📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenAKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN, BUNGA, DAN KULIT BATANG TANAMAN DAUN AFRIKA (GYMNANTHEMUM AMYGDALINUM (DELILE) SCH. BIP.) SERTA FRAKSI TERPILIH TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
Jerawat merupakan salah satu penyakit kulit paling umum yang sering disebabkan oleh peningkatan produksi sebum, hiperkeratinisasi folikel, dan proliferasi bakteri. Bakteri kulit utama yang menyebabkan terbentuknya jerawat adalah Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etanol dari daun, bunga, dan kulit batang tanaman daun afrika (Gymnanthemum amygdalinum (Delile) Sch.Bip.) dan fraksi terpilih terhadap bakteri penyebab jerawat. Metode difusi cakram digunakan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etanol terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) ditentukan menggunakan metode mikrodilusi, mengikuti pedoman dari Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Nilai KHM untuk ekstrak etanol bunga, fraksi etanol-air, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut adalah 1,56 mg/mL; 100 mg/mL; 3,13 mg/mL; dan 6,25 mg/mL. Nilai KHM terhadap Staphylococcus epidermidis berturut-turut adalah 1,56 mg/mL; 6,25 mg/mL; 3,13 mg/mL; dan 6,25 mg/mL. Nilai KBM untuk ekstrak etanol bunga, fraksi etanol-air, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut adalah 3,13 mg/mL; lebih dari 100 mg/mL; 6,25 mg/mL; dan 12,5 mg/mL. Untuk Staphylococcus epidermidis, nilai KBM berturut-turut adalah 3,13 mg/mL; 50 mg/mL; 25 mg/mL; dan lebih dari 50 mg/mL. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga tanaman daun afrika memiliki potensi paling signifikan dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.
STUDI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK SERTA FRAKSI HERBA DAN BUAH STROBERI (FRAGARIA X ANANASSA (DUCHESNE EX WESTON) DUCHESNE EX ROZIER)
Inflamasi merupakan respons pertahanan tubuh terhadap kerusakan atau infeksi jaringan. Stroberi (Fragaria × ananassa (Duchesne ex Weston) Duchesne ex Rozier) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang sebagian besar direpresentasikan oleh senyawa golongan polifenol dan diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi ekstrak serta fraksi dari herba dan buah stroberi serta melakukan karakterisasi untuk mengetahui golongan senyawa yang diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%. Fraksinasi dilakukan dengan metode kromatografi cair vakum menggunakan pelarut etil asetat, metanol, dan air. Uji aktivitas antiinflamasi pada ekstrak dan fraksi dilakukan dengan penentuan nilai IC50 menggunakan metode denaturasi protein dan stabilisasi membran. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana herba, etil asetat herba, etanol 70% herba, n-heksana buah, etil asetat buah, dan etanol 70% buah menggunakan metode denaturasi protein berturut-turut sebesar 753,59 ± 2,84; 1758,87 ± 6,17; 119,95 ± 0,13; 1528,37 ± 9,73; 607,42 ± 0,28; dan 184,93 ± 0,44 ?g/mL. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana herba, etil asetat herba, etanol 70% herba, n-heksana buah, etil asetat buah, dan etanol 70% buah menggunakan metode stabilisasi membran berturut-turut sebesar 12183,66 ± 100,90; 8308,58 ± 121,27; 813,33 ± 24,40; 12115,45 ± 285,55; 1723,20 ± 210,53; dan 5433,68 ± 179,60 ?g/mL. Ekstrak etanol 70% herba terpilih menjadi ekstrak yang akan difraksinasi karena aktivitas antiinflamasinya yang paling baik. Melalui karakterisasi ekstrak, diketahui ekstrak etanol 70% herba mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, tanin, kuinon, dan saponin. Nilai IC50 untuk fraksi 1—3, 4—6, 7—8, 9—13, dan 14—21 menggunakan metode denaturasi protein berturut-turut sebesar 2154,83 ± 16,75; 1251,83 ± 15,01; 2812,15 ± 7,52; 1034,59 ± 14,42; dan 471,76 ± 16,12 ?g/mL. Fraksi 14—21 dengan aktivitas antiinflamasi yang paling baik dipilih untuk dikarakterisasi dan diketahui bahwa fraksi mengandung senyawa golongan flavonoid dan fenol. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dari herba stroberi memiliki nilai IC50 yang paling rendah dibandingkan ekstrak dan fraksi lain yang diujikan sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen antiinflamasi.
DESAIN DAN KONSTRUKSI GEN MVAA DENGAN MODIFIKASI RIBOSOM BINDING SITE UNTUK OPTIMASI JALUR MEVALONAT HETEROLOG PADA BACILLUS SUBTILIS
Dalam rangka meningkatkan dan mempercepat produksi terpenoid, upaya produksi secara semisintetik dengan pendekatan rekayasa genetika pada mikroba menjadi salah satu alternatif produksi yang berkelanjutan. Pada penelitian sebelumnya telah dikonstruksi dan diekspresikan jalur jalur mevalonat menggunakan vektor pDR111 pada sel inang Bacillus subtilis. Namun jalur mevalonat atas yang diekspresikan masih menghasilkan mevalonat dalam tingkat yang rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mengoptimasi jalur mevalonat atas yang terdiri atas tiga gen kunci (gen atoB, mvaS, dan mvaA) pada plasmid pDR111_atoB_mvaS_mvaA untuk diekspresikan pada B. subtilis. Diketahui gen mvaA memiliki peranan penting karena berfungsi untuk mengkonversi produk intermediet HMG-KoA menjadi mevalonat. Untuk meningkatkan kekuatan ekspresi gen mvaA, dilakukan desain dan konstruksi Ribosom Binding Site (RBS) pada gen mvaA. Desain RBS dibuat dan dianalisis dengan metode in silico De Novo DNA, RNA folding, serta berdasarkan studi literatur. Konstruksi RBS hasil desain dilakukan dengan PCR dan dikonfirmasi melalui analisis sekuensing. Selanjutnya, dilakukan transformasi ke dalam sel inang B. subtilis. Hasil menunjukkan bahwa desain RBS dapat digunakan untuk regulasi ekspresi gen mvaA yang berujung kepada ekspresi jalur mevalonat yang optimum, ditinjau dari peningkatan nilai laju translasi RBS baru dan RNA secondary structure yang lebih baik dibanding RBS bawaan pada plasmid pDR111_atoB_mvaS_mvaA.
PENGARUH OPERATOR LAC DAN INTRON TERHADAP EKSPRESI PROTEIN SPIKE PADA KANDIDAT VAKSIN COVID-19 BERBASIS ADENOVIRUS
Vaksin berbasis adenovirus merupakan salah satu platform vaksin yang banyak dikembangkan. Ekspresi transgen tidak diinginkan selama proses produksi vektor adenovirus rekombinan karena dapat menurunkan titer vektor sehingga penerapan regulasi ekspresi transgen dapat dilakukan. Akan tetapi, ekspresi transgen yang tinggi diinginkan pada sel target karena menunjukkan kemampuan vektor untuk menghasilkan respon klinis. Pada penelitian sebelumnya, kandidat vaksin COVID-19 berbasis adenovirus dengan operator lac dan intron telah berhasil dikonstruksi dan diproduksi, namun pengaruh keberadaan operator lac dan intron terhadap ekspresi protein spike belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh operator lac dan intron pada kandidat vaksin COVID-19 berbasis Adenovirus terhadap ekspresi protein spike. Keempat vektor adenovirus yang digunakan untuk ekspresi protein spike diproduksi terlebih dahulu pada sel AD293 dan dikarakterisasi dengan polymerase chain reaction (PCR) serta immunostaining untuk menghitung titer virus. Karakterisasi PCR dilakukan menggunakan empat pasang primer untuk mendeteksi gen hekson, gen spike, serta fragmen lacO dan intron. Hasil PCR mengonfirmasi keberhasilan produksi dengan keberadaan gen yang sesuai untuk tiap vektor. Hasil perhitungan titer vektor AdV_LacZ, AdV_Spike, AdV_LacO_Spike, dan AdV_LacO_Intron_Spike berturut-turut adalah 8,7 x 108; 1,8 x 108; 0,42 x 108; dan 5 x 108 IFU/mL. Deteksi ekspresi protein spike dilakukan pada sel AD293, sel AD293-LacI, dan sel A549 menggunakan Western blot. Ekspresi protein spike terdeteksi pada infeksi AdV_Spike dan AdV_LacO_Spike, namun terdeteksi rendah pada infeksi AdV_LacO_Intron_Spike pada sel AD293, AD293-LacI, dan A549. Hasil ini membuktikan bahwa sistem regulator operon lac belum berhasil dan pengaruh intron tidak dapat ditentukan karena ekspresi spike yang konsisten rendah dari vektor AdV_LacO_Intron_Spike.
EVALUASI USABILITY WEBSITE PAK OSMAN™ DALAM RANGKA MENINGKATKAN KESADARAN PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT: PENDEKATAN USER-CENTERED DESIGN (UCD)
Tenaga medis dan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam pelaporan efek samping obat (ESO), tetapi banyaknya kewajiban pelayanan mengakibatkan terhambatnya pelaporan efek samping. Untuk mengakomodasi efisiensi, dikembangkan suatu website yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja untuk lebih memudahkan mengakses materi secara berkelanjutan dan melaporkan efek samping dengan segera. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi website Edukasi dan Pelaporan ESO ‘Pak Osman’ yang dimiliki SF ITB terkait kemudahan dan kepuasan penggunaannya sebelum dapat digunakan secara luas. Penelitian ini dilakukan dengan metode quasi eksperimental, pre and post test yang dilakukan dalam rentang waktu Januari-April 2024 di wilayah Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa kuesioner, pertanyaan Single Ease Question System (SEQ) dan System Usability Scale (SUS) yang disebarkan secara langsung serta dilakukan dengan dua tahapan. Sampel pada penelitian ini merupakan tenaga kesehatan, tenaga medis dan staf bidang IT yang bekerja di wilayah Kota Bandung dengan jumlah total 10 orang. Data diolah dengan analisis deskriptif dan statistik. Metode analisis statistik yang digunakan adalah paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan skor 5,77 dari 7 untuk uji SEQ pada tahap pertama dan meningkat menjadi 6,56 dari 7 pada tahap kedua. Sementara untuk uji SUS didapatkan hasil skor 74,25 dari 100 pada tahap pertama yang masuk ke dalam kategori Execellent dengan grade B, lalu meningkat pada tahap kedua dengan skor 86 dari 100 yang masuk dalam kategori Best Imaginable dan grade A+. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tenaga kesehatan, tenaga medis, dan ahli IT dapat dengan mudah menggunakan website ini serta puas dengan kegunaannya. Dengan adanya website ini, tenaga medis dan tenaga kesehatan dapat lebih mudah mendapatkan materi mengenai ESO serta dapat melaporkan ESO dengan lebih mudah.
OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM)
Senyawa radikal bebas dapat dihambat dengan suatu senyawa antioksidan. Salah satu sumber antioksidan alami yaitu sirsak (Annona muricata L.). Proses ekstraksi berkontribusi terhadap kandungan senyawa antioksidan yang terdapat dalam ekstrak. Penelitian ini bertujuan melakukan optimasi proses ekstraksi daun sirsak secara maserasi dan pengepresan yang menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan DPPH, CUPRAC, dan FRAP serta kadar fenol total dan flavonoid total yang optimum; korelasi antara total fenol dan total flavonoid terhahap aitivitas antioksidan, aktivitas antioksidan antara ketiga metode; dan identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak hasil optimasi. Ekstraksi dilakukan secara maserasi dan pengepresan. Response surface methodology dengan jenis model Box-Behnken digunakan untuk mengoptimasi tiga variabel ekstraksi yakni waktu ektraksi (10-40 menit), rasio simplisia-pelarut (1 : 3 – 1 : 10), dan konsentrasi pelarut (etanol 70%-etanol 96%). Penentuan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, CUPRAC, dan FRAP serta fenol total dan flavonoid total dilakukan dengan spektrofotometri UV-sinar tampak. Analisis korelasi menggunakan metode Pearson. Identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak hasil optimasi dengan KCKT. Hasil optimasi menunjukkan bahwa ekstraksi optimum daun sirsak secara maserasi dan pengepresan diperoleh pada waktu ekstraksi 10 menit, rasio simplisia-pelarut 1 : 6,5, dan konsentrasi pelarut 96%, memberikan nilai fenol total, flavonoid total, DPPH, CUPRAC, dan FRAP secara berturut-turut 119,388 ± 14,057 mg GAE/g, 91,212 ± 4,796 mg QE/g, 189,095 ± 15,931 mg AEAC/g, 162,121 ± 11,076 mg AEAC/g, dan 204,679 ± 5,164 mg AEAC/g. Secara umum, golongan fenol dan flavonoid dalam ekstrak etanol daun sirsak berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan DPPH, CUPRAC, dan FRAP. Ketiga metode baik DPPH, CUPRAC, maupun FRAP memberikan hasil yang linier pada uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun sirsak. Ekstrak etanol daun sirsak mengandung senyawa rutin dengan kadar 11,52 ± 1,06 mg/g.
STUDI MODE KERJA ANTIBAKTERI DARI NANOPARTIKEL PERAK HASIL SINTESIS MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BUAH JERUK LEMON (CITRUS LIMON L.) DAN PENGARUHNYA TERHADAP MORFOLOGI SEL BAKTERI
Nanopartikel perak (AgNP) hasil sintesis hijau telah banyak dikembangkan dan diteliti sebagai agen antimikroba baru, tetapi mekanisme aktivitas antimikroba dari AgNP masih belum diketahui. Pada penelitian ini digunakan ekstrak kulit buah lemon sebagai sumber agen reduktor dan stabilisator pada sintesis nanopartikel perak dengan bantuan microwave (CL-AgNP). Larutan koloid hasil sintesis menunjukkan puncak absorbansi pada panjang gelombang surface plasmon resonance (SPR) spesifik untuk nanopartikel perak, yaitu pada 415 nm. Didapatkan hasil karakterisasi dari CL-AgNP bersifat stabil dengan nilai potensial zeta sebesar -59,6 mv dengan ukuran diameter partikel sebesar 52,6 nm. Koloid nanopartikel dikeringkan dengan metode freeze dry untuk mendapatkan padatan CL-AgNP. Nanopartikel perak hasil sintesis menggunakan ekstrak kulit buah lemon (CL-AgNP) menunjukkan nilai KHM berturut-turut terhadap bakteri Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Streptococcus mutans sebesar 50, 25, 25, dan 50 ?g/mL. Penentuan kurva waktu bunuh bakteri dilakukan dengan variasi nilai 1KHM, 2KHM, 4KHM, dan bakteri kontrol yang tidak diberi perlakuan, aktivitas bakterisidal ditunjukkan ketika terjadi pengurangan jumlah koloni lebih dari sama dengan 3log10 CFU/mL. CL-AgNP 2KHM dan 4KHM menunjukkan aktivitas bakterisidal setelah dilakukan inkubasi selama 24 jam dan 1KHM menunjukkan aktivitas bakteriostatik setelah 24 jam untuk Streptococcus mutans. CL-AgNP dengan konsentrasi 4KHM menunjukkan aktivitas bakterisidal setelah inkubasi selama 4 jam, konsentrasi 1KHM dan 2KHM menunjukkan aktivitas bakterisidal setelah inkubasi selama 8 jam untuk Pseudomonas aeruginosa. Pengamatan morfologi dilakukan untuk menentukan pengaruh pemaparan CL-AgNP terhadap morfologi bakteri menggunakan instrumentasi SEM, konsentrasi 2KHM untuk bakteri uji setelah diinkubasi selama 18 – 24 jam pada suhu 37oC menyebabkan perubahan morfologi pada dinding sel bakteri gram positif (Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus mutans) dan pada membran sel bakteri gram negatif (Pseudomonas aeruginosa) dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
PENINGKATAN DISOLUSI ETORICOXIB PEMBENTUKAN DISPERSI PADAT MENGGUNAKAN KOLLIDON® VA 64
Etoricoxib merupakan salah satu golongan anti inflamasi selektif COX-2 yang diklasifikasikan dalam BSC kelas II. Pada penelitian ini dilakukan usaha peningkatan kelarutan etoricoxib melalui metode dispersi padat dengan menggunakan Kollidon® VA 64. Percobaan ini diawali dengan uji pendahuluan untuk mencari optimasi perbandingan antara etoricoxib dengan Kollidon® VA 64. Setelah dilakukan uji didapatkan perbandingan ETO-KOL-3 (1:3) adalah yang optimal. Kemudian dilakukan pembuatan dispersi padat dengan menggunakan metode penguapan pelarut yang terbagi tiga yaitu pengeringan pelarut pada suhu ruang (ETO-KOL-3-SR), pengeringan pelarut dengan laju pemanasan (ETO-KOL- 3-SE) dan pengeringan pelarut dengan Spray Drying (ETO-KOL-3-SD). Hasil dispersi padat kemudian dikarakterisasi dengan Powder X-Ray Diffractometry (PXRD), Differensial Scanning Calorimetry (DSC) dan Scanning Electron Microscope(SEM). Hasil PXRD dari ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO- KOL-3-SD memiliki derajat kristalinitas sebesar 37,62, 36,72 dan 35,55. Hasil DSC ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD memiliki Tg sebesar 72,78, 80,87 dan 88,48°C. Hasil SEM ETO-KOL-3-SR dan ETO-KOL-3-SE memiliki bentuk lempeng irregular tetapi ETO-KOL-3-SD memiliki bentuk spherical. Hasil disolusi ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD pada media dapar fosfat pH 6,8 memiliki persen disolusi 53,39±0,34 %, 63,05±0,24% dan 72,60±0,19%. Pada penelitian ini dapat dibuktikan bahwa pembentukan dispersi padat etoricoxib dengan Kollidon® VA 64 dengan metode Spray Drying merupakan salah satu pendekatan yang potensial untuk meningkatkan laju disolusi etoricoxib.
STUDI ETNOASTRONOMI DI KAMPUNG ADAT PULO, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT
Pada zaman ketika modernisasi belum terjadi, ilmu astronomi sudah diketahui dan diterapkan oleh masyarakat dalam kegiatan sehari-hari,yang disebut sebagai Etnoastronomi. Bidang ini mengaitkan fenomena-fenomena astronomi, menggunakan objek langit seperti bintang dan planet untuk acuan dalam kegiatan sehari-hari, seperti yang dilakukan oleh Masyarakat di Kampung Pulo dalam melakukan kegiatan pertanian dan pernikahan. Masyarakat Kampung Pulo menggunakan ilmu Palintangan yang memiliki kaitan dengan astronomi dalam menentukan waktu untuk melakukan aktivitas pertaniannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi literatur dan wawancara. Penjelasan mengenai perhitungan untuk menentukan hari yang baik dalam kegiatan pertanian di Kampung Pulo menggunakan dasar perhitungan palintangan sebagai fokus utama, yang disertai dengan contoh-contoh konkret untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang praktik ini. Perbandingan Kampung Pulo dengan Kampung adat lainnya di Jawa Barat, seperti Kampung Naga mengindikasikan perbedaan dalam pendekatan dan aplikasi pengetahuan astronomi dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Kampung Naga mungkin lebih mempertahankan tradisi secara konservatif, Kampung Pulo menunjukkan adaptasi yang lebih fleksibel terhadap modernisasi. Meskipun demikian, baik Kampung Pulo maupun Kampung Naga menampilkan kekayaan pengetahuan lokal yang unik dan memberikan wawasan berharga terhadap praktik-praktik tradisional yang telah terikat erat dengan alam dan langit-langit di sekitarnya.
STUDI PENGARUH PENAMBAHAN CITRA FOTO UDARA NON METRIK DANTITIK KONTROL TANAH TERHADAP KETELITIAN GEOMETRIK (STUDIKASUS : KAMPUS ITB)
Foto Udara Format Kecil (FUFK) merupakan salah satu metode pemetaan yang sedang berkembang saat ini. Metode ini memiliki kelebihan dari segi pengadaan alat yang relatif mudah dan biaya operasional yang lebih ringan dibanding foto udara standar. Agar foto udara dapat memberikan informasi koordinat tanah maka perlu dilakukan proses pengolahan foto udara yang terdiri dari beberapa tahap, dimana dalam salah satu tahapannya diperlukan titik kontrol tanah sebagai acuan. Pada penelitian ini dikaji mengenai pengaruh penambahan titik kontrol tanah dan penambahan citra foto udara terhadap ketelitian geometrik. Ketelitian dilihat dari seberapa besar peningkatan pada saat melakukan proses perataan berkas. Pelaksanaan penelitian dibagi dalam 3 tahap, yaitu perencanaan dan persiapan, operasional lapangan dan pemrosesan hasil. Perencanaan dan persiapan mencakup penyediaan alat/bahan dan penentuan jalur terbang. Operasional lapangan mencakup pengambilan data titik kontrol tanah dan perekaman foto udara. Tahap pemrosesan mencakup pengolahan data GPS dan perhitungan perataan berkas pada blok foto udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil perataan berkas pada blok dengan menambahkan jumlah citra dari cross flight tidak meningkatkan ketelitian, hal ini dilihat dari hasil RMSE yang membesar. Sedangkan pada percobaan dengan menambahkan jumlah titik kontrol tanah dari 3 buah menjadi 10 buah, terdapat peningkatan hasil perataan berkas namun pada saat penambahan menjadi 15 titik, hasilnya justru menurun.
PERBANDINGAN HASIL METODE KLASIFIKASI LIDAR DENGAN FOTOGRAMETRI
Studi awal adalah studi yang dilakukan untuk mengevaluasi komponen-komponen dalam suatu objek, contohnya adalah infrastruktur. Studi ini dinilai penting karena hasil evaluasi dapat digunakan untuk melakukan manajemen aset dalam infrastruktur melalui Building Information Modeling (BIM). Lokasi penelitian ini adalah Bendung Manganti yang terletak di Kabupaten Ciamis. Aset-aset dalam bangunan bendung berguna untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Pemantauan dan pemeliharaan infrastruktur perlu dilakukan secara berkala agar tetap dapat menjalankan fungsinya. Manajemen aset diperlukan agar data grafis dan atribut dari aset-aset bangunan bendung dapat tertata dengan rapi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah melalui pemanfaatan Building Information Modeling (BIM). Penelitian ini memanfaatkan BIM untuk menghubungkan model tiga dimensi dengan informasi setiap aset seperti nama aset, kode unik (ID), kondisi, biaya pembuatan, dan lainnya. Informasi aset bangunan bendung dilekatkan ke model tersebut sehingga aset akan bersifat object-oriented. Kumpulan informasi tersebut disusun dalam suatu basis data yang berguna untuk memantau aset-aset di bangunan bendung. Informasi tersebut memiliki tingkat kedalaman grafis dan atribut yang dapat dianalisis melalui pengelompokan kategori Level of Detail (LOD) dan Level of Information (LOI). Basis data memiliki kedalaman yang dapat dianalisis melalui proses pembuatannya dan produk yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini berupa model tiga dimensi dan sistem basis data yang telah mengacu pada struktur Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy dan format Industry Foundation Classes (IFC). Basis data tersebut memuat informasi umum bangunan bendung serta informasi aset. LOD aset bangunan bendung termasuk dalam kategori LOD 3 dan 4. LOI aset bangunan bendung termasuk dalam kategori LOI 500. Kedalaman basis data yang dibentuk meliputi adanya pembuatan tabel, pendefinisian relasi, normalisasi, dan form basis data untuk memudahkan pemantauan aset bangunan bendung.
STUDI IDENTIFIKASI PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA DENPASAR DENGAN MENGGUNAKAN METODE INSAR
Penurunan tanah di Indonesia sudah teramati di Jakarta, Bandung, dan Semarang. Fenomena penurunan tanah juga ditengarai terjadi di kota-kota seperti Denpasar, Cilegon, dan Medan. Fenomena yang terjadi di kota Denpasar perlu dipantau mengingat dampak yang akan ditimbulkan seperti adanya kerusakan pada bangunan. Teknologi InSAR adalah salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk memantau ada atau tidaknya penurunan tanah ini. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi penurunan muka tanah di kota Denpasar dengan memanfaatkan teknologi InSAR, serta menilai keterkaitan antara penggunaan lahan dengan penurunan muka tanah di kota Denpasar. Hasil penelitian belum dapat menyimpulkan terjadinya fenomena penurunan tanah pada periode Juli 2007 – Desember 2008. Sehingga masih perlu dilaksanakan lagi penelitian lebih lanjut.
STUDI PENURUNAN MUKA TANAH SERTA IDENTIFIKASI KERUGIANAKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG
Penurunan muka tanah merupakan fenomena yang banyak terjadi di kota – kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Penurunan muka tanah di Cekungan Bandung diduga disebabkan oleh pengambilan airtanah secara berlebihan, kompaksi alamiah, beban bangunan dan pengaruh tektonik. Penurunan muka tanah di Cekungan Bandung juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi seperti kerusakan pada bangunan, infrastruktur, dan memperparah genangan banjir. Pemantauan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung telah dilakukan dengan metode survey GPS dari tahun 2000 sampai 2010 di beberapa daerah yang diduga mengalami penurunan muka tanah dan penurunan muka airtanah yang relatif besar. Survey lapangan juga dilakukan di Cekungan Bandung untuk mengidentifikasi kerugian ekonomi yang mungkin timbul akibat penurunan muka tanah. Hasil pengolahan data GPS menunjukkan pada periode tahun 2000 sampai 2010 beberapa daerah di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 1 sampai 16 cm pertahun yang bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Hal ini disebabkan oleh pengambilan airtanah yang berlebihan dan juga proses kompaksi alamiah. Penurunan muka tanah yang paling besar dialami oleh daerah - daerah yang mengalami penurunan muka airtanah yang besar pula seperti Cimahi, Dayeuhkolot, Rancaekek dan Majalaya. Kerugian ekonomi telah teridentifikasi di wilayah terdampak seperti retakan pada dinding bangunan dan jalan tol, biaya untuk menaikkan halaman rumah, dan memperparah genangan banjir. Pemantauan terhadap penurunan muka tanah ini berguna untuk pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.
PERANCANGAN SISTEM STEAM WASH DAN ANALISIS MANUVER SUMUR SEBAGAI METODE PENCEGAHAN DEPOSISI PADA TURBIN PANAS BUMI
Pada tahun 2021, kapasitas terpasang dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Indonesia adalah sebesar 2.286,1 MW, atau sekitar 9,62% dari potensinya sebesar 23.766 MW. Wilayah Kerja Panas bumi (WKP) Kamojang yang merupakan lapangan panas bumi tertua di Indonesia terdiri dari 5 unit pembangkit dengan total kapasitas sebesar 235 MW. Salah satu PLTP Kamojang dengan kondisi uap yang diproduksi berada pada kondisi superheated memiliki masalah mengenai material pengotor yang terbawa ke turbin karena tidak terjadi kondensasi uap sepanjang pipeline maupun scrubber untuk membawa material pengotor keluar dari sistem. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya wheel chamber pressure (WCP) deviation. Pada penelitian ini, dilakukan perancangan sistem steam wash dan analisis manuver sumur sebagai upaya pencegahan terjadinya deposisi pada turbin PLTP. Dalam sistem steam wash, temperatur uap superheated pada tekanan 7,7 bar abs dengan laju aliran massa sebesar 80 kg/s diturunkan dari 173,835°C ke temperatur saturasi menggunakan air injeksi yang telah dikondisikan dengan temperatur 25°C dan tekanan 8,7 bar abs sebanyak 0,3757-0,3814 kg/s, atau sekitar 0,5% dari massa uap superheated. Dengan menggunakan artificial neural network, didapatkan model machine learning dengan mean squared error sebesar 0,0015012 yang dapat memodelkan kebutuhan bukaan sumur terhadap parameter masukan agar didapat WCP deviation yang konstan. Selain itu, telah dibandingkan keekonomian dari metode steam wash terhadap skema Business as Usual (BAU), yang mana hingga 2045 penerapan sistem steam wash memiliki nilai keuntungan Rp116.421.802.990,63 lebih besar dibandingkan skema BAU.
PENENTUAN METODE EKSTRAKSI DAN ISOLASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA KULIT BUAH PISANG KEPOK (MUSA ACUMINATA × BALBISIANA)
Latar belakang dan tujuan: Pisang kepok terutama pada bagian kulit buah memiliki kandungan senyawa metabolit yang baik bagi tubuh manusia seperti senyawa antioksidan sehingga tujuan penelitian ini adalah mengkaji jumlah kadar senyawa fenol dan flavonoid, aktivitas antioksidan dari kulit buah pisang kepok dan mengidentifikasi isolat terpilih dari kulit buah pisang kepok. Metode: Penentuan ekstraksi dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu meserasi, refluks, dan UAE. Kemudian pada tiap ekstrak hasil metode ekstraksi yang berbeda dilalukan uji kadar flavonoid, kadar fenol, dan uji aktivitas antioksidan. Setelah penentuan metode ekstraksi, dilakukan proses isolasi dengan ekstraksi menggunakan UAE, fraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum, dan kromatografi kolom klasik, dan identifikasi senyawa dengan menggunakan instrumen NMR 1D dan 2D. Hasil: kadar flavonoid total tertinggi adalah ekstrak dengan menggunakan metode UAE sebesar 7,115 ± 0,226 g QE/100 g, kadar fenol total tertinggi adalah ekstrak dengan menggunakan metode UAE sebesar 10,104 ± 0,345 g GAE /100 g, aktivitas antioksdian dengan nilai IC50 paling rendah yaitu sebesar 23,147 ± 0,314 ?g/ml dengan kategori sangat kuat. Analisis H-NMR diperoleh hasil berupa terdapat 48 atom H dengan prediksi ikatan C-C dan C=C. Analisis C-NMR diperoleh hasil berupa terdapat 30 atom C dengan prediksi ikatan C-C, C=C, dan C karbonil. Analisis DEPT diperoleh hasil berupa terdapat molekul CH/CH3, CH2, dan C quartener pada isolat. Analisis HSQC diperoleh hasil berupa terdapat ikatan rangkap C=C dan C=O. Analisis HMBC diperoleh hasil berupa ikatan karbonil C=O bertetangga dengan ikatan rangkap C=C. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk metode ekstraksi yang memiliki kemampuan terbaik adalah UAE dan isolasi senyawa metabolit sekunder diperoleh diduga senyawa 4,4,9,10,13,14,17-heptamethyl-20-metileneicosahydropicen dengan rumus kimia C30H48O yang merupakan senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid.