelarut (kepolaran, ikatan hidrogen, dan dinamika medium) terhadap efisiensi fotosakelar. Sebaliknya, pewarna makanan berbasis azo yang diuji pada iradiasi ? = 400–500 nm tidak menunjukkan fotoisomerisasi teramati pada kondisi pengujian, baik melalui spektrum maupun indikator pendukung. Pada aspek pendidikan, seluruh kelompok berhasil merancang fotoreaktor sederhana yang berfungsi untuk uji fotoisomerisasi metil kuning. Reliabilitas penilaian proyek fotoreaktor tergolong tinggi (? ? 0,84), penilaian eksperimen rendah–sedang (? ? 0,52), dan penilaian poster sedang (? ? 0,64). Analisis Rasch pada pretest (25 butir; n = 28) menunjukkan kualitas instrumen yang baik (pemisahan item 2,48, reliabilitas item 0,86, KR-20 0,88) dengan rerata kemampuan siswa 0,27 logit. Setelah implementasi modul, posttest menunjukkan peningkatan kemampuan (rerata 2,18 logit), meskipun kualitas instrumen berada pada kategori sedang (pemisahan item 1,33, reliabilitas item 0,64, KR-20 0,71). Hasil IMI juga menunjukkan respons positif terhadap pengalaman pembelajaran, dengan skor Interest/Enjoyment ? 4,42 (tinggi), Perceived Competence ? 3,50 (cukup tinggi), dan Pressure/Tension-Reverse ? 3,30 (sedang). Secara keseluruhan, data mendukung adanya peningkatan kemampuan siswa setelah pembelajaran menggunakan modul STEAM–PjBL bertema sakelar molekuler azobenzena. Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) metil kuning layak digunakan sebagai model sakelar molekuler azobenzena pada konteks sekolah berdasarkan indikator spektrum dan uji pendukung, sedangkan pewarna makanan azo yang diuji tidak menunjukkan fotoisomerisasi teramati pada kondisi pengujian, dan (2) modul STEAM–PjBL yang dikembangkan layak diterapkan serta berpotensi meningkatkan capaian kognitif dan motivasi belajar, sekaligus memfasilitasi keterampilan abad ke-21.
MENGOPTIMALKAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL BERBASIS INSTAGRAM UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK BETTER BLOOM
Industri florist telah lama dikaitkan dengan ekspresi budaya dan makna simbolis, di mana bunga tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai pembawa emosi, apresiasi, dan perayaan. Di Indonesia, tradisi memberikan bunga tetap mendalam dalam praktik sosial dan pribadi, mulai dari upacara kelulusan dan ulang tahun hingga momen simpati dan perawatan diri. Industri ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital, dengan platform seperti Instagram memberikan florist peluang baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas, menampilkan daya tarik visual produk mereka, dan membangun identitas merek. Meskipun demikian, banyak florist kecil masih menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan digital, terutama dalam membangun kesadaran merek dan mempertahankan visibilitas di pasar yang kompetitif. Better Bloom, sebuah usaha florist kecil yang berbasis di Bandung, juga menghadapi tantangan serupa. Meskipun telah mencapai penjualan awal melalui rekomendasi mulut ke mulut dan eksposur organik di Instagram, sebagian besar pelanggannya masih berasal dari jaringan pribadi pendirinya. Ketergantungan pada koneksi pribadi ini menjadi hambatan dalam mengembangkan bisnis dan membangun merek yang dikenal. Analisis awal terhadap akun Instagram perusahaan menunjukkan frekuensi posting yang rendah (sekitar sekali sebulan), keragaman konten yang terbatas, dan interaktivitas yang minim, yang secara bersama-sama membatasi visibilitas merek dalam lingkungan algoritma Instagram yang cepat berubah. Gejala-gejala ini menyoroti pentingnya mengembangkan strategi pemasaran digital yang terstruktur dan berbasis data untuk memperkuat kesadaran merek dan mengurangi ketergantungan pada jaringan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemasaran berbasis Instagram yang meningkatkan kesadaran merek Better Bloom dengan mengintegrasikan wawasan dari perilaku konsumen, perbandingan dengan pesaing, dan analisis kuantitatif. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek pemasaran media sosial yang paling kuat mempengaruhi kesadaran merek dalam konteks bisnis florist kecil. Untuk mencapai hal ini, desain penelitian kuantitatif diterapkan. Data dikumpulkan melalui survei online yang dibagikan kepada 292 responden yang mewakili pasar sasaran Better Bloom: dewasa muda berusia 18–35 tahun yang tinggal di Bandung, pengguna Instagram aktif, dan individu yang tertarik dengan pemberian buket bunga sebagai hadiah. Tanggapan responden dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier berganda (MLR), dilengkapi dengan analisis konten akun Instagram Better Bloom dan perbandingan dengan florist pesaing di Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua dimensi pemasaran media sosial memiliki tingkat pengaruh yang sama terhadap kesadaran merek. Analisis regresi mengungkapkan bahwa hiburan, penyesuaian, dan mulut ke mulut elektronik (eWOM) secara signifikan berkontribusi dalam memperkuat kesadaran merek, dengan eWOM muncul sebagai prediktor paling berpengaruh. Di sisi lain, interaksi dan tren tidak menunjukkan efek yang signifikan. Hal ini menyarankan bahwa, bagi Better Bloom, membangun kesadaran merek memerlukan lebih dari sekadar mengikuti tren atau mendorong interaksi langsung; sebaliknya, perusahaan harus fokus pada konten yang secara emosional resonan, estetis menarik, dan dapat dibagikan, yang memotivasi pengguna untuk memperluas kesadaran merek melalui jaringan mereka sendiri. Analisis kluster tambahan lebih lanjut menyoroti perbedaan di antara responden: mereka yang memiliki kesadaran merek Better Bloom yang lebih tinggi cenderung menjadi pengguna Instagram yang lebih aktif dan konsumen perempuan, sejalan dengan pola perilaku pemberian hadiah yang lebih luas di industri florist. Kontribusi penelitian ini bersifat praktis dan akademis. Bagi Better Bloom, penelitian ini menyediakan peta jalan untuk beralih dari posting secara acak dan penjualan berbasis jaringan pribadi menuju strategi pemasaran yang terencana, skalabel, dan berorientasi pada konsumen. Bagi usaha kecil secara umum, studi ini menunjukkan bagaimana Instagram dapat dimanfaatkan secara strategis, bahkan dengan sumber daya terbatas, untuk meningkatkan kesadaran merek dan daya saing. Secara akademis, penelitian ini memperkaya literatur pemasaran media sosial dengan menguji pengaruh relatif hiburan, kustomisasi, interaksi, eWOM, dan tren dalam konteks usaha kecil florist di Indonesia, pasar di mana studi empiris masih terbatas. Penelitian ini menekankan bahwa membangun kesadaran merek di era digital memerlukan penyelarasan strategi pemasaran dengan pola perilaku konsumen serta memanfaatkan keunggulan unik platform media sosial. Dengan menerapkan perencanaan konten yang terstruktur, melibatkan pelanggan sebagai duta merek, dan mengadopsi praktik evaluasi berkelanjutan, Better Bloom dapat melampaui ketergantungannya pada jaringan pendiri. Hal ini akan memungkinkan bisnis untuk memperkuat identitasnya, menarik pelanggan baru, dan mengejar pertumbuhan berkelanjutan di pasar florist yang kompetitif di Bandung.
STRATEGI UNTUK MEMULIHKAN STABILITAS BISNIS PT. EDU
Perkembangan digitalisasi yang pesat secara signifikan mengubah sistem penyampaian pendidikan. Apa yang dulunya didominasi oleh pembelajaran tatap muka kini beralih ke platform pembelajaran online yang memfasilitasi pembelajaran jarak jauh dan berbasis teknologi. PT. Edu merupakan salah satu penyedia layanan pendidikan berbasis teknologi yang mengalami penurunan pendapatan meskipun sektor pendidikan digital di Indonesia mengalami transformasi yang cepat. Penelitian ini mengeksplorasi akar penyebab penurunan tersebut dan menganalisis kebutuhan mendesak untuk merumuskan strategi guna memulihkan stabilitas bisnis PT. Edu. Penelitian ini didorong oleh faktor-faktor strategis, operasional, dan pemasaran yang saling berinteraksi dan mempengaruhi penurunan kinerja perusahaan edtech. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi tantangan saat ini yang dihadapi PT. Edu, baik internal maupun eksternal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, melakukan wawancara mendalam dengan beberapa pemangku kepentingan internal dan eksternal, penulis mengumpulkan data dan menganalisisnya menggunakan alat seperti Marketing Mix 7Ps, VRIO, PESTEL, Porter's Five Forces, SWOT, dan TOWS Matrix. Temuan menunjukkan bahwa tantangan utama PT. Edu adalah kemampuan internal, strategi promosi pemasaran yang tidak efektif, tekanan pasar eksternal, serta tekanan politik dan kendala ekonomi. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, studi ini merumuskan solusi berdasarkan kekuatan dan kelemahan PT. Edu, sambil juga mempertimbangkan ancaman dan peluang eksternal yang memengaruhi bisnis PT. Edu. Solusi ini berfokus pada perbaikan cepat dan berdampak tinggi untuk menstabilkan kinerja, seperti merancang tingkatan harga yang lebih jelas, menawarkan perjanjian kemitraan multi-tahun dengan harga fleksibel, meningkatkan kemampuan pemasaran menggunakan alat otomatisasi, memisahkan promosi program gratis dan berbayar, dan lain-lain. Studi ini juga menyediakan matriks prioritas dari solusi yang ditawarkan agar PT. Edu dapat membandingkan dan menentukan mana yang perlu diprioritaskan, serta dilampirkan jadwal implementasi untuk melihat kapan setiap strategi harus dimulai.
KLONING, EKPRESI DAN KARAKTERISASI GEN SERIN HIDROKSIMETILTRANSFERASE (SHMT) MELALUI PENDEKATAN METAGENOM DARI KAWAH DOMAS
Indonesia memiliki kawasan geotermal yang kaya akan mikroorganisme ekstremofil dengan potensi menghasilkan ekstremozim untuk aplikasi bioteknologi. Kawah Domas di Taman Nasional Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu lingkungan geotermal dengan komunitas mikroba eksekstremofil yang sebagian besar sulit dikultur di laboratorium, sehingga pendekatan metagenomik menjadi alternatif yang efektif untuk memperoleh gen dan enzim dari sampel lingkungan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan penelitian sebelumnya pada serin hidroksimetiltransferase (SHMT) Kawah Domas yang menghasilkan inclution body. Penelitian bertujuan untuk memperoleh gen serin hidroksimetiltransferase (SHMT) dan ekspresi heterolog dari metagenom Kawah Domas serta meningkatkan kelarutan enzim dalam fraksi air. Gen SHMT diperoleh dengan pendekatan isolasi DNA metagenom, amplifikasi gen target, kloning ke dalam vektor pET-30a(+), serta ekspresi heterolog pada Escherichia coli BL21(DE3). Optimalisasi proses lisis sel dilakukan untuk meningkatkan fraksi protein larut, diikuti dengan pemurnian menggunakan kromatografi afinitas Ni-NTA. Aktivitas enzim diuji pada kondisi bersuhu tinggi menggunakan substrat DL-fenilserin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fragmen gen SHMT berukuran sekitar 1307 bp berhasil diamplifikasi dari DNA metagenom dan diekspresikan menghasilkan protein rekombinan dengan berat molekul sekitar 48 kDa. Optimalisasi lisis sel menggunakan SDS meningkatkan fraksi protein larut, dengan konsentrasi optimal SDS 0,1%. Pemurnian menggunakan kromatografi afinitas Ni-NTA dengan elusi 250 mM imidazol menghasilkan satu pita protein pada SDS-PAGE dan dapat meningkatkan aktivitas spesifik enzim hingga 4,8 kali dibandingkan ekstrak kasar, menunjukkan bahwa SHMT berada dalam bentuk aktif dan stabil pada suhu tinggi. Penelitian ini menegaskan efektivitas pendekatan metagenomik dan optimasi ekstraksi protein dalam memperoleh SHMT aktif.
USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK ZAMRA BACKYARD
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi penurunan kinerja penjualan Zamra Backyard Coffee Shop dan merumuskan strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan kinerja bisnisnya. Dalam penelitian ini, pendekatan penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data berdasarkan wawancara mendalam dengan pemilik, manajer operasional, lima pelanggan tetap dan lima calon pelanggan, serta observasi lapangan dan dokumen pendukung lainnya. Analisis dilakukan menggunakan VRIO, Porter's Five Forces, SWOT, TOWS Matrix, dan kerangka kerja Marketing Mix (7P), yang didukung oleh analisis tematik data wawancara. Temuan menunjukkan bahwa penurunan penjualan terutama didorong oleh kelemahan internal, terutama kualitas "biasa" dan terbatasnya variasi makanan, lokasi kafe yang kurang mudah diakses, dan fasilitas parkir yang tidak memadai. Dari perspektif eksternal, tekanan persaingan yang tinggi, daya tawar pelanggan yang kuat, dan kecenderungan pelanggan untuk memilih kafe dengan akses yang lebih mudah semakin memperparah tantangan yang dihadapi Zamra. Berdasarkan analisis TOWS dan hasil tematik, sejumlah strategi pemasaran disarankan, seperti peningkatan kualitas makanan dan pengembangan menu, strategi harga, aksesibilitas dan parkir, konsistensi promosi digital, keandalan layanan, pelatihan staf, alur layanan selama jam sibuk, dan bukti fisik. Strategi-strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, memperkuat diferensiasi, dan memulihkan kinerja penjualan Zamra Backyard secara berkelanjutan.
STRATEGI BISNIS YANG DIUSULKAN UNTUK STARTUP SAAS: STUDI KASUS ASSIST.ID
Laju globalisasi dan terobosan teknologi yang pesat telah mendorong transformasi digital di Indonesia, khususnya di sektor health-tech. Pergeseran ini, yang didorong oleh mandat pemerintah seperti PMK 24/2022 mengenai Rekam Medis Elektronik (RME), telah menciptakan peluang signifikan sekaligus persaingan ketat bagi penyedia Software-as-a-Service (SaaS). Assist.id, sebuah perusahaan SaaS health-tech terkemuka di Indonesia dengan basis lebih dari 6.000 klien, telah mengalami pertumbuhan awal yang pesat. Namun, kini perusahaan berada di strategic inflection point yang kritis. Tanpa adanya strategi bisnis yang formal dan terdokumentasi, Assist.id menghadapi ambiguitas operasional dalam alokasi sumber daya dan risiko bisnis yang signifikan. Hal ini mencakup tekanan customer churn yang tinggi dari pesaing 'freemium' di segmen pasar volume tinggi (Segmen 1) dan dari pesaing 'kaya fitur' di segmen pasar profit tinggi (Segmen 2). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesenjangan strategis ini dan merumuskan strategi business-level yang komprehensif untuk menjamin keunggulan kompetitif Assist.id yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur yang mendalam dengan manajemen internal (CEO, CMO, CTO, Manajer CS) dan pelanggan eksternal (Klinik Pratama dan Klinik Utama). Data dianalisis menggunakan kerangka kerja strategis termasuk Analisis STP, General Environment, Industry Environment, Value Chain Analysis, dan Matriks SWOT/TOWS. Analisis mengungkapkan bahwa masalah bisnis inti Assist.id berasal dari "lingkar umpan balik" (feedback loop) internal yang tidak efisien (W1) , yang menciptakan "kesenjangan fitur" (feature gap) kritis (W3) dan membuat 'mesin profit' (Segmen 2) perusahaan menjadi rentan terhadap pesaing. Strategi yang ada saat ini tidak memadai untuk mempertahankan kedua segmen tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pergeseran ke Strategi Integrasi Kepemimpinan Biaya/Diferensiasi. Strategi ini mencakup tiga tindakan utama : 1) Meluncurkan paket 'freemium' yang patuh regulasi (Kepemimpinan Biaya) untuk mempertahankan Segmen 1 dari perang harga. 2) Mempercepat peta jalan R&D untuk fitur-fitur canggih (Diferensiasi) untuk melindungi Segmen 2 yang bernilai tinggi. 3) Menerapkan perubahan organisasi untuk memperbaiki lingkar umpan balik internal, sehingga menyelaraskan pengembangan produk secara langsung dengan kebutuhan pasar.
AKTIVITAS FOSFATASE SUBFAMILI HALOASAM DEHALOGENASE DARI KLEBSIELLA PNEUMONIAE
Senyawa organofosfat sering digunakan dalam agrikultur sebagai pestisida atau insektisida untuk menghindari adanya hama dan meningkatkan produktivitas. Penggunaan organofosfat memiliki resiko yang tinggi karena sifatnya yang beracun. Organofosfat dapat bereaksi dengan sebuah enzirn yang berperan penting dalam sistem saraf, yaitu asetilkolinesterase. Asetilkolinesterase memiliki peran untuk menghidrolisis senyawa neurotransmiter bemarna asetilkolin sehingga sel sel otot dapat berelaksasi. Organofosfat dapat bereaksi secara ireversibel dengan residu katalitik asetilkolinesterase, sehingga enzim tersebut tidak lagi aktif. Salah satu cara untuk mengurangi residu organofosfat adalah bioremediasi menggunakan fosfatase, salah satunya dari subfamili haloasam dehalogenase. Haloasam dehalogenase (HAD) adalah kelompok enzim terbesar yang terdiri dari subfamili dehalogenase dan fosfatase. Meskipun namanya dehalogenase, sebagian besar enzim dalam famili HAD merupakan fosfatase. Enzim-enzim HAD sudah sering digunakan dalam bioremediasi, khususnya senyawa organohalogen. Klebsiella pneurnoniae sudah dilaporkan memiliki enzim HAD yang memiliki aktivitas dehalogenase. Namun, hasil pensejajaran urutan asam amino menunjukkan HAD milik K. pneumoniae memiliki motif yang dimiliki subfarnili fosfatase. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi kinetika dari enzim HAD yang dimiliki K. pneurnoniae. Koloni K. pneumoniae dikonfirmasi spesiesnya dengan ribosomal DNA typing. Gen 16S rRNA diamplifikasi dari DNA kromosom yang diisolasi dan dilakukan sequencing. Gen pengkode HAD dari K. pneumoniae (hakp2) diisolasi menggunakan PCR. Arnplifikasi hakp2 dilakukan menggunakan primer forward (5'-GAATTCATGATCCGCGCCATCGTG-3') dan reverse (5' AAGCTTTCATGCTGGGATCTGCTCC-3'). Fragrnen hasil PCR diklon ke pGEM-T dan ditransformasikan ke E. coli TOP 10 untuk diperbanyak dan disubklon ke pET-30a untuk diekspresikan menggunakan sistem ekspresi E. coli BL2 l(DE3). Plasmid pE T-hakp2 diisolasi dan dilakukan sequencing. Urutan nukleotida hakp2 digunakan untuk mendeduksi urutan asam amino Hakp2 dan memodelkan struktur 3Dnya. Hakp2 yang diproduksi dimurnikan menggunakan kromatografi afinitas Ni NTA. Ni-NTA dapat digunakan untuk pemumian Hakp2 karena adanya his-tag yang dibawa. Residu-residu histidin akan terikat oleh ion Ni2+ yang ada pada resin NTA. Hakp2 yang telah dimumikan digunakan untuk menentukan parameter kinetika fosfatasenya. Hakp2 direaksikan dengan substrat p-nitrofenil fosfat (p NPP). Produk reaksi p-nitrofenol (p-NP) dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-vis dengan /... 405 nm. Struktur 3D yang dimodelkan berdasarkan urutan asam amino hasil deduksi digunakan untuk melakukan studi komputasi. Studi komputasi dilakukan untuk menguji stabilitas substrat di dalam situs katalitik Hakp2. Molekul p-NPP ditambatkan (docking) ke dalam situs katalitik Hakp2 dan dilakukan simulasi dinamika molekul (MD). Hasil analisis spesies menggunakan ribosomal typing menunjukkan koloni memiliki kedekatan yang sangat tinggi dengan Klebsiella pneumoniae dengan persen identitas sebesar 99,41%. Penentuan urutan nukleotida hakp2 menunjukkan ukuran gen tersebut adalah 690 pasang basa. Hakp2 memiliki berat molekul 31,21 kDa berdasarkan deduksi dari urutan nukleotida. Hakp2 membawa his-tag, S-tag, enterokinase site, dan thrombin site. Hakp2 memiliki KM sebesar 3,7128 mM, Vmax sebesar 8,42 nM/detik, dan kcat sebesar 0,01315 detik1 Sebagai perbandingan fosfatase dari Arthrobacter sp. dan A=ohydromonas australica memiliki kcat sebesar 4.540 detik-1 dan 4,6 detik 1 Mekanisme defosforilasi membutuhkan dua residu aspartat, sedangkan Hakp2 memiliki residu aspartat dan glutamat. Studi komputasi dari mutan Hakp2 ElOD yang mengubah glutamat tersebut menjadi aspartat menunjukkan perbedaan struktur pada saat adanya substrat pada situs katalitik. Berubahnya glutamat menjadi aspartat juga menurunkan nilai energi bebas pengikatan substrat (MM GBSA) yang menunjukkan pengikatan substrat yang lebih kuat.
ISOLASI DAN EKSPRESI GEN HALOASAM DEHALOGENASE DARI MULTIPEL KROMOSOM BURKHOLDERIA CEPACIA STRAIN LOKAL ATNM4
Kelompok asam haloasetat HAA5 merupakan produk samping disinfeksi air yang paling umum dan menjadi perhatian serius karena sifatnya yang toksik. Upaya pengendalian HAA5 melalui pendekatan konvensional masih memiliki keterbatasan, sehingga degradasi enzimatik berbasis haloasam dehalogenase muncul sebagai strategi bioremediasi yang lebih menjanjikan. Burkholderia cepacia merupakan bakteri dengan karakteristik genomik unik, memiliki tiga kromosom yang masing-masing mengandung gen haloasam dehalogenase (L-2- HAD). Keberadaan sejumlah gen haloasam dehalogenase pada B. cepacia menunjukkan potensi untuk menghasilkan enzim dengan karakteristik unik dan efisiensi katalitik yang lebih baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan kloning, subkloning dan ekspresi gen haloasam dehalogenase yang dimiliki oleh multipel kromosom B. cepacia strain ATNM4. Penelitian ini dimulai dengan isolasi DNA kromosom B. cepacia serta konfirmasi spesies bakteri melalui analisis ribosomal DNA typing. Selanjutnya, dilakukan perancangan primer spesifik untuk amplifikasi ketiga gen L-2-HAD dari masing-masing kromosom B. cepacia (bchad) menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR). Perancangan primer mengacu pada sekuens gen L-2-HAD yang terdapat pada kromosom satu (primer bchad1), dua (primer bchad2) dan tiga (primer bchad3), dari beberapa strain B. cepacia yang tersedia pada basis data NCBI. Ketiga gen bchad masing- masing diklon ke dalam plasmid pGEM-T menggunakan sel inang E. coli TOP10, menghasilkan tiga jenis transforman: E. coli TOP10/pGEM-bchad1, E. coli TOP10/pGEM-bchad2, dan E. coli TOP10/pGEM-bchad3. Selanjutnya, masing- masing disubkloning ke dalam plasmid pET-30a(+) menggunakan sel inang E. coli BL21(DE3), menghasilkan tiga jenis transforman: E. coli BL21(DE3)/pET- bchad1, E. coli BL21(DE3)/pET-bchad2, dan E. coli BL21(DE3)/pET-bchad3. Ekspresi gen bchad diinduksi menggunakan IPTG, dan menghasilkan ekstrak kasar enzim Bchad1, Bchad2, dan Bchad3. Ketiga ekstrak enzim tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan aktivitas haloasam dehalogenase dari ketiga enzim Bchad dengan substrat monokloroasetat (MCA). Hasil analisis ribosomal DNA typing menunjukkan bahwa bakteri yang digunakan memiliki kekerabatan terdekat dengan B. cepacia ZM DL PA2 dan B. cepacia JCM 5507, sehingga isolat yang digunakan dalam penelitian ini terkonfirmasi sebagai spesies B. cepacia. Sekuensing terhadap bchad1, bchad2, dan bchad3 dalam klon rekombinan menghasilkan ukuran 768 pb, 721 pb dan 669 pb. Deduksi residu asam amino menunjukkan bahwa Bchad1, Bchad2, dan Bchad3 masing-masing terdiri dari 255, 240, dan 222 residu, dengan perkiraan massa molekul ~30 kDa. Hasil uji aktivitas dehalogenase menunjukan bahwa ketiga enzim memiliki profil aktivitas yang berbeda. Bchad1 memiliki kestabilan aktivitas yang cukup tinggi pada rentang pH 5–10, dengan aktivitas spesifik 0,046 ± 0,001 U/mg pada pH 8, sedangkan Bchad2 memiliki aktivitas optimum pada pH 8 dengan aktivitas spesifik 0,049 ± 0,0002 U/mg. Bchad3 tidak menunjukkan aktivitas haloasam dehalogenase. Hal ini diduga berkaitan dengan ketiadaan residu Arg43, yang merupakan residu kunci dalam pengaturan akses substrat dan produk menuju situs aktif, serta berperan penting dalam pembentukan intermediat ester selama proses katalisis. 1 Unit (U) haloasam dehalogenase didefinisikan sebagai sejumlah enzim yang dibutuhkan untuk melepaskan 1 µmol ion Cl- per menit. Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi haloasam dehalogenase dengan karakteristik baru, dimana Bchad1 memiliki kestabilan aktivitas pada rentang pH yang luas termasuk pada kondisi asam, tetapi juga menegaskan peran penting residu Arg43 dalam mekanisme reaksi dehalogenase.
EVALUASI KEPUASAN LAYANAN PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT MELALUI SISTEM CEPAT RESPON MASYARAKAT (CRM) PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA
Provinsi DKI Jakarta memiliki sistem dalam pelaporan publik terpadu yang dapat dilakukan masyarakat yaitu Sistem Cepat Respon Masyarakat (CRM). Masyarakat di DKI Jakarta dapat melakukan pengaduan, laporan, dan aspirasi pada berbagai situasi dan permasalahan melalui Sistem CRM. Permasalahan yang saat ini terjadi adalah, hambatan respon dan penyelesaian laporan pengaduan, yang berdampak pada ketidakpuasan pelayanan dan penurunan kepercayaan publik pada kinerja pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kepuasan masyarakat di DKI Jakarta pada Sistem CRM. Menggunakan pendekatan metode campuran kualitatif dan kuantitatif, penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan. Langkah pertama Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan wawancara kepada tiga orang pakar ahli di Sistem CRM. Langkah kedua Fuzzy Comprehensive Evaluation (FCE) menggunakan survei kepada 503 masyarakat di DKI Jakarta. Dan langkah terakhir kedua tahapan sebelumnya yaitu AHP dan FCE dianalisis menggunakan model Importance Performance Analysis (IPA), untuk mengidentifikasi prioritas kepentingan dan kesenjangan layanan yang perlu diperbaiki. Temuan penelitian menunjukkan, kualitas pelayanan pada Sistem CRM berada pada rentang netral dan puas, sehingga meskipun sistem CRM sudah berfungsi kualitas layanannya belum memenuhi ekspektasi masyarakat. Permasalahan responsivitas layanan yang cepat, transparansi proses pada publik, sampai koordinasi lintas lembaga menjadi salah satu temuan penting yang menyebabkan ketidakpuasan pada Sistem CRM. Temuan penelitian ini menyimpulkan perlunya pengembangan Sistem CRM yang memprioritaskan evaluasi dan monitoring berkala berbasis data.
STUDI KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT DAN KAITANNYA DENGAN BATUAN DASAR DI DAERAH TAPUNOPAKA, KONAWE UTARA, SULAWESI TENGGARA
Nikel semakin banyak dibutuhkan dalam berbagai sektor industri, terutama pada industri baterai kendaraan listrik, dan dapat ditemukan di Pulau Sulawesi. Secara administratif, lokasi penelitian terletak di Daerah Tapunopaka, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas area 0,92 km² yang termasuk dalam IUP PT ANTAM Tbk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik profil laterit terhadap kelimpahan unsur nikel (Ni) pada zona limonit-saprolit dan kobalt (Co) pada zona limonit, serta menganalisis karakteristik batuan dasar di daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data assay pada 10 titik bor, 11 sampel petrografi, peta geologi lembar Lasusua-Kendari, data DEMNAS, dan foto pengamatan lapangan. Secara umum profil endapan nikel laterit di daerah penelitian terbagi menjadi empat zona yaitu top soil, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Jenis batuan dasar yang ditemukan pada daerah penelitian adalah harzburgit, dunit, dan lherzolit. Terdapat 2 tipe endapan nikel laterit pada daerah penelitian yaitu tipe hydrous Mg silicate deposits (paling dominan) dan tipe oxide deposits. Daerah penelitian telah mengalami laterisasi kuat, memiliki nilai Ultramafic Index of Alteration (UMIA) tertinggi yaitu 79,62 pada zona limonit, dan menunjukkan tren pelapukan menuju ke arah pengayaan unsur besi (Fe). Estimasi persebaran unsur nikel (Ni) dan kobalt (Co) dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW) pada zona limonit dan saprolit. Berdasarkan hasil estimasi pada zona limonit, kadar rata-rata nikel yang tinggi (Ni > 1,42 wt%) dan kadar rata-rata kobalt yang tinggi (Co > 0,16 wt%) berada di timur laut dari daerah penelitian dengan ketebalan limonit yang relatif lebih tebal (ketebalan mencapai 8 m). Berdasarkan hasil estimasi pada zona saprolit, kadar rata-rata nikel yang tinggi (Ni > 1,47 wt%) berada di barat laut - barat daya dan timur dari daerah penelitian dengan ketebalan saprolit yang relatif lebih tebal (ketebalan mencapai 19 m). Daerah yang memiliki batuan dasar berjenis dunit cenderung menghasilkan kadar nikel yang relatif lebih tinggi pada zona saprolit dibandingkan batuan dasar berjenis harzburgit karena batuan dunit mengandung lebih banyak mineral olivin sehingga dapat menghasilkan pengayaan nikel yang lebih besar.
USULAN STRATEGI BISNIS MENGGUNAKAN PENDEKATAN MANAJEMEN STRATEGIS UNTUK PERTUMBUHAN BISNIS (STUDI KASUS PT. GUNA OLAH NIAGA)
Pertanian masih merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia, dan merupakan penyumbang sekitar 13-15% PDB nasional dan mempekerjakan sebagian besar penduduk. Namun, ketergantungan yang berlebihan pada pupuk kimia sejak Revolusi Hijau telah menyebabkan degradasi tanah yang parah dan masalah lingkungan. Dengan meningkatnya kebutuhan untuk menciptakan pertanian berkelanjutan dan organik, kemungkinan inovasi dalam produksi pupuk organik diperkenalkan. Sebagai perusahaan rintisan di Bandung, PT Guna Olah Niaga (PT GON) bertujuan untuk memecahkan masalah produktivitas pertanian serta masalah pengelolaan limbah dengan memproduksi pupuk organik cair yang dihasilkan dari biomassa invasif dan terbuang, misalnya eceng gondok dan limbah sayuran. Meskipun idenya menjanjikan, PT GON memiliki sejumlah masalah strategis yang terkait dengan kurangnya kapasitas produksi, kredibilitas pasar yang buruk, keterbatasan keuangan, dan diferensiasi produk yang buruk. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengembangkan strategi bisnis yang diusulkan untuk membantu PT GON tumbuh secara berkelanjutan melalui penerapan pendekatan manajemen strategis. Tujuan penelitiannya adalah: (1) untuk menguji kekuatan dan kelemahan internal perusahaan dan peluang dan ancaman eksternal perusahaan berdasarkan kerangka kerja manajemen strategis, (2) untuk merekomendasikan strategi bisnis yang dapat digunakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan daya saing dalam industri pupuk organik, dan (3) untuk merencanakan beberapa Indikator Kinerja Utama (KPI) yang terukur yang dapat diimplementasikan dalam periode tiga tahun. Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif di mana data primer akan dikumpulkan dengan melakukan wawancara semi-terstruktur dengan delapan pemangku kepentingan utama yang merupakan empat pendiri organisasi dan empat pakar luar seperti petani, pejabat pemerintah daerah, dan praktisi di industri pertanian. Temuan tersebut dilengkapi dengan data sekunder, yang didasarkan pada laporan industri, literatur akademis, dan publikasi pemerintah. Rantai Nilai dan VRIO telah digunakan sebagai dua kerangka kerja analitis dalam analisis internal, dan PESTEL dan Lima Kekuatan Porter dalam analisis eksternal. Temuan tersebut kemudian disintesis menggunakan matriks SWOT dan TOWS untuk menghasilkan alternatif strategis. Analisis internal menunjukkan bahwa PT GON memiliki kekuatan dalam pemanfaatan limbah yang inovatif dan keahlian pendiri, serta kelemahan dalam hal standarisasi produksi dan skalabilitas serta sumber daya keuangan yang tidak memadai. Analisis eksternal menemukan beberapa peluang dalam peningkatan pengetahuan tentang pertanian berkelanjutan, permintaan B2B akan input ramah lingkungan, dan kewenangan pemerintah dalam isu sertifikasi organik. Meskipun demikian, risiko terbesar adalah pupuk kimia bersubsidi, pasar yang kompetitif, dan keengganan petani untuk mengadopsi produk karena ketidakpastian produk yang dirasakan. Berdasarkan formulasi TOWS, terdapat empat pilar strategis yang disarankan: (1) Keunggulan Proses Bisnis Internal dan Kapabilitas Operasional; (2) Kekuatan Finansial dan Kapasitas Pertumbuhan Berkelanjutan; (3) Kredibilitas Pasar, Pengembangan Pelanggan, dan Keterlibatan Eksternal; serta (4) Inovasi Jangka Panjang, Pengembangan Kapabilitas, dan Pembelajaran Organisasi. Strategi-strategi ini memiliki kerangka kerja Balanced Scorecard yang menguraikan KPI dalam empat perspektif, meliputi finansial, pelanggan, proses bisnis internal, pembelajaran, dan pertumbuhan, serta tujuan spesifik tahun 2026-2028. Studi ini menemukan bahwa pendekatan bisnis gabungan yang berfokus pada keunggulan operasional, penetrasi pasar berbasis strategis, dan pengembangan kompetensi dapat memperkuat keberadaan PT GON di pasar pupuk organik Indonesia. Selain implikasi manajerial PT GON, studi ini dapat menambah literatur tentang proses manajemen strategis melalui bukti bagaimana kerangka kerja strategis terstruktur memungkinkan usaha kecil berkelanjutan yang beroperasi di pasar negara berkembang untuk mencapai keunggulan kompetitif. Lebih lanjut, studi ini memberikan contoh yang dapat direplikasi oleh perusahaan rintisan lain di sektor ekonomi hijau di Indonesia untuk beralih dari fase operasional awal ke fase pengembangan bisnis yang terorganisir.
POTENSI REPELENSI EKSTRAK KULIT JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA) TERHADAP NYAMUK AEDES AEGYPTI L.
Iklim Indonesia yang merupakan iklim tropis mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penyakit DBD. Berbagai macam metode pencegahan dilakukan untuk mengurangi penyebaran penyakit DBD melalui nyamuk Aedes aegypti. Salah satu metode pencegahan DBD yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan repellent alami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimal ekstrak kulit jeruk nipis sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti, menentukan ED50 dan ED99 ekstrak kulit jeruk nipis sebagai repellent, serta mengidentifikasi senyawa aktif yang berpotensi sebagai repellent nyamuk Aedes aegypti pada kulit jeruk nipis dengan menggunakan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode arm in cage sedangkan ekstraksi kulit jeruk nipis dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Data diolah menggunakan perangkat lunak Rstudio dan SPSS dengan nilai selang kepercayaan 95%. Dosis ekstrak yang digunakan untuk pengujian adalah sebesar 0.17 mg/cm2, 0.5 mg/cm2, 0.83 mg/cm2, 1.17 mg/cm2 dan 1.5 mg/cm2. Daya proteksi yang diperoleh untuk tiap dosis perlakuan secara berurutan adalah 76.2 ± 8.27%, 85.1 ± 4.35%, 90.9 ± 0.83%, 100%, dan 100%. Ekstrak kulit jeruk nipis memiliki ED50 sebesar 0.07 mg/cm2 dan ED99 sebesar 2.183 mg/cm2. Hasil GC-MS menunjukkan adanya keberadaan senyawa yang diduga berpotensi sebagai repellent nyamuk Aedes aegypti yaitu geraniol dan (-)-caryophyllene oxide serta beberapa golongan seskuiterpen yang memiliki manfaat sebagai antimikroba, antiinflamasi, antikanker dan antivirus.
IDENTIFIKASI EFEKTIVITAS GREEN ROOF DAN GREEN WALL PADA KAWASAN PERUMAHAN PADAT DALAM UPAYA MITIGASI URBAN HEAT ISLAND
Peningkatan temperatur udara di kawasan perkotaan akibat urbanisasi atau dikenal dengan Urban Heat Island (UHI) merupakan akumulasi kalor pada kawasan perkotaan padat seperti area perumahan, perkampungan, perdagangan, dan lainnya. Akumulasi kalor tersebut berakibat dari dominasi pemakaian material berat seperti beton dan bata merah pada bangunan yang menyerap serta melepaskan kalor ke udaa secara lambat. Salah satu teknologi mitigasi UHI adalah atap hijau (green roof) dan dinding hijau (green wall) yang dilaporkan mampu mengelola energi dari sinar matahari untuk kebutuhan evapotranspirasi dan fotosintesis. Penggunaan tanaman pada atap dan dinding bangunan berfungsi tidak hanya sebagai pelapis, tetapi juga sebagai penyerap energi dari matahari sehingga tidak terbaurkan ke udara. Namun, efektivitas penerapan dinding dan atap hijau untuk menurunkan intensitas UHI di kawasan permukiman perlu banyak kajian. Penelitian ini bertujuan mempelajari efektivitas atap dan dinding hijau untuk mengurangi intensitas Urban Heat Island Intensity (UHII) secara spasial dan temporal pada penggunaan tanaman Brekele (Philodendron burle-marxii) dan Pakis Pedang (Nephrolepis exaltata). Metode penelitian meliputi tiga tahap utama yaitu, (1) identifikasi kondisi lingkungan termal Kawasan Perumahan pada empat periode waktu (pagi, siang, sore, malam), (2) eksperimen efek penerapan atap dan dinding hijau berorientasi Timur dan Barat dengan pengukuran variabel temperatur udara (Ta), temperatur permukaan daun (Tls), temperatur radiasi (GT), kelembapan relatif (RH), kecepatan angin (v), dan radiasi matahari (SI), serta (3) simulasi spasial menggunakan ENVI-met 5.7.1 untuk memetakan distribusi panas dan keseimbangan energi kawasan secara tiga dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atap hijau memiliki kemampuan signifikan dalam menurunkan temperatur permukaan hingga 13,39°C dibandingkan atap beton (kontrol), meskipun menunjukkan kecenderungan memanaskan udara pada pagi hari. Sebaliknya, dinding hijau menunjukkan variasi kinerja berdasarkan orientasi dinding. Dinding Timur efektif menurunkan temperatur udara sebesar 1,19–2,54°C dengan penundaan puncak suhu (delay) hingga 37–68 menit dibandingkan dinding bata (kontrol), sedangkan penerapan dinding hijau pada dinding Barat menurunkan temperatur udara lebih besar hingga 2,04–2,82°C lebih dingin pada sore hari dengan fluktuasi kelembapan relatif 5–8% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakter tanaman dimana Pakis Pedang (Nephrolepis exaltata) dengan daun yang relatif tipis (0,2–0,4 mm), tinggi batang sekitar 40–90 cm, dan kerapatan daun yang renggang mampu menurunkan suhu dengan cepat namun menghasilkan pola penurunan lebih fluktuatif. Sebaliknya, Brekele (Philodendron burle-marxii) dengan daun yang lebih tebal (0,6–1,0 mm), tinggi tanaman sekitar 40–60 cm, serta daun yang lebih rapat lebih efektif dalam meredam penetrasi radiasi matahari dan menghasilkan penurunan yang lebih stabil. Simulasi spasial pada ENVI-met di mana sistem selubung tanaman dimodelkan dengan modifikasi parameter seperti Leaf Area Index (LAI) serta properti substrat dan media tanam, menunjukkan bahwa kombinasi atap dan dinding hijau secara bersamaan mampu menurunkan temperatur udara maksimum kawasan dari 34,94°C menjadi 34,54°C serta mengurangi area panas ekstrem (>34°C) sebesar 688 m² atau 19,6% dari total tapak. Distribusi panas kawasan menunjukkan pergeseran area panas tinggi menjadi kategori panas ringan (31–32°C), menandakan efek sinergis tanaman terhadap homogenisasi termal lingkungan. Secara konseptual, kombinasi tanaman horizontal dan vertikal membentuk mekanisme pendinginan dua lapis, yaitu atap hijau sebagai peredam panas vertikal dan dinding hijau sebagai penyebar panas horizontal yang bersama-sama memperkuat aliran udara sejuk antarpermukaan dan menurunkan puncak suhu harian. Hasil analisis juga mengindikasikan bahwa pengaruh kondisi cuaca juga terbukti berpengaruh, di mana peningkatan tutupan awan (cloud cover) hingga 60% ke atas menurunkan kapasistas evapotranspirasi harian. Temuan ini dapat dipahami karena tanaman tropis membutuhkan asupan radiasi matahari yang optimal terutama pada kondisi di atas 350 W/m² untuk mencapai proses evapotrapotranspirasi terbaik. Secara keseluruhan, dinding dan atap hijau merupakan teknologi mitigasi UHII untuk kawasan perumahan padat dengan iklim tropis lembap.