📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMBENTUKAN BASIS DATA GRAFIS 3D DALAM INISIASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN BANGUNAN (STUDI KASUS: LABTEK IX C, ITB)
Gedung merupakan tempat melakukan kegiatan dalam ruangan, contohnya perkuliahan. Pemakaian gedung baik untuk kegiatan apa saja, harus diiringi dengan kesadaran pemeliharaan bangunannya, baik dilakukan secara harian seperti membersihkannya atau berkala seperti melakukan renovasi atau pemugaran, dapat juga insidental apabila ada bagian yang rusak dan harus segera ditangani. Pemeliharaan bangunan ini harus didukung dengan informasi numeris bangunan seperti luas, volume, jumlah kaca, jumlah pintu dan sebagainya, maka dibutuhkan basis data grafis Labtek IX C. Basis data grafis IX C merupakan visualisasi tiga dimensi (3D) Labtek IX C yang berasal dari denah dua dimensi (2D) Labtek IX C. Dalam pembentukan basis data grafis digunakan program berbasis Computer Aided Design and Drafting (CADD) dan pelaksanaannya adalah dengan melakukan penggabungan dan/atau pemotongan bentuk-bentuk geometri 3D. Hasilnya adalah model 3D Labtek IX C dalam format .dwg. Analisis yang dilakukan adalah analisis basis data grafis dan analisis penggunaan basis data grafis dalam sistem informasi manajemen, serta hubungan basis data grafis dengan basis data tekstual. Dari model tiga dimensi Labtek IX C, dapat langsung diketahui informasi numeris dengan bantuan tools inquiry pada AutoCAD tanpa harus dituangkan kembali ke dalam basis data tekstual. Informasi numeris Labtek IX C dapat digunakan sebagai salah satu pengambil keputusan dalam suatu sistem informasi manajemen dalam pemeliharaan bangunan. Dengan mengetahui ukuran komponen dari gedung Labtek IX C, maka dapat diketahui bahan dan material yang diperlukan, serta biaya yang dikeluarkan.
PENINGKATAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN PETA 3D HASIL TEKNIK FOTOGRAMETRI DAN LIDAR (Wilayah Studi Kelurahan Helvetia Tengah, Kota Medan)
Kegiatan pembangunan yang semakin meningkat, mendorong penggalian potensi sumber keuangan untuk dapat membiayainya. Salah satu sumber keuangan potensial yang dapat ditingkatkan adalah dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Untuk menunjang proses identifikasi objek pajak, diperlukan suatu sumber data geospasial yang terbarukan dan akurat karena seiring dengan berjalannya waktu sangat mungkin terjadi perubahan pada objek pajak yang berpotensi menambah penerimaan PBB. Dengan menggunakan teknik fotogrameri dan LIDAR (Light Detection and Ranging), dapat dihasilkan Peta 3 Dimensi yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber data untuk mengidentifikasi adanya potensi penambahan pada komponen perhitungan pajak, seperti luas bangunan dan luas tanah, serta perubahan fungsi pada tanah dan atau bangunan. Kualitas data spasial dari sumber data yang digunakan dapat dilihat dari beberapa elemen seperti lineage, akurasi posisi, akurasi atribut, konsistensi logikal, dan kelengkapan dengan residual koordinat Peta Foto dengan Peta Garis sebesar 0,436695 meter dan residual koordinat Peta Persil BPN hasil transformasi dengan Peta Garis sebesar 1,49816 meter. Selanjutnya dilakukan analisis spasial dan ekstraksi informasi tematik dengan menggunakan sumber data tersebut. Hasilnya menunjukan adanya indikasi penambahan luas pada objek pajak bangunan sebesar 1,75 % yang dapat meningkatkan pendapatan dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 0,406 %.
SURVEI PEMETAAN 3DIMENSI SECARA TERESTRIS (STUDI KASUS: GEDUNG FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG)
Peta adalah suatu gambar yang berisi informasi tentang permukaan bumi dan obyek diatasnya. Pemetaan saat ini dapat dibagi atas dua model yaitu model konvensional dan model dijital. Pada pemetaan dijital sudah memungkinkan untuk secara langsung ataupun tidak langsung, pengukuran hingga penyajian, dalam bentuk 3 dimensi. Hal ini menyebabkan tidak perlu lagi untuk membagi pernyataan posisi setiap titik dalam posisi horizontal dan vertikal seperti dalam model konvensional. Dalam pelaksanaan pemetaan 3 dimensi, pemilahan data memegang peranan sangat penting agar dapat membedakan titik muka bumi dengan obyek dan membedakan bidang permukaan tanah sesuai terrain. Dari pelaksanaan, didapatkan peta 3 dimensi yang sebenarnya yang dapat digambarkan dari berbagai sudut pandang yang berbeda dalam bentuk softcopy disertai dengan prosedur pengukuran.
ANALISIS PERMASALAHAN KETIDAKHOMOGENAN PARAMETER TRANSFORMASI PADA SUATU BLOK MIGAS
Dalam satu blok migas seyogyanya setiap titik sumur memiliki sistem koordinat yang seragam. Di banyak kasus data-data sistem koordinat lokal dalam blok tersebut sudah tidak diketahui. Data-data tersebut kemudian dianggap menjadi seragam dan memiliki sebuah sistem koordinat yang baru tanpa melalui transformasi koordinat, sehingga terjadi permasalahan ketika dilakukan integrasi data seismik. Oleh karena itu perlu dilakukan pengecekan terhadap blok tersebut, untuk memastikan sistem koordinatnya sudah seragam. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan adanya ketidakseragaman sistem koordinat dengan menunjukkan parameter transformasi yang tidak homogen dalam satu blok migas. Untuk itu pada penelitian ini dilakukan beberapa skenario untuk membuktikan hal tersebut. Skenario pertama adalah yang menyertakan seluruh titik sekutu dan skenario lainnya adalah yang membagi blok menjadi dua bagian dan tiga bagian. Kemudian dari ketiga skenario ini dibandingkan parameter transformasinya. Parameter yang seragam menunjukkan bahwa blok tersebut memiliki satu sistem koordinat, sebaliknya parameter yang tidak homogen menunjukkan sistem koordinat yang lebih dari satu. Metode transformasi yang dipakai adalah metode transformasi 10 parameter model Molodensky-Badekas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata blok ini memiliki parameter transformasi yang tidak homogen.
STUDI VARIASI SPASIAL VERTICAL TOTAL ELECTRON CONTENT (VTEC) DI PULAU JAWA
Ionosfer mempengaruhi gelombang elektromagnetik yang melewati lapisan tersebut berupa waktu tunda. Pada teknologi GPS lapisan ini memberikan gangguan pada propagasi sinyal GPS yang menjalar, sehingga efek ionosfer menjadi sumber kesalahan utama dalam penentuan posisi dan navigasi hingga mencapai puluhan meter. Untuk mendapatkan posisi yang sangat teliti efek ionosfer harus dihilangkan. Besarnya pengaruh efek ionosfer ini bergantung kepada kandungan elektron total yang dinamakan TEC ( Total Electron Content) dan frekuensi yang digunakan. Oleh karena itu, studi mengenai karakteristik ionosfer sangat penting untuk dikaji. Receiver Code Bias (RCB) juga sangat diperlukan dalam estimasi TEC. RCB merupakan bias yang bersumber dari alat receiver.Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari karakteristik ionosfer yang difokuskan pada variasi spasial VTEC (Vertical Total Electron Content) di Pulau Jawa menggunakan metoda data kode. Stasiun-stasiun yang digunakan yaitu BIG, Jepara, Cirebon, Semarang, Purbalingga, dan Magelang. Karakterisitik VTEC dilihat berdasarkan harian dan musiman serta rata-rata selisih VTEC antara stasiun pengamatan GPS. Hasil pengolahan data menunjukkan ionosfer paling tinggi terjadi pada musim equinox dengan nilai VTEC di atas semua stasiun mencapai lebih dari 60 TECU, sedangkan paling rendah terjadi pada musim summer solstice dengan nilai VTEC lebih dari 50 TECU. Pada selisih VTEC antara stasiun pengamatan GPS nilai selisihnya akan semakin besar jika jarak lurus antar stasiun dan selisih lintang semakin jauh. Hasil RCB juga memberikan pengaruh dalam estimasi VTEC dengan nilai VTEC yang diberikan sebesar dua kali lipat dari nilai RCB.
PEMBUATAN SPESIFIKASI TEKNIS SURVEY HIDROGRAFI DALAM PENETAPAN LANDAS KONTINEN EKSTENSI DI INDONESIA
Landas kontinen adalah dasar laut dan tanah dibawahnya sampai kejauhan batas landas kontinennya atau sejauh 200 mil laut atau hingga jarak 350 mil laut dari garis pangkal. Berdasarkan pasal 76 United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 suatu negara pantai berhak atas Landas Kontinen melebihi jarak sejauh 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal. Negara Indonesia sebagai negara kepulauan sekaligus sebagai negara pantai mempunyai kesempatan untuk melakukan submisi kepada CLCS (Commission on the Limits of the Continental Shelf) dan mensahkan landas kontinen ekstensi di wilayah negaranya. Untuk keperluan tersebut harus dilakukan kegiatan survey hidrografi untuk penetapan landas kontinen ekstensi, dan sampai dengan saat ini belum ada spesifikasi teknis yang khusus untuk penetapan landas kontinen ekstensi di Negara Indonesia. Metodologi yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah dengan studi pustaka yang mencakup kegiatan pencarian literatur yang dapat memberikan informasi mengenai landas kontinen ekstensi, spesifikasi teknis yang dapat menjadi acuan dalam melakukan kegiatan survey hidrografi dan perancangan spesifikasi teknis survey hidrografi yang diperoleh dari jurnal ilmiah, text book, serta dari media elektronik. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh suatu spesifikasi teknis yang dapat digunakan sebagai acuan maupun panduan dalam pelaksanaan survey hidrografi untuk penetapan landas kontinen ekstensi di Negara Indonesia, agar kegiatan survey hidrografi penetapan landas kontinen ekstensi tersebut dapat berjalan dengan optimal, efektif serta efisien.
ANALISIS DEFORMASI GEMPA PADANG TAHUN 2009 BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2009 - 2010
Pulau Sumatera terletak pada jalur batas konvergen antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia. Pada batas lempeng konvergen ini terjadi aktivitas tektonik yang saling menekan dan mengunci antar kedua lempeng, sehingga menimbulkan akumulasi energi. Jika energi tersebut terlepas secara tiba-tiba, maka akan menyebabkan gempa bumi. Salah satu gempa yang terjadi di Pulau Sumatera adalah gempa Padang 30 september 2009. Pola deformasi dari gempa ini dapat diamati dengan pengamatan GPS (Global Positioning System). Pengamatan GPS dilakukan untuk mencari vektor pergeseran, regangan, serta menganalisis pola deformasi yang terkait gempa tersebut. Dari hasil pengolahan data, vektor pergeseran titik-titik pengamatan GPS di Sumatera cenderung bergerak ke arah timur laut (NE) yang mengindikasikan adanya akumulasi energi. Sedangkan vektor pergeseran yang mengarah ke barat daya (SW) mengindikasikan adanya pelepasan energi. Gempa 30 september 2009 mengakibatkan pergeseran maksimum dari titik-titik pengamatan GPS sebesar 0.055 m ke arah barat daya. Kecepatan vektor pergeseran rata-rata dari titik-titik pengamatan GPS sebelum gempa adalah sebesar 0.033m/tahun dan setelah gempa sebesar 0.031 m/tahun dengan pergerakan mengarah ke timur laut. Regangan di sekitar daerah kajian menunjukkan adanya pola kompresi dengan nilai maksimum sebesar 1.226 x 10-7 strain yang mengindikasikan potensi terjadinya gempa bumi. Gempa 30 September 2009 tidak menunjukkan deformasi setelah gempa dari hasil yang teramati. Gempa ini tidak mempengaruhi vektor kecepatan pergeseran serta tidak menghilangkan distribusi regangan pola kompresi di sekitar daerah pusat gempa setelah gempa terjadi. Meskipun demikian, gempa ini berdampak cukup besar, khususnya untuk daerah di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera.
KAJIAN KOMPREHENSIF LANDAS KONTINEN EKSTENSI DI LAUT UTARA PAPUA INDONESIA
Pasal 76 United Nations Law of the Sea Convention (UNCLOS) menyatakan bahwa sebuah negara pantai memungkinkan memiliki Landas Kontinen melebihi 200 mil laut yang diukur dari garis pangkalnya. Hal ini juga dikenal dengan istilah Landas Kontinen Ekstensi (LKE). Negara pantai dapat melakukan submisi batas terluar LKE ini dan mengajukannya kepada Komisi Batas Landas Kontinen (Commission on the Limits of Continental Shelf, CLCS) melalui Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jika memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil studi terdahulu (Desktop Study) yang mengkaji data geologi, seismik, graviti, dan hasil survei batimetri berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan dalam UNCLOS 1982 menunjukkan bahwa di 3 lokasi Indonesia memiliki prospek untuk melaksanakan submisi LKE yaitu, di sebelah Barat Aceh, Selatan pulau Sumba dan Utara pulau Papua. Tugas Akhir ini bertujuan untuk memaparkan secara komprehensif potensi klaim batas Landas Kontinen Ekstensi sebelah utara Papua. Dalam Tugas Akhir ini juga dikaji realisasi dan hasil survei batimetri dan survei seismik yang telah dilakukan untuk mendapatkan data profil kedalaman dan data ketebalan 1% sedimen di laut utara Papua sebagai syarat teknis untuk submisi Landas Kontinen Ekstensi. Adapun hasil survei yang telah dilakukan, didapat data profil kedalaman dan data 1% ketebalan sedimen di Utara Papua yang memiliki potensi sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menambah Batas LKE di Utara Papua.
PEMODELAN 3 DIMENSI POTENSI BANJIR GENANGAN AIR LAUT (ROB) STUDI KASUS : DAERAH PANTAI MUTIARA, KECAMATAN PENJARINGAN, JAKARTA UTARA.
Banjir merupakan bencana alam yang perlu diperhatikan terutama di kota besar seperti Jakarta. Banjir pada umumnya disebabkan oleh tingginya tingkat curah hujan, sistem drainase yang tidak mencukupi, alih fungsi lahan, kenaikan muka air laut, dan sebagainya. Banjir memilki berbagai macam jenis, salah satunya adalah banjir rob. Banjir rob disebabkan oleh pasang air laut yang menggenangi daratan. Pantai Mutiara, Jakarta Utara merupakan daerah reklamasi yang memiliki potensi banjir genangan air laut (rob) lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh besarnya tingkat penurunan tanah pada daerah tersebut. Dengan adanya teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan rob dengan menciptakan model 3D terhadap potensi rob pada daerah tersebut.TLS digunakan untuk membuat model 3D potensi banjir genangan air laut (rob) pada kawasan Pantai Mutiara, Kecamatan Panjaringan, Jakarta Utara. Pengambilan data terbagi menjadi dua bagian, meliputi pengukuran titik kontrol yang terdiri dari pengukuran GPS serta pengukuran TLS untuk mendapatkan pointclouds dari area yang akan dimodelkan. Pada tahapan pengolahan data dilakukan proses registrasi, filtering, georeferensi, meshing, dan pengeditan model 3D. Hasil yang diharapkan berupa model 3D potensi banjir genangan air laut (rob) dalam skenario beberapa tahun kedepan. Skenario difokuskan pada kemungkinan yang terjadi dalam jangka waktu 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, dan 40 tahun dengan ketinggian banjir maksimal mencapai 0.29 m, 0.34 m, 0.58 m, 0.92 m, 2.32 m, dan 4.04 m.
PENGARUH GEOMETRI PENJALARAN SINYAL GPS TERHADAP PENENTUAN TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC)
Lapisan ionosfer secara fisis merupakan medium dispersif sehingga penjalaran sinyal GPS akan bergantung dengan frekuensi. Oleh karena itu gelombang pembawa L1 dan L2 yang memiliki frekuensi berbeda, tidak merambat pada jalur yang identik saat melintasi lapisan ionosfer. Maka, perlu diperbandingkan seberapa besar selisih hasil perhitungan Slant Total Electron Content (STEC) dari sinyal GPS jika memperhitungkan efek perbedaan lintasan sinyal. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan penghalusan data kode P1 dan P2 untuk kemudian digunakan dalam penentuan STEC dengan epok (30 detik) menggunakan formula Geometric-Free (GF) dan formula Improved Geometric-Free (IGF) yang sudah memperhitungkan efek perbedaan lintasan sinyal. Data GPS berformat rinex didapatkan dari data lokasi-lokasi pengamatan GPS pada stasiun International GNSS Service (IGS) pada tahun 2008 dan 2013 yang diambil pada lokasi pengamatan yang mencakup zona lintang menengah di Algonquin Park (Kanada), zona ekuator di Bakosurtanal (Indonesia), dan zona kutub di Syowa (Kutub Selatan). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa secara posisi geografis selisih perhitungan dengan menggunakan metode IGF terhadap metode GF pada IGS Algonquin Park yang berada pada lintang menengah memiliki nilai yang lebih besar daripada IGS Syowa yang berada pada kawasan kutub selatan. Sedangkan IGS Bakosurtanal yang berada pada zona ekuator memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan keduanya. Selisihnya pun bertambah besar saat aktivitas matahari tinggi pada tahun 2013. Hasil yang diperoleh dari pengolahan delta-STEC yang merupakan selisih antara metode penghitungan IGF dibandingkan dengan metode GF menunjukkan bahwa nilai delta-STEC maksimum hanya sebesar 20.5 miliTECU pada kawasan equator (Bakosurtanal) di saat aktivitas matahari sedang tinggi (tahun 2013). Sehingga efek penjalaran sinyal belum signifikan mempengaruhi ketelitian TEC yang sampai saat ini belum sampai orde miliTECU.
PEMBANGUNAN MODEL WEBGIS DALAM PEMANTAUAN PROGRAM PERTUKARAN KARBON
Perdagangan karbon adalah suatu mekanisme perdagangan dimana negara yang menghasilkan emisi karbon dari kuota yang ditentukan diharuskan untuk memberikan sejumlah insentif kepada negara yang bisa menyerap karbon melalui proyek penanaman hutannya. Indonesia sebagai negara ketiga terbesar yang memiliki area hutan tropis dapat menjadikan area hutannya sebagai komoditas dalam perdagangan karbon dunia. ITB bertujuan melakukan penelitian dalam program perdagangan karbon di Indonesia. Penelitian ini mencakup pembuatan sistem basis data spasial dan membangun model WebGIS dalam program perdagangan karbon. Model WebGIS yang dibangun memiliki fitur foto panoramik 360o sehingga pengguna dapat merasakan efek virtual reality karena data yang digunakan merupakan suatu citra/gambar mengenai keadaan di lingkungan sekitarnya. Hasil penelitian adalah sebuah bentuk manajemen data spasial dan menghasilkan model WebGIS yang memiliki tampilan antarmuka yang user friendly. Diharapkan dengan model WebGIS ini dapat menarik minat para negara donatur untuk berinvestasi di area hutan Indonesia.
PENGGUNAAN DATA BATIMETRI UNTUK KEPERLUAN PENENTUAN RUTE PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT (STUDI KASUS: PIPA GAS PT. PGN DI PERAIRAN TANJUNG PRIOK)
Survei batimetri merupakan suatu proses pengukuran kedalaman dasar laut dimana dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, salah satunya adalah untuk penentuan rute pemasangan pipa bawah laut. Rute pipa bawah laut dibutuhkan untuk informasi dalam pemasangan pipa bawah laut sebagai sarana transportasi yang efektif dan efisien untuk pendistribusian minyak bumi dan gas. Dalam survei batimetri ini data yang diperoleh meliputi data kedalaman dan posisi titik fiks perum di Perairan Tanjung Priok serta data pengamatan pasut di Pulau Damar. Pengolahan data diawali dengan melakukan pengolahan data kedalaman yang bereferensi terhadap data pasut Pulau Damar. Hasilnya berupa peta batimetri atau kontur kedalaman. Kemudian dengan menggunakan peta batimetri tersebut dibuat desain rute pipa bawah laut yang diperoleh dari data kontur kedalaman dan data kemiringan (slope). Desain rute pipa tersebut dibuat secara konvensional (manual) pada ArcGIS melalui beberapa kombinasi rute pipa. Rute pipa tersebut harus memenuhi tiga kriteria pemilihan rute pipa bawah laut, yaitu: rute pipa yang akan ditentukan harus aman; memudahkan proses pemasangan pipa; dan mempunyai rute terpendek. Dari kombinasi rute pipa dipilih desain rute pipa bawah laut terbaik yang memenuhi kriteria di atas. Berdasarkan hasil pengolahan data, rencana rute pipa yang telah memenuhi kriteria pemilihan rute pipa bawah laut dapat dilihat dari data batimetri dan data kemiringannya. Rencana rute pipa bawah laut terbaik dalam survei ini merupakan rute pipa yang mendekati tengah koridor survei, dengan rute terpendek memiliki panjang rute 23.899 km.
PERHITUNGAN FAKTOR BIAYA DALAM PENENTUAN LOKASI POTENSIAL UNTUK DIKONVERSIKAN MENJADI HUTAN GUNA MENGURANGI POTENSI BENCANA BANJIR AREA STUDI: DAS CISADANE
Banjir dapat terjadi apabila debit air melebihi kemampuan sungai untuk untuk menampung air. Salah satu upaya untuk mencegah banjir adalah dengan cara melakukan pengadaan hutan untuk mengurangi besarnya debit air sungai. Upaya pengadaan hutan dilakukan melalui proses konversi lahan yang membutuhkan biaya tertentu. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, penelitian perlu dilakukan terkait dengan jumlah penurunan debit yang dihasilkan dan biaya konversi yang dibutuhkan. Beberapa skenario pengadaan hutan dibuat berdasarkan kriteria-kriteria dari komponen pengendali debit air sungai dan dari faktor biaya. Kemudian dilakukan simulasi untk menghitung debit yang dihasilkan dari skenario-skenario tutupan lahan tersebut menggunakan suatu model hidrologi spasial dan dilakukan estimasi terhadap biaya konversi lahan yang dibutuhkan. Kemudian dianalisis bagaimana skenario-skenario tersebut dapat menghasilkan penurunan debit dengan biaya yang optimal. Hasilnya tidak selalu skenario dengan biaya yang tinggi menghasilkan penurunan debit yang tinggi juga atau sebaliknya. Tiap-tiap skenario memiliki nilai rasio penurunan debit per biaya ganti rugi yang bervariasi. Nilai ini dapat dijadikan sebagai indikator untuk menentukan skenario yang paling optimal untuk mengurangi debit air sungai dengan biaya yang dibutuhkannya.
SURVEY PEMETAAN BANGUNAN MENGGUNAKAN TLS UNTUK MENDUKUNG KADASTER 3-DIMENSI (Obyek Studi: Apartemen The Suites at Metro, Bandung)
Pertambahan jumlah penduduk membuat kebutuhan tempat tinggal bertambah, sehingga dibutuhkan bangunan permukiman ke arah vertikal. Bangunan vertikal seperti apartemen atau rumah susun merupakan bangunan diatas satu persil dengan beberapa kepemilikan. Satuan rumah susun (sarusun) dalam pendaftaran tanah masih menggunakan gambar rencana dalam penetapan batas sarusun. Pada kenyataannya, obyek nyata belum tentu sama dengan gambar rencana. Perlu dilakukan as-built survey. As-built survey merupakan survey pemetaan bangunan existing. Survey pemetaan bangunan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi Terestrial Laser Scanning (TLS). Melalui survey pemetaan bangunan ini diperoleh model dan geometri obyek 3D bangunan yang digunakan untuk mendukung kadaster 3D. Electronic Total Station (ETS) digunakan untuk mendapatkan data koordinat berupa titik referensi sebagai titik awal pengukuran TLS. Survey pemetaan bangunan dengan menggunakan TLS dilakukan dengan cara memindai obyek bangunan dari beberapa titik tempat berdiri alat. Tahap pengolahan data yang dilakukan, yaitu registrasi dengan metode natural point feature baik secara sekaligus maupun bertahap, filtering, georeferencing, wrapping. Pemodelan 3D diperoleh melalui proses wrapping dengan menggunakan perangkat lunak Geomagic. Analisis dilakukan dengan membandingkan galat registrasi dengan ketelitian posisi alat baik pada registrasi sekaligus dan bertahap. Selain itu, dilakukan analisis terhadap jarak hasil ukuran pada mesh model dan jarak hasil ukuran ETS yang dianggap benar. Hasil yang didapat adalah model 3D obyek bangunan. Pada registrasi sekaligus diperoleh galat registrasi melebihi 0.006m. Perlu dilakukan pemilihan ulang titik-titik ikat. Pada registrasi bertahap, di setiap tahap diperoleh galat registrasi yang lebih kecil dari 0.006m. Hasil ukuran jarak pada mesh model sama dengan hasil ukuran jarak ETS.
ANALISIS METODE TRANSFORMASI KOORDINAT SUMUR MINYAK DAN GAS BUMI DI WILAYAH KENALI ASAM, JAMBI
Kegiatan eksplorasi pada wilayah Kenali Asam,Jambi dilakukan sejak jaman belanda yang saat ini telah diserahkan kepada PT.Pertamina. Peninggalan kegiatan eksplorasi tersebut berupa sumur-sumur migas yang dokumentasi koordinatnya berupa posisi koordinat toposentrik. Dalam dokumentasi tersebut tidak dicantumkan sistem referensi koordinat yang digunakan. Saat ini sebagian sumur sudah diukur ulang menggunakan GPS. Pengukuran GPS dilakukan untuk mendapatkan posisi pada koordinat tanah yang saat ini digunakan yaitu WGS 1984, sehingga sebagian sumur tersebut dapat digunakan sebagai titik sekutu pada proses transformasi koordinat. Oleh karena itu dibutuhkan analisis datum dan penentuan metode transformasi koordinat dan datum yang paling cocok pada daerah tersebut. Tugas akhir ini dibuat agar dapat menyelesaikan masalah tersebut untuk dapat dibuat petanya dengan sistem koordinat tanah WGS 1984. Metodologi yang digunakan pada tugas akhir ini adalah menentukan kelayakan dan persebaran titik sekutu, mentransformasi menggunakan metode transformasi 2 dimensi dan 3 dimensi diantaranya: Metode Helmert, Affine, dan Bursa-Wolf, guna mendapatkan metode yang paling cocok pada daerah tersebut, mendefinisikan sistem referensi yang digunakan pada saat itu untuk transformasi datum 3 dimensi Bursa-Wolf. Setelah itu dilakukan analisis hasil transformasi menggunakan citra fotogrametri dan metode statistik Chi-square. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut, elipsoid referensi yang digunakan adalah elipsoid Bessel 1841 dengan metode transformasi paling cocok adalah transformasi 2D Affine. Ini terlihat dari kesesuaian posisi pada citra fotogrametri ,residu pergeseran pada sumbu X dan Y yang bernilai kecil, dan lulus uji statistik Chi-square.