📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

STUDI KARAKTERISTIK TEMPORAL VTEC BERDASARKAN DATA IGS BADAN INFORMASI GEOSPASIAL

Efek ionosfer adalah salah satu sumber kesalahan pada data Global Navigation Satellite System (GNSS) yang bisa menyebabkan kesalahan posisi sebesar beberapa puluh meter, sehingga untuk mendapatkan posisi yang teliti efek tersebut harus direduksi. Salah satu cara untuk mereduksi efek ionosfer pada data GNSS adalah dengan menggunakan model ionosfer. Dalam kaitannya dengan teknik pencitraan ionosfer dengan GNSS, model koreksi ionosfer bisa digunakan untuk mempelajari karakteristik fisis dari ionosfer melalui parameter Vertical Total Electron Content (VTEC) Penelitian ini akan membahas aktivitas ionosfer yang difokuskan pada kajian karakteristik temporal VTEC dan melihat korelasinya dengan aktivitas matahari. Data yang digunakan adalah data satelit Global Positioning system (GPS) dari stasiun International GNSS Service (IGS) Badan Informasi Geospasial (BIG) dari bulan Januari 2010 sampai Desember 2012. Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa nilai VTEC setiap hari dipengaruhi oleh pemanasan matahari serta memperlihatkan nilai VTEC yang fluktuatif. Aktivitas minimum ionosfer terjadi sekitar pagi hari antara jam 04:00 WIB sampai jam 05:00 WIB dengan nilai VTEC sekitar 20 TECU dan maksimum sekitar jam 14:00 WIB sampai jam 15:00 WIB dengan nilai VTEC lebih dari 40 TECU. Korelasi VTEC dengan sunspot number menunjukan korelasi yang positif dengan keofisien korelasi sebesar 0.77. Aktivitas ionosfer menunjukan peningkatan dari bulan ke bulan pada tahun 2010 sampai 2012. Secara umum puncak aktivitas ionosfer terjadi pada tahun 2012 dan dalam beberapa bulan selama tiga tahun telah terjadi fenomena sintilasi (scintillation). Musim equinox adalah musim yang aktivitas ionosfernya paling tinggi dibandingkan dengan musim summer solstice dan winter solstice. Spektral VTEC menunjukkan adanya fenomena annual, semi-annual, diurnal, semi-diurnal, dan ter-diurnal dari aktivitas matahari.

2026
👤 Penulis: OMA RUDIN (NIM: 15108010); pembimbing: Dr. techn. Dudy D Wijaya,ST.M.Sc. ; Irwan Gumilar, ST. M.Si
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERBANDINGAN SISTEM REAL TIME KINEMATIC (RTK)-CORS BPN DAN REAL TIME PRECISE POINT POSITIONING (RTPPP)PADA PEMETAAN PERSIL

Dalam penentuan posisi secara real-time, telah dikenal sistem Real Time Kinematic (RTK). RTK merupakan penentuan posisi secara diferensial menggunakan data pengamatan fase, di mana data atau koreksi fase dikirim secara seketika dari stasiun referensi ke receiver pengguna. Dengan keterbatasan RTK yang membutuhkan stasiun referensi, maka Precise Point Positioning (PPP) dapat menjadi alternatif. Precise Point Positioning (PPP) adalah metode penentuan posisi absolut menggunakan data fase dan pseudorange dalam bentuk kombinasi bebas ionosfer. Dari metode tersebut berkembang menjadi sistem Real Time Precise Point Positioning (RTPPP), yang memungkinkan pengguna menentukan posisi suatu titik secara real-time tanpa diperlukannya stasion referensi layaknya RTK. Kedua sistem tersebut, RTK dan RTPPP, sangat berpotensi digunakan dalam penentuan batas-batas persil tanah. Melalui kajian Tugas Akhir akan dilihat bagaimana perbandingan metoda RTK CORS-BPN dengan metoda RTPPP untuk penentuan batas-batas persil tanah, dengan studi kasus di kampus ITB. Dari penghitungan hasil koordinat di dapatkan luas dari sistem RTK dan RTPPP, yang divalidasi menggunakan luas dari pengukuran Electronic Total Station (ETS). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah perbandingan dalam segi akuisisi, presisi, dan keefektifan waktu yang diperlukan dalam sistem RTK dan RTPPP. Pada hasil pengamatan sistem RTK menggunakan CORS BPN, memiliki ketelitian horizontal yang relatif rendah hanya pada waktu pagi hari, sedangkan sistem RTPPP memilikin ketelitian horizontal relatif stabil baik pada waktu pagi hari dan sore hari. Namun, RTK memiliki tingkat presisi yang relatif lebih baik di bandingkan RTPPP, dengan syarat CORS yang digunakan relatif dekat dan hanya pada waktu pagi hari. Dalam segi biaya RTK membutuhkan biaya yang lumayan besar dibandingkan RTPPP, dikarenakan banyaknya istrument yang dibutuhkan seperti receiver, CORS, dan jaringan internet.

2026
👤 Penulis: OCTAVIANTO ARIBOWO (NIM : 15109043) ; Pembimbing (1) : Prof. Dr. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc ; Pemb
🏷️ Geodesi 🏷️ Real Time Kinematic (Rtk) 🏷️ Precise Point Positioning (Ppp)

SURVEI DAN ANALISIS MORFOLOGI PANTAI DI KECAMATAN MUARA GEMBONG, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT

Kecamatan Muara Gembong berada pada Kabupaten Bekasi, Jawa Barat memiliki daerah pesisir kurang lebih sepanjang 36 km. Daerah pesisir Kecamatan Muara Gembong memiliki karakteristik morfologi pesisir tersendiri. Proses sedimentasi dan abrasi mempengaruhi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Survei morfologi pantai diperlukan untuk mengetahui perilaku fenomena morfologi di sepanjang pesisir daerah tersebut guna membentuk sistem atau cara penanggulangan, sistem perencanaan dan pemanfaatan lahan serta sistem evaluasi dampak sedimentasi pada pesisir Muara Gembong. Survei morfologi pantai yang dilakukan untuk mendapatkan data morfologi pantai Kecamatan Muara Gembong terbagi menjadi dua yaitu pengambilan sampel sedimen yang dilakukan untuk menentukan karakteristik sedimen dan investigasi garis pantai yang dilakukan untuk klasifikasi pesisir Muara Gembong. Pengambilan sampel sedimen di pesisir Muara Gembong dilakukan dengan cara manual. Pergerakan sedimen dapat terjadi ketika nilai actual shields parameter lebih besar dibanding nilai critical shields parameter sedimen tersebut. Dari pergerakan sedimen lalu ditentukan jenis perpindahan sedimen dengan membandingkan nilai dari falling velocity dengan nilai kecepatan arus. arah arus digunakan untuk menentukan arah pergerakan sedimen pada kecepatan arus tercepat saat pasang dan surut. Untuk mengenali kondisi awal, sifat dan potensi dari pesisir Muara Gembong maka dilakukan investigasi garis pantai yang menghasilkan klasifikasi pesisir. Dari perhitungan pergerakan sedimen dan jenis perpindahan sedimen didapatkan seluruh sedimen bergerak pada saat keadaan pasang sedangkan pada saat surut hanya terdapat tiga dari sepuluh sampel yang bergerak. Dari keseluruhan pergerakan tersebut, sedimen tersuspensi pada perairan. Dari klasifikasi pesisir yang dilakukan, pesisir Muara Gembong tergolong kepada pesisir dengan kendali tektonik yang relatif stabil, berlokasi membelakangi samudera lepas, memiliki kemiringan yang landai, sedimennya tergolong pada pasir sangat halus, memiliki vegetasi yang didominasi oleh hutan bakau, dan tergolong pada pantai primer atau lebih dipengaruhi proses dari daratan sedangkan proses dari laut lebih didominasi oleh gelombang.

2026
👤 Penulis: MUSTAFA IHSAN IRAQI (NIM : 15108017) ; (Pembimbing :Dr. rer. nat. Wiwin Windupranata, S.T., M.Si. ;
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Morfologi Pantai

PENENTUAN LANDAS KONTINEN EKSTENSI DI PERAIRAN UTARA PAPUA

United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 menyatakan bahwa negara pantai mempunyai hak-hak kedaulatan atas wilayah lautan. Hal ini mendorong negara-negara pantai untuk mengajukan kepemilikan wilayah lautan yang salah satunya adalah landas kontinen ekstensi. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki hak untuk mengajukan landas kontinen ekstensi kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui Commission on the Limits of the Continental Shelf (CLCS). Wilayah perairan Indonesia yang memiliki potensi landas kontinen salah satunya adalah perairan utara Papua. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan landas kontinen ekstensi di perairan utara Papua. Metode yang digunakan untuk menentukan landas kontinen ekstensi tersebut yaitu dengan metode kombinasi dari garis-garis formula berdasarkan pendekatan dari pedoman keilmuan dan teknis yang dikeluarkan oleh CLCS. Luas maksimum landas kontinen ekstensi yang bisa didapatkan di perairan utara Papua adalah sebesar 39.946 km2. Landas kontinen ekstensi tersebut didapatkan dari hasil kombinasi garis formula 60 mil laut dari kaki lereng / foot of slope (FOS) dan 60 mil laut dari perbatasan lanjutan antara Indonesia dan Papua Nugini yang berada pada punggung samudra Eauripik rise.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD SYAFRIL RADIFANUR (NIM: 15109017); Tim Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, M.T.; Dr. Ir. Sa
🏷️ Geografi Okeanis 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBANGUNAN APLIKASI MOBILE DAN BASE-STATION GIS UNTUK KEPERLUAN MONITORING SARANA DAN PRASARANA KAMPUS (STUDI KASUS : KAMPUS ITB PUSAT)

Bertambahnya populasi mahasiswa dan populasi tenaga akademik maupun tenaga non akademik di Kampus ITB, berdampak pada jumlah kegiatan akademik maupun kegiatan non akademik yang juga bertambah banyak di setiap tahunnya. Tentunya kegiatan-kegiatan tersebut harus didukung juga dengan perkembangan sarana dan prasarana Kampus ITB. Perkembangan sarana dan prasarana di Kampus ITB dapat terlihat dari luas cakupan fasilitas yang semakin luas di setiap tahun. Semakin banyak dan semakin luasnya cakupan fasilitas Kampus ITB menyebabkan sulitnya dilakukan kegiatan monitoring dan pemeliharaan sarana dan prasarana kampus, sehingga tujuan dari riset ini adalah membuat sistem informasi geografis yang dapat mempermudah dan mempercepat kegiatan monitoring sarana dan prasarana Kampus ITB. Data yang digunakan adalah sebuah basis data terdahulu yang berisi data spasial seperti peta Kampus ITB dan data non spasial pendukung, seperti data jenis fasilitas, data nama ruangan, foto panorama dan lain-lain. Data tersebut diproses menjadi satu kesatuan basis data dan kemudian divisualisasikan dalam bentuk aplikasi mobile web dan base-station web. Hasil yang diperoleh dari riset ini adalah sebuah aplikasi base-station web GIS yang berperan sebagai pusat kontrol dan sebuah aplikasi mobile web GIS untuk kegiatan monitoring langsung di lapangan. Sehingga dengan adanya kedua aplikasi ini, maka kegiatan monitoring sarana dan prasarana kampus dapat lebih mudah dan lebih cepat dilakukan.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD IQBAL (NIM : 15109063) ; Pembimbing (1) : Dr. Deni Suwardhi, ST., MT ; Pembimbing (2) :
🏷️ Geografi Sistem Informasi 🏷️ Kepemilikan Sarana Dan Prasarana Kampus 🏷️ Analisis Data Geografis

STUDI STABILITAS RECEIVER CODE BIAS UNTUK PENENTUAN TOTAL ELECTRON CONTENT DENGAN GNSS

Bias pada ionosfer merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas data pengamatan GPS. Bias ionosfer kerap dilambangkan dengan densitas dari elektron pada lapisan ionosfer, dengan luas penampang satu meter persegi, biasa disebut dengan Total Electron Content (TEC). Estimasi TEC tidak hanya dilakukan untuk koreksi pengamatan GPS, juga untuk mempelajari fenomena dan kondisi ionosfer bumi. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mengestimasi TEC, salah satunya adalah bias pada receiver, Receiver Code Bias (RCB). Dalam melakukan perhitungan TEC, RCB sering dianggap konstan dalam satu bulan, akan tetapi RCB selalu berubah setiap harinya. Pada tugas akhir ini akan dibuktikan bahwa RCB bersifat tidak konstan, dan perbedaan tersebut dapat berpengaruh terhadap nilai TEC. Perhitungan RCB memiliki berbagai macam metode yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, pada tugas akhir ini digunakan metode least square. Setelah dilakukan perhitungan RCB untuk titik BAKO bulan Januari 2012, didapat bahwa nilai RCB bervariasi selama sebulan, meskipun hasil rata-rata RCB harian dalam sebulan tidak berbeda jauh dengan RCB yang telah diestimasi oleh The International GNSS Services (IGS). Untuk mendapatkan pengaruh dari RCB harian terhadap nilai TEC, maka dilakukan perhitungan TEC dengan menggunakan RCB yang berbeda, RCB harian hasil estimasi dan RCB bulanan dari IGS, perbedaan TEC mencapai 5.9 TECU.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD IHSAN (NIM: 15109044); Pembimbing: Dr. techn. Dudy D. Wijaya, ST. M.Sc.; Dr. Ir. Dina Ang
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENURUNAN DIGITAL TERRAIN MODEL DARI DATA DIGITAL SURFACE MODEL MENGGUNAKAN SIMPLE MORPHOLOGICAL FILTER

DTM (Digital Terrain Model) merupakan suatu model permukaan digital yang memiliki informasi mengenai permukaan tanah sedangkan DSM (Digital Surface Model) memiliki informasi tentang permukaan tanah beserta objek yang ada seperti bangunan dan vegetasi. Untuk menghasilkan suatu DTM, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menurunkan data DSM. Proses penurunan ini terbagi menjadi 2 metode, yaitu metode image-based dan metode range-based. Metode image-based berlaku jika data yang digunakan untuk proses penurunan tersebut berdasarkan metode fotogrametri sedangkan metode range-based berlaku jika data yang digunakan berasal dari laser scanner atau LIDAR. Karena data DSM masih memiliki fitur selain tanah, maka perlu dilakukan suatu metode untuk menghilangkan fitur tersebut. Metode ini disebut juga DSM filtering. SMRF (Simple Morphological Filter) merupakan salah satu metode DSM filtering yang bertujuan untuk melakukan proses klasifikasi permukaan secara otomatis pada data DSM yang dihasilkan melalui pengolahan metode range-based. Hasil klasifikasi tersebut adalah suatu pengamatan dapat diklasifikasikan sebagai tanah atau bukan tanah Dengan menggunakan beberapa parameter seperti window, slope, cell size, dan elevation threshold, maka fitur bukan tanah dapat dihilangkan. Pada penelitian ini, SMRF digunakan pada data DSM di lokasi ITB Jatinangor dan ITB, dengan data DSM yang berasal dari pengolahan metode image-based. Hasilnya menunjukkan bahwa proses SMRF dapat menghasilkan DTM pada daerah penelitian ITB Jatinangor dan ITB. Validasi dengan menggunakan data terestris dilakukan pada DTM daerah penelitian ITB Jatinangor yang menghasilkan RMSE sebesar 1.668 m.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD BIMO WICAKSONO (NIM: 15108064) ; Pembimbing: Dr. Ir. Agung Budi Harto, M.Eng. ; Dr. Deni
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Geografis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI LOKON BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2009-2013

Gunungapi Lokon merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Indonesia. Terletak pada 1°21’30” LU dan 124°47’30” BT dengan ketinggian 1579.5 m di atas permukaan laut. Gunungapi ini memiliki satu kawah terletak di pelana antara puncak Gunungapi Lokon dan Empung yang dikenal dengan Kawah Tompaluan yang mempunyai kawah dengan garis tengah 400 m dan kedalaman lebih kurang 150 m. Awal erupsi dari Gunungapi ini dimulai sejak Februari 2011 dan masih tetap aktif sampai dengan hari ini. Gejala vulkanik dari sebuah gunungapi dapat diamati dengan berbagai metode. Metode yang digunakan adalah Deformasi. Deformasi pada Gunungapi Lokon diamati dengan menggunakan 3 data pengamatan titik GPS (Global Positioning System) kontinu dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dengan sampling rate 15 detik. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangakat lunak Bernese 5.0. Dari hasil pengolahan data, terjadi perbedaan arah vektor pergeseran titik-titik pengamatan antara dua periode yaitu periode tahun 2009-2010 dan periode tahun 2011-2013. Pada periode tahun 2009-2010 arah vektor pergeseran mengarah mendekati pusat Kawah Tompaluan yang diperkirakan sebagai pusat magma, dengan kecepatan pergeseran antara 3,1 mm – 5,4 mm per tahun. Hal ini mengindikasikan adanya deflasi dari sumber magmatik Gunung Lokon. Sedangkan pada periode tahun 2011-2013, periode erupsi, arah vektor pergeseran menjauhi pusat Kawah Tompaluan dengan kecepatan pergeseran 5,7 mm – 1,1 cm per tahunnya yang mengindikasikan kemungkinan inflasi sumber magma.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD AFIF FADHILLAH (NIM: 15109052);Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc; Dr. Ir. Dina Angg
🏷️ Deformasi Gunungapi 🏷️ Analisis Data Gps 🏷️ Vulkanologi

PEMBUATAN BASIS DATA DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS HERBARIUM BANDUNGENSE BERBASIS WEB

Herbarium Bandungense merupakan laboratorium tempat menyimpan sampel dan informasi mengenai tanaman terutama pada daerah Bandung. Untuk lebih memudahkan pengguna dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan, dibangun Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis web pada data Herbarium Bandungense. Pembuatan sistem informasi berbasis web ini memerlukan dua tahap penting dalam pengolahan data, yaitu pembangunan basis data spasial dan pembuatan website yang terintegrasi dengan basis data spasial. Proses pengolahan data ini menggunakan PostgreSQL sebagai metode pembangunan basis data spasial serta Geoserver dan OpenLayers untuk pembuatan peta digital. Basis data yang dibangun dengan menggunakan standar Taxonomic Databases Working Group sebagai acuannya. SIG berbasis web dibangun menggunakan beberapa bahasa pemrograman seperti HTML, PHP, CSS, dan JavaScript. Hasil dari pengolahan data tersebut dimasukkan kedalam suatu website yang didesain secara user friendly dalam website SITH ITB sehingga memudahkan pengguna dalam mencari informasi yang dibutuhkan dan juga pengeolola untuk mengolah dan memperbarui data Herbarium Bandungense.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD ( 15109035 ); Pembimbing :Dr.Ir.Kokasih Prijatna, M.Sc
🏷️ Geografi 🏷️ Data Geografis 🏷️ Pembangunan Basis Data

ANALISIS DEFORMASI GEMPA MENTAWAI TAHUN 2010 BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2010-2011

Pulau Sumatra termasuk salah satu pulau terbesar di Indonesia. Pulau ini merupakan salah satu wilayah dengan aktifitas tektonik paling aktif di dunia. Sumatra mengakomodasi tumbukan lempeng Indo-Australia yang men-subduksi lempeng Eurasia dengan kecepatan 5-6 cm/tahun. Oleh karena itu sering terjadi gempa di pulau ini. Salah satu gempa besar yang terjdi adalah gempa Mentawai pada tanggal 25 Oktober 2010 dengan magnitude 7.7 Mw. Kabupaten Kepulauan Mentawai juga terletak di jalur lempeng tektonik sehingga sering terjadi gempa tektonik. Untuk melakukan analisis deformasi diperlukan menghitung vektor pergeseran dan nilai pergeseran yang mengacu pada titik-titik stasiun GPS kontinu Sumatran GPS Array (SUGAR) yang tersebar di Pulau Sumatera. Analisis deformasi gempa mentawai dilakaukan dengan melihat faktor-faktor pergeseran yang terjadi saat gempa, sebelum dan sesudah gempa. Dengan adanya nilai-nilai pergeseran tersebut dapat dilihat perubahan-perubahan yang terjadi. Dari hasil yang di peroleh gempa mentawai membawa pengaruh pergerakan 10-30 cm terhadap beberapa stasiun pengamatan yang berada di sekitar pusat gempa. Selain itu jika dilihat dari hasil regangan, setelah terjadi gempa Mentawai tahun 2010 ini, terjadi pelepasan energi sekitat 74% dari energi yang terakumulasi pada tahap diantara gempa. 24% sisanya dilepaskan pada tahap seteleh gempa.

2026
👤 Penulis: M RIDHOLFI RUSMEN (NIM: 15109080); pembimbing: Dr. Irwan Meilano, S.T, M.Sc ; Dr. Ir. Dina A Sarsi
🏷️ Deformasi Geografis 🏷️ Analisis Data Gps 🏷️ Tektonik Sumatera

PROSPEK PANASBUMI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS : KAWASAN PATUHA)

Penginderaan jauh memegang peranan penting dalam pemetaan sumber daya energi panas bumi dengan mendeteksi anomali temperatur permukaan dari citra termal. Teknik ini dapat digunakan sebagai survei pendahuluan dalam eksplorasi. Penginderaan jauh menyimpan radiasi energi dalam berbagai panjang gelombang. Daerah Patuha, Jawa Barat, dijadikan objek dari penelitian ini. Kenampakan panasbumi di daerah ini yang menunjukkan adanya potensi panasbumi adalah berupa manifestasi panas, solfatar, fumarol, tanah beruap panas, sinter silika dan alterasi hidrotermal. Data temperatur permukaan yang digunakan adalah citra Landsat ETM+ 2000, 2001, 2002 dan 2003 terutama pada band 6/ band termal. Interpretasi temperatur permukaan diamati dengan memperhatikan aspek warna dan rona dari permukaan. Selanjutnya dilakukan integrasi data temperatur tersebut dengan data dan peta lainnya yang terkait dengan studi area. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih pasti tentang potensi panas seperti manifestasi permukaan, analisis geologi, dan fenomena gunung vulkanik.

2026
👤 Penulis: MONA NATALIA SIAHAAN (NIM 15107080); Pembimbing: Dr. Ir. Ketut Wikantika, M.Sc., dan Ir. Andri Slame
🏷️ Penginderaan Jauh 🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Temperatur Permukaan

IDENTIFIKASI AKURASI DATA PROFIL KECEPATAN SUARA (SVP) DAN PENGARUHNYA PADA POST-PROCESSING DATA MBES

Multibeam Echosounder (MBES) merupakan salah satu instrumen yang menggunakan prinsip SONAR dimana teknologi ini menggunakan konsep gelombang akustik dimana kecepatan suara merupakan faktor kunci teknologi ini diaplikasikan , topik yang dikaji adalah bagaimana mengidentifikasi akurasi data SVP yang digunakan dalam pengolahan data MBES. Identifikasi akurasi data SVP penting karena hal ini menentukan kualitas data kedalaman yang dihasilkan dari pengolahan data MBES yang dilakukan. Identifikasi akurasi data SVP dilakukan pada saat post-processing data MBES menggunakan perangkat lunak CARIS HIPS 6.0 dengan melakukan analisis visual pada hasil permukaan yang diperoleh. Dari pengkajian yang dilakukan disimpulkan bahwa data SVP yang digunakan dalam pengolahan data tidak akurat sehingga adanya objek berupa gundukan pada saat melakukan analisis visual pada permukaan yang dihasilkan dari post-processing data bukan merupakan representasi sebenarnya dari permukaan dasar laut dan hal ini menyebabkan perlu dilakukannya proses pemotongan titik kedalaman pada beam terluar saat pengolahan data untuk mereduksi pengaruh tersebut.

2026
👤 Penulis: MIKHAEL MANGOPO (NIM: 15109069);
🏷️ Analisis Visual 🏷️ Multibeam Echosounder (Mbes) 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMANFAATAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) UNTUK MENGHITUNG POTENSI KERUGIAN ASET AKIBATDAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH DAN BANJIR ROB

Kawasan Pantai Mutiara merupakan perumahan hasil reklamasi di wilayah pesisir Jakarta Utara yang tidak terlepas dari fenomena penurunan muka tanah. Salah satu faktor penyebab terjadinya fenomena ini diduga karena tanah hasil reklamasi tidak mampu menahan beban bangunan serta infrastruktur yang dibangun pada kawasan tersebut. Penurunan muka tanah yang terjadi mengakibatkan kawasan tersebut terletak dibawah muka air laut sehingga air laut dapat menggenangi wilayah tersebut yang dikenal dengan banjir rob. Penurunan muka tanah serta banjir rob memberikan dampak negatif seperti menimbulkan kerusakan bangunan serta tanah sehingga mengakibatkan kerugian aset yang cukup parah. Kerugian aset tersebut perlu diestimasi untuk membantu meminimalkan kerugian. Salah satu metode untuk membantu menghitung potensi kerugian akibat dampak penurunan muka tanah dan banjir rob adalah dengan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanner (TLS). Pemanfaatan TLS digunakan untuk memodelkan kawasan pantai mutiara secara tiga dimensi. Tahap pengolahan data TLS untuk mendapatkan model 3D meliputi tahap registrasi, georeferencing, filtering, meshing, digitasi kerangka bangunan dan tanah, serta pembentukan bidang bangunan dan tanah. Potensi kerugian aset akibat penurunan muka tanah dan banjir rob dapat dihitung menggunakan informasi model 3D, data luas tanah dan bangunan, serta data harga tanah dan bangunan/m2 yang didapat berdasarkan harga NJOP dan harga pasar kawasan Pantai Mutiara. Hasil menunjukkan total potensi kerugian aset kawasan pantai mutiara bernilai 1,34 triliun rupiah dengan menggunakan harga NJOP dan 5,5 triliun rupiah dengan menggunakan harga pasar.

2026
👤 Penulis: M. FRIDHO FINANTHEO (NIM : 15109079) ; Pembimbing (1) : Dr. Heri Andreas, ST., MT. ; Pembimbing (2
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Risiko Asuransi 🏷️ Hidrologi

IDENTIFIKASI GENANGAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN CITRA QUICKBIRD DAN ALOS PALSAR (Studi Kasus: Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang cukup tinggi dan lebih dari 70% bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologis termasuk banjir. Banjir didefinisikan sebagai luapan atau genangan yang keluar dari sungai atau badan air dan menyebabkan suatu bahaya dan disebabkan oleh fenomena cuaca dan kejadian yang menyebabkan presipitasi berlebihan pada suatu permukaan bumi. Di Pulau Jawa terdapat empat daerah rawan banjir yang mendapat prioritas tinggi yaitu lereng Gunung Merapi, Provinsi Jakarta dan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo serta Daerah Aliran Sungai Citarum. Tujuan dari studi ini adalah melakukan identifikasi tutupan lahan daerah kawasan banjir beserta luasan genangan air pada tiap tutupan lahan dengan memanfaatkan citra Quickbird dan citra ALOS PALSAR. Sebelum dilakukan proses klasifikasi dan analisis citra, proses pra pengolahan data dilakukan pada citra Quickbird dan ALOS PALSAR agar bersih dari kesalahan yang ada. Tutupan lahan akan didapatkan dari citra Quickbird dengan metode klasifikasi object based dan genangan air diperoleh dengan deliniasi nilai backscatter citra ALOS PALSAR. Dengan curah hujan 5 mm pada tanggal 10 September 2007 seluruh kelas pada area studi tergenang dengan nilai tertentu.

2026
👤 Penulis: MAUNDRI PRIHANGGO (NIM: 15108021);Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, M.Eng., Ph.D ; Dr. Soni Darm
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Citra 🏷️ Geografi

KAJIAN DEFINISI DAN TEKNIK PENENTUAN GARIS PANTAI DALAM KAITANNYA DENGAN UU INFORMASI GEOSPASIAL (UU NO.4 TAHUN 2011)

Garis pantai merupakan komponen penting dalam implementasi Undang-Undang Informasi Geospasial (UU IG). Garis pantai yang baik menjadi acuan bagi pembuatan produk Informasi Geospasial. Produk Informasi Geospasial tersebut adalah peta dasar yang mencakup peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) yang mengacu pada garis pantai Mean Sea Level (MSL), peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dan peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) yang mengacu pada garis pantai Low Water Level (LWL). Lembaga yang bertugas membuat peta dasar tersebut adalah Badan Informasi Geospasial (BIG). Untuk memperoleh garis pantai yang akurat tentunya didukung dengan metode pengukuran dan penentuan yang tepat sesuai dengan skala peta yang terdapat dalam UU IG. Metode yang digunakan sebaiknya efektif dari segi waktu pengerjaan serta harus efisien dan ekonomis dalam segi biaya. Penentuan garis pantai terdiri dari empat metode, yaitu metode Terestris, metode Global Navigation Satellite System (GNSS), metode Fotogrametri LIDAR, dan metode Penginderaan Jauh. Berdasarkan hasil kajian pada penelitian ini, metode penentuan garis pantai yang digunakan untuk pembuatan peta RBI skala 1:1.000.000 hingga 1:5.000 adalah metode Penginderaan Jauh. Metode penentuan garis pantai yang digunakan untuk pembuatan peta RBI skala 1:2.500 dan 1:1.000 adalah metode GNSS RTK. Untuk pembuatan peta LPI skala 1:250.000 hingga 1:10.000 dan peta LLN skala 1:250.000 hingga 1:25.000, metode penentuan garis pantai yang digunakan adalah metode Penginderaan Jauh.

2026
👤 Penulis: LUQMAN HERTANTO HERMAN (NIM: 15108053);
🏷️ Geospasial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Geografis
Halaman 232 dari 6754
💬