π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSURVEI SEISMIK UNTUK PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT (Studi Kasus: Pemasangan Pipa Bawah Laut PGN Di Perairan Tanjung Priok)
Perencanaan pipa bawah laut memerlukan informasi subbottom profilling untuk mengetahui jenis, struktur dan sebaran sedimen dari dasar laut dan lapisan di bawah dasar laut. Informasi ini penting untuk keamanan pipa bawah laut, yaitu untuk menghindari resiko terjadi nya longsoran sehingga membuat pipa tersebut bengkok, tergelinding, bahkan bisa meledak. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui subbottom profilling dasar laut adalah survey seismik refleksi. Metode ini menghasilkan citra subbottom profilling dengan memantulkan gelombang seismik dari dasar laut dan lapisan-lapisan di bawah dasar laut.
ANALISIS PERBANDINGAN BERBAGAI MACAM KOREKSI KECEPATAN AKUSTIK UNTUK KEPERLUAN PENGUKURAN KEDALAMAN SECARA TELITI
Untuk mendapatkan hasil kegiatan pengukuran kedalaman dengan ketelitian yang baik, maka semua data hasil pengukuran kedalaman yang diukur dengan menggunakan alat echosounder harus diberikan koreksi agar terhindar dari berbagai macam kesalahan. Salah satu kesalahan yang mempunyai pengaruh besar terhadap hasil pengukuran kedalaman adalah kesalahan yang diakibatkan oleh perubahan kecepatan gelombang akustik yang terjadi karena adanya perbedaan salinitas, temperatur dan tekanan sebanding dengan bertambahnya kedalaman. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan koreksi kecepatan gelombang akustik. Metodenya adalah, metode barcheck, metode tabulasi berdasarkan data pengamatan kondisi fisik air laut secara langsung, dan metode pemakaian tabel koreksi yang telah tersedia. Tugas akhir ini akan membahas mengenai perbandingan terhadap ketiga metode penentuan koreksi kecepatan gelombang akustik tersebut dan untuk mengetahui kemampuan dari masing-masing metode.
ANALISIS REGRESI UNTUK DISTRIBUSI KEPADATAN PENDUDUK MENGGUNAKAN CITRA SATELIT QUICKBIRD (Studi Kasus: Kelurahan Tamansari Bandung)
Kependudukan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk perencanaan pembangunan. Kebutuhan informasi tentang kependudukan tidak cukup hanya dalam bentuk data tekstual, tetapi informasi spasial sangat dibutuhkan dalam suatu perencanaan pembangunan. Salah satu indikator utama yang dapat memberikan gambaran tentang kependudukan adalah kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk akan memberikan informasi tentang persebaran penduduk. Di Indonesia, data kepadatan penduduk disajikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik). Namun, data yang disajikan hanya bersifat tekstual secara administratif dan penyajiannya belum bisa mewakili kondisi sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk penyajian yang dapat menampilkan data tersebut mewakili kondisi spasial yang sebenarnya. Informasi spasial mengenai kependudukan dapat diperoleh dengan satelit penginderaan jauh. Hal ini memungkinkan untuk memodelkan distribusi kepadatan penduduk. Memang dalam perspektif penginderaan jauh obyek penduduk terlalu kecil untuk diidentifikasi, tetapi penduduk dapat diidentifikasi dari pola permukiman maupun faktor-faktor lain mengenai penduduk yang tampak pada citra. Kepadatan penduduk merupakan jumlah penduduk yang menempati luasan tertentu. Faktor luas merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi distribusi kepadatan penduduk. Untuk dapat memodelkan distribusi kepadatan penduduk maka perlu dianalisis terlebih dahulu hubungan antara suatu faktor yang diduga mempengaruhi sebaran jumlah penduduk pada suatu daerah terhadap jumlah penduduk. Hal ini diperlukan agar kita dapat menentukan suatu model matematik dari sebaran jumlah penduduk. Penelitian ini menggunakan data dari satelit Quickbird dan metode analisis regresi untuk menentukan kepadatan penduduk di Kelurahan Tamansari Bandung.
PEMANFAATAN VIDEOGRAMETRI DALAM PENENTUAN POSISI UNTUK TRAJEKTORI
Kemajuan teknologi turut mempengaruhi perkembangan metode penentuan posisi, salah satunya adalah metode videogrametri. Metode videogrametri merupakan penentuan posisi dengan menggunakan video sebagai sensornya. Prinsip dasar dari metode videogrametri sama dengan metode fotogrametri, yaitu memanfaatkan kondisi kesegarisan. Kondisi kesegarisan merupakan kondisi dimana titik eksposur kamera, titik objek pada sistem koordinat detektor (2D), dan pada sistem koordinat ruang (3D) berada pada satu garis lurus. Dengan kondisi ini maka dapat dibentuk persamaan matematis untuk menentukan koordinat titik objek dalam sistem koordinat ruang berdasarkan objek yang terekam pada video. Selain parameter posisi, pada metode videogrametri terdapat parameter lain yaitu parameter waktu. Untuk itu sensor-sensor yang digunakan harus disinkronisasikan agar memiliki sistem waktu yang sama. Pada penelitian ini, metode videogrametri dimanfaatkan dalam pembuatan trajektori. Trajektori suatu objek sendiri dapat dibentuk berdasarkan perubahan posisi objek tersebut. Oleh karena itu semakin banyak perubahan posisi suatu objek yang bisa ditentukan, semakin representatif trajektori objek tersebut.
PEMBANGUNAN BASISDATA SPASIAL DENGAN SISTEM GRID SKALA RAGAM UNTUK EMISI GAS RUMAH KACA (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Perkembangan zaman belakangan ini memiliki dampak meningkatnya jumlah penduduk, tingginya jumlah penduduk tersebut berpengaruh terhadap sektor transportasi. Polusi udara yang dihasilkan dari sektor transportasi terdiri dari gas-gas yang memiliki efek beranekaragam seperti halnya gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca merupakan bagian dari gas-gas yang berada di atmosfer, gas-gas tersebut menyerap dan memancarakan radiasi pada gelombang tertentu. Untuk memantau emisi gas rumah kaca dibutuhkan pengelolaan data emisi gas rumah kaca secara terintegrasi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengelola data emisi gas rumah kaca adalah dengan menggunakan basisdata spasial dan sistem grid skala ragam. Penggunaan basisdata spasial sebagai media penyimpanan suatu data sangat baik terlebih apabila data yang akan disimpan berjumlah sangat banyak. Basisdata spasial dapat berguna sebagai media penyimpanan suatu data yang memiliki objek spasial berupa titik, garis, maupun poligon. Penggunaan sistem grid skala ragam untuk emisi gas rumah kaca dapat dilakukan dalam merepresentasikan fenomena geografis yang bersifat kontinyu dan berubah secara gradual. Maka perlu kiranya informasi emisi gas rumah kaca disajikan dengan visualisi webGIS agar pengguna dengan mudah dapat mencari dan menerima informasi yang diberikan mengenai besarnya emisi gas rumah kaca serta pengguna dapat melakukan penambahan atau perubahan data emisi gas rumah kaca secara kontinyu. Untuk merealisasikan hal tersebut maka dirasakan perlu dibangun suatu basisdata spasial yang dapat menyimpan informasi emisi gas rumah kaca dengan menggunakan sistem grid skala ragam.
PEMANTAUAN DEFORMASI BENDUNGAN DARMA (KUNINGAN, JABAR) DENGAN METODE SURVEY GPS
Bendungan Darma terletak di Desa Darma, Kecamatan Kadu Gede, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, merupakan bendungan tipe kombinasi timbunan batu (rockfill) dan timbunan tanah homogen. Bendungan ini termasuk bendungan besar di Indonesia yang cukup berperan dalam pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar. Besarnya volume bendungan yang dapat menampung air pastinya diikuti juga dengan besarnya resiko bahaya yang dihadapi apabila runtuhnya bendungan ini. Bendungan Darma jika runtuh pasti akan membawa bahaya besar mengingat bendungan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Bendungan Situ Gintung yang belum lama ini runtuh dan mengakibatkan kerugian material dan nonmaterial sangat besar. Jebolnya bendungan terjadi akibat adanya deformasi di bendungan. Puncak Bendungan Darma yang dijadikan jalan raya, struktur bendungan, lokasi bendungan yang berada di lokasi gempa adalah beberapa faktor terjadinya deformasi pada bendungan. Dari fenomena deformasi bendungan dan dampak yang ditimbulkan, deformasi Bendungan Darma perlu dipantau secara periodik. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam memantau deformasi adalah metode survey GPS. Dengan mengetahui besarnya deformasi bendungan yang ditunjukan oleh perubahan titik ΓβΓβ titik koordinat pada pengamatan satu ke pengamatan berikutnya, maka karakteristik dari deformasi bendungan ini dapat dipelajari lebih lanjut. Pada bulan Mei dan September 2009, telah dilakukan pemantauan deformasi bendungan dengan metode survey GPS. Hasil pemantauan selama Mei ΓβΓβ September 2009 menunjukan besarnya deformasi horizontal dan vertikal Bendungan Darma yang terjadi dalam orde mm. Deformasi bendungan berkorelasi dengan struktur bendungan, puncak bendungan yang dipakai sebagai jalan raya, tekanan air.
ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI LOKON BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2009-2011
Indonesia merupakan salah satu kawasan di dunia yang memiliki banyak gunungapi aktif. Gunungapi Lokon merupakan salah satu gunungapi aktif yang terletak di jalur pegunungan berapi yang membentang di sepanjang Pulau Sulawesi. Salah satu letusannya yang tergolong besar berlangsung pada Oktober 1991 yang meninggalkan sumbat lava di dasar Kawah Tompaluan. Dalam kurun waktu antara tahun 2000 sampai dengan 2003 letusan berlangsung secara beruntun hampir setiap tahun dan secara bertahap sumbat lava 1991 terkikis. Adanya letusan tersebut mengindikasikan aktivitas vulkanik di Gunungapi Lokon.Salah satu metoda pemantauan aktivitas vulkanik gunungapi dengan metoda deformasi. Dalam melakukan penelitian deformasi yang terjadi pada Gunungapi Lokon, digunakan data pengamatan GPS (Global Positioning System) tahun 2009-2011. Data GPS lalu diolah, dan dihasilkan koordinat geosentrik dan standar deviasi serta koordinat geodetik. Koordinat ditransformasikan ke dalam sistem toposentrik. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji -t dan nilai resultan pergeseran titik pengamatan dinyatakan lulus uji statistik, maka selanjutnya dilakukan plotting vektor pergeseran. Dari nilai pergeseran kemudian dihitung nilai regangan dan dilakukan plotting. Berdasarkan pola vektor pergeseran juga ditentukan posisi sumber magma.Titik POST merupakan titik referensi yang diasumsikan diam. Semua titik pengamatan diikatkan ke titik POST. Pergeseran horizontal yang terjadi pada titik pengamatan berkisar dari 1.7 cm/tahun sampai 7 cm/tahun. Pola deformasi yang dihasilkan dari vektor pergeseran dan regangan menunjukkan adanya inflasi. Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas vulkanik pada Gunungapi Lokon. Aktivitas vulkanik Gunungapi Lokon juga dipengaruhi aktivitas tektonik.
PEMBANGUNAN GEODATABASE DAN WEBGIS UNTUK INDEKS KERENTANAN PULAU-PULAU KECIL TERHADAP PEMANASAN GLOBAL (STUDI KASUS : KEPULAUAN SERIBU)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.500 pulau termasuk pulau-pulau kecil. Pulau kecil memiliki memiliki ketergantungan terhadap alam yang tinggi, sehingga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan seperti pemanasan global. Gornitz (1994) mengembangkan formulasi untuk menentukan indeks kerentanan kenaikan muka laut untuk wilayah pesisir Negara Amerika Serikat. Pemodelan indeks kerentanan pulau-pulau kecil untuk Kepulauan Seribu didasarkan pada formulasi Gornitz tersebut. Pemecahan masalah ini menggunakan analisis multi kriteria yang melibatkan 8 variabel untuk hitungan indeks kerentanan pulau-pulau kecil. Pada Tugas Akhir ini, dibangun geodatabase dan WebGIS untuk memberikan informasi mengenai tingkat kerentanan pulau-pulau kecil terhadap pemanasan global di Kepulauan Seribu. Sebagai hasil akhir, yaitu WebGIS Indeks Kerentanan Pulau-Pulau Kecil. WebGIS tersebut dapat digunakan untuk menghitung indeks kerentanan pulau-pulau kecil sekaligus menampilkan hasilnya pada tabel dan peta dijital.
PENENTUAN LAJU GESER DAN KEDALAMAN KUNCIAN (LOCKING DEPTH) SESAR PALU-KORO BERDASARKAN DATA GPS
Pulau Sulawesi yang memiliki daerah patahan terbanyak di wilayah timur Indonesia sarat dengan aktivitas tektonik. Hal itu karena pulau Sulawesi merupakan bagian dari wilayah Indonesia Timur yang berada pada kawasan pusat pertemuan tiga (3) lempeng tektonik yaitu lempeng Hindia-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia. Hasil dari aktivitas tektonik yang terjadi yaitu terbentuknya sesar yang tersebar di wilayah pulau Sulawesi, salah satunya sesar yang cukup aktif yaitu sesar Palu ΓβΓβ Koro yang berada di wilayah Sulawesi Tengah.Sesar Palu-Koro sebagai salah satu bagian dari studi geodinamika dapat diamati pergerakannya secara teliti dengan menggunakan GPS (Global Positoning System). Berdasarkan data pengamatan GPS pada tahun 2005, 2006, dan 2007, titik-titik pengamatan GPS yang tersebar di sekitar sesar mengalami pergerakan horizontal yang berkisar antara 10 ΓβΓβ 30 mm/tahun. Hasil vektor pergerakan sesar juga memperlihatkan bahwa sesar Palu-Koro ini termasuk kedalam jenis sesar geser mengiri (Left-lateral-strike-slip fault).Analisis deformasi dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengindikasi pola pergerakan deformasi sesar, serta menghitung laju geser (slip rate) maupun kedalaman bidang sesar yang terkunci (locking depth). Berdasarkan penghitungan, sesar Palu-Koro memiliki laju geser sebesar 32-36 mm/tahun yang terkunci pada kedalaman 5-6 km. Analisis deformasi ini bermanfaat untuk memprediksi kekuatan gempa bumi yang terjadi di sekitar sesar dalam jangka waktu yang panjang.
STUDI DEFORMASI SECARA GEOMETRIK DARI SESAR LEMBANG BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS
Sesar Lembang merupakan salah satu sesar berpotensi aktif yang terdapat di kota Bandung. Menurut Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan (DTLGKP), sesar Lembang memiliki siklus gempa setiap lima ratus tahun sekali. Dengan melihat korelasi antara panjang patahan dan magnitudo gempa yang berbanding lurus, gempa yang diakibatkan oleh sesar tersebut bisa berkisar pada angka 6.5 SR. Oleh karena itu, untuk meminimalisir dampak buruk gempa bumi maka perlu dilakukan pemantauan tingkat aktivitas dari sesar Lembang. Pemantauan dilakukan secara geodetik untuk menganalisis deformasi sesar Lembang secara geometrik. Pemantauan dilaksanakan melalui survey GPS secara episodik. Survey GPS dilaksanakan dengan menggunakan kerangka jaring pengamatan relatif. Analisis deformasi dilakukan secara geometrik, yaitu memberikan informasi kuantitatif untuk menentukan arah, besar, serta model pergerakan deformasinya. Analisis deformasi secara geometrik dibagi atas 3, yaitu analisis pergeseran (displacement), estimasi laju geser, serta analisis regangan (strain).
STUDI KINERJA PERANGKAT LUNAK LEICA GEO OFFICE 8.1 UNTUK PENGOLAHAN DATA GPS BASELINE PANJANG
Titik kontrol pada proses pembuatan peta selalu dibutuhkan sebagai acuan referensi pengukuran. Pada perencanaannya, titik kontrol tersebut dapat tersebar secara merata diseluruh Indonesia, namun tidak demikian pada kenyataannya. Sehingga, seringkali dijumpai jarak antar titik kontrol yang berjauhan. Dengan adanya teknologi satelit navigasi seperti GPS, permasalahan tersebut dapat diatasi. Karena Satelit yang bergerak mengitari bumi dapat dianggap sebagai titik kontrol yang bergerak. Untuk membantu dalam mengolah data hasil pengamatan satelit tersebut dibutuhkan suatu perangkat lunak. Umumnya pengolahan data baseline panjang akan lebih rumit jika koordinat hasil pengolahannya itu harus teliti. Melalui tugas akhir ini akan melanjutkan kajian kemampuan software pengolah data GPS untuk baseline panjang yang dilakukan oleh Andreas dkk pada tahun 2008. Software yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu SKI Pro 2.1 (keluaran Leica) dan Bernese 5.0, dimana SKI Pro menghasilkan sebaran titik kontrol hingga 10 m. Pada pertengahan tahun 2011, Leica telah mengeluarkan software pengolah data GPS terbaru yaitu Leica Geo Office 8.1 (LGO 8.1) yang mampu mengolah baseline hingga 500 km. Maka dari itu akan dibahas mengenai kinerja LGO 8.1 ketika bekerja dalam baseline panjang. Dalam menguji kinerja LGO 8.1, data yang digunakan yaitu baseline yang memiliki panjang ~100 s/d ~1000 km, terletak di perbatasan Indonesia dan Malaysia, Kalimantan. Dari hasil pengolahan data tersebut, lalu ditunjukan tingkat repeatabilitasnya dan dibandingkan terhadap hasil pengolahan Bernese 5.0 yang dianggap memiliki koordinat yang ΓβΓβbenarΓβΓβ. Dimana hasil LGO 8.1 memiliki penyimpangan dari orde mm hingga dm terhadap hasil Bernese 5.0. Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi para profesional dibidang survei dan pemetaan dalam menentukan strategi pengolahan data dan software yang akan digunakan.
ANALISIS BACKSCATTERING COEFFICIENT CITRA ENVISAT ASAR UNTUK IDENTIFIKASI TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILL)
Sebagian besar polusi minyak yang diakibatkan oleh manusia terjadi di darat, tetapi perhatian publik serta peraturan yang ada cenderung fokus pada kejadian tumpahan minyak di laut. Dalam pengelolaan tumpahan minyak di laut, salah satu tahapnya adalah tahapan identifikasi tumpahan minyak dimana dibutuhkan metode yang paling tepat untuk dapat mengindentifikasi suatu tumpahan minyak secara efektif. Penginderaan jauh menggunakan sensor microwave aktif dari ENVISAT ASAR dapat digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap tumpahan minyak. Pada tugas akhir ini penulis melakukan identifikasi tumpahan minyak menggunakan citra ENVISAT ASAR single polarization (VV) dengan cara melihat karateristik secara visual dari bentuk tumpahan minyak serta melihat nilai backscatter dari bentuk-bentuk tersebut. Citra ENVISAT ASAR yang telah mengalami reduksi speckle noise dan dikoreksi geometrik kemudian diidentifikasi secara visual dan dianalisis backscattering coefficient-nya. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa metode analisis visual menggunakan sensor RADAR untuk mengidentifikasi tumpahan minyak dapat dilakukan karena sensor RADAR memiliki keunggulan dapat beroperasi tanpa dibatasi kondisi cuaca dan waktu akuisisi, selain itu diperoleh pula nilai backscatter dari tumpahan minyak yang pada penelitian ini adalah -18 dB sampai -23 dB.
KOREKSI KECEPATAN KAPAL UNTUK PENGUKURAN ARUS LAUT SECARA KINEMATIK DARI DGPS VERIPOS
Pengukuran arus laut secara kinematik menghasilkan nilai kecepatan arus yang masih relatif terhadap pergerakan kapal. Koreksi kecepatan kapal dibutuhkan untuk mendapatkan nilai kecepatan arus yang absolut (relatif terhadap dasar perairan). Untuk mendapatkan informasi posisi dan waktu untuk menghitung kecepatan kapal digunakan Global Positioning System (GPS). Posisi dari GPS haruslah memiliki tingkat akurasi yang memadai. Tugas akhir ini membahas kajian terhadap keterandalan Differential GPS (DGPS) Veripos dalam memberikan informasi posisi dan waktu yang dibutuhkan untuk menentukan koreksi kecepatan kapal. Hasil kajian menunjukkan simpangan baku kecepatan kapal dari DGPS Veripos sebesar ΓβΓΒ±0.024 m/s. Simpangan baku tersebut didapatkan pada kecepatan kapal antara 0.48 m/s dan 1.66 m/s. Hal ini berarti kecepatan arus yang diukur harus lebih besar dari dua kali lipat simpangan baku kecepatan kapal atau 0.048 m/s.
ANALISIS DATA TIME SERIES GPS KONTINU DI DAERAH SUMATERA
Pada setiap data time series GPS, terdapat sinyal-sinyal yang mempengaruhi hasil hitungan yang didapat. Komponen-komponen tersebut akan membentuk suatu pola dalam data time series GPS. Pada umumnya, dalam suatu data time series GPS terdapat komponen periodik yang biasanya tidak dapat dideteksi dengan langsung. Untuk mendeteksi komponen periodik tersebut, maka dilakukan analisis spektral. Tujuan dari analisis spektral ini adalah untuk mendeteksi komponen perodik apa yang berpengaruh dominan dalam suatu data time series. Dengan mengetahui jenis dari komponen periodiknya, maka kita bisa mengetahui karakteristik dari data time series tersebut dan kemudian dapat ditentukan berapa jenis parameter yang dibutuhkan untuk melakukan curve fitting. Dalam melakukan fitting, digunakan dua buah pendekatan, yaitu fitting secara linier saja dan fitting linier dengan memperhitungkan komponen periodik. Sebagai bahan pembandingan antara kedua metode ini, maka dihitung pula laju pergeseran titik pengamatan per tahunnya. Dari analisis yang dilakukan terhadap kedua metode ini, didapat bahwa perbedaan laju pergeseran per tahun ketika menggunakan metode fitting linier dan ketika menggunakan metode fitting linier dengan memperhitungkan komponen periodik yang paling besar yaitu bernilai 3.7 mm per tahun.
ANALISIS DAERAH BAHAYA TSUNAMI BERDASARKAN ZONASI KERENTANAN DAN BAHAYA DENGAN DATA SATELIT DAN SIG (Studi Kasus : Daerah Pangandaran)
Bencana tsunami merupakan sesuatu yang mengerikan bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi yang tinggal didaerah pesisir. Hampir di semua wilayah pesisir di Indonesia berpotensi besar terkena tsunami dikarenakan Indonesia berada di beberapa jalur patahan dan tumbukan antara landas kontinen. Masih segar dalam ingatan kita ketika tsunami yang sangat besar melanda Aceh pada tahun 2004 yang menelan ratusan ribu korban jiwa, belum genap 2 tahun kemudian pada tanggal 17 Juli 2006 daerah pesisir Pangandaran dilanda gempa berkekuatan 6,8 SR yang menyebabkan tsunami di sekitar pantai selatan Pulau Jawa. Untuk itulah diperlukan suatu usaha ΓβΓβusaha mitigasi bencana dengan melakukan analisis mengenai zonasi bahaya tsunami. Dalam tugas akhir ini akan dibuat suatu analisis mengenai daerah bahaya tsunami dengan data satelit dan SIG sehingga suatu saat jika terjadi tsunami kembali efek dari tsunami tersebut bisa diminimalisir sehingga dapat menekan kerugian yang diakibatkan oleh tsunami tersebut.