📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENENTUAN CHART DATUM PADA SUNGAI YANG DIPENGARUHI PASANG SURUT (STUDI KASUS: TELUK SANGKULIRANG, KALIMANTAN TIMUR))

Sungai memiliki berbagai macam fungsi, salah satunya adalah sebagai sarana transportasi. Untuk keperluan keamanan dari transportasi dan navigasi kapal, nilai chart datum dari sungai perlu ditentukan. Pada sungai di Indonesia, penelitian mengenai chart datum sungai, masih, sangat kurang. Hal tersebut dengan dapat dibuktikan, masih banyaknya kapal yang kandas, pada saat melayari sungai. Pada sungai yang dipengaruhi oleh gaya pasang surut, pada umumnya chart datum ditentukan melalui pengamatan pasang surut yang dilakukan di muara yang berbatasan langsung dengan laut, kemudian lakukan transformasi chart datum ke daerah sungai di belakang muara. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder ini terdiri dari data pengamatan pasang surut selama 15 hari pada stasiun pengamatan Desa Bual-Bual di muara sungai Sangkulirang dan Desa Sempayau, dan data kedalaman dari sungai yang didapat dari survei batimetri. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini, Bual-Bual sebesar 1.54 meter dibawah muka air rata-rata, dan nilai chart datum pada desa Sempayau, sebesar 2.1 meter dibawa muka air rata-rata. Ternyata, terdapat perbedaan nilai chart datum yang didapat antara muara sungai, dan daerah belakan muara. Terdapat dua faktor penting yang menentukan besarnya nilai chart datum pada sungai pasang surut, yaitu faktor pasang yang naik dari laut, dan faktor debit pada aliran sungai tersebut.

2026
👤 Penulis: SAMUEL (NIM 15108061); Pembimbing: Dr. Ir. Irdam Adil, MT dan Dr. Ir. Dwi Wisayantono, MT
🏷️ Geodesi 🏷️ Manajemen Transportasi Air 🏷️ Hidrologi

IMPLIKASI PERUBAHAN PERATURAN PEMERINTAH NO. 38 TAHUN 2002 TERHADAP WILAYAH PERAIRAN INDONESIA (STUDI KASUS: SELATAN JAWA)

Lepasnya Sipadan-Ligitan dan merdekanya Timor Leste mewajibkan pemerintah Indonesia untuk meninjau ulang batas-batas negaranya di perbatasan kedua kawasan tersebut. Penetapan batas laut baru di kedua kawasan tersebut mengakibatkan beberapa hal, salah satunya adalah bertambahnya satu segmen garis pangkal yang panjangnya melebihi 100 mil laut dan maksimum 125 mil laut di kawasan Kr. Unarang – P. Maratua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi perubahan PP No. 38 Tahun 2002 dan pengaruhnya terhadap perubahan wilayah laut teritorial Indonesia.

2026
👤 Penulis: SAHAT MARTIN PHILIP (NIM 15106062); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT., dan Ir. Eko Artanto
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geopolitika Laut 🏷️ Manajemen Wilayah Perairan

ANALISIS PERUBAHAN LAHAN DAN PENURUNAN MUKA TANAH PASCA SEMBURAN LUMPUR PANAS SIDOARJO DENGAN METODE PENGINDERAAN JAUH DAN GPS

Semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo terjadi pertama kali pada tanggal 29 Mei 2006. Sudah 4 tahun berlalu namun lumpur panas tak kunjung berhenti meluap dari bawah permukaan bumi. Bencana ini menimbulkan berbagai dampak, baik yang terlihat secara fisik maupun tidak. Dampak yang terlihat secara fisik antara lain adanya genangan lumpur di atas permukaaan tanah, turunnya permukaan tanah, munculnya retakan dan bualan, serta pencemaran air dan udara. Sedangkan dampak yang tidak terlihat secara fisik antara lain meningkatnya pengangguran dan kriminalitas. Ketersediaan peta daerah terdampak sangatlah penting, untuk memperoleh informasi daerah mana saja yang terkena dampak akibat semburan lumpur panas Sidoarjo. Pada penelitian kali ini, peta daerah terdampak yang dibuat mencakup dampak perubahan lahan dan penurunan muka tanah. Identifikasi perubahan lahan dapat dilakukan dengan melakukan klasifikasi dari interpretasi citra satelit multitemporal. Sedangkan penurunan muka tanah dapat diukur dengan melakukan pengukuran GPS secara rutin setiap tahun untuk mendapatkan perubahan nilai penurunan tanah yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa perubahan lahan hanya terjadi pada wilayah yang terkena genangan lumpur panas serta penurunan muka tanah terjadi secara luas hingga radius beberapa kilometer dari pusat semburan.

2026
👤 Penulis: Rr. ATIKA RETNANINGTYAS (NIM 15106034); Pembimbing: Dr. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng. dan Heri Andreas
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Citra Satelit 🏷️ Pengukuran Gps

PERHITUNGAN BIOMASSA DENGAN METODE POLARIMETRIK SAR MENGGUNAKAN CITRA ALOS PALSAR

Mengingat pentingnya perhitungan jumlah biomassa pada suatu hutan untuk menganalisis perubahan iklim serta kelestarian alam, maka diharapkan ada metode perhitungan jumlah biomassa secara cepat, hemat, efektif dan efisien baik tenaga, biaya, dan waktu. Mengetahui jumlah biomassa pada hutan juga bisa digunakan sebagai referensi untuk mengambil kebijakan-kebijakan terkait dengan isu-isu tentang global warming dan climate change. Dalam realisasinya, sebenarnya ada banyak metode yang digunakan untuk menghitung dan mengestimasi jumlah biomassa, namun dalam metode-metode tersebut ada beberapa kelebihan dan kekurangan. Metode perhitungan biomassa yang biasa digunakan adalah metode secara perhitungan langsung ke lapangan (in situ), namun metode perhitungan biomassa seperti ini memiliki banyak kekurangan, diantaranya yaitu memerlukan biaya yang mahal dan waktu yang sangat lama apabila perhitungan biomassa tersebut dilakukan dihutan yang sangat luas. Oleh karena itu diperlukan metode perhitungan biomassa lain yang bisa dilakukan untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut. Metode yang akan digunakan tersebut adalah metode penginderaan jauh dengan memanfaatkan satelit Radar yang saat ini teknologinya sedang mengalami perkembangan yang pesat. Untuk melakukan perhitungan biomassa dengan menggunakan metode ini, diperlukan data polarimetrik SAR (Synthetic Aperture Radar). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahawa metode perhitungan biomassa dengan menggunakan metode polarimetrik SAR ini dapat mengesetimasi jumlah biomassa pada hutan, perkebunan, dan daerah tutupan lahan lainnya.

2026
👤 Penulis: ROHULLAH RAGAJAYA (NIM 15108090); Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, Ph.D., dan Dr. Firman Hadi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Polarisasi Radar 🏷️ Perencanaan Lingkungan

KAJIAN PENERAPAN KONSEP PENDAFTARAN TANAH DI LAUT UNTUK MENUNJANG KADASTER KELAUTAN

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sudah selayaknya mengelola laut untuk berbagai kepentingan yang dapat memberikan nilai tambah. Akan tetapi, sampai saat ini batas-batas pemanfaatan lahan laut belum memiliki kepastian hukum yang kuat sehingga berpotensi terjadinya konflik. Untuk menghindari terjadinya konflik pemanfaatan lahan laut, maka diperlukan suatu administrasi publik terhadap lahan laut yaitu melalui pendaftaran persil laut. Pendaftaran persil laut merupakan konsep baru yang akan diteliti untuk dapat diterapkan dengan pendekatan konsep pendaftaran tanah yang sudah dilakukan di darat, sehingga memungkinkan adanya pencatatan hak-hak serta pemberian tanda bukti hak atas suatu ruang laut guna mendapatkan kepastian hukum baik subjek maupun objeknya. Metode pengkajian yang dilakukan yaitu dengan mengidentifikasi karakteristik dan permasalahan yang ada di laut, selanjutnya konsep pendaftaran tanah diimplementasikan di wilayah laut dengan memperhatikan karakteristik dan permasalahan tersebut sehingga diperoleh aspek-aspek yang memungkinkan dapat diterapkan pada pendaftaran persil laut. Kemudian dilakukan perbandingan pendaftaran persil tanah dengan model pendaftaran persil laut berdasarkan aspek-aspek pendaftaran tanah. Laut mempunyai karakteristik yang berbeda dengan daratan diantaranya yaitu laut mempunyai sifat yang dinamis dan ruang laut bersifat tiga dimensi yang terdiri dari dasar laut, kolom laut, dan permukaan laut. Aspek-aspek yang akan diterapkan dalam pendaftaran persil laut yaitu subjek pendaftaran, objek pendaftaran, jenis hak yang akan didaftarkan, teknis pelaksanaan pendaftaran, dan lembaga yang akan berwenang dalam pendaftaran persil laut.

2026
👤 Penulis: RIZKA PURBARI (NIM 15105005); Pembimbing: Dr. Ir. S. Hendriatiningsih, MS., dan Dr. Ir. Andri Hernan
🏷️ Lokasi Publik 🏷️ Pendataan Laut 🏷️ Administrasi Kelautan

PEMODELAN TIGA DIMENSI MENGGUNAKAN METODE FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK PERPIPAAN (STUDI KASUS:STASIUN KOMPRESOR GAS TEGAL GEDE, BEKASI)

Pipa merupakan objek penting dalam industri migas. Perawatan dan modifikasi pipa perlu dilakukan agar tidak menyebabkan kerugian besar. Dalam melakukan modifikasi, perlu dilakukan pengukuran ke lapangan untuk mengidentifikasi pipa. Pada era digital, pengidentifikasian tersebut akan lebih mudah dilakukan melalui model pipa tiga dimensi, sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengukuran ke lapangan. Salah satu metode untuk membuat model tiga dimensi tersebut adalah dengan fotogrametri rentang dekat. Metode ini dapat memberikan model yang akurat dan dengan alat dan pengolahan data yang sederhana. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mempelajari bagaimana proses pembuatan model tiga dimensi melalui metode fotogrametri rentang dekat serta membuat model tiga dimensi menggunakan metode ini untuk perpipaan. Untuk melakukan pengerjaannya, dilakukan studi referensi yang berkaitan, dan untuk implementasi diawali dengan kalibrasi kamera dan juga akuisisi data ke lapangan. Studi kasus dilakukan untuk pipa gas PT. Pertagas Stasiun Tegal Gede, Bekasi. Pengambilan data yang dilakukan dengan kamera non-metrik, diolah menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner. Hasil dari Tugas Akhir ini adalah model tiga dimensi perpipaan.

2026
👤 Penulis: RIZKA AKMALIA (NIM 15107006); Pembimbing: Dr. Deni Suwardhi, ST.MT. dan Prof.Dr.Ir. IGN Wiratmaja Pu
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MODEL MATEMATIKA PENENTUAN POSISI 3D UNTUK PENGAMATAN DEFORMASI DASAR LAUT

Pengukuran deformasi penting dilakukan untuk keperluan pengamatan dinamika bumi dan berbagai efek dari pergerakan tersebut yang terjadi di bawah dasar laut. Gelombang elektromagnetik yang tidak mampu menembus air mengharuskan pengamatan deformasi dasar laut menggunakan kombinasi metode pengamatan GPS kinematik dengan gelombang akustik. Hal yang menjadi pertimbangan untuk mendapatkan posisi teliti di dasar laut untuk pengamatan deformasi lempeng yaitu metode yang digunakan dan perhitungan posisi target dalam bentuk model matematika. Metode-metode tersebut adalah metode diferensial dan metode Scripps Institution of Oceanography (SIO). Pada metode diferensial, transponder langsung diidentifikasikan sebagai titik deformasi. Dan pada metode SIO, beberapa transponder mengelilingi daerah deformasi sebagai medan virtual. Hal yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah menganalisis model matematika dan membandingkan selisih koordinat definitif dengan hasil perhitungan model matematika. Dari hasil yang didapatkan, metode SIO diferensial lebih baik dan efektif untuk pengamatan deformasi lempeng dasar laut. Model matematika yang menjadi dasar perhitungan mencakup beberapa koreksi yaitu kesalahan sistematik akibat time delay dari transponder, kesalahan sistematik akibat kecepatan suara yang dipengaruhi oleh internal wave, dan kesalahan acak.

2026
👤 Penulis: RISKA UMMAYA (NIM 15108067); Pembimbing: Dr. Ir. Irwan Meilano, M.Sc., dan Dr. Ir. Dina Anggraeni Sa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Model Matematika 🏷️ Hidrologi

REGANGAN TEKTONIK DI SUMATERA BERDASARKAN PENGAMATAN KONTINU SUMATRAN GPS ARRAY (SUGAR) TAHUN 2007-2008

Sumatera terletak dekat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Saat Lempeng Indo-Australia bergerak kebawah Lempeng Eurasia, terjadi kontak bidang antar lempeng sehingga terakumulasi regangan. Regangan yang telah melewati batas elastisitas akan dilepaskan sebagai gempa bumi. Pengamatan GPS dilakukan untuk mempelajari kecepatan vektor pergeseran dan variasi regangan tektonik di permukaan. Hasil pengolahan data menunjukkan vektor pergeseran di sumatera mengarah ke timur-laut yang mengindikasikan inter-seismic dan ke baratdaya yang mengindikasikan post-seismic. Distribusi regangan berupa ekstensi yang mengindikasikan post-seismic tersebar merata dominan di zona tempat terjadinya gempa Aceh 2004, gempa Nias 2005, gempa Bengkulu 12 September 2007 dan gempa Kepulauan Mentawai 13 September 2007. Adapun regangan berupa kompresi menunjukkan sumatera masih dipengaruhi inter-seismic.

2026
👤 Penulis: RINO (NIM 15106011); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc dan Irwan Gumilar, ST, M.Si.
🏷️ Geofisika Tektonik 🏷️ Analisis Gps 🏷️ Hidrologi Tektonik

PEMANFAATAN GOOGLE FUSION TABLES DAN GOOGLE MAP DALAM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK FASILITAS UMUM DAN SOSIAL KOTA MEDAN

Kebutuhan akan informasi data spasial menjadi salah satu aspek penting dalam merencanakan dan memutuskan suatu kebijakan, namun adanya beberapa kesulitan seperti keterbatasan hak akses dan pertukaran informasi yang tidak efisisen menjadi kendala dalam pemenuhan informasi tersebut,. Untuk dapat mengatasi persoalan ini maka dibangunlah sebuah Sistem Informasi Geografis Berbasis Web. Sistem Informasi Geografis Berbasis Web merupakan sebuah teknologi SIG yang diadopsi dan dikembangkan dalam jaringan internet. Dalam penelitian ini, SIG berbasis Web yang hendak dibangun menggunakan fasilitas dari Google seperti web map services dari Google Maps dan database dengan Google Fusion. Penggunaan fasilitas Google tersebut diharapkan memberikan kemudahan dalam pembuatan SIG berbasis Web.

2026
👤 Penulis: RINDO WILSON (NIM 15106064); Pembimbing: Dr. Akhmad Riqqi, M.Si.
🏷️ Sistem Informasi Geografis Berbasis Web 🏷️ Google Maps Dan Google Fusion Tables

PENENTUAN GARIS PANTAI DENGAN ACUAN MEAN SEA LEVEL BERDASARKAN PETA RUPA BUMI INDONESIA (STUDI KASUS : PANTAI PANGANDARAN,CIAMIS,JAWA BARAT)

Garis pantai ialah suatu garis pertemuan antara laut dan darat, karena sifat dari laut yang dinamis maka garis pantai dapat berubah-ubah untuk waktu tertentu. Oleh karena itu penetapan garis laut yang jelas sangat diperlukan. Untuk menentukan garis pantai yang dipakai bisa digunakan beberapa acuan misalnya Mean Sea Level, Low Water Level dan High Water Level. Untuk tugas akhir ini, digunakan Mean Sea Level sebagai acuan untuk penetapan garis pantai dengan wilayah studi kasus Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat dengan data pantai Cilacap, Jawa Tengah. Mean Sea Level didapatkan dari pengamatan pasang surut untuk waktu tertentu. Dari pengamatan pasang surut ini juga bisa didapatkan nilai variasi Mean Sea Level. Mean Sea Level dapat diperoleh dengan cara menghitung nilai rata-rata tinggi muka laut dan variasi dihitung dengan cara mencari selisih antar nilai Mean Sea Level tertinggi dan Mean Sea Level terendah dalam suatu kurun waktu tertentu. Dari hasil pengolahan data yang dilakukan untuk tugas akhir ini ialah nilai variasi Mean Sea Level untuk pantai di Cilacap dan juga peta garis pantai Pangandaran dengan acuan Mean Sea Level berdasarkan atas peta rupa bumi Indonesia keluaran Bakosurtanal. Dari kedua hasil tersebut bisa didapatkan untuk menganalisis keadaan muka laut dan jenis pantai Pangandaran.

2026
👤 Penulis: RIMA REZANI MARSHA (NIM 15107039); Pembimbing: Dr. Ir Eka Djunarsjah, MT., dan Moh. Fifik Syaifudin,
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI PENYEBAB DAN IDENTIFIKASI DAMPAK PENURUNAN TANAH DI WILAYAH SEMARANG

Wilayah Semarang merupakan salah satu kota pesisir yang secara umum terbentuk dari endapan aluvial. Adapun karakteristik dari endapan aluvial ini adalah tanahnya masih mengalami proses konsolidasi. Proses konsolidasi ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka tanah pada daerah tersebut. Selain itu, pengambilan airtanah dan pengaruh beban permukaan juga berkontribusi dalam terjadinya penurunan muka tanah di Semarang. Dengan adanya fenomena ini, maka dilakukanlah pengukuran penurunan muka tanah di wilayah Semarang. Pengukuran penurunan muka tanah Semarang dilakukan dengan metode survey GPS. Data pengamatan didapat dari pengukuran lapangan tahun 2008,2009,2010 dan 2011. Data tersebut diolah dengan menggunakan software Bernesse 5.0 sehingga didapat besarnya penurunan muka tanah di wilayah Semarang selama 3 periode yaitu 2008-2009, 2009-2010 dan 2010-2011. Hasil pengolahan data ini kemudian dikorelasikan dengan penurunan muka airtanah (MAT), peta geologi dan tutupan lahan kota Semarang. Hasil dari pengolahan data menunjukkan adanya terjadinya penurunan muka tanah di beberapa titik pemantauan GPS yang tersebar di wilayah Semarang mulai dari 0.7 cm sampai 11.2 cm pertahun dan adanya hubungan antara penurunan muka tanah dengan penurunan muka airtanah (MAT) kota Semarang, kondisi geologi dan tutupan lahan kota Semarang. Dengan melihat fenomena penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah Semarang, maka perlu pemantauan dan pengkajian lebih lanjut mengenai karakteristik dan faktor faktor penyebab terjadinya penurunan muka tanah di Semarang. Penelitian pemantauan terhadap penurunan muka tanah di wilayah Semarang ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna dalam pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.

2026
👤 Penulis: RIKO MAIYUDI (NIM 15108077); Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc. dan Irwan Gumilar
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Geologi 🏷️ Pengelolaan Lingkungan

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA DATA PASUT DAN PREDIKSI PASUT UNTUK PENDEFINISIAN LAT

LAT is a Chart Datum which recommended to be used in hydrography and navigation needs. In its definition, the used data is from 18,6 years prediction. On the other side, there had been tide observation data which reached that period, even more. This thesis purposed to analyze the comparation between observation and prediction data to define LAT. The used methodology begun with literature study about LAT. The Next step is adding the data from four world tide station which come from Christmas Island, France, Galveston and Guam. And then, each of their LAT defined with observation and prediction method. From that definition, there will be validation between observation and prediction data. And then comparation which exist on that two methods will be analyzed. From the result, validation between observation and prediction data, showing that both of them is verge. On LAT stability check also showing insgnificant difference, so it can be assumed that the used prediction model is good.

2026
👤 Penulis: RICKY S.P. SINAGA (NIM 15104029); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT., dan Dr.rer.nat.Ir.Wiwin W
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Data Pasut 🏷️ Metodologi Pengujian

KAJIAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR INDONESIA

Indonesia memiliki 13.466 pulau dan diantaranya terdapat 92 pulau kecil terluar. Pulau- pulau ini merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga maupun laut lepas. Untuk itu, diperlukan data selengkap-lengkapnya mengenai pulau- pulau ini agar identitas pulau-pulau tersebut menjadi jelas. Dengan informasi yang jelas, dapat diklaim pulau-pulau tersebut termasuk wilayah kedaulatan Indonesia dan dapat dijadikan untuk penarikan garis pangkal lurus kepulauan dalam penentuan batas wilayah Indonesia.Data 92 Pulau Kecil Terluar diperoleh dari berbagai sumber, seperti Janhidros TNI AL dan LAPAN. Kajian dilakukan terhadap berbagai data yang diperoleh mengenai profil dan toponim Pulau-Pulau Kecil Terluar ini. Toponim Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia ini merupakan salah satu kegiatan dalam memberikan identitas suatu pulau yang nantinya disusun dalam suatu Gazetteer (daftar nama rupabumi resmi) dan dilakukan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi yang terdiri dari berbagai Instansi Pemerintah, seperti Kementrian Dalam Negeri, Bakosurtanal, dan lain lain.Setelah dilakukan Analisis terhadap 92 Pulau Kecil Terluar Indonesia ini, masih terdapat beberapa hal yang masih harus diperhatikan diantaranya perbedaan antara definisi pulau dan gosong, penggunaan nama asing dalam penamaan pulau, penggunaan nama generik lokal dalam nama spesifik suatu pulau, dan kondisi pulau-pulau itu sendiri.

2026
👤 Penulis: REZKIKA MARDANA (NIM 15106061); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT.
🏷️ Geografi 🏷️ Pengelolaan Wilayah Laut 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN 3D BANGUNAN DENGAN KOMBINASI AERIAL FOTOGRAMETRI DAN TEXTURE IMAGE

Pemanfaatan ruang secara vertikal membutuhkan informasi spasial 3D (tiga dimensi). Informasi spasial 3D dapat disajikan dalam bentuk model 3D. Dengan metode aerial fotogrametri akan diperoleh informasi 3D detil atas bangunan yang akan sulit diperoleh dengan metode terestris untuk cakupan area pemetaan yang luas. Sedangkan texture image dengan transformasi citra akan memberikan informasi detil bangunan yang tidak terlihat secara aerial fotogrametri. Objek pemodelan 3D adalah beberapa bangunan di Jalan Djunjunan Bandung. Dari pengolahan data citra foto akan diperoleh koordinat-koordinat objek kemudian secara matematis akan diperoleh dimensi bangunan. Rekonstruksi model 3D dari dimensi bangunan dan texture image menggunakan software sketch up 8 . Kontrol kualitas dilakukan dengan metode terestris dengan menggunakan ETS untuk mendapatkan dimensi bangunan. Hasil pemodelan 3D dengan kombinasi aerial fotogrametri dan texture image dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pemodelan 3D dan disajikan dalam bentuk digital atau disajikan dengan skala 1:2500.

2026
👤 Penulis: RENNY PUTRIYANI (NIM 15106021); Pembimbing: Dr. Ir. Bobby Santoso Dipokusumo, MSc., dan Ir. Dicky A
🏷️ Aerotimbia 🏷️ Rekonstruksi Model 3D 🏷️ Pemetaan Ruang Vertikal

PEMBANGUNAN MODEL DISTRIBUSI POPULASI PENDUDUK PADA SISTEM GRID SKALA RAGAM (STUDI KASUS: WILAYAH BANDUNG)

Korelasi populasi penduduk terhadap fungsi lahan diperlukan untuk melihat distribusi populasi penduduk di suatu wilayah. Sedangkan dari data statistik jumlah populasi penduduk yang ada, populasi penduduk disajikan berdasarkan wilayah administrasi secara homogen. Sehingga diperlukan suatu model distribusi populasi penduduk secara spasial menurut data landuse/landcover yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Sistem grid skala ragam dapat digunakan untuk penyimpanan data distribusi populasi penduduk. Resolusi grid yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5” x 5” (0.155 x 0.155 km) dengan wilayah penelitian berada di wilayah Bandung. Untuk membuat model distribusi populasi penduduk wilayah Bandung dilakukan penggabungan data-data yang diperlukan. yaitu data landuse/landcover, data batas administrasi wilayah, dan data statistik jumlah populasi penduduk per kecamatan wilayah Bandung. Untuk mendapatkan informasi distribusi populasi jumlah penduduk pada setiap sel grid telah dibuat pendekatan model matematis untuk memperoleh nilai densitas populasi tiap kelas lahan per kecamatan dengan memasukan parameter bobot kelas lahan. Dari nilai model matematis tersebut didapatkan nilai densitas populasi penduduk yang kemudian dapat divisualisasikan secara gradual dan spasial dalam bentuk peta sehingga mempermudah pengguna dalam memperoleh informasi distribusi populasi di wilayah Bandung.

2026
👤 Penulis: RENEICA AYU PRATIWI (NIM 15108032); Pembimbing: Dr. Akhmad Riqqi, M.Si dan Ir. R. Driejana, M.SCE, P
🏷️ Geografi Digital 🏷️ Analisis Landas 🏷️ Model Matematika
Halaman 239 dari 6754
💬