📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMODELAN 3D PATUNG PEMUDA MEMBANGUN DI JAKARTA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER
Monumen atau patung bersejarah memiliki fungsi sebagai simbol untuk memperingati hari bersejarah, penambah estetika kota, motivator masyarakat, dan penghargaan terhadap pahlawan. Keberadaan monumen dan patung bersejarah harus dijaga kelestariannya. Salah satu cara untuk pelestarian monumen atau patung bersejarah adalah membuat dokumentasi monumen dengan metode pemodelan 3D menggunakan teknologi Terrestrial Laser Scanning (TLS). TLS adalah sebuah teknologi laser scanner yang sangat mendukung dalam pemodelan kembali bentuk obyek buatan manusia dalam bentuk 3D. Dalam Tugas Akhir ini dilakukan pemindaian untuk pendokumentasian Patung Pemuda Membangun yang dilakukan pada september 2013 di Jakarta. Pemindaian dilakukan pada 5 tempat berdiri alat yang diletakan di sekitar area patung dengan fitur yang digunakan all scan dan high resolution. Data hasil pemindaian berupa kumpulan point clouds yang memiliki nilai koordinat. Langkah yang dilakukan dalam melaksanakan pemodelan 3D obyek ini adalah regristrasi data, filterisasi data, pembuatan model 3D obyek dalam perangkat lunak geomagic.Pada model 3D yang dihasilkan nilai galat registrasi sebesar 0 - 0.004 m. Dalam model 3D juga masih terdapat hole yang disebabkan kurang rapatnya point clouds sehingga dibutuhkan proses hole filling. Selain terdapat hole pada model 3D, api yang berada di atas patung tidak menyambung dengan wadah yang dibawa patung yang disebabkan karena tingginya patung sehingga bagian atas patung menjadi blindspot yang tidak dapat terpindai. Kekosongan pada bagian atas patung dapat diisi dengan menggunakan proses add vertex. Pada hasil ukuran TLS dihasilkan tinggi patung sebesar 17,169 m dari api sampai kaki patung, 23.039 m dari api sampai bagian bawah patung, luas 494.811 m2, dan Volume 164.709 m3. Pada Tugas Akhir ini model 3D Patung Pemuda Membangun berhasil dibuat.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) UNTUK REKONSTRUKSI TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP) SERTA MENGHITUNG KECEPATAN KENDARAAN PADA KECELAKAAN LALU LINTAS
Indonesia mengalami peningkatan kepemilikan kendaraan bermotor mencapai sembilan juta unit dari tahun 2011 sampai 2012 (bps.go.id). Salah satu permasalahan yang dihadapi tentang kendaraan bermotor adalah kecelakaan lalu lintas. Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2012, terdapat kecelakaan sejumlah 117.949. Dalam penanganan kasus kecelakaan lalu lintas, Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) masih menggunakan metode konvensional dalam pengumpulan data seperti foto, sketsa dan pengukuran menggunakan pita ukur untuk keperluan rekonstruksi Tempat Kejadian Perkara (TKP). Salah satu metode baru untuk penanganan kecelakaan lalu lintas adalah dengan pemodelan 3D menggunakan Terrestrial Laser Scanner. Pengolahan data meliputi registrasi, filterisasi, pembuatan model 3D serta pengukuran perubahan bentuk kendaraan. Setelah terbentuknya model 3D, model simulasi mengenai rekonstruksi TKP dapat dibuat dengan data tambahan cerita saksi mata bagaimana kecelakaan tersebut terjadi. Dari hasil pengukuran perubahan bentuk kendaraan, dapat ditentukan kecepatan kecelakaan menggunakan hukum elastisitas dan kekekalan usaha. Melalui hasil hitungan didapatkan pendekatan kecepatan dalam kecelakaan lalu lintas sebesar 116,3702 km/jam. Pemodelan 3D dapat dilakukan dan kemudian dilanjutkan menjadi model simulasi rekonstruksi TKP.
MAPPING OF OCEAN CURRENT FOR FEASIBILITY STUDY OF MICRO-SCALE MARINE CURRENT TURBINE (STUDY CASE: KEPULAUAN SERIBU)
Renewable energy is an alternative energy to replace fossil fuel. One example of renewable energy is marine current which can produce electricity by using marine current turbine. This study is conducted to create marine current probabilities map for feasibility study of micro-scale marine current turbine in Pramuka, Karya, Panggang, and Semak Daun Islands. This turbine needs current speed that exceeds 0.3 m/s to move the rotor. This map is made by using marine current speed data for a year. The marine current speed data are obtained by a hydrodynamic model. This model represents natural ocean phenomena, such as marine current, wave, and surface elevation. Based on tidal and current verification one can decide whether a hydrodynamic model is good enough. Statistical processing was done to produce probability value of marine current that exceeds 0.3 m/s from the extracted marine current data based on the hydrodynamic model. The probability value will be used in map making. The result of this study is marine current probability map which shows the accumulative duration of one particular marine current speed. The duration of current speeds that exceed 0.3 m/s is around 14-18 days in a year. Thus, installing marine current turbine in the study area is not effective.
KAJIAN PENETAPAN NJOP PBB-P2 UNTUK KOTA BANDUNG
Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD), PBB Pedesaan dan Perkotaan (disingkat PBB-P2) diserahkan pengelolan pemungutannya kepada Kabupaten/Kota untuk menjadi Pajak Daerah. Dasar pengenaan PBB-P2 adalah Nilai Jual Objek Pajak atau biasa disingkat NJOP. Seiring dengan beralihnya kewenangan pemungutan PBB-P2, dipandang perlu dilakukan kajian terhadap NJOP di Kota Bandung. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengakomodir hal-hal tersebut sebagai langkah lanjutan Pemerintah Kota Bandung dalam mempersiapkan pemungutan PBB-P2 di awal tahun 2014. Literatur penelitian ini bersumber dari sejumlah tulisan ilmiah, serta peraturan perundang-undangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Quickbird wilayah kota Bandung, Peta Rencana Pola Ruang Kota Bandung 2011-2031, Peta Tata Guna Lahan Eksisting Tahun 2011, dan Peta Analisa Kelas Tanah tiap kelurahan. Adapun 5 kelurahan yang diteliti pada penelitian ini adalah Kelurahan Citarum, Kelurahan Pasir Jati, Kelurahan Hegarmanah, Kelurahan Pasirluyu dan Kelurahan Cisaranteun Kidul. Pengolahan serta pengidentifikasian tentang data yang berkaitan dengan penentuan NJOP PBB-P2 dilakukan dengan menggunakan software Arcmap 10 dengan hasil berupa overlay antara peta tata ruang dengan peta analisa kelas tanah. Dan, berdasarkan Tabel Kenaikan NJOP dari tahun 2000 hingga tahun 2007, dilakukan perhitungan proyeksi NJOP dengan menggunakan prinsip perhitungan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil analisis prediksi kenaikan NJOP tahun 2000, 2004 dan 2007 kenaikan nilai NJOP di lima kelurahan yaitu Kelurahan Citarum (61%), Kelurahan Pasir Jati (70%), Kelurahan Hegarmanah (64%), Kelurahan Pasirluyu (75%) dan Kelurahan Cisaranteun Kidul (72%). Nilai rata-rata kenaikan terhadap kelima kelurahan adalah 68%.
PENENTUAN LAT (LOWEST ASTRONOMICAL TIDE) BERDASARKAN PERIODE WAKTU PENGAMATAN PASUT
LAT (Lowest Astronomical Tide) adalah datum vertikal yang direkomendasikan oleh IHO (International Hydrographic Organization). IHO menyatakan bahwa LAT didapatkan dari prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan data pengamatan minimal selama 12 bulan atau dengan metode lain yang terbukti dapat memberikan hasil yang dapat diandalkan. Pernyataan IHO tersebut menunjukkan bahwa belum ada metode yang baku dalam penentuan LAT khususnya dalam hal panjang data pengamatan. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan selisih nilai LAT pendekatan terhadap nilai LAT dari data pengamatan 12 bulan. LAT pendekatan adalah LAT yang didapatkan berdasarkan data pengamatan di bawah satu tahun. Data pengamatan pasut yang digunakan adalah data pasut Batam, Tarakan, dan Ambon. LAT ditentukan dengan cara melakukan analisis harmonik untuk mencari komponen pasut, kemudian diprediksi selama 18,6 tahun dan dicari nilai ketinggian muka air terendahnya. Pada penelitian ini didapatkan selisih nilai LAT pendekatan dari variasi panjang data pengamatan terhadap nilai LAT 12 bulan. Penyimpangan yang didapatkan adalah 0,5 cm hingga 11,4 cm di daerah Batam, 28,9 cm hingga 79,8 cm di daerah Tarakan, dan 4,2 cm hingga 53,0 cm di daerah Ambon. Nilai pergeseran garis pantai terbesar akibat selisih dari nilai LAT tersebut adalah 45,7 m dan terkecil adalah 0,002 m.
KAJIAN PEMBIAYAAN DALAM PEKERJAAN PENGUKURAN DAN PERPETAAN OBJEK RUANG PERAIRAN (STUDI KASUS : HOTEL PANTAI GAPURA KOTA MAKASSAR)
Perkembangan infrastruktur berkembang dengan begitu pesat, tidak hanya di atas dan di bawah tanah, tetapi telah berkembang bangunan-bangunan di atas perairan (danau, sungai, dan laut). Pengukuran terhadap objek ruang perairan dirasa sudah perlu untuk dilakukan dalam menjawab masalah ini. Akan tetapi tarif dalam pengukuran ruang perairan yang diatur dalam PP No 13 Tahun 2010 tentang PNBP sebesar 300 % dari tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah dianggap belum mencukupi. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan kajian terhadap aspek biaya dalam melakukan pengukuran dan perpetaan objek ruang perairan. Pada tugas akhir ini dilakukan pengkajian mengenai aspek biaya dalam melakukan pengukuran dan perpetaan objek ruang perairan untuk mengetahui berapa besar tarif pengukuran objek ruang perairan yang sesuai. Pada perhitungan biaya aspek yang dihitung biaya peralatan dan tenaga kerja (personil) meliputi biaya pengukuran yaitu pembuatan TDT-RP, pengamatan pasut, pengukuran detail dan pengukuran kedalaman. Sedangkan perpetaan dimulai dari pengolahan data GPS, pasut, topografi, dan batimetri sampai perpetaan menggunakan CAD. Dilakukan juga perkiraan biaya akomodasi dan transportasi sebagai pendukung dalam penyelenggaraan pengukuran dan perpetaan objek ruang perairan. Tujuan dari kajian tugas akhir ini dapat dijadikan masukan bagi Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dari hasil perkiraan biaya yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pengukuran objek ruang perairan membutuhkan biaya yang lebih besar melebihi 300% yaitu pada perkiraan biaya di Makassar mencapai 2460%. Jumlah personil yang dibutuhkan lebih banyak serta dalam menetukan metode pengukuran objek ruang perairan dipengaruhi karakteristik daerah pengukuran.
ANALISIS PERUBAHAN PEMANFAATAN KAWASAN PESISIR KECAMATAN PANGKAJENE, KABUPATEN PANGKEP, PROVINSI SULAWESI SELATAN PADA TAHUN 2010-2012 TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH
Pangkajene merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Pantai Selat Makassar dan merupakan kawasan pesisir yang spesifik dan rentan terhadap perubahan lingkungan fisik dikarenakan wilayah pesisir merupakan pusat aktivitas kegiatan perekonomian. Kecamatan ini setiap tahun mengalami pembangunan dan mengakibatkan beberapa perubahan pemanfaatan lahan. Perubahan pemanfaatan lahan harus diusahakan tidak mengorbankan kepentingan umum, tidak saling mengganggu penggunaan lahan sekitarnya, memenuhi asas keberlanjutan, memperhatikan asas keadilan, dan sesuai dengan arahan peruntukan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan lahan dengan menampilkan visualisasi perubahan dan kesesuaian penggunaan lahan dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) berupa peta. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah melakukan pengolahan data spasial dan data tekstual. Pengolahan data spasial dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Sistem Informasi Geografik (SIG) dan data tekstual dengan perangkuman data. Hasil pengolahan data berupa peta perubahan penggunaan lahan, kesesuaian penggunaan lahan, dan dokumen yang mendukung analisis. Hasil peta perubahan penggunaan lahan tahun 2010-2012 menunjukkan bahwa sebesar 5,93 Ha atau 0,13% dari total luas wilayah Kecamatan Pangkajene mengalami perubahan penggunaan lahan. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada tahun 2010-2012 merupakan konversi lahan pertanian menjadi permukiman, dimana perubahan penggunaan lahan sebesar 5,67 Ha tidak sesuai dengan RTRW. Penggunaan lahan tahun 2012 yang sesuai dengan RTRW sebesar 2595,29 Ha atau 56,82% dari total luas wilayah Kecamatan Pangkajene. Kesesuaian penggunaan lahan harus terus ditingkatkan agar tidak mengganggu rencana pembangunan daerah tersebut. Peningkatan kesesuaian penggunaan lahan dengan RTRW dapat dilakukan dengan beberapa kebijakan.
SURVEI PEMETAAN MENGGUNAKAN ALAT BERTEKNOLOGI LASER SCANNING UNTUK MENDUKUNG INFORMASI SPASIAL 3D
Berkembangnya zaman, menyebabkan informasi spasial 3D sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Keperluan tersebut dibutuhkan dengan cepat sehingga survei pemetaan dituntut agar lebih cepat. Survei pemetaan dilakukan dengan menggunakan alat Terrestrial Laser Scanner (TLS) dapat menjawab kebutuhan tersebut. TLS merupakan alat baru yang memiliki metode tersendiri. Alat tersebut mampu merekam titik dalam jumlah besar dengan akurasi tinggi dan waktu yang relatif singkat, sehingga memberikan dampak cost survei yang lebih murah, serta hasilpengukuran berupa titik-titik dalam sistem koordinat 3D (x,y,z). TLS memilikikomponen-komponen canggih di dalamnya, termasuk kamera, serta menggunakan metode Terrestrial Laser Scanning, menjadikan TLS sebagai alat survei yang efisien. Dalam proses penelitian, dilakukan pengumpulan data titik kontrol hasil pengukuran GPS dan pemindaian objek jalan dan persil. Tahap pengolahan data yang dilakukan berupa registrasi dengan metode registration natural point feature, filtering,georeferencing dengan metode tidak langsung pendekatan dua tahap, dan modeling. Hasil yang diperoleh berupa model solid 3D. Analisis yang dilakukan adalah tingkat kedetailan model yang dibandingkan dengan tingkat kedetailan dari foto, selain itu ukuran jarak pada model solid 3D yang dibandingkan dengan ukuran jarak menggunakan distometer. Dilakukan uji statistik t-student untuk mengetahui ukuran jarak rata-rata pada model solid 3D sama dengan ukuran jarak rata-rata distometer. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu survei pemetaan menggunakan TLS dapat membuat model 3D objek jalan dan persil, ukuran jarak pada model solid 3D sama dengan ukuran jarak di lapangan, dan tingkat kedetailan model mencapai 3 (LOD3)
PEMETAAN INDEKS KERENTANAN WILAYAH PESISIR TERHADAP ABRASI DALAM PERSPEKTIF PERENCANAAN PEMBANGUNAN (WILAYAH STUDI : KECAMATAN MUARA GEMBONG)
Muara Gembong merupakan salah satu kecamatan yang terletak di pantai utara Provinsi Jawa Barat dan terkena dampak dari adanya fenomena abrasi. Abrasi merupakan fenomena berubahnya garis pantai akibat terkikisnya daerah pantai. Fenomena ini merupakan hal yang cukup serius karena menyebabkan berkurangnya lahan yang ada di kecamatan tersebut. Untuk mengetahui seberapa rentan desa yang ada di Kecamatan Muara Gembong terhadap abrasi, maka perlu dilakukan pemetaan indeks kerentanan pesisir terhadap abrasi (IKPA) di daerah tersebut. Nilai IKPA pada wilayah pesisir didapat dengan mengklasifikasikan variabelvariabel indeks kerentanan terhadap abrasi berdasarkan nilai kelasnya dan kemudian nilai kelas tersebut dikali dengan nilai bobot masing-masing variabel. Variabel ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu variabel fisik dan variabel non fisik. Variabel fisik terdiri dari tunggang pasut maksimum, kecepatan arus maksimum, tinggi gelombang signifikan, sudut datang gelombang dominan terhadap garis pantai, kemiringan topografi, jenis sedimen, jenis tutupan lahan, curah hujan, dan kecepatan angin rata-rata. Sedangkan variabel non fisik terdiri dari kepadatan penduduk, harga tanah, produktivitas lahan, dan nilai location quotient (LQ). Hasil penghitungan nilai indeks disajikan dalam bentuk tabel dan peta kerentanan.Hasil penelitian tugas akhir ini menunjukan bahwa 3 (tiga) dari 5 (lima) desa di Kecamatan Muara Gembong berada dalam kondisi rentan berdasarkan variabel fisik dan variabel gabungan fisik dan non fisik. Jika berdasarkan variabel non fisik saja, semua desa pesisir di kecamatan tersebut berada dalam kondisi rentan.
PEMANTAUAN LONGSORAN DI KAWASAN CILOTO (CIANJUR) MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER
Fenomena longsor merupakan hal yang sering terjadi di Jawa Barat. Salah satu tempat yang paling sering mengalami longsor adalah di daerah Ciloto, Puncak. Diawali pada tahun 1988, kejadian longsor Ciloto mengakibatkan penurunan permukaan jalan yang diikuti dengan pergerakan tanah hingga lebih dari 1,5 meter dan terus diikuti dengan longsor yang berakhir di sungai Cijember (Sadarviana, 2006). Maka dari itu, selain untuk mengetahui besarnya longsoran yang terjadi, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui manfaat apa saja yang didapat dalam memantau longsoran menggunakan TLS Inti dari pengamatan deformasi dan longsoran dalam bidang geodesi adalah menghitung pergeseran atau perpindahan titik atau objek yang diamati. Oleh karena itu, pengamatan longsor dengan menggunakan teknologi laser scanner harus ada dua data pengamatan yang diambil dalam rentang waktu tertentu agar dapat ditentukan nilai longsorannya. Setelah keduanya melalui proses registrasi, filtering, dan modeling, kita dapat membandingkannya dan mendapatkan nilai pergerakan tanah yang terjadi. Hasil yang didapat, dalam selang 6 bulan (April 2012- Oktober 2012), daerah Ciloto mengalami pergeseran tanah rata-rata sebesar 4mm dan pergeseran tanah maksimum 13mm. Hal ini menunjukan daerah Ciloto masih mengalami longsor sampai saat ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa melakukan pemantauan dengan menggunakan terrestrial laser scanner memberikan beberapa manfaat, antara lain pemantauan dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan hasil yang diperoleh dapat merepresentasikan pergerakan longsor yang terjadi.
IMPLEMENTASI KONSERVASI GUMUK PASIR D.I YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI PENGELOLAAN PESISIR SECARA TERPADU DAN DPSIR
Wilayah pesisir memiliki potensi ekosistem dan bentukan alam yang unik, salah satu contohnya adalah gumuk pasir yang terletak di pesisir Parangtritis, D.I Yogyakarta. Agar bentukan alam ini dapat lestari, pemerintah berencana mencanangkan status konservasi untuk gumuk pasir karena gumuk tersebut merupakan satu-satunya yang berada di Indonesia dan salah satu dari sedikit gumuk pasir Barchan di dunia. Dengan status konservasi tersebut berakibat positif yaitu wilayah pesisir Parangtritis akan dikelola secara terpadu (integrated coastal management). Agar pengelolaan dapat berjalan dengan baik, selanjutnya diperlukan identifikasi dalam perspektif pengelolaan pesisir secara terpadu serta solusinya. Salah satu metodenya dengan menggunakan kerangka kerja DPSIR (Drivers, Pressures, State, Impact, Responses). Tahap pertama dalam proses ini adalah identifikasi komponen dan subkomponen pengelolaan pesisir secara terpadu dalam perspektif permasalahan yang terjadi di sekitar gumuk pasir. Tahap selanjutnya mengintegrasikan komponen-komponen tersebut dengan DPSIR untuk mengetahui penyebab, tekanan, keadaan, dampak, dan sikap terhadap permasalahan. Integrasi dilakukan dengan membentuk matriks korelasi. Setelah diketahui korelasinya dengan DPSIR, kemudian dapat diketahui sikap atau tindakan teknologis yang tepat untuk mengatasi permasalahan. Agar tindakan teknologis lebih efektif dan tepat sasaran perlu dilakukan pendekatan secara geospasial. Dari tugas akhir ini ditemukan bahwa permasalahan dalam perspektif konservasi gumuk pasir memiliki tindakan teknologis yang berbeda pula, dan dengan menggunakan pendekatan geospasial diharapkan tindakan teknologis dapat lebih tepat sasaran.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNING) UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI KERUCUT SINDER GUNUNG GALUNGGUNG
Penelitian ini berfokus pada konsep dasar, prosedur, dan pemantauan deformasi kerucut sinder (cinder cone) Gunung Galunggung dengan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanning (TLS). Pemantauan deformasi dengan menggunakan titik kontrol yang selama ini biasa digunakan tidak merepresentasikan zona deformasi secara keseluruhan. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi TLS. Saat ini penelitian tentang pengamatan deformasi gunungapi yang dikaitkan pada aktifitas kegiatan vulkanik dengan menggunakan TLS belum banyak dilakukan. Permasalahan dalam pengamatan deformasi ini juga belum banyak diketahui. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk menjawab hal tersebut. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, mengolah data TLS, dan membandingkan model tiga dimensi (3D) untuk menginterpretasikan deformasi kerucut sinder dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2012 dan September 2012. Model 3D dari kedua kala kemudian dibandingkan untuk memperoleh kisaran nilai vektor deformasi serta volume permukaan kerucut sinder. Hasil akhir yang diperoleh berupa model deformasi 3D kala kedua terhadap kala pertama. Dari hasil penelitian ini didapat estimasi volume kala pertama sebesar 21.635,19 m3 dan kala kedua sebesar 21.513,15 m3 serta rentang deformasi umumnya sebesar 2,6 cm. Hasil pemodelan morfologi 3D dari pengukuran TLS dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi kerucut sinder Gunung Galunggung. Hasil pemodelan pada kedua kala menunjukkan adanya nilai deformasi. Namun demikian pada pemodelan tersebut masih memiliki galat karena permukaan objek yang tidak konsisten akibat gangguan dari vegetasi. Vektor deformasi yang diperoleh mempunyai nilai yang relatif lebih besar dibandingkan dengan hasil GPS. Hal ini disebabkan adanya perbedaan cara dan kondisi lingkungan pada saat pengambilan data kala pertama dan kedua. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mitigasi bencana dan mengetatahui permasalahan yang ada pada pemantauan deformasi gunungapi menggunakan TLS.
KAJIAN TENTANG WILAYAH ENKLAVE PROVINSI OEKUSI TIMOR LESTE DALAM KAITANNYA DENGAN BATAS LAUT INDONESIA DAN TIMOR LESTE
Indonesia berbatasan darat dan laut dengan Timor Leste. Sampai saat ini perundingan antara RI (Republik Indonesia) dan RDTL (Republik Demokratik Timor Leste) belum sampai pada batas lautnya. Penulisan Tugas Akhir ini menitikberatkan pada penetapan garis batas laut teritorial Provinsi Oekusi, Timor Leste. Metodologi yang digunakan dalan menentukan garis batas wilayah Laut Teritorial Enklave Oekusi Timor Leste dimulai dari identifikasi penggunaan garis pangkal kedua Negara. Indonesia sebagai Negara Kepulauan dapat menggunakan garis pangkal lurus, sedangkan Oekusi Timor Leste hanya garis pangkal normal. Prinsip yang digunakan dalam penarikan garis tengah adalah prinsip ekuidistan konsep lingkaran antara Baseline Indonesia dengan Basepoint Oekusi Timor Leste. Hasil yang didapat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah koordinat-koordinat titik pembentuk garis batas laut teritorial antara Indonesia dan Oekusi – Timor Leste di Laut Sawu.
PEMBANGUNAN MODEL DISTRIBUSI POPULASI PENDUDUK DENGAN SISTEM GRID SKALA RAGAM (STUDI KASUS : DKI JAKARTA)
Jumlah penduduk DKI Jakarta yang hingga kini semakin bertambah pesat mengharuskan adanya sarana yang mudah digunakan untuk mengontrolnya. Salah satu sarana yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan model distribusi populasi penduduk dengan menggunakan sistem grid skala ragam. Resolusi grid yang digunakan pada penelitian ini adalah 5” x 5” (0.155 x 0.155 km) dengan wilayah penelitian berada di wilayah DKI Jakarta. Dengan sistem grid ini, maka nilai densitas populasi penduduk tersebut tersedia dalam grid yang dibutuhkan. Untuk dapat memodelkannya, dibutuhkan data landuse/landcover, data batas administrasi tingkat kecamatan, data jumlah penduduk DKI Jakarta, dan model matematis yang digunakan untuk mendapatkan nilai densitas setiap gridnya. Pada model matematis tersebut terdapat parameter bobot untuk setiap kelas lahan. Selain itu, banyaknya kelas lahan pada suatu kecamatan juga mempengaruhi nilai densitas populasi penduduk untuk setiap grid. Dengan sistem grid ini, densitas populasi penduduk tersebut dapat dimodelkan dan divisualisasikan dengan menggunakan perbedaan warna dalam bentuk peta agar pengguna dapat mendapatkan informasi populasi penduduk di suatu wilayah dengan lebih mudah.
PEMODELAN 3D MONUMEN BANDUNG LAUTAN API MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER
Pada umumnya proses pendokumentasian dan pengarsipan suatu bangunan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan masih berupa foto atau peta yang tergambarkan secara 2D. Dengan berkembangnya teknologi TLS (Terrestrial Laser Scanner) mengakibatkan aplikasi pembuatan model 3D suatu bangunan berkembang pesat. Hal ini diikuti dengan pemanfaatan TLS dalam hal pendokumentasian dan pengarsipan bangunan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan. Selain memberikan model 3D suatu obyek, pemodelan 3D menggunakan TLS juga dapat menghasilkan model yang bergeoreferensi dalam sistem tertentu. Tahapan pengolahan data untuk memperoleh model 3D dengan TLS meliputi tahapan registrasi, filterisasi, georeferensi, meshing dan pembentukan surface. Tahap registrasi dilakukan untuk menggabungkan data hasil pemindaian dari beberapa tempat berdiri alat. Tahap filterisasi dilakukan untuk membuang data point clouds yang dianggap sebagai noise. Tahap georeferensi dilakukan untuk menghubungkan data point clouds ke dalam sistem koordinat ekstenal. Proses meshing dilakukan agar model space yang berupa point clouds menjadi data berupa poligon yang diwakili oleh bentuk TIN (Triangulated Irregular Network). Tahap pembuatan surface dilakukan untuk merubah mesh model yang diwakili oleh bentuk TIN menjadi bentuk surface. Pada model 3D yang dihasilkan nilai galat rata-rata sebesar 0.002 m. Nilai galat ini dihasilkan setelah melalaui proses registrasi. Pada mesh model yang terbentuk pada proses meshing terdapat lubang (hole). Lubang ini diakibatkan karena kurang rapatnya data point clouds pada daerah tersebut. Pada proses georeferensi yang dilakukan dengan metode secara langsung yang menggunakan dua buah titik referensi, terdapat perbedaan koordinat tititk referensi pada saat sebelum dan setelah proses georeferensi.