📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

APLIKASI DATA SPASIAL UNTUK PREDIKSI LAHAN KRITIS MENGGUNAKAN METODE REGRESI LINIER BERGANDA (STUDI KASUS : KAWASAN LINDUNG KABUPATEN BANDUNG BARAT)

Lahan merupakan tempat manusia melakukan aktifitas, karena berbagai kepentingan dan perkembangan jumlah penduduk, banyak lahan yang digunakan tidak sesuai dengan fungsinya, menyebabkan kerusakan pada lahan. Kerusakan lahan menyebabkan hilangnya fungsi produksi sebagai sumber pangan juga fungsi tata air sebagai tempat penyimpanan air tanah dan area resapan air hujan, hal ini mengindikasikan terjadinya lahan kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kekritisan lahan berdasarkan kriteria yang ada, selanjutnya dilakukan pemodelan prediksi tingkat kekritisan lahan di kawasan lindung kabupaten Bandung Barat, yang hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan rekomendasi prioritas rehabilitasi atau konservasi lahan kritis. Metode penelitian untuk mengidentifikasi tingkat kekritisan lahan dilakukan melalui analisis data spasial dan overlay dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan software ArcGis 9.3 terhadap data spasial kriteria penentu lahan kritis yang meliputi citra Landsat 5 TM untuk identifikasi kondisi tutupan vegetasi, data spasial erosi untuk identifikasi kondisi tingkat bahaya erosi, dan data DEM untuk identifikasi kemiringan lereng. Sedangkan pada metode prediksi tingkat lahan kritis, dilakukan analisis regresi linier berganda untuk membentuk persamaan matematika dengan mengkaji hubungan antara tingkat kekritisan lahan (variabel terikat) dengan kriteria penentu lahan kritis (variabel bebas). Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan tingkat kekritisan lahan di seluruh kawasan lindung sudah memasuki kategori agak kritis dan setelah dilakukan uji regresi, didapatkan persamaan prediksi tingkat kekritisan lahan dengan ketelitian yang baik dan diketahui bahwa data spasial yang digunakan sebagai kriteria lahan kritis berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kekritisan lahan.

2026
👤 Penulis: RIZKY IMANDIO ZETIFARRY (NIM: 15108068); pembimbing: Prof. Dr. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng. ; Dr. So
🏷️ Data Spasial 🏷️ Analisis Regresi Linier Berganda 🏷️ Manajemen Lahan

PEMETAAN 3D DENGAN TERRESTRIAL LASER SCANNER: KINERJA DAN PERMASALAHANNYA (Studi Kasus: Jembatan Layang Pasupati, Bandung)

Pemetaan tiga dimensi (3D) dulunya menggunakan alat sederhana dan konvensional. Seiring dengan berkembangnya teknologi, alat yang konvensional tersebut digantikan oleh teknologi Laser Scanning. Terrestrial Laser Scanner (TLS) adalah salah satu alat dari teknologi laser scanner yang sangat mendukung dalam memodelkan kembali bentuk objek buatan manusia atau disebut juga reversed engineering. Dengan alat ini, model 3D detil dari objek bisa didapatkan dengan mudah, salah satunya objek buatan manusia seperti jembatan Pasupati yang terletak di Kota Bandung. Langkah yang dilakukan dalam pemetaan 3D dengan alat TLS ini adalah perencanaan awal, akuisisi data, registrasi data, filtering data, sehingga didapatkannya bentuk 3D yang akan dimodelkan dengan perangkat lunak. Bentuk yang didapatkan dari langkah pemetaan 3D dengan TLS sangat berpengaruh dengan kondisi dan situasi yang ada di lapangan. Persentase noise (derau) yang didapatkan setelah melakukan proses filtering adalah 12,32 % dari data mentah point clouds yang didapatkan setelah proses pemindaian. Hasil yang didapatkan pada pengolahan data TLS pada penelitian ini adalah model 3D jembatan Pasupati yang sudah dalam bentuk Triangulated Irregular Network (TIN). Dari point clouds yang sudah dilakukan proses filtering dilakukan validasi data tinggi pilar jembatan Pasupati dengan hasil yang didapatkan dengan menggunakan ETS. Selisih dari nilai yang didapatkan antara pengolahan data dengan perangkat lunak Cyclone 7.1 dan data ETS memiliki rentang 1 mm – 2 dm. Namun demikian pada pemodelan ini masih memiliki galat karena bentuk objek memiliki kekosongan data akibat proses filtering dikarenakan terdapat banyak derau pada data hasil pemindaian TLS. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk melihat kinerja dan permasalahan pemetaan 3D jembatan Pasupati dengan menggunakan TLS.

2026
👤 Penulis: RIO EKA PUTRA (NIM: 15108014); pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanudin Z. Abidin, M.Sc. ; Irwan Gumilar
🏷️ Teknologi Laser Scanning 🏷️ Reversing Engineering 🏷️ Analisis Kualitas Data 3D

PEMODELAN 3D MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (OBJEK STUDI: MASJID AL IRSYAD KOTA BARU PARAHYANGAN)

Seiring berjalannya waktu, pembuatan model 3D suatu bangunan saat ini telah berkembang pesat. Salah satu cara untuk mendukung pembuatan model 3D yaitu dengan menggunakan teknologi TLS (Terrestrial Laser Scanner). TLS dapat dimanfaatkan diberbagai bidang, diantaranya: pemetaan, arsitektur, cagar budaya, industri, konstruksi, pertambangan, kepolisian, dan rekayasa balik. Melalui kegiatan penyusunan Tugas Akhir akan dibuatkan model bangunan 3D berupa bangunan masjid. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini yaitu menghasilkan model 3D Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan menggunakan teknologi TLS beserta data ukuran bangunan.Proses pengolahan data untuk memperoleh model 3D dengan TLS meliputi tahapan registrasi, filterisasi, meshing dan pembentukan surface. Pemodelan ini menggunakan koordinat lokal sebagai acuannya. Dalam pembuatan surface dilakukan mesh model dengan mengubah bentuk TIN (Triangulated Irregular Network) menjadi bentuk surface. Hasil akhir penelitian ini berupa model 3D dari bangunan masjid beserta data ukuran. Dari hasil pengolahan data, diperoleh kesimpulan bahwa melalui survei dan pemetaan menggunakan TLS dapat menghasilkan model 3D beserta ukuran jarak dari bangunan, tetapi bentuk pada dinding masjid masih kurang sempurna akibat dari kurang rapatnya point clouds pada daerah tersebut. Model 3D bangunan masjid memiliki nilai galat rata-rata sebesar 0.002 m. Nilai galat ini dihasilkan setelah melalui proses registrasi. Pemodelan pada Tugas Akhir ini dapat digunakan untuk pendokumentasian, pengarsipan dan dapat dijadikan referensi untuk proses rekonstruksi bangunan masjid.

2026
👤 Penulis: RIO ADHITIA PUTRA (NIM: 15109093); Pembimbing: Dr. Heri Andreas, ST., MT.; Dr. Irwan Gumilar, ST.,
🏷️ Teknologi Terrestrial Laser Scanner 🏷️ Pemetaan Bangunan Masjid 🏷️ Analisis Data Geografis

PEMETAAN DAERAH ALIRAN TUMPAHAN MINYAK LEPAS PANTAI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN INDRAMAYU DAN CIREBON DALAM PERSPEKTIF PERENCANAAN PENGELOLAAN BENCANA TUMPAHAN MINYAK

Wilayah laut Indonesia terkenal akan kekayaan dan keragaman sumber daya alamnya. Salah satu sumber kekayaan alam di laut Indonesia yang sangat potensial adalah minyak bumi. Masalah yang sering terjadi akibat kegiatan industri minyak bumi ini adalah kerusakan lingkungan laut dan pesisir oleh adanya pencemaran tumpahan minyak. Untuk bisa mengurangi dampak yang merugikan dari tumpahan minyak, maka perlu dibuat suatu perencanaan pengelolaan bencana tumpahan minyak. Hal dasar yang dilakukan dari perencanaan pengelolaan bencana tumpahan minyak adalah mengetahui daerah rawan tumpahan minyak dan mempelajari arah aliran tumpahan minyaknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta daerah aliran tumpahan minyak dari beberapa skenario model pada beberapa daerah rawan terjadi bencana tumpahan minyak. Penelitian kali ini akan mengkaji karakteristik dinamika laut yang dapat dijadikan sebagai acuan terhadap sebaran aliran tumpahan minyak di laut dengan metode Pemodelan Matematika. Setelah dilakukan pemodelan, diperoleh nilai kecepatan aliran tumpahan minyak pada musim angin barat mencapai 0,391 m/s dan pada musim angin timur mencapai 0,684 m/s. Berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa penyebaran tumpahan minyak pada sumber yang sama tetapi berbeda waktu bisa menyebabkan perbedaan arah dan kecepatan penyebaran tumpahan minyak. Hal tersebut tentu membuat perbedaan dalam hal tindakan penanganan bencana tumpahan minyak.

2026
👤 Penulis: RIFKI ZEL ( 15109087 ); Pembimbing : Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc.
🏷️ Lokasi Rawan Bencana 🏷️ Pemodelan Matematika 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Laut

PENENTUAN DATUM PASUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sejumlah datum pasut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, dengan menggunakan data tinggi muka air laut. Datum pasut yang ditentukan adalah berupa HAT (Highest Astronomical Tide), MSL (Mean Sea Level), dan LAT (Lowest Astronomical Tide). Metodologi yang diterapkan agar diperoleh nilai LAT adalah dengan cara melakukan analisis harmonik terhadap data tinggi muka air laut selama 10 bulan. Berdasarkan analisis harmonik tersebut, didapatkan nilai MSL serta 59 komponen pasut dilengkapi dengan nilai Amplitudo, Fase, dan SNR (Signal to Noise Ratio). Kemudian, dilakukan prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan komponen pasut tersebut. Dalam melakukan prediksi, komponen pasut yang digunakan adalah komponen yang memiliki nilai SNR lebih besar dari 2. Setelah diperoleh data prediksi pasut selama 18,6 tahun, maka nilai HAT dan LAT dapat ditentukan dengan memilih nilai ketinggian tertinggi dan terendah dalam selang data prediksi tersebut. Sedangkan MSL didapatkan dengan menghitung rata-rata tinggi model prediksi pasut selama 18,6 tahun. Nilai HAT, MSL, dan LAT yang didapatkan adalah sebesar -480,0 cm, -547,9 cm, dan -601,6 cm mengacu kepada nol alat, dengan standar deviasi sebesar +9,3 cm. Tingkat keterandalan dari datum pasut tersebut dapat diketahui secara kualitatif berdasarkan jumlah komponen pasut yang terlibat dalam melakukan prediksi pasut, yaitu sebanyak 45 komponen pasut.

2026
👤 Penulis: RIFAKHRYZA AQFALA MUGIARAYA (NIM: 15109054); Pembimbing: Dr.rer.nat. Poerbandono
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Meteorologi

PENENTUAN NILAI SHAPE INDEX DENGAN DATA GEOSPASIAL TUTUPAN LAHAN PADA EKOREGION PULAU JAWA

Suatu guna lahan/tutupan lahan merupakan bagian dari ekoregion sangat rentan terhadap gangguan eksternal baik manusia dalam memenuhi kebutuhan sosial dan ekonominya maupun dari alam. Untuk memperkirakan sebesar apa kerentanan suatu guna lahan/tutupan lahan ini, para ahli membuat suatu nilai ukuran dengan melihat dari bentuk geometri dari suatu ekosistem yang disebut shape index. Untuk menghitung nilai shape index ini diperlukan besarnya luas dan keliling setiap tutupan lahan per ekoregion. Karena nilai shape index didapatkan dengan cara keliling dibagi dengan dua kali akar luas yang telah dikalikan dengan nilai π (227).Hasil dari perhitungan nilai ini berupa peta distribusi nilai shape index untuk setiap tutupan lahan per ekoregion. Ada 13 peta sesuai dengan jumlah tutupan lahan yang ada di Pulau Jawa.

2026
👤 Penulis: REZKY NOFAN ( 15108071 ); Pembimbing : Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc.
🏷️ Geografis 🏷️ Analisis Geospasial 🏷️ Manajemen Eksokosistem

KAJIAN PENENTUAN DATA ARTIFISIAL SEBAGAI SISIPAN DATA YANG KOSONG PADA PENGAMATAN PASANG SURUT AIR LAUT (Studi Kasus: Stasiun Pasut Pondok Dayung, DKI Jakarta)

Pasang surut laut adalah gejala naik dan turunnya permukaan air laut secara periodik. Pengamatan pasang surut dilakukan untuk mendapatkan data tinggi muka air rata- rata untuk jangka waktu tertentu. Data pasang surut berguna untuk penentuan datum vertikal dan prediksi pasang surut. Namun pada pengukuran pasang surut (pasut) air laut, seringkali terjadi adanya data yang tidak tercatat. Padahal untuk keperluan prediksi pasut data harus lengkap selama hari pengukuran agar analisa pasut dan prediksi pasut bisa dilakukan. Karena itu pada penelitian kali ini bertujuan untuk melakukan uji coba bilamana ada data yang tidak tercatat dalam pengukuran satu bulan, kemudian diisi dengan data pendekatan dan dilakukan analisa dan prediksi pasut untuk bulan yang sama. Analisa Pasut akan menghasilkan 29 komponen pasut dan digunakan untuk keperluan prediksi. Dari tugas akhir ini diperoleh hasil dengan uji coba 2 hari dan 5 hari yang kosong, hasil untuk uji coba 2 hari masih bisa digunakan. Dengan Root Mean Square Error untuk data sisipan 2 hari sebesar 5 cm dan 4 cm untuk periode data yang dikosongkan

2026
👤 Penulis: RASYID IRHAM YAMIN (NIM: 15107043)
🏷️ Analisis Pasang Surut Laut 🏷️ Data Sisipan Dalam Pengamatan Pasang Surut 🏷️ Metodologi Analisa Pasut

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN METODE UNIT LINGKUNGAN TERKECIL MENGGUNAKAN CITRA SATELIT QUICKBIRD (STUDI KASUS : KECAMATAN KIARACONDONG DAN KECAMATAN ANTAPANI)

Penduduk merupakan sebuah elemen penting dalam pembangunan di suatu negara. Karena sasaran dari sebuah pembangunan selalu ditujukan untuk kepentingan penduduk. Untuk itu, diperlukan sebuah analisis dan kajian yang baik untuk mengambil kebijakan yang berkaitan tentang permasalahan kependudukan. Kebutuhan akan data kependudukan yang bersifat terperinci dan detail mutlak dibituhkan untuk membantu dalam pengambilan kebijakan. Sedangkan data kepedudukan yang disediakan oleh BPS yaitu berupa sensus penduduk cenderung homogen dan kurang informatif. Penggunaan citra satelit untuk membantu pengambilan kebijakan dalam permasalahan kependudukan dapat memberikan gambaran secara spasial dan terperinci. Citra satelit quickbird memiliki resolusi spasial yang tinggi. Hasil pengolahan dari citra satelit quickbird dapat dengan mudah mengidentifikasi unit-unit dan blok-blok pemukiman. Blok pemukiman ini dipisahkan dari blok non-pemukiman sehingga kita mendapatkan unit lingkungan pemukiman. Dengan menggunakan metode unit lingkungan, citra satelit diolah sehingga didapatkan peta unit lingkungan yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama (luas, warna, bentuk, karakteristik, dll). Data sampel dari hasil survey lapangan digunakan untuk mengetahui kepadatan dari tiap unit lingkungan . Sehingga jumlah penduduk tiap unit lingkungan dapat diketahui besarnya. Hasil dari pengolahan citra ini dapat memberikan informasi tentang distribusi kepadatan dan informasi jumlah penduduk yang lebih detail pada tiap blok perumahan.

2026
👤 Penulis: RANU WIRANTONO (NIM: 15107055); pembimbing: Prof. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng.Ph.D ; Asep Hadiyana,
🏷️ Analisis Geografis 🏷️ Pengestimasi Jumlah Penduduk 🏷️ Metode Unit Lingkungan

APLIKASI MULTIBEAM ECHOSOUNDER UNTUK IDENTIFIKASI BANGKAI KAPAL

Berbagai kegiatan survei hidrografi dapat dilakukan di wilayah perairan Indonesia yang begitu luas. Salah satu kegiatan survei hidrografi adalah survei batimetri. Survei batimetri merupakan kegiatan pengukuran kedalaman pada suatu wilayah lautan. Survei batimetri dapat menunjukan informasi tentang kedalaman dan informasi tentang dasar laut. Survei batimetri dapat dilakukan dengan menggunakan multibeam echosounder yang memiliki berbagai aplikasi yang menunjang kegiatan survei di laut. Multibeam echosounder dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi. Dengan mendapatkan titik-titik kedalaman, multibeam echosounder dapat mendeteksi keberadaan objek yang berada di bawah permukaan laut. Salah satu objek yang dapat di deteksi oleh multibeam echosounder adalah bangkai kapal. Keberadaan bangkai kapal dapat mempengaruhi penentuan jalur pelayaran serta kegiatan pembangunan infrastruktur dibawah laut. Dengan menggunakan multibeam echosounder dapat dilakukan identifikasi lokasi keberadaan bangkai kapal dan dimensi dari bangkai kapal.

2026
👤 Penulis: RAMA OZRINDO (NIM: 15109071); Pembimbing: Ir. Samsul Bachri, M.Eng. Ph.D
🏷️ Multibeam Echosounder 🏷️ Analisis Batimetri 🏷️ Geologi Laut

MEKANISME KALIBRASI TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS)

Dalam setiap pengukuran yang dilakukan pasti memiliki kesalahan, salah satunya berasal dari dalam alat yang digunakan. Kesalahan ini biasa disebut kesalahan sistematis. Untuk meminimalkan pengaruh dari kesalahan sistematis alat, dapat dilakukan suatu proses kalibrasi terhadap alat ukur yang digunakan. Dalam penelitian ini, alat yang akan dikalibrasi adalah Terrestrial Laser Scanner (TLS). Dikarenakan TLS merupakan alat yang memiliki teknologi baru, belum terdapat metode kalibrasi yang dibakukan. Menurut Optical Test and Calibration Ltd, kalibrasi merupakan pengecekan akurasi data dengan membandingkannya dengan ukuran yang yang dianggap benar. Dalam penelitian ini, kalibrasi yang akan dilakukan adalah dengan membandingkan data hasil pengukuran TLS dengan data hasil pengukuran ETS atau yang dianggap benar. Dalam proses pelaksanaannya, kalibrasi dilakukan di dalam suatu ruangan yang telah dipasang target-target yang akan dijadikan obyek pengukuran. Akuisisi data dengan TLS diawali dengan melakukan pemindaian target-target tersebut kemudian dilanjutkan oleh pemindaian ruangan. Sedangkan akuisisi data dengan ETS hanya dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap target-target yang ada. Hasil akuisisi data dari kedua alat tersebut kemudian diolah hingga mendapatkan data hasil yang akan dibandingkan, yaitu data jarak ruang dan koordinat target yang dihasilkan. Selisih dari hasil perbandingan tersebut akan dianggap sebagai nilai kesalahan pengukuran dari TLS. Dari hasil penelitian ini, selisih rata-rata ukuran jarak ruang yang didapatkan adalah sebesar 4 mm, sedangkan selisih rata-rata nilai koordinat target yang dihasilkan adalah sebesar -4 mm pada sumbu-e (easting), -2 mm pada sumbu-n (northing) dan -3,2 cm pada sumbu-u (up).

2026
👤 Penulis: RAHMAN ADHITIAPUTRA (NIM: 15109009); Tim Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc.; Irwa
🏷️ Terrestrial Laser Scanner 🏷️ Kalibrasi Teknologi 🏷️ Analisis Kesalahan Pengukuran

KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN DARI CITRA LANDSAT MENGGUNAKAN METODE LINEAR SUPPORT VECTOR MACHINES (STUDI AREA: KABUPATEN BANDUNG)

Sekarang ini, citra remote sensing dapat digunakan untuk banyak hal, salah satunya adalah klasifikasi tutupan lahan. Mengklasifikasi tutupan lahan pada suatu area dapat menghasilkan banyak informasi yang berguna, seperti perkembangan infrastruktur atau keragaman bangunan di suatu kota. Belakangan ini banyak metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan tutupan lahan yang memakai citra remote sensing. Salah satu metode terbaru yang menjanjikan adalah Support Vector Machines (SVMs). SVMs sendiri didasarkan pada sebuah statistical learning theory, dimana pada dasarnya SVMs adalah sebuah binary classifier. Dalam penelitian ini, SVMs dalam bentuk liniernya digunakan untuk mencari tahu apakah overall accuracy dari metode ini lebih baik bila dibandingkan dengan metode klasifikasi lainnya, yaitu Maximum Likelihood Classification (MLC), ketika dipakai untuk mengklasifikasi beberapa area di Kabupaten Bandung menggunakan data Landsat TM-5. Hasil menunjukkan bahwa SVMs umumnya memiliki hasil yang lebih baik, terutama di area yang cukup homogen dimana hanya ada 2-3 kelas di area tersebut. Meskipun ada beberapa hambatan ketika mengklasifikasi area yang cukup padat atau area dengan lebih dari 3 kelas di dalamnya. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa SVMs lebih baik dari MLC, terutama pada area yang cukup homogen. Namun MLC sedikit lebih baik pada area yang cukup heterogen, meskipun SVMs sendiri tidak terlalu jauh tertinggal dalam hal ini. Solusi dari permasalahan ini bisa diatasi dengan memakai fungsi kernel di penelitian selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

2026
👤 Penulis: RAHDHITYA YUDHISTIRA (NIM : 15108065); Pembimbing : Prof. Ketut Wikantika, Ph.D & Dr. Soni Darmawan,
🏷️ Klasifikasi Luas Tanah Menggunakan Citra Landsat 🏷️ Statistical Learning Theory 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

IMPLEMENTASI KONSEP CITYGML DALAM VISUALISASI MODEL TIGA DIMENSI ARSITEKTUR LANSEKAP DARI FOTO UDARA FORMAT KECIL

Kota Ciawi memiliki banyak perkampungan dan perumahan padat yang terdapat pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sehingga secara tidak langsung mengakibatkan rusaknya hulu sungai tersebut dan menyebabkan banjir pada Ibukota DKI Jakarta. Untuk mengatasi permasalahan mengenai ketidaksesuaian pembangunan pada DAS Ciliwung, diperlukan sebuah visualisasi nyata yang mampu merepresentasikan kondisi DAS Ciliwung sebenarnya. Dewasa ini, pembuatan model 3D terus mengalami perkembangan. Salah satu perkembangannya adalah diciptakannya konsep CityGML. Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan untuk membuat model 3D DAS Ciliwung yang berada di wilayah Desa Cibanon dan Pandansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk kebutuhan perancangan arsitektur lansekap dan menampilkan model 3D tersebut ke dalam format CityGML. Dalam pelaksanaannya, didapatkan data dari hasil pemotretan foto udara menggunakan pesawat tanpa awak (UAV). Data tersebut berupa hasil pengolahan triangulasi udara dari dua buah perangkat lunak yang berbeda, Isat dan Agisoft Photoscan. Kedua data tersebut akan dilakukan kompilasi data serta permodelan secara tiga dimensi sehingga menghasilkan dua buah visualisasi tiga dimensi yang akan disimpan ke dalam format CityGML. Hasil penelitian ini adalah dua buah model 3D visualisasi daerah penelitian. Dua model tersebut dilakukan perbandingan ketelitian berdasarkan pada nilai residual triangulasi udara dan pengamatan point-to-point. Hasil analisis menyatakan bahwa model hasil pengolahan Isat lebih teliti dibandingkan dengan Agisoft Photoscan. Kedua model tersebut secara visual telah merepresentasikan objek yang sesuai dengan kebutuhan arsitektur lansekap. Namun ketika dilakukan penyimpanan ke dalam format CityGML, objek yang dapat direpresentasikan hanya berupa objek bangunan.

2026
👤 Penulis: QINAN TAMARA (NIM: 15109026); Pembimbing: Dr. Deni Suwardhi, ST., MT.; Dr.-Ing., Ir. Himasari Hana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PEMBUATAN DEM DENGANCITRA SATELIT ALOS PALSAR MENGGUNAKAN TEKNIK INTERFEROMETRI SAR (STUDI KASUS: GUNUNG TANGKUBAN PARAHU)

Pembuatan model tinggi dijital atau DEM dapat menggunakan pengukuran secara terestrial atau menggunakan foto udara, selain metode tersebut penggunaan citra satelit juga dapat dijadikan salah satu pilihan untuk mendapatkan DEM.Citra yang digunakan merupakan citra satelit ALOS PALSAR yang diambil dengan metode SAR. SAR atau Synthetic Aperture Radar merupakan perkembangan penginderaan jauh dari sensor aktif radar, dimana pengambilan citranya menggunakan perpindahan wahana sehingga resolusi azimut yang didapat lebih baik dibandingkan dengan Real Aperture Radar.Sensor aktif tidak dipengaruhi keadaan cuaca, dapat menembus awan dan dapat beroperasi pada siang dan malam hari, merupakan kelebihan dalam pengamatan penginderaan jauh, terutama di daerah pegunungan yang sering kali tertutup awan. Pembuatan DEM di daerah pengunungan dalam hal ini Gunung Tangkuban Parahu dilakukan dengan teknik interferometri SAR (InSAR). Proses pembentukan DEM secara umum terbagi dua yakni pembentukan data mentah pasangan citra satelit ALOS PALSAR menjadi SLC (Single Look Complex) menggunakan MSP (Modular SAR Processing) dan pengolahan interometri SAR hingga pembentukan peta ketinggian dilakukan dengan ISP (Interferometric SAR Processing). Kedua proses tersebut dilakukan pada perangkat lunak GAMMA. Hasil dari pembuatan DEM dengan proses InSAR kemudian dibandingkan dengan 27 titik data pengukuran GPS dan juga tinggi dari DEM SRTM resolusi 90 m menggunakan pengambilan wilayah profil melintang.

2026
👤 Penulis: PRIMA RIZKY MIRELVA (NIM: 15109072) ; (Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, Ph.D. ; Dr. Asep Saepulo
🏷️ Interferometri Sar 🏷️ Sensor Satelit Alos Palsar 🏷️ Penginderaan Jauh Di Daerah Pegunungan

PEMANTAUAN LONGSORAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER DAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (DAERAH STUDI : CILOTO, JAWA BARAT)

Fenomena longsor, khususnya pada area Ciloto, Jawa Barat sebelumnya telah dipantau menggunakan metode geodetik seperti pengamatan Global Positioning System. Metode ini digunakan dengan pengamatan pergerakan titik kontrol secara 3D dalam domain waktu yang linier. Namun metode ini belum dapat menghasilkan model area secara visual dalam 3D yang dapat diekstraksi informasi geometriknya. Pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner memungkinkan tercapainya hal tersebut. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, dan pengolahan data untuk memperoleh model 3D zona longsor dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2013 dan September 2013. Dari hasil penelitian ini didapatkan dua model 3D yang berdasarkan hasil analisis terjadi pergerakan tanah rata-rata sebesar 4.9 mm dalam jangka waktu lima bulan. Didapatkan juga data pengamatan posisi dan pergerakan titik pantau hasil pengukuran Global Positioning System sebagai pembanding. Data GPS yang diperoleh pada penelitian ini masih belum optimal untuk digunakan dalam validasi data dikarenakan durasi pengamatan GPS yang belum optimal. Hasil pemodelan 3D dari pengukuran Terrestrial Laser Scanner dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi area longsor Ciloto, Jawa Barat. Namun demikian pemodelan tersebut masih memiliki galat akibat berbagai faktor. Hal ini disebabkan oleh faktor kesalahan dari alat, lingkungan, obyek yang dipindai dan kesalahan metodologis pada pengambilan data kala pertama dan kedua. Penelitian ini juga memberikan kelebihan dan kekurangan pemanfaatan teknologi Terresttrial Laser Scanner dibandingkan dengan teknologi Global Positioning System dalam aplikasi pemantauan longsoran.

2026
👤 Penulis: PANGERAN CHRISTOFEL YOSHUA (NIM : 15109041) ; Pembimbing (1) : Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin.,
🏷️ Geodetika 🏷️ Pemetaan Deformasi Tanah 🏷️ Teknologi Terrestrial Laser Scanner

STUDI PEMBANGUNAN SISTEM PEMANTAUAN BAHAYA LONGSOR DENGAN METODE GEODETIK DI WILAYAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (STUDI KASUS : CHEVRON GEOTHERMAL SALAK)

Indonesia adalah negara yang kaya akan potensi sumber daya alam, salah satunya adalah panas bumi. Panas bumi dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan dengan menggunakan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Lokasi reservoir panas bumi yang berada pada wilayah pegunungan yang didominasi oleh lereng curam mengakibatkan timbulnya potensi bencana longsor di wilayah PLTP, dimana bencana tersebut dapat mengakibatkan kerugian secara ekonomi bagi pengelola PLTP maupun konsumen dari listrik yang dihasilkan.Studi dilakukan untuk membangun suatu sistem pengamatan bahaya longsor dengan metode geodetik di wilayah PLTP. Metode yang digunakan untuk studi ini adalah studi literatur dan observasi lapangan. Pembangunan sistem dilakukan dengan mengadaptasi literatur-literatur yang terkait sebagai metode untuk melakukan pemantauan, dengan menggunakan hasil observasi lapangan sebagai acuan kebutuhan serta kecocokan metode pemantauan. Hasil akhir dari studi ini adalah sebuah Sistem Pemantauan Bahaya Longsor yang dapat diterapkan oleh pengelola PLTP sebagai salah satu langkah untuk manajemen aset.Sistem pemantauan tersebut terdiri dari klasifikasi potensi bencana longsor, pemantauan pergerakan tanah dengan metode geodetik, serta analisis deformasi. Sistem ini dapat memberikan informasi mengenai potensi bahaya longsor yang dinyatakan dalam tingkat-tingkat kecepatan dari pergerakan tanah. Informasi tersebut dapat digunakan oleh pengelola PLTP sebagai pertimbangan untuk melakukan tindakan perbaikan sebelum kerusakan yang lebih parah akibat bencana longsor terjadi dan menimbulkan kerugian.

2026
👤 Penulis: PANDU WICAKSONO (NIM: 15109045); Pembimbing : Dr. Ir. Dwi Wisayantono, M.T. ; Ir. Didik Wihardi W. S
🏷️ Geodetika 🏷️ Manajemen Risiko Longsor 🏷️ Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
Halaman 231 dari 6754
💬