📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPREDIKSI BERDASARKAN CFD EFISIENSI KETAHANAN UNTUK BERBAGAI MODEL GERAK DARI PENERBANGAN BURUNG PENERBANGAN
Innovation in new technology demand, such as Micro Aerial Vehicle evolved recently for acquiring most favorable value of utilization that is denoted by efficiency parameter. Nature always become part of inspiration and for this interest, many researcher have spent much time on studying the behavior of flying animals to comprehend the fundamental, such as a bird in flight. As to seek bird flight efficiency, it is can be defined from endurance efficiency which is ratio of required aerodynamic power to a unit carried weight. This efficiency can give information about how a bird with its flapping wing motion be able to maintain its flight level for longer flight time. The paper presents the computation of endurance efficiency of a flapping bird flight using computational fluid dynamics approach. Hawk bird model becomes a computational case for studying the effect of flapping parameters on endurance efficiency. The flapping parameters includes, flapping way, flapping frequency, maximum angles of dihedral, retraction and twist. For the computational model, the bird only consider as a flat plate shaped wing model with the planform size based on Hawk bird geometry. The computational simulations are conducted to calculate time-dependent aerodynamic forces and pitching moment of the wing based on the solution of Reynold Averaged Navier-Stokes equation. To capture viscous effect at low Reynolds number of 2.0 x 105 on the wing surface, multi grid structured mesh is required. It is also to hinder numerical problem related to over-lapping mesh during the simulation of wing motion. Mimicking the motion of downstroke and upstroke of bird wing, a sinusoidal function is used. The simulations are carried out for the variation of flapping frequencies, retraction angle, maximum dihedral angle, maximum twist angle, and motion mechanism in order to investigate its effect on aerodynamic forces and moment production. The frequency variation is conducted within the upper and lower values of actual frequency 2.87 Hz as reference frequency of Hawk. Furthermore, dihedral variations is from 10 to 40 degrees. Then, the variations of twist or pitching angles is 12, 15, and 20 degrees. The variation of retraction or hand circumduction angle is 10, 20, and 25 degrees. In addition, the flapping ways are carried in three motions including pure flapping, pure flapping- retraction and symmetrical pure flapping- pitching. From the simulation results show higher flapping frequency yields greater peak aerodynamic coefficient, on the other hand, thrust production is not the same for each case. For the Retraction case, the greater dihedral the higher peak coefficient of lift, in contrary for the coefficient of thrust. For pure flapping motion case, the higher endurance efficiency is produced as decreasing dihedral angle. For the symmetrical flapping-pitching motion case, the higher efficiency produced is produced as increasing pitching angle. Then, the comparison among the motions, the pure flapping and retracting motions has lower efficiency than symmetrical flapping-pitching motion. Therefore, the higher endurance efficiency of the flapping-pitching motion can make better for range performance. The analyzed is also by generating velocity and pressure contours, mesh movement as to see the behavior of flapping motion in detail.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SANTRI BETAH MONDOK DI PESANTREN MENGGUNAKAN MODEL PERSAMAAN STRUKTURAL
Banyak faktor diduga memengaruhi santri betah mondok di pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor tersebut. Model Persaman Struktural (MPS) digunakan untuk mencari jawaban atas tujuan penelitian tersebut. Sampel dalam penelitian ini diperoleh menggunakan metode judgment sampling, yaitu sampel diambil berdasarkan kriteria-kriteria yang dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Kriteria sampel ialah santri yang telah mondok minimal empat tahun. Berdasarkan kriteria yang ada maka sampel dalam penelitian ini santri kelas XI dan XII. Sampel yang terjaring dalam penelitian ini berjumlah 145 responden. Berdasarkan faktor-faktor yang dikaji, seperti faktor kegiatan, dorongan orangtua, kondisi lingkungan pesantren dan fasilitas pesantren, hasil dari model persamaan struktural menujukkan bahwa kegiatan (pagelaran seni dan bimbngan konseling) merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap rasa betah santri mondok di Pesantren Condong.
PENGGUNAAN METODE INSAR DIFERENSIAL UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI ERUPSI GUNUNG MERAPI PADA TAHUN 2010
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api di dunia yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi untuk dilakukan penelitian. Hal ini dikarenakan kedekatan lokasi gunung api tersebut dengan peradaban manusia sehingga dapat membahayakan apabila terjadi erupsi dan sebagainya. Oleh karena itu diperlukan pengamatan aktifitas Gunung Merapi untuk mereduksi bahaya jika terjadi bencana. Pengamatan deformasi ini dapat dilakukan dengan metode Interferometry Synthetic Aperture Radar (InSAR). InSAR merupakan salah satu metode untuk mempelajari deformasi gunung api yang saat ini banyak digunakan. Metode ini menggunakan beda fase antara dua citra satelit SAR sehingga terbentuk interferogram yang memiliki informasi topografi permukaan Bumi, kelengkungan permukaan Bumi, deformasi, gangguan (noise), atmosfer dan orbit. Informasi deformasi diperoleh dengan cara mereduksi semua informasi selain deformasi pada interferogram. DEM Global SRTM 3” digunakan untuk mengeliminasi efek topografi dalam interferogram melalui serangkaian proses diferensial InSAR. Pada penelitian ini, interferogram yang terbentuk dari beberapa pasang data ALOS PALSAR digunakan untuk membentuk DEM dengan resolusi yang lebih baik dari DEM Global SRTM 3”. Data ini kemudian digunakan sebagai pembanding pada proses DInSAR. Hasil perbandingan tersebut menunjukkan bahwa peta deformasi yang didapatkan dengan menggunakan DEM yang diturunkan dari SAR dan DEM Global SRTM 3” menghasilkan pola deformasi yang sama namun memiliki resolusi serta ketelitian yang berbeda. Selain itu juga didapatkan bahwa adanya inflasi yang terjadi pada Gunung Merapi sebelum terjadinya erupsi dan setelah erupsi masih terdapatnya inflasi yang relatif lebih rendah dibandingkan sebelum terjadinya erupsi.
PLANNING OF URBAN GREEN SPACES AS EVACUATION AREA IN EARTHQUAKE DISASTER
After an earthquake there is a need to evacuate the refugee into evacuation area. Urban green spaces may be suitable for this purpose.The aim of this studies is to assess suitability of urban green spaces as evacuation area. The function of urban green space is not only ecological but also as evacuation area. This study tries to combine it. The main object of this study is to develop a GIS-based approach to assess the suitability urban green spaces for use as evacuation areas in the event of earthquake disaster. This research used one approach in advance land use suitability analysis the Multi Criteria Decision Analysis (MDCA). Multi Criteria Analysis is a tool that create for complex multi criteria problem that add qualitative and/or quantitative aspects of the problem in decision making process. To spatially implement multi criteria analysis it used Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) module of Integrated Land and Water Information System (ILWIS) and to determine the weight values between criteria, the Analytic Hierarchy Process (AHP) was adopted. Bandung serve as case study because based on earthquake risk assessment from RADIUS project the earthquake may lead to a variety of severe damage that can illustrated with Modified Mercalli Intensity (MMI) scale 8 to 9. There is 6 suitability factor used in this study distance from building, distance from road network, capacity of accommodation, slope, earthquake intensity zone and distance from water network. Moreover, from the AHP result the highest weight for suitability factor is distance from building 0.234 followed by earthquake intensity zone 0.231, capacity of accommodation 0.162, slope 0.145, distance from water network 0.134 and distance from road network 0.094. This research found that SMCE is an effective method for assessing the suitability of urban parks as evacuation area. Urban parks cannot afford all of estimation refugees, only 27 % from the total estimation refugees. It is need additional area for accommodated all of the refugee. Public facilities such as schools, hospitals, and stadiums are generally suitable for use as a shelters. The location and proportions of urban green spaces is not evenly distributed within the city. There is a need to plan appropriate proportions and distribution of urban parks to make evacuation area can established by relying on existing urban parks.
PEMBUATAN CO-TIDAL CHART PERAIRAN INDONESIA UNTUK KEPERLUAN NAVIGASI
Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada [TNI AL, 2008]. Untuk mengelola kekayaan laut yang begitu besar diperlukan informasi geospasial yang baik, benar, lengkap, dan detil tentang wilayah laut Indonesia dalam bentuk informasi kelautan. Salah satu bentuk dari informasi kelautan adalah peta pasang surut atau co-tidal chart. Tugas akhir ini berisi pembahasan mengenai pembuatan peta pasang surut atau co-tidal chart perairan Indonesia dan kegunaannya untuk keperluan keselamatan pelayaran atau navigasi.
IDENTIFIKASI TAHAPAN USAHA PENGUSAHA FOUNDER DAN NON FOUNDER (Studi Kasus Pengusaha Komoditas Karet dan Logam, Komoditas Rajut dan Komoditas Keramik Industri Kecil di Bandung)
..... Penelitian ini fokus mencoba untuk melihat secara empirik pola umum tahapan usaha entrepreneur founder dan non founder, perbedaan antara tahapan usaha founder dan non founder dan perbedaan tahapan usaha antara komoditas yang berbeda, Komoditas yang dipilih adalah komoditas karet dan logam, komoditas rajut dan komoditas keramik di kota Bandung. ......
KAJIAN ASPEK TEKNIS DALAM KAITANNYA DENGAN INTEGRASI DARAT DAN LAUT PADA PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT
Pipa bawah laut yang merupakan sebuah infrastruktur yang dibangun dengan teknologi yang membutuhkan pemahaman keilmuan yang mendalam serta biaya yang relatif besar memerlukan suatu perlakuan khusus, yaitu dalam hal proses perencanaan pemasangan pipa bawah laut sampai proses perawatan pipa tersebut. Dalam proses pemasangan pipa di daerah pesisir harus dilihat aspek-aspek teknis yang ada, tidak hanya aspek yang ada di lautan saja namun juga kita harus melihat aspek daerah pesisir (daratan).Adapun aspek-aspek teknis yang terkait diantaranya datum vertikal, datum horisontal, sistem proyeksi, skala dan satuan jarak. Metode yang digunakan adalan analisis kajian aspek-aspek teknis yang digunakan serta kelemahan dan kelebihannya. Dalam hal ini terutama yang dibahas adalah permasalahan perbedaan datum vertikal antar pulau (Pulau Jawa dan Sumatera).Setelah dilakukan anilisis maka didapat kan solusi dari masalah-masalah yang terjadi. Selain itu juga permasalahan perbedaan datum vertikal dapat diselesaikan dengan visualisasi dan perumusan, sehingga dapat mempermudah dalam penentuan aspek-aspek teknis yang sesuai dalam proses pemasangan jalur pipa bawah laut (Jawa-Sumatera).
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK KEGIATAN EKSKAVASI SITUS WARISAN BUDAYA INDONESIA (STUDI KASUS: KOMPLEKS CANDI BATUJAYA)
Indonesia adalah negara yang kaya akan warisan budaya. Hingga saat ini dokumentasi mengenai objek arkeologi masih terbatas. Hanya sedikit sekali sumber pengetahuan mengenai objek arkeologi yang terdokumentasi seperti foto, sketsa dan buku yang tersedia dan masih belum mencukupi kebutuhan yang diperlukan. Ekskavasi merupakan kegiatan yang khas dalam arkeologi, sehingga karena keterkaitannya yang begitu erat antara arkeologi dengan ekskavasi menjadikan ekskavasi layaknya identitas arkeologi. Sistem informasi geografis menyediakan kemampuan untuk menyimpan, menampilkan serta menganalisa data spasial. Kemampuan ini berperan besar dalam menyimpan data arkeologi yang diperlukan oleh para peneliti dalam membantu kegi ekskavasi. WebGIS memiliki keunggulan dalam menyajikan data spasial yang dapat diakses secara lebih mudah tanpa menggunakan bantuan software khusus GIS. Metode dalam menghasilkan sistem informasi berbasis web untuk membantu kegiatan ekskavasi arkeologi memiliki beberapa tahapan. Tahap awal pembangunan WebGIS dimulai dengan pembangunan basis data. Tahapan pembangunan basis data spasial ini meliputi desain konseptual, desain logika dan desain fisik. Desain basis data yang telah dirancang kemudian diimplementasikan dengan menggunakan bantuan software PostgreSQL/PostGIS. Selanjutnya, untuk membuat tampilan aplikasi ke halaman web, penulis menggunakan Mapserver dan Google Maps API. Dengan dibuatnya aplikiasi WebGIS ini, diharapkan para arkeolog dapat mengakses dan meng-update data yang dibutuhkan, sehingga kegiatan ekskavasi dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.
PEMBANGUNAN SISTEM BASIS DATA SPASIAL EKOREGION INDONESIA
Undang – Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup telah mengamanatkan untuk melakukan inventarisasi lingkungan hidup dan penentuan wilayah ekoregion. Wilayah ekoregion ditentukan berdasarkan kesamaan karakteristik bentang alam, daerah aliran sungai, iklim, flora dan fauna, sosial budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat, dan hasil inventarisasi lingkungan hidup. Wilayah ekoregion yang berbasiskan data spasial dan data inventarisasi lingkungan hidup sebagai data atribut memerlukan suatu sistem dengan standarisasi tertentu yang dapat mengelola data ini secara sistematis. Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memiliki kemampuan dalam menyimpan, mengelola, menganalisis, dan menyajikan data spasial serta data atribut memiliki peranan dalam mengelola data spasial dari wilayah ekoregion berikut dengan data atributnya. Salah satu unsur penting dalam SIG untuk pengelolaan data spasial dan atribut yaitu sistem basis data spasial. Peneletian tugas akhir ini membuat open standard dalam membangun sistem basis data spasial ekoregion. Sistem basis data ini diharapkan dapat menyimpan dan mengelola data spasial dan data atribut wilayah ekoregion dengan rapi dan sistematis. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya open standard sistem basis data spasial ekoregion Indonesia dengan menggunakan perangkat lunak PostgreSQL / PostGIS.
PEMANFAATAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK PENDOKUMENTASIAN ARSITEKTUR TRADISIONAL (STUDI KASUS: RUMAH ADAT BATAK TOBA, SUMATERA UTARA)
Rumah Adat Batak Toba merupakan salah satu bangunan bersejarah, produk kebudayaan Bangsa Indonesia dari Suku Batak yang berada di Sumatera Utara. Bangunan ini telah mengalami berbagai peralihan fungsi dari mulai didirikannya sampai saat ini sehingga perlu dilakukan rekonstruksi untuk menanggulangi berbagai kerusakan yang mungkin terjadi. Salah satu rumah adat yang berada di Huta Sialagan merupakan objek studi dalam penelitian ini. Rumah adat tersebut merupakan contoh bangunan yang memiliki ornamen lengkap yang menjadi ciri khas Rumah Adat Batak Toba sehingga sangat cocok untuk dijadikan objek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan metode Fotogrametri Rentang Dekat yang diawali dengan melakukan pemotretan terhadap objek baik secara terestris maupun melalui pemotretan udara. Pemotretan tersebut dilakukan untuk mendapatkan model tiga dimensi (3D) objek bangunan bersejarah menggunakan kamera non-metrik. Hasil lanjutan dari rekonstruksi tersebut ialah untuk dokumentasi serta penelitian lebih lanjut pada bidang arsitektur. Foto-foto yang dihasilkan dari pemotretan kemudian diproses menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner untuk menghasilkan permukaan dari fitur umum bangunan serta point cloud untuk fitur yang lebih rumit seperti patung dan ukiran. Model ini diharapkan dapat memberikan representasi yang baik dalam model arsitektur bangunan.
ANALISIS DEFORMASI PULAU BALI BERDASARKAN PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2010-2012 DAN GPS BERKALA TAHUN 2013
Pulau Bali terletak di dekat daerah subduksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Subduksi yang terjadi mengakibatkan regangan dan tegangan secara spasial dan temporal yang menyebabkan deformasi. Untuk mengamati deformasi tersebut digunakan metode pengamatan GPS dimana titik-titik pengamatan tersebar di Pulau Bali. Data yang digunakan adalah data pengamatan GPS kontinu tahun 2010-2012 dan data pengamatan GPS berkala bulan maret dan September tahun 2013. Pengolahan data pengamatan GPS menghasilkan koordinat geosentrik yang kemudian di transformasikan ke dalam bentuk koordinat toposentrik. Selanjutnya dilakukan perhitungan pergeseran dengan memperhatikan pergerakan dari blok Sunda. Hasil hitungan tersebutlah yang digunakan untuk menganalisis deformasi yang terjadi di Pulau Bali. Hasil perhitungan data menunjukkan bahwa besar pergeseran Pulau Bali berkisar antara 3,1 mm/tahun sampai 22,6 mm/tahun dengan vektor pergeseran dominan ke arah timur-utara. Berdasarkan hasil yang didapat, diketahui bahwa Pulau Bali mengalami deformasi dan terpengaruh pergerakan dari lempeng Indo-Australia. Namun, penelitian ini hanya merupakan hasil penelitian awal yang memerlukan penelitian lebih lanjut agar pola deformasi Pulau Bali dapat menghasilkan data yang lebih akurat.
PEMETAAN 3 DIMENSI TERESTRIS DENGAN BANTUAN FOTO NON TOPO (STUDI KASUS GEDUNG UTAMA KAMPUS INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG-JATINANGOR)
Pemetaan tiga dimensi (3D) bukan hanya dinyatakan dalam bentuk permukaan saja, melainkan dengan obyek yang ada di atas permukaan tanah. Pemetaan 3D obyek di atas permukaan bumi bertujuan untuk mendapatkan bentuk, ukuran, dan keadaan situasi di sekitar obyek tersebut. Untuk mempercepat proses pengukuran, maka dilakukan pengukuran terestris dengan bantuan foto agar mudah dipastikan titik detail pemetaan. Hasil pengukuran terestris sebagai acuan utama dan foto untuk pembuatan detail. Detail foto didapat dengan mentransformasi koordinat foto ke koordinat lokal yang sama dengan pengukuran terestris. Studi kasus dalam pemetaan ini adalah Gedung Utama kampus ITB-Jatinangor yang ditujukan untuk mendapatkan peta 3D digital. Adapun pengukuran terestris dalam pemetaan dilakukan beberapa metode pemetaan sekaligus.
APLIKASI DYNAMIC POSITIONING UNTUK PENENTUAN POSISI RIG LEPAS PANTAI
Seiring meningkatnya permintaan akan kebutuhan sumber daya minyak dan gas, eksploitasi ke arah laut dalam kian meningkat. Anjungan pada laut dangkal dengan struktur permanen tidak dapat dibangun pada laut dalam. Untuk melakukan eksploitasi pada laut dalam dibangun anjungan apung (semisubmersible). Dalam pengoperasiannya, anjungan ini membutuhkan sistem untuk mempertahankan posisinya terhadap titik pengeboran.Dynamic positioning adalah sistem yang digunakan untuk mempertahankan posisi anjungan pada struktur anjungan apung dan membutuhkan peralatan dan prinsip penentuan posisi bawah air untuk mempertahankan posisi. Dynamic positioning bekerja dengan memanfaatkan informasi posisi anjungan relatif terhadap titik pengeboran dan mengintegrasikannya dengan informasi kecepatan angin, arus, dan tinggi gelombang. Informasi tersebut akan digunakan untuk menggerakkan baling-baling pendorong (thruster) sesuai perintah hasil komputasi informasi untuk mengembalikan posisi anjungan ke posisi semestinya Dynamic positioning menggunakan metode basis panjang untuk penentuan posisi bawah air karena memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan metode basis pendek dan basis sangat pendek, meskipun dalam pelaksanaannya, metode basis panjang harus diintegrasikan dengan metode lain dan sistem penentuan posisi lainnya.
PEMBANGUNAN TITIK TETAP REFERENSI TINGGI UNTUK KEGIATAN SURVEI PEMETAAN DAN REKAYASA DI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
Titik tetap referensi tinggi sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan survei pemetaan dan rekayasa, sebagai acuan referensi ketinggian. Namun dengan adanya peristiwa penurunan muka tanah yang sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, maka titik-titik tetap tersebut juga mengalami penurunan dan sudah tidak merepresentasikan nilai ketinggiannya. Dengan demikian, diperlukan titik tetap referensi tinggi yang stabil terhadap peristiwa penurunan muka tanah tersebut. Berdasarkan pengamatan para ahli, penurunan muka tanah terjadi disebabkan oleh pengambilan air di sumur yang berlebih, beban bangunan, kompaksi tanah, dan tektonik. Penurunan muka tanah tersebut berlangsung diantara lapisan permukaan tanah dan lapisan akuifer tempat air tanah berada.Metode penelitian tugas akhir ini melakukan pengamatan GPS statik pada titik-titik tetap yang telah dibangung dengan pondasi tertentu, pengamatan GPS setidaknya dua tahun sebagai penguji kestabilan titik tersebut. Data hasil pengamatan tersebut diolah menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0, kemudian nilai tinggi titik tetap hasil pengolahan tersebut diamati perubahannya. Perubahan tinggi yang terjadi pada titik-titik yang dibangun dengan pondasi mencapai kedalaman 400 meter di bawah permukaan tanah tersebut, tidak signifikan, hanya dalam level milimeter, dan perubahan tersebut berada pada interval koreksi pengamatan GPS. Dengan demikian, titik-titik tersebut dapat dinyatakan stabil dan layak digunakan sebagai titik tetap refrensi tinggi di DKI Jakarta.
PEMETAAN POTENSI ENERGI PANASBUMI DENGAN ANALISIS ANOMALI SUHU PERMUKAAN DAN PEMETAAN MINERAL ALTERASI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS: KAWASAN PATUHA, JAWA BARAT)
Jumlah penduduk di dunia terus bertambah setiap tahunnya dan mengakibatkan peningkatan jumlah konsumsi energi fosil yang jumlahnya sendiri semakin menipis setiap tahunnya. Panasbumi merupakan energi yang terbarukan dan bersifat energi yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi. Penelitian ini dilakukan untuk memantau potensi energi panasbumi di suatu daerah dengan melihat anomali temperatur permukaan dan kandungan mineral alterasi akibat sistem hidrotermal panasbumi. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan suatu peta temperatur untuk diidentifikasi anomali suhu daerah tersebut dan menghasilkan peta klasifikasi mineral alterasi akibat sistem hidrotermal. Daerah kawasan Patuha, Jawa Barat merupakan daerah yang dijadikan objek dari penelitian ini. Data yang digunakan untuk melakukan kegiatan penelitian ini adalah menggunakan data multitemporal dari citra Landsat 7 dan Landsat 8. Metode untuk menghasilkan peta temperatur adalah dengan mengektrasi citra termal menjadi citra temperatur daerah Patuha, Jawa Barat. Sedangkan untuk mendapatkan hasil peta mineral alterasi, dilakukan metode klasifikasi berdasarkan spektrum daerah manifestasi permukaan dengan data sekunder dari hasil penelitian lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah peta temperatur daerah penelitian untuk menganalisa anomali suhu sebagai identifikasi awal terdapatnya sumber panasbumi. Selain itu, hasil penelitian juga berupa peta klasifikasi mineral alterasi untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang mengandung mineral alterasi hidrotermal berdasarkan spektrum pada manifestasi permukaan. Kemudian dari hasil klasifikasi digabungkan dengan lokasi yang anomali temperaturnya konstan pada keempat peta temperatur. Hasil dari penggabungan ini menunjukkan terdapatnya manifestasi permukaan dari hasil penelitian tugas akhir ini.