📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENDEKATAN MULTIREGRESI INDEKS VEGETASI UNTUK PENDUGAAN STOK KARBON

Dalam upaya menekan laju pemanasan Global, terdapat beberapa alternatif yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mengoptimalkan fungsi ekosistem hutan sebagai penyerap gas CO2. Hutan berperan penting dalam menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam ekosistem hutan. Telah dipahami bahwa 80% karbon (C) terestrial tersimpan di dalam hutan dan sekitar 40% di dalam tanah. Kegiatan-kegiatan explorasi dan eksploitasi ekosistem hutan seperti konversi, deforestasi, degradasi hutan, dan reforestasi dapat mengubah jenis penutupan lahan dan berpotensi mengubah komposisi biomasa terrestrial dan bawah tanah. Karena itu dibutuhkan informasi yang cukup akurat untuk mengestimasi stok karbon yang tersimpan pada biomasa hutan sebagai informasi yang dapat menjelaskan daya serap karbon oleh hutan tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan pendugaan cadangan karbon dengan pendekatan indeks vegetasi menggunakan Citra Satelit LANDSAT 5 TM yang mencakup sebagian wilayah Jawa Barat, Indonesia. Citra satelit yang digunakan direkam pada tangal 2 Juli 2005 dengan pengukuran data cadangan karbon yang dilakukan dari bulan Juli 2008 – Agustus 2008. Cadangan karbon di dekati dengan persamaan multiregresi persamaan linier dan exponential. Hasil perhitungan dari persamaan linier berupa Y=102.135*WI-295.647*NDVI-23 dengan R-square adalah 0.78 dan hasil perhitungan persamaan exponential berupa Y = 0.192*(𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒(0.394 𝑥 𝑆𝑆𝑆𝑆) 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒(1.114 𝑥 𝑊𝑊𝑊𝑊)+ 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒(5.405 𝑥 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑊𝑊𝑊𝑊)) dengan nilai korelasi (R2)-nya adalah 0.865. Hasil studi juga menunjukan bahwa dengan mengkombinasikan beberapa variabel (multivariabel) indeks vegetasi dengan persamaan linier, menghasilkan peningkatan nilai korelasi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan pengestimasian cadangan cadangan karbon menggunakan satu variabel indeks vegetasi.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD ILHAM (NIM 15107004); Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, Ph.D. dan Dr. Firman Hadi
🏷️ Kartografi Satelit 🏷️ Analisis Indeks Vegetasi 🏷️ Manajemen Hutan

VERIFIKASI POSISI PIPA BAWAH LAUT PASCA PEMASANGAN (STUDI KASUS : BALIKPAPAN PLATFORM)

Pipa bawah laut memerlukan desain awal yang sempurna dan proses instalasi yang teliti agar keseluruhan proses pembangunan pipa berhasil dan cost effective. Pembangunan pipa dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu survei pra-pemasangan pipa bawah laut, pemasangan pipa bawah laut, dan survei pasca-pemasangan pipa bawah laut. Verifikasi pipa bawah laut termasuk ke dalam kegiatan survei pasca-pemasangan dengan tujuan utama untuk mendapatkan posisi absolute dari pipa bawah laut tersebut. Penulis melakukan pengolahan data multibeam echosounder dengan menggunakan perangkat lunak QINSy. Selain itu, dilakukan juga analisis mengenai perbandingan posisi dari rencana pipa dengan posisi pipa hasil dari pengolahan data multibeam echosounder. Hasil analisis kemudian akan digunakan untuk pertimbangan dalam perencanaan pembangunan pipa pada wilayah yang sama. Hasil pengolahan data multibeam echosounder menunjukkan terdapat perbedaan posisi perencanaan dan posisi aktual dari pipa. Perbedaan posisi tersebut terjadi pada bagian lengkungan dari pipa dengan perbedaan sejauh 5.4 m. Perbedaan yang terdapat pada lengkungan dari pipa ini masih dapat diterima, dikarenakan tidak ada posisi pipa yang free-span dan juga tidak mengakibatkan pipa ini berbenturan dengan pipa yang lainnya.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD FIRDAUS (NIM 15108028); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT dan Ir .Syamsul Bachri, M.En
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

LIDAR (LIGHT DETECTION AND RANGING) UNTUK PEMODELAN KOTA TIGA DIMENSI (STUDI KASUS : KOTA DAVAO, FILIPINA)

Fenomena meningkatnya pertumbuhan urbanisasi dan industrialisasi berpengaruh terhadap kebutuhan sistem perencanaan kota yang baik. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk membangun sistem perencanaan kota, salah satu teknik yang akurat dan memiliki kepadatan data yang tinggi adalah teknik dengan menggunakan LIDAR (Light Detection and Ranging). Dari pengolahan data LIDAR dapat dihasilkan model kota 3D yang nantinya digunakan sebagai sistem perencanaan kota yang baik. Hasil utama dari teknik LIDAR adalah DSM (Digital Surface Model) dan DTM (Digital Terrain Model) yang nantinya dapat digunakan untuk membangun model kota 3 dimensi. Model kota 3D dari daerah pusat kota dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam aplikasi, contohnya adalah operasi militer, manajemen bencana alam, pemetaan gedung dan ketinggian gedung, simulasi gedung baru, pembaharuan dan pelestarian data kadaster, rekonstruksi bangunan, dll. Metode yang penulis gunakan dalam pembuatan model kota tiga dimensi ini adalah ekstraksi bangunan menggunakan data LIDAR dan orthophoto. Pada penelitian ini penulis menggunakan data LIDAR dan orthophoto dari kota Davao di Filipina. DTM area penelitian dihasilkan dengan cara pembuatan TIN (Triangulated Irregular Network) dari point cloud yang berada pada kelas ground area penelitian. Hasil akhir yang diharapkan adalah model bangunan 3D diatas DTM area penelitian.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD ARIEF VANNESSYARDI (NIM: 15107056); Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, Ph.D., dan Daniel Ad
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Geodesi Digital 🏷️ Perencanaan Kota

STUDI DEFORMASI POST-SEISMIC GEMPA ACEH 2004 DENGAN MENGGUNAKAN METODE GPS

Gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan sekitarnya, merupakan salah satu bencana alam yang sangat besar. Bencana ini mengakibatkan kerusakan berbagai macam infrastruktur yang ada. Untuk itu, mitigasi bencana alam diperlukan sebagai tindakan preventif jika suatu saat terjadi pengulangan suatu bencana. Salah satu cara untuk melakukan mitigasi ialah mempelajari tahap post-seismic dari suatu siklus gempa. Dengan mempelajari tahap post-seismic diharapkan dapat melihat kemungkinan terjadinya pengulangan gempa dan mengetahui besarnya pergeseran yang terjadi sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Pengamatan post-seismic dapat dilakukan dengan metode survey GPS. GPS dapat memberikan nilai vektor pergeseran dengan tingkat presisi sampai beberapa milimeter. Penggunaan GPS dalam studi post-seismic adalah tindakan yang tepat, karena ketelitian pergeseran posisi yang dicari adalah dalam level milimeter. Berdasarkan pengamatan tahun 2007 sampai 2009, besar pergeseran akibat post-seismic gempa tsunami Aceh 2004, berkisar antara 5 sampai 15 cm pertahun. Berdasarkan penghitungan model, nilai deformasi post-seismic pada bidang gempa yaitu sebesar 35 cm pertahun.

2026
👤 Penulis: MOHAMMAD REZI MOCHTAR (NIM 15105035); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST., M.Sc., dan Heri Andreas ST
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Deformasi Geologi 🏷️ Metodologi Gps Dalam Mitigasi Bencana

SISTEM CORS (CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION) DI INDONESIA DAN DI BEBERAPA NEGARA LAINNYA

CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah salah satu teknologi berbasis GNSS yang dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi terkait penentuan posisi. CORS merupakan jaring kerangka geodetik aktif berupa stasiun permanen yang dilengkapi dengan receiver yang dapat menerima sinyal dari satelit GPS dan satelit GNSS lainnya, yang beroperasi secara kontinyu selama dua puluh empat jam. Dalam pemanfaatannya CORS dapat menyediakan data penentuan posisi secara real time ataupun post-processing dan menyediakan jaringan terbuka agar data-data posisi yang dihasilkan dapat diakses secara aktif oleh pengguna. Sistem serupa di seluruh dunia memiliki istilah berbagai macam istiliah yang berbeda untuk setiap negara. CORS di Indonesia sendiri pertama kali dioperasikan oleh Badan Informasi Geospasial (sebelumnya bernama Bakosurtanal) pada tahun 1996 dan disebut juga IPGSN (Indonesia Permanent GNSS Station Network). Pada bulan April 2012, jaringan CORS IPGSN telah memiliki 117 stasiun yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Selain jaringan IPGSN, jaringan CORS di Indonesia juga dikembangan oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang pada bulan April 2012 telah memiliki 93 stasiun dan 70 diantaranya berada di Pulau Jawa. Selain itu juga dijelaskan sistem CORS lainnya yang terdapat di dunia yaitu IGS, EPN, SWEPOS, TUSAGA-Aktif, GEONET, CORSnet-NSW, dan MyRTKnet. Pada penelitian ini diketahui bahwa jaringan CORS IPGSN milik BIG dan BPN belum berfungsi optimal dan jika dibandingkan dengan jaringan CORS lainnya yang ada di dunia, maka jaringan CORS IPGSN dan BPN masih harus dilakukan perbaikan pada berbagai aspek.

2026
👤 Penulis: MOHAMAD AZMI (NIM 15108029); Pembimbing: Dr.Ir. Dina A. Sarsito, M.T. dan Heri Andreas, S.T, M.T.
🏷️ Geodetika 🏷️ Sistem Geografi 🏷️ Pengolahan Sinyal Gps

PERBANDINGAN METODE REGISTRASI TERRESTRIAL LASER SCANNER (STUDI KASUS: AULA TIMUR DAN GARDU LISTRIK GKU TIMUR)

Suatu ide dapat dibuat menjadi model. Model tersebut direalisasikan menjadi bentuk nyata. Bentuk nyata tersebut dimodelkan kembali . Proses tersebut dinamakan pemodelan terbalik. Pemodelan terbalik semakin berkembang. Perkembangan tersebut diikuti dengan alat pemodelan terbalik tersebut. Perkembangan alat pemodelan terbalik tersebut dari pengambilan satu titik dalam satu satuan waktu sampai pengambilan banyak titik dalam satu satuan waktu. Salah satu contohnya adalah Terrestrial Laser Scanner. Alat Terrestrial Laser Scanner ini efektif sekali dipakai dalam pemodelan secara detail. Pemodelan alat Terrestrial Laser Scanner tersebut, dipengaruhi oleh metode registrasi. Metode registrasi tersebut terbagi menjadi 3 jenis yaitu target to target registrasi, cloud to cloud registrasi, dan traverse registrasi. Karena tahapan registrasi ini merupakan tahapan yang krusial maka diperlukan perbandingan antara metode tersebut. Perbandingan tersebut dilihat dari segi kualitas, kepraktisan dan persiapan pengambilan data. Dari hasil perbandingannya, metode registrasi yang diurutkan berdasarkan kualitasnya adalah metode registrasi target to target, metode registrasi cloud to cloud,dan metode registrasi traverse. Hasil perbandingan registrasi dari deviasi pemindaian pada gardu listrik gku timur adalah target to target registrasi sebesar 0.001m, cloud to cloud sebesar 0.005 m, dan traverse registrasi sebesar 0.048 m. Untuk studi kasus aula timur deviasi pemindaian registrasi tersebut adalah target to target registrasi sebesar 0.003m, cloud to cloud sebesar 0.071 m, dan traverse registrasi sebesar 0.196725 m secara relatif. Perbandingan tersebut diperlukan untuk mendukung pemilihan metode registrasi yang efektif.

2026
👤 Penulis: MOCHTAR (NIM 15107015); Pembimbing: Prof.Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D. dan Irwan Gumilar, S
🏷️ Pemodelan Terbalik 🏷️ Terrestrial Laser Scanner 🏷️ Metodologi Registrasi

IDENTIFIKASI SISTEM PENGUASAAN LAUT ADAT (STUDI KASUS: HARUKU)

Indonesia merupakan negara maritim terluas di dunia dengan keanekaragaman etnis terbesar di dunia. Oleh karena itu, sistem penguasaan laut adat perlu diidentifikasi sebagai masukan dalam pengelolaan kadaster kelautan di Indonesia. Identifikasi dilakukan di wilayah Haruku dengan berdasarkan pada 3 aspek, yaitu: aspek wilayah, aspek unit sosial pemegang hak, dan aspek legal beserta pelaksanaannya. Analisis penelitian ini dilakukan dengan membandingkan antara sistem penguasaan laut adat Haruku dan sistem penguasaan laut nasional. Kesimpulannya, bahwa pada aspek wilayah Haruku memiliki wilayah dengan penentuan batas tertentu. Pada aspek unit sosial pemegang hak, hak pengelolaan hanya warga dimiliki oleh Haruku. Sedangkan untuk aspek legal beserta pelaksanaannya, Haruku memiliki aturan adat dan badan Kewang yang menjaga jalannya peraturan adat tersebut.

2026
👤 Penulis: MIROLAS NOVE ADWAS (NIM 15107024); Pembimbing: Dr. Andri Hernandi, ST, MT, dan Dr. Ir. S. Hendriatin
🏷️ Sistem Penguasaan Laut Adat 🏷️ Manajemen Kadaster Kelautan 🏷️ Hidrologi

ESTIMASI LAJU GESER DARI SESAR SUMATERA DI ACEH BERDASARKAN PENGAMATAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) TAHUN 2009-2010

Abstrak tidak tersedia.

2026
👤 Penulis: MIRLIANSYAH (NIM 15106019); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc. dan Irwan Gumilar, S.T., M.Si
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geografi

SURVEI KONSTRUKSI PIPA GAS PADA PEMBANGUNAN PIPA DISTRIBUSI GAS BUMI UNTUK RUMAH TANGGA (Studi Kasus: Distribusi Gas Bumi, Sidoarjo, Jawa Timur)

Kegiatan survei konstruksi didefinisikan sebagai kegiatan yang dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan survei-survei untuk lokasi, desain, konstruksi, operasi dan pemeliharaan dari proyek-proyek sipil dan proyek rekayasa lainnya. Salah satu pekerjaan dalam survei konstruksi pipa distribusi gas bumi adalah pematokan (stake-out) titik-titik rencana as jalur pipa dari peta rencana ke lapangan. Dalam pekerjaan pematokan dapat dihitung akurasi pematokan. Perhitungan akurasi pematokan dapat dilakukan dengan mengimplementasikan rumus akurasi pematokan menggunakan data spesifikasi alat Electronic Total Station (ETS) dan standar deviasi titik ikat pematokan. Data yang digunakan berupa data pengukuran poligon sebagai titik ikat pematokan serta data titik rencana pematokan yang diperoleh dari peta rencana jalur pipa. Perhitungan yang dilakukan terdiri perhitungan sudut horizontal, perhitungan jarak pematokan, perhitungan standar deviasi titik rencana pematokan, prediksi panjang pipa serta analisis akurasi yang dicapai terhadap standar akurasi pematokan. Hasil perhitungan, diperoleh bahwa standar deviasi titik rencana pematokan lebih kecil dari standar akurasi pematokan, serta terdapat kecenderungan bahwa akurasi yang diperoleh menjadi semakin buruk jika jarak dari titik ikat ke titik rencana semakin besar. Metode hitungan akurasi pematokan ini bermanfaat untuk perencanaan pematokan maupun diterapkan dalam pekerjaan survei konstruksi lainnya.

2026
👤 Penulis: MIFTAHUS SIDDIQ (NIM 15105038); Pembimbing: Dr. Ir. S.Hendriatiningsih, MS., dan Dr. Ir. Dwi Wisayan
🏷️ Geodesika

PEMETAAN PERMASALAHAN MASYARAKAT PESISIR PASCA BENCANA TSUNAMI DALAM PERSPEKTIF PEMBUATAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA WILAYAH PESISIR

Indonesia adalah negara yang memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang rawan terjadi bencana sehingga mempengaruhi pembangunan di sebuah daerah. Terjadinya bencana tsunami pada wilayah pesisir Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2006 menyebabkan kerusakan parah di wilayah pesisir Pangandaran, sehingga mempengaruhi kegiatan masyarakat pesisir wilayah Pangandaran termasuk di dalamnya sosial, ekonomi, lingkungan, dan hukum. Dengan adanya fenomena tersebut, wilayah pesisir Pangandaran perlu dianalisis dan dipetakan dari segala aspek dalam perspektif sistem informasi yang hasilnya berguna sebagai bahan pertimbangan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami di wilayah pesisir Pangandaran.Aspek-aspek yang akan dipetakan dalam penelitian ini adalah empat entitas yang berperan dalam pembangunan wilayah pesisir yaitu sosial, ekonomi, lingkungan, dan hukum. Dengan mengklasifikasikan dan melakukan skoring data yang nantinya disusun dalam bentuk basis data spasial dan atribut, maka akan diperoleh peta permasalahan masyarakat pesisir Pangandaran.Berdasarkan hasil penelitian, dilakukan analisis korelasi, asosiasi geografikal, dan skalogram yang menyatakan bahwa Desa Pangandaran dan Desa Pananjung di wilayah pesisir Pangandaran terdapat permasalahan yang mencakup empat aspek tersebut diatas. Selain itu, peta permasalahan masyarakat wilayah pesisir Pangandaran dalam perspekif sistem informasi menyatakan bahwa Desa Pananjung mengalami permasalahan lebih banyak daripada Desa Pangandaran.

2026
👤 Penulis: M. GUNAWAN RADITYA (NIM 15105007); Pembimbing: Dr. Ir. Dwi Wisayantono, MT., dan Dr. Ir. Eka Djunars
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data Geografis

VARIASI SPASIO TEMPORAL UNDULASI GEOID DI GREENLAND BERDASARKAN DATA SATELIT GRACE

Satelit GRACE dapat dimanfaatkan untuk mengamati perubahan medan gaya berat di Greenland secara temporal (bulanan). Parameter medan gaya berat yang diamati adalah undulasi geoid. Pemanfaatan data satelit GRACE harus diproses dengan algoritma yang sesuai. Dalam hal ini undulasi geoid dihitung berdasarkan koefisien geopotensial global. Untuk mereduksi efek ring waves digunakan filter Gentlycut. Variasi perubahan undulasi geoid di Greenland menunjukkan kecenderungan menurun dalam kurun waktu (2004 – 2009), yang sesuai dengan informasi kenaikan muka tanah yang ditunjukkan dari hasil pengamatan dengan GPS. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan berkurangnya massa tutupan es di Greenland sebagai dampak dari pemanasan global.

2026
👤 Penulis: MEILINE HARLIANA SIAHAAN (NIM 15106045); Pembimbing: Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc.
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Satelit Grace 🏷️ Hidrologi

TINGKAT REGANGAN DI SELAT SUNDA BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2006 - 2010

Selat Sunda berada pada pertemuan dua lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Selat Sunda memiliki aktivitas seismik yang cukup tinggi. Hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa kejadian gempa yang pernah terjadi di wilayah Selat Sunda. Tingginya aktivitas seismik tersebut disebabkan oleh adanya zona subduksi dan beberapa sesar di wilayah Selat Sunda. Sesar yang diteliti dalam Tugas Akhir ini yaitu sesar Sumatera segmen Teluk Semangka dan terusan sesar Sumatera. Berdasarkan cukup tingginya aktivitas seismik di Selat Sunda maka perlu dilakukan penelitian mengenai regangan yang terjadi di wilayah Selat Sunda untuk mengetahui aktivitas tektonik di daerah tersebut. Kemudian dilakukan analisis potensi bahaya gempa berdasarkan aktivitas kedua sesar tersebut.

2026
👤 Penulis: MARTA NUGRAHA HIDAYAT (NIM 15106024); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc., dan Irwan Gumilar, S
🏷️ Hidrologi 🏷️ Teknik Geofisika 🏷️ Geoteknik

PENERAPAN MANAJEMEN PROYEK SURVEI TOPOGRAFI PADA EKSPLORASI TAMBANG BATU BARA

Survei topografi mempunyai peranan yang sangat penting mulai dari awal proses penambangan batu bara hingga akhir. Pada tahap eksplorasi rinci, dibutuhkan peta detail topografi skala 1:1000 untuk mengetahui koreksi topografi dari daerah pengeboran hingga arah penyebaran, kemiringan dan perkiraan cadangan awal pada suatu daerah yang dieksplorasi agar dapat diinterpretasikan dengan baik. Untuk mendapatkan hasil kegiatan survei topografi yang maskimal, dibutuhkan penerapan manajemen survei pemetaan bagi individu ataupun perusahaan agar dapat melaksanakan kegiatan survei topografi dengan prinsip efisiensi dan efektivitas. Perencanaan survei topografi meliputi perencanaan teknis pelaksanaan, sumber daya manusia, jadwal serta biaya. Pada perencanaan teknis dilakukan pembagian zona pengukuran dan penentuan titik-titik rencana bench mark. Selanjutnya, tahap pelaksanaan merupakan proses implementasi dari perencanaan proyek yang terdiri dari pengukuran kerangka dasar, pengukuran detail situasi dan pengukuran titik kontrol. Pengendalian proyek survei topografi dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan non-teknis yang dapat terjadi saat pelaksanaan survei topografi. Penerapan manajemen proyek dapat menghasilkan rencana teknis survei topografi yang digunakan sebagai dasar perencanaan waktu, sumber daya manusia serta biaya pelaksanaan survei topografi pada eksplorasi rinci tambang batu bara. Agar perencanaan survei topografi efektif, harus dilakukan kegiatan penyuluhan lapangan terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan keadaan aktual dari wilayah pengukuran.

2026
👤 Penulis: MANGGALA MAHARDHIKA (NIM 15107035); Pembimbing: Dr.Ir. S. Hendriatiningsih, MS., dan Dr.Ir. Dwi Wisa
🏷️ Manajemen Proyek 🏷️ Eksplorasi Tambang Batu Bara 🏷️ Survei Topografi

KAJIAN EFEKTIFITAS ANTARA APLIKASI MULTIBEAM ECHOSOUNDER DENGAN PERPADUAN SINGLEBEAM ECHOSOUNDER - SIDE SCAN SONAR DALAM SURVEI LOKASI ANJUNGAN EKSPLORASI MINYAK LEPAS PANTAI STUDI KASUS: SITE BAWEAN AREA, JAWA TIMUR

Survei lokasi dilakukan untuk mengetahui bahaya-bahaya dasar laut pada area pemasangan eksplorasi minyak lepas pantai. Salah satu kegiatan utama dalam survei lokasi adalah survei batimetri. Pelaksanaan survei batimetri sebagai metode penggambaran kedalaman dasar laut dapat dilakukan menggunakan Multibeam Echosounder (MBES) atau Singlebeam Echosounder (SBES). Kedua metode tersebut diolah menjadi visualisasi 3-dimensi dan 2-dimensi dengan menggunakan QINSy 2008 untuk kemudian saling dibandingkan keefektifannya dalam memberikan gambaran kedalaman dari suatu area kajian survei yang dibuentuk di Bawean Area di Jawa Timur. Karena SBES tidak memiliki cakupan visual dari suatu area, maka data kedalaman SBES akan digabungkan dengan data visual dari Side Scan Sonar (SSS) menggunakan program Global Mapper v.11. Pada kedua area kajian tersebut akan dilakukan kajian efektifitas kemampuan deteksi objek, kajian efektifitas waktu, dan kajian biaya operasionalnya. Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa MBES memiliki kemampuan deteksi koordinat yang lebih akurat dan efektifitas waktu yang lebih baik dibandingkan dengan SBES-SSS. Untuk biaya operasional, SBES-SSS jauh menggungguli MBES. Secara teknis, MBES merupakan alat yang paling tepat untuk digunakan dalam survei lokasi anjungan eksplorasi minyak lepas pantai. Akan tetapi diakrenakan secara biaya MBES membutuhkan dana operasional yang jauh lebih besar, maka apabila spesifikasi teknis yang diinginkan dari suatu survei lokasi dapat dipenuhi dengan speifikasi teknis SBES-SSS disarankan untuk menggunakan sistem SBES-SSS yang notabene jauh lebih murah.

2026
👤 Penulis: MADE SATYADHIRA MADALILA (NIM 15108047); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT. dan Ir. Samsul Bach
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGUKURAN PARAMETER STRUKTURAL HUTAN MENGGUNAKAN DATA LIGHT DETECTION AND RANGING (STUDI KASUS: PERKEBUNAN KELAPA SAWIT, SUMATERA SELATAN)

Dalam identifikasi dan pengelolaan potensi hutan atau perkebunan, kebutuhan data struktural sangat penting. Perkebunan kelapa sawit yang memiliki potensi tinggi pada sektor lingkungan dan ekonomi memerlukan pengelolaan yang baik dan terencana. Pengukuran parameter struktural pada perkebunan kelapa sawit akan memberikan informasi yang diperlukan dalam rangka pemantauan dan pengelolaan area tersebut. Proses pengukuran pada area yang luas ini dapat didukung oleh teknologi penginderaan jauh dengan ketelitian tinggi, yaitu Light Detection and Ranging atau LiDAR. Teknologi LiDAR dengan keunggulan multiple return tidak hanya mampu memindai struktur hutan dari sisi atas saja, namun juga dapat mengukur bagian-bagian kanopi pohon dan objek-objek lain di bawahnya. Dengan begitu, pemodelan struktur dapat mencakup seluruh vegetasi pada perkebunan kelapa sawit dengan lebih akurat. Pantulan pulsa laser yang juga diperoleh dari permukaan tanah memungkinkan pula untuk melakukan pemodelan elevasi permukaan tanah yang tertutup oleh kanopi pohon berupa Digital Terrain Model (DTM). Dengan metode rasterisasi, dapat dibentuk pemodelan elevasi kanopi pohon Canopy Height Model (CHM) dengan mengurangkan Digital Surface Model (DSM) dan DTM. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh ketinggian pohon 49,15% antara 10,3-20,3 meter, 42,75% antara 0,3-10,3 meter, 8,1% antara 0-0,3 meter, 0,02 % antara 20,3-30,3 meter, dan total volume kanopi 8684,242 m3 pada area studi.

2026
👤 Penulis: LISSA FAJRI YAYUSMAN (NIM 15107074); Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, Ph.D., dan Daniel Adi Nugroh
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 242 dari 6754
💬