📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN PERANGKAT PENGUKURAN TEKANAN DAN LAJU ALIRAN FLUIDA DALAM PEMBULUH DARAH SEBAGAI SALURAN TERTUTUP DENGAN PROBE KATETER BERBASIS TABUNG PITOT
Tubuh manusia sebagian besar tersusun atas air, dengan kandungan sekitar 70% dari total massa tubuh, yang mengalir melalui aliran darah dalam sistem kardiovaskular. Parameter kondisi aliran, seperti kecepatan aliran dan tekanan merupakan representasi dari kondisi fisiologis seseorang. Kemampuan untuk melakukan pengukuran kondisi aliran dalam pembuluh menjadi kebutuhan dalam pendekatan klinis, baik untuk evaluasi diagnostik ataupun mendukung proses pengambilan keputusan klinis. Pengukuran kondisi aliran lokal secara in situ diperlukan karena kompleksitas dinamika fluida dalam pembuluh perlu untuk dievaluasi secara langsung untuk mendapatkan informasi detail terkait hemodinamika aliran yang sebenarnya. Perangkat pengukuran aliran secara in situ yang tersedia saat ini masih memiliki berbagai keterbatasan, seperti penggunaan komponen elektronik yang diletakkan pada saluran pengukuran yang secara langsung meningkatkan resiko dan tantangan terkait biokompatibilitas. Selain itu, pengukuran dengan perangkat seperti kateter masih terbatas pada pengukuran tekanan statis, dan tidak dapat memberikan informasi profil kecepatan aliran. Pengembangan sistem dengan probe kateter berbasis mekanisme tabung Pitot, memungkinkan pengukuran kondisi aliran secara lokal tanpa menempatkan komponen elektronik di dalam saluran pengukuran. Pada penelitian ini, dilakukan pengembangan sistem pengukuran dengan probe kateter berbasis tabung Pitot untuk mengukur laju aliran lokal dan tekanan statis dalam model pembuluh sebagai saluran tertutup dengan variasi diameter sebesar 6, 7 dan 10 mm yang merepresentasi pembuluh darah arteri berukuran sedang. Sistem pengukuran menggunakan mekanisme tabung Pitot dengan sensor tekanan yang ditempatkan di luar jalur fluida, sehingga tidak memerlukan komponen elektronik di dalam jalur fluida dan kompatibel untuk aplikasi biomedis. Validasi pola aliran dan distribusi tekanan pada sekitar probe, evaluasi pengaruh diameter probe dan diameter model, serta penentuan posisi pengukuran efektif dilakukan dengan simulasi dinamika fluida komputasional. Pengukuran proof-of-concept dilakukan untuk verifikasi mekanisme dan akurasi pengukuran dari sistem yang dikembangkan. Hasil menunjukkan bahwa tekanan dinamik dan kecepatan aliran rata-rata yang terukur menggunakan sistem pengukuran sesuai dengan model teoretis tabung Pitot, dengan koefisien determinasi sebesar 87.36% pada persamaan kalibrasi untuk seluruh diameter model pembuluh. Validasi sistem pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil eksperimen dan simulasi untuk mengevaluasi distribusi kecepatan dan tekanan di sekitar probe tabung Pitot, dan hasil menunjukkan posisi pengukuran efektif pada jarak 1.5 mm di depan permukaan tabung Pitot dengan deviasi kurang dari 10% antara data eksperimen dan simulasi untuk seluruh diameter model. Pengaruh perbedaan ukuran diameter probe dan diameter model terhadap distribusi tekanan dan kecepatan tidak signifikan, sehingga dapat diabaikan terhadap akurasi keseluruhan pengukuran. Melalui pengukuran proof-of- concept sistem pengukuran memberikan akurasi yang baik dalam mengukur volume aliran dengan deviasi kurang dari 20% dibandingkan data referensi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengukuran yang dikembangkan dalam penelitian ini mampu mengukur kondisi aliran intravaskular secara minimal invasif dengan baik serta memiliki potensi untuk diterapkan dalam aplikasi biomedik.
IDENTIFIKASI KARAKTERISITIK LAHAN SAWAH DI PULAU JAWA DENGAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED LOGISTICS REGRESSION (GWLR) BERBASISKAN DATA GEOSPASIAL
Pulau Jawa menjadi wilayah yang dianggap strategis dan dikenal sebagai sentra utama dalam produksi padi di Indonesia. Peranannya sangat besar dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Namun, kenyatannya dalam beberapa waktu terakhir lahan sawah yang ada di Pulau Jawa samakin terancam, akibat dari adanya alih fungsi lahan yang masif, pertumbuhan penduduk, serta meluasnya area industrial. Fenomena ini menyebabkan terjadinya penurunan luas sawah produktif dan berakibat pada berkurangnya volume produksi padi sebagai bahan pangan di masa yang mendatang. Kondisi ini harus ditangani dengan langkah bijak, agar dapat mencegah terjadinya keadaan yang tidak diinginkan. Melalui masalah ini dapat disoroti bahwa penting untuk memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberadaan lahan sawah, seperti halnya faktor biofisik. Penelitian terdahulu umumnya menggunakan pendekatan statistik dalam skala global dan berasumsi bahwa hubungan antarvariabel atau faktor-fator bersifat homogen di seluruh wilayah kajiannya. Padahal, jika diperhatikan kembali karakteristik tiap wilayah berbeda-beda seperti Pulau Jawa yang memiliki variasi spasial yang beragam. Hal ini diperlihatkan dari sisi topografi, intensitas curah hujan, maupun kondisi jenis tanahnya. Keberagaman ini memerlukan pendekatan spasial yang mampu menangkap variasi lokal dari tiap faktor secara komprehensif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan menganalisis hubungan spasial antara faktor biofisik dengan keberadaan lahan sawah yang ada di Pulau Jawa dengan metode Geographically Weighted Logistic Regression (GWLR). Metode GWLR melakukan estimasi parameter regresi yang berbeda-beda untuk tiap titik lokasi dengan lebih akurat. Data yang digunakan untuk pendekatan ini terdiri dari variabel dependen berupa lahan bukan sawah bernilai (0) dan lahan sawah bernilai (1), kemudian variabel independen berupa jarak dari jalan, jarak dari sungai, suhu permukaan tanah, curah hujan, slope, aspect, dan jenis tanah. Analisis untuk pendekatan GWLR menggunakan data training berjumlah 500 titik dan data testing berjumlah 200 titik, yang telah memuat nilai dari variabel dependen dan variabel independen serta telah tersebar di wilayah Pulau Jawa. Model GWLR yang mewakili pendekatan skala lokal akan dibandingkan dengan model Binary Logistic Regression (BLR) yang merupakan model global. Hal ini dilakukan agar dapat menilai akurasi dan kemampuan kedua model dalam menangkap variasi spasial. Hasil dari model GWLR menunjukkan akurasi keseluruhan yang lebih baik dibandingkan dengan model BLR. Overall accuracy data testing GWLR sebesar 77%, sedangkan BLR hanya 67%. Selain itu, kappa koefisien model GWLR ada pada good agreement dan model BLR poor agreement. Hal ini memperlihatkan model GWLR lebih mampu mengatasi keberagaman faktor biofisik yang ada. Nilai koefisien, odds ratio, dan p-value juga menunjukkan hasil yang berbeda-beda sehingga membuktikan adanya keberagaman karakteristik spasial yang jelas di antarwilayah. Melalui model GWLR didapatkan variabel signifikan dalam keberadaan lahan sawah berupa jenis tanah dan curah hujan. Hal ini menciptakan tipologi sawah menjadi dua tipe utama, yaitu sawah berbasis jenis tanah (soil-driven) di wilayah barat Pulau Jawa dan sawah berbasis iklim (rainfall-driven) untuk bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Dilihat dari keseluruhan hasil penelitian, didapatkan bahwa penelitian ini menyatakan hubungan antara faktor-faktor biofisik keberadaan lahan sawah di Pulau Jawa memiliki sifat signifikan dan non-stationer secara spasial. Kondisi ini memperjelas tiap wilayah memiliki karakteristik lokal dan berbeda-beda, sehingga jika ingin menyusun suatu kebijakan maupun strategi terkait lahan sawah harus dilakukan secara spesifik pada tiap wilayah dan tidak bisa secara general untuk seluruh wilayah. Pendekatan dengan metode GWLR juga memberikan hasil yang dianggap efektif dalam mengidentifikasi keberagaman karakteristik spasial sehingga memberikan gambaran yang lebih detail terhadap sistem pertanian khususnya untuk padi di Pulau Jawa. Penelitian ini juga memberikan kebaharuan dalam analisis spasial pertanian di Pulau Jawa, dan tidak hanya ikut serta dalam pengembangan metode analisis regresi spasial tetapi dapat menjadi dasar ilmiah dalam menyusun kebijakan terkait pengelolaan dan perlindungan terhadap lahan pertanian yang lebih berkelanjutan. Strategi yang lebih adaptif terhadap kondisi dari biofisik tiap wilayah yang akan dikaji.
ADSORPSI SENYAWA KETOPROFEN MENGGUNAKAN POLIMER BERCETAKAN MOLEKUL BERBASIS SILIKA TERMODIFIKASI AMINOPROPIL
Obat anti-inflamasi non steroid (NSAID) termasuk kelompok sediaan obat yang banyak ditemukan dalam air lingkungan sebagai pencemaran lingkungan. Limbah obat ini banyak terdeteksi di air permukaan, air tanah, dan efluen instalasi pengolahan air limbah (IPAL). NSAID memberikan efek ekotoksik kronis pada biota akuatik yang berdampak pada krustasea, komposisi spesies dan fungsi ekosistem. Ketoprofen merupakan salah satu NSAID yang ditemukan di perairan yang berasal dari limbah farmasi dan domestik. Ketoprofen di lingkungan air mencapai 3.15 µg/L – 209 µg/L dapat menyebabkan kerusakan ekosistem air, genotoksisitas, dan toksisitas akuatik serta kesehatan manusia. Adsorpsi memiliki beberapa keuntungan untuk menghilangkan ketoprofen dalam limbah air. Metode adsorpsi memiliki efisiensi yang cukup tinggi, luas permukaan dan porositas bahan seperti karbon aktif yang memungkinkan untuk menangkap kontaminan secara efektif. Polimer bercetak molekul (MIP) digunakan sebagai adsorben karena tingkat selektivitas tinggi dan dapat digunakan berulang. MIP konvensional memiliki aksesibilitas situs pengenal rendah karena tertutup dalam matriks polimer. Diperlukan modifikasi imprinting molekul dipermukaan untuk meningkatkan efisiensi adsorpsi dan desorpsi serta mengurangi kebocoran residu templat dengan mengurangi panjang difusi. Silika mesopori sebagai basis MIP karena luas permukaan besar dan difusi molekul yang mudah. Penelitian ini bertujuan mengadsorpsi ketoprofen dengan MIP berbasis silika termodifikasi aminopropil. Ketoprofen sebagai molekul cetakan, asam metakrilat sebagai monomer fungsional, etilen glikol dimetakrilat (EDGMA) sebagai pengikat silang, pelarut porogen asetonitril:toluene dengan komposisi templat:monomer fungsional:pengikat silang 1:8:20 menggunakan polimerisasi presipitasi. Struktur dan komposisi material hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan beberapa teknik analisis. Spektrum FTIR menunjukkan keberadaan gugus fungsi khas pada puncak regangan Si-O-Si pada 1085-800 cm-1, pergeseran dan pengurangan intensitas pada puncak pita serapan regangan ikatan O-H pada bilangan gelombang 3435-3626 cm-1 dan regangan asimetris ikatan Si-O-Si pada pita serapan 1082-800 cm-1 karena proses modifikasi APTES, gugus amina dari APTES pada rentang 1482-1562 cm?¹, spektrum polimer NIP dan MIP pada pita serapan gugus fungsi C=O dan C-O dari EGDMA, MIP setelah leaching, terjadi penurunan intensitas pita serapan gugus-gugus tersebut, mengkonfirmasi bahwa molekul templat (ketoprofen) telah berhasil dilepaskan dari matriks polimer. Difraktogram XRD mengonfirmasi Tidak terdapat puncak tajam pada rentang 20-80°, menandakan tidak terbentuk fase kristalin baru selama proses modifikasi maupun proses polimerisasi saat pembuatan NIP dan MIP. Hasil SEM- EDS menunjukkan NIP dan MIP berbentuk spheric dengan silika termodifikasi aminopropil lebih bertekstur. Citra TEM menunjukkan silika termodifikasi APTES terlapisi didalam NIP maupun MIP. Distribusi ukuran partikel NIP lebih kecil dan seragam sedangkan MIP menunjukkan ukuran lebih besar dan beragam. Hasil Potensial zeta menunjukkan MIP memiliki permukaan bermuatan negatif pada pH 3. Adsorpsi KET dengan Non-imprinted Polymer (NIP) dan MIP mencapai kondisi optimal pada pH 3 dengan waktu kontak 45 menit, massa adsorben NIP dan MIP 70 mg dan konsentrasi NIP dan MIP sebesar 100 mg/L. Proses adsorpsi KET mengikuti model kinetika adsorpsi orde dua semu dan isoterm adsorpsi non-linier model Sips Qmax sebesar 51,2 mg/g. Nilai ?G° pada 298K, 313K, dan 328K menunjukkan proses adsorpsi berlangsung spontan dan adsorpsi bersifat endotermik. Adsorben MIP lebih selektif terhadap KET dibanding DCF dilihat dari kapasitas adsorpsi yag tinggi terhadap KET. Uji keberulangan menunjukkan KET stabil dan mampu mempertahankan kapasitas adsorpsi hingga tiga siklus adsorpsi-desorpsi. MIP berbasis silika termodifikasi aminopropil sebagai adsorben memiliki potensi yang besar untuk alternatif dalam pemisahan KET dalam limbah medis.
IDENTIFIKASI MEKANISME LETUSAN FREATIK MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT DAN INFILTRASI AIR GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, JAWA BARAT
Erupsi freatik merupakan fenomena vulkanik yang memiliki prekursor yang cukup sulit untuk diprediksi, terutama pada gunungapi dengan sistem hidrotermal aktif seperti Gunung Tangkuban Parahu. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi mekanisme pemicu erupsi freatik melalui pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan data pengindraan jauh, pengukuran geologi lapangan, dan analisis hidrometeorologi. Metodologi yang diterapkan meliputi ekstraksi kelurusan geologi menggunakan modified Segment Tracing Algorithm (mSTA) pada citra Sentinel-1, analisis deformasi permukaan berbasis Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), identifikasi mineral menggunakan Analytical Spectral Devices (ASD) dan Spectral Angle Mapper (SAM), serta uji laju infiltrasi air tanah di lapangan. Hasil analisis struktur geologi menunjukkan bahwa kawasan Kawah Ratu memiliki intensitas deformasi tektonik yang sangat tinggi, dibuktikan dengan ekstraksi total 1.164 kelurusan dari citra satelit orbit ascending dan descending. Pemetaan densitas kelurusan mengidentifikasi anomali tinggi di area kawah dengan nilai mencapai 9 count/km². Analisis statistik menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat (R2 = 0,92) antara densitas kelurusan dan indeks kekasaran permukaan, yang mengonfirmasi bahwa morfologi kasar di area kawah merupakan manifestasi permukaan dari zona hancuran akibat struktur geologi. Uji infiltrasi lapangan memperlihatkan bahwa Kawah Ratu sebagai zona resapan utama dengan laju infiltrasi mencapai 170 meter/bulan. Nilai R2 = 0,72 antara laju infiltrasi dan densitas kelurusan menegaskan bahwa rekahan-rekahan batuan bertindak sebagai porositas primer yang memfasilitasi injeksi air meteorik secara cepat ke bawah permukaan. Manifestasi dari akumulasi tekanan tersebut terekam melalui teknologi InSAR, di mana terdeteksi adanya tren inflasi yang terpusat di zona dengan densitas kelurusan tinggi (Lf = 5–6 count/km²). Analisis curah hujan temporal periode 2017–2020 menyingkap bahwa kejadian erupsi freatik memiliki pola keterlambatan waktu (time lag) terhadap musim hujan. Peningkatan aktivitas vulkanik umumnya terjadi pada pertengahan tahun (Juni–Oktober).
FOTODEGRADASI SENYAWA KETOPROFEN MENGGUNAKAN KOMPOSIT ZNO-MOS2 SEBAGAI FOTOKATALIS
Ketoprofen (KTF) merupakan salah satu jenis sediaan obat Non-Steroidal Anti- Inflammatory Drugs (NSAIDs) yang banyak digunakan sebagai obat anti inflamasi. Limbah obat ini banyak ditemukan di lingkungan yang berasal dari limbah rumah sakit dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hanya sebanyak 31% limbah yang dilaporkan telah dilakukan pre-treatment. Akumulasi dari limbah obat yang tidak diolah dengan baik dapat bersifat toksik bagi ekosistem akuatik seperti gangguan fertilitas pada ikan dan dapat mengganggu kesehatan manusia. Metode fotodegradasi dapat menjadi alternatif proses remediasi polutan organik di lingkungan untuk mendegradasinya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Material fotokatalis memiliki peran penting untuk memproduksi radikal dalam mendegradasi polutan. Fotokatalis semikonduktor yang sering digunakan adalah ZnO, namun kemampuan fotokatalitik ZnO hanya aktif pada rentang UV dapat berpengaruh pada peformanya karena band gapnya yang besar sehingga menyebabkan rekombinasi elektron-hole. Laju rekombinasi dapat dikurangi dengan didopan atau membuat komposit dengan material lain. Material MoS? memiliki struktur berlapis dengan konduktivitas tinggi, serta band gap yang sempit dapat meningkatkan respons terhadap cahaya tampak. MoS? mampu bertindak sebagai perangkap elektron dan menyediakan situs aktif yang melimpah, sehingga menurunkan laju rekombinasi elektron–hole. Penelitian ini bertujuan untuk sintesis komposit ZnO- MoS2 menggunakan metode hidrotermal, menentukan kondisi optimum fotokatalitik, menguji keberulangan fotokatalis dan kemampuan degradasi terhadap senyawa lain. Struktur, kristalinitas, morofologi, dan sifat optik dikarakterisasi menggunakan berbagi tekni analisis. Hasil FTIR menunjukkan gugus fungsi yang khas pada material ZnO, pada puncak 500 cm?¹ yang mengindikasikan vibrasi ulur Zn-O. Pada MoS2, terdapat puncak khas 1399 cm?¹ yang merupakan regangan vibrasi S-Mo-S, 932 cm?1 yang merupakan ikatan S-S, 873 cm?1 dan 704 cm?1 yang merupakan ikatan Mo-O atau Mo=O yang muncul akibat oksidasi pada permukaan MoS2. Selain itu, puncak pada 3426 cm?¹ menunjukkan vibrasi gugus ?OH dan 1627 cm?¹ menunjukkan O?H tekuk. Hasil XRD yang terbentuk menunjukkan puncak difaktogram mirip dengan ZnO (JCPDS No. 36- 1451) dan MoS2 (JCPDS No. 37-1492). Citra SEM-EDS menunjukkan bahwa ZnO memiliki permukaan berbentuk heksagonal dengan ukuran yang kurang seragam, morfologi MoS2 menunjukkan bentuk seperti lembaran-lembaran seperti kelopak bunga, pada komposit ZnO-MoS2 menunjukkan bentuk teraglomerasi pada ZnO dan lembaran MoS2 yang tipis. Nilai energi celah pita (Eg) yang diperoleh dari DRS-UV yaitu sebesar 3,25 eV (ZnO), 1,34 eV (MoS2), dan 3,18 eV untuk komposit ZnO-MoS2. Hasil Potensial zeta menunjukkan nilai pH point zero of charge pada 5,07. Hasil analisis BET menunjukkan luas permukaan ZnO yaitu 697,37 m2/g; MoS2 sebesar 775,07 m2/g; dan komposit ZnO-MoS2 2.256,6 m2/g dengan diameter pori masing-masing sebesar 3,11 nm; 3,10 nm; dan 3,12 nm. Hasil XPS menunjukkan energi ikat pada komposit yang muncul pada Zn 2p, O 1s, C 1s, Mo 3d, dan S 2p yang menunjukkan energi ikatan khas pada tingkat energi tersebut. Hasil PSA menunjukkan ukuran partikel ZnO sebesar 3,257 µm; MoS2 0,212 µm; dan komposit ZnO-MoS2 1,19 µm. Penelitian menunjukkan kemampuan fotodegradasi komposit ZnO-MoS2 lebih baik dibandingkan dengan fotolisis, adsorpsi, dan fotokatalis tunggal yang diperoleh pada kondisi optimum jarak lampu 10 cm, waktu penyinaran 60 menit, massa fotokatalis 20 mg, pH 5, dan konsentrasi 20 mg/L KTF dengan persen degradasi sebesar 76,52%. Keberulangan fotokatalis komposit ZnO-MoS2 menunjukkan kemampuan degradasi masih baik hingga empat siklus yaitu sebesar 52,77%. Kemampuan degradasi dengan senyawa diklofenak menunjukkan persentase degradasi sebesar 29,46%. Laju reaksi fotodegradasi optimum mengikuti kinetika orde dua dengan nilai R2 0,96599 dengan nilai konstanta laju (k) yaitu 0,04275 L·mg-1·min-1. Potensi komposit ZnO-MoS2 sebagai fotokatalis untuk KTF dapat menjadi alternatif dalam penguraian senyawa pada limbah medis.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MATERIAL FOTOLUMINESENSI CA2AL2SIO7:PR3+ DENGAN METODE SOL-GEL
Radiasi UV-C memiliki potensi sebagai antibakterial yang efektif berdasarkan penelusuran literatur dan dapat diemisikan melalui material Ca2Al2SiO7 terdoping Praseodymium(III), Pr3+. Penelitian terdahulu telah melakukan sintesis material Ca2Al2SiO7:Pr3+ melalui metode fasa padat dengan menggerus campuran oksida kalsium, aluminium, silikon, dan praseodymium, kemudian dilanjutkan kalsinasi pada suhu tinggi. Namun, metode fasa padat menghabiskan banyak energi dan biaya sehingga diusulkan metode alternatif yaitu sol-gel. Hingga saat ini, metode sol-gel baru diterapkan pada material Ca2Al2SiO7:Eu3+ sehingga pada penelitian ini metode sol-gel diterapkan untuk memperoleh material Ca2Al2SiO7:Pr3+. Prekursor yang digunakan meliputi garam kalsium (Ca(NO3)2.4H2O), aluminium (Al(NO3)3.9H2O), tetraetil orthosilikat (TEOS) dalam jumlah stoikiometrik, ammonia (NH3), dan prekursor dopan praseodymium oksida (Pr6O11) yang dilarutkan dalam asam nitrat (HNO3). Campuran prekursor tersebut direaksikan hingga membentuk gel yang kemudian dikalsinasi pada suhu 900?. Produk akhir berupa bubuk putih untuk host-material Ca2Al2SiO7 dan hijau pucat untuk Ca2Al2SiO7 terdoping Pr3+ dengan besar rendemen pada rentang30%- 80%. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan struktur tetragonal dengan grup-ruang P- 421m untuk semua produk hasil sintesis dan kondisi untuk memperoleh Ca2Al2SiO7:Pr3+ dengan kristalinitas dan homogenitas optimum adalah pH 5 serta durasi kalsinasi selama 10 jam pada suhu 900?. Karakterisasi FTIR menunjukkan sedikit pergeseran bilangan gelombang pada host-struktur Ca2Al2SiO7 akibat keberadaan dopan Pr3+. Analisis SEM menunjukkan tampilan morfologi Ca2Al2SiO7:Pr3+ seperti spons dengan ukuran pori yang lebih kecil dibandingkan host-materialnya. Sifat optik dan fotoluminesensi Ca2Al2SiO7:Pr3+ menunjukkan emisi UV-C pada panjang gelombang 273,5 nm berintensitas maksimum dengan nilai energi celah sebesar 3,92 eV pada penambahan 7,25% mol dopan Pr3+.
EVALUASI PENCEMARAN LOGAM BERAT, HIDROKARBON AROMATIK POLISIKLIK DAN MIKROPLASTIK PADA SEDIMEN PANTAI DARI PESISIR BALONGAN INDRAMAYU
Balongan, Indramayu merupakan daerah di pesisir utara Jawa Barat yang perairannya beresiko tercemar akibat aktivitas antropogenik, terutama dari transportasi laut, kilang minyak, pertanian, pemukiman dan pariwisata. Zat pencemar seperti logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik (HAP) dan mikroplastik yang dihasilkan dari aktivitas tersebut, berbahaya bagi kesehatan lingkungan. Sedimen berperan sebagai indikator tingkat pencemaran perairan karena berbagai polutan dapat terakumulasi di dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengarakterisasi sifat fisikokimia serta menguantifikasi kandungan logam berat (Pb, Cd, Cu, Zn, Cr dan Ni), HAP (Nap, Acy, Ace, Fl, Phe, An, Fla, Py, BaA, Chry, BbF, BkF, BaP, IP, BghiP, dan DbahA) dan mikroplastik pada sedimen pantai dari pesisir Balongan Indramayu, (2) mengidentifikasi tingkat, sumber, sebaran dan risiko ekologi pencemaran pada sedimen pantai dari pesisir Balongan Indramayu, dan (3) menganalisis keterkaitan antarparameter uji, kemiripan lokasi dan faktor dominan dalam variasi pola pencemaran melalui pendekatan kemometrik. Metode pengujian meliputi uji logam berat secara AAS- nyala, uji HAP secara GC-MS dan uji mikroplastik (bentuk, ukuran dan jenis polimer) secara mikroskop optik dan FT-IR. Pengolahan data pengujian melibatkan uji statistik (uji normalitas Ryan-Joiner, uji korelasi Pearson/Spearman, uji ANOVA one-way/Kruskal-Wallis dan Principal Component Analysis) dan perhitungan matematis (Indeks Geoakumulasi (Igeo), Faktor Pengayaan (EF), Indeks Potensi Resiko Ekologi (PERI), Indeks Bahaya Polimer (PHI) dan rasio diagnostik) untuk menginterpretasikan tingkat, sumber, sebaran dan risiko pencemaran polutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi fraksi pasir dengan kadar air: 31,4% b/b; porositas: 44,7% v/v; pH: 8,4; bahan organik: 4,9% b/b dan karbonat: 5,9% b/b. Kandungan logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni dan Cr total berturut-turut adalah 18,04; 3,99; 6,53; 86,4; 33,28 dan 19,00 mg/kg bk. Kandungan HAP total adalah 64,37 ?g/kg bk yang terdiri dari HAP dengan bobot molekul rendah (BMR) sebesar 58,05 ?g/kg bk dan bobot molekul tinggi (BMT) sebesar 5,84 ?g/kg bk. Kelimpahan mikroplastik adalah 7,5 partikel/kg bk, didominasi bentuk serat, berukuran 101?700 ?m, dan jenis polipropilena (PP). Kadar Pb, Cu, Zn, Cr, HAP total dan mikroplastik masih dalam kondisi aman. Sedangkan Cd dan Ni teridentifikasi melebihi ambang batas, logam berat Cd diduga berasal dari aktivitas antropogenik, sementara logam berat Ni berasal dari proses alamiah. Meski masih di bawah ambang batas, kadar logam berat Pb, Cu, Zn, Ni dan HAP BMR lebih tinggi di lokasi dekat kilang minyak, kondisi ini diduga berasal dari tumpahan dan pembakaran minyak. Hal ini didasarkan pada rasio diagnostik yang menunjukkan nilai D3>0,1 dan D5<0,4. Selain itu, berdasarkan karakteristik fisikokimia sedimen, lokasi dekat kilang yaitu Pantai Cemara Indah dan Balongan Kesambi diduga mendapat masukan bahan organik, karena fraksi kasar dan bahan organiknya tinggi, padahal fraksi kasar tidak memiliki kemampuan berasosiasi dengan bahan organik. Logam berat (Pb, Cu, Zn dan Ni) dan HAP BMT diduga terikat dalam bahan organik atau memiliki kemiripan sumber pencemar dengan bahan organik, karena ditunjukkan dari korelasi positif antara polutan tersebut dengan fraksi lempung dan bahan organik. Sedangkan logam berat Cd, Cr dan HAP BMR cenderung tidak berkorelasi kuat dengan bahan organik, sehingga diduga utamanya bukan berasal dari tumpahan minyak. Begitupun dengan mikroplastik yang tidak berkorelasi dengan sifat fisikokimia dan polutan lain (logam berat dan HAP). Hal ini diduga bahwa mikroplastik dengan logam berat dan HAP berasal dari sumber pencemar yang berbeda. Dengan demikian, faktor dominan dalam variasi pola pencemaran adalah kemiripan sumber pencemar dan sifat fisikokimia sedimen seperti fraksi lempung dan bahan organik.
HUBUNGAN ANTARA PRAKTIK MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM), BUDAYA PEMBELAJARAN ORGANISASI, DUKUNGAN ORGANISASI YANG DIRASAKAN, DAN KUALITAS KEHIDUPAN KERJA TERHADAP RETENSI PERAWAT: ANALISIS REGRESI BERGANDA
Institusi kesehatan di seluruh dunia menghadapi tantangan dalam mempertahankan tenaga kerja perawat, yang berdampak terhadap penyediaan layanan dan stabilitas organisasi. Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSUP Sardjito berperan penting dalam sistem kesehatan regional, namun tingginya proporsi perawat kontrak menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas tenaga kerja jangka panjang. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana faktorfaktor organisasi memengaruhi niat perawat untuk tetap berada dalam peran mereka, menggunakan perspektif teoretis terintegrasi. Berlandaskan Teori Pertukaran Sosial, Teori Dukungan Organisasi, dan Teori Kebutuhan dan Sumber Daya Pekerjaan, penelitian ini menganalisis bagaimana persepsi keadilan, keberadaan dukungan institusional, dan dinamika antara kebutuhan pekerjaan dan sumber daya yang tersedia bagi perawat secara kolektif memengaruhi keputusan mereka terkait kelanjutan pekerjaan di organisasi. Berdasarkan perspektif ini, studi ini mengusulkan bahwa praktik manajemen sumber daya manusia (HRM), budaya pembelajaran organisasi (OLC), dukungan organisasi yang dirasakan (POS), dan kualitas kehidupan kerja (QWL) masingmasing memiliki hubungan positif dan signifikan dengan retensi perawat. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada 332 staf perawat di RSUP Sardjito. Hipotesis diuji melalui analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik HRM, OLC, POS, dan QWL masing-masing memiliki dampak positif terhadap retensi perawat. Strategi HRM yang efektif dan budaya yang mendorong pembelajaran meningkatkan keterlibatan dan komitmen. Ketika perawat merasa mendapatkan dukungan dan investasi yang tulus, mereka membangun loyalitas yang lebih kuat. Peningkatan kondisi kerja dan keseimbangan antara tuntutan pekerjaan meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi niat untuk pindah. Studi ini memperdalam pemahaman dengan mengintegrasikan faktor struktural, budaya, dan psikososial yang mempengaruhi retensi perawat di Indonesia.
ANALISIS BUDAYA ORGANISASI PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN DI LAHAT SUMATERA SELATAN
Sektor pertambangan memainkan peran sentral dalam dinamika perekonomian Indonesia, menjadi pilar utama penyediaan energi dan sumber daya mineral strategis untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, Indonesia menyumbang sekitar 30-40% dari permintaan batu bara global. Kontribusi vital sektor ini tercermin dalam data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, 2024), yang menyatakan bahwa sektor mineral dan batu bara (Minerba) menyumbang Rp2.198 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2023, setara dengan 10,5% dari total PDB. Perusahaan Pertambangan adalah salah satu kontraktor pertambangan terkemuka di Indonesia, yang berspesialisasi dalam operasi penambangan batu bara dan infrastruktur pendukungnya. Proyek Pertambangan Lahat (LMP) merupakan salah satu proyek pertambangan Perusahaan Pertambangan yang berlokasi di Sumatra Selatan. Proyek Tambang Lahat (LMP), sebuah perusahaan jasa pertambangan, menghadapi tantangan terkait budaya organisasi, yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kewajiban laporan kerja oleh satu divisi di Lokasi Kerja LMP dari Januari hingga Agustus 2025. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Kepemimpinan, Komunikasi, Keterlibatan Karyawan, dan Pelatihan terhadap budaya organisasi; mengidentifikasi variabel mana yang diprioritaskan sebagai peluang untuk meningkatkan budaya organisasi; dan memberikan rekomendasi untuk penguatan budaya organisasi di Lokasi Kerja Perusahaan Tambang di Proyek Tambang Lahat (LMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif dan verifikatif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi berganda dan analisis kepentingan-kinerja. Sumber penelitian menggunakan data primer, yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini adalah 37 mekanik dari divisi Track Lokasi Kerja GL di LMP, dengan menggunakan teknik sensus. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa, menurut responden, Kepemimpinan, Keterlibatan Karyawan, dan Pelatihan berada dalam kategori tinggi, sedangkan Komunikasi dan Budaya Organisasi berada dalam kategori sedang. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara Kepemimpinan, Komunikasi, Keterlibatan Karyawan, dan Pelatihan terhadap Budaya Organisasi, dengan pengaruh sebesar 84,2% terhadap Budaya Organisasi. Hasil analisis kepentingan-kinerja menunjukkan bahwa Pelatihan dan Komunikasi merupakan variabel yang perlu diprioritaskan untuk ditingkatkan. Strategi yang direkomendasikan untuk meningkatkan Pelatihan adalah melakukan survei evaluasi untuk menentukan apakah akan melanjutkan pelatihan yang sama atau pelatihan yang berbeda, dan untuk Komunikasi, melakukan evaluasi dan mengusulkan teknik komunikasi yang sesuai.
EVALUASI PENGARUH MINERAL SMEKTIT PADA FORMASI CITARUM TERHADAP KESTABILAN LERENG, STUDI KASUS AREA PEMBANGUNAN BENDUNGAN ATAS CISOKAN, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Pembangunan PLTA Cisokan sebagai infrastruktur energi strategis memerlukan konatruksi sejumlah lereng baru sehingga evaluasi kestabilan lereng menjadi aspek penting. Kestabilan lereng dipengaruhi oleh sifat keteknikan tanah yang bergantung pada karakteristik dan mineral penyusunnya, termasuk keberadaan mineral smektit yang dikenal sangat ekspansif dan berpotensi menurunkan kekuatan tanah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi mineral smektit serta pengaruhnya terhadap sifat keteknikan tanah dan implikasinya terhadap kestabilan lereng. Hasil uji sifat keteknikan terhadap tiga sampel utama (L-01, L-02, dan L-03) menunjukkan bahwa sampel L-02 memiliki sifat keteknikan paling buruk, ditunjukkan oleh nilai kohesi terendah serta indeks likuiditas tertinggi. Analisis kestabilan lereng juga memperlihatkan bahwa L-02 memiliki faktor keamanan terendah dengan 5 dari 9 skenario geometri berada pada kondisi tidak stabil. Analisis X-Ray Diffraction (XRD) mengidentifikasi kandungan smektit pada semua sampel, namun L-02 mengandung jenis montmorilonit yang memiliki potensi swelling lebih tinggi dibandingkan saponit yang ditemukan pada L-01 dan L-03. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran smektit berjenis montmorilonit berkontribusi signifikan terhadap buruknya sifat keteknikan tanah dan penurunan faktor keamanan lereng, sehingga memberikan implikasi penting bagi perancangan dan mitigasi kestabilan lereng di area pembangunan PLTA Cisokan.
PENINGKATAN STABILITAS PEROVSKIT ?-CSPBI3 MELALUI STRATEGI CO-DOPING ATOM LOGAM BIVALEN UNTUK APLIKASI SEL SURYA: STUDI DFT DAN SCAPS-1D
Perovskit CsPbI3 merupakan kandidat material yang memiliki potensi unggul dalam aplikasi sel surya karena kemampuan penyerapan cahaya yang tinggi dan celah pita sempit (~1,49 eV) yang mendekati batas efisiensi teoritis ShockleyQueisser (SQ). Namun, tantangan utama dari material ini adalah kestabilan fasa perovskit kubik (?) yang secara termodinamika tidak stabil pada suhu ruang dan mudah bertransformasi menjadi fasa ? non-perovskit. Dalam penelitian ini, pengaruh doping dan co-doping atom logam bivalen (yaitu Mn2+, Zn2+ , dan Mg2+) terhadap stabilitas fasa ?-CsPbI3 dievaluasi menggunakan perhitungan Density Functional Theory (DFT). Perhitungan dilakukan menggunakan perangkat lunak VASP (Vienna Ab-initio Simulation Package) dan fungsi pertukaran-korelasi GGA-PBE (Generalized Gradient Approximation Perdew-Burke-Ernzerhof). Analisis difokuskan pada perubahan parameter struktural, energi pembentukan transisi fasa ?–?, serta sifat elektronik dan optik untuk mengevaluasi kestabilan struktur dan potensi kinerja optoelektronik material hasil doping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi co-doping dengan kombinasi atom logam Mn dan Mg mampu menekan transformasi fasa ? ke ? secara signifikan dibandingkan struktur lainnya. Struktur co-doping Mn-Mg–CsPbI3 memiliki celah pita sebesar 1,31 eV yang mendekati nilai optimal SQ (1,34 eV). Analisis terhadap sifat optik menunjukkan bahwa doping dan co-doping tidak memberikan perubahan secara signifikan terhadap kemampuan absorpsi cahaya. Simulasi numerik menggunakan Solar Cell Capacitance Simulator–1 Dimensional (SCAPS-1D) dengan konfigurasi ITO/TiO2/?-CsPbI3/CuO/Au menunjukkan bahwa perangkat sel surya berbasis Mn-Mg–CsPbI3 memiliki performa paling optimal dengan nilai Jsc 33,93 mA/cm2 , Voc 0,84 V, FF 81,97%, dan PCE mencapai 23,27%. Dengan demikian, strategi codoping Mn-Mg terbukti efektif dalam meningkatkan stabilitas fasa ?-CsPbI3 sekaligus mampu menghasilkan karakteristik optoelektronik yang unggul, sehingga menjadikannya kandidat material yang potensial untuk aplikasi sel surya berbasis perovskit yang efisien dan stabil.
OPTIMASI SINTESIS ADSORBEN FE3O4@GELATIN MENGGUNAKAN CENTRAL COMPOSITE DESIGN UNTUK ADSORPSI KRISTAL VIOLET
Kristal violet merupakan salah satu limbah pewarna sintetis yang bersifat toksik sehingga dapat mengganggu kesehatan manusia dan menurunkan kualitas ekosistem akuatik. Keberadaan kristal violet di lingkungan perairan dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, gangguan pernapasan, dan gangguan pencernaan. Selain itu keberadaan di perairan dapat menghambat proses fotosintesis. Oleh karena itu dibutuhkan metode yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar kristal violet. Metode adsorpsi merupakan teknik yang umum digunakan untuk mengurangi kadar zat warna di perairan karena proses yang sederhana, efisien dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Kinerja adsorpsi sangat ditentukan oleh jenis dan karakteristik adsorben yang digunakan. Salah satu yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah adsorben yang digunakan. Gelatin sebagai biomaterial ramah lingkungan memiliki potensi sebagai adsorben karena memiliki gugus fungsional seperti -NH dan -COOH yang dapat berinteraksi dengan kristal violet. Namun, gelatin memiliki kecenderungan menyerap air yang mengakibatkan penurunan stabilitas mekaniknya. Oleh karena itu, gelatin diperkuat menggunakan pengikat silang glioksal untuk meningkatkan stabilitas struktur dan dikompositkan dengan Fe?O? yang bersifat paramagnetit untuk memudahkan pemisahan secara magnetik untuk penggunaan kembali. Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi optimum gelatin dan glioksal pada massa magnetit tetap dalam sintesis Fe?O?@Gelatin untuk memperoleh kapasitas adsorpsi maksimum, serta menentukan kondisi adsorpsi kristal violet yang optimum. Optimasi komposisi adsorben dilakukan menggunakan metode Central Composite Design (CCD) berbasis perangkat lunak Minitab. CCD merupakan salah satu metode dalam Response Surface Methodology (RSM) yang dapat mengetahui pengaruh masing-masing variabel serta interaksi antarvariabel secara efisien melalu kombinasi titik pusat, titik aksial, dan titik faktorial. Metode ini dapat meminimalkan jumlah percobaan yang diperlukan dan dapat memprediksikan data sehingga sangat sesuai untuk optimasi komposisi material. Sedangkan penentuan kondisi adsorpsi dilakukan secara batch untuk mengevaluasi pengaruh pH, massa adsorben, waktu kontak, konsentrasi awal, suhu dan pengaruh konsentrasi NaCl terhadap kapasitas adsorpsi kristal violet. Hasil penelitian mengenai optimasi komposisi gelatin dan glioksal dalam pembuatan adsorben Fe?O?@Gelatin dengan metode CCD menunjukkan nilai R²-pred sebesar 0,8873 dan R²-adj sebesar 0,9822. Selisih antara R²-pred dan R²-adj kurang dari 0,2 yang menunjukkan model yang dibuat memiliki kemampuan prediksi yang sangat baik. Kondisi optimum pada perbandingan massa gelatin dan glioksal adalah 4,567 : 0,4271 dengan kapasitas adsorpsi sebesar 9,63 mg/g. Setelah disintesis dan dilakukan adsorpsi diperoleh rata-rata kapasitas adsorpsi dari lima eksperimen yang dilakukan yaitu sebesar 9,4562 mg/g. Hasil Uji T dari kapasitas adsorpsi eksperimen dan kapasitas adsorpsi yang diramalkan oleh minitab menunjukkan kapasitas adsorpsi tidak berbeda signifikan. Karakterisasi FTIR, XRD, SEM-EDS, dan TEM mengkonfirmasi keberhasilan sintesis Fe?O?@Gelatin dan keberhasilan adsorpsi kristal violet. Kondisi adsorpsi optimum diperoleh pada pH 8, massa adsorben 75 mg, dan waktu kontak 30 menit. Adsorpsi kristal violet mengikuti kinetika orde dua semu dan isoterm Langmuir. Secara termodinamika, proses berlangsung endoterm (?H = 24,18 kJ/mol), spontan (?G < 0), dan disertai peningkatan ketidakteraturan (?S = 185,84 J/mol·K) dengan qmaks 20,78 mg/g. Fe?O?@Gelatin menunjukkan kinerja adsorpsi-desorpsi yang baik hingga tiga siklus penggunaan. Untuk mengetahui pengaruh keberadaan ion-ion kompetitor terhadap kinerja adsorpsi kristal violet, dilakukan pengujian pengaruh penambahan NaCl. Hasil yang diperoleh menunjukkan, kapasitas adsorpsi menurun seiring bertambahnya konsentrasi NaCl. Penurunan ini disebabkan oleh kompetisi antara Na+ dengan kristal violet yang bermuatan positif untuk mengisi situs aktif di permukaan adsorben Fe?O?@Gelatin.
SINTESIS PARASETAMOL MELALUI PENATAAN ULANG BECKMANN DALAM REAKTOR ALIRAN MIKRO
Parasetamol merupakan obat esensial dengan kebutuhan nasional lebih dari 9.000 ton per tahun, sementara Indonesia masih bergantung sekitar 90% pada bahan baku obat impor. Ketergantungan ini menimbulkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok global. Dalam upaya mendukung kemandirian bahan baku obat, penelitian ini mengembangkan rute sintesis alternatif parasetamol dari p-hidroksiasetofenon oksim (4-HAPO) melalui reaksi penataan ulang Beckmann menggunakan katalis asam trifluoroasetat (TFA) dalam sistem reaktor aliran. Prekursor 4-HAPO berhasil disintesis dengan rendemen sebesar 92% dan struktur molekulnya dikonfirmasi melalui analisis ¹H-NMR dan ¹³C-NMR. Pergeseran kimia khas oksim (–NOH) serta sinyal aromatik muncul sesuai dengan literatur. Setelah mengalami penataan ulang Beckmann, spektrum NMR menunjukkan hilangnya sinyal oksim dan munculnya sinyal amida yang mengkonfirmasi terbentuknya parasetamol. Penggunaan TFA sebagai katalis berperan dalam memfasilitasi tahap protonasi oksim dan pembentukan intermediet nitrilium, yang merupakan tahap kunci dalam penataan ulang Beckmann. Sintesis parasetamol dilakukan menggunakan sistem pompa suntik dan pompa peristaltik dengan melakukan optimasi kondisi reaksi meliputi suhu, laju alir, ekivalensi TFA, konsentrasi, dan panjang selang reaktor. Kondisi optimum diperoleh pada suhu 100 °C, laju alir 0,3 mL/menit, 1,1 ekivalen TFA, konsentrasi 0,05 M, dan panjang selang 3 m. Pada kondisi tersebut, rendemen reaksi mencapai 58%, sedangkan reaksi kontinu selama 24 jam menghasilkan rendemen hingga 82% dengan produk berwarna krem pucat. Untuk memenuhi persyaratan mutu farmakope, produk hasil sintesis dimurnikan melalui proses penghilangan warna menggunakan karbon aktif. Konsentrasi karbon aktif dioptimasi pada variasi 5, 10, 15, 25, dan 30% terhadap massa teoritis produk. Hasil optimasi menunjukkan bahwa proses penghilangan warna efektif dalam menurunkan intensitas warna produk. Produk hasil penghilangan warna direkristalisasi dan diperoleh rendemen akhir sebesar 48% berupa padatan berwarna putih. Padatan yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi menggunakan FTIR, 1H- NMR dan 13C-NMR yang menunjukkan bilangan gelombang dan geseran kimia yang sesuai dengan literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sintesis parasetamol menggunakan reaktor aliran dengan katalis TFA berpotensi menghasilkan produk dengan konversi tinggi dan kemurnian yang baik, serta menjadi jalur sintesis yang lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi dalam pengembangan produksi bahan baku parasetamol dalam negeri.
SINTESIS TURUNAN FURFURAL SEBAGAI PREKURSOR SENYAWA BIOAKTIF BERBASIS BAHAN HAYATI
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat (BBO) masih berada pada tingkat yang sangat tinggi, sehingga menimbulkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok global. Salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan tersebut adalah pengembangan prekursor untuk sintesis senyawa farmasi berbasis sumber daya hayati lokal. Furfural merupakan senyawa platform penting yang dapat dihasilkan dari biomassa lignoselulosa dan memiliki potensi untuk ditransformasikan menjadi turunan bernilai tambah, termasuk sebagai prekursor senyawa bioaktif. Namun demikian, pemanfaatan furfural dalam sintesis organik masih menghadapi tantangan berupa selektivitas reaksi yang rendah, ketidakstabilan intermediat, serta pembentukan produk samping yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan transformasi furfural melalui reaksi Cannizzaro serta proteksi gugus hidroksil pada furfuril alkohol untuk menghasilkan turunan yang lebih stabil. Pemurnian furfural komersial dilakukan menggunakan natrium karbonat yang diikuti dengan distilasi vakum untuk menghilangkan pengotor dan produk degradasi. Reaksi Cannizzaro menggunakan larutan kalium hidroksida dalam medium air untuk menghasilkan asam furoat dan furfuril alkohol. Selanjutnya, furfuril alkohol diproteksi menggunakan tert- butildimetilsilil klorida (TBSCl) dan basa imidazol. Pemurnian furfural komersial dihasilkan furfural murni sebesar 84,9% yang dikonfirmasi melalui spektrum 1H- NMR dengan kemunculan sinyal khas proton aldehida pada ? 9,52 ppm serta tiga sinyal proton cincin furan pada daerah aromatik. Reaksi Cannizzaro menghasilkan asam furoat dan furfuril alkohol dengan rendemen masing-masing sebesar 23,1% dan 26,9%. Transformasi ini ditandai oleh hilangnya sinyal proton aldehida, munculnya sinyal metilena (-CH?OH) pada ? 4,59 ppm untuk furfuril alkohol serta pergeseran sinyal proton furan akibat pengaruh gugus karboksilat pada asam furoat. Proteksi gugus hidroksil pada furfuril alkohol berhasil mendapatkan furfuril TBS eter dengan rendemen 82,5%, yang dikonfirmasi melalui munculnya sinyal khas gugus tert-butildimetilsilil pada daerah medan tinggi (? 0,9-0,0 ppm) serta hilangnya sinyal proton hidroksil. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa furfural dapat ditransformasikan secara sistematis menjadi turunan yang lebih stabil sebagai furfuril alkohol dan asam furoat. Turunan furfural yang dihasilkan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai prekursor dalam sintesis senyawa bioaktif berbasis kerangka sikloheksena.
PENGARUH KONSENTRASI AIR LIMBAH GARAM, PENAMBAHAN INOKULUM DAN AERASI TERHADAP KINERJA MICROBIAL FUEL CELL DENGAN SUBSTRAT LIMBAH POME
Kebutuhan energi listrik terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara pasokan energi tak terbarukan semakin menipis dan penggunaannya menimbulkan dampak lingkungan seperti emisi gas rumah kaca dan pencemaran. Kondisi ini mendorong pengembangan teknologi energi alternatif yang tidak hanya bersifat ramah lingkungan, tetapi juga mampu mendukung pengolahan limbah secara simultan. Salah satu teknologi yang memiliki potensi besar untuk memenuhi dua tujuan tersebut adalah Microbial Fuel Cell (MFC), yaitu sistem bioelektrokimia yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mengonversi senyawa organik menjadi energi listrik. Namun, performa MFC berbasis limbah cair Palm Oil Mill Effluent (POME) masih belum optimal akibat pembentukan biofilm elektrogenik yang kurang stabil, tingginya hambatan internal, serta belum efisiennya proses elektrokimia yang terjadi di dalam reaktor. Permasalahan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini, yaitu untuk mengevaluasi bagaimana faktor operasional tertentu dapat meningkatkan performa biofilm, kinerja elektrokimia, serta kemampuan pengolahan limbah dalam sistem MFC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi air limbah garam sebagai katolit (0,05 M dan 0,07 M Na), penambahan inokulum Pseudomonas aeruginosa, serta penerapan aerasi pada ruang katoda terhadap peningkatan kinerja MFC dua ruang dengan substrat limbah cair POME. Analisis dan karakterisasi dilakukan melalui karakterisasi biofilm menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), analisis gugus fungsi biofilm menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), serta karakterisasi elektrokimia berupa Open Circuit Voltage (OCV), kurva polarisasi (IV), rapat daya (IP), dan hambatan internal menggunakan Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS). Selain itu, kemampuan pengolahan limbah dievaluasi berdasarkan efisiensi penurunan Chemical Oxygen Demand (COD) sebagai indikator utama degradasi organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi perlakuan memberikan perbedaan yang sangat signifikan. Pada kondisi tanpa aerasi, kombinasi salinitas 0,07 M Na dan penambahan Pseudomonas aeruginosa menghasilkan biofilm paling tebal, homogen, dan matang secara morfologi. Hal ini diperkuat oleh analisis FTIR yang menunjukkan ketajaman pita serapan terkait polisakarida dan protein serta kemunculan beberapa pita tambahan pada biofilm. Hasil ini mengindikasikan peningkatan kompleksitas dan kematangan biofilm, yang berpotensi meningkatkan transfer elektron pada sistem MFC. Pada aspek elektrokimia, aerasi justru memberikan peningkatan paling signifikan. Variasi dengan Pseudomonas aeruginosa pada 0,07 M Na menghasilkan tegangan OCV tertinggi mencapai 771 mV serta rapat daya maksimum sebesar 681,02 mW/m². Analisis EIS juga menunjukkan hambatan internal yang jauh lebih rendah pada variasi ini, dengan nilai Rs sebesar 1,09 ohm dan Ra sebesar 1,68 ohm. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi mikroba elektrogenik, salinitas optimal, dan aerasi mampu menciptakan kondisi elektrokimia yang lebih efisien melalui peningkatan konduktivitas ionik dan penurunan activation losses pada katoda. Dibandingkan penelitian sebelumnya, peningkatan performa ini lebih menonjol terutama pada aspek pembentukan biofilm elektrogenik dan peningkatan daya listrik, sehingga mengindikasikan keberhasilan optimasi parameter operasional yang diuji. Persen penurunan COD meningkat pada seluruh variasi dan mencapai nilai tertinggi sebesar 98% pada variasi penambahan Pseudomonas aeruginosa; salinitas 0,07 M Na dengan aerasi. Kondisi dengan aerasi memperbaiki kondisi reaksi pada sistem sehingga pengolahan beban organik lebih efektif, sementara peningkatan salinitas dan penambahan P. aeruginosa memperkuat aktivitas biodegradasi serta pembentukan biofilm yang stabil. Kebaruan penelitian ini terletak pada hubungan sinergis variasi salinitas katolit, penambahan Pseudomonas aeruginosa, dan aerasi aktif yang masih jarang dikaji secara bersamaan pada MFC berbasis limbah POME. Penggunaan katolit bersalinitas tinggi juga berpotensi menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan katolit kimia sekaligus membuka peluang pengolahan dua limbah secara bersamaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan efisiensi penurunan COD secara konsisten serta memengaruhi karakteristik biofilm yang juga berkontribusi pada optimasi MFC berbasis POME untuk pengolahan limbah cair industri kelapa sawit yang lebih efektif dengan nilai tambah pemanfaatan listrik ramah lingkungan.