📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenMENINGKATKAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN OPERASI PENGAPALAN PADA PERUSAHAAN PUPUK MELALUI DASHBOARD DINAMIS: SEBUAH ANALISIS KUALITATIF
Proyek akhir ini mempelajari bagaimana para pemangku kepentingan di PT Pupuk Indonesia (Persero) mengambil keputusan selama fase pelaksanaan distribusi kapal melalui kapal di Lini I ke II dan mengidentifikasi kebutuhan dukungan pengambilan Keputusan yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas manajerial. Alih-alih membangun system operasional lengkap, studi ini mengambil pendekatan yang lebih praktis dan berorientasi pada pengambilan Keputusan dengan mengumpulkan informasi tentang tantangan operasional harian, memeriksa sistem informasi saat ini, dan mengidentifikasi kesenjangan dukungan pengambilan keputusan yang akan menentukan fitur dari system tersebut. Fokus proyek akhir ini adalah memahami bagaimana informasi yang ada dimanfaatkan untuk pengambilan Keputusan dan bagaimana informasi tersebut dapat disusun ulang dengan lebih baik untuk mendukung intervensi manajerial yang lebih cepat dan proaktif. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penulis melakukan tiga wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama di Kompartemen Distribusi yang bertanggung jawab atas perencanaan dan perutean operasional pengiriman. Transkrip wawancara mereka diproses dengan pengodean dua siklus dari Saldaña (2009) untuk mengidentifikasi masalah pada pola yang berulang. Analisis kualitatif menerjemahkan tantangan operasional ke kriteria pengambilan Keputusan terstruktur yang mewakili kebutuhan informasi dari pemangku kepentingan.selama proses pelaksanaan distribusi. Temuan dari proyek akhir ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan saat ini bergantung pada sumber informasi yang terfragmentasi, seperti laporan terpisah, grup WhatsApp, dan spreadsheet. Fragmentasi ini memperlambat respons manajerial dalam situasi operasional seperti keterlambatan kapal, kekurangan stok, atau deviasi pelaksanaan. Sistem digital saat ini menyediakan fungsi transaksional dan pelaporan dasar tetapi kurang memiliki visibilitas operasional untuk mendukung pengambilan keputusan yang efektif. Pastisipan juga menyoroti tidak adanya Key Performance Indocator (KPI) operasional yang terstandardisasi untuk kontrol pelaksanaan. Studi ini mengusulkan dasbor pendukung Keputusan sebagai Solusi bisnis. Desain dasbor didasarkan pada kriteria pengambilan Keputusan dari analisis kualitatif dan turunan dari House of Quality (HOQ). Adapun solusi yang ditawarkan meningkatkan visibilitas operasional, deteksi resiko dini, dan rensponsivitas pengambilan keputusan.
SINYAL SEMG UNTUK KLASIFIKASI PENILAIAN FUNGSI MOTORIK EKSTREMITAS ATAS PADA PASIEN STROKE MENGGUNAKAN MODEL RANDOM FOREST
Stroke masih menjadi salah satu penyebab disabilitas jangka panjang dengan 77% penyintas mengalami gangguan pada fungsi motorik ekstremitas atas. Penilaian klinis seperti Muscle Manual Testing (MMT) dilakukan untuk menilai kondisi kekuatan motorik penyintas. Kelemahan dari penilaian ini adalah sulit untuk membedakan perubahan kekuatan yang kecil sehingga dibutuhkan metode kuantifikasi untuk menjawab tantangan ini. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk proses kuantifikasi adalah dengan menggunakan sinyal sEMG (surface-electromyography). Sinyal sEMG memberikan gambaran mengenai kondisi otot melalui fitur-fitur yang ada di dalamnya, sehingga sinyal sEMG memiliki potensi untuk kuantifikasi kekuatan. Penelitian ini mengeksplorasi berbagai fitur pada sEMG untuk kuantifikasi kekuatan otot dan mengklasifikasikan fitur-fitur tersebut menjadi kategori penilaian MMT menggunakan random forest. Studi ini melibatkan partisipasi 14 pasien stroke akut yang diperoleh melalui kerja sama dengan Prodi Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Rumah Sakit Hasan Sadikin, subjek penelitian dipilih dengan metode consecutive sampling dengan kriteria tertentu. Pengukuran sEMG dilakukan di lima otot besar pada area bahu, lengan dan tangan dengan pengukuran dilakukan sebanyak 5 kali sejak 3 hari – 3 bulan pasca stroke. Hasil analisis data menunjukkan bahwa sinyal sEMG dapat menunjukkan progres pemulihan motorik subjek secara objektif. Berdasarkan pada tren pada fitur RMS tiap sesi menunjukkan pemulihan paling signifikan terdapat pada grup MMT < 3 sebesar 3,82 kali lebih besar relatif terhadap sesi pertama. Selanjutnya, hasil klasifikasi dari model random forest menunjukkan bahwa fitur power bin 50-75 Hz, power bin 75-100 Hz, power bin 100-125 Hz, power bin 125-150 Hz dan coefficient of variation (ZC) merupakan fitur yang paling efektif dalam mengklasifikasikan kekuatan otot ke dalam kategori penilaian MMT.
ANALISIS DAN EVALUASI PEMODELAN ALIRAN DEBRIS DI JAWA BARAT TAHUN 2024
Longsoran yang berkembang menjadi aliran debris terjadi pada tiga lokasi di Jawa Barat pada tahun 2024, yaitu di Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bandung Barat. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa serta kerusakan permukiman dan infrastruktur. Sebagai bagian dari upaya mitigasi, dilakukan analisis balik terhadap ketiga lokasi tersebut melalui pemodelan menggunakan perangkat lunak RAMMS::DEBRISFLOW. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan mengevaluasi distribusi aliran serta zona intensitas aliran debris, menganalisis sensitivitas parameter masukan terhadap performa model, dan mengidentifikasi karakteristik parameter friksi yang mengontrol dinamika aliran. Metode penelitian meliputi observasi lapangan, pemrosesan citra drone, pengujian laboratorium tanah, dan simulasi numerik. Melalui pemodelan aliran debris, distribusi tebal aliran, kecepatan, momentum, dan tekanan impak pada setiap lokasi dapat diestimasi. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa ketiga lokasi termasuk dalam gerakan tanah skala menengah dengan kecepatan pergerakan yang tergolong ekstrim cepat. Evaluasi performa model secara 2D menunjukkan nilai performa model terbaik berada pada kisaran 0,66 hingga 0,83, yang mengindikasikan kemampuan model yang baik dalam mereplikasi pola sebaran aliran aktual. Analisis intensitas aliran debris menghasilkan zonasi bahaya tinggi, sedang, dan rendah, dengan seluruh bangunan terdampak berada pada zona intensitas tinggi. Karakteristik parameter friksi pada tiap lokasi mengindikasikan tipe aliran yang berbeda, yaitu aliran debris berlumpur di Subang dan Bandung Barat serta aliran debris granular di Sukabumi. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa parameter ? (parameter gesekan basal) merupakan faktor paling berpengaruh terhadap performa model, diikuti oleh c (kohesi aliran), ? (parameter gesekan viscous-turbulent), dan ? (densitas aliran). Hubungan antara sifat geoteknik material dengan parameter friksi memperlihatkan bahwa kandungan butir halus dan kadar air berkorelasi negatif dengan ?, sementara kohesi berkorelasi positif dengan ?. Pengetahuan mengenai sifat fisik, mekanik, serta dinamika aliran yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya mitigasi bahaya aliran debris pada wilayah penelitian maupun daerah dengan karakteristik material serupa.
KONTROL STRUKTUR DAN INTERAKSI FLUIDA-BATUAN PADA MINERALISASI BESI-TIMAH DI WILAYAH BATUBESI, KABUPATEN BELITUNG TIMUR
Cebakan skarn Fe-Sn polimetalik merupakan salah satu cebakan timah primer yang cukup penting karena banyak timah terkandung dalam tipe cebakan tersebut. Cebakan skarn tersebut secara umum mirip dengan cebakan tipe skarn lainnya, yaitu adanya penggantian batuan asal menjadi batuan lain melalui proses ubahan hidrotermal. Cebakan Batubesi yang terletak di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka dan Belitung merupakan salah satu cebakan tipe Fe-Sn polimetalik. Meskipun sudah ditemukan dalam waktu yang lama, penelitian mengenai cebakan tersebut masih sangat terbatas. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian komperhensif untuk mengetaui karakteristik cebakan tersebut, khususnya kontrol struktur dan interaksi fluida-batuan pada saat pembentukan cebakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemetaan struktur di lapangan, pengamatan komposisi mineral dan unsur, serta inklusi fluida untuk mengetahui pola struktur rekahan yang berkembang pembentukan cebakan skarn Fe-Sn pol imetalik. Data inti bor terorientasi dan pengamatan singkapan di lapangan digunakan sebagai pendekatan dalam memahami pola struktur rekahan dan urat yang berkembang di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pola struktur sesar normal dan sesar mendatar di wilayah penelitian. Sesar normal berperan sebagaijalan masuk magma di wilayah penelitian. Selain itu, ditemukan juga beberapa domain berbeda pada cebakan, diantaranya adalah domain batuan sedimen, magnetit-klorit, magnetit, batutanduk, dan granit. Mineralisasi urat yang terjadi di wilayah penelitian terdiri dari tiga episode, yaitu skarn prograde, skarn retrograde I, retrograde II. Rekahan pada skarn prograde dinggantikan oleh mineral-mineral dari skarn retrograde II. Selanjutnya, kedua tahap mineralisasi skarn tersebut dipotong oleh tahap retrograde II. Selain itu, ditemukanjuga indikasi mineralisasi greisen yang ditandai batuan kaya kuarsa-muskovit pada rekahan-rekahan sekitar granit.
PENENTUAN NILAI BANDWIDTH UNTUK GRAF SIRKULAN
Analisis sistem persamaan linear dalam konteks struktur bangunan dan jembatan merupakan permasalahan yang sering dihadapi dalam bidang teknik sipil. Kompleksitas penyelesaian sistem persamaan linear berskala besar menuntut pendekatan yang lebih efisien untuk mengurangi beban komputasi. Harper dalam (Harper, 1966) mengusulkan pendekatan melalui optimasi kombinatorial yang dikaitkan dengan Teori Graf, di mana struktur matriks koefisien direpresentasikan sebagai graf dan penyelesaian optimal dicapai melalui minimisasi bandwidth graf tersebut. Konsep bandwidth graf menjadi krusial dalam mereduksi kompleksitas komputasi, khususnya untuk graf dengan struktur simetri tinggi seperti graf sirkulan. Misalkan G = (V,E) suatu graf sederhana dan terhubung. Nilai bandwidth dari suatu pelabelan bijeksi f : V (G) ? {1, 2, . . . ,n} adalah Bf (G) := maks{|f(u)? f(v)| | (u, v) ? V (G)}. Nilai bandwidth dari graf G didefinisikan sebagai B(G) := {min Bf (G) | f pelabelan bandwidth}. Untuk sebarang dua bilangan bulat positif n dan k, graf sirkulan Cn(a1, a2, . . . ,ak) adalah suatu graf dengan V = {v0, v1, ..., vn?1} dan E(= {vivj | j ? i + az(mod n), 1 ? z ? k}. Graf sirkulan merupakan graf transitif titik. Pada penelitian ini, nilai bandwidth dari graf sirkulan Cn(a1, a2, . . . ,ak) akan ditentukan, khususnya untuk Cn(1, 4), Cn(1, 2, 4), Cn(1, 3, 4), Cn(1, 2, 3, 4) dengan n ? 25. Ditunjukkan bahwa keempat graf sirkulan tersebut memiliki nilai bandwidth sama dengan 8 untuk n ? 25. Selain itu, diberikan hasil dari nilai bandwidth untuk graf sirkulan yang lebih umum.
PERANCANGAN KAWASAN MARANATHA SECURE UNIVERSITY TOWN DENGAN PENDEKATAN CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED)
Kota yang aman dan nyaman menjadi salah satu kriteria utama dalam menentukan kualitas sebuah kota. Salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sustainable cities and communities . Dalam konteks keberlanjutan kota, isu keamanan menjadi sangat relevan, terutama ketika dikaitkan dengan tingkat kriminalitas di suatu kawasan perkotaan. Perancangan ini mencoba mengkaji ulang desain kawasan di sekitar Kampus Universitas Maranatha, Sukajadi, Kota Bandung, yang menghadapi tantangan tingkat kriminalitas tinggi dan fenomena fear of crime yang menghambat aktivitas masyarakat, terutama mahasiswa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Kawasan ini menunjukkan adanya persoalan desain seperti minimnya penerangan, ruang negatif yang rentan, rendahnya konektivitas, serta kurangnya fasilitas ruang publik yang menunjang interaksi sosial. Di sisi non-desain, tingginya angka kejahatan, keterbatasan jam operasional, serta kerentanan sosial. Pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) diusulkan sebagai solusi inovatif untuk merancang ulang kawasan ini. Perancangan ini mengidentifikasi kriteria, prinsip normatif, dan indikator perancangan guna merumuskan visi, misi, konsep, serta skenario pengembangan kawasan yang aman, nyaman, dan inklusif. Melalui simulasi implementasi CPTED, hasil perancangan diharapkan dapat meningkatkan persepsi keamanan, mengurangi peluang kejahatan, serta mendukung keberhasilan akademis mahasiswa dan kesejahteraan masyarakat. Perancangan ini memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan kota berkelanjutan sesuai SDGs nomor 5, 11, dan 16. Perancangan ini juga berfungsi sebagai panduan strategis bagi pengambil kebijakan dan perancang kota dalam mengoptimalkan potensi lingkungan fisik untuk menciptakan ruang hidup ideal dan terjamin keamanannya. Perancangan ini menggunakan metode fragmental untuk melakukan perancangan yang komperhensif dan sistematis.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBERDAYA HIDROKARBON PADA INTERVAL X KELOMPOK SIHAPAS, LAPANGAN CLYDE, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Lapangan Clyde merupakan salah satu lapangan migas di Cekungan Sumatra Tengah yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Target utama penelitian ini adalah Interval X pada Kelompok Sihapas, yaitu interval produktif yang mencakup Sand-1 hingga Sand-5 yang masing-masing berasosiasi dengan Formasi Menggala, Formasi Bangko, dan Formasi Bekasap. Interval ini memiliki variasi fasies dan heterogenitas petrofisika yang tinggi, sehingga diperlukan studi karakterisasi reservoir dan estimasi sumberdaya hidrokarbon untuk mendukung optimalisasi pengelolaan reservoir. Metode yang digunakan meliputi analisis geologi regional, interpretasi data uji sumur (perforasi dan swab test), analisis fasies dari batuan inti samping yang diintegrasikan dengan elektrofasies, interpretasi sikuen stratigrafi, serta analisis petrofisika log talikawat untuk menentukan volume serpih (?????????), porositas efektif (PHIE), dan saturasi air (????????). Estimasi sumberdaya dilakukan menggunakan metode volumetrik berdasarkan parameter reservoir yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah studi merupakan bagian dari South Aman Trough dengan struktur utama berupa sesar normal berarah utara–selatan. Interval penelitian terbagi menjadi lima sand reservoir berdasarkan data uji sumur. Empat asosiasi fasises teridentifikasi berupa Batupasir Sedang–Kasar (BPS1), Batupasir Halus (BPS2), Batupasir Lanauan–Lempungan (BPS3), dan Batulempung (BLP). Tiga asosiasi fasies utama teridentifikasi adalah amalgamated tidal–fluvial channel, intertidal flat, dan tidal sand bar, yang mencerminkan lingkungan pengendapan fluvial yang dipengaruhi pasang surut atau fluvio-tidal berorientasi timur laut–barat daya. Analisis petrofisika menunjukkan bahwa Formasi Menggala (Sand-5) memiliki rata-rata ????????? 0,19, PHIE 0,23, dan ???????? 0,94. Formasi Bangko (Sand-4) memiliki ????????? 0,42, PHIE 0,25, dan ???????? 0,83. Formasi Bekasap (Sand-1, 2, dan 3) memiliki ????????? 0,43, PHIE 0,19, dan ???????? 0,84. Estimasi volumetrik menunjukkan sumberdaya hidrokarbon sebesar 13,7 juta barel minyak (MMBO) dan 15,93 juta kaki kubik standar gas (MMSCF), dengan akumulasi terbesar berada pada Sand-5 Formasi Menggala.
PERANCANGAN KAWASAN INTI KOTA TUA AMPENAN SEBAGAI KAWASAN WISATA CAGAR BUDAYA DENGAN PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE
Kota Tua Ampenan merupakan kawasan cagar budaya di Pulau Lombok yang berkembang sebagai kota pelabuhan pada masa kolonial dan memiliki nilai sejarah, arsitektur, sosial, serta budaya yang kuat. Namun, seiring perkembangan kota dan tekanan modernisasi, kawasan ini mengalami degradasi kualitas lingkungan fisik dan non-fisik, yang ditandai oleh banyaknya bangunan cagar budaya yang terbengkalai, lemahnya keterhubungan antar elemen ruang kota, minimnya fasilitas penunjang pariwisata, serta rendahnya aktivitas sosial dan ekonomi kawasan. Kondisi tersebut menyebabkan potensi Kota Tua Ampenan sebagai kawasan wisata cagar budaya belum termanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep penataan kawasan inti Kota Tua Ampenan sebagai kawasan wisata cagar budaya dengan menggunakan pendekatan urban acupuncture. Metode yang digunakan adalah metode perancangan fragmental, yang secara substantif dilakukan melalui upaya optimalisasi kinerja kawasan sebagai kawasan wisata cagar budaya. Optimalisasi tersebut didasarkan pada kriteria dan prinsip normatif yang diperoleh melalui sintesis literatur terkait perancangan kota, kawasan wisata, kawasan cagar budaya, serta pendekatan urban acupuncture. Kriteria dan prinsip normatif tersebut kemudian digunakan sebagai acuan dalam merumuskan strategi perancangan yang responsif terhadap potensi dan permasalahan kawasan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan urban acupuncture efektif diterapkan melalui intervensi fragmental yang berskala kecil namun strategis. Prinsip perancangan disintesiskan menjadi tiga konsep utama, yaitu Rediscover Identity, Reconnect Urban Threads, dan Revive Spaces, yang diwujudkan melalui penguatan identitas kawasan, peningkatan konektivitas pejalan kaki, aktivasi ruang publik, serta penerapan adaptive reuse pada bangunan cagar budaya. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan metode perancangan fragmental berbasis urban acupuncture dalam penataan kawasan kota pelabuhan bersejarah di Indonesia. Penelitian ini berkontribusi sebagai referensi konseptual dan praktis dalam pengembangan kawasan wisata cagar budaya yang berkelanjutan.
PENENTUAN TITIK-TITIK GARIS PANGKAL KEPULAUAN INDONESIA MENGGUNAAKAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) DENGAN PENDEKATAN STRUCTURE FROM-MOTION (SFM)
Sebagai negara kepulauan, Indonesia berhak membuat garis pangkal kepulauan untuk menentukan klaim terhadap batas lautnya. Salah satu aspek teknis yang krusial untuk negara kepulauan dalam menetapkan garis pangkal kepulauan adalah titik-titik garis pangkal kepulauan. Titik-titik garis pangkal kepulauan adalah titik yang berada disepanjang garis pangkal, yang merupakan posisi terjadinya perubahan arah dari garis pangkal. Untuk mendapatkan lokasi titik-titik garis pangkal kepulauan yang optimal Indonesia telah melakukan survei pada tahun 1989 dan menghasilkan sebanyak 195 titik yang dipublikasikan dalam PP 38 tahun 2002 dan PP 37 tahun 2008. Setelah lebih dari 30 tahun sejak dilakukan survei titik-titik garis pangkal kepulauan, ditemukan titik-titik berada pada lokasi yang tidak memenuhi kriteria dari UNCLOS 1982. Mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas dengan 195 titik-titik garis pangkal kepulauan, mengakibatkan kegiatan survei untuk memperbaharui titik dasar membutuhkan biaya yang besar serta waktu yang panjang. Selain itu, beberapa wilayah di Indonesia tidak memungkinkan untuk dilakukan survei secara terestris. Oleh karena itu diperlukan metode survei yang dapat mengatasi masalah tersebut. Pemetaan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Structure-From Motion (SfM) dapat menghasilkan data topografi pada area pesisir dan perairan dangkal dengan kualitas yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Structure-From Motion (SfM) menghasilkan ketelitian vertikal mencapai 0,209 m. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pemetaan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Structure-From Motion (SfM) dapat digunakan untuk menentukan titik-titik garis pangkal kepulauan dan memenuhi spesifikasi peta 1 : 5000 kelas 1. Dari hasil penelitian yang dilakukan, Indonesia mempunyai potensi penambahan luas wilayah sebesar 12 km persegi untuk wilayah perairan pedalaman (internal water).
PEMODELAN STATIS RESERVOIR FORMASI BEKASAP PADA LAPANGAN NORTH AMAN, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Pemodelan reservoir statis merupakan pendekatan ilmiah yang digunakan untuk merepresentasikan kondisi geologi bawah permukaan secara tiga dimensi (3D) dengan menggabungkan data seismik, sumur, dan analisis fasies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran fasies dan properti petrofisika pada Formasi Bekasap, Lapangan North Aman, Cekungan Sumatra Tengah, dengan menggunakan metode Object-Based Modelling (OBM). Tahapan penelitian meliputi interpretasi seismik, korelasi data sumur, analisis fasies dan lingkungan pengendapan, serta pemodelan reservoir 3D. Hasil interpretasi seismik menunjukkan keberadaan delapan horizon utama dan sembilan sesar dengan arah dominan timur laut–barat daya. Analisis atribut seismik menggunakan Root Mean Square (RMS) Amplitude dan Relative Acoustic Impedance (RAI) menunjukkan persebaran geometri tubuh pasir (sand body) serta arah trend penyebaran petrofisika. Korelasi stratigrafi dan analisis log gamma ray menunjukkan bahwa Formasi Bekasap diendapkan pada lingkungan estuari yang didominasi oleh fasies tidal sand bar dan muddy subtidal. Pemodelan fasies dilakukan menggunakan metode OBM dengan acuan dimensi sand bar, sedangkan pemodelan petrofisika (porositas, net-to-gross, dan saturasi air) dilakukan menggunakan algoritma Gaussian Random Function Simulation (GRFS) yang dikondisikan terhadap model fasies. Secara keseluruhan, pemodelan statis 3D ini berhasil merepresentasikan distribusi fasies dan properti petrofisika secara realistis, serta memperkuat interpretasi bahwa Formasi Bekasap merupakan endapan estuari yang terbentuk pada siklus transgresif–regresif dengan orientasi endapan timur laut–barat daya.
PERANCANGAN SISTEM PENGONTROL PENGONDISI UDARA TIPE VARIABLE REFRIGERANT FLOW (VRF) BERBASIS EDGE DEVICE PADA LABTEK XIX ITB
Pemanfaatan fitur dari pengondisi udara tipe variable refrigerant flow atau VRF perlu didalami lebih lanjut agar memungkinkan adanya penjadwalan yang lebih efektif dari yang sebelumnya masih dijadwalkan menurut penggunaan ruangan dan terkadang tidak sesuai dengan kondisi aktual yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan energi akibat dari energi yang terbuang sia-sia. Oleh karena itu, pada penelitian ini telah dikembangkan sistem pemantauan dan pengontrolan (supervisory control) dengan menggunakan sensor suhu dan kelembapan untuk menghasilkan keluaran berupa rekomendasi kontrol suhu setpoint yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh operator sebagai bentuk respon. Tahapan awal penelitian dilakukan dengan perancangan sistem pemantauan dengan menggunakan data dari sensor edge device yang mengukur besaran suhu dan kelembapan yang kemudian diakuisisi datanya ke tampilan antarmuka. Dalam tahapan ini, mikrokontroler digunakan untuk menampilkan visualisasi dari akuisisi data yang ada ke dalam monitor eksternal. Tahapan selanjutnya dilakukan perancangan sistem pengontrol pengondisi udara menggunakan modul yang dipasang pada AC VRF. Dari akuisisi data sensor yang didapat, kemudian dilakukan pembuatan supervisory control dengan acuan data tersebut. Dalam hal ini, data suhu dapat digunakan dalam feedback loop pada supervisory control yang dibuat. Untuk sistem pemantauan dilakukan di setiap lorong atau ruangan dan untuk sistem pengontrol dilakukan melalui ruang kontrol dengan metode pengendalian jarak jauh atau remote. Hasil perancangan sistem pemantauan dan pengontrolan pengondisi udara menggunakan data suhu edge device yang memiliki coefficient of variation (CV) di bawah 5% didapat mendekati suhu setpoint dengan selisih sebesar 1,5 ?, 1,75 ?, dan 2,89 ? serta menggunakan perangkat pengontrolan yang andal dengan rata-rata latensi di bawah 5 ms dan data loss mendekati 0%.
RANCANG BANGUN SISTEM AKUISISI DATA QCM MULTI-CHANNEL UNTUK DETEKSI SENYAWA ORGANIK VOLATIL
Quartz Crystal Microbalance (QCM) merupakan sensor berbasis perubahan massa yang memiliki potensi besar dalam aplikasi pemantauan gas polutan karena sensitivitasnya yang tinggi. Namun, tantangan utama dalam implementasinya meliputi kebutuhan sistem akuisisi data yang mampu membaca banyak kanal secara simultan serta peningkatan selektivitas sensor terhadap gas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem akuisisi data QCM multi-channel berbasis mikrokontroler Teensy 3.2 yang terintegrasi dengan perangkat lunak antarmuka berbasis C# untuk pemantauan frekuensi dan suhu secara real-time. Untuk meningkatkan kinerja sensor, permukaan kristal QCM dimodifikasi dengan lapisan nanofiber Polyacrylonitrile (PAN) dan Polyvinylpyrrolidone (PVP) konsentrasi 10% (w/w) menggunakan metode electrospinning. Pengujian dilakukan dengan memaparkan sensor terhadap variasi analit Volatile Organic Compounds (metanol, etanol, aseton), uap air, dan campuran gas dengan variasi volume injeksi (50 ? 150 ?L). Hasil karakterisasi SEM menunjukkan bahwa nanofiber PVP memiliki morfologi serat yang seragam, sedangkan PAN didominasi oleh struktur beads. Data respons frekuensi menunjukkan bahwa sensor berbasis PVP memiliki sensitivitas tertinggi terhadap analit alkohol dan uap air, didorong oleh mekanisme ikatan hidrogen dan luas permukaan efektif yang besar. Sebaliknya, sensor berbasis PAN menunjukkan respons yang lebih rendah akibat morfologi beads dan sifat hidrofobik yang menghambat adsorpsi uap air, bahkan menghasilkan respons di bawah sensor tanpa lapisan (blank).
KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR DAN MORFOLOGI SUNGAI CIJANGKELOK DESA CIBINGBIN KABUPATEN KUNINGAN
Sungai Cijangkelok merupakan salah satu anak Sungai Cisanggarung yang berada di wilayah hulu. Sungai Cijangkelok melewati dua wilayah administrasi yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon. Banjir akibat luapan Sungai Cijangkelok merupakan salah satu masalah yang sering terjadi khususnya di Desa Cibingbin. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis upaya pengendalian banjir yang paling optimal serta menganalisis perubahan morfologi sungai Cijangkelok akibat upaya pengendalian banjir yang diusulkan. Analisis utama yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu analisis hidroplogi, hidraulika dan morfologi sungai. Analisis hidrologi dilakukan untuk menentukan debit banjir desain rencana dan debit harian. Debit banjir dihitung pada periode ulang 25 tahunan (Q25) dan 50 tahunan (Q50) yang kemudian akan menjadi input dalam simulasi banjir sedangkan debit harian dianalisis dengan metode Sacramento yang akan menjadi input pada simulasi sedimen. Pemilihan Debit Banjir Q25 mempertimbangkan desain penanganan yang dilakukan, sementara Q50 merupakan debit banjir yang pernah terjadi. Kalibrasi debit banjir dilakukan dengan membandingkan debit simulasi Hec-HMS dengan debit banjir pada Pos Duga Air (PDA) Cibendung, begitu juga dengan debit harian Sacramento. Simulasi banjir dan sedimen dilakukan dengan menggunakan program HEC-RAS versi 6.3. Kalibrasi model sedimen dilakukan dengan membandingkan data pengukuran di waktu yang berbeda. Debit banjir Q25 dan Q50 sungai Cijangkelok adalah sebesar 291,7 m3/detik dan 326,10 m3/detik. Pada kondisi eksisting Sungai Cijangkelok tidak mampu menampung dan mengalirkan debit kala ulang 25 dan 50 tahun. Pada kala ulang 25 tahun, terjadi limpasan dengan tinggi rata-rata 0,51 meter dan luas genangan 29,62 hektar. Sementara pada kala ulang 50 tahun terjadi limpasan dengan tinggi rata-rata 0,72 meter dan luas genangan 32,65 hektar. Kondisi ini telah divalidasi kesesuaiannya dengan kondisi banjir yang pernah terjadi. Dengan penanganan berupa normalisasi dan tanggul, tidak terjadi limpasan baik debit banjir kala 25 dan 50 tahun, namun akibat adanya segmen penyempitan yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas sungai sehingga terjadi kenaikan elevasi muka air banjir pada segmen ini, serta diikuti dengan peningkatan kecepatan aliran. Kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan lain kedepannya. Penanganan lain yang dapat dilakukan berupa penambahan groundsill maupun melakukan pembebasan lahan pada segmen penyempitan. Kedua alternatif penanganan ini menghasilkan elevasi muka air banjir dan kecepatan aliran yang lebih stabil. Secara keseluruhan, pada kondisi 1, 2, dan 3, tidak terjadi limpasan atau banjir dari Sungai Cijangkelok ke Desa Cibingbin, tereduksi 100%. Pada kondisi debit banjir Q50 terjadi degradasi pada ke-empat kondisi, dengan volume degradasi pada kondisi 0 (eksisting) sebesar 1.079 ton, kondisi 2 (tanggul dan normalisasi) sebesar 1.844 ton, kondisi 3 (tanggul perkuatan, normalisasi, dan groundsill) sebesar 316 ton, serta kondisi 4 (tanggul dan normalisasi dengan pembebasan lahan) sebesar 561 ton. Kondisi 3 dan 4 cukup optimal dalam mengurangi degradasi pada pada segmen penyempitan. Pada kondisi harian selama 1 tahun terjadi sedimentasi pada ke-empat kondisi, dengan sedimen tertahan pada kondisi 0 (eksisting) sebesar 1.561 ton/tahun, kondisi 1 (tanggul dan normalisasi) sebesar 2.403 ton/tahun, kondisi 2 (tanggul perkuatan, normalisasi dan groundsill) sebesar 15.388 ton/tahun, serta kondisi 3 (tanggul dan normalisasi dengan pembebasan lahan) sebesar 2.608 ton/tahun. Setelah dilakukan normalisasi, cenderung terjadi peningkatan sedimentasi karena sedimen membentuk kesetimbangan baru. Sedimen tertahan terbesar pada kondisi 2 karena sedimen tertahan di hulu groundsill dimana dalam kurun waktu 1 tahun, 2 groundsill sudah dipenuhi sedimen.
BIODIVERSITAS DAN BIOPROSPEKSI BAKTERI LAUT DALAM BERBASIS GENOMIK DI WILAYAH ARUS LINTAS INDONESIA
Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) merupakan koridor laut tropis yang memiliki signifikansi global. Namun, eksplorasi ekosistem mikroorganisme laut dalam di wilayah ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi keanekaragaman hayati bakteri laut dalam serta potensi klaster gen biosintetik (biosynthetic gene clusters/BGCs) pada kedalaman 1.000 m yang dilaksanakan melalui tiga tahap. Tahap pertama melibatkan sekuensing gen 16S rRNA untuk mengevaluasi komposisi komunitas bakteri laut dalam pada tiga lokasi di Selat Makassar dan Selat Lombok. Tahap kedua menggunakan sekuensing metagenomik shotgun dan rekonstruksi metagenome-assembled genomes (MAGs) untuk mengidentifikasi BGCs. Tahap ketiga melibatkan sekuensing genom utuh (whole-genome sequencing/WGS) dari isolat bakteri psikrotrof yang dapat dikultur, Psychrobacter pacificensis, yang diperoleh dari Selat Makassar untuk melakukan analisis mendalam terkait genom dan BGC. Hasil analisis 16S rRNA menunjukkan komposisi komunitas bakteri yang stabil, didominasi oleh Halomonas, Colwellia, Moritella, Alteromonas, Candidatus Pelagibacter, dan Psychrobacter yang mencerminkan adaptasi terhadap suhu rendah, tekanan tinggi, dan kondisi oligotrofik. Sementara analisis metagenomik shotgun mengungkap keragaman profil BGC di wilayah ARLINDO. Beberapa BGC potensial teridentifikasi, termasuk klaster NRPS, PKS, RiPP, PUFA, siderofor, ?-laktone, terpena dan ektoin, yang menunjukkan tingginya keragaman biosintetik. Adapun isolat bakteri P. pacificensis memiliki genom spesialis berukuran 2,89 Mbp dengan kandungan GC 43,9% dan lebih dari 80% gen spesifik strain. Isolat ini juga memiliki klaster ?-laktone berukuran ~27 kbp yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, yang mengindikasikan potensi produksi enzim aktif dingin dan senyawa antimikroba baru. Studi integratif tiga tahap ini mengungkap bahwa laut dalam Indonesia merupakan pusat keanekaragaman mikroorganisme sekaligus reservoir klaster gen biosintetik. Temuan ini menegaskan nilai strategis wilayah Arus lintas Indonesia sebagai sumber penemuan produk alami laut serta pentingnya zona batipelagik tropis untuk kemajuan bioteknologi biru.
KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT BANGUNAN PENGENDALI SEDIMEN DI SUNGAI SALUKI KAB. SIGI PROV. SULAWESI TENGAH
Bencana gempa bumi berkekuatan 7,4SR yang terjadi pada 28 September 2018 di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah tidak hanya menimbulkan dampak langsung berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap kondisi geoteknik di daerah hulu sungai, termasuk di Sungai Saluki. Gempa mengganggu stabilitas tanah di hulu Sungai Saluki sehingga mudah tererosi pada saat hujan. 30% wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Saluki terdiri dari material yang tidak stabil sehingga sangat rentan terhadap aliran debris pada saat terjadi hujan. Fenomena ini akan berkontribusi terhadap peningkatan beban sedimen yang terbawa aliran permukaan menuju Sungai Saluki, dan akan mempengaruhi fungsi bendung dan intake air baku yang baru selesai dibangun pada Tahun 2024 sebagai bentuk upaya rehabilitasi rekonstruksi pasca bencana yang berfungsi untuk menyediakan air baku bagi Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Upaya penanganan pengendalian sedimen yang telah dilakukan adalah pembangunan 1 unit sabodam di hulu Bendung Saluki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas Sungai Saluki dalam menerima dan mengalirkan aliran debris, menganalisis perubahan morfologi Sungai Saluki akibat adanya bangunan pengendali sedimen, dan menganalisis kapasitas dan kinerja penangkapan sedimen oleh sabodam di Sungai Saluki. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan aliran debris dan pemodelan sedimentasi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 1 Dimensi. Pemodelan aliran debris menggunakan parameter Non-Newtonian Bingham dengan debit banjir rencana Q2 dan Q100. Pemodelan sedimentasi dilakukan dengan kondisi debit harian satu tahun dan kondisi Q100. Berdasarkan hasil pemodelan aliran debris, dengan adanya sabodam tidak mempengaruhi tinggi muka air secara signifikan. Sungai Saluki mampu mengalirkan aliran debris hingga Q100. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi debit harian satu tahun menunjukan agradasi sungai pada area yang terpengaruh bangunan sabodam, dan degradasi pada hilir Bendung Saluki. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi Q100, terjadi agradasi pada area terpengaruh bangunan sabodam pada area hilir tidak terjadi perubahan morfologi sungai yang signifikan. Pada Skema 2 (Sabodam 1) kondisi debit harian, diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 1 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen mencapai 27,91%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 82,17%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen mencapai 16,58% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 75,12%. Pada Skema 3 (Sabodam 1, Sabodam 2, dan Sabodam 3) kondisi debit harian diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 19, Sabodam 2 = 4 tahun, dan Sabodam 3 = 4 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 35,35%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 92,30%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 68,54% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 100%.