📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS METODE GPS KINEMATIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK RTKLIB
Salah satu perangkat lunak pengolah data GPS secara kinematik yang dikembangkan pada saat ini adalah RTKLIB. RTKLIB ini merupakan perangkat lunak yang bebas diunduh dan digunakan oleh siapa saja. Perangkat lunak ini juga dapat melakukan pemrosesan data secara cepat dan dalam pemrosesan datanya dapat diintegrasikan secara post-processing maupun real-time. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap kemampuan perangkat lunak RTKLIB menggunakan data pengamatan GPS dengan berbagai variasi panjang baseline pada saat tidak terjadi gempa serta pendeteksian offset gempa dari hasil pengolahan baseline pengamatan GPS kontinyu pada saat terjadi gempa. Dalam pengujian ini dapat diketahui kestabilan hasil pengolahan data GPS dengan menggunakan RTKLIB serta dapat diketahui juga kemampuan dan kehandalan perangkat lunak ini dalam mendeteksi offset gempa. Sebagai pembanding dari kualitas hasil pengolahan data dengan RTKLIB dipilih perangkat lunak TTC(Trimble Total Control) untuk mengolah baseline pengamatan GPS yang sama. Dari hasil pengolahan baseline GPS dengan menggunakan RTKLIB dan TTC nampak bahwa RTKLIB memberikan hasil yang memiliki kestablian yang lebih baik daripada TTC. Pada kategori baseline pendek nilai standar deviasinya kurang dari 1 cm, pada kategori baseline menengah nilai standar deviasinya antara 3- 6 cm, sedangkan pada kategori baseline sangat panjang memiliki nilai standar deviasi 3-8 cm. Pada pendeteksian offset gempa, RTKLIB mampu mendeteksi offset gempa pada variasi baseline yang lebih beragam daripada TTC.
KAJIAN TERHADAP KEBIJAKAN KADASTER PERAIRAN LAUT
Pemanfaatan kawasan laut berupa objek-objek perairan laut seringkali mengabaikan kepentingan pihak lain, sehingga menimbulkan berbagai konflik. Hal ini disebabkan belum adanya peraturan yang membatasi kewenangan objek-objek perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perundangan yang berlaku saat ini mengatur batasan pemanfaatan ruang laut.Metode yang digunakan yaitu dengan mengidentifikasi objek perairan laut, merangkum aturan perundangan yang terkait dengan kadaster perairan laut, menerapkan konsep pendaftaran objek perairan laut, dan mengklasifikasi lembaga/institusi sesuai dengan kewenangannya. Kajian ini mencakup aspek hukum, aspek teknik, dan aspek kelembagaan.Hasil yang diperoleh dari aspek hukum yaitu telah ada beberapa perundangan yang mengatur batasan pemanfaatan ruang laut. Berdasarkan aspek teknis, pendaftaran objek perairan laut mengacu pada pendaftaran objek kadaster darat. Sedangkan dari aspek kelembagaan, belum ada sentralisasi lembaga yang sah secara hukum.
STUDI AKTIVITAS SESAR BARIBIS BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2007 - 2010
Jawa Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berpotensi akan bencana gempa bumi, hal ini dapat dilihat dari posisi Jawa Barat yang berada di daerah zona subduksi lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Saat ini telah terbentuk tiga buah sesar aktif di Jawa Barat, diantaranya Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, dan Sesar Baribis. Sesar Baribis merupakan sesar aktif dengan proses pembentukkan paling terakhir dengan jalur sesar yang terbentang dari daerah Subang hingga daerah perbukitan di sekitar Gunung Ciremai. Sesar Baribis memiliki potensi yang cukup besar akan terjadinya gema bumi, oleh karena itu diperlukan pemantauan aktivitas pada Sesar Baribis. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk memantau aktivitas Sesar Baribis adalah dengan menggunakan metode survei GPS. Data pengamatan GPS tersebut diolah dengan menggunakan software ilmiah Bernese 5.0 yang selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai vektor pergeseran, nilai regangan, serta laju geser untuk keperluan analisis deformasi. Berdasarkan analisis deformasi tersebut, dapat diketahui aktivitas sesar yang terjadi di Sesar Baribis. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa vektor pergeseran di Sesar Baribis mengarah ke barat laut dengan nilai pergeseran berkisar dari 2 mm/tahun sampai dengan 5 cm/tahun. Berdasarkan pola regangannya, di sekitar Sesar Baribis mengalami ekstensi dan kompresi secara merata, namun nilai kompresi cenderung lebih besar dibandingkan dengan nilai ekstensi. Estimasi laju geser dari sesar ini memiliki nilai sebesar 1.9 cm/tahun.
PERHITUNGAN LAJU ABRASI DAN SEDIMENTASI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN INDRAMAYU MELALUI CITRA SATELIT LANDSAT
Fenomena abrasi dan sedimentasi merupakan hal yang sering terjadi pada wilayah pesisir di Indonesia. Abrasi dan sedimentasi dapat disebabkan oleh dinamika pantai maupun campur tangan manusia. Abrasi dan sedimentasi yang terjadi dapat memberikan dampak yang merugikan, seperti berkurangnya wilayah daratan dari suatu daerah yang dapat mengakibatkan berkurangnya nilai ekonomi di wilayah tersebut. Salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai tingkat abrasi dan sedimentasi yang tinggi pada wilayah pesisirnya adalah Kabupaten Indramayu. Untuk mencegah dampak merugikan yang ditimbulkan dari abrasi dan sedimentasi yang terjadi, perlu dilakukan penghitungan laju abrasi dan sedimentasi di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu.Pada penelitian ini, perhitungan laju abrasi dan sedimentasi di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu menggunakan citra Landsat pada tahun 2001, 2003, 2005, 2007, dan 2009 dengan enam (6) macam metode. Metode-metode tersebut adalah rationing, density slicing, spatial filtering, komposit RGB, algoritma AGSO, dan algoritma BILKO.Hasil perhitungan laju abrasi dan sedimentasi yang terjadi di Kabupaten Indramayu pada tahun 2001 sampai 2009 memberikan nilai yang berbeda pada tiap metode yang digunakan. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh perbedaan batas antara daratan dan lautan yang didefinisikan oleh masing-masing metode. Metode rationing dan algoritma BILKO pada pengolahan dengan menggunakan citra Landsat tahun 2009 memberikan hasil yang terbaik bila dibandingkan dengan survei garis pantai di Kabupaten Indramayu pada tahun 2010.
PEMETAAN PARAMETER DINAMIKA LAUT MELALUI PEMODELAN NUMERIK SEBAGAI VARIABEL KERENTANAN WILAYAH PESISIR TERHADAP ABRASI (Wilayah Studi : Kabupaten dan Kota Cirebon)
Indonesia merupakan negara kepulauan dimana Indonesia memiliki banyak wilayah pesisir yang merupakan daerah peralihan antara daratan dan lautan. Wilayah pesisir sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan. Salah satu penyebab kerusakan lingkungan di wilayah pesisir yaitu proses dinamika laut yang dapat menyebabkan terjadinya abrasi. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk melakukan pemetaan dinamika laut (pasang surut dan arus) sebagai variabel kerentanan wilayah pesisir terhadap abrasi. Dalam tugas akhir ini, wilayah pesisir Kabupaten dan Kota Cirebon dijadikan sebagai wilayah studi yang meliputi proses persiapan survei, pelaksanaan survei, pengolahan data dan analisis dari hasil pemetaan dinamika laut.Hasil yang didapat dari pemetaan dinamika laut ini yaitu berupa peta tunggang pasut dan kecepatan arus maksimum pada dua musim yang berbeda, yaitu musim angin barat dan musim angin timur. Nilai kecepatan arus dan tunggang pasut maksimum terjadi pada musim angin barat, yaitu 0,18 m/s untuk kecepatan arus dan 0,40 m untuk tunggang pasut. Dari hasil pemetaan dinamika laut yang dilakukan, wilayah pesisir Kabupaten dan Kota Cirebon termasuk kedalam daerah yang aman terhadap proses terjadinya abrasi.
PEMETAAN CHART DATUM DENGAN PENDEKATAN MODEL PASANG SURUT GLOBAL TPXO 7.1 (WILAYAH STUDI : PROVINSI JAWA BARAT)
Pengamatan pasang surut mempunyai banyak sekali manfaat di bidang geodesi terutama untuk menentukan datum vertikal. Datum vertikal yang paling umum digunakan adalah bidang mean sea level dan chart datum. Pada awalnya pengamatan pasang surut dilakukan dengan mengamati ketinggian muka air yang ditunjukkan dengan angka pada rambu ukur, seiring dengan perkembangan teknologi satelit altimetri dapat mengamati ketinggian muka air tanpa pengukuran langsung dan mencakup wilayah yang lebih luas. Hasil analisis data yang didapatkan dari pengamatan satelit altimetri dikumpulkan sehingga dapat dibentuk suatu model pasang surut global. Namun penggunaan model pasang surut masih perlu diverifikasi dengan pengukuran stasiun pasang surut untuk mengetahui kualitas model. Model pasang surut yang digunakan pada tugas akhir ini adalah TPXO 7.1.Pengerjaan tugas akhir ini adalah dengan mengekstrak nilai amplitudo dan fase komponen harmonik pasang surut pada model dan menentukankedudukan chart datum terhadap MSL dari amplitudo komponen pasang surut. Hasil penentuan kedudukan chart datum terhadap MSL dengan pendekatan model pasut surut TPXO 7.1, wilayah perairan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa kedudukan chart datum terhadap MSL di wilayah utara lebih kecil daripada wilayah selatan dengan jenis pasang surut yang bervariasi.Arah gelombang pasang surut yang terjadi pada pantai utara dari barat ke timur, sedangkan pantai selatan dari timur ke barat.
PEMANFAATAN GOOGLE FUSION TABLES DALAM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK PEMASARAN PROPERTI
Properti adalah sebuah komoditas bisnis yang sangat menarik. Menurut teori mikroekonomi, properti adalah komoditas yang nilainya secara ekonomi akan selalu meningkat, karena ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan (pasar tidak sempurna). Meskipun permintaan akan properti cukup tinggi, namun saat ini pemanfaatan sistem informasi geografis (SIG) berbasis web untuk pemasaran properti masih terbatas. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dibuat sebuah SIG berbasis web untuk pemasaran properti. Pembangunan SIG berbasis web akan dilakukan menggunakan perangkat lunak Google Fusion Tables sebagai DBMS dan Google Maps untuk tampilan peta. Penelitian akan diawali dengan analisis kebutuhan pengguna dan studi literatur, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data. Setelah itu akan dilakukan perancangan basis data. Kemudian, dilakukan pembangunan basis data dan implementasi antarmuka berbasis web. Sistem ini kemudian akan dianalisis dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah sebuah SIG berbasis web sebagai sarana pemasaran properti. Sistem ini diharapkan akan memberikan kemudahan bagi pengguna (agen dan klien properti) terutama dalam memfasilitasi pemasaran properti.
PENETAPAN GARIS PANTAI DENGAN ACUAN CHART DATUM BERDASARKAN PETA RUPA BUMI INDONESIA (STUDI KASUS: PANTAI PANGANDARAN, CIAMIS - JAWA BARAT)
Garis pantai memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu negara terutama negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan adanya informasi garis pantai yang dimiliki, maka akan dapat ditentukan batas wilayah baik itu batas wilayah teritorial maupun batas wilayah administratif suatu daerah. Selain itu informasi mengenai garis pantai ini juga dimanfaatkan untuk pengelolaan tata ruang suatu wilayah pesisir dan pemanfaatan potensi sumber daya yang dimiliki daerah tersebut. Garis pantai merupakan garis pertemuan antara daratan dan lautan. Ada tiga jenis garis pantai yang bisa di tarik dari kedudukan muka laut yang ada yakni; garis pantai air tinggi, garis pantai air rata-rata, dan garis pantai air rendah. Informasi mengenai garis pantai ini bisa diperoleh dari peta topografi atau peta rupa bumi Indonesia. untuk penentuan garis pantai ini diperlukan data pengamatan pasut dalam jangka waktu tertentu. Data pengamatan pasut ini dianalisis dengan menggunakan analsisis harmonic pasut agar dapat ditentukan nilai datum vertical yang adan ditetapkan sebagai chart datum. Untuk keperluan penelitian tugas akhir ini maka garis pantai yang digunakan adalah garis pantai yang mengacu pada air rendah atau chart datum.
ANALISIS DEFORMASI AKIBAT SESAR AKTIF DI SEKITAR GUNUNG API LOKON BERDASARKAN DATA GPS TAHUN 2009-2011
Abstrak
KAJIAN AWAL STRATEGI PERAN SURVEYOR BERLISENSI DALAM PROSES PERCEPATAN PENDAFTARAN TANAH DI INDONESIA (STUDI KASUS : KANTOR PERTANAHAN JAKARTA TIMUR)
Sampai saat ini permohonan pengukuran yang masuk ke Kantor Pertanahan Jakarta Timur guna pendaftaran tanah baik pertama kali maupun pemeliharaan data pendaftaran tanah dinilai cukup banyak, untuk menangani jumlah permohonan-permohonan tersebut diperlukan tenaga ahli yang paham secara konseptual dan praktis dalam kegiatan pengukuran dan pemetaan kadastral yakni surveyor berlisensi mengingat kemampuan petugas ukur yang terbatas. Di Kantor Pertanahan Jakarta Timur terdapat 21 surveyor berlisensi yang bertugas, tetapi dampak kinerja dari surveyor berlisensi bagi peningkatan pendaftaran tanah belum terlihat, hal tersebut dapat dibuktikan dengan hanya 2 surveyor berlisensi yang masih aktif sampai saat ini Kemampuan kinerja petugas ukur dan surveyor berlisensi dilakukan dengan cara wawancara, sedangkan pemilihan strategi peningkatan kinerja surveyor berlisensi dilakukan dengan cara metode Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT) yang didasari kemampuan kinerja surveyor berlisensi, untuk analisis digunakan metode perbandingan hasil SWOT dengan indikator yang terbentuk pada kondisi yang ada. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah strategi guna peningkatan kinerja surveyor berlisensi di Kantor Pertanahan Jakarta Timur.
KAJIAN PRINSIP EKUIDISTAN DAN PROPORSIONALITAS DALAM PENETAPAN BATAS LAUT ANTAR NEGARA KEPULAUAN (STUDI KASUS: INDONESIA-FILIPINA)
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki perbandingan luas laut dan daratan 2:1, Indonesia berbatasan laut dengan 10 negara sekitar. Dari 10 negara tersebut Indonesia berbatasan dengan 8 negara pantai dan 2 negara kepulauan. Diantara Negara tersebut belum semua batas laut sudah disepakati, salah satunya adalah Negara Filipina, dimana kedua negara belum menyelesaikan batas laut ZEE dan Landas Kontinen. Dalam tugas akhir ini,akan dilakukan penetapan batas laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dengan Filipina di Laut Sulawesi, yang didasarkan pada UNCLOS 1982, dengan prinsip ekuidistan dan proporsionalitas sesuai dengan teknis pelaksanaan yang tertulis dalam TALOS edisi tahun 2006, untuk prinsip ekuidistan pelaksanaannya dilakukan dengan konsep lingkaran dan bisek. Kemudian, untuk prinsip proporsionalitas pada TALOS 2006 Bab 6, Bab tersebut memberikan petunjuk bahwa pembagian zona maritim dilakukan berdasarkan dengan perbandingan relatif panjang garis pantai antara kedua negara. Bila diterapkan kepada kasus Indonesia Filipina maka diperoleh rasio proporsionalitas sebesar 70:30. Untuk proporsi berikutnya yang diambil yaitu 60:40 yang didasarkan nilai tengah proporsionalitas 70:30 dan ekuidistan 50:50. Sehingga hasil penelitian ini akan diperoleh hasil penarikan batas antar Negara kepulauan Indonesia-Filipina dengan prinsip ekuidistan dan proporsionalitas berupa empat peta batas ZEE Indonesia-Filipina, Peta ZEE prinsip ekuidistan konsep lingkaran, Peta ZEE prinsip ekuidistan konsep bisek, Peta ZEE proporsionalitas 70:30 konsep bisek, Peta ZEE proporsionalitas 60:40 konsep bisek.
PENENTUAN KOREKSI KECEPATAN KAPAL PADA PENGUKURAN ARUS SECARA KINEMATIK MENGGUNAKAN C-NAV DGPS
Pengukuran arus secara kinematik saat ini hanya dapat dilakukan dengan baik dengan menggunakan sistem yang sudah difasilitasi bottom-tracking untuk mengukur arus relatif terhadap permukaan dasar laut. Alat pengukuran arus secara statik juga dapat digunakan untuk pengukuran arus secara kinematik dengan memperhitungkan kecepatan kapal (wahana tempat alat pengukur arus ditempatkan) sebagai faktor koreksi nilai arus yang didapatkan langsung dari alat untuk mendapatkan nilai arus absolut (relatif terhadap dasar permukaan laut). Untuk mendapatkan kecepatan kapal dibutuhkan data posisi yang memiliki tingkat akurasi dan presisi yang cukup secara real-time. C-Nav yang merupakan salah satu sistem Diferensial GPS digunakan untuk diuji keterandalannya dalam menentukan kecepatan kapal tersebut dibandingkan dengan Real-Time Kinematic (RTK) yang juga merupakan sistem penentuan posisi real-time dan memiliki tingkat akurasi yang lebih baik. Uji dilakukan dengan melihat nilai ketelitian dari posisi yang dihasilkan C-Nav dan membandingkan kecepatan kapal yang dihasilkan C-Nav terhadap RTK. Ternyata didapatkan bahwa C-Nav dapat digunakan untuk penentuan kecepatan kapal pada pengukuran arus secara kinematik dengan baik pada rentang kecepatan 0.80 sampai 1.68 m/s untuk arus yang memiliki nilai tidak lebih kecil dari 0.10 m/s.
KAJIAN TEKNIS TERHADAP ALAT UKUR KEDALAMAN HD-370 DIGITAL ECHOSOUNDER UNTUK KEPERLUAN SURVEI GARIS AIR RENDAH
Pemeruman merupakan salah satu dari kegiatan survei hidrografi,yaitu pengukuran titik-titik kedalaman dan posisi horisontal titik-titik tersebut. HD-370 Digital Echosounder merupakan alat baru yang belum di uji keterandalannya sehingga diperlukan penelitian alat ini untuk mengetahui sejauh mana alat ini dapat digunakan untuk keperluan survei hidrografi.Penelitian ini membandingkan hasil data pengukuran alat HD-370 Digital Echosounder dengan hasil data pengukuran alat yang sudah kita percaya keandalannya yaitu Midas Valeport. Pengukuran ini dilakukan di dua lokasi yang berbeda yaitu di kolam bebek Ancol untuk menentukan karakteristik dari HD-370 Digital Echosounder dan di Hotel Laut Jaya,Tanjung Pinang Bintan untuk implementasi dari HD-370 Digital Echosounder dalam penentuan garis air rendah.Hasil pengukuran ini memperlihatkan data hasil kedalaman dari HD-370 Digital Echosounder yang mempunyai banyak kesalahan dan tidak sesuai dengan lokasi survei di kolam bebek Ancol. Hal ini dikarenakan frekuensi HD-370 Digital Echosounder yang tidak stabil dan parameter alat yang belum sempurna.
SISTEM SATELIT NAVIGASI COMPASS
Saat ini GNSS terdiri dari empat sistem satelit navigasi, yaitu sistem GPS milik Amerika Serikat, sistem GLONASS milik Rusia, sistem GALILEO milik Uni-Eropa, dan sistem COMPASS/Beidou milik China. Dibandingkan yang lainnya, pengetahuan tentang sistem satelit navigasi global milik China ini masih sangat minim. Segmen angkasa sistem COMPASS direncanakan akan terdiri dari lima satelit GEO dan 30 satelit non-GEO. Masing-masing satelit GEO ditempatkan pada 58.75°E, 80°E, 110.5°E, 140°E, dan 160°E. Satelit non-GEO terdiri dari 27 satelit MEO dan tiga satelit IGSO. Satelit MEO beroperasi pada ketinggian orbit rata-rata 21.500 km dengan inklinasi 55° yang terdistribusi pada tiga bidang orbit. Satelit IGSO beroperasi pada ketinggian orbit 36.000 km dengan inklinasi 55° yang terdistribusi pada tiga bidang orbit. Segmen kontrol sistem COMPASS saat ini menggunakan satu Master Control Station (MCS), dua Upload Station (US), dan 30 jaringan Monitor Station (MS) yang tersebar secara global. Komponen-komponen segmen kontrol ini mempunyai tugas yang berbeda-beda satu sama lain. Segmen pengguna sistem COMPASS terdiri dari beragam jenis receiver yang kompatibel dengan sistem satelit navigasi lainnya. Sistem COMPASS menggunakan Beidou Coordinate System (BDC) sebagai sistem koordinatnya dan Beidou Time (BDT) untuk sistem waktunya. Sistem COMPASS telah digunakan dalam berbagai bidang seperti transportasi, kelautan dan perikanan, pencegahan kebakaran hutan, mitigasi bencana, keamanan nasional dan banyak bidang lainnya. Perbedaan utama sistem COMPASS dengan sistem GNSS lainnya terletak pada jumlah konstelasi satelit dan layanan yang ditawarkan.
ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI LOKON (SULAWESI UTARA) BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS NOVEMBER-DESEMBER 2009 DAN MARET 2010
Dalam melakukan penelitian deformasi yang terjadi pada Gunungapi Lokon, digunakan data pengamatan GPS (Global Positioning System) bulan November-Desember 2009 dan Maret 2010. Data GPS lalu diolah, dan dihasilkan koordinat geosentrik dan standar deviasi serta koordinat geodetik. Koordinat geosentrik dan standar deviasi yang didapat kemudian ditransformasikan ke dalam sistem toposentrik. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji -t dan nilai resultan pergeseran titik pengamatan dinyatakan lulus uji statistik, maka selanjutnya dilakukan plotting vektor pergeseran.