📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKAJIAN ASPEK LEGAL DALAM PENERAPAN KADASTER KELAUTAN DI INDONESIA (WILAYAH STUDI PROVINSI MALUKU)
Indonesia sebagai sebuah Negara kepulauan membutuhkan suatu sistem informasi untuk pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan laut yang optimal. Kadaster kelautan adalah sebuah sistem yang memungkinkan adanya pencatatan batas-batas dan kepentingan di laut. Pengelolaan wilayah laut harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Tugas akhir ini akan mengkaji peranan aspek legal yang berlaku secara nasional maupun daerah terhadap pengembangan kadaster kelautan di Indonesia.
ASPEK KARTOGRAFIS PETA BATAS LAUT TERITORIAL INDONESIA
Berdasarkan United Nation Convention Of The Law Of The Sea (UNCLOS) 1982, wilayah perairan suatu negara pantai terbagi kedalam enam kelompok yaitu Perairan Pedalaman, Laut Teritorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen. Keenam wilayah tersebut harus ditetapkan batasnya yang dituangkan dalam peta ataupun dalam bentuk daftar koordinat geografis. Wilayah laut teritorial merupakan wilayah perairan yang dekat dengan wilayah daratan sehingga pada wilayah ini terdapat berbagai macam kegiatan disamping aktifitas pelayaran. Oleh karena itu, Peta Batas Laut Teritorial dibutuhkan untuk menunjang berbagai kegiatan tersebut. Dalam Peta Batas Laut Teritorial terdapat dua hal utama yaitu segi kartografis kelautan dan segi spesifikasi atau standar dari penentuan batas Laut Teritorial itu sendiri. Dilihat dari segi pengertiannya, kartografi sebagai ilmu dan seni dasar (basic) serta sebagai teknologi dapat menguasai aspek geometrik suatu peta dan desain peta yang sesuai dengan perkembangan teknologi yang terjadi, khususnya dalam proses pembuatan peta. Dalam produksi peta batas laut terkait pula aspek kartografi kelautan yang memperhatikan beberapa kajian yaitu terkait dengan peta laut, simbol, dan singkatan dalam Peta Laut No.1 (Chart No.1) dan hal-hal penting lainnya yang berhubungan dengan aspek pemetaan laut. Sedangkan dari segi spesifikasi dan standar penentuan batas laut didasarkan pada UNCLOS 1982. Dengan memperhatikan aspek-aspek kartografi kelautan serta aspek penentuan batas laut teritorial tersebut diharapkan penyajian peta batas laut teritorial dapat mengkomunikasikan informasi secara efektif, informatif dan komunikatif kepada pemakai Peta Batas Laut Teritorial.
PENENTUAN BATAS LAUT DAN LUAS WILAYAH KABUPATEN SELAYAR, SULAWESI SELATAN
Diberlakukannya Undang-undang No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan titik awal dilaksanakannya konsep otonomi daerah di Indonesia. Kini UU ini direvisi menjadi UU No. 32/2004, yang salah satunya mengatur penentuan dan penegasan batas wilayah di laut. Untuk mendukung ini, Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Peraturan Nomor 1 Tahun 2006 (selanjutnya disebut Permendagri) tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah.Dalam tugas akhir ini, dilakukan penarikan garis batas daerah Kabupaten Selayar berdasarkan UU No.32/2004 (penggunaan garis dasar normal) , berdasarkan Permendagri No.1/2006 (penggunaan kombinasi garis dasar lurus dan garis dasar normal) dan implementasi UNCLOS 1982 (penggunaan garis dasar kepulauan).Dari hasil perhitungan luas kabupaten selayar dengan penerapan garis dasar kepulauan, maka didapat luas laut maksimal yaitu 21.083,148 Km² untuk wilayah laut dan 1.196,782 Km² untuk wilayah daratannya, sehingga luas wilayah secara keseluruhan adalah 22.279,930 Km².
APLIKASI FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK MENENTUKAN VOLUME SUATU OBJEK
Penggalian dan penimbunan suatu material merupakan hal yang penting dalam banyak pekerjaan teknik dan pertambangan. Umumnya metode yang digunakan untuk menentukan volume suatu material adalah menggunakan metode tachymetri untuk mengetahui koordinat suatu titik dengan menggunakan alat ukur Electronic Total Station (ETS). Untuk mendapatkan bentuk permukaan tanah terbaik sangat tergantung pada bentuk permukaan, distribusi titik dan metode interpolasi. Tetapi dengan bertambahnya titik akan berarti menambah waktu dan biaya.Untuk menyelesaikan masalah diatas, penelitian ini menerapkan metode Close Range Photogrametry (CRP) atau Fotogrametri Rentang Dekat sebagai metode alternatif untuk melakukan pengukuran dalam menentukan volume suatu material, dengan memanfaatkan teknologi kamera digital. Objek studinya adalah Kotak TV (sebagai contoh objek beraturan), beton (sebagai contoh objek kurang beraturan) dan gundukan berumput (sebagai contoh objek yang mewakili permukaan tanah). Volume hasil CRP akan dibandingkan dengan metode lainya (penggaris, Air, ETS) dan diuji tingkat ketelitiannya dengan menggunakan uji statistik. Dibandingkan juga proses pengambilan data sampai perhitungan volume, biaya dan waktu untuk objek gundukan berumput.Metode CRP dapat digunakan untuk penentuan volume dengan perbedaan hasil volume dengan metode lain antara 1%-7% dan tingkat kepresisiannya antara ± 1%-3%. Dari segi waktu lebih lambat CRP daripada tachymetri.
PEMODELAN DAN SIMULASI KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT SECARA TIGA DIMENSI (3D) DENGAN MENGGUNAKAN DATA LIDAR (Light Detecting and Ranging)
Banjir akibat naiknya permukaan air laut merupakan permasalahan yang sering melanda daerah-daerah di pesisir pantai. Naiknya permukaan air laut pada umumnya disebabkan oleh pemanasan global. Selain pemanasan global, bencana alam seperti: gelombang badai, land subsidance, dan pasang air laut juga memberikan kontribusi yang besar terhadap naiknya permukaan air laut. Naiknya permukaan air laut akan memberikan dampak yang besar, baik dalam skala lokal maupun nasional. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk melakukan pemodelan dan simulasi terhadap dampak kenaikan permukaan laut tersebut. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan dan simulasi secara tiga dimensi (3D). Untuk memperoleh informasi tiga dimensi (3D) dapat dilakukan dengan mengunakan teknologi Airborne Laser Scanning (ALS) yang mampu menghasilkan informasi kedalaman dan topografi detail dari daerah pesisir pantai tersebut secara cepat dan akurat. Negara-negara seperti: Amerika, Kanada, dan Swedia menamakan teknologi ALS tersebut dengan nama LIDAR (Light Detecting and Ranging). LIDAR terbagi atas dua, yaitu: LIDAR untuk pengukuran kedalaman yang dikenal dengan nama Airborne Laser Hydrography (ALH) atau Airborne Laser Bathymetry (ALB), dan LIDAR untuk pengukuran topografi permukaan bumi yang disebut dengan Airborne Altimetric LIDAR. Dengan kemampuan tersebut, diharapkan teknologi LIDAR dapat membantu instansi terkait dalam penanggulangan banjir, dan lebih lanjut dapat digunakan untuk perencanaan pengaturan tata ruang dan mitigasi bencana.
KAJIAN PENCOCOKAN CITRA (IMAGE MATCHING) SETELAH FILTERISASI DENGAN TRANSFORMASI WAVELET SATU DIMENSI
Pada fotogrametri terdapat proses pencocokan citra yang dapat dilakukan secara analog maupun dijital. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan meningkatnya kebutuhan manusia, maka diperlukan suatu cara yang dapat mempermudah otomatisasi pencocokan citra dijital tersebut. Salah satu metoda yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan transformasi wavelet, dalam hal ini transformasi wavelet satu dimensi.Transformasi wavelet dapat melihat kandungan spektrum pada domain frekuensi. Dengan menggunakan transformasi wavelet satu dimensi dapat diketahui sinyal dari citra yang berada pada frekuensi tinggi maupun frekuensi rendah, sehingga dapat dilihat noise serta kediskontinyuan pada sinyal untuk kemudian mereduksi noise pada sinyal tersebut agar bisa didapat nilai korelasi maksimum bagi pencocokan citra tanpa menghilangkan banyak unsur spasial.Dengan transformasi wavelet satu dimensi, terjadi peningkatan nilai korelasi pada setiap kenaikan level dekomposisi dan setiap kenaikan ukuran citra pencarian, terutama pada citra homogen. Penggunaan induk wavelet terbaik pada penelitian ini adalah Daubechies-3, pada level dekomposisi kedua untuk sekuensial ke arah horisontal dan level ketiga untuk ke arah vertikal, dengan ukuran citra pencarian 61x61 piksel, untuk contoh kasus wilayah SABUGA ITB, Bandung, Indonesia.
PENGKAJIAN TEKNOLOGI LIGHT DETECTION AND RANGING (AIRBORNE LIDAR HYDROGRAPHY) UNTUK PEMETAAN PERAIRAN DANGKAL
Hingga saat ini wilayah perairan Indonesia belum sepenuhnya terpetakan. Luasnya perairan Indonesia berdampak pada faktor biaya dan waktu, serta metode survei hidrografi yang umumnya dirasakan kurang efektif. Pengukuran kedalaman dengan metode optik merupakan cara terbaru yang digunakan untuk pemeruman. Metode ini memanfaatkan transmisi sinar laser dari pesawat terbang dan prinsip-prinsip optik untuk mengukur kedalaman perairan. Pemanfaatan Laser untuk penentuan kedalaman perairan mulai dikembangkan di beberapa negara. Teknologi ini bernama LIDAR (Light Detection and Ranging) yang karena digunakan untuk keperluan pemetaan perairan, maka diubah namanya menjadi Airborne Lidar Hydrography. Teknologi ini menggunakan wahana pesawat terbang, tak ubahnya seperti fotogrametri. Sehingga dapat menyelesaikan pemetaan perairan dengan sangat cepat cocok untuk perairan dangkal dengan kedalaman hingga 76 meter, seperti wilayah pantai.Dengan kemampuannya menampilkan bentuk 3 Dimensi, maka output data ALH ini akan dapat diaplikasikan dalam banyak hal terkait perencanaan pengaturan tata ruang dan mitigasi bencana.
AIRBORNE ALTIMETRIC LIDAR: APLIKASI DAN PERMASALAHAN
Airborne LIDAR adalah salah satu metode penentuan posisi 3 dimensi berbasiskan GPS, INS dan laser scanner, yang memanfaatkan wahana udara dalam pelaksanaan surveynya. Sistem airborne LIDAR menggunakan sinar laser sebagai sensor pengukuran jarak dari wahana udara hingga ke permukaan tanah dan objek-objek di sekitarnya. Sistem ini juga menggunakan Global Positioning System untuk penentuan posisi tiga dimensi wahana udara dari waktu ke waktu, serta Inertial Navigation System untuk menentukan oriantasi tiga dimensi wahana. Beberapa komponen dalam sistem LIDAR tersebut bekerja masing-masing tetapi terpadu sehingga menghasilkan data LIDAR.Hasil akhir dari survey airborne LIDAR adalah data titik-titik yang mempunyai nilai koordinat (X, Y, dan Z) pada sistem koordinat GPS (WGS 84), yang kemudian dapat diolah menjadi Digital Terrain Model (DTM). Berbagai bidang aplikasi dapat memanfaatkan data yang dihasilkan oleh sistem airborne LIDAR untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
ANALISIS GEOMETRI DATA OBJEK TIGA DIMENSI MENGGUNAKAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT, TERRESTRIAL LASER SCANNER, DAN ELECTRONIC TOTAL STATION (ETS)
Objek pemetaan di permukaan bumi fisik sebagian besar merupakan suatu objek tiga dimensi. Objek tiga dimensi (3D) apabila direpresentasikan pada bidang dua dimensi (2D) akan mengalami kehilangan informasi, oleh karena itu saat ini mulai dibutuhkan peta tiga dimensi. Data dasar yang digunakan untuk melakukan pemodelan objek 3D harus memiliki tingkat ketelitian yang baik dan geometri yang baik juga. Data yang digunakan untuk pemodelan objek 3D adalah data Fotogrametri Rentang Dekat, Terrestrial Laser Scanner, dan Electronic Total Station (ETS). Data yang dianggap merupakan data yang benar adalah data dari Electronic Total Station berdasarkan spesifikasi alat, perambatan kesalahan dan cara pengambilan data. Objek yang dijadikan studi adalah Observatoriun Boscha dan Gardu Listrik sebagai studi tambahan. Untuk dapat mengetahui kualitas data terutama data koordinat tiga dimensi, dilakukan transformasi sebangun tiga dimensi. Berdasarkan nilai Root Mean Square Residual dapat ditentukan tingkat akurasi dari data koordinat titik cek. Selain titik, untuk menyatakan geometri objek 3D, perbandingan juga dilakukan pada sudut dan jarak dengan cara diselisihkan. Dari hasil perbandingan antara ETS dengan Fotogrametri Rentang Dekat diperoleh nilai RMS residual terbesar pada komponen X sedangkan hasil perbandingan antara ETS dengan Terrestrial Laser Scanner diperoleh RMS residual terbesar pada komponen Z. Dari perbandingan sudut diperoleh suatu kecenderungan data selisih koordinat akan semakin kecil apabila sudut yang dibentuk semakin besar, sedangkan dari perbandingan jarak diperoleh kecenderungan selisih jarak akan semakin baik apabila jarak yang di ukur semakin besar. Sebagai pendukung studi dibandingkan juga segi efektifitas dan efisiensi pengambilan dan pengolahan data 3D dari Fotogrametri Rentang Dekat, Terrestrial Laser Scanner dan Electronic Total Station.
TEKNOLOGI LIDAR DALAM PEKERJAAN EKSPLORASI TAMBANG BATUBARA
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan batubara terbesar di dunia. Kalimantan dan Sulawesi merupakan daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Kegiatan penambangan batubara tidak lepas dari kebutuhan akan peta topografi sebagai peta dasar untuk pembuatan peta lainnya yang diperlukan dalam kegiatan penambangan batubara.Dalam kegiatan penambangan batubara, sering ditemukan kesalahan-kesalahan dalam perencanaan kegiatan. Salah satu penyebabnya yaitu ketidaktepatan informasi yang diberikan oleh peta topografi yang digunakan. Dalam hal ini yang sangat potensial menimbulkan kesalahan tersebut adalah informasi tinggi dari peta topografi.Permasalahan ini dapat diatasi dengan menggunakan teknologi LIDAR untuk pemetaan di wilayah penambangan batubara, dimana karakteristik wilayah penambangan batubara dilingkupi oleh hutan. LIDAR merupakan suatu teknologi yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi topografi dengan teliti, khususnya informasi ketinggian.Dalam aplikasi survei dan pemetaan dewasa ini, pemetaan dengan LIDAR diintegrasikan dengan ortofoto untuk memperoleh informasi planimetrik. Tugas Akhir ini lebih membahas pada penggunaan teknologi LIDAR dalam proses penambangan batubara khusunya dalam kegiatan eksplorasi.
ANALISIS DERET WAKTU DATA PENGAMATAN GPS KONTINU DI JAWA BARAT
Daerah Jawa Barat sebenarnya memiliki karakteristik seismik yang unik. Tidak seperti daerah-daerah di Pulau Sumatra yang merupakan daerah rawan gempa, karena sering terjadi gempa dengan magnitude yang besar, daerah Jawa Barat ini jarang terjadi gempa. Gempa yang terjadi pun biasanya dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan gempa bumi di Sumatra. Tetapi, di Jawa Barat juga pernah terjadi gempa dengan skala kerusakan yang besar, seperti Gempa Tasikmalaya (2 September 2009) dan Gempa Pangandaran (17 Juli 2006). Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi pada Blok Sunda (Sunda Block) ini, khususnya di Jawa Barat. Saat ini, berbagai studi dan penelitian geodinamika sudah dilakukan. Salah satunya adalah pemasangan (instalasi) jaring GPS kontinu di Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk meneliti bagaimana pergerakan titik-titik pengamatan GPS kontinu tersebut sehingga untuk selanjutnya dapat dianalisis bagaimana pola deformasinya. Data hasil pengamatan GPS ini kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, lalu dilakukan plotting deret waktunya, sehingga dapat dilakukan analisis deret waktu. Tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis pergeseran dan regangan titik-titik pengamatan GPS di Jawa Barat. Analisis deret waktu dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pola pergeseran dan regangan di Jawa Barat. Hasil pengolahan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Blok Sunda mengalami pergerakan horisontal ke arah tenggara relatif terhadap jaring ITRF-05 dengan kecepatan 2-3 cm/tahun. Sedangkan untuk pergerakan vertikalnya terdapat variasi dalam pergerakannya. Selain itu, diketahui bahwa wilayah Jawa Barat ini didominasi oleh fenomena kompresi (tekanan ke dalam) dengan arah N-S. Sedangkan fenomena dilatasi terdapat di beberapa area Jawa Barat di sekitar sesar Cimandiri.
KAJIAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH DATA GPS UNTUK KEPERLUAN PENENTUAN BEDA TINGGI GEODETIK
Di dalam penentuan posisi menggunakan GPS komponen tinggi yang diberikan yaitu tinggi yang mengacu ke permukaan ellipsoid atau tinggi geodetik (h). Faktor yang mempengaruhi ketelitian komponen tinggi GPS yaitu adanya pengaruh dari kesalahan dan bias. Selain itu strategi pengolahan data yang digunakan pada saat pengolahan data juga akan mempengaruhi ketelitian tinggi geodetik. Perangkat lunak (software) pengolah data GPS dikategorikan menjadi dua jenis yaitu perangkat lunak komersial, dan perangkat lunak ilmiah. Pada tugas akhir ini akan dilakukan kajian tentang kinerja perangkat lunak khususnya untuk keperluan penentuan beda tinggi geodetik. Perangkat lunak yang dikaji yaitu perangkat lunak komersial (TGO) dan sebagai verifikasi data hasil perhitungan perangkat lunak tersebut akan dibandingkan hasilnya dengan perangkat lunak ilmiah (Bernese). Dari hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa lama pengamatan yang semakin panjang menghasilkan solusi tinggi yang lebih baik.
SISTEM GRID SKALA RAGAM UNTUK DATA LINGKUNGAN INDONESIA
Akuisisi, validasi, pengarsipan, dan distribusi data lingkungan global menjadi prioritas utama pada abad ke-21 ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah, peningkatan populasi dunia, pemanasan global, serta penilaian potensi dan dampak riil dari bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, longsor dan lain-lain. Dataset lingkungan diperlukan bagi penelitian, perencanaan dan pengambilan keputusan kebijakan. Untuk menghasilkan informasi yang lebih spesifik dan akurat bagi penelitian, perencanaan, dan pengambilan keputusan kebijakan, seringkali dibutuhkan proses penggabungan data. Keanekaragaman data lingkungan akan menyulitkan dalam proses penggabungan data, hal ini diantaranya disebabkan oleh perbedaan sistem referensi geodesi, resolusi, dan perbedaan koordinat pixel. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem yang dapat digunakan untuk menstandarisasi tempat penyimpanan data lingkungan nasional sehingga beragam jenis data lingkungan dapat disimpan dalam satu wadah dan dapat dimengerti secara universal. Pada tugas akhir ini telah berhasil dibuat sistem grid untuk menyimpan beragam jenis data lingkungan dalam skala ragam, untuk wilayah Indonesia. Sistem ini dibuat dengan menetapkan sistem referensi geodesi, resolusi grid, titik asal (origin) sistem koordinat grid, dan sistem penomoran grid yang akan digunakan. Sistem grid merupakan data raster dan sangat baik digunakan untuk menyimpan dan merepresentasikan informasi mengenai feature geografis yang kontinyu dan berubah secara gradual. Dengan adanya sistem grid skala ragam untuk data lingungan Indonesia, beragam jenis data lingkungan nasional dapat tersimpan dalam satu wadah yang telah terstandarisasi dan dapat dimengerti secara universal.
PENENTUAN TINGGI GEODETIK DENGAN METODE KOMBINASI GPS DAN TERESTRIS
Penentuan tinggi cara ekstraterestris menggunakan GPS yang dikombinasikan dengan cara terestris dengan mengukur sudut dan jarak menggunakan Total Station, merupakan salah satu alternatif penentuan tinggi geodetik untuk area yang tidak memungkinkan dilakukan pengamatan GPS dengan baik. Permasalahan yang dihadapi dalam penentuan tinggi geodetik dengan metode terestris yaitu adanya perbedaan datum tinggi dan arah garis unting-unting. Penentuan tinggi geodetik dengan metode terestris terdapat penyimpangan arah gaya berat sesungguhnya yang arahnya tegak lurus pada bidang geoid dengan arah gaya berat normal yang arahnya tegak lurus pada bidang ellipsoid. Penyimpangan arah gaya berat sesungguhnya dengan arah gaya berat normal disebut dengan defleksi vertikal. Nilai defleksi vertikal dapat diperoleh berdasarkan model geopotensial. Dengan adanya nilai defleksi vertikal ini, kita dapat menentukan tinggi geodetik dengan metode terestris serta mengetahui seberapa besar pengaruh efek defleksi vertikal pada penentuan tinggi geodetik dengan metode terestris.
IMPLEMENTASI NETWORK PLANNING DALAM SURVEY HIDROGRAFI
Survey hidrografi adalah kegiatan survey untuk mendapatkan informasi kelautan. Pelaksanaannya diperlukan biaya yang mahal, beresiko tinggi dan tergantung pada cuaca. Untuk mendapatkan informasi kelautan tersebut, perlu adanya manajemen proyek yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan kontrol kualitas produk. Manajemen proyek dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode barchart dan metode network planning. Dalam penulisan ini, digunakan metode network planning untuk proyek survey hidrografi, karena dengan metode ini akan didapat analisa waktu dan biaya yang efektif dan efisien untuk melaksanakan proyek serta optimasi hubungan ketergantungan antar kegiatan dalam penggunaan waktu dan sumber daya. Proses yang digunakan untuk menunjukkan network planning dalam survey hidrografi digunakan critical path method (CPM). Dengan digunakan network planning, proyek survey hidrografi akan terlaksana dengan baik, efektif dan efisien dalam hal waktu dan biaya, sehingga metode network planning ini dapat digunakan sebagai prosedur pelaksanaan manajemen proyek dalam survey hidrografi.