📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS SPASIAL UNTUK IDENTIFIKASI POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI WILAYAH JAWA BARAT, INDONESIA
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) merupakan salah satu teknologi untuk menyediakan listrik secara mandiri bagi suatu daerah. Jawa Barat dengan kondisi topografi yang memiliki banyak aliran sungai merupakan wilayah yang potensial untuk membangun PLTMH. Pemodelan berbasis SIG (Sistem Informasi Geografis) ini dilakukan sebagai pendekatan untuk menentukan lokasi potensi PLTMH per bulan di wilayah Jawa Barat. Pemodelan ini menggunakan perhitungan potensi PLTMH dengan menggunakan data beda tinggi suatu aliran sungai (head) dan debit aliran sungai. Nilai beda tinggi pada aliran sungai ini akan dimodelkan menggunakan data DEM (Digital Elevation Model) yang didapat dari data SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) 90 M wilayah Jawa Barat. Sedangkan nilai debit didapatkan dari perhitungan Rational Method yang akan menghasilkan nilai debit pada suatu outlet per satuan waktu. Hasil yang didapat, terdapat 37 titik potensial PLTMH di Jawa Barat. Lokasi paling potensial untuk membangun PLTMH terletak pada koordinat geodetik 107,8346 BT ; 6,68285 LS.
STUDI PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI BLOK REM KOMPOSIT UNTUK KERETA API
Moda transportasi kereta api menjadi salah satu jenis transportasi darat yang cukup penting di Indonesia, sebab merupakan transportasi massal yang diminati oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan keretap api memiliki kapasitas angkut yang cukup besar, efisien serta kelancaran transportasi dibandingkan moda angkutan lain. Data yang diperoleh dari PT Kerea Api Indonesia (PT KAI) menunjukkan bahwa jumlah total penumpang yang diangkut oleh kereta api selama tahun 2010 adalah 200.035 juta orang sedangkan untuk total barang adalah 20 juta ton. Tingginya minat masyarakat akan penggunaan kereta api ini haruslah diimbangi dengan sistem keamanan yang memadai. Salah satu sistem keamanan yang memegang peranan penting dalam sistem keselamatan penumpang adalah sistem pengereman. Komponen sistem rem ini harus secara rutin dirawat agar sistem pengereman berfungsi dengan baik. Komponen utama yang memegang peranan utama dalam sistem pengereman adalah blok rem. dan blok rem ini secara periodik harus segera diganti dikarenakan pemekaian yang terus menerus menyebabkan blok rem ini aus. Metode penelitian blok rem komposit ini diawali dengan mencari karakteristik bahan penyusun blok rem produk luar melalui metode karakterisasi. Selanjutnya dari informasi awal tersebut dilakukan analisis guna mencari formulasi perkiraan awal bahan penyusun komposit yang kemudian disesuaikan dengan ketersediaan bahan lokal. Beberapa bahan penyusun dimungkinkan untuk digantikan dengan bahan lokal yang bersifat alami agar produk yang dihasilkan nantinya lebih ramah lingkungan.
PENGEMBANGAN BASISDATA DAN WEB SERVICE UNTUK SISTEM GRID SKALA RAGAM
Sistem grid skala ragam telah banyak digunakan oleh beberapa penelitian terutama tentang lingkungan. Namun pengguna sistem grid skala ragam ini masih perlu membuat grid untuk ukuran data yang dimilikinya. Oleh karenanya dikembangkanlah basis data dan service untuk sistem grid skala ragam. Geometri dari grid skala ragam ini di dibuat dengan software Matlab. Geometri ini disimpan ke dalam suatu basisdata spasial. Dari basisdata ini dikembangkan suatu web feature service sehingga sistem grid skala ragam dari basisdata ini dapat diterjemahkan dan ditransaksikan melalui web. Dengan aplikasi desktop, data yang diintegrasikan dengan basisdata pada penelitian ini dapat divisualisasikan dan dapat digunakan untuk keperluan lebih lanjut.
PEKERJAAN SURVEI HIDROGRAFI DAN PERENCANAAN ALUR PELAYARAN DALAM USAHA TRANSPORTASI HASIL PERTAMBANGAN BATUBARA (STUDI KASUS : SUNGAI KELAY, BERAU, KALIMANTAN TIMUR)
Sungai Kelay yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur merupakan salah satu sungai yang akan digunakan untuk menghubungkan alur transportasi hasil pertambangan batubara oleh PT BERAU COAL. Oleh karena itu dibutuhkan adanya sebuah kegiatan perencanaan dan pemeliharaan terhadap sungai tersebut, kegiatan yang dilakukan adalah survei hidrografi untuk perencanaan alur pelayaran. Tujuan dari kegiatan survei hidrografi ini adalah untuk mengetahui kedalaman dasar sungai, kedalaman ini akan digunakan sebagai acuan perencanaan alur pelayaran sungai untuk menunjang kegiatan transportasi hasil pertambangan batubara. Tugas Akhir ini dimulai dengan pencarian referensi yang terkait dengan pelaksanaan survei hidrografi dan perencanaan alur pelayaran sungai, lalu dilanjutkan kepada tahap pengambilan data survei hidrografi yang dilakukan meliputi: penentuan hasil posisi dengan metode Real Time Kinematic GPS, pengukuran kedalaman dengan metode akustik menggunakan single beam echosounder serta pengamatan tinggi muka air sungai menggunakan alat rekam otomatis pressure tide gauge. Setelah itu dilakukan pengolahan data dengan menggabungkan seluruh data yang didapatkan lalu direduksikan dengan koreksi yang ada. Setelah data-data tersebut selesai diolah dilaksanakan proses penyajian data dalam bentuk peta batimetri yang akan dianalisis lebih lanjut. Analisis dari hasil survei meliputi ketelitian dari survei yang dilaksanakan menurut SP 44 IHO orde 1b, analisis ketinggian muka sungai serta kelayakan alur pelayaran yang disesuaikan dengan jenis kapal yang akan melewati alur pelayaran sungai tersebut dan waktu aman pelayaran yang disesuaikan dengan variasi ketinggian muka sungai. Dengan adanya survei hidrografi untuk pekerjaan perencanaan alur pelayaran ini diharapkan adanya perencanaan dan usulan bagi pihak instansi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menciptakan keamanan dan keselamatan dari proses distribusi hasil pertambangan batubara melalui Sungai Kelay, Berau, Kalimantan Timur.
ANALISIS SPASIAL DEFORMASI TEKTONIK DI PULAU SUMATERA MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI MOVING AVERAGE
Pulau Sumatera berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedua lempeng tersebut bertabrakan di sepanjang lepas pantai Sumatera dimana lempeng Indo-Australia bergerak ke bawah lempeng Eurasia. Tumbukan tersebut menghasilkan energi dan tersimpan dalam lapisan bumi hingga mencapai batas elastisitas. Regangan yang telah melewati batas akan dilepas sebagai gempa bumi. Pemantauan deformasi Pulau Sumatera dilakukan untuk mempelajari karakteristik pergeseran dan aktivitas tektonik yang terjadi. Data vektor pergeseran hanya tersedia pada beberapa titik pengamatan. Interpolasi moving average digunakan untuk mengestimasi besarnya vektor pergeseran yang terjadi di seluruh Pulau Sumatera. Vektor pergeseran pada titik interpolasi kemudian digunakan untuk menghitung besarnya regangan yang terjadi. Model vektor pergeseran Pulau Sumatera yang dibentuk berdasarkan interpolasi menunjukkan adanya aktivitas interseismic yang ditandai dengan arah pergeseran ke timur laut dan postseismic dengan arah pergeseran ke barat daya.
ANALISIS REGANGAN DAN POTENSI BAHAYA GEMPA DISELAT SUNDA BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS 2006-2011
Di sepanjang lepas pantai barat Sumatera,Lempeng Indo-Australian menunjam di bawah Lempeng Eurasia dengan arah yang miring (~45o).Penunjaman miring tersebut mengakibatkan terbentuknya Zona Sumatera, suatu zona geser menganan, yang memanjang dari ujung utara hingga ujung selatan Pulau Sumatera. Namun di sepanjang lepas pantai selatan Pulau Jawa, Lempeng Indo-Australian menunjam Lempeng Eurasia dengan arah normal sehingga tidak terbentuk suatu zona seperti yang ada di Sumatera. Daerah Busur Muka yang merupakan daerah transisi diantara Sumatera dan Jawa, dipengaruhi oleh kondisi pergerakan lempeng kedua daerah tersebut. Daerah Busur Muka ini dapat mengalami kompresi akibat penunjaman lempeng dan juga dipengaruhi ekstensi karena pergerakan sebagian Pulau Sumatera ke arah Barat laut. Hasil analisa beberapa faktor geofisika menunjukkan adanya dominasi ekstensi di daerah busur muka. Hasil tersebut menunjukkan indikasi adanya bukaan yang menerus di daerah busur muka ini karena lempeng busur muka Sumatra, yang batas selatannya berupa Zona Sumatra, terus melaju ke arah barat laut. Sehingga juga dapat disimpulkan adanya kelanjutan Zona Sumatera sampai ke batas Palung dalam bentuk suatu sistim graben.
OPTIMASI PERANGKAT LUNAK PHOTOMODELLER SCANNER UNTUK REKONSTRUKSI TIGA DIMENSI (STUDI KASUS: WAJAH MANUSIA)
Fotogrametri rentang dapat digunakan untuk membentuk model tiga dimensi dari permukaan tubuh bagian luar manusia. Pada umumya metode pencitraan tubuh yang ada dikedokteran adalah untuk mendapatkan pencitraan organ internal manusia. Keunggulan lain dari metode fotogrametri rentang dekat adalah kemampuannya untuk melakukan pengukuran tanpa harus menyentuh objek pengukuran secara langsung. Terkait dengan Antropometri yang merupakan disiplin mengukur tubuh manusia pada bagian-bagian tertentu untuk identifikasi satu individu dengan individu yang lain. Salah satunya adalah wajah manusia. Pada bagian-bagian tertentu dari wajah manusia memiliki suatu ukuran yang tetap ketika sudah memasuki usia dewasa. Hal ini akan berguna untuk kepentingan monitoring, rehabilitasi, rekonstruksi, dan forensik. Pada penelitian ini dilakukan uji coba untuk melakukan rekonstrusi wajah dengan menggunakan metode fotogrametri rentang dekat dan dengan menggunakan satu buah kamera. Foto yang didapat kemudian diolah dengan perangkat lunak Photomodeller Scanner.
KAJIAN KELEMBAGAAN PENYELESAIAN KONFLIK BATAS LAUT DAERAH
Dalam kajian ini, penerapan petunjuk penyelesaian konflik batas laut pada UNCLOS 1982 diteliti dan diolah sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan di Indonesia. Penelitian yang dilakukan mencakup penyesuaian pihak-pihak yang terlibat dalam prosedur penyelesaian konflik batas laut UNCLOS 1982 sehingga dapat diadopsi untuk diterapkan di Indonesia. Serta pada kajian ini dilakukan pengkajian hukum-hukum yang belum sempurna, sehingga hasilnya dapat diterapkan dalam penyelesaian konflik batas laut antar daerah di Indonesia.
PROSEDUR TEKNIS PENGUKURAN DAN PERPETAAN OBJEK RUANG PERAIRAN TIGA DIMENSI
Kadaster Kelautan adalah sebuah sistem informasi menyeluruh yang memungkinkan pendefinisian, penyimpanan data, visualisasi, serta pengelolaan hak-hak di ruang kelautan. Kadaster Kelautan secara teknis dapat dijabarkan sebagai sebuah infrastruktur informasi hak-hak atas properti kelautan. Dalam studi komprehensif tentang Kadaster Kelautan, terdapat dua aspek yang mempengaruhi pelaksanaannya yaitu proses perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Aspek tersebut adalah aspek teknis (technical framework) dan aspek legal (legal aspect).Fakta menunjukkan bahwa daerah pantai dan laut lepas memiliki potensi dan signifikansi yang besar bagi kehidupan manusia di Bumi (Payoyo, 1994). Untuk itu, dibutuhkan kebijakan yang tepat guna dan komprehensif dalam pelaksanaan kegiatan ini. Lebih lagi, pembuatan perangkat teknis yang dibutuhkan ini, dalam penelitian ini dibatasi ke dalam perangkat teknis pengukuran dan perpetaan objek-objek ruang perairan. Kerangka pemikiran teknis yang berbasiskan riset adalah aspek yang akan dibahas dalam kegiatan ini.Cakupan riset yang dimaksud di sini meliputi pengukuran kerangka dasar horisontal dan pendefinisian datum vertikal sebagai aspek pembeda dengan kadaster di darat, dan penggambarannya ke dalam bentuk hybrid, yaitu kombinasi visualisasi 3D sebagai pemberi informasi posisi terhadap kedalaman dan ketinggian, dan 2D sebagai informasi detilnya. Dengan demikian, melalui prinsip ilmiah dan teknis (lewat kombinasi pengukuran surveying dan rekayasa hidrografi) dalam visualisasi hybrid yang bergeoreferensi ini, diharapkan dapat dibuat sebuah aturan yang fundamental berupa kebijakan dalam penggunaan dan pengelolaan ruang kelautan ini (Miles, 1998).
PEMODELAN DATUM DINAMIK WILAYAH KALIMANTAN
Bumi bersifat dinamis dengan segala dinamika kerak bumi seperti pergerakan lempeng, deformasi akibat mekanisme gempa bumi merupakan beberapa contoh yang memperliahatkan bumi bersifat dinamis. Berdasarkan pada wilayah negara kita sebagai salah satu daerah geodinamik dan deformasi paling aktif di dunia, hal ini mengakibatkan status geometrik titik-titik kerangka dasar pemetaan di negara kita dipengaruhi oleh proses tersebut tak terkecuali wilayah Kalimantan yang cukup stabil pun akan terkena dampak dari proses bumi geodinamika bumi. Berdasarkan fenomena diatas maka diperlukan realisasi pemodelan datum yang sesuai dengan tren pergerakan di wilayah tersebut. Tulisan ini dibuat dengan maksud melakukan pemodelan datum dinamik di wilayah Kalimantan dengan menggunakan software Euler Pole untuk melihat seberapa tren dan besar vektor kecepatan di wilayah Kalimantan, dan dilakukan pengolahan data GPS sebagai bentuk validasi.
STUDI KARAKTERISTIK PENGIKATAN JARINGAN TITIK GPS TERHADAP SERI ITRF 1994, 1996, 1997, 2000, 2005 (Studi Kasus Pengikatan Jaring GPS Sesar Lembang)
Dalam pengolahan data GPS untuk memperoleh ketelitian posisi sesuai dengan yang dibutuhkan, terdapat tahapan yang cukup penting, yaitu bagaimana teknik pengikatan data terhadap titik ikat atau titik referensi. Titik ikat tersebut dapat berupa titik kerangka referensi seperti DGN 95, WGS 84 atau ITRF (International Terestrial Reference Frame) 199X, 200X. Hasil pengikatan terhadap satu sistem kerangka referensi belum tentu sama dengan sistem kerangka referensi lainnya, dalam hal nilai maupun ketelitiannya. Sebagai contoh hasil pengikatan ke sistem DGN 95 belum tentu sama dengan WGS 84, atau ITRF 1994 belum tentu sama dengan ITRF 2000 atau ITRF 2005. Variasi nilai sangat dimungkinkan sekali terjadi diantaranya. Secara teori mungkin pengikatan ke ITRF 2005 akan memberikan ketelitian hasil yang lebih baik apabila dibandingkan dengan ITRF 1994, karena ITRF 2005 lebih stabil. Berdasarkan hal tersebut karya tulis ini dibuat. Untuk melihat korelasi dari penggunaan seri ITRF dengan hasil koordinat yang diperoleh. Dengan mengikatkan Jaring titik pantau deformasi sesar Lembang terhadap beberapa seri ITRF mulai dari ITRF 1994, 1996, 1997, 2000, dan 2005 untuk kemudian dilihat koordinat hasil pengolahannya serta implikasinya terhadap vektor pergeseran dalam studi sistem sesar (dengan studi kasus Sesar Lembang).
PENGGUNAAN PERANGKAT LUNAK SPATCOM UNTUK PENENTUAN BATAS LAUT INDONESIA (Studi Kasus : Perairan Sulawesi Utara)
Sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 17.500 lebih pulau dan 81.000 km garis pantai serta 75 persen (5,8 juta km2) wilayahnya berupa perairan laut (Laut Teritorial, Perairan Kepulauan, Perairan Pedalaman dan Zona Ekonomi Eksklusif), Indonesia memiliki batas-batas wilayah berupa perairan laut dengan 10 negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia, salah satunya dengan negara Filipina di Perairan Sulawei Utara (pulau-pulau Sangihe dengan pulau Sarangani). Oleh karena itu perlu diadakan suatu proses penetapan mengenai batas laut khususnya untuk Laut Teritorial dan Zona Tambahan. Penetapan batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan Indonesia-Filipina didasari, oleh karena belum adanya garis batas antara kedua negara tersebut. Adapun untuk membantu menentukan garis batas kedua negara, digunakan perangkat lunak SPATCOM. Namun demikian dalam proses pengerjaan batas laut ini, juga menggunakan perangkat lunak AutoCad Map untuk membantu apa saja yang belum tersedia dalam SPATCOM. Dalam penelitian ini, batas laut Indonesia-Filipina ditentukan dengan menggunakan garis pangkal kepulauan dengan prinsip ekuidistan menggunakan metode bisek dan lingkaran. Hasil akhir penelitian ini adalah peta batas laut Indonesia-Filipina yang disajikan menggunakan perangkat lunak SPATCOM.
ANALISIS PENGGUNAAN EGM2008 YANG DISESUAIKAN DENGAN MUKA AIR LAUT RATA-RATA SETEMPAT UNTUK TRANSFER ELEVASI DI DELTA MAHAKAM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan model EGM2008 yang disesuaikan dengan muka air laut rata-rata (Mean Sea Level/MSL) Delta Mahakam pada tahun 2007 (EGM-fit 2007) menyimpang terhadap MSL Delta Mahakam pada tahun 2010.
ESTIMASI POPULASI PENDUDUK BERDASARKAN ANALISIS REGRESI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS : KOTA BANDUNG)
Penginderaan jauh telah sering dimanfaatkan dalam estimasi populasi penduduk. Penelitian ini mengembangkan metode untuk estimasi populasi penduduk Kota Bandung menggunakan citra Landsat 7 ETM+ dan data penduduk tiap kecamatan Kota Bandung. Nilai band spektral citra, indeks vegetasi, dan temperatur tiap kecamatan menjadi variabel bebas untuk mengestimasi kepadatan penduduk sebagai variabel terikat. Analisis regresi linear digunakan untuk mengetahui korelasi antara kedua variabel tersebut dan membentuk persamaan matematika dimana kepadatan penduduk merupakan fungsi dari variabel-variabel bebas. Persamaan matematika untuk estimasi kepadatan penduduk Kota Bandung semakin baik dalam hal akurasi dan keandalan dengan disusun oleh beberapa variabel bebas, yaitu indeks vegetasi, band spektral citra, dan temperatur. Sehingga diperoleh hasil estimasi populasi penduduk untuk Kota Bandung pada tahun 2003 dengan tingkat kesalahan dibawah 8%.
PERBANDINGAN APLIKASI METODE REGRESI LINIER BERGANDA DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH (STUDI KASUS: KECAMATAN REGOL, KOTA BANDUNG)
Nilai tanah adalah suatu penilaian atas lahan berdasarkan kemampuan lahan secara ekonomis dalam hubungannya dengan produktivitas dan strategi. Dalam penyelenggaraan kegiatan penilaian tanah yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional banyak sekali persoalan riil yang dihadapi di lapangan sehingga diperlukan suatu metode penilaian otomatis yang dapat menghasilkan estimasi nilai tanah yang kredibel dan dapat memprediksi nilai tanah pada waktu tertentu. Model Penilaian tanah yang digunakan adalah metode regresi berganda dan jaringan syaraf tiruan. Regresi berganda adalah suatu metode pemodelan dengan menggunakan prinsip statistika sedangkanjaringan syaraf tiruan adalah salah satu metode pemodelan yang banyak digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak linier. Kedua metode ini kemudian diterapkan untuk membuat Peta ZNTdari masing-masing model nilai tanah dan kemudian dibandingkan untuk mengetahui metode mana yang lebih akurat dalam memprediksi nilai tanah. Berdasarkan hasil perbandingan kedua model diperoleh kesimpulan bahwa model nilai tanah dengan menggunakan metode jaringan syaraf tiruan lebih akurat dalam memprediksi nilai tanah di Kecamatan Regol, Kota Bandung karena memiliki nilai validasi model yang lebih baik daripada regresi berganda.