📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenThis study examines a financial feasibility and required incentive support of a Carbon Capture and Storage (CCS) project through carbon tax and carbon credit pricing models. The incentive is calculated to compensate the gap between CCS value chain cost and project revenue to achieve the required margin and financial feasibility. The CCS system consists of post-combustion capture from one industrial emission source, CO? transportation through an onshore pipeline, and storage in an onshore depleted oil and gas field with legacy wells. The study estimates CCS costs, calculates incentive support, and compares the Operator and Joint Venture schemes using cash flow, Net Present Value (NPV), and Internal Rate of Return (IRR). Cost data and key parameters are adapted from secondary literature, while CCS cost and required support are estimated using a techno-economic and financial modelling approach based on secondary literature. The results show total CCS cost is USD 71.63/tCO?, dominated by capture at USD 53.54/tCO? or 74.74%, followed by transportation at USD 14.07/tCO? or 19.64%, and storage at USD 4.02/tCO? or 5.62%. Sensitivity analysis of support proportion, cost share, and carbon credit allocation ensures both schemes meet the policy constraint that carbon tax must be greater than or equal to carbon credit. At 10% operator margin, the Operator Scheme with 60% carbon tax and 40% carbon credit generates USD 57.78/tCO? carbon tax and USD 48.15/tCO? carbon credit, while the Joint Venture Scheme with 70:30 companyoperator cost share and 30:70 company-operator carbon credit allocation generates USD 55.28/tCO? carbon tax and USD 51.83/tCO? carbon credit. Financial comparison shows that the Joint Venture Scheme is more attractive through cost and risk sharing, but operator margin escalation and carbon credit allocation must be managed to maintain policy compliance and commercial feasibility.
PEMETAAN PROFIL DEMOGRAFI PENDERITA TUBERKULOSIS DI INDONESIA TAHUN 2021-2024 DENGAN ANALISIS KORESPONDENSI DAN MODEL SEIR
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dengan distribusi kasus yang berbeda antarprovinsi, kelompok umur, dan jenis kelamin. Perbedaan karakteristik demografis tersebut perlu dianalisis secara tahunan agar pola profil penderita TB dan dinamika paparannya dapat dipahami secara lebih terstruktur. Tugas akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi kasus TB di Indonesia selama periode 2021– 2024, mengidentifikasi pola asosiasi antara provinsi dengan kelompok umur serta provinsi dengan jenis kelamin menggunakan Analisis Korespondensi Sederhana (AK), dan menganalisis dinamika paparan TB berdasarkan kelompok umur menggunakan model SEIR age-structured. Data yang digunakan merupakan data kasus TB berdasarkan provinsi, kelompok umur, dan jenis kelamin, dengan data tahun 2020 digunakan sebagai kondisi awal pemodelan SEIR. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa total kasus TB meningkat dari 397.377 kasus pada tahun 2021 menjadi 842.383 kasus pada tahun 2024. Jawa Barat konsisten menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, sedangkan kasus TB pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan sepanjang periode pengamatan. Berdasarkan kelompok umur, kelompok 0–14 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi pada tahun 2023 dan 2024. Hasil AK menunjukkan adanya asosiasi antara provinsi dengan kelompok umur serta provinsi dengan jenis kelamin pada setiap tahun, dengan dua dimensi pertama peta korespondensi provinsi-kelompok umur menjelaskan lebih dari 90% total inersia. Sebagian besar provinsi berasosiasi dengan kelompok umur produktif dan dewasa akhir, sedangkan asosiasi dengan perempuan muncul secara konsisten pada DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua Barat, dan Papua. Hasil model SEIR age-structured menunjukkan variasi laju paparan antar kelompok umur dan antarprovinsi. Sebanyak 32 dari 34 provinsi memiliki MAPE di bawah 10%, sedangkan Papua Barat dan Papua memiliki galat yang lebih besar karena pola data yang lebih fluktuatif. Keterkaitan hasil AK dan model SEIR menunjukkan bahwa terdapat beberapa provinsi dengan kesesuaian penuh maupun sebagian antara kelompok umur dominan hasil AK dan kelompok umur dengan ????! tertinggi. Kesesuaian tersebut menunjukkan bahwa kedua pendekatan dapat saling memperkuat interpretasi, sedangkan perbedaan hasil menunjukkan bahwa AK dan SEIR membaca aspek yang berbeda dari data. Secara umum, AK memberikan gambaran profil relatif kasus TB, sedangkan model SEIR age-structured melengkapi analisis melalui dinamika paparan berdasarkan hasil kalibrasi model.
OPTIMASI PRODUKSI ASAM LAKTAT OLEH LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS DENGAN VARIASI KONSENTRASI GLUKOSA DALAM MEDIUM M9 MODIFIKASI
Asam laktat merupakan asam organik yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik, dengan permintaan global yang terus meningkat. Produksi asam laktat secara komersial umumnya dilakukan melalui fermentasi menggunakan bakteri asam laktat, seperti Lactobacillus acidophilus, karena mampu menghasilkan produk dengan kemurnian tinggi. Namun, penggunaan medium komersial seperti MRS masih menjadi kendala akibat biaya yang relatif tinggi, sehingga diperlukan alternatif medium yang lebih ekonomis, seperti medium M9 termodifikasi.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi glukosa dalam medium M9 termodifikasi terhadap produksi asam laktat oleh Lactobacillus acidophilus, mengidentifikasi kondisi optimum fermentasi, serta menentukan parameter kinetika pertumbuhan dan perolehan produk. Fermentasi dilakukan selama 48 jam pada suhu 37°C tanpa agitasi, dengan konsentrasi inokulum awal 2% (v/v) (105 CFU/mL), pH awal 6,2, serta sumber nitrogen berupa yeast extract sebesar 1,394 g/L. Variasi konsentrasi glukosa yang digunakan adalah 5, 10, 20, dan 40 g/L dengan metode One Variable at a Time (OVAT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi glukosa cenderung menurunkan kinerja fermentasi. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi glukosa 5 g/L dengan biomassa maksimum sebesar 1,48 g/L dan yield produk terhadap substrat (Yp/s) sebesar 0,993. Parameter kinetika pada kondisi optimum menunjukkan laju pertumbuhan biomassa sebesar 0,031 g/L·jam dan laju konsumsi substrat sebesar 0,067 g/L·jam. Selain itu, diperoleh total asam sebesar 0,116 M dan konsentrasi asam laktat sebesar 0,097 M, dengan yield biomassa terhadap substrat (Yx/s) sebesar 0,1686 serta yield produk terhadap biomassa (Yp/x) sebesar 5,892.Secara keseluruhan, variasi konsentrasi glukosa berpengaruh terhadap produksi asam laktat, di mana konsentrasi rendah memberikan kinerja fermentasi yang lebih optimal, menunjukkan tidak terjadinya inhibisi substrat dan tercapainya keseimbangan antara pertumbuhan sel dan pembentukan produk.
EVALUASI EFISIENSI PENYIMPANAN CO2 DINAMIS PADA AKUIFER SALIN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KENDALA GEOMEKANIKA
As Indonesia accelerates decarbonization efforts to achieve Net Zero Emissions by 2060, Carbon Capture and Storage in deep saline aquifers has emerged as a critical technological pathway. This study tries to generalize a case study evaluation of the Sunda-Asri Basin’s Talang Akar Formation by determining a geomechanically constrained dynamic storage efficiency factor (Esaline) derived from published data and regional analogs, yielding a proposed systematic evaluation flowchart. Initially, a probabilistic Monte Carlo simulation was conducted as a rapid realization check, yielding a P50 theoretical static capacity of 11.96 Mt CO2, which was adjusted to 0.24 Mt after accounting for a 2% theoretical efficiency assumption. Subsequently, the initialization of a compositional 3D reservoir model yielded a theoretical storage capacity of 12.16 Mt CO2. The analytical results reveal a significant discrepancy between these static approaches, while the Monte Carlo and 3D models identify the theoretical storage ceiling, dynamic modeling strictly limits injectivity to 0.192 Mt CO2. Crucially, by evaluating the influence of geomechanics, the integration of realistic rock mechanics (Young’s Modulus and Poisson’s Ratio) to prevent induced caprock failure further curtailed the capacity to a final dynamic storage of 0.100 Mt CO2, yields a risk-averse dynamic efficiency factor of 0.82%. Extrapolating this rigorous metric to the basin’s 3 Gt theoretical capacity confirms a practical regional storage potential of 24.65 Mt CO2. Ultimately, the consistent hierarchy observed between static, dynamic, and geomechanically constrained models validates this systematic methodology as a robust generalized framework for mitigating subsurface uncertainty and advancing national strategic energy objectives.
PERANCANGAN CONCEPT ARTBOOK BERBASIS ANIMASI MENGENAI BATIK LASEM SEBAGAI MEDIA EDUKASI VISUAL TENTANG AKULTURASI BUDAYA BAGI GENERASI Z
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang terbentuk melalui proses akulturasi, salah satunya tercermin dalam Batik Lasem sebagai warisan budaya tak benda yang memadukan unsur budaya Jawa, Tionghoa, dan budaya asing lainnya. Batik Lasem tidak hanya memiliki keindahan visual, tetapi juga mengandung nilai toleransi, harmoni, dan persatuan. Namun, eksistensinya menghadapi berbagai tantangan, seperti kompleksitas teknik pembuatan tradisional, modernisasi, serta kesenjangan generasi yang menghambat transfer pengetahuan kepada Generasi Z. Minimnya media edukasi yang menarik dan sesuai dengan karakter belajar Generasi Z turut menyebabkan rendahnya pemahaman dan apresiasi terhadap nilai filosofis Batik Lasem. Penelitian ini bertujuan merancang concept artbook berbasis animasi sebagai media edukasi interaktif untuk mengenalkan sejarah, nilai akulturasi, dan kekayaan visual Batik Lasem kepada Generasi Z berusia 17–25 tahun. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, studi literatur, analisis perbandingan, dan kuesioner. Hasil perancangan diharapkan menjadi media edukatif yang efektif, menarik, dan relevan, serta meningkatkan kesadaran, apresiasi, dan partisipasi generasi muda dalam melestarikan Batik Lasem sebagai warisan budaya Indonesia
INTEGRASI MODELING RESERVOIR TOP-DOWN DAN LOGIKA FUZZY UNTUK PENILAIAN KUALITAS RELATIF RESERVOIR (RRQI): STUDI KASUS LAPANGAN NORNE
Mature reservoir management requires efficient methodologies to evaluate reservoir performance amid increasing uncertainty caused by subsurface heterogeneity, declining production patterns, and limited reservoir information. This study develops a data-driven integrated workflow by combining static reservoir characterization, production performance analysis, and fuzzy pattern recognition to evaluate the relative quality of reservoirs in Norne Field. Static reservoir evaluation was performed using spatial partitioning to estimate local reservoir volume distributions, while production decline analysis and type curve matching were applied to characterize dynamic reservoir behavior. The estimated parameters were then further calibrated by history matching and further evaluated using fuzzy clustering to generate a continuous reservoir quality distribution. The results of the study show that the developed workflow successfully identified the dominant reservoir quality trends across the field. Validation against conventional numerical simulation-based potential assessments showed comparable spatial trends, although differences still exist in areas influenced by complex compartmentalization structures. Overall, this integrated study provides an efficient screening approach for reservoir quality evaluation to support future development optimization and the identification of potential opportunities within the reservoir.
PERANCANGAN UI/UX MEDIA INTERAKTIF DIGITAL SIGNAGE DISPLAY PERSONAL COLOR TEST SEBAGAI SOLUSI PENENTUAN UNDERTONE KULIT PADA AKTIVASI BRAND KECANTIKAN
Perkembangan industri kecantikan mendorong meningkatnya kebutuhan akan personalisasi produk kosmetik, khususnya dalam pemilihan warna yang sesuai dengan karakteristik kulit pengguna. Permasalahan yang masih sering terjadi adalah ketidaksesuaian pemilihan warna kosmetik akibat kurangnya pemahaman mengenai undertone dan personal color. Penelitian ini terkait keperluan perancangan media interaktif berbasis UI/UX sebagai sarana personal color test dalam konteks aktivasi brand kecantikan. Metode perancangan yang digunakan adalah Design Thinking dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi pada acara Jakarta X Beauty 2025, serta wawancara dengan color analyst dan pengguna. Pendekatan analisis personal color mengacu pada teori undertone, four seasons, dan CCCS yang diintegrasikan dengan teknologi AI face scan analysis. Hasil perancangan berupa prototipe UI/UX interactive digital signage display yang dirancang untuk penggunaan mandiri dan cepat, dengan keluaran analisis berupa identifikasi undertone, kategori musim, serta rekomendasi warna makeup dan busana. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses analisis, konsistensi hasil, serta kualitas pengalaman pengguna, sekaligus menjadi media edukatif dan promosi yang efektif dalam lingkungan event kecantikan.
PERBANDINGAN KINERJA DAN OPTIMASI DESAIN INJEKSI POLIMER SALINITAS RENDAH MENGGUNAKAN PEMODELAN RESERVOIR NUMERIK
Waterflooding in mature reservoirs is usually limited by unfavorable mobility ratios, early water breakthroughs, and bypassed oil, leaving much of the oil in place. Low Salinity Polymer Flooding (LSPF) is a hybrid enhanced oil recovery method that combines microscopic displacement improvement from low salinity with macroscopic sweep improvement from polymer mobility control. However, systematic guidance on the optimal combination of injection water salinity, polymer concentration, and injection rate at the field model scale is still lacking. So, this study compares four injection scenarios and determines the best LSPF design. Numerical simulation was conducted in tNavigator, representing the low salinity effect through salinity dependent relative permeability shifting and the polymer effect through viscosity and mobility control functions. Waterflooding, low salinity water injection (LSWI), polymer flooding, and LSPF were simulated on the same line drive model, with sensitivities on salinity (35,000, 5,000, 120 ppm), polymer concentration at 5.75 cP (2,000, 1,250, 450 ppm), and injection rate (200 to 500 STBD). LSPF yielded the highest recovery factor of 29.68% to 51.11% with cumulative production of 4.89 to 8.42 MMSTB, exceeding waterflooding (25.31% to 34.66%), LSWI (29.01% to 49.17%), and polymer flooding (27.44% to 40.79%). An injection rate of 300 STBD was selected because the 400 and 500 STBD cases at 120 ppm showed injection rate decline and plugging signs from adsorbed polymer accumulation. At this rate, the 120 ppm case with 450 ppm polymer achieved a 38.97% recovery factor, 6.42 MMSTB cumulative production, and delayed water breakthrough relative to waterflooding, and was therefore determined as the best LSPF design
SIMULASI PERMAINAN POKéMON VGC REGULATION SET I DENGAN PENDEKATAN TEORI PERMAINAN
Dengan kondisi Electronic Sports (disingkat E-sports) yang terus berkembang tiap tahunnya, diperlukan cara yang lebih efisien untuk membangun tim kompetitif. Perancangan simulasi permainan turnamen Pokémon VGC dapat memudahkan pengembang game untuk mengembangkan game dan memudahkan pemain profesional dalam membangun tim untuk turnamen. Mempertimbangkan semua faktor pada permainan seperti tipe, kegunaan, kemampuan, jenis serangan, kondisi umum, dan cara penggunaan Pokémon, dikelompokkan tiga dataset yang diperlukan untuk menjalankan simulasi. Simulasi dilakukan dengan mengolah tiga dataset dan memetakan aksi yang paling menguntungkan untuk setiap Pokémon pada setiap giliran. Pada setiap giliran dievaluasi HP setiap Pokémon dan setiap gerakan yang dilakukan, proses ini dilakukan sampai permainan selesai. Pada akhir simulasi, hasil HP historis akan dirangkum dalam bentuk diagram garis, yang dapat memudahkan pembaca dalam menarik kesimpulan mengenai fungsi dan keunggulan dari setiap Pokémon. Simulasi yang dihasilkan dapat menggambarkan permainan VGC secara umum, dengan kekurangan beberapa faktor seperti EV, IV, dan Tera Type.
REKONSTRUKSI SINYAL FID BERBASIS PHYSICS INFORMED MACHINE LEARNING UNTUK ESTIMASI PARAMETER PADA SISTEM LOW-FIELD NMR SUHU RUANG
Teknologi penginderaan kuantum dan Low-Field NMR berpotensi revolusioner bagi diagnostik portabel, namun terhambat dekoherensi termal suhu ruang yang mereduksi rasio sinyal-terhadap-derau secara ekstrem. Penelitian ini mengatasi batasan tersebut dengan mengembangkan Quantum Decoherence Mitigator (QDM), sebuah arsitektur Hardware-in-the-Loop (HIL) berpendekatan digital-twin. Menggantikan penyaringan konvensional, QDM mengintegrasikan Edge AI berbasis fisika melalui algoritma SINDy [6] pada mikrokontroler STM32 [37]. Sistem beroperasi closed-loop untuk mengestimasi keadaan kuantum sub-termal dan melakukan sintesis fisik deterministik secara real-time. Pengujian empiris membuktikan terjadinya dekopling stokastik-deterministik, di mana sistem menekan indeks rentangan termal ke ekuilibrium absolut 1.0. Ekstraksi ini meningkatkan resolusi spektroskopi secara masif dari 181,53 Hz menjadi 0,10 Hz (peningkatan fidelitas >1700 kali lipat), dengan phase jitter 0,0002 rad, melampaui kinerja arsitektur trigger konvensional [8]. Hasil ini mengonfirmasi bahwa Edge AI sadar-fisika mampu memulihkan koherensi kuantum di bawah derau dasar, membuka transisi dari simulasi perangkat lunak menuju instrumen sintesis keadaan kuantum otonom untuk aplikasi analitik lanjutan.
PEMODELAN TERINTEGRASI DAN STUDI KOMPARATIF KORELASI KECEPATAN KRITIS LIQUID LOADING UNTUK OPTIMASI CONTINUOUS GAS LIFT GUNA MEMITIGASI LIQUID LOADING PADA RESERVOIR TUA DENGAN LUBANG SUMUR BERARAH
Liquid loading represents a major operational challenge in mature gas field developments, depleting well productivity as natural reservoir pressure declines. This study presents an integrated modeling approach and a comparative analysis of five critical velocity correlations, namely Turner et al., Coleman et al., Nossier et al., Li et al., and Belfroid et al., to optimize continuous gas lift (CGL) design across various deviated wellbore trajectories (0°, 15°, 30°, and 45°). The evaluation reveals that the Nossier et al. correlation establishes the highest critical velocity (vcrit) of 2.29 m/s at the surface, whereas the Li et al. correlation yields the lowest value of 0.75 m/s. Crucially, the determination of the gas lift injection rate is conducted by increasing the superficial gas velocity to exceed the critical liquid loading velocity. CGL sensitivity analysis indicates minimum injection rate requirements of 6,040–6,848 sm³/day (Li et al.), 24,082–36,830 sm³/day (Belfroid et al.), 24,843–25.721 sm³/day (Coleman et al.), 31,746–32.619 sm³/day (Turner et al.), and 38,350–39,204 sm³/day (Nossier et al.). Implementing these rates enhances the total cumulative gas production (production gain) by 1.1040%–1.2570% (Li et al.), 4.3935%–6.7320% (Belfroid et al.), 4.5315%–4.7085% (Coleman et al.), 5.7855%–5.9655% (Turner et al.), and 6.9840%–7.1640% (Nossier et al.).
PERANCANGAN CONCEPT ART BERDASARKAN NOVEL MISTERI KELUARGA BIRU SEBAGAI AWARENESS FENOMENA PENCULIKAN ANAK BAGI DEWASA AWAL
Fenomena penculikan anak merupakan persoalan sosial yang kompleks dan berkaitan erat dengan kerentanan anak serta lemahnya perlindungan lingkungan di sekitarnya. Anak sebagai kelompok rentan tidak memiliki kapasitas untuk melindungi dirinya sendiri, sehingga upaya pencegahan perlu melibatkan peran komunitas, khususnya kelompok dewasa awal. Dewasa awal (20–40 tahun) memiliki posisi strategis sebagai bagian dari lingkungan terdekat anak, tetapi kesadaran terhadap isu penculikan anak masih tergolong rendah. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang concept art berdasarkan novel Misteri Keluarga Biru sebagai media awareness fenomena penculikan anak bagi dewasa awal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif eksploratif dengan pendekatan naratif dan interpretatif, melalui kajian literatur, analisis kasus penculikan anak, serta wawancara dengan narasumber di bidang kriminologi dan psikologi. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan concept art yang merepresentasikan kerentanan anak dan tanggung jawab komunal secara visual dan naratif, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dewasa awal terhadap isu penculikan anak.
EVALUASI LAJU KOROSI BAJA KARBON API 5L X80 DALAM LARUTAN KARBONAT ASAM YANG MENSIMULASIKAN CO? PADA KONDISI STATIS DAN ALIRAN MULTIFASA: ALIRAN STRATIFIED WAVY DAN SLUG
Carbon dioxide (CO?) corrosion remains a major threat to the integrity of carbon steel pipelines used in carbon capture and storage (CCS), particularly under multiphase flow where hydrodynamic conditions strongly influence corrosion behavior. Although CO? corrosion has been extensively studied, the influence of specific flow regimes on corrosion severity and the reliability of dissolved iron measurements under flowing conditions remain insufficiently understood. This study investigated the effect of representative multiphase flow regimes on the corrosion behavior of API 5L X80 carbon steel and evaluated the applicability of photometric dissolved iron measurements relative to the conventional gravimetric weightloss method. Corrosion experiments were performed in a horizontal laboratory flow loop using a CO?- mimicking acidic carbonate solution under static immersion, stratified wavy flow, and slug flow. Flow regimes were first characterized to establish representative testing conditions, and corrosion was assessed using gravimetric weight-loss and photometric dissolved iron measurements. The experimental system successfully reproduced representative multiphase flow regimes consistent with the qualitative transition sequence of the Mandhane flow map. Dynamic flow increased corrosion rates by more than two orders of magnitude compared with static immersion despite substantially shorter exposure times, with slug flow consistently producing higher corrosion rates than stratified wavy flow. While photometric dissolved iron measurements showed systematic quantitative deviations from gravimetric measurements under static and flowing conditions, both methods consistently identified corrosion severity. These findings demonstrate that flow regime is a dominant factor governing CO? corrosion of API 5L X80 steel and that dissolved iron measurements should be interpreted with consideration of flow-dependent transport processes. The results provide practical guidance for corrosion monitoring and integrity management of CCS transportation pipelines.
HIMPUNAN-[1, 2] PADA GRAF HASIL OPERASI SISIR TITIK
Misalkan G adalah graf sederhana sembarang yang terhubung dan tak berarah. Himpunan S ? V disebut sebagai himpunan-[1, 2] dari G jika setiap titik v ? V \ S bertetangga dengan setidaknya satu dan paling banyak dua titik dalam S. Kardinalitas minimum dari suatu himpunan-[1, 2] disebut sebagai bilangan dominasi-[1, 2] dari G, dinotasikan dengan ?[1,2](G). Misalkan terdapat dua graf sederhana terhubung G dan H. Graf kali sisir titik antara G dan H (dinotasikan dengan G ?o H) merupakan graf hasil operasi yang dibentuk dengan mengambil satu salinan G dan sebanyak |V (G)| salinan H, kemudian menempelkan titik o di salinan ke?i dari graf H dengan titik ke-i dari graf G, untuk setiap i = 1, 2, . . . , |V (G)|. Pada tugas akhir ini, akan dibahas mengenai bilangan dominasi-[1, 2] pada graf G ?o H untuk sebarang graf sederhana terhubung G dan H.
PERANCANGAN INSTALASI PROJECTION MAPPING INTERAKTIF BERBASIS ANIMASI UNTUK MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT UMUR 25 - 30 TAHUN TERHADAP HILANGNYA SERANGGA BIOINDIKATOR DI KAWASAN URBAN
Hilangnya serangga bioindikator di kawasan urban merupakan fenomena lingkungan yang terjadi secara perlahan dan sering kali tidak disadari oleh masyarakat perkotaan. Serangga seperti kunang-kunang, capung, dan kupu-kupu memiliki peran penting sebagai indikator kualitas lingkungan hidup serta dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Tugas Akhir ini bertujuan merancang konten ruang imersif berbasis projection mapping untuk membangun kesadaran masyarakat usia 25–30 tahun terhadap isu hilangnya serangga bioindikator di kawasan urban. Perancangan dilakukan menggunakan metode Design Thinking dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi lapangan, studi banding media, serta wawancara dengan ahli dan khalayak sasaran. Pendekatan perancangan didasarkan pada teori imersivitas, yang memaknai pengalaman imersif sebagai kondisi ketika individu “tenggelam” dalam suatu realitas, di mana audiens dikelilingi oleh lingkungan yang berbeda secara sensorik dan emosional. Melalui projection mapping, dunia virtual dan dunia nyata dilebur secara langsung pada permukaan fisik, sehingga menciptakan ilusi ruang yang kuat dan pengalaman yang imersif tanpa memerlukan perangkat tambahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok usia 25–30 tahun memiliki kecenderungan eco-anxiety yang bersifat adaptif, sehingga memerlukan media yang mampu menyampaikan isu lingkungan secara emosional namun tetap seimbang. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan ruang imersif yang mampu membangun empati dan mendorong kesadaran serta aksi kecil yang relevan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat urban.