📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK PROMOSI DAN PEMASARAN KEPARIWISATAAN (STUDI KASUS : KABUPATEN GARUT)
Sektor pariwisata merupakan salah satu industri yang dapat diandalkan untuk meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PBD) suatu negara. Akan tetapi apabila dilihat dari perbandingan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke negara-negara ASEAN pada tahun 2006 sampai dengan 2009, Indonesia hanya menempati peringkat empat setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan adalah memberikan informasi mengenai kepariwisataan di Indonesia secara lengkap dan terintegrasi. Informasi geografis sangat berperan dalam perencanaan wisata dan memandu perjalanan wisatawan. Dengan menggunakan data spasial dan data atribut, Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat menjadi solusi untuk memberikan informasi kepariwisataan. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dibuat sebuah SIG berbasis web yang dikembangkan dalam jaringan internet. Pembangunan SIG berbasis web ini akan dilakukan menggunakan perangkat lunak MySQL sebagai sistem manajemen basis data dan Google Maps API untuk visualisasi peta dalam bentuk tampilan antarmuka berbasis web. SIG berbasis web ini diharapkan dapat memperkaya bentuk promosi dan pemasaran sehingga dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Indonesia.
VISUALISASI OBJEK KADASTER KELAUTAN TIGA DIMENSI (3D) DENGAN MENGGUNAKAN METODE HYBRID UNTUK MENDUKUNG KADASTER KELAUTAN
Berkembangnya konsep kadaster kelautan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Contohnya, jumlah penduduk yang terus bertambah, meningkatnya kegiatan manusia dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi sumber daya serta semakin sedikitnya lahan di darat, membuat kebutuhan akan ruang di laut semakin meningkat. Ruang laut yang mempunyai sifat tiga dimensi (permukaan laut, kolom antara permukaan laut dan dasar laut serta dasar laut itu sendiri) membutuhkan penataan dan pengelolaan ruang yang baik. Penataan ruang itu diperlukan agar tidak terjadi konflik antar dua pihak yang mempunyai hak pengelolaan ruang laut yang bersebelahan.Visualisasi yang digunakan pada saat ini, yaitu visualisasi dua dimensi (2D). Visualisasi ini mempunyai kekurangan dalam menampilkan bentuk geometri dan ruang objek kadaster kelautan.Untuk menutupi kekurangan tersebut, maka muncul lah konsep visualisasi tiga dimensi (3D). Visualisasi 3D mempunyai kemampuan dalam menampilkan bentuk geometri dan ruang objek kadaster kelautan dengan tidak melupakan konsep 2D (posisi dan luas). Visualisasi 3D yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode hybrid dimana informasi 2D yang telah ada ditambahkan atau diintegritaskan dengan informasi ketinggian/kedalaman objek kadaster kelautan.Hasil dari penelitian ini yaitu Hotel Laut Jaya yang terletak di daerah pesisir dapat divisualisasikan secara 3D dengan menggunakan metode hybrid.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI TUMBUHAN BERBASISKAN PADA LOKASI MENGGUNAKAN CONTENT MANAGEMENT SYSTEM (STUDI KASUS KOTA BANDUNG)
Salah satu misi Herbarium Bandungense adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang keanekaragaman hayati melalui media elektronik jaring internet. Untuk mewujutkan misi tersebut, Herbarium Bandungense telah membangun basis data mengenai tumbuhan yang ada di Jawa Barat, bahkan basis data tersebut telah diaplikasikan kedalam website, yang sanggup memberikan layanan tentang informasi tumbuhan kepada masyarakat pengguna internet. Namun, basis data yang dimiliki masih bersifat non-spasial sehingga informasi yang disajikan hanya sebatas atribut (tekstual), tanpa mampu menyampaikan informasi terkait spasial (keruangan). Dengan informasi spasial, lokasi persebaran dan distribusi tumbuhan serta akses rute untuk mendapatkan sampel tumbuhan tersebut dapat diketahui secara mudah dan cepat. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, dibangunlah suatu Sistem Informasi Tumbuhan (SIT) berbasiskan pada lokasi menggunakan Content management System (CMS). Dengan menggunakan CMS, SIT berbasiskan pada lokasi tersebut dapat dibangun dengan mudah, cepat, dan user friendly. Namun, tetap dapat mengakomodasi kebutuhan Herbarium Bandungense tersebut.
IDENTIFIKASI DAERAH RISIKO TSUNAMI WILAYAH PANGANDARAN BERDASARKAN KERENTANAN DAN BAHAYA DENGAN MEMODIFIKASI DATA TATA GUNA LAHAN DAN KEPADATAN PENDUDUK
Secara geografis, Indonesia berada di beberapa jalur patahan atau tumbukan antar lempeng antara lain, lempeng Eurasia dan Indo-Australia Indonesia. Akibatnya, Indonesia menjadi rawan terhadap bencana gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi di lautan berpotensi menyebabkan tsunami. Dalam kurung waktu kurang dari 10 tahun terakhir, tsunami di Indonesia telah merenggut ratusan ribu korban jiwa di Aceh pada tahun 2004 dan pada tahun 2006 di Pangandaran tepatnya tanggal 17 Juli yang merenggut ratusan korban jiwa. Pangandaran merupakan daerah rawan terjadinya bencana gempa yang berpotensi tsunami. Berdasarkan kondisi yang telah dipaparkan, maka perlu dilakukan analisis daerah bahaya yang dapat dilakukan dengan menggunakan data satelit dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Bahaya tsunami dilihat dari data ketinggian gelombang tsunami yang telah terjadi, sedangkan kerentanan tsunami dilihat dari kondisi fisik, sosial kependudukan, dan ekonomi. Dari kondisi-kondisi tersebut maka dapat dilakukan analisis risiko tsunami yang berguna dalam mitigasi bencana sehingga dapat meminimalisasi korban jiwa dan kerugian materi.
PENGARUH GENERALISASI GARIS PANTAI MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA DOUGLAS-PEUCKER DALAM KAITANNYA DENGAN PETA KEWENANGAN DAERAH (WILAYAH STUDI: PROVINSI JAWA BARAT) DI WILAYAH LAUT
Daerah memiliki kewenangan untuk mengelola wilayah lautnya yang diatur dalam UU No. 32 tentang Pemerintahan Daerah. Kewenangan daerah adalah sebesar 12 mil laut untuk laut provinsi dan sepertiganya untuk wilayah kabupaten/kota. Untuk mendapatkan wilayah laut tersebut, maka dilakukan kegiatan penetapan batas wilayah laut. Kegiatan tersebut mencakup dua hal, yaitu penetapan batas di peta dan penegasan batas di lapangan. Kumpulan titik awal pada garis pantai, yang membentuk garis-garis dasar digunakan sebagai acuan penentuan batas wilayah laut. Bentuk garis dasar akan dipengaruhi oleh skala peta yang diinginkan serta informasi peta yang akan ditampilkan. Untuk mendapatkan garis dasar yang sesuai dengan kebutuhan, maka dilakukan suatu proses kartografi yang disebut generalisasi. Proses generalisasi pada garis dasar dilakukan berdasarkan ketentuan pada Permendagri 1/2006 serta dengan Algoritma Douglas-Peucker.
PEMANFAATAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK MEMBANTU REKONSTRUKSI OBJEK ARKEOLOGI (STUDI KASUS: CANDI PERWARA NOMOR 72 KOMPLEK CANDI SEWU)
Candi Sewu merupakan monumen bersejarah yang berasal dari era sebelum Islam. Situs bersejarah ini telah melalui berbagai kerusakan baik oleh manusia maupun oleh alam. Candi ini terdiri dari candi utama dan beberapa ratus candi perwara (candi pendamping) yang mengelilinginya. Salah satu dari candi perwara ini merupakan objek studi dalam penelitian ini. Candi perwara tersebut merupakan contoh situs yang relatif utuh, sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai objek penelitian. Metode ini diawali dengan pemotretan terhadap objek dari beberapa sudut dan dari beberapa jarak untuk dapat merekonstruksi secara dijital candi perwara dalam tiga level kedetailan (Level of Detail/LOD). Hal ini dilakukan untuk merepresentasikan objek dalam model tiga dimensi multiresolusi , untuk digunakan lebih lanjut dalam penelitian arkeologis maupun sebagai sarana dokumentasi. Foto-foto yang diambil kemudian diproses dengan menggunakan PhotoModeler Scanner untuk menghasilkan model sparse point cloud untuk fitur umum candi, dan dense point cloud untuk merepresentasikan relief yang lebih rumit. Model ini diharapkan dapat merepresentasikan fitur nonhomogen pada relief dengan lebih baik dalam kerangka model arsitektural candi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ketelitian model berada pada level milimeter.
TREND LINIER PERUBAHAN KEDUDUKAN MUKA LAUT BERDASARKAN DATA SATELIT ALTIMETRI ERS2 (1995-2003) DAN ENVISAT (2003-2009)
Kemampuan satelit altimetri mengamati kedudukan muka laut dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan kedudukan muka laut di perairan Indonesia. Dalam tugas akhir ini, pemantauan perubahan kedudukan muka laut dilakukan menggunakan dua satelit altimetri ERS-2 (1995-2003) dan Envisat (2002-2009). Dari kedua data satelit tersebut dilakukan tren linier untuk melihat besarnya perubahan kedudukan muka laut di perairan Indonesia. Hasil dari trend linier tersebut menunjukan perubahan kedudukan muka laut di perairan Indonesia berkisar antara -7,6 mm/tahun sampai 18,9 mm/tahun.
KONVERSI REFERENSI TINGGI DATA SRTM DARI MODEL GEOID GLOBAL EGM96 KE EGM2008 (STUDI KASUS: BANDUNG DAN SEKITARNYA)
Dalam skripsi ini dijabarkan mengenai data STRM, dimana data tersebut merupakan data topografi global. Walaupun data tersebut melingkupi hampir 80% daratan permukaan bumi, namun masih terdapat banyak kelemahan pada data tersebut dimana akurasi tinggi dari SRTM hanya berkisar sekitar 16 meter dan sistemnya masih mengacu ke tinggi di atas elipsoid. Setelah disebarkan ke publik melalui media internet, data SRTM telah dalam referensi tinggi yang mengacu ke geoid EGM96.Dengan dikeluarkannya Model Geoid terbaru EGM2008 sebagai acuan global dengan akurasi yang lebih tinggi dari EGM96 maka dalam Tugas Akhir ini adalah membahas tentang mengubah data tinggi SRTM tersebut dari tingginya di atas geoid EGM96 ke tinggi di atas geoid EGM2008, kemudian hasilnya dibandingkan dengan Titik Tinggi Geodesi hasil pengukuran MSL dan pengukuran Fotogrametri. Setelah dilakukan konversi tinggi dari tinggi terhadap geoid EGM96 ke geoid EGM2008 ternyata hasilnya tidak memberikan efek yang signifikan karena ketelitian pada SRTM jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan ketelitian geoid EGM96 maupun EGM2008.
PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA PASUT DAN ARUS DI KAWASAN PESISIT KECAMATAN MUARA GEMBONG, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT
Kecamatan Muara Gembong merupakan wilayah pesisir yang mengalami abrasi cukup parah. Dari survei lapangan yang dilakukan, abrasi yang terjadi di kecamatan muara gembong sudah sampai menghancurkan beberapa rumah warga. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang karakteristik laut di Kecamatan Muara Gembong. Penelitian yang dilakukan mencakup pengamatan pasut selama 15 hari dan pengambilan data arus selama satu hari. Dari data hasil pengamatan pasut dapat dilakukan analisis harmonik pasut, sehingga dapat dilihat karakteristik pasut di daerah tersebut. Dari hasil pengukuran arus, bisa dilihat pola pergerakan arus dari segi arah dan kecepatannya. Pola pergerakan arus ini dikaitkan dengan kondisi pasut yang terjadi saat pengukuran arus berlangsung. Hasil dari analisis harmonik pasut menunjukkan bahwa tipe pasut di Kecamatan Muara Gembong bersifat tipe diurnal dengan bilangan Formzahl sebesar 3,51. Tunggang pasut terbesar mencapai 0,81m. Nilai muka laut rata-rata hasil pengamatan pasut yang dilakukan adalah 2,044 m di bawah benchmark yang terdapat dilapangan. Arus yang terjadi di Kecamatan Muara Gembong lebih dikarenakan pasut. Ketika pasang terjadi pergerakan arus mengarah ke daratan, dan ketika surut terjadi arus mengarah ke laut. Kecepatan arus pada saat pasang mencapai 0,071 m/s relatif lebih besar dibandingkan kecepatan arus pada saat surut sebesar 0,0451 m/s. Kecepatan arus maksimum sebesar 0,082 m/s.
PEMETAAN DAMPAK AKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH DI WILAYAH JAKARTA
Penurunan muka tanah merupakan fenomena yang banyak terjadi di kota – kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Penurunan muka tanah di Wilayah Jakarta diduga disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih, kompaksi alamiah, beban bangunan dan pengaruh tektonik. Penurunan muka tanah di Wilayah Jakarta juga ternyata berpotensi menimbulkan dampak kerugian seperti kerusakan pada bangunan, infrastruktur, dan memperparah genangan banjir. Dalam tugas akhir ini akan dicoba dilakukan pemetaan dampak dari penurunan muka tanah di wilayah Jakarta. Dampak penurunan tanah telah teridentifikasi seperti retakan pada dinding bangunan, atap rumah yang turun, terjadi indudansi air laut atau rob, kerusakan infrastruktur, dan memperparah genangan banjir. Daerah yang mengalami beberapa kerusakan akibat penurunan muka tanah ini seperti Penjaringan, Tanjung Priok, Cengkareng, Cakung, Kelapa Gading, Pademangan, dan Taman Sari. Sebagai background peta pemetaan dampak penurunan tanah dibuat peta zonasi penurunan tanah di Jakarta yang diperoleh dari hasil pemantauan menggunakan teknologi GPS dan Sipat Datar dari tahun 2000 sampai dengan 2011 . Hasil pengolahan data GPS dan Sipat datar menunjukkan pada periode tahun 2000 sampai 2011 beberapa daerah di Wilayah Jakarta telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 1 cm sampai 1,7 m yang bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh proses kompaksi alamiah dan beban bangunan. Penurunan muka tanah yang paling besar dialami oleh daerah - daerah yang mengalami penurunan muka airtanah yang besar pula seperti Penjaringan, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur. Pemantauan terhadap penurunan muka tanah beserta pemetaan dampaknya ini diharapkan dapat berguna untuk pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.
PERHITUNGAN IKLIM GELOMBANG DI PERAIRAN KECAMATAN MUARA GEMBONG, KABUPATEN BEKASI DARI DATA ANGIN SELAMA 25 TAHUN (1984-2008)
Gelombang merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi di lautan. Gelombang ini membawa energi yang memberikan pengaruh terhadap daerah pesisir pantai. Pengaruh yang diberikan dapat memberikan efek positif ataupun negatif. Salah satu efek negatif yang diberikan oleh gelombang adalah fenomena abrasi. Abrasi yang terjadi disebabkan oleh energi yang dibawa oleh gelombang yang lama-kelamaan akan mengikis daerah pesisir pantai. Salah satu daerah yang memperoleh dampak abrasi dari gelombang ini adalah pesisir pantai Kecamatan Muara Gembong. Untuk menanggulangi dampak negatif tersebut diperlukan penelitian tentang gelombang yang menjadi penyebab abrasi tersebut. Salah satu kegiatan yang memberikan jawaban atas permasalahan tersebut adalah perhitungan iklim gelombang menggunakan data angin. Dengan perhitungan yang dilakukan maka karakteristik gelombang di daerah tersebut dapat diketahui sebagai langkah awal untuk menentukan cara penanggulangannya. Pada penelitian ini digunakan beberapa metode hitungan yaitu JONSWAP, SMB, Ozeren, dan Donelan. Perhitungan iklim gelombang dilakukan di 15 titik yang tersebar di sepanjang pesisir pantai Kecamatan Muara Gembong. Dari perhitungan menggunakan metode-metode tersebut didapatkan hasil bahwa pada semua titik memberikan hasil yaitu sebanyak 11,04 % gelombang berasal dari arah Utara, 7,98 % dari arah Timur Laut, 11,65 % dari arah Timur, 9,8 % dari arah Tenggara, 4,2% dari arah Selatan, 4,14 % dari arah Barat Daya, 16,55 % dari arah Barat, dan 34,64 % dari arah Barat Laut. Besarnya kecepatan angin dan fetch menjadi faktor penting dalam terjadinya gelombang ini.
STUDI PENURUNAN TANAH WILAYAH SEMARANG PERIODE TAHUN 2008-2009
Semarang adalah ibukota Propinsi Jawa Tengah yang memiliki lokasi yang strategis dengan luas area sekitar 374 km2. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangannya sebagai kota pelabuhan, industri, jasa, dan perdagangan, kebutuhan akan air bersih pun meningkat. Peningkatan penggunaan airtanah ini diduga menyebabkan terjadinya penurunan muka airtanah. Penurunan muka airtanah dan penambahan beban di permukaan tanah secara bersama-sama menyebabkan terjadinya percepatan proses konsolidasi lapisan lempung (aluvial) yang berakibat terjadinya penurunan muka tanah di wilayah Semarang. Dari fenomena penurunan tanah dan dampak yang ditimbulkan, penurunan tanah di Semarang perlu dipantau secara periodik. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode survey GPS secara episodik (periodik). Dengan mengetahui besarnya penurunan muka tanah yang ditunjukkan oleh perubahan tinggi titik dari satu pengamatan ke pengamatan berikutnya, maka karakteristik dari penurunan muka tanah ini dapat dipelajari lebih lanjut. Pada tahun 2008 dan 2009, telah dilakukan pemantauan penurunan muka tanah dengan metode survey GPS. Hasil pemantauan pada tahun 2008-2009 menunjukan besarnya penurunan tanah yang telah terjadi di Semarang adalah sebesar 0.8 – 12.4 cm dengan laju 0.8 – 13.5 cm/tahun. Penurunan terbesar terjadi di Semarang utara yaitu berkisar 4 - 12 cm dengan laju 4 – 13.5 cm/tahun. Penurunan tanah yang terjadi berkorelasi kuat dengan pola penurunan muka airtanah, penyebaran ketebalan lapisan lempung lunak, ketebalan tanah urug, dan banyaknya lapisan pasir pada endapan dataran delta.
STUDI PEMANFAATAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT DALAM BIDANG KEDOKTERAN GIGI (STUDI KASUS: PERKEMBANGAN GIGI DAN RAHANG)
Abstrak
REKONSTRUKSI PERILAKU EROSI ABAD KE-20 DAERAH ALIRAN SUNGAI JAWA BAGIAN BARAT DENGAN MODEL SPASIAL
Tugas akhir ini mendiskusikan mengenai model spasial yang diaplikasikan untuk merekonstruksi laju erosi tahunan dan laju ekspor sedimen di daerah Jawa bagian barat pada abad ke-20 selama 100 tahun. Model yang diaplikasikan dalam penelitian ini menggunakan laju erosi dan sediment delivery ratio (SDR) pada suatu area sebagai parameter untuk mengestimasi laju ekspor sedimen. Laju erosi dihitung berdasarkan kemiringan lahan, penggunaan lahan, jenis tanah, dan gaya hidrologis (curah hujan). Pemodelan SDR didasarkan pada hitungan kecepatan aliran air yang melalui permukaan daerah aliran sungai (DAS), yang dipengaruhi oleh topografi, curah hujan, karakter tanah dan jenis tata guna lahan. Kecepatan aliran dan jarak tempuh partikel sedimen didapatkan dari digital elevation model (DEM). DEM juga digunakan untuk menghasilkan estimasi waktu tinggal partikel sedimen. Secara umum, model menunjukkan adanya penambahan jumlah ekspor sedimen antara tahun 1901 hingga tahun 2000 pada titik pengeluaran DAS Citarum dan DAS Ciujung. Pada DAS Citarum terjadi peningkatan sedimentasi selama 100 tahun, sedangkan selama 50 dan 25 tahun terakhir terjadi penurunan sedimentasi, dan pada 10 tahun terakhir terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Selain itu juga terdapat siklus periodik dari jumlah ekspor sedimen yang terlihat setiap 2, 4, 6, 10, dan 20 tahun. Pada DAS Ciujung terlihat bahwa terjadi peningkatan sedimentasi untuk 100 tahun, 50, dan 25 tahun terakhir, sedangkan pada 10 tahun terakhir terjadi penurunan. Terdapat siklus periodik dari jumlah ekspor sedimen yang terlihat setiap 4, 6, 10, dan 14 tahun.
PENENTUAN CHART DATUM SUNGAI YANG TIDAK DIPENGARUHI PASUT UNTUK KEGIATAN PELAYARAN (Studi Kasus : Sungai Mahakam di Kalimantan Timur dan Sungai St. Lawrence di Kanada)
Sungai non pasut merupakan wilayah sungai yang dinamika muka airnya tidak lagi dipengaruhi oleh faktor pasut. Agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pelayaran, informasi kedalaman sungai mutlak diperlukan untuk disesuaikan dengan nilai draft kapal yang melintasinya. Informasi kedalaman membutuhkan suatu bidang referensi nol yaitu chart datum sungai. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan nilai chart datum sungai non pasut. Dalam penelitian ini, data yang digunakan merupakan data sekunder pengamatan muka air sungai non pasut pada wilayah Sungai Mahakam. Stasiun pengamatan muka air yang digunakan adalah Melak dan Kota Bangun. Data tersebut diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PUSLITBANG SDA). Untuk memperoleh nilai chart datum dilakukan pengamatan muka air selama minimal satu tahun agar faktor pengaruh musim dapat teramati. Dengan mengikuti aturan IHO, bahwa muka air terendah (MAT) dari hasil pengamatan digunakan sebagai chart datum pada wilayah sungai. Nilai chart datum yang diperoleh untuk stasiun pengamatan Melak adalah 3.07 m, Kota Bangun adalah 6,37 m. Nilai chart datum tersebut memiliki referensi terhadap palem pengamatan.