📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKARAKTERISASI SIFAT MEKANIK BATUAN DAN TEGASAN IN-SITU UNTUK PENENTUAN INTERVAL POTENSIAL PEREKAHAN HIDROLIK MELALUI PEMODELAN GEOMEKANIKA 1D DI LAPANGAN G
Cekungan Sumatra Selatan merupakan salah satu wilayah penghasil hidrokarbon utama di Indonesia, dengan Formasi Talang Akar yang dikenal memiliki potensi minyak dan gas tinggi melalui keberadaan batupasir kuarsa bersebaran luas dan berpermeabilitas rendah yang cocok untuk perekahan hidrolik. Lapangan G masih memiliki potensi pengembangan, namun belum pernah dilakukan pemodelan geomekanika satu dimensi (1D) untuk memahami kondisi tegasan in situ. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun model geomekanika 1D pada Sumur G-90 dan G-98 serta menentukan interval reservoir paling prospektif untuk perekahan hidrolik menggunakan integrasi parameter geomekanika dan Fracability index. Metode penelitian meliputi pengolahan data log sumur, Leak-Off Test (LOT), laporan pengeboran, image log, dan uji laboratorium. Tekanan pori dihitung menggunakan metode Eaton, tegasan vertikal dari integrasi densitas, dan tegasan horizontal minimum menggunakan persamaan Daines yang dikalibrasi LOT. Arah tegasan horizontal maksimum ditentukan melalui interpretasi wellbore breakout dan drilling-induced tensile fracture. Parameter Uniaxial Compressive Strenght, Tensile Strength, Brittleness Index, dan Fracability index dihitung sebagai dasar penilaian kelayakan rekahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lapangan G berada pada rezim tegasan geser (SHmax > Sv > Shmin) dengan arah SHmax sekitar 47° terhadap utara, konsisten dengan pola tektonik regional dan didukung atribut seismik variance. Integrasi parameter geomekanika dan Fracability index mengidentifikasi interval prospektif untuk perekahan hidrolik, yaitu K1, K2, L1, L3, O, P1, dan Q1 pada Sumur G-90 serta E1, E2, J2, dan L2 pada Sumur G-98. Penelitian ini membuktikan bahwa rezim tegasan dikontrol tegasan geser dan kedua sumur memiliki lapisan yang layak untuk perekahan hidrolik.
KAJIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI CISANGGARUNG HULU DI KABUPATEN KUNINGAN
Curah hujan yang tinggi, penurunan kapasitas sungai, kondisi topografi, serta perubahan tata guna lahan merupakan faktor utama penyebab banjir. Banjir yang terjadi pada periode 2019–2024 di Sungai Cisanggarung Hulu, Kabupaten Kuningan, telah mengakibatkan gangguan aktivitas masyarakat serta berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan pembangunan wilayah. Pengukuran debit observasi dilakukan untuk menentukan nilai awal koefisien kekasaran Manning sebagai masukan dalam proses kalibrasi debit banjir, dengan menggunakan debit bankfull Sungai Cisanggarung pada kala ulang 2 tahun (Q?). Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir pada seluruh dusun di Desa Andamui pada kondisi eksisting berada pada kelas sedang. Tingkat kerentanan yang ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan juga berada pada klasifikasi sedang, demikian pula dengan tingkat kapasitas masyarakat. Berdasarkan kombinasi parameter tersebut, tingkat risiko banjir di Desa Andamui termasuk dalam kategori risiko sedang. Sebagai upaya pengendalian banjir, dilakukan penanganan struktural berupa pengerukan dasar sungai dan pembangunan tanggul di Sungai Cisanggarung untuk meningkatkan kapasitas alur sungai. Penanganan ini mampu mereduksi banjir sebesar 43,39%, dengan penurunan luas genangan dari 0,51 km² menjadi 0,293 km². Namun demikian, kelas risiko banjir masih berada pada kategori sedang. Penanganan lanjutan dilakukan dengan pembangunan kolam retensi di Sungai Cijurey dengan kapasitas tampung sebesar 76.000 m³, yang mampu mereduksi banjir hingga 59,8%. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang lebih optimal, dilakukan tambahan pengerukan sedimen di Sungai Cijurey. Kombinasi penanganan tersebut menghasilkan kondisi tanpa genangan banjir di Desa Andamui, sehingga kelas risiko banjir menurun menjadi kategori rendah.
Pada perancangan jaringan perpipaan di industri proses, analisis dinamika aliran fluida merupakan faktor penting untuk memastikan keandalan operasi, perancangan sistem kontrol, dan mitigasi risiko transien tekanan. Berbagai metode pemodelan seperti Metode Karakteristik, Finite Difference Method, dan Metode Volume Berhingga dengan skema Godunov telah banyak digunakan, namun masing-masing memiliki keterbatasan dalam stabilitas numerik, sensitivitas terhadap segmentasi, serta kekakuan sistem. Penelitian ini mengembangkan Model Parameter Terdistribusi nonlinier berbasis Finite Difference Method dengan penyelesaian numerik menggunakan skema Runge–Kutta orde empat untuk memodelkan dinamika laju alir dan tekanan pada konfigurasi pipa tunggal maupun percabangan. Validasi dilakukan melalui uji independensi segmentasi, perbandingan data simulasi dengan data lapangan, serta analisis propagasi gelombang akibat perubahan aktuator. Penelitian telah berhasil mengimplementasikan simulasi berbasis pendekatan Finite Difference Method dengan solver numerik Runge – Kutta orde empat dalam bahasa pemograman Python. Dalam uji validasi dinamika model simulasi berhasil menunjukan hasil yang stabil secara numerik dan representatif terhadap data referensi. Pada segmentasi maksimum, 200 segmen, didapatkan RMSE sebesar 1,3 Kg/s untuk laju alir pada segmen upstream serta 60 ???????????? untuk tekanan pada segmen downstream. Analisis dinamika aliran pada sistem percabangan menunjukkan bahwa pada kondisi percabangan simulasi dapat memberikan hasil yang konvergen dan stabil secara numerik. Nilai standar deviasi dari simulasi untuk parameter laju alir pada pipa satu bernilai 0,2 Kg/s sebelum aktuasi dan menjadi 0,3 Kg/s setelah aktuasi. Sementara itu, pada pipa dua nilai standar deviasi laju alir bernilai 0,1 Kg/s dan menjadi 0,3 Kg/s setelah aktuasi. Sedangkan, untuk parameter tekanan pada pipa satu standar deviasi bernilai 39 KPa sebelum aktuasi, lalu menjadi 85 KPa setelah aktuasi. Pada pipa dua, standar deviasi bernilai 70 KPa sebelum aktuasi dan menjadi 95 KPa setelah aktuasi. Namun, simulasi masih belum dapat merepresentasikan arah aliran dengan akurat di seluruh segmen pipa karena arah perambatannya yang tidak representatif terhadap posisi aktuator.
PENGARUH LUAS PERMUKAAN DAN JARAK ELEKTRODA TERHADAP KINERJA PHOTOSYNTHETIC SEDIMENT MICROBIAL FUEL CELL (PSMFC)
Permasalahan umum yang terjadi pada dunia ini ialah krisis energi fosil dan meningkatnya produksi limbah yang berdampak pada masalah lingkungan dan kehidupan makhluk hidup disekitarnya. Solusi untuk mengatasi kedua masalah tersebut adalah dengan pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif pengganti bahan bakar fosil yang sekaligus dapat mengolah limbah untuk aman dibuang ke lingkungan, salah satunya ialah Photosynthetic Sediment Microbial Fuel Cell (PSMFC). PSMFC adalah suatu perangkat yang mampu menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan mikroalga di katoda dan bakteri di anoda. Mikroalga di katoda digunakan sebagai penghasil oksigen untuk akseptor elektron melalui fotosintesis sedangkan mikroba anaerob di anoda berfungsi untuk menguraikan limbah organik menjadi CO2. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh luas permukaan elektroda dan jarak elektroda terhadap daya yang dihasilkan oleh PSMFC. Konfigurasi PSMFC yang digunakan adalah konfigurasi satu ruang (one chamber). Di anoda berisi limbah POME sebagai sedimen dan kultur campuran mikroba dalam kondisi anaerob sedangkan di katoda berisi mikroalga, medium Zarrouk dan penyinaran dengan Lampu LED untuk proses Fotosintesis. Pada penelitian ini, dilakukan variasi terhadap luas permukaan dan jarak antar elektroda untuk mengoptimalkan kinerja (power density) PSMFC. Variasi luas permukaan elektroda yang digunakan ada tiga macam yaitu 4 cm2, 9 cm2 dan 16 cm2 (L4, L9 dan L16) sedangkan variasi jarak elektroda yang digunakan ada tiga macam yaitu 10 cm, 15 cm dan 20 cm (J10, J15 dan J20) sehingga perpaduan variasi luas dan jarak menghasilkan 9 kombinasi percobaan yaitu L4J10 , L4J15, L4J20, L9J10, L9J15, L9J20, L16J10, L16J15 dan L16J20. Analisis terhadap nilai Open Circuit Potential (OCV), Elektron Impedance Spectroscpoy (EIS), kurva I-V-P dilakukan untuk mengevaluasi kinerja PSMFC. Selain itu juga akan dilakukan uji menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui karakteristik biofilm di anoda. Berdasarkan kombinasi variasi luas permukaan dan jarak elektoda, variasi yang menghasilkan nilai Open Circuit Voltage (OCV) dan power density paling besar adalah variasi L16J10. OCV maksimum yaitu sebesar 683 mV terdapat pada variasi L16J10. Densitas daya maksimum sebesar 168,38 mW/m2 dan arus sebesar 0,5066 mA dihasilkan oleh variasi L9J10. Dari pengujian Electrochemical Impendance Spectrosopy (EIS), teramati bahwa nilai hambatan dalam pada penelitian PSMFC ini sangat besar dan didominasi oleh hambatan perpindahan ion/muatan. Berdasarkan pengamatan SEM, lapisan biofilm lebih merata dan lebih tebal didapatkan di variasi L9J15 dan variasi L16J15. Untuk efisiensi penurunan COD berkisar antara 53-60% untuk semua variasi.
OPTIMASI PROSES PEMURNIAN BIODIESEL PRODUK REAKSI TRANSESTERIFIKASI BERKATALIS GLISEROKSIDA
Proses pencucian merupakan tahapan penting dalam pemurnian biodiesel untuk menghilangkan sisa gliserol, sabun, dan katalis yang terbentuk selama reaksi transesterifikasi, sehingga biodiesel yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi pencucian biodiesel hasil transesterifikasi minyak kelapa sawit menggunakan katalis natrium gliseroksida, serta membandingkan karakteristik hasil pencucian dengan biodiesel yang diproduksi menggunakan katalis NaOH. Optimasi dilakukan menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan desain kuadratik, di mana rasio air pencucian terhadap biodiesel dan temperatur pencucian digunakan sebagai variabel bebas, sedangkan kadar gliserol total dan kadar air biodiesel dijadikan sebagai respon. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa model kuadratik signifikan secara statistik untuk kedua respon (p < 0,05), dengan rasio air pencucian sebagai faktor paling dominan. Surface dan contour plot menunjukkan adanya perilaku non-linear pada setiap titik optimasi proses. Kondisi optimum pencucian biodiesel diperoleh pada rasio air pencucian terhadap biodiesel sebesar 1:1,9 dan temperatur pencucian 59 °C. Validasi model menunjukkan deviasi antara nilai prediksi dan hasil eksperimen berada di bawah 5%, yang menandakan akurasi model yang baik. Perbandingan hasil pencucian menunjukkan bahwa biodiesel dengan katalis natrium gliseroksida memiliki kadar air (0,1494-b) dan kadar gliserol total (0,154%-b) yang lebih rendah dibandingkan biodiesel dengan katalis NaOH, dengan penurunan masing-masing sebesar 14,28% dan 16,30%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan katalis natrium gliseroksida menghasilkan biodiesel yang lebih mudah dimurnikan melalui proses pencucian dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan katalis NaOH.
PENENTUAN POSISI STRATEGIS TEKNOLOGI NAVIGASI DAN KOMUNIKASI DALAM EKOSISTEM UAV PERTAHANAN INDONESIA
Penelitian ini mengkaji penentuan posisi strategis teknologi navigasi dan komunikasi dalam ekosistem kendaraan udara nirawak (UAV) pertahanan Indonesia. Berpedoman pada model Industrial-Organization (I/O), penelitian ini mengintegrasikan analisis pasar, kajian lingkungan eksternal, dan penilaian kapabilitas internal untuk merumuskan pendekatan penentuan posisi bagi teknologi navigasi inersial tahan GPS (GPS-denied) dan komunikasi satelit berukuran kecil (SATCOM). Metodologi kualitatif digunakan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan pertahanan serta telaah sumber sekunder dari kebijakan, industri, dan teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan posisi yang efektif bergantung pada keterlibatan awal dengan Kementerian Pertahanan, TNI sebagai pengguna akhir, serta BUMN pertahanan di bawah DEFEND ID, di samping pemenuhan persyaratan lokalisasi dan offset. Dengan mengacu pada konsep penentuan posisi berbasis kebutuhan (needs-based positioning) Porter dan penerapan model Strategy Diamond, penelitian ini mengidentifikasi arena, kendaraan, pembeda, pentahapan, dan logika ekonomi sebagai elemen yang saling terkait dalam membentuk strategi masuk pasar. Peta jalan tiga tahap yang diusulkan—berfokus pada keterlibatan pemangku kepentingan, integrasi sistem, dan keberlanjutan lokal—mendukung prioritas modernisasi pertahanan Indonesia sekaligus memungkinkan perusahaan multinasional membangun kehadiran pasar yang berkelanjutan.
ANALISIS DAMPAK KEUANGAN DARI RESTRUKTURISASI ORGANISASI: STUDI EVALUATIF PADA META
Penelitian ini menyelidiki dampak keuangan dari penyusutan tenaga kerja (corporate downsizing) pada Meta Platforms Inc., dengan menganalisis periode dari 2018 hingga 2025, yang mencakup fase ekspansi agresif dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) "Year of Efficiency" yang dimulai pada akhir 2022. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini menerapkan Analisis Deret Waktu Terinterupsi (ITSA) dan model regresi berganda pada data triwulanan untuk menilai perubahan dalam metrik keuangan dan operasional utama sebelum dan setelah intervensi downsizing. Temuan mengungkapkan "efek riak" yang kompleks. Di satu sisi, downsizing menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap profitabilitas dan efisiensi biaya dalam jangka menengah. Metrik seperti Return on Assets (ROA) dan Operating Margin (OPM) menunjukkan tren peningkatan yang nyata pasca-downsizing, dan Pendapatan Operasi per Karyawan (OIPE) meningkat, yang mengindikasikan efisiensi laba per pekerja yang lebih baik terutama melalui pengurangan biaya. Sebaliknya, strategi ini berdampak buruk pada produktivitas operasional. Penjualan per Karyawan (SPE) secara konsisten menurun, menunjukkan bahwa pengurangan tenaga kerja mengganggu kapasitas output dan berpotensi merusak moral karyawan. Lebih lanjut, downsizing tidak menunjukkan efek yang signifikan terhadap Return on Equity (ROE) atau Rasio Arus Kas Operasi terhadap Aset (OCF), yang mengindikasikan bahwa imbal hasil untuk pemegang saham dan likuiditas jangka pendek tidak membaik secara langsung karena PHK. Hasil ini tetap kuat setelah mengontrol faktor internal (intensitas R&D, leverage) dan kondisi makroekonomi eksternal (pertumbuhan PDB, inflasi). Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun downsizing berfungsi sebagai alat yang efektif untuk rekayasa keuangan dan optimasi biaya jangka pendek hingga menengah di Meta, strategi ini menciptakan trade-off kritis dengan melemahkan produktivitas operasional. Hasil ini mendukung peringatan dari Teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder Theory) dan Resource-Based View, yang menyoroti risiko pengikisan modal manusia dan kapasitas inovasi jangka panjang untuk keuntungan finansial jangka pendek.
ANALISIS FINANSIAL PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR VENTILASI BERBASIS DISCOUNTED CASH FLOW: STUDI KASUS DARI TAMBANG EMAS BAWAH TANAH CGSS–CGHT
Studi ini mengevaluasi kelayakan ekonomi pengembangan infrastruktur ventilasi untuk tambang emas bawah tanah CGSS–CGHT PT Antam Tbk UBPE Pongkor dengan membandingkan dua skenario produksi: kelanjutan operasi tanpa pembuatan ventilasi shaft baru (Skenario 1) dan operasi dengan pembuatan ventilasi shaft baru (Skenario 2). Penelitian menggabungkan analisis kondisi bisnis (PESTLE, VRIO, dan SWOT) dengan penilaian proyek menggunakan metode DCF (Discounted Cash Flow). Proyeksi harga emas dan perak diperoleh dari konsensus data bank internasional dan lembaga investasi, sementara arus kas proyek dibangun berdasarkan detail CAPEX (pertambangan, pabrik proses, utilitas, infrastruktur), COGS, OPEX, royalti sesuai fiskal Indonesia, serta depresiasi. Kinerja finansial setiap skenario dinilai menggunakan NPV, IRR, dan payback period dengan mendiskontokan arus kas pada tingkat WACC proyek, serta diuji lebih lanjut melalui analisis sensitivitas terhadap harga emas dan biaya operasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua skenario secara finansial layak; namun, Skenario 2 secara konsisten menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi, dengan NPV sebesar USD 62,65 juta dibandingkan USD 54,4 juta, IRR sebesar 44% dibandingkan 40%, serta payback period yang serupa yaitu kurang dari satu tahun. Skenario 2 juga meningkatkan unit ekonomi (COGS dan OPEX per ounce lebih rendah) dan menghasilkan pembayaran royalti kumulatif yang lebih tinggi kepada pemerintah Indonesia. Studi ini menyimpulkan bahwa pembangunan dan pengoperasian tambang dengan ventilasi shaft baru merupakan strategi yang lebih unggul untuk memaksimalkan nilai cadangan tersisa CGSS–CGHT, meningkatkan kesejahteraan pemegang saham, serta memperkuat aspek keselamatan dan kepatuhan terhadap regulasi. Selain itu, studi ini mengusulkan roadmap implementasi bertahap untuk memberikan fleksibilitas dalam pengambilan keputusan investasi.
STRATEGI INOVASI MODEL BISNIS MELALUI REDESAIN VALUE PROPOSITION DALAM PEMBIAYAAN KORPORASI: STUDI KASUS PADA EVERGREEN FINANCE
Tesis ini mengkaji bagaimana inovasi model bisnis, dengan fokus khusus pada perancangan ulang proposisi nilai, dapat berkontribusi dalam mengatasi kesenjangan layanan yang telah lama ada dalam pembiayaan modal kerja korporasi. Evergreen Finance (nama disamarkan) menjadi subjek studi kasus untuk memahami mengapa, meskipun portofolionya mengalami pertumbuhan yang kuat, perusahaan ini menghadapi penurunan jumlah dan volume pelanggan baru yang memilihnya untuk pembiayaan, serta tantangan yang semakin besar bagi bank dan fintech dalam mengakses modal kerja perusahaan. Di internalnya, Evergreen Finance memasarkan dirinya sebagai mitra yang cepat, adaptif, dan berorientasi pada hubungan bagi bisnis. Namun, kenyataannya, pelanggan mengalami proses persetujuan yang lambat dan tidak dapat diprediksi, penerapan kebijakan yang kaku, serta tata kelola yang seringkali impersonal atau tidak transparan. Gejala-gejala ini menunjukkan bahwa janji yang menurut saya menjadi dasar Novell tidak lagi kompetitif dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh klien korporat. Studi ini bersifat kualitatif, eksploratif, dan menggunakan desain studi kasus tunggal. Data asli dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan dua pelanggan korporat yang dipilih secara sengaja, mewakili kasus yang berlawanan dan ekstrem dalam dimensi pengelolaan momen-momen kunci dalam perjalanan pelanggan: (1) pelanggan aktif yang membutuhkan pencairan modal kerja cepat dan aman, dan (2) pelanggan jangka panjang yang mengalami default, penyitaan, dan sengketa berkepanjangan namun tetap tertarik pada pembiayaan di masa depan. Untuk alasan kerahasiaan, semua nama perusahaan dan klien adalah fiktif. Untuk peta nilai ‘as-is’ Evergreen Finance, data sekunder seperti presentasi produk, presentasi internal, dan prosedur operasional standar dianalisis. Tema-tema akhirnya ditulis sebagai kode dari transkrip wawancara secara induktif menggunakan analisis tematik, dan dipetakan ke Value Proposition Canvas (Osterwalder et al., 2014) dan Business Model Innovation (Morris et al., 2005). Hasil menunjukkan empat kelompok masalah pelanggan yang berdampak tinggi. Pertama, janji layanan “cepat” tidak sesuai dengan kenyataan, karena proses berbasis batch dan persyaratan giro fisik membuat pencairan dana lambat dan tidak dapat diprediksi bagi klien yang bekerja dengan jendela waktu kapal atau proyek dua hingga tiga hari. Kedua, kekakuan kebijakan, terutama dalam aturan jaminan dan fleksibilitas struktur, membatasi kemampuan perusahaan untuk merespons kebutuhan berbasis proyek dan waktu kritis, serta mengesampingkan klien yang sebenarnya memiliki basis aset kuat seperti properti. Ketiga, tata kelola hubungan tidak secara konsisten selaras dengan bahasa kemitraan: klien lama merasa diperlakukan seperti “klien baru”, dan tindakan penagihan atau penyitaan sering dianggap mendadak, sepihak, dan kurang komunikatif. Keempat, kebijakan risiko dan keuangan tertentu, termasuk penilaian ulang jaminan yang sering dilakukan yang menyebabkan erosi batas tengah tenor, secara tidak sengaja mengurangi pemanfaatan fasilitas bahkan di antara klien yang berkinerja baik. Bersama-sama, celah-celah ini menciptakan ketidakcocokan antara proposisi nilai yang dimaksudkan perusahaan dan nilai yang sebenarnya dirasakan oleh klien korporatnya. Sebagai tanggapan, studi ini merekomendasikan proposisi nilai yang difokuskan kembali berdasarkan tiga prinsip: Proposisi Kecepatan (proses FMU dua jalur dengan jalur khusus waktu kritis dan syarat pencairan), Proposisi Kemampuan (penawaran modal kerja yang diperluas yang mencakup jaminan non-peralatan berat seperti properti), dan Proposisi Loyalitas (aturan stabilitas batas, praktik penagihan yang sensitif terhadap hubungan, dan privilese operasional berjenjang untuk pelanggan setia). Nilai proposisi baru ini diterjemahkan ke dalam operasi layanan konkret, kebijakan risiko, dan modifikasi perangkat hubungan pelanggan, serta diuraikan dalam rencana implementasi bertahap. Tesis ini menambah nilai pada literatur dengan menunjukkan bahwa desain nilai proposisi tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran, tetapi juga sebagai mesin inovasi model bisnis dalam lingkungan multi-finance yang diatur. Bagi profesional bisnis, ini merupakan pengingat berbasis bukti bahwa produk, proses, dan tata kelola pembiayaan modal kerja harus disesuaikan kembali dengan pekerjaan nyata, tantangan, dan manfaat klien korporat.
USULAN PERANCANGAN MANAJEMEN HUBUNGAN PEMASOK UNTUK MENDUKUNG INOVASI DI PARAGONCORP
Penelitian ini mengusulkan perancangan model manajemen hubungan pemasok (SRM) untuk mendorong inovasi pada perusahaan kosmetik Indonesia dengan rantai pasok yang menggunakan sistem tarik, Paragoncorp. Penelitian ini didasari pada perkembangan pesat industri kecantikan dan sangat tersegmentasi akibat perubahan perilaku konsumen, meningkatnya permintaan akan variasi produk, dan persaingan yang didorong oleh inovasi dan keterikatan digital yang cepat. Industri kosmetik di Indonesia menghadapi tantangan seperti permintaan yang fluktuatif, persyaratan kualitas kemasan yang kompleks, serta kebutuhan bisnis untuk menjaga kelincahan, terutama dalam persaingan local maupun global. Perusahaan telah meluncurkan lebih dari 400 SKU baru pada tahun 2024 dan meningkat dari tahun ke tahun, sementara mengharapkan waktu pengembangan yang lebih singkat dari rata-rata 18 bulanmenjadi 6 bulan. Sembari menangani sejumlah besar SKU, perusahaan juga menghadapi masalah pemenuhan pasokan dengan rata-rata 91.84 % pada tahun 2024. Dari selisih pemenuhan pasokan material, kelincahan dan keandalan pemasok merupakan akar penyebab utama yang berkontribusi sebesar 78.89 %. Oleh karena itu, pemasok memainkan peran penting tidak hanya dalam operasi pasokan, tetapi juga mendorong inovasi yang penting untuk mempertahankan keunggulan kompetitif. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan utama: (1) Apa saja pertimbangan pemasok untuk mendukung pelanggan mereka terkait inovasi? (2) Bagaimana memodelkan SRM yang dapat membangun ekosistem untuk mendukung inovasi di Paragoncorp sebagai perusahaan kosmetik dengan rantai pasok sistem tarik? (3) Bagaimana peran bagian Sourcing dan Procurement dapat menjadi pendorong inovasi di perusahaan? Penelitian ini bertujuan untuk merancang model SRM di Paragoncorp yang mengintegrasikan aspirasi internal perusahaan dan ekspektasi pemasok eksternal, sehingga mendorong kolaborasi dan inovasi. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggabungkan wawancara ahli internal semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama terkait inovasi di perusahaan, serta survei kuantitatif terhadap 45 pemasok kemasan di Indonesia, Tiongkok, dan Thailand. Studi ini juga menganalisis data pembelian perusahaan menggunakan gabungan kerangka kerja strategis- Matriks Kraljic (untuk menilai risiko pasokan bahan dan dampaknya terhadap lama) dan Model Preferensi Pemasok (untuk memahami persepsi pemasok terhadap daya tarik dan nilai pelanggan). Lebih lanjut, model SERVQUAL digunakan untuk mengevaluasi kesenjangan dalam dimensi kualitas layanaan dari perspektif pemasok, memberikan wawasan tentang kekuatan relasional dan area yang perlu ditingkatkan. Berdasarkan penelitian ini, model SRM yang diusulkan mengintegrasikan lima pilar strategis—sinergi antar-pakar, penciptaan bersama setiap hari, waktu pemasaran yang lebih cepat, keunggulan operasional, dan kemitraan strategis berkelanjutan, yang ditopang oleh prinsip-prinsip integritas, hubungan yang melampaui transaksional, keadilan, dan keterbukaan. Model ini membangun proses SRM yang formal melalui segmentasi pemasok, penilaian kemitraan, definisi strategi, pembangunan hubungan, perencanaan bersama, serta manajemen risiko dan kinerja berkelanjutan. Struktur tata kelola dalam tim lintas fungsi dan dukungan eksekutif direkomendasikan untuk memastikan keselarasan dan komitmen berkelanjutan. Adopsi teknologi seperti platform digital kolaboratif dan dasbor kinerja ditekankan untuk memfasilitasi pembagian informasi secara real-time dan meningkatkan transparansi. Peran pengadaan dan pengadaan berkembang menjadi orkestrasi strategis inovasi dengan mengelola portofolio pemasok, memfasilitasi pemosisian pelanggan pilihan pemasok, dan mengelola detail mulai dari pemilihan pemasok hingga tinjauan kinerja. Pendekatan strategis ini memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan kapabilitas pemasok secara efektif, mengurangi waktu pemasaran, meningkatkan responsivitas dalam rantai pasokan sistem tarik, dan mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar yang bergerak cepat. Penelitian ini berkontribusi pada pengetahuan rantai pasokan dan pengadaan dengan menawarkan kerangka kerja SRM yang holistik, praktis, dan terintegrasi yang disesuaikan dengan konteks kosmetik sistem tarik yang menyeimbangkan aspirasi internal dengan perspektif pemasok, pemosisian portofolio, dan dinamika kualitas layanan untuk memungkinkan inovasi dan kelincahan yang berkelanjutan. Penelitian ini juga memberikan panduan yang dapat ditindaklanjuti dan peta jalan implementasi bagi perusahaan yang ingin mengubah hubungan pemasok menjadi ekosistem inovasi kolaboratif.
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI SATUSEHAT MOBILE, APLIKASI SELULER REKAM MEDIS PRIBADI NASIONAL
SATUSEHAT Mobile (SSM) merupakan bagian dari ekosistem SATUSEHAT, yaitu Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKN) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tingkat adopsi aplikasi Personal Health Record (PHR) ini masih tergolong rendah meskipun telah memiliki berbagai fitur yang bermanfaat dan langkah-langkah keamanan yang memadai, sehingga membatasi potensi dampak terhadap pengelolaan kesehatan mandiri dan peningkatan kualitas layanan kesehatan. Penelitian ini menganalisis faktor- faktor yang memengaruhi adopsi SSM serta mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkannya. Studi ini menggunakan kombinasi Model Penerimaan Teknologi (TAM), Model Kepercayaan Kesehatan (HBM), Persepsi Risiko Privasi, dan Kepercayaan. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif, di mana data primer dikumpulkan melalui survei daring (N = 415) dan dianalisa menggunakan Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Model ini menjelaskan 58,0% variansi dalam Kemauan untuk Menggunakan dan 54,7% dalam Penggunaan. Kemauan untuk Menggunakan merupakan faktor pendorong terbesar terhadap Penggunaan, diikuti oleh Persepsi Kebermanfaatan, Kepercayaan, Dorongan untuk Bertindak, dan Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan. Persepsi Risiko Privasi, Persepsi Kerentanan Penyakit, Persepsi Keparahan Penyakit tidak memiliki efek yang signifikan secara statistik terhadap Kemauan untuk Menggunakan dan Penggunaan. Studi ini memberikan beberapa rekomendasi berdasarkan hasil temuan. Memastikan akses SSM yang andal, memaksimalkan jumlah pengguna terverifikasi, memaksimalkan jumlah fasilitas medis yang mengirimkan data Kesehatan secara teratur, menerapkan langkah-langkah keamanan tambahan dan mempublikasikan hasilnya, menyediakan isyarat yang tepat waktu dan relevan secara kontekstual untuk menggunakan SSM, serta memastikan SSM memenuhi standar kemudahan penggunaan dapat meningkatkan adopsi SSM.
FAKTOR-FAKTOR UTAMA YANG MEMBENTUK LOYALITAS PELANGGAN DI SUAR RUANG COFFEE GROUND
Studi ini mengkaji bagaimana kualitas layanan, atmosfer toko, dan kewajaran harga berhubungan dengan kepuasan dan loyalitas pelanggan di Suar Ruang, sebuah kedai kopi khusus di pasar kafe urban yang sedang berkembang. Berdasarkan teori pemasaran klasik seperti Rantai Layanan-Laba, model SERVQUAL, dan kerangka kerja pemasaran eksperimental, kami menggunakan desain riset hibrida untuk menangkap persepsi dan niat perilaku pelanggan secara sistematis. Kuesioner terstruktur diberikan kepada pelanggan aktif dan wawancara mendalam dengan manajer dan staf menyertai data kuantitatif ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan yang dirasakan (daya tanggap, keandalan, dan empati) memiliki dampak yang signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas pelanggan. Lingkungan toko, terutama desain/partisi, atmosfer, dan pengalaman sensorik tampak sebagai faktor kunci yang memengaruhi pengalaman pelanggan melalui ikatan emosional dan kunjungan ulang. Hubungan tidak langsung antara kewajaran harga dan loyalitas melalui kepuasan dalam mendukung manfaat nilai yang dirasakan dalam pilihan pelanggan juga ditemukan. Studi ini juga mengakui kemungkinan program loyalitas praktik terbaik, yang terdiri dari program keterlibatan komunitas dan penawaran yang dipersonalisasi, untuk meningkatkan keterlibatan konsumen dan advokasi merek.Penelitian ini mengusulkan kerangka strategis bagi Suar Ruang Coffee Ground untuk memanfaatkan program loyalitasnya dengan menyelaraskan peningkatan operasional dan prinsip experiential marketing. Rekomendasi yang diajukan melampaui konteks studi kasus ini, memberikan implikasi bagi usaha kecil hingga menengah di sektor hospitality. Penelitian ini berkontribusi pada literatur akademik maupun praktik manajerial dengan menjembatani konstruksi teoretis dan strategi yang dapat diterapkan guna mempertahankan daya saing di pasar kopi yang berorientasi pada pengalaman.
STUDI KELAYAKAN UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI PADA PERTAMBANGAN PASIR SILIKA MELALUI ANALISIS KOMPARATIF ANTARA PEMBELIAN MESIN BARU, PEREMAJAAN MESIN LAMA, DAN KERJA SAMA OPERASI
Penelitian ini menganalisis tiga alternatif investasi bagi PT Naga Mas Sultra dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi pasir silika, yaitu pembelian mesin baru, perbaikan mesin lama, dan kerja sama operasi. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menentukan strategi investasi yang paling menguntungkan secara finansial dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara profitabilitas dan risiko. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif melalui analisis PESTEL dan VRIO, serta penilaian keuangan dengan metode Discounted Cash Flow menggunakan indikator Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, dan Profitability Index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario Mesin Baru memberikan tingkat pengembalian tertinggi dan periode balik modal tercepat, meskipun memiliki risiko operasional dan modal yang lebih tinggi. Skenario Mesin Refurbished menawarkan hasil sedang dengan kebutuhan modal yang lebih rendah, sementara skenario Kerja Sama Operasi memiliki risiko paling rendah namun keuntungan terbatas. Secara keseluruhan, skenario Mesin Baru dinilai sebagai pilihan investasi paling tepat bagi PT Naga Mas Sultra. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengendalian biaya, penguatan perencanaan operasional, dan perencanaan keuangan jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
ANALISIS STRATEGI BISNIS UNTUK MENDIRIKAN PERUSAHAAN PENILAIAN KREDIT KARBON DI INDONESIA: STUDI KASUS PT. AGINATANDRA KARYA MANDIRI
Penelitian ini membahas faktor-faktor yang menentukan keberhasilan masuk pasar ke dalam industri penilaian kredit karbon di Indonesia. Studi ini mengisi kesenjangan penting dalam pemahaman tentang bagaimana perusahaan dapat beroperasi secara strategis di lingkungan kelembagaan yang baru berkembang. Pasar karbon di Indonesia memiliki potensi besar dengan kebutuhan pembiayaan iklim mencapai Rp 4.000 triliun hingga 2030, namun masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan lembaga asesor, perubahan regulasi yang cepat, dan infrastruktur teknis yang belum memadai. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran paralel konvergen, menggabungkan wawancara semi-terstruktur dengan 3 profesional yang berprofesi di pasar karbon dan juga diskusi kelompok terarah (FGD), serta survei terhadap 301 responden yang berasal dari industri, lembaga pemerintah, dan kalangan akademisi. Hasil analisis kualitatif menggunakan SWOT, PESTEL, dan Porter’s Five Forces menunjukkan bahwa dinamika pasar banyak dipengaruhi oleh dukungan kuat dari pemerintah, infrastruktur yang belum efisien, serta kesenjangan pengetahuan di sektor ini. Analisis faktor konfirmatori memvalidasi delapan konstruk teoretis, di mana kompetensi strategis muncul sebagai faktor paling berpengaruh (CA: 0,807), disusul oleh kepatuhan terhadap pemangku kepentingan (CA: 0,741), kepatuhan terhadap pemerintah (CA: 0,835), dan kemampuan manajemen lingkungan (CA: 0,850). Dari sintesis hasil penelitian, ditemukan lima faktor kunci keberhasilan: kompetensi strategis, kepatuhan terhadap regulasi dan institusi, keterlibatan pemangku kepentingan, kemampuan manajemen lingkungan, serta hubungan yang efektif dengan pemerintah. Temuan ini memperkuat Resource-Based View (RBV), Stakeholder Theory, dan Institutional Theory, dengan menekankan bahwa keberhasilan memasuki pasar di wilayah tropis menuntut kemampuan multidimensi, bukan hanya bersaing secara konvensional, tetapi juga mampu menavigasi regulasi yang dinamis, membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan, dan beradaptasi terhadap ketidakpastian institusional. Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi perusahaan yang ingin mengembangkan bisnis di pasar lingkungan yang sedang tumbuh dengan kompleksitas regulasi dan tantangan institusional seperti di Indonesia.
EVALUASI KELAYAKAN FINANSIAL ATAS KEBERLANJUTAN PENAMBANGAN BATUBARA, PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK INTEGRATED GASIFICATION COMBINED CYCLE, DAN DIVESTASI BISNIS: STUDI KASUS PT JAYA ABADI
Komitmen Indonesia untuk mencapai net-zero emissions pada tahun 2060 serta penurunan bertahap penggunaan batu bara menimbulkan tantangan strategis yang signifikan bagi perusahaan tambang swasta. Penelitian ini menganalisis bagaimana sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Timur (KJA) dapat tetap menghasilkan nilai dari cadangan Pit B sebesar 30 juta ton selama masa transisi. Tiga opsi strategi dievaluasi: pertama, mempertahankan operasi sebagai penambang batu bara mandiri, kedua yaitu melakukan integrasi vertikal ke pembangkit listrik dengan membangun fasilitas Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) berkapasitas 300 MW yang mampu beralih ke bahan bakar berkarbon lebih rendah, dan ketiga melepaskan aset batu bara kepada pihak eksternal. Studi ini mengintegrasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, konteks industri disusun menggunakan PESTLE dan Porter’s Five Forces, serta analisis pemangku kepentingan yang menekankan keselarasan kebijakan, dampak terhadap komunitas, dan keandalan pembeli akhir. Desain acuan IGCC diidentifikasi dengan penekanan pada fleksibilitas bahan bakar. Secara kuantitatif, arus kas proyek dimodelkan menggunakan Free Cash Flow to Firm (FCFF) dan didiskontokan dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC) per spesifik proyek dan tidak digunakan nilai terminal mengingat pembatasan masa berlaku izin dan deplesi cadangan pada segmen tambang maupun pembangkit. Menjalankan Pit B sebagai tambang murni memberi nilai sekitar USD 58,5 juta, sedangkan divestasi langsung memberi kas sekitar USD 75 juta. Opsi IGCC memberi nilai paling tinggi, sekitar USD 147,6 juta, dengan catatan tarif, efisiensi, dan risiko eksekusi tetap terjaga. Secara ringkas, IGCC adalah pilihan utama untuk menambah nilai dan menjaga keberlanjutan usaha, sementara divestasi menjadi opsi cadangan yang masih masuk akal.